Anda di halaman 1dari 6

INSEKTISIDA

A. Definisi
Insektisida adalah bahan-bahan kimia bersifat racun yang dipakai
untuk membunuh serangga. Insektisida dapat memengaruhi pertumbuhan,
perkembangan, tingkah laku, perkembangbiakan, kesehatan, sistem
hormon, sistem pencernaan, serta aktivitas biologis lainnya hingga berujung
pada kematian serangga pengganggu tanaman.

(Gambar 1. Botol berisi diklorodifeniltrikloroetana (DDT). DDT adalah insektisida golongan
organoklorin. Sumber : Wikipedia)

B. Struktur Molekul Senyawa
Organoklorin

Organofosfat (OF)

Karbanat (KB)

Nama : Dina Paramita
NIM : 24030112130095
Tugas Kimia Pestisida






Fluoroasetat 5. Dinitrofenol







C. Jenis - Jenis Insektisida
Insektisida dapat dibedakan menjadi insektisida konvensional dan insektisida kerja spesifik.
Insektisida konvensional bekerja pada system saraf
1. Insektisida Konvensional
Insektisida organik sintetik yang banyak dipakai dibagi-bagi lagi menjadi beberapa golongan
besar:

a. Senyawa Organofosfat
Insektisida golongan ini dibuat dari molekul organik dengan penambahan fosfat.
Organofosfat selalu mengandung fosfor dan dapat diidentifikasi oleh S-P atau O-P.
Mekanisme kerja: Organofosfat adalah peracun syaraf yang membunuh vertebrata dan
invertebrata melalui penghambatan kerja enzim kolinesterase di dalam sistem syaraf.
Memiliki sifat:
a. Efektif terhadap serangga yang resisten terhadap chorinatet hydrocarbon.
b. Tidak menimbulkan kontaminasi terhadap lingkungan untuk jangka waktu yang lama
c. Kurang mempunyai efek yang lama terhadap non target organisme
d. Lebih toksik terhadap hewan-hewan bertulang belakang dibandingkan dengan
organoklorin
e. Mempunyai cara kerja menghambat fungsi enzim cholinesterase

Contoh-contoh Insektisida golongan Organofosfat adalah Chlorpyrifos, Chlorpyrifos-
methyl, Diazinon, Dichlorvos, Pirimphos-methyl, Fenitrothion, dan Malathion.

b. Senyawa Organoklorin
Insektisida golongan ini dibuat dari molekul organik dengan penambahan klorin.
Insektisida organoklorin terdiri atas karbon, klorin, hidrogen dan kadang-kadang oksigen,
organoklorin dapat menyebabkan polusi terhadap lingkungan karena sifatnya yang
persisten dalam tanah.






Mekanisme kerja: Insektisida OC merupakan racun kontak dan racun perut, efektif untuk
mengendalikan larva, nimfa dan imago dan kadang-kadang untuk pupa dan telur. Cara kerja
(Mode of Action) OC belum diketahui secara lengkap. Secara umum dapat dikatakan
bahwa keracunan serangga oleh insektisida tersebut ditandai dengan terjadinya gangguan
pada sistem syaraf pusat yang mengakibatkan terjadinya hiperaktivitas, gemetaran, kejang-
kejang dan akhirnya terjadi kerusakan syaraf dan otot serta kematian.
Insektisida organoklorin bersifat sangat persisten, dimana senyawa ini mashi tetap aktif
hingga bertahun-tahun. Oleh karena itu, kini insektisida golongan organoklorin sudah
dilarang penggunaannya karena memberikan dampak buruk terhadap lingkungan.
Contoh-contoh insektisida golongan organoklorin adalah Lindane, Chlordane, dan DDT.

c. Karbamat
Insektisida golongan karbamat diketahui sangat efektif mematikan banyak jenis hama pada
suhu tinggi dan meninggalkan residu dalam jumlah sedang. Insektisida karbamat
merupakan kelompok senyawa yang baru dan mempunyai daya kerja serupa dengan
organofosfat, bertindak sebagai peracun syaraf. Namun, insektisida karbamat akan terurai
pada suasana yang terlalu basa. Salah satu contoh karbamat yang sering dipakai adalah
bendiokarbamat.
Mekanisme kerja: melalui penghambatan aktivitas enzim kolinesterase pada sistem syaraf.
Perbedaannya bahwa pada karbamat penghambatan enzim kolinesterase-nya bersifat bolak-
balik (resersible)
Insektisida tersebut cepat terurai dan hilang daya racunnya dari tubuh binatang sehingga
tidak terakumulasi dalam jaringan lemak atau susu
Contoh insektisida golongan karbamat adalah Aldikarb, Metiokarb, Metomil, Propoxur,
dan lain-lain.

d. Senyawa alami
Meskipun insektisida lebih dikenal merupakan senyawa sintetik, namun terdapat juga
insektisida alami yang berasal dari bakteri, pohon, maupun bunga.
Silica (SiO
2
) merupakan insektisida anorganik yang bekerja dengan menghilangkan
selubung lilin pada kutikula serangga sehingga menyebabkan mati lemas. Insektisida
jenis ini sering dibuat dari tanah diatom atau kieselgurh, yang tersusun dari molekul
diatom Bacillariophyceae.
Asam Borat (H
3
BO
3
) adalah insektisida anorganik yang dipakai untuk menarik
perhatian semut.






Pirethrum adalah insektisida organik alami yang berasal dari kepala bunga tropis
krisan. Senyawa ini memiliki kemampuan penghambatan serangga yang baik pada
konsentrasi rendah. Namun berkaitan dengan proses ekstraksinya, senyawa ini sangat
mahal.
Rotenon adalah insektisida organik alami yang diperoleh dari pohon Derris. Senyawa
ini berfungsi sebagai insektisida yang menyerang permukaan tubuh hama.
Neem merupakan ekstrak dari pohon Neem (Azadirachta indica). Penggunaan Neem
sebagai insektisida hayati dimulai sejak 40 tahun lalu. Ekstrak neem mengganggu
aktivitas sistem pencernaan serangga, khususnya golongan Lepidoptera (ngengat dan
kupu-kupu beserta larvanya). Selain itu neem juga berperan sebagai pengatur tumbuh
dimana menyebabkan beberapa jenis serangga terus berada pada kondisi larva dan tidak
bisa tumbuh dewasa.
Bakteri Bacillus thuringiensis memproduksi toksin Bt yang dapat mematikan
serangga yang memakannya. Toksin Bt aktif pada pH basa dan menyebabkan saluran
pencernaan serangga berlubang sehingga berujung pada kematian. Para peneliti telah
berhasil memindahkan gen yang berperan dalam produksi toksin Bt dari B.
thuringiensis ke tanaman kapas sehingga serangga yang memakan tanaman kapas
tersebut akan mati. Kapas Bt merupakan salah satu organisme transgenik yang paling
banyak ditanam di dunia.
e. Arsenat
Pestisida golongan ini biasanya berupa insektisida untuk mengendalikan rayap kayu dan
tanah. Golongan senyawa arsenik terdiri dari arsen trioksid, kalium arsenat, asam
arsenat dan arsin gas.
Jenis pestisida golongan ini adalah arsen pentoksida dan arsen pentoksida.

2. Insektisida Kerja Spesifik
a. Pengatur Tumbuh Serangga
Insektisida golongan ini merupakan hormon yang berperan dalam siklus pertumbuhan
serangga, misalnya menghambat perkembangan normal. Kelompok insektisida baru yang
termasuk dalam golongan IGR (Insect Growth Regulator) atau zat pengatur pertumbuhan
serangga. IGR mengganggu aktivitas normal system endokrin serangga. Pengaruh IGR
dapat terjadi pada waktu perkembangan embrionik, perkembangan larva atau nimpa,
metamorphosis, proses reproduksi, ataupun diapauses.
Cara kerja IGR: mempengaruhi system hormonal serangga, pada dasarnya IGR
memiliki sifat selektivitas fisiologi yang tinggi terhadap serangga sasaran sehingga sesuai






dengan prinsip-prinsip PHT. IGR bekerja lambat dan lembut sehingga serangga akan mati
beberapa hari setelah diperlakukan dengan IGR.
Contohnya adalah Methoprene, Hydramethylnon, Pyriproxyfen, dan Flufenoxuron.

b. Pheromon
Pheromon adalah suatu hasil sekresi kimia dari satu spesies yg mempengaruhi tingkahlaku
yg lain dalam spesies yg sama. Pheromon serangga digunakan terutama untuk menentukan
lokasi makanan atau untuk menarik perhatian lawan jenisnya ( sex pheromon ).
Pheromon telah digunakan dalam 3 cara dalam mengontrol serangga :
1. memonitor populasi serangga spesifik, pheromon ditempatkan dalam wadah dan jumlah
serangga yg terjebak dicatat. Kepadatan populasi dari serangga bisa dimonitor dg cara
ini. Sekaligus untuk mengukur efektivitas dari insektisida yg digunakan atau juga untuk
memonitor migrasi serangga ke area yg baru.
2. menjebak si jantan , sejumlah besar jebakan yg terkandung dalam pheromon digunakan
untuk menjebak si jantan sehingga dalam area tersebut tidak ada perkawinan serangga.
3. membingungkan si Jantan, pheromon dalam jumlah besar didistribusikan sehingga
udara dipenuhi oleh sex pheromon dari betina. Jantan akan dikelilingi oleh atraktan dan
tidak menentukan lokasi betina.
Contoh pheromone : Feromon-Exi untuk Mengendalikan Ulat Bawang Merah
(Spodoptera exigua)
c. Antifeedan
Cara kerja: Menghambat fungsi kemoreseptor gustatory serangga, tidak dapat benar
mengidentifikasi makanan. Setelah penyemprotan, kerusakan hama segera berhenti dan
penyimpanan produk perlindungan tanaman. Dari pengertian ini, daripada pestisida umum,
pestisida terutama kronis lebih efektif melindungi tanaman. Toksisitas rendah terhadap
manusia dan hewan, tidak merugikan musuh, lingkungan aman dan cocok untuk digunakan
dalam pengelolaan hama terpadu
Contoh: MIMBA (Azadirachta indica)
mengandung senyawa aktif azadirachtin, meliantriol, dan salanin. Berbentuk tepung dari
daun atau cairan minyak dari biji/buah. Efektif mencegah makan (antifeedant) bagi
serangga dan mencegah serangga mendekati tanaman (repellent) dan bersifat sistemik.
Mimba dapat membuat serangga mandul, karena dapat mengganggu produksi hormone dan
pertumbuhan serangga.

d. Chemosterilans






Serangga yg disterilisasi adalah insektisida bagi spesienya sendiri. Sejumlah besar
serangga jantan yg aktif tetapi steril dilepaskan ke area yg terinfestasi maka serangga steril
akan berkompetisi dengan yg nonsteril untuk menarik perhatian betina.
Jika jumlah yg steril cukup besar maka ada kemungkinan untuk mengontrol atau
membasmi populasi serangga tersebut. Cara ini sangat spesifik yaitu hanya untuk spesies
tertentu. Dan danya kemungkinan berkembangnya strain yg resisten.
Cara sterilisasi serangga yaitu denga menggunakan efek radiasi sinar X atau dari
permukaan Cobalt-60. Efefk radiasi dari keduanya sama. Namun cara ini tidak disukai
karena makin banyak serangga yg steril dikhawatirkan akan mengurangi jenis serangga yg
menguntungkan.