Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH

Senyawa Turunan Organotimah: Sintesis dan Struktur Kristal Trifeniltimah


Pentasiano Propenida [(C
6
H
5
)
3
Sn][C
3
(CN)
5
] 2H
2
O

Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah sintesis anorganik








Dosen pengampu : Pardoyo, M.Si

Disusun oleh :
Meisal Mamik S. J2C008035
Diana Amrina Rosyada 24030111130057
Nadia Mandasari 24030111130074
Jordy Armand Kaswanda 24030111140081
Dyna Kusnul Khotimah 24030111140100


JURUSAN KIMIA
FAKULTAS SAINS DAN MATEMATIKA
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2013
ii

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas karunia-Nya sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah untuk memenuhi tugas mata kuliah sintesis anorganik, makalah ini
berjudul Senyawa Turunan Organotimah: Sintesis dan Struktur Kristal Trifeniltimah
Pentasiano Propenida [(C
6
H
5
)
3
Sn][C
3
(CN)
5
] 2H
2
O.
Terima kasih kepada dosen pengampu mata kuliah sintesis anorganik, Bapak Pardoyo,
M.Si. yang telah membimbing kami serta memberikan arahannya kepada kami, sehingga
kami memiliki pemahaman dalam pengerjaan makalah ini. Terima kasih juga kepada semua
pihak yang telah meluangkan waktunya dalam membantu kami menyelesaikan makalah ini.
Terima kasih juga kepada teman-teman yang telah berpartisipasi dalam penggarapan makalah
ini sehingga menjadi seperti ini adanya.
Namun kami menyadari bahwa makalah ini belum sempurna dan masih banyak
kesalahan. Kami minta maaf apabila dalam makalah ini terdapat kekeliruan dan beberapa hal
yang perlu direvisi. Untuk itu kami menerima kritik dan saran dari para pembaca untuk
memperbaiki makalah ini menjadi lebih baik lagi.
Semarang, 27 November 2013
Ttd

Penulis






iii

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .................................................................................................... ii
DAFTAR ISI ................................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang .......................................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ..................................................................................................... 1
1.3 Tujuan Penulisan ....................................................................................................... 2
1.4 Manfaat Penulisan ..................................................................................................... 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA .................................................................................... 3
2.1 Organologam............................................................................................................. 3
2.2 Organotimah ............................................................................................................. 4
2.3 Reaksi Grignard ........................................................................................................ 6
BAB III METODE PERCOBAAN ................................................................................ 7
3.1 Alat dan Bahan .......................................................................................................... 7
3.2 Metodologi ................................................................................................................ 7
BAB IV PEMBAHASAN............................................................................................... 9
BAB V PENUTUP ......................................................................................................... 12
5.1 Kesimpulan ............................................................................................................... 12
5.2 Saran ......................................................................................................................... 12
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................................... 13



1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam ilmu kimia, senyawa organologam merujuk pada molekul yang terbentuk dari
penggabungan ligan organik maupun anorganik dan ion logam. Senyawa organologam telah
diketahui beberapa abad yang lalu, seperti senyawa alkil dengan zink, merkuri, dan arsenik.
Tetapi perkembangan kimia organologam untuk unsur-unsur peralihan boleh dikatakan masih
agak baru. Salah satu perkembangannya saat ini yaitu kegunaan senyawa-senyawa
organologam dari hasil sintesis. Beberapa organologam terbentuk secara irreversibel, dan
banyak diantara mereka yang memiliki ikatan yang cukup kuat.
Banyak sintesis senyawa organologam yang telah dilakukan menghasilkan senyawa
antara sebagai katalis yang dapat membantu dalam reaksi-reaksi kimia. Proses sintesis
senyawa organologam tersebut dapat melalui beberapa tipe reaksi antara lain reaksi subtitusi,
reaksi adisi-oksidatif, reaksi insersi-migrasi, reaksi reduksi-eliminasi dan reaksi nukleofilik-
elektrofilik. Pemilihan metode reaksi perlu diperhatikan mengenai kondisi yang dihadapi
bergantung pada komponen penyusun maupun fasa dari zat yang akan dibentuk.
Senyawa-senyawa organotimah merupakan senyawa organologam yang di dalam
strukturnya terdapat satu atau beberapa ikatan antara atom timah, Sn, dengan atom karbon, C
(Sn C). Senyawa-senyawa ini diperoleh sebagai turunan dari RnSnX
4-n
(n = 1-4; dan X =
Halogen, OH, OR, S, Sisa Asam, Hydrida) (Janiak et al., 1999). Sintesis senyawa
organotimah dapat dilakukan dengan metode (1) Grignard, atau (2) Rochow. Dalam
penelitian ini trifeniltimah klorida, (C
6
H
5
)
3
SnCl, di sintesis dengan metode Grignard.
Disebabkan karena sifatnya yang racun, senyawa organotimah banyak digunakan sebagai
bahan konservasi, terutama kayu dan desinfektan (Asrial, 2004). Dalam makalah ini kami
akan membahas senyawa organotimah dan turunannya sebagai produk sintesis.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, dapat disusun beberapa rumusan masalah, antara
lain:
1. Apa yang dimaksud dengan senyawa organologam?
2. Apa yang dimaksud dengan senyawa organotimah?
3. Bagaimana proses sintesis senyawa turunan organotimah?
4. Dan bagaimana mekanisme reaksinya?
2

1.3 Tujuan Penulisan
1. Memahami tentang senyawa organologam
2. Memahami tentang senyawa organotimah dan turunannya sebagai produk sintesis
3. Mengetahui mekanisme reaksi Sintesis dan Struktur Kristal Trifeniltimah Pentasiano
Propenida [(C
6
H
5
)
3
Sn][C
3
(CN)
5
] 2H
2
O

1.4 Manfaat Penulisan
Manfaat penulisan dari makalah ini adalah:
1. Penulis mendapatkan informasi lebih mengenai reaksi reaksi yang terjadi pada
senyawa organologam dan sintesis senyawa turunan organotimah
2. Manfaat bagi pembaca adalah sebagai informasi tambahan mengenai reaksi reaksi yang
terjadi pada senyawa organologam dan organotimah














3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Organologam
Kimia organologam adalah ilmu kimia yang mempelajari tentang logam yang
berikatan langsung dengan satu atau lebih atom carbon. Beberapa senyawa organologam ada
yang tidak berikatan lansung dengan atom karbon seperti pada kompleks phospine, logam
hidrida, organosilikon, organoboron dan lainnya. Ada beberapa logam yang berikatan
langsung dengan unsur karbonnya namun bukan termasuk senyawa organologam, yaitu
logam karbida dan logam sianida. Fungsi utama senyawa organologam adalah sebagai katalis
pada reaksi kimia.
Terdapat dua macam ikatan organologam, yaitu :
Ikatan ionik.
Ikatan ionik organologam terbentuk
dari unsur yang sangat elektropositif
yaitu unsur pada golongan I, II, dan III.
Organologam dengan yang berikatan secara
ionik bersifat tak larut dalam pelarut
hidrokarbon dan mudah teroksidasi.


Ikatan kovalen.
Ikatan kovalen organologam yang mudah menguap terbentuk dari logam Zn, Cd, Hg,
dan logam non-transisi gologan III (kecuali aluminium), IV, dan V. Ikatan kovalen ini
terbentuk dengan cara memberikan satu elektron tunggalnya, baik dari logam maupun unsur
organiknya, untuk dipakai secara bersama. Sifat dari senyawa organologam dengan ikatan
kovalen ini mudah menguap, larut dalam pelarut organik, dan tidak larut dalam air.



4

2.2 Organotimah
Senyawa organotimah adalah senyawa organometalik yang disusun oleh satu atau lebih
ikatan antara atom timah dengan atom karbon (Sn-C). Senyawa ini umumnya adalah senyawa
antropogenik, kecuali metiltin yang mungkin dihasilkan melalui biometilasi di lingkungan.
Atom Sn dalam senyawa organotimah umumnya berada dalam tingkat oksidasi +4. Rumus
struktur senyawa organotimah adalah RnSnX
4-n
, dengan R adalah gugus alkil atau aril
(seperti, metil, butil, fenil, oktil), sedangkan X adalah spesies anionik (seperti, klorida,
oksida, hidroksida, merkaptoester, karboksilat dan sulfida) (Sudaryanto 2001).

Contoh beberapa senyawa organotimah ini adalah:
Tetrabutiltimah, dipakai sebagai material dasar untuk sintesis senyawaan di- dan
tributil.
Dialkil atau monoalkil-timah, dipakai sebagai stabilisator panas dalam pembuatan
PVC.
Tributil-Timah oksida, dipakai untuk pengawetan kayu.
Trifenil-Timah asetat, merupakan kristal putih yang dipakai untuk insektisida dan
fungisida.
Trifenil-timah klorida dipakai sebagai biosida
Trimetil-timah klorida, dipakai sebagai biosida dan sintesis senyawa organic.
Trifenil-timah hidroksida, untuk fungisida dan engontrol serangga.
Senyawa organotimah merupakan monomer yang dapat membentuk makromolekul stabil,
padat dan cairan yang sangat mudah menguap dan tidak berwarna serta stabil terhadap
hidrolisis dan oksidasi. Atom halogen, khususnya klor yang dimiliki oleh senyawa
organotimah mudah lepas dan berikatan dengan senyawa-senyawa yang mengandung logam
natrium atau ion logam positif lainnya. Meskipun kekuatan ikatannya bervariasi, akan tetapi
atas dasar sifat itulah senyawa-senyawa turunan organotimah dapat disintesis. Senyawa
turunan organotimah yang berhasil disintesis pertama kali tahun 1971 adalah [MeSn(4-
anisil)(1 naftil)(CH
2
CH
2
C(OH)Me
2
)] (Greenwood and Earshaw, 1990). Hidrolisis tetrasiano
etilena (TCNE) dalam suasana basa menghasilkan pentasiano propena yang selanjutnya dapat
disintesis dalam aseton yang telah didinginkan menjadi perak pentasiano propenida (Schiller,
2000). Pentasiano propena merupakan senyawa asam kuat (pKa=1,9), sangat mudah larut
dalam eter atau air. Muatan negatif anionnya ([C
8
N
5
]) dapat berpindah ke atom karbon atau
atom nitrogen sehingga terbentuk mesomeri (Asrial, 2007). Bentuk mesomeri anion
pentasiano propenida diilustrasikan melalui struktur pada persamaan (1) di bawah ini.
5


Kondisi mesomeri ini menyebabkan pentasiano propenida mudah mengalami reaksi (1)
adisi dan (2) reaksi substitusi. Meskipun ikatan C-CN relatif kuat, akan tetapi gugus ini dapat
mengalami reaksi substitusi dengan gugus hidroksil-, alkosil-, amino- atau nukleofil aril.
Toksisitas senyawa organotimah lebih tinggi dibandingkan dengan garam-garam
anorganiknya. Organotimah yang mempunyai toksisitas yang lebih tinggi adalah dalam
bentuk R
3
SnX (triorganotimah) seperti TBT dan TPhT (Tessier dan David, 1995). Senyawa
TBT dilaporkan dapat merusak sistem kekebalan tubuh dan kinerja hormon (Cukkrowska et
al., 2004). TBT dan TPhT dapat lepas ke dalam lingkungan dan terakumulasi dalam sedimen
atau biota-biota perairan seperti ikan, kerang, cumi-cumi dan burung pemakan ikan, sehingga
menyebabkan adanya pengaruh negatif pada kesehatan manusia karena sifat daya racun yang
sangat tinggi (Belfroid et al., 2000). TBT pada konsentrasi di bawah 1 mg/L dapat
menyebabkan gejala imposex pada biota perairan (Ramaswamy et al., 2004).
Senyawa organotimah merupakan senyawa yang menarik sebagai katalis seperti halnya
pada aktivitas biologi. Keduanya sangat mempengaruhi pada jumlah dan sifat substituen
organik seperti pada timah. Alasan lain dari pentingnya senyawa organotimah adalah bahwa
subkelas dari kelompok organotimah, yaitu organostannoxan menunjukkan keanekaragaman
struktural yang sangat besar, dan karena inilah organstannoxan mendapat banyak perhatian.
Bahkan diantara organotimah oksida/ hidroksida, sifat substituen pada timah memainkan
peran yang cukup signifikan pada struktur akhirnya. Sebagai contoh, antara oksida
diorganotin. Sementara (t-BuSnO)
3
adalah molekul dan berisi cincin Sn
3
O
3
anggota enam.
Sintesis senyawa organotimah dapat dilakukan dengan metode (1) Grignard, dan atau (2)
Rochow. Dalam penelitian ini trifeniltimah klorida, (C
6
H
5
)
3
SnCl, di sintesis dengan metode
Grignard. Disebabkan karena sifatnya yang racun, senyawa organotimah banyak digunakan
sebagai bahan konservasi, terutama kayu dan desinfektan (Asrial, 2004).

6

2.3 Reaksi Grignard
Reaksi Grignard ditemukan oleh kimiawan Perancis Auguste Victor Grignard (1871-
1935) di tahun 1901. Tahap awal reaksi adalah reaksi pembentukan metil magnesium iodida,
reagen Grignard, dari reaksi antara alkil halida (metil iodida dalam contoh di bawah ini) dan
magnesium dalam dietil eter kering.
CH
3
I + Mg CH
3
MgI

Senyawa semacam ini yang sering disebut sebagai reagen Grignard dengan ikatan C-logam
dimasukkan dalam golongan senyawa organologam. Ikatan C-logam sangat labil dan mudah
menghasilkan karbanion seperti CH
3
-
setelah putusnya ikatan logam-karbon. Ion karbanion
cenderung menyerang atom karbon bermuatan positif. Telah dikenal luas bahwa atom karbon
gugus aldehida atau gugus keton bermuatan positif karena berikatan dengan atom oksigen
yang elektronegatif. Atom karbon ini akan diserang oleh karbanion menghasilkan adduct
yang akan menghasilkan alkohol sekunder dari aldehida atau alkohol tersier dari keton
setelah hidrolisis.
C
6
H
5
CHO + CH
3
MgI C
6
H
5
CH(CH
3
)OMgI

Reaksi Grignard adalah contoh reaksi senyawa organologam.
















7

BAB III
METODE PERCOBAAN

3.1 Alat dan Bahan
Pelarut yang digunakan yaitu:
o Tetrahidrofuran
o Kloroform
o Diklorometana
o Eter
Sedangkan pereaksi fenil digunakan trifeniltimah klorida dan perak pentasiano
propenida. Perak pentasiano propenida di sintesis dari tetra siano etilena (TCNE)
dengan pelarut air.
Struktur senyawa trifeniltimah- 1,1,2,3,3- pentasiano propenida, [(C
6
H
5
)
3
Sn]
[C
3
(CN)
5
] 2H
2
O, dianalisis menggunakan analisis sinar-X merek Bruker AXS
Smart CCD-System di Laboratorium Kimia Anorganik Universitas Magdeburg,
Jerman dan penyelesaian akhir struktur kristal tersebut menggunakan program
SHELXS-97 (Sheldrick, 1997).
Spektra IR dalam KBr dideteksi dengan alat IR-Spektrometer System 2000
produksi Perkin-Elmer. Sedangkan analisis penentuan jumlah karbon, hidrogen dan
nitrogen dalam senyawa dianalisis dalam Analisis Elemen CHNS-932 produksi
LECO dan spektrometer massa menggunakan Finnigan MAT SSQ 7000.

3.2 Metodologi
Penelitian ini dilakukan pada kondisi atmosfer biasa pada suhu kamar.
Perak -1,1,2,3,3pentasiano propenida, AgC
8
N
5
, di sintesis dari tetra siano
etilena (TCNE) dengan pelarut air. Disebabkan pelarut yang digunakan
adalah air dan pengeringan tidak sempurna, maka dalam perak pentasiano
propenida masih terdapat beberapa molekul air.
Satu mmol perak pentasiano propenida direaksikan dengan 1,00 mmol
trifeniltimah klorida, (C
6
H
5
)
3
SnCl, dengan perbandingan mol 1:1 dalam 10,00
ml pelarut tetrahidrofuran (THF) menurut reaksi pada persamaan (2). Selama
berlangsungnya reaksi terlihat endapan putih perak klorida.
Campuran ini masih diaduk selama 1 (satu) malam dan kemudian disaring.
8

Terakhir pelarut yang merupakan hasil penyaringan dikurangi dengan pompa
vakum sehingga jumlah pelarutnya tinggal separuh.
Melalui pelarutan yang sangat perlahan selama 2 minggu, larutan
trifeniltimah pentasiano propenida, [(C
6
H
5
)
3
Sn][C
3
(CN)
5
] 2H
2
O, dalam 10,00
ml THF-toluena (2:3) ke dalam 10,00 ml n-heksana pada suhu kamar
diperoleh kristal tunggal yang cocok untuk analisis Sinar-X.
Senyawa trifeniltimah pentasiano propenida, [(C
6
H
5
)
3
Sn][C
3
(CN)
5
] 2H
2
O,
yang diperoleh sebanyak 0,37 gram (72,04%). Senyawa ini larut dalam
pelarut THF, diklorometana dan dietil eter serta melebur pada suhu 127,00
C. Struktur Kristal molekul ini tertera pada Gambar 1 dan 2.
























9

BAB IV
PEMBAHASAN

Melalui pelarutan sangat perlahan selama 2 (dua) minggu larutan trifeniltimah
pentasiano propenida, [(C
6
H
5
)
3
Sn][C
3
(CN)
5
] 2H
2
O, dalam THF Toluena (2 : 3) ke dalam n-
hexana pada suhu kamar diperoleh Kristal tunggal atau murni yang sesuai untuk analisis
sinar-X. Struktur kristal senyawa kompleks [(C
6
H
5
)
3
Sn][C
3
(CN)
5
] 2H
2
O yang diperoleh
terdiri atas dua ion yaitu anion [C
3
(CN)
5
]
-
dan kation [(C
6
H
5
)
3
Sn]
+
. Senyawa trifeniltimah
pentasiano propenida, [(C
6
H
5
)
3
Sn][C
3
(CN)
5
] 2H
2
O, yang diperoleh sebanyak 0,37 gram
(72,04%). Senyawa ini larut dalam pelarut THF, diklorometana dan dietil eter serta melebur
pada suhu 127,00 C. Struktur Kristal molekul ini tertera pada Gambar 1 dan 2.
Mekaisme reaksi :

Kristal senyawa ini berbentuk monoklin termasuk kelompok ruang P2(1)/n dalam
bentuk kepingan tipis berwarna kuning transparan. Kation [(C
6
H
5
)
3
Sn]
+
terkoordinasi dalam
bentuk trigonal bipiramida dengan 2 (dua) molekul air, H
2
O. Tabel 1. Memperlihatkan
parameter atom penyusun senyawa kompleks [(C
6
H
5
)
3
Sn][C
3
(CN)
5
] 2H
2
O.

10


Panjang ikatan Sn-N(4) adalah 2,27(02) yang lebih pendek dari panjang ikatan Sn-
N(5) yaitu 2,32(09) . Sudut ikatan O2-Sn-O1 sama dengan 177,90 yang berarti hampir
linear. Jarak ikatan Sn-C11 dan Sn- C21 berturut-turut 2,12 dan 2,12 yang nilainya
hampir sama besar, sedangkan jarak ikatan Sn-C31 agak lebih pendek yaitu 2,12 . Sudut
ikatan sekeliling timah hampir sama besar yaitu sekitar 120.
Anion pentasiano propenida menempati bidang datar terletak di antara dua salib
sumbu, pada titik tengah gugus CCN. Sudut antara masing-masing bagian CC(CN)2 pada
anion bernilai sebesar 3,60
o
. Jarak C-C-alkyl sebesar 139,73 dan 140,35 pm. Kedua jarak ini
diperoleh agak lebih panjang dari yang pernah ditemukan untuk sebuah ikatan ganda (C=C =
134,00 pm) (Rademacher,1987). Jarak C-CN terletak dalam daerah kisaran antara 146,61 pm
pada pusat senyawa dan 142,67 (pada tengah) pm untuk bagian senyawa lainnya. Panjang
ikatan C-CN pada pusat senyawa [C(2)-C(3)] berjarak agak lebih besar dari yang pernah
diperoleh selama ini untuk sebuah ikatan yang memiliki hibridisasi C(sp)-C(sp2) = 143,20
pm (Rademacher, 1987).
Disisi lain ikatan CCN
sisanya lebih pendek.
Hasil pengamatan ini
mempertegas bahwa
C(7)-N(3) tidak terlibat
dalam konjugasi senyawa
pentasiano propenid
(Jger et al., 1992).


11

Panjang ikatan CN bervariasi dari 114,51 pm untuk C(7)-N(3) sampai 114,93 pm.
Panjang ikatan C-N ini secara keseluruhan terletak pada standar panjang ikatan untuk
pentasiano propenid anion (Rademacher, 1987). Sudut ikatan C-C-C, NC-C-CN dan NC-C-C
bernilai 130,21; 117,11 (116,84) dan 119,70 (123,17) (123,94) (119,21)
o
. Sedangkan sudut
ikatan NC-C-C(CN)2 bernilai 114,46(115,34)
o
.
Rerata panjang ikatan dan sudut ikatan anion pentasiano propenida senyawa
trimetiltimah pentasiano propenida memiliki nilai yang hampir sama atau kisaran yang sama
besarnya dengan panjang dan sudut ikatan yang dimiliki anion pentasiano propenida (Miller
et al., 1987). Hasil analisis unsur-unsur pembentuk senyawa trifeniltimah pentasiano
propenida, (C
6
H
5
)
3
Sn
+
[C
8
N
5
]
-
tercantum pada Tabel 2 berikut:

Berdasarkan hasil karakterisasi Kristal dengan IR, Secara umum vibrasi CN, [(CN)],
gugus sianida sebagai satu atau beberapa puncak yang sangat kuat dan sangat tajam pada
daerah 2000 sampai 2200 cm
-1
(Nyquist and Kagel, 1971). Pada spektrum kompleks
(C
6
H
5
)
3
Sn
+
[C
8
N
5
]
-
ditemukan 3 spektrum pada berbagai intensitas pada daerah 2244 (w),
2199 (sst) dan 2150 (m) cm
-1
. Pada spektrum beberapa senyawa kompleks seperti kalium
pentasiano propenid di peroleh (CN) pada daerah 2228 (w), 2210 (sst) dan 2196 (m) cm
-1

(Jger et al., 1998), sedangkan pada kompleks [Cu{C
3
(CN)
5
} (PPh
3
)
3
], [Ag{C
3
(CN)
5
}
(PPh
3
)
3
], [Cu{C
3
(CN)
5
}(PPh
3
)
2
]
2
dan [Ag{C
3
(CN)
5
} (PPh
3
)
2
]
2
diperoleh (CN) berturut-turut
pada daerah 2206 (sst), 2203 (sst), 2205 (sst) dan 2194 (sst) (Jger et al., 1998). Jika
diperbandingkan dengan kompleks pentasiano propenida hasil sintesis pada penelitian ini
diperoleh spektrum-IR baik untuk ligan yang terikat secara kovalen koordinasi maupun yang
tidak terikat secara kovalen koordinasi memiliki data spektrum yang identik, hal itu
menyiratkan bahwa senyawa hasil
sintesis ini adalah kompleks senyawa
pentasiano propenid. Dari spektrometer
massa diperoleh sinyal untuk anion
pentasiano propenida pada m/z 166,07
dengan 100 % intensitas relatif.
12

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Senyawa trifeniltimah pentasiano propenida, [(C
6
H
5
)
3
Sn][C
3
(CN)
5
] 2H
2
O, adalah
kompleks stabil yang merupakan senyawa polimer membentuk makromolekul. Senyawa
ini disintesis dari perak pentasiano propenida, AgC
8
N
5
, dan trifeniltimah klorida,
(C
6
H
5
)
3
SnCl, dalam tetrahidrofuran (THF) sebagai pelarut. Senyawa ini tersusun atas dua
ion, yaitu anion pentasiano propenida dan kation trifeniltimah yang terpisah. Panjang dan
sudut ikatan anion pentasiano propenida memiliki kesamaan dengan panjang dan sudut
ikatan anion pentasiano propenida yang dimiliki oleh senyawa pentasiano propenida
lainnya.

5.2 Saran
Dilakukan karakterisasi Kristal dengan instrument yang lain agar lebih mengetahui
sifat-sifat dari Kristal
Pemurniaan dilakukan agar Kristal dapat disinari dengan sinar X dan di uji IR nya.













13

DAFTAR PUSTAKA
Asrial, 2004, Synthese und Charakterisierung neuer Organozinnverbindungen, Cuvillier
Verlag Goettingen.
Asrial, 2007, Sintesis dan Struktur Kristal Kompleks Turunan Trimetil Timah Klorida,
Sainstek, 2:3, 267-274.
Greenwood, N.N., and A. Earnshaw, 1990, Chemieder Elemente, Willey-VCH
Verlagsgesellschaft mbH, Weinheim.
Jger, L., H.-D. Schger, U. Grobe, H. Khler, V. I. Nefedov,1992,
Pseudoelementverbindungen. II. Quantenchemische Untersuchungen an
pseudoelementmodifizierten Nitrit-Ionen [EO
2-n
Y
n
]- (E = N, C(CN); Y =
C(CN)
2
), Z. Anorg. Allg. Chem., 617:11, 123-126.
Jger, L., C. Tretner, K. Snkel, J. Ko ek, 1998, Pseudoelementverbindungen. XII. [1] Zur
Charakterisierung von 1,1,2,3,3- Pentacyanopropenid als Komplexligand
inein- undzweizhniger Funktion. Darstellung von Komplexen des Typs
[MX(PPh
3
)
n
] (M = CuI, AgI; X = NCC{C(CN)
2
}
2
; n = 2, 3), Z. Anorg. Allg.
Chem. 624:8, 1381-1386
Miller, J. S., J. C. Calabrese, S. R. Chittipendi, J. H. Zhang, W. M. Reiff, and A. J. J. Epstein,
1987, Ferromagnetic Behavior of [Fe(C
5
Me
5
)
2+
][TCNE]
-
, Structural and
Magnetic Characterization of Decamethyl Ferrocenium Tetracyanoethenide,
[Fe(C
5
Me
5
)
2
]
+
[TCNE]
+
MeCN, and Decamethylferrocenium
Pentacyanopropenide, [Fe(C
5
Me
5
)
2+
][C
3
(CN)
5
]
-
J. Am. Chem. Soc., 109,769.
Nyquist, R. A., and R. O. Kagel, 1971, Infrared spectra of Inorganic Compounds, Academic
Press, Inc., London. Rademacher, P., 1987, Strukturen organischer Molekle,
VCH Weinheim, New York.
Schiller, G., 2000, Organozinnderivate von Cyanokohlenstoffanionen, Synthese und
Struktur, Cuvillier Verlag, Goettingen.
Sheldrick, G. M., 1997, SHELXS Program ver. 1997, Software for Crystal Structure Solution.
Sudaryanto, A., 2001, Pencemaran Laut oleh Senyawa Organotin, JTL, 2:3, 241-246.
Tessier, A. and D. R.Tumer, 1995, Metal Speciation and Bioavailability in Aquatic Systems.
IUPAC Series on Analytical and Physical Chemistry of Environmental System
3rd ed., John Wiley and Sons, Chicester.