Anda di halaman 1dari 6

Sarah Paradiska

08/264683/SP/22574

Kekuatan Finansial dalam Iklan Partai Politik

Media merupakan salah satu instansi yang memiliki pengaruh besar


dalam hubungan antar masyarakat. Terdapat banyak interaksi komunikasi
yang dipercayakan masyarakt kepada industri media. Interaksi-interaksi
tersebut membentuk suatu hubungan yang saling berkait serta memberikan
pengaruh satu sama lain. interaksi komunikasi antar masyarakat secara
besar dan terus menerus dapat menciptakan suatu sisitem sosial. Dan seperti
halnya sistem sosial lain, pasti terdapat kekuatan yang bermain didalamya.
Sistem sosial dapat dipahami atas dasar struktur, aturan, serta relasi antar
tingkatan yang mengisi sistem tersebut. Dalam bentuk relasi sistem sosial
media juga terdapat peranan kekuatan yang mengintervensi nilai-nilai yang
berlaku. Tidak dapat dipungkiri, media dewasa ini menjadi salah satu
alternatif bahkan satu-satunya pilihan untuk menjadi jembatan informasi
dalam masyarakat. Media telah berhasil menjadi pembentuk opini publik
yang dipercayai oleh hampir semua elemen masyarakat, khusunya di negara
berkembang sepeti Indonesia. Tidak mengherankan apabila posisi media di
Indonesia sangatlah penting, terlebih pada masa pasca reformasi. Hal ini juga
berakibat pada kekuasaan media serta semua elemen yang berkepentingan
didalamnya untuk mempengaruhi masyarakat.
Kekuatan media kemudian menjadi daya tarik tersendiri bagi berbagai
objek lain. Media menyedot perhatian karena kekuataan dan kepercayaan
masyarakat yang telah dimilikinya. Sebut saja salah satu kekuatan lain yang
memiliki andil yang besar dalam media adalah kekuatan finansial. Aspek
finansial adalah semua hal yang berhubungan dengan keungan dan
pemanfaatannya. Sedangakan kekuatan finansial adalah segala bentuk
kekuasaan yang dimiliki dan bergantung pada nilai keungan. Dalam ranah
media, aspek finansial adalah salah satu nyawa keberadaan media. Hampir
tidak mungkin media dapat bertahan tanpa asupan finansial yang memadai.
Media kini bukan hanya sebagai lembaga penyampai informasi tapi lebih dari
itu media menjadi reflkeksi dari perputaran uang dalam jumlah yang luar
biasa. Hampir semua konten media merupakan lahan yang membutuhkan
dana besar untuk menjalankannya. Salah satu konten media yang sangan
menarik adalah iklan. Iklan adalah konten media yang berisikan pesan
mengenai penawaran. Durasi iklan biasanya lebih kurang 30 detik. Untuk
menanyangkan iklan selama 30 detik, pengiklan harus mengahabiskan dana
sebesar 2 juta hingga 20 juta rupiah1 per sekali tayang. Dengan dana sebesar
itu sudah barang tentu bahwa kehidupan media khususnya televisi sangat
bergantung dengan iklan. Iklan didalam media dikategorikan sebagai
transaksi bisnis yang legal, seberapa besar pun uang yang berputar di
dalamnya. Dengan lebel legal ini perkembangan iklan semakin menjadi-jadi
akibat sifat kapitalisme yang sangat berorientasi pada profit.
Salah satu contoh kasus yang relevan dengan fenomena ini adalah
iklan televisi pada masa kampanye dalam Pemilu 2009. Pada masa pemilihan
umum baik legislatif maupun eksekutif, iklan televisi merupakan salah cara
ampuh untuk mengembangkan target kampanye. Media televisi yang
merupakan media massa paling digemari masyarakat khususnya di
indoensia. Selain itu televisi dipercaya memiliki kekuatan besar untuk
mempengaruhi publik. Sebanyak 93 persen masyarakat Indonesia
merupakan masayarakat penonton televisi2 dan hal ini menjadi latar
belakang yang cukup kuat bagi kandidat legislatif maupun eksekutif yang
mencalonkan diri. Dalam Pemilihan Umum tahun 2009 kemarin terjadi
beberapa perubahan kondisi. Masyarakat diharuskan memilih langsung nama
calon legislatif yang dipercaya untuk duduk di kursi pemerintahan. Selain itu
masyarakat juga dipaksa mengenali partai- partai baru yang mengikuti bursa
Pemilu 2009. Jumlah total partai yang mengikuti Pemilu mencapai 44 partai.
Dari jumlah tersebut hampir setengahnya adalah partai yang baru terbentuk.
Dalam hal ini iklan akan sebagai media pengenalan bagi masyarakat
tentang karakter dari beberapa partai baru. Dari sekian banyak partai baru
tersebut terdapat dua partai baru yang kemudian dapat masuk dan
menempatkan diri pada sepuluh besar dari pemenang Pemilu 2009 kemarin.
1
http://Pemilu2004.goblogmedia.com/230-iklan-partai-di-tv-per-hari.html
2
http://forum.infoanda.com/viewtopic.php?f=3&t=29198
Partai tersebut adalah partai GERINDRA dan HANURA. Kedua pertai tersebut
digawangi oleh tokoh yang teklah lama dikenal dan memiliki peran di
Indonesia, bahkan sejak masa orde baru. Partai Hati Nurani Rakyat (HANURA)
dipimpin oleh Jend. Purn. Wiranto yang dikenal sebagai panglima ABRI pada
tahun 1998 -1999. Partai ini berdiri sejak 14 November 2006. Selain itu
Wiranto pernah menjabat sebagai Menkopolkam pada kabinet Gus Dur. Nama
Wiranto cukup dikenal oleh banyak kalangan di Indonesia. Sehingga pada
Wiranto hanya butuh memperkenalakan dan memasyarakatkan citra partai
politiknya saja untuk memperoleh simpati publik. Menaklukkan publik bukan
merupakan hal mudah, hal tersebut harus ditempuh dengan banyak cara.
Salah satu cara yang Wiranto lakukan adalah dengan menggunakan iklan
televisi sebagai salah satu jalur kampanyenya. Iklan HANURA kemudian di
munculkan ke publik. Tidak berbeda jauh dengan Partai Gerakan Indonesia
Raya (GERINDRA). GERINDRA merupakan partai yang baru dibentuk pada
tanggal 6 November 2008. partai ini langsung besar namanya akibat
digawangi oleh tokoh yang cukup fenomenal di masa orde baru, Prabowo
Subianto. Prabowo dikenal sebagai mantan menantu mendiang Soeharto,
mantan Denjend KOPASSUS di masa orde baru. Partai GERINDRA adalah
salah satu partai yang sangat kental dengan kekuatan finansial. Latar
belakang Prabowo sebagai pengusaha senior, mengakibatkan beriklan
dengan biaya milyaran bukan perkara sulit. Setelah dicopot jabatannya
karena tuduhan pelanggaran HAM, Pabowo kemudian melanjutkan bisnisnya
di luar maupun dalam negri. Dengan 10 tahun berbisnis, Prabowo
mendapatkan relasi serta modal yang besar untuk kemudian berani
mengambil langkah politik. Melalui partai GERINDRA Prabowo berusaha
meyakinkan masyarakat bahwa partainya dapat mengantungi aspirasi
masyarakat khususnya kaum petani, buruh dan nelayan. Bila dilihat dari
jumlaha iklan televisi kedua partai baru ini maka akan terlihat bahwa iklan
partai GERINDRA lebih banyak daripada partai HANURA. Hal ini juga sedikit
terlihat dalam hasil pemilu, dimana GERINDRA menempati posisi di atas
HANURA.
Memasang iklan politik bukanlah perkara murah, mengingat
persaingan yang besar antar pengiklan politik. Tercatat sebanyak 230 iklan
partai politik muncul di 11 stasiun televisi setiap harinya3. Hal ini
menggambarkan bahwa pemetaan parpol yang menggunakan media iklan
televisi cukup bersaing. Iklan telvisi seperti yang telah disinggung
sebuelumnya adalah salah satu lahan kampanye yang dapat menarik banyak
massa akan tetapi membutuhan dana yang sangat besar untuk
melakukannya. Tercatat bahwa partai GERINDRA mengahabiskan dana lebih
dari 200 milyar rupiah4 untuk belanja iklan baik cetak maupun elektronik.
Dari angka sebanyak itu sudah terlihat bahwa GERINDRA adalah salah satu
partai politik baru dengan modal yang sangat besar. Padahal GERINDRA
merupakan partai yang baru satu tahun belakangan di berdiri. Merupakan hal
yang tidak mengherankan dengan melihat korelasi antara gencarnya iklan
dengan hasil yang diperoleh di akhir Pemilu. Pada akhir masa Pemilu partai
GERINDRA berhasil menempatkan diri di deretan sepuluh besar partai
dengan pemilih terbanyak di Indonesia. Padahal banyak partai lain seperti
Pertai Pengusaha dan Pekerja Indonesia, Partai Peduli Rakyat Indonesia dan
lain sebagainya. Partai GERINDRA masih semumur jagung sama seperti dua
partai yang sibutkan di atas. Akan tetapi kedua partai tersebut tidak begitu
populer dikalangan masyarakat karena tidak dapat mendulang popularitas
melalui iklan dan sebagainya. Bila dilihat Partai Pengusaha dan Pekerja
Indonesia (PPI) yang diketuai oleh Daniel Hutapea. Daniel Hutapea adalah
salah satu aktivis sumatra utara yang juga berfokus pada nasib buruh. Akan
tetapi kepopularitasan dan kekuatan finansial yang dimiliki sudah tentu jauh
di bawah Prabowo. Maka, partai ini tidak dapat serta merta menggunakan
iklan televisi untuk mengenalkan partainya. Begitu pula yang terjadi dengan
Partai Peduli Rakyat Indonesia yang ketuai oleh Sutan Raja DL Sitorus. Partai
ini tidak telalu beruntung untuk memiliki cukup dana untuk beriklan di
televisi. Sehingga perolehan suara untuk kedua partai yang berumur jagung
ini tidak begitu melejit seperti GERINDRA dan HANURA. Hal ini dikarenakan
publikasi yang dilakukan tidak seluas dengan media massa dan masyarakat
tidak banyak yang mengetahui keberadaan partai baru seperti ini bila tidak
secara besar-besaran beriklan di media. Bahkan partai yang sudah lama

3
http://Pemilu2004.goblogmedia.com/230-iklan-partai-di-tv-per-hari.html
4
http://politik.vivanews.com/news/read/53470-priyo__sebagian_tv_milik_orang_golkar
berdiri seperti PKB, PPP dan lain sebagainya dapat tergeserkan posisinya oleh
partai baru yang besar-besaran beriklan.
Dari penjabaran di atas sangat jelas sekali bahwa iklan sebagai konten
media yang berisikan penawaran sangat dipengaruhi kekuatan finansial.
Seperti hukum ekonomi setiap tingginya permintaan akan disertai dengan
harga. Media sangat mengetahui bahwa iklan merupakan hal yang sangat
digemari oleh partai politik. Maka harga iklan pun akan sangat bervariasi dan
bersaing stau sama lain. Berdasarkan segala perdebatan yang telah
dijabarkan diatas. Dapat disimpulkan bahwa unsur kapitalisme sangat tidak
dapat dipisahkan dari industri strategis seperti media. Di manapun media itu
berasal, khususnya di negara berkembang seperti Indonesia. Negara
berkembang sangat mudah mengadopsi atau terpaksa mengikuti arus
kapitalisme yang diciptakan negara barat. Hal ini yang mengakibatkan
komodifikasi menjadi hal yang sangat lumrah di dalam pergerakan media.
Semua hal kembali dikaitkan dengan uang, dana, finansial dan apapun
namanya. Bukan hal mengherankan ketika kekuatan finansial sangat
memiliki andil dalam hampir semua unsur media, tidak terkecuali iklan dalam
momen pesta demokrasi sekalipun.

Daftar pustaka

230 Iklan Partai di TV per HARI. Terarsip di


http://Pemilu2004.goblogmedia.com/230-iklan-partai-di-tv-per-
hari.html

Daniel Hutapea, Memperjuangkan Kaum Buruh, terarsip di


http://www.sinarharapan.co.id/berita/0808/01/pol12.html

Jadwal Iklan Parpol di Media Bebas. Terarsip di


http://www.inilah.com/berita/2009/01/19/77229/jadwal-iklan-parpol-di-
media-bebas/

Riyanto, Theophilus J. Kekuatan Media Massa dalam Kampanye Kepresidenan


di Amerika Serikat. Terarsip di http://fportfolio.petra.ac.id/user_files/88-
010/Kekuatan%20Media%20Massa%5B1%5D.doc
Sebagian TV Milik Orang Golkar. Terarsip di
http://politik.vivanews.com/news/read/53470-
priyo__sebagian_tv_milik_orang_golkar

http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_partai_politik_di_Indonesia
http://www.partaigerindra.or.id/
http://www.hanura.com/
http://id.wikipedia.org/wiki/Partai_Pengusaha_dan_Pekerja_Indonesia