Anda di halaman 1dari 2

1

BAB I
PENDAHULUAN


Salah satu bentuk pengobatan modern yang berkembang dengan pesat
adalah pengobatan dengan menggunakan antibiotika. Obat ini mampu
menanggulangi berbagai jenis penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri.
Tingginya penggunaan antibiotika lebih dari satu jenis dan dalam waktu lama
umumnya digunakan untuk penanganan komplikasi infeksi berat di rumah saki
merupakan salah satu faktor pemicu terjadinya resistensi bakteri. Resistensi bateri
merupakan masalah besar, karena dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas
serta biaya perawatan kesehatan (Blot S., Vandewoude K., Bacquer & Colardyn
F., 2002).
Pengaruh penggunaan antibiotika dan laju resistensi di Nederland,
menunjukkan hubungan yang signifikan. Masalah resistensi bakteri terhadap
antibiotika semakin mengancam, dikhawatirkan di masa yang akan datang
perkembangannya tidak mampu mengikuti perkembangan resistensi yang ada.
(Palcevski, Morovic, Palsevcki & Betica, 2001). Faktor resiko lain adalah
terjadinya kolonisasi silang dan superinfeksi, karena seringnya kontak antara
petugas kesehatan dan pasien, dan intensitas penggunaan alat-alat medis untuk
menunjang hidup pasien. Hal ini meningkatkan prevalensi terjadinya resistensi
terhadap pasien-pasien rawat inap di rumah sakit, dan tingginya tingkat kegagalan
terapi empiris sebagai terapi awal. (Hui Ding et al., 2008).
Penanganan pasien di intensive care unit (ICU) terhadap infeksi
dibutuhkan terapi lebih cepat, tanpa harus menunggu hasil kepekaan bakteri.
Tindakan ini diperlukan untuk mencegah terjadinya infeksi lebih lanjut karena
tingkat infeksi di ICU cukup tinggi dan disertai keparahan penyakit lebih tinggi
dibandingkan pasien yang dirawat di bangsal (Roder et al., 1993). Bergmans et
1
al., (1997) menunjukkan prevalensi kejadian infeksi di ICU 10 kali lebih banyak
dan penggunaan antibiotika tiga kali lebih besar daripada di bangsal umum.
ICU berperan dalam resistensi bakteri, faktor yang memicu adalah pasien
dalam kondisi penyakit kritis, frekuensi penggunaan antibiotika spektrum luas
cukup besar, area perawatan yang sempit dengan kondisi penyakit pasien yang
kompleks, terdapatnya pasien-pasien dengan penyakit immunokompromais
(seperti keganasan, infeksi HIV) yang membutuhkan perawatan lebih lama dan
penggunaan alat-alat medis secara invasif (Kollef, 2001). Optimalisasi
penggunaan antibiotika, pada tingkat yang paling mendasar disesuaikan dengan
data kepekaan bakteri, pembatasan penggunaan antibiotika yang tidak perlu,
menerapkan tepat perawatan, tepat pemilihan, dan tepat dosis. Strategi ini dapat
dimanfaatkan sebagai bagian dari pendekatan multidisiplin untuk membatasi
penyebarluasan resistensi bakteri di ICU (Kollef, 2006).
Kejadian resistensi bakteri di ICU dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara
lain: penggunaan antibiotika yang tidak sesuai dengan hasil kepekaan bakteri,
intensitas penggunaan antibiotika dalam kurun waktu tertentu, penggunaan
ventilator, lama penggunaan ventilator dan penggunaan alat bantu lainnya,
keparahan penyakit pasien, seperti kateter, infus (Katsaragakis, 2008; Hui Ding. et
al., 2008).
Studi tentang pola kepekaan kuman terhadap antibiotika di ruang rawat
intensif rumah sakit Fatmawati Jakarta dalam kurun waktu 20012002,
menunjukkan jenis kuman patogen adalah Pseudomonas sp., Klebsiella sp.,
Escherichia coli, Streptococcus haemolyticus, Staphylococcus epidermidis dan
Staphylococcus aureus dan mempunyai resistensi tertinggi terhadap ampisilin,
amoksisilin, penisillin G, tetrasiklin dan kloramfenikol. Dilanjutkan dengan studi
tentang faktor yang mempengaruhi ketidaksesuaian penggunaan antibiotika
dengan uji kepekaan di ruang rawat intensif rumah sakit Fatmawati Jakarta dalam
kurun waktu 2001 2002 (Refdanita, 2004).