Anda di halaman 1dari 35

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Keterlibatan farmasis dalam pengambilan keputusan tentang terapi obat telah
berkembang sejak pengembangan praktek farmasi klinis di rumah sakit dan diambil dari
sejarah pengobatan pasien berbasis komputer dalam praktek masyarakat. Keterlibatan
farmasis dalam pengambilan keputusan tentang terapi obat terjadi : Pertama, Ketika
pengetahuan mereka tentang obat dan obat-obatan yang digunakan sebagai pedoman
terapi untuk peresepan, dalam pengembangan formularium di institusi, dan dengan
keterlibatan dalam pelayanan informasi obat, ketika digunakan untuk peresepan. Kedua,
Ketika pengetahuan mereka digunakan untuk konseling pasien secara individl, bila
keputusan yang dilakukan untuk memulai terapi baru, serta ketika terapi yang tersebut
dilakukan. Keterlibatan farmasis dalam keputusan terapi obat terjadi di instalasi farmasi
rumah sakit dengan penerimaan di lingkungan, tapi masih belum banyak diaplikasikan.
Farmasis adalah anggota tim multidisipliner yang terlibat dalam kegiatan pelayanan
terapi untuk peresepan dalam berbagai bidang klinis seperti pengembangan penggunaan
obat, yaitu pengembangan formula pengobatan yang telah disetujui di rumah sakit,
institusi

kesehatan, bahkan juga dalam kelompok ahli pengobatan. Dalam

pengembangan protokol pengobatan farmasis dilibatkan secara langsung untuk


mengawasi kegiatan ini
Tenaga medis dan ahli resep memiliki tanggung jawab untuk mendiagnosa kondisi
pasiennya sebagai langkah awal perawatan, termasuk terapi obat. Di beberapa RS dan
klinik, farmasis berdiskusi dengan ahli resep untuk pengambilan keputusan dalam terapi.
Dalam perserikatan farmasis, sesekali laporan pengobatan oleh farmasis dilaporkan ke
ahli resep untuk pengembangan terapi obat yang lebih baik kedepannya. Tanggung jawab
yang besar dalam terapi seringkali tidak tepat, sehingga farmasis harus mampu menjamin
keamanan pengobatan .

1.2. Tujuan
Mengetahui dan memahami tentang hubungan profesionalime farmasis dengan tenaga
kesehatan lainnya.

FARMASI SOSIAL

1.3. Rumusan Masalah


Bagaimana jaringan formal dan informal antar profesionalisme ?
Apakah ada kemajuan hasil terapi pasien ?
Apa saja hambatan hubungan antar profesionalisme ?
Keterampilan komunikasi yang bagaimana yang mempengaruhi profesionalisme ?
Bagaimana interaksi antara pasien, farmasi dengan resep?
Bagaimana intervensi farmasis dalam hubungan antar profesionalisme?

FARMASI SOSIAL

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Keterlibatan farmasis dalam pengambilan keputusan tentang terapi obat telah berkembang
sejak pengembangan praktek farmasi klinis di rumah sakit dan diambil dari sejarah
pengobatan pasien berbasis komputer dalam praktek masyarakat. Keterlibatan farmasis dalam
pengambilan keputusan tentang terapi obat terjadi :

Ketika pengetahuan mereka tentang obat dan obat-obatan yang digunakan sebagai
pedoman terapi untuk peresepan, dalam pengembangan formularium di institusi, dan
dengan keterlibatan dalam pelayanan informasi obat, ketika digunakan untuk
peresepan

Ketika pengetahuan mereka digunakan untuk konseling pasien secara individl, bila
keputusan yang dilakukan untuk memulai terapi baru, serta ketika terapi yang tersebut
dilakukan.

Permulaan Terapi Obat terhadap Pasien Secara Umum


Farmasis adalah anggota tim multidisipliner yang terlibat dalam kegiatan pelayanan
terapi untuk peresepan dalam berbagai bidang klinis seperti pengembangan Penggunaan Obat
di Australia, yaitu pengembangan formula pengobatan yang telah disetujui di rumah sakit,
institusi kesehatan, bahkan juga dalam kelompok ahli pengobatan. Dalam pengembangan
protokol pengobatan farmasis dilibatkan secara langsung untuk mengawasi kegiatan ini.

Permulaan Terapi Obat Pada Pasien Individual


Tenaga medis dan ahli resep memiliki tanggung jawab untuk mendiagnosa kondisi
pasiennya sebagai langkah awal perawatan, termasuk terapi obat. Di beberapa RS dan klinik,
farmasis berdiskusi dengan ahli resep untuk pengambilan keputusan dalam terapi. Dalam
perserikatan farmasis, sesekali laporan pengobatan oleh farmasis dilaporkan ke ahli resep
untuk pengembangan terapi obat yang lebih baik kedepannya. Tanggung jawab yang besar
dalam terapi seringkali tidak tepat, sehingga farmasis harus mampu menjamin keamanan
pengobatan

FARMASI SOSIAL

Peninjauan Terapi Obat Yang Diresepkan


Farmasis terlibat dalam keputusan terapi obat terhadap pasien sesudah terapi tersebut
dimulai, khususnya :

Selama proses pengobatan, ketika permasalahan obat didapati dan harus memberikan
solusi setelah sebelumnya berdiskusi dengan pembuat resep

Selanjutnya untuk obat yang sedang disimpan ketika farmasis menjadi butuh untuk
meninjau hasil terapi dari obat tersebut, dengan mengenali reaksi ADR obat yang
pasien dapatkan selama proses terapi. Penerapan layanan farmasetikal tidak diragukan
lagi untuk meninjau kemungkinan ini.

FARMASI SOSIAL

BAB III
PEMBAHASAN

3.1. JARINGAN FORMAL DAN INFORMAL


A. Interaksi antara Farmasis dengan Pembuat Resep
Hepler telah membuat dalil tentang konsep farmasis menjadi terapis dalam
pelayanan farmasi. Apakah ini didapat atau karena kebiasaan lazim konsultasi antar
profesional, kebiasaan tergantung pada seberapa efektif dan diterima oleh farmasis
untuk mengambil bagian ini. Apapun yang terjadi di masa depan, terlibat dalam hal
ini melanjutkan pergumulan profesi ahli farmasetikal untuk memantapkan relasi
dengan para ahli medis lainnya.
Interaksi antara tenaga medis dan farmasis dimulai dari tingkat pelajar kesehatan,
dimana saling ketergantungan antar dua profesi ini dipupuk. Interaksi ini harus
melibatkan beberapa organisasi yang menggambarkan dunia farmasis dan ahli resep
untuk bekerja sama, saling mengerti, saling menghormati, dan menerima bagaimana
cara kerja masing-masing pihak untuk mencapai kepuasan medikasi pasien.
Sebagai contoh misalnya usaha kooperatif antar profesional antara Royal
Australian College dengan Asosiasi Ahli Farmasetika di Australia. Pernyataan ini
menunjukkan bahwa praktisi dan farmasis berkomunikasi satu sama lain untuk
membuat suatu protokol penulisan resep yang baru. Hal yang lebih menarik, interaksi
ini meningkatkan kepercayaan diri praktisi medis karena keterlibatannya dalam hal
ini. Konsep ini sudah dibicarakan bahkan dilakukan juga di banyak negara.

B. Konsultasi dan Jaringan Antar Profesional


Keterlibatan farmasis dalam keputusan terapi obat terjadi di instalasi farmasi
rumah sakit dengan penerimaan di lingkungan, tapi masih belum banyak
diaplikasikan.
Beberapa penelitian menemukan bahwa pengaruh komunitas farmasis dalam
peresepan, kecuali dalam identifikasi yang tidak tepat dalam pemilihan obat-obatan
untuk pasien secara spesifik atau niat dari pembuat resep untuk mengklarifikasikan.
Kerjasama antara penulis resep dan komunitas farmasis semakin kuat dalam
beberapa hal tertentu. Perbedaan dalam hubungan ini dalam pengaturan praktek
terjadi bisa karena jumlah pembuat resep, campuran pasien, campur tangan pihak
FARMASI SOSIAL

ketiga dalam skema, dan kebutuhan finansial. Ada pengakuan besar dalam peran
farmasis dalam organisasi perawatan kesehatan, dimana biaya obat-obatan lebih besar
daripada biaya resep.
Hal ini juga terjadi di Britania Raya, dimana para praktisi umumnya condong
kepada pekerjaan farmasis di pusat kesehatan. Praktisi general dalam pusat kesehatan
lebi seperti melaporkan memanfaatkan farmasis sebagai sumber informasi dan lebih
mensupport farmasis dalam perannya memberikan saran mengobatan daripada mereka
yang bekerja di pusat kesehatan tanpa farmasi.
Komunitas farmasi segan untuk mengusahakan pertemuan dengan tenaga
kesehatan lainnya. Pembangunan image yang baik membutuhkan fasilitas dimana
farmasis dipersiapkan untuk bertemu dengan profesional penulis resep (misalnya
fisikawan, praktisi medis, dokter gigi, dll).
Metode dan kekuatan jaringan informal menekankan keuntungan dari
diciptakannya komunikasi antara komunitas farmasi dan pembuat resep diantaranya :
Pemberian kartu nama bisnis dalam pertemuan
Hubungan timbal balik :
o

Penggunaan formulir diantara farmasis dan dokter, contohnya, (1)


seorang pasien yang meminta saran kepada farmasis tentang gejala dari
obat yang diberikan penulis resep akan lebih menguntungkan jika
dibandingkan dengan obat lainnya, atau (2) pemberian kartu untuk
korban adverse drug reaction. Blenkinsopp, Jepson, dan Drury
menunjukkan bahwa sebagian besar pasien yang menjadi korban
dilaporkan ke dokter mereka. Kartu ini akan diberi kepada pasien,
dokter, dan farmasis.

Penawaran untuk dokter untuk mempertimbangakan demonstrasi


kepada farmasis seperti nebulizer asma, teknik inhalasi, atau
penggunaan mesin monitor gula darah.

Selebaran informasi untuk pasien yang disediakan oleh farmasis untuk


mengurangi instruksi dan penulis resep atau dari farmasis itu sendiri, tapi
harus diberikan juga kepada dokter
Info kesehatan di koran tentang adanya produk baru, peraturan, reaksi obat
yang tidak diinginkan, laporan aktifitas profesional kesehatan, undangan untuk
mengikuti seminar kesehatan, dll.
FARMASI SOSIAL

Laporan proaktif terhadap isu terkini, misalnya memperingatkan penulis resep


untuk mengurangi pemberian suatu obat tertentu jika hasilnya tidak sesuai
yang diharapkan.
Menawarkan informasi obat terkini untuk membantu penulis resep dalam
pemilihan terapi obat. Contohnya, farmasis yang menggunakan program
informasi obat, memiliki keuntungan dengan mengundang penulis resep untuk
bersama-sama mengeksplorasi program tersebut, disertai pemberian laporan
rekam medik dari pasien.
Ketersedian database rekam medik pasien dalam fasilitas farmasi untuk
mendeteksi adanya penyalahgunaan obat oleh pasien dengan adanya
monitoring secara rutin.
Pembangunan komunitas antara farmasis dan penulis resep.

3.2. KEMAJUAN HASIL TERAPI


Kemajuan komunikasi antara profesional kesehatan menawarkan kemungkinan
terjadinya kemajuan hasil terapeutik untuk pasien. Beberapa kemajuan signifikan
tersebut antara lain :

A. Pengurangan Kesalahan Penulisan Resep


Beberapa penelitian menunjukkan bahwa intervensi yang dilakukan komunitas
dan farmasi rumah sakit telah mengurangi kemungkinan terjadinya kesalahan
penulisan resep.

B. Pengurangan Jumlah Medikasi dan Kejadian Reaksi Obat Yang Tidak


Diinginkan
Lamour dan peneliti kampusnya melaporkan resiko dari terjadinya ADR
secara siginifikan meningkatkan jumlah obat yang harus digunakan. Penggunaan
polifarmasi dalam terapi sudah diprediksi karena adanya pelayanan di rumah sakit,
peningkatan usia, perbedaan gender, dan tekanan yang meningkat.

C. Pengurangan Kesalahan Dalam Pemberian Obat

FARMASI SOSIAL

Intervensi oleh farmasis telah meningkatkan efisiensi monitoring terapi obat,


dimana juga mengurangi kesalahan pemberian obat dan modifikasi dosis dan
meningkatkan serum obat dan test biokimia. Penggunaan komputer oleh farmasis juga
meningkatkan efektifitas medikasi dan deteksi interaksi obat yang tidak diinginkan.

D. Perkembangan Kepatuhan Pasien


Konseling dalam pengobatan menggunakan informasi tertulis sangat efektif
dibanding penyampaian secara lisan. Ketidakpatuhan dengan dosis rejimen obat telah
berkurang. Pengobatan yang tidak teraturjuga harus dipikirkan, terutama untuk pasien
asthma atau hipersensitif.

E. Penulisan Resep yang Rasional


Laporan

dari

komite

farmasi

di

Britania

Raya

merekomendasikan

pengembangan hubungan yang lebih erat antara praktisi umum dan farmasis sehingga
para praktisi umum memiliki keuntungan yang sama dalam kepemilikan akses
farmasetika. Komite juga mencatat bahwa ada satu perusahaan obat yang
merepresentasikan 6 praktisi umum dan peran representatif untuk mempromosikan
fungsi mereka dalam perusahaan.
Praktek penulisan resep berpengaruh terhadap kegiatan akademik, kampanye
edukasi, dan rujukan penulisan resep.
Peneliti akademik. Fungsi peneliti akademik adalah untuk mengganti praktek
penulisan resep yang sudah diperkenalkan sebelumnya. Peneliti akademik biasanya
adalah farmasis yang menyediakan informasi obat kepada penulis resep untuk
kegiatan penulisan resep yang lebih baik. Pemimpin penelitian melihat adanya
pengaruh terhadap penulisan resep dari beberapa jenis obat-obatan.
Kampanye edukasi. Kampanye edukasi telah dilaksanakan dalam pengaturan
di rumah sakit dengan beberapa perubahan penting dalam kebiasaan penulisan resep
antibiotik. Inisiatif ini juga sukses diterapkan dalam praktek di komunitas.
Rujukan penggunaan obat. Komite pengobatan dan terapetik rumah sakit yang
terdiri dari farmasis, penulis resep, dan administrator, menentukan protokol, untuk
kemajuan efisiensi dalam hal segi keefektifan biaya dan perawatan dalam pengobatan.
Di tahun 1978 di Australia, Komite Penasehat Penggunaan Obat Victoria
mengidentifikasi kebutuhan keseragaman rujukan dalam penulisan resep untuk
analgesik, antibiotik, kardiovaskular, gastrointestinal, psychotropic, dan obat untuk
FARMASI SOSIAL

pernapasan. Rujukan ini telah ditinjau dan diedarkan, dengan rekomendasi dari
komunitas medis dan praktisi farmasi; mereka didukung oleh Asosiasi Medis
Australia. Dampak dari rujukan penulisan resep juga cukup signifikan. Ini adalah
suatu contoh yang sangat baik dalam interaksi antara farmasis dan penulis resep
dalam pemilihan terapi obat.

F. Pengetahuan Dosis Rejimen Obat yang Memadai


Pemahaman yang tidak memadai dalam dosis rejimen obat untuk pasien oleh
penulis obat memiliki potensi kesalahan penulisan resep. Pasien mungkin
mengunjungi dokter dan spesialis yang berbeda untuk keadaannya yang kompleks.
Setiap penulis resep mungkin saja tidak awas terhadap medikasi yang sudah dilakukan
oleh penulis resep lainnya. Pasien perlu didorong untuk hanya mengunjungi satu
sarana farmasi sampai mereka memiliki rekam medik untuk mencegah terjadinya hal
ini. Edukasi untuk pasien dalam poin ini perlu dilaksanakan, karena ada banyak
konsumen yang tidak awas terhadap layanan ini. Pengenalan terhadap kartu pintar
yang terhubung sistem komputer meningkatkan akurasi rekam medik. Hal ini juga
bisa dihubungkan dengan komputer penulis resep, meskipun memiliki masalah dalam
hal etika dan kenyamanan.
Setiap farmasis harus meninjau rekam medik pasien untuk memutuskan
pengobatan yang akan dilakukan. Tinjauan diizinkan untuk mengidentifikasi
kemungkinan terjadinya kesalahan dalam penulisan resep, dimana farmasis mungkin
mengidentifikasi penyebab gejala karena pemberian obat, lalu perlu memberitahu
penulis resep untuk mengubah dosis rejimen dalam resep untuk menghindari kejadian
buruk. Misalnya :

Penggunaan proklorperazin untuk nausea ketika pasien sedang menggunakan


digoxin dan verapamil.

Penggunaan nitrazeoam untuk tidur ketika pasien sedang menggunakan


monoamin oksidase inhibitor ketika hari menjelang malam.

Penggunaan allopurinol untuk gout ketika pasien sedang menggunakan diuretik


thiazid.

Penggunaan temazepam untuk tidur ketika passien sedang menggunakan


metoprolol malam hari.

FARMASI SOSIAL

G. Menemukan penyalahgunaan obat


Meningkatkan

komunikasi

antara

profesi

kesehatan

mendorong

pelaporan

penggunaan obat yang berlebihan, misalnya, bila penderita menggunakan beberapa


resep untuk mendapatkan obat adiksi atau benzodiazepin.

H. Identifikasi Kumpulan Risiko


Penyaringan kumpulan risiko (pengujian tekanan darah, pengujian kolesterol, tes
glukosa darah) dapat digunakan oleh apoteker dan profesional kesehatan lainnya
untuk mendeteksi berbagai resiko tertentu yang mungkin memerlukan rujukan dan
penyelidikan lebih lanjut.

I. Pelayanan farmasi
Pemantauan Proaktif penderita selama terapi obat oleh apoteker akan
menyebabkan konsultasi dengan resep jika obat tersebut atau memiliki potensi yang
tersedia berkaitan dengan masalah obat, serta mendorong kepatuhan yang lebih baik
(misalnya pengurangan monitoring tekanan darah, berat badan, pemantauan
penggunaan) melewati rujukan yang terjadi antara apoteker dan resep.

J. Penelitian dan pengembangan


Praktik penelitian farmasi harus bekerja sama dan multidisiplin untuk mencapai
hasil terapi yang lebih baik bagi penderita. bidang penelitian meliputi kepatuhan,
pengetahuan pasien, perbelanjaan dokter, resep asli dan copy resep, laporan dari sisi
efek, efek samping obat yang merugikan, dll.

K. Dukungan kesehatan
Kebutuhan profesional kesehatan setempat untuk bekerja sama untuk mendorong
orang untuk mengambil tanggung jawab untuk kesehatan mereka sendiri. Pedoman ini
dapat dikembangkan untuk promosi kesehatan yang konsisten, screning produsen, dan
program kesehatan masyarakat setempat, semua apoteker melibatkan dan semua
profesional kesehatan lainnya
Untuk mencapai penggunaan optimal dari obat-obatan, penting untuk
memaksimalkan pilihan obat yang tepat, untuk terapi individual, dan untuk
memberikan informasi pasien yang sesuai dan dukungan. Resep dan apoteker
FARMASI SOSIAL

10

memiliki keahlian yang berbeda namun saling melengkapi. pengakuan dan penguatan
hubungan profesional mereka, baik secara formal maupun informal, sangat penting
untuk memaksimalkan kemampuan mereka untuk bekerja secara sinergis untuk
mencapai hasil yang diinginkan dan meningkatkan mutu hidup pasien.

3.3. HAMBATAN UNTUK HUBUNGAN ANTAR PROFESIONAL


Ada sejumlah cara untuk mencegah hambatan untuk apoteker berkomunikasi secara
efektif dengan profesional kesehatan lainnya, yaitu : sikap, waktu, keahlian dan
pengetahuan.

A. Sikap
Perilaku dan harapan apoteker yang dibangun pada pengalaman sebelumnya.
hirarki kesehatan telah menyebabkan banyak apoteker untuk percaya bahwa resep
tersebut didekati; Oleh karena itu, apoteker ini tidak mendekati setiap pertemuan
dengan keyakinan. banyak apoteker hanya tidak suka menghubungi resep kecuali
benar-benar diperlukan. bagian dari masalah tampaknya persepsi bahwa praktisi
umum dan apoteker masyarakat memiliki satu sama lain.
Sebuah konferensi pada pada hubungan interprofessional di Inggris
melaporkan bahwa "apoteker melihat dokter sebagai diagnostisi sementara dokter
melihat diri mereka sebagai ahli penggunaan obat."
Apoteker harus memiliki keahlian resep mereka dan kemudian mendapatkan
penerimaan sebagai anggota tim perawatan kesehatan dengan kinerja mereka.

B. Waktu dan Uang


Kurangnya waktu adalah alasan untuk kegiatan individu memilih untuk
menghindar. Namun demikian, keinginan untuk mencapai suatu tujuan biasanya
cukup untuk menemukan waktu yang diperlukan untuk melakukannya. kurangnya gaji
atau dorongan untuk menyediakan kegiatan klinis diperpanjang untuk meningkatkan
perawatan pasien juga sering dipandang sebagai penghalang nyata oleh beberapa
apoteker masyarakat dan sesuatu yang perlu di negosiasi dengan penyedia dana yang
harus menyadari nilai - komponen tambah masukan apoteker, yang mana
meningkatkan efisiensi biaya serta perawatan pasien.

FARMASI SOSIAL

11

C. Keterampilan dan Pengetahuan


Banyak apoteker tidak berkomunikasi secara profesional dengan rekan-rekan
mereka atau nasihat pasien mereka karena kurangnya keterampilan dan pengetahuan.
penghalang utama adalah ketidakmampuan apoteker untuk memperoleh informasi
yang relevan karena hambatan dalam sistem yang ada serta sikap diantisipasi oleh
resep. apoteker juga mungkin kurang pengetahuan tentang rincian klinis pasien seperti
perubahan dalam pengobatan, lengkap sejarah pengobatan pasien, dan masalah obat
potensial karena gagal untuk tetap up to date. Situasi apoteker, atau gagal untuk
berkomunikasi secara efektif dengan paketersien untuk mengidentifikasi masalah
kepatuhan.
Keprihatinan utama di GP dan peran apoteker dalam pendidikan narkoba
konsumen diidentifikasi oleh studi RISIKO dalam praktek umum. Dokter khawatir
apoteker bahwa kadang-kadang mungkin memberikan pasien saran yang bertentangan
dengan mereka sendiri. apoteker sendiri prihatin menawarkan saran yang saling
bertentangan. apoteker mengatakan bahwa mereka terkendala ketika mereka tidak
tahu rincian klinis pasien dan tidak diberitahu tentang perubahan dalam pengobatan,
khususnya ketika arah dihilangkan dari resep atau dosis yang tidak biasa yang
diresepkan. dalam upaya untuk kejelasan dan mengatasi masalah ini. studi RISIKO
difasilitasi lokakarya dengan "pasangan kerja alami" dari dokter lokal dan apoteker
dengan konsumen. sebagai hasil dari pertemuan ini, memberikan informasi obat
kepada pasien, penanganan situasi yang tidak biasa, dan mengadaptasi resep untuk
melayani sebagai bantuan praktis untuk improing komunikasi antara GP dan apoteker
yang Mengembangkan ini dirangkum kemudian dalam bab ini.
Konferensi nasional bersama apoteker masyarakat dan praktisi medis di Inggris
mengidentifikasi contoh kesalahpahaman menghambat kontak dekat. praktisi umum
khawatir kerahasiaan mungkin ditempatkan pada risiko dan tidak menyadari
pentingnya etika farmasi. kepercayaan umum lain adalah bahwa pertimbangan
komersial akan mempengaruhi nasihat apoteker dari kebutuhan dan pilihan
pengobatan. ada juga resistensi oleh profesi medis ketika apoteker upaya untuk
memperoleh bukan peran karena profesi medis merasa wilayahnya sedang terancam.
Apoteker peran klinis di rumah sakit umum telah diterima oleh dokter dan perawat.
akhirnya, itu adalah dokter reaksi untuk farmasi klinik yang menentukan whetner
yang menganggap apoteker sebagai bagian dari tim perawatan medis dan menerima
obat rekomendasi terapi. survei dokter pendapat barat Australia menunjukkan bahwa
FARMASI SOSIAL

12

65% menganggap bahwa rekomendasi obat oleh apoteker yang relevan secara klinis
"sebagian besar waktu"
Peran baru yang terbuka untuk apoteker cenderung mereka yang telah diabaikan
oleh dokter. Sebuah studi Inggris menyarankan genen penerimaan oleh profesi medis
obat - kegiatan yang berhubungan dengan apoteker seperti konseling pasien tentang
efek samping obat pelaporan efek samping obat, mendorong kepatuhan terhadap
rejimen yang ditentukan, mengelola kondisi kesehatan kecil, dan berpartisipasi dalam
tim perawatan kesehatan primer . 61 % GP melihat peran apoteker masyarakat dalam
memberi nasihat dokter tentang biaya resep yang efektif.
Tampilan Apoteker diri mereka sebagai yang mampu offerin nasehat tentang
pengobatan non farmakologi dan menginformasikan tentang efek dan efek samping
dari lipid - obat penurun tidak dimiliki oleh dokter Swedia. Penelitian ini
menunjukkan bahwa ada jika perlu untuk komunikasi yang lebih baik, kepercayaan,
dan saling pengertian antara apoteker dan dokter Swedia.
Penggunaan jaringan elektronik akan membantu dalam interaksi antara
profesional kesehatan, khususnya bagi pasien dari rumah sakit. Pesanan untuk obat
postdischarge bisa dikirim melalui modem dari rumah sakit ke apotek lokal dan
pasien resep biasa. Atau, peningkatan penggunaan informasi kesehatan pasien dalam
dari kartu komputerisasi yang mengandung catatan pasien penuh akan membantu
mengurangi beberapa resep dan juga dalam rekaman OTC obat-obatan. Aspek
terakhir ini mungkin tidak akan menjadi seperti yang berlaku di AS atau negara Asia,
seperti OTC obat-obatan avalaible pada diri - dasar yang dipilih di negara-negara.

3.4. KETERAMPILAN KOMUNIKASI UNTUK MENINGKATKAN HUBUNGAN


ANTAR PROFESSIONAL
Apoteker telah menjadi semakin khawatir dengan bagaimana wel mereka
berkomunikasi dengan pasien, dan sejumlah studi menunjukkan perlunya perbaikan
dalam komunikasi. Bukti kekurangan dalam keterampilan komunikasi juga terlihat antara
praktisi

general

dan

pasien

dan

antara

praktisi

umum

dan

spesialis

program farmasi sekarang bertujuan untuk mengajar siswa teknik komunikasi pasien, Ie,
keterampilan termasuk bahasa tubuh, dan memberikan informasi. Prinsip-prinsip yang
sama harus diterapkan untuk komunikasi dengan profesional kesehatan lainnya.
Pembentukan hubungan dibantu oleh face - to - kontak faktor, tapi ini mungkin tidak
FARMASI SOSIAL

13

selalu memungkinkan. Kontak awal sering melalui telepon, Wich dapat diikuti dengan
laporan tertulis. Apoteker komunitas tertulis keterampilan komunikasi, memiliki prioritas
yang rendah di masa lalu, tapi ini sekarang harus berubah untuk meningkatkan apoteker
berdiri profesional untuk komunikasi yang sukses, profesional, pendekatan percaya diri
harus selalu digunakan. Quintrell menyatakan: "sebagai seorang apoteker, Anda
memiliki hak untuk keberadaan Anda profesional dan pendapat profesional Anda: dan
hak untuk memiliki eksistensi dan opini dihormati". Sebuah interenange benar-benar
profesional antara resep dan apoteker didasarkan pada saling menghormati. Bagaimana
bisa seorang apoteker mendapatkan rasa hormat ketika mengkritik kebiasaan
meresepkan,? Pertama, apoteker harus mempersiapkan dan memperoleh informasi untuk
mendukung kasus ini. Apoteker harus mampu berbicara bahasa penulis resep dan
memahami kebutuhan mereka, dengan fokus pada manfaat bagi pasien dan resep untuk
tidak apoteker. Quinrell menunjukkan bahwa ada empat tahapan dalam pertukaran
tersebut: pernyataan, jawaban, negosiasi, dan resolusi. Tahap pertama adalah jelas,
pernyataan percaya diri tentang situasi, tanpa permintaan maaf atau keragu-raguan.
Selama tahap kedua, harus berhati-hati dan hormat mendengarkan kebutuhan dan
keinginan orang lain. Tahap ketiga melibatkan negosiasi dengan tawaran bantuan;
dilanjutkan dengan tahap keempat yang mana

masalah teratasi dengan kepuasan

maksimum

pada

yang

mungkin,

dengan

fokus

manfaat

kepada

pasien.

Quintrells empat tahap pertukaran diilustrasikan dalam contoh berikut. Anda bekerja
pada sebuah komite penggunaan obat di rumah sakit dan ingin mengubah protokol resep
obat. Anda akan perlu untuk mengutip studi penelitian terkemuka yang menunjukkan
bahwa obat baru adalah sebagai efektif, atau lebih efektif, dibandingkan dengan obat
yang saat ini digunakan dan kemudian menunjukkan manfaat dari rekomendasi untuk
perubahan, misalnya mengurangi efek samping, metode yang lebih baik dari
administrasi, dikurangi toksisitas, dan kurang kebutuhan untuk pemantauan. Biaya dalam
edisi akhir yang harus diatasi, tetapi tidak sebelum masalah perawatan pasien yang
optimal telah ditangani. Biaya juga tidak boleh hanya didasarkan pada biaya obat tetapi
biaya total th berpakaian sebenarnya lebih mahal, tetapi mengurangi waktu yang
dihabiskan mengubah ganti oleh perawat menawarkan biaya keseluruhan mengurangi
ditambah peningkatan kualitas penyembuhan luka. Apoteker yang negosiasi sukses akan
terus bertanya pada diri sendiri sebelum dan selama interaksi: apa kebutuhan pihak lain?
keberhasilan akan tergantung pada waktu goog, lingkungan negosiasi yang cocok,
perilaku asertif, kemampuan untuk mendengarkan, dan persiapan yang cukup dari kasus
FARMASI SOSIAL

14

ini. Kesadaran susun kekuatan dan ketahanan terhadap perubahan penting. Respon yang
dibuat oleh apoteker juga akan mempengaruhi hasil.
Ringkasan cara agresif, tegas, dan nonassertive akting yang tercantum dalam tabel 10.1
Mari kita lihat situasi khas intervensi apoteker. Seorang apoteker telah menerima resep
untuk lithium karbonat dan enalapril untuk Mrs Siapapun. Anda menyadari bahwa
interaksi antara obat ini berpotensi merugikan. Anda memutuskan untuk memanggil
presriber tersebut. Ini bisa pergi seperti ini. (Berdasarkan skenario yang diusulkan oleh
Quintrell)

Tabel 10.1 ringkasan perilaku tegas, agresif, nonassertive, (Diadaptasi dari Quintrell)

Tegas
Secara pribadi
(anda)

Non asertif

menghargai

agresif

diri Menolak hormat kepada Menurunkan

sendiri

orang lain

kehormatan diri sendiri

Memutuskan untuk Memutuskan untuk yang Memungkinkan


diri sendiri

lainnya

lain untuk memutuskan

Mungkin mencapai Mungkin


tujuan Anda
Apakah
dengan
baik

mencapai

tujuan dengan mahal


pergi Mungkin merasa baik

perasaan
tentang

diri

Anda

kerugian

dimasa

depan

Ekspresikan

Anda
Gagal untuk mencapai
tujuan

tetapi dengan biaya lain meninggalkan


dan

orang

sakit

hati, cemas, dan takut


untuk mencoba lagi

Mengungkapkan

terhambat

kebutuhan Anda dan

kebutuhan

tetapi

mendengarkan

mengabaikan orang lain

dan

tidak

mengekspresikan
kebutuhan

orang lain
Secara verbal,
cara bicara

Terbuka,
jelas, dan tepat

jujur, Sombong,
unggul,

diktator, menyesal, tidak jelas,


menuduh,

menyalahkan
Suara

Keras, hangat, jujur, keras,


meyakinkan

FARMASI SOSIAL

tersembunyi,
menghindari.

menuntut, Lemah dan ragu ragu

menjengkelkan, ofensif
15

Seimbang,

Tubuh

santai, Tegang dan sombong

dan terbuka.

Tegang,

tertutup,

menghindari

tatapan

mata

Apoteker

: Halo ini adalah Apotek Everyman ini. Boleh saya bicara dengan
Dokter Dogood?

Resepsionis

: Bisa saya bantu?

Apoteker

: Tidak. Ada sesuatu yang saya perlu mendiskusikan dengan dokter.


(Baik! Anda belum membiarkan diri Anda menunda)

Resepsionis

: dia sedang ada konsultasi saat ini. Bisakah Anda menelepon lagi?

Apoteker

: tentu. Saya punya Mrs.Anyone menunggu di apotek. Seberapa cepat


saya bisa menelepon dia? (Anda bersikap sopan tapi tegas. Anda
memahami kebutuhan dokter dan menghormati mereka, tetapi juga
membiarkan resepsionis tahu bahwa Anda dan mrs. Ada yang punya
kebutuhan juga)

Resepsionis

: Aku akan bisa menelpon dia segera setelah ia selesai dengan pasien
saat ini.

Apoteker

: terima kasih. Aku akan menunggu . tolong beritahu dia Ada yang tahu
bahwa dia harus menunggu beberapa saat. Nomor saya ....

(Beberapa waktu kemudian)


Dokter

: Hello. Anda ingin berbicara dengan saya

Apoteker

: Ya. terima kasih untuk memanggil kembali Dr Dogood. saya punya resep
untuk Mrs. Anyone saja untuk lithium dan enalapril. ada interaksi berpotensi
serius antara kedua. kehilangan natrium terkait dengan inhibitor ACE dapat
menyebabkan kenaikan toksisitas litium. (Anda menyatakan kekhawatiran
Anda dan penjelasan secara jelas dan singkat)

Dokter

: Baik, saya baru saja mengulang apa yang mereka miliki dia di rumah sakit.
(Dia berada di defensif dan menyerukan kepada otoritas yang lebih tinggi
untuk membenarkan dirinya sendiri)

Apoteker : Baik, aku bisa melihat kita punya masalah. Anda ingin saya untuk menelepon rumah
sakit dan chek? atau Anda lebih suka untuk melakukan itu? (Anda perusahaan.
Penilaian profesional Anda melihat masalah, tetapi Anda menghormati perasaannya
dan cukup siap untuk membantu menemukan solusi. Dicatat bahwa Anda
memberinya dua pilihan, yang keduanya diterima untuk Anda).
FARMASI SOSIAL

16

Dokter

: Saya kira kita bisa menyebut rumah sakit. apakah ada alternatif kita bisa mencoba?
(Sekarang dia masuk ke dalam semangat negosiasi, tapi tidak hanya itu, ia
mengandalkan Anda untuk datang dengan alternatif

Apoteker : Bagaimana saluran kalsium memblokir agen mengatakan felodipin? (Sekarang Anda
serta membiarkan dia turun dengan lembut)
Dokter

: Itu terdengar seperti ide yang baik. ya, sebutkan felodipin nya. sebagai gantinya.
(Lihat, ia memiliki menyetujui untuk saran dan menyelamatkan muka).

Apoteker : Itu baik-baik saja. kau ingin aku mengatakan apa-apa padanya tentang perubahan?
(Anda telah mencapai tujuan Anda, sehingga Anda bisa bersikap menyenangkan dan
bermanfaat
Dokter

: Ya, bilang saja padanya aku sudah memutuskan bahwa obat ini akan menjadi salah
satu yang lebih baik untuknya. (Dia memegang sendiri diri - menghormati dan Anda
telah mempertahankan Anda, dan Anda telah mencapai kompromi yang memuaskan
dan dijaga dengan baik terapi - kesejahteraan pasien)

Apoteker : Baik, aku akan mengirim resep lebih untuk perubahan. terima kasih untuk
menelepon kembali. selamat tinggal. (Hasil yang memuaskan, apa lagi, Anda berdua
merasa baik tentang interaksi).

Namun, itu bisa pergi cukup berbeda


Apoteker : Hello. Dokter. Aku minta maaf mengganggu Anda, tapi saya pikir saya harus
memanggil dan memeriksa resep mrs.anyone ini. (Anda sudah mulai dengan
menempatkan diri dalam "satu - down". Posisi Anda mulai dengan permintaan maaf
(mengapa) dan belum menyatakan masalah)
Dokter

: Apa masalahnya?

Apoteker : Anda telah diresepkan lithium dan enalapril untuk mrs. salah satu yang saya lihat di
USPDI bahwa ada interaksi. (Anda tidak mengatakan, "ada interaksi". Mulai
penilaian profesional Anda. Sebagai gantinya, Anda memanggil otoritas lain benar
dari awal)
Dokter

: Baik, saya baru saja mengulangi apa yang mereka menempatkan dia di rumah sakit

Apoteker :Oh, apa yang Anda ingin saya lakukan,? (Anda telah terjual habis, menyerahkan
semua kekuatan untuk resep yang)
Dokter

: Lihat. saya tidak berpikir itu akan menjadi masalah. dia hanya harus mengambil
enalapril harian.

Apoteker : Baik, selama Anda pikir itu baik-baik saja. (Anda telah melepaskan tanggung jawab
atas kesabaran Anda dan menarik kembali pada penilaian profesional Anda.)
Dokter

: Hanya mengatakan untuk tetap dosis dan melihat saya lagi bulan depan.

FARMASI SOSIAL

17

Apoteker : semua, benar, maaf telah mengganggu Anda. (Anda telah melakukannya lagi
meminta maaf atas pendapat Anda resep telah meninggalkan dengan otoritas dan
mandiri - Menghormati utuh dan Anda adalah compang-camping lebih lanjut, bahwa
resep tertentu tidak akan memiliki pendapat yang sangat tinggi kemampuan
profesional Anda ini bisa di gilirannya memiliki efek halo sikap negatif itu resep
untuk semua apoteker.

3.5. INTERAKSI PASIEN, RESEP DAN APOTEKER


Hepler menguraikan model di mana resep dan apoteker memiliki tanggung jawab langsung
kepada pasien dan satu sama lain, tetapi keduanya berbagi tanggung jawab untuk kualitas terapi
obat seluruh pasien. adaptasi dari model ini diuraikan dalam gambar 10.1. resep memiliki otoritas
sosial lebih besar dari apoteker untuk obat resep, tapi ini tidak berkurang dengan cara apapun
tanggung jawab apoteker untuk memberikan saran kepada pasien dan resep maupun tidak baik
telah meminta nasihat.
Gambar 10,1 Interaksi Pasien, Resep, Apoteker

A. Pemberian Keputusan
Sangat penting bahwa dalam setiap keputusan terapi obat keunikan pasien dianggap
oleh resep dan apoteker. harus ada pertukaran antara semua pihak sebelum mengambil
keputusan. Pasien berhak untuk membuat keputusan sendiri tentang pengobatan dan karena
itu harus diberikan informasi yang memadai dalam bentuk yang sesuai untuk mereka untuk
membuat keputusan seperti itu. meskipun resep atau apoteker harus memberikan saran, pasien
harus bebas untuk menerima atau menolaknya. pedoman untuk informed consent dalam
pengobatan memberikan standart bagi para praktisi. saran verbal, dilengkapi dengan informasi
tertulis, harus diberikan kepada konsumen untuk memungkinkan mereka untuk membuat
keputusan mengenai terapi obat. sangat penting bahwa resep dan apoteker bekerja sama untuk

FARMASI SOSIAL

18

menyesuaikan terapi obat untuk kebutuhan pasien seperti ketangkasan, penglihatan,


keyakinan budaya dan agama, jadwal kerja.
Setelah pilihan obat telah dibuat, terapi obat yang efektif tidak terjadi jika ada link
dalam rantai dari resep untuk apoteker untuk pasien rusak. berikut disarankan sebagai
mekanisme untuk memastikan bahwa pendekatan tim digunakan sepanjang durasi terapi
untuk penggunaan obat yang optimal.

B. Praktik baik yang Direkomendasikan untuk Komunikasi antara Dokter dan Apoteker
Dokter tidak menyadari peran penuh apoteker. ini mungkin karena kurangnya
pendidikan dokter tentang peran apoteker atau komunikasi yang buruk. hanya 38% dari dokter
rumah sakit mengidentifikasi bahwa apoteker memiliki keahlian dalam konseling obat. untuk
memfasilitasi pertukaran antara dokter dan apoteker dan memungkinkan untuk pengembangan
lebih lanjut dan penerimaan peran apoteker dalam keputusan terapi obat, ide-ide berikut ini
disarankan.
1. Pedoman untuk apoteker memastikan kondisi pasien tanpa melanggar etika
Pilihan berikut ini disarankan untuk apoteker sebagai metode memulai konseling jika
rincian alasan untuk terapi belum sudah disediakan oleh resep tersebut :
Apoteker meminta pasien apa kata dokter tentang alasan untuk meresepkan obat.
Apoteker mencari informasi yang relevan dari pasien.
Apotekecr meminta izin pasien untuk meminta dokter tentang kondisi pasien dan
obat-obatan.
Apoteker mengacu pasien kembali ke resep untuk diskusi.
Dalam sebagian besar kasus, apoteker tidak memerlukan informasi diagnostik dan
klinis lengkap tentang pasien nasihat pasien secara efektif tentang obat, meskipun
beberapa informasi pada tujuan untuk resep diperlukan. jika dokter yang memberikan
diagnosis lengkap untuk apoteker, persetujuan tertulis pasien akan diperlukan. situasi
berbeda di rumah sakit atau fasilitas perawatan perumahan, di mana apoteker memiliki
akses ke catatan medis lengkap. situasi di atas meminta informasi dari pasien tidak akan
selalu tepat, misalnya, dengan pasien immunocompromised dirawat karena pneumonia
carinii pneumonia dengan dosis besar sulfametoksazol / trimethoprim. dalam hal ini,
komunikasi pribadi antara dokter dan apoteker biasa pasien akan membantu, atau jika ini
tidak terjadi, kesadaran dan kepekaan oleh apoteker akan diperlukan untuk menghindari
pelanggaran kerahasiaan. Contoh lain mungkin penggunaan siklosporin untuk selain
penolakan setelah transplantasi organ atau penggunaan obat untuk kondisi disetujui.

FARMASI SOSIAL

19

2. Penggunaan resep untuk informasi dan petunjuk


Informasi resep harus jelas rinci akan di resep sebenarnya untuk meningkatkan
kepatuhan pasien dengan tulangan apoteker. Masalah komunikasi yang buruk dari dokter
ke apoteker dengan menulis terbaca dan petunjuk samar telah dijelaskan.
Jika arah dihilangkan dari resep apoteker harus bertanggung jawab untuk memastikan
pasien tahu dan memahami bagaimana obat harus diambil atau digunakan oleh konsultasi
pasien, Menggunakan arah standar, dan / atau konsultasi resep tersebut. Kedua profesi
mencegah penggunaan mengambil seperti yang diarahkan sebagai label.
Resep dapat digunakan untuk memberitahu apoteker adalah pengobatan baru telah
dimulai atau jika adaperubahan dosis.
Jika regimen obat yang kompleks yang digunakan, baik apoteker dan pasien harus
diberitahu secara tertulis contoh penurunan dosis prednisolon, inisiasi pengobatan
dengan ACE inhibitor setelah pengobatan dengan diuretik dan beta bloker
Penggunaan jarang obat akan disorot untuk membantu konseling apoteker dengan
penjelasan pada resep, misalnya Amitriptyline, untuk sakit trigeminal, Bromokriptin
untuk menghentikan menyusui, Karbamazepin untuk nyeri rahang bawah,
Nortriptyline untuk mencegah enuresis noctural.
Resep harus digunakan untuk menunjukkan kebutuhan khusus pasien, contoh pasien
gangguan penglihatan atau memiliki kebingungan dengan obat menunjukkan perlunya
wadah pemberian dosis.
Untuk obat debit, dokter setempat pasien dan apoteker harus diberikan segera dengan
informasi tentang obat debit pasien dirawat dirumah sakit.

C. Penguatan Informasi
Resep harus berada dalam posisi untuk menganggap (dengan perjanjian sebelumnya)
bahwa setiap pasien akan menerima dari informasi apoteker tertulis (Informasi Produk
Konsumen) dari pertama kali dari pengeluaran dan berdasarkan permintaan dan konseling
lisan menekankan tiga atau empat poin yang paling penting tentang obat dan apoteker
kemudian akan memeriksa pemahaman pasien atau pengasuh untuk penggunaan kemudian
optimum obat.

D. Komunikasi untuk memperjelas masalah resep


Mekanisme resmi rujukan ke resep yang diperlukan untuk permintaan pasien tidak
diatasi oleh apoteker, seperti efek samping. Keputusan mengenai apakah harus ada rujukan
mendesak melalui telepon atau harus ada permintaan tertulis total ulasan pengobatan sebelum
atau penunjukkan standar berikutnya harus diselesaikan oleh pasien dan apoteker. Masalah
obat lain seperti beberapa sumber resep, interaksi, dan penyesuain dosis perlu disebut resep
FARMASI SOSIAL

20

dengan cara yang paling tepat berdasarkan penilaian dari apoteker. Untuk memungkinkan
penyelesaian masalah, sangat penting bahwa resep menyadari manfaat dan pentingnya
menjadi mudah diakses apoteker melalui telepon. Resepsionis mereka harus di didikk tentang
pentingnya dan perlunya aksesibilitas ini.

E. Perencanaan Pelayanan farmasi


Dibawah standar praktik farmasi modern, apoteker diharapkan dapat menghasilkan
rencana perawatan farmasi untuk pasien masing masing sehingga setiap aktual dan potensi
obat - masalah yang berhubungan dapat di identifiksi dan dikelola. Apoteker telah rela
tersedia intervensi perawatan perawatan selama peoses pengeluaran sampai dengan saat
mereka menyediakan obat yang diresepkan. Dalam pengaturan kelembagaan, intervensi
perawatan oleh apoteker selama terapi obat juga telah menjadi jauh lebih umum, tapi
dikomunikasi (retail) praktek, ide ini baru mulai. Sebuah tantangan yang profesi sekarang
menghadapi bagaimana memberikan pelayanan farmasi untuk semua klien.
Perencanaan pelayanan farmasi telah dijelaskan baik. Rencana awal melibatkan
sembilan langkah, yang jelas, yang bisa. Diringkas sebagai :

Membangun pemahaman dan penerimaan olaeh pasien yang apoteker akan


memberikan pelayanan farmasi untuk mencapai hasil yang diinginkan dengan terapi
obat, mengidentifikasi dan peringkat yang aktual dan potensial obat masalah yang
berhungan pasien, mempertimbangkan alternatif dan memilih tindakan yang paling
tepat tindakan : merancang dan melaksanakan pemantauan tanaman untuk mengamati
hasil dari rencana.

Menindak lanjuti dengan pasien, penjaga dan penyedia mereka yang lain kesehatan
profesional ketika diperlukan, untuk memodifikasi terapi obat sebagi hasil dari
pengamatan itu.

Pentingnya pencatatan semua langkah dari proses perencanaan untuk memastikan


perawatan lanjutan dan akuntabilitas ditekankan.

F. Penyedian Pelayanan umum


Semua penyedia layanan kesehatan harus secara teratur diberikan daftar apoteker, dokter,
paramedik, dan kelompok-kelompok pendukung di daerah untuk membantu rujukan dan
konsultasi. Pedoman harus disediakan untuk proyek-proyek bersama dalam promosi
kesehatan setempat.

FARMASI SOSIAL

21

3.6. INTERVENSI
Meskipun keinginan untuk apoteker untuk menjadi proaktif ketika berhadapan dengan
profesional kesehatan lainnya, kenyataannya adalah bahwa, di utama, mereka reaktif. Secara
umum, apoteker bereaksi terhadap penerimaan resep atau pasien memberikan informasi. Dalam
bagian ini. Kita akan melihat tingkat dan efektivitas intervensi apoteker dalam apa utama
disebutnya "rapuh rantai terapeutic". Yang menggambarkan rangkaian tampilan awal gejala,
proses mencari bantuan menuju kunjungan ke diagnosa, dan keterlibatan dengan apoteker yang
mengarah ke hasil terapi yang diinginkan. Pada setiap link di sepanjang rantai, ada kemungkinan
kesalahan dan potensi dokter-apoteker sangat penting di sini (gambar 10.1)
Angka kejadian kesalahan obat aktual atau potensial dalam kedokteran komunitas telah terbukti
rata-rata sekitar 1,2% dari semua perintah resep tertulis.
Intervensi oleh apoteker dalam pengaturan instutional sekarang sedang banyak dicatat, dan
bagian dari gerakan internasional untuk memastikan "jaminan mutu" layanan ini, hasil
pengukuran juga sedang dikembangkan. Ada tema konstan yang mendasari perlunya intervensi
baik di rumah sakit dan masyarakat pengaturan, konstan dalam kesalahan manusia, yang "bahaya
rawat inap" besar, karena merupakan salah satu penyebab utama kecelakaan dalam masyarakat
modern. Studi Rumah Sakit telah demostrated bahwa kesalahan pengobatan merupakan salah
satu penyebab utama komplikasi iatrogenik. Bukti anekdotal menunjukkan bahwa apoteker
masyarakat memperbaiki kesalahan seperti pada hampir setiap hari tanpa memikirkan ke hari
nilai menambah sistem perawatan kesehatan dalam penyediaan layanan tersebut. Dokumentasi
intervensi ini dan evaluasi mereka dalam penting jika sumber daya harus dibuat tersedia untuk
memperpanjang apoteker "peran dan manfaat econimic apoteker" intervensi harus ditunjukkan.
Beberapa studi penelitian dan kasus telah menunjukkan nilai intervensi farmasi dan pelayanan
klinis dalam risiko jangka dikurangi menjadi pasien, pengetahuan pasien ditingkatkan, kepatuhan
yang lebih baik, dan mengurangi biaya obat, rawat inap, dan perawatan kesehatan mahal lainnya.
Beberapa pf studi ini mengeksplorasi potensi peran klinis dikeluarkan untuk apoteker, semua
menunjukkan kualitas ditambahkan ke perawatan kesehatan pasien oleh apoteker. Mcghan dan
coleagues menggambarkan efektivitas apoteker dalam studi banding dengan dokter pada kualitas
resep pasien hipertensi rawat jalan. Studi ini menunjukkan bahwa apoteker kompeten dan efektif
dapat mengurangi beban kerja operator dengan melakukan manajemen pasien kronis tertentu.
Hal ini juga dilaporkan oleh McKenney, yang sebelumnya ditunjukkan oleh layanan klinis yang
diberikan oleh apoteker kepada pasien dengan hipertensi esensial, dibandingkan dengan
kelompok kontrol, menimbulkan pengetahuan secara signifikan lebih baik tentang hipertensi dan
pengobatannya, kepatuhan secara signifikan lebih baik, dan pendapatan secara signifikan lebih
banyak menjaga mereka tekanan darah dalam rentang normal selama periode penelitian. Itu juga
mencatat dalam penelitian ini bahwa penerimaan pasien dari peran ini untuk apoteker tinggi,
tercermin 92% sesuai dengan janji untuk konsultasi.
FARMASI SOSIAL

22

Penelitian lain di Amerika Serikat telah membuktikan efektivitas intervensi berbasis farmasi
dalam meningkatkan kepatuhan pengobatan. Pada studi pasien hipertensi menghadiri apotek
masyarakat di Australia menunjukkan kepatuhan yang luar biasa dengan penggunaan obat dan
resep isi ulang (aprroaximately 90%), dengan 86% melaporkan tekanan darah mereka berada di
bawah kendali.
Davis menjelaskan tentang penelitian berbasis masyarakat retrospektif di mana apoteker
dikelola patologi akut. Hasil 50 pasien yang menerima budaya tenggorokan diagnostik dan
pengobatan dari praktisi medis, dokter assistans, dan perawat dibandingkan dengan 58 pasien
yang dirawat dan dikelola oleh apoteker. Data yang dihasilkan oleh penelitian ini menunjukkan
bahwa penggunaan apoteker dengan cara ini dirilis praktisi medis untuk kegiatan yang lebih
menguntungkan, mengurangi waktu antara kultur dan intervensi, dan mengurangi biaya terapi
dibandingkan dengan kelompok lain. Sementara didukung adalah temuan bahwa ada juga
kembali kunjungan sakit sedikit dengan kelompok farmasi-diobati. Forther mempelajari
efektivitas biaya dari layanan farmasi klinis rawat jalan di AS pusat kesehatan dan menunjukkan
penghematan dibandingkan dengan puskesmas lain dengan ukuran yang sebanding panel,
demografi dan pertemuan pasien per provider, dan dukungan konsultan serupa.
Cunningham - Burley dan Maclean, tim sosiolog medis dari glasgow. Telah juga menyelidiki dan
menemukan kredibilitas dalam peran klinis yang lebih besar untuk apoteker. Mereka
mengidentifikasi peran penting untuk apoteker dalam memberikan pelayanan kesehatan dasar
bagi anak-anak dengan keluhan ringan, yang menyatakan bahwa:
Kimiawan melakukan menyediakan layanan yang berharga untuk banyak ibu dengan anakanak: fleksibilitas dan sifat informal kontak ini adalah fitur penting. Ahli kimia ini
memungkinkan ibu untuk mengatasi anak gejala yang tidak membutuhkan perhatian
dokter. Mereka juga menyediakan beberapa sumber eksternal saran, sehingga memperkuat
perasaan seorang ibu yang anak tidak perlu dokter, dengan upaya perlindungan yang ahli
kimia akan menyarankan rujukan tersebut jika diperlukan.
Christensen, dalam sebuah studi intervensi masalah rawat jalan oleh apoteker,
mendokumentasikan utilitas apoteker mendeteksi dan mencegah resep erorrs. Tingkat deteksi dua
empat masalah terapi obat yang potensial per 100 resep ditiadakan dilaporkan. Sedangkan
pentingnya masalah itu tidak ditentukan. Intervensi biasanya menghasilkan beberapa bentuk
tindakan dengan banyak menyebabkan perubahan eksplisit pada pasien medicationregimen.
Penelitian ini menyebabkan penerapan metode direvisi mengukur kegiatan apoteker dan
termasuk tidak hanya resep volume dengan apoteker, tetapi juga masalah terdeteksi, ulasan upaya
yang dilakukan, informasi obat lainnya ditangani, dan waktu lain pada kegiatan profesional.
Sebuah wilayah utama bunga muncul dalam tinjauan literatur adalah bahwa evaluasi ekonomi
intervensi apoteker dan kurangnya ukuran evalution ekonomi untuk praktik farmasi komunitas.
Dalam sebuah studi dari 89 apotek masyarakat di lima negara bagian di AS Rupp memperkirakan
FARMASI SOSIAL

23

bahwa kegiatan intervensi oleh apoteker dihindari sekitar $ 123 di biaya medis resep problematis,
atau $ 2,32 untuk setiap resep baru. Similary, Dobie dan Rascati, dalam sebuah studi dari dua
apotek masyarakat texas pedesaan pada tahun 1994, menghitung bahwa intervensi yang tepat
menghasilkan penghematan sekitar $ 3,50 biaya perawatan medis per resep olahan.
Sebuah studi menarik Australia dengan desantis dan rekan menunjukkan improvenment
ditandai dalam pola resep antibiotik dalam praktek umum dicapai melalui pesan mailing
kampanye pendidikan. penelitian memiliki tujuan menilai kualitas resep antibiotik oleh dokter
umum Victoria dan efektivitas teknik intervensi pendidikan dalam meningkatkan resep. Desain
dimanfaatkan, terkontrol, uji coba kelompok paralel secara acak di pedesaan dan metropolitan
victoria; 182 dokter umum (78 kontrol, 104 intervensi) dimulai dan 103 (41 kontrol, 62
intervensi) menyelesaikan studi. Peserta mencatat resep antibiotik mereka untuk tonsilitis.
Kelompok intervensi menerima mailing kampanye pendidikan. Seorang apoteker mengunjungi
setiap resep untuk mendiskusikan pesan kampanye. Persentase resep antibiotik untuk tonsilitis
mematuhi recommede mereka dalam Pedoman antibiotik dinilai. Rresult menunjukkan bahwa
pada kelompok intervensi, adalah resep sesuai dengan rekomendasi dalam pedoman meningkat
dari 60,5% sebelum kampanye untuk 87,7% sesudahnya. Peningkatan juga terjadi pada
kelompok kontrol: dari 52,9% menjadi 71,7% dari resep. Peningkatan dalam kelompok
intervensi secara signifikan lebih besar daripada dalam kelompok kontrol.

Apa yang apoteker inginkan dari resep tersebut?


Apoteker diperlukan untuk memastikan bahwa resep sesuai dengan persyaratan hukum. Niat
resep juga harus jelas, apakah dokter benar-benar ingin Seldane untuk arthritis? Feldene
untuk demam? Terbutalin (a sympthomimetic) untuk urtikaria? Terfenadine (a H1 nonsedating antihistamin) untuk infeksi jamur? Terbinafine (agen antijamur) untuk demam?
Hal ini menyebabkan pertimbangan merek - nama (atau nama dagang) dibandingkan obat
generik. Banyak resep di practicetend umum untuk memesan by order dengan nama merek.
Asalkan resep tahu apa obat sebenarnya dan belum pergi dari diagnosis untuk nama merek,
bukan dari diagnosis, untuk Wich terapi obat, generik, untuk perdagangan atau nama merek,
tidak boleh ada masalah apapun.
Sebagai contoh, pada akhir 1970-an, ketika clonidine berada di mode untuk pengobatan
hipertensi dan migrain, banyak resep kombinasi adalah sebagai berikut;
Rx Catapres 150 mg tab Ulangi X 2 100 Sig 1 tds untuk tekanan darah
Rx Tabs Dixarit Ulangi X 2 100 Sig 1 bd untuk 7/7, maka 1 tds, untuk migrain Dr XXY
Perdagangan produk ini keduanya mengandung bahan yang sama - clonidine. Sejarah dari
sebagian besar individu yang memiliki kombinasi ini diresepkan adalah bahwa mereka telah
stabil pada Catapres (clonidine 150 mcg) untuk hipertensi dan memiliki beberapa tahap
mengeluh "migrain". Boehringer Ingelheim baru-baru ini memperkenalkan Dixarit (clodine 25
FARMASI SOSIAL

24

mcg) untuk pengobatan migrain dan mempromosikannya berat dengan nama dagang.
Penambahan lebih clonidine untuk rejimen pasien tidak akan membantu migrain pasien dan
tentunya dapat meningkatkan toksisitas clonidine. Ini adalah kasus merek resep tanpa berpikir.
Contoh serupa mungkin dokter meresepkan beta blocker untuk profilaksis migrain di samping
sebuah beta blocker yang ada (sama atau berbeda) untuk pengobatan hipertensi.
Masalah lain terjadi dengan pengenalan augmentin pada 1980-an (amoksisilin / klavulanat
kalium). Setelah menerima resep untuk penisilin atau cephalosphorins, apoteker meminta pasien
tentang penggunaan sebelum penisilin, dengan pemandangan menentukan apakah pasien
mungkin alergi terhadap penisilin. Ada sekarang banyak kasus didokumentasikan pasien yang
mengajukan pertanyaan seperti sehubungan dengan augmentin dan membalas. "Tapi aku alergi
terhadap penisilin. Itu sebabnya dokter diresepkan antibiotik baru ini! ".
Resep seperti apa yang diinginkan pada resep ini ?
Sekolah farmasi sangat menyarankan bahwa apoteker menjadi tidak harus menghubungi
dokter untuk hal-hal sepele. Namun, diharapkan bahwa apoteker akan menghubungi resep ketika
masalah nyata yang berkaitan dengan kebutuhan terapi pasien muncul dan bahwa diskusi dan
resolusi masalah akan terjadi secara profesional. Beberapa bidang umum kekhawatiran bahwa
apoteker akan diharapkan untuk menghubungi seorang apoteker diharapkan untuk menghubungi
resep tentang :

dosis tidak lazim / keamanan / rute pemberian

interaksi obat

Kontraindikasi

Pemilihan atau penggunaan obat

Dosis Tidak Lazim


Overdosis terjadi paling sering pada chilrend dan khususnya dengan analgesik nacotic,
aspirin, aceminophen (parasetamol), antihistamin, trimethoprim / sulfamethoxazole, digoxin,
garam besi, teofilin, metoclopramide, dan atropin. Kewaspadaan ekstra dan perawatan harus
exrcised ketika meresepkan atau dispending zat ini untuk anak-anak. Keadaan lain yang terkait
dengan overdosis pada anak-anak adalah:

Dimana ada dewasa - campuran kekuatan, di mana normal 5 mL dosis mungkin tidak
sesuai untuk anak.

Apabila suatu sediaan cair dirancang untuk diberikan oleh dropper mana volume
dosis normal menjadi kecil.

Overdosis mungkin timbul dalam dua cara: administrasi terlalu sering atau terlalu besar dosis
individu. Dalam terlalu sering administrasi, berhati-hatilah obat dengan setengah panjang hidup, persiapan rilis berkelanjutan, dan situasi dengan arah yang rumit. Dalam t oo besar dosis
FARMASI SOSIAL

25

individu, Waspadalah terhadap obat yang sangat ampuh, obat dengan indeks terapeutik yang
sempit (individualisasi dosis mungkin diperlukan), situasi di mana lebih dari satu tablet atau
capsure diperintahkan, situasi di mana persiapan tersedia dalam kekuatan yang berbeda, obatobatan dimana dosis pemeliharaan lebih tinggi dari dosis awal, obat yang diberikan secara
parenteral, dan obat-obatan baru.
Dalam kaitan dengan kekuatan persiapan topikal, Waspadalah terhadap potensi peningkatan
penyerapan pada anak-anak, senyawa berpotensi kaustik, kejadian di mana sejumlah besar
dipesan atau daerah besar aplikasi yang terlibat, kasus di mana preparationwill yang diterapkan
pada permukaan mukosa, contoh di mana yang normal penghalang sifat kulit wiil terganggu, dan
contoh di mana non standard (nonformulary) persiapan yang terlibat.
Perlu dicatat bahwa dosis yang tidak pantas juga mungkin underdoses. Underdoses harus
dipandang sebagai berpotensi seserius overdosis. Terserah apoteker untuk memastikan bahwa
pasien menerima dosis yang tepat setiap saat. Beberapa pasien dewasa, untuk satu alasan atau
lainnya, mungkin tidak dapat mengambil bentuk dosis padat oral, dan sediaan cair diperlukan.
Banyak persiapan ini (antibiotik) hanya ada sebagai formulasi pediatrik. Kadang-kadang resep
yang mungkin secara tidak sengaja memesan dosis pediatrik obat.

Interaksi obat
Apoteker adalah sumber pengetahuan dan informasi di farmakologi klinis, terapi, dan
interaksi obat. Apoteker Enterprising dapat meningkatkan reputasi profesional mereka
dengan menggunakan program informasi obat canggih serta teks yang diperlukan oleh
hukum. PRICE dan Goldwire telah diilustrasikan titik ini dengan memulai "pelayanan
farmasi adalah menempatkan peningkatan permintaan pada apoteker masyarakat untuk
memberikan ringkas, informasi obat yang akurat
Sebuah interaksi obat dapat didefinisikan sebagai modifikasi terukur dalam besarnya
atau durasi tindakan dari satu obat dengan pemberian sebelumnya atau bersamaan zat
lain, termasuk resep dan non-resep obat, asap rokok, makanan, atau alkohol. Prinsipnya
adalah bahwa resep harus tahu risiko dan menetapkan tujuan yang jelas terapi dan
pedoman fo efek terapeutik atau beracun. Peran apoteker adalah untuk mengingatkan
resep untuk masalah potensial atau jika menyarankan obat alternatif, untuk menawarkan
alternatif tanpa potensi risiko. Obat interaksi per se bukan ancaman bagi pasien;
ketidaktahuan dokter atau apoteker dari interaksi berbahaya.
Sebagai contoh, betapa pentingnya adalah interaksi dari pasien asma dengan tingkat
plasma teofilin dari 12 mcg / mL yang diberikan qid 250mg dosis eritromisin?
Bandingkan dengan, katakanlah, pasien asma dengan tingkat teofilin dari 19 mcg / mL
FARMASI SOSIAL

26

plasma yang diresepkan 400mg bd dari norfloksasin (kadar terapeutik teofilin adalah 1020 mcg / mL). mencatat pentingnya peran resep dan apoteker sini mempertanyakan dan
konseling pasien dan berbicara satu sama lain.
Ciri penting dari Interaksi obat secara ringkas. Apoteker harus menyadari hal berikut:
Efek klinis dari satu obat dapat ditambah atau dikurangi dengan pemberian bersamaan
obat lain.
Banyak interaksi obat dapat diprediksi dan dengan demikian dihindari dengan
pengetahuan tentang efek farmakologis dan farmakokinetik
Interaksi obat dengan dasar farmakologi melibatkan tindakan pada reseptor yang sama
atau sistem fisiologis atau modifikasi respon obat sebagai akibat dari perubahan
dalam keseimbangan cairan atau elektrolit
Interaksi obat yang bersifat farmakokinetik disebabkan oleh efek dari satu obat pada
penyerapan, distribusi, metabolisme, dan ekskresi obat lain
Interaksi tidak akan selalu terjadi pada semua pasien yang menerima kombinasi obat
yang dikenal memiliki kemampuan interaksi potensial
Interaksi farmakokinetik menunjukkan dengan satu kombinasi obat tidak boleh
diekstrapolasikan untuk yang terkait dengan penggunaan obat kombinasi.
Resep Rasional menyatakan bahwa resep harus selalu berusaha untuk meminimalkan
jumlah obat setiap pasien individu yang diresepkan
Interaksi yang paling umum adalah yang melibatkan saling potensiasi depresi sistem
saraf pusat oleh hipnotik, penenang, analgesik, dan obat-obatan yang bekerja sentral
lainnya
Sebuah sumber umum dari "interaksi" adalah penggunaan mengabaikan nama dagang
atau merek. Dimana dokter tidak menyadari bahwa merek dia atau dia diresepkan
berisi sama (atau serupa) generik seperti produk lain yang pasien sudah diambil (lihat
sebelumnya)
Sumber lain "potensiasi interaksi" adalah di mana pasien mempunyai lebih dari satu
resep tanpa menyadari kondisi ini
Dengan demikian penting untuk berpikir " apa perbedaan situasi?" Dan " apakah kita
bisa mengurangi efek yang tidak diinginkan dengan pengobatan alternatif atau
mengubah dosis?" Dan " apakah kita perlu menghubungi resep itu?"

FARMASI SOSIAL

27

Kontraindikasi / efek samping


Sebelum farmasis berhubungan dengan resep untuk kosultasi mengenai obat
pasien, mereka harus mempertimbangkan hal berikut:
Kondisi medis pasien
Sejarah pengobatan pasien

Lamanya pengobatan

Indikasi yang obat yang diambil


Setiap faktor-faktor seperti kehamilan, menyusui, merokok, status keuangan, atau jika
pasien adalah anak atau orang yang lebih tua
Arti masalah
Kemungkinan Solusi untuk masalah ini

Contoh dari situasi interaksi obat mungkin ketika resep yang memerintahkan
inhibisi ACE untuk hipertensi dengan, katakanlah, spironolactone pada wanita
pascamenopause untuk hirsutisme. Kombinasi tersebut dapat menimbulkan peningkatan
risiko hiperkalemia. Para apoteker harus siap untuk menyarankan obat alternatif untuk
resep, seperti beta blocker beralih ke pada agen saluran kalsium memblokir, atau
sebaliknya beralih ke anti androgen untuk hirsutisme pasien.
Contoh lain dari interaksi obat yang dapat dengan mudah diatasi dengan
komunikasi yang tepat dengan resep yang akan menjadi kombinasi dengan resep yang
akan menjadi moclobemide kombinasi (MAOI-tipe A antidepresan) dengan alternatif
cimetidine.suitable H2-antagonis dengan mudah bisa ranitidine , famotidine, atau
nizatidine, tidak ada yang akan menyebabkan peningkatan kadar plasma dari
moclobemide
Masalah umum yang terlihat dalam farmasi adalah ketika resep telah
memerintahkan obat untuk mengobati (sadar) reaksi yang merugikan akibat obat atau
overdosis. Sebuah contoh yang terlalu sering situasi seperti ini adalah ketika pasien telah
stabil pada glikosida membeli jantung mengeluh palpitasi (aritmia), sehingga dokter
meresepkan quinidine. Beberapa waktu kemudian, pasien menyajikan dengan gejala
mirip flu, mual, dan gangguan penglihatan warna

Pilihan atau penggunaan obat


Contoh penggunaan obat yang tidak tepat adalah:

Penggunaan antibiotik untuk infeksi virus

FARMASI SOSIAL

28

Penggunaan barbiturat sebagai obat penenang / hipnotik

Penggunaan antibiotik spektrum luas untuk infeksi tenggorokan streptokokus

Penggunaan obat yang salah dengan menggunakan sengaja nama dagang


terdengar serupa

Tidak ada penyesuaian dosis pada orang tua atau gangguan hati atau ginjal

Penggunaan obat kontraindikasi oleh kondisi bersamaan

Polifarmasi mana obat yang ditambahkan tanpa ulasan dari total rejimen obat
Penggunaan obat-obatan yang mengganggu kualitas hidup pasien, diuretik
menyebabkan inkontinensia pada orang rematik cacat; beta blockers untuk
penggemar olahraga berusia 40 tahun; trisiklik pada orang tua, meningkatkan
risiko inkontinensia, penglihatan kabur, dan jatuh

Resep obat yang sama dalam formulasi yang berbeda, yang tidak mengarah
ke bioekivalensi. Misalnya, perubahan sengaja untuk kapsul nifedipin satu
kekuatan dari tablet kekuatan yang sama dapat menyebabkan peningkatan
berpotensi serius di tingkat plasma nifedipine

Farmasis memiliki pengetahuan yang mendalam tentang farmakologi klinis


dan farmakokinetik obat dan dapat bertindak sebagai sumber daya untuk resep di
semua tingkat praktek. Baik apoteker dan dokter yang profesional dengan
harapan dan kewajiban hukum, profesional, dan etis. masing-masing dapat
berkontribusi untuk praktek lain untuk saling menguntungkan pasien sementara
pada saat yang sama membuat kedua peran jauh lebih memuaskan.

FARMASI SOSIAL

29

BAB IV
KESIMPULAN
Karena mereka dalam pemahaman mendalam dan pengetahuan tentang narkoba,
apoteker saat ini memiliki potensi untuk meningkatkan terapi obat dan kualitas hidup pasien.
Sayangnya, beberapa sistem perawatan kesehatan atau praktisi kesehatan lainnya sepenuhnya
mengakui atau menerima kenyataan ini, dengan hasil bahwa banyak praktik farmasi hari initerutama dalam komunitas praktek-tetap dalam sistem yang menganggap apoteker hanya
sebagai pemasok produk obat
Untungnya, konsep baru dari pemberian perawatan kesehatan menekankan sistem
yang harus cepat dan secara signifikan meningkatkan hasil terapi obat dan menginstal
prosedur dan menggunakan semua keahlian yang ada untuk memastikan bahwa obat yang
digunakan oleh sistem sudah menjadi bagian utama dari kesehatan anggaran yang digunakan
dengan cara yang paling hemat biaya untuk meningkatkan kualitas hidup pasien
Apoteker berada dalam posisi untuk memberikan kontribusi yang cukup besar untuk
mencapai tujuan ini, karena mereka sudah terlibat dalam aspek pasokan obat dari sistem.
Mereka memiliki pengetahuan dasar ilmiah dan pengetahuan terapan dan keterampilan untuk
melakukannya.
Resep, secara umum, tidak mengenali atau menerima kontribusi yang sangat
signifikan yang apoteker dapat membuat penggunaan obat rasional dan hemat biaya dan
pencapaian hasil yang diinginkan terapi obat. Kalau saja apoteker yang diterima sebagai
bagian dihormati dari tim manajemen terapi obat
Tantangannya, maka, untuk apoteker-individual dan kolektif dalam praktik pribadi
mereka dan dalam hubungan mereka dengan resep dan profesi peduli, dengan pengusaha,
dengan penyedia layanan kesehatan lainnya (manajemen rumah sakit), dengan lembaga
pembiayaan kesehatan (pemerintah, industri asuransi kesehatan ), dan dengan birokrasi
kesehatan, adalah untuk menjadi pintar, tegas, dan efektif dalam menunjukkan dan benarbenar memberikan nilai nyata dalam partisipasi mereka sebagai anggota penuh dari tim terapi
obat.

FARMASI SOSIAL

30

DAFTAR PUSTAKA
1. DeSantis G,Harvey KJ, Howard D, Mashford ML, Moulds RFW. Improving the
quality of antibiotic prescription patterns in general practice. Med J Aust
1994;160:502-5.
2. Hepler CD. Pharmaceutical care and specialty practice. Pharmacotherapy 1993;13(2
Pt 2):64S-9S.
3. Commonwealth of Australia. Prescribed health. A report on the prescription an supply
of drugs. Part 3-pharmacy and medicinal supply (Jenkins Report). Canberra :
Australian Publishing Service, November 1992.
4. Anon. doctor pharmacist trainee exchange scheme commended. Pharm J
1988;240:117.
5. Ruth D. General practitioners and pharmacists interprofessional communication. Aust
Pharm 1994;13:431-4.
6. Committee of Inquity into pharmacy. Pharmacy: report of the Committee of Inquiry.
London: Nuffield Foundation, 1986.
7. Saltman DC. Primary health care: the role for pharmcists and GPs. Aust Pharm
1994;13;215-7.
8. Stewart BJ, Drury M. Greenfield S. Continvinng education for pharmacists and general
practitioners, Br J Gen Pfac, 1991;1 (344):126-7.
9. Koda Kimble MA. The United States experience. Aust J Hosp Pharm 1991;24:16-20.
10. Macklin J. Issues in pharmaceutical drug use in Australia. National Health Strategy Issues
Paper No. 4. 1992.
11. Raisch DW. Interactions between community pharmacists and prescriber: differences
between practise settings. J Soc Admin Pharm 1993;10:42-51.
12. Mitchell JL. Building cooperation with physicians an interview with Charles Fortner. Am
Pharm 1990;NS10 (2):24-6.
13. Harding G. Taylor KMG Professional relationships between general ptactitioners and
pharmacists in health centers, Br J Gen Pract 1990;40;464-6.
14. Blenkinsopp A, Jepson MH, Drury M. Using a notification card to improve
communication between community pharmacists and general practitioners. Br J Gen
Pract 1991;41:116-8.
15. Blenkinsopp A, Booth TG. Kennedy EJ. King H, Purvis JR, Taylor PA. Community
pharmacist amd general practitioner liaison groups: (2) getting started. Pharm J
1993:251:477-8.
FARMASI SOSIAL

31

16. Drummond MF. The rise of pharmacoeconomics: implications for pharmacists. Aust J
Hosp Pharm 1994:24:28-44.
17. Edgar TA. Lee DS. Cousins DD. Experience with a national medication error reporting
program. Am J Hosp Pharm 1994:51:1335-8.
18. Leversha A. An analysis of clinical pharmacy interventions and the role of clinical
phar,acy at a regional hospital in Australia. Aust J Hosp Pharm 1991:21:222-8.
19. Lamour I. Dolphin R. Baxter H. Morrison S. Hooke DH. McGrath BP. A prospective study
of hospital admissions due to drug reactions. Aust J Hosp Pharm 1991;21 (2);90-5.
20. Simens LA. Tett S. Simons J. Et al. Multiple medication use in the eljerly of prescription
and non-prescription drugs in an Australian community setting Med J Aust
1992;157;242-6.
21. Fairbrother J. Mottram DR. Williamson PM. Doctor-pharmacist interface a preliminary
evalution of domiciliary visits by a community pharmacist. J Soc Admin Pharm
1993;10;85-91
22. Colgan J Liason pharmacy the Orange experience. Auts Pharm 1994;13;315.
23. Paes AHP. Drug monitoring in community pharmacy J Sos Admin Pharm 1992;9;29-34.
24. Baker DM. A study contrasting different modalities of medication discharge counselling.
Hosp Pharm 1984;19;545-54.
25. Cromdos S. Allen B. Patient comprhension of discharge medication: doward pharmacists
make a difference to Freemantle? Aust J Hosp Pharm 1992;22;202-10.
26. Blackbourne J Readmission Freemantle Hospital. Who comes back when and why?
Freemantle Hosp Drug Bull 1991;15;9-16.
27. National Heart Foundation. Risk prevalence study. Canberra: National Health
Foundation, 1989.
28. McNeece J. The Drug and Therapeutics Information Service. Aust J. Soc Admin Pharm
1994;24;28-31.
29. Macklin J. Issues in pharmaceutical drug use in Australia. Issues Paper No. 4. Canberra:
National Health Strategy, 1992.
30. Pacs AHP, Pharmacists and general practitioners in consultation? J Soc Admin Pharm
1990;7;99.
31. Landgren FT< Harvey KJ. Mashfold ML, et al. Changing antibiotic prescribing by
educational marketing. Med J Aust 1988;149;595-9.
32. Harvey K, Stewart P, Hemming M, Moulds R. Use of antibiotic agents in a large teaching
hospita: the impact of antibiotic guelines, Med J Aust 1983;2;217-21.
33. Strand LM, Cipolle RJ, Morley PC, Ramsey R, Lamsam GD. Drug related problems: their
stricture and function. Ann Pharmacother 1990;24;1093-7.
FARMASI SOSIAL

32

34. Anon, Working together: benefits and barrier. National conference for Community
pharmacists orientation toward patient counselling. J Soc Admin Pharm 1992;251;1267.
35. Ortiz M, Walker WL Thomas R. Development of a measure to assess community
pharmacists orientation toward patient counselling. J Soc Admin Pharm 1992;9;2-10.
36. Murphy B, Ruth D, Murray Hodge M. The use of qualitative research in the development
of the Heartwise program for general practitioners.. Med J aust 1993;158;626-8.
37. Mesler MA. Boundary encroachment and task delegation clinical pharmacists on the
medical team. Sociol Health illness 1991;13;310-31.
38. Clifford RM, Jessop JB, Lake JM. Evaqluation of clinical pharmacy services: a survey of
doctors opinions. Aust J Soc Admin pharm 1993;23;11-6.
39. Gerren D, Wilicocks AJ. Community pharmacists mandate from general medical
practitioners for a drug counselling role; a retrospective and prospective study. Pharm J
1991;247;R38.
40. Spencer JA, Edward C, Pharmacy beyond the dispensary: general practitioners views. Br
Med J :1992;304:1670-2.
41. Sutters CA, Nathan A. The community pharmacists role: GPs and pharmacists attitudes
toward collaboration. J Soc Admin Pharm 1993;7;70-83.
42. Woodward J. GPss and community pharmacists: : a study of attitudes. Pharm J
1992;248;99-101.
43. Troein M, Rastam L, Selander S. Physicians lack of confidence in pharmacists
competence as patient informants. J Soc Admin Pharm 1992;9;114-22.
44. Albro W. How to communicate with physicians. Am Pharm 1993;NS33;59-61.
45. Butenya OB, Lauwo JAK. Communication about dispended drugs between prescriber, the
dispenser and the patient: a study from Port Moresby General Hospital. Aust J Hosp
Pharm 1993;23;182-5.
46. Del mar CB. Communicating well in general practice. Med J Aust 1994;160;367-70.
47. Graham PH. Improving communication with specialits. The case of an oncology clinic.
Med J aust 1994;160;625-7.
48. Quintell N. Communication skills. A manual for pharmacist. Canberra: pharmaceutical
Society of Australia. 1982.
49. Sussman G. Gruen R, Chang S, Maclellan D. Proceedings of the Third European
Conference on Advances in Wound Management. Harroge, U.K. october 19-22,1993.
London: Macmillan.
50. ASHP. Board of Directors report on the Council on Educational Affairs. Am J Hosp Pharm
1994;51;907-27.
FARMASI SOSIAL

33

51. Clifford RM, Jessop JB, Lake JM, Evaluation of clinical pharmacy services; a survey of
doctors opinions. Aust J Hosp Pharm 1993;23;11-6.
52. Main A, Elderly patient and their drugs. Pharm J 1988;240;537-9.
53. Strand LM, Cipolle RJ, Morley PC. Pharmaceutical care: an introduction Current
Concepts. Kalamazoo, MI: Upjohn, 1992.
54. Mechanic D. Medical sociology: a selective view. New York: The Free Press. 1968.
55. Cargin C. Wieaver J, Roller L. Prescribing errors in Victorian community pharmacies.
Aust J Pharm 1990;71;606.
56. Western Australia Clinical Pharmacists Groups. Recording clinical pharmacist
intervention: is there a better way? Aust J Hosp Pharm 1991;21;158-62.
57. Cooper JW. Clinical outcomes research in pharmacy practise. Am Pharm 1993:NS32:S7S8.
58. Schimel EM. The hazards of hospitalization. Ann Intern Med 1964;60;100-10.
59. Steel K. Gertman PM. Crescenzi C. Anderson J, latrogenic illnes on a general medical
services at a university hospital. N engl J Med 1981;304;638-42.
60. Dubois RW. Brook RH. Preventable deaths: who, how often, why? Ann Intern Med
1988;109;582-9.
61. Brennan TA. Leape LL. Laire NM. Incidence of adverse events and negligence in
hospitalized patients: results pf the Harvard Medical Practice Study I. N Engl J Med
1991;324;370-6.
62. Leape LL. Brennan TA. Laire NM. Incidence of adverse events and negligence in
hospitalized patients: results pf the Harvard Medical Practice Study I. N Engl J Med
1991;324;370-6.
63. Norman DA. Post Freudian slips. Psycol Today 1980;104 (4);41-50.
64. Raju TNK. Kecskes S. Thomion JP, Perry M, Feldman S. Medication errors in nconatal and
paediatric intensive care units. Lancet 1989;2;374-6.
65. McGhan WF. A comparison of pharmacians on the quality of prescribing for ambulatory
hypertensive patients. Med Care 1983;21;435-44.
66. McKenney JM, Slining JM, Henderson R, Devirs D, Barr M, The effect of clinical pharmacy
services on patients with essential hypertension. Circulation 1973;34;1104-11.
67. Davis S. Evaluation of pharmacist management of streptococcal trhroat infections in a
health maintenance organization. Am J Hosp Pharm 1978;35;561-6.
68. McKenney JM.clinical pharmacy and compliance. In Haynes RB, Taylor DW, Sackett DL,
eds. Compliance in health care. Baltimore: Johns Hopkins University Press, 1979:260-77.

FARMASI SOSIAL

34

69. Gilbert A. Owen N, Innes JM. High levels of medication compliance and blood pressure
control among hypertensive patients attending community pharmacies. J Soc Admin
Pharm 1990;7;78-82.
70. Fortner CR. Report on an ambulatory clinical program and its cost effectiveness. Group
Health J 1985;(Fall);3-6.
71. Cunningham Burley S, Maclan U. The role of the chemist in primary health care for
children with minor complains. Soc Sci Med 1987;24;371-7.
72. Christensen DB. Documenting cutpatient problem intervention activies of pharmacists
in an HMO. Med Care 1981;19;104-17.
73. Rupp MT. Value of community pharmacists intervention to correct prescribing errors.
Ann Pharmacother 1992;26;1580-5.
74. Dobie RL, Rascati KL. Documenting the value of pharmacist intervention. Am Pharm
1994;NS34;50-4.
75. Antibiotic Guidelines. 7th ed. Melnourne; Victorian Medical Postgraduate Foundation
Inc. 1992.
76. Adverse Drug Reactions Advisory Committee. Metoclopamide choose the dose
carefully. Aust Adverse Drug React Bull 1990;15;387.
77. Price KO, Goldwin MA. Drug information resources. Am Pharm 1994;NS34(7);30-9.
78. Roller L. Gowan JA. The principles of drug interaction; Part I, How they happen. N Z
Pharm 1994;14;328-33.
79. Bauer K, Brunner Febber F. Distlerath LM, et a;. Assessiment of systemic effects of
different ophalmic beta blockers in healthy volunteers. Clin Pharmacol Ther
1991;49;658-64.

FARMASI SOSIAL

35