Anda di halaman 1dari 16

3

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Akibat Gigi Tanggal Prematur
Gigi manusia tumbuh di dalam suatu lengkung rahang, satu sama
lain saling berdampingan dengan rapat, namun tidak berdesakan. Gigi
manusia bukan tulang yang tumbuh melekat menjadi satu dengan
rahang. Gigi tumbuh dan menempel pada tulang rahang dengan
perantaraan jaringan penyangga gigi atau jaringan periodontal. Karena
struktur itu, gigi normal dapat bergerak, bergoyang ke kiri dan ke kanan
dengan kemiringan tidak lebih dari satu derajat. Walaupun dapat
bergerak, gigi-geligi dapat saling mengunci sehingga secara bersamasama dapat menahan beban kunyah yang berat sekalipun.
Gigi mengalami pertumbuhan ke arah vertikal. Misalnya pada gigi
bawah tumbuh ke atas, gigi atas tumbuh ke bawah, sampai kedua gigi
atas dan bawah saling berkontak. Demikian pula dengan pergerakan ke
samping, jika gigi tidak mempunyai sandaran atau gigi di samping kirikanannya yang merapat erat dengan gigi tersebut, pada saat gigi
menerima beban, gigi akan condong ke arah menjauhi beban.
Hal ini menyebabkan gigi akan miring atau lama-kelamaan bergeser
dari tempatnya. Sebagai contoh, jika gigi nomor lima dicabut dan
tempatnya kosong, maka saat menerima beban kunyah, gigi nomor
enam akan cenderung condong secara permanen ke ruang kosong gigi
nomor lima. Akibatnya, gigi yang akan tumbuh menggantikan gigi
nomor lima tertutup gigi nomor enam yang miring.
Berikutnya, gigi pengganti akan tumbuh tidak normal. Misalnya
miring, berputar, atau gingsul. Kondisi gigi nomor enam yang miring
atau berpindah tempat inilah yang dicegah dengan pemasangan space
maintainer yaitu alat yang digunakan untuk menjaga ruang akibat
kehilangan dini gigi sulung, alat ini yang dipasang diantara dua gigi.
Sebagaimana yang kita ketahui bahwa gigi sulung tidak hanya
berfungsi untuk mengunyah makanan, tetapi juga sebagai penunjuk

jalan bagi pertumbuhan gigi permanen yang akan menggantikannya.


Jika gigi sulung tercabut terlalu cepat, gigi permanen akan kehilangan
arahnya sehingga erupsinya dapat terganggu.
2.2 Maloklusi
Maloklusi adalah bentuk hubungan rahang atas dan bawah yang
menyimpang dari bentuk standar yang diterima sebagai bentuk yang
normal, maloklusi dapat disebabkan karena tidak ada keseimbangan
dentofasial. Keseimbangan dentofasial ini tidak disebabkan oleh satu
faktor saja, tetapi beberapa faktor saling mempengaruhi. Faktor-faktor
yang mempengaruhi adalah keturunan, lingkungan, pertumbuhan dan
perkembangan, etnik, fungsional, patologi.
2.2.1 Klasifikasi maloklusi
Klasifikasi maloklusi menurut Edward Angle dibagi dalam tiga kelas, yaitu:
a. Klas I angle (Netroklusi)
Pada maloklusi ini patokannya diambil dari hubungan molar pertama
atas dengan molar pertama rahang bawah. Bila molar pertama atas atau
molar pertama bawah tidak ada maka kadang-kadang dilihat dari hubungan
kaninus rahang atas dan rahang bawah.

Menurut Devey, klas I ini dibagi menjadi 5 tipe:


1) Klas I tipe 1 : bonjol mesiobukal cusp molar pertama atas terletak pada
garis bukal molar pertama bawah dimana gigi anterior dalam keadaan
berjejal (crowding dan kaninus terletak lebih ke labial.
2) Klas I tipe 2 : hubungan molar pertama atas dan bawah normal dan gigi
anterior dalam keadaan protusif.
3) Klas I tipe 3 :hubungan pertama molar pertama atas dan bawah normal
tetapi terjadi gigitan bersilang anterior.
4) Klas I tipe 4 : hubungan pertama molar atas dan bawah normal tetapi
terjadi gigitan bersilang posterior.

5) Klas I tipe 5 : hubungan molar pertama normal, kemudian pada gigi


posterior terjadi migrasi kearah mesial.
b. Klas II Angle (Distoklusi)
Sehubungan bonjol mesiobukal cusp molar pertama atas lebih anterior
dari garis bukal molar pertama bawah. Juga apabila bonjol mesial cusp
molar pertama atas bergeser sedikit ke anteriordan tidak pada garis bukal
pertama atas melewati bonjol mesiobukal molar pertama bawah. Pada
maloklusi ini hubungan kaninusnya bervariasi yaitu kaninus bisa terletak
diantara insisif lateral dan kaninus bawah.pada umumnya kelainan ini
disbabkan karena kelainan pada tulang rahang atau maloklusi tipe skeletal.

Menurut dewey, klas II Angle ini dibagi dalam dua divisi, yaitu:
1) Divisi I : hubungan antara molar pertama bawah dan molar pertama
atas distoklusi dan gigi anterior adalah protusif. Kadang-kadang
disebabkan karena kecilnya rahang bawah sehingga profil pasien
terlihat seperti paruh burung.
2) Divisi 2 : hubungan antara molar pertama bawah dan molar pertama
atas disoklusi dan gigi anterior seolah-olah normal tetapi terjadi deep
bite dan profil pasien seolah-olah normal.
c. Klas III Angle (Mesioklusi)
Di sini bonjol mesiobukal cusp molar pertama atas berada lebih ke distal
atau melewati bonjol distal molar pertama bawah, atau lebih kedistal sedikit
saja dari garis bukal molar pertama bawah. Sedangkan kedudukan kaninus
biasanya terletak diantara premolar pertama dan kedua bawah. Klas III ini
disebut juga tipe skeletal.

Menurut dewey, klas III Angle ini dibagi dalam tiga tipe, yaitu:

1) Klas III tipe 1 : hubungan molar pertama atas dan bawah mesioklusi
sedang hubungan anterior insisal dengan insisal (edge to edge).
2) Klas III tipe 2 : hubungan molar pertama atas dan bawah mesioklusi,
sedang gigi anterior hubungannya normal.
3) Klas III tipe 3 : hubungan gigi anterior seluruhnya bersilang (cross
bite) sehingga dagu penderita menonjol kedepan. (Hambali,
Tono,1985).
2.2.2

Jenis Maloklusi

a. Protrusi
Protrusi adalah gigi yang posisinya maju ke depan. Protrusi dapat
disebabkan oleh faktor keturunan, kebiasaan jelek seperti menghisap
jari dan menghisap bibir bawah, mendorong lidah ke depan,
kebiasaan menelan yang salah serta bernafas melalui mulut.
b. Intrusi dan Ekstrusi
Intrusi adalah pergerakan gigi menjauhi bidang oklusal. Pergerakan
intrusi membutuhkan kontrol kekuatan yang baik. Ekstrusi adalah
pergerakan gigi mendekati bidang oklusal.
c. Crossbite
Crossbite adalah suatu keadaan jika rahang dalam keadaan relasi
sentrik terdapat kelainan-kelainan dalam arah transversal dari gigi
geligi maksila terhadap gigi geligi mandibula yang dapat mengenai
seluruh atau setengah rahang, sekelompok gigi, atau satu gigi saja.
Berdasarkan lokasinya crossbite dibagi dua yaitu:
1) Crossbite anterior
Suatu keadaan rahang dalam relasi sentrik, namun terdapat satu atau
beberapa gigi anterior maksila yang posisinya terletak di sebelah
lingual dari gigi anterior mandibula.
2) Crossbite posterior
Hubungan bukolingual yang abnormal dari satu atau beberapa gigi
posterior mandibula.
d. Deep bite
Deep bite adalah suatu keadaan dimana jarak menutupnya bagian
insisal insisivus maksila terhadap insisal insisivus mandibula dalam

arah vertikal melebihi 2-3 mm. Pada kasus deep bite, gigi posterior
sering linguoversi atau miring ke mesial dan insisivus madibula
sering berjejal, linguo versi, dan supra oklusi.
e. Open bite
Open bite adalah keadaan adanya ruangan oklusal atau insisal dari
gigi saat rahang atas dan rahang bawah dalam keadaan oklusi
sentrik. Macam-macam open bite menurut lokasinya adalah:
1. Anterior open bite
Klas I Angle anterior open bite terjadi karena rahang atas yang
sempit, gigi depan inklinasi ke depan, dan gigi posterior supra
oklusi, sedangkan klas II Angle divisi I disebabkan karena kebiasaan
buruk atau keturunan.
2. Posterior open bite pada regio premolar dan molar
3. Kombinasi anterior dan posterior (total open bite) terdapat baik di
anterior, posterior, dapat unilateral atau bilateral
f. Crowded
Crowded adalah keadaan berjejalnya gigi di luar susunan yang
normal. Penyebab crowded adalah lengkung basal yang terlalu kecil
daripada lengkung koronal. Lengkung basal adalah lengkung pada
prossesus alveolaris tempat dari apeks gigi itu tertanam, lengkung
koronal adalah lengkungan yang paling lebar dari mahkota gigi atau
jumlah mesiodistal yang paling besar dari mahkota gigi geligi.
Derajat keparahan gigi crowded:
1) Crowded ringan
Terdapat gigi-gigi yang sedikit berjejal, sering pada gigi depan
mandibula,dianggap suatu variasi yang normal, dan dianggap tidak
memerlukan perawatan.
2) Crowded berat
Terdapat gigi-gigi yang sangat berjejal sehingga dapat menimbulkan
hygiene oral yang jelek
g. Diastema

Diastema adalah suatu keadaan adanya ruang di antara gigi


geligi yang seharusnya berkontak. Diastema ada 2 macam, yaitu :
1) Lokal, jika terdapat diantara 2 atau 3 gigi, dapat disebabkan karena
dens supernumerary, frenulum labii yang abnormal, gigi yang tidak
ada, kebiasaan jelek, dan persistensi.
2) Umum, jika terdapat pada sebagian besar gigi, dapat disebabkan oleh
faktor keturunan, lidah yang besar dan oklusi gigi yang traumatis.
2.3 Sebab Tanggalnya Gigi Sulung
Tercabutnya gigi sulung yang terlalu cepat dapat disebabkan karena
beberapa hal, antara lain:
a. Tercabutnya gigi sulung karena terjatuh atau kecelakaan.
b. Adanya penyakit atau kondisi yang menjadi penyebab premature
ekstraksi.
c. Karies besar pada gigi yang tidak bisa dirawat lagi.
d. resorpsi terlalu dini dari akar-akarnya.
2.4 Akibat Tanggalnya Gigi Sulung
a. Tanggalnya gigi insisivus sulung
Pada keadaan crowded tanggalnya gigi seri susu yang karies
berpengaruh terhadap perkembangan oklusi dan penutupan ruang dapat
terjadi. Bila gigi seri sulung tanggal karena benturan maka pergeseran atau
luka dari gigi pengganti dapat terjadi.
b. Tanggalnya gigi kaninus sulung
Tanggalnya gigi kaninus yang terlalu cepat dapat diikuti dengan
hilangnya ruang. Tanggalnya gigi kaninus secara dini terutama pada rahang
bawah, dapat menimbulkan resorpsi akar gigi insisivus lateralis permanent
yang crowded. Keadaan ini seringkali unilateral sehingga gigi insisivus yang
crowded tergeser ke sisi tersebut dengan disertai pergeseran garis tengah.
Keadaan ini merupakan akibat paling serius dari tanggalnya gigi kaninus
sulung karena dapat menyebabkan oklusi yang tidak simetris.
c. Tanggalnya gigi molar sulung

Tanggalnya gigi molar kedua sulung yang terlalu cepat mengakibatkan


pergerakan ke depan dari gigi molar pertama tetap yang menutupi ruang
untuk erupsi gigi premolar tetap. Tanggalnya gigi molar pertama sulung juga
menyebabkan hilangnya ruang untuk erupsi gigi premolar tetap, sebagian
karena pergeseran ke depan dari gigi belakang dan sebagian karena crowded
gigi insisivus seperti pada kaninus sulung.
2.5 Efek Tanggalnya Gigi Sulung Secara Dini
2.5.1 Efek Terhadap Fungsi dan Kesehatan Rongga Mulut
Tanggalnya

gigi-gigi

sulung

yang

terlampau

cepat

bisa

mempengaruhi fungsi mastikasi, karena dengan hilangnya gigi geligi


lengkung rahang maka tekanan kunyah akan berkurang. Tanggalnya gigi
anterior pada gigi sulung yang terlalu cepat juga bias mempengaruhi fungsi
bicara yaitu penyebutan huruf-huruf tertentu menjadi terganggu, tanggalnya
gigi anterior juga mempengaruhi fungsi estetik karena akan mempengaruhi
penampilan anak. Pengaruh tanggalnya gigi sulung terhadap kesehatan
rongga mulut yaitu, menghilangkan daerah penimbunan makanan dan sepsis
oral, selain itu tanggalnya gigi sulung terutama gigi molar bisa
mempengaruhi insiden karies bagi gigi-gigi yang tersisa.
2.5.2 Efek Psikologis Terhadap Anak dan Orangtua
Tanggalnya gigi sulung terutama gigi anterior akan mengubah
penampilan anak, sehingga akan menimbulkan efek psikologis yang tidak
diinginkan yaitu anak-anak menjadi kurang percaya diri dan merasamalu
karena giginya ompong. Tanggalnya gigi sulung yang terlampau cepat
dianggap oleh orang tua sebagai kegagalan, terutama bila sudah dilakukan
upaya untuk mempertahankan gigi geligi tersebut.
2.5.3 Efek Terhadap Gigi-Gigi Tetap
Efek yang paling penting dari tanggalnya gigi geligi sulung yang
terlalu cepat adalah penutupan ruang pada lengkung rahang, sehingga gigi

10

pengganti tidak mempunyai tempat untuk erupsi.5 Tanggalnya gigi sulung


pada lengkung rahang yang sempit akan menimbulkan sususnan yang
berjejal pada gigi pengganti, oleh sebab itu perlu dipertimbangkan untuk
melakukan pencabutan keseimbangan atau pemasangan alat space
maintener.

11

2.6 Analisis yang Digunakan pada Penerapan Space Maintainer


Ada dua metoda penilaian yang umum digunakan, yaitu pengamatan
langsung dan analisis gigi bercampur.
2.6.1 Pengamatan Langsung
Pengamatan langsung dari ukuran lengkung rahang atau ruang tempat
mana gigi tetap yang akan bererupsi dapat dilakukan dengan melihat
langsung ukuran gigi-gigi sulung dalam mulut anak sehingga dapat
diperkirakan ukuran gigi pengganti. (Lysell&Myberg, 1982). Penilaian
potensi ruang dengan pengamatan langsung dapat juga dilakukan dengan
bantuan foto rontgen dari gigi-gigi yang belum bererupsi yang dapat
menunjukkan ukuran lengkung gigi dari gigi pengganti.
2.6.2 Analisis Gigi-geligi Campuran
Analisis gigi-geligi campuran dilakukan untuk mengukur ruang yang
ada dalam mulut anak dan membandingkan dengan ruang yang diperlukan
untuk erupsi yang sesuai dari gigi permanen. Ruang paling penting yang
harus dipertimbangkan dalam analisis manapun adalah ruang yang ditempati
oleh gigi kaninus, premolar satu dan premolar dua. Sebagai pedoman
umum, ruang untuk gigi-gigi kaninus dan premolar permanen atas kurang
lebih 23,0 mm dan 21,0 mm untuk RB. Ada beberapa metode analisa gigi
geligi campuran yang sering digunakan diantaranya adalah: analisis Moyers
dan analisis Nance. Penggunaan analisis ruang cara Moyers pada masa gigigeligi campuran membuat dokter gigi dapat bertindak secara dini untuk
memecahkan beberapa masalah yang dapat diatasi dengan prosedur
interseptif seperti space maintainer.

12

Pemakaian sistem analisa ini memungkinkan dokter gigi untuk:


a. Memprediksikan kemungkinan pengaturan gigi-gigi permanen dalam
ruang lengkung yang ada.
b. Memprediksikan seberapa besar ruang yang dibutuhkan untuk
mencapai pengaturan yang baik.
2.7 Analisis Gigi Bercampur
Terdapat beberapa metode perhitungan yang digunakan dalam analisis
periode gigi bercampur, yaitu :
2.7.1 Metode Nance
Dasar metode ini adalah adanya hubungan antara jumlah mesiodistal
gigi desidui dengan gigi pengganti. Tujuannya untuk mengetahui apakah
gigi tetap yang akan tumbuh memiliki cukup ruang, kekurangan ruang, atau
kelebihan ruang. Gigi-gigi yang dipakai sebagai dasar: c, m1, m2, dan gigi
pengganti 3, 4, 5. Terdapat istilah Lee Way Space, yaitu selisih ruang
anterior ruang yang tersedia dan ruang yang digunakan. Masing-masing sisi
rahang atas 0,9 mm dan rahang bawah 1,7 mm.
2.7.2 Metode Moyers
Metode Moyers diuraikan oleh Oleh: Moyers, Jenkins, dan staf
Ortodonsi Universitas Michigan. Pada analisis ini, sebelum menempatkan
space mainteiner atau memulai pergerakan gigi, dokter gigi harus
mengevaluasi panjang lengkung gigi secara menyeluruh. Hal ini sangat
penting selama pertumbuhan gigi permanen dan periode gigi bercampur.
Pada analisis Moyers harus diperhatikan mengenai panjang lengkung dan
ukuran dari gigi geligi.

13

Analisis Moyer memilki beberapa manfaat. Analisis ini didasarkan


pada ukuran gigi baik salah satu gigi maupun sekelompok gigi dan
memperkirakan secara akurat ukuran gigi yang lain pada mulut. Gigi
insisivus rahang bawah, erupsi lebih awal pada pertumbuhan gigi bercampur
dan mungkin diukur secara akurat.
a. Keuntungan metode Moyers:
- Kesalahan sedikit dan ralat kecil sehingga diketahui dengan tepat.
- Dapat dikerjakan ahli atau bukan ahli
- Tidak butuh banyak waktu
- Tidak perlu alat khusus
- Dapat dikerjakan dalam mulut atau model
- Baik pada rahang atas atau rahang bawah.
b. Dasar dari teori ini adalah adanya korelasi antara satu kelompok gigi
dengan kelompok lain.
c. Kelompok gigi yang dipakai sebagai pedoman yaitu 2, 1, 1, 2. Alasannya
adalah.
1) Gigi tetap yang tumbuh paling awal
2) Mudah diukur dengan tepat pada intraoral/extraoral
3) Ukuran tidak bervariasi banyak dibandingkan pada rahang atas
d. Prosedur
1) Siapkan:
- model RA & RB
- jangka sorong
- tabel kemungkinan
2) RB: misal sisi kanan dulu
- Ukur lebar mesiodistal 21 12, jumlahkan
- Tentukan jumlah ruang yang diperlukan jika gigi tersebut diatur dalam
susunan yang baik, caranya: beri tanda, cari ruang yang disediakan untuk
c m1 m2 sisi kanan atau kiri, berapa ruang 3 4 5 yang seharusnya, lihat
tabel rahang atas, bandingkan, kemungkinan hasilnya.

14

Perbedaan:

- Tabel kemungkinan dipakai rahang atas


- Overjet harus dipertimbangkan
2.7.3 Metode Huckaba
Untuk mengkompensasi karena pembesaran bayangan gigi pada
roentgen foto maka diusulkan rumus untuk menentukan ukuran mahkota
gigi permanen yang belum erupsi dengan roentgen foto sebagai berikut :
x=y ~ x=y
Keterangan:
y = lebar gigi sulung yang diukur pada X-ray film
y = lebar gigi sulung yang sama yang diukur pada studi model atau dalam
mulut
x = lebar gigi permanen pengganti pada X-ray film
x = lebar sebenarnya gigi permanen yang belum erupsi
2.7.4 Metode Johnson dan Tanaka
Tujuan dari analisis ini, yaitu untuk menganalisis lebar lengkung gigi
(merupakan variasi dari metode Moyers).
Prosedur untuk metode ini ialah:
a. Ukur jumlah mesiodistal empat gigi insisivus rahang bawah
b. Lalu gunakan rumus :
jumlah mesiodistal empat gigi insisivus rahang bawah = X
2
Jadi, Available Space RB = X+10,5 mm
Available Space RA = X+11mm
2.8 Space Maintainer
Space maintainer adalah alat yang bersifat pasif dan berfungsi untuk
menjaga jarak mesiodistal, ruangan akibat pencabutan gigi desidui
yang terlalu awal dan memelihara gerak fungsional. Space maintainer

15

dapat digunakan untuk mencegah pergeseran gigi kearah mesial dari


gigi molar petama permanen. Space maintainer akan dilepas jika alat
tersebut akan menghalangi erupsi gigi permanen dibawahnya (Andlaw
dan Rock, 1992).
2.8.1 Indikasi Space Maintainer
Menurut Finn(1973), space maintainer diperlukan apabila:
a. Gigi m2 dicabut sebelum P2 siap menggantikan
b. Gigi m1 tanggal terlalu awal tidak mutlak membutuhkan space
maintainer
c. Kasus anodonsia P2 membiarkan M1 menutup celah
d. Anodonsia I2 dibiarkan agar C dapat menempati ruang yang ada
e. Pemasangan

space

maintainer

anterior

dilakukan

untuk

menghilangkan kebiasaan buruk dan tujuan psikologis


f. M1 tanggal sebelum M2 erupsi maka ruang yang ada dibiarkan
saja agar gigi M2 menempati ruang yang kosong, jika M2 sudah
erupsi maka ruang yang ada harus dipertahankan
g. Pencabutan m2 menjelang erupsi gigi M1 dibuatkan space
maintainer berupa plat dengan labial arch dengan gigi tiruan m2
h. Space maintainer aktif sering digunakan untuk mendesak M1 ke
arah distal.
i. Apabila

terjadi

kehilangan

gigi

sulung

dan

gigi

penggantinya belum siap erupsi menggantikan posisi gigi


sulung tersebut dan analisa ruang menyatakan masih
terdapat

ruang

yang

memungkinkan

untuk

gigi

permanennya.
j. Jika ada kebiasaan yang buruk dari anak, misalnya
menempatkan

lidah

di

tempat

yang

kosong

atau

menghisap bibir maka pemasangan space maintainer ini


dapat diinstruksikan sambil memberi efek menghilangkan
kebiasaan buruk.

16

k. Adanya tanda-tanda penyempitan ruang.


l. Kebersihan mulut (OH) baik.
m.

Adapun

waktu

yang

tepat

penggunaan space

maintainer adalah segera setelah kehilangan gigi sulung.


Kebanyakan kasus terjadi penutupan ruang setelah 6
bulan kehilangan gigi.

2.8.2

Kontraindikasi (Finn, 1973).


a.

Tidak

terdapat

tulang

alveolar

yang

menutup mahkota gigi tetap yang akan erupsi.


b.

Kekurangan

ruang

untuk

erupsi

gigi

untuk

gigi

permanen.
c.

Ruangan

yang

berlebihan

tetapnya erupsi.
d.

Kekurangan

sehingga

ruang

memerlukan

yang

tindakan

sangat

banyak

pencabutan

dan

perawatan ortodonti.
e.

Gigi

permanen

penggantinya

tidak

ada

(agenisi).

2.8.3 Fungsi Space Maintainer


Fungsi dari space maintainer adalah:
a. Mencegah pergeseran dari gigi ke ruang yang terjadi akibat pencabutan
dini.
b. Mencegah ekstrusi gigi antagonis dari gigi yang dicabut dini.
c. Memperbaiki fungsi pengunyahan akibat pencabutan dini.
d. Memperbaiki fungsi estetik dan bicara setelah pencabutan dini.
2.8.4 Syarat-Syarat Space Maintainer
Syarat suatu space maintainer adalah:
a. Dapat menjaga ruang dimensi proksimal.
b. Tidak menggangu erupsi gigi antagonisnya.
c. Tidak menggangu erupsi gigi permanen.

17

d. Tidak mempengaruhi fungsi bicara, pengunyahan, dan fungsi pergerakan


mandibula.
e. Dapat mencegah ekstrusi gigi lawan.
f. Tidak memberikan tekanan abnormal pada gigi penyangga.
g. Tidak mengganggu jaringan lunak.
h. Desain yang sederhana, ekonomis dan mudah dibersihkan.
2.10 Kontrol Dan Instruksi pada Pasien
Pemasangan space maintainer memerlukan perhatian khusus dari
dokter gigi, pasien maupun orang tua dari pasien. Rencana perawatan
ditentukan sesuai dengan diagnosis. Setelah pasien diberikan pendidikan
kesehatan gigi dan oral propilaksis, dokter gigi segera melakukan perawatan
pada pasien. Dokter gigi juga melakukan pencetakan sebagai pedoman
untuk

pembuatan

alat.

Pada

kunjungan

selanjutnya

dilakukanlah

pemasangan alat. Pasien diminta untuk datang kontrol satu minggu


kemudian. Setiap pasien datang kontrol dilakukan pemeriksaan keutuhan
space maintainer, kondisi gigi penyangga dan gingivanya. Pasien
diinstruksikan untuk terus menjaga kebersihan mulutnya dan dokter gigi
juga melakukan oral profilaksis.
Perawatan yang dapat dilakukan antara lain:
a. Aplikasi florida topical untuk mencegah karies dan dekalsifikasi gigi.
b. Penyemenan ulang band molar dengan interval enam bulan.
c. Pemeriksaan foto rontgen untuk melihat reaksi jaringan pada pemasangan
alat.
d. Scaling dengan hati-hati pada gigi yang memiliki karang gigi.
e. Pengangkatan debris dan pembersihan poket.
f. Penggunaan sikat gigi yang lunak untuk menghilangkan sisa-sisa
makanan
dan dental plak.
g.Kontrol tiap empat bulan.

18