Anda di halaman 1dari 6

TUGAS MATAKULIAH KSDA

RESUME KONSERVASI SUMBERDAYA ALAM

Dosen Pengampu:
Prof. Dr. Shalihuddin Djalal Tandjung, M.Sc.

Disusun oleh:

Dawam Suprayogi
14/372556/PBI/1271

PROGRAM PASCASARJANA
FAKULTAS BIOLOGI UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2014

RESUME KONSERVASI SUMBERDAYA ALAM

Konservasi dapat diartikan sebagai pengelolaan secara bijaksana bagi keperluan


manusia, sehingga menghasilkan maanfaat secara berkelanjutan bagi generasi kini dan
menetapkan potensi untuk memenuhi kebutuhan dan aspirasi generasi mendatang (Alikodra,
2012). Tandjung (2014a) menjelaskan sumberdaya alam secara umum dapat dibedakan
menjadi tiga, yaitu: A) Sumberdaya abiotik; B) Sumberdaya biotik; dan C) Sumberdaya
cultural. Sumberdaya abiotik adalah sumberdaya berupa benda fisik maupun kimia pada
suatu lingkungan. Sebagai contoh sumberdaya abiotik adalah air, tanah, dan udara.
Sumberdaya biotik adalah sumberdaya yang terdiri dari makhluk hidup. Sebagai contoh
sumberdaya biotik adalah flora dan fauna. Sumberdaya cultural adalah sumberdaya berupa
aspek sosial, ekonomi, dan budaya pada suatu daerah. Sebagai contoh sumberdaya cultural
adalah acara adat pernikahan jawa. Kebudayaan yang melibatkan unsur-unsur biotik secara
langsung membuat masyarakat memelihara unsur biotik yang digunakan dalam acara adat.
Sebagai contoh penggunaan janur, tebu, dan padi pada acara adat pernikahan jawa. Hal ini
akan membuat masyarakat turut melestarikan tanaman tersebut.
Unsur penyusun sumber daya alam ini dapat saling terkait satu sama lain. Keterkaitan
ini dapat terjadi baik antar dua unsur maupun ketiga unsur tersebut (Gambar 1). Dengan
adanya keterkaitan tersebut, menyebabkan pengelolaan sumber daya tidak dapat dilakukan
hanya pada satu sisi tetapi juga dari berbagai sisi secara berkesinambungan.

Abiotik
AC

Cultural

A
BC
BC

AB

Biotik

Gambar 1. Diagram hubungan antar unsur penyusun SDA (Diadopsi dari Tandjung, 2014a).

Tandjung (2014a) menjelaskan bahwa konservasi sumber daya alam dapat pula
diartikan sebagai pengelolaan lingkungan hidup. Dalam upaya pengelolaan lingkungan
hidup ini dapat dilakukan dengan mengikuti lima tahap sebagai berikut.
a.

Pengenbangan (Development)
Pengembangan adalah tahap awal dari upaya pengelolaan. Suatu daerah yang

awalnya tidak dimanfaatkan dikembangkan untuk lebih bernilai bagi lingkungan dan
masyarakat. Sebagai contoh, lahan kosong yang tidak dimanfaatkan atau dikenal dengan
lahan tidur, dijadikan kebun buah-buahan.
b.

Pemanfaatan (Utilization)
Langkah pengelolaan yang kedua adalah pemanfaatan. Hasil dari pengembangan

pada tahap pertama tadi mulai dimanfaatkan secara baik. Sebagai contoh, kebun buah yang
telah ditanam mulai berbuah dan dibuka untuk tempat wisata umum. Kondisi yang awalnya
berupa lahan tidur telah dapat diambil manfaatnya sebagai kebun buah.
c.

Pengawasan (Control)
Langkah selanjutnya adalah pengawasan. Suatu tempat yang telah dimanfaatkan dan

terbuka secara umum tentunya memerlukan adanya pengawasan. Berbagai karakter


pengunjung dapat hadir ke lokasi yang telah dikembangkan. Hal ini memerlukan
pengewasan untuk memastikan kondisi lingkungan tetap terjaga. Sebagai contoh pada
musim liburan pengunjung akan memadati kebun buah yang telah dikembangkan.
Pengunjung mulai dari anak-anak hingga orang tua. Tidak jarang ada pengunjung yang
kurang menjaga tanaman dan lingkungan yang telah dikembangkan. Dengan adanya
pengawasan hal tersebut dapat diminimalisasi.
d.

Pemulihan (Recovery)
Tahap pemulihan dilaksanakan bila dalam pengawasan ditemukan kondisi yang telah

rusak atau dirusak. Dengan adanya pemulihan diharapkan pengembangan yang telah lama
dilakukan tetap seimbang dan dapat menanggulangi kerusakan-kerusakan yang terjadi.
Sebagai contoh, setelah dilakukan pengawasan dan mendapatkan ada pohon buah-buahan
yang patah atau mati maka perlu dilakukan penanaman kembali. Kerusakan ini bisa
merupakan akibat dari ulah pengunjung maupun dari kondisi lingkungan.
e.

Penegakan Hukum (Law Enforcement)


Upaya penegakan hukum dilakukan bila terdapat oknum-oknum yang sudah sangat

mengganggu kondisi lingkungan hasil pengembangan yang telah dilakukan. Sebelum


penegakan hukum dilakukan, tentunya harus ada tindakan preventif untuk mengantisipasi
2

kondisi yang tidak baik. Sebagai contoh, pada kebun buah yang telah dibuat ternyata
digunakan oleh sebagian orang untuk melakukan perbuatan yang melanggar aturan,
misalnya mabuk-mabukan. Hal ini selain dapat merusak kondisi kebun buah, juga dapat
mengganggu kenyamanan pengunjung yang lain. Apabila hal ini terjadi, tentunya upaya
penegakan hukum harus dilakukan.

Sumberdaya hayati, khususnya tumbuhan, sangat erat kaitannya dalam pemenuhan


kebutuhan hidup manusia. Tumbuhan menjadi sumber pangan utama manusia, baik secara
langsung maupun melalui hewan. Dijelaskan oleh Tandjung (2014b) dikenal sekitar 5.000
jenis tanaman pangan namun hanya sekitar 150 jenis yang mempunyai arti penting dalam
perdagangan dunia. Hal ini disebabkan, sebagian besar tanaman tersebut ditanam sendiri
oleh orang yang membutuhkannya. Ruang lingkup orang yang mengkonsumsinya juga
kecil. Tanaman pangan yang mendominasi perdagangan duni adalah tanaman yang memiliki
pangsa pasar yang luas. Tanaman tersebut dikonsumsi oleh banyak negara di dunia sehingga
perdagangannya menjadi sangat besar. Bila digambarkan dengan persentase, berikut adalah
gambaran kondisi kebutuhan pangan manusia:
a.

95 % pangan manusia berasal dari 30 jenis tanaman;

b.

75 % kalori dalam pangan berasal dari 8 jenis tanaman;

c.

85 % kalori yang dimakan manusia berasal dari Graminae, dan 60 % dari ini berasal
dari padi, jagung, dan gandum yang juga memasok 80 % protein nabati.

d.

40 % dari 2.300 jenis tumbuhan yang dibudidayakan termasuk dalam 4 familia:


1. Gramineae, misalnya padi (Oryza sativa), jagung (Zea mays)
2. Leguminosae, misalnya Kedelai (Glycine sp.)
3. Rosaceae, misalnya Apel (Malus domestica)
4. Solanaceae, misalnya Kentang (Solanum tuberosum)

Dari data diatas terlihat bahwa kebutuhan manusia dalam bidang pangan nabati, dicukupi
oleh sebagian kecil jenis tumbuhan. Padahal di bumi ada 300.000 jenis tumbuhan tinggi.
Kebutuhan pangan tersebut mendominasi komoditas-komoditas utama perdangangan hasil
pertanian.
Beranjak pada sumberdaya hayati berupa hewan. Tandjung (2014b) menjelaskan
baru sekitar 50 jenis hewan yang dibudidayakan. Dari ribuan jenis serangga, hanya beberapa
jenis saja yang telah dimanfaatkan, misalnya lebah madu (Apis sp.), dan ulat sutera (Bombyx
mori). Baru sejumlah kecil ikan air tawar yang dibudidayakan, misalnya ikan mas (Cyprinus
carpio), gurami (Osphronemus gouramy), mujair (Oreochromis mossambicus), dan nila
3

(Oreochromis niloticus). Sedangkan untuk hewan laut yang dibudidayakan misalnya ikan
bandeng (Chanos chanos), dan udang. Manfaat potensial dari sumberdaya hayati tersebut
terdapat dalam sifat keturunan tertentu dari suatu jenis tumbuhan maupun hewan. Sifat
keturunan tersebut terkandung di dalam gen sehingga sumberdaya hayati juga dapat
dikatakan sebagai sumberdaya gen.
Sumberdaya gen menunjukkan secara spesifik dimana letak manfaat sumberdaya
tersebut. Sumberdaya hayati yang dimanfaatkan manusia tidak banyak jenisnya. Masingmasing sumberdaya tersebut mengandung seperangkat gen tertentu merupakan sebuah bank
gen. Dikenal dua jenis bank gen yaitu bank gen alami berupa sumberdaya hayati yang
terdapat di alam, dan bank gen buatan berupa sumberdaya hayati yang dikumpulkan dan
disimpan di suatu tempat tertentu. Menyadari pentingnya menjaga dan mengelola
sumberdaya gen, maka dikenal adanya pemuliaan jenis. Pemuliaan jenis dapat diartikan
sebagai upaya untuk mengusahakan didapatkannya kombinasi sebanyak mungkin gen
dengan sifat baik dan sesedikit mungkin gen dengan sifat buruk (Tandjung, 2014b).
Konsep pengelolaan sumberdaya alam tidak hanya berhenti pada sumberdaya hayati.
Tandjung (2014c) menjelaskan bahwa sumberdaya alam non-hayati berupa sumber daya
abiotik juga harus dikelola dengan baik. Pengelolaan sumberdaya abiotik ini meliputi
pengelolaan sumber daya perairan, sumberdaya tanah/lahan, dan sumberdaya udara/angin.
Pengelolaan sumberdaya air contohnya adalah mengelola sungai yang awalnya tidak banyak
dimanfaatkan atau bahkan menjadi sumber banjir. Pengelolaan ini dapat berupa pembuatan
waduk. Hasil dari pembuatan waduk ini akan mengurangi dampak banjir. Selain itu juga
dapat menjadi tujuan wisata yang meningkatkan perekonomian. Air yang tertampung di
waduk juga dapat dikelola sebagai sumber air untuk irigasi pertanian. Demikian pula dengan
pengelolaan sumberdaya tanah/lahan. Lahan yang awalnya tidak produktif, dapat ditanami
tanaman khas yang menghasilkan. Konsep ini selain merupakan suatu upaya pengelolaan
lahan menjadi lebih produktif, juga dapat menarik wisatawan datang jika tanaman yang
dikelola menarik. Sebagai contoh lahan yang tidak produktif dijadikan kebun buah. Sedikit
berbeda dalam konsep pengelolaan sumberdaya udara/angin. Pengelolaan sumberdaya
udara/angin erat kaitannya dengan kebutuhan manusia akan oksigen. Pengelolaan ini
berkaitan langsung dengan pengelolaan sumberdaya hayati tumbuhan. Tumbuhan akan
menghasilkan oksigen yang dimanfaatkan manusia dan hewan lain. Selain itu, dampak
timbal balik juga terjadi. Beberapa jenis tumbuhan juga memerlukan angin dalam proses
penyerbukan. Dari pembahasan ini dapat disimpulkan, pengelolaan sumberdaya tidak hanya
bertumpu pada satu jenis sumberdaya, tetapi harus dikelola secara menyeluruh.
4

Daftar Acuan
Alikodra, H. S., 2012. Konservasi Sumberdaya Alam dan Lingkungan: Pendekatan
Ecosophy bagi Penyelamatan Bumi. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Tandjung, S. D., 2014a. Dasar-dasar Ekologi. Disampaikan dalam kuliah Konservasi
Sumberdaya Alam. Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada. 1 Oktober 2014.
Tandjung, S. D., 2014b. Konservasi Sumberdaya Gen. Disampaikan dalam kuliah
Konservasi Sumberdaya Alam. Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada. 8
Oktober 2014.
Tandjung, S. D., 2014c. Pengelolaan Sumberdaya Abiotik. Disampaikan dalam kuliah
Konservasi Sumberdaya Alam. Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada. 15,
22, dan 29 Oktober 2014.