Anda di halaman 1dari 3

yang berfokus pada emosi.

Problem focused coping secara umum merupakan strategi adaptif


dalam mengurangi stres (Kim dkk. dalam Cheng, 2001), sedangkan
emotional focused coping umumnya merupakan bentuk maladaptive
coping dalam usahanya memecahkan stres dan distres ( Chan dkk.
dalam
Cheng, 2001). Cheng (2001) sendiri menambahkan, keadaan tersebut
diyakini tidak konsisten, yaitu strategi koping yang sama dapat
memberikan hasil akhir yang berbeda pada situasi yang berbeda.
Dengan
kata lain baik koping yang berfokus pada masalah maupun yang
berfokus
pada emosi, sama-sama menjadi cara yang efektif dalam mengurangi
tekanan, bergantung pada situasi dan masalah yang dihadapi, seperti
halnya dalam penelitian ini yang mengangkat masalah ketidakpuasan

Seseorang melakukan strategi koping tentunya berharap masalah


yang dihadapi dapat teratasi, namun bila dengan emotional focused coping dalam mengatasi
ketidakpuasan bentuk tubuh, akan semakin
meningkatkan stres yang dialami. Menurut Baigrie dan Giraldez (2008), jika seseorang
mengalami kesulitan dalam melakukan koping, akan lebih meningkatkan stres, pada beberapa
kasus banyak dialami oleh mereka yang menggunakan koping dengan penolakan.
Selain Pernyataan Goldberg tersebut turut didukung oleh hasil-hasil penelitian yang
menunjukkan bahwa laki-laki memiliki kecenderungan yang lebih besar untuk terkena
burnout. Seperti hasil penelitian yang dilakukan Maslach (salah satu tokoh yang turut
memiliki andil dalam mempopulerkan istilah burnout) mengenai kecenderungan burnout
ditinjau dari jenis kelamin. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa laki-laki memiliki
kecenderungan yang lebih tinggi untuk mengalami burnout.
Penelitian Spangenberg & Theron (1998) menunjukkan hasil yang sama yaitu ada hubungan
positif antara coping negatif dengan depresi. Artinya semakin sering coping negatif
digunakan individu, maka akan semakin berat depresi yang dialami individu tersebut.
Penelitian mereka juga menemukan hubungan positif antara coping negatif dengan tingkat
kecemasan. Artinya semakin sering individu mengunakan coping negatif ini, maka akan
semakin tinggi kecemasan yang dialami individu. Mereka juga menemukan adanya hubungan
negatif yang signifikan antara coping negatif dengan kepuasan perkawinan. Artinya semakin
sering coping negatif digunakan dalam menghadapi krisis perkawinan, maka akan semakin
rendah tingkat kepuasan perkawinan subyek penelitian. Penelitian lainnya juga menemukan
hubungan positif yang signifikan antara coping negatif dengan reaksi emosi negatif setelah
mengalami trauma (Schwartz &
Kowalski, 1992). Hal ini menegaskan bahwa coping negatif merupakan strategi coping yang
maladaptif sehingga lebih banyak

menimbulkan dampak negatif ketika digunakan individu untuk menghadapi stres.

Penelitian ini tidak menemukan hubungan yang signifikan antara


coping aktif dan coping menghindar dengan stres.
Walaupun beberapa penelitian yang ada menunjukkan adanya
hubungan yang signifikan dari kedua strategi coping di atas.
Penelitian Skinner dan Zimmer-Gembeck (1998) menunjukkan bahwa
ada hubungan negatif antara coping aktif dalam hal ini yang
berorientasi pemecahan masalah dan regulasi emosi dengan stres
akademik. Penelitian Spangenberg & Theron (1998) menemukan
hubungan negatif yang signifikan antara coping aktif dengan depresi.
Penelitian Heiman & Kariv (2005) menemukan hubungan negatif
antara coping aktif dengan stres akademik. Spirito dkk (1996)
menemukan hubungan positif antara strategi coping menghindar
dengan depresi pada remaja. Spirito dkk (1996) juga menemukan
hubungan positif antara strategi coping menghindar dengan
kecenderungan bunuh diri pada remaja dengan gangguan depresi.
Daud & Khumas (2005) yang menyimpulkan bahwa semakin baik
manajemen waktu mahasiswa maka semakin rendah tingkat stres
akademik.

Lazarus dan Folkman (Primaldhi, 2002) mengemukakan dua macam strategi coping, yaitu
problem focused coping dan emotion focused coping. Problem focused coping merupakan
tindakan yang dilakukan oleh individu untuk mencoba memecahkan masalah yang sedang
dihadapinya dengan melakukan perubahan terhadap dirinya dan lingkungannya. Sedangkan
emotion focused coping merupakan pikiran-pikiran atau tindakan-tindakan yang bertujuan
untuk mengurangi atau meredakan tekanan emosi yang ditimbulkan oleh stressor, sedangkan
kondisi obyektif yang menimbulkan masalah tidak ditangani. Strategi problem focused
coping paling banyak dilakukan untuk menghadapi stres terutama pada lingkungan akademik
(Hernawati, 2006). Mahasiswa ketika berhadapan dengan stressor maka mengalami suatu
penilaian (appraisal) yang selanjutnya akan melakukan coping untuk menangani stressor
tersebut agar tetap dalam keadaan stabil. Reaksi terhadap stressor bervariasi antara indidividu
satu dengan yang lain. Menurut Smet (Sumbayak, 2009), salah satu faktor yang
mempengaruhi

strategi

coping

ialah

karakteristik

kepribadian.

Individu

memiliki

kecenderungan kepribadian yang berbeda akan menampilkan peirlaku yang berbedabeda

pula. Tampilan gaya merespon mahasiswa terhadap stres merupakan cerminan kepribadian
yang dimilikinya.

Costa & Mc Crae (Primaldhi, 2002) menunjukkan bahwa


trait kepribadian merupakan faktor yang menentukan jenis strategi
coping yang
digunakan secara konsisten oleh individu. Hal ini dapat diartikan
strategi coping
tersebut tidak dapat terlepas dari preferensi kepribadian masingmasing individu.
Berdasarkan penelitian Utomo (2008) terdapat hubungan problem
focused coping
dengan stres tingkat sedang dan stres tingkat tinggi, sedangkan
emotional focused
coping memiliki hubungan dengan stres tingkat rendah dan stres
tingkat sedang pada
mahasiswa semester awal. Penelitian mengenai hubungan neuroticism
dan stres yang
terjadi dalam kehidupan sehari-hari masih sangat terbatas (Gunthert,
Cohen, & Armeli,
1999). Selama ini masih belum ada penelitian yang menyebutkan
hubungan antara trait
kepribadian neuroticism bersamaan dengan strategi coping khususnya
problem focused
coping terhadap stres akademik.