Anda di halaman 1dari 13

BAB III

3.1 Pandangan Islam Terhadap Anak dengan Obesitas


Al Quran telah menyampaikan bagi setiap keluarga muslim bahwa anak mempunyai 5
potensi bagi kehidupan orangtuanya baik itu potensi yang positif ataupun potensi negatif.
Berikut ini ke 5 hal tersebut:
1. Anak sebagai hiasan hidup.

Allah berfirman: Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa
yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari
jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah
ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat
kembali yang baik (surga). (Qs. Ali Imron: 14)
Anak sebagai hiasan, menghiasi hidup orangtuanya menjadi lebih berwarna.
Kehadiran mereka selalu dinantikan. Untuk itulah, para orangtua siap melakukan apa saja
untuk mendapatkan keturunan. Karena keindahan hidup berkurang ketika keturunan yang
dinanti belum juga hadir. Keindahan anak-anak tidak tergantikan oleh apapun (Ashari,
2012).
2. Anak sebagai cobaan hidup.

Allah berfirman: Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah
sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang

besar. (Qs. Al Anfal: 28)


Anak dapat menjadi cobaan hidup bagi orangtuanya. Seperti yang disampaikan ayat
di atas, sehingga orangtua diminta agar berhati-hati. Kecintaan dan kesayangan orang tua
kepada anaknya tidak boleh membuat orang tua lupa akan tugas para orangtua menjadi
hamba Allah yang baik (Ashari, 2012).
3. Anak yang lemah.
Allah SWT berfirman:

Artinya: Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya


meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir
terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa
kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. (Qs.
An Nisa: 9)
Dalam ayat tersebut Allah mengingatkan orangtua agar memperhatikan generasi
setelahnya. Jangan sampai orang tua meninggalkan anak-anaknya dalam keadaan lemah
dalam masalah keimanan, pemahaman agama, ataupun lemah dalam hal ibadah dan
akhlak. Selain itu, orang tua harus menjaga anaknya agar anak tidak lemah secara fisik,
jiwa, dan mental. Lemah yang mengakibatkan mereka hanya menjadi seorang yang tidak
mampu melakukan tugasnya dengan baik. Orang tua harus menyiapkan fisik mereka
sesehat mungkin. Menjaga mereka agar tetap bugar baik secara fisik, mental, maupun jiwa
yang kokoh yang dapat berhadapan dengan keadaan sesulit apapun (Ashari, 2012).
4. Anak sebagai musuh.
Allah memerintahkan agar orangtua berhati-hati terhadap anaknya. Karena
sebagian mereka adalah musuh. Jika anak telah menjadi musuh orangtuanya, maka

hilanglah sebagian besar kebahagiaan rumah tangga. Anak yang nakal, durhaka, bodoh,
akan menjatuhkan martabat keluarga (Ashari, 2012). Seperti firman Allah SWT dalam ayat
berikut:

Artinya: Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anakanakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap
mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni
(mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(QS At Taghabun: 14)
5. Anak yang baik & anak sebagai penyejuk mata (qorrota ayun) atau penyenang hati, hal
ini Allah jelaskan dalam surat Al Furqan ayat 74, Allah berfirman:

Artinya: Dan orang-orang yang berkata Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami
pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami) dan
jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa. (QS Al-Furqan:
74)
Kedudukan anak yang terbaik adalah manakala anak dapat menyenangkan hati dan
menyejukan mata kedua orangtuanya.
Allah menjelaskan dalam Al Quran bahwa anak-anak merupakan hiasan hidup
orangtua, tetapi juga sebagai cobaan hidup bagi orangtua. Allah mengingatkan orangtua
lewat ayat-ayatNya agar jangan sampai anak-anak menjadi generasi yang lemah apalagi
menjadi musuh. Tetapi harus menjadi anak-anak yang baik, kuat, dan menentramkan hati
orang tua. Anak sekaligus menjadi amanah dari Allah agar para orangtua menjaga amanah
itu dan menjadikan mereka anak-anak yang kokoh dan kuat di zamannya .

Obesitas diartikan sebagai akumulasi dari kandungan lemak tubuh yang berlebihan
dan dapat mengakibatkan berbagai penyakit (Brunicardi et al,. 2007). Selama dua dekade
ini, insiden anak yang mengalami obesitas meningkat sampai batas yang mengkhawatirkan
diseluruh belahan dunia. (Kutazy et al., 2013). Obesitas adalah penyakit yang serius dan
dapat meningkatkan mortalitas dan morbiditas. Obesitas dapat diakibatkan oleh faktor
genetik dan lingkungan. Pola makan berlebihan yang tidak diimbangi dengan aktivitas
yang cukup menjadi salah stau penyebab obesitas.
Islam sangat menganjurkan agar mengatur pola makan yang tidak berlebihan
sehingga badan selalu segar dan sehat. Dianjurkan pula agar makan tidak terlalu kenyang
atau dekat jaraknya karena menurut pakar kesehatan, makan terlalu banyak yang melebihi
kebutuhan tubuh akan membahayakan bahkan menyebabkan munculnya berbagai penyakit
yang dipredisposisi oleh obesitas (Mutiara, 2012).
Ayat Al-Quran menekankan bahwa makan dan minum sesuai porsi yang
proporsional sangatlah penting. Makan dan minum tidak boleh berlebihan, seperti yang
ditegaskan dalam ayat:

Artinya: ...makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah


tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. {Q.s. al-Araf (7): 31}.
Obesitas pada anak meningkatkan faktor resiko terjadinya penyakit kardiovaskular,
hipertensi, dispilidemia, aterosklerosis, diabetes melitus, penyakit muskuloskeletal, dan
lain-lain di masa dewasa (Mark, 2014). Obesitas juga dapat mempengaruhi tatalaksana
operasi pada anak. Walaupun tidak ada sumber yang menyatakan bahwa obesitas sebagai
faktor resiko apendisitis akut pada anak, namun obesitas dapat mempengaruhi pengobatan
pada pasien apendisitis akut anak.

Prevalensi anak obesitas dengan apendisitis berkisar antara 17 sampai 20%, hampir
mirip dengan prevalensi obesitas pada anak di Amerika Serikat, yakni 16.9% (Yannam et
al., 2013).
3.2 Pandangan Islam Terhadap Apendisitis Akut pada Anak dengan Obesitas
Apendisitis akut adalah suatu radang yang timbul secara mendadak pada apendiks dan
merupakan salah satu kasus akut abdomen yang paling sering ditemui. Apendisitis akut
merupakan radang bakteri yang dicetuskan oleh berbagai faktor, diantaranya adalah
hiperplasia jaringan limfe, fekalith, tumor apendiks dan cacing ascaris dapat juga
menimbulkan penyumbatan (Hartman,).
Gelaja apendisitis akut yang yang khas adalah nyeri kuadran bawah, biasanya disertai
oleh demam ringan, mual, muntah, dan hilangnya nafsu makan. Pada apendiks yang
terinflamasi, nyeri tekan dapat dirasakan pada kuadran kanan bawah pada titik Mc.Burney
yang berada antara umbilikus dan spinalis iliaka superior anterior (Nelson).
Komplikasi utama apendisitis adalah perforasi apendiks yang dapat berkembang
menjadi peritonitis atau abses. Insidens perforasi adalah 10% sampai 32%. Insidens lebih
tinggi pada anak kecil dan lansia. Perforasi secara umum terjadi 24 jam setelah awitan nyeri.
Gejala mencakup demam dengan suhu 37,7C atau lebih tinggi, penampilan toksik, dan nyeri
atau nyeri tekan abdomen yang kontinyu (Smeltzer C.Suzanne, 2002). Oleh karena itu,
apendisitis akut harus segera ditangani, jangan sampai terjadi komplikasi yang membuat anak
merasa sangat kesakitan.
Obesitas mempengaruhi tatalaksana operatif apendisitis akut. Anak dengan obesitas
dan menderita apendisitis akut merupakan ujian dari Allah bagi orang tuanya maupun bagi
diri anak sendiri. Allah subhanahu wa taala berfirman dalam al-Quran,

Artinya: Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan,
kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita
gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila
ditimpa musibah, mereka mengucapkan: Inna lillaahi wa innaa ilaihi raajiuun(QS.
Al-Baqarah: 155-156).
Dalam ayat yang lain, Allah juga berfirman,

Artinya: Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan
keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya
kepada Kamilah kamu dikembalikan. (QS. Al-Anbiyaa`: 35)
Begitulah Allah subhanahu wa taala menguji manusia, untuk melihat siapa di antara
hambaNya yang memang benar-benar berada dalam keimanan dan kesabaran. Sudah
selayaknya bagi setiap mu`min untuk kemudian bertambah imannya saat ujian itu datang,
termasuk di dalamnya adalah ujian sakit yang merupakan bagian dari ujian yang menimpa
jiwa. Jangan sampai menjadi seperti orang-orang munafiq yang tidak mau bertaubat atau
mengambil pelajaran saat mereka diuji oleh Allah subhanahu wa taala (Fadhli, 2012).
Sakit adalah takdir yang sudah ditetapkan Allah Subhanahu wa Taala, seperti yang
tertulis dalam ayat Al-Quran berikut ini:

Artinya: Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu

sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami
menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (QS.
Al-Hadid : 22).
Walaupun sakit merupakan takdir yang sudah ditentukan oleh Allah, namun perilaku
manusia itu sendiri dapat menyebabkan berbagai penyakit. Obesitas sering disebabkan oleh
perubahan pola hidup masyarakat yang tidak sehat akibat memakan makanan secara
berlebihan yang tidak diimbangi dengan pengeluaran kalori seperti kurangnya berolahraga.
Obesitas dapat diturunkan secara genetik, tetapi pola makan yang tidak seimbang dan
berlebih adalah faktor pencetus yang utama. Apendisitis dapat disebabkan karena kurangnya
asupan serat pada makanan yang dikonsumsi.
Baik orang tua dari anak obesitas dengan apendisitis, maupun diri anak itu sendiri
harus selalu bersabar dalam menghadapi penyakitnya. Secara bahasa, sabar berarti menahan
dan mencegah, sedangkan makna sabar secara terminologis adalah mencegah dan menahan
diri dari keluh kesah. Jika manusia ditimpa kemalangan hendaknya ia bersabar dan itu baik
baginya. Kiat-kiat Islami agar dapat selalu bersabar, antara lain, dengan mengetahui hakikat
kehidupan dunia, kesulitan, kesusahan yang ada, sebab manusia memang diciptakan berada
dalam susah payah. Beriman bahwa dunia sepenuhnya milik Allah, dan mengetahui besarnya
pahala atas kesabaran tersebut (Zuhroni, 2012). Allah berfirman:

Artinya: Wahai orang-orang beriman, mohonlah pertolongan dengan sabar dan berdoa.
Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar (Al Baqarah 153).
Selain bersabar, manusia harus berusaha untuk mengobati penyakitnya. Hal ini sesuai
dengan perintah berobat. Berobat merupakan salah satu bentuk usaha dan ikhtiar yang Allah
SWT anugerahkan di alam jagad raya. Meyakini bahwa seorang muslim tidak boleh berputus
asa dari rahmat dan innayah (pertolongan) Allah SWT. Bahkan sebaliknya seorang muslim

sudah sepantasnya menaruh harapan kuat untuk sembuh dengan izin Allah SWT.
Sesungguhnya Allah SWT tidaklah menurunkan penyakit kecuali Dia turunkan pula obat
bersamanya (Qayyim, 2010).

Artinya: Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit kecuali Dia turunkan untuk penyakit itu
obatnya. (HR.Al-Bukhori)

Artinya: Setiap penyakit ada obatnya. Maka bila obat itu mengenai penyakit akan sembuh
dengan izin Allah Azza wa Jalla (HR.Muslim)
Dari hadits tersebut dapat disimpulkan bahwa proses penyembuhan bukan hanya
dikarenakan hasil dari usaha medis semata, namun semuanya karena turun dan campur
tangan langsung Tuhan. Oleh karenanya, banyak dijumpai tuntutan Nabi dalam bentuk doa
memohon kesembuhan atau kesehatan, karena sebenarnya penyembuh yang sebenarnya
adalah Allah SWT (Zuhroni, 2012).
Dalam Islam, berobat termasuk tindakan yang dianjurkan. Yusuf al-Qaradhawi
menyimbulkan bahwa hukum berobat berkisar antara mubah, sunah, dan wajib. Jika sakitnya
parah dan obat penyakit tersebut telah ditemukan sesuai dengan sunatullah, maka hukumnya
menjadi wajib, paling kurang bernilai sunnah. Apabila penyakit tersebut sudah jelas tidak
dapat diobati secara medis setelah dilakukan diagnosis dari ahli dalam bidang terkait, tidak
ada seorang ulama pun yang menyatakan sunnah, apalagi mewajibkannya (Zuhroni, 2012).
Tatalaksana apendisitis akut dapat dilakukan dengan pemberian obat antibiotik,
pemberian antibiotik yang dilanjutkan dengan tindakan operasi, dan tindakan operasi segara.
Tindakan operasi yang biasa digunakan pada anak-anak dan sudah terbukti memberikan
keuntungan yaitu bisa melalui tindakan operasi terbuka atau tindakan operasi dengan
laparoskopi (Benighbal,). Pada anak dengan obesitas, laparoskopi apendektomi diketahui

memiliki keunggulan dibandingkan pada operasi apendektomi terbuka.


Tatalaksana operatif dalam penatalaksanaan apendisitis akut pada anak dengan
obesitas termasuk bagian dalam tujuan syariat Islam yaitu untuk mewujudkan keselamatan
umat dengan menjamin berbagai kebutuhan hidupnya baik kebutuhan primer (daruriyah),
kebutuhan sekunder (hajiyah), maupun kebutuhan pelengkap (tahsiniyah). Tujuan utama
syariat Islam dalam memelihara kebutuhan primer manusia (Wahab, 2012), yaitu:
1. Memelihara agama (hifz din)
2. Memelihara jiwa (hifz nafs)
3. Memelihara akal (hifz aql)
4. Memelihara kehormatan (hifz irdl)
5. Memelihara harta (hifz mal)
Dalam memelihara keturunan (hifzh al-Nasl), Orang tua harus selalu menjaga
kesehatan anak dan memenuhi kebutuhannya. Apabila anak sedang sakit, maka dianjurkan
untuk membawa anak berobat ke dokter yang ahli. Memelihara kehidupan ini sejalan dengan
tujuan kedokteran dan ilmu kesehatan, yaitu untuk mempertahankan dan memperbaiki
kualitas hidup insani. Berbagai upaya menjaga kesehatan juga diperlukan, contohnya dengan
menjaga nutrsi yang dikonsumsi, mecegah penyakit, menjaga kesehatan, berobat, dan lainlain (Zuhroni, 2012).
Dengan melakukan pengobatan segera, maka salah satu tujuan syariat Islam dapat
tercapai, yaitu hifz mal atau memelihara harta. Karena, dengan dilakukannya pengobatan
segera, biaya pengobatan akan menjadi lebih murah dibandingkan dengan biaya pengobatan
pada saat penyakitnya sudah lebih parah atau bahkan hingga komplikasi. Tentu pada saat itu

biayanya akan semakin mahal.


3.3 Terapi Operatif Apendisitis Akut pada Anak dengan Obesitas Menurut Islam
Terapi apendisitis akut pada anak dengan obesitas terdiri dari apendektomi terbuka
dan laparoskopi apendektomi. Pada apendektomi terbuka, dilakukan insisi McBurney (oblik)
atau Rocky-Davis (transversal) pada daerah kuadran kanan bawah. Ahli bedah akan
mengeksplorasi daerah abdomen dan menemukan apendiks yang meradang. Kemudian
dilakukan pengangkatan apendiks dan abdomen ditutup kembali (Brunicardi et al., 2007).
Pada pasien obesitas, diperlukan waktu yang lebih lama untuk mencapai akses ke abdomen
dikarenakan jaringan subkutan yang lebih banyak (Kutasy et al., 2011).
Laparoskopi apendektomi termasuk tindakan bedah invasif minimal yang
membutuhkan sayatan kecil. Laparoskop memiliki kamera diujungnya yang kemudian
dimasukkan ke dalam abdomen sehingga dokter dapat memeriksa daerah abdomen dan pelvis
(Dorland, 2010). Penatalaksanaan operatif dengan teknik laparoskopi apendektomi
membutuhkan tiga titik untuk memasang trokar. Melalui insisi kecil pada kuadran kanan
bawah, laparoskopi apendektomi memberikan keuntungan bagi pasien obesitas yang
memiliki keterbatasan akses pada abdomen dan mengurangi infeksi luka paska operasi
(Brunicardi et al., 2007).
Terapi operatif atau bedah medis termasuk salah satu dari cara pengobatan. Secara
umum, pengobatan termasuk disyariatkan dalam Islam namun ulama berbeda pendapat
tentang hukumnya. Menurut fatwa yang dikeluarkan oleh Majma al-Fiqh al-islami, hukum
berobat bergantung pada keadaan dan kondisi pasien:
1. Jika pengobatan tidak dilakukan makan akan mengancam jiwa, kehilangan anggota
tubuhnya, akan menjadi lemah, atau penyakitnya akan menulari orang lain, maka
hukumnya menjadi wajib.
2. Berobat hukumnya sunnah jika tidak dilakukan akan menjadikan tubuhnya lemah
namun tidak sampai membahayakan jiwanya.

3. Berobat hukumnya mubah, jika tidak sampai pada dua kondisi diatas.
4. Berobat hukumnya makruh, jika dengan berobat ditakutkan akan mengalami keadaan
lebih buruk daripada dibiarkan saja.
Dengan demikian, hukum bedah medis secara umum sangat tergantung dengan
keadaan dan kondisi pasien. Secara khusus ulama sepakat membolehkan operasi medis
anggota tubuh yang mengalami masalah tertentu (Zuhroni, 2012).
Terapi laparoskopi apendektomi pada anak dengan obesitas memiliki keunggulan
dibandingkan dengan apendektomi terbuka. Diantaranya, laparoskopi apendektomi
membutuhkan waktu operasi yang lebih singkat, angka komplikasi yang lebih kecil, dan
pemberian obat analgesik yang lebih sedikit dibandingkan dengan operasi apendisitis dengan
teknik apendektomi terbuka (Kutasy, 2011).
Menurut ulama, memperbaiki dan memulihkan kembali organ tubuh yang rusak
merupakan hal yang dibenarkan, karena niat dan motivasi utamanya adalah pengobatan.
Diantara ayat yang dijadikan dasar diperbolehkannya operasi medis sebagai upaya menjaga
kehidupan dan menghindari kebinasaan atau mafsadah, antara lain tercantum dalam ayat
berikut:

Artinya: Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: Barang
siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang
lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia
telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehisupan
seorang manusia, makan seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia
semuanya ... {Q.s. al-Maidah (5):32}.
Berdasarkan ayat diatas, Allah menghargai setiap bentuk upaya manusia untuk

menghindari kebinasaan. Bedah medis dilakukan untuk tujuan tersebut. Banyak penyakit
yang hanya dapat diobati dengan tindakan medis, apabila tidak dilakukan akan mengancam
jiwanya, dengan operasi akhirnya dapat ditolong (Zuhroni, 2012).
Bolehnya operasi medis juga dapat dianalogikan dengan tindakan berbekam. Pada
zaman nabi, berbekam dapat diibaratkan sebagai bentuk operasi masa itu. Berbekam
merupakan tindakan pembedahan untuk mengeluarkan darah kotor dalam tubuh, bahkan Nabi
pernah melakukannya (Zuhroni, 2012).
Bedah medis bisa juga dikiyaskan dengan praktik khitan yang merupakan jenis
operasi medis tertua dan termasuk ke dalam sunna fitrah dalam Islam. Hal ini telah
disyariatkan sejak Nabi Ibrahim. Kata Nabi:

Artinya: Al fitrah ada lima: (yaitu) khitan, mencukur bulu kemaluan, memotong kumis,
memotong kuku, dan mencabut bulu ketiak (HR al-Bukhari, Muslim, dan alTurmudzi)
Operasi medis dibolehkan dengan syarat pelaksanaannya dilakukan oleh ahlinya
dengan menggunakan cara yang tepat dan dibutuhkan, kecuali dengan yang diharamkan.
Ulama sepakat membolehkan operasi medis untuk tujuan kemaslahatan, termasuk
menggunakan besi panas (menyulut luka/ penyakit dengan besi panas agar tidak terjadi
infeksi), tetapi harus dilakukan oleh tenaga medis yang professional (Zuhroni, 2012).
Operasi medis menjadi wajib hukumnya jika apabila tidak dilakukan akan
menyebabkan kematian. Dasarnya, ayat al-Quran yang melarang menjatuhkan diri ke dalam
kebinasaan dan larangan bunuh diri.
Tindakan operasi