Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN KASUS

IDENTITAS
Nama

: An. S

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Umur

: 17 tahun

Alamat

: Kp. Jagawana RT 01/07, Sukatani

Agama

: Islam

Masuk RS

: 29 / 10 / 2014

ANAMNESIS:
Diambil secara autoanamnesis
Tanggal

: 03 / 11 / 2014

KELUHAN UTAMA:
Sakit perut kanan bawah sejak 15 jam SMRS
KELUHAN TAMBAHAN:
Demam, Mual, Muntah
RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG:
Pasien datang ke IGD RSUD Kabupaten Bekasi dengan keluhan sakit perut
kanan bawah yang dirasakan sejak 15 jam SMRS. Pasien mengaku tiba-tiba
perutnya sakit seperti ditusuk tusuk. Keluhan diatas juga disertai dengan demam,
mual dan muntah. BAB terasa agak sulit. BAK tidak ada keluhan.
RIWAYAT PENYAKIT DAHULU:
Tidak ada riwayat penyakit serupa sebelumnya.
RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA:
Tidak terdapat anggota keluarga dengan riwayat penyakit yang sama dengan
pasien.

PEMERIKSAAN FISIK (3 November 2014)


Kesadaran

: composmentis

Keadaan umum

: sakit sedang

Tanda-tanda vital

: TD = 100/90 mmHg
N = 92 x/menit
R = 28 x/menit
S = 38,5C

Kepala

: normosefal

Mata

: CA -/- , SI -/-

Leher

: KGB tidak teraba membesar

Thoraks

:
I = simetris statis dan dinamis
P= fremitus taktil dan vokal simetris kanan dan kiri
P= sonor diseluruh lapang paru
A= paru
Jantung

: suara napas vesikuler, rhonki (-), wheezing (-)


: SI-S2 reguler, murmur (-), gallop (-)

Abdomen

: Lihat status lokalis

Genitalia

: tidak ada kelainan

Ekstremitas

: akral hangat, tidak udem di ke empat ekstremitas,

STATUS LOKALIS a/r ABDOMEN:

x
I : dinding perut sejajar dengan dinding dada, supel
P : nyeri tekan (+) Mc.Burney, psoas sign (+), obturator sign (+)
P: tymphani
A: bising usus (+), normal
PEMERIKSAAN PENUNJANG:
Laboratorium ( 05/01/2010 )
Hb

: 13,7 g/dl

Ht

: 39,4 %

LED

: 15

Trombosit

: 280.000 /ul

Leukosit

: 16.000 /ul

Segmen

: 88

Bleeding time : 1.30


Cloting time : 8
Golongan darah / rhesus : B / +
GDS

: 90 mg%

SGOT

: 27 u/l

SGPT

: 12 u/l

Ureum

: 34 mg/dl

Kreatinin

: 0,8 mg/dl

RINGKASAN
Seorang pasien berjenis kelamin perempuan usia 36 tahun, menikah, datang
dengan keluhan sakit perut kanan bawah yang dirasakan sejak 4 hari SMRS. Sakit
perut tiba-tiba dan hilang timbul. Sakit perut dirasakan pasien untuk pertama kalinya.
Sudah berobat ke dokter di klinik tapi keluhan tidak berkurang. Keluhan disertai
dengan demam, muntah dan mencret sebanyak 2 kali. 1 hari SMRS sakit perut
semakin lama semakin bertambah dan menetap. Pasien menggunakan KB suntik 3
bulan.
DIAGNOSIS KERJA:
Appendisitis Akut
DIAGNOSIS BANDING:
1. Appendisitis perforasi
TERAPI:
1. Farmakoterapi
-

IVFD Asering 16 gtt/mnt

Ceftriaxone 1 x 2 gr iv

Ketorolac 3x1 amp

Parasetamol 500 mg prn

2. Non-Farmakoterapi
-

Rencana operasi : apendektomi

PROGNOSIS
Quo ad vitam

: bonam

Quo ad fungsionam

: bonam

LAPORAN OPERASI tanggal 6 JANUARI 2010:


D/ pre-operasi

: Appendisitis akut

D/ post-operasi

: Appendisitis perforasi

Teknik pembedahan : Appendektomi + Laparatomi


Pada saat operasi ditemukan tanda-tanda perforasi, fekalit (+), pus (+) 50 cc
Instruksi post-op

: IVFD RL 20 gtt/mnt
Cefotaxim 2x1 gr
Ketorolac 3x1 amp
Langsung minum setelah pasien sadar
Diet BS
Bed rest 24 jam

TINJAUAN PUSTAKA
Pendahuluan
Apendiks disebut juga umbai cacing. Organ yang tidak diketahui fungsinya ini
sering

menimbulkan

masalah

kesehatan.

Peradangan

akut

apendiks

memerlukan tindak bedah segera untuk mencegah komplikasi yang umumnya


berbahaya.
Anatomi dan Embriologi

Embriologi:

Premordium sekum dan apendiks veriformis ( cecal diverticulum)


mulai tumbuh pada umur 6 minggu kehamilan, yaitu penonjolan dari tepi
antimesenterium lengkung midgut bagian kaudal. Selama perkembangan
antenatal dan postnatal, kecepatan pertumbuhan sekum melebihi kecepatan
pertumbuhan apendiks, sehingga menggeser apendiks ke arah medial di depan
katup ileosekal. Apendiks mengalami pertumbuhan memanjang dari distal
sekum selama kehamilan. Selama masa pertumbuhan bayi, terjadi juga
pertumbuhan bagian kanan-depan sekum, akibatnya apendiks mengalami
rotasi ke arah postero medial dan menetap pada posisi tersebut yaitu 2,5 cm
dibawah katup ileosekal, sehingga pangkal apendiks di sisi medial. Organ ini
merupakan organ yang tidak memiliki kedudukan yang menetap di dalam
rongga abdomen. Hubungan pangkal apendiks ke sekum relatif konstan,
sedangkan ujung dari apendiks bisa ditemukan pada posisi retrosekal, pelvikal,
subsekal, preileal atau parakolika kanan. Posisi apendiks retrosekal paling
banyak ditemukan yaitu 64 % kasus.
Anatomi:
Apendiks merupakan organ berbentuk tabung, panjangnya kira-kira 10
cm ( kisaran 3-15 cm) dan berpangkal di sekum, apeks menempel pada sekum.
Lumennya sempit di bagian proximal dan melebar di bagian distal. Lapisan
epitel lumen apendiks seperti pada epitel kolon tetapi kelenjar intestinalnya
lebih kecil daripada kolon. Apendiks mempunyai lapisan muskulus dua lapis.
Lapisan dalam berbentuk sirkuler yang merupakan kelanjutan dari lapisan
muskulus sekum sedangkan lapisan luar berbentuk muskulus longitudinal
yang dibentuk oleh fusi dari 3 tenia koli di perbatasan antara sekum dan
apendiks.
Apendiks veriformis ( umbai cacaing) terletak pada puncak sekum,
pada pertemuan ke-3 tinea coli yaitu:
-

Taenia libra

Taenia omentalis

Taenia mesocolica
Secara histologis mempunyai 4 lapisan yaitu tunika:

Mukosa

Submukosa

Muskularis
Terdapat stratum circulare (dalam) dan stratum longitudinale (luar), stratum
longitudinale merupakan gabungan dari ke-3 taenia coli.

Serosa, hanya pada apendiks letak intraperitoneal


Pada masa bayi, folikel kelenjar limfe submukosa masih ada. Folikel
ini jumlahnya terus meningkat sampai puncaknya berjumlah sekitar 200 pada
usia 12-20 tahun. Setelah usia 30 tahun,ada pengurangan jumlah folikel
sampai setengahnya, dan berangsur menghilang padda usia 60 tahun.
Pada 65 % kasus, apendiks terletak intraperitoneal. Kedudukan itu
memungkinkan apendiks bergerak dan ruang geraknya bergantung pada
panjang mesoapendika penggantungnya.
Pada kasus selebihnya, apendiks terletak retroperitoneal yaitu di
belakang sekum, di belakang kolon asendens atau di tepi lateral kolon
asendens. Gejala klinis apendisitis ditentukan oleh letak apendiks.
Posisi apendiks :

Ileocecal

Antecaecal ( didepan caecum)

Retrocaecal, intra dan retro peritoneal

Anteileal

Retroileal

Pelvical

Persarafan parasimpatis berasal dari cabang n. Vagus yang mengikuti


a. mesenterika superior dan a. apendikularis, sedangkan persarafan simpatis
berasal dari n. Torakalis X. Oleh karena itu, nyeri viseral pada apendisitis
bermula di sekitar umbilikus.
Pendarahan apendiks berasal dari a.apendikularis yang merupakan
arteri tanpa kolateral. Jika arteri ini tersumbat, misalnya karena trombosis pada
infeksi, apendiks akan mengalami gangren.
Apendiks menghasilkan lendir 1-2 ml per hari. Lendir itu normalnya
dicurahkan ke dalam lumen dan selanjutnya mengalir ke sekum. Hambatan
aliran lendir di muara apendiks tampaknya berperan pada patogenesis
apendisitis.
Imunoglobulin sekretoar yang dihasilkan oleh GALT ( gut associated
lymphoid tissue) yang terdapat di sepanjang saluran cerna termasuk apendiks,
ialah Ig.A. Imunoglobulin itu sangat efektif sebagai pelindung terhadap
infeksi. Namun demikian, pengangkatan apendiks tidak mempengaruhi sistem
imun tubuh karena jumlah jaringan limfe di sini kecil sekali jika dibandingkan
dengan jumlahnya di saluran cerna dan di seluruh tubuh.

10

Patofisiologi
Ada 4 faktor yang mempengaruhi terjadinya appendisitis:
1. Adanya isi lumen
2. Derajat sumbatan yang terus-menerus
3. Sekresi mukus yang terus menerus
4. Sifat inelastis/ tidak lentur dari mukosa appendik

Apendisitis Akut
Epidemiologi
Insidensi apendisitis akut di negara maju lebih tinggi dari pada di
negara berkembang. Namun, dalam tiga-empat dasawarsa terakhir kejadiannya
menurun secara bermakna. Hal ini diduga disebabkan oleh meningkatnya
penggunaan makanan berserat dalam menu sehari-hari.
Apendisitis dapat ditemukan pada semua umur, hanya pada anak
kurang dari satu tahun jarang dilaporkan. Insidensi tertinggi pada kelompok
umur 20-30 tahun, seteah itu menurun. Insidensi pada laki-laki dan perempuan
umumnya sebanding, kecuali pada umur 20-30 tahun, insidensi lelaki lebih
tinggi.
Etiologi
Apendisitis akut merupakan infeksi bakteria. Berbagai hal berperan
sebagai faktor pencetusnya. Sumbatan lumen apendiks merupakan faktor yang
diajukan sebagai faktor pencetus di samping hiperplasia jaringan limfe, fekalit,
tumor apendiks dan cacing askaris dapat pula menyebabkan sumbatan.
Penyebab lain yang diduga dapat menimbulkan apendisitis ialah erosi mukosa
apendiks karena parasit seperti E.histolytica.
Penelitian

epidemiologi

menunjukkan

peran

kebiasaan

makan

makanan rendah serat dan pengaruh konstipasi terhadap timbulnya apendisitis.


Konstipasi akan menaikkan tekanan intrasekal, yang berakibat timbulnya
sumbatan fungsional apendiks dan meningkatnya pertumbuhan kuman flora
kolon biasa. Semuanya ini akan mempermudah timbulnya apendisitis akut.

11

Patologi
Patologi apendisitis dapat mulai di mukosa dan kemudian melibatkan
seluruh lapisan dinding apendiks dalam waktu 24-48 jam pertama. Usaha
pertahanan tubuh adalah membatasi proses radang dengan menutup apendiks
dengan omentum, usus halus atau adneksa sehingga terbentuk massa
periapendikular yang dikenal dengan istilah infiltrat apendiks. Di dalamnya
dapat terjadi nekrosis jaringan berupa abses yang dapat mengalami perforasi.
Jika tidak terbentuk abses, apendisitis akan sembuh dan massa periapendikuler
akan menjadi tenang untuk selanjutnya akan mengurai diri secara lambat.
Apendiks yang pernah meradang tidak akan sembuh sempurna, tetapi
akan membentuk jaringan parut yang menyebabkan perlengketan dengan
jaringan sekitarnya. Perlengketan ini dapat menimbulkan keluhan berulang di
perut kanan bawah.
Gambaran klinis
Apendisitis akut sering tampil dengan gejala khas yang didasari oleh
radang mendadak umbai cacing yang memberikan tanda setempat, disertai
maupun tidak disertai rangsang peritoneum lokal. Gejala klasik apendisitis
ialah nyeri samar-samar dan tumpul yang merupakan nyeri viseral di daerah
epigastrium di sekitar umbilikus. Keluhan ini sering disertai mual dan kadang
ada muntah.umumnya nafsu makan menurun. Dalam beberapa jam nyeri akan
berpindah ke kanan bawak titik Mc.burney. Di sini nyeri dirasakan lebih tajam
dan lebih jelas letaknya sehingga merupakan nyeri somatik setempat.
Bila letak apendiks retrosekal retroperitoneal, karena letaknya
terlindung oleh sekum, tanda nyeri perut kanan bawah tidak begitu jelas dan
tidak ada tanda rangsangan peritoneal. Rasa nyeri lebih ke arah perut sisi
kanan atau nyeri timbul pada saat berjalan karena kontraksi m.psoas mayor
yang menegang dari dorsal.
Apendiks yang terletak di rongga pelvis, bila meradang dapat
menimbulkan gejala dan tanda rangsangan sigmoid atau rektum sehingga
peristalsis meningkat, pengosongan rektum akan menjadi lebih cepat dan
berulang-ulang. Jika apendiks tadi menempel ke kandung kemih, dapat terjadi
peningkatan frekuensi kencing, karena rangsangan dindingnya.

12

Diagnosis
Meskipun pemeriksaan dilakukan dengan cermat dan teliti, diagnosis
klinis apendisitis akut masih mungkin salah pada sekitar 15-20 % kasus.
Kesalahan diagnosis lebih sering pada perempuan dibanding lelaki. Hal ini
dapat disadari mengingat pada perempuan terutama yang masih muda sering
timbul gangguan yang mirip apendisitis akut. Keluhan itu berasal dari
genitalia interna karena ovulasi, menstruasi, radang di pelvis atau penyakit
ginekologik lain.
Anamnesis:
-

Nyeri/ sakit perut


Ini terjadi karena hiperperistaltik untuk mengatasi obstruksi , dan terjadi pada
seluruh saluran cerna, sehingga nyeri visceral dirasakan pada seluruh perut
( (tidak pin-point). Mula-mula di daerah epigastrium kemudian menjalar ke
Mc.Burney. apabila telah terjadi inflamasi ( > 6 jam ) penderita dapat
menunjukkan letak nyeri, karena bersifat somatik.
Perasaan nyeri pada apendisitis biasanya datang secara perlahandan makin
lama makin hebat. Nyeri abdomen yang ditimbulkan oleh adanya kontraksi
apendiks, distensi dari lumen apendiksataupun karena tarikan dinding
apendiks yang mengalami peradangan pada mulanya terjadi nyeri visceral,
yaitu nyeri yang sifatnya hilang-timbul seperti kolik yang dirasakan di daerah
umbilikus dengan sifat nyeri ringan sampai berat. Hal tersebut timbul oleh
karena apendiks dan usus halus mempunyai persarafan yang sama, maka
nyeri visceral tersebut akan dirasakan mula-mula di daerah epigastrium dan
periumbilikal. Secara klasik, nyeri di daerah epigastrium akan terjadi
beberapa jam (4-6 jam) seterusnya akan menetap di kuadran kanan bawah dan
pada keadaan tersebut sudah terjadi nyeri somatikyang berarti sudah terjadi
rangsangan pada peritoneum parietale dengan sifat nyeri yang lebih tajam,
terlokalisir serta nyeri akan semakin hebat bila batuk atau berjalan kaki.

Muntah ( rangsangan visceral )


Anoreksia, nausea dan vomitus yang timbul beberapa jam sesudahnya,
merupakan kelanjutan dari rasa nyeri yang timbul saat permulaan. Keadaan
anoreksia hampi selalu ada pada setiap penderita apendisitis akut. Hampir 75

13

% penderita disertai dengan vomitus, namun jarang berlanjut menjadi berat


dan kebanyakan vomitus hanya sekali atau dua kali.
-

Obstipasi
Penderita apendisitis akut juga mengeluh obstipasi sebelum datangnya rasa
nyeri dan beberapa penderita mengalami diare, hal tersebut timbul biasanya
pada letak apendiks pelvikal yang merangsang daerah rektum.

Panas ( infeksi akut )


Demam yang tidak terlalu tinggi, yaitu suhu antara 37,5-38,5C tetapi bila
suhu lebih tinggi, diduga telah tejadi perforasi.
Pemeriksaan Fisik:
Inspeksi:
Penderita berjalan membungkuk sambil memegangi perutnya yang
sakit, kembung bila terjadi perforasi, penonjolan perut kanan bawah terlihat
pada appendikular abses.
Palpasi:

Nyeri tekan (+) Mc.Burney : Merupakan tanda kunci diagnosis

Nyeri lepas (+) karena rangsangan peritoneum

Defance musculare (+) karena rangsangan m. Rektus abdominis

Rovsing sign (+) :


Penekanan perut sebelah kiri terjadi nyeri sebelah kanan, karena tekanan
merangsang peristaltik dan udara usus, sehingga menggerakkan peritoneum
sekitar apendiks yang meradang ( somatik pain)

14

Psoas sign (+) :

Terjadi karena adanya rangsangan m.psoas oleh peradangan yang terjadi pada
apendiks.
Ada 2 cara memeriksa:
Aktif: pasien telentang, tungkai kanan lurus di tahan pemeriksa, pasien
memfleksikan articulatio coxae kanan maka akan terasa nyeri perut kanan
bawah.

15

Pasif: pasien miring ke kiri, paha kanan di hiperekstensikan pemeriksa akan


terasa nyeri perut kanan bawah.
-

Obturator sign (+) : dengan gerakan fleksi dan endorotasi articulatio coxae
pada posisi terlentang terjadi nyeri (+).

Perkusi: Nyeri ketok (+)


Auskultasi: peristaltik normal. Peristaltik usus tidak terdengar jika sudah
terjadi perforasi.
Untuk menurunkan angka kesalahan diagnosis apendisitis akut bila
diagnosis meragukan, sebaiknya dilakukan observasi penderita di rumah sakit
dengan pengamatan setiap 1-2 jam. Telah banyak dikemukakan cara untuk
menurunkan insidensi apendektomi negatif, salah satunya adalah dengan
instrumen skoring Alvarado. Skor alvarado adalah sistem skoring sederhana
yang bisa dilakukan dengan mudah, cepat dan kurang invasif.
Skor Alvarado untuk diagnosis apendisitis akut:
Gejala dan Tanda:
Nyeri berpindah
Anoreksia
Mual-muntah
Nyeri fossa iliaka kanan
Nyeri lepas
Peningkatan suhu > 37,3 C

Skor
1
1
1
2
1
1

16

Jumlah leukosit > 10 x 10/ L

Jumlah neutrofil > 75 %

Total skor

10

Nilai:
< 4 : kronis
4-7 : ragu-observasi
>7 : akut
Berdasarkan skoring terhadap faktor resiko yang digunakan dalam
sistem skor Alvaradoseperti tertulis di atas dapat diasumsikan bahwa semakin
lengkap gejala, tanda dan pemeriksaan laboratorium yang muncul atau
keberadaannya positif maka skor Alvarado akan semakin tinggi, mendekati 10,
ini mengarahkan kepada apendisitis akut atau apendisitis perforasi. Demikian
juga jika semakin tidak lengkap maka skor Alvarado semakin rendah,
mendekati 1 ini mengarahkan kepada apendisitis kronis atau bukan apendisitis.
Alvarado merekomendasikan untuk melakukan operasi pada semua pasien
dengan skor 7 atau lebih dan melakukan observasi untuk pasien dengan skor 5
atau 6.
Foto barium kurang dapat dipercaya. Ultrasonografi bisa meningkatkan
akurasi diagnosis. Demikian pula laparoskopi pada kasus yang meragukan.
Pemeriksaan penunjang:

Laboratorium
Pemeriksaan jumlah leukosit membantu menegakkan diagnosis apendisitis
akut. Pada kebanyakan kasus terdapat leukositosis, terlebih pada kasus dengan
komplikasi.

Foto polos abdomen


Pada apendisitis akut, foto polos abdomen tidak banyak membantu. Mungkin
terlihat adanya fekalit pada abdomen sebelah kanan bawah sesuai dengan
lokasi apendiks. Bila sudah terjadi perforasi , maka foto abdomen tegak akan
tampak udara bebas di bawah diafragma. Kalau sudah terjadi peritonitis yang
biasanya disertai dengan kantong-kantong pus, maka akan tampak udara yang
tersebar tidak merata dan usus-usus yang sebagian distensi dan mungkin

17

tampak cairan bebas, gambaran lemak preperitoneal menghilang, pengkaburan


psoas shadow.

USG

Laparoskopi
Dapat berfungsi sebagai alat diagnosis dan terapi

Histopatologi
Gold standard untuk diagnosis apendisitis akut
Dignosis banding:

Gastroenteritis

Demam dengue

Limfadenitis mesenterika

Kelainan ovulasi

Infeksi panggul

Kehamilan di luar kandungan

Kista ovarium terpuntir

Endometriosis eksterna

Urolitiasis pielum/ ureter kanan

Penyakit saluran cerna lainnya


Tatalaksana:
Bila diagnosis klinis sudah jelas, tindakan paling tepat dan merupakan satusatunya pilihan yang baik adalah apendektomi. Pada apendisitis tanpa
komplikasi biasanya tidak perlu diberikan antibiotik, kecuali pada apendisitis
gangrenosa atau apendisitis perforata. Penundaan tindak bedah sambil
memberikan antibiotik dapat mengakibatkan abses atau perforasi.
Komplikasi:
Komplikasi yang paling sering ditemukan adalah perforasi, baik berupa
perforasi biasa maupun perforasi pada apendiks yang telah mengalami
pendindingan sehingga berupa massa yang terdiri atas kumpulan apendiks,
sekum, dan lekuk usus halus.

Apendisitis perforata
Epidemiologi:

18

Adanya fekalit di dalam lumen, umur (orang tua atau anak kecil), dan
keterlambatan diagnosis, merupakan faktor yang berperanan dalam terjadinya
perforasi apendiks. Dilaporkan insidensi perforasi 60% pada penderita diatas
60 tahun. Faktor yang mempengaruhi tingginya insidens perforasi pada orang
tua adalah gejalanya yang samar, keterlambatan berobat, adanya perubahan
anatomi apendiks berupa penyempitan lumen, dan aterosklerosis.
Diagnosis:
Perforasi apendiks akan mengakibatkan peritonitis purulenta yang
ditandai dengan demam tinggi, nyeri makin hebat yang meliputi seluruh perut,
dan perut menjadi tegang dan kembung. Nyeri tekan dan defans muskuler di
seluruh perut, mungkin dengan pungtum maksimum di regio iliaka kanan,
peristalsis usus menurun sampai menghilang karena ileus paralitik. Abses
rongga peritoneum bisa terjadi bilamana pus yang menyebar bisa dilokalisasi
di suatu tempat, paling sering di rongga pelvis dsn subdiafragma.
Tata laksana:
Perbaikan keadaan umum dengan infus, pemberian antibiotik untuk
kuman Gram negatif dan positif serta kuman anaerob dan pemasangan pipa
nasogatrik perlu dilakukan sebelum pembedahan.
Perlu dilakukan laparatomi dengan insisi yang panjang, supaya dapat
dilakukan pencucian rongga peritoneum dari pus maupun pengeluaran fibrin
yang adekuat secara mudah, begitu pula pembersihan kantong nanah.

Apendisitis rekurens
Diagnosis apendisitis rekurens baru dapat dipikirkan jika ada riwayat
serangan nyeri berulang di perut kanan bawah yang mendorong dilakukannya
apendektomi, dan hasil patologi menunjukkan peradangan akut. Kelainan ini
terjadi bila serangan apendisitis akut pertama kali sembuh spontan. Namun,
apendiks tidak pernah kembali ke bentuk aslinya karena terjadi fibrosis dan
jaringan parut.
Pada apendisitis rekurens biasanya dilakukan apendektomi karena
sering penderita datang dalam serangan akut.

19

Apendisitis kronik
Diagnosis apendisitis kronik baru dapat ditegakkan jika dipenuhi semua
syarat: riwayat nyeri perut kanan bawah lebih dari 2 minggu, radang kronik
apendiks secara makroskopik dan mikroskopik dan keluhan menghilang
setelah apendektomi.
Kriteria mikroskopik apendisitis kronik adalah fibrosis menyeluruh dinding
apendiks, sumbatan parsial atau total lumen apendiks, adanya jaringan parut
dan ulkus lama di mukosa dan infiltrasi sel inflamasi kronik.

DAFTAR PUSTAKA

20

1. http://www.bedahugm.net/bedah/bedah-digesti/
2. http://www.bedahugm.net/apendik/
3. http://www.bedahugm.net/tag/appendisitis-akut/
4. Sjamsuhidajat.R, de jong.W. 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah ed.2. Jakarta.
EGC
.

21