Anda di halaman 1dari 4

Ketahanan Pangan di Indonesia

Pangan merupakan faktor terpenting dalam kehidupan setiap manusia.


Dengan pangan, manusia dapat bertahan hidup, mempunyai tenaga untuk
menjalani segala aktifitasnya, bahkan pangan merupakan ladang penghasilan bagi
sebagian orang. Pangan dapat membawa dampak bagi seluruh aspek kehidupan
manusia. Maraknya era krisis pangan mengkibatkan aspek sosial, transportasi
serta budaya mengalami perubahan.
Gentingnya krisis pangan dunia telah disuarakan oleh berbagai tokoh dunia.
Pada Spring Meeting IMF-World Bank pada awal bulan April 2008, Robert
Zoellick, Kepala Bank Dunia, memperingatkan bahwa sekitar 100 juta orang yang
saat ini sudah miskin akan menjadi bertambah miskin karena melonjaknya harga
pangan dunia. Rendahnya laju peningkatan produksi pangan dan terus
menurunnya produksi khususnya di Indonesia antara lain disebabkan oleh
produktivitas tanaman pangan yang masih rendah dan terus menurun dan
peningkatan luas areal penanaman-panen yang terus menurun khususnya di lahan
pertanian pangan produktif di pulau Jawa. Kedua faktor di atas memastikan laju
pertumbuhan produksi dari tahun ke tahun yang cenderung terus menurun. Meurut
Khan, krisis pangan juga akan berakibat pada terjadinya kesenjangan perdagangan
antar-negara yang tidak hanya terbatas pada negara-negara yang sedang
membangun tetapi juga akan mempengaruhi negara-negara yang telah
maju.Walaupun dalam masa krisis pangan sejak awal 2008 ini Indonesia
mempunyai produksi dan stok beras yang cukup, dalam jangka panjang masih
harus tetap dibenahi struktur pasar yang dihadapi petani. Agar petani padi dapat
terus bergairah menanam padi, minimal harga jual padinya harus dipertahankan
cukup tinggi dibandingkan dengan harga bahan produksi (pupuk, pestisida) yang
harus dibelinya.
Membangun Ketahanan pangan berbasis Agribisnis pangan rakyat di
Indonesia perlu mendapatkan perhatian serius. Mengingat pada tahun 1984
swasembada pangan pernah tercapai, namun tahun-tahun selanjutnya semakin
merosot sehingga upaya-upaya mempertahankan dan mencukupi kebutuhan

pangan nasional semakin terancam. Produksi pangan nasional semakin terancam


dan impor pangan dijadikan sebagai solusi instan. Seharusnyalah dibangun
kembali kerangka pembangunan pertanian berkerakyatan dan berorientasi
kemandirian dan kesejahteraan yang merata di dalam sistem agribisnis yang
terpadu. Masalah penyediaan pangan untuk penduduk harus dipandang secara
utuh, bukan sekedar dinilai secara untung rugi saja tetapi lebih jauh dicermati
pada aspek politik, dan sosialnya karena di dalam pandangan nasional ketahanan
pangan harus merupakan bagian dari ketahanan nasional. (Jaegopal, 2010)
Kebijakan Impor pangan yang menonjol sebagai program instant untuk
mengatasi kekurangan produksi justru membuat petani semakin terpuruk dan
tidak berdaya atas sistem pembangunan ketahanan pangan yang tidak tegas.
Rendahnya penerapan teknologi budidaya disebabkan karena pemahaman dan
penguasaan penerapan paket teknologi baru yang kurang dapat dipahami oleh
petani secara utuh sehingga penerapan teknologinya sepotong-sepotong (Mashar,
2000). Seperti penggunaan pupuk yang tidak tepat, bibit unggul dan cara
pemeliharaan yang belum optimal diterapkan petani belum optimal karena
lemahnya sosialisasi teknologi, sistem pembinaan serta lemahnya modal usaha
petani itu sendiri. Selain itu juga karena cara budidaya petani yang menerapkan
budidaya konvensional dan kurang inovatif seperti kecenderungan menggunakan input
pupuk kimia yang terus menerus, tidak menggunakan pergiliran tanaman, kehilangan
pasca panen yang masih tinggi 15 20 % dan memakai air irigasi yang tidak efisien.
Akibatnya antara lain berdampak pada rendahnya produktivitas yang mengancam
kelangsungan usaha tani dan daya saing di pasaran terus menurun. Rendahnya
produktivitas dan daya saing komoditi tanaman pangan yang diusahakan menyebabkan
turunnya minat petani untuk mengembangkan usaha budidaya pangannya, sehingga
dalam skala luas mempengaruhi produksi nasional.
Akibat over suplai pangan dari impor seringkali memaksa harga jual hasil
panen petani menjadi rendah tidak sebanding dengan biaya produksinya sehingga
petani terus menanggung kerugian. Hal ini menjadikan bertani pangan tidak
menarik lagi bagi petani dan memilih profesi lain di luar pertanian, sehingga
ketahanan pangan nasional mejadi rapuh.

Menempatkan pangan sebagai bagian menempatkan kepentingan rakyat,


bangsa dan negara serta rasa nasionalisme untuk melindungi, mencintai dan
memperbaiki produksi pangan lokal harus terus dikembangkan. Pertanian pangan
termasuk di kawasan transmigrasi hendaknya jangan dipandang sebagai lahan
untuk menyerap tenaga kerja atau petani dikondisikan untuk terus memberikan
subsidi bagi pertumbuhan ekonomi sektor lain dengan tekanan nilai jual hasil
yang harus rendah dan biaya sarana produksi terus melambung. Tetapi seharusnya
petani pangan mendapatkan prioritas perlindungan oleh pemerintah melalui harga
jual dan subsidi produksi karena petani membawa amanah bagi ketahanan pangan,
petani pangan perlu mendapatkan kesejahteraan yang layak. Dalam hal ini adalah
wajar jika pemerintah berpihak kepada petani dan pelaku produksi pertanian
pangan karena merupakan golongan terbesar dari masyarakat Indonesia .
Melihat kondisi saat ini dan produksi pangan yang semakin tergantung impor
dan bergesernya pola konsumsi masyarakat maka untuk mencapai kemandirian
pangan ke depan harus dilakukan melalui upaya-upaya terpadu secara
terkonsentrasi pada peningkatan produksi pangan nasional yang terencana. Yang
perlu ditekankan adalah: peningkatan produktivitas dan penerapan teknologi
bio/hayati

organik,

perluasan

areal

pertanian

pangan

dan

optimalisasi

pemberdayaan sumber daya pendukung lokalnya, kebijakan tataniaga pangan dan


pembatasan impor pangan, pemberian kredit produksi dan subsidi bagi petani
pangan, pemacuan kawasan sentra produksi dan ketersediaan silo untuk stock
pangan sampai tingkat terkecil dalam mencapai swasembada pangan di setiap
daerah. Untuk itu pemacuan peningkatan produksi pangan nasional harus
ditunjang dengan kesiapan dana, penyediaan lahan, teknologi, masyarakat dan
infrastrukturnya yang dijadikan sebagai kebijakan ketahanan pangan nasional.
Untuk mengatasi permasalahan di atas pemerintah harus memberikan subsidi
teknologi kepada petani dan melibatkan stakeholder dalam melakukan percepatan
perubahan (Saragih, 2003). Pengelolahan subsidi pemerintah hendaknya perlu
mendapatkan perhatian yang lebih karena bila berbicara mengenai pangan, maka
segala aspek baik politik, transportasi, budaya dan aspek-aspek lainnya juga dapat
terancam. Ketegasan terhadap undang-undang konservasi lahan, pelestarian hutan

dan pertanian patut diperhatikan. Undang-Undang No. 17 Tahun 2007 tentang


Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional tahun 2005-2025 menegaskan
bahwa Pembangunan dan perbaikan gizi dilaksanakan secara lintas sektor
meliputi produksi, pengolahan, distribusi, hingga konsumsi pangan dengan
kandungan gizi yang cukup, seimbang, serta terjamin keamanannya. Pemerintah
harus konsisten dengan empat pilar pembangunan pangan dan gizi yang sudah
dianggarkan yaitu : akses terhadap pangan yang didukung oleh ketersediaan dan
daya beli; keamanan pangan; status gizi; dan pola hidup sehat, sebagai
penjabaran pembangunan pangan dan gizi secara komprehensif. Pembinaan
petani dengan sosialisasi pengelolahan lahan juga perlu dilakukan. Sehingga
sudah jelas, peran serta dari pemerintah perlu ditingkatkan. Tidak hanya dari
elemen pemerintah, dalam hal ini diharapkan partisipasi dari elemen
nonpemerintah seperti mahasiswa serta LSM, diharpakan dapat ikut andil dan
turun langsung menuju lapangan. Kesadaran warga untuk mengkonsumsi bahan
pengganti beras seperti meningkatkan konsumsi umbi-umbian. Tindakan kreatif
dan inovatif seperti pengolahan bahan pangan yang tingkat produksinya tinggi
sehingga bernilai jual tinggi dan para petani kian tergiur untuk mengelola
sawahnya.