Anda di halaman 1dari 7

Nama

NIM
Shift
Kelompok
Tugas Khusus

: Ahmad Zarkasyi
: 03121403051
: B / Selasa (13.00)
: 2 (Dua)

SINTESIS BIODIESEL DENGAN KATALIS ZEOLIT


Biodiesel merupakan bahan bakar yang terdiri dari campuran mono-alkil ester dari rantai panjang asam lemak, yang dipakai sebagai alternatif bagi
bahan bakar dari mesin diesel dan terbuat dari sumber terbaharui seperti minyak
sayur atau lemak hewan. Sebuah proses dari transesterifikasi lipid digunakan
untuk

mengubah

minyak

dasar

menjadi ester yang

diinginkan

dan

membuangasam lemak bebas. Setelah melewati proses ini, tidak seperti minyak
sayur

langsung,

biodiesel

memiliki

sifat pembakaran yang

mirip

dengan diesel (solar) dari minyak bumi, dan dapat menggantikannya dalam
banyak kasus. Namun, dia lebih sering digunakan sebagai penambah untuk diesel
petroleum,

meningkatkan

bahan

bakar

diesel

petrol

murni

ultra

rendah belerang yang rendah pelumas.


Biodiesel

merupakan

kandidat

yang

paling

baik

untuk

menggantikan bahan bakar fosil sebagai sumber energi transportasi utama dunia,
karena biodiesel merupakan bahan bakar terbaharui yang dapat menggantikan
diesel petrol di mesin sekarang ini dan dapat diangkut dan dijual dengan
menggunakan infrastruktur zaman sekarang. Penggunaan dan produksi biodiesel
meningkat dengan cepat, terutama di Eropa, Amerika Serikat, dan Asia, meskipun
dalam pasar masih sebagian kecil saja dari penjualan bahan bakar.
Pertumbuhan SPBU membuat

semakin

banyaknya

penyediaan

biodiesel

kepada konsumen dan juga pertumbuhan kendaraan yang menggunakan biodiesel


sebagai bahan bakar.
Pada skala kecil dapat dilakukan dengan bahan minyak goreng 1 liter yang
baru atau bekas. Methanol sebanyak 200 ml atau 0.2 liter. Soda api atau NaOH 3,5
gram untuk minyak goreng bersih, jika minyak bekas diperlukan 4,5 gram atau
mungkin lebih. Kelebihan ini diperlukan untuk menetralkan asam lemak bebas
atau FFA yang banyak pada minyak goreng bekas. Dapat pula mempergunakan
KOH namun mempunyai harga lebih mahal dan diperlukan 1,4 kali lebih banyak
dari soda. Proses pembuatan; Soda api dilarutkan dalam Methanol dan kemudian

dimasukan kedalam minyak dipanaskan sekitar 55 oC, diaduk dengan cepat


selama 15-20 menit kemudian dibiarkan dalam keadaan dingin semalam. Maka
akan diperoleh biodiesel pada bagian atas dengan warna jernih kekuningan dan
sedikit bagian bawah campuran antara sabun dari FFA, sisa methanol yang tidak
bereaksi dan glyserin sekitar 79 ml.
Biodiesel yang merupakan cairan kekuningan pada bagian atas dipisahkan
dengan mudah dengan menuang dan menyingkirkan bagian bawah dari cairan.
Untuk skala besar produk bagian bawah dapat dimurnikan untuk memperoleh
gliserin yang berharga mahal, juga sabun dan sisa methanol yang tidak bereaksi.
Ketika minyak digunakan untuk menggoreng terjadi peristiwa oksidasi, hidrolisis
yang memecah molekul minyak menjadi asam. Proses ini bertambah besar dengan
pemanasan yang tinggi dan waktu yang lama selama penggorengan makanan.
Adanya asam lemak bebas dalam minyak goreng tidak bagus pada kesehatan. FFA
dapat pula menjadi ester jika bereaksi dengan methanol, sedang jika bereaksi
dengan soda akan mebentuk sabun. Produk biodiesel harus dimurnikan dari
produk samping, gliserin, sabun sisa methanol dan soda. Sisa soda yang ada pada
biodiesel dapat menghidrolisa dan memecah biodiesel menjadi FFA yang
kemudian terlarut dalam biodiesel itu sendiri. Kandungan FFA dalam biodiesel
tidak bagus karena dapat menyumbat filter atau saringan dengan endapan dan
menjadi korosi pada logam mesin diesel.
Alam Indonesia kaya akan sumber daya alam, baik sumber daya alam
yang dapat diperbaharui, misalnya aneka jenis flora dan fauna,maupun sumber
daya alam yang tidak dapat diperbaharui,misalnya beraneka ragam hasil tambang,
dan minyak bumi. Seiring dengan menipisnya persediaan minyak bumi dan kian
meningkatnya harga Bahan Bakar Minyak (BBM), masyarat mencoba mencari
sumber bahan bakar alternatif. Salah satu cara adalah dengan memanfaatkan
biodiesel sebagai sumber bahan bakar alternatif.
Biodiesel merupakan salah satu bahan bakar alternatif yang berasal dari
sumber yang terbarukan. Secara kimiawi, biodiesel merupakan campuran metil
ester dengan asam lemak rantai panjang yang dihasilkan dari sumber hayati
seperti minyak nabati dan lemak hewani atau dari minyak goreng bekas pakai.
Minyak nabati merupakan sumber bahan baku yang menjanjikan bagi proses

produksi biodiesel karena bersifat terbarukan, dapat diproduksi dalam skala besar
dan ramah lingkungan. Pembuatan biodiesel selama ini lebih banyak
menggunakan katalis homogen, seperti asam dan basa. Penggunaan katalis
homogen ini menimbulkan permasalahan pada produk yang dihasilkan, misalnya
masih mengandung katalis, yang harus dilakukan separasi lagi (Buchori dan
Widayat, 2009 dalam Aziz, dkk., 2012). Selain itu penggunaan katalis basa juga
dapat menimbulkan reaksi samping yaitu reaksi penyabunan sehingga
mempengaruhi proses pembuatan biodiesel (Darnoko dan Cheriyan, 2000 dalam
Aziz, dkk., 2012). Maka sebagai solusinya yaitu pemanfaatan zeolit sebagai
katalis dalam pembuatan biodiesel tersebut.
Zeolit adalah katalis yang sering digunakan karena memiliki penyusun
yang penting yang tidak dapat ditemukan dalam katalis amorf konvensional.
Zeolit mempunyai struktur berongga dan biasanya rongga ini diisi oleh air dan
kation yang bisa dipertukarkan dan memiliki ukuran pori yang tertentu. Oleh
karena itu zeolit dapat dimanfaatkan sebagai penyaring, penukar ion, penyerap
bahan dan katalisator. Daya kerja zeolit sebagai katalis dapat diperbesar dengan
mengaktifkan zeolit terlebih dahulu.
Yang menjadi bahan dasar pembuatan biodiesel dalam ketiga jurnal yang
menjadi acuan review adalah minyak biji kapuk dan juga limbah minyak goreng.
Dimana pada kedua bahan dasar tersebut, keduanya memanfaatkan zeolit sebagai
katalis dalam proses pembuatan biodiesel. Bahkan pada salah satu jurnal
membahas mengenai pemanfaatan katalis zeolit dari sekam padi dalam proses
pembuatan biodiesel. Hal pertama yang dilakukan dalam penelitian mengenai
pemanfaatan zeolit sebagai katalis dalam pembuatan biodiesel adalah persiapan
alat dan bahan. Dimana untuk bahan yang digunakan adalah minyak biji kapuk
dan limbah minyak goreng.
Minyak biji kapuk diperoleh dari proses pengepresan biji kapuk. Dimana
minyak yang dihasilkan dari proses pengepresan tersebut harus diolah lagi
memalui proses deguming, proses deguming tersebut harus dilakukan karena hasil
minyak dari proses pengepresan masih terdapat kotoran baik berupa kulit biji
kapuk maupun berupa senyawa kimia (misal: alkaloid, fosfatida, karotenoid,
khlorofil, dll). Setelah proses deguming, maka akan dihasilakan minyak biji

kapuk.

Setelah

dihasilkan

minyak

biji

kapuk,

proses

selanjutnya

adalah transesterifikasi. Dimana pada proses ini dilakukan penambahan katalis


zeolit dan metanol.
Zeolit alam yang akan ditambahkan harus diaktivasi terlebih dahulu
menggunakan senyawa kimia. Namun, pada penelitian yang menggunakan zeolit
sekam padi, zeolit tidak perlu diaktivasi terlebih dahulu. Alasan digunakannya
katalis zeolit dari limbah sekam padi adalah sebagai berikut.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Aktivitas tinggi
Kondisi radiasi ringan
Masa hidup katalis panjang
Biaya katalis rendah
Tidak korosif
Ramah lingkungan
Menghasilkan sedikit masalah pembuangan
Dapat dipisahkan dari larutan sehingga dapat digunakan kembali
Pada proses transesterifikasi, zeolit yang ditambahkan diberi ukuran yang

bervariasi. Hal tersebut ditujukan untuk perbandingan hasil yang akan diperoleh.
Proses transesterifikasi tersebut dilakukan dengan rentan waktu yang berbedabeda agar diperoleh variasi data. Setelah proses ini selasai, maka akan dihasilkan
dua endapan yang berbeda pada wadah yang digunakan. Endapan yang atas
merupakan senyawa methyl ester (biodiesel) dan yang bawah adalah gliserol.
Kemudian dilakukan pemisahan biodiesel dan gliserol, selanjutnya hasil
biodiesel yang telah dipisahkan tersebut didistilasi untuk memisahkan metanol
sisa dari transesterifikasi. Kemudian hasilnya dicuci dengan air sampai pH netral
dan selanjutnya dipanaskan hingga suhu 100oC agar air menguap. Dan langkah
selanjutnya yang dilakukan adalah menganalisa hasil biodiesel yang diperoleh
dengan GC (Gas Chromathography).
Untuk pembuatan biodiesel dari limbah minyak goreng, yang pertama
harus dilakukan adalah menyaring minyak goreng tersebut agar tidak terdapat
kotoran-kotoran dan memanaskannya hingga suhu 100oC agar sisa-sisa air dalam
minyak

goreng

tersebut

menguap.

Kemudian

dilakukan

proses transesterifikasi dengan menambahkan katalis zeolit dan metanol. Setelah


proses ini selesai maka akan dihasilkan dua endapan, sama seperti halnya

padatransesterifikasi pada minyak biji kapuk. Dan untuk proses selanjutnya adalah
sama halnya dengan proses pada pengolahan biodiesel dari minyak biji kapuk.
Berdasarkan

hasil

analisa

dengan

GC

dan

XRD,

diketahui

bahwa yield biodiesel yang maksimal pada percobaan yang dilakukan oleh
Susilowati (2006) adalah sebesar 1.7699% dengan penambahan zeolit sebesar
10% dalam waktu 50 menit. Sedangkan pada percobaan yang dilakukan oleh
Isalmi Aziz (2012) adalah sebesar 12% yield biodiesel dengan penambahan zeolit
sebesar 1% dalam waktu 5 jam. Dan untuk percobaan yang dilakukan oleh
Santoso (2012) adalah sebesar 21.94% yield biodiesel dengan penambahan zeolit
sebanyak 2 gram.
Biodiesel yang dihasilkan oleh Susilowati relatif kecil karena pada proses
aktivasi zeolit menggunakan senyawa NH4NO3 3N. Sedangkan Ismail Aziz
menggunakan senyawa HCl untuk aktivasi zeolitnya. Berebda halnya dengan
Santoso, zeolit yang digunakan tidak diaktivasi, karena katalis zeolit dari limbah
sekam padi merupakan katalis heterogen, yaitu merupakan katalis yang
mempunyai

fasa

yang

tidak

sama

dengan

reaktan

dan

produksi.

Prosestransesterifikasi menggunakan katalis zeolit limbah sekam padi akan


memberikan hasil yang kurang maksimal, karena pada zeolit sekam padi terdapat
Na+, dimana ketika proses transesterifikasi berlangsung unsur Na+ akan berikatan
dengan air sehingga membentuk senyawa NaOH yang menyebabkan penyabunan
antara asam lemak bebas dengan kation alkali.
Sering kali biodiesel dideskripsikan secara umum dengan tujuan agar
mudah dipahami oleh masyarakat umum. Namun, ketika deskripsi yang luas yang
diadopsi oleh badan otoritatif sebagai definisi formal, mereka dapat mencakup
berbagai macam bahan bakar eksperimental bukan biodiesel. Istilah biodiesel
memiliki definisi khusus teknis yang telah disepakati melalui proses panjang oleh
anggota industri dan pemerintah yang telah mendapat persetujuan penuh
olehAmerican Society of Testing dan Material (ASTM), organisasi pertama tentang
pengaturan

utama

standar

untuk

bahan

bakar

dan

bahan

bakar

aditif. Definisidigunakan untuk tujuan seperti penunjukan bahan bakar alternatif,


pendaftaran EPA, atau tujuan regulasi lainnya. Meskipun demikian, definisi teknis
tertentu dapat membingungkan bagi masyarakat umum. Oleh karena itu kami

telah memilih untuk mengadopsi dua definisi untuk biodiesel. Definisi umum
adalah deskripsi sederhana untuk masyarakat umum. Sedangkan definisi teknis
diadopsi untuk digunakan oleh pelanggan untuk tujuan spesifikasi penawaran atau
badan pemerintah untuk tujuan regulasi.
Biodiesel merupakan bahan bakar domestik terbarukan untuk digunakan
pada mesin diesel yang berasal dari minyak alami seperti minyak kedelai, minyak
sayur, minyak jarak, minyak biji matahari serta memenuhi spesifikasi ASTM D
6751. Biodiesel dapat digunakan dalam konsentrasi berapapun dicampur dengan
bahan bakar diesel berbasis minyak bumi untuk mesin diesel tanpa memodifikasi
mesin. Biodiesel tidak sama seperti minyak sayur mentah. Biodiesel dihasilkan
oleh proses kimia yang menghilangkan gliserin dari minyak.
Sejauh ini, keuntungan terbesar didapatkan dengan penggunaan Bio
Deisel adalah sifatnya yang bisa diperbaharui dan tidak beracun. Hal ini
menjadikannya sebagaibahan bakar alternatif pembangkit listrik paling ramah
yang tersedia saat ini. Dalam sebuah penelitian di Departemen Energi Amerika
Serikat mengungkapkan bahwa penggunaan bahan bakar Bio Diesel dapat
mengurangi emisi karbon dioksida disebabkan oleh pembakaran bahan bakar fosil
sebesar 75 persen. Manfaat lainnya, bahan bakar Bio Diesel ini tidak mengandung
bahan kimia beracun, seperti belerang, yang bertanggung jawab atas terjadinya
emisi berbahaya. Bahkan, jika digunakan setiap hari menggantikan bahan bakar
fosil bahaya seperti hujan asam bisa dihilangkan selamanya.
Kandungan energi bio diesel diketahui 11 persen lebih kecil dari bahan
bakar diesel yang berbasis minyak bumi. Ini berarti kapasitas pembangkit listrik
dari mesin yang Anda gunakan akan menurun jauh ketika menggunakan Bio
Diesel. Kelemahan kedua yang terdapat pada Bio Diesel adalah memiliki kualitas
oksidasi yang buruk sehingga Bio Diesel dapat menyebabkan beberapa masalah
masalah serius ketika disimpan. Bila disimpan untuk waktu yang lebih lama, Bio
Diesel cenderung berubah menjadi gel (lihat minyak goreng yang disimpan di
kulkas), yang dapat menyebabkan penyumbatan berbagai komponen mesin. Bio

Diesel ini

juga

dapat

mengakibatkan

pertumbuhan

mikroba,

sehingga

menyebabkan beberapa kerusakan pada mesin.

DAFTAR PUSTAKA
Agharian, Fanthrur .2009. Biodiesel. http://www.scribd.com/Korosi/ (diakses .
(diakses pada tanggal 22 Maret 2015)
Axe, Alleria. 2010.

Pemanfaatan Biodiesel. https://belajar biokimia.com//.

(diakses pada tanggal 22 Maret 2015)


Jakiro, Mohammad. 2012. Proses Pembuatan Biodiesel dengan Katalis Padat.
http://ainihairul.blogspot.com/(diakses pada tanggal 22 Maret2015)
Sven, Mogunahak.2013. Crude Palm Oil .http://renataemily.wordpress.com// .
(diakses pada tanggal 22 Maret 2015)
Traniad, Eul. 2013. Manfaat Biodiesel. http://www.alangkepacak-kau.com.
(diakses pada tanggal 22 Maret 2015)