Anda di halaman 1dari 2

Pertimbangan Klinis

No.
1.
2.
3.
4.

Kriteria
Indikasi
Interaksi
Duplikasi/polifarmas
i
Alergi

Permasalahan
-

Pengatasan
-

Kemungkinan pasien alergi Jika terjadi alergi pada penggunaan


azitromisin
azitromisin, maka dapat dilakukan
penggantian dengan antibiotik lain
yang juga memiliki indikasi terapi
untuk infeksi saluran pernapasan.
Misalnya: chlarithromycin.
5. Efek samping
Sebaiknya diminum tidak dalam
Azitromisin:
Dapat menyebabkan
keadaan perut kosong, tetapi ini
gangguan
dapat mengganggu proses absorpsi
gastrointestinal.
azitromisin sehingga hal ini tidak
Carbosistein:
dapat dilakukan. Maka jika timbul
Dapat menyebabkan
gangguan gastrointestinal yang akut
mual dan gangguan
karena efek samping obat,
gastrointestinal lainnya.
pemberian obat-obat yang bersifat
gastroprotektif dapat
dipertimbangkan.
Berdasarkan pertimbangan klinis yang telah dilakukan, tidak ditemukan permasalahan
pada indikasi obat, Interaksi obat, dan polifarmasi. Pada permasalahan alergi, hanya dapat
direncanakan tindakan preventif apabila terjadi alergi pada antibiotic yang digunakan, yakni
azitromisin. Kemudian, pada permasalahan efek samping, ditemukan dua obat yang memiliki
efek samping pada gastrointestinal, yaitu azitromisin dan carbosistein. Untuk mengatasi hal
ini, maka apoteker dapat menyarankan pada dokter untuk menambahkan obat yang bersifat
gastroprotektif guna mencegah timbulnya permasalahan baru yang diakibatkan oleh efek
samping obat tersebut.
Kerasionalan Resep
a. Obat
Obat yang diresepkan sesuai dengan tujuan terapi.
Kesimpulan: tepat obat
b. Indikasi
Indikasi dari tiap-tiap obat yang diresepkan sesuai dengan tujuan terapi.
Kesimpulan: tepat indikasi
c. Dosis, Cara Pemberian, dan Durasi Pemberian
Pada resep, ditemukan beberapa obat yang memiliki dosis, cara pemberian, dan durasi
pemberian yang tidak sesuai.

Untuk dosis, ketidaksesuaian ditemukan pada resep azitromisin. Di resep, tertera bahwa
azitromisin digunakan sebanyak 1 gram per hari dibagi dalam 3 kali pemakaian selama 5
hari. Sementara, dosis yang ada pada literatur seharusnya adalah sebanyak 500 mg per
hari dalam 1 kali pemakaian per hari selama 3 hari pemakaian untuk dewasa, atau 10
mg/kgBB pada pemakaian untuk anak-anak.
Untuk cara pemakaian, ketidaksesuaian ditemukan pada permintaan untuk membuat
pulvis yang terdiri dari campuran azitromisin dan parasetamol. Hal ini adalah tidak sesuai
dikarenakan penggunaan antibiotik harus dihabiskan, sementara penggunaan parasetamol
dapat dihentikan setelah gejala hilang. Sehingga, seharusnya azitromisin dan parasetamol
tidak dibuat dan dicampur dalam bentuk pulvis. Sebaiknya, azitromisin diberikan dalam
bentuk pulvis atau suspensi, sedangkan parasetamol dapat diberikan dalam bentuk sirup.
Untuk durasi pemakaian, ditemukan ketidakrasionalan pada resep azitromisin. Di resep,
tertera bahwa azitromisin digunakan sebanyak 1 gram per hari terbagi dalam 3 kali
pemakaian per hari selama 5 hari. Sementara, dosis yang ada pada literatur seharusnya
adalah sebanyak 500 mg per hari dalam 1 kali pemakaian per hari selama 3 hari
pemakaian untuk dewasa, atau 10 mg/kgBB pada pemakaian untuk anak-anak.
d. Efek Samping
Efek samping yang ditimbulkan oleh obat adalah gangguan gastrointestinal minor dan
diperkirakan masih dapat diterima oleh pasien.
e. Biaya
Biaya pengobatan pada resep
Aztrin : Rp. 101.640,00
Sanmol : Rp. 12.306,00
Rhinatiol: Rp. 39.930,00
Pada resep, pemakaian obat paling mahal terdapat pada Aztrin yang berisi azitromisin 250
mg. Jika pasien memiliki kesulitan dalam biaya, maka dapat diberikan obat pengganti yaitu
Mezatrin yang juga berisi azitromisin dihidrat 250 mg dengan harga yang lebih murah,
yaitu Rp. 17.559,00.
Kesimpulan: tidak tepat biaya.