Anda di halaman 1dari 8

PENGOLAHAN LIMBAH KULIT KOPI DAN PEMANFAATANNYA YANG

MENJADI NILAI TAMBAH DALAM KEHIDUPAN


OLEH: ARIEF BUDIMAN
ABSTRAK
Tingginya hasil panen kopi di kabupaten Kepahiang berdampak pada banyaknya
limbah kulit kopi yang dihasilkan pada proses pengolahan biji kopi menjadi bubuk kopi.
Keterbatasan informasi dan sosialisasi serta kesadaran masyarakat dalam pengolahan dan
pemanfaatan limbah yang dihasilkan oleh kulit kopi ini membawa pengaruh pada
lingkungan. Yaitu menumpuknya limbah tersebut di sekitar pemukiman masyarakat dan
tempat pengilingan kopi bubuk. Sebagian masyarakat menanggulangi penumpukan limbah
tersebut dengan membakarnya begitu saja. Limbah tersebut seharusnya bisa menjadi nilai
tambah pemanfaatannya dan penggunaannya. Secara sederhana bisa dijadikan sebagai
pupuk alami pada tanaman kopi itu sendiri. Selain itu juga bisa dimanfaatkan sebagai
media tumbuh jamur pada baglog, sebagian diantaranya dimanfaatkan oleh pengrajin jamu
tradisional sebagai bahan jamu. Berdasarkan hasil penelitian, pada limbah kulit kopi
tersebut mengandung Lemak Kasar, Serat Kasar dan Protein Kasar. Sehingga jika
dilakukan pengolahan lebih lanjut dengan teknik dan mekanisme tertentu bisa dijadikan
nutrisi tambahan untuk pakan ternak. Selain itu limbah kulit kopi juga mengandung
minyak kulit kopi yang dalam pengolahan lebih lanjutnya bisa menghasilkan bioetanol,
yang bisa dijadikan sebagai bahan bakar alternatif pengganti BBM.
I.

PENDAHULUAN

Kabupaten Kepahiang terletak di dataran tinggi sehingga memiliki suhu udara


yang sejuk. Selama tahun 2011, suhunya berkisar antara 20,2 oC hingga 29,9 oC, dengan
suhu udara rata-rata paling tinggi sebesar 24,7 oC. Sedangkan kelembaban udara rata-rata
per bulan diatas 87 persen. Wilayah Kepahiang memiliki bentang alam yang berupa areal
perbukitan dengan ke tinggian 300 sampai 1200 meter di atas permukaan laut (BPS, 2011).
Kondisi alam yang seperti ini berdampak pada pola usaha pertanian masyarakat
Kepahiang, yaitu mendominasinya tanaman kopi. Berdasarkan hasil analisis dari BBPPTP
Lampung kopi cocok untuk tumbuh pada ketinggian 300 600 m dpl, dengan suhu udara
harian berkisar antara 24 - 30oC dan memiliki curah hujan rata-rata 1.500 3.000 mm/th.
Menurut data BPS tahun 2011, kabupaten Kepahiang memiliki Luas sekitar
66.500 Ha yang terdiri dari 48.393,69 Ha lahan budidaya dan dan 18.106,31 Ha kawasan
hutan. Berdasarkan data Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Kepahiang tahun
2012, dari total lahan tersebut, merupakan perkebunan kopi rakyat dengan luas lahan
Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) adalah 2.071,5 Ha, dan Tanaman Menghasilkan
(TM) adalah 22.327 Ha dan Luas Tanaman Tua/Rusak (TT/TR) adalah 4,612 Ha. Sehingga
dari total lahan tersebut, menghasilkan produksi total perkebunan kopi adalah sebesar
12.321,9 ton dengan produktivitas lahan 0,5 ton/ha/tahun.
Kabupaten Kepahiang terdiri dari 8 (delapan) kecamatan. salah satunya bernama
Kecamatan Muara Kemumu dengan luas wilayah sekitar 12.344 Ha, dan terletak pada
ketinggian 450 sampai dengan 1.113 m di atas permukaan laut. Kecamatan ini merupakan
kecamatan yang memiliki areal perkebebunan kopi yang lebih luas dari kecamatan
lainnya. Sehingga potensi hasil produksi panen kopi juga menjadi lebih besar. Menurut
laporan dari Penyuluh Pertanian Kecamatan tahun 2012, luas area perkebunan kopi
mencapai 9.612 Ha dengan total produksi sebesar 6.855,2 ton dan rata rata produksi 0,8
ton/ha/tahun.

Hasil produksi kopi tersebut langsung diolah menjadi produk utama bubuk kopi.
Dalam proses pengolahan biji kopi menjadi bubuk kopi tesebut, menghasilkan limbah
berupa limbah kulit kopi. Berdasarkan laporan yang dihimpun dari Penyuluh Pertanian
Lapangan, limbah kulit kopi tersebut belum dimanfaatkan secara baik dan optimal. Hal ini
terlihat dari menumpuknya limbah kulit kopi di sekitar dan perkebunan rakyat dan tempat
usaha pengilingan biji kopi yang ada di wilayah kecamatan tersebut.
Limbah kulit kopi dari sisa pengolahan biji kopi seharusnya bisa dimanfaatkan
untuk alternatif komoditi lain, seperti pakan ternak, media tanam bagi jamur dan lain
sebagainya. Selain bermanfaat dalam mengurangi pencemaran lingkungan, juga dapat
meningkatkan penghasilan petani kopi itu sendiri. Kurangnya kepedulian masyarakat dan
minimnya informasi tentang manfaat penggunaan limbah kulit kopi sebagai formula
tambahan pada makanan ternak, menjadi penyebab tidak adanya pemanfaatan dan
pengolahan dari limbah kulit kopi tersebut. Menurut laporan Zaenudin dan Murtisari
dalam makalah seminar lokakarya Muryanto, U dkk tahun 2004, menyatakan bahwa
limbah kulit kopi mengandung protein kasar sebesar 10,4 %, yang hampir sama dengan
jumlah protein yang terdapat pada bekatul dan kandungan energi metabolismenya sebesar
3.356 kkal/kg.
Dengan adanya kajian kajian dan bahasan yang terkait dengan pemanfaatan
limbah kulit kopi sebagai nutrisi tambahan pada pakan ternak masyarakat, maka dapat
meningkatkan kesadaran masyarakat dalam penggunaan limbah kulit kopi dalam upaya
peningkatan hasil ternak masyarakat dan meningkatkan pendapatan masyarakat itu sendiri
menjadi lebih sejahtera lagi.
II.

TELAAH PUSTAKA

Indonesia tercatat merupakan negara terbesar kedua dalam luas areal perkebunan
kopi namun masih di urutan keempat dalam hal produksi dan ekspor kopi dunia. Sampai
dengan tahun 2008 luas perkebunan kopi Indonesia diperkirakan mencapai 1.303 ribu ha,
dengan varitas yang dibudidayakan adalah varietas Kopi Arabika dan Kopi Robusta.
Menurut Anthoni, 2009 dalam karya tulis Napitulu, L tahun 2010, menyatakan bahwa
produksi perkebunan kopi selama lima tahun terakhir tumbuh sekitar 6%, pada tahun 2008
diperkirakan mencapai 683 ribu ton. Berdasarkan hasil produksi kopi tahunan Indonesia
dapat diestimasikan bahwa dari 683 ribu ton yang dihasilkan per tahun juga dihasilkan
limbah kulit kopi sebesar 310 ribu ton. Jumlah ini merupakan suatu potensi yang layak
dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan.
Setelah kopi dipanen, kulitnya dikupas. Kemudian, bijinya dijemur. Biasanya, kulit
kopi kecoklatan yang dipisahkan dari biji-biji kopi tersebut akan dibuang begitu saja.
Atau, paling tidak kulit kopi yang dipisahkan dari biji itu tadi dikumpulkan. Lalu,
dibiarkan hingga busuk. Selanjutnya, ditaruh di sekeliling pohon kopi. Maksudnya,
sebagai pengganti pupuk yang bertujuan untuk menyuburkan tanaman. Umumnya, hal
seperti itulah yang sering dilakukan petani kopi.
Limbah kulit kopi yang diperoleh dari proses pengolahan kopi dari biji utuh
menjadi kopi bubuk. Proses pengolahan kopi ada 2 macam, yaitu (1) Pengolahan kopi
merah/masak dan (2) Pengolahan kopi hijau/mentah. Pengolahan kopi merah diawali
dengan pencucian dan perendaman serta pengupasan kulit luar, proses ini menghasilkan
65% biji kopi dan 35% limbah kulit kopi. Limbah kopi sebagian besar dimanfaatkan
sebagai pupuk pada tanaman kopi dan tanaman disekitarnya, sebagian kecil digunakan
sebagai media budidaya jamur serta dimanfaatkan sebagai bahan jamu tradisional. Biji
kopi kemudian dikeringkan dengan oven dan hasilnya adalah biji kopi kering oven
sebanyak 31%, kemudian kopi ini digiling dan menghasilkan 21% beras kopi (kopi bubuk)

dan 10% berupa limbah kulit dalam. Limbah yang dihasilkan dari proses ini (kulit dalam)
pada umumnya dimanfaatkan sebagai pupuk, namun sebagian diantaranya dimanfaatkan
oleh pengrajin jamu tradisional sebagai bahan jamu (Muryanto dkk, 2004)
Kulit Daging Buah Kopi
Kulit kopi terdiri dari 3 (tiga) bagian, yaitu : 1). Lapisan bagian luar tipis yakni
yang disebut "Exocarp"; lapisan ini kalau sudah masak berwarna merah. 2). Lapisan
Daging buah; daging buah ini mengandung serabut yang bila sudah masak berlendir dan
rasanya manis, maka sering disukai binatang kera atau musang. Daging buah ini disebut
"Mesocarp". 3). Lapisan Kulit tanduk atau kulit dalam; kulit tanduk ini merupakan lapisan
tanduk yang menjadi batas kulit dan biji yang keadaannya agak keras. Kulit ini disebut
"Endocarp".
Gambar kulit daging buah kopi

(AAK, 1988).
Kulit buah kopi merupakan limbah dari pengolahan buah kopi untuk mendapatkan
biji kopi yang selanjutnya digiling menjadi bubuk kopi. Kandungan zat makanan kulit
buah kopi dipengaruhi oleh metode pengolahannya apakah secara basah atau kering
seperti terlihat pada tabel 1. Kandungan zat makanan kulit buah kopi berdasarkan metode
pengolahan. Pada metode pengolahan basah, buah kopi ditempatkan pada tanki mesin
pengupas lalu disiram dengan air, mesin pengupas bekerja memisahkan biji dari kulit
buah. Sedangkan pengolahan kering lebih sederhana, biasanya buah kopi dibiarkan
mongering pada batangnya sebelum dipanen. Selanjutnya langsung dipisahkan biji dan
kulit buah kopi dengan menggunakan mesin.
Tabel 1. Kandungan zat makanan kulit buah kopi berdasarkan metode pengolahan
Metode pengolahanBK (%)% Bahan Kering
PKSKAbuLKBETNBasah2312.824.19.52.850.8Kering909.732.67.31.848.6

Sumber : Murni dkk.,


(2008)

Pemanfaatan limbah sebagai bahan pakan ternak merupakan alternatif dalam


meningkatkan ketersediaan bahan baku penyusun ransum. Limbah mempunyai proporsi
pemanfaatan yang besar dalam ransum. Bahan pakan konvensional yang sering digunakan
dalam penyusunan ransum sebagian besar berasal dari limbah dan pencarian bahan pakan
yang belum lazim digunakan.
Menurut data statistik (BPS, 2003), produksi biji kopi di Indonesia mencapai
611.100 ton dan menghasilkan kulit kopi sebesar 1.000.000 ton. Jika tidak dimanfaatkan
akan menimbulkan pencemaraan yang serius. Pengolahan cara kimia dengan amoniak
(NH3) disebut sebagai amoniasi. Keuntungan pengolahan ini, selain meningkatkan daya
cerna juga sekaligus meningkatkan kadar protein, dapat menghilangkan aflatoksin dan
pelaksanaannya sangat mudah. Kelemahannya pengolahan ini utamanya untuk pakan
ruminansia. Amoniak dapat menyebabkan perubahan komposisi dan struktur dinding sel
sehingga membebaskan ikatan antara lignin dengan selulosa dan hemiselulosa dan
memudahkan pencernaan oleh selulase mikroorganisme. Amoniak akan terserap dan
berikatan dengan gugus asetil dari bahan pakan, kemudian membentuk garam amonium
asetat yang pada akhirnya terhitung sebagai protein bahan. Struktur dinding sel kulit kopi
menjadi lebih amorf dan tidak berdebu, sehingga menjadi lebih mudah di tangani. Dalam
keadaan tertutup (plastik belum dibuka/bongkar), bahan pakan yang diamoniasi dapat
tahan lama.
Kulit kopi mempunyai kandungan BK=91.77, PK=11.18, LK=2.5, SK=21.74 dan
TDN=57.20% (Amonimus, 2005). Namun demikian kulit kopi hanya sebagian kecil
dimanfaatkan sebagai pakan ternak ruminansia dan sebagian besar lainnya dibuang atau
dibenamkan dalam tanah untuk digunakan sebagai pupuk organik pada lahan perkebunan

Zat Nutrisi

Kandungan(%)
Tanpa diamonisasi
90.52
1.31
34.11
6.27
7.54
9.48

Kandungan (%)
Setelah iamonisasi
94.85
1.93
27.52
8.67
8.47
5.15

Bahan Kering
Lemak Kasar
Serat Kasar
Protein Kasar
Abu
Kadar Air

Hasil Analisa Laboratorium Ilmu Makanan Ternak Departemen Peternakan FP


USU (2010)
Dalam pengolahan kopi akan dihasilkan 45% kulit kopi, 5% kulit ari dan 40% biji
kopi (untuk manusia). Kulit kopi mempunyai kandungan berat kering (BK) sebesar
91,77%, Protein kasar (PK) sebesar 11,18%, serat kasar (21,74%), Lemak kasar (LK)
2,8%, dan kandungan BETN sebesar 50,8% (Anonim1 2005). Menurut Peneliti
(Zainuddin, 1995), Limbah Kulit Kopi mengandung protein kasar 10,4%, lemak 2,13%.
serat kasar 17,2% (termasuk lignin); abu 7,34%, kalsium 0,48%, posfor, 0,04%, dan energi
metabolis 14,34 MJ/kg.
Pemanfaatan kulit biji kopi sebagai bahan baku pakan belum dilakukan secara
optimal saat ini. Hal ini dikarenakan adanya kandungan serat kasar terutama lignin yang
relatif tinggi dalam Limbah Kulit Kopi dan adanya kandungan antinutrisi berupa senyawa
kafein dan tannin. Hal-hal tersebut di atas yang mengakibatkan belum digunakannya
bahan ini sebagai salah satu alternatif bahan baku pakan.

Solusi pendekatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi hal ini adalah dengan
pengolahan limbah tersebut. Limbah tersebut dapat diolah dengan berbagai macam cara
agar kandungan nutrisi yang diinginkan dapat diperoleh. Pengolahan terhadap limbah
tersebut dapat dilakukan dengan proses mekanik (fisik), kimiawi, maupun secara biologis.
Pengolahan limbah pertanian secara mekanik dapat menggunakan alat-alat fisik
untuk menghilangkan suatu kandungan nutrisi yang tidak diinginkan yakni dengan
pemanasan dan pengeringan. Pengolahan tersebut dilakukan secara mekanis melalui
pengukusan, perebusan, dan penjemuran. Hal ini dapat dilakukan, namun membutuhkan
peralatan yang banyak dan membutuhkan biaya yang mahal untuk proses pengolahannya.
Akibat lain yang dapat ditimbulkannya adalah berkurangnya kandungan nutrisi yang
penting dalam bahan tersebut. Untuk merenggangkan ikatan dinding sel tanaman dan
mempermudah pengeringan perlu pengolahan secara mekanis dengan cara penghalusan
bahan atau penggilingan.
Pengolahan limbah pertanian secara kimiawi dapat dilakukan dengan
menggunakan bahan-bahan kimia untuk menghilangkan senyawa yang tidak diinginkan
dalam bahan baku. Hal ini dapat memberikan hasil yang signifikan terhadap bahan baku
tanpa mengurangi kandungan nutrisi yang penting dalam bahan tersebut. Hal yang dapat
menghambat dalam pengolahan menggunakan proses ini adalah mahalnya bahan-bahan
kimia yang diperlukan dalam proses ini dan adanya kemungkinan terjadi residu senyawa
berbahaya akibat penggunaan bahan kimia. Prinsip yang digunakan untuk mengolah
limbah cair secara kimia adalah menambahkan bahan kimia (koagulan) yang dapat
mengikat bahan pencemar yang dikandung air limbah, kemudian memisahkannya
(mengendapkan atau mengapungkan). Kekeruhan dalam air limbah dapat dihilangkan
melalui penambahan/pembubuhan sejenis bahan kimia yang disebut flokulan. Pada
umumnya bahan seperti aluminium sulfat (tawas), fero sulfat, poli amonium khlorida atau
poli elektrolit organik dapat digunakan sebagai flokulan. Untuk menentukan dosis yang
optimal, flokulan yang sesuai dan pH yang akan digunakan dalam proses pengolahan air
limbah, secara sederhana dapat dilakukan dalam laboratorium dengan menggunakan tes
yang merupakan model sederhana dari proses koagulasi. Dalam pengolahan limbah cara
ini, hal yang penting harus diketahui adalah jenis dan jumlah polutan yang dihasilkan dari
proses produksi. Umumnya zat pencemar industri kain sasirangan terdiri dari tiga jenis
yaitu padatan terlarut, padatan koloidal, dan padatan tersuspensi (Anonim, 2010)
Salah satu alternatif pengolahan limbah yang aman, relatif murah dan sering
digunakan oleh masyarakat adalah pengolahan secara biologis, yakni pengolahan dengan
memanfaatkan mikroorganisme yang akan melakukan proses biologis (bioprocess) dalam
mengolah senyawa-senyawa yang tidak dibutuhkan dalam bahan baku pakan dan
mendapatkan senyawa yang diinginkan dalam proses pembuatan bahan pakan.
Mikroorganisme yang dapat digunakan ini dapat berasal dari golongan bakteri maupun
fungi. Mikroorganisme yang dimanfaatkan adalah mikroorganisme yang dapat berperan
dalam memfermentasi senyawa-senyawa yang tidak diinginkan serta tidak menimbulkan
efek toksik bagi organisme budidaya. Beberapa jenis mikroorganisme yang berpotensi
untuk proses fermentasi Limbah Kulit Kopi diantaranya adalah Aspergillus niger,
Trichoderma sp., Kocuria rosea. Dalam karya tulis ilmiah Napitulu dkk tahun 2010, hasil
menjelaskan bahwa dari hasil penelitian Okpako CE, 2008 Pemanfaatan Aspergilus niger
dapat meningkatkan kadar protein sebesar 24,4%, kadar abu 7,52%, dan mengurangi
sianida 7,35 mg/kg. Kocuria rosea dapat meningkatkan kadar asam amino lysine 3,46%,
histidine sebesar 0,94%, dan kadar methionine sebesar 0,69.

Pemanfaatan limbah kulit kopi dengan pengolahan menggunakan bantuan


mikroorganisme diharapkan mampu menghasilkan senyawa-senyawa nutrien yang
dibutuhkan oleh ikan. Hal ini dikarenakan Aspergillus niger dapat meningkatkan kadar
protein sebesar 22,6% dan dapat mengurangi lignin pada pengolahan kembang kol (Majid,
1995).
Selain digunakan sebagai bahan pakan ternak, limbah kulit kopi juga dapat
dijadikan sebagai sumber energi alternatif yaitu bioetanol. Produksi bioetanol di berbagai
negara telah dilakukan dengan menggunakan bahan baku yang berasal dari hasil pertanian
dan perkebunan (Sarjoko, 1991). Oleh karena itu dilakukan upaya mencari bahan baku
alternatif lain dari sektor non pangan untuk pembuatan etanol. Bahan selulosa memiliki
potensi sebagai bahan baku alternatif pembuatan etanol. Salah satu contohnya adalah
limbah kulit kopi.Ketersediaanlimbahkulit kopi cukupbesar, pada pengolahan kopi akan
menghasilkan 65% biji kopi dan 35% limbah kulit kopi. Sedangkan produksi kopi
Indonesia pada tahun 2009 mencapai total 689 ribu ton (Melyani, 2009). Limbah kulit
kopi mempunyai kandungan serat sebesar 65,2 %.
Proses fermentasi gula hasil hidrolisis kulit kopi menjadi bioethanol menggunakan
bakteri Zymomonasmobilis adalah bakteri yang berbentuk batang, termasuk dalam bakteri
gram negatif, tidak membentuk spora, dan merupakan bakteri yang dapat bergerak(Lee, et
al, 1979). Bakteri ini banyak digunakan di perusahaan bioetanol karena mempunyai
kemampuan yang dapat melampaui ragi dalam beberapa aspek. Zymomonas Mobilis
memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan Sacharomyces Cerevisieae yaitu: dapat
tumbuh secara anaerob fakultatif dan mempunyai toleransi suhu yang tinggi, mempunyai
kemampuan untuk mencapai konversi yang lebih tinggi, tahan terhadap kadar etanol yang
tinggi dan pH yang rendah, mampu menghasilkan yield etanol 92% dari nilai teoritisnya.
Suhu optimum proses fermentasi dengan menggu-nakan Zymomomobilis adalah pada
kisaran pH 4-7. Bioetanol hasil fermentasi dapat dimurnikan lagi dengan proses destilasi
pada suhu 800C sesuai dengan kadar yang diinginkan (Gunasekaran, 1999). Tujuan dari
penelitian ini adalah mencari jenis katalis yang terbaik pada proses hidrolisis kulit kopi
menjadi glukosa dan mencari waktu fermentasi serta konsentrasi starter Zymomonas
mobilis pada proses fermentasi glukosa yang berasal dari kulit kopi menjadi etanol.
III.

KESIMPULAN

Limbah kulit kopi yang selama ini dianggap sebagai bahan sisa produksi kopi
bubuk, ternyata memiliki manfaat dan kegunaan yang banyak dalam kehidupan.
Berdasarkan hasil penelitian para ahli limbah kulit kopi bermanfaat dalam bidang
peternakan dan perikanan, yaitu sebagai nutrisi protein dan serat tambahan pada pakan
ternak. Pemanfaatan pakan alternatif ini dapat mengurangi penggunaan bahan baku tepung
ikan dalam pembuatan pakan, sehingga dapat mengurangi ongkos produksi. Selain itu
limbah kulit kopi juga dapat dijadikan bahan dalam pembuatan bioetanol melalui proses
fermentasi yang dapat dijadikan sebagai sumber energi baru atau bahan bakar alternatif
pengganti BBM. Bioetanol memiliki kelebihan dibanding dengan BBM, diantaranya
memiliki kandungan oksigen yang lebih tinggi (35%) sehingga terbakar lebih sempurna.
Dengan adanya kajian dan bahasan tentang manfaat dan kegunaan lain dari sisa
pengolahan bubuk kopi yang berupa kulit kopi ini, masyarakat petani kopi dapat mengolah
bahan yang dianggap limbah tersebut menjadi bahan yang lebih bermanfaat sehingga bisa
menjadi penambah penghasilan keluarga selain produk utama bubuk kopi.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim1. 2005. Hasil Analisis Proksimat Bahan Pakan Asal Limbah Pertanian. Laporan
tahunan. Loka Penelitian Sapi Potong, Grati
Anonim3. 2010. Teknologi pengolahan limbah di Rubiyah Sasirangan. http://rubiyah.com
[23 Agustus 2012]
BPS Kepahiang, 2011. Kepahiang dalam Angka. Badan Pusat Statistik Kepahiang.
Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Kepahiang, 2011. Data Statistik Perkebunan
Kehutanan Kabupaten Kepahiang 2012, Dinas Kehutanan dan Perkebunan
Kabupaten Kepahiang.
Dekker, R.F.H. 1983. Bioconversion of hemicellulose: Aspect of hemicellulose production
by Trichoderma reesei QM 9414 and enzymic saccharification of hemicellulose.
Biotechnol. Bioeng. 25:1127-1146
Mazid et al. 1995. High protein feed from vegetable waste. Bangladesh Journal of
Scientific and Industrial Research 30 (2-3), 1-11
Melyani,
V.
2009.
Petani
Kopi
Indonesia
Sulit
Kalahkan
Brazil.
URL:http://www.Tempointeraktif.com/hg/bisnis/2009/07/02/brk,20090702
184943,id.html, diakses 26 Agustus 2012.
Napitulu, J dkk. 2010. Bioprocessing Limbah Kulit Kopi Sebagai Sumber Protein
Alternatif Dalam Pakan Ikan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Nunan Anthoni. 2009. Komoditas Kopi. http://202.158.10.70/indonesia/eriviewpdf/JHCN54009710.pdf [23 Agustus 2012]
Okpako CE, Ntui VO, Osuagwu AN, Obasi FI (2008). Proximate composition and caynide
content of cassava peels fermented with Aspergillus nigeir and Lactobacillus
rhamnosus. J. Food Agric. Environ. 6: 251-255
Taherzadeh, M. and Karimi, K. 2007. Acid-based Hydrolysis Processes for Ethanol from
Lignosellulosic Material : A Review, Bioresources 2 (3), 472-499, diambil dari
Ghani Arasyid dkk, (Online), (http://digilib.its.ac.id/public/ITSUndergraduate12522-Paper.pdf diakses 15 September 2012).
Zaenuddin, D., Kompiang, I P dan H. Hamid. 1995. Pemanfaatan Limbah Kopi dalam
Ransum Ayam. Kumpulan Hasil-Hasil Penelitian APBN Tahun 1994/1995. Balai
Penelitian Ternak, Ciawi-Bogor.

Zainuddin, D., T. Murtisari. 1995. Penggunaan limbah agro-industri buah kopi (kulit buah
kopi) dalam ransum ayam pedaging (Broiler). Pros. Pertemuan Ilmiah Komunikasi
dan Penyaluran Hasil Penelitian. Semarang. Sub Balai Penelitian Ternak Klepu,
Puslitbang Peternakan, Badan Litbang Pertanian. hlm. 71-78