Anda di halaman 1dari 23

Tutorial Klinik

KONJUNGTIVITIS VIRAL

Oleh:

Ekkim Alkindi

G99141057

Surya Dewi P

G99141058

Biltinova Arum M

G99141059

Gresmita Rindi W

G99141060

Magdalena Wibawati

G99141061

Pembimbing :
Djoko Susianto, dr, Sp.M

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT MATA


FAKULTAS KEDOKTERAN UNS/RSUD DR. MOEWARDI
SURAKARTA
2015
STATUS PENDERITA
I.

IDENTITAS
Nama

: Tn. AT

Umur

: 36 tahun

Jenis Kelamin

: Laki - laki

Suku

: Jawa

Kewarganegaraan

: Indonesia

Agama

: Islam

Pekerjaan

: PNS

Alamat

: Juwiring, Klaten

Tgl pemeriksaan

: 12 Februari 2015

No. CM

: 00871203

II. ANAMNESIS
A. Keluhan utama

:Kedua mata merah

B. Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien datang ke poli mata RSUD Moewardi dengan keluhan kedua


mata merah. Pasien mengeluhkan mata merah sejak 3 hari yang lalu. Awalnya
mata merah hanya pada mata sebelah kanan saja. Satu hari kemudian mata kiri
juga tampak merah. Mata merah tampak pada bagian yang seharusnya
berwarna putih serta kelopak mata sebelah dalam baik atas maupun bawah.
Keluhan bertambah berat setiap pasien mengucek matanya. Semakin lama
terasa semakin merah, terasa panas, gatal, bengkak, dan berair. Cairan yang

keluar tidak berwarna, tidak berbau, dan encer. Pasien juga merasakan
mengganjal saat membuka dan menutup mata. Pasien sudah mengobati
sakitnya dengan tetes mata yang dibeli diapotik tapi keluhan belum berkurang.
Pasien menyangkal riwayat trauma sebelumnya, tidak ada demam, dan
tidak ada orang disekitar pasien dengan sakit serupa. Pandangan dobel
disangkal, pandangan kabur disangkal, pusing disangkal, blobok disangkal,
dan silau disangkal.
C. Riwayat Penyakit Dahulu
1.

Riwayat hipertensi

: disangkal

2.

Riwayat kencing manis

: disangkal

3.

Riwayat alergi obat dan makanan : disangkal

4.

Riwayat trauma mata

: disangkal

5.

Riwayat kacamata

: disangkal

D. Riwayat Penyakit Keluarga


1.

Riwayat hipertensi

: disangkal

2.

Riwayat kencing manis

: disangkal

3.

Riwayat sakit serupa

: disangkal

D. Kesimpulan Anamnesis
OD

OS

Proses

Peradangan, infeksi

Peradangan, infeksi

Lokalisasi

Konjungtiva bulbi,

Konjungtiva bulbi,

konjungtiva palpebral

konjungtiva palpebral

superior et inferior,

superior et inferior,

konjungtiva forniks

konjungtiva forniks

Sebab

Infeksi virus

Infeksi virus

Perjalanan

Akut

Akut

Komplikasi

III. PEMERIKSAAN FISIK


A. Kesan umum
Keadaan umum baik, compos mentis, gizi kesan cukup
B. Pemeriksaan subyektif
OD
A. Visus Sentralis
1. Visus sentralis jauh
a. pinhole
b. koreksi
c. refraksi
2. Visus sentralis dekat
B. Visus Perifer
1. Konfrontasi tes
2. Proyeksi sinar
3. Persepsi warna

OS

6/6
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan

6/6
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan

Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan

Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan

C. Pemeriksaan Obyektif
1. Sekitar mata
a. tanda radang
b. luka
c. parut
d. kelainan warna
e. kelainan bentuk
2. Supercilia
a. warna
b. tumbuhnya
c. kulit
d. gerakan

OD
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

OS
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

Hitam
Normal
Sawo matang
Dalam batas normal

Hitam
Normal
Sawo matang
Dalam batas
normal

3. Pasangan bola mata dalam


orbita
a. heteroforia
b. strabismus
c. pseudostrabismus
d. exophtalmus
e. enophtalmus
4. Ukuran bola mata
a. mikroftalmus
b. makroftalmus
c. ptisis bulbi
d. atrofi bulbi
5. Gerakan bola mata

Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

a. temporal
b. temporal superior
c. temporal inferior
d. nasal
e. nasal superior
f. nasal inferior
6. Kelopak mata
a. pasangannya
1.) edema
2.) hiperemi
3.) blefaroptosis
4.) blefarospasme
b. gerakannya
1.) membuka
2.) menutup
c. rima
1.) lebar
2.) ankiloblefaron
3.) blefarofimosis
d. kulit
1.) tanda radang
2.) warna
3.) epiblepharon
4.) blepharochalasis
e. tepi kelopak mata
1.) enteropion
2.) ekteropion
3.) koloboma
4.) bulu mata

Tidak terhambat
Tidak terhambat
Tidak terhambat
Tidak terhambat
Tidak terhambat
Tidak terhambat

Tidak terhambat
Tidak terhambat
Tidak terhambat
Tidak terhambat
Tidak terhambat
Tidak terhambat

Ada
Ada
Tidak ada
Tidak ada

Ada
Ada
Tidak ada
Tidak ada

Tidak tertinggal
Tidak tertinggal

Tidak tertinggal
Tidak tertinggal

7 mm
Tidak ada
Tidak ada

7 mm
Tidak ada
Tidak ada

Ada
Sawo matang
Tidak ada
Tidak ada

Ada
Sawo matang
Tidak ada
Tidak ada

Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Dalam batas normal

Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Dalam batas
normal

7. sekitar glandula lakrimalis


a. tanda radang
b. benjolan
c. tulang margo tarsalis
8. Sekitar saccus lakrimalis
a. tanda radang
b. benjolan
9. Tekanan intraocular
a. palpasi
b. tonometri schiotz
10. Konjungtiva
a. konjungtiva palpebra
superior
1.) edema
2.) hiperemi

Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada kelainan

Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada kelainan

Tidak ada
Tidak ada

Tidak ada
Tidak ada

Kesan normal
Tidak dilakukan

Kesan normal
Tidak dilakukan

Ada
Ada

Ada
Ada

3.) sekret
4.) sikatrik
b. konjungtiva palpebra
inferior
1.) edema
2.) hiperemi
3.) sekret
4.) sikatrik
c. konjungtiva fornix
1.) edema
2.) hiperemi
3.) sekret
4.) benjolan
d. konjungtiva bulbi
1.) edema
2.) hiperemis
3.) sekret
4.) injeksi konjungtiva
5.) injeksi siliar
e. caruncula dan plika
semilunaris
1.) edema
2.) hiperemis
3.) sikatrik
11. Sclera
a. warna
b. tanda radang
c. penonjolan
12. Kornea
a. ukuran
b. limbus
c. permukaan
d. sensibilitas
e. keratoskop (placido)
f. fluorecsin tes
g. arcus senilis
13. Kamera okuli anterior
a. kejernihan
b. kedalaman
14. Iris
a. warna
b. bentuk
c. sinekia anterior
d. sinekia posterior
15. Pupil

Ada
Tidak ada

Ada
Tidak ada

Ada
Ada
Ada
Tidak ada

Ada
Ada
Ada
Tidak ada

Ada
Ada
Tidak ada
Tidak ada

Ada
Ada
Tidak ada
Tidak ada

Tidak ada
Ada
Ada
Tidak ada
Tidak ada

Tidak ada
Ada
Ada
Tidak ada
Tidak ada

Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

Putih
Tidak ada
Tidak ada

Putih
Tidak ada
Tidak ada

12 mm
Jernih
Rata, mengkilap
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Tidak ada

12 mm
jernih
Rata, mengkilap
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Belum dilakukan
Tidak ada

Jernih
Dalam

Jernih
Dalam

Cokelat
Tampak lempengan
Tidak tampak
Tidak tampak

Cokelat
Tampak lempengan
Tidak ada
Tidak ada

a. ukuran
b. bentuk
c. letak
d. reaksi cahaya langsung
e. tepi pupil
16. Lensa
a. ada/tidak
b. kejernihan
c. letak
e. shadow test
17. Corpus vitreum
a. Kejernihan
b. Reflek fundus

3 mm
Bulat
Sentral
Positif
Tidak ada kelainan

3 mm
Bulat
Sentral
Positif
Tidak ada kelainan

Ada
Jernih
Sentral
Negatif

Ada
Jernih
Sentral
Negatif

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

IV. KESIMPULAN PEMERIKSAAN


A.
Visus sentralis jauh
B.
Visus perifer
Konfrontasi tes

OD
6/6

OS
6/6

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

Proyeksi sinar
Persepsi warna
C.
Sekitar mata
D.
Supercilium
E.
Pasangan bola mata

Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Tampak inflamasi
Dalam batas normal
Dalam batas normal

Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Tampak inflamasi
Dalam batas normal
Dalam batas normal

dalam orbita
F.
Ukuran bola mata
G.
Gerakan bola mata
H.
Kelopak mata

Dalam batas normal


Dalam batas normal
Tampak oedem,

Dalam batas normal


Dalam batas normal
Tampak oedem,

I.

hiperemis
Dalam batas normal

hiperemis
Dalam batas normal

Dalam batas normal

Dalam batas normal

Kesan normal dengan

Kesan normal dengan

palpasi
Konjungtiva

palpasi
Konjungtiva

hiperemi, edema,

hiperemi, edema,

terdapat sekret
Konjungtiva

terdapat sekret
Konjungtiva

hiperemi, terdapat

hiperemi, terdapat

Sekitar saccus

lakrimalis
J.
Sekitar glandula
K.
L.

M.

lakrimalis
Tekanan intarokular
Konjungtiva palpebra

Konjungtiva bulbi

N.

Konjungtiva fornix

O.
P.
Q.
R.
S.

Sklera
Kornea
Camera okuli anterior
Iris
Pupil

T.

Lensa

U.

Corpus vitreum

V. DIAGNOSIS
ODS konjungtivitis viral
VI. DIAGNOSIS BANDING
Konjungtivitis bakterial
episkleritis
skleritis
VII. TERAPI
Non medikamentosa

sekret,
Konjungtiva

sekret
Konjungtiva

hiperemi, edema
Dalam batas normal
Dalam batas normal
Kesan normal
Bulat, warna coklat
Diameter 3 mm, bulat,

hiperemi, edema
Dalam batas normal
Dalam batas normal
Kesan normal
Bulat, warna coklat
Diameter 3 mm, bulat,

sentral
Jernih , shadow test

sentral
Jernih , shadow test (-)

(-)
Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

Edukasi untuk pasien memakai kaca mata saat berpergian.


Hindari mengucek mata
Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan area disekitar mata
Medikamentosa
Cendo Xytrol ED

S 4 gtt 1 ODS

Na diclovenac 50 mg

S 2 dd tab 1

Imboost force

S 1 dd tab 1

VIII. PLAN
Pemeriksaan biakan kuman dan uji sensitifitas

IX. PROGNOSIS
1. Ad vitam
2. Ad fungsionam
3. Ad sanam
4. Ad kosmetikum

OD
Bonam
Bonam
Bonam
Bonam

OS
Bonam
Bonam
Bonam
Bonam

TINJAUAN PUSTAKA
Mata merupakan jendela dunia. Sebagai salah satu organ panca indera,
mata adalah organ penglihatan tentunya memiliki peranan penting. Salah satu
yang dapat menyerang indra penglihatan yaitu konjungtivitis. Konjungtivitis
adalah peradangan konjungtiva atau radang selaput lendir yang menutupi
belakang kelopak dan bola mata. Orang awam sering menyebutnya dengan mata
merah. Konjungtivitis memberikan keluhan yang khas yaitu mata merah, gatal,
pedih, seperti ada pasir yang mengganjal, dan sekret. Jika meluas ke kornea
timbul silau dan ada air mata nrocos (epifora). Gejala objektif paling ringan
adalah hiperemi dan berair sampai berat dengan pembengkakan bahkan nekrosis.
Bangunan yang sering tampak khas lainnnya adalah folikel, flikten dan
sebagainya1,2.
I. ANATOMI KONJUNGTIVA
Konjungtiva merupakan membran mukosa yang transparan dan tipis
yang membungkus permukaan posterior kelopak mata (konjungtiva
palpebralis)

dan

permukaan

anterior

sklera

(konjungtiva

bulbaris).

Konjungtiva bersambungan dengan kulit pada tepi palpebra (suatu


sambungan mukokutan) dan dengan epitel kornea di limbus.1
Secara anatomi, konjungtiva terdiri atas 3 bagian:2
Konjungtiva tarsal yang menutupi tarsus, konjungtiva tarsal sukar

digerakkan dari tarsus.


Konjungtiva bulbi menutupi sklera dan mudah digerakkan dari

sklera di bawahnya.
Konjungtiva forniks yang merupakan tempat peralihan konjungtiva

tarsal dengan konjungtiva bulbi.


Pada konjungtiva bulbi terdapat dua lapisan epithelium dan menebal
secara bertahap dari forniks ke limbus dengan membentuk epithelium berlapis
tanpa keratinisasi pada daerah marginal kornea. Konjungtiva palpebralis
terdiri dari epitel berlapis tanpa keratinisasi yang lebih tipis. Dibawah epitel
tersebut terdapat lapisan adenoid yang terdiri dari jaringan ikat longgar yang
terdiri dari leukosit. Konjungtiva palpebralis melekat kuat pada tarsus,

sedangkan bagian bulbar bergerak secara bebas pada sklera kecuali yang
dekat pada daerah kornea.

Pada
a.

konjungtiva

terdapat

beberapa

jenis

kelenjar

yang

dikelompokkan menjadi dua yaitu1,2:


Penghasil musin
1) Sel goblet; terletak dibawah epitel dan paling banyak ditemukan pada
daerah inferonasal.
2) Crypts of Henle; terletak sepanjang sepertiga atas dari konjungtiva
tarsalis superior dan sepanjang sepertiga bawah dari konjungtiva
tarsalis inferior.
3) Kelenjar Manz; mengelilingi daerah limbus.

b. Kelenjar asesoris lakrimalis


Kelenjar Krause dan kelenjar Wolfring termasuk kelenjar aksesoris.
Kedua kelenjar ini terletak dalam dibawah substansi propria.

10

Aliran darah konjungtiva berasal dari arteri siliaris anterior dan arteri
palpebralis. Kedua arteri ini beranastomosis bebas dan bersama dengan
banyak vena konjungtiva yang umumnya mengikuti pola arterinya
membentuk jaringjaringvaskuler konjungtiva yang banyak sekali. Pembuluh
limfe konjungtiva tersusundalam lapisan superfisial dan lapisan profundus
dan bersambung dengan pembuluhlimfe palpebra hingga membentuk
pleksus limfatikus yang banyak5.
Konjungtiva

menerima

persarafan

dari

percabangan

pertama

(oftalmik)nervus trigeminus. Saraf ini hanya relatif sedikit mempunyai serat


nyeri5,6.
II. KONJUNGTIVITIS
A. Definisi
Konjungtivitis adalah peradangan pada konjungtiva dan penyakit
ini adalah penyakit mata yang paling umum di dunia. Karena lokasinya,
konjungtiva terpajan oleh banyak mikroorganisme dan faktor-faktor
lingkungan lain yang mengganggu4. Penyakit ini bervariasi mulai dari
hiperemia ringan dengan mata berair sampai konjungtivitis berat dengan
banyak sekret purulen kental4.
Jumlah agen-agen yang patogen dan dapat menyebabkan infeksi
pada mata semakin banyak, disebabkan oleh meningkatnya penggunaan
obat-obatan topikal dan agen imunosupresif sistemik, serta meningkatnya
jumlah pasien dengan infeksi HIV dan pasien yang menjalani
transplantasi organ dan menjalani terapi imunosupresif 4.
B. Etiologi
Konjungtiva bisa mengalami peradangan akibat:
1. Infeksi olah virus atau bakteri
2. Reaksi alergi terhadap debu, serbuk sari, bulu binatang
3. Iritasi oleh angin, debu, asap dan polusi udara lainnya; sinar
ultraviolet dari las listrik atau sinar matahari 6.
C. Gejala dan Tanda Klinis

11

Gejala penting konjungtivitis adalah sensasi benda asing, yaitu


tergores atau panas, sensasi penuh di sekitar mata, gatal dan fotofobia.
Jika ada rasa sakit agaknya kornea terkena. Sakit pada iris atau corpus
siliaris mengesankan terkenanya kornea.
Tanda penting konjungtivitis adalah hiperemia, berair mata,
eksudasi, pseudoptosis, hipertrofi papiler, kemosis (edem stroma
konjungtiva),

folikel

(hipertrofi

lapis

limfoid

stroma),

pseudomembranosa dan membran, granuloma, dan adenopati preaurikuler.4


D. Klasifikasi
Konjungtivitis, terdiri dari:
1. Konjungtivitis bakterial
2. Konjungtivitis viral
3. Konjungtivitis alergi
4. Konjungtivitis Jamur
5. Konjungtivitis Parasit
6. Konjungtivitis iritasi atau kimia 6
1. Konjungtivitis bakterial
a. Definisi
Konjungtivitis Bakteri adalah inflamasi konjungtiva yang
disebabkan oleh bakteri. Pada konjungtivitis ini biasanya pasien
datang dengan keluhan mata
merah, sekret pada mata dan iritasi mata 7.
b. Etiologi dan Faktor Risiko
Konjungtivitis bakteri dapat dibagi menjadi empat bentuk,
yaitu hiperakut, akut, subakut dan kronik. Konjungtivitis bakteri
hiperakut biasanya disebabkan oleh N. gonnorhoeae, Neisseria
kochii dan N. meningitidis. Bentuk yang akut biasanya disebabkan
oleh Streptococcus pneumonia dan Haemophilus aegyptyus.
Penyebab yang paling sering pada bentuk konjungtivitis bakteri

12

subakut adalah H. influenza dan Escherichia coli, sedangkan


bentuk kronik paling sering terjadi pada konjungtivitis sekunder
atau pada pasien dengan obstruksi duktus nasolakrimalis 8.
Konjungtivitis bakterial biasanya mulai pada satu mata
kemudian mengenai mata yang sebelah melalui tangan dan dapat
menyebar ke orang lain. Penyakit ini biasanya terjadi pada orang
yang terlalu sering kontak dengan penderita, sinusitis dan keadaan
imunodefisiensi 8.
c. Patofisiologi
Jaringan pada permukaan mata dikolonisasi oleh flora
normal seperti Streptococci, Staphylococci dan Corynebacterium.
Perubahan pada mekanisme pertahanan tubuh ataupun pada jumlah
koloni flora normal tersebut dapat menyebabkan infeksi klinis.
Perubahan pada flora normal dapat terjadi karena adanya
kontaminasi eksternal, penyebaran dari organ sekitar ataupun
melalui aliran darah 8,9.
Penggunaan antibiotik topikal jangka panjang merupakan
salah satu penyebab perubahan flora normal pada jaringan mata,
serta resistensi terhadap antibiotik 8,9.
Mekanisme pertahanan primer terhadap infeksi adalah
lapisan epitel yang meliputi konjungtiva sedangkan mekanisme
pertahanan sekundernya adalah sistem imun yang berasal dari
perdarahan konjungtiva, lisozim dan imunoglobulin yang terdapat
pada lapisan air mata, mekanisme pembersihan oleh lakrimasi dan
berkedip. Adanya gangguan atau kerusakan pada mekanisme
pertahanan ini dapat menyebabkan infeksi pada konjungtiva.

d. Gejala Klinis
Gejala-gejala yang timbul pada konjungtivitis bakteri
biasanya dijumpai

injeksi konjungtiva baik segmental ataupun

13

menyeluruh. Selain itu sekret pada konjungtivitis bakteri biasanya


lebih purulen daripada konjungtivitis jenis lain, dan pada kasus
yang ringan sering dijumpai edema pada kelopak mata 10.
Ketajaman

penglihatan

biasanya

tidak

mengalami

gangguan pada konjungtivitis bakteri namun mungkin sedikit


kabur karena adanya sekret dan debris pada lapisan air mata,
sedangkan reaksi pupil masih normal. Gejala yang paling khas
adalah kelopak mata yang saling melekat pada pagi hari sewaktu
bangun tidur7.
e.

Diagnosis
Pada saat anamnesis yang perlu ditanyakan meliputi usia,

karena mungkin saja penyakit berhubungan dengan mekanisme


pertahanan tubuh pada pasien yang lebih tua. Pada pasien yang
aktif secara seksual, perlu dipertimbangkan penyakit menular
seksual dan riwayat penyakit pada pasangan seksual. Perlu juga
ditanyakan durasi lamanya penyakit, riwayat penyakit yang sama
sebelumnya, riwayat penyakit sistemik, obat-obatan, penggunaan
obat-obat kemoterapi, riwayat pekerjaan yang mungkin ada
hubungannya dengan penyakit, riwayat alergi dan alergi terhadap
obat-obatan, dan riwayat penggunaan lensa-kontak8.
f. Komplikasi
Blefaritis marginal kronik sering menyertai konjungtivitis
bakteri, kecuali pada pasien yang sangat muda yang bukan sasaran
blefaritis. Parut konjungtiva paling sering terjadi dan dapat
merusak kelenjar lakrimal aksesorius dan menghilangkan duktulus
kelenjar lakrimal. Hal ini dapat mengurangi komponen akueosa
dalam film air mata prakornea secara drastis dan juga komponen
mukosa karena kehilangan sebagian sel goblet. Luka parut juga
dapat mengubah bentuk palpebra superior dan menyebabkan

14

trikiasis dan entropion sehingga bulu mata dapat menggesek


kornea dan menyebabkan ulserasi, infeksi dan parut pada kornea4.
g. Penatalaksanaan
Terapi spesifik konjungtivitis bakteri tergantung pada
temuan agen mikrobiologiknya. Terapi dapat dimulai dengan
antimikroba topikal spektrum luas. Pada setiap konjungtivitis
purulen yang dicurigai disebabkan oleh diplokokus gram-negatif
harus segera dimulai terapi topical dan sistemik . Pada
konjungtivitis purulen dan mukopurulen, sakus konjungtivalis
harus dibilas dengan larutan saline untuk menghilangkan sekret
konjungtiva6.
2. Konjungtivitis Viral
a. Definisi
Konjungtivitis viral adalah penyakit umum yang dapat
disebabkan oleh berbagai jenis virus, dan berkisar antara penyakit
berat yang dapat menimbulkan cacat hingga infeksi ringan yang
dapat sembuh sendiri dan dapat berlangsung lebih lama daripada
konjungtivitis bakteri4.
b. Etiologi dan Faktor Risiko
Konjungtivitis viral dapat disebabkan berbagai jenis virus,
tetapi adenovirus adalah virus yang paling banyak menyebabkan
penyakit

ini,

dan

Herpes

simplex

virus

yang

paling

membahayakan. Selain itu penyakit ini juga dapat disebabkan oleh


virus Varicella zoster, picornavirus (enterovirus 70, Coxsackie
A24), poxvirus, dan human immunodeficiency virus 11.
Penyakit ini sering terjadi pada orang yang sering kontak
dengan penderita dan dapat menular melalu di droplet pernafasan,
kontak dengan benda-benda yang menyebarkan virus (fomites) dan
berada di kolam renang yang terkontaminasi6.
c. Patofisiologi

15

Adenovirus merupakan penyebab yang paling umum dari


konjungtivitis virus. Sub tipe konjungtivitis adenoviral meliputi
keratokonjungtivitis

epidemika

(pink

eye)

dan

demam

farigokonjungtiva. Transmisi terjadi melalui kontak dengan udara


pernafasan (droplet) penderita infeksi saluran pernafasan atas,
perpindahan virus dari jari seseorang ke konjungtiva permukaan
kelopak mata atau melalui kolam renang yang terkontaminasi.
Setelah masa inkubasi 5-12 hari, penyakit masuk tahap yang akut,
menyebabkan sekret serous, konjungtiva hiperemi, dan timbulnya
follikel. Follikel limfoid meningkat, dengan lesi avaskular dari
ukuran 0,2-2 mm. Mereka mempunyai pusat limfoid germinal yang
memberi respon terhadap agen-agen infeksius.
Adenovirus tipe 8 dapat berkembang biak di dalam jaringan
lunak epitel kornea yang menghasilkan karakteristik keratitis dan
infiltrat subepitelial. Bersama dengan respon imun terhadap antigen
virus, menyebabkan limfosit terkumpul di dalam stroma anterior
superfisial, hanya di bawah epithelium. Kadang-kadang terbentuk
suatu membran konjungtival, yang terdiri dari fibrin dan leukosit.
Infeksi primer herpes simpleks okular, umum terjadi pada
anak-anak. Dan biasanya berhubungan dengan terjadinya follikular
konjungtivitis. Infeksi konjungtiva umumnya disebabkan virus
herpes simpleks (HSV) tipe I, walaupun tipe II mungkin juga
sebagai penyebab, terutama pada neonatus. Infeksi yang rekuren,
khas ditemukan pada orang dewasa, yang umumnya dihubungkan
dengan keterlibatan kornea.
Virus varicella zoster dapat mempengaruhi konjungtiva
selama infeksi primer (chikenpox) atau infeksi sekunder (zoster).
Infeksi dapat disebabkan kontak langsung dengan kulit yang
terinfeksi VZV atau zoster atau melalui inhalasi sekresi pernafasan
yang infeksius.

16

Picornavirus menyebabkan suatu konjungtivitis hemoragik


akut. Secara klinis mirip dengan konjungtivitis adenoviral, tetapi
dengan gejala yang lebih hebat dan hemoragik. Infeksi ini sangat
menular dan dapat terjadi ledakan epidemik.
Molluscum contagiosum dapat menyebabkan terjadinya
konjungtivitis follikular kronis, yang terjadi sebagai akibat
sekunder dari mekanisme pencegahan masuknya partikel virus ke
konjungtiva melalui lesi iritatif di mata.
Virus vaccinia sudah jarang ditemui sebagai penyebab
konjungtivitis, karena hilangnya penyakit cacar (Smallpox),
sehingga pemberian vaksinasinya jarang dilakukan. Infeksi terjadi
secara kebetulan melalui inokulasi partikel virus dari tangan
penderita 11.
d. Gejala Klinis
Gejala klinis pada konjungtivitis virus berbeda-beda sesuai
dengan etiologinya. Pada keratokonjungtivitis epidemik yang
disebabkan oleh adenovirus biasanya dijumpai demam dan mata
seperti kelilipan, mata berair berat dan kadang dijumpai
pseudomembran. Selain itu dijumpai infiltrat subepitel kornea atau
keratitis setelah terjadi konjungtivitis dan bertahan selama lebih
dari 2 bulan. Pada konjungtivitis ini biasanya pasien juga
mengeluhkan gejala pada saluran pernafasan atas dan gejala infeksi
umum lainnya seperti sakit kepala dan demam4 .
Pada konjungtivitis herpetic yang disebabkan oleh virus
herpes simpleks (HSV) yang biasanya mengenai anak kecil
dijumpai injeksi unilateral, iritasi, sekret mukoid, nyeri, fotofobia
ringan dan sering disertai keratitis herpes. Konjungtivitis
hemoragika akut yang biasanya disebabkan oleh enterovirus dan
coxsackie virus memiliki gejala klinis nyeri, fotofobia, sensasi
benda asing, hipersekresi airmata, kemerahan, edema palpebra dan

17

perdarahan subkonjungtiva dan kadang-kadang dapat terjadi


kimosis11.
e. Diagnosis
Diagnosis pada konjungtivitis virus bervariasi tergantung
etiologinya, karena itu diagnosisnya difokuskan pada gejala-gejala
yang membedakan tipe-tipe menurut penyebabnya. Dibutuhkan
informasi mengenai, durasi dan gejala-gejala sistemik maupun
ocular, keparahan dan frekuensi gejala, faktor-faktor resiko dan
keadaan

lingkungan

sekitar

untuk

menetapkan

diagnosis

konjungtivitis virus. Pada anamnesis penting juga untuk ditanyakan


onset, dan juga apakah hanya sebelah mata atau kedua mata yang
terinfeksi10 .
f. Komplikasi
Konjungtivitis virus bisa berkembang menjadi kronis,
seperti blefarokonjungtivitis. Komplikasi lainnya bisa berupa
timbulnya pseudomembran dan timbul parut linear halus atau parut
datar, dan keterlibatan kornea serta timbul vesikel pada kulit4.
g. Penatalaksanaan
Konjungtivitis virus yang terjadi pada anak di atas 1 tahun
atau pada orang dewasa umumnya sembuh sendiri dan mungkin
tidak diperlukan terapi, namun antivirus topikal atau sistemik harus
diberikan

untuk

konjungtivitis

mencegah

juga

terkenanya

diberikan

kornea

instruksi

Pasien

hygiene

untuk

meminimalkan penyebaran infeksi7,11 .


3. Konjungtivitis Alergi
a. Definisi
Konjungtivitis alergi adalah bentuk alergi pada mata yang
paing sering dan disebabkan oleh reaksi inflamasi pada
konjungtiva

yang

diperantarai

oleh

sistem

imun.

Reaksi

hipersensitivitas yang paling sering terlibat pada alergi di


konjungtiva adalah reaksi hipersensitivitas tipe 1 12.

18

b. Etiologi dan Faktor Risiko


Konjungtivitis alergi dibedakan atas lima subkategori, yaitu
konjungtivitis alergi musiman dan konjungtivitis alergi tumbuhtumbuhan yang biasanya dikelompokkan dalam satu grup,
keratokonjungtivitis

vernal,

keratokonjungtivitis

atopik

dan

konjungtivitis papilar raksasa. Etiologi dan faktor resiko pada


konjungtivitis alergi berbeda-beda sesuai dengan subkategorinya.
Misalnya konjungtivitis alergi musiman dan tumbuh tumbuhan
biasanya disebabkan oleh alergi tepung sari, rumput, bulu hewan,
dan disertai dengan rinitis alergi serta timbul pada waktu-waktu
tertentu. Vernal konjungtivitis sering disertai dengan riwayat asma,
eksema dan rinitis alergi musiman. Konjungtivitis atopik terjadi
pada pasien dengan riwayat dermatitis atopic, sedangkan
konjungtivitis papilar rak pada pengguna lensa kontakatau mata
buatan dari plastik4,6.
c. Patofisiologi
Gejala klinis konjungtivitis alergi berbeda-beda sesuai
dengan subkategorinya. Pada konjungtivitis alergi musiman dan
alergi tumbuh-tumbuhan keluhan utama adalah gatal, kemerahan,
air mata, injeksi ringan konjungtiva, dan sering ditemukan kemosis
berat.

Pasien

dengan

keratokonjungtivitis

vernal

sering

mengeluhkan mata sangat gatal dengan kotoran mata yang berserat,


konjungtiva tampak putih susu dan banyak papila halus di
konjungtiva tarsalis inferior. Sensasi terbakar, pengeluaran sekret
mukoid, merah, dan fotofobia merupakan keluhan yang paling
sering pada keratokonjungtivitis atopik. Ditemukan jupa tepian
palpebra yang eritematosa dan konjungtiva tampak putih susu.
Pada kasus yang berat ketajaman penglihatan menurun, sedangkan
pada konjungtiviitis papilar raksasa dijumpai tanda dan gejala yang
mirip konjungtivitis vernal 4.

19

d. Diagnosis
Diperlukan riwayat alergi baik pada pasien maupun
keluarga pasien serta observasi pada gejala klinis untuk
menegakkan diagnosis konjungtivitis alergi. Gejala yang paling
penting untuk mendiagnosis penyakit ini adalah rasa gatal pada
mata, yang mungkin saja disertai mata berair, kemerahan dan
fotofobia 13.
e. Komplikasi
Komplikasi pada penyakit ini yang paling sering adalah
ulkus pada korneadan infeksi sekunder.
f. Penatalaksanaan
Penyakit ini dapat diterapi dengan tetesan vasokonstriktorantihistamin topikal dan kompres dingin untuk mengatasi gatalgatal dan steroid topikal jangka pendek untuk meredakan gejala
lainnya 4.
4. Konjungtivitis Jamur
Konjungtivitis jamur paling sering disebabkan oleh Candida
albicans dan merupakan infeksi yang jarang terjadi. Penyakit ini ditandai
dengan adanya bercak putih dan dapat timbul pada pasien diabetes dan
pasien dengan keadaan sistem imun yang terganggu. Selain Candida sp,
penyakit

ini

juga

dapat

disebabkan

oleh

Sporothrix

schenckii,

Rhinosporidium serberi, dan Coccidioides immitis walaupun jarang4.


5. Konjungtivitis Parasit
Konjungtivitis parasit dapat disebabkan oleh infeksi Thelazia
californiensis, Loa loa, Ascaris lumbricoides, Trichinella spiralis,
Schistosoma haematobium, Taenia solium dan Pthirus pubis walaupun
jarang4.
6. Konjungtivitis Kimia-Iritatif
Konjungtivitis kimia-iritatif adalah konjungtivitis yang terjadi oleh
pemajanan substansi iritan yang masuk ke sakus konjungtivalis. Substansisubstansi iritan yang masuk ke sakus konjungtivalis dan dapat

20

menyebabkan konjungtivitis, seperti asam, alkali, asap dan angin, dapat


menimbulkan gejala-gejala berupa nyeri, pelebaran pembuluh darah,
fotofobia, dan blefarospasme. Selain itu penyakit ini dapat juga
disebabkan oleh pemberian obat topikal jangka panjang seperti dipivefrin,
miotik, neomycin, dan obat-obat lain dengan bahan pengawet yang toksik
atau menimbulkan iritasi. Konjungtivitis ini dapat diatasi dengan
penghentian substansi penyebab dan pemakaian tetesan ringan4.

21

DAFTAR PUSTAKA
1. Riordan, Paul. Dan Witcher, John. Vaughan & Asburys Oftalmologi Umum:
edisi 17. Jakarta : EGC. 2010. Hal 119.
2. Anonymus. Anatomi Konjungtiva. [online] 2009. http://PPM.pdf.com/infopterigium-anatomi (24 Februari 2015).
3. Junqueira,LC., 2007. Persiapan jaringan untuk pemeriksaan mikroskopik.
Histology Dasar: teks dan atlas. Edisi 10. Jakarta : EGC.
4. Vaughan , Asbury. 2010. General Ophtalmology. 18 th Edition. UK.
5. American Academy of Opthalmology. External Disease and Cornea.
Section11. San Fransisco: MD Association, 2005-2006
6. Ilyas, H. Sidarta Prof. dr. SpM. Ilmu Penyakit Mata. Jakarta: FKUI; 2003
7. James, Brus, dkk. 2005. Lecture Notes Oftalmologi. Jakatra : Erlangga
8. Marlin, DS. 2009. Conjunctivitis, Bacterial. Diakses tanggal 24 Februari
2015 darihttp://emedicine.medscape.com/article/1191730-overview
9. Visscher, KL; Hutnik, CM; Thomas, M. 2009. "Evidence-based treatment of
acute infective conjunctivitis: Breaking the cycle of antibiotic prescribing.".
Canadian family physician Medecin de famille canadien
10. Holds JB, Chang WJ, Dailey RS, Foster JA, Kazim M, McCulley TJ, et al,
editors. Orbit, eyelid and lacrimal system. Basic and clinical science course
2009 2010 Section 7. American Academy of Ophthalmology: San
Francisco; 2009.
11. Scott IU, Kevin L. 2010. Conjunctivitis, Viral

California: Penn State

College of Medicine Diunduh dari:http://www.scribd.com/doc/35575605/


laporan-

penelitian-komunitas-tentang-hasil-program-demam-berdarah-di

puskesmas- bareng. Diakses pada tanggal 24 Februari 2015


12. Cuvillo , et al. 2009. Allergic Conjunctivitis and H1 Antihistamine. J Investig
Allergol Clin Immunol 2009; Vol. 19. Esmon Publicidad
13. Weissman.
2010.
Giant
Papillary
http://emedicine.medscape.com/article/1191641-overview.
Februari 2015

22

Conjunctivitis.
Diakses

24