Anda di halaman 1dari 42

MAKALAH KIMIA DASAR

~ BATUBARA ~
?DAMPAK DAN SOLUSI?

I.

PEMBUKAAN
I.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan salah satu daerah penghasil tambang batu bara terbesar di
dunia. Salah satu daerah penghasil tambang terbesar di Indonesia adalah
Kalimantan Selatan. Pertumbuhan tambang di Kalimantan Selatan sendiri semakin
pesat karena semakin banyak lahan tambang baru yang ditemukan.
Namun pertumbuhan yang pesat tidak diseimbangi dengan pengelolaan yang baik
oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Kurangnya sosialisasi tentang
pengelolaan tambang dengan baik, menyebabkan banyak dampak buruk yang
dihasilkan. Walaupun sekarang tidak terlalu terasa, namun beberapa tahun lagi
dampak pengelolaan tambang yang salah bisa mengganggu stabilitas ekosistem.
Perlunya usaha-usaha yang dilakukan dari sekarang untuk mengatasi pengelolaan
tambang yang salah. Mulai dari sosialisasi sampai tindakan nyata. Sehingga
diharap keseimbangan alam akan terjaga.
I.2 Tujuan Penelitian
1. Mengetahui bahan galian batubara
2. Mengetahui dampak pengelolaan tambang batubara, dan
3. Mengetahui solusi untuk mengatasinya.
I.3 Rumusan Masalah
1. Apa yang di maksud bahan galian batubara?
2. Apa dampak penambangan batubara terhadap lingkungan?
3. Apa saja usaha-usaha yang dapat mengurangi dampak pertambangan?

II. PEMBAHASAN
II.1 BAHAN GALIAN BATUBARA
1. Pengertian Bahan Galian Batu Bara
Bahan Galian Batubara adalah bahan galian yang terbentuk dari sisa tumbuhan
yang terperangkap dalam sedimen dan dapat dipergunakan sebagai bahan baker,
Jenis sedimen ini terperangkap dan mengalami perubahan material organik akibat
timbunan (burial) dan diagenesa.
Batubara awalnya merupakan bahan organik yang terakumulasi dalam rawa-rawa
yang dinamakan peat. Pembentukan batubara memerlukan kondisi-kondisi
tertentu dan hanya terjadi pada era-era tertentu sepanjang sejarah geologi. Zaman
karbon kira-kira 340 juta tahun yang lalu (Jtl) adalah masa pembentukan Batubara
yang paling produktif.
2. Materi Pembentuk Batubara
Hampir seluruh pembentuk batubara berasal dari tumbuhan, jenis-jenis tumbuhan
pembentuk Batubara dan umurnya menurut Diessel (1981) adalah sebagai berikut:

a. Alga, dari zaman prekambrium hingga ordovisium dan bersel tunggal sangat
sedikit endapan batubara dari periode ini Silofita, Dari zaman Silur hingga devon
tengah merupakan turunan dari alga. Sedikit endapan batubara dari periode ini.
b. Plirodefita, umur devon atas hingga karbon atas. Tumbuhan pembentuknya
merupakan tumbuhan tanpa bunga dan biji serta berkembangbiak dengan spora.
c. Gimnospermae, Dari zaman permian hingga kapur tengah. Tumbuhan
heteroseksual, biji terbungkus dalam buah, contohnya Pinus.
d. Angiosspermae, dari zaman kapur atas hingga kii. Jenis tumbuhan modern,
buah menutupi biji, jantan dan betina dalam satu bunga, kurang bergetah
dibanding gimnospermae sehingga secara umum kurang terawetkan.
3. Kelas dan Jenis Batubara
Berdasarkan proses pembentukannya yang dikontrol oleh tekanan, panas, dan
waktu, umumnya batubara dibagi kedalam lima kelas yaitu:

a. Antrasit adalah kelas batubara tertinggi, dengan warna hitam berkilauan.


(luster) metalik. Mengandung antara 86 % ? 98 % unsur karbon (C) dengan kadar
air kurang dari 8 %
b. Bituminus mengandung 68 ? 86 % Unsur karbon (c) dan berkadar air 8-10 %
dari beratnya.
c. Subbituminus mengandung sedikit karbon dan banyak air. Sehingga menjadi
sumber panas yang kurang efisien dibanding dengan bituminus.
d. Lignit atau batubara cokelat adalah batubara yang sangat lunak yang
mengandung air 35 ? 75 % dari beratnya.
e. Gambut, berpori dan memiliki kadar air diatas 75 % serta nilai kalori yang
paling rendah.
4. Pembentukan Batubara
Proses perubahan sisa-sisa tanaman menjadi gambut hingga batubara disebut
dengan istilah pembatubaraan (Coalification).
Ada dua proses yang terjadi yaitu :
a. Tahap Diagenetik atau biokimia yaitu dimulai pada saat material tanaman
terdeposisi, hingga lignit terbentuk. Agen utama yang berperan dalam proses
perubahan ini adalah kadar air, tingkat oksidasi, dan gangguan biologis yang dapat
menyebabkan proses pembusukan (dekomposisi) dan kompaksi material organik
serta membentuk gambut.
b. Tahap malihan atau geokimia, meliputi proses perubahan dari lignit menjadi
biuminus, dan akhirnya antrasit.
5. Sumber Daya Batubara di Indonesia
Potensi sumber daya batubara di Indonesia sangat melimpah, terutama di pulau
kalimantan dan pulau sumatera. Batubara merupakan bahan bakar utama selain
solar (diesel fuel) yang digunakan dalam industri. Dari segi ekonomis batubara
jauh lebih hemat dari pada solar dengan perbandingan sebagai berikut: solar Rp.
0,74/kilokalori sedangkan batubara Rp. 0.09/kilokalori. Dari segi kuantitas,
batubara merupakan cadangan energi fosil terpenting di Indonesia, Jumlahnya
sangat melimpah, mencapai puluhan milyar ton. Jumlah ini cukup untuk memasak

kebutuhan energi listrik hingga ratusan tahun kedepan.


Sayangnya Indonesia tidak mungkin membakar habis batubara dan mengubahnya
menjadi energi listrik karena selain mengotori lingkungan melalui polutan CO2,
SO2, Nox, dan CxHx, cara ini dinilai kurang efisien dan kurang memberi nilai
tambah tinggi.
6. Gasifikasi Batubara
Batubara sebaiknya tidak langsung dibakar, akan lebih efisien jika dikonversi
menjadi migas sintetis, atau bahan petrokimia lain, yang bernilai ekonomis tinggi.
Cara yang dipertimbangkan dalam hal ini adalah gasifikasi atau penyubliman
batubara.
Coal Gasification adalah sebuah proses untuk merubah batubara padat menjadi
gas batubara yang mudah terbakar (combustible gasses), setelah proses pemurnian
gas-gas ini CO (karbon monoksida), CO2 (karbon dioksida), H (hidrogen), CH4
(metana), dan N2 (nitrogen) dapat digunakan sebagai bahan bakar. Hanya dengan
menggunakan watergas atau coal gas. Gasifikasi secara nyata mempunyai tingkat
emisi udara kotoran padat, dan limbah terendah.
7. Pembersihan Batubara
Cara untuk membersihkan batubara dari sulfur adalah dengan cara memecah
batubara kebongkahan yang lebih kecil dan mencucinya. Secara khusus
bongkahan batubara tadi dimasukkan kedalam tangki besar yang terisi air, maka
batubara akan mengapung kepermukaan ketika kotoran sulfur tenggelam.
8. Membuang Nox dari Batubara
Ketika udara yang mengandung nitrogen dipanaskan seperti pada nyala api boller
(3000?F ? 1648?C), atom nitrogen ini terpecah menjadi nitrogen oksida yang
terkadang disebut dengan Nox. Nox juga dapat dibentuk dari atom nitrogen yang
terjebak dalam batubara.
Cara terbaik untuk mengurangi Nox adalah menghindari benukan asalnya, caranya
pada saat pembakaran, batubara lebih banyak daripada udara dilubang
pembakaran yang terpanas. Dibawah kondisi ini kebanyakan oksigen
terkombinasi dengan bahan bakar dari pada dengan nitrogen. Camputan
pembakaran kemudian dikirim keruang pembakaran yang kedua dimana terdapat

proses yang mirip berulang-ulang sampai semua bahan bakar habis terbakar.
Konsep ini disebut Staged Combustion karena batubara dibakar secara bertahap.

II.2 DAMPAK PENAMBANGAN BATUBARA TERHADAP LINGKUNGAN


Seperti yang diketahui, pertambangan batubara juga telah menimbulkan dampak
kerusakan lingkungan hidup yang cukup parah, baik itu air, tanah, udara, dan
hutan.
1. Air
Penambangan batubara secara langsung menyebabkan pencemaran air, yaitu dari
limbah pencucian batubara tersebut dalam hal memisahkan batubara dengan
sulfur. Limbah pencucian tersebut mencemari air sungai sehingga warna air
sungai menjadi keruh, asam, dan menyebabkan pendangkalan sungai akibat
endapan pencucian batubara tersebut. Limbah pencucian batubara setelah diteliti
mengandung zat-zat yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia jika airnya
dikonsumsi. Limbah tersebut mengandung belerang (b), merkuri (Hg), asam
slarida (HCn), mangan (Mn), asam sulfat (H2SO4), dan timbal (Pb). Hg dan Pb
merupakan logam berat yang dapat menyebabkan penyakit kulit pada manusia
seperti kanker kulit.
2. Tanah
Tidak hanya air yang tercemar, tanah juga mengalami pencemaran akibat
pertambangan batubara ini, yaitu terdapatnya lubang-lubang besar yang tidak
mungkin ditutup kembali yang menyebabkan terjadinya kubangan air dengan
kandungan asam yang sangat tinggi. Air kubangan tersebut mengadung zat kimia
seperti Fe, Mn, SO4, Hg dan Pb. Fe dan Mn dalam jumlah banyak bersifat racun
bagi tanaman yang mengakibatkan tanaman tidak dapat berkembang dengan baik.
SO4 berpengaruh pada tingkat kesuburan tanah dan PH tanah, akibat pencemaran
tanah tersebut maka tumbuhan yang ada diatasnya akan mati.
3. Udara
Penambangan batubara menyebabkan polusi udara, hal ini diakibatkan dari

pembakaran batubara. Menghasilkan gas nitrogen oksida yang terlihat cokelat dan
juga sebagai polusi yang membentuk acid rain (hujan asam) dan ground level
ozone, yaitu tipe lain dari polusi yang dapat membuat kotor udara.
Selain itu debu-debu hasil pengangkatan batubara juga sangat berbahaya bagi
kesehatan, yang dapat menyebabkan timbulnya penyakit infeksi saluran
pernafasan (ISPA), dan dalam jangka panjang jika udara tersebut terus dihirup
akan menyebabkan kanker, dan kemungkinan bayi lahir cacat.
4. Hutan
Penambangan batubara dapat menghancurkan sumber-sumber kehidupan rakyat
karena lahan pertanian yaitu hutan dan lahan-lahan sudah dibebaskan oleh
perusahaan. Hal ini disebabkan adanya perluasan tambang sehingga
mempersempit lahan usaha masyarakat, akibat perluasan ini juga bisa
menyebabkan terjadinya banjir karena hutan di wilayah hulu yang semestinya
menjadi daerah resapan aitr telah dibabat habis. Hal ini diperparah oleh buruknya
tata drainase dan rusaknya kawan hilir seperti hutan rawa.
5. Laut
Pencemaran air laut akibat penambangan batubara terjadi pada saat aktivitas
bongkar muat dan tongkang angkut batubara. Selain itu, pencemaran juga dapat
mengganggu kehidupan hutan mangrove dan biota yang ada di sekitar laut
tersebut.

II.3 USAHA MENGURANGI DAMPAK PERTAMBANGAN


Usaha yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak pertambangan batubara
adalah sebagai berikut :
1. Penghentian penggunaan jalan umum untuk aktivitas angkutan batubara mesti
ada ketegasan pemerintah daerah untuk menyetop dan menindak tegas setiap
penguasaha aktivitas pertambangan ilegal yang selama ini semakin menjamur dan
penurunan terhadap dampak kerusakan lingkungan dan sosial yang
ditimbulkannya.
2. Tidak mengeluarkan perizinan baru agar tidak menambah semrawutnya

pengelolaan sumber daya alam tambang batubara, saat ini hal yang paling mudah
dan sangat mungkin untuk dilakukan adalah dengan tidak mengeluarkan izin baru
lagi. Sehingga memudahkan untuk melakukan monitoring terhadap pertambangan
batubara yang ada.
3. Penghentian pertambangan batubara ilegal secara total, pemerintah harus
melakukan penghentian pertambangan batubara ilegal secara tegas tanpa padang
bulu dan transparan.
4. Penghentian bisnis yayasan dan koperasinya TNI ? POLRI
5. Evaluasi perizinan yang telah diberikan, dan lakukan audit lingkungan semua
usaha pertambangan batubara.
6. Meninggikan standar kualitas pengelolaan lingkungan hidup dan komitmen
untuk kelestarian lingkungan hidup.
7. Pelembagaan konflik untuk menyelesaikan persengketaan rakyat dengan
perusahaan pertambangan agar tercapai solusi yang memuaskan berbagai pihak.
8. Menyusun kebijakan strategi pengelolaan sumber daya alam tambang.
9. Setiap perusahaan diwajibkan mereklamasi bekas-bekas penambangan dan
menjamin serta memastikan hasil reklamasi tersebut sesuai AMDAL. Dan pihak
pemerintah harus mengawasi jalannya proses reklamasi tersebut, sehingga benarbenar yakin kalau proses reklamasi berjalan dengan baik dan menampakkan hasil.
10. Menggunakan alat-alat penambangan dengan berteknologi tinggi sehingga
meminimalisasi dampak lingkungan serta memperkecil angka kecelakaan dalam
pertambangan batubara tersebut.

III. PENUTUP
III.1 KESIMPULAN
Batubara adalah bahan galian yang terbentuk dari sisa tumbuhan sebagai bahan
bakar. Materi pembentuk Batubara adalah Alga, Silofita, Pteridofita,
Gimnospermae, dan Angiospermae. Kelas dan Jenis batubara yaitu :
1. Antrasit
2. Bituminus
3. Sub bituminus
4. Lignit

5. Gambut
Pembentukan batubara dapat terjadi secara diagnetik atau biokimia dan tahap
malihan atau geokimia. Sumber daya batubara di Indonesia jumlahnya sangat
melimpah seperti di Kalimantan Selatan yang cukup untuk pasokan energi
beberapa tahun kedepan.
Gasifikasi Batubara adalah sebuah proses untuk merubah batubara padat menjadi
gas batubara yang mudah terbakar. Pembersihan batubara dapat dilakukan dengan
memcahnya menjadi bongkahan-bongkahan kecil dan dicuci dengan air didalam
sbuah tangki besar.
Membuang Nox dari batubara dapat dilakukan dengan cara staged Combustion.
Dampak penambangan batubara adalah kerusakan terhadap lingkungan yaitu air,
udara, tanah, hutan dan laut. Usaha mengurangi dampak pertambangan bisa di
upayakan oleh pemerintah maupun pihak perusahaan.

III.2 SARAN
Agar pemerintah lebih mengoptimalkan dan mensosialisasikan tentang AMDAL,
sehingga para penambang lebih memperhatikan dampak lingkungan dari pada
keuntungan semata. Diharap juga pemerintah lebih tegas menindak para
penambang yang terbukti melanggar peraturan penambangan agar para
penambang terutama perusahaan-perusahaan menggunakan teknologi yang ramah
lingkungan sehingga dapat meminimalkan dampak lingkungan dan resiko
kecelakaan. Diharap dengan penambang yang bertanggung jawab terhadap
reklamasi lahan bekas penambangan, sehingga pada akhirnya tidak mengganggu
keseimbangan lingkungan. http://blogs.tjs.company/2013/05/makalah-batubaradampak-dan-solusi.html
II.

Pengertian Batu Bara

III.

Batubara adalah bahan bakar fosil. Batubara dapat terbakar, terbentuk dari
endapan, batuan organik yang terutama terdiri dari karbon, hidrogen dan oksigen.
Batubara terbentuk dari tumbuhan yang telah terkonsolidasi antara strata batuan
lainnya dan diubah oleh kombinasi pengaruh tekanan dan panas selama jutaan
tahun

sehingga

membentuk

lapisan

batubara.

Pembentukan

Batubara

Komposisi batubara hampir sama dengan komposisi kimia jaringan tumbuhan,


keduanya mengandung unsur utama yang terdiri dari unsur C, H, O, N, S, P. Hal
ini dapat dipahami, karena batubara terbentuk dari jaringan tumbuhan yang telah
mengalami coalification. Pada dasarnya pembentukkan batubara sama dengan
cara manusia membuat arang dari kayu, perbedaannya, arang kayu dapat dibuat
sebagai hasil rekayasa dan inovasi manusia, selama jangka waktu yang pendek,
sedang batubara terbentuk oleh proses alam, selama jangka waktu ratusan hingga
ribuan tahun. Karena batubara terbentuk oleh proses alam, maka banyak
parameter yang berpengaruh pada pembentukan batubara. Makin tinggi intensitas
parameter yang berpengaruh makin tinggi mutu batubara yang terbentuk.
IV.
Ada dua teori yang menjelaskan terbentuknya batubara, yaitu teori insitu dan teori
drift. Teori insitu menjelaskan, tempat dimana batubara terbentuk sama dengan
tempat terjadinya coalification dan sama pula dengan tempat dimana tumbuhan
tersebut berkembang.
V.
VI.

Teori drift menjelaskan, bahwa endapan batubara yang terdapat pada cekungan
sedimen berasal dari tempat lain. Bahan pembentuk batubara mengalami proses
transportasi, sortasi dan terakumulasi pada suatu cekungan sedimen. Perbedaan
kualitas batubara dapat diketahui melalui stratigrafi lapisan. Hal ini mudah
dimengerti karena selama terjadi proses transportasi yang berkaitan dengan
kekuatan air, air yang besar akan menghanyutkan pohon yang besar, sedangkan
saat arus air mengecil akan menghanyutkan bagian pohon yang lebih kecil
(ranting dan daun). Penyebaran batubara dengan teori drift memungkinkan,
tergantung dari luasnya cekungan sendimentasi.

VII.
VIII. Pada proses pembentukan batubara atau coalification terjadi proses kimia dan
fisika, yang kemudian akan mengubah bahan dasar dari batubara yaitu selulosa
menjadi lignit, subbitumina, bitumina atau antrasit. Reaksi pembentukkannya
dapat diperlihatkan sebagai berikut:
IX.

Klasifikasi

Batubara

Menurut American Society for Testing Material (ASTM), secara umum batubara
digolongkan menjadi 4 berdasarkan kandungan unsur C dan H2O yaitu:

anthracite, bituminous coal, sub bituminous coal, lignite dan peat (gambut).
a.

Anthracite

Warna hitam, sangat mengkilat, kompak, kandungan karbon sangat tinggi,


kandungan airnya sedikit, kandungan abu sangat sedikit, kandungan sulfur sangat
sedikit.
b.

Bituminous/subbituminous

coal

Warna hitam mengkilat, kurang kompak, kandungan karbon relative tinggi, nilai
kalor tinggi, kandungan air sedikit, kandungan abu sedikit, kandungan sulfur
sedikit.
c.

Lignite

Warna hitam, sangat rapuh, kandungan karbon sedikit, nilai kalor rendah,
kandungan air tinggi, kandungan abu banyak, kandungan sulfur banyak.
Kualitas

Batubara

Batubara yang diperoleh dari hasil penambangan mengandung bahan pengotor


(impurities). Hal ini bisa terjadi ketika proses coalification ataupun pada proses
penambangan yang dalam hal ini menggunakan alat-alat berat yang selalu
bergelimang dengan tanah. Ada dua jenis pengotor yaitu:
X.

a. Inherent

impurities

Merupakan pengotor bawaan yang terdapat dalam batubara. Batubara yang sudah
dibakar memberikan sisa abu. Pengotor bawaan ini terjadi bersama-sama pada
proses pembentukan batubara. Pengotor tersebut dapat berupa gybsum
(CaSO42H2O), anhidrit (CaSO4), pirit (FeS2), silica (SiO2). Pengotor ini tidak
mungkin dihilangkan sama sekali, tetapi dapat dikurangi dengan melakukan
pembersihan.
b. Eksternal

impurities

Merupakan pengotor yang berasal dari uar, timbul pada saat proses penambangan
antara

lain

terbawanya

tanah

yang

berasal

dari

lapisan

penutup.

Sebagai bahan baku pembangkit energi yang dimanfaatkan industri, mutu


batubara mempunyai peranan sangat penting dalam memilih peralatan yang akan
dipergunakan dan pemeliharaan alat. Dalam menentukan kualitas batubara perlu

diperhatikan

beberapa

a. Heating

Value

(HV)

hal,

antara

(calorific

value/Nilai

lain:
kalori)

Banyaknya jumlah kalori yang dihasilkan oleh batubara tiap satuan berat
dinyatakan dalam kkal/kg. semakin tingi HV, makin lambat jalannya batubara
yang diumpankan sebagai bahan bakar setiap jamnya, sehingga kecepatan umpan
batubara perlu diperhatikan. Hal ini perlu diperhatikan agar panas yang
ditimbulkan tidak melebihi panas yang diperlukan dalam proses industri.
b. Moisture

Content

(kandungan

lengas).

Lengas batubara ditentukan oleh jumlah kandungan air yang terdapat dalam
batubara. Kandungan air dalam batubara dapat berbentuk air internal (air
senyawa/unsur),

yaitu

air

yang

terikat

secara

kimiawi.

Jenis air ini sulit dihilangkan tetapi dapat dikurangi dengan cara memperkecil
ukuran butir batubara. Jenis air yang kedua adalah air eksternal, yaitu air yang
menempel pada permukaan butir batubara. Batubara mempunyai sifat hidrofobik
yaitu ketika batubara dikeringkan, maka batubara tersebut sulit menyerap air,
sehingga
c. Ash

tidak

akan

menambah

content

jumlah
(kandungan

air

internal.
abu)

Komposisi batubara bersifat heterogen, terdiri dari unsur organik dan senyawa
anorgani, yang merupakan hasil rombakan batuan yang ada di sekitarnya,
bercampur selama proses transportasi, sedimentasi dan proses pembatubaraan.
Abu hasil dari pembakaran batubara ini, yang dikenal sebagai ash content. Abu ini
merupakan kumpulan dari bahan-bahan pembentuk batubara yang tidak dapat
terbaka atau yang dioksidasi oleh oksigen. Bahan sisa dalam bentuk padatan ini
antara lain senyawa SiO2, Al2O3, TiO3, Mn3O4, CaO, Fe2O3, MgO, K2O,
Na2O, P2O, SO3, dan oksida unsur lain.
XI.

d. Sulfur

Content

(Kandungan

Sulfur)

Belerang yang terdapat dalam batubara dibedakan menjadi 2 yaitu dalam bentuk
senyawa organik dan anorganik. Beleranga dalam bentuk anorganik dapat
dijumpai dalam bentuk pirit (FeS2), markasit (FeS2), atau dalam bentuk sulfat.
Mineral pirit dan makasit sangat umum terbentuk pada kondisi sedimentasi rawa

(reduktif). Belerang organik terbentuk selama terjadinya proses coalification.


Adanya kandungan sulfur, baik dalam bentuk organik maupun anorganik di
atmosfer dipicu oleh keberadaan air hujan, mengakibatkan terbentuk air asam. Air
asam

ini

dapat

merusak

II.2.

bangunan,

tumbuhan

dan

biota

Pemanfaatan

lainnya.
Batubara

Batubara merupakan sumber energi dari bahan alam yang tidak akan membusuk,
tidak mudah terurai berbentuk padat. Oleh karenanya rekayasa pemanfaatan
batubara

ke

bentuk

lain

perlu

dilakukan.

Pemanfataan yang diketahui biasanya adalah sebagai sumber energi bagi


Pembangkit Listrik Tenaga Uap Batubara, sebagai bahan bakar rumah tangga
(pengganti minyak tanah) biasanya dibuat briket batubara, sebagai bahan bakar
industri kecil; misalnya industri genteng/bata, industri keramik. Abu dari batubara
juga dimanfaatkan sebagai bahan dasar sintesis zeolit, bahan baku semen,
penyetabil tanah yang lembek. Penyusun beton untuk jalan dan bendungan,
penimbun lahan bekas pertambangan,; recovery magnetit, cenosphere, dan
karbon; bahan baku keramik, gelas, batu bata, dan refraktori; bahan penggosok
(polisher); filler aspal, plastik, dan kertas; pengganti dan bahan baku semen; aditif
dalam pengolahan limbah (waste stabilization).
XII.
XIII. Ada beberapa faktor yang menadi alasan batubara digunakan sebagai sumber
energi

alternatif,

yaitu:

1. Cadangan batubara sangat banyak dan tersebar luas. Diperkirakan terdapat lebih
dari 984 milyar ton cadangan batubara terbukti (proven coal reserves) di seluruh
dunia

yang

tersebar

di

lebih

dari

70

negara.

2. Negara-negara maju dan negara-negara berkembang terkemuka memiliki


banyak

cadangan

batubara.

3. Batubara dapat diperoleh dari banyak sumber di pasar dunia dengan pasokan
yang

stabil.

4. Harga batubara yang murah dibandingkan dengan minyak dan gas.


5.

Batubara

aman

untuk

ditransportasikan

dan

disimpan.

6. Batubara dapat ditumpuk di sekitar tambang, pembangkit listrik, atau lokasi


sementara.
7. Teknologi pembangkit listrik tenaga uap batubara sudah teruji dan handal.

8. Kualitas batubara tidak banyak terpengaruh oleh cuaca maupun hujan.


9. Pengaruh pemanfaatan batubara terhadap perubahan lingkungan sudah
dipahami dan dipelajari secara luas, sehingga teknologi batubara bersih (clean
coal technology) dapat dikembangkan dan diaplikasikan.
XIV.
II.3.

Gasifikasi

Batubara

Gasifikasi batubara adalah sebuah proses untuk mengubah batubara padat menjadi
gas batubara yang mudah terbakar (combustible gases), setelah proses pemurnian
gas-gas karbon monoksida (CO), karbon dioksida (CO2), hidrogen (H), metan
(CH4), dan nitrogen (N2) akhirnya dapat digunakan sebagai bahan bakar. Hanya
menggunakan udara dan uap air sebagai reacting gas kemudian menghasilkan
water gas atau coal gas, gasifikasi secara nyata mempunyai tingkat emisi udara,
kotoran padat dan limbah terendah.
XV.
XVI. Untuk melangsungkan gasifikasi diperlukan suatu suatu reaktor. Reaktor tersebut
dikenal dengan nama gasifier. Ketika gasifikasi dilangsungkan, terjadi kontak
antara bahan bakar dengan medium penggasifikasi di dalam gasifier. Kontak
antara bahan bakar dengan medium tersebut menentukan jenis gasifier yang
digunakan.

Secara

umum

pengontakan

bahan

bakar

dengan

medium

penggasifikasinya pada gasifier dibagi menjadi tiga jenis, yaitu entrained bed,
fluidized bed, dan fixed/moving bed. Oleh :Jefri Hansen Siahaa

Batu bara
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Untuk kegunaan lain, lihat Batubara (disambiguasi)

Contoh batu bara


Batu bara adalah salah satu bahan bakar fosil. Pengertian umumnya adalah batuan sedimen
yang dapat terbakar, terbentuk dari endapan organik, utamanya adalah sisa-sisa tumbuhan dan
terbentuk melalui proses pembatubaraan. Unsur-unsur utamanya terdiri dari karbon,
hidrogen dan oksigen.
Batu bara juga adalah batuan organik yang memiliki sifat-sifat fisika dan kimia yang
kompleks yang dapat ditemui dalam berbagai bentuk.
Analisis unsur memberikan rumus formula empiris seperti C137H97O9NS untuk bituminus dan
C240H90O4NS untuk antrasit.
Daftar isi

1 Batu bara secara umum


o 1.1 Umur batu bara
o

1.2 Materi pembentuk batu bara

1.3 Penambangan

1.4 Kelas dan jenis batu bara

1.5 Pembentukan batu bara

2 Batu bara di Indonesia


o

2.1 Endapan batu bara Eosen

2.2 Endapan batu bara Miosen

2.3 Sumberdaya batu bara

3 Gasifikasi batu bara

4 Bagaimana membuat batu bara bersih


o

4.1 Membuang NOx dari batu bara

5 Cadangan batu bara dunia

6 Negara pengekspor batu bara utama

7 Lihat pula

8 Referensi

9 Pranala luar

Batu bara secara umum


Umur batu bara
Pembentukan batu bara memerlukan kondisi-kondisi tertentu dan hanya terjadi pada era-era
tertentu sepanjang sejarah geologi. Zaman Karbon, kira-kira 340 juta tahun yang lalu (jtl),
adalah masa pembentukan batu bara yang paling produktif dimana hampir seluruh deposit
batu bara (black coal) yang ekonomis di belahan bumi bagian utara terbentuk.
Pada Zaman Permian, kira-kira 270 jtl, juga terbentuk endapan-endapan batu bara yang
ekonomis di belahan bumi bagian selatan, seperti Australia, dan berlangsung terus hingga ke
Zaman Tersier (70 - 13 jtl) di berbagai belahan bumi lain.
Materi pembentuk batu bara
Hampir seluruh pembentuk batu bara berasal dari tumbuhan. Jenis-jenis tumbuhan
pembentuk batu bara dan umurnya menurut Diessel (1981) adalah sebagai berikut:

Alga, dari Zaman Pre-kambrium hingga Ordovisium dan bersel tunggal. Sangat
sedikit endapan batu bara dari periode ini.
Silofita, dari Zaman Silur hingga Devon Tengah, merupakan turunan dari alga.
Sedikit endapan batu bara dari periode ini.

Pteridofita, umur Devon Atas hingga Karbon Atas. Materi utama pembentuk batu
bara berumur Karbon di Eropa dan Amerika Utara. Tetumbuhan tanpa bunga dan biji,
berkembang biak dengan spora dan tumbuh di iklim hangat.

Gimnospermae, kurun waktu mulai dari Zaman Permian hingga Kapur Tengah.
Tumbuhan heteroseksual, biji terbungkus dalam buah, semisal pinus, mengandung
kadar getah (resin) tinggi. Jenis Pteridospermae seperti gangamopteris dan
glossopteris adalah penyusun utama batu bara Permian seperti di Australia, India dan
Afrika.

Angiospermae, dari Zaman Kapur Atas hingga kini. Jenis tumbuhan modern, buah
yang menutupi biji, jantan dan betina dalam satu bunga, kurang bergetah dibanding
gimnospermae sehingga, secara umum, kurang dapat terawetkan.

Penambangan

Tambang batu bara di Bihar, India.


Penambangan batu bara adalah penambangan batu bara dari bumi. Batu bara digunakan
sebagai bahan bakar. Batu bara juga dapat digunakan untuk membuat coke untuk pembuatan
baja.[1]
Tambang batu bara tertua terletak di Tower Colliery di Inggris.
Kelas dan jenis batu bara
Berdasarkan tingkat proses pembentukannya yang dikontrol oleh tekanan, panas dan waktu,
batu bara umumnya dibagi dalam lima kelas: antrasit, bituminus, sub-bituminus, lignit dan
gambut.

Antrasit adalah kelas batu bara tertinggi, dengan warna hitam berkilauan (luster)
metalik, mengandung antara 86% - 98% unsur karbon (C) dengan kadar air kurang
dari 8%.
Bituminus mengandung 68 - 86% unsur karbon (C) dan berkadar air 8-10% dari
beratnya. Kelas batu bara yang paling banyak ditambang di Australia.

Sub-bituminus mengandung sedikit karbon dan banyak air, dan oleh karenanya
menjadi sumber panas yang kurang efisien dibandingkan dengan bituminus.

Lignit atau batu bara coklat adalah batu bara yang sangat lunak yang mengandung air
35-75% dari beratnya.

Gambut, berpori dan memiliki kadar air di atas 75% serta nilai kalori yang paling
rendah.

Pembentukan batu bara


Proses perubahan sisa-sisa tanaman menjadi gambut hingga batu bara disebut dengan istilah
pembatu baraan (coalification). Secara ringkas ada 2 tahap proses yang terjadi, yakni:

Tahap Diagenetik atau Biokimia, dimulai pada saat material tanaman terdeposisi
hingga lignit terbentuk. Agen utama yang berperan dalam proses perubahan ini adalah
kadar air, tingkat oksidasi dan gangguan biologis yang dapat menyebabkan proses
pembusukan (dekomposisi) dan kompaksi material organik serta membentuk gambut.
Tahap Malihan atau Geokimia, meliputi proses perubahan dari lignit menjadi
bituminus dan akhirnya antrasit.

Batu bara di Indonesia


Di Indonesia, endapan batu bara yang bernilai ekonomis terdapat di cekungan Tersier, yang
terletak di bagian barat Paparan Sunda (termasuk Pulau Sumatera dan Kalimantan), pada
umumnya endapan batu bara ekonomis tersebut dapat dikelompokkan sebagai batu bara
berumur Eosen atau sekitar Tersier Bawah, kira-kira 45 juta tahun yang lalu dan Miosen atau
sekitar Tersier Atas, kira-kira 20 juta tahun yang lalu menurut Skala waktu geologi.
Batu bara ini terbentuk dari endapan gambut pada iklim purba sekitar khatulistiwa yang mirip
dengan kondisi kini. Beberapa diantaranya tegolong kubah gambut yang terbentuk di atas
muka air tanah rata-rata pada iklim basah sepanjang tahun. Dengan kata lain, kubah gambut
ini terbentuk pada kondisi dimana mineral-mineral anorganik yang terbawa air dapat masuk
ke dalam sistem dan membentuk lapisan batu bara yang berkadar abu dan sulfur rendah dan
menebal secara lokal. Hal ini sangat umum dijumpai pada batu bara Miosen. Sebaliknya,
endapan batu bara Eosen umumnya lebih tipis, berkadar abu dan sulfur tinggi. Kedua umur
endapan batu bara ini terbentuk pada lingkungan lakustrin, dataran pantai atau delta, mirip
dengan daerah pembentukan gambut yang terjadi saat ini di daerah timur Sumatera dan
sebagian besar Kalimantan.[2]
Endapan batu bara Eosen
Endapan ini terbentuk pada tatanan tektonik ekstensional yang dimulai sekitar Tersier Bawah
atau Paleogen pada cekungan-cekungan sedimen di Sumatera dan Kalimantan.
Ekstensi berumur Eosen ini terjadi sepanjang tepian Paparan Sunda, dari sebelah barat
Sulawesi, Kalimantan bagian timur, Laut Jawa hingga Sumatera. Dari batuan sedimen yang
pernah ditemukan dapat diketahui bahwa pengendapan berlangsung mulai terjadi pada Eosen
Tengah. Pemekaran Tersier Bawah yang terjadi pada Paparan Sunda ini ditafsirkan berada
pada tatanan busur dalam, yang disebabkan terutama oleh gerak penunjaman Lempeng IndoAustralia.[3] Lingkungan pengendapan mula-mula pada saat Paleogen itu non-marin, terutama
fluviatil, kipas aluvial dan endapan danau yang dangkal.
Di Kalimantan bagian tenggara, pengendapan batu bara terjadi sekitar Eosen Tengah - Atas
namun di Sumatera umurnya lebih muda, yakni Eosen Atas hingga Oligosen Bawah. Di
Sumatera bagian tengah, endapan fluvial yang terjadi pada fase awal kemudian ditutupi oleh
endapan danau (non-marin).[3] Berbeda dengan yang terjadi di Kalimantan bagian tenggara
dimana endapan fluvial kemudian ditutupi oleh lapisan batu bara yang terjadi pada dataran
pantai yang kemudian ditutupi di atasnya secara transgresif oleh sedimen marin berumur
Eosen Atas.[4]
Endapan batu bara Eosen yang telah umum dikenal terjadi pada cekungan berikut: Pasir dan
Asam-asam (Kalimantan Selatan dan Timur), Barito (Kalimantan Selatan), Kutai Atas
(Kalimantan Tengah dan Timur), Melawi dan Ketungau (Kalimantan Barat), Tarakan
(Kalimantan Timur), Ombilin (Sumatera Barat) dan Sumatera Tengah (Riau).
Dibawah ini adalah kualitas rata-rata dari beberapa endapan batu bara Eosen di Indonesia.
Tambang Cekungan Perusahaan Kadar Kadar Kadar Zat Belerang Nilai energi
air
air
abu terbang (%ad) (kkal/kg)(ad)

total inheren
(%ad) (%ad)
(%ar) (%ad)
Satui

Asamasam

PT Arutmin
10.00 7.00
Indonesia

8.00

41.50

0.80

6800

Senakin

Pasir

PT Arutmin
9.00
Indonesia

4.00

15.00 39.50

0.70

6400

Petangis

Pasir

PT BHP
Kendilo
Coal

11.00 4.40

12.00 40.50

0.80

6700

Ombilin

Ombilin

PT Bukit
Asam

12.00 6.50

<8.00 36.50

0.50 0.60

6900

PT Allied
Indo Coal

4.00

10.00 37.30
(ar)
(ar)

0.50 (ar) 6900 (ar)

Parambahan Ombilin

(ar) - as received, (ad) - air dried, Sumber: Indonesian Coal Mining Association, 1998
Endapan batu bara Miosen
Pada Miosen Awal, pemekaran regional Tersier Bawah - Tengah pada Paparan Sunda telah
berakhir. Pada Kala Oligosen hingga Awal Miosen ini terjadi transgresi marin pada kawasan
yang luas dimana terendapkan sedimen marin klastik yang tebal dan perselingan sekuen
batugamping. Pengangkatan dan kompresi adalah kenampakan yang umum pada tektonik
Neogen di Kalimantan maupun Sumatera. Endapan batu bara Miosen yang ekonomis
terutama terdapat di Cekungan Kutai bagian bawah (Kalimantan Timur), Cekungan Barito
(Kalimantan Selatan) dan Cekungan Sumatera bagian selatan. Batu bara Miosen juga secara
ekonomis ditambang di Cekungan Bengkulu.
Batu bara ini umumnya terdeposisi pada lingkungan fluvial, delta dan dataran pantai yang
mirip dengan daerah pembentukan gambut saat ini di Sumatera bagian timur. Ciri utama
lainnya adalah kadar abu dan belerang yang rendah. Namun kebanyakan sumberdaya batu
bara Miosen ini tergolong sub-bituminus atau lignit sehingga kurang ekonomis kecuali jika
sangat tebal (PT Adaro) atau lokasi geografisnya menguntungkan. Namun batu bara Miosen
di beberapa lokasi juga tergolong kelas yang tinggi seperti pada Cebakan Pinang dan Prima
(PT KPC), endapan batu bara di sekitar hilir Sungai Mahakam, Kalimantan Timur dan
beberapa lokasi di dekat Tanjungenim, Cekungan Sumatera bagian selatan.
Tabel dibawah ini menunjukan kualitas rata-rata dari beberapa endapan batu bara Miosen di
Indonesia.
Kadar Kadar
Kadar Zat
air
air
Belerang Nilai energi
Tambang Cekungan Perusahaan
abu terbang
total inheren
(%ad) (kkal/kg)(ad)
(%ad) (%ad)
(%ar) (%ad)

Prima

Kutai

PT Kaltim
9.00
Prima Coal

4.00

39.00

0.50

6800 (ar)

Pinang

Kutai

PT Kaltim
13.00 Prima Coal

7.00

37.50

0.40

6200 (ar)

Roto
South

Pasir

PT Kideco
24.00 Jaya Agung

3.00

40.00

0.20

5200 (ar)

Binungan Tarakan

PT Berau
Coal

18.00 14.00

4.20

40.10

0.50

6100 (ad)

Lati

PT Berau
Coal

24.60 16.00

4.30

37.80

0.90

5800 (ad)

Sumatera
PT Bukit
Air Laya bagian
Asam
selatan

24.00 -

5.30

34.60

0.49

5300 (ad)

Paringin

24.00 18.00

4.00

40.00

0.10

5950 (ad)

Tarakan

Barito

PT Adaro

(ar) - as received, (ad) - air dried, Sumber: Indonesian Coal Mining Association, 1998
Sumberdaya batu bara

Pengisian batu bara ke dalam kapal tongkang.


Potensi sumberdaya batu bara di Indonesia sangat melimpah, terutama di Pulau Kalimantan
dan Pulau Sumatera, sedangkan di daerah lainnya dapat dijumpai batu bara walaupun dalam
jumlah kecil dan belum dapat ditentukan keekonomisannya, seperti di Jawa Barat, Jawa
Tengah, Papua, dan Sulawesi.
Badan Geologi Nasional memperkirakan Indonesia masih memiliki 160 miliar ton cadangan
batu bara yang belum dieksplorasi. Cadangan tersebut sebagian besar berada di Kalimantan
Timur dan Sumatera Selatan. Namun upaya eksplorasi batu bara kerap terkendala status lahan
tambang. Daerah-daerah tempat cadangan batu bara sebagian besar berada di kawasan hutan
konservasi.[5] Rata-rata produksi pertambangan batu bara di Indonesia mencapai 300 juta ton
per tahun. Dari jumlah itu, sekitar 10 persen digunakan untuk kebutuhan energi dalam negeri,
dan sebagian besar sisanya (90 persen lebih) diekspor ke luar.

Di Indonesia, batu bara merupakan bahan bakar utama selain solar (diesel fuel) yang telah
umum digunakan pada banyak industri, dari segi ekonomis batu bara jauh lebih hemat
dibandingkan solar, dengan perbandingan sebagai berikut: Solar Rp 0,74/kilokalori
sedangkan batu bara hanya Rp 0,09/kilokalori, (berdasarkan harga solar industri Rp.
6.200/liter).
Dari segi kuantitas batu bara termasuk cadangan energi fosil terpenting bagi Indonesia.
Jumlahnya sangat berlimpah, mencapai puluhan miliar ton. Jumlah ini sebenarnya cukup
untuk memasok kebutuhan energi listrik hingga ratusan tahun ke depan. Sayangnya,
Indonesia tidak mungkin membakar habis batu bara dan mengubahnya menjadi energis listrik
melalui PLTU. Selain mengotori lingkungan melalui polutan CO2, SO2, NOx dan CxHy cara
ini dinilai kurang efisien dan kurang memberi nilai tambah tinggi.
Batu bara sebaiknya tidak langsung dibakar, akan lebih bermakna dan efisien jika dikonversi
menjadi migas sintetis, atau bahan petrokimia lain yang bernilai ekonomi tinggi. Dua cara
yang dipertimbangkan dalam hal ini adalah likuifikasi (pencairan) dan gasifikasi
(penyubliman) batu bara.
Membakar batu bara secara langsung (direct burning) telah dikembangkan teknologinya
secara continue, yang bertujuan untuk mencapai efisiensi pembakaran yang maksimum, caracara pembakaran langsung seperti: fixed grate, chain grate, fluidized bed, pulverized, dan
lain-lain, masing-masing mempunyai kelebihan dan kelemahannya.

Gasifikasi batu bara


Coal gasification adalah sebuah proses untuk mengubah batu bara padat menjadi gas batu
bara yang mudah terbakar (combustible gases), setelah proses pemurnian gas-gas ini karbon
monoksida (CO), karbon dioksida (CO2), hidrogen (H), metan (CH4), dan nitrogen (N2)
dapat digunakan sebagai bahan bakar. hanya menggunakan udara dan uap air sebagai
reacting-gas kemudian menghasilkan water gas atau coal gas, gasifikasi secara nyata
mempunyai tingkat emisi udara, kotoran padat dan limbah terendah.
Tetapi, batu bara bukanlah bahan bakar yang sempurna. Terikat di dalamnya adalah sulfur
dan nitrogen, bila batu bara ini terbakar kotoran-kotoran ini akan dilepaskan ke udara, bila
mengapung di udara zat kimia ini dapat menggabung dengan uap air (seperti contoh kabut)
dan tetesan yang jatuh ke tanah seburuk bentuk asam sulfurik dan nitrit, disebut sebagai
"hujan asam" acid rain. Disini juga ada noda mineral kecil, termasuk kotoran yang umum
tercampur dengan batu bara, partikel kecil ini tidak terbakar dan membuat debu yang
tertinggal di coal combustor, beberapa partikel kecil ini juga tertangkap di putaran
combustion gases bersama dengan uap air, dari asap yang keluar dari cerobong beberapa
partikel kecil ini adalah sangat kecil setara dengan rambut manusia.
Bagaimana membuat batu bara bersih
Ada beberapa cara untuk membersihkan batu bara. Contoh sulfur, sulfur adalah zat kimia
kekuningan yang ada sedikit di batu bara, pada beberapa batu bara yang ditemukan di Ohio,
Pennsylvania, West Virginia dan eastern states lainnya, sulfur terdiri dari 3 sampai 10 % dari
berat batu bara, beberapa batu bara yang ditemukan di Wyoming, Montana dan negara-negara

bagian sebelah barat lainnya sulfur hanya sekitar 1/100ths (lebih kecil dari 1%) dari berat
batu bara. Penting bahwa sebagian besar sulfur ini dibuang sebelum mencapai cerobong asap.
Satu cara untuk membersihkan batu bara adalah dengan cara mudah memecah batu bara ke
bongkahan yang lebih kecil dan mencucinya. Beberapa sulfur yang ada sebagai bintik kecil di
batu bara disebut sebagai "pyritic sulfur " karena ini dikombinasikan dengan besi menjadi
bentuk iron pyrite, selain itu dikenal sebagai "fool's gold dapat dipisahkan dari batu bara.
Secara khusus pada proses satu kali, bongkahan batu bara dimasukkan ke dalam tangki besar
yang terisi air , batu bara mengambang ke permukaan ketika kotoran sulfur tenggelam.
Fasilitas pencucian ini dinamakan "coal preparation plants" yang membersihkan batu bara
dari pengotor-pengotornya.
Tidak semua sulfur bisa dibersihkan dengan cara ini, bagaimanapun sulfur pada batu bara
adalah secara kimia benar-benar terikat dengan molekul karbonnya, tipe sulfur ini disebut
"organic sulfur," dan pencucian tak akan menghilangkannya. Beberapa proses telah dicoba
untuk mencampur batu bara dengan bahan kimia yang membebaskan sulfur pergi dari
molekul batu bara, tetapi kebanyakan proses ini sudah terbukti terlalu mahal, ilmuan masih
bekerja untuk mengurangi biaya dari prose pencucian kimia ini.
Kebanyakan pembangkit tenaga listrik modern dan semua fasilitas yang dibangun setelah
1978 telah diwajibkan untuk mempunyai alat khusus yang dipasang untuk membuang
sulfur dari gas hasil pembakaran batu bara sebelum gas ini naik menuju cerobong asap. Alat
ini sebenarnya adalah "flue gas desulfurization units," tetapi banyak orang menyebutnya
"scrubbers" karena mereka men-scrub (menggosok) sulfur keluar dari asap yang
dikeluarkan oleh tungku pembakar batu bara.
Membuang NOx dari batu bara
Nitrogen secara umum adalah bagian yang besar dari pada udara yang dihirup, pada
kenyataannya 80% dari udara adalah nitrogen, secara normal atom-atom nitrogen
mengambang terikat satu sama lainnya seperti pasangan kimia, tetapi ketika udara dipanaskan
seperti pada nyala api boiler (3000 F=1648 C), atom nitrogen ini terpecah dan terikat dengan
oksigen, bentuk ini sebagai nitrogen oksida atau kadang kala itu disebut sebagai NOx. NOx
juga dapat dibentuk dari atom nitrogen yang terjebak di dalam batu bara.
Di udara, NOx adalah polutan yang dapat menyebabkan kabut coklat yang kabur yang
kadang kala terlihat di seputar kota besar, juga sebagai polusi yang membentuk acid rain
(hujan asam), dan dapat membantu terbentuknya sesuatu yang disebut ground level ozone,
tipe lain dari pada polusi yang dapat membuat kotornya udara.
Salah satu cara terbaik untuk mengurangi NOx adalah menghindari dari bentukan asalnya,
beberapa cara telah ditemukan untuk membakar batu bara di pemabakar dimana ada lebih
banyak bahan bakar dari pada udara di ruang pembakaran yang terpanas. Di bawah kondisi
ini kebanyakan oksigen terkombinasikan dengan bahan bakar daripada dengan nitrogen.
Campuran pembakaran kemudian dikirim ke ruang pembakaran yang kedua dimana terdapat
proses yang mirip berulang-ulang sampai semua bahan bakar habis terbakar. Konsep ini
disebut "staged combustion" karena batu bara dibakar secara bertahap. Kadang disebut juga
sebagai "low-NOx burners" dan telah dikembangkan sehingga dapat mengurangi kangdungan
Nox yang terlepas di uadara lebih dari separuh. Ada juga teknologi baru yang bekerja seperti
"scubbers" yang membersihkan NOX dari flue gases (asap) dari boiler batu bara. Beberapa

dari alat ini menggunakan bahan kimia khusus yang disebut katalis yang mengurai bagian
NOx menjadi gas yang tidak berpolusi, walaupun alat ini lebih mahal dari "low-NOx
burners," namun dapat menekan lebih dari 90% polusi Nox.
Cadangan batu bara dunia

Daerah batu bara di Amerika Serikat


Pada tahun 1996 diestimasikan terdapat sekitar satu exagram (1 1015 kg atau 1 trilyun ton)
total batu bara yang dapat ditambang menggunakan teknologi tambang saat ini, diperkirakan
setengahnya merupakan batu bara keras. Nilai energi dari semua batu bara dunia adalah 290
zettajoules.[6] Dengan konsumsi global saat ini adalah 15 terawatt,[7] terdapat cukup batu bara
untuk menyediakan energi bagi seluruh dunia untuk 600 tahun.
British Petroleum, pada Laporan Tahunan 2006, memperkirakan pada akhir 2005, terdapat
909.064 juta ton cadangan batu bara dunia yang terbukti (9,236 1014 kg), atau cukup untuk
155 tahun (cadangan ke rasio produksi). Angka ini hanya cadangan yang diklasifikasikan
terbukti, program bor eksplorasi oleh perusahaan tambang, terutama sekali daerah yang di
bawah eksplorasi, terus memberikan cadangan baru.
Departemen Energi Amerika Serikat memperkirakan cadangan batu bara di Amerika Serikat
sekitar 1.081.279 juta ton (9,81 1014 kg), yang setara dengan 4.786 BBOE (billion barrels of
oil equivalent).[8]
Cadangan batu bara dunia pada akhir 2005 (dalam juta ton)[9][10][11][12]
Negara

Bituminus (termasuk antrasit) Sub-bituminus Lignit TOTAL

Amerika Serikat

115.891

101.021

33.082 249.994

Rusia

49.088

97.472

10.450 157.010

Tiongkok

62.200

33.700

18.600 114.500

India

82.396

Australia

42.550

Jerman

23.000

2.000 84.396
1.840

37.700 82.090
43.000 66.000

Afrika Selatan

49.520

Ukraina

16.274

Kazakhstan

31.000

3.000 34.000

Polandia

20.300

1.860 22.160

Serbia dan Montenegro

64

Brasil

49.520
15.946

1.933 34.153

1.460

14.732 16.256

11.929

11.929
6.648

Kolombia

6.267

381

Kanada

3.471

871

2.236

6.578

Ceko

2.114

3.414

150

5.678

Indonesia

790

1.430

3.150

5.370

Botswana

4.300

Uzbekistan

1.000

Turki

278

4.300

761

Yunani
Bulgaria

13

Pakistan

233

4.000

2.650

3.689

2.874

2.874

2.465

2.711

2.265

Iran

1.710

Britania Raya

1.000

Rumania

35

Meksiko

860

300

Chili

31

1.150

Hongaria

80
960

Kirgizstan
Jepang

773

Spanyol

200

2.265
1.710

Thailand

Peru

3.000

500

1.500

1.421

1.457

1.268

1.268

51

1.211
1.181

1.017

1.097

100

1060

812

812
773

400

60

660

Korea Utara

300

300

600

Selandia Baru

33

206

Zimbabwe

502

502

Belanda

497

497

Venezuela

479

479

333

572

Argentina

430

430

Filipina

232

100

332

Slovenia

40

235

275

Mozambik

212

212

Swaziland

208

208

Tanzania

200

200

Nigeria

21

Greenland

169

190

183

183

Slowakia

172

172

Vietnam

150

150

Republik Kongo

88

88

Korea Selatan

78

78

Niger

70

70

Afganistan

66

66

Aljazair

40

40

Kroasia

33

39

Portugal

33

36

Perancis

22

14

36

34

Austria

25

25

Ekuador

24

24

Italia

Mesir

27

22

22

Irlandia

14

14

Zambia

10

10

Malaysia

Afrika Tengah

Myanmar

3
2

Malawi

Kaledonia Baru

Nepal

Bolivia

1
1

Norwegia
Taiwan

Swedia

Negara pengekspor batu bara utama


Pengekspor batu bara berdasarkan negara dan tahun
(dalam juta ton)[13]
Negara

2003

2004

Australia

238,1

247,6

Amerika Serikat

43,0

48,0

Afrika Selatan

78,7

74,9

Uni Soviet

41,0

55,7

Polandia

16,4

16,3

Kanada

27,7

28,8

Tiongkok

103,4

95,5

57,8

65,9

Indonesia

200,8

131,4

Total

713,9

764,0

Amerika Selatan

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Indonesia merupakan salah satu daerah penghasil tambang batu bara terbesar di dunia. Salah
satu daerah penghasil tambang terbesar di Indonesia adalah Kalimantan Selatan.
Pertumbuhan tambang di Kalimantan Selatan sendiri semakin pesat karena semakin banyak
lahan tambang baru yang ditemukan.

Namun pertumbuhan yang pesat tidak diseimbangi dengan pengelolaan yang baik oleh pihakpihak yang tidak bertanggung jawab. Kurangnya sosialisasi tentang pengelolaan tambang
dengan baik, menyebabkan banyak dampak buruk yang dihasilkan. Walaupun sekarang tidak
terlalu terasa, namun beberapa tahun lagi dampak pengelolaan tambang yang salah bisa
mengganggu stabilitas ekosistem.
Perlunya usaha-usaha yang dilakukan dari sekarang untuk mengatasi pengelolaan tambang
yang salah. Mulai dari sosialisasi sampai tindakan nyata. Sehingga diharap keseimbangan
alam akan terjaga.
Selain untuk menjaga kesiembangan ekosistem, ada baiknya pula kita mengetahui bagaimana
cara terbentuknya batu bara tersebut. Karena dengan banyaknya tambang yang ada, maka
mungking saja nanti ekosistem yang ada akan beubah dan bahkan bias tercemari oleh
penggunaan batubara ini.

1.2 Tujuan Penelitian


1.

Mengetahui arti batubara secara umum,

2.

Mengetahui dampak pengelolaan tambang batubara, dan

3.

Mengetahui solusi untuk mengatasinya.

1.3 Rumusan Masalah


1. Apa yang di maksud dengan batubara?
2. Apa dampak penambangan batubara terhadap lingkungan?
3. Apa saja usaha-usaha yang dapat mengurangi dampak pertambangan?

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Batubara Secara Umum


2.1.1 Umur Batubara
Pembentukan batu bara memerlukan kondisi-kondisi tertentu dan hanya terjadi pada
era-era tertentu sepanjang sejarah geologi. Zaman Karbon, kira-kira 340 juta tahun yang lalu,
adalah masa pembentukan batu bara yang paling produktif dimana hampir seluruh deposit
batu bara (black coal) yang ekonomis di belahan bumi bagian utara terbentuk.Pada Zaman
Permian, kira-kira 270 juta tahun yang lalu, juga terbentuk endapan-endapan batu bara yang
ekonomis di belahan bumi bagian selatan, seperti Australia, dan berlangsung terus hingga ke
Zaman Tersier (70 - 13 juta tahun yang lalu) di berbagai belahan bumi lain.
2.1.2 Materi Pembentukan Batubara
Hampir seluruh pembentuk batu bara berasal dari tumbuhan. Jenis-jenis tumbuhan
pembentuk batu bara dan umurnya menurut Diessel (1981) adalah sebagai berikut:
Alga, dari Zaman Pre-kambrium hingga Ordovisium dan bersel tunggal. Sangat sedikit
endapan batu bara dari perioda ini.
Silofita, dari Zaman Silur hingga Devon Tengah, merupakan turunan dari alga. Sedikit
endapan batu bara dari perioda ini.
Pteridofita, umur Devon Atas hingga Karbon Atas. Materi utama pembentuk batu bara
berumur Karbon di Eropa dan Amerika Utara. Tetumbuhan tanpa bunga dan biji, berkembang
biak dengan spora dan tumbuh di iklim hangat.
Gimnospermae, kurun waktu mulai dari Zaman Permian hingga Kapur Tengah. Tumbuhan
heteroseksual, biji terbungkus dalam buah, semisal pinus, mengandung kadar getah (resin)
tinggi. Jenis Pteridospermae seperti gangamopteris dan glossopteris adalah penyusun utama
batu bara Permian seperti di Australia, India dan Afrika.
Angiospermae, dari Zaman Kapur Atas hingga kini. Jenis tumbuhan modern, buah yang
menutupi biji, jantan dan betina dalam satu bunga, kurang bergetah dibanding gimnospermae
sehingga, secara umum, kurang dapat terawetkan.
2.1.3 Penambangan Batubara

Penambangan batu bara adalah penambangan batu bara dari bumi. Batu bara digunakan
sebagai bahan bakar. Batu bara juga dapat digunakan untuk membuat coke untuk pembuatan
baja. Tambang batu bara tertua terletak di Tower Colliery di Inggris. Dilihat dari cara
menambang, penambangan batubara dapat dibagi menjadi beberapa jenis antara lain:

Penambangan Terbuka
Penambangan jenis ini dilakukan dengan cara menambang batubara tanpa melakukan

penggalian berat karena letak batubara yang dekat dengan permukaan bumi.

Penambangan Dalam
Jenis penambangan ini dilakukan dengan teknik khusus dimana nantinya perlu dibuat
terowongan tegak hingga mencapai lapisan batubara. Ketika telah mencapa lapisan tersebut,
selanjutnya diperlukan lagi terowongan mendatar untuk mendapatkan batubara tersebut.

Penambangan jauh
Penambangan ini dilakukan ketika area batubara berada di bawah bukit dimana dibuat
terowongan miring hingga mencapai lapisan batubara.

Penambangan di Atas Permukaan


Jenis kegiatan menambang batubara ini dilakukan jika batu bara ang hendak dicari berada di
dalam peut bukit atau gunung akan tetapi letaknya di atas permukaan tanah yang datar,
sehingga untuk menambangnya diperlukan terowongan datar.
2.1.4 Kelas dan Jenis Batubara
Selain cara penambangan dan juga bentuk secara umu, sekarang akan kita lihat klasifikasi
dan jenis batubara. Berdasarkan tingkat proses pembentukannya yang di control oleh tekanan,
panas dan waktu, batu bara secara umum dibagi menjadi 5 kelas yaitu:
Antrasit adalah kelas batu bara tertinggi, dengan warna hitam berkilauan (luster) metalik,
mengandung antara 86% - 98% unsur karbon (C) dengan kadar air kurang dari 8%.
Bituminus mengandung 68 - 86% unsur karbon (C) dan berkadar air 8-10% dari beratnya.
Kelas batu bara yang paling banyak ditambang di Australia.
Sub-bituminus mengandung sedikit karbon dan banyak air, dan oleh karenanya menjadi
sumber panas yang kurang efisien dibandingkan dengan bituminus.
Lignit atau batu bara coklat adalah batu bara yang sangat lunak yang mengandung air 3575% dari beratnya.
Gambut, berpori dan memiliki kadar air di atas 75% serta nilai kalori yang paling rendah.
2.1.5 Pembentukan Batubara

Proses perubahan sisa-sisa tanaman menjadi gambut hingga batubara disebut dengan istilah
pembatubaraan (coalification). Secara ringakas proses ini dibagi menjadi dua tahap proses
yang terjadi, antara lain:
Tahap Diagenetik atau Biokimia, dimulai pada saat material tanaman terdeposisi hingga lignit
terbentuk. Agen utama yang berperan dalam proses perubahan ini adalah kadar air, tingkat
oksidasi dan gangguan biologis yang dapat menyebabkan proses pembusukan (dekomposisi)
dan kompaksi material organik serta membentuk gambut.
Tahap Malihan atau Geokimia, meliputi proses perubahan dari lignit menjadi bituminus dan
akhirnya antrasit.
2.2 Batubara Di Indonesia
Di Indonesia, endapan batu bara yang bernilai ekonomis terdapat di cekungan Tersier,
yang terletak di bagian barat Paparan Sunda (termasuk Pulau Sumatera dan Kalimantan),
pada umumnya endapan batu bara ekonomis tersebut dapat dikelompokkan sebagai batu bara
berumur Eosen atau sekitar Tersier Bawah, kira-kira 45 juta tahun yang lalu dan Miosen atau
sekitar Tersier Atas, kira-kira 20 juta tahun yang lalu menurut Skala waktu geologi.
Batu bara ini terbentuk dari endapan gambut pada iklim purba sekitar khatulistiwa yang
mirip dengan kondisi kini. Beberapa diantaranya tegolong kubah gambut yang terbentuk di
atas muka air tanah rata-rata pada iklim basah sepanjang tahun. Dengan kata lain, kubah
gambut ini terbentuk pada kondisi dimana mineral-mineral anorganik yang terbawa air dapat
masuk ke dalam sistem dan membentuk lapisan batu bara yang berkadar abu dan sulfur
rendah dan menebal secara lokal. Hal ini sangat umum dijumpai pada batu bara Miosen.
Sebaliknya, endapan batu bara Eosen umumnya lebih tipis, berkadar abu dan sulfur tinggi.
Kedua umur endapan batu bara ini terbentuk pada lingkungan lakustrin, dataran pantai atau
delta, mirip dengan daerah pembentukan gambut yang terjadi saat ini di daerah timur
Sumatera dan sebagian besar Kalimantan.
2.2.1 Endapan Batu Bara Eosen
Endapan ini terbentuk pada tatanan tektonik ekstensional yang dimulai sekitar Tersier
Bawah atau Paleogen pada cekungan-cekungan sedimen di Sumatera dan Kalimantan.
Ekstensi berumur Eosen ini terjadi sepanjang tepian Paparan Sunda, dari sebelah barat
Sulawesi, Kalimantan bagian timur, Laut Jawa hingga Sumatera. Dari batuan sedimen yang

pernah ditemukan dapat diketahui bahwa pengendapan berlangsung mulai terjadi pada Eosen
Tengah. Pemekaran Tersier Bawah yang terjadi pada Paparan Sunda ini ditafsirkan berada
pada tatanan busur dalam, yang disebabkan terutama oleh gerak penunjaman Lempeng IndoAustralia.[3] Lingkungan pengendapan mula-mula pada saat Paleogen itu non-marin,
terutama fluviatil, kipas aluvial dan endapan danau yang dangkal.
Di Kalimantan bagian tenggara, pengendapan batu bara terjadi sekitar Eosen Tengah - Atas
namun di Sumatera umurnya lebih muda, yakni Eosen Atas hingga Oligosen Bawah. Di
Sumatera bagian tengah, endapan fluvial yang terjadi pada fase awal kemudian ditutupi oleh
endapan danau (non-marin).[3] Berbeda dengan yang terjadi di Kalimantan bagian tenggara
dimana endapan fluvial kemudian ditutupi oleh lapisan batu bara yang terjadi pada dataran
pantai yang kemudian ditutupi di atasnya secara transgresif oleh sedimen marin berumur
Eosen Atas.[4]
Endapan batu bara Eosen yang telah umum dikenal terjadi pada cekungan berikut: Pasir
dan Asam-asam (Kalimantan Selatan dan Timur), Barito (Kalimantan Selatan), Kutai Atas
(Kalimantan Tengah dan Timur), Melawi dan Ketungau (Kalimantan Barat), Tarakan
(Kalimantan Timur), Ombilin (Sumatera Barat) dan Sumatera Tengah (Riau).
2.2.2 Endapan Batubara Miosen
Pada Miosen Awal, pemekaran regional Tersier Bawah - Tengah pada Paparan Sunda telah
berakhir. Pada Kala Oligosen hingga Awal Miosen ini terjadi transgresi marin pada kawasan
yang luas dimana terendapkan sedimen marin klastik yang tebal dan perselingan sekuen
batugamping. Pengangkatan dan kompresi adalah kenampakan yang umum pada tektonik
Neogen di Kalimantan maupun Sumatera. Endapan batu bara Miosen yang ekonomis
terutama terdapat di Cekungan Kutai bagian bawah (Kalimantan Timur), Cekungan Barito
(Kalimantan Selatan) dan Cekungan Sumatera bagian selatan. Batu bara Miosen juga secara
ekonomis ditambang di Cekungan Bengkulu.
Batu bara ini umumnya terdeposisi pada lingkungan fluvial, delta dan dataran pantai yang
mirip dengan daerah pembentukan gambut saat ini di Sumatera bagian timur. Ciri utama
lainnya adalah kadar abu dan belerang yang rendah. Namun kebanyakan sumberdaya batu
bara Miosen ini tergolong sub-bituminus atau lignit sehingga kurang ekonomis kecuali jika
sangat tebal (PT Adaro) atau lokasi geografisnya menguntungkan. Namun batu bara Miosen
di beberapa lokasi juga tergolong kelas yang tinggi seperti pada Cebakan Pinang dan Prima

(PT KPC), endapan batu bara di sekitar hilir Sungai Mahakam, Kalimantan Timur dan
beberapa lokasi di dekat Tanjungenim, Cekungan Sumatera bagian selatan.
2.3 Gasifikasi Batubara
Coal gasification adalah sebuah proses untuk mengubah batu bara padat menjadi gas batu
bara yang mudah terbakar (combustible gases), setelah proses pemurnian gas-gas ini karbon
monoksida (CO), karbon dioksida (CO2), hidrogen (H), metan (CH4), dan nitrogen (N2)
dapat digunakan sebagai bahan bakar. hanya menggunakan udara dan uap air sebagai
reacting-gas kemudian menghasilkan water gas atau coal gas, gasifikasi secara nyata
mempunyai tingkat emisi udara, kotoran padat dan limbah terendah.
Tetapi, batu bara bukanlah bahan bakar yang sempurna. Terikat di dalamnya adalah sulfur
dan nitrogen, bila batu bara ini terbakar kotoran-kotoran ini akan dilepaskan ke udara, bila
mengapung di udara zat kimia ini dapat menggabung dengan uap air (seperti contoh kabut)
dan tetesan yang jatuh ke tanah seburuk bentuk asam sulfurik dan nitrit, disebut sebagai
"hujan asam" acid rain. Disini juga ada noda mineral kecil, termasuk kotoran yang umum
tercampur dengan batu bara, partikel kecil ini tidak terbakar dan membuat debu yang
tertinggal di coal combustor, beberapa partikel kecil ini juga tertangkap di putaran
combustion gases bersama dengan uap air, dari asap yang keluar dari cerobong beberapa
partikel kecil ini adalah sangat kecil setara dengan rambut manusia.
2.4 Pembersihan Batu Bara
Batubara ini dibersihan untuk mengurai bahan2 yang mnempel pada batu bara yang
membuat batu bara tersebut menjadi kurang baik dipakai sebagai bahan bakar. Dengan
pembersihan ini, juga bertujuan agar dampak yang ditimbulkan dari pemakaian batubara
sebagai bahan bakar menjadi lebih terkendali. Bahan-bahan yang hendak dibersihkan dari
batubara antara lain:
2.4.1 Sulfur
sulfur adalah zat kimia kekuningan yang ada sedikit di batu bara, pada beberapa batu bara
yang ditemukan di Ohio, Pennsylvania, West Virginia dan Eastern States lainnya, sulfur
terdiri dari 3 sampai 10 % dari berat batu bara, beberapa batu bara yang ditemukan di
Wyoming, Montana dan negara-negara bagian sebelah barat lainnya sulfur hanya sekitar

1/100ths (lebih kecil dari 1%) dari berat batu bara. Penting bahwa sebagian besar sulfur ini
dibuang sbelum mencapai cerobong asap.
Satu cara untuk membersihkan batu bara adalah dengan cara mudah memecah batu bara ke
bongkahan yang lebih kecil dan mencucinya. Beberapa sulfur yang ada sebagai bintik kecil di
batu bara disebut sebagai "pyritic sulfur " karena ini dikombinasikan dengan besi menjadi
bentuk iron pyrite, selain itu dikenal sebagai "fool's gold dapat dipisahkan dari batu bara.
Secara khusus pada proses satu kali, bongkahan batu bara dimasukkan ke dalam tangki besar
yang terisi air , batu bara mengambang ke permukaan ketika kotoran sulfur tenggelam.
Fasilitas pencucian ini dinamakan "coal preparation plants" yang membersihkan batu bara
dari pengotor-pengotornya.
Tidak semua sulfur bisa dibersihkan dengan cara ini, bagaimanapun sulfur pada batu bara
adalah secara kimia benar-benar terikat dengan molekul karbonnya, tipe sulfur ini disebut
"organic sulfur," dan pencucian tak akan menghilangkannya. Beberapa proses telah dicoba
untuk mencampur batu bara dengan bahan kimia yang membebaskan sulfur pergi dari
molekul batu bara, tetapi kebanyakan proses ini sudah terbukti terlalu mahal, ilmuan masih
bekerja untuk mengurangi biaya dari prose pencucian kimia ini.
Kebanyakan pembangkit tenaga listrik modern dan semua fasilitas yang dibangun setelah
1978 telah diwajibkan untuk mempunyai alat khusus yang dipasang untuk membuang
sulfur dari gas hasil pembakaran batu bara sebelum gas ini naik menuju cerobong asap. Alat
ini sebenarnya adalah "flue gas desulfurization units," tetapi banyak orang menyebutnya
"scrubbers" karena mereka men-scrub (menggosok) sulfur keluar dari asap yang
dikeluarkan oleh tungku pembakar batu bara.
2.4.2 NOx (Nitrogen Oxida)
Nitrogen secara umum adalah bagian yang besar dari pada udara yang dihirup, pada
kenyataannya 80% dari udara adalah nitrogen, secara normal atom-atom nitrogen
mengambang terikat satu sama lainnya seperti pasangan kimia, tetapi ketika udara dipanaskan
seperti pada nyala api boiler (3000 F=1648 C), atom nitrogen ini terpecah dan terikat dengan
oksigen, bentuk ini sebagai nitrogen oksida atau kadang kala itu disebut sebagai NOx. NOx
juga dapat dibentuk dari atom nitrogen yang terjebak di dalam batu bara.
Di udara, NOx adalah polutan yang dapat menyebabkan kabut coklat yang kabur yang
kadang kala terlihat di seputar kota besar, juga sebagai polusi yang membentuk acid rain

(hujan asam), dan dapat membantu terbentuknya sesuatu yang disebut ground level ozone,
tipe lain dari pada polusi yang dapat membuat kotornya udara.
Salah satu cara terbaik untuk mengurangi NOx adalah menghindari dari bentukan asalnya,
beberapa cara telah ditemukan untuk membakar batu bara di pemabakar dimana ada lebih
banyak bahan bakar dari pada udara di ruang pembakaran yang terpanas. Di bawah kondisi
ini kebanyakan oksigen terkombinasikan dengan bahan bakar daripada dengan nitrogen.
Campuran pembakaran kemudian dikirim ke ruang pembakaran yang kedua dimana terdapat
proses yang mirip berulang-ulang sampai semua bahan bakar habis terbakar. Konsep ini
disebut "staged combustion" karena batu bara dibakar secara bertahap. Kadang disebut juga
sebagai "low-NOx burners" dan telah dikembangkan sehingga dapat mengurangi kangdungan
Nox yang terlepas di uadara lebih dari separuh. Ada juga teknologi baru yang bekerja seperti
"scubbers" yang membersihkan NOX dari flue gases (asap) dari boiler batu bara. Beberapa
dari alat ini menggunakan bahan kimia khusus yang disebut katalis yang mengurai bagian
NOx menjadi gas yang tidak berpolusi, walaupun alat ini lebih mahal dari "low-NOx
burners," namun dapat menekan lebih dari 90% polusi Nox.
2.5 Cadangan Batu Bara Dunia

Daerah batu bara di Amerika Serikat

Pada tahun 1996 diestimasikan terdapat sekitar satu exagram (1 1015 kg atau 1 trilyun
ton) total batu bara yang dapat ditambang menggunakan teknologi tambang saat ini,
diperkirakan setengahnya merupakan batu bara keras. Nilai energi dari semua batu bara dunia
adalah 290 zettajoules. Dengan konsumsi global saat ini adalah 15 terawatt,[7] terdapat cukup
batu bara untuk menyediakan energi bagi seluruh dunia untuk 600 tahun.
British Petroleum, pada Laporan Tahunan 2006, memperkirakan pada akhir 2005, terdapat
909.064 juta ton cadangan batu bara dunia yang terbukti (9,236 1014 kg), atau cukup untuk
155 tahun (cadangan ke rasio produksi). Angka ini hanya cadangan yang diklasifikasikan
terbukti, program bor eksplorasi oleh perusahaan tambang, terutama sekali daerah yang di
bawah eksplorasi, terus memberikan cadangan baru.
Departemen Energi Amerika Serikat memperkirakan cadangan batu bara di Amerika
Serikat sekitar 1.081.279 juta ton (9,81 1014 kg), yang setara dengan 4.786 BBOE (billion
barrels of oil equivalent).

Cadangan batu bara dunia pada akhir 2005 (dalam juta ton)
Negara

Bituminus

Sub-bituminus

Lignit

TOTAL

115.891

101.021

33.082 249.994

Rusia

49.088

97.472

10.450 157.010

Tiongkok

62.200

33.700

18.600 114.500

India

82.396

Australia

42.550

Jerman

23.000

43.000 66.000

Afrika

49.520

49.520

(termasuk antrasit)
Amerika
Serikat

2.000
1.840

84.396

37.700 82.090

Selatan
Ukraina

16.274

Kazakhstan 31.000

15.946

1.933

34.153

3.000

34.000

Polandia

20.300

Serbia dan

64

1.860
1.460

22.160

14.732 16.256

Montenegro
Brasil

11.929

11.929
6.648

Kolombia

6.267

381

Kanada

3.471

871

2.236

6.578

Ceko

2.114

3.414

150

5.678

Indonesia

790

1.430

3.150

5.370

Botswana

4.300

Uzbekistan

1.000

Turki

278

4.300

761

Yunani
Bulgaria

13

Pakistan

233

3.000

4.000

2.650

3.689

2.874

2.874

2.465

2.711

2.265

Iran

1.710

Britania

1.000

2.265
1.710
500

1.500

1.421

1.457

1.268

1.268

51

1.211

Raya
Rumania

35

Thailand
Meksiko

860

300

Chili

31

1.150

Hongaria
Peru

80
960

Kirgizstan
Jepang

773

Spanyol

200

400

Korea

300

300

33

206

1.181
1.017

1.097

100

1060

812

812
773

60

660
600

Utara
333

572

Zimbabwe

502

502

Belanda

497

497

Venezuela

479

479

Argentina

430

430

Filipina

232

100

332

Slovenia

40

235

275

Mozambik

212

212

Swaziland

208

208

Tanzania

200

200

Nigeria

21

Greenland

169

190

183

183

Slowakia

172

172

Vietnam

150

150

Republik

88

88

78

78

Niger

70

70

Afganistan

66

66

Aljazair

40

40

Kroasia

33

39

Portugal

33

36

Perancis

22

14

36

34

Austria

25

25

Ekuador

24

24

Kongo
Korea
Selatan

Italia

27

Mesir
Irlandia

22
14

22
14

Zambia

10

10

Malaysia

Republik

Afrika
Tengah
Myanmar

Malawi
Kaledonia

Nepal

Bolivia

Baru

Norwegia
Taiwan

1
1

Swedia

Negara pengekspor batu bara utama


Pengekspor batu bara berdasarkan negara dan tahun
(dalam juta ton)[13]
Negara

2003

2004

Australia

238,1

247,6

Amerika

43,0

48,0

Serikat

Afrika

78,7

74,9

Uni Soviet

41,0

55,7

Polandia

16,4

16,3

Kanada

27,7

28,8

Tiongkok

103,4

95,5

Amerika

57,8

65,9

Indonesia

200,8

131,4

Total

713,9

764,0

Selatan

Selatan

2.7 Dampak Penambangan Batubara Terhadap Lingkungan


Seperti yang diketahui, pertambangan batubara juga telah menimbulkan dampak
kerusakan lingkungan hidup yang cukup parah, baik itu air, tanah, udara, dan hutan.
2.7.1 Air
Penambangan batubara secara langsung menyebabkan pencemaran air, yaitu dari limbah
pencucian batubara tersebut dalam hal memisahkan batubara dengan sulfur. Limbah
pencucian tersebut mencemari air sungai sehingga warna air sungai menjadi keruh, asam, dan
menyebabkan pendangkalan sungai akibat endapan pencucian batubara tersebut. Limbah
pencucian batubara setelah diteliti mengandung zat-zat yang sangat berbahaya bagi kesehatan
manusia jika airnya dikonsumsi. Limbah tersebut mengandung belerang (b), merkuri (Hg),
asam slarida (HCn), mangan (Mn), asam sulfat (H2SO4), dan timbal (Pb). Hg dan Pb
merupakan logam berat yang dapat menyebabkan penyakit kulit pada manusia seperti kanker
kulit.
2.7.2 Tanah
Tidak hanya air yang tercemar, tanah juga mengalami pencemaran akibat pertambangan
batubara ini, yaitu terdapatnya lubang-lubang besar yang tidak mungkin ditutup kembali yang
menyebabkan terjadinya kubangan air dengan kandungan asam yang sangat tinggi. Air
kubangan tersebut mengadung zat kimia seperti Fe, Mn, SO4, Hg dan Pb. Fe dan Mn dalam

jumlah banyak bersifat racun bagi tanaman yang mengakibatkan tanaman tidak dapat
berkembang dengan baik. SO4 berpengaruh pada tingkat kesuburan tanah dan PH tanah,
akibat pencemaran tanah tersebut maka tumbuhan yang ada diatasnya akan mati.
2.7.3 Udara
Penambangan batubara menyebabkan polusi udara, hal ini diakibatkan dari pembakaran
batubara. Menghasilkan gas nitrogen oksida yang terlihat cokelat dan juga sebagai polusi
yang membentuk acid rain (hujan asam) dan ground level ozone, yaitu tipe lain dari polusi
yang

dapat

membuat

kotor

udara.

Selain itu debu-debu hasil pengangkatan batubara juga sangat berbahaya bagi kesehatan,
yang dapat menyebabkan timbulnya penyakit infeksi saluran pernafasan (ISPA), dan dalam
jangka panjang jika udara tersebut terus dihirup akan menyebabkan kanker, dan kemungkinan
bayi lahir cacat.
2.7.4 Hutan
Penambangan batubara dapat menghancurkan sumber-sumber kehidupan rakyat karena
lahan pertanian yaitu hutan dan lahan-lahan sudah dibebaskan oleh perusahaan. Hal ini
disebabkan adanya perluasan tambang sehingga mempersempit lahan usaha masyarakat,
akibat perluasan ini juga bisa menyebabkan terjadinya banjir karena hutan di wilayah hulu
yang semestinya menjadi daerah resapan aitr telah dibabat habis. Hal ini diperparah oleh
buruknya tata drainase dan rusaknya kawan hilir seperti hutan rawa.
2.7.5 Laut
Pencemaran air laut akibat penambangan batubara terjadi pada saat aktivitas bongkar muat
dan tongkang angkut batubara. Selain itu, pencemaran juga dapat mengganggu kehidupan
hutan mangrove dan biota yang ada di sekitar laut tersebut.

2.8 Usaha Mengurangi Dampak Pertambangan


Usaha yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak pertambangan batubara adalah
sebagai berikut :
2.8.1 Penghentian penggunaan jalan umum untuk aktivitas angkutan batubara mesti ada ketegasan
pemerintah daerah untuk menyetop dan menindak tegas setiap penguasaha aktivitas

pertambangan ilegal yang selama ini semakin menjamur dan penurunan terhadap dampak
kerusakan lingkungan dan sosial yang ditimbulkannya.
2.8.2 Tidak mengeluarkan perizinan baru agar tidak menambah semrawutnya pengelolaan sumber
daya alam tambang batubara, saat ini hal yang paling mudah dan sangat mungkin untuk
dilakukan adalah dengan tidak mengeluarkan izin baru lagi. Sehingga memudahkan untuk
melakukan monitoring terhadap pertambangan batubara yang ada.
2.8.3 Penghentian pertambangan batubara ilegal secara total, pemerintah harus melakukan
penghentian pertambangan batubara ilegal secara tegas tanpa padang bulu dan transparan.
2.8.4 Penghentian bisnis yayasan dan koperasinya TNI POLRI
2.8.5 Evaluasi perizinan yang telah diberikan, dan lakukan audit lingkungan semua usaha
pertambangan batubara.
2.8.6 Meninggikan standar kualitas pengelolaan lingkungan hidup dan komitmen untuk kelestarian
lingkungan hidup.
2.8.7 Pelembagaan konflik untuk menyelesaikan persengketaan rakyat dengan perusahaan
pertambangan agar tercapai solusi yang memuaskan berbagai pihak.
2.8.8 Menyusun kebijakan strategi pengelolaan sumber daya alam tambang.
2.8.9 Setiap perusahaan diwajibkan mereklamasi bekas-bekas penambangan dan menjamin serta
memastikan hasil reklamasi tersebut sesuai AMDAL. Dan pihak pemerintah harus
mengawasi jalannya proses reklamasi tersebut, sehingga benar-benar yakin kalau proses
reklamasi berjalan dengan baik dan menampakkan hasil.
2.8.10 Menggunakan alat-alat penambangan dengan berteknologi tinggi sehingga meminimalisasi
dampak lingkungan serta memperkecil angka kecelakaan dalam pertambangan batubara
tersebut.

BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN

Batubara adalah bahan galian yang terbentuk dari sisa tumbuhan sebagai bahan bakar. Materi
pembentuk Batubara adalah Alga, Silofita, Pteridofita, Gimnospermae, dan Angiospermae.
Kelas dan Jenis batubara yaitu :
1. Antrasit
2. Bituminus
3. Sub bituminus
4. Lignit
5. Gambut
Pembentukan batubara dapat terjadi secara diagnetik atau biokimia dan tahap malihan atau
geokimia. Sumber daya batubara di Indonesia jumlahnya sangat melimpah seperti di
Kalimantan Selatan yang cukup untuk pasokan energi beberapa tahun kedepan.
Gasifikasi Batubara adalah sebuah proses untuk merubah batubara padat menjadi gas
batubara yang mudah terbakar. Pembersihan batubara dapat dilakukan dengan memcahnya
menjadi bongkahan-bongkahan kecil dan dicuci dengan air didalam sbuah tangki besar.
Membuang Nox dari batubara dapat dilakukan dengan cara staged Combustion. Dampak
penambangan batubara adalah kerusakan terhadap lingkungan yaitu air, udara, tanah, hutan
dan laut. Usaha mengurangi dampak pertambangan bisa di upayakan oleh pemerintah
maupun pihak perusahaan.
3.2 SARAN
Agar pemerintah lebih mengoptimalkan dan mensosialisasikan tentang AMDAL, sehingga
para penambang lebih memperhatikan dampak lingkungan dari pada keuntungan semata.
Diharap juga pemerintah lebih tegas menindak para penambang yang terbukti melanggar
peraturan penambangan agar para penambang terutama perusahaan-perusahaan menggunakan
teknologi yang ramah lingkungan sehingga dapat meminimalkan dampak lingkungan dan
resiko kecelakaan. Diharap dengan penambang yang bertanggung jawab terhadap reklamasi
lahan bekas penambangan, sehingga pada akhirnya tidak mengganggu keseimbangan
lingkungan.