Anda di halaman 1dari 18

 

BENDAHARA DAN KEWAJIBANNYA MEMUNGUT PAJAK
I.

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penyelenggaraan

pemerintahan

negara

guna

mewujudkan

tujuan

bernegara harus dilakukan dalam suatu sistem pengelolaan keuangan negara
secara profesional, terbuka, dan bertanggung jawab yang diwujudkan dalam
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan Anggaran Pendapatan
dan Belanja Daerah (APBD).
Sejalan dengan perkembangan kebutuhan pengelolaan keuangan negara,
dirasakan semakin pentingnya fungsi perbendaharaan dalam rangka pengelolaan
sumber daya keuangan pemerintah secara efisien. Fungsi perbendaharaan
tersebut meliputi, terutama, perencanaan kas yang baik, pencegahan agar
jangan

sampai

terjadi

kebocoran

dan

penyimpangan,

pencarian

sumber

pembiayaan yang paling murah dan pemanfaatan dana yang menganggur (idle
cash) untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya keuangan.
Pihak yang sangat berperan dalam melaksanakan fungsi perbendaharaan
tentunya adalah Bendahara. Bendahara adalah setiap orang atau badan yang
diberi tugas untuk dan atas nama negara/daerah, menerima, menyimpan, dan
membayar/menyerahkan

uang

negara/daerah.1

menjalankan

Selain

atau

surat

berharga

fungsi

atau

barang-barang

perbendaharaan,

salah

satu

kewajiban Bendahara adalah melakukan pemotongan/pemungutan pajak.
Pajak adalah kegiatan membayar sejumlah uang kepada negara yang
diatur oleh undang-undang yang berlaku dan merupakan salah satu sumber
penerimaan utama negara untuk membiayai pembangunan baik fisik maupun
non fisik. Pajak merupakan salah satu pendapatan negara yang langsung
dipungut dari berbagai objek pajak dan mempunyai fungsi penting antara lain
untuk

membiayai

masyarakatnya.

pembangunan

Oleh

karena

itu,

negara
dapat

guna

menjamin

dikatakan

bahwa

kesejahteraan
Bendaharawan

mempunyai peranan penting dalam pelaksanaan pembangunan nasional.
Dalam kajian ini akan dibahas lebih jauh tentang salah satu kewajiban
Bendahara yaitu pemotongan/pemungutan pajak. Khususnya yang terkait
dengan pajak-pajak apa sajakah yang harus dipungut oleh Bendaharawan.

                                                            
1

 Pasal 1 Angka 14 UU Nomor 1 Tahun 2004. 


Infokum ‐ Ditama Binbangkum

kita mengenal banyak sekali jenis-jenis pajak seperti Pajak Penghasilan (PPh). PERMASALAHAN 1. terdapat 2 (dua) pihak yang berwenang untuk melakukan pemungutan/pemotongan pajak yaitu pihak Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. PEMBAHASAN 1. Pajak-pajak apa sajakah yang dipungut oleh Bendaharawan? III.pajak. Dalam pengelompokan ini. Pajak negara/pajak pusat meliputi : a. sebagaimana telah diubah beberapa kali dan terkahir dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 Tentang Pajak Penghasilan. Pajak Pertambahan Nilai (PPn) dan lain sebagainya.id  3 2  Infokum ‐ Ditama Binbangkum . Pemungutan pajak negara menjadi tanggung jawab dari Kementerian Keuangan yang dalam hal ini dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pajak (DJP) dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC). Apakah dasar hukum bendaharawan dalam memungut pajak? 2. Jenis pajak yang dikelompokkan berdasarkan hal tersebut terbagi menjadi3 : 1. maka dikelompokkan pajak-pajak tersebut ke dalam beberapa kelompok antara lain salah satunya berdasarkan pihak yang melakukan pemungutan. dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.2 Di Indonesia.  II. Untuk mempermudah dalam mengetahui sifat-sifat pajak tersebut. Dasar Hukum Bandaharawan Dalam Memungut Pajak A.   www. Pajak Negara Pajak negara merupakan pajak yang dipungut oleh pemerintah pusat.go.                                                              2  Pasal 1 Ayat (1) UU Nomor 28 Tahun 2007. Sekilas Tentang Pajak Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang. sehingga sering disebut sebagai pajak pusat. Pajak penghasilan (PPh) Dasar hukum dari pajak penghasilan adalah Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1984 tentang Pajak Penghasilan.

7) Undang-Undang Nomor 11 Prp. l. yaitu : 1) Ordonasi Pajak Rumah Tangga 1908 2) Ordonasi Verponding Indonesia 1923 3) Ordonasi Pajak Kekayaan tahun 1932 4) Ordonasi Verponding Indonesia tahun 1928 5) Ordonasi pajak yahun 1942 6) Undang-Undang Darurat Nomor 11 Tahun 1957 khususnya pasal 14 huruf j. d. Tahun 1959 Pajak Hasil Bumi. Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Pajak Penjualan Atas Penjualan Barang Mewah (dan PPnBM) Dasar hukum pengenaan PPN dan PPnBM adalah Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang Dan Jasa Dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah yang beberapa kali telah diubah terakhir Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2009 tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 Tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang Dan Jasa Dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah. Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) Dasar hukum dari PBB adalah Undang-undang no 12 1985 yang telah diganti dengan Undang-undang No. k. Undang-undang PBB berlaku mulai tanggal 1 Januari 1986 dan merupakan pengganti dari beberapa undang-undang. c. 12 tahun 1994. 3  Infokum ‐ Ditama Binbangkum . Rencana peralihan pengelolaan pemeberlakuan pajak PBB P2 dan PBHTB sesuai Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) yang direncanakan mulai per 1 Januari 2011 untuk PBHTB dan awal Januari 2014 untuk PBBP2. Bea Materai Dasar hukum pengenaan Bea Materai adalah Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1985 tentang Bea Meterai. Dengan dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) Pemerintah Daerah wajib mengambil alih pengelolaan Pajak Bumi dan Bangunan Pedesaan dan Perkotaan (PBBP2) dan Pajak Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (PBPHTB).  b.

Bea perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan ( BPHTP) Dasar hukumnya adalah Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1997 sebagaimana telah diganti dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2000. Dalam pajak daerah ruang lingkup pemungutannya dibagi menjadi 2 (dua). Pajak provinsi dipungut oleh pemerintah di tingkat provinsi. yang menjadi wajib pajak adalah orang pribadi atau badan yang menurut ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan daerah diwajibkan untuk melakukan pembayaran pajak yang terutang. terdiri dari : 1) Pajak Hotel 2) Pajak Restoran 3) Pajak Hiburan 4) Pajak Reklame 4  Infokum ‐ Ditama Binbangkum . yang dapat dipaksakan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pajak Provinsi. Pajak daerah merupakan iuran wajib yang dilakukan oleh orang pribadi atau badan kepada daerah tanpa imbalan langsung yang dapat ditunjuk. 2. Dalam pajak daerah. Undang-undang BPHTP berlaku sejak tanggal 1 januari 1998 menggantikan Ordonasi Bea Balik Nama Staatsblad 1924 No. yaitu : a. Ruang lingkup dari pemungutan pajak daerah sendiri tidak sama dengan ruang lingkup pemungutan pajak negara. Pajak Daerah Menurut undang-undang. Sedangkan masa pajakanya adalah jangka waktu yang lamanya 1 bulan takwim atau jangka waktu lain yang ditetapkan dengan keputusan kepala daerah. Pajak Kabupaten/Kota. Yang termasuk sebagai pajak propinsi antara lain sebagai berikut : 1) Pajak kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air 2) Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air 3) Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor 4) Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan b.  e. yang digunakan untuk membiayayai penyelenggaraan pemerintah daerah dan pembangunan daerah yang bertujuan untuk mensejahterakan rakyat. termasuk pemungut atau pemotong pajak tertentu. 291.

Contohnya: 1) Dengan mengatur hak dan kewajiban para wajib pajak 2) Pajak diberlakukan bagi setiap warga negara yang memenuhi syarat sebagai wajib pajak 3) Sanksi atas pelanggaran pajak diberlakukan secara umum sesuai dengan berat ringannya pelanggaran 2. Pajak. Pajak dan pungutan yang bersifat untuk keperluan negara diatur dengan Undang-Undang.   Perubahan Ketiga UUD 1945 pasal 23A. Agar tidak menimbulkan berbagai masalah. perdagangan. jangan sampai merugikan kepentingan masyarakat dan menghambat lajunya usaha                                                              4  Wikipedia Ensiklopedia Bebas.  5 5  Infokum ‐ Ditama Binbangkum .  5) Pajak Penerangan Jalan 6) Pajak Pengambilan Bahan Galian Golongan C 7) Pajak Parkir 8) Pajak Lain-lain Namun. Pemungutan pajak harus adil Seperti halnya produk hukum pajak pun mempunyai tujuan untuk menciptakan keadilan dalam hal pemungutan pajak. maka pemungutan pajak harus memenuhi persyaratan yaitu:4 1. Pungutan pajak tidak mengganggu perekonomian Pemungutan pajak harus diusahakan sedemikian rupa agar tidak mengganggu kondisi perekonomian. Bila terlalu tinggi.5 ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penyusunan UU tentang pajak. maupun jasa. Adil dalam perundang-undangan maupun adil dalam pelaksanaannya. Pengaturan pajak harus berdasarkan UU Sesuai dengan UUD 1945. Namun bila terlalu rendah. baik Pemungutan kegiatan pajak produksi. masyarakat akan enggan membayar pajak. tidaklah mudah untuk membebankan pajak pada masyarakat. maka pembangunan tidak akan berjalan karena dana yang kurang. yaitu:  Pemungutan pajak yang dilakukan oleh negara yang berdasarkan UU tersebut harus dijamin kelancarannya  Jaminan hukum bagi para wajib pajak untuk tidak diperlakukan secara umum  Jaminan hukum akan terjaganya kerahasiaan bagi para wajib pajak 3.

orang akan semakin enggan membayar pajak.  6  Infokum ‐ Ditama Binbangkum . Sistem yang sederhana akan memudahkan wajib pajak dalam menghitung beban pajak yang harus dibiayai sehingga akan memberikan dapat positif bagi para wajib pajak untuk meningkatkan kesadaran dalam pembayaran pajak. sistem pemungutan pajak harus sederhana dan mudah untuk dilaksanakan. Dengan demikian. terutama masyarakat kecil dan menengah. 4. Jangan sampai pajak yang diterima lebih rendah daripada biaya pengurusan pajak tersebut.                                                              6  Pasal 1 Angka 1 UU Nomor 1 Tahun 2004. wajib pajak tidak akan mengalami kesulitan dalam pembayaran pajak baik dari segi penghitungan maupun dari segi waktu. Sebaliknya. 5. Contoh:  Bea materai disederhanakan dari 167 macam tarif menjadi 2 macam tarif  Tarif PPN yang beragam disederhanakan menjadi hanya satu tarif. Sekilas Tentang Perbendaharaan Negara di Indonesia Perbendaharaan Negara adalah pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan negara.  masyarakat pemasok pajak.6 Di Indonesia perihal perbandaharaan negara telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. Oleh karena itu. Pemungutan pajak harus efesien Biaya-biaya yang dikeluarkan dalam rangka pemungutan pajak harus diperhitungkan. jika sistem pemungutan pajak rumit. yaitu 10%  Pajak perseorangan untuk badan dan pajak pendapatan untuk perseorangan disederhanakan menjadi Pajak Penghasilan (PPh) yang berlaku bagi badan maupun perseorangan (pribadi) B. yang ditetapkan dalam APBN dan APBD. termasuk investasi dan kekayaan yang dipisahkan. Sistem pemungutan pajak harus sederhana Bagaimana pajak dipungut akan sangat menentukan keberhasilan dalam pungutan pajak.

Tambahan Lembaran Negara Nomor 2860).  Dalam undang-undang tersebut Bendahara didefinisikan sebagai setiap orang atau badan yang diberi tugas untuk dan atas nama negara/daerah. ekonomi. dan teknologi. menyimpan. sampai dengan saat ini. Kelemahan-kelemahan tersebut sebenarnya memang sudah dirasakan sebelumnya. terakhir dengan Undang-undang Nomor 9 Tahun 1968 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1968 Nomor 53. antara lain :  kelemahan di bidang peraturan perundang-undangan.  7  Infokum ‐ Ditama Binbangkum . kaidahkaidah keuangan negara masih didasarkan pada ketentuan tersebut. tetapi penggunaannya masih dilakukan karena solusi yang ditemukan masih bersifat parsial. Seiring dengan perkembangan zaman undang-undang tersebut kemudian diubah. menerima. Kelemahan yang ada dalam aturan lama ditutup dengan membuat aturan baru yang dibuat khusus untuk mengganti                                                              7  Pasal 1 Angka 14 UU Nomor 1 Tahun 2004.  kelemahan di bidang perencanaan dan penganggaran. Oleh karena itu. meski secara formal paket perundangan peninggalan Belanda tersebut masih berlaku. berharga atau dan membayar/menyerahkan negara/daerah. Sebelum dikeluarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 sistem perbendaharaan peninggalan negara kolonial masih belanda menggunakan yaitu ketentuan Undang-undang perundangan Perbendaharaan Indonesia/Indische Comptabiliteitswet (ICW) Staatsblad Tahun 1925 Nomor 448.7 barang-barang uang atau Undang-undang surat tentang Perbendaharaan Negara ini dimaksudkan untuk memberikan landasan hukum di bidang administrasi keuangan negara. Beberapa hal yang menjadi dasar diberlakukan peraturan perundangundangan yang baru sebagai pengganti peraturan perundang-undangan Belanda yang lama adalah adanya beberapa kelemahan yang timbul dari perangkat perundangan-undangan lama tersebut.  kelemahan di bidang perbendaharaan.  kelemahan di bidang auditing. Namun. Peraturan perundangan yang lama tersebut tidak lagi dipakai karena dianggap tidak lagi mampu mengikuti dinamika perkembangan kenegaraan di Indonesia apalagi untuk memenuhi kebutuhan pengelolaan keuangan negara yang sesuai dengan tuntutan perkembangan demokrasi. tetapi secara materiil sebagian dari ketentuan lama tidak lagi digunakan.

   Pasal 1 Angka 15 UU Nomor 1 Tahun 2004.menatausahakan. yang terbadi menjadi 2 (dua) yaitu : a. adalah orang yang ditunjuk untuk menyimpan.  12  Pasal 9 Ayat (1) UU Nomor 1 Tahun 2004.12 2. menyetorkan. pendapatan negara/daerah dan dalam rangka pelaksanaan APBN/APBD pada kantor/satuan kerja kementerian negara/lembaga/pemerintah daerah.9 Dalam hal ini yang bertindak sebagai Bendahara Umum Negara adalah Menteri 10 Keuangan. menyimpan.11 Dalam hal ini yang bertindak sebagai Bendahara Umum Negara adalah Kepala Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah. menyimpan. Aturan yang lama masih tetap berlaku. Bendahara Umum Daerah adalah pejabat yang diberi tugas untuk melaksanakan fungsi bendahara umum daerah.membayarkan.  11  Pasal 1 Angka 16 UU Nomor 1 Tahun 2004. Bendahara Umum Negara adalah pejabat yang diberi tugas untuk melaksanakan fungsi bendahara umum negara. mempertanggungjawabkan uang menatausahakan. Bendahara Penerimaan adalah orang yang ditunjuk untuk menerima.  pasal dari aturan lama yang menyebabkan kelemahan. atau kertas-kertas berharga dan barang-barang didalam gudang-gudang atau tempat-tempat penyimpanan yang lain sebagai dimaksud dalam pasal 55 ICW dan selaku demikian diwajibkan memberi perhitungan (pertanggungjawaban) tentang hal pengurusannya kepada 8 Badan Pemeriksa Keuangan”. b.  9 8  Infokum ‐ Ditama Binbangkum . ICW yang hingga kini masih merupakan acuan dalam pengurusan kebendaharaan (comptabel beheer) menyatakan bahwa yang dimaksud dengan comptable adalah orang-orang dan badan-badan yang karena negara ditugaskan untuk menerima. Bendahara umum. Bendaharawan Pengeluaran menerima. membayar (mengeluarkan) atau menyerahkan uang.13 3.dan mempertanggungjawabkan uang untuk keperluan belanja negara/daerah                                                              8  ICW Pasal 77 ayat 1.  10  Pasal 7 Ayat (1) UU Nomor 1 Tahun 2004. bendahara digolongkan dalam 3 (tiga) golongan yaitu : 1.  13  Pasal 1 Angka 17 UU Nomor 1 Tahun 2004. Dalam Undang-Undang Perbendaharaan Negara. tetapi khusus untuk pasal yang diamandemenkan berlaku ketentuan yang baru.

  15 9  Infokum ‐ Ditama Binbangkum . wajib dilakukan oleh Bendahara Pemerintah yang membayar gaji.   Pengumuman Dirjen Pajak Nomor Peng‐05/PJ. 2) UU Nomor 7 tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah diubah terakhir dengan UU Nomor 36 tahun 2008. Dan Dalam Daerah pengumuman Untuk Melakukan tersebut diingatkan kembali kepada setiap Bendahara Pemerintah Pusat dan Daerah di lingkungan Kementerian/Lembaga/Instansi Pemerintah untuk melakukan kewajibannya yaitu : 1. dan 3. a) Pasal 21 ayat (1) huruf b : “Pemotongan. Dasar Hukum a. Atas setiap transaksi yang dananya berasal dari APBN/APBD. Sampai dengan saat ini.”                                                              14  Pasal 1 Angka 18 UU Nomor 1 Tahun 2004. penyetoran dan pelaporan atas penghasilan sehubungan dengan pekerjaan.15 1.  dalam rangka pelaksanaan APBN/APBD pada kantor/satuan kerja kementerian negara/lembaga/pemerintah daerah. Undang-undang 1) UU Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan tata Cara Perpajakan sebagaimana telah diubah terakhir dengan UU nomor 28 tahun 2007. Melakukan pemotongan/pemungutan pajak. Pajak Yang Dipungut Oleh Bandaharawan Dalam melakukan pemungutan pajak tidaklah semudah yang dibayangkan. 2. Melakukan penyetoran pajak ke Bank Persepsi atau Kantor Pos.14 2. Sehingga dikeluarkan Pengumumam Dirjen Pajak Nomor Peng-05/PJ.09/2010. jasa atau kegiatan dengan nama dan dalam bentuk apapun yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri. upah. honorarium tunjangan dan pembayaran lain sehubungan dengan pekerjaan jasa atau kegiatan. masih terjadi ketidaktertiban yang dilakukan baik oleh Bendahara Pemerintah Pusat maupun Daerah. Melakukan pelaporan ke Kantor Pelayanan Pajak sesuai batas waktu yang ditentukan.09/2010 tentang Kewajiban Bendahara Pemerintah Pemotongan/Pemungutan Pusat Pajak.

bentuk usaha tetap. Pasal 1 angka 27 : “Pemungut Pajak Pertambahan Nilai adalah Bendahara Pemerintah Badan atau Instansi Pemerintah yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan untuk memungut.  b) Pasal 22 ayat (1) : Menteri Keuangan dapat menetapkan: a. penyelenggara kegiatan. bentuk usaha tetap. b. yang dibayarkan. dan melaporkan pajak yang terutang oleh Pengusaha Kena Pajak atas penyerahan Barang Kena Pajak dan 10  Infokum ‐ Ditama Binbangkum . dan c. subjek pajak dalam negeri. disediakan untuk dibayarkan. menyetor. 3) UU Nomor 8 tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah sebagaimana telah diubah terakhir dengan UU Nomor 42 tahun 2009. Wajib Pajak badan tertentu untuk memungut pajak dari pembeli atas penjualan barang yang tergolong sangat mewah. disediakan untuk dibayarkan. atau telah jatuh tempo pembayarannya oleh badan pemerintah. d) Pasal 26 ayat (1) Atas penghasilan tersebut di bawah ini. bendahara pemerintah untuk memungut pajak sehubungan dengan pembayaran atas penyerahan barang. dipotong pajak oleh pihak yang wajib membayarkan … dstnya. dengan nama dan dalam bentuk apa pun. atau telah jatuh tempo pembayarannya oleh badan pemerintah. c) Pasal 23 ayat (1) : Atas penghasilan tersebut di bawah ini dengan nama dan dalam bentuk apa pun yang dibayarkan. badan-badan tertentu untuk memungut pajak dari Wajib Pajak yang melakukan kegiatan di bidang impor atau kegiatan usaha di bidang lain. penyelenggara kegiatan. subjek pajak badan dalam negeri. atau perwakilan perusahaan luar negeri lainnya kepada Wajib Pajak luar negeri selain bentuk usaha tetap di Indonesia dipotong pajak sebesar 20% (dua puluh persen) dari jumlah bruto oleh pihak yang wajib membayarkan … dstnya. atau perwakilan perusahaan luar negeri lainnya kepada Wajib Pajak dalam negeri atau bentuk usaha tetap.

3) Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010. f. dipotong oleh bendahara pemerintah yang membayarkan honorarium atau imbalan lain tersebut. Menyetor.” e. dan Pelaporannya. Keputusan Presiden 1) Keputusan Presiden Nomor 42 Tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. 11  Infokum ‐ Ditama Binbangkum . Bendahara yang ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri/Ketua Lembaga sesuai ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 Ayat (3) Keputusan Presiden Nomor 42 tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran Pendapatan Dan Belanja Negara adalah wajib pungut pajak.  atau Penyerahan Jasa Kena Pajak kepada Bendahara Pemerintah Badan atau Instansi Pemerintah tersebut. dan Melaporkan Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah Beserta Tata Cara Pemungutan.” d. Pasal 4 Ayat (1) : “Pajak Penghasilan Pasal 21 yang terutang atas penghasilan selain penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) berupa honorarium atau imbalan lain dengan nama apapun yang menjadi beban APBN atau APBD. 2) Keputuan Presiden Nomor 180 Tahun 2000 tentang Pencabutan Badan-Badan Tertentu Dan Bendaharawan Untuk Memungut Dan Menyetor Pajak Pertambahan Nilai Dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah. Keputusan Menteri Keuangan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 563/KMK. Penyetoran.03/2003 tentang Penunjukan Bendaharawan Pemerintah dan Kantor Perbendaharaan Dan Kas Negara Untuk Memungut. tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah. Peraturan Pemerintah PP Nomor 80 Tahun 2010 tentang Tarif Pemotongan Dan Pengenaan Pajak Penghasilan Pasal 21 Atas Penghasilan Yang Menjadi Beban Anggaran Pendapatan Dan Belanja Negara Atau Anggaran Pendapatan Dan Belanja Daerah.

  2. air minum/PDAM dan benda-benda pos.Fotocopy kartu identitas (KTP.  pembayaran untuk pembelian bahan bakar minyak. Persyaratan untuk mendaftarkan diri sebagai WP adalah: . SIM. dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM). Terkait dengan kewajiban bendaharawan untuk melakukan pemungutan pajak maka pajak-pajak yang harus dipungut oleh bendaharawan baik Pemerintah Pusat maupun Daerah terdiri dari Pajak Penghasilan (PPh).00 (satu juta rupiah) dan tidak merupakan pembayaran yang terpecah-pecah.Fotocopy SK Penunjukan sebagai Bendahara.Fotocopy SK Penunjukan sebagai Bendahara yang baru Apabila Bendaharawan yang telah terdaftar sebagai Wajib Pajak tersebut ternyata institusinya bubar. Paspor) . Paspor) Bendahara baru . SIM.000. pekerjaan. gas. 1. tidak perlu mendaftarkan NPWP baru. dan kegiatan yang diterima Wajib Pajak luar negeri.Mengisi dan menandatangani formulir pendaftaran . Kewajiban Bendaharawan atas PPh Bendaharawan berkewajiban untuk:  memotong PPh Pasal 21 atas pembayaran gaji/honor  memotong PPh Pasal 22 atas pengadaan barang  memotong PPh Pasal 23 atas pengadaan jasa  memotong PPh Pasal 26 atas imbalan jasa. Bendahara Sebagai Pemungut Pajak Bendaharawan Pemerintah yang mengelola dana yang bersumber dari APBN/APBD harus mendaftarkan diri sebagai Wajib Pajak pada Kantor Pelayanan Pajak yang wilayah kerjanya meliputi domisili instansi tempat Bendaharawan tersebut berada. terjadi perubahan organisasi atau proyeknya telah selesai. tetapi memberitahukan kepada KPP dengan melampirkan: . maka dimintakan penghapusan NPWP dengan mengajukan permohonan yang dilampiri dokumen-dokumen pendukungnya.000. Dalam hal terjadi mutasi pegawai yang mengakibatkan bendahara yang bersangkutan diganti oleh pegawai lain. listrik. 12  Infokum ‐ Ditama Binbangkum . Pajak Pertambahan Nilai (PPN).Fotocopy kartu identitas (KTP. Bendaharawan tidak melakukan pemotongan PPh Pasal 22 atas:  pembayaran yang jumlahnya paling banyak Rp 1.

   pembayaran/pencairan dana Jaring Pengaman Sosial (JPS) oleh Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN). Kewajiban Bendaharawan atas PPN&PPnBM Atas pengadaan Barang Kena Pajak (BKP) dan Jasa Kena Pajak (JKP). Bendaharawan tidak melakukan pemungutan PPN & PPnBM atas: 1) Pembayaran yang tidak melebihi Rp. bendaharawan wajib memungut PPN & PPnBM. 2.000..000.03/2001 tentang Perlakuan Pajak Pertambahan Nilai Dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah Atas 13  Infokum ‐ Ditama Binbangkum .termasuk PPN dan PPnBM 2) Untuk Pembebasan Tanah 3) Pembayaran atas BKP/JKP yang menurut ketentuan perundangundangan mendapat fasilitas PPN Tidak Dipungut atau Dibebaskan 4) BBM dan Non-BBM oleh Pertamina 5) Rekening Telepon 6) Jasa Angkutan Udara yang diserahkan perusahaan penerbangan 7) Untuk penyerahan BKP/JKP yang menurut ketentuan perundangundangan tidak dikenakan PPN Barang dan Jasa yang mendapat fasilitas Dibebaskan adalah:  BKP Tertentu dan JKP Tertentu (PP Nomor 146 Tahun 2000 tentang Impor Dan Atau Penyerahan Barang Kena Pajak Tertentu Dan Atau Penyerahan Jasa Kena Pajak Tertentu Yang Dibebaskan Dari Pengenaan Pajak Pertambahan Nilai sebagaimana telah diubah dengan PP Nomor 38 Pemerintah Tahun Nomor 2003 146 tentang Tahun 2000 Perubahan Atas Tentang Impor Peraturan Dan Atau Penyerahan Barang Kena Pajak Tertentu Dan Atau Penyerahan Jasa Kena Pajak Tertentu Yang Dibebaskan Dari Pengenaan Pajak Pertambahan Nilai)  BKP Strategis (PP Nomor 12 Tahun 2001 tentang Impor Dan Atau Penyerahan Barang Kena Pajak Tertentu Yang Bersifat Strategis Yang Dibebaskan Dari Pengenaan Pajak Pertambahan Nilai sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan dengan PP Nomor 31 Tahun 2007)  Beberapa BKP yang dibebaskan dari Bea Masuk (Keputusan Menteri Keuangan Nomor 231/KMK. 1.

14  Infokum ‐ Ditama Binbangkum .03/2001 Atas Keputusan Tentang Menteri Perlakuan Pajak Pertambahan Nilai Dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah Atas Impor Barang Kena Pajak Yang Dibebaskan Dari Pungutan Bea Masuk). Bunga. Sanksi-sanksi perpajakan Karena kedudukan bendahara adalah sama dengan wajib pajak (WP). maka segala sanksi perpajakan yg berlaku bagi WP berlaku juga bagi bendahara.  Terdapat kekurangan pajak yg terutang dalam surat penetapan pajak kurang bayar (SKPKB) berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterabfab lain.000 apabila SPT tahunan tidak disampaikan atau disampaikan tidak sesuai dengan batas waktu yaitu selambatlambatnya 3 bulan setelah akhir tahun pajak. 100. sebesar : 1) 2% sebulan untuk selama-lamanya 24 bulan atas jumlah pajak terutang atau kurang dibayar dalam hal :  WP membetulkan sendiri SPT yg mengakibatkan utang pajak menjadi lebih besar sebelum dilakukan pemeriksaan.  PPh dalam tahun berjalan tidak atau kurang dibayar dan atau hasilo dari penelitian SPT terdapat kekurangan pembayaran pajak sebagai akibat salah tulis dan salah hitung. b.  Impor Barang Kena Pajak Yang Dibebaskan Dari Pungutan Bea Masuk sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 616/PMK.  Perhitungan pajak smeentara yang teruang kurang dari jumlah pembayaran pajak yang sebenarnya terutang akibat diberikan ijijn penundaan penyampaian SPT tahunan.  Rp.000 apabila surat pemberitahuan (SPT) masa tidak disampaikan atau tidak sesuai dengan batas waktu yaitu selambat-lambatnya 20 hari setelah akhir masa pajak. Denda.03/2004 Keuangan tentang Nomor Perubahan 231/KMK. 50. A. Pajak Penghasilan (PPh) a. Sanksi Administrasi 1. sebesar :  Rp. 3.

B.  Menyampaikan SPT tetapi isisnya tidak benar atau tdk lengkap atau melampirkan keterangan yg isinya tdk benar. tdk atau kurang dipungut. sebesar 2% sebulan dari pajak yg tdk atau kurang dibayar dalam hal terdapat kekurangan pajak yg terutang dalam SKPKB berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lain. 2) 100% dari jumlah PPh yg tdk kurang dipotong. sebesar Rp. sehingga dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan Negara diancam dengan pidana kurungan selama-lamanya 1 tahun dan denda setinggi- 15  Infokum ‐ Ditama Binbangkum . Pajak Pertambahan Nilai (PPN). c. Sanksi Pidana 1. Kenaikan. 3) 100% dari jumlah kekurangan pajak yg terutang dlm Surat Ketetaan Pajak Kurang Bayar Tambahan dalam hal ditemukan data baru dan atau data semula belum terungkap dari WP yg menyebabkan penambahan jumlah pajak yang terutang. a) Denda. tdk atau kurang disetorkan dan dipotong atau dipungut tetapi tidak atau kurang disetorkan.000 dalam hal SPT Masa tdk dimsapiakan atau disampaikan tdk sesuai dengan batas waktu yg ditentukan dalam peraturan perundang-undanan yaitu selambat-lambatnya 14 hari setelah masa pajak berakhir.  2) 2% sebulan bendahara dari pajak yang diperbolehkan kurang dibayar mengangsur atau dalam hal menunda pembayaran pajak. sebesar : 1) 50% dari PPh yg tdk atau kurang dibayar dalam satu tahun pajak akibat SPT tdk disapaikan dlm jangka waktu yg telah ditentukan dan setelah ditegur secara tertulis tdk disampaikan pd waktunya sebagaimana ditentukan dlm surat teguran. 3) 48% dari jumlah pajak yang tdk atau kurang dibayar dalam hal wajib pajak setelah jangka waktu 10 tahun dipidana karena melakukan tindak pidana dibidang perpajakan berdasarkan putusan pengadilan yg telah memperoleh kekuatan hukum tetap. Karena Alpa  Tidak menyampaikan SPT. b) Bunga. 2. 50.

pencatatan atau dokumen lain yg palsu atau dipalsukan seolah-olah benar  Tidak menyelenggarakan pembukuan atau pencatatan tidak memperlihatkan atau tidak meminjamkan buku atau dokumen lainnya.  Tidak menyetorkan pajak yg telah dipotong atau dipungut sehingga dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara diancam dengan pidana penjara selaam-lamanya 6 tahun dan denda setinggi tingginya 4 kali jumlah pajak terutang yg tidak atau kurang dibayar. Memungut pajak-pajak tersebut di atas adalah merupakan salah satu kewajiban yang harus dilaksanakan oleh para bendaharawan baik Bendaharawan Pemerintah Pusat maupun Daerah. pemberian bunga keterlambatan. IV. dan persentase kenaikan sampai dengan sanksi pidana apabila 16  Infokum ‐ Ditama Binbangkum .  tingginya 2 kali jumlah pajak terutang yg tidak atau kurang dibayar. Sanksi yang dikenakan kepada Bendaharawan adalah sama dengan sanksi yang dikenakan kepada para wajib pajak lainnya yaitu Sanksi Administrasi yang meliputi denda. 2. Dengan Sengaja  Tidak mendaftarkan diri atau menyalahgunakan atau menggunakan tanpa hak NPWP atau nomor pengukuhan PKP atau  Tidak menyampaikan SPT atau menyampaikan SPT dan atau keterangan yg isinya tidak benar atau tidak lengkap  Memperlihatkan pembukuan. KESIMPULAN Berdasarkan uraian diatas maka dapat secara jelas terlihat bahwa pajakpajak yang harus dipungut oleh Bendaharawan adalah diperintahkan oleh Peraturan Perundang-undangan terutama Pasal 21 Ayat (1) UU Nomor 7 Tahun 1983 yaitu Pajak Penghasilan dan Pasal 1 angka 27 UU Nomor 8 Tahun 1983 yaitu Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah. Apabila B endaharawan tidak melaksanakan kewajibannya tersebut maka akan dikenakan sanksi. Kewajiban tersebut harus dapat dilaksanakan dengan baik karena ketiga jenis pajak tersebut merupakan pendapatan negara yang digunakan untuk menunjang berlangsungnya pembangunan nasional guna meningkatkan kesejahteraan rakyat.

PP Nomor 31 Tahun 2007 tentang Perubahan Keempat Atas Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2001 Tentang Impor Dan Atau Penyerahan Barang Kena Pajak Tertentu Yang Bersifat Strategis Yang Dibebaskan Dari Pengenaan Pajak Pertambahan Nilai. UU Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan tata Cara Perpajakan. PP Nomor 38 Tahun 2003 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 146 Tahun 2000 Tentang Strategis Yang Dibebaskan Dari Pengenaan Pajak Pertambahan Nilai Impor Dan Atau Penyerahan Barang Kena Pajak Tertentu Dan Atau Penyerahan Jasa Kena Pajak Tertentu Yang Dibebaskan Dari Pengenaan Pajak Pertambahan Nilai. 2. upah. honorarium. PPN. Sedangkan PPN dan PPnBM dipungut/dipotong dari Penyerahan Barang Kena Pajak dan jasa Kena Pajak. PP Nomor 146 Tahun 2000 tentang Impor Dan Atau Penyerahan Barang Kena Pajak Tertentu Dan Atau Penyerahan Jasa Kena Pajak Tertentu Yang Dibebaskan Dari Pengenaan Pajak Pertambahan Nilai 9. PP Nomor 12 Tahun 2001 tentang Impor Dan Atau Penyerahan Barang Kena Pajak Tertentu Yang Bersifat 10. tunjangan dan pembayaran lain dengan nama apapun sehubungan dengan pekerjaan jasa dan kegaiatan. 14. UU Nomor 7 tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan. dan PPn BM dipotong oleh Bendaharawan dari sumber yang berbeda-beda. PPh. UU Nomor 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 Tentang ketentuan umum dan tata cara perpajakan 6. Sumber – Sumber Kajian : 1. 12. UU NOmor 8 tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah. penghasilan yg berasal dari hadiah dan penghargaan. 13. Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah. PP Nomor 80 Tahun 2010 tentang Tarif Pemotongan Dan Pengenaan Pajak Penghasilan Pasal 21 Atas Penghasilan Yang Menjadi Beban Anggaran Pendapatan Dan Belanja Negara Atau Anggaran Pendapatan Dan Belanja Daerah. 4. 17  Infokum ‐ Ditama Binbangkum . UU Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendahaan Negara 5.  pelanggaran yang dilakukan karena alpa dan dengan sengaja berupa pidana kurungan dan denda. pembayaran yang dibiayai dari APBN/APBD. UU Nomor 42 tahun 2009 tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 Tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang Dan Jasa Dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah 8. Keputuan Presiden Nomor 180 Tahun 2000 tentang Pencabutan Keputusan Presiden Nomor 56 Tahun 1988 Tentang Penunjukan Badan-Badan Tertentu Dan Bendaharawan Untuk Memungut Dan Menyetor Pajak Pertambahan Nilai Dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah. sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta. UU Nomor 36 tahun 2008 tentang Perubahan Keempat Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 Tentang Pajak Penghasilan 7. 3. Jenis-jenis pajak tersebut akan dibahas lagi secara khusus dalam penulisan selanjutnya. 11. Pajak penghasilan misalnya dipotong oleh Bendaharawan dari penghasilan yang diterima berupa gaji.

www.pajak. 19.id 18  Infokum ‐ Ditama Binbangkum .09/2010 tentang Kewajiban Bendahara Pemerintah Pusat dan Daerah Untuk Melakukan Pemotongan/Pemungutan Pajak. Dan Melaporkan Pajak Pertambahan Nilai Dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah Beserta Tata Cara Pemungutan. Penyetoran. Indische Comptabiliteitswet (ICW) Staatsblad Tahun 1925 Nomor 448.03/2003 tentang Penunjukan Bendaharawan Pemerintah Dan Kantor Perbendaharaan Dan Kas Negara Untuk Memungut. Dan Pelaporannya.03/2004 tentang Perubahan Atas Keputusan Menteri Keuangan Nomor : 231/Kmk. 17. Pengumuman Dirjen Pajak Nomor Peng-05/PJ.  15. 18. 20. Keputusan Presiden Nomor 42 tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran Pendapatan Dan Belanja Negara. Menyetor. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 231/KMK.03/2001 Tentang Perlakuan Pajak Pertambahan Nilai Dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah Atas Impor Barang Kena Pajak Yang Dibebaskan Dari Pungutan Bea Masuk. 16.03/2001 tentang Perlakuan Pajak Pertambahan Nilai Dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah Atas Impor Barang Kena Pajak Yang Dibebaskan Dari Pungutan Bea Masuk Keputusan Menteri Keuangan Nomor 563/KMK.go. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 616/PMK.