Anda di halaman 1dari 62

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Hasil

penelitian Direktorat Kesehatan Gigi Departemen Kesehatan RI dalam

program Gigi Pelita VI tahun 1991, prevalensi karies gigi dan penyakit periodontal
masih tinggi yaitu berkisar 70-80%. Hal ini memperlihatkan bahwa kesehatan gigi dan
mulut masyarakat Indonesia masih merupakan hal yang perlu mendapatkan perhatian
serius tenaga kesehatan, baik dokter gigi maupun perawat gigi. Penyebab utama kedua
penyakit tersebut adalah plak. Terabaikannya kebersihan gigi dan mulut menyebabkan
terjadinya akumulasi plak. Plak adalah lapisan tipis yang melekat erat dipermukaan gigi
serta mengandung kumpulan bakteri. Plak ini tidak berwarna, oleh karena itu tidak dapat
terlihat dengan jelas.1,2
Penyakit periodontal dijumpai lebih banyak pada masyarakat yang kurang
berpendidikan

dibandingkan

pada

masyarakat

yang

berpendidikan.

Faktor

sosioekonomi, terutama tingkat pendidikan dan pendapatan, juga mempunyai hubungan


yang erat terhadap prevalensi dan keparahan. Individu dengan tingkat pendidikan dan
tingkat pendapatan tinggi, umumnya mempunyai kebersihan mulut yang lebih baik
daripada mereka dengan tingkat pendidikan dan pendapatan yang lebih rendah.3,16

Pada kelompok masyarakat yang berpenghasilan rendah, situasinya jauh dari


memuaskan dan merupakan masalah yang sering terabaikan karena tidak semua orang
memandang gangguan gigi-geligi mereka sebagai suatu penyakit yang perlu
mendapatkan perawatan.3
Bila berbagai kelompok dengan tingkat pendidikan dan sosioekonomi yang sama
dibandingkan, profil penyakit umumnya kelihatan sama. Hasil-hasil penelitian
epidemiologis menunjukkan bahwa seringkali penyakit terbatas hanya berupa inflamasi
atau periodontitis marginalis saja. Pada umumnya perkembangan dari gingivitis menjadi
periodontitis marginalis akhirnya menjadi penyakit yang lebih parah serta tanggalnya
gigi berlangsung secara lambat.16
Salah satu penyakit periodontal adalah gingivitis. Gingivitis adalah inflamasi
gingiva yang hanya meliputi jaringan gingiva sekitar gigi dan merupakan penyakit
periodontal yang paling sering dijumpai baik pada usia muda maupun dewasa. Gingivitis
merupakan tahapan pertama dalam perkembangan penyakit periodontal yang terjadi
sebagai respon terhadap bakteri, plak, dan apabila berlanjut akan menyebabkan
terbentuknya poket periodontal.4,5
Penelitian Suwondo dan Rusminah menunjukkan bahwa penimbunan plak dan
kebersihan mulut yang kurang baik akan mempermudah terjadinya gingivitis. Penelitian
lain menunjukkan bahwa gingivitis dapat terjadi pada usia puberitas yang dihubungkan
dengan perubahan hormonal. Hal ini dapat mempengaruhi keadaan jaringan periodontal
terutama sistem permeabilitas vaskuler. Dari data tersebut diperoleh gambaran bahwa
gingivitis dapat terjadi oleh karena iritasi lokal dan faktor sistemik. Faktor lain mungkin
2

saja disebabkan oleh kurangnya pembersihan gigi secara teratur. Keadaan ini
dihubungkan dengan faktor sosial ekonomi, dimana keadaan sosial ekonomi dan
ketidaktahuan dari orang tua mungkin dapat menyebabkan anak-anak kurang menyadari
pentingnya kebersihan mulut. 5
Pada keadaan kronis gingivitis memperlihatkan tanda-tanda seperti permukaan yang
halus dapat mengkilap dan berbentuk nodular. Tingkat keparahan gingivitis dibagi
menjadi gingivitis ringan (terjadi oedema ringan dan sedikit kemerahan), gingivitis
sedang (terjadi kemerahan dan pembesaran gingiva) dan gingivitis berat (terjadi
kemerahan dan pembesaran gingiva yang berat).6
Dari hasil penelitian Hadnyanawati yang dilakukan pada siswa sekolah dasar kelas
V di Kabupaten Jember memperlihatkan bahwa kebersihan gigi dan mulut siswa di
semua lokasi paling banyak menunjukkan kategori sedang, sedangkan jumlah siswa
yang menderita gingivitis hampir sama di seluruh lokasi. Untuk kebersihan gigi dan
mulut dengan kategori baik, siswa perkotaan lebih banyak dari siswa pedesaan. Hal ini
sesuai dengan pendapat yang menyatakan bahwa kondisi kebesihan mulut di Indonesia
termasuk kategori sedang, sementara kondisi kebersihan mulut di daerah perkotaan lebih
baik dari pedesaan.6
Keadaan ini berhubungan dengan tingkat kebersihan gigi dan mulutnya, semakin
buruk tingkat kebersihan gigi dan mulutnya maka semakin mudah terserang gingivitis.
Karena itu penting sekali untuk menjaga kebersihan gigi dan mulut, serta melakukan
kontrol plak secara teratur dan teliti. Jika seseorang dapat mempertahankan kebersihan
gigi dan mulut, maka ini dapat membatasi risiko penyakit periodontal yang lebih parah.6
3

Penelitian mengenai gambaran gingivitis pada anak sekolah dasar ini dilakukan di
Kompleks Maccini. Di dalam Sekolah Dasar Kompleks Maccini ini terdapat 5 sekolah
yaitu: SDN Maccini I, II, III, IV dan SD Inpres Maccini I/I. Informasi dari pihak sekolah
mengatakan bahwa salah satu puskesmas yang terdapat di wilayah kecamatan tersebut
memprogramkan pemeriksaan kesehatan di sekolah tersebut rutin setiap 3 bulan sekali.
Peran aktif dari pihak tenaga kesehatan dalam peningkatan kualitas kesehatan anak
sangatlah baik. Ini yang menjadi alasan mengapa memilih sekolah di kecamatan tersebut
sebagai tempat penelitian untuk melihat gambaran gingivitis pada anak sekolah dasar di
wilayah tersebut.
Pada penelitian ini diambil sampel yaitu siswa kelas IV dan V yaitu pada usia antara
8-15 tahun. Usia tersebut telah memasuki periode gigi bercampur. Adanya sikap
kooperatif dari anak anak tersebut dapat membantu kelancaran dalam pemeriksaan yang
dilakukan. Anak-anak pada usia tersebut juga adalah paling efektif dalam menerima
pengetahuan dan perawatan kesehatan gigi.
1.2 RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut yaitu
Gambaran gingivitis pada anak-anak sekolah dasar kelas IV dan V di Kompleks
Maccini yang terdiri dari SDN Maccini I, II, III, IV dan SD Inpres Maccini I/I

1.3 TUJUAN PENELITIAN


Untuk mengetahui gambaran gingivitis pada anak-anak sekolah dasar kelas IV dan
V, Kompleks Maccini yang terdiri dari SDN Maccini I, II, III, IV dan SD Inpres Maccini
I/I.
1.4 MANFAAT PENELITIAN
Diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan sumber informasi ilmiah bagi dunia
ilmu pengetahuan kedokteran gigi dan bagi Dinas Kesehatan Kota setempat dalam
menyusun program-program kesehatan gigi serta menjadi salah satu aspek
pengembangan penelitian-penelitian lebih lanjut.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 GAMBARAN NORMAL GINGIVA
Gingiva pada anak-anak berwarna pink pucat seperti pada gambar 1, tetapi tidak
pucat seperti pada gingiva dewasa karena pada dewasa lapisan keratinnya lebih tipis.

Gambar 1. Gambaran gingiva normal pada anak usia 5 tahun yang menunjukkan adanya
stipping dan interproksimal gingiva yang datar
Sumber: Newman GM, Takei H. Carranzas clinical periodontology. 10th ed

Kedalaman sulkus gingiva pada gigi sulung lebih dangkal daripada gigi permanen.
Gigi sulung memiliki kedalaman gingiva 2,1 mm ( 0,2 mm). Sulkus gingival melekat
dengan lebar anteroposterior yang bervariasi, daerah insisivus lebih lebar kemudian
terjadi penyempitan di daerah cusp dan meluas lagi di daerah posterior molar. Secara
anatomis gingiva terdiri dari marginal gingiva, sulkus gingiva, attached gingiva, dan
interdental gingival seperti pada gambar 2.7,15

Gambar 2. Diagram anatomi gingiva oleh Landmark


Sumber: Newman GM, Takei H. Carranzas clinical periodontology. 10th ed

2.1.1 Marginal Gingiva.


Marginal gingiva atau unattched gingiva adalah sambungan tepi atau pinggiran
dari gingiva yang mengelilingi gigi berbentuk seperti lingkaran. Dalam 50% kasus,
marginal gingiva dibatasi dengan attached gingiva oleh depresi linear yang dangkal
disebut free gingiva groove. Biasa lebarnya sekitar 1 mm dari dinding jaringan lunak
sulkus gingiva. Marginal gingiva dapat dipisahkan dari permukaan gigi dengan probe
periodontal.7
2.1.2 Sulkus Gingiva.
Sulkus gingiva adalah celah dangkal atau ruang disekitar gigi yang mengelilingi
gigi pada satu lapisan epitelium free gingiva margin gigi dengan gigi yang lainnya.
Sulkus ini berbentuk V dan hanya sedikit saja yang dapat dimasuki oleh probe
periodontal. Determinasi klinik dari kedalaman sulkus gingiva merupakan parameter
7

diagnostik yang penting. Ukuran normal atau ukuran ideal kedalaman sulkus gingiva
sekitar 0 mm.7
2.1.3 Attached gingiva.
Attached gingiva merupakan suatu lanjutan dari marginal gingiva. Attached
gingiva berbatas tegas, elastik dan melekat erat pada periosteum dari tulang alveolar.
Aspek fasial dari attached gingiva meluas ke mukosa alveolar dibatasi oleh
mucogingiva junction. Lebar dari attached gingiva merupakan parameter klinik penting
lainnya. Yang dapat diukur sesuai jarak antara mucogingiva junction dan proyeksi dari
permukaan dasar luar dari sulkus dengan menggunakan probe periodontal.8
Lebar dari attached gingiva dari aspek fasial berbeda pada tiap daerah dalam
rongga mulut. Attached gingiva pada daerah insisivus rahang atas 3,5-4,5 mm dan pada
insisivus rahang bawah sebesar 3,3-3,9 mm. Tetapi lebih sempit pada daerah posterior
dan tersempit pada daerah premolar sebesar 1,9 mm untuk rahang atas dan 1,8 untuk
rahang bawah.8
Mucogingiva junction tetap tidak bergerak hingga dewasa, perubahan lebar
attached gingiva disebabkan oleh perubahan posisi coronal end. Lebar dari attached
gingiva meningkat sesuai umur dan pada gigi yang supraerupsi. Dari aspek lingual
alveolar, akhir dari attached gingiva dihubungkan oleh mukosa membran dasar mulut.8
2.1.4 Interdental Gingiva.
Interdental gingiva menempati embrasure gingiva yang terletak pada daerah
interproksimal dibawah daerah kontak gigi. Interdental gigi dapat berbertuk pyramidal
8

atau berbentuk kol. Bentuk ruang interdental gingiva tergantung dari titik kontak antara
gigi dan ada tidaknya resesi gingiva.8
Permukaan fasial dan lingual lonjong ke daerah kontak proksimal dan berbentuk
cembung pada daerah mesial dan distal. Ujung lateral dari interdental gingiva dibentuk
oleh kontibuitas marginal gingiva ke gigi sebelahnya. Jika terjadi diastem, gingiva
berbentuk datar membulat di atas tulang interdental dan halus tanpa papilla interdental.8
2.2 GINGIVITIS
Gingivitis adalah inflamasi gingiva yang hanya meliputi jaringan gingiva sekitar
gigi. Secara mikroskopis, gingivitis ditandai dengan adanya eksudat inflamasi dan
edema, kerusakan serat kolagen gingiva terjadi ulserasi, proliferasi epitelium dari
permukaan gigi sampai ke attached gingiva. Beberapa studi sebelumnya menyebutkan
bahwa gingivitis marginal merupakan penyakit periodontal yang paling sering
ditemukan pada anak-anak.13

Gambar 3. Gingivitis Marginalis Kronis karena kebersihan mulut yang buruk dan
susunan gigi yang tidak beraturan.
Sumber: Newman GM, Takei H. Carranzas clinical periodontology. 10 th ed
9

2.3 ETIOLOGI GINGIVITIS


Penyebab utama gingivitis pada anak-anak sama seperti pada orang dewasa yaitu
plak gigi disebabkan oleh karena kebersihan mulut yang buruk, posisi gigi yang tidak
teratur dapat menjadi faktor pendukung. Umumnya plak berakumulasi dalam jumlah
yang sangat banyak di regio interdental yang sempit, inflamasi gusi cenderung dimulai
pada daerah papila interdental dan menyebar dari daerah tersebut ke sekitar leher gigi.
Respon setiap individu terhadap plak sebagai faktor penyebab bermacam-macam,
beberapa anak mempunyai respon yang minimal terhadap faktor lokal.9,15
2.3.1 Faktor Etiologi Primer.16
Penyebab primer dari penyakit periodontal adalah iritasi bakteri. Meskipun
demikian, sejumlah kecil plak biasanya tidak mengganggu kesehatan gingiva dan
periodontal, dan beberapa pasien bahkan mempunyai jumlah plak yang cukup besar
yang berlangsung lama tanpa mengalami periodontitis yang merusak walaupun mereka
mengalami gingivitis.
Ada beberapa faktor lain baik lokal maupun sistemik yang merupakan predisposisi
dari akumulasi plak atau perubahan respon gingiva terhadap plak. Faktor ini dapat
dianggap sebagai faktor etiologi sekunder.
2.3.2 Faktor Etiologi Sekunder.16
Faktor-faktor sekunder dapat lokal atau sistemik. Beberapa faktor lokal pada
lingkungan gingiva merupakan predisposisii dari akumulasi deposit plak dan
10

menghalangi pembersihan plak. Faktor-faktor ini disebut sebagai faktor retensi plak.
Faktor sistemik dan hospes dapat memodifikasi respon gingiva terhadap iritasi lokal.
A. Faktor lokal16
1. Restorasi yang keliru
Restorasi yang keliru mungkin merupakan faktor yang paling menguntungkan
bagi retensi plak. Tepi tumpatan yang berlebihan sangat sering ditemukan dan
berasal dari penggunaan matriks yang ceroboh dan kegagalan memoles bagian tepi.
Restorasi dengan kontur yang buruk, terutama yang konturnya terlalu besar dan
mahkota atau tumpatan yang terlalu cembung, dapat menghalangi aksi penyikatan
gigi yang efektif.
2. Kavitas karies
Kavitas yang keliru, terutama di dekat tepi gingiva, dapat merangsang
terbentuknya daerah timbunan plak.
3. Tumpukan sisa makanan
Sisa makanan adalah baji yang kuat dari makanan terhadap gingiva di antara
gigi-geligi. Bila gigi-geligi bergerak saling menjauhi dapat terbentuk baji makanan,
khususnya bila ada plunger cusp.
4. Geligi tiruan sebagian lepasan dengan desain tidak baik.
Geligi tiruan adalah benda asing yang dapat menimbulkan iritasi jaringan
melalui berbagai cara. Geligi tiruan yang longgar atau tidak terpoles dengan baik
cenderung berfungsi sebagai fokus timbunan plak. Geligi tiruan tisue borne
seringkali terbenam di dalam mukosa dan menekan tepi gingiva, menyebabkan
inflamasi dan kerusakan jaringan. Efek ini makin bertambah buruk bila gigi-geligi
tiruan tidak dibersihkan dengan baik dan tetap dipakai selama pasien tidur.
5. Pesawat ortodonsi
Pesawat ortodonsi yang dipakai siang dan malam, kecuali bila pasien sudah
diajarkan cara membersihkan plak yang bertumpuk pada pesawat. Karena sebagian
11

besar pasien ortodonsi masih muda, inflamasi yang parah disertai dengan
pembengkakan gingiva dapat terjadi di sini.
6. Susunan gigi-geligi yang tidak teratur.
Susunan gigi yang tidak beraturan yang merupakan predisposisi dari retensi plak
dan mempersulit upaya menghilangkan plak.
7. Kurangnya seal bibir atau kebiasaan bernapas melalui mulut.
Pengaruh postur bibir terhadap kesehatan gingiva masih dipertanyakan namun
suatu fenomena klinis yang sering ditemukan adalah gingivitis hiperplasia pada
segmen anterior, biasanya pada regio insisivus atas, di mana sel bibir kurang
sempurna. Selain itu, pada sebagian besar kasus daerah hiperplasia jelas dibatasi
oleh garis bibir. Walaupun kurangnya seal bibir sering berhubungan dengan
kebiasaan bernafas melalui mulut, seal bibir yang kurang memadai juga dapat
terjadi walaupun pasien bernafas melalui hidung. Bila bibir terbuka gingiva bagian
depan tentunya tidak terlumasi saliva. Keadaan ini kelihatannya mempunyai dua
efek: (i) aksi pembersihan normal dari saliva berkurang sehingga timbunan plak
bertambah; (ii) dehidrasi jaringan yang akan mengganggu resistensinya.
8. Merokok
Efek yang paling jelas dari kebiasaan merokok adalah perubahan warna gigigeligi dan bertambahnya keratinisasi epitelium mulut disertai dengan produksi
bercak putih pada perokok berat di daerah pipi dan palatum, yang kadang-kadang
dapat juga ditemukan pada jaringan periodontal. Insiden gingivitis kronis dan
gingivitis ulseratif akut kelihatannya lebih besar pada perokok yang juga
menunjukkan adanya kerusakan periodontal yang lebih parah.
9. Groove perkembangan pada enamel servikal atau permukaan akar.

12

Groove pada permukaan akar atau daerah servikal mahkota dapat merangsang
akumulasi bakteri dan tidak mungkin dibersihkan. Keadaan ini dapat menimbulkan
daerah-daerah gingivitis lokal dan pembentukan poket, yang paling sering terlihat di
sebelah palatal insisivus atas. Fosa kaninus pada permukaan mesial gigi premolar
atas juga dapat berfungsi sebagai groove perkembangan.
B. Faktor sistemik16
Faktor-faktor sistemik adalah faktor yang mempengaruhi tubuh secara
keseluruhan misalnya; faktor genetik, nutrisional, hormonal dan hematologi.
1. Faktor genetik
Kerentanan individual terhadap periodontitis kronis umumnya bervariasi dan
ada beberapa individu yang mencapai usia tua tanpa menunjukkan tanda-tanda
kerusakan periodontal sedangkan individu lainnya sudah terkena serangan
periodontitis yang progresif pada usia yang lebih mudah.
Ada sejumlah penyakit genetik, beberapa diantaranya sangat langkah, yang
meningkatkan kerentanan terhadap kerusakan periodontal seperti Sindrom Down,
kerentanan di sini berhubungan dengan terganggunya fungsi neutrofil atau
perubahan metabolisme jaringan ikat. Sindroma Chediak-Higashi, merupakan
kondisi autosomal resesif yang langkah, ditandai dengan neutrofil yang terganggu.
2. Faktor nutrisional
Secara teoritis defisiensi dari nutrien dapat mempengaruhi keadaan gingiva
dan daya tahannya terhadap plak, tetapi karena kesalingtergantungan antara
berbagai elemen diet yang berkembang, sangatlah sulit untuk mendifinisikan akibat
defisiensi spesifik pada seorang manusia.

13

Pada defisiensi nutrisional yang parah, yang umumnya disertai dengan


kebersihan mulut yang sangat buruk, terlihat adanya kerusakan jaringan periodontal
yang berkembang dengan cepat dan tanggalnya gigi yang cukup dini.
3. Faktor hormonal
Hormon seks. Perubahan hormon seksual berlangsung semasa puberitas dan
kehamilan, keadaan ini dapat menimbulkan perubahan jaringan gingiva yang
merubah respon terhadap produk-produk plak.
Puberitas. Pada masa puberitas insiden gingivitis mencapai puncaknya.
Perubahan ini tetap terjadi walaupun kontrol plak tetap tidak berubah. Oleh karena
itu, sejumlah kecil plak yang pada usia yang lain hanya menyebabkan terjadinya
sedikit inflamasi gingiva, akan dapat menyebabkan inflamasi yang hebat pada masa
puberitas yang diikuti dengan pembengkakan gingiva dan perdarahan. Bila masa
puberitas sudah lewat, inflamasi cenderung reda sendiri tetapi tidak dapat hilang
sama sekali kecuali bila dilakukan pengontrolan plak yang adekuat
4. Faktor hematologi (penyakit darah)
Penyakit darah kelihatannya tidak menyebabkan gingivitis tetapi dapat
menimbulkan perubahan jaringan yang merubah respon jaringan terhadap plak.
Dokter gigi mempunyai tanggung jawab khusus dalam hubungannya dengan
penyakit-penyakit ini karena perdarahan gingiva yang hebat merupakan simtom
umum pada leukimia akut dan dokter gigi mungkin merupakan orang pertama yang
memeriksakan keadaan pasien penyakit-penyakit darah antara lain anemia,
leukimia, dan leukopenia.
2.4 PATOGENESIS TERJADINYA GINGIVITIS

14

Menurut

Carranza dan Newman, Jenkins dan Allan, dikutip oleh Riyanti E,

gingivitis berawal dari daerah margin gusi yang dapat disebabkan oleh invasi bakteri
atau rangsang endotoksin. Endotoksin dan enzim dilepaskan oleh bakteri gram negatif
yang menghancurkan substansi interseluler epitel sehingga menimbulkan ulserasi epitel
sulkus. Selanjutnya enzim dan toksin menembus jaringan pendukung dibawahnya.
Peradangan pada jaringan pendukung sebagai akibat dari dilatasi dan pertambahan
permeabilitas pembuluh darah, sehingga menyebabkan warna merah pada jaringan,
edema, perdarahan, dan dapat disertai eksudat.9

Perkembangan gingivitis dapat dibedakan atas empat tahap yaitu:10


a. Tahap I
Manifestasi awal dari inflamasi gingiva berupa lesi inisial atau awal dengan adanya
perubahan vaskuler berupa dilatasi pembuluh darah kapiler dan peningkatan aliran
darah. Perubahan ini terjadi sebagai respon awal dari inflamasi terhadap aktivasi
mikroba leukosit dan stimulasi berikutnya sel endotel. Secara klinis, respon awal gingiva
untuk plak bakteri tidak terlihat perubahan.
Dapat juga sudah terjadi perubahan perlekatan epitelium junctional dan jaringan ikat
perivaskular pada tahap awal. Limfosit mulai menumpuk, peningkatan migrasi leukosit
dan berakumulasi di dalam sulkus disertai peningkatan aliran darah cairan gingiva ke
dalam sulkus. Jika keadaan berlanjut, makrofag dan sel-sel limfoid juga terinfiltrasi
hanya dalam beberapa hari.
15

b. Tahap II
Dengan berjalannya waktu, tanda-tanda klinis berupa lesi dini (early lesion) mulai
terlihat dengan adanya tanda klinis eritema. Eritema ini terjadi karena proliferasi kapiler
dan meningkatnya pembentukan loops capiler. Epitel sulkus menipis atau terbentuk
ulserasi. Pada tahap ini mulai terjadi perdarahan pada probing. Ditemukan 70% jaringan
kolagen sudah rusak terutama disekitar sel-sel infiltrate.
Neutrofil keluar dari pembuluh darah sebagai respon terhadap stimulus kemotaktik
dari komponen plak, menembus lamina dasar ke arah epitelium dan masuk ke sulkus.
Sel-sel tersebut tertarik ke arah bakteri dan memfagositkannya. Lisosom dikeluarkan
dalam kaitan memproses bakteri. Dalam tahap ini fibroblas jelas terlihat menunjukkan
perubahan sitotoksik sehingga kapasitas produksi kolagen menurun.
c. Tahap III
Pada tahap III, lesi mantap (establish lesion) disebut sebagai gingivitis kronis karena
pembuluh darah membengkak dan padat, sedangkan pembuluh balik terganggu atau
rusak, sehingga aliran darah menjadi lamban. Terlihat anoksemia lokal sebagai
perubahan warna kebiruan pada gingiva yang merah. Selanjutnya sel darah merah keluar
ke jaringan ikat, sebagian pecah sehingga haemoglobin menyebabkan warna area
perdarahan menjadi lebih gelap.
Lesi ini dapat disebut sebagai peradangan gingiva moderat hingga berat. Aktivitas
kolagen sangat meningkat karena kolagenase banyak terdapat di jaringan gingiva yang
diproduksi oleh sejumlah bakteri oral maupun nerofil.
d. Tahap IV
16

Perpanjangan lesi ke dalam tulang alveolar ciri tahap yang keempat yang dikenal
sebagai lesi lanjut atau fase kerusakan periodontal.
2.5 KLASIFIKASI GINGIVITIS
Menurut Carranza dan Glickmans dikutip oleh Eriska E, gingivitis dibedakan
berdasarkan perjalanan dan lamanya serta penyebarannya.
Berdasarkan perjalanan dan lamanya diklasifikasikan atas empat jenis yaitu :9
1. Gingivitis akut (rasa sakit timbul secara tiba-tiba dan dalam jangka waktu pendek)
2. Gingivitis subakut (tahap yang lebih hebat dari kondisi gingivitis akut)
3. Gingivitis rekuren, peradangan gusi yang dapat timbul kembali setelah dibersihkan
dengan perawatan atau hilang secara spontan dan dapat timbul kembali
4. Gingivitis kronis (peradangan gusi yang paling umum ditemukan, timbul secara
perlahan-lahan dalam waktu yang lama, dan tidak terasa sakit apabila tidak ada
komplikasi dari gingivitis akut dan subakut yang semakin parah).

Berdasarkan lokasi penyebarannya, pembesaran gusi dapat diklasifikasikan sebagai


berikut :14
1. Localized gingivitis (membatasi gusi pada satu daerah gigi atau beberapa daerah
gigi)
2. Generalized gingivitis (meliputi gusi di dalam rongga mulut secara menyeluruh)
3. Marginal gingivitis (meliputi margin gusi tetapi juga termasuk bagian batas gusi
cekat)
4. Papillary gingivitis (meliputi papila interdental, sering meluas sampai batas margin
gusi, dan gingivitis lebih sering diawali pada daerah papilla)
5. Diffuse gingivitis (meliputi margin gusi, gusi cekat, dan papilla interdental).
17

2.6 GINGIVA INDEKS (GI)


Menurut Sillnes dan Loe, Gingiva Indeks digunakan sebagai metode untuk menilai
tingkat keparahan dan kuantitas inflamasi gingiva pada pasien. Analisis dengan GI
hanya dilakukan pada jaringan gingiva. Menurut metode ini, daerah gingiva yang
diperiksa terdiri atas empat bagian gigi (bukal/fasial, mesial, distal, dan lingual), dan
diberikan skor dari 0 sampai 3 sebagai kriteria identifikasi untuk mengukur tingkat
keparahan radang gingiva. Perdarahan dinilai dengan menjalankan sebuah probe
periodontal sepanjang dinding jaringan lunak dari celah gingiva.11
Skor dan Kriteria dari Gingiva Indek.11
1
2

: normal (tidak ada peradangan)


: peradangan ringan, sedikit perubahan dalam warna, sedikit edema, tidak ada

perdarahan sewaktu probing.


: peradangan sedang, kemerahan, edema, mengkilat, berdarah sewaktu

probing.
: peradangan berat, ditandai dengan warna merah dan edema, ulserasi,
cenderung ada perdarahan spontan

2.7 KESEHATAN GIGI DAN MULUT PADA ANAK SEKOLAH DASAR


Kesehatan gigi dan mulut anak-anak usia sekolah dasar merupakan hal yang sangat
memerlukan perhatian yang penting karena pada anak usia sekolah tersebut merupakan
waktu yang rentan terhadap gangguan kesehatan gigi dan mulutnya. Anak-anak usia
sekolah dasar mencakup kelompok masyarakat dengan usia antara 7 tahun sampai
18

dengan 12 tahun. Kelompok pada usia sekolah tersebut adalah saat paling efektif dalam
menerima pengetahuan dan perawatan kesehatan giginya. Masa anak usia sekolah
merupakan masa untuk melakukan landasan yang kokoh bagi terwujudnya manusia yang
berkualitas.
Penelitian yang dilakukan di kabupaten Jember memperlihatkan bahwa dari 115
siswa terdiri dari 51 (44,3%) siswa perempuan dan 64 (55,7%) siswa laki-laki menderita
gingivitis. Dari hasil tersebut terlihat bahwa siswa laki-laki lebih banyak yang menderita
gingivitis dibandingkan siswa perempuan. Keadaan ini berhubungan dengan tingkat
kebersihan gigi dan mulutnya, semakin buruk tingkat kebersihan gigi dan mulut maka
semakin mudah terserang gingivitis.6
2.7.1 Gingivitis Pada Anak Sekolah Dasar.
Masa usia sekolah dasar adalah masa erupsi gigi permanen yang dapat
meningkatkan risiko peradangan pada gingiva akibat dari proses rupturnya jaringan
gingiva. Apabila kebersihan mulut tidak terjaga, maka resiko terjadinya gingivitis dapat
meningkat.
Gingivitis yang sering ditemukan pada anak-anak yaitu simpel gingivitis. Keadaan
tersebut sering terlihat pada saat pertumbuhan gigi dan reda setelah gigi tumbuh dengan
sempurna di dalam rongga mulut. Peningkatan terbesar terjadi pada anak-anak usia 6-7
tahun, yaitu pada saat gigi permanen mulai erupsi. Ini terjadi karena pada saat gigi
erupsi marginal gingiva tidak dilindungi oleh korona, dan disisi lain makanan terus
menerus menekan gingiva sehingga terjadi proses inflamasi.13
19

Macam-macam gingivitis kronis pada anak antara lain sebagai berikut :9


1. Gingivitis marginalis kronis, merupakan suatu peradangan gusi pada daerah margin
yang banyak dijumpai pada anak, ditandai dengan perubahan warna, ukuran
konsistensi, dan bentuk permukaan gusi. Penyebab peradangan gusi pada anak-anak
sama seperti pada dewasa, yang paling umum yaitu disebabkan oleh penimbunan
bakteri plak. Perubahan warna dan pembengkakan gusi merupakan gambaran umum
terjadinya gingivitis kronis.
2. Gingivitis Erupsi, merupakan gingivitis yang terjadi di sekitar gigi yang sedang
erupsi dan berkurang setelah gigi tumbuh sempurna dalam rongga mulut, sering
terjadi pada anak usia 6-7 tahun ketika gigi permanen mulai erupsi. Gingivitis erupsi
lebih berkaitan dengan akumulasi plak daripada dengan perubahan jaringan.
McDonald dan Avery mengatakan bahwa gingivitis dapat berkembang karena pada
tahap awal erupsi gigi, margin gusi tidak mendapat perlindungan dari mahkota
sehingga terjadi penekanan makanan di daerah tersebut yang menyebabkan proses
peradangan. Selain itu sisa makanan, materia alba, dan bakteri plak sering terdapat
di sekitar dan di bawah jaringan bebas, sebagian meliputi mahkota gigi yang sedang
erupsi hal ini mengakibatkan peradangan.
3. Gingivitis pada gigi karies dan loose teeth (eksfoliasi parsial). Pada pinggiran
margin yang tererosi akan terdapat akumulasi plak, sehingga dapat terjadi edema
sampai dengan abses.
4. Gingivitis pada maloklusi dan malposisi. Gingivitis disertai dengan perubahan
warna gusi menjadi merah kebiruan, pembesaran gusi, ulserasi, dan bentuk poket
dalam yang menyebabkan terjadinya pus, meningkat pada anak-anak yang memiliki
20

overjet dan overbite yang besar, kebiasaan bernafas melalui mulut, open bite, edge
to edge, dan protrusif.
5. Gingivitis pada mucogingiva problems. Mucogingiva problems merupakan salah
satu kerusakan atau penyimpangan morfologi, keadaan, dan kuantitas dari gusi di
sekitar gigi (antara margin gusi dan mucogingiva junction) yang ditandai oleh
mukosa alveolar yang tampak sangat tipis dan mudah pecah, susunan jaringan
ikatnya yang lepas serta banyaknya serat elastis.
6. Gingivitis karena resesi gusi lokalisata. Terjadi karena trauma sikat gigi, alat
ortodontik, frenulum labialis yang tinggi, dan kebersihan mulut yang buruk.
7. Gingivitis karena alergi. McDonald dan Avery menyebutkan adanya gingivitis yang
bersifat sementara terutama berhubungan dengan perubahan cuaca.
2.7.2 Faktor Risiko Gingivitis Pada Anak Sekolah Dasar.
Gingivitis dapat disebabkan oleh banyak faktor. Faktor utama gingivitis pada anak
adalah plak. Faktor resiko lainnya yang dapat menyebabkan gingivitis pada anak-anak
sekolah dasar yaitu :
1. Sosial ekonomi
Makin tinggi status sosial ekonomi keluarga, makin baik perilaku kesehatan
keluarga tersebut. Sosial ekonomi orang tua rendah berpengaruh terhadap kesehatan
umum dan gigi anak, sebab dengan status ekonomi rendah masalah utamanya
adalah

pemenuhan

kebutuhan

minimal

sehingga

mempengaruhi

kondisi

kesehatannya.
2. Oral Hygiene (kebersihan mulut).

21

3. Pendidikan kesehatan gigi


Makin tinggi pendidikan, akan mudah menyerap informasi dan inovasi baru,
termasuk kesehatan gigi, bila dibandingkan dengan tingkat pendidikan rendah.
2.7.3 Upaya Pencegahan Gingivitis Pada Anak Sekolah Dasar.16
Pencegahan primer merupakan cara terbaik untuk mencegah penyakit, tetapi bila
hal ini tidak mungkin dilakukan maka mendeteksi tanda dan gejala penyakit dan
pengobatan secara tuntas merupakan pertahanan kedua. Tiga tingkat pencegahan dalam
epidemiologi yang disesuaikan dengan fase-fase yang berbeda-beda dari perkembangan
penyakit dapat diidentifikasikan sebagai berikut:
a. Pencegahan primer
Pencegahan tingkat pertama ini merupakan upaya untuk mempertahankan
orang yang sehat agar tetap sehat atau mencegah orang yang sehat menjadi sakit.
Secara garis besar, upaya pencegahan ini dapat berupa:
1. Promosi Kesehatan Masyarakat
2. Pencegahan Khusus
b. Pencegahan sekunder
Tingkat pencegahan kedua ini merupakan upaya manusia untuk mencegah
orang yang telah sembuh dari sakit agar tidak sakit lagi, mencegah orang yang telah
sakit

semakin

parah,

menghambat

progresifitas

penyakit,

menghindarkan

komplikasi dan mengurangi ketidakmampuan. Pencegahan sekunder ini dapat


dilakukan dengan cara mendeteksi penyakit secara dini dan mengadakan
22

pengobatan yang cepat dan tepat. Deteksi penyakit secara dini dapat dilakukan
dengan cara:
1. Penyaringan
2. Pengamatan Epidemiologis
3. Survei Epidemiologis
4. Memberi pelayanan kesehatan dengan sebaik-baiknya pada sarana pelayanan
umum atau praktek dokter swasta.
c. Pencegahan tersier
Pencegahan ini dimaksudkan untuk mengurangi ketidakmampuan dan
mengadakan rehabilitasi. Upaya pencegahan tingkat ketiga ini dapat dilakukan
dengan cara:
1. Memaksimalkan fungsi organ yang cacat.
2. Membuat protesa ekstremitas akibat amputasi.
3. Mendirikan pusat-pusat rehabilitasi medik.

BAB III
METODE PENELITIAN
23

3.1 JENIS PENELITIAN


Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif. Pemilihan sampel menggunakan
teknik Stratified Random Sampling dimana ditujukan pada semua siswa siswi kelas IV
dan V SDN Maccini I, II, III, IV dan SD Inpres Maccini I/I. Pola gingivitis dinilai
dengan Gingiva Indeks (GI).
3.2 RANCANGAN PENELITIAN
Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional study (Transversal) karena
dalam penelitian ini observasi hanya dilakukan pada waktu tertentu saja. Setiap sampel
atau subjek hanya dilakukan observasi satu kali dan pengukuran variabel subyek
dilakukan pada saat melakukan pemeriksaan tersebut.
3.3 LOKASI PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan di Kompleks Maccini yang terdiri dari SDN Maccini I, II,
III, IV dan SD Inpres Maccini I/I Makassar, JL. Urip Sumoharjo No.230 dan JL.
Maccini Sawah 1.

24

3.4 WAKTU PENELITIAN


Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei 2011
3.5 POPULASI DAN SAMPEL PENELITIAN
3.5.1 Populasi.
Populasi penelitian adalah semua siswa SDN Maccini I, II, III, IV dan SD Inpres
Maccini I/I Makassar.
3.5.2 Sampel.
Sampel penelitian adalah semua siswa kelas IV dan V SDN Maccini I, II, III, IV
dan SD Inpres Maccini I/I yang mengalami gingivitis dan tidak mengalami gingivitis.
3.5.3 Kriteria sampel
Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah:
1. Siswa-siswi SD kelas IV dan V yang bersekolah di SDN Maccini I, II, III, IV
dan SD Inpres Maccini I/I
2. Siswa-siswi yang bersedia untuk mengikuti seluruh kegiatan penelitian dengan
adanya persetujuan dari Kepala Sekolah.
3. Siswa-siswi SD memiliki minimal gigi yang akan diperiksa jika tidak memiliki
gigi-gigi tersebut maka tidak dilakukan penggantian gigi dan tetap dilakukan
pemeriksaan.
4. Tidak mempunyai riwayat penyakit sistemik dan kelainan darah
Kriteria eksklusif dalam penelitian ini adalah:
1. Bukan siswa-siswi kelas IV dan V di sekolah tersebut
25

2. Tidak memiliki semua gigi yang akan diperiksa


3.6 ALAT DAN BAHAN
Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian adalah
a)
b)
c)
d)
e)

Wawancara terpimpin
Mouth Mirror, Betadine, Air Mineral, dan Gelas
Probe Periodontal, masker, handcoen.
Nierbekken (tempat alat)
Alat tulis

3.7 PROSEDUR KERJA


a) Sampel diambil dari siswa siswi kelas IV dan V, di SDN Maccini I, II, III, IV
dan SD Inpres Maccini I/I
b) Mencatat nama, umur, dan jenis kelamin.
c) Setiap sampel diukur tingkat keparahan radang gingiva. Perdarahan dinilai
dengan menjalankan sebuah probe periodontal sepanjang dinding jaringan
lunak dari celah gingiva. Setiap keadaan dicatat sesuai dengan indeks yang
digunakan.
d) Setelah pemeriksaan, dilakukan wawancara untuk mengetahui berapa kali siswa
siswi tersebut menyikat gigi dalam sehari, waktu menyikat gigi dan beberapa
pertanyaan lain yang tersurat dalam lembar wawancara terpimpin.
e) Hasil wawancara dicatat pada lembar penelitian
f) Data yang diperoleh diolah.
3.8 DEFENISI OPERASIONAL VARIABEL

26

Gingivitis adalah adanya pembengkakan dan perubahan warna pada daerah


gingiva dan diukur tingkat keparahannya dengan menggunakan probe periodontal.

3.9 VARIABEL PENELITIAN


Identifikasi Variabel :
a) Variabel dependen
:b) Variabel independen : Gingivitis
c) Variabel kendali
: usia, gigi yang diperiksa
3.10 DATA PENELITIAN
a) Jenis data

: data primer yang diperoleh secara langsung dari obyek

sampel yang diteliti


b) Penyajian data : data disajikan dalam bentuk tabel distribusi
c) Pengolahan data : dengan manual
3.11 KRITERIA PENILAIAN
a) Untuk gingivitis : mengukur tingkat keparahan radang gingiva. Perdarahan
dinilai dengan menjalankan sebuah probe periodontal sepanjang dinding
jaringan lunak dari celah gingiva.
Gigi yang diperiksa:12
6
6
1

6
6

Permukaan gigi yang diperiksa adalah jaringan yang mengelilingi gigi yaitu
permukaan mesial, distal, bukal/labial, lingual/palatal.
27

Skor gingival indeks untuk tiap gigi:11


jumla h skor 4 permukaan gingiva
4

Skor gingival indeks untuk tiap individu:


jumla h skor tiap gigi
jumla h gigi yang diperiksa

Skor dan Kriteria dari Gingiva Indeks:11


1
2

: normal (tidak ada peradangan)


: peradangan ringan, sedikit perubahan dalam warna, sedikit edema,

tidak ada perdarahan sewaktu probing.


: peradangan sedang, kemerahan, edema, mengkilat, berdarah sewaktu

probing.
: peradangan berat, ditandai dengan warna merah dan edema, ulserasi,
cenderung ada perdarahan spontan

Kriteria gingivitis:
1
2

: tidak ada inflamasi


: ada inflamasi

28

Kriteria indeks gingivitis:11


0,1 1,0 = Gingivitis Ringan
1,1 2,0 = Gingivitis Sedang
2,1 3,0 = Gingivitis Berat

4.12

ALUR PENELITIAN

Pengambilan
Sampel
Pemeriksaan Klinis
Gingivitis
Tidak Gingivitis
Wawancar
a
Pengolaan
Data
Analisis

Hasil

BAB IV
29

HASIL PENELITIAN
4.1 GAMBARAN UMUM
Anak Sekolah Dasar (SD) menjadi sampel dalam penelitian ini yaitu SDN Maccini
I, II, III, IV dan SD Inpres Maccini I/I. Terletak di wilayah Kecamatan Makassar dan di
wilayah kerja Puskesmas Maccini. Setiap 3 bulan sekali Puskesmas mengadakan
pemeriksaan gigi pada anak sekolah dasar di sekolah tersebut. Hal ini dilakukan untuk
mengetahui seberapa besar peningkatan kasus kesehatan gigi dan mulut anak sekolah
dasar.
Nama-nama sekolah dasar yang menjadi tempat penelitian dan jumlah sampel
dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut ini :
TABEL 1. Daftar Nama Nama Sekolah Dasar

SDN Maccini I

42

46

Jumlah Siswa
SD
88

SDN Maccini II

41

35

76

3
4
5

SDN Maccini III


SDN Maccini IV
SD Inpres Maccini I/I

23
28
26

35
32
26

58
60
52

160

174

334

No

Nama Sekolah

Total

Kelas IV

Kelas V

30

Data primer diperoleh dari pemeriksaan klinis dan wawancara langsung dengan
siswa yang didampingi oleh guru kelas. Pengambilan data penelitian dilakukan pada
bulan Mei 2011.
4.2 GAMBARAN GINGIVITIS PADA ANAK SEKOLAH DASAR
Penelitian ini dilakukan pada siswa kelas IV dan V yang keseluruhannya berjumlah
334 siswa dari 5 sekolah yaitu SDN Maccini I, II, III, IV dan SD Inpres Maccini I/I. Dari
data ini dapat dilihat gambaran keparahan gingivitis pada anak yang dinilai berdasarkan
gingiva indeks. Lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini:
TABEL 2. Deskripsi Hasil Pengukuran Gingivitis Berdasarkan Gingiva Indeks

Nama Sekolah

Gingiva Indeks

Kelas
Normal

Ringan

IV

9,5

29

10

21,7

33

IV

4,9

36

17,1

24

IV

21

17,1

28

IV

25

16

10

31,3

18

IV

23,1

18

26,9

18

SDN Maccini I

SDN Maccini II

SDN Maccini III

SDN Maccini IV
SD Inpres Maccini
I/I

%
69,
1
71,
7
87,
8
68,
6
91,
3
80
57,
1
56,
2
69,
2
69,

Total

Sedang

Berat

21,4

42

6,5

46

7,3

41

14,3

35

8,7

23

2,9

35

17,9

28

12,5

32

7,7

26

3,9

26
31

Total

58

17,4

241

2
72,
2

35

10,4

334

Sumber: Rahmawaty, Data Primer: Mei 2011

Berdasarkan pengelompokan indeks gingivitis pada tabel diatas, didapatkan


gambaran dari ke 5 sekolah dasar diatas yaitu dari 334 orang siswa di sekolah tersebut,
58 orang (17,4%) tidak mengalami gingivitis, 241 orang (72,2%) mengalami gingivitis
ringan, 35 orang (10,4%) gingivitis sedang dan tidak ada siswa mengalami gingivitis
yang berat.
4.3 KARAKTERISTIK RESPONDEN
4.3.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Umur.
Responden dalam penelitian ini adalah siswa kelas IV dan V yang berusia 8-15
tahun yang keseluruhan berjumlah 334 siswa dari 5 sekolah dasar yaitu SDN Maccini I,
II, III, IV dan SD Inpres Maccini I/I. Lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini:
TABEL 3. Distribusi Gingivitis Berdasarkan Umur Pada Anak kelas IV dan V

Nama Sekolah

Umur (tahun) Siswa Kelas IV dan V


8

10

11

SDN Maccini I

13

17,6

35

47,3

23

31,1

SDN Maccini II

8,8

37

54,4

23

33,8

SDN Maccini III

5,8

20

38,5

22

42,3

SDN Maccini IV

2,3

22

2,6

20

51,2
51,3

12

SD Inpres Maccini I/I

11,6
16,3

10

27,9
25,6

Total

0,7

34

12,3

134

48,5

90

32,6

32

Nama Sekolah

Umur (tahun) Siswa Kelas IV dan V

Total

12

13

15

SDN Maccini I

4,0

74

SDN Maccini II

1,5

1,5

68

SDN Maccini III

13,4

52

SDN Maccini IV

2,3

4,7

43

SD Inpres Maccini I/I

2,6

39

Total

13

4,7

0,7

0,4

276

Sumber: Rahmawaty, Data Primer: Mei 2011

Berdasarkan tabel diatas, dapat dilihat distribusi gingivitis berdasarkan umur pada
anak kelas IV dan V di 5 sekolah. Siswa yang mengalami gingivitis yang berusia 8 tahun
sebanyak 2 orang (0,7%), 9 tahun sebanyak 34 orang (12,3%), siswa yang berumur 10
tahun sebanyak 134 orang (48,5%), siswa yang berumur 11 tahun sebanyak 90 orang
(32,6%), siswa yang berumur 12 tahun sebanyak 13 orang (4,7%), siswa yang berusia 13
tahun sebanyak 2 orang (0,7%) dan siswa yang berusia 15 tahun sebanyak 1 orang
(0,4%).
4.3.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin.
Berdasarkan penelitian diperoleh data tentang jenis kelamin responden. Data
penelitian menunjukkan sebagian besar responden berjenis kelamin laki-laki. Lebih
jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini:
TABEL 4. Distribusi Gingivitis Berdasarkan Jenis Kelamin Pada Anak Kelas IV dan V
Nama Sekolah
SDN Maccini I
SDN Maccini II
SDN Maccini III

Jenis kelamin Siswa Kelas IV dan V


L
36
37
26

%
48,6
54,4
50

P
38
31
26

%
51,4
45,6
50

Total
74
68
52
33

SDN Maccini IV
SD Inpres Maccini I/I
Total

24
19
142

55,1
48,7
51,5

19
20
134

44,9
51,3
48,5

43
39
276

Sumber: Rahmawaty, Data Primer: Mei 2011

Dari hasil penelitian pada 276 orang anak yang mengalami gingivitis, anak lakilaki lebih banyak yang mengalami gingivitis yaitu sebanyak 142 orang (51,5%) dan 134
orang (48,5%) anak perempuan mengalami gingivitis.
4.3.3 Karakteristik Responden Berdasarkan Frekuensi Menyikat Gigi.
Pada penelitian ini, dilakukan wawancara terpimpin dengan menanyakan kepada
setiap siswa mengenai frekuensi mereka menyikat gigi dalam sehari di rumah dan
didapatkan hasil yang lebih jelasnya dapat di lihat pada tabel berikut ini :
TABEL 5. Distribusi Gingivitis Berdasarkan Frekuensi Menyikat Gigi
Nama Sekolah
SDN Maccini I
SDN Maccini II
SDN Maccini III
SDN Maccini IV
SD Inpres Maccini I/I
Total

Frekuensi Menyikat Gigi

Kelas

1x
2
4
1
1
2
2
-

IV
V
IV
V
IV
V
IV
V
IV
V
12

%
4,3
9,8
2,9
2,9
6,2
7,7
3,6 166

2x
%
3x
%
14 33,3 27 64,3
20 43,5 24 52,2
26 63,4 11 26,8
13 37,1 20 57,1
13 56,5 10 43,5
21
60
13 37,1
11 39,3 17 60,7
15 46,9 15 46,9
14 53,8 10 38,5
19 73,1
7
26,9
49,7 154 46,1
2

Total

1
1
-

%
2,4
2,9
0,6

42
46
41
35
23
35
28
32
26
26
334

Sumber: Rahmawaty, Data Primer: Mei 2011

Hasil wawancara terpimpin yang dilakukan pada anak sekolah dasar kelas IV dan
V dari ke 5 sekolah, frekuensi menyikat gigi 1x sebanyak 3,6%; 2x sebanyak 49,7%; 3x

34

sebanyak 154 orang siswa (46,1%) dan yang tidak menyikat gigi sebanyak 2 orang siswa
(0,6%).

4.3.4 Karakteristik Responden Berdasarkan Waktu Menyikat Gigi.


Selain menanyakan frekuensi siswa menyikat gigi, ditanyakan juga dalam
wawancara terpimpin tersebut kapan waktu menyikat gigi mereka. Hasil jelasnya dapat
dilihat pada tabel berikut :
TABEL 6. Distribusi Gingivitis Berdasarkan Waktu Menyikat Gigi
Nama Sekolah

SDN Maccini I

SDN Maccini II

SDN Maccini III

Waktu Menyikat Gigi Siswa


Kelas IV dan V
1x, Pagi/Siang/Sore/Malam
2x, Setelah sarapan & sebelum tidur
2x, Mandi pagi & sore
3x, Pagi,Siang/Sore & Malam
3x, Pagi, Siang, Sore, & Malam
Total
1x, Pagi/Siang/Sore/Malam
2x, Setelah sarapan & sebelum tidur
2x, Mandi pagi & sore
3x, Pagi,Siang/Sore & Malam
3x, Pagi, Siang, Sore, & Malam
Total
1x, Pagi/Siang/Sore/Malam
2x, Setelah sarapan & sebelum tidur
2x, Mandi pagi & sore
3x, Pagi,Siang/Sore & Malam
3x, Pagi, Siang, Sore, & Malam
Total

Frekuensi

Persentasi (%)

2
22
12
48
3
87
5
31
8
30
1
75
1
24
10
21
2
58

2,3
25,3
13,8
55,2
3,4
1 skt gg
6,7
41,3
10,7
40
1,3
1 skt gg
1,7
41,4
17,2
36,2
3,5

35

SDN Maccini IV

SD Inpres Maccini I/I

1x, Pagi/Siang/Sore/Malam
2x, Setelah sarapan & sebelum tidur
2x, Mandi pagi & sore
3x, Pagi,Siang/Sore & Malam
3x, Pagi, Siang, Sore, & Malam
Total
1x, Pagi/Siang/Sore/Malam
2x, Setelah sarapan & sebelum tidur
2x, Mandi pagi & sore
3x, Pagi,Siang/Sore & Malam
3x, Pagi, Siang, Sore, & Malam
Total

2
15
11
31
1
60
2
28
5
17
52

3,3
25
18,3
51,7
1,7
3,9
53,8
9,6
32,7
-

Sumber: Rahmawaty, Data Primer: Mei 2011

4.3.5 Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan Orang Tua.


Informasi mengenai pekerjaan orang tua dari siswa didapatkan saat dilakukan
tanya jawab mengenai nama dan umur siswa. Lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel
berikut :
TABEL 7. Distribusi Gingivitis Berdasarkan Pekerjaan Orang Tua
Nama Sekolah

SDN Maccini I

SDN Maccini II

SDN Maccini III

SDN Maccini IV

Pekerjaan Orang Tua Siswa


Kelas IV dan V
PNS/Pegawai Swasta
Wiraswasta/Penjual/Buruh,dll.
Ibu Rumah tangga
Tidak Tahu
Total
PNS/Pegawai Swasta
Wiraswasta/Penjual/Buruh,dll.
Ibu Rumah tangga
Tidak Tahu
Total
PNS/Pegawai Swasta
Wiraswasta/Penjual/Buruh,dll.
Ibu Rumah tangga
Tidak Tahu
Total
PNS/Pegawai Swasta
Wiraswasta/Penjual/Buruh,dll.
Ibu Rumah tangga

Frekuensi

Persentasi (%)

22
56
1
9
88
7
64
5
76
6
39
2
11
58
5
33
-

25
63,6
1,1
10,3
9,2
84,2
6,6
10,4
67,3
3,4
18,9
8,3
55
36

SD Inpres Maccini I/I

Tidak Tahu
Total
PNS/Pegawai Swasta
Wiraswasta/Penjual/Buruh,dll.
Ibu Rumah tangga
Tidak Tahu
Total

22
60
6
44
2
52

36,7
11,5
84,6
3,9

Sumber: Rahmawaty, Data Primer: Mei 2011

Pada penelitian ini, persentasi pekerjaan orang tua siswa di kelas IV dan V yaitu
lebih banyak yang berprofesi dibidang wiraswasta, penjual, buruh dll, yaitu 56 orang
(63,3) di SDN Maccini I, 64 orang (84,2%) di SDN maccini II, 39 orang (67,3%) di
SDN Maccini III, 33 orang (55%) di SDN Maccini IV dan 44 orang (84,6%) di SN
Maccini I/I.
4.3.6 Karakteristik Responden Berdasarkan Kunjungan ke Dokter Gigi.
Pada wawancara dalam penelitian ini juga ditanyakan apakah anak tersebut sudah
pernah ke dokter gigi, jika iya maka ditanyakan lagi berapa kali mereka ke dokter gigi
dalam 1 tahun. Lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut :
TABEL 8. Distribusi Gingivitis Berdasarkan Kunjungan ke Dokter Gigi Dalam Setahun
Nama Sekolah
SDN Maccini I
SDN Maccini II
SDN Maccini III
SDN Maccini IV
SD Inpres Maccini I/I

Kelas
IV
V
IV
V
IV
V
IV
V
IV
V

Kunjungan ke Dokter Gigi dalam 1 tahun


1x
14
21
14
18
5
13
4
12
11
8

%
33,3
45,7
34,1
51,4
21,7
37,1
14,3
37,6
42,3
30,8

2x
3
4
5
1
2
1
3
2
3

%
7,2
8,7
12,2
2,9
8,7
2,9
10,7
6,2
11,5

3x
4
2
3
1
1
1
2
1

%
9,5
4,3
7,3
4,4
2,9
3,6
6,2
3,9

21
19
19
16
15
20
20
16
15
14

%
50
41,3
46,4
45,7
65,2
57,1
71,4
50
57,7
53,8

Total
42
46
41
35
23
35
28
32
26
26
37

Total

120

35,9

24

7,2

15

4,5

175

52,4

334

Sumber: Rahmawaty, Data Primer: Mei 2011

Berdasarkan tabel diatas, terlihat bahwa siswa dari ke 5 sekolah tersebut 175
(52,4%) belum pernah ke dokter gigi; 1x ke dokter gigi sebanyak120 orang (35,9%); 2x
sebanyak 24 orang (7,2%) dan 3x ke dokter gigi sebanyak 15 orang (4,5%).

4.3.7 Karakteristik Responden Berdasarkan Kesadaran Anak Untuk Menyikat


Gigi.
Pada wawancara terpimpin yang dilakukan pada siswa, ditanyakan juga apakah
anak tersebut menyikat gigi karena keinginannya sendiri atau karena disuruh oleh orang
tua mereka. Hasilnya dapat dilihat pada tabel berikut :
TABEL 9. Distribusi Berdasarkan Kesadaran Anak Untuk Menyikat Gigi
Nama Sekolah
SDN Maccini I
SDN Maccini II
SDN Maccini III
SDN Maccini IV
SD Inpres Maccini
I/I
Total

Kelas
IV
V
IV
V
IV
V
IV
V
IV
V

Kesadaran Menyikat Gigi


Ingat Sendiri
33
33
34
31
19
25
17
26
18
19
255

%
78,6
71,7
82,9
88,6
82,6
71,4
60,7
81,3
69,3
73,1
76,3

Diingatkan
9
13
7
4
4
10
11
6
8
7
79

Total
%
21,4
28,3
17,1
11,4
17,4
28,6
39,3
18,7
30,7
26,9
23,7

42
46
41
35
23
35
28
32
26
26
334

Sumber: Rahmawaty, Data Primer: Mei 2011

38

Dari hasil wawancara terpimpin pada 334 orang siswa kelas IV dan V, 255
(76,3%) orang anak menyikat gigi atas keinginan dan kesadarannya sendiri dan 79
(23,7%) orang anak menyikat gigi karena diingatkan atau disuruh oleh orang tua
mereka.
BAB V
PEMBAHASAN
Gingivitis adalah inflamasi gingiva yang hanya meliputi jaringan gingiva sekitar
gigi. Gejala-gejala terjadinya suatu peradangan adalah rubor (kemerahan), kalor (panas),
dolor (nyeri), tumor (pembengkakan), dan fusiolesa (kehilangan fungsi). Kondisi klinis
yang dapat dilihat pada gingivitis adalah adanya perubahan warna mulai dari merah
terang menjadi merah kebiruan. Ukuran gingiva menjadi lebih besar dari ukuran normal,
gingiva menjadi lebih mudah berdarah misalnya pada saat menyikat gigi. Kedalaman
sulkus lebih dari 2 mm karena pembesaran tepi gingiva akibat pembengkakan pada
jaringan gingiva.
Penelitian ini dilakukan di 5 sekolah yaitu SDN Maccini I, SDN Maccini II, SDN
Maccini III, SDN Maccini IV dan SD Inpres Maccini I/I dengan jumlah siswa secara
keseluruhan yaitu 334 orang siswa. Dari 334 orang siswa tersebut, 58 orang tidak
mengalami gingivitis dan 276 orang mengalami gingivitis dengan tingkat keparahan
yang sudah ditentukan.

39

5.1 GAMBARAN GINGIVITIS PADA ANAK SEKOLAH DASAR


5.1.1 Gambaran Gingivitis di SDN Maccini I
SDN Maccini I, kelas IV dan V terdiri atas 88 orang siswa. Kelas IV terdiri atas 42
orang siswa dan kelas V terdiri atas 46 oang siswa. Umur pada anak kelas IV dan V
yaitu 8-15 tahun. Dari 88 orang siswa, 14 orang tidak mengalami gingivitis dan 74 orang
mengalami gingivitis dengan tingkat keparahan yang telah ditentukan.
Hasil penelitian di sekolah ini menunjukkan bahwa keadaan gingiva pada anak
kelas IV yaitu dari 42 orang siswa, 4 orang siswa (9,5%) gingivanya dalam keadaan
normal, 29 orang siswa (69,1%) mengalami gingivitis ringan, 9 orang siswa (21,4%)
mengalami gingivitis sedang dan tidak ada yang mengalami gingivitis dengan kriteria
yang berat. Sedangkan pada anak kelas V yaitu terdiri dari 46 orang siswa, 10 orang
siswa (21,7%) gingivanya dalam keadaan normal, 33 orang siswa (71,7%) mengalami
gingivitis ringan, 3 orang siswa (6,5%) mengalami gingivitis sedang dan tidak ada siswa
yang mengalami gingivitis berat.
Dari data yang berdasarkan umur anak pada anak kelas IV dan V yang mengalami
gingivitis, anak yang berumur 9 tahun yang mengalami gingivitis sebanyak 13 orang
siswa (17,6%), umur 10 tahun 35 orang siswa (47,3%), umur 11 tahun 23 orang siswa
(31,1%), dan umur 12 tahun sebanyak 3 orang siswa (4,0%).
Berdasarkan jenis kelamin pada anak kelas IV dan kelas V, dari 74 orang siswa
yang mengalami gingivitis, 36 orang (48,6%) adalah siswa laki-laki dan 38 orang
(51,4%) adalah siswa perempuan.
5.1.2 Gambaran Gingivitis di SDN Maccini II.

40

SDN Maccini II, kelas IV dan V terdiri atas 76 orang siswa. Kelas IV terdiri atas
41 orang siswa dan kelas V terdiri atas 35 orang siswa. Umur pada anak kelas IV dan V
yaitu 8-15 tahun. Dari 76 orang siswa, 10 orang siswa tidak mengalami gingivitis dan 66
orang siswa mengalami gingivitis dengan tingkat keparahan yang telah ditentukan.
Hasil penelitian di sekolah ini menunjukkan bahwa keadaan gingiva pada anak
kelas IV yaitu dari 41 orang siswa, 2 orang siswa (4,9%) gingivanya dalam keadaan
normal, 36 orang siswa (87,8%) mengalami gingivitis ringan, 3 orang siswa (7,3%)
mengalami gingivitis sedang dan tidak ada yang mengalami gingivitis dengan kriteria
yang berat. Sedangkan pada anak kelas V yaitu terdiri dari 35 orang siswa, 6 orang siswa
(17,1%) gingivanya dalam keadaan normal, 24 orang siswa (68,6%) mengalami
gingivitis ringan, 5 orang siswa (14,3%) mengalami gingivitis sedang dan tidak ada
siswa yang mengalami gingivitis berat.
Dari data yang berdasarkan umur anak pada anak kelas IV dan V yang mengalami
gingivitis, anak yang berumur 9 tahun yang mengalami gingivitis sebanyak 6 orang
siswa (8,8%), umur 10 tahun 37 orang siswa (54,4%), umur 11 tahun 23 orang siswa
(33,8%), umur 12 tahun sebanyak 2 orang siswa (1,5%) dan umur 15 tahun sebanyak 1
orang siswa (1,5%)
Berdasarkan jenis kelamin pada anak kelas IV dan kelas V, dari 68 orang siswa
yang mengalami gingivitis, 37 orang (54,4%) adalah siswa laki-laki dan 31 orang
(45,6%) adalah siswa perempuan.
5.1.3 Gambaran Gingivitis di SDN Maccini III.
41

SDN Maccini III, kelas IV dan V terdiri atas 58 orang siswa. Kelas IV terdiri atas
23 orang siswa dan kelas V terdiri atas 35 orang siswa. Umur pada anak kelas IV dan V
yaitu 8-15 tahun. Dari 58 orang siswa, 6 orang siswa tidak mengalami gingivitis dan 29
orang siswa mengalami gingivitis dengan tingkat keparahan yang telah ditentukan.
Hasil penelitian di sekolah ini menunjukkan bahwa keadaan gingiva pada anak
kelas IV yaitu dari 23 orang siswa, tidak ada seorang pun siswa yang gingivanya dalam
keadaan normal, 21 orang siswa (91,3%) mengalami gingivitis ringan, 2 orang siswa
(8,7%) mengalami gingivitis sedang dan tidak ada yang mengalami gingivitis dengan
kriteria yang berat. Sedangkan pada anak kelas V yaitu terdiri dari 35 orang siswa, 6
orang siswa (17,1%) gingivanya dalam keadaan normal, 28 orang siswa (80%)
mengalami gingivitis ringan, 1 orang siswa (2,9%) mengalami gingivitis sedang dan
tidak ada siswa yang mengalami gingivitis berat.
Dari data yang berdasarkan umur anak pada anak kelas IV dan V yang mengalami
gingivitis, anak yang berumur 9 tahun yang mengalami gingivitis sebanyak 3 orang
siswa (5,8%), umur 10 tahun 20 orang siswa (38,5%), umur 11 tahun 22 orang siswa
(42,3%), dan umur 12 tahun sebanyak 7 orang siswa (13,4%).
Berdasarkan jenis kelamin pada anak kelas IV dan kelas V, dari 52 orang siswa
yang mengalami gingivitis, 26 orang (50%) adalah siswa laki-laki dan 26 orang (50%)
adalah siswa perempuan.

5.1.4 Gambaran Gingivitis di SDN Maccini IV.


42

SDN Maccini IV, kelas IV dan V terdiri atas 60 orang siswa. Kelas IV terdiri atas
28 orang siswa dan kelas V terdiri atas 32 orang siswa. Umur pada anak kelas IV dan V
yaitu 8-15 tahun. Dari 60 orang siswa, 17 orang siswa tidak mengalami gingivitis dan 43
orang siswa mengalami gingivitis dengan tingkat keparahan yang telah ditentukan.
Hasil penelitian di sekolah ini menunjukkan bahwa keadaan gingiva pada anak
kelas IV yaitu dari 28 orang siswa, 7 orang siswa (25%) gingivanya dalam keadaan
normal, 16 orang siswa (57,1%) mengalami gingivitis ringan, 5 orang siswa (17,9%)
mengalami gingivitis sedang dan tidak ada yang mengalami gingivitis dengan kriteria
yang berat. Sedangkan pada anak kelas V yaitu terdiri dari 32 orang siswa, 10 orang
siswa (31,3%) gingivanya dalam keadaan normal, 18 orang siswa (56,2%) mengalami
gingivitis ringan, 4 orang siswa (12,5%) mengalami gingivitis sedang dan tidak ada
siswa yang mengalami gingivitis berat.
Dari data yang berdasarkan umur anak pada anak kelas IV dan V yang mengalami
gingivitis, anak yang berumur 8 tahun yang mengalami gingivitis sebanyak 1 orang
siswa (2,3%), umur 9 tahun 5 orang siswa (11,6%), umur 10 tahun 22 orang siswa
(51,2%), umur 11 tahun 12 orang siswa (27,9%), dan umur 12 tahun sebanyak 1 orang
siswa (2,3%) dan umur 13 tahun sebanyak 2 orang siswa (4,7%).
Berdasarkan jenis kelamin pada anak kelas IV dan kelas V, dari 43 orang siswa
yang mengalami gingivitis, 24 orang (55,1%) adalah siswa laki-laki dan 19 orang
(44,9%) adalah siswa perempuan.
5.1.5 Gambaran Gingivitis di SD Inpres Maccini I/I.
43

SD Inpres Maccini I/I, kelas IV dan V terdiri atas 52 orang siswa. Kelas IV terdiri
atas 26 orang siswa dan kelas V terdiri atas 26 orang siswa. Umur pada anak kelas IV
dan V yaitu 8-15 tahun. Dari 52 orang siswa, 13 orang siswa tidak mengalami gingivitis
dan 39 orang siswa mengalami gingivitis dengan tingkat keparahan yang telah
ditentukan.
Hasil penelitian di sekolah ini menunjukkan bahwa keadaan gingiva pada anak
kelas IV yaitu dari 26 orang siswa, 6 orang siswa (23,1%) gingivanya dalam keadaan
normal, 18 orang siswa (69,2%) mengalami gingivitis ringan, 2 orang siswa (7,7%)
mengalami gingivitis sedang dan tidak ada yang mengalami gingivitis dengan kriteria
yang berat. Sedangkan pada anak kelas V yaitu terdiri dari 26 orang siswa, 7 orang siswa
(26,9%) gingivanya dalam keadaan normal, 18 orang siswa (69,2%) mengalami
gingivitis ringan, 1 orang siswa (3,9%) mengalami gingivitis sedang dan tidak ada siswa
yang mengalami gingivitis berat.
Dari data yang berdasarkan umur anak pada anak kelas IV dan V yang mengalami
gingivitis, anak yang berumur 8 tahun yang mengalami gingivitis sebanyak 1 orang
siswa (2,6%), umur 9 tahun 7 orang siswa (16,3%), umur 10 tahun 20 orang siswa
(51,3%), umur 11 tahun 10 orang siswa (25,6%), dan umur 12 tahun sebanyak 1 orang
siswa (2,6%).
Berdasarkan jenis kelamin pada anak kelas IV dan kelas V, dari 39 orang siswa
yang mengalami gingivitis, 19 orang (48,7%) adalah siswa laki-laki dan 20 orang
(51,3%) adalah siswa perempuan.

44

Tingginya prevalensi gingivitis disebabkan karena berbagai faktor. Faktor primer


dari penyakit periodontal adalah iritasi bakteri dan ada beberapa faktor lain baik lokal
maupun sistemik yang merupakan predisposisi dari akumulasi plak atau perubahan
respon gingiva terhadap plak. Faktor-faktor ini dapat dianggap sebagai faktor etiologi
sekunder.16
Pembesaran gingiva terjadi pada bagian marginal dan pada tempat yang terdapat
iritan lokal dikarakteristikkan oleh papillae interproximal bulbous yang menonjol lebih
besar daripada pembesaran gingiva dengan faktor lokal. Survei Sutcliffe pada
sekelompok anak berusia 11 dan 17 tahun menunjukkan sebuah prevalensi gingivitis
yang secara inisial tinggi, cenderung untuk mengalami penurunan beriringan dengan
pertambahan usia. Pada kedua jenis kelamin, prevalensi gingivitis cenderung untuk
mengalami penurunan seiring usia bertambah. Secara inisial, sebesar 89% anak berusia
11 tahun dan 92% anak berusia 12 tahun terkena. Namun demikian, masalah ini harus
ditekankan kembali bahwa dengan pertambahan usia terdapat sebuah peningkatan bukti
penyikatan yang lebih adekuat. Anak perempuan cenderung mengalami gingivitis lebih
awal daripada anak laki-laki.5
Berdasarkan distribusi jenis kelamin, hasil penelitian ini hampir sama dengan
penelitian yang dilakukan di Jember terhadap siswa SD kelas V yang menunjukkan
bahwa siswa laki-laki (62,7%) lebih banyak yang mengalami gingivitis sedangkan siswa
perempuan (51,6%).5

45

Berbeda halnya dengan distribusi gingivitis berdasarkan Gingiva Indeks,


penelitian yang dilakukan di Jember tersebut menunjukkan gingivitis yang diderita anakanak SD kelas V tersebut lebih banyak menunjukkan kategori sedang (94,7%).5
Pada penelitian Pourhashemi di Iran menunjukkan bahwa prevalensi dan intensitas
gingivitis pada anak sekolah dasar usia 6-10 tahun sebanyak 95,7%. Penelitian lain
menunjukkan hasil yang berbeda dari gingivitis. Hal ini karena hasil tersebut didapatkan
dari komunitas dan usia sampel yang berbeda-beda. Sirafi dan Moghaddas melaporkan
bahwa prevalensi gingivitis adalah sekitar 100% pada anak usia sekolah dasar.
Khordimood melaporkan bahwa 86,5% anak-anak sekolah dasar usia 6-13 mengalami
gingivitis di kota Masyhad. Dalam penelitian lain, Makarem menunjukkan bahwa
prevalensi gingivitis pada anak sekolah usia 12 tahun di Masyhad adalah 76,7%. Mofid
dan Sadr telah mempelajari prevalensi penyakit periodontal pada anak-anak usia 6-9
tahun dan 15 tahun dengan menggunakan indeks CPI. Mereka menyatakan tingginya
prevalensi gingivitis pada anak. Studi epidemiologi juga telah menunjukkan bahwa
prevalensi gingivitis di negara lain tinggi. Moore menyatakan bahwa prevalensi
gingivitis pada 1123 anak-anak usia 7-13 tahun sebanyak 93% di India kuno.
Ghandehari Motlagh dkk, melaporkan bahwa 98,5% anak-anak sekolah dasar di
Andimeshk memiliki gusi sehat. Tidak ada perdarahan yang diamati dalam gusi.
Penelitian lain juga disebut memiliki prevalensi tinggi dari gingivitis pada anak-anak
sekolah yaitu Valentaviciene dkk, menemukan tingkat prevalensi gingivitis di Lithuania
sekitar 40-47,3% dari kasus. Mereka juga menemukan peridontitis sekitar 45,1-54,3%
kasus. Sebuah studi kesehatan gigi anak sekolah dasar di Kota Zaria, Nigeria Utara, pada
46

pertengahan 1979, menunjukkan bahwa sekitar, 87,5% dari anak-anak gingivitis.


Berkenaan dengan fakta bahwa kebersihan mulut yang buruk adalah faktor penting
untuk prevalensi penyakit gingivitis dan periodontal.20
Prevalensi gingivitis di barat dan selatan kota Teheran berbeda dengan lainnya. Ini
mungkin berkaitan dengan faktor sosial ekonomi. Dengan kata lain, kelas ekonomi
rendah dapat meningkatkan radang gusi. Faktor ini disebutkan dalam penelitian
epidemiologi dalam penampilan dan prevalensi karies gigi dan penyakit periodontal.
Dummer dkk, mempresentasikan pengaruh kelas sosial pada status penyakit gigi dari
sekelompok anak sekolah 11-12 tahun di South Wales. Mereka melaporkan bahwa plak
dan skor perdarahan gingiva memiliki tren secara keseluruhan meningkat dari kelas
sosial I sampai dengan kelas sosial V. Perempuan, khususnya, menunjukkan semakin
meningkat dan berbeda secara signifikan rata-rata dan skor plak radang gusi.20
Usia juga salah satu faktor sosiodemografi beberapa yang menganggap terkait
dengan status kesehatan mulut. Perilaku kesehatan mulut mempengaruhi kejadian dari
gingivitis. Sayegh dkk, menyelidiki hubungan antara kesehatan mulut, dalam hal karies
gigi dan gingivitis faktor demografi dan sosial, plak gigi, perilaku kebersihan mulut,
pemberian makanan bayi dan praktek diet pada anak-anak usia 4-5 di Yordania. Mereka
menunjukkan bahwa sekitar 66% dari anak-anak mengalami gingivitis. Plak gigi dan
menyusui berkepanjangan merupakan efek berkepanjangan pada tingkat keparahan
karies dan gingivitis. Hubungan terkuat dengan radang gusi adalah plak gigi. Penelitian
Asikainen dan Chen, Saarela dan von Troil-Linden, menunjukkan bahwa penyakit gusi
dapat diturunkan dari orang tua kepada anak-anak dan bahkan antara pasangan.
47

Berdasarkan

temuan

ini,

American

Academy

of

Periodontology

(AAP)

merekomendasikan bahwa pengobatan penyakit gusi dapat melibatkan seluruh keluarga


dan bila ada satu anggota keluarga memiliki penyakit periodontal, semua anggota
keluarga harus melihat gigi profesional untuk screening penyakit periodontal. Jika
radang gusi tidak diobati, dapat berkembang menjadi penyakit gusi yang lebih serius
seperti periodontitis. Periodontitis adalah infeksi oleh bakteri mulut kronis yang
mempengaruhi struktur pendukung gigi dan akhirnya ke penghancuran tulang dan gigi.
Suatu mekanisme telah diusulkan dimana beban bakteri patogen, antigen, endotoksin
dan sitokin inflamasi periodontitis memberikan kontribusi terhadap proses aterosklerosis
dan kejadian tromboemboli. Dalam respon terhadap infeksi dan peradangan, individu
rentan mungkin menunjukkan ekspresi besar mediator lokal dan sistemik dan dengan
demikian dapat meningkatkan resiko infark miokard atau stroke. Sebuah studi Geerts
dan Legrand, menemukan bahwa 91% dari pasien dengan penyakit kardiovaskular juga
menderita penyakit periodontal sedang sampai berat dan orang-orang dengan penyakit
gusi memiliki risiko 25% lebih besar terkena penyakit jantung dibandingkan mereka
yang gusinya sehat. Menurut penelitian ini lebih dari 90% dari anak-anak gingivitis
dengan intensitas ringan hingga sedang. Hal ini dapat menjadi risiko untuk menderita
penyakit jantung. Juga, dalam studi ini lebih dari 30% anak-anak menyikat gigi mereka
satu waktu dan juga 90% dari mereka tidak menggunakan benang gigi setiap hari. Oleh
karena itu perlu untuk menekankan instruksi kebersihan mulut terutama di sekolah dan
mempromosikan pengetahuan siswa tentang pentingnya gigi dan kesehatan mulut. Hal
ini menyimpulkan bahwa survei ini telah menunjukkan kebutuhan yang jelas untuk gigi
48

pelayanan kesehatan masyarakat antara anak-anak sekolah dasar di Teheran dan harus
diberikan prioritas tinggi untuk layanan pencegahan. Penyediaan pelayanan yang
memadai kesehatan gigi yang akan mencakup pendidikan kesehatan gigi, fasilitas dan
personil untuk diagnosis dini dan pengobatan dini untuk ini dan lainnya anak-anak
sekolah tersebut akan memberikan kontribusi yang sangat berharga untuk suara
kesehatan gigi di Iran. Meskipun faktor-faktor seperti obat-obatan dan menurunkan
kekebalan membuat mereka lebih rentan terhadap radang gusi, penyebab paling umum
adalah kebersihan mulut yang buruk. Menyikat dan pembersihan profesional rutin secara
signifikan dapat mengurangi risiko gingivitis.20
Dalam penelitian Odai dkk, sebagian besar kelompok usia, perempuan
menunjukkan frekuensi yang lebih rendah menderita radang gusi daripada laki-laki
meskipun mereka memiliki periode rentan. Hal ini mungkin karena kebersihan mulut
yang lebih baik pada wanita lebih daripada perbedaan fisiologis. Dalam penelitian ini
perbedaan jenis kelamin dapat terlihat perbedaanya. Hal ini konsisten dengan variasi
gender dalam GI skor yang didokumentasikan dalam studi di mana laki-laki dilaporkan
telah secara signifikan lebih tinggi gingiva skor daripada perempuan Anak laki-laki
memiliki lebih banyak gingivitis dibandingkan anak perempuan.21
5.2 KEBIASAAN MENYIKAT GIGI
Kesehatan mulut tidak dapat lepas dari etiologi dengan plak sebagai faktor
bersama terjadinya gingivitis. Penting disadari bahwa plak pada dasarnya dibentuk terusmenerus. Plak dapat terlihat pada permukaan gigi saat menyikat gigi dihentikan dalam
49

12-24 jam. Hal ini dapat dilihat dengan mata telanjang atau dengan disclosing. Jika
menyikat gigi diabaikan selama beberapa hari plak tumbuh menebal dan sekitar 100-300
sel menebal, mencapai tingkat maksimum pada sekitar satu minggu dengan
pemanjangan oklusal dan insisal.17,19
Kebersihan mulut dapat dipelihara dengan menyikat gigi dan melakukan
pembersihan gigi dengan benang pembersih gigi. Pentingya upaya ini adalah untuk
menghilangkan plak yang menempel pada gigi.17
Penelitian Sumarti di Semarang menunjukkan bahwa jika semua plak dibersihkan
dengan cermat tiap 48 jam, penyakit gusi pada kebanyakan orang dapat dikendalikan.
Tetapi untuk kerusakan gigi harus lebih sering lagi. Para ahli banyak yang berpendapat
bahwa menyikat gigi 2 kali sehari sudah cukup.17
Berdasarkan hasil penelitian yang didapatkan dari wawancara terpimpin dengan
siswa sekolah dasar kelas IV dan V di 5 sekolah, menunjukkan bahwa pada umumnya
sebagian besar siswa telah membersihkan gigi sesuai dengan anjuran yaitu 2 kali sehari.
Frekuensi menyikat gigi yang telah dianjurkan adalah 2 kali sehari, yaitu pagi setelah
sarapan dan malam sebelum tidur. Idealnya adalah menyikat gigi setelah makan, namun
yang paling penting adalah malam hari sebelum tidur.17
Di SDN Maccini I, dari 88 orang siswa, frekuensi menyikat gigi siswa tersebut
yaitu 1x sehari sebanyak 2 orang siswa (2,3%), 2x sehari sebanyak 34 orang siswa
(38,6%), 3x sehari sebanyak 51 orang siswa (57,9%) dan ada 1 orang siswa (1,2%) yang
tidak pernah menyikat giginya dalam sehari. Sedangkan waktu mereka menyikat gigi
yaitu 2 orang siswa (2,3%) menyikat gigi 1x sehari pada pagi hari saja, 2x sehari yaitu
50

pada pagi hari setelah sarapan dan malam hari sebelum tidur sebanyak 22 orang siswa
(25,3%), 2x sehari pada waktu mandi pagi dan sore hari sebanyak 12 orang (13,8%), 3x
sehari yaitu pagi, siang/sore, malam sebanyak 48 orang siswa (55,2%), dan 3x sehari
sebanyak 3 orang siswa (3,4%).
Di SDN Maccini II, dari 76 orang siswa, frekuensi menyikat gigi siswa tersebut
yaitu 1x sehari sebanyak 5 orang siswa (6,6%), 2x sehari sebanyak 39 orang siswa
(51,3%), 3x sehari sebanyak 31 orang siswa (40,8%) dan ada 1 orang siswa (1,3%) yang
tidak pernah menyikat giginya dalam sehari. Sedangkan waktu mereka menyikat gigi
yaitu 5 orang siswa (6,7%) menyikat gigi 1x sehari pada pagi hari saja, 2x sehari yaitu
pada pagi hari setelah sarapan dan malam hari sebelum tidur sebanyak 31 orang siswa
(41,3%), 2x sehari pada waktu mandi pagi dan sore hari sebanyak 8 orang (10,7%), 3x
sehari yaitu pagi, siang/sore, malam sebanyak 30 orang siswa (40%), dan 3x sehari
sebanyak 1 orang siswa (1,3%).
Di SDN Maccini III, dari 58 orang siswa, frekuensi menyikat gigi siswa tersebut
yaitu 1x sehari sebanyak 1 orang siswa (1,7%), 2x sehari sebanyak 34 orang siswa
(58,6%), dan 3x sehari sebanyak 23 orang siswa (39,7%). Sedangkan waktu mereka
menyikat gigi yaitu 1 orang siswa (1,7%) menyikat gigi 1x sehari pada pagi hari saja, 2x
sehari yaitu pada pagi hari setelah sarapan dan malam hari sebelum tidur sebanyak 24
orang siswa (41,4%), 2x sehari pada waktu mandi pagi dan sore hari sebanyak 10 orang
(17,2%), 3x sehari yaitu pagi, siang/sore, malam sebanyak 21 orang siswa (36,2%), dan
3x sehari sebanyak 2 orang siswa (3,5%).

51

Di SDN Maccini IV, dari 60 orang siswa, frekuensi menyikat gigi siswa tersebut
yaitu 1x sehari sebanyak 2 orang siswa (3,3%), 2x sehari sebanyak 26 orang siswa
(43,3%), dan 3x sehari sebanyak 32 orang siswa (53,4%). Sedangkan waktu mereka
menyikat gigi yaitu 2 orang siswa (3,3%) menyikat gigi 1x sehari pada pagi hari saja, 2x
sehari yaitu pada pagi hari setelah sarapan dan malam hari sebelum tidur sebanyak 15
orang siswa (25%), 2x sehari pada waktu mandi pagi dan sore hari sebanyak 11 orang
(18,3%), 3x sehari yaitu pagi, siang/sore, malam sebanyak 31 orang siswa (51,7%), dan
3x sehari sebanyak 1 orang siswa (1,7%).
Di SD Inpres Maccini I/I, dari 52 orang siswa, frekuensi menyikat gigi siswa
tersebut yaitu 1x sehari sebanyak 2 orang siswa (3,8%), 2x sehari sebanyak 33 orang
siswa (63,5 %), dan 3x sehari sebanyak 17 orang siswa (32,7%). Sedangkan waktu
mereka menyikat gigi yaitu 2 orang siswa (3,9%) menyikat gigi 1x sehari pada pagi hari
saja, 2x sehari yaitu pada pagi hari setelah sarapan dan malam hari sebelum tidur
sebanyak 28 orang siswa (53,8%), 2x sehari pada waktu mandi pagi dan sore hari
sebanyak 5 orang (9,6%), dan 3x sehari yaitu pagi, siang/sore, malam sebanyak 17 orang
siswa (32,7%).
Gingivitis terkait dengan kebersihan mulut yang buruk. Kondisi gingiva pada
anak-anak sangat berkaitan dengan tingkat kebersihan giginya. Hasil penelitian yang
dilakukan Horowitz pada anak kelas 5 dan kelas 2 SMP ditemukan bahwa gingivitis
tersebut dapat berubah secara signifikan ke arah yang lebih baik setelah dilakukan
kontrol plak. Gingivitis berkurang 40% diantara anak perempuan dan 17 % diantara
anak laki-laki setelah dilakukan kontrol plak.5
52

Kebersihan mulut yang baik dan cara membersihkan gigi yang benar dapat
menghilangkan bakteri plak yang melekat pada gigi. Oklusi gigi yang baik dapat
menguntungkan dalam mengunyah makanan yang bertekstur kasar yang dapat
bermanfaat untuk kebersihan mulut.5
Usaha pemerintah untuk meningkatkan kesehatan gigi dan mulut masyarakat
Indonesia sangat membutuhkan peranserta masyarakat sendiri terutama perubahan
perilaku, melalui program penyuluhan dan pelatihan. Program penyuluhan kesehatan
gigi dan mulut dan pelatihan sikat gigi massal merupakan suatu program yang dilakukan
oleh pemerintah melalui puskesmas setiap tahun.1
Berdasarkan penelitian Hawkins, pendidikan kesehatan yang diberikan beserta
dengan pelatihan akan memberikan hasil yang optimal. Hal ini terbukti pada penelitian
terhadap siswa SDN di Kecamatan Palaran, di mana penyuluhan dan sikat gigi massal
yang dilaksanakan setiap tahun, mempengaruhi perilaku mereka dalam menyikat gigi.
Namun berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Kolawole, hasil penelitiannya
menunjukkan bahwa mayoritas anak-anak sekolah di Nigeria menyikat gigi mereka
sekali sehari dan setelah diberikan pendidikan kesehatan gigi dan mulut sebagian besar
peserta anak-anak sekolah dalam penelitiannya masih melakukan sikat gigi sekali
sehari.1,19
Untuk semua pasien, dan untuk pasien anak-anak pada khususnya, adalah penting
untuk merekomendasikan teknik menyikat gigi yang efektif, mudah dipelajari, dan
mudah untuk berlatih. Berbagai macam teknik menyikat gigi telah disarankan, dan dapat
dikelompokkan dalam berbagai kategori berdasarkan pola gerak. Selama bertahun-tahun
53

tehnik vertikal menyikat gigi, dilakukan menurut teknik roll, direkomendasikan sebagai
metode yang paling cocok untuk menyikat gigi anak-anak.22
Kebersihan mulut yang baik untuk anak dimulai dengan kepentingan dan
kerjasama dari orang tua. Oleh karena itu, motivasi dan instruksi harus diarahkan
terutama terhadap orang tua anak prasekolah. Namun demikian, penting bagi anak untuk
berada di tim. Instruksi dan pengenalan pembersihan yang berbeda harus diberikan
bertahap, sehingga memungkinkan anak-anak atau orang tua untuk menguasai satu hal
pada suatu waktu. Motivasi, pengajaran dan dorongan konstan juga merupakan bagian
penting dari proses. Jika standar kebersihan oral yang optimal dapat dicapai, hal ini
harus dicapai dalam kunjungan rutin ke dokter gigi atau kebersihan. 22
5.3 PEKERJAAN ORANG TUA, KUNJUNGAN KE DOKTER GIGI DAN
KESADARAN UNTUK MENYIKAT GIGI
Berdasarkan distribusi pekerjaan orang tua siswa didapatkan gambaran bahwa
pekerjaan dari orang tua siswa kelas IV dan V di 5 sekolah tersebut sebagian besar
adalah wiraswasta/penjual/buruh, dll. Di SDN Maccini I, 22 orang siswa (25%) yang
pekerjaan orangtuanya PNS, 56 orang siswa (63,6%) bekerja di wiraswasta, 1 orang
siswa (1,1%) ibu rumah tangga dan 9 orang siswa (10,3%) yang tidak tahu pekerjaan
orangtuanya.
Di SDN Maccini II, 7 orang siswa (9,2%) yang pekerjaan orangtuanya PNS, 64
orang siswa (84,2%) bekerja di wiraswasta dan 5 orang siswa (6,6%) yang tidak tahu
pekerjaan orangtuanya. Di SDN Maccini III, 6 orang siswa (10,4%) yang pekerjaan
54

orangtuanya PNS, 39 orang siswa (67,3%) bekerja di wiraswasta, 2 orang siswa (3,4%)
ibu rumah tangga dan 11 orang siswa (18,9%) yang tidak tahu pekerjaan orangtuanya.
Sedangkan di SDN Maccini IV, 5 orang siswa (8,3%) yang pekerjaan orangtuanya
PNS, 33 orang siswa (55%) bekerja di wiraswasta dan 22 orang siswa (36,7%) yang
tidak tahu pekerjaan orangtuanya. Dan di SD Inpres Maccini I/I, 6 orang siswa (11,5%)
yang pekerjaan orangtuanya PNS, 44 orang siswa (84,6%) bekerja di wiraswasta dan 2
orang siswa (3,9%) yang tidak tahu pekerjaan orangtuanya.
Status sosial ekonomi kemungkinan berhubungan dengan satu atau lebih faktorfaktor penghalang yang harus diperhatikan yang mempunyai pengaruh secara langsung
pada kesehatan gigi. Faktor penghalang pasien terhadap perawatan kesehatan gigi sudah
lama dikenal termasuk faktor ekonomi, geografi, pendidikan, budaya, sosial, dan faktor
psikologi.18
Menurut penelitian yang dilakukan oleh M. H. Hobdel dkk dari Inggris, telah lama
dilakukan penelitian terhadap status sosial ekonomi yang rendah memliliki tingkat
kesehatan yang lebih rendah dibandingkan dengan status sosial ekonomi yang tergolong
tinggi. Beberapa studi telah mencari bukti nyata didalam kondisi kehidupan dengan
menjadikan kemiskinan sebagai objeknya dan berbagai penjelasan yang tidak adekuat
untuk menjelaskan perbedaan kesehatan diantara sosial ekonomi rendah dengan sosial
ekonomi tinggi. Penyakit jantung, stroke dan penyakit gigi adalah beberapa contoh
penyakit terbanyak yang terdapat ditingkatan sosial ekonomi rendah dan sedikit sekali
dijumpai ditingkatan sosial ekonomi tinggi. Itu hanya beberapa hal yang dapat dilihat
dari perbedaan sosial ekonomi rendah dengan sosial ekonomi tinggi.18
55

Faktor sosioekonomi, terutama tingkat pendidikan dan pendapatan, juga


mempunyai hubungan yang erat terhadap prevalensi dan keparahan. Individu dengan
tingkat pendidikan dan tingkat pendapatan tinggi umumnya mempunyai kebersihan
mulut yang lebih baik dari prevalensi periodontal yang lebih rendah dari mereka dengan
tingkat pendidikan dan pendapatan yang lebih rendah. Keadaan ini dapat menjelaskan
adanya variasi etnik. Bila kelompok usia yang sama dipopulasi Asia dan Eropa
dibandingkan perubahan gingivitis menjadi periodontitis kelihatannya berlangsung pada
usia lebih muda dan keparahan kerusakan lebih besar pada kelompok populasi Asia
dibandingkan kelompok Eropa. Bila kebersihan mulut maupun status nutrisional lebih
baik pada populasi Eropa dan keadaan ini mungkin lebih mencerminkan dari tingkat
pendidikan dan sosio-ekonomi yang lebih tinggi daripada cerminan dari faktor genetik.
Bila berbagai kelompok dengan tingkat pendidikan dan sosioekonomi yang sama
dibandingkan, profil penyakit umumnya kelihatan sama. Hasil-hasil penelitian
epidemiologis menunjukkan bahwa seringkali penyakit terbatas hanya berupa inflamasi
atau periodontitis marginalis saja dan umumnya perkembangan dari gingivitis menjadi
periodontitis marginalis dan akhirnya menjadi penyakit yang lebih parah serta
tanggalnya gigi berlangsung secara lambat.16
Berdasarkan pengelompokan siswa yang pernah dan belum pernah ke dokter gigi
dengan frekuensi yang ditentukan didapatkan gambaran bahwa sebagian besar siswa
kelas IV dan V di 5 sekolah tersebut belum pernah ke dokter gigi. Dari 334 orang siswa
120 orang siswa (35,9%) pernah ke dokter gigi sebanyak 1x dalam 1 tahun, 24 orang

56

siswa (7,2%) ke dokter gigi sebanyak 2x dalam setahun, 15 orang siswa (4,5%) ke
dokter gigi 3x setahun dan 175 orang siswa (52,4%) belum pernah ke dokter gigi.
Berdasarkan hasil penelitian ini juga terlihat bahwa dari 334 orang siswa kelas IV
dan V di sekolah tersebut, 255 orang siswa (76,3%) menyikat gigi atas keinginannya
sendiri dan 79 orang siswa (23,7%) menyikat gigi karena disuruh oleh orangtuanya dan
bukan karena keinginan sendiri.
Setelah melihat gambaran gingivitis pada anak kelas IV dan V di 5 sekolah
tersebut dan didukung oleh pernyataan siswa melalui wawancara terpimpin, dapat
dikatakan bahwa anak-anak di sekolah tersebut kurang mendapatkan penyuluhan
mengenai pentingnya kesehatan gigi dan pentingnya memeriksakan gigi ke dokter gigi
setiap 6 bulan sekali.
Dalam hal ini, tenaga kesehatan (dokter gigi dan perawat gigi) beserta orang tua
dan guru-guru berperan dalam peningkatan kesehatan gigi, juga untuk merubah perilaku
anak-anak dari perilaku yang tidak sehat ke arah perilaku sehat. Dalam menjalankan
perannya, tenaga kesehatan harus mampu menyadarkan masyarakat termasuk anak-anak
tentang pentingnya menjaga kesehatan gigi, menjelaskan permasalahan yang sering
terjadi pada gigi mengenai sebab-sebab timbulnya masalah dan bagaimana mencegah
serta mengatasi masalah pada gigi.

BAB VI
PENUTUP

57

6.1 KESIMPULAN
Dari hasil penelitian yang dilakukan di SDN Maccini I, II, III, IV dan SD Inpres
Maccini I/I Makassar pada bulan Mei tahun 2011, dapat disimpulkan bahwa:
1. Secara umum gambaran gingivitis dari 334 siswa kelas IV dan V di sekolah tersebut
adalah 58 orang (17,4%) gingivanya dalam keadaan normal, 241 orang (72,2%)
mengalami gingivitis ringan, 35 orang (10,4%) mengalami gingivitis sedang dan
tidak ada yang mengalami gingivitis berat.
2. Siswa kelas IV dan V berumur 8-15 tahun, dari 276 orang siswa yang mengalami
gingivitis, 2 orang (0,7%) berumur 8 tahun, 34 orang (12,3%) berumur 9 tahun, 134
orang (48,5%) berumur 10 tahun, 90 orang (32,6%) berumur 11 tahun, 13 orang
(4,7%) berumur 12 tahun, 2 orang (0,7) berumur 13 tahun dan 1 orang (0,4%)
berumur 15 tahun.
3. Prevalensi gingivitis pada anak laki-laki lebih tinggi dibandingkan pada anak
perempuan yaitu dari 276 orang anak, 142 orang (51,5%) anak laki-laki dan 134
orang (48,5%) anak perempuan.

58

6.2 SARAN
1. Untuk puskesmas setempat, meningkatkan kegiatan penyuluhan kesehatan gigi dan
mulut pada anak sekolah dasar dan orang tua siswa agar mereka dapat ikut
berpartisipasi dalam meningkatkan kesehatan anak secara umum terutama kesehatan
gigi dan mulut untuk mencegah terjadinya kerusakan jaringan periodontal secara
dini.
2. Untuk sekolah, meningkatkan peranan dari UKGS agar membantu mengurangi
timbulnya masalah kesehatan gigi dan mulut utamanya kesehatan jaringan
periodontal.
3. Untuk pemerintah, meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memelihara
kesehatan gigi dan mulut dengan menggunakan sebaik-baiknya sarana kesehatan
yang telah disediakan oleh pemerintah setempat.
4. Untuk mahasiswa, dilakukan penelitian lebih lanjut pada daerah ini untuk melihat
hubungan antara variabel pada anak sekolah dasar kelas IV dan V.

DAFTAR PUSTAKA

59

1. Anitasari S. Hubungan frekuensi menyikatan gigi terhadap tingkat kebersihan


gigi dan mulut siswa-siswi sekolah dasar negeri di Kecamatan Palara Kotamadya
Samarindah Propinsi Kalimantan Timur. Dentika Dental Journal ;2005:10: 22-7.
2. Natamiharja L, Dewi O. Efektivitas penyingkiran plak antara sikat gigi
berserabut posisi lurus dan silang (exceed) pada murid kelas v sekolah dasar.
Dentika Dental Journal ;2002:7: 6-10.
3. Wangsaraharja K. Kebutuhan pelayanan kesehatan gigi dan mulut pada
masyrakat berpenghasilan rendah. Majalah Ilmiah Kedokteran Gigi ; 2007:22:
90-5.
4. Adiningrat A, dkk. Perbedaan antara penggunaan pasta gigi yang mengandung
propolis dan tanpa propolis terhadap status kesehatan gingiva. Majalah Ilmu
Kedokteran Gigi ;2008:10(1): 17-9.
5. McDonald RE, Avery DR, Weddell JA. Gingivitis and periodontal desease. In:
Sokolowski, editor. Dentistry for the child and adolescent. 5th Ed. The C.V
Mosby Company. Toronto; 1987. p.466-84.
6. Hadnyanawati H. Hubungan kebersihan gigi dan mulut dengan gingivitis pada
siswasekolah dasar kelas v di Kabupaten Jember. Jurnal Kedokteran Gigi UI ;
2002:9(2): 10-12.
7. Fiorellini JP, Kim DM, Ishikawa SO. The gingival. In: Newman MG, takei HH,
Carranza FA, editors. Clinical periodontology. 9 th ed. Philadelphia, London,
Toronto: WB Saunder Co; 2002. p.46.
8. Itoiz ME, Carranza FA. The gingival. In: Newman MG, takei HH, Carranza FA,
editors. Clinical periodontology. 9th ed. Philadelphia, London, Toronto: WB
Saunder Co; 2002. p. 17-8.
9. 9. Rianti E. Penatalaksaan terkini gingivitis kronis pada anak [internet].
Available from URL:
10. http://pustaka.unpad.ac.id/wp-

60

content/uploads/2010/06/penatalaksanaan_terkini_gingivitis_kronis_pada_anak.p
df. Accessed 23 November 2010.
11. Carranza AF, Rapley W. J, Haake KS. Gingival inflammation. In: Carranzas
clinical periodontology 9th ed. Newman, Takei, Carranza. WB Saunder Co; 2002.
p.263-7
12. Newman GM, Takei H. Carranzas clinical periodontology. 10th ed. Newman,
Takei, Klokkevold. WB Saunder Co; 2002. p.115-6
13. Herijulianti E, Indriani TS, Artini S. Pendidikan kesehatan gigi. Jakarta : EGC,
2002; p.108-15
14. McDonald RE, Avery DR, Weddell JA. Gingivitis and periodontal desease. In:
Sokolowski, editor. Dentistry for the child and adolescent. 9th ed. Mosby Elsevier.
St. Louis Missouri; 2004. p. 415
15. Hogan LE, Carranza FA. Gingival enlargement. In: Carranzas clinical
periodontology 9th ed. Newman, Takei, Carranza. WB Saunder Co;2002. p. 27980.
16. Duperon D, Takei HH. Gingival desease in childhood. In: Newman MG, takei
HH, Carranza FA, editors. Clinical periodontology. 9 th ed. Philadelphia, London,
Toronto: WB Saunder Co; 2002. p. 404-5.
17. Manson J D, Eley BM. Buku ajar periodonti (outline of periodontics). 2 nd Ed.
Ahli bahasa: Anastasia S. Editor ; Kentjana S. Hipokrates; Jakarta. 1993. p 44-7;
66-71; 101-2
18. Sumarti. Hubungan Hubungan antara konsumsi makanan kariogenik dan
kebiasaan menggosok gigi dengan timbulnya penyakit Karies gigi sulung pada
anak pra sekolah usia 4-6 tahun di desa sekaran kecamatan gunung pati semarang
tahun 2007.
19. Nn. Hubungan tingkat sosial ekonomi dengan derajat kesehatan gigi dan mulut
masyarakat kelurahan barombong kecamatan tamalate Makassar [internet].
Available from : URL:http://chawdnextholmes.blogspot.com/2010/04/bab-ipendahuluan-1.html Accessed 15 januari 2011.
20. Kolawole KA, Oziegbe EO, Bamise CT. Oral hyangiene measures and the
periodontal status of school children. Int J Dent Hyangiene. 2011; 9: 143-147.

63

21. Pourhashemi SJ, Motlagh MG, Khaniki GRJ. Prevalence and intensity of
gingivitis among 6-10 years old elementary school children in teheran, iran.
Journal of medical sciences. 2007; 7: 830-834.
22. Odai CD, Azodo CC, Braimoh OM, Obuekwe ON. Children at a health facility in
uselu, Benin-city. Benin journal of prostgraduate medicine. 2009; 11(1): 34-39.
23. Goldman MH, Gilmore HW, Irby WB, McDonald RE. Current therapy in
dentistry 6th. Mosby company. 1977. p. 546; 549.

64