Anda di halaman 1dari 7

JENIS-JENIS TANAMAN JAGUNG

Berdasarkan

tujuan

penggunaan

atau

pemanfaatannya,

komoditas

jagung di Indonesia dibedakan atas jagung untuk bahan pangan, jagung untuk
bahan industri pakan, jagung untuk bahan industri olahan, dan jagung untuk
bahan tanaman atau disebut benih. Masing-masing jenis bahan tersebut
memiliki nilai ekonomi yang berarti.
Jagung sebagai bahan pangan, dapat dikonsumsi langsung maupun
perlu pengolahan seperti jagung rebus, bakar, maupun dimasak menjadi nasi.
Sebagai bahan pakan ternak, biji pipilan kering digunakan untuk pakan ternak
bukan ruminan seperti ayam, itik, puyuh, dan babi, sedangkan seluruh bagian
tanaman (brangkasan) jagung atau limbah jagung, baik yang berupa tanaman
jagung

muda

maupun

jeraminya

dimanfaatkan

untuk

pakan

ternak

ruminansia. Selain itu, jagung juga berpotensi sebagai bahan baku industri
makanan, kimia farmasi dan industri lainnya yang mempunyai nilai tinggi,
seperti tepung jagung, gritz jagung, minyak jagung, dextrin, gula, etanol, asam
organik, dan bahan kimia lain. Disamping itu, bahan tanaman jagung yang
umum disebut benih, merupakan bagian terpenting dalam suatu proses
produksi jagung itu sendiri.
Plasma nutfah tanaman jagung yang tumbuh di dunia mempunyai
banyak jenis. Para ahli botani dan pertanian mengklasifikasikan tanaman
jagung berdasarkan sifat endosperma (kernel) sebagai berikut.
a. Biji Jagung Berdasarkan Sifat Endosperma
Berdasarkan penampilan dan tekstur biji (kernel), jagung diklasifikasikan ke
dalam 7 tipe yaitu
1. Jagung mutiara (flint corn) Zea mays indurata
Biji jagung tipe mutiara berbentuk bulat, licin, mengkilap dan keras
karena bagian pati yang keras terdapat di bagian atas dari biji. Pada waktu
masak, bagian atas dari biji mengkerut bersama-sama, sehingga menyebabkan
permukaan biji bagian atas licin dan bulat. Pada umumnya varietas lokal di
Jenis-Jenis Tanaman Jagung

Indonesia tergolong ke dalam tipe biji mutiara. Sekitar 75% dari areal
pertanaman jagung di Pulau Jawa bertipe biji mutiara. Tipe biji ini disukai oleh
petani karena tahan hama gudang.

2. Jagung gigi kuda (dent corn) Zea mays identata


Bagian pati keras pada tipe biji dent berada di bagian sisi biji, sedangkan
pati lunaknya di tengah sampai ke ujung biji. Pada waktu biji mengering, pati
lunak kehilangan air lebih cepat dan lebih mengkerut dari pada pati keras,
sehingga terjadi lekukan (dent) pada bagian atas biji. Tipe biji dent ini
bentuknya besar, pipih dan berlekuk. Jagung hibrida tipe dent adalah tipe
jagung yang populer di Amerika dan Eropa. Di Indonesia, terutama di Jawa,
kira-kira 25% dari jagung yang ditanam bertipe biji semi dent (setengah gigi
kuda).
3. Jagung manis (sweet corn) Zea mays saccharata
Bentuk biji jagung manis pada waktu masak keriput dan transparan. Biji
jagung manis yang belum masak mengandung kadar gula lebih tinggi dari pada
pati. Sifat ini ditentukan oleh satu gen sugary (su) yang resesif. Jagung manis
umumnya ditanam untuk dipanen muda pada saat masak susu (milking stage).
4. Jagung berondong (pop corn) Zea mays everta
Pada tipe jagung pop, proporsi pati lunak dibandingkan dengan pati keras
jauh lebih kecil dari pada jagung tipe flint. Biji jagung akan meletus kalau
dipanaskan

karena

mengembangnya

uap

air

dalam

biji.

Volume

pengembangannya bervariasi (tergantung pada varietasnya), dapat mencapai


15-30 kali dari besar semula. Hasil biji jagung tipe pop pada umumnya lebih
rendah daripada jagung flint atau dent.
5. Jagung tepung (floury corn) -Zea mays amylacea
Zat pati yang terdapat dalam endosperma jagung tepung semuanya pati
lunak, kecuali di bagian sisi biji yang tipis adalah pati keras. Pada umumnya

Jenis-Jenis Tanaman Jagung

tipe jagung floury ini berumur dalam (panjang) dan khususnya ditanam di
dataran tinggi Amerika Selatan (Peru dan Bolivia).
6. Jagung ketan (waxy corn) Zea mays ceratina
Endosperma pada tipe jagung waxy seluruhnya terdiri dari amylopectine,
sedangkan jagung biasa mengandung 70% amylopectine dan 30% amylose.
Jagung waxy digunakan sebagai bahan perekat, selain sebagai bahan
makanan.

7. Jagung pod (pod corn) Zea mays tunicata


Setiap biji jagung pod terbungkus dalam kelobot, dan seluruh tongkolnya
juga terbungkus dalam kelobot. Endosperma bijinya mungkin flint, dent, pop,
sweet atau waxy.
Dari ketujuh jagung tersebut, jagung mutiara (flint corn) dan semi gigi
kuda (dent corn), serta jagung manis (sweet corn) yang banyak dibudidayakan di
Indonesia.
b. Klasifikasi Jagung Berdasarkan Umur Tanaman
Kelompok varietas tanaman jagung berdasarkan umur tanamannya terbagai
menjadi tiga seperti dijelaskan dibawah ini :
1. Varietas Berumur Pendek (Genjah) : umur panennya berkisar antara 70
80 hari setelah tanam (HST). Contoh : varietas Medok, Madura, Kodok,
Putih Nusa, Impa Kina, dan Abimayu.
2. Varietas Berumur Sedang (Medium) : umur panennya berkisar antara
80 100 HST. Contoh : varietas Panjalinan, Bromo, Arjuna, Sadewa,
Parikesit, Hibrida C-1 dan CPI-1.
3. Varietas Berumur Panjang (Dalam) : umur panennya berkisar antara
80 110 HST. Contoh : varietas Harapan, Metro, Pandu, Bima dan
Composit-2.
c. Klasifikasi Jagung Berdasarkan Tempat Penanaman
Jenis-Jenis Tanaman Jagung

Tanaman jagung dapat tumbuh di dataran rendah sampai dataran tinggi.


Berdasarkan ketinggian tempat penanaman, jagung dibedakan menjadi dua
kelompok varietas sebagai berikut :
a) Varietas jagung dataran rendah : dapat tumbuh dan berproduksi baik di
daerah yang mempunyai ketinggian kurang dari 1.000 m dpl. Contoh :
varietas Harapan, Arjuna, Sadewa, Parikesit, Bromo, Abimayu, Kalingga
dan Wiyasa.
b) Varietas jagung dataran tinggi : dapat tumbuh dan berproduksi baik di
daerah yang mempunyai ketinggian lebih dari 1.000 m dpl. Contoh :
varietas Bima, Pandu, Kania Putih, dan Baster Kuning.
d. Klasifikasi Jagung Berdasarkan Ketahanan Terhadap Hama dan
Penyakit
Setiap varietas jagung memiliki ketahanan yang berbeda dengan varietas lain
terhadap serangan hama dan penyakit. Berdasarkan sifat ketahanan tersebut
tanaman jagung dapat dibedakan menjadi empat jenis varietas :
1) Varietas yang Tahan (Resisten) : varietas yang tahan (tetap tumbuh
dan berproduksi dengan baik) apabila dalam keadaan hama dan
penyakit berkembang dengan baik serta merupakan tanaman yang
jagungnya terserang kurang dari 10%. Contoh : C-1, Pioneer-1,
Pioneer-2, Sadewa, Semar-1 dan Semar-2.
2) Varietas yang Toleran : varietas yang toleran terhadap hama dan
penyakit ditandai dengan kemampuan varietas jagung yang hanya
terserang 11%-25% pada saat hama dan penyakit berkembang dengan
baik. Contoh : DMR 5, C1, C2, dan IPB-4.
3) Varietas Setengah Toleran : tanaman yang ditandai dengan
kemampuan terserang antara 26%-50% oleh hama dan penyakit pada
saat organisme tersebut berkembang dengan baik. Cotohnya : semua
varietas jagung unggul.
4) Varietas Peka : tanaman yang ditandai dengan kemampuan terserang
lebih dari 50% pada waktu organisme tersebut berkembang biak.
Contohnya : varietas Metro.
Jenis-Jenis Tanaman Jagung

e. Klasifikasi Jagung Berdasarkan Pembentukannya


Tanaman jagung adalah tanaman yang menyerbuk silang, artinya
sebagian besar ( 95%) penyerbukannya berasal dari tanaman lain. Pada
umumnya tanaman menyerbuk silang atau bersari bebas, susunan genetik
antar satu tanaman dengan yang lain dalam suatu varietas akan berlainan.
Oleh sebab itu sifat-sifat pada tanaman menyerbuk silang akan menunjukkan
suatu varietas yang besar. Walaupun demikian, varietas tersebut masih
menunjukkan sifat-sifat yang dapat diukur, seperti tinggi tanaman, bentuk
tongkol, tipe biji, warna biji dan sebagianya. Varietas yang telah mengalami
seleksi dan adaptasi pada suatu lingkungan akan menunjukkan suatu
keseragaman fenotipe yang dapat dibedakan dengan varietas lain. Pada
dasarnya varietas jagung digolongkan ke dalam dua golongan varietas berikut.
1. Varietas bersari bebas (non hibrida atau Open Pollinated Variety / OPV)
2. Varietas hibrida
a. Jagung Hibrida BISI 2
SK Menteri No : 589/Kpts/TP.240/9/95
Pertumbuhan tanaman tegak, seragam dan tahan
roboh.
Tahan terhadap serangan penyakit bulai, karat
daun dan bercak daun.
Dapat menghasilkan dua tongkol pertanaman yang
sama besar.
Rendemen sangat

tinggi

yaitu

83%,

karena

memiliki ukuran janggel kecil, dengan tongkol

b.

besar dan silindris.


Tongkol tertutup rapat sehingga serangan busuk buah berkurang.
Populasi tanaman sekitar 62.000 per ha.
Kebutuhan benih sekitar 15 kg per ha.
Dapat dipanen umur 103 hari setelah tanam.
Potensi hasil 13 ton per ha pipil kering.
Jagung Hibrida BISI 3

SK. Menteri No : 835/Kpts/TP.240/11/96.

Jenis-Jenis Tanaman Jagung

Pertumbuhan tanaman kuat, kokoh dan tahan


roboh dengan
bentuk daun tegak.
Warna daun hijau gelap.
Tahan terhadap serangan penyakit bulai,
karat daun dan busuk batang.
Rendemen cukup tinggi karena ukuran
janggelnya kecil.
Tongkol tertutup dengan sempurna.
Panjang tongkol antara 2225 cm.
Panen dapat dilakukan sekitar 95 hari
setelah tanam.
Potensi hasil sekitar 9,7 ton pipil kering per ha.
Kebutuhan benih sekitar 20 kg per ha.

c. Jagung Hibrida BISI 5


SK. Menteri No : 711/Kpts/TP.240/8/9
Pertumbuhan tanaman tegak, seragam dan tahan roboh.
Kemampuan beradaptasi cukup luas baik
didataran
menengah maupun dataran tinggi.
Sangat
tahan
terhadap
serangan

rendah

penyakit

bulai,

karat daun dan bercak daun.


Rendemen sangat tinggi yaitu sekitar
83%, karena memiliki janggel kecil dan biji
Tongkol tertutup rapat dengan baik.
Sangat cocok dipanen muda untuk konsumsi
jagung muda.
Siap dipanen pada umur sekitar 97 hari
setelah tanam, dengan potensi hasil
sekitar 11,7 ton pipil kering per ha.
Kebutuhan benih sekitar 20 kg per ha.
d. Jagung Hibrida BISI 7

Jenis-Jenis Tanaman Jagung

penuh.

SK. Menteri No : 713/Kpts/TP.240/8/98.


Pertumbuhan tanaman tegap, seragam dan
tahan roboh.
Tahan terhadap serangan penyakit bulai,
karat daun dan bercak daun.
Warna daun hijau tua dengan posisi daun
tegak.
Tongkol jagung tertutup dengan baik.
Kemampuan beradaptasi sangat luas baik
pada dataran rendah, menengah maupun
dataran tinggi.
Potensi hasil sekitar 10,4 ton pipil kering perha.
Panen dapat dilakukan pada umur 98 hari setelah tanam.

Jenis-Jenis Tanaman Jagung