Anda di halaman 1dari 41

HUKUM PERIKATAN

HIJRAH LAHALING, SHI.MH

TOPIK BAHASAN
I. Perikatan Pada Umumnya
a. Pengertian Perikatan
b. Unsur Perikatan
c. Sumber Perikatan
d. Schuld dan Haftung
e. Jenis-Jenis Perikatan
f. Perikatan Untuk Memberikan Sesuatu
g. Perikatan untuk Berbuat Sesuatu Dan Perikatan
untuk Tidak Berbuat Sesuatu

h. Ingkar Janji (Wanprestasi)


i. Keadaan Memaksa (Force Majeur)
j. Resiko

II. Perikatan-Perikatan yang Lahir dari UndangUndang


k. Sumber Perikatan
l. Perikatan yang Lahir dari UU Akibat Perbuatan
Orang yang Halal dan yang Melawan Hukum

III. Hapusnya Perikatan


a. Perikatan Hapus
b. Pembayaran
c. Subrogasi
d. Tentang Penawaran Pembayaran Tunai, diikuti oleh

Penyimpanan atau Penitipan


e. Pembaharuan Utang (Novasi)
f. Pengoperan Utang dan Pengoperan Kontrak
g. Kompensasi Atau Perjumpaan Utang
h. Percampuran Utang
i. Pembebasan Utang
j. Musnahnya Barang yang Terutang
k. Kebatalan dan Pembatalan Perikatan

PERIKATAN PADA UMUMNYA

a. Pengertian Perikatan
Perikatan menurut Buku III B.W:
Suatu hubungan hukum (mengenai kekayaan harta
benda) antara dua orang, yang memberi hak pada
yang satu untuk menuntut barang sesuatu dari yang
lainnya,

sedangkan

orang

yang

diwajibkan memenuhi tuntutan itu.

lainnya

ini

b. Unsur Perikatan
1) Hubungan Hukum
ialah hubungan yang terhadapnya hukum melekatkan hak
pada 1 (satu) pihak dan melekatkan kewajiban pada pihak
lainnya.
2) Kekayaan
Yang dimaksudkan dengan kriteria perikatan itu adalah ukuranukuran yang dipergunakan terhadap sesuatu hubungan hukum
sehingga hubungan hukum itu dapat disebutkan suatu perikatan.
Di dalam perkembangan sejarah, apa yang dipakai sebagai
kriteria itu tidak tetap. Dahulu yang menjadi kriteria ialah
hubungan hukum itu dapat dinilai dengan uang atau tidak.
Apabila hubungan hukum itu dapat dinilai dengan uang, maka
hubungan hukum tersebut merupakan suatu perikatan.

3) Pihak-Pihak
Dalam hubungan hukum itu harus terjadi antara 2
(dua) orang atau lebih. Pihak yang berhak atas
prestasi, pihak yang aktif adalah kreditur atau yang
berpiutang, dan pihak yang wajib memenuhi
prestasi, pihak yang pasif adalah debitur atau yang
berutang. Mereka ini yang disebut subjek
perikatan.

4) Prestasi (Objek Hukum)


Pasal 1234 KUHPerdata Prestasi itu dibedakan atas:
memberikan sesuatu, mis: pemberian sejumlah
uang, memberi benda untuk dipakai (menyewa),
penyerahan hak milik atas benda tetap dan bergerak.
berbuat sesuatu, mis: membangun rumah
tidak berbuat sesuatu, mis: A membuat perjanjian
dengan B ketika menjual apoteknya, untuk tidak
menjalankan usaha apotek dalam daerah yang sama.

c. Sumber Perikatan
Perikatan dapat lahir dari suatu persetujuan
(perjanjian) atau dari Undang-Undang (Pasal
1233). Perikatan yang lahir dari UU dapat dibagi lagi
atas perikatan-perikatan yang lahir dari UU saja atau
yang lahir dari UU karena suatu perbuatan orang
(Pasal 1352). Yang belakangan ini, dapat dibagi lagi
atas perikatan-perikatan yang lahir dari suatu
perbuatan yang diperbolehkan dan yang lahir dari
perbuatan yang berlawanan dengan hukum (Pasal
1353).

d. Schuld dan Haftung


Setiap debitur mempunyai kewajiban menyerahkan
prestasi kepada kreditur. Karena itu debitur
mempunyai kewajiban untuk membayar utang. Dalam
istilah asing kewajiban itu disebut Schuld.
Sementara Haftung
ialah seorang debitur
berkewajiban untuk membiarkan harta kekayaannya
diambil oleh kreditur sebanyak utang debitur, guna
pelunasan utang tadi, apabila debitur tidak memenuhi
kewajibannya membayar utang tersebut.

e. Jenis-Jenis Perikatan
1) Perikatan Bersyarat

Adalah suatu perikatan yang digantungkan pada suatu


kejadian di kemudian hari, yang masih belum tentu
akan atau tidak terjadi. Misalnya:
) apabila saya berjanji pada seseorang untuk membeli
mobilnya kalau saya lulus dari ujian. Di sini, dapat
dikatakan bahwa jual beli itu hanya akan terjadi, kalau
saya lulus dari ujian.
) saya mengizinkan seorang mendiami rumah saya,
dengan ketentuan bahwa perjanjian itu akan berakhir
apabila secara mendadak saya di berhentikan dari
pekerjaan saya

2) Perikatan yang digantungkan pada suatu


ketetapan waktu
Perbedaan antara suatu syarat dengan suatu
ketetapan waktu ialah yang pertama berupa suatu
kejadian atau peristiwa yang belum tentu atau
tidak akan terlaksana, sedangkan yang kedua
adalah suatu hal yang pasti akan datang, meskipun
mungkin belum dapat ditentukan kapan datangnya,
misalnya meninggalnya seseorang

3) Perikatan yang membolehkan memilih


Ini adalah suatu perikatan dimana terdapat dua atau lebih
macam prestasi, sedangkan kepada si berhutang diserahkan
yang mana ia akan lakukan. Misalnya, ia boleh memilih
apakah ia akan memberikan kuda atau mobilnya atau uang
satu juta rupiah.
4) Perikatan tanggung-menanggung
adalah suatu perikatan di mana beberapa orang bersamasama sebagai pihak yang berhutang berhadapan dengan satu
orang yang menghutangkan, atau sebaliknya. Beberapa orang
sama-sama berhak menagih suatu piutang dari satu orng.
Tetapi perikatan semacam ini, sedikit sekali terdapat dalam
praktek

e) Perikatan yang dapat dibagi dan yang tidak dapat


dibagi
Apakah suatu perikatan dapat dibagi atau tidak?
Tergantung pada kemungkinan tidaknya membagi
prestasi. Pada hakekatnya tergantung pula dari kehendak
atau maksud kedua belah pihak yang membuat suatu
perjanjian. Persoalan tentang dapat atau tidaknya dibagi
suatu perikatan, barulah tampil ke muka jika salah satu
pihak dalam perjanjian telah digantikan oleh beberapa
orang lain. Hal mana biasanya terjadi karena
meninggalnya satu pihak yang menyebabkan ia digantikan
dalam segala hak-haknya oleh sekalian ahli warisnya.

f) Perikatan dengan Penetapan Hukuman


Untuk mencegah jangan sampai si berhutang dengan
mudah saja melalaikan kewajibannya, dalam praktek
banyak dipakai perjanjian dimana si berhutang
dikenakan suatu hukuman, apabila ia tidak menepati
kewajibannya. Hukuman ini, biasanya ditetapkan
dalam suatu jumlah uang tertentu yang sebenarnya
merupakan suatu pembayaran kerugian yang sejak
semula sudah ditetapkan sendiri oleh para pihak
yang membuat perjanjian itu.

F. Perikatan Untuk Memberikan Sesuatu


1. Kewajiban dalam Perikatan Memberikan Sesuatu

Adalah perikatan untuk menyerahkan dan merawat


benda, sampai pada saat penyerahan dilakukan (Pasal
1235)
2.Kewajiban Ganti Rugi
Pasal 1236: Si berutang (debitur) adalah berwajib
memberikan ganti biaya rugi dan bunga kepada si
berpiutang (kreditur) apabila ia telah membawa
dirinya dalam keadaan tidak mampu untuk
menyerahkan kebendaannya, atau telah tidak
merawatnya sepatutnya guna menyelamatkannya.

G. Perikatan Untuk Berbuat Sesuatu dan Tidak Berbuat


Sesuatu
1) Kewajiban Ganti Rugi
Pasal 1239 dan Pasal 1242: Tiap-Tiap Perikatan untuk
berbuat sesuatu, atau untuk tidak berbuat sesuatu,
apabila si berutang tidak memenuhi kewajibannya,
mendapatkan penyelesaiannya dalam kewajiban,
memberikan penggantian biaya, rugi dan bunga.
2) Eksekusi Riel
Pasal 1241: Apabila perikatan tidak dilaksanakannya,
maka si berpiutang boleh juga dikuasakan supaya ia
sendirilah mengusahakan pelaksanaannya atas biaya si
berutang

H. Ingkar Janji (Wanprestasi)


Wanprestasi adalah apabila seorang berhutang tidak
memenuhi kewajibannya atau seorang debitur yang
lalai yang menyebabkan ia dapat di gugat di depan
hakim.
Seorang debitur dikatakan lalai, apabila ia:
1. Tidak memenuhi kewajibannya
2. Terlambat memenuhinya
3. Memenuhinya tetapi tidak seperti yang telah
diperjanjikan

I. Keadaan Memaksa (overmacht atau Force Majeur)


Adalah kerugian yang menimpa pihak yang berkontrak
yang juga dapat terjadi karena faktor di luar kendali
kedua pihak (manusia) atau di luar kekuasaannya.
Keadaan memaksa, ada yang bersifat mutlak
(absolut) dan ada yg bersifat tidak mutlak
(relatif).
1) Yang bersifat Mutlak (Absolut)
Yaitu dalam halnya sama sekali tidak mungkin lagi
melaksanakan perjanjiannya. Mis: barangnya sudah
hapus karena bencana alam.

2) Yang bersifat Tidak Mutlak (Relatif)


Yaitu berupa suatu keadaan dimana perjanjian
masih dapat juga dilaksanakan, tetapi dengan
pengorbanan-pengorbanan yang sangat besar dari
debitur. Mis: harga barang naik sangat tinggi, atau
tiba-tiba pemerintah mengeluarkan peraturan yang
melarang dengan ancaman hukuman untuk
mengeluarkan suatu macam barang dari suatu
daerah, yang menyebabkan debitur tidak dapat
mengirimkan barangnya kepada si kreditur.

J. Resiko
Adalah kewajiban untuk memikul kerugian jikalau
ada suatu kejadian di luar kesalahan salah satu pihak
yang menimpa benda yang dimaksudkan dalam
perjanjian.
Pasal 1237: bahwa dalam suatu perjanjian mengenai
pemberian suatu barang tertentu, sejak lahirnya
perjanjian itu barang tersebut sudah menjadi
tanggungan
orang
yang
berhak
menagih
penyerahannya.

Resiko ada 2 (dua):


1. Resiko pada perjanjian sepihak
Yaitu suatu perjanjian yang meletakkan kewajiban
hanya pada satu pihak saja. Mis: seseorang
menjanjikan akan memberikan seekor kuda dan kuda
ini sebelum diserahkan mati karena disambar petir,
maka perjanjian dianggap hapus. Orang yang harus
menyerahkan kuda bebas dari kewajiban untuk
menyerahkan ia pun tidak usah memberikan sesuatu
kerugian dan akhirnya yang menderita kerugian ini
ialah orang yang akan menerima kuda itu.

Lain halnya, bila si berhutang (yang harus


menyerahkan barang) itu lalai dalam kewajibannya
untuk menyerahkan barangnya, maka sejak saat itu
resiko berpindah di atas pundaknya, meskipun ia
masih juga dapat dibebaskan dari pemikulan resiko
itu, jika ia dapat membuktikan bahwa barang tersebut
juga akan hapus seandainya sudah berada di tangan si
berpiutang sendiri.

2. Resiko dalam Perjanjian Timbal Balik


Yaitu resiko dalam perjanjian yang meletakkan kewajiban
pada kedua belah pihak.
Menurut pasal 1460, dalam hal suatu perjanjian jual beli
mengenai suatu barang yang sudah ditentukan sejak saat
ditutupnya, perjanjian barang itu sudah menjadi
tanggungan si pembeli, meskipun ia belum diserahkan dan
masih berada di tangan si penjual. Dengan demikian, jika
barang itu hapus bukan karena salahnya si penjual, si
penjual masih tetap berhak untuk menagih harga yang
belum di bayar. Lain halnya dengan perjanjian pertukaran
barang yang diatur dalam pasal 1545.

Perikatan-Perikatan yang Lahir


dari Undang-Undang

A. Sumber Perikatan
Pasal 1233:
Tiap-Tiap perikatan dilahirkan, baik
persetujuan, baik karena undang-undang

karena

Pasal 1352:
Perikatan-Perikatan yang dilahirkan demi undangundang, timbul dari undang-undang saja atau dari
undang-undang sebagai akibat perbuatan orang

Lanjutan Sumber Perikatan.


1. Persetujuan (perjanjian)
2. Undang-Undang :
a. UU saja, yaitu perikatan yang timbul oleh
hubungan kekeluargaan.
b. UU karena suatu perbuatan orang:
Perbuatan yang diperbolehkan (tidak
melawan hukum/rechtmatig)
Perbuatan yang berlawanan hukum
(onrechtmatig)

B. Perikatan yang lahir dari UU


1. UU saja, yaitu perikatan yang timbul oleh hubungan
kekeluargaan.
Misalnya: kewajiban anak terhadap orang tuanya (pasal
321): tiap-tiap anak berwajib memberi nafkah kepada
orang tuanya dan para keluarga sedarahnya dalam garis
ke atas, apabila mereka dalam keadaan miskin
b. UU karena suatu perbuatan orang:
Perbuatan
yang diperbolehkan (tidak melawan
hukum/rechtmatig). Misalnya yang diatur dalam pasal
1354 tentang mengurus kepentingan orang lain dengan
sukarela (zaakwaarneming)

Perbuatan yang berlawanan hukum (onrechtmatig)

Diatur dalam pasal 1365: Tiap perbuatan melanggar hukum


yang membawa kerugian kepada seorang lain, mewajibkan
orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu,
mengganti kerugian tersebut.
Perikatan Wajar (naturlijke vebintenis), yaitu suatu
perikatan yang berada di tengah-tengah antara perikatan
moral atau kepatutan dan suatu perikatan hukum, atau
boleh dikatakan sebagai suatu perikatan hukum yang tidak
sempurna. Contoh perikatan ini antara lain ialah : hutanghutang yang terjadi karena perjudian (Pasal 1788), tidak
dizinkan untuk menuntut pembayaran.

Hapusnya Perikatan

A. Perikatan Hapus
Pasal 1381, menyebutkan 10 macam perikatanperikatan hapus:
1. Karena Pembayaran;
2. Karena Penawaran pembayaran tunai, diikuti
dengan penyimpanan atau penitipan.
3. Karena Pembaharuan hutang;
4. Karena perjumpaan hutang atau Kompensasi
5. Karena Percampuran hutang;
6. Karena Pembebasan hutang;

7. Karena musnahnya barang yang terutang;


8. Karena kebatalan atau Pembatalan;
9. Karena

berlakunya suatu syarat-batal, yang


diatur dalam bab kesatu Buku III;
10. Karena Lewatnya waktu, hal mana akan diatur
dalam suatu bab tersendiri.

1. Pembayaran
Pasal 1382: Tiap-Tiap perikatan dapat dipenuhi oleh

siapa saja yang berkepentingan, sepertinya seorang


yang turut berutang atau seorang penanggung utang.
Suatu perikatan bahkan dapat dipenuhi juga oleh
seorang pihak ketiga, yang tidak mempunyai
kepentingan, asal saja orang pihak ketiga itu
bertindak atas nama dan untuk melunasi utangnya si
berutang, atau jika ia bertindak atas namanya sendiri,
asal ia tidak menggantikan hak-hak si berpiutang.
(Subrogasi)

2. Penawaran pembayaran tunai, diikuti dengan


penyimpanan atau penitipan.
Pasal 1404:
Jika si berpiutang menolak pembayaran, maka si
berutang dapat melakukan penawaran pembayaran
tunai apa yang diutangnya, dan jika si berpiutang
menolaknya, menitipkan uang atau barangnya kepada
Pengadilan
Penawaran yang sedemikian, diikuti dengan penitipan,
membebaskan si berutang, dan berlaku baginya sebagai
pembayaran, asal penawaran itu telah dilakukan dengan
cara menurut uu sedangkan apa yang dititipkan secara
itu tetap atas tanggungan si berpiutang.

3. Pembaharuan Utang (Novasi)


Yaitu suatu pembuatan perjanjian baru yang
menghapuskan suatu perikatan lama, sambil
meletakkan suatu perikatan baru. Diatur dalam
pasal 1414-1418

4. Perjumpaan Hutang atau Kompensasi

Pasal 1425:
Jika 2 (dua) orang saling berutang 1(satu) pada yang
lain, maka terjadilah antara mereka suatu
perjumpaan, dengan mana utang-utang antara
kedua orang tersebut dihapuskan, dengan cara dan
dalam hal-hal yang akan disebutkan sesudah ini

5. Karena Percampuran hutang

Adalah percampuran kedudukan (kualitas) dari partaipartai yang mengadakan perjanjian, sehingga kualitas
sebagai kreditur menjadi 1 (satu) dengan kualitas dari
debitur. Dalam hal ini demi hukum hapuslah
perikatan yang semula ada di antara kedua belah
pihak tersebut (pasal 1436)

6. Pembebasan Hutang
Ialah pembuatan atau pernyataan kehendak dari
kreditur untuk membebaskan debitur dari perikatan
dan pernyataan kehendak tersebut diterima oleh
debitur . Menurut pasal 1439 pembebasan utang itu
tidak boleh dipersangkakan , tetapi harus dibuktikan.

7. Hapusnya barang yang dimaksudkan dalam perjanjian

Pasal 1444:
jika barang tertentu yang menjadi bahan persetujuan,
musnah tidak dapat lagi diperdagangkan, atau hilang,
sedemikian sehingga sama sekali tak diketahui apakah
barang itu masih ada. Maka hapuslah perikatannya,
asal barang itu musnah atau hilang di luar salahnya si
berutang dan sebelum ia lalai menyerahkannya.

8. Pembatalan Perjanjian
Perjanjian-perjanjian yang dibuat oleh orang-orang

yang menurut UU tidak cakap untuk bertindak


sendiri, bagitu pula yang dibuat karena paksaan,
kekhilafan atau penipuan atau pun mempunyai
sebab yang bertentangan dengan UU, kesusilaan
atau ketertiban umum dapat dibatalkan. Dan
keadaan antara kedua belah pihak dikembalikan
seperti pada waktu perjanjian belum di buat.