Anda di halaman 1dari 4

Nama : Mega Mijil P.

NIM : 1209005009
Kelas: A

1. Peternak sapi sering memberikan tambahan garam dapur (NaCl) pada ransum
atau pakan ternaknya bertujuan untuk memberikan kecukupan nutrisi
khususnya kebutuhan mineral. Petenak menggunaan tambahan garam dapur
(NaCl) dikarenakan struktur kimia garam dapur yang terdiri dari kation
dan anion

Cl

+
Na

mengandung mineral makro yaitu natrium (Na) dan klorida

(Cl). Kedua mineal ini natrium (Na) dan klorida (Cl) sangat dibutuhkan oleh
ternak, kebutuhan mineral makro pada ternak sapi lebih dari 100 mg dalam
sehari. Jika hanya mengandalkan ransum ternak khususnya pakan hijaun
kebutuhan mineral makro ini sering tidak tercukupi. Keadaan tersebut sering
dinamakn defisiensi mineral pada ternak, dan hal itu cukup berbahaya bagi
kesehatan ternak. Dimana ternak yang mengalami defisiensi mineral akan
terlihat tidak nafsu makan hingga berat badanya semakin menurun. Dalam
kondisi kronis defisiensi mineral akan berakibat lebih serius yaitu pertumbuhan
ternak yang terhambat, bahkan dalam kasus tertentu menagkibatkan kematian.
Defisiensi mineral ini termasuk penyakit non infeksius hal ini berarti
diperlukan waktu lama dalam mengidentifikasi atau mendiagnosa apakah
seekor ternak mengalami defisiensi mineral, berbeda dengan penyakit infeksius
yang dapat diketahui lebih cepat dengan pemeriksaan atau diagnosa
laboratorium. Untuk itu penambahan garam dapur (NaCl) pada pakan ternak
atau ransum oleh para peternak untuk mencegah defisiensi mineral merupakan
tindakan yang tepat.
2. Mineral sangat di butuhkan untuk pertumbuhan tulang, gigi dan jaringan
termasuk berguna sebagai bahan sintesa enzim, hormon dan substansi lain yang
diperlukan untuk proses metabolisme. Kebutuhan mineral ruminansia dapat

dikelompokkan menjadi dua, yaitu unsur makro (Ca, P, Na, Cl, K, Mg dan S)
dan unsur mikro (Fe, I, Cu, Mo, Zn, Mu, Cr, F, Ni, Co dan Se). Dalam keadaan
defisiensi mineral sering berdampak pada pertumbuhan ternak, hal ini dapat
terjadi karena ternak yang kekurangan mineral (defisiensi mineral) selalu
menunjukan ciri yang khas yaitu menurunya nafsu makan. Jika nafsu makan
sudah menurun kebutuhan asupan makanan ternak tidak akan tercukupi.
Padahal dalam pertumbuhan memerlukan asupan nutrisi yang cukup dari
makanan terutama mineral. Selain iu keseimbangan metabolisme juga
mempengaruhi pertumbuhan ternak, jika metabolisme makanan berjalan
dengan baik maka pertumbuhanpun tidak akan terganggu begitupun
sebaliknya. Akan tetapi keseimbangan metabolisme akan terjadi jika asupan
nutrisi terpenuhi dengan sempurna. Namun yang terjadi dalam defisiensi
mineral justu sebaliknya, nafsu makan menurun mengakibatkan malnutrisi
pada ternak hingga terganggunya metabolisme makanan yang akan berdampak
langsung terhambatnya pertumbuhan ternak. Mineral P, K, Na, Zn, S, dan Cu
memegang peranan penting dalam pertumbuhan ternak. Defisiensi mineral
khususnya kelima mineral yang disebutkan diatas akan menyebabkan
pertumbuhan lambat yang cukup serius.
3. Mineral bagi ternak ruminansia, selain digunakan untuk memenuhi
kebutuhannya sendiri, juga digunakan untuk mendukung dan memasok
kebutuhan mikroba rumen. Apabila terjadi defisiensi salah satu mineral maka
aktifitas fermentasi mikroba tidak berlangsung optimum sehingga akan
berdampak pada menurunnya produktivitas ternak. Dari pengertian diatas dapat
diketahui bahwa mineral khususnya mineral makro sangat penting dalam
kelangsungan produktivitas ternak. Mineral makro terdiri dari Ca, P, Mg, K, Cl,
dan Na keseluruhannya memegang perana penting dalam produktifitas ternak.
Lebih terperincinya sebagai berikut. Mineral kalsium (Ca) berfungsi sebagai
kontrol produksi susu pada sapi FH defisiensi mineral ini dapat berakibat
menurunya produksi susu serta meningkatnya potensi penyakit milk fever yaitu
penyakit metabolisme yang paling banyak ditemukan pada sapi perah yang
baru saja melahirkan dan terutama yang berproduksi tinggi. Pada peningkatan

produksi air susu akan meningkatkan metabolisme Ca dan meningkatkan Ca ke


colostrum. Bila pemasukan tidak seimbang maka kemungkinan besar akan
terjadi Milk Fever. Mineral natrium (Na) pada unggas khususnya ayam petelur
bermanfaat dalam menjaga produktofitas telur, defisiensi mineral natrium (Na)
dapat berakibat menurunya produksi telur. Sedangkan mineral fosfor (P)
berperan dalam produktifitas kebuntingan ruminansia. Defisiensi fosfor yang
bersamaan dengan defisiensi protein mengakibatkan lambatnya dewasa
kelamin serta menghambat tanda-tanda birahi tetapi tidak menghambat
terjadinya pelepasan sel telur.
4. Mikro mineral terdiri dari besi (Fe), seng (Zn), iodium (I), selenium (Se),
tembaga (Cu), mangan (Mn), flour (F), kobal (Co), Kromium (Cr), dan silikon
(Si). Pembagian mineral ke dalam kelompok mineral makro dan mikro
tergantung kepada jumlah mineral tersebut di dalam tubuh hewan, kandungan
mineral yang lebih dari 50mg/kg termasuk kedalam mineral makro, sedangkan
di bawah jumlah tersebut termasuk mineral mikro. Mineral diperlukan oleh
hewan dalam jumlah yang cukup. Mineral berfungsi sebagai pengganti zat-zat
mineral yang hilang, untuk pembentukan jaringan-jaringan pada tulang, urat
dan sebagainya serta untuk berproduksi. Berikut adalah kandungan mikro
mineral normal pada serum sapi menurut literatur Anggorodi, 1994. Mangan
(Mn) berkisar 0,20-0,60 mg/kg sangat sedikit sekali jika dibandingkan dengan
mineral mikro lainnya seperti besi (Fe) yang berkisar antara 20-80 mg/kg dan
zeng (Zn) yang berkisar 10-50 mg/kg. Sedangkan untuk tembaga (Cu) berkisar
1-5 mg/kg dan 1-4 mg/kg untuk molibdenum (Mo) keduanya hampir sama
kadar dalam serum sapi. Selenium (Se) ada 1-2 mg/kg sedangkan iodine (I)
0,30-0,60 mg/kg dan kobalt (Co) paling sedikit hanya 0,02-0,10 mg/kg. Unsur
mineral makro seperti Ca, P, Mg, Na, K berperan penting dalam aktivitas
fisiologis dan metabolisme tubuh, sedangkan unsur mineral mikro seperti Fe,
Cu, Zn, Mn, Co diperlukan dalam sistem enzim.
5. Dibawah ini yang tergolong mineral makro adalah :
1) Fosfor (P)
2) Seng (Zn)

3) Kalsium (Ca)
4) Besi (Fe)