Anda di halaman 1dari 23

Anisa Putri - 1102010024

TRAUMA PELVIS
Definisi
Trauma buli-buli sering disebabkan rudapaksa dari luar dan sering di dapatkan bersama
fraktur pelvis. Fraktur tulang panggul dapat menimbulkan kontusio/ruptur kandung kemih. Pada
kontusio buli-buli hanya terjadi memar pada buli-buli dengan hematuria tanpa ekstravasasi urin.
Trauma kandung kemih terbanyak karena kecelakaan lalu lintas yang disebabkan
fragmen patah tulang pelvis (90%) yang mencederai buli-buli. Trauma tumpul menyebabkan
rupture buli-buli terutama bila vesica urinaria penuh atau terdapat kelainan patologik seperti
tuberculosis, tumor, atau obstruksi sehingga trauma kecil sudah menyebabkan rupture.
Ruptur buli-buli dapat juga terjadi secara spontan, hal ini biasanya terjadi jika
sebelumnya terdapat kelainan pada dinding vesica urinaria. Fraktur tulang pelvis terjadi robekan
pars membranasea karena prostat dengan uretra prostatika tertarik ke kranial bersama fragmen
fraktur, sedangkan uretra membranasea terikat diafragma urogenital.
Bila buli-buli yang penuh dengan urine mengalami trauma, maka akan terjadi
peningkatan tekanan intravesikel yang dapat menyebabkan contosio buli-buli / buli-buli pecah.
Keadaan ini dapat menyebabkan ruptura intraperitoneal.
Ruptur kandung kemih intraperitoneal dapat menimbulkan gejala dan tanda rangsang
peritonium termasuk defans muskuler dan sindrom ileus paralitik
Etiologi

90% trauma tumpul buli-buli akibat fraktur pelvis. Robeknya buli-buli


karena fraktur pelvis bisa pula terjadi akibat fragmen tulang pelvis yang merobek
dindingnya.
Tindakan endourologi dapat menyebabkan trauma buli-buli iatrogenic antara
lain pada reseksi buli-buli transurethral.
Partus
yang
la ma/tindakan
operasi
didaerah
pelvis
dapat
m e n y e b a b k a n t r a u m a iatrogenic pada buli-buli.
Dapat pula terjadi secara spontan, biasanya terjadi jika sebelumnya terdapat
kelainan pada dinding buli-buli seperti tuberculosis, tumor buli-buli, dll.

Klasifikasi

o
a.
-

b.

Kontusio buli-buli, hanya terdapat memar pada dindingnya, mungkin didapatkan


hematoma vesikel, tetapi tidak didapatkan ekstravasasi urin ke luar buli-buli.
Cedera buli-buli ekstraperitoneal, terjadi akibat trauma pada saat buli-buli kosong. Dapat
diakibatkan oleh fraktur pelvis.
Cedera buli-buli intraperitoneal, terjadi akibat trauma pada saat buli-buli
sedang terisi penuh.

Menurut Tile (1988)


Tipe A: stabil
A1: fraktur panggul tidak mengenai cincin
A2: stabil, terdapat pergeseran cincin yang minimal dari fraktur
Tipe A termasuk fraktur avulsi atau fraktur yang mengenai cincin panggul tetapi
tanpa atau sedikit sekali pergeseran cincin.
Tipe B: tidak stabil secara rotasional, stabil secara vertikal

Anisa Putri - 1102010024


-

c.

B1: open book


B2: kompresi lateral ipsilateral
B3: kompresi lateral kontralateral (bucket-handle)
Tipe B mengalami rotasi eksterna yang mengenai sisi satu panggul (open book)
atau rotasi interna atau kompresi lateral yang dapat menyebabkan fraktur pada
ramus isio-pubis pada satu atau kedua sisi disertai trauma bagian posterior tetapi
simfisis tidak terbuka (closed book).

Tipe C: tidak stabil secara rotasi dan vertikal


- C1: unilateral
- C2: bilateral
- C3: disertai fraktur asetabulum
Terdapat disrupsi ligamen posterior pada satu sisi disertai pergeseran dari salah
satu sisi panggul secara vertikal, mungkin juga disertai fraktur asetabulum.
o

Menurut Young-Burgess
a. Kompresi Anterior-Posterior (APC)
Disebabkan oleh tubrukan anterior terhadap pelvis, sering mendorong ke arah
diastase simfisis pubis. Ada cedera open book yang menganggu ligamentum
sacroiliaca anterior seperti halnya ligamentum sacrospinale ipsilateral dan
ligamentum sacrotuberale
b. Kompresi Lateral (LC)
Terjadi akibat dari benturan lateral pada pelvis yang memutar pelvis pada sisi
benturan ke arah midline. Ligamentum sacrotuberale dan ligamentum
sacrospinale, serta pembuluh darah iliaca interna, memendek dan tidak terkena
gaya tarik. Sering terjadi disrupsi pembuluh darah besar.
c. Shear Vertikal (SV)
Terjadi pemindahan vertikal hemipelvis yang dibarengi dengan cedera vaskuler
lokal yang parah.
d. Mekanisme Kombinasi (CM)
Meliputi faktor pelvis berkekuatan tinggi yang ditimbulkan oleh kombinasi dua
vektor tekanan terpisah

Menurut Key dan Conwell


a. Fraktur pada salah satu tulang tanpa adanya disrupsi cincin
- Fraktur avulsi
Spina iliaka anterior posterior
Spina iliaka anterior inferior
Tuberositas ischium
- Fraktur pubis dan ischium
- Fraktur sayap ilium (Duverney)
- Fraktur sakrum
- Fraktur dan dislokasi tulang koksigeus
b. Keretakan tunggal pada cincin panggul
- Fraktur pada kedua ramus ipsilateral
- Fraktur dekat atau subluksasi simfisis pubis
- Fraktur dekat atau subluksasi sendi sakroiliaka
c. Fraktur bilateral cincin panggul
Fraktur vertikal ganda dan atau dislokasi pubis

Anisa Putri - 1102010024


-

Fraktur ganda dan atau dislokasi (Malgaigne)


Fraktur multipel yang hebat
d. Fraktur asetabulum
- Tanpa pergeseran
- Dengan pergeseran
Klasifikasi lain
a. Fraktur isolasi dan fraktur tulang ischium dan tulang pubis tanpa gangguan pada
cincin
- Fraktur ramus isiopubis superior
- Fraktur ramus isiopubis inferior
- Fraktur yang melewati asetabulum
- Fraktur sayam ilium
- Avulsi spina iliaka antero-inferior
b. Fraktur disertai robekan cincin
Klasifikasi berdasarkan stabilitas dan komplikasi
a. Fraktur avulsi
b. Fraktur stabil
c. Fraktur tidak stabil
d. Fraktur dengan komplikasi
Dalam menilai klasifikasi maka yang paling penting adalah stabilitas panggul apakah
bersifat stabil atau tidak stabil, karena hal ini penting dalam penanggulangan serta
prognosis.
Patofisiologi
Trauma biasanya terjadi secara langsung pada panggul karena tekanan yang besar atau
karena jatuh dari ketinggian. Pada orang tua dengan osteoporosis dan osteomalasia dapat
terjadi fraktur stress pada ramus pubis.
Mekanisme trauma pada cincin panggul terdiri atas:
o

Kompresi anteroposterior
Hal ini biasanya akibat tabrakan antara seorang pejalan kaki dengan kendaraan.
Ramus pubis mengalami fraktur, tulang inominata terbelah dan mengalami rotasi
eksterna disertai robekan simfisis. Keadaan ini disebut sebagai open book injury.

Kompresi lateral
Kompresi dari samping akan menyebabkan cincin mengalami keretakan. Hal ini
terjadi apabila ada trauma samping karena kecalakaan lalu lintas atau jatuh dari
ketinggian. Pada keadaan ini ramus pubis bagian depan pada kedua sisinya
mengalami fraktur dan bagian belakang terdapat strain dari sendi sakroiliaka atau
fraktur ilium atau dapat pula fraktur ramus pubis pada sisi yang sama.

Trauma vertikal
Tulang inominata pada satu sisi mengalami pergerakan secara vertikal disertai fraktur
ramus pubis dan disrupsi sendi sakroiliaka pada sisi yang sama. Hal ini terjadi
apabila seseorang jatuh dari ketinggian pada satu tungkai

Trauma kombinasi
Pada trauma yang lebih hebat dapat terjadi kombinasi kelainan diatas

Anisa Putri - 1102010024

Manifestasi klinis

Umumnya fraktur tulang pelvis disertai perdarahan hebat sehingga dapat


menyebabkan syok.
Tampak jejas/hematoma pada abdomen bagian bawah. Nyeri
t e k a n d i d a e r a h suprapubik ditempat hematoma.
Pada kontusio buli-buli: n yeri teruta ma bila ditekan didaerah
s u p r a p u b i k d a n d a p a t ditemukan hematurtia. Tidak terdapat rangsang peritoneum.
Pada rupture buli-buli intraperitoneal: urin masuk ke rongga
p e r i t o n e u m s e h i n g g a memberi tanda cairan intraabdomen dan rangsang
peritoneum. Tidak terdapat benjolan dengan perkusi pekak.
Pada ruptur buli-buli ekstraperitoneal: infiltrat urin di rongga peritoneal
yang sering menyebabkan septisemia. Penderita mengeluh tidak bisa buang
air kecil, kadang keluar d a r a h d a r i u r e t r a . T i m b u l b e n j o l a n y a n g n y e r i
d a n p e k a k p a d a p e r k u s i p a d a d a e r a h suprapubik.

Anisa Putri - 1102010024

Diagnosis
1. Diagnosis ditentukan berdasarkan tanda dan gejala klinik serta hematuria. Pada
fotopelvis atau foto polos abdomen terlihat fraktur tulang pelvis.
2. Pemeriksaan sistogram, dapat memberikan keterangan ada tidaknya ruptur
kandung kemih dan lokasi ruptur apakah intra/ekstraperitoneal. Pemeriksaan ini
dilakukan dengan memasukkan medium kontras ke kandung kemih sebanyak 300-400 ml
kemudian dibuat foto antero-posterior. Kandung kemih lalu dikosongkan dan dibilas dan
dibuat foto sekali lagi. Bila tidak dijumpai ekstravasasi, diagnosisnya adalah kontusio bulibuli. Pada ruptur ekstraperitoneal, gambaran ekstravasasi terlihat seperti nyala
api pada daerah p e r i v e s i k e l , s e d a n g k a n p a d a r u p t u r i n t r a p e r i t o n e a l
t e r l i h a t k o n t r a s m a s u k k e d a l a m rongga abdomen.
3. Pada ruptur kecil sistokopi dapat membantu diagnosis.
4 . T es b u l i - b u l i : d i l a k u k a n d e n g a n c a r a b u l i - b u l i d i k o s o n g k a n t e r l e b i h
d a h u l u d e n g a n kateter, lalu dimasukkan 300 ml larutan garam faal, kateter
kemudian diklem sebentar lalu dibuka kembali. Bila selisihnya cukup besar
kemungkinan terjadi ruptur buli-buli.
Anamnesis:
a. Keadaan dan waktu trauma
b. Miksi terakhir
c. Waktu dan jumlah makan dan minum yang terakhir
d. Bila penderita wanita apakah sedang hamil atau menstruasi
e. Trauma lainnya seperti trauma pada kepala
Pemeriksaan klinik:
-

a. Keadaan umum
Denyut nadi, tekanan darah dan respirasi
Lakukan survei kemungkinan trauma lainnya
b. Lokal
- Pemeriksaan nyeri:
Tekanan dari samping cincin panggul
Tarikan pada cincin panggul
- Inspeksi perineum untuk mengetahui adanya perdarahan, pembengkakan dan
deformitas
- Tentukan derajat ketidakstabilan cincin panggul dengan palpasi pada ramus dan
simfisis pubis
- Pemeriksaan colok dubur
Berdasarkan klasifikasi Tile:
Fraktur Tipe A: pasien tidak mengalami syok berat tetapi merasa nyeri bila berusaha
berjalan. Terdapat nyeri tekan lokal tetapi jarang terdapat kerusakan pada visera pelvis.
Fraktur Tipe B dan C: pasien mengalami syok berat, sangat nyeri dan tidak dapat berdiri,
serta juga tidak dapat kencing. Kadang kadang terdapat darah di meatus eksternus.
Nyeri tekan dapat bersifat lokal tetapi sering meluas, dan jika menggerakkan satu atau
kedua ala ossis ilium akan sangat nyeri.

Anisa Putri - 1102010024

a.

Pemeriksaan penunjang trauma pelvis


Pemeriksaan radiologis:
Setiap penderita trauma panggul harus dilakukan pemeriksaan
radiologis dengan prioritas pemeriksaan rongent posisi AP.
Pemeriksaan rongent posisi lain yaitu oblik, rotasi interna dan
eksterna bila keadaan umum memungkinkan.
b. Pemeriksaan urologis dan lainnya:
- Kateterisasi
- Ureterogram
- Sistogram retrograd dan postvoiding
- Pielogram intravena
- Aspirasi diagnostik dengan lavase peritoneal
Penatalaksanaan
a. Bila penderita datang dalam keadaan syok, harus diatasi dulu dengan memberikan cairan
intravena atau darah. Bila sirkulasi telah stabil, lakukan reparasi buli-buli.
b. Pada kontusio buli-buli, cukup dilakukan pe masangan kateter
d e n g a n t u j u a n u n t u k memberikan istirahat pada buli-buli. Diharapkan buli-buli
sembuh setelah 7-10 hari.
c. Pada cedera intraperitoneal harus dilakukan eksplorasi laparotomi untuk mencari robekan
pada buli-buli serta kemungkinan cedera organ lain. Rongga intraperitoneum
dicuci, r o b e k a n p a d a b u l i - b u l i d i j a h i t 2 l a p i s , k e m u d i a n d i p a s a n g
k a t e t e r s i s t o s t o m i y a n g dilewatkan di luar sayatan laparotomi.
d. Pada cedera ekstraperitoneal, robekan yang sederhana dianjurkan
u n t u k m e m a s a n g kateter 7-10 hari tetapi dianjurkan juga untuk melakukan
penjahitan disertai pemasangan kateter sistostomi.
e. Untuk memastikan buli-buli telah sembuh, sebelum melepas kateter
uretra/kateter sistostomi, terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan sistografi untuk
melihat kemungkinan masih adanya ekstravasasi urin. Sistografi dibuat pada
hari ke 10-14 pasca trauma. Jika masih ada ekstravasasi kateter sistostomi
dipertahankan sampai 3 minggu.
c. Tindakan operatif bila ditemukan kerusakan alat alat dalam rongga panggul
d. Stabilisasi fraktur panggul, misalnya:
- Fraktur avulsi atau stabil diatasi dengan pengobatan konservatif seperti istirahat,
traksi, pelvic sling
- Fraktur tidak stabil diatasi dengan fiksasi eksterna atau dengan operasi yang
dikembangkan oleh grup ASIF
Berdasarkan klasifikasi Tile:
a. Fraktur Tipe A: hanya membutuhkan istirahat ditempat tidur yang dikombinasikan
dengan traksi tungkai bawah. Dalam 4-6 minggu pasien akan lebih nyaman dan bisa
menggunakan penopang.
b. Fraktur Tipe B:
Fraktur tipe openbook

Jika celah kurang dari 2.5cm, diterapi dengan cara


beristirahat ditempat tidur, kain gendongan posterior atau korset elastis.

Anisa Putri - 1102010024


Jika celah lebih dari 2.5cm dapat ditutup dengan
membaringkan pasien dengan cara miring dan menekan ala ossis ilii
menggunakan fiksasi luar dengan pen pada kedua ala ossis ilii.
Fraktur tipe closebook
Beristirahat ditempat tidur selama sekitar 6 minggu tanpa fiksasi apapun bisa
dilakukan, akan tetapi bila ada perbedaan panjang kaki melebihi 1.5cm atau
terdapat deformitas pelvis yang nyata maka perlu dilakukan reduksi dengan
menggunakan pen pada krista iliaka.

c. Fraktur Tipe C: sangat berbahaya dan sulit diterapi. Dapat dilakukan reduksi dengan
traksi kerangka yang dikombinasikan fiksator luar dan perlu istirahat ditempat tidur
sekurang kurangnya 10 minggu. Kalau reduksi belum tercapai, maka dilakukan
reduksi secara terbuka dan mengikatnya dengan satu atau lebih plat kompresi
dinamis.
Komplikasi
a. Komplikasi segera
- Trombosis vena ilio femoral
Sering ditemukan dan sangat berbahaya. Berikan antikoagulan secara rutin untuk
profilaktik.
-

Robekan kandung kemih


Terjadi apabila ada disrupsi simfisis pubis atau tusukan dari bagian tulang
panggul yang tajam.

Robekan uretra
Terjadi karena adanya disrupsi simfisis pubis pada daerah uretra pars
membranosa.

Trauma rektum dan vagina


Trauma pembuluh darah besar yang akan menyebabkan perdarahan masif sampai
syok.
Trauma pada saraf
Lesi saraf skiatik
Dapat terjadi pada saat trauma atau pada saat operasi. Apabila dalam jangka
waktu 6 minggu tidak ada perbaikan, maka sebaiknya dilakukan eksplorasi.

Lesi pleksus lumbosakralis


Biasanya terjadi pada fraktur sakrum yang bersifat vertikal disertai
pergeseran. Dapat pula terjadi gangguan fungsi seksual apabila mengenai
pusat saraf.
b. Komplikasi lanjut
- Pembentukan tulang heterotrofik
Biasanya terjadi setelah suatu trauma jaringan lunak yang hebat atau setelah
suatu diseksi operasi. Berikan Indometacin sebagai profilaksis.
-

Nekrosis avaskuler
Dapat terjadi pada kaput femur beberapa waktu setelah trauma.

Gangguan pergerakan sendi serta osteoartritis sekunder

Anisa Putri - 1102010024


Apabila terjadi fraktur pada daerah asetabulum dan tidak dilakukan reduksi yang
akurat, sedangkan sendi ini menopang berat badan, maka akan terjadi
ketidaksesuaian sendi yang akan memberikan gangguan pergerakan serta
osteoartritis dikemudian hari.
-

Skoliosis kompensator

TRAUMA URETRA
Definisi
Trauma urethra biasanya terjadi pada pria dan jarang terjadi pada wanita. Sering ada hubungan
dengan fraktur pelvis dan straddle injury. Urethra pria terdapat dua bagian yaitu :
a) Anterior, terdiri dari : urethra pars granularis, pars pendularis, dan pars bulbosa
b) Posterior, terdiri dari : pars membranacea dan pars prostatika
Etiologi
Trauma uretra terjadi akibat cedera yang berasal dari luar.
Cedera iatrogenic akibat instrumentasi pada uretra.
Trauma tumpul yang menimbulkan fraktur tulang pelvis yang menyebabkan ruptur uretra
pars membranasea.
Trauma tumpul pada selangkangan/straddle injury dapat menyebabkan ruptur uretra pars
bulbosa
Pemasangan kateter yang kurang hati-hati dapat menimbulkan robekan uretra
karena false route/salah jalan.
1. Etiologi trauma urethra posterior
a. Urethra pars membranacea adalah bagian urethra yang melewati diafragma
urogenitalis (diafragma U.G) dan merupakan bagian yang paling mudah terkena
trauma, bila terjadi fraktur pelvis
b. Diafragma U.G yang mengandung otot otot yang berfungsi sebagai sphincter
urethra melekat / menempel pada daerah os pubis bagian bawah
c. Bila terjadi trauma tumpul yang menyebabkan fraktur daerah tersebut, maka
urethra pars membranacea akan terputus pada daerah apex prostat dan pada
daerah prostat membranaeous junction
2. Etiologi trauma urethra anterior
Straddle injury dan iatrogenik, seperti instrumentasi atau tindakan endoskopik
Klasifikasi
1) Trauma uretra posterior, yang terletak proksimal diafragma urogenital.
2) Trauma uretra anterior, yang terletak distal diafragma urogenital.
Derajat cedera urtera dibagi dalam 3 jenis :
Uretra posterior masih utuh dan hanya mengalami stretching (peregangan). Pada
foto uretrogram tidak menunjukkan adanya ekstravasasi, dan urethra hanya
tampak memanjang.
Uretra posterior terputus pada perbatasan prostate-membranasea, sedangkan
diafragma urogenital masih utuh. Foto uretrogram menunjukkan ekstravasasi
kontras yang masih terbatas di atas diafragma urogenitalis.
Uretra posterior, diafragma genitalis, uretra pars bulbosa sebelah proksimal ikut
rusak. Foto uretrogram menunjukkan ekstravasasi kontras meluas hingga
dibawah diafragma urogenital sampai ke perineum.

Anisa Putri - 1102010024

Patofisiologi

Cedera dapat menyebabkan memar dinding dengan atau tanpa robekan mukosa
baik parsial atau total. Rupture uretra hampir selalu disertai fraktur tulang pelvis.
Akibat fraktur tulang pelvis terjadi robekan pars membranasea karena prostat
dengan uretra prostatica tertarik ke cranial bersama fragmen fraktur, sedangkan
uretra membranosa terikat di diafragma urogenital. Rupture uretra posterior dapat
terjadi total atau inkomplit. Pada rupture total, uretra terpisah seluruhnya dan
ligamentum puboprostatikum robek sehingga buli-buli dan prostat terlepas ke
cranial.
Uretra anterior terbungkus di dalam corpus spongiosum penis. Korpus
spongiosum bersama dengan corpora cavernosa penis dibungkus oleh fasia buck
dan fasia colles. Jika terjadi rupture uretra beserta corpus spongiosum, darah dan
urine keluar dari uretra tetapi masih terbatas pada fasia buck dan secara klinis
terlihat hematoma yang terbatas pada penis. Namun, jika fasia buck ikut robek,
ekstravasasi urin dan darah hanya dibatasi oleh fasia colles, sehingga dapat
menjalar hingga skrotum atau ke dinding abdomen. Robekan ini memberikan
gambaran seperti kupu-kupu sehingga disebut butterfly hematoma.
Patofisiologi trauma urethra posterior
a. Trauma urethra posterior biasanya disebabkan oleh karena trauma tumpul dan
fraktur pelvis
b. Urethra biasanya terkena pada bagian proksimal dari diafragma U.G dan terjadi
perubahan posisi prostat ke arah superior (prostat terapung=floating prostat)
dengan terbentuknya hematoma periprostat dan perivesical
Patofisiologi trauma urethra anterior
a. Kontusio
Tidak terdapat robekan, hanya terjadi memar
Hematoma perineal biasanya menghilang tanpa komplikasi
b. Laserasi
Straddle injury yang berat dapat menyebabkan robeknya urethra dan terjadi
ekstravasasi urine yang bisa meluas ke skrotum, sepanjang penis dan ke dinding
abdomen yang bila tidak ditangani dengan baik bisa menyebabkan infeksi dan
sepsis

Manifestasi klinis
Manifestasi klinis trauma urethra posterior
a. Pasien mengeluh tidak bisa kencing dan sakit pada perut bagian bawah
b. Darah menetes dari urethra adalah gejala yang paling penting dari ruptur urethra.
Gejala ini merupakan indikasi untuk dilakukan urethrogram retrogade.
Kateterisasi merupakan kontraindikasi karena dapat menyebabkan infeksi
periprostatika dan perivesika hematoma serta dapat menyebabkan laserasi yang
partial menjadi total
c. Tanda tanda fraktur pelvis dan nyeri suprapubik dapat dijumpai pada
pemeriksaan fisik
d. Pada pemeriksaan colok dubur, bisa didapatkan prostat mengapung (floating
prostat) pada ruptura total dari urethra pars membranacea oleh karena
terputusnya ligamen puboprostatika
Manifestasi klinis trauma urethra anterior
a. Riwayat jatuh dari tempat yang tinggi dan terkena darah perineum atau
riwayat instrumentasi disertai adanya darah menetes dari urethra yang
merupakan gejala penting

Anisa Putri - 1102010024


b. Nyeri daerah perineumdan kadang kadang ada hematoma prostat
c. Retensio urine bisa terjadi dan dapat diatasi dengan sistosomi suprapubik
untuk sementara, sambil menunggu diagnosa pasti. Pemasangan kateter
urethra merupakan kontraindikasi
Diagnosis
Ruptur uretra posterior harus dicurigai bila terdapat darah sedikit
d i m e a t u s u r e t r a disertai patah tulang pelvis.
Pada pemeriksaan colok dubur ditemukan prostat seperti
m e n g a p u n g k a r e n a t i d a k terfiksasi lagi pada diafragma urogenital.
Kadang sama sekali tidak teraba lagi karena pindah ke kranial.
Pemeriksaan radiologik dengan menggunakan uretrogram retrograde
d a p a t m e m b e r i keterangan letak dan tipe ruptur uretra.
Penatalaksanaan
1. Jika dapat kencing dengan mudah, lakukan observasi saja.
2. Jika sulit kencing/terlihat ekstravasasi pada uretrogram usahakan
m e m a s u k k a n kateter foley sampai buli-buli. Jika gagal lakukan pembedahan
sistostomi untuk manajemen aliran urin.
3. Bila ruptur uretra posterior tidak disertai cedera organ intrabdomen, cukup
dilakukan sistostomi. Reparasi uretra dilakukan 2-3 hari kemudian dengan melakukan
anastomosis ujung ke ujung dan pemasangan kateter silikon selama 3 minggu.
Bila disertai cedera o r g a n l a i n s e h i n g g a t i d a k m u n g k i n d i l a k u k a n
r e p a r a s i 2 - 3 h a r i k e m u d i a n , s e b a i k n y a dipasang kateter.
4. Pada ruptur uretra anterior total, langsung dilakukan pemulihan uretra dengan
anastomosis ujung ke ujung melalui sayatan perineal. Dipasang kateter
silikon selama 3 minggu. Bila ruptur parsial dilakukan sistostomi dan pemasangan
kateter foley di uretra selama 7-10 hari, sampai terjadi epitelisasi uretra yang
cedera. Kateter sistostomi baru dicabut bila saat kateter sistostomi di klem ternyata
penderita bisa buang air kecil.
Komplikasi
Ruptur uretra anterior
G - Striktur uretra, impotensi, inkontinensia
G - Komplikasi akan tinggi bila dilakukan repair segera, dan akan menurun bila kita hanya
melakukan sistostomi suprapubik dan repair dilakukan belakangan.
Ruptur uretra posterior
G - Perdarahan
G - Infeksi/sepsis
G - Striktur uretra
KESADARAN
Definisi
Kesadaran (consciousness) didefinisikan sebagai suatu keadaan menyadari keadaan dirinya
sendiri juga keadaan lingkungannya. Selain itu, kesadaran dapat diartikan sebagai keadaan yang
mencerminkan pengintegrasian impuls afferen (input) dan impuls efferen (output).
Kesadaran berdasarkan dua hal

Anisa Putri - 1102010024


1. Isi kesadaran (content)
2. Keadaaan bangun (arousal)
Secara klinis keadaan bangun dapat ditandai dengan kemampuan membuka mata, baik secara
spontan maupun setelah diberi ransangan, sedangkan indikator klinis dari isi kesadaran: adalah
dari fungsi bicara dan bahasanya. Akan tetapi, gangguan kesadaran lebih ditekankan pada
gangguan terhadap keadaan bangun.
Maruzzi dan Maquon pada tahun 1940 menemukan struktur anatomi yang bertanggung jawab
terhadap sistem kesadaran. Bangunan tersebut terletak dibagian tengah batang otak dan
memanjang ke hipotalamus dan talamus yang disebut dengan Ascending Reticular Activating
System / ARAS atau lebih sering disebut Formatio Reticularis.
Arousal merupakan hasil interaksi timbal balik dari ARAS dengan korteks bilateral. ARAS
terdapat mulai dari medula oblongata sampai hipotalamus. Fungsi ARAS adalah meransang
korteks untuk tetap terjaga (arousal). Hal tersebut tercermin dari pemeriksaan bila:
1.
2.
3.
4.

Bila ditusuk jarum maka mata terbuka


Refleks kornea menimbulkan reaksi pupil
Pergerakan bola mata (spontan dan refleks)
Keadaan terjaga dan tidur

Etiologi gangguan kesadaran


Di klinik dipergunakan istilah SEMENITE yaitu:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Sirkulasi (stroke dan penyakit jantung)


Ensefalitis (infeksi sistemik dan sepsis)
Metabolik (hiperglikemia, hipoglikemia, hipoksia, uremia, dna koma hepatikum)
Elektrolit (diare dan muntah)
Neoplasma (tumor otak baik primer maupun metastasis)
Intoksikasi (obat atau bahan kimia)
Trauma (a. trauma kapitis: komosio, kontusio, perdarahan epidural, perdarahan subdural,
b. trauma abdomen, c. trauma dada)
8. Epilepsi (pasca serangan grand mal atau pada status epileptikus)
Mekanisme gangguan kesadaran
Koma disebabkan oleh gangguan pada korteks secara menyeluruh misalnya pada gangguan
metabolik, dan dapat pula disebabkan oleh gangguan langsung atau tidak langsung terhadap
formasio retikularis di talamus, mesensefalon, atau pons.
Koma kortikal - bihesmiferik
Pada individu sehat konsumsi oksigen otak: 3,5ml/100gr otak/menit, sedangkan aliran darah otak
(ADO): 50ml./100gr otak/menit. Apabila terjadi penurunan ADO, maka akan terjadi penurunan
konsumsi oksigen yang bisa mengganggu keutuhan kesadaran seseorang. Selain itu, glukosa juga
sangat memiliki peranan penting dalam memelihara keutuhan kesadaran. Hal ini dikarenakan,
glukosa merupakan satu satunya substrat yang digunakan otak dalam menghasilkan ATP.

Anisa Putri - 1102010024


Berikut ada beberapa hal yang dapat mengakibatkan gangguan kesadaran:
1. Hipoventilasi
Berhubungan dengan: hipoksemia, hiperkapnia, gagal jantung kongestif, infeksi sistemik
dan kemampuan respiratorik yang tidak efektif. Hipoksia merupakan faktor potensial
untuk terjadinya ensefalopati, terutama pada pasien dengan hiperkapnia akut.
2. Anoksia iskemik
Suatu keadaan dimana darah masih cukup, akan tetapi ADO tidak cukup memberi darah
ke otak. Penyebabnya adalah penyakit yang mengakibatkan penurunan curah jantung,
misalnya: infark jantung, aritmia, renjatan, dan refleks vasovagal, atau penyakit yag
meningkatkan resistensi vaskular serebral misalnya oklusi arterial (stroke) atau spasmel.
Iskemia (kegagalan vaskular) lebih berbahaya daripa hipoksian karena asam laktat
(produk toksik metabolisme otak) tidak dapat dikeluarkan.
3. Anoksia anoksik
Keadaan dimana tidak cukupnya oksigen masuk kedalam darah yang disebabkan oleh
tekanan oksigen lingkungan yang rendah (pada ketinggian atau adanya gas nitrogen) atau
oleh ketidakmampuan oksigen untuk mencapai dan menembus membran kapiler alveoli
(penyakit paru dan hipoventilasi)
4. Anoksia anemik
Disebabkan oleh jumlah hemoglobin yang mengikat dan membawa oksigen dalam darah
menurun, sementara oksigen yang masuk kedalam darah cukup. Penyebabnya: anemia
dan keracunan karbon monoksida.
5. Hipoksia atau iskemia difus
Diakibatkan oleh: kadar oksigen dalam darah menurun cepat sekali atau akibat ADO
yang menurun mendadak. Penyebab utamnya: obstruksi jalan napas (tercekik, tenggelah,
mati lemas), obstruksi arteri serebral secara masif (digantung), dan penurunan curah
jantung secara mendadak (asistole, aritmia berat, sinkop vasodepressor, emboli pulmonal,
perdarahan sistemik masif). Trombosis atau emboli, purpura trombositopeni teombotika,
koagulasi intravaskulari diseminata, endokarditis bakterial akut, malaria falsifarum,
emboli lemak dapat menimbulkan iskemia multifokal yang luas dan memberikan
gambaran iskemia serebral difus akut.
6. Gangguan metabolisme karbohidrat
Meliputi hiperglikemia, hipoglikemia, dan asidosis laktat. Penyebab potensial timbulnya
koma pada DM cukup bervariasi, antara lain: hiperosmolaritas, ketoasidosis, asidosis
laktat, iatrogenik, hiponatremia, koagulasi intravaskularis diseminata, hipofosfatemia,
uremia, infark otak dan hipotensi. Selain itu, pada infark otak, cedera kepala, dan
meningitis kadar glukosa darah dapat meningkat. Hipoglikemia dapat disebabkan oleh
DM (tidak diobati, atau sesudah diobati dengan sulfonil urea, fenformin, insulin),
alkohol, obat obatan (inhibitor monoamin oksidase), puasa, tumor pankreas, dan
penyakit endokrin lainnya misalnya hipotiroidisme dan hipopituitarisme. Hipoglikemia
mengangguan sintesis asetilkolin didalam otak sehingga terjadi blokade jalur kolinergik.
Kegagalan transmisi kolinergik mengakibatkan penurunan fungsi beberapa asam amino
yaitu glutamat, glutamin, GABA, alanin. Sedangkan aspartat meningkat empat kali dan
amonia meningkat empat belas kali yang mengakibatkan penurunan kesadaran hingga
koma. Hipoglikemia akan mengganggua korteks otak secara difus, atau mengganggu
fungsi batang otak, atau keduanya. Terdapat kerusakan neuron secara dini dan paling

Anisa Putri - 1102010024


berat dikorteks otak, sementara neuron dibatanga otak dan ganglia basalis lebih ringan
kerusakannya.
7. Gangguan keseimbangan asam basa
Meliputi asidosis respiratorik, dan metabolik serta alkalosis respiratorik dan metabolik.
Hanya asidosis respiratorik yang bertindak sebagai penyebab langsung timbulnya stupor
dan koma. Asidosis metabolik lebih sering menimbulkan delirium dan obtundasi.
8. Uremia
Patofisiologinya belum jelas karena urea bukan bahan toksik buat otak.
9. Koma hepatik
Meningkatnya kadar amonia dalam darah diotak merupakan faktor utama terjadinya
koma hepatikum. Amonia dalam kadar tinggi dapat bersifat toksik langsung terhadap otak
dan selain itu amonia juga menganggu pompa natrium dan menganti kalium intraseluler
serta amonia juga mengganggu metabolisme energi sel otak sehingga mirip dengan
keadaan hipoksia.
10. Defisensi vitamin B
Sering kali mengakibatkan delirium, demensia, dan stupor. Defisiensi tiamin
menimbulkan penyakit Wernicke yaitu suatu kompleks gejala yag disebabkan oleh
kerusakan neuron dan vaskular disubstansia grisea, sekitar ventrikulus, dan aquaduktus.

Koma diensefalik
1. Lesi infratentorial
Pada umunya berbentuk proses desak ruang (PDR) atau space occupying process (SOP),
misalnya gangguan peredaran darah otak (GPDO / stroke) dalam bentuk perdarahan,
neoplasma, abses, edema otak, dan hidrosefalus obstrukstif. PDR mengakibatkan
peningkatan TIK dan terjadi penekanan formatio retikularis dimesensefalon dan
diensefalon (herniasi otak).
2. Herniasi sentral
Disebabkan peningkatan TIK secara menyeluruh. Terjadi herniasi otak melalui tentorium
serebelli secara simetris. Penyebab tersering: perdarahna talamus, edema otak akut, dan
hidrosefalus obstruktif akut.
3. Herniasi unkus
Merupakan herniasi lobus temporalis bagian mesensial terutama unkus. Herniasi
disebabkan oleh kompresi rostrokaudal progresif melalui emapat tahap yaitu:
a. Penekanan terhadap diensefalon dan nukleus hipotalamus
b. Penekanan mesensefalon sehinga mengakibatkan N.III ispilateral akan terjepit
diantara arteri serebri posterior dan arteri serebelli superior sehingga terjadi
oftalmoplegi ipsilateral.
c. Pons akan tertekan dilanjutkan dengan penekanan terhadap medula oblongata
d. Tahap agonia
Faktor penyebab: GPDO, neoplasma, abses dan edema otak.

Anisa Putri - 1102010024


4. Herniasi cinguli
Terjadi dibawah fakls serebri yang disebabkan oleh penekanan dari satu sisi hemisfer
otak. Akibatnya, sistem arteri dan vena serebri tertekan sehingga mengganggu lobus
frontalis bagian puncak dan medial. Keadaan ini akan menimbulkan inkontinensia urin
dan alvi serta gejala gegenhalten dan negativisme motorik atau paratonia (setiap
ransangan akan timbul gerakan melawan secar reflektorik).
5. Lesi infratentorial
Meliputi dua macam proses patologik dalam ruang infratentorial (fossa kranii posterior)
yaitu pertama, proses diluar batang otak atau serebellum yang mendesak sistem
retikularis, dan yang kedua merupakan proses didalam batang otak yang secara langsung
mendesak dan merusak sistem retikularis batang otak. Proses yang timbul berupa:
a. Penekanan langsung terhadap tegmentum mesensefalon (formatio retikularis).
b. Herniasi serebellum dan batang otak ke rostral melewati tentorium serebelli yang
kemudian menekan formatio retikularis di mesensefalon.
c. Herniasi tonsilo-serebellum kebawah melalui foramen magnum dan sekaligus
menekan medulla oblongata.
Penyebab: GPDO di batang otak atau serebellum, neoplasma, abses, atau edema otak.
Cara penilaian kesadaran
Derajat kesadaran (kualitatif)
Kompos mentis :
Keadaan waspada dan terjaga pada seseorang yang bereaksi sepenuhnya dan adekuat
terhadap rangsang visual, auditorik dan sensorik.
Apati :
Sikap acuh tak acuh, tidak segera menjawab bila ditanya.
Delirium :
Kesadaran menurun disertai kekacauan mental dan motorik seperti disorientasi,
iritatif, salah persepsi terhadap rangsang sensorik, sering timbul ilusi dan
halusinasi.
Somnolen :
Penderita mudah dibangunkan, dapat bereaksi secara motorik atau verbal y a n g
la ya k tetapi setelah me mb erikan respons, ia terlena ke mbali bila
r a n g s a n g a n dihentikan.
Sopor (stupor) :
Penderita hanya dapat dibangunkan dalam waktu singkat oleh rangsang nyeri yang hebat
dan berulang-ulang.
Koma :
Tidak ada sama sekali jawaban terhadap rangsang nyeri yang bagaimana pun hebatnya.

Anisa Putri - 1102010024

CARA PENILAIAN SECARA KUANTITATIF


Glasgow Coma Scale (GCS)
E (4)
= Eye opening
E4 membuka mata sendiri dengan baik (spontan)
E3 membuka mata jika ada ransangan suara (dipanggil)
E2 membuka mata jika ada ransangan nyeri
E1 tidak membuka mata terhadap segala ransangan
M (6)
= Motoric response
o M6 bekerja sesuai perintah (gerakan normal)
o M5 dapat melokalisir ransangan sensorik dikulit (raba)
o M4 Gerakan tidak teratur pada saat ransangan nyeri tetapi tidak dapat
melokalisir letaknya (withdrawal)
o M3 menjauhi ransangan nyeri, dengan gerakan fleksi
o M2 pada saat diransang, ekstensi spontan
o M1 tidak ada gerakan terhadap ransangan
V (5)
= Verbal response
o V5 berorientasi baik (bicara normal)
o V4 bingung (bisa mmebentuk kalimat tetapi kacau)
o V3 bisa bentuk kata tapin tidak bisa bentuk kalimat
o V2 mengeluarkan suara tidak ada arti (groaning)
o V1 tidak bersuara
Keterangan:

o
o
o
o

Skor 15: kompos mentis


Skor 11 14: letargi
Skor 8 11 : stupor / sopor
Skor <8: koma

Anisa Putri - 1102010024


KASUS KEGAWATDARURATAN MATA
Kedaruratan mata adalah keadaan mata yang memerlukan tindakan segera, tanpa itu
akanmenyebabkan kebutaan atau gangguan penglihatan yang berat dan menetap.
Kedaruratan mata ada 4 macam :
1. Glaucoma akut
Biasanya terjadi pada usia diatas 40 tahun.
Keluhan :
o Kemunduran penglihatan yang berlangsung cepat.
o Nyeri dimata dan sekitarnya
o Mual dan muntah
Pada mata terlihat :
o Injeksi siliar
o Edema kornea
o Bilik mata depan dangkal
o Pupil lebar dan refleksnya menghilang
o Lensa keruh dan kehijauan.
o Tekanan intraokuler tinggi.
Penatalaksanan : segera berikan :
Asetazolamid 500mg oral, kemudian 250 mg/4 jam.
Pilokarpin HCL 2-6% 1 tetes/jam selama penserita bangun. Mata tidak
u s a h ditutup.
Dapat diberikan pula (bila tidak dikontraindikasikan) morfin
1 0 m g i m d a n deksametason 0.5 mg im. Jangan diberi diazepam.
24 jam kemudian :
- Bila tekanan intraocular telah normal, segera lakukan iridektomi perifer.
- Bila tekanan intraocular tetap tinggi, berikan infuse :
o Larutan manitol 20% 60 tetes/ menit selama 3 jam atau
o Larutan ureum 30% 30 tetes/menit selama 3 jam atau
o Larutan gliserin dalam air 50% 150-200 ml oral. Setelah tekanan intraokular
berhasil diturunkan segera lakukan filtering.
- Selama operasi belum mungkin, pengobatan diteruskan dengan cara yang
s a m a setiap harinya.
2. Ulkus kornea
Ulkus kornea yang cepat menimbulkan perforasi ialah ulkus sentra. Pennyebab utamanya
adalah pseudomonas pyocyaneus, pneumococcus.
Keluhan :
o Penglihatan mundur, silau dan mata berair terus menerus.
o Nyeri sekitar mata dan seisi kepala.
o Biasanya didahului trauma ringan pada mata.
Pada mata terlihat :
o Injeksi siliar dan dapat disertai pula dengan injeksi konjungtiva.
o Kornea keruh, keputihan dengan permukaan mencekung, bila disebabkan
jamur,permukaannya dapat menonjol karena timbunan jaringan nekrotik.
Penatalaksanaan :
Beri tetes mata larutan atropine sulfat 1% 3-4 kali/hari
Antibiotik, bila dalam bentuk tetes mata, berikan 2 tetes/jam atau dalam
bentuk salep mata 3-5 kali/hari. Bila ada gunakan antibiotik yang efektif

Anisa Putri - 1102010024


untuk pseudomonas seperti terramycin dengan polymixin B sulfate, garamycin. Berikan juga
secara sistemik antibiotik yang berspektrum luas dengan dosis tinggi.
Vitamin A, sekurang-kurangnya 100.000 U
Mata ditutup dengan kasa steril.
Bila keadaan tidak membaik atau memberat, mungkin penyebabnya adalah jamur. Maka dilakukan :
Debridement sampai bersih, lalu bilas dengan larutan garam faal steril.
Setelah itu diberi salep antijamur tiap jam misalnya: preparat amfoterisin B,
preparat nistatin.
Sebaiknya usahakan pengiriman ke spesialis mata agar dapat segera diambil tindakan bila
terjadi perforasi.
3. Uveitis anterior
Penyakit ini cenderung kronik, tetapi tindakan dini yang tepat dapat menyelamatkan mata dari
kebutaan.
Keluhan :
o Penglihatan mundur, silau dan pegal disekitar dan dalam mata.
o Tidak ada sekret ataupun lakrimasi.
Pada mata terlihat:
o Injeksi siliar
o Kornea jernih atau berbercak-bercak coklat di bagian dalam.
o Bilik mata depan suram, kadang-kadang ada hipopion.
o Iris pucat, lipatannya berkurang atau menghilang.
o Pupil kecil, kadang-kadang tepinya tidak rata.
Penatalaksanaan :
Beri tetes mata larutan atropine sulfat 1% 3 kali/hari
Beri tetes mata mengandung kortikosteroid dengan atau tanpa campuran
antibiotik setiap 2 jam. Bila berbentuk salep, berikan 3-5 kali/hari
Mata sebaiknya ditutup dengan kasa steril.
Sebaiknya dikirimkan ke spesialis mata karena dapat menimbulkan komplikasi
yang menetap.
4. Trauma mata
Trauma pada mata menimbulkan rasa takut dan kegelisahan yang besar, oleh
karena itu kita harus bertindak cepat dan tepat.
Macam-macam trauma mata :
1.Trauma tajam mata/trauma perforatum
Biasanya mudah didiagnosis bila luka luas karena akan selalu ada jaringan intraokuler yang
prolaps.
Penatalaksanaan :
Konservatif :
Berikan salep mata antibiotik 3-5 kali/hari, lalu tutup dengan kasa steril.
Berikan antibiotic sistemik dengan dosis tinggi.
ATS 1 5 0 0 U i m , p a d a a n a k 7 5 0 U i m .
Bila terjadi perforasi kecil < 4 mm dapat diharapkan sembuh dengan cara diatas. Tetapi bila luas >
4mm harus disertai dengan tindakan operatif yang sebaiknya dilakukan di spesialis mata.
2. Trauma tumpul mata

Anisa Putri - 1102010024


Merupakan peristiwa yang sangat sering terjadi. Kerusakan yang terjadi juga
sangat bervariasi. Trauma tumpul mata dapat diakibatkan benda yang keras atau benda yang tidak
keras dimana benda tersebut dapat mengenai mata dengan keras ataupun lambat.
- Trauma tumpul konjungtiva
o Edema konjungtiva, edema konjungtiva yang berat dapat mengakibatkan
palpebra tidak menutup sehingga bertambah rangsangan terhadap konjungtiva. Hal
ini dapat dicegah dengan pemberian dekongestan untuk mencegah pembendungan cairan
dalam s e l a p u t l e n d i r k o n j u n g t i v a . P a d a k e a d a a n y a n g l e b i h b e r a t d a p a t
dilakukan insisi.
o Hematoma subkonjungtiva, terjadi akibat pecahnya pembuluh darah yang
terdapat pada atau dibawah konjungtiva. Bila perdarahan terjadi karena trauma
tumpul maka perlu dipastikan bahwa tidak ada robekan d i b a w a h j a r i n g a n
k o n j u n g t i v a a t a u s k l e r a . B i l a t e k a n a n b o l a m a t a rendah dengan pupil
lonjong disertai tajam penglihatan menurun dan hematoma subkonjungtiva maka
sebaiknya dilakukan eksplorasi bola mata untuk mencari kemungkinan adanya ruptur
bulbus okuli. Penanganan dini adalah dengan kompres hangat.
- Trauma tumpul pada kornea
o Edema kornea, akan memberikan keluhan penglihatan kabur dan terlihatnya
pelangi s e k i t a r b o l a l a m p u / s u m b e r c a h a y a y a n g d i l i h a t . K o r n e a a k a n
terlihat keruh. Edema kornea yang berat akan mengakibatkan masuknya serbukan sel
radang dan neovaskularisasi kedalam jaringan stroma kornea. Pengobatan yang
diberikan adalah larutan hipertonik seperti NaCL 5% atau larutan garam
hipertonik 2-8%, glukosa 40% dan larutan albumin. Bila terjadi peningkatan
TIO berikan asetozolamid.
o Erosi kornea, merupakan keadaan terkelupasnya epitel kornea yang dapat
diakibatkan oleh gesekan keras pada epitel kornea. Pasien akan merasa sakit sekali, mata
berair, dengan blefarospasme, lakrimasi, fotofobia dan penglihatan akan terganggu
oleh media kornea yang keruh. Pewarnaan florensensi akan berwarna hijau.
Berikan anestesi lokal untuk pemeriksaan visus. Untuk mencegah adanya infeksi beri
antibiotik spektrum luas.
- Trauma tumpul uvea
o Iridoplegia, terjadi kelumpuhan otot sfingter pupil sehingga pupil menjadi
lebar d a n m i d r i a s i s . P a s i e n a k a n s u k a r m e l i h a t d e k a t k a r e n a g a n g g u a n
akomodasi, silau akibat gangguan pengatur masuknya sinar pada pupil. Pupil terlihat tidak
sama besar dan bentuknya menjadi irregular. Pupil tidak bereaksi dengan cahaya. Pasien
sebaiknya diistirahatkan saja.
o Iridodialisis, pupil berubah bentuk akibat trauma. Pasien akan melihat ganda
dengan satu matanya. Sebaiknya dilakukan pembedahan dengan melakukan reposisi
pangkal iris yang terlepas.
o Hifema
- Trauma tumpul pada lensa
o Dislokasi lensa, terjadi akibat putusnya zonula zinii, sehingga kedudukan lensa
terganggu.
o Subluksasi lensa, terjadi akibat putusnya zonula zinii sehingga lensa berpindah
tempat. Pasien akan mengeluh penglihatanya berkurang dan lensa akan memberikan
gambaran pada iris berupa iridodonesis. S u b l u k s a s i d a p a t m e n y e b a b k a n
g l a u k o m a s e k u n d e r d i m a n a t e r j a d i penutupan sudut bilik mata oleh lensa yang
cembung.
o Luksasi lensa anterior, pasien akan mengeluh penglihatan menurun mendadak,
disertai rasa sakit yang sangat, muntah, mata merah dengan blefarospasme. Terdapat injeksi
siliar yang hebat, edema kornea, lensa didalam bilik mata depan, iris terdorong kebelakang

Anisa Putri - 1102010024

o
o

dengan pupil yang l e b a r . T I O s a n g a t t i n g g i . S e b a i k n y a l a n g s u n g d i r u j u k


d a n t e r l e b i h dahulu diberi asetozolamid.
Luksasi lensa posterior, pasien akan mengeluh adanya skotoma pada lapangan
pandangnya akibat lensa mengganggu. Pasien akan melihat normal dengan lensa +
12,0 dioptri untuk jauh, COA dalam. Secepatnya dilakukan ekstraksi lensa.
Katarak trauma

- Trauma tumpul pada retina dan koroid


o Edema retina dan koroid, penglihatan akan sangat menurun. Edema retina akan
menmberikan w a r n a r e t i n a y a n g l e b i h a b u - a b u a k i b a t s u k a r n y a m e l i h a t
j a r i n g a n koroid melalui retina yang sembab. Umumnya penglihatan akan normal
kembali setelah beberapa waktu.
o Ablasi retina, pasien akan mengeluh adanya selaput seperti tabir mengganggu lapangan
pandang. Bila terkena daerah makula maka tajam penglihatan a k a n m e n u r u n . P a d a
p e m e r i k s a a n f u n d u s k o p i t e r l i h a t r e t i n a y a n g berwarna abu-abu dengan
pembuluh darah terangkat dan berkelok- kelok. Sebaiknya dirujuk secepatnya.
- Trauma tumpul saraf optik
3. Trauma ki mi a
o Trauma asam, bila bahan asam mengenai mata maka akan segera terjadi
pengendapan ataupun penggumpalan protein permukaan sehingga bila konsentrasi tidak
tinggi maka kerusakannya hanya pada bagian superficial saja. Pengobatan dapat
dilakukan dengan irigasi jaringan yang terkena secepatnya dan selama mungkin
untuk menghilangkan dan melarutkan bahan.
o Trauma basa, alkali akan menembus dengan cepat ke kornea, bilik mata depan, dan sampai ke
jaringan retina. Pada trauma basa akan terjadi penghancuran jaringan kolagen kornea. Bahan
kimia alkali bersifat koagulasi sel dan terjadi proses penyabunan disertai dengan dehidrasi.
Menurut klasifikasi Thoft maka trauma basa dapat dibedakan:
Derajat 1: Hiperemi konjungtiva disertai dengan keratitispungtata.
Derajat 2: Hiperemi konjungtiva disertai dengan hilang epitel kornea.
Derajat 3: Hiperemi disertai dengan nekrosis konjungtiva dan lepasnya epitel
kornea.
Derajat 4 : Konjungtiva perilimal nekrosis sebanyak 50%.
Tindakan yang dilakukan adalah secepatnya melakukan irigasi dengan garam fisiologik.
Sebaiknya irigasi dilakukan selama mungkin. Penderita diberi sikloplegia, antibiotik, EDTA untuk
mengikat basa.
4.Trauma radiasi, yang sering ditemukan adalah radiasi sinar inframerah, sinar ultraviolet, sinar
X dan sinar terionisasi.
HIFEMA
Definisi
Hifema merupakan keadaan dimana terdapat darah didalam bilik mata depan, yaitu darah diantara
kornea dan iris, yang dapat terjadi akibat trauma tumpul yang merobek pembuluh darah iris atau
badan siliar dan bercampur dengan humor aquos yang jernih. Walaupun darah yang
terdapat dibilik mata depan sedikit tetap dapat menurunkan penglihatan.
Etiologi

Anisa Putri - 1102010024


Hifema biasanya disebabkan oleh trauma tumpul pada mata seperti terkena bola, batu dll. Selain itu
hifema juga dapat terjadi karena kesalahan prosedur operasi mata. Keadaan lain yang dapat
menyebabkan hifema namun jarang terjadi adalah adanya tumor mata seperti retinoblastoma dan
kelainan pembuluh darah.

Klasifikasi
Berdasarkan penyebabnya hifema dibagi menjadi :
o Hife ma traumatik, me rupakan perdarahan pada bilik mata depan ya ng
d i s e b a b k a n pecahnya pembuluh darah iris dan badan siliar akibat trauma pada
segmen anterior bola mata.
o Hifema akibat tindakan medis, misalnya kesalahan prosedur operasi mata.
o Hifema akibat inflamasi yang parah pada iris dan badan siliar, sehingga pembuluh darah
pecah.
o Hifema akibat kelainan sel darah merah/pembuluh darah, akibat neoplasma
Berdasarkan waktu terjadinya, hifema dibagi 2 :
o Hifema primer, timbul segera setelah trauma hingga hari ke-2
o Hifema sekunder, timbul pada hari ke 2-5 setelah terjadi trauma.
Hifema dibagi menjadi beberapa grade menurut Sheppard berdasarkan tampilan klinisnya :
Grade I: Darah mengisi kurang dari sepertiga COA.
Grade II: Darah mengisi sepertiga hingga setengah COA.
Grade III: Darah mengisi hampir total COA.
Grade IV: Darah memenuhi seluruh COA.
Manifestasi klinis
Pasien akan mengeluh nyeri pada mata disertai dengan mata yang berair. Penglihatan
pasien akan sangat menurun. Terdapat tumpukan darah yang terlihat dengan mata telanjang bila
jumlahnya cukup banyak. Bila pasien duduk, hifema akan terlihat terkumpul di bagian
bawah bilik mata depan dan hifema dapat memenuhi seluruh ruangan bilik mata depan. Selain itu
dapat terjadi peningkatan tekanan intraokular, merupakan keadaan yang harus diwaspadai karena
dapat menyebabkan glaukoma sekunder.
Diagnosis
1. Pemeriksaan ketajaman penglihatan: menggunakan kartu mata snellen.
V i s u s d a p a t menurun akibat kerusakan kornea, aquos humor, iris dan retina.
2. Lapangan pandang: penurunan dapat disebabkan oleh patologi vaskuler
o k u l e r a t a u glaukoma
3. Pengukuran tonometri: Untuk mengetahui tekanan intra okuler.
4. Slit lamp biomicroscopy: Untuk menentukan kedalaman COA dan iridocorneal
contact, aquous flare dan sinekia posterior.
5. Pemeriksaan oftalmoskop: Untuk mengetahui struktur internal okuler.
Penatalaksanaan

Konservatif
Istirahat baring penuh dengan elevasi kepala 30 o . pada dewasa tutup kedua mata,
pada anak cukup satu mata agar tidak gelisah. Pada anak-anak yang gelisah

Anisa Putri - 1102010024

dapat diberikan o b a t p e n e n a n g . B i a s a n y a h i f e m a a k a n d i s e r a p k e m b a l i
d a n h i l a n g s e m p u r n a d a l a m beberapa hari tergantung pada banyaknya darah.
Untuk mengurangi nyeri, dapat diberikan parasetamol. Tidak disarankan
pemberian jenis a s p i r i n k a r e n a s a l a h s a t u e f e k a s p i r a n a k a n
m e n y e b a b k a n p e r d a r a h a n k e m b a l i p a d a hifema yang disebabkan trauma. Obatobatan untuk mengurangi tekanan intraokular dan kortikosteroid dapat diberikan.
Diet ma kanan cair atau lunak agar tidak ban yak me ngun ya h dan
d e f e k a s i m u d a h d a n sedikt.

Tunggu 24 jam.
- Bila tekanan intraokular menurun atau normal, pengobatan diteruskan.
- Bila tekanan intraokular tetap tinggi lakukan parasentesis.
Paresentesis sebaiknya dilakukan di spesialis mata.
Indikasinya :
Terdapat glaucoma sekunder akibat hifema.
Hifema yang penuh dan berwarna hitam.
Bila setelah 5 hari tidak ada tanda-tanda hifema akan berkurang.
Lama sakit
<5 hari
5-10 hari
>10 hari

Tekanan intraokuler normal


Konservatif
Konservatif
Parasentesis

Tekanan intraokuler meninggi


Asetazolamid 3x250 mg + hemostatik
Parasentesis
Parasentesis

Komplikasi
Komplikasi tersering adalah peningkatan tekanan intraokuler (> 35 mmHg selama 7 hari atau 50
mmHg selama 5 hari) oleh karena terjadinya perdarahan sekunder yang cenderung lebih berat
dibandingkan dengan yang pertama. Istirahat sangat penting untuk mencegah terjadinya perdarahan
kedua ini. Peningkatan tekanan biasanya memberi respon terhadap terapi medis namun kadang
membutuhkan intervensi bedah. Bila hifema telah membaik, mata harus diperiksa untuk mencari
komplikasi lain akibat trauma tumpul.
KEBUTAAN DALAM KASUS KEGAWATDARURATAN
Kriteria buta menurut WHO dan UNICEF: buta adalah suatu keadaan dimana seseorang tidak dapat
menjalankan pekerjaan-pekerjaan yang memerlukan penglihatannya sebagai hal yang esensial
sebagaimana orang sehat. WHO menganjurkan agar kriteria kebutaan untuk negara
yang sedang berkembang ialah tajam penglihatan 3/60 atau lebih rendah
y a n g t i d a k d a p a t dikoreksi.
Etiologi
Penyebab kebutan yang utama di negara yang sedang berkembang adalah
katarak. Selain itu juga trakoma, lepra, onkoserkariasi dan xeroptalmia. Di negaranegara yang sudah berkembang kebutaan berhubungan dengan proses penuaan.
Diagnosis
- Pemeriksaan visus dan lapangan pandang
- Kategori gangguan penglihatan

Penglihatan

Kategori gangguan penglihatan


1

Ketajaman penglihatan (dikoreksi terbaik)


6/8

Anisa Putri - 1102010024


rendah
Penglihatan
rendah

Kebutaan

Kebutaan

Kebutaan

3/10
20/70
6/60
1/10
20/200
3/60 (menghitung jari jarak 3 m)
1/20
20/400
1/60 (menghitung jari jarak 1 m)
1/50
5/300
Tidak ada persepsi cahaya

Beberapa penyakit yang bisa menyebabkan kebutaan:


Katarak
Katarak adalah kelainan pada mata yang diakibatkan karena adanya pengapuran pada lensa mata.
Katarak hanya bisa dihilangkan dengan jalan operasi.
Buta Warna
Buta warna diyakini berhubungan dengan kurangnya sel-sel kerucut tertentu pada retina, misalnya
buta warna merah dan hijau yang disebabkan karena tidak adanya sel-sel kerucut merah dan hijau
pada retina.
Rabun Senja
Rabun senja merupakan kelainan pada mata yang disebabkan karena kurangnya pigmen rodopsin
yang berguna untuk pengelihatan pada saat cahaya redup. Hal ini disebabkan karena kurangnya
asupan vitamin A yang merupakan bagian dari pigmen rodopsin.
Glaukoma
Glaukoma adalah munculnya lingkaran hijau pada iris karena tekanan di dalam mata meningkat.
Penyakit ini hanya dapat disembuhkan dengan operasi.
Penatalaksanaan :
Rehabilitasi orang buta
Tujuan rehabilitasi :
o Mengembalikan ke dalam masyarakat.
o Untuk meringankan beban keluarga dan masyarakat.
o Memelihara kepercayaan kepada diri sendiri
Rehabilitasi meliputi :
o Memberi dorongan, menghindari terjadinya depresi
o Memelihara, menggunakan indra yang tersisa se-intensif mungkin,
dimana ia d a p a t m e n g e n a l a l a m s e k i t a r n y a m e l a l u i
p e n d e n g a r a n , p e r a b a a n , p e m b a u d a n sebagian besar melalui ilham
o Pendidikan khusus.
o Lapangan kerja yang sesuai.
o Kerjasama atau toleransi masyarakat dan pemeliharaan khusus.
o Usaha menolong orang yang sudah buta.
Latihan mobilitas dan anjing penuntun, merupakan hal terpenting dalam rehabilitas orang
buta.
Braile, system membaca untuk orang buta yang sangat efektif.
Perangkat elektronik, optakon adalah alat elektronik yang mengubah bayangan
visual huruf-huruf menjadi bentuk taktil.

Anisa Putri - 1102010024

Pencegahan :
o Mencegah
penyakit-penyakit
infeksi
misalnya
trakoma,
lepra
onkoserkariasis sertaxeroftalmia yang merupakan penyakit non-infeksi.
o Meningkatkan asupan vitamin A untuk mencegah xeroftalmia.
o Mencegah terjadin ya katarak.
o Penyakit-penyakit herediter dapat dicegah melalui konsultasi genetik.
o K e r j a s a m a p e m e r i n t a h d g n o r g a n i s a s i d a l a m m e m b a n t u orang buta.

dan