Anda di halaman 1dari 5

PROGESTERON

Progesteron disekresikan oleh sel sel luteal korpus luteum. Hormon ini juga disekresikan
oleh plasenta dan glandula adrenal. Progesteron ditrasportasikan kedalam darah melalui
ikatan pada globulin seperti androgen dan estrogen. Regulasi sekresi progesteron terutama
distimulasi oleh LH pada hewan domestik. Progesteron berfungsi menjaga kehamilan dengan
cara mempersiapkan uterus untuk implantasi melalui peningkatan glandula sekretori didalam
endometrium dan menghambat motilitas miometrium. Progesteron beraksi secara sinergik
dengan estrogen untuk menginduksi tingkah laku estrus pada domba dan sapi. Agar
progesteron mempunyai efek terhadap suatu jaringan maka jaringan tersebut pertama kali
harus dipengaruhi dan diekspos terhadap estrogen. Bersama sama dengan estrogen,
progesteron menginduksi perkembangan sistem lobulo alveolar mammae, dan hipertrofi
endometrium uterus. Level tinggi progesteron akan menghambat estrus dan LH surge
ovulatori.

Oleh

karen

itu,

hormon

progesteron

penting

dalam

regulasi

siklus

estrus. Pemberian progesteran dapat mencegah terjadinya abortus pada saat kebuntungan
karena progesteron yang cukup dalam tubuh. Hal ini disebabkan hormon progesteron akan
menjaga kebuntingan. Preparat progesteron juga dapat digunakan dalam penyentakan birahi
pada

sekelompok

hewan.

Prostaglandin (PGF2)
Prostaglandin adalah senyawa C20 dengan satu cincin siklopenta yang mirip derivate asam
lemak tak jenuh seperti arakidonat (Solihati, 2005). Nama prostaglandin diberikan oleh Von
Euler karena ia berpendapat bahwa zat ini dihasilkan oleh kelenjar prostat manusia.
Prostaglandin mempunyai implikasi pada pelepasan gonadotropin, ovulasi, regresi CL,
motilitas uterus dan motilitas spermatozoa (Djajosoebagio, 1990). PGF2 bersifat luteolitik
sehingga mampu menginduksi terjadinya regresi CL yang mengakibatkan estrus, akan tetapi
mekanisme yang sebenarnya belum diketahui dengan pasti walaupun salah satu dari postulatpostulat yang ada menyatakan bahwa efek vasokonstriksi dari PGF2 dapat menyebabkan
luteolisis. Beberapa hipotesis tentang bagaimana kerja PGF2 dalam melisiskan CL yaitu (1)
PGF2 langsung berpengaruh kepada hipofisis, (2) PGF2 menginduksi luteolisis melalui
uterus dengan jalan menstimulir kontraksi uterus sehingga dilepaskan luteolisis uterin
endogen, (3) PGF2 langsung bekerja sebagai racun terhadap sel-sel CL, (4) PGF2 bersifat

sebagai antigonadotropin, baik dalam aliran darah maupun reseptor pada CL, dan (5) PGF2
mempengaruhi aliran darah ke ovarium (Solihati, 2005). PGF2 hanya efektif bila ada korpus
luteum yang berkembang, antara hari 7 sampai 18 dari siklus estrus ( Putro, 2008 ).

Kortikosteroid
Kortikosteroid adalah suatu kelompok hormon steroid yang dihasilkan di bagian korteks
kelenjar adrenal sebagai tanggapan atas hormon adreno kortiko tropik (ACTH) yang
dilepaskan oleh kelenjar hipofisis, atau atas angiotensin. Hormon ini berperan pada banyak
sistem fisiologis pada tubuh, misalnya tanggapan terhadap stres, tanggapan sistemkekebalan
tubuh, dan pengaturan inflamasi, metabolisme karbohidrat, pemecahan protein,kadar
elektrolit darah, serta tingkah laku. Kortikosteroid dibagi menjadi 2 kelompok berdasarkan
atas aktivitas biologis yang menonjol darinya, yakni glukokortikoid (contohnya kortisol)
yang berperan mengendalikan metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein, juga bersifat anti
inflamasi dengan cara menghambat pelepasan fosfolipid, serta dapat pula menurunkan kinerja
eosinofil. Kelompok lain dari kortikosteroid adalah mineralokortikoid (contohnya
aldosteron), yang berfungsi mengatur kadar elektrolit dan air, dengan cara penahanan garam
di ginjal. Beberapa kortikosteroid menunjukkan kedua jenis aktivitas tersebut dalam beberapa
derajat, danlainnya hanya mengeluarkan satu jenis efek. Hormon kortikosteroid dihasilkan
dari kolesterol di korteks kelenjar adrenal yang terletak di atas ginjal. Reaksi
pembentukannya dikatalisis oleh enzim golongan sitokrom P450.

Mekanisme Hormonal
Mekanisme induksi kelahiran dimulai dengan pelepasan hormon ACTH yang berasal dari
otak fetus setelah mencapai tahap perkembangan. Hormon ini menyebabkan reaksi cascade
sehingga terjadi pelepasan cortisol dari kelenjar adrenal fetus, yang menginduksi pelepasan
estron dan estradiol dari plasenta, yang kemudian menstimulasi uterus untuk melepaskan
prostaglandin yang menyebabkan regresi corpus luteum dan menghentikan produksi
progesteron. Kira-kira 1-2 hari sebelum kelahiran konsentrasi progesteron mulai turun dalam
sirkulasi. Pelepasan relaxin terjadi dalam 2-3 gelombang antara 44-26 jam sebelum kelahiran
dan puncaknya pada 14-22 jam dan kemudian turun sebelum keluarnya genjik pertama. Baik
estrogen dan relaxin menyebabkan perubahan cervix yang membuat saluran kelahiran

membuka. Kurang dari 10 jam, estrogen dalam darah meningkat dengan cepat, dan kurang
dari 9 jam otot uterus mulai kontraksi (Knox, 2008). Pada waktu yang sama, prostaglandin
dibawa ke pituitari anterior dan menyebabakan pelepasan oksitosin ke dalam pembuluh darah
(Jones, 1986). Oksitosin meningkat 9-4 jam sebelum kelahiran genjik pertama dan puncaknya
selama genjik dikeluarkan. Prostaglandin dalam darah juga meningkat selama pengeluaran
fetus. Pada kelahiran alami, oksitosin meningkat di atas level baseline (garis dasar) yang
hanya berjalan ketika nilai progesteron dalam darah turun di bawah 10 ng/ml (Knox, 2008)
1.Mekanisme Intra Uteri
Faktor hormonal
Fetus meregangkan serviks terjadi rangsangan ke otak,hipotalamus. Hipofisa anterior
mengeluarkan oxytosin. Oxytosin merangsang uterus untuk memulai kontraksi. Progesteron,
menjaga kebuntingan. Menurun pada ahir kebuntingan, Estrogen meningkat, oksitosin tampil
dan terjadi kontraksi urat daging uterus. Estrogen, terbentuk sejak plasenta terbentuk.
Semakin tinggi berat plasenta semakin tinggi kadar estrogen. Bersama-sama dengan oksitosin
merangsang uterus berkontraksi. (Anonim,2010)
Peranan kortisol dalam kelahiran
Pemberian Dexamethasone (Dexadreson, 15 ml) dalam waktu pendek segera sebelum atau
menjelang kelahiran akan merangsang peningkatan konsentrasi Cortisol Fetus dan
merangsang proses kelahiran. Umumnya kelahiran akan terjadi dalam waktu 72 Jam.
Selanjutnya apabila induksi dilakukan lebih dari 7 10 hari sebelum waktu kelahiran, maka
respons yang ditimbulkan lebih bervariasi dan kejadian kegagalan induksi akan lebih sering
terjadi. Kondisi tersebut dapat diantisipasi dengan pemberian preparat corticosteroid yaitu
Dexafort , 10 ml dalam dosis medium, kemudian dilanjutkan satu (1) minggu kemudian
pemberian periode pendek preparat Dexadreson; 10-15 ml. Induk Sapi akan melahirkan
dalam waktu pemberian preparat Corticosteroid. (Anonim,2011)
2. Mekanisme Kontrol Ekstra uteri
Terjadi Relaksasi dan dilatasi servik, fetus mengambil postur kelahiran, kontraksi uterus
terjadi dan Chorionallantois memasuki vagina. Tahap kedua : Kontraksi uterus berlanjut,
Fetus masuk kedalam saluran peranakan, Kontraksi abdominal terjadi, Amnion memasuki
vagina dan Fetus dikeluarkan. Tahap ketiga Hilangnya sirkulasi plasenta, Pemisahan plasenta
terjadi, Kontraksi uterus dan abdominal berlanjut dan Plasenta dikeluarkan. Pada spesies

politokus, tahap pertama kelahiran diikuti oleh rangkaian kelahiran fetus tahap kedua. Hal ini
kemudian bisa diikuti oleh tahap ketiga setelah setiap tahap kedua atau keluarnya plasenta
setelah kelahiran dari satu kelompok atau semua anak.
Kontraksi Uterus
-Progesetron
Pada Sapi, Progesteron berfungsi memelihara kebuntingan. Hal ini disebabkan pada saat
kebuntingan Korpus luteum selalu ada. Kondisi ini dimungkinkan dengan konsentrasi atau
level Progesteron darah pada hari ke 150 kebuntingan dan selama beberapa saat sebelum
kelahiran tinggi, dimana Korpus luteum merupakan sumber dari Progesteron. Selain itu pada
periode tersebut, Plasenta juga memproduksi Progesteron untuk memelihara kebuntingan
tersebut. Dilain pihak, proses kelahiran dipacu oleh adanya peningkatan produksi cortisol
pada foetal, dan ini akan merangsang produksi Estrogen dan Prostaglandin (PGF2a).
Selanjutnya Prostaglandin akan menyebabkan regresinya Korpus luteum (Corpus Luteum)
dan konsentrasi atau level Progesteron dalam darah akan menurun secara drastis. Dari prinsip
kerja hormon tersebut di atas, maka dilakukan penelitian untuk induksi kelahiran dengan
menggunakan ke dua hormon tersebut yaitu penggunaan Prostaglandin, Corticosteroid atau
kombinasi ke dua hormon tersebut (Anonim 2011)
-Relaksin
Kadar estrogen, progesteron, dan relaksin terlihat tinggi sehingga dapat diketahui bahwa
mekanisme yang menginisiasi kelahiran adalah pelepasan cortisol oleh fetus. Kenaikan
cortisol menyebabkan produksi dan pelepasan yang lebih besar dari estrogen oleh plasenta
yang menginisiasi pelepasan PGF2a dari uterusPGF2a yang menyebabkan regresi CL dan
turunnya progesteron. Plasenta merupakan sumber utama Progesteron pada domba selama
2/5 akhir kebuntingan. Tampaknya kenaikan cortisol fetus menyebabkan perubahan dalam
enzim plasenta yang menghasilkan konversi Progesteron menjadi Estrogen. Estrogen plasenta
menyebabkan pelepasan PGF2a dari uterus domba tetapi penurunan progesteronterlihat
sebelum kenaikan PGF2a. Oxytocin terlepas ketika gerakan fetus merangang syaraf sensoris
cervix dan vagina. Konsenjtrasi Oxytocin yang tertinggi terlihat selama pengeluaran fetus.
Lonjakan kecil terlihat selama pengeluaran plasenta Pelepasan PGF2a yang lebih besar
disebabkan oleh oxytocin. Suatu peningkatan cortisol induk menjelang kelahiran mungkin
disebabkan oleh stres parturisi dan tidak terlibat dalam regulasi parturisi. Lonjakan prolactin
terkait dengan sintesis susu dan bukan dengan parturisi (Anonim,2011)

Peristiwa fisiologis dalam kelahiran berupa dilatasi cervix dan kontraksi uterus. Dilatasi
cervix disebabkan oleh relaxin ketika bekerja sama dengan kadar estrogen yang meningkat.
Kontraksi uterus awal mungkin disebabkan oleh PGF2 ketika terlepas dari endometrium
dengan meningkatnya kadar estrogen (Anonim., 2004). Hormon peptida relaxin diproduksi
oleh plasenta atau oleh maternal korpus luteum pada kebuntingan awal. Relaxin juga
berperan pada relaksasi maternal cervix menjelang kelahiran dan mempengaruhi efisiensi
kontraksi myometrium. (Anonim,2011)
- Prostaglandin
Injeksi dengan dosis standar ProstaglandinF2a selama minggu kelahiran atau dalam minggu
dimana waktu proses kelahiran telah diduga, maka kelahiran dapat diinduksi dan umumnya
kelahiran terjadi dalam waktu 48 Jam setelah injeksi Prostaglandins. Selain itu pemberian
kombinasi corticosteroid dan prostaglandin akan lebih baik karena akan memberikan efek
pada tingkat dewasa kelamin (maturasi) fetus yang dilahirkan. Induksi kelahiran ternyata
memberikan efek negatif yaitu meningkatkan kejadian terhambatnya pelepasan plasenta.
Penggunaan Prostaglandin beberapa jam setelah kelahiran dilaporkan dapat menyebabkan
terhindarnya penghambatan pelepasan membran foetal. Yang penting untuk diketahui bahwa
pelaksanaan waktu perkawinan yang tepat akan mencegah kekahiran prematur yang erat
kaitannya dengan penurunan daya tahan fotus setelah kelahiran. Catatan perkawinan
(breeding record) adalah sangat penting diperhatikan, dimana hal ini sangat erat hubungannya
dengan faktor kebersihan lingkungan saat induk melahirkan (Anonim,2011)

DAFTAR PUSTAKA
Djojosoebagio, S. 1990. Fisiologi Kelenjar endokrin Volume II. Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan. Dirjen. Dikti. Pusat Antar Universitas Ilmu Hayat, IPB.
Putro, P.P., 2008. Dampak Crossbreeding terhadap Reproduksi Induk Turunannya: Hasil
Studi Klinis. Lokakarya Lustrum VIII Fak. Peternakan UGM, 8 Agustus 2009