Anda di halaman 1dari 38

HIPERSENSITIVITAS

Dr. HERNAYANTI, MSi.

06/01/15

Hipersensitivitas ?
reaksi imunologis yang bersifat
patologis, terjadi akibat respon
imun yang berlebihan sehingga
menimbulkan kerusakan jaringan
tubuh.
berdasarkan kecepatan dan
mekanisme imun yang terjadi,
reaksi hipersensitivitas menurut
GELL dan COOMBS, dibagi
menjadi 4 tipe :
06/01/15

I.
Reaksi Hipersensitivitas tipe I/
reaksi cepat (reaksi anafilaksis, ana =
jauh dari; filaksis = perlindungan)

Disebut juga reaksi alergi atau reaksi


cepat karena timbul segera setelah
tubuh terpajan oleh antigen (alergen)
dan waktunya adalah 10-15 menit.
Pada reaksi ini, allergen yang masuk
ke dalam tubuh akan menimbulkan
respon imun dengan dibentuknya IgE.
urutan kejadiannya adalah sebagai
berikut
06/01/15

1. Fase sensitasi :waktu yang dibutuhkan


untuk pembentukan IgE, sampai diikatnya
IgE oleh reseptor spesifik (Fc -R), pada
permukaan sel mast dan basofil
2. Fase aktivasi
yaitu waktu yang terjadi akibat pajanan
ulang dengan Ag yang spesifik. Sel mast
melepas isinya yang berupa granul yang
dapat menimbulkan infeksi.
3. Fase efektor
yaitu
waktu terjadinya respon yang
kompleks (anafilaksis) sebagai efek dari
mediator (contoh : histamin) yang
dilepas oleh sel mast.

06/01/15

Urutan pelepasan mediator


memerlukan energi dan terjadi
sebagai berikut :

Influks kalsium ke dalam mast cell


Fosfodiesterase dalam sitoplasma
diaktifkan,
kadar c AMP menurun
Granul yang penuh berisikan mediator
bergerak ke permukaan sel
Terjadi eksositosis dan isi granul
dilepas ke
luar
Penyakit yang dapat timbul segera
sesudah
06/01/15

Pengikatan alergen oleh IgE

06/01/15

Mediator yang dilepaskan dalam Reaksi


Hipersensitivitas tipe I
Histamin : vasodilatasi, permeabilitas
vaskuler, proteolisis, sekresi
mukus, bronchokonstriksi
Triptase
: kinin,vasodilatasi, permeabilitas
vaskuler, edema
ECF-A
: atraktan untuk eosinofil dan
neutrofil

ECF-A : Eosinofil chemotactic factor for anaphylaxis


06/01/15

Mediator yang dilepaskan dalam Reaksi


Hipersensitivitas tipe I cont.
Leukotrin B4
: atraktan untuk basofil

Leukotrin C4, D4 : seperti histamin tetapi


1000x lebih poten
Prostalglandin D2 dan PAF : agregasi
trombosit dan
agen pelepas
PAF : Platelet Activating Factor
histamin dan
mikrotrombi

06/01/15

Pelepasan Mediator pada Hipersensitivitas tipe I

06/01/15

Gambar 2. Efek klinis pada Hipersensitivitas tipe I

06/01/15

10

II. Reaksi Hipersensitivitas tipe II


(reaksi sitotoksik)

Reaksi ini melibatkan peran IgG dan IgM


Pembentukan Ab ditujukan kepada Ag yang terdapat
pada permukaan sel atau jaringan tertentu atau yang
merupakan komponen membrane sel
Antibodi dapat mengaktifkan sel yang memiliki
reseptor Fc-R, sel NK yang berfungsi sebagai sel
efektor melalui mekanisme
Antibody Dependent
Cellular Cytotoxicity (ADCC). Ikatan Ag-Ab dapat pula
mengaktifkan komplemen melalui reseptor C3b
sehingga memudahkan proses fagositosis atau
menimbulkan lisis.

06/01/15

11

Urutan kejadian :
1. Proses sitolisis oleh sel efektor
kontak antara sel efektor dengan
sel sasaran
Kontak ini terjadi melalui molekul
yang
terikat
oleh
Ag
pada
permukaan sel sasaran, kemudian
berinteraksi dengan reseptor Fc
yang terdapat pada permukaan
makrofag, neutrofil, eosinofil dan
sel NK.
Dengan
demikian,
fragmen
Fc
merupakan jembatan antara sel
efektor dengan sel sasaran (opsonic
adherence)
06/01/15

12

2. Proses sitolitik oleh


komplemen

Terjadi karena C1q merupakan reseptor


Fc yang larut dan pengikatannya pada
kompleks Ag-Ab yang terdapat pada
permukaan sel akan merangsang
aktivasi C3.
Selanjutnya terjadi aktiviasi komplemen
melalui jalur klasik, yaitu aktivasi C5b-9
diikuti lisis sel sasaran secara langsung
06/01/15

13

3.

Proses sitolisis oleh sel efektor dengan


bantuan
komplemen
(immuno
adherence)

Sel

sasaran yang dilapisi komplemen dapat


dirusak oleh sel efektor karena sel efektor
memiliki reseptor untuk C3b dan C3d (jalur
alternatif/properdin).
Pengikatan C3b dan C3d melalui reseptor C3
pada
permukaan
sel
efektor
akan
meningkatkan proses sitolisis oleh sel
efektor.
14

06/01/15

AKTIVASI KOMPLEMEN PADA HIPERSENSITIVITAS TIPE II

06/01/15

LAB. PARASITOLOGIENTOMOLOGI, FAK. BIOLOGI

15

06/01/15

Mekanisme ADCC oleh K Cell dan


Makrofag

16

Kerja sama komplemen dengan sel K


pada proses ADCC

06/01/15

17

Beberapa contoh reaksi


hipersensitivitas tipe II

Kerusakan pada eritrosit seperti yang terlihat pada


reaksi transfusi, anemia hemolitik akibat obat.
HDN (haemolytic Disease of the Newborn) akibat
ketidaksesuaian factor rhesus, kerusakan jaringan
pada penolakan jaringan transplantasi akibat interaksi
dengan Ab yang telah ada sebelumnya pada resipien.
Pada sistim golongan darah ABO, pada golongan
darah A, eritrositnya terdiri atas antibodi kelas IgM,
yang
dapat
menimbulkan
aglutinasi,
aktivasi
komplemen dan hemolisis intravaskuler terhadap
eritrosit golongan B atau terjadi reaksi silang antara
eritrosit golongan A dan golongan B.
06/01/15

18

Gambar : Kerusakan eritrosit pada


reaksi hipersensitivitas tipe II

06/01/15

19

Beberapa contoh reaksi


hipersensitivitas tipe II

Pada HDN anti-D IgG yang berasal dari plasenta


ibu menembus plasenta, masuk ke dalam
sirkulasi darah janin dan melapisi permukaan
eritrosit janin. Ini terjadi apabila seorang ibu Rhmengandung janin Rh+. Pada kehamilan
pertama belum terjadi sensitasi limfosit. Tetapi
pada kehamilan kedua dan berikutnya, limfosit
ibu akan membentuk anti-D IgG yang dapat
menembus plasenta, kemudian mengadakan
interaksi dengan factor Rh pada permukaan
eritrosit janin. Sel yang ditutupi IgG tersebut
mudah dirusak, akibat interaksi dengan reseptor
Fc pada fagosit. Akhirnya terjadi kerusakan
eritrosit janin dan bayi lahir kuning.

06/01/15

20

REAKSI HIPERSENSITIVITAS TIPE III


(reaksi kompleks imun)

Reaksi ini juga melibatkan peran IgG dan


IgM,
perbedaannya
adalah
antibodi
ditujukan kepada antigen yang terlarut
dalam serum.
Di dalam jaringan atau sirkulasi darah
ditemukan kompleks Ag-Ab yang dapat
mengaktifkan komplemen.
Selanjutnya
komplemen
yang
diaktifkan
akan
melepaskan
MCF
(Macrophage
Chemotactic Factor) berupa C3a dan C5a.
Makrofag ditarik ke tempat tersebut dan
melepas berbagai mediator, antara lain
enzim-enzim yang dapat merusak jaringan
sekitarnya.
06/01/15

21

06/01/15

22

Pengelompokan antigen pembentuk


kompleks imun berdasarkan
penyebabnya

1.

Antigen yang berasal dari infeksi


kuman yang pathogen
a. Antigen parasit : misalnya malaria
b. Antigen virus : terutama infeksi virus yang
kronik sehingga timbul kompleks antivirus-virus
c. Antigen bakteri : pada infeksi poststreptococcus.
Ag protein M dilepaskan
sehingga akan terbentuk antibodi terhadapnya
dan timbul kompleks imun.
Ketiga jenis antigen ini akan menimbulkan
infeksi persisten.
Kompleks imun akan
diendapkan pada organ yang terinfeksi dan
pada ginjal.
06/01/15

23

Pengelompokan antigen pembentuk


kompleks imun berdasarkan
2. AUTO
ANTIGEN
penyebabnya
cont.
Adalah antigen dari jaringan sendiri. Contoh :
pada penyakit Lupus Erithematosus (LE)
terbentuk kompleks anti nuclear dengan
antigen nuclear dan membentuk kompleks imun
yang mengendap pada ginjal, sendi dan
pembuluh darah
3.Faktor ekstrinsik
Ag yang berasal dari lingkungan dapat berupa
spora jamur yang ada pada jerami, debu silica,
debu asbes yang berasal dari aktivitas industri
dan lainnya. Apabila Ag terhirup terus menerus
akan menimbulkan kompleks imun yang
mengendap pada alveoli paru-paru dan dapat
menimbulkan gangguan napas.
06/01/15

24

Bentuk Reaksi Tipe III

1. Reaksi Arthus (bentuk lokal)


Ditemukan oleh Arthus yang menyuntikkan
serum kuda ke dalam kelinci secara
intradermal berulang kali. Ternyata terjadi
reaksi yang makin menghebat pada
suntikan. Setelah 2-4 jam, terjadi eritema
dan edema ringan serta reaksi tersebut
menghilang keesokan harinya. Tetapi pada
suntikan ke 5 dan ke 6, menimbulkan edema
yang lebih besar dan akhirnya terjadi
perdarahan dan nekrosis yang sulit sembuh.
Dijumpai pada penderita asma akibat kerja.

06/01/15

25

2.

Reaksi serum sickness (bentuk


sistemik)

Ditemukan pertama kali oleh Pirquet dan


Schick sebagai konsekuensi imunisasi pasif
pada pengobatan infeksi difteri dan tetanus
dengan antiserum asal kuda. Setelah 1-2
minggu pemberian serum kuda, akan timbul
panas, gatal, bengkak-bengkak dan rasa
sakit pada seluruh badan, pada persendian
serta kelenjar limfe (getah bening). Hal ini
dapat terjadi pada penderita penyakit ginjal
glomerulonefritis, akibat adanya Ag yang
berlebihan terbentuk kompleks yang larut
dan
beredar
dalam
sirkulasi
serta
terperangkap di berbagai jaringan di
seluruh
tubuh,
termasuk
ginjal
dan
menimbulkan reaksi inflamasi.

06/01/15

26

Mekanisme kerusakan pada


hipersensitivitas tipe III terbentuknya
kompleks imun

06/01/15

27

REAKSI HIPERSENSITIVITAS TIPE IV

Reaksi tipe IV tidak melibatkan antibodi, tetapi sel


T sehingga yang terjadi adalah respon imun
seluler
yang
menyimpang.
Bentuk
hipersensitivitas tipe IV dinamakan sebagai
delayed
type
hypersensitivity
(DTH).
Diketemukan pada beberapa reaksi terhadap
bakteri, virus, fungi dan lain-lain. Contoh :
1. Reaksi tuberkulin, sebagai akibat suntikan
intradermal tuberkulin pada seseorang yang
pernah mengadakan respon imun seluler terhadap
M. tuberculosis.
2. Reaksi Granuloma

06/01/15

28

06/01/15

29

RESPON INFLAMASI PADA HIPERSENSITIVITAS


TIPE IV

06/01/15

30

1.REAKSI TUBERKULIN
Reaksi tuberkulin terjadi 20 jam setelah
terpajan dengan Ag, terjadi dari infiltrasi sel
mononuklir (50% limfosit, sisanya monosit).
Setelah 48 jam timbul infiltrasi, monosit
dalam jumlah besar di sekitar pembuluh
darah dan merusak hubungan serat-serat
kolagen kulit. Reaksi tuberkulin merupakan
respons imun seluler yang terbatas.
06/01/15

31

Gambar Reaksi indurasi pada Test


Tuberkulin

06/01/15

32

2. Reaksi Granuloma

Reaksi ini terjadi sebagai usaha tubuh untuk


membatasi antigen yang persisten dalam tubuh,
akibat sensitasi oleh Ag
M. tuberculosis dan M.
leprae.
Selain itu, dapat juga dari rangsangan bahan non
antigenik seperti bedak dan sarkodiosis.
Dalam hal ini, makrofag tidak dapat memusnahkan
benda anorganik.
Granuloma merupakan agregat fagosit mononuklier
yang dilapisi limfosit dan sel plasma.
Fagosit berupa monosit yang baru dikerahkan serta
sedikit dari makrofag yang sudah ada dalam jaringan.
06/01/15

LAB. PARASITOLOGIENTOMOLOGI, FAK. BIOLOGI

33

2. Reaksi Granuloma cont.

Sel lain adalah sel epiteloid yang berasal dari


makrofag dan sel-sel datia (sel raksasa)
LANGHANS
(bukan
Langerhans)
yang
mempunyai nucleus tersebar di daerah
perifer (diduga merupakan differensiasi
terminal sel monosit makrofag) serta
dikelilingi limfosit.
Ditemukan pula adanya fibroblast.
Pada
penyakit
tuberculosis,
dibagian
sentral
ditemukan
nekrosis
dengan
hilangnya
struktur jaringan.
06/01/15

34

Gambar Reaksi Granuloma

(sel datia)
06/01/15

35

Perbedaan antara reaksi


tuberkulin dan granuloma
Tuberkulin

Granuloma

Waktu
reaksi

48 jam

4 minggu

Khemis

Bengkak, panas,
indurasi

Indurasi

Histologi

PMN, limfosit, monosit, Epiteloid, granuloma,


makrofag, menurun
sel datia, makrofag,
fibrosis, nekrosis

Antigen

Dermal,
Ag/kompleks Ag-Ab
tuberkulin/micobacteriu dalam
makrofag
m, Leishmania
yang persisten

06/01/15

36

Perbandingan tipe
hipersensitivitas I-IV
Tipe I

Tipe II

Karakteristi anafilaks sitotoksik


k
is

Tipe III

Tipe IV

Kplk.
imun

Tipe
lambat

Antigen

eksogen

Perm. sel Larut

Jar.&
organ

Antibodi

IgE

IgG, IgM

Tidak ada

Wkt.
respons

15-30
menit

Menit-jam 3-8 jam

48-72 jam

Lisis &
nekrosis

Eritema &
indurasi

Penampaka R. alergi
n
melebar
06/01/15

IgG, IgM

Eritema,
edema,
nekrosis

37

Lanjutan tabel Perbandingan


tipe hipersensitivitas I-IV
Histologi

Basofil Antibodi &


&
komplemen
eosinofil

Dipindahka
n melalui

antibo
di

Contoh

Alergi,
asma,

antibodi

Eritroblastos
is fetalis,
influens syndroma
a
Goodpastur,
nefritis

06/01/15

Kompleme Monosit &


n&
limfosit
neutrofil
antibodi

Sel T

Sel LE
Farmers
Lung
Disease

Tuberculin
,
granulom
a, eksim

38