Anda di halaman 1dari 60

ASUHAN KEPERAWATAN

HIPOPITUITARISME

Ns.Martha Sinaga,SKep

DEFINISI

HIPOPITUITARI

1.Hipofungsi kelenjar hipofisis


(hipopituitarisme) dapat terjadi akibat
penyakit pada kelenjar sendiri atau pada
hipotalamus. (Robbins Cotran Kumar)
2.Hipopitutarisme is pituitary insuffisienency
from destruction of the anterior lobe of the
pituitary gland. (Diane C. Baughman)
3.Hipopituitarisme mengacu kepada keadaan
sekresi beberapa hormon hipofisis anterior
yang sangat rendah. (Elizabeth C Erorwin)

4.Hipopituitarisme adalah hiposekresi satu


atau lebih hormon hipofise anterior.
(Barbara C. Long)
5.Hipopituitarisme adalah disebabkan oleh
macam macam kelainan antara lain
nekrosis, hipofisis post partum(penyakit
shecan), nekrosis karena meningitis
basalis trauma tengkorak, hipertensi
maligna, arteriasklerosis serebri, tumor
granulema dan lain lain (Kapita
Selekta Edisi:2)

Hipopituitarisme adalah keadaan yang


timbul sebagai akibat hipofungsi hipofisis.
Definisi hormone hipofisis depan dapat
terjadi
dari 3 jalur :
1. Kelainan di dalam kelenjar yang dapat
merusak sel sel sekretorik.
2. Kelainan di dalam atau yang berdekatan
dengan tangkai hipofise dimana dapat
menyebabkan penghentian penyebaran
faktor faktor yang berasal dari
hipotalamus.

3. Kelainan di dalam hipotalamus sendiri


dimana dapat merusak pelepasan bahan
pengatur pada hipofise depan.

ETIOLOGI
Hipopiutuitarisme

dapat terjadi akibat malfungsi kelenjar hipofisis atau


hipotalamus.
Penyebabnya menyangkut :
1.Infeksi atau peradangan oleh : jamur,bakteri piogenik.
2.Penyakit autoimun (Hipofisis Limfoid Autoimun)
3.Tumor, misalnya dari sejenis sel penghasil hormon
yang dapat mengganggu pembentukan salah satu
atau semau hormon lain.
4.Umpan balik dari organ sasaran yang mengalamai
malfungsi. Misalnya, akan terjadi penurunan sekresi
TSH dari hipofisis apabila kelenjar tiroid yang sakit
mengeluarkan HT dalam kadar yang berlebihan.

5.Nekrotik hipoksik
(kematian akibat kekurangan O2) hipofisis
atau
oksigenasi dapat merusak sebagian atau
semua
sel penghasil hormon.
Salah satunya sindrom sheecan, yang
terjadi
setelah perdarahan maternal.

MANIFESTASI KLINIS
1.Sakit kepala dan gangguan penglihatan
atau adanya tanda tanda tekanan intra
kranial yang meningkat.
Mungkin merupakan gambaran penyakit
bila
tumor menyita ruangan yang cukup besar.

2.Gambaran dari produksi hormon


pertumbuhan yang berlebih termasu
akromegali (tangan dan kaki besar
demikian
pula lidah dan rahang), berkeringat banyak,
hipertensi dan artralgia (nyeri sendi).
3.Hiper Prolaktinemia :
Amenore atau oligomenore galaktore
(30%),
infertilitas pada wanita, impotensi pada
pria.

4.Sindrom Chusing :
Obesitas sentral, hirsutisme, striae, hipertensi,
diabetesmilitus, osteoporosis.
5.Defisiensi hormon pertumbuhan : (Growt
Hormon = GH)
gangguan pertumbuhan pada anak anak.
6.Defisiensi Gonadotropin :
impotensi, libido menurun, rambut tubuh rontok
pada pria, amenore pada wanita.
7.Defisiensi TSH :
rasa lelah, konstipasi, kulit kering gambaran
laboratorium dari hipertiroidism.

8.Defisiensi Kortikotropin :
malaise,anoreksia, rasa lelah yang nyata,
pucat,
gejala gejala yang sangat hebat selama
menderita penyakit sistemik ringan biasa,
gambaran laboratorium dari penurunan
fungsi
adrenal.
9.Defisiensi Vasopresin : poliuria,
polidipsia,
dehidrasi, tidak mampu memekatkan
urin.

PEMERIKSAAN FISIK
1.Pemeriksaan Fisik
a.Inspeksi :
Amati bentuk dan ukuran tubuh,
ukur BB dan TB, amati bentuk dan ukuran
buah dada, pertumbuhan rambut axila dan
pubis pada klien pria amati pula
pertumbuhan rambut wajah (jenggot dan
kumis)
b.Palpasi :
Palpasi kulit, pada wanita
biasanya menjadi kering dan kasar.

Tergantung pada penyebab hipopituitary,


perlu juga dikaji data lain sebagai data
penyerta seperti bila penyebabnya
adalah tumor maka perlu dilakukan
pemeriksaan terhadap fungsi serebrum
dan fungsi nervus kranialis dan adanya
keluhan nyeri kepala.

2.Kaji pula dampak perubahan fisik terhadap


kemampuan klien dalam memenuhi
kebutuhan dasarnya.
3.Data penunjang dari hasil pemeriksaan
diagnostik seperti :
a.Foto kranium untuk melihat pelebaran dan
atau erosi sella tursika.
b.Pemeriksaan serum darah : LH dan FSH GH,
prolaktin, alsdosteron, testosteron, kartisol,
androgen, test stimulasi yang mencakup uji
toleransi insulin dan stimulasi tiroid
releasing hormon

PEMERIKSAAN PENUNJANG
1.Pemeriksaan Laboratorik.
Pengeluaran 17 ketosteroid dan 17 hidraksi
kortikosteroid dalam urin menurun, BMR
menurun.
2.Pemeriksaan Radiologik / Rontgenologis
Sella Tursika
a.Foto polos kepala
b.Poliomografi berbagai arah(multi direksional)
c.Pneumoensefalografi
d.CT Scan
e.Angiografi serebral

3.Pemeriksaan Lapang Pandang

a.Adanya kelainan lapangan pandang


mencurigakan
b.Adanya tumor hipofisis yang menekan kiasma
optik
4.Pemeriksaan Diagnostik
a.Pemeriksaan kartisol, T3 dan T4, serta esterogen
atau testosteron
b.Pemeriksaan ACTH, TSH, dan LH
c.Tes provokasi dengan menggunakan stimulan
atau supresan hormon, dan dengan melakukan
pengukuran efeknya terhadap kadar hormon
serum.
d.Tes provokatif.

KOMPLIKASI

1.Kardiovaskuler.
a.Hipertensi.
b.Tromboflebitis.
c.Tromboembolisme.
d.Percepatan uterosklerosis.
2.Imunologi.
Peningkatan resiko infeksi dan
penyamaran tanda tanda infeksi.
3.Perubahan mata.
a.Glaukoma.
b.Lesi kornea.

4.Muskuloskeletal.
a.Pelisutan otot.
b.Kesembuhan luka yang jelek.
c.Osteoporis dengan fraktur kompresi
vertebra, fraktur patologik tulang
panjang, nekrosis aseptik kaput femoris.

5.Metabolik.
Perubahan pada metabolisme glukosa
sindrome penghentian steroid.
6.Perubahan penampakan.
a.Muka seperti bulan (moon face).
b.Pertambahan berat badan.
c.Jerawat.

DIAGNOSA BANDING
1.Gangguan hipotalamus.
2.Penyakit organ target
seperti gagal tiroid primer, penyakit
addison
atau gagal gonadal rimer.
3.Penyebab sindrom chusing lain termasuk
tumor adrenal, sindrome ACTH ektopik.
4.Diabetes insipidus psikogenik atau
nefrogenik.
5.Syndrom parkinson

PENATALAKSANAAN MEDIS

1.Kausal.
Bila disebabkan oleh tumor, umumnya dilakukan
radiasi.
Bila gejala gejala tekanan oleh tumor progresif
dilakukan
operasi.
2.Terapi Substitusi
a.Hidrokortison antara 20 30 mg sehari
b.Puluis tiroid / tiroksin diberikan setelah terapi dengan
hidrokortison.
c.Testosteron pada penderita laki laki
berikan suntikan testosteron enantot atau testosteron
siprionat 200 mg intramuskuler tiap 2 minggu. Dapat
juga diberikan fluoxymestron 10 mg per-os tiap hari.

d.Esterogen diberikan pada wanita secara


siklik untuk mempertahankan siklus haid.
Berikan juga androgen dosis setengah
dosis pada laki laki hentikan bila ada
gejala virilisasi growth hormone bila
terdapat dwarfisme.
3.Tumor hipofisis, diobati dengan
pembedahan radioterapi atau obat (misal
: akromegali dan hiperprolaktinemia
dengan hymocriptine).
4.Beberapa cara pengobatan sering
dilakukan.

5.Defisiensi hormon hos diobati sebagai


berikut : penggantian GH untuk defisiensi
GH pada anak anak, tiroksin dan
kortison untuk defisiensi TSH dan ACTH,
penggantian androgen atau esterogen
untuk defisiensi gonadotropin sendiri
(isolated) dapat diobati dengan
penyuntikan FSH atau HCG.
6.Desmopressin dengan insuflasi masal
dalam dosis terukur.

TINJAUAN KEPERAWATAN
1 PENGKAJIAN
Pengkajian keperawatan pada klien dengan kelainan ini
antara lain mencakup:
1.Riwayat penyakit masa lalu
Adakah penyakit atau trauma pada kepala
yang pernah diderita klien, serta riwayat radiasi pada
kepala.
2.Sejak kapan keluhan diarasakan
Dampak defisiensi GH mulai tampak pada masa
balita sedang defisiensi gonadotropin nyata pada
masapraremaja.
3.Apakah keluhan terjadi sejak lahir.
Tubuh kecil dan kerdil sejak lahir terdapat pada klien
kretinisme.

4.Kaji TTV dasar untuk

perbandingan dengan hasil pemeriksaan yang akan datang.


5.Berat dan tinggi badan saat lahir atau kaji pertumbuhan
fisik klien. Bandingkan perumbuhan anak dengan standar.
6.Keluhan utama klien:
a.Pertumbuhan lambat.
b.Ukuran otot dan tulang kecil.
c.Tanda tanda seks sekunder tidak berkembang, tidak ada
rambut pubis dan rambut axila, payudara tidak tumbuh,
penis tidak tumbuh, tidak mendapat haid, dan lain lain.
d.Interfilitas.
e.Impotensi.
f.Libido menurun.
g.Nyeri senggama pada wanita.

Pemeriksaan fisik
a.Amati bentuk dan ukuran tubuh, ukur BB dan TB,
amati bentuk dan ukuran buah dada, pertumbuhan
rambut axila dan pubis pada klien pria amati pula
pertumbuhan rambut wajah (jenggot dan kumis).
b. Palpasi kulit, pada wanita biasanya menjadi kering
dan kasar.
Tergantung pada penyebab hipopituitary,perlu juga
dikaji
data lain sebagai data penyerta seperti bila
penyebabnya
adalah tumor maka perlu dilakukan pemeriksaan
terhadap fungsi serebrum dan fungsi nervus kranialis
dan
adanya keluhan nyeri kepala.

8.Kaji pula dampak perubahan fisik


terhadap kemapuan klien dalam
memenuhi kebutuhan dasarnya.
9.Data penunjang dari hasil pemeriksaan
diagnostik seperti :
a.Foto kranium untuk melihat pelebaran
dan
atau erosi sella tursika.
b.Pemeriksaan serta serum darah : LH dan
FSH GH, androgen, prolaktin, testosteron,
kartisol, aldosteron, test stimulating yang
mencakup uji toleransi insulin dan
stimulasi tiroid releasing hormone.

DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.Gangguan citra tubuh yang berhubungan
dengan perubahan struktur tubuh dan
fungsi tubuh akibat defisiensi
gonadotropin
dan defisiensi hormon pertumbuhan.
2.Koping individu tak efektif berhubungan
dengan kronisitas kondisi penyakit.
3.Harga diri rendah berhubungan dengan
perubahan penampilan tubuh.

4.Gangguan persepsi sensori (penglihatan)


berhubungan dengan gangguan transmisi
impuls sebagai akibat penekanan tumor
pada nervus optikus.
5.Ansietas berhubungan dengan
ancaman atau perubahan status
kesehatan.
6.Defisit perawatan diri berhubungan
dengan menurunnya kekuatan otot.
7.Resiko gangguan integritas kulit
(kekeringan) berhubungan dengan
menurunnya kadar hormonal.

3 INTERVENSI
Secara umum tujuan yang diharapakan
dari perawatan klien dengan hipofungsi
hipofisis adalah :
1.Klien memiliki kembali citra tubuh yang
positif dan harga diri yang tinggi.
2.Klien dapat berpartisipasi aktif dalam
program pengobatan.
3.Klien dapat memenuhi kebutuhan hidup
sehari hari.
4.Klien bebas dari rasa cemas.
5.Klien terhindar dari komplikasi.

1.Dx : Gangguan Citra Tubuh yang Berhubungan


dengan Perubahan Struktur Tubuh dan Fungsi
Tubuh Akibat Defisiensi Gonadotropin dan
Defisiensi Hormon Pertumbuhan.
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan, klien
memiliki
kembali citra tubuh yang positif dan harga diri yang
tinggi.
Kriteria Hasil :
1. Melakukan kegiatan penerimaan, penampilan
misalnya: kerapian, pakaian, postur tubuh, pola
makan, kehadiran diri.
2. Penampilan dalam perawatan diri / tanggung jawab
peran.

Intervensi :
1.Dorong individu untuk mengekspresikan
perasaan.
R/ Kita dapat mengkaji sejauh mana tingkat
penolakan terhadap kenyataan akan
kondisi fisik tubuh, untuk mempercepat
teknik penyembuhan / penanganan.
2.Dorong individu untuk bertanya mengenai
masalah, penanganan, perkembangan,
prognosa kesehatan.
R/Dengan mengetahui proses perjalanan
penyakit tersebut maka klien
secara bertahap akan mulai menerima
kenyataan.

3.Tingkatkan komunikasi terbuka, menghindari


kritik / penilaian tentang perilaku klien.
R/Membantu untuk tiap individu untuk
memahami area dalam program sehingga salah
pemahaman tidak terjadi.
4.Berikan kesempatan berbagi rasa dengan
individu yang mengalami pengalaman yang
sama.
R/Sebagai problem solving
5.Bantu staf mewaspadai dan menerima
perasaan sendiri bila merawat pasien lain.
R/Perilaku menilai, perasaan jijik, marah dan
aneh dapat mempengaruhi perawatan /
ditransmisikan pada klien, menguatkan harga
negatif / gambaran.

IMPLEMENTASI
Mendorong klien untuk mengungkapkan
perasaan.
Mendorong klien untuk meningkatkan
proses koping terhadap orang lain.
Mendorong klien untuk berbagi rasa
dengan individu yang mengalami
pengalaman yang sama.
Membantu klien dalam aktivitas
perawatan diri melibatkan juga orang lain.
Membantu klien untuk dapat terlibat
dalam aktivitas perawatan diri.

EVALUASI
S: Keluarga mengatakan bahwa klien mulai
melakukan kegiatan penerimaan diri misalnya :
perawatan diri.
O:Aktivitas peningkatan diri misalnya :
penampilan, kerapian, pola makan, dan lain
lain.
Kemampuan dalam penampilan perawatan diri /
tanggung jawab peran membaik, misalnya :
penampilan dalam aktifitas keterlibatan sosial.
A:Masalah gangguan citra tubuh berangsur
angsur teratasi.
P:Lanjutkan intervensi hingga keadaan
membaik.

2. DX .Koping Individu Tak Efektif berhubungan


dengan Kronisitas Kondisi Penyakit.
Tujuan :
Setelah dilakuan tindakan keperawatan tingkat
koping individu meningkat.
Kriteria Hasil :
1.Mengungkapkan perasaan yang berhubungan
dengan keadaan emosional.
2.Mengidentifikasi pola koping personal
dan konsekuensi perilaku yang diakibatkan.
3.Mengidentifikasi kekuatan personal dan
menerima dukungan melalui hubungan
keperawatan.
4.Membuat keputusan dan dilanjutkan dengan
tindakan yang sesuai / mengubah situasi
provokatif dalam lingkungan personal.

Intervensi :
1.Kaji status koping individu yang ada.
R/Meningkatkan proses interaksi sosial karena
klien mengalami peningkatan komunikatif.
2.Berikan dukungan jika individu berbicara.
R/Klien meningkatkan rasa percaya diri
kepada orang lain.
3.Bantu individu untuk memcahkan masalah
(problem solving).
R/Dengan berkurangnya ketegangan,
ketakutan klien akan menurun dan tidak
mengucil /
mengisolasikan diri dari lingkungan.

4.Instruksikan individu untuk melakukan


teknis relasi, dalam proses teknik
pembelajaran penatalaksanaan stress.
R/Ketepatan penanganan dan proses
penyembuhan.
5.Kolaborasi dengan tenaga ahli psikologi
untuk proses penyuluhan.
R/Klien mengerti tentang penyakitnya.

IMPLEMENTASI
Mengkaji status koping individu yang ada.
Memberikan dukungan jika individu
berbicara.
Melakukan tindakan komunikasi
terapeutik dengan membina hubungan
saling percaya kepada klien.
Membantu individu dalam memecahkan
masalah (problem solving).
Mengajarkan teknik relaksasi.

EVALUASI
S:Klien mengungkapkan keinginan untuk
berpartisipasi dalam proses sosialisasi,
interaksi sosial.
O:Kondisi emosional terkontrol, pasien tidak
mudah marah, tingkat stress menurun,
klien mulai ikut serta dalam tindakan
pengobatan, klien mulai berkomunikasi
kepada perawat serta tenaga kesehatan
lain.
A:Masalah teratasi.
P:Hentikan intervensi.

3. DX . Harga diri Rendah berhubungan


dengan Perubahan Penampilan
Tubuh.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan
Keperawatan harga diri meningkat.
Kriteria hasil :
1.Mengungkapkan hasil perasaan dan
pikiran
mengenai diri.
2.Mengidentifikasikan dua atributif positif
mengenai diri.

Intervensi :
1.Bina hubungan saling percaya perawat dan klien.
R/Rasa percaya diri meningkat, pasien menerima
kenyataan akan penampilan tubuh.
2.Tingkatkan interaksi sosial.
R/Pasien akan merasa berarti, dihargai, dihormati,
serta diterima oleh lingkungan.
3.Diskusikan harapan / keinginan / perasaan.
R/Dengan cara pertukaran pengalaman perasaan
akan lebih mampu dalam mencegah faktor
penyebab terjadinya
harga diri rendah.
4.Rujuk kepelayanan pendukung.
R/Memberikan tempat untuk pertukaran masalah dan
pengalaman yang sama.

IMPLEMENTASI :
Membina hubungan saling percaya antar
perawat dengan klien.
Meningkatkan interaksi sosial.
Meningkatkan harga diri dengan cara
mendukung segala tindakan, harapan
atau keinginan pasien.

S:Klien mengatakan mulai menerima kenyataan


dan tidak mengatakan hal yang muluk muluk
atau hal yang negatif tentang
dirinya.
O:Expresi malu rasa bersalah berkurang.
Tanda tanda depresi menurun.
Mulai mencoba untuk mencoba sesuatu /
situasi baru.
Berkurangnya perilaku penyalahgunaan diri
(misalnya : pengrusakan, usaha bunuh diri dan
lain - lain).
A:Masalah teratasi.
P:Hentikan intervensi

4. DX. Gangguan Persepsi Sensori


(Penglihatan) berhubungan dengan
Kesalahan Interpertasi Sekunder, Gangguan
Transmisi, Impuls.
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan
penglihatan berangsur angsur membaik.
Kriteria Hasil :
1.Menunjukkan tanda adanya penurunan
gejala yang menimbulkan gangguan persepsi
sensori
2.Mengidentifikasi dan menghilangkan
faktor resiko jika mungkin.
3.Menggunakan rasionalisasi dalam tindakan
penanganan.

Intervensi :
1.Kurangi penglihatan yang berlebih.
R/Mengurangi tingkat ketegangan otot mata,
meningkatkan relaksasi mata.
2.Orientasikan terhadap keseluruhan 3 bidang (orang,
tempat, waktu).
R/Untuk mengetahui faktor penyebab melalui tes
sensori indera penglihatan.
3.Sediakan waktu untuk istirahat bagi klien tanpa
gangguan.
R/Meningkatkan kepekaan indera penglihatan melalui
stimulus indera khususnya penglihatan.
4.Gunakan berbagai metode untuk menstimulasi
indera.
R/Mempertahankan normalitas melalui waktu lebih
muda bila tidak mampu menggunakan penglihatan.

IMPLEMENTASI
Mengurangi penglihatan yang berlebihan.
Mengorientasikan klien terhadap orang,
tempat dan waktu.
Menyediakan waktu istirahat atau tidur
bagi pasien tanpa gangguan.
Gunakan berbagai metode untuk
menstimulasi indera.

S:Klien mengatakan adanya halusinasi


penglihatan.
O:Orientasi terhadap orang, tempat dan
waktu
membaik. Stimulas terhadap lingkungan
membaik.
Resiko cidera mata yang mengganggu
penglihatan, misalnya : ikterus, konjungtes
stimulasi indera penglihatan membaik /
mengalami peningkatan.
A:Masalah teratasi sebagian.
P:Intervensi dilanjutkan.

5. DX.Ansietas berhubungan dengan


Perubahan Status Kesehatan.
Tujuan :
Ansietas berhubungan dengan perubahan
status
kesehatan berkurang.
Kriteria hasil :
1.Peningkatan kenyaman psikologis dan
fsikologis.
2.Menggambarkan ansietas dan pola
kopingnya.

Intervensi :
1.Bina hubungan saling percaya.
R/Komunikasi terapeutik dapat memudahkan
tindakan.
2.Catat respon verbal non verbal pasien.
R/Mengetahui perasaan yang sedang dialami klien.
3.Berikan aktivitas yang dapat menurunkan
ketegangan.
R/Kondisi rileks dapat menurunkan tingkat ancietas.
4.Jadwalkan istirahat adekuat dan periode
menghentikan tidur.
R/Mengatasi kelemahan, menghemat energi dan
dapat meningkatkan kemampuan koping.

IMPLEMENTASI
Mengkaji tingkat ansietas.
Memberikan kenyamanan dan
ketentraman hati.
Memberikan aktivitas yang dapat
menurunkan ketegangan.
Mencegah adanya faktor penyebab
ansietas.
Mengajarkan teknik penghentian ansietas
untuk mengatasi stres teknik relaksasi.

EVALUASI
S:Klien merasa cemas, gelisah dan
ketakutan.
O:Wajah tegang, tampak pucat.
Peningkatan frekuensi pernafasan,
frekuensi jantung dan tekanan darah.
A:Masalah belum teratasi
P:Lanjutkan intervensi.

6. DX.Defisit Perawatan Diri berhubungan


dengan
Menurunnya Kekuatan Otot.
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan klien
dapat aktif dalam aktifitas perawatan diri.
Kriteria hasil :
1.Mengidentifikasi kemampuan aktifitas perawatan
diri.
2.Melakukan kebersihan optimal setelah bantuan
dalam perawatan diberikan.
3.Berpartisipasi secara fisik / verbal dalam
aktifitas, perawatan diri / pemenuhan kebutuhan
dasar.

Intervensi :
1.Kaji faktor penyebab menurunnya defisit
perawatan diri.
R/Menghambat faktor penyebab dapat
meningkatkan perawatan diri.
2.Tingkatkan partisipasi optimal.
R/Partisipasi optimal dapat memaksimalkan
perawatan diri.
3.Evaluasi kemampuan untuk berpartisipasi dalam
setiap aktivitas perawatan.
R/Dapat menumbuhkan rasa percaya diri klien.
4.Beri dorongan untuk mengexpresikan perasaan
tentang kurang perawatan diri.
R/Dapat memberikan kesempatan pada klien untuk
melakukan perawatan diri.

IMPLEMENTASI
Mengkaji faktor penyebab menurunnya
defisit perawatan diri.
Meningkatkan keterlibatan klien secara
total dalam kegiatan perawatan diri.
Mengevaluasi kemampuan untuk
berpartisipasi dalam setiap aktifitas
perawatan diri.
Memberi dorongan untuk
mengungkapkan perasaan tentang
kurang perawatan diri.

S:Keluarga klien mengatakan bahwa klien


mulai
melakukan aktifitas perawatan diri atau
personal hygene.
O:Perubahan gaya hidup, misalnya : pola
makan, istirahat teratur.
Perubahan penampilanbepakaian,
kerapian.
Perubahan peningkatan aktivitas personal
hygene, misalnya : menggosok gigi dll
A:Masalah teratasi.
P:Hentikan intervensi

7. DX. Resiko Gangguan Integritas Kulit


(Kekeringan) berhubungan dengan
Menurunnya Kadar Hormonal.
Tujuan :
Setelah dilakukan keperawatan integritas kulit dalam
kondisi normal.
Kriteria hasil :
1.Mengidentifikasi faktor penyebab.
2.Berpartisipasi dalam rencana pengobatan yang
dilanjutkan untuk meningkatkan penyembuhan
luka.
3.Menggambarkan etiologi dan tindakan
pencegahan.
4.Memperlihatkan integritas kulit bebas dari luka
tekan.

Intervensi :
1.Pertahankan kecukupan masukan cairan untuk
hidrasi yang adekuat.
2.Berikan dorongan latihan rentang gerak dan
mobilisasi.
R/Meningkatkan pemeliharaan fungsi otot / sendi.
3.Ubah posisi atau mobilisasi.
R/Meningkatkan posisi fungsional pada ekstrimitas.
4.Tingkatkan masukan karbohidrat dan protein untuk
mempertahankan keseimbangan nitrogen positif.
R/Kelemahan dan kehilangan pengaturan
metabolisme terhadap makanan dapat
mengakibatkan malnutrisi.

5.Pertahankan tempat tidur sedatar


mungkin.
R/Posisi datar menjaga keseimbangan
tubuh dan mencegah retensi cairan pada
daerah
tertentu sehingga tidak terjadi edema
lokal.

O:Mukosa kulit lembab.


Tonus otot meningkat.
Luka tekan atau ulkus berkurang,
berangsur mengalami penyembuhan.
A:Masalah teratasi.
P:Hentikan intervensi.