Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PENDAHULUAN

PADA PASIEN HIV/AIDS


A. PENGERTIAN
AIDS atau Acquired Immune Deficiency Sindrome merupakan kumpulan gejala penyakit
akibat menurunnya system kekebalan tubuh oleh virus yang disebut HIV, dalam bahasa
Indonesia dapat dialih katakana sebagai Sindrome Cacat Kekebalan Tubuh Dapatan (Zuya
Urahman, 2009).
AIDS diartikan sebagai bentuk paling erat dari keadaan sakit terus menerus yang
berkaitan dengan infeksi Human Immunodefciency Virus (HIV). (Suzane C. Smetzler dan
Brenda G.Bare, 200)
AIDS diartikan sebagai bentuk paling hebat dari infeksi HIV, mulai dari kelainan ringan
dalam respon imun tanpa tanda dan gejala yang nyata hingga keadaan imunosupresi dan
berkaitan dengan pelbagi infeksi yang dapat membawa kematian dan dengan kelainan
malignitas yang jarang terjadi (Center for Disease Control and Prevention, 2005).
B.

ETIOLOGI
AIDS disebabkan oleh virus yang mempunyai beberapa nama yaitu HTL II, LAV, RAV.

Yang nama ilmiahnya disebut Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang berupa agen viral
yang dikenal dengan retrovirus yang ditularkan oleh darah dan punya afinitas yang kuat
terhadap limfosit T.
C. KLASIFIKASI
Sejak 1 januari 1993, orang-orang dengan keadaan yang merupakan indicator AIDS
(kategori C) dan orang yang termasuk didalam kategori A3 atau B3 dianggap menderita
AIDS (Zuya Urahman, 2009).
1.

Kategori Klinis A

Mencakup satu atau lebih keadaan ini pada dewasa/remaja dengan infeksi Human
Immunodeficiency Virus (HIV) yang sudah dapat dipastikan tanpa keadaan dalam kategori
klinis B dan C.
a.

Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang simptomatik.

b.

Limpanodenopati

generalisata

yang

persisten

(PGI:

Persistent

Generalized

Limpanodenophaty)
c.

Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) primer akut dengan sakit yang
menyertai atau riwayat infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang akut.
2.

Kategori Klinis B

Contoh-contoh keadaan dalam kategori klinis B mencakup:


a.

Angiomatosis Baksilaris

b.

Kandidiasis Orofaring/ Vulvavaginal (peristen,frekuen/ responnya jelek terhadap


terapi

c.

Displasia Serviks (sedang/ berat karsinoma serviks in situ)

d.

Gejala konstitusional seperti panas (38,5 C) atau diare lebih dari 1 bulan.

e.

Leukoplakial yang berambut

f.

Herpes Zoster yang meliputi 2 kejadian yang bebeda/ terjadi pada lebih dari satu
dermaton saraf.

g.

Idiopatik Trombositopenik Purpura

h.

Penyakit inflamasi pelvis, khusus dengan abses Tubo Varii


3. Kategori Klinis C
Contoh keadaan dalam kategori pada dewasa dan remaja mencakup:

a. Kandidiasis bronkus,trakea/ paru-paru, esophagus


b. Kanker serviks inpasif
c. Koksidiomikosis ekstrapulmoner/ diseminata
d. Kriptokokosis ekstrapulmoner
e. Kriptosporidosis internal kronis
f. Cytomegalovirus (bukan hati,lien, atau kelenjar limfe)
g. Refinitis Cytomegalovirus (gangguan penglihatan)
h. Enselopathy berhubungan dengan Human Immunodeficiency Virus (HIV)
i. Herpes simpleks (ulkus kronis,bronchitis,pneumonitis/ esofagitis)
j. Histoplamosis diseminata/ ekstrapulmoner)
k. Isoproasis intestinal yang kronis
l. Sarkoma Kaposi
m. Limpoma Burkit , Imunoblastik, dan limfoma primer otak
n. Kompleks mycobacterium avium (M.kansasi yang diseminata/ ekstrapulmoner
o. M.Tubercolusis pada tiap lokasi (pulmoner/ ekstrapulmoner)
p. Mycobacterium, spesies lain,diseminata/ ekstrapulmoner
q. Pneumonia Pneumocystic Cranii
r. Pneumonia Rekuren
s. Leukoenselophaty multifokal progresiva
t. Septikemia salmonella yang rekuren

u. Toksoplamosis otak
v. Sindrom pelisutan akibat Human Immunodeficiency Virus (HIV)
D. PATOFISIOLOGI
Sel T dan makrofag serta sel dendritik/ langerhans (sel imun) adalah sel-sel yang
terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan terkonsentrasi dikelenjar limfe, limpa
dan sumsum tulang. Human Immunodeficiency Virus (HIV) menginfeksi sel lewat
pengikatan dengan protein perifer CD 4, dengan bagian virus yang bersesuaian yaitu antigen
grup 120. Pada saat sel T4 terinfeksi dan ikut dalam respon imun, maka Human
Immunodeficiency Virus (HIV) menginfeksi sel lain dengan meningkatkan reproduksi dan
banyaknya kematian sel T4 yang juga dipengaruhi respon imun sel killer penjamu, dalam
usaha mengeliminasi virus dan sel yang terinfeksi.
Virus HIV dengan suatu enzim, reverse transkriptase, yang akan melakukan pemograman
ulang materi genetik dari sel T4 yang terinfeksi untuk membuat double-stranded DNA. DNA
ini akan disatukan kedalam nukleus sel T4 sebagai sebuah provirus dan kemudian terjadi
infeksi yang permanen. Enzim inilah yang membuat sel T4 helper tidak dapat mengenali
virus HIV sebagai antigen. Sehingga keberadaan virus HIV didalam tubuh tidak dihancurkan
oleh sel T4 helper. Kebalikannya, virus HIV yang menghancurkan sel T4 helper. Fungsi dari
sel T4 helper adalah mengenali antigen yang asing, mengaktifkan limfosit B yang
memproduksi antibodi, menstimulasi limfosit T sitotoksit, memproduksi limfokin, dan
mempertahankan tubuh terhadap infeksi parasit. Kalau fungsi sel T4 helper terganggu,
mikroorganisme yang biasanya tidak menimbulkan penyakit akan memiliki kesempatan
untuk menginvasi dan menyebabkan penyakit yang serius.
Menurunya jumlah sel T4, maka system imun seluler makin lemah secara progresif.
Diikuti berkurangnya fungsi sel B dan makrofag dan menurunnya fungsi sel T penolong.
Seseorang yang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) dapat tetap tidak
memperlihatkan gejala (asimptomatik) selama bertahun-tahun. Selama waktu ini, jumlah sel
T4 dapat berkurang dari sekitar 1000 sel perml darah sebelum infeksi mencapai sekitar 200300 per ml darah, 2-3 tahun setelah infeksi.
Sewaktu sel T4 mencapai kadar ini, gejala-gejala infeksi (herpes zoster dan jamur
oportunistik) muncul, Jumlah T4 kemudian menurun akibat timbulnya penyakit baru akan
menyebabkan virus berproliferasi. Akhirnya terjadi infeksi yang parah. Seorang didiagnosis
mengidap AIDS apabila jumlah sel T4 jatuh dibawah 200 sel per ml darah, atau apabila
terjadi infeksi opurtunistik, kanker atau dimensia AIDS.

E. PATHWAY

F. MANIFESTASI KLINIS
Pasien AIDS secara khas punya riwayat gejala dan tanda penyakit. Pada infeksi Human
Immunodeficiency Virus (HIV) primer akut yang lamanya 1-2 minggu pasien akan
merasakan sakit seperti flu. Dan disaat fase supresi imun simptomatik (3 tahun) pasien akan
mengalami demam, keringat dimalam hari, penurunan berat badan, diare, neuropati, keletihan
ruam kulit, limpanodenopathy, pertambahan kognitif, dan lesi oral.
Dan disaat fase infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) menjadi AIDS (bevariasi
1-5 tahun dari pertama penentuan kondisi AIDS) akan terdapat gejala infeksi opurtunistik,
yang paling umum adalah Pneumocystic Carinii (PCC), Pneumonia interstisial yang
disebabkan suatu protozoa, infeksi lain termasuk menibgitis, kandidiasis, cytomegalovirus,
mikrobakterial, atipikal:

1. Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV)


Acut gejala tidak khas dan mirip tanda dan gejala penyakit biasa seperti demam
berkeringat, lesu mengantuk, nyeri sendi, sakit kepala, diare, sakit leher, radang
kelenjar getah bening, dan bercak merah ditubuh.
2. Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) tanpa gejala
Diketahui oleh pemeriksa kadar Human Immunodeficiency Virus (HIV) dalam darah
akan diperoleh hasil positif.
3. Radang kelenjar getah bening menyeluruh dan menetap, dengan gejala pembengkakan
kelenjar getah bening diseluruh tubuh selama lebih dari 3 bulan.
G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Tes Laboratorium
Telah dikembangkan sejumlah tes diagnostic yang sebagian masih bersifat penelitian.
Tes dan pemeriksaan laboratorium digunakan untuk mendiagnosis Human
Immunodeficiency Virus (HIV) dan memantau perkembangan penyakit serta
responnya terhadap terapi Human Immunodeficiency Virus (HIV).
2. Serologis
a. Tes antibody serum
Skrining Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan ELISA. Hasil tes positif, tapi
bukan merupakan diagnosa
b. Tes blot western
Mengkonfirmasi diagnosa Human Immunodeficiency Virus (HIV)
c. Sel T limfosit
Penurunan jumlah total
d. Sel T4 helper
Indikator system imun (jumlah <200>
e. T8 (sel supresor sitopatik)
Rasio terbalik (2: 1) atau lebih besar dari sel suppressor pada sel helper (T8 ke T4)
mengindikasikan supresi imun.
f.

P24 (Protein pembungkus Human ImmunodeficiencyVirus (HIV)


Peningkatan nilai kuantitatif protein mengidentifikasi progresi infeksi

g. Kadar Ig
Meningkat, terutama Ig A, Ig G, Ig M yang normal atau mendekati normal

h. Reaksi rantai polymerase


Mendeteksi DNA virus dalam jumlah sedikit pada infeksi sel perifer monoseluler.
i.

Tes PHS
Pembungkus hepatitis B dan antibody, sifilis, CMV mungkin positif.

3. Neurologis
EEG, MRI, CT Scan otak, EMG (pemeriksaan saraf), dilakukan dengan biopsy pada
waktu PCP ataupun dugaan kerusakan paru-paru
4. Tes Antibodi
Jika seseorang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV), maka system imun
akan bereaksi dengan memproduksi antibody terhadap virus tersebut. Antibody
terbentuk dalam 3-12 minggu setelah infeksi, atau bisa sampai 6-12 bulan. Hal ini
menjelaskan mengapa orang yang terinfeksi awalnya tidak memperlihatkan hasil tes
positif. Tapi antibody ternyata tidak efektif, kemampuan mendeteksi antibody Human
Immunodeficiency Virus (HIV) dalam darah memungkinkan skrining produk darah
dan memudahkan evaluasi diagnostic.
Pada tahun 1985 Food and Drug Administration (FDA) memberi lisensi tentang ujikadar Human Immunodeficiency Virus (HIV) bagi semua pendonor darah atau
plasma. Tes tersebut, yaitu:
a. Tes Enzym-Linked Immunosorbent Assay (ELISA)
Mengidentifikasi antibody yang secara spesifik ditujukan kepada virus Human
Immunodeficiency Virus (HIV). ELISA tidak menegakan diagnosa AIDS tapi
hanya menunjukkan bahwa seseorang terinfeksi atau pernah terinfeksi Human
Immunodeficiency Virus (HIV). Orang yang dalam darahnya terdapat antibody
Human Immunodeficiency Virus (HIV) disebut seropositif.
b. Western Blot Assay
Mengenali antibody Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan memastikan
seropositifitas Human Immunodeficiency Virus (HIV)
c. Indirect Immunoflouresence
Pengganti pemeriksaan western blot untuk memastikan seropositifitas.
d. Radio Immuno Precipitation Assay (RIPA)
Mendeteksi protein dari pada antibody.
e. Pelacakan Human Immunodeficiency Virus (HIV)
Penentuan langsung ada dan aktivitasnya Human Immunodeficiency Virus (HIV)
untuk melacak perjalanan penyakit dan responnya. Protein tersebut disebut

protein virus p24, pemerikasaan p24 antigen capture assay sangat spesifik untuk
HIV-1. tapi kadar p24 pada penderita infeksi Human Immunodeficiency Virus
(HIV) sangat rendah, pasien dengantiter p24 punya kemungkinan lebih lanjut
lebih besar dari menjadi AIDS.
H. KOMPLIKASI
1. Oral Lesi
Karena kandidia, herpes simplek, sarcoma Kaposi, HPV oral, gingivitis, peridonitis
Human Immunodeficiency Virus (HIV), leukoplakia oral, nutrisi, dehidrasi, penurunan
berat badan, keletihan dan cacat.
2. Neurologik
a. kompleks dimensia AIDS karena serangan langsung Human Immunodeficiency
Virus (HIV) pada sel saraf, berefek perubahan kepribadian, kerusakan kemampuan
motorik, kelemahan, disfasia, dan isolasi social.
b. Enselophaty

akut,

karena

reaksi

terapeutik,

hipoksia,

hipoglikemia,

ketidakseimbangan elektrolit, meningitis/ ensefalitis. Dengan efek: sakit kepala,


malaise, demam, paralise, total/ parsial.
c. Infark serebral kornea sifilis meningovaskuler, hipotensi sistemik, dan maranik
endokarditis.
d. Neuropati karena imflamasi demielinasi oleh serangan Human Immunodeficienci
Virus (HIV)
3.

Gastrointestinal
a. Diare karena bakteri dan virus, pertumbuhan cepat flora normal, limpoma, dan
sarcoma kaposi. Dengan efek, penurunan berat badan, anoreksia, demam,
malabsorbsi, dan dehidrasi.
b. Hepatitis karena bakteri dan virus, limpoma, sarcoma Kaposi, obat illegal, alkoholik.
Dengan anoreksia, mual muntah, nyeri abdomen, ikterik, demam atritis.
c. Penyakit Anorektal karena abses dan fistula, ulkus dan inflamasi perianal yang
sebagai akibat infeksi, dengan efek inflamasi sulit dan sakit, nyeri rectal, gatal-gatal
dan siare.

4. Respirasi
Infeksi karena Pneumocystic Carinii, cytomegalovirus, virus influenza, pneumococcus,
dan strongyloides dengan efek nafas pendek, batuk, nyeri, hipoksia, keletihan, gagal
nafas.

5. Dermatologik
Lesi kulit stafilokokus: virus herpes simpleks dan zoster, dermatitis karena xerosis,
reaksi otot, lesi scabies/tuma, dan dekobitus dengan efek nyeri, gatal, rasa terbakar,
infeksi skunder dan sepsis.
6. Sensorik
a. Pandangan: Sarkoma Kaposi pada konjungtiva berefek kebutaan
b. Pendengaran: otitis eksternal akut dan otitis media, kehilangan pendengaran dengan
efek nyeri
I.

PENATALAKSANAAN
Belum ada penyembuhan untuk AIDS, jadi perlu dilakukan pencegahan Human
Immunodeficiency Virus (HIV) untuk mencegah terpajannya Human Immunodeficiency
Virus (HIV), bisa dilakukan dengan:
1. Melakukan abstinensi seks/ melakukan hubungan kelamin dengan pasangan yang tidak
terinfeksi.
2. Memeriksa adanya virus paling lambat 6 bulan setelah hubungan seks terakhir yang
tidak terlindungi.
3. Menggunakan pelindung jika berhubungan dengan orang yang tidak jelas status Human
Immunodeficiency Virus (HIV) nya.
4. Tidak bertukar jarum suntik,jarum tato, dan sebagainya.
5. Mencegah infeksi kejanin/ bayi baru lahir.

Apabila terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV), maka pengendaliannya yaitu:


1. Pengendalian Infeksi Opurtunistik
Bertujuan menghilangkan, mengendalikan, dan pemulihan infeksi opurtunistik,
nasokomial, atau sepsis. Tidakan pengendalian infeksi yang aman untuk mencegah
kontaminasi bakteri dan komplikasi penyebab sepsis harus dipertahankan bagi pasien
dilingkungan perawatan kritis.
2. Terapi AZT (Azidotimidin)
Disetujui FDA (1987) untuk penggunaan obat antiviral AZT yang efektif terhadap
AIDS, obat ini menghambat replikasi antiviral Human Immunodeficiency Virus (HIV)
dengan menghambat enzim pembalik traskriptase. AZT tersedia untuk pasien AIDS
yang jumlah sel T4 nya <>3 . Sekarang, AZT tersedia untuk pasien dengan Human
Immunodeficiency Virus (HIV) positif asimptomatik dan sel T4 > 500 mm3

3. Terapi Antiviral Baru


Beberapa antiviral baru yang meningkatkan aktivitas system imun dengan menghambat
replikasi virus / memutuskan rantai reproduksi virus pada prosesnya. Obat-obat ini
adalah :
a. Didanosine
b. Ribavirin
c. Diedoxycytidine
d. Recombinant CD 4 dapat larut
4. Vaksin dan Rekonstruksi Virus
Upaya rekonstruksi imun dan vaksin dengan agen tersebut seperti interferon, maka
perawat unit khusus perawatan kritis dapat menggunakan keahlian dibidang proses
keperawatan dan penelitian untuk menunjang pemahaman dan keberhasilan terapi
AIDS.
a. Pendidikan untuk menghindari alcohol dan obat terlarang, makan-makanan sehat,
hindari stress, gizi yang kurang, alcohol dan obat-obatan yang mengganggu
fungsi imun.
b. Menghindari infeksi lain, karena infeksi itu dapat mengaktifkan sel T dan
mempercepat reflikasi Human Immunodeficiency Virus (HIV).

ASKEP KASUS HIV-AIDS I


Ny.J 34 th dirawat di ruang IRNA karena diare sudah 1 bulan tdk sembuh, nyeri panggul
dan rasa terbakar saat miksi. Terdapat kandidiasis pada lidah, herperszooster dan
neuropati perifer. Pekerjaan Ny.J adalah WTS, Ny. J mudah lelah, BB menurun. Oleh
perawat didapatkan hasil laborat Limfosit < 500, Hb 11 gr/dl, Leukosit 20.000 unit,
Trombosit 160.000/uL, konjungtiva anemis.
1.

Pengkajian
a. Identitas
Nama

: Ny.J

Jenis kelamin

: Perempuan

Umur

: 34 tahun

Status perkawinan

: Belum menikah

Pendidikan

: SD

Suku/Bangsa

: Indonesia

Alamat

: Ds pakis tuban

Pekerjaan

: WTS

Sumber informasi

: Pasien

b.

Keluhan Utama: Diare

c.

Riwayat Keperawatan
Riwayat Penyakit Sekarang:
P: Ny.J diare sudah 1 bulan yg lalu, sebelumnya sudah dibawa ke puskesmas
terdekat dan sudah diberikan oralit serta obat diare tp smpai saat ini tdk
sembuh, sehingga dibawa ke RS
Q: diare sering muncul dg feses yg encer disertai mukus. Timbulnya tiba2.
Sehari hampir 6-7 kali keluar masuk WC
R: diare pada sistem pencernaannya
S: diare sangat mengganggu pekerjaan dan segala aktivitasnya selama 1bulan
terakhir ini
T: diare muncul hampir setiap hari. Mulai pagi hingga pagi lagi.
Riwayat Penyakit Dahulu: Ny.J sering mengalami mual nyeri lambung
Riwayat Penyakit Keluarga: ibunya telah meninggal karena AIDS

d. Observasi dan Pemeriksaan Fisik


Keadaan Umum:
Tampak lelah
Konjungtiva anemis
BB menurun
Kulit kering
Mukosa mulut pucat
TTV:
S : 38 celcius (normal 36,5 37,5 celcius)
N : 110 x/menit ( 60 100 x/menit)
TD : 90/60 mmHg (100 -140, 60 90 mmHg)
RR : 16 x/menit (16 20 x/menit)
e.

Body System
B1 (Breathing)
Ny.J tampak mudah lelah
Napasnya terkadang memendek
Terkadang batuk
B2 (Blood)
Konjungtiva Ny.J tampak anemis
Tekanan darah hipotensi (90/60 mmHg)
Nadi takikardi (110 x/menit
B3 (Brain)
Terdapat herpeszooster
Dan neuropati perifer
Biasanya pada klien HIV tingkat kesadarannya apatis
B4 (Bladder)
Ny.J merasakan rasa terbakar saat miksi
B5 (Bowel)
Ny.J diare sudah 1bulan tdk sembuh

BB menurun
Turgor kulit buruk
B6 (Bone)
Ny.J merasakan nyeri panggul
Terlihat lelah.
f.

Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan Laboratorium
a. Tes Enzim-Linked Immunosorbent Assay (ELISA)

Tujuan: mengidentifikasi spesifik untuk HIV, dimana tes ini tidak menegakkan diagnosa
AIDS tapi hanya menunjukan seseorang terinfeksi atau pernah terinfeks, orang
yang didalam darahnya mengandung antibody HIV disebut seropositif
b. Westeren Blot Assay
Tujuan: mengenali antibody HIV dan memastikan seropositif HIV
2.

ANALISA DATA
Data
DS:

Etiologi
Invasi mikroorganisme ke

Masalah
Gangguan

Ny.J mengeluh diare sudah 1 saluran pencernaan

Keseimbangan Cairan

bulan tdk sembuh

dan Elektrolit

Do:

Infeksi saluran pencernaan


TTV :
S : 380C

Peningkatan flora normal

N : 110x/menit

dalam kolon

TD : 90/60 mmHg
RR : 16 x/menit

Peningkatan peristaltic kolon

konjungtiva anemis

Tampak lelah

BB menurun

Turgor buruk

Mukosa mulut pucat

Kulit kering

Gangguan Keseimbangan

Pemeriksaan lab:

Cairan dan Elektrolit

Na 98 mmol/L
K 2,8 mmol/L

Mal absorbsi
Diare

Cl 110 mmol/L

3.

Diagnose keperawatan

Gangguan Keseimbangan Cairan dan Elektrolit b.d diare berat


4.

Rencana Intervensi dan Implementasi keperawatan


Tgl/Jam

DIAGNOSA

TUJUAN

KRITERIA HASIL

13-03-2015

KEPERAWATAN
Gangguan

Diare berkurang

Dalam waktu 1x24 jam:

08-00

Keseimbangan Cairan

atau hilang dan

- Membran mukosa lembab,

dan Elektrolit b.d

dapat

- turgor kulit membaik,

diare berat

mempertahankan

- tanda-tanda vital stabil

hidrasi

- klien terlihat segar


- BB perlahan naik

Tgl/Jam INTERVENSI
RASIONAL
IMPLEMENTASI
13-03-15 Pantau tanda-tanda vital Indikator dari volumememantau tanda-tanda vital.
08.00

cairan sirkulasi.
Catat peningkatan suhu Meningkatkan
dan durasi demam.

Mencatat peningkatan suhu

kebutuhan metabolisme dan durasi demam.


dan diaforesis yang

Kaji tugor kulit,

berlebihan.
Indikator tidak langsung mengkaji tugor kulit,

membran mukosa, dan

dari status cairan.

membran mukosa, dan rasa

rasa haus
Timbang berat badan Meskipun kehilangan

haus.
menimbang berat badan sesuai

sesuai indikasi.

indikasi.

berat badan dapat


menunjukan
penggunaan otot,
fluktuasi tiba-tiba
menunjukan status
hidrasi

Pantau pemasukan oral Mempertahankan

memantau pemasukan oral dan

dan memasukan cairan

memasukan cairan sedikitnya

keseimbangan cairan,

sedikitnya 2500 ml/

mengurangi rasa haus,

2500 ml/ hari.

hari.

dan melembabkan

Hilangkan makanan

membran mukosa.
Mungkin dapat

menghilangkan makanan yang

yang potensial

mengurangi diare

potensial menyebabkan diare,

menyebabkan diare,

yakni yang pedas/ makanan

yakni yang pedas/

berkadar lemak tinggi, kacang,

makanan berkadar

kubis, susu.

lemak tinggi, kacang,


kubis, susu.
Kolaborasi

Berikan cairan/

Mungkin diperlukan

memberikan cairan/ elektrolit

untuk mendukung/

melalui selang pemberi

elektrolit melalui selang memperbesar volume


pemberi makanan/ IV.

makanan/ IV.

sirkulasi, terutama jika


pemasukan oral tak
adekuat, mual/ muntah

Pantau hasil

terus menerus.
Bermanfaat dalam

Memantau hasil pemeriksaan

pemeriksaan

memperkirakan

laboratorium sesuai indikasi

laboratorium sesuai

kebutuhan cairan.

mis: Hb/ Ht, Elektolit

indikasi mis: Hb/ Ht,

serum/urine, BUN/ Kreatinin.

Elektolit serum/urine,
BUN/ Kreatinin.
Berikan obat-obatan

Mengurangi insiden

Memberikan obat-obatan

sesuai indikasi:

muntah, menurunkan

sesuai indikasi: Antiemetik,

Antiemetik, Antidiare,

jumlah dan keenceran

Antidiare, Antiseptik

Antiseptik

fases, membantu
mengurangi demam dan
respons
hipermetabolisme,
menurunkan kehilangan
cairan tak kasatmata.

4.

Evaluasi

Evaluasi adalah suatu penilaian terhadap keberhasilan rencana keperawatan untuk


memenuhi kebutuhan-kebutuhan klien
S: Ny.J mengatakan masih diare, tetapi sehari 3 x keluar masuk WC
O:
TTV sebagian dalam normal
TD: 90/60 mmHg
N: 105 x/mnt
RR: 16 x/mnt
S: 37 celcius
Konjungtiva anemis
Ny.J masih terlihat lelah
Membran mukosa lembab
turgor kulit masih buruk
kulit klien masih terlihat kering
BB naik 1kg
A: masalah teratasi sebagian
P: lanjutkan intervensi

ASKEP KASUS HIV-AIDS II


Tn W dirawat diruang medikal bedah karena diare sudah sebulan tak sembuh-sembuh
meskipun sudah berobat ke dokter. Pekerjaan Tn W adalah supir truk dan dia baru saja
menikah dua tahun yang lalu. Tn W mengatakan bahwa dia diare cair 15 x hari dan BB
menurun 7 kg dalam satu bulan serta sariawan mulut tak kunjung sembuh meskipun telah
berobat dan tidak nafsu makan. Hasil foto thorax ditemukan pleural effusi kanan,hasil
laboratorium sebagai berikut : Hb 11 gr/dL, leukosit 20.000/Ul, trombosit 160.000/UL, LED
30 mm, Na 8 mmol/L, K 2,8 mmol/L, Cl 11o mmol/L, protein 3,5. Hasil pemeriksaan
ditemukan TD 120/80 mmHg, N 120x/mnt, P 28x/menit, S 390C, konjungtiva anemis, sklera
tak ikterik, paru-paru: ronchi +/+ dan wheezing +/-.
Diagnosa Medis pada kasus diatas adalah AIDS
A. Pengkajian
1. Data dasar :
2. Nama

: Tn. W

3. Umur

: 40 tahun

4. Jenis kelamin

: Laki-laki

5. Alamat

: Jakarta

B. Analisa Data
DS:
Diare sudah 1 bulan tak sembuh-sembuh meskipun sudah berobat kedokter.
Tn. W mengatakan bahwa dia diare cair kurang lebih 15x/hari
DO:
Hasil foto thorax, pleural effusion kanan
Hasil LAB :
1. Hb 11 gr/dl
2. Leukosit 20.000/uL
3. Trombosit 160.000/uL
4. LED 30 mm
5. Na 98 mmoL/L
6. K 2,8 mmol/L
7. Cl 110 mmol/L

1.

Keluhan Utama: Diare Cair 15x/Hari

2.

Riwayat Penyakit:
Sekarang:
Tn. K datang ke RSA dengan keluhan diare sudah sebulan tak kunjung sembuh
meskipun sudah berobat ke dokter. Pekerjaan Tn. K adalah supir truk dan dia baru
saja menikah dua tahun yang lalu. Tn. K mengatakan bahwa dia diare cair 15 x
hari dan BB menurun 7 kg dalam satu bulan serta sariawan mulut tak kunjung
sembuh meskipun telah berobat dan tidak nafsu makan
Terdahulu: .

3.

Pemeriksaan Fisik (Objektif) dan Keluhan (Sujektif)


1. Aktifitas / Istirahat

Gejala: Mudah lelah,intoleran activity,progresi malaise,perubahan pola tidur.


Tanda: Kelemahan otot, menurunnya massa otot, respon fisiologi aktifitas ( Perubahan TD,
frekuensi Jantun dan pernafasan ).
2. Sirkulasi
Gejala: Penyembuhan yang lambat (anemia), perdarahan lama pada cedera.
Tanda: Perubahan TD postural,menurunnya volume nadi perifer, pucat / sianosis,
perpanjangan pengisian kapiler.
3. Integritas dan Ego
Gejala: Stress berhubungan dengan kehilangan,mengkuatirkan penampilan, mengingkari
doagnosa, putus asa,dan sebagainya.
Tanda: Mengingkari,cemas,depresi,takut,menarik diri, marah.
4. Eliminasi
Gejala: Diare intermitten, terus-menerus, sering dengan atau tanpa kram abdominal, nyeri
panggul, rasa terbakar saat miksi
Tanda: Feces encer dengan atau tanpa mucus atau darah, diare pekat dan sering, nyeri tekan
abdominal, lesi atau abses rectal,perianal,perubahan jumlah,warna,dan karakteristik
urine.
5. Makanan / Cairan
Gejala: Anoreksia, mual muntah, disfagia
Tanda: Turgor kulit buruk, lesi rongga mulut, kesehatan gigi dan gusi yang buruk, edema
6. Hygiene
Gejala: Tidak dapat menyelesaikan AKS

Tanda: Penampilan tidak rapi, kurang perawatan diri.


7. Neurosensori
Gejala: Pusing, sakit kepala, perubahan status mental,kerusakan status indera,kelemahan otot,
tremor, perubahan penglihatan.
Tanda: Perubahan status mental, ide paranoid, ansietas, refleks tidak normal, tremor, kejang,
hemiparesis, kejang.
8. Nyeri / Kenyamanan
Gejala: Nyeri umum / local, rasa terbakar, sakit kepala,nyeri dada pleuritis.
Tanda: Bengkak sendi, nyeri kelenjar, nyeri tekan, penurunan rentan gerak, pincang.
9. Pernafasan
Gejala: ISK sering atau menetap, napas pendek progresif, batuk, sesak pada dada.
Tanda: Takipnea, distress pernapasan, perubahan bunyi napas, adanya sputum.
10. Keamanan
Gejala: Riwayat jatuh, terbakar, pingsan, luka, transfuse darah, penyakit defisiensi imun,
demam berulang, berkeringat malam.
Tanda: Perubahan integritas kulit,luka perianal / abses, timbulnya nodul, pelebaran kelenjar
limfe, menurunya kekuatan umum, tekanan umum.
11. Seksualitas
Gejala: Riwayat berprilaku seks beresiko tinggi,menurunnya libido,penggunaan pil pencegah
kehamilan.
Tanda: Kehamilan,herpes genetalia
12. Interaksi Sosial
Gejala: Masalah yang ditimbulkan oleh diagnosis,isolasi,kesepian,adanya trauma AIDS
Tanda: Perubahan interaksi
13. Penyuluhan / Pembelajaran
Gejala: Kegagalan dalam perawatan,prilaku seks beresiko tinggi,penyalahgunaan obat-obatan
IV, merokok, alkoholik.
4.

Pemeriksaan Diagnostik
a. Tes Laboratorium
Telah dikembangkan sejumlah tes diagnostic yang sebagian masih bersifat penelitian.

Tes dan pemeriksaan laboratorium digunakan untuk mendiagnosis Human Immunodeficiency


Virus (HIV) dan memantau perkembangan penyakit serta responnya terhadap terapi Human
Immunodeficiency Virus (HIV).

Serologis
Tes antibody serum
Skrining Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan ELISA. Hasil tes positif, tapi
bukan merupakan diagnosa
Tes blot western
Mengkonfirmasi diagnosa Human Immunodeficiency Virus (HIV)
Sel T limfosit
Penurunan jumlah total
Sel T4 helper
Indikator system imun (jumlah <200>
T8 (sel supresor sitopatik)
Rasio terbalik (2 : 1) atau lebih besar dari sel suppressor pada sel helper (T8 ke T4)
mengindikasikan supresi imun.
P24 ( Protein pembungkus Human ImmunodeficiencyVirus (HIV)
Peningkatan nilai kuantitatif protein mengidentifikasi progresi infeksi
Kadar Ig
Meningkat, terutama Ig A, Ig G, Ig M yang normal atau mendekati normal
Reaksi rantai polimerase
Mendeteksi DNA virus dalam jumlah sedikit pada infeksi sel perifer monoseluler.
Tes PHS
Pembungkus hepatitis B dan antibody, sifilis, CMV mungkin positif
Budaya
Histologis, pemeriksaan sitologis urine, darah, feces, cairan spina, luka, sputum, dan
sekresi, untuk mengidentifikasi adanya infeksi : parasit, protozoa, jamur, bakteri,
viral.
Neurologis
EEG, MRI, CT Scan otak, EMG (pemeriksaan saraf)
Dilakukan dengan biopsy pada waktu PCP ataupun dugaan kerusakan paru-paru
Tes Antibodi
Jika seseorang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV), maka system imun
akan bereaksi dengan memproduksi antibody terhadap virus tersebut. Antibody
terbentuk dalam 3-12 minggu setelah infeksi, atau bisa sampai 6-12 bulan. Hal ini
menjelaskan mengapa orang yang terinfeksi awalnya tidak memperlihatkan hasil tes

positif. Tapi antibody ternyata tidak efektif, kemampuan mendeteksi antibody Human
Immunodeficiency Virus (HIV) dalam darah memungkinkan skrining produk darah
dan memudahkan evaluasi diagnostic.
Pada tahun 1985 Food and Drug Administration (FDA) memberi lisensi tentang uji
kadar Human Immunodeficiency Virus (HIV) bagi semua pendonor darah atau
plasma. Tes tersebut, yaitu:
Tes Enzym-Linked Immunosorbent Assay ( ELISA)
Mengidentifikasi antibody yang secara spesifik ditujukan kepada virus Human
Immunodeficiency Virus (HIV). ELISA tidak menegakan diagnosa AIDS tapi hanya
menunjukkan

bahwa

seseorang

terinfeksi

atau

pernah

terinfeksi

Human

Immunodeficiency Virus (HIV). Orang yang dalam darahnya terdapat antibody


Human Immunodeficiency Virus (HIV) disebut seropositif.
Western Blot Assay
Mengenali antibody Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan memastikan
seropositifitas Human Immunodeficiency Virus (HIV)
Indirect Immunoflouresence
Pengganti pemeriksaan western blot untuk memastikan seropositifitas.
Radio Immuno Precipitation Assay (RIPA)
Mendeteksi protein dari pada antibody.
Pelacakan Human Immunodeficiency Virus (HIV)
Penentuan langsung ada dan aktivitasnya Human Immunodeficiency Virus (HIV)
untuk melacak perjalanan penyakit dan responnya. Protein tersebut disebut protein
virus p24, pemerikasaan p24 antigen capture assay sangat spesifik untuk HIV-1. tapi
kadar p24 pada penderita infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) sangat
rendah, pasien dengantiter p24 punya kemungkinan lebih lanjut lebih besar dari
menjadi AIDS.

C. Diagnosa keperawatan
1. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan output yang berlebih
2. Resiko terhadap infeksi b.d imunodefisiensi
Analisa data
No Data

Etiologi

Output yang Kekurangan


berlebih
volume cairan

DS :
diare sudah 1 bulan tak sembuh-sembuh meskipun

Masalah

sudah berobat kedokter.


Tn. K mengatakan bahwa dia diare cair kurang lebih
15x/hari
DO :
Na 98 mmoL/L
K 2,8 mmol/L
Cl 110 mmol/L
2

DS :
Tn. K mengatakan BB menurun 7 kg dalam 1 bulan

Imunodefisien Resiko infeksi


si

serta sariawan mulut tak kunjung sembuh.


DO :
Leukosit 20.000/uL
Trombosit 160.000/uL
LED 30 mm

D. Rencana asuhan keperawatan


No

Diagnosa Keperawatan

1.

Kekurangan volume

mempertahankan hidrasi

cairan berhubungan

cairan yang dibuktikan

cairan secara adekuat

dengan output yang

oleh normalnya kadar

Defekasi kembali normal,

berlebih

elektrolit

Resiko infeksi b.d

Mengurangi resiko

2.

imunodefisiensi

Tujuan

terjadinya infeksi
Mempertahankan daya
tahan tubuh

Kriteria Hasil
Terpenuhinya kebutuhan

maksimal 2x sehari
Infeksi berkurang
Daya tahan tubuh
meningkat

Intervensi
Mandiri
Pantau adanya infeksi : demam,
mengigil, diaforesis, batuk, nafas
pendek, nyeri oral atau nyeri
menelan.
Ajarkan pasien atau pemberi
perawatan tentang perlunya
melaporkan kemungkinan infeksi.
Pantau jumlah sel darah putih dan
diferensial
Pantau tanda-tanda vital termasuk
suhu.
Awasi pembuangan jarum suntik dan
mata pisau secara ketat dengan
menggunakan wadah tersendiri.
Kolaborasi
Beriakan antibiotik atau agen
antimikroba, misal : trimetroprim
(bactrim atau septra), nistasin,
pentamidin atau retrovir.

Rasional
Deteksi dini terhadap infeksi penting untuk
melakukan tindakan segera. Infeksi lama dan
berulang memperberat kelemahan pasien.
Berikan deteksi dini terhadap infeksi.
Peningkatan SDP dikaitkan dengan infeksi
Memberikan informasi data dasar, peningkatan
suhu secara berulang-ulang dari demam yang
terjadi untuk menunjukkan bahwa tubuh
bereaksi pada proses infeksi ang baru dimana
obat tidak lagi dapat secara efektif mengontrol
infeksi yang tidak dapat disembuhkan.
Mencegah inokulasi yang tak disengaja dari
pemberi perawatan.
Menghambat proses infeksi. Beberapa obatobatan ditargetkan untuk organisme tertentu,
obat-obatan lainya ditargetkan untuk
meningkatkan fungsi imun