Anda di halaman 1dari 4

TUGAS ANALISIS JURNAL

A. Judul
EKSKURSI SEBAGAI STRATEGI BELAJAR BAHASA INDONESIA
BAGI PENUTUR ASING (BIPA) DALAM MASYARAKAT EKONOMI
ASEAN (MEA)

B. Pustaka
Sari, R. D. P., Suwandi, S., & St Y, S. (2017, June). EKSKURSI
SEBAGAI STRATEGI BELAJAR BAHASA INDONESIA BAGI
PENUTUR ASING (BIPA) DALAM MASYARAKAT EKONOMI
ASEAN (MEA). In Proceedings Education and Language International
Conference (Vol. 1, No. 1).

C. Abstrak
Dampak globalisasi antara lain adalah terbentuknya Masyarakat Ekonomi
Asean (MEA). Arus globalisasi ini senantiasa menuntut kesiapan dan
kedinamisan dalam segala aspek kehidupan. BIPA (Bahasa Indonesia bagi
Penutur Asing) ikut andil dalam pergulatan MEA tersebut. Dibutuhkan
strategi khusus untuk mengajar BIPA agar efektif dan bermakna. Salah
satu strategi yang dapat diterapkan adalah strategi ekskursi, yaitu belajar di
luar kelas dengan mengunjungi beberapa objek. Jenis ekskursi terdiri dari
ekskursi akademika, ekskursi budaya, ekskursi wisata dan ekskursi sosial.
Metode penelitian ini adalah studi pustaka (library research) . Sumber data
berupa buku dan jurnal baik nasional maupun internasional. Teknik
pengumpulan data dengan cara memperdalam pengetahuan peneliti
tentang masalah dan bidang strategi ekskursi. Teknik analisis data
menggunakan komparasi. Teknik keabsahan data menggunakan triangulasi
sumber. Hasil dari kajian pustaka dapat disimpulkan bahwa dengan
diterapkannya ekskursi sebagai strategi belajar BIPA dapat memberikan
tambahan wawasan bagi pemelajar baik secara kebahasaan, budaya, wisata
dan lingkungan sosial, sekaligus melihat langsung bahasa Indonesia di
masyarakat Indonesia. Hal ini mendukung kesiapan bangsa dan bahasa
Indonesia dalam berkiprah di MEA.

D. Komentar
Seiring dengan bergulirnya sistem perdagangan bebas Masyarakat
Ekonomi ASEAN (MEA), maka dalam bidang kebahasaan setidaknya
Indonesia memiliki peluang besar dalam internasionalisasi bahasanya
melalui program Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA). Bahasa
Indonesia adalah salah satu identitas dan tonggak penting eksistensi
bangsa Indonesia.
Dengan adanya peluang tersebut maka tantangan terbesar bagi
bahasa Indonesia sendiri adalah bagaimana melakukan penggembangan,
pembinaan, dan perlindungan terhadap bahasa Indonesia. Salah satu upaya
dalam pembinaan bahasa Indonesia adalah dengan kegiatan pengajaran
bahasa Indonesia sehingga pengajar bahasa Indonesia untuk penutur asing
yang ada di dalam negeri maupun luar negeri memiliki fungsi strategis
dalam mewujudkan bahasa Indonesia sebagai bahasa komunikasi pertama
di ASEAN.
Bahasa Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi bahasa
ASEAN. Terbukti setidaknya secara berkala, Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan terus mengirim pengajar BIPA ke beberapa negara ASEAN,
seperti Thailand, Vietnam, Kamboja, Laos, Malaysia, Brunei, dan Filipina.
Sedangkan di luar Asia Tenggara ada Australia, Amerika Serikat, Jepang,
China, Tunisia, dan Maroko yang juga selalu mengajukan permintaan
pengajar Bahasa Indonesia. Hal ini menandakan bahwa antusiasme
masyarakat internasional untuk mempelajari bahasa dan budaya Indonesia
cukup tinggi.
Namun demikian, di balik peluang itu juga terdapat beberapa
tantangan yang perlu diperhatikan. Pembelajaran bahasa tak bisa
dilepaskan dari budaya di mana bahasa itu berkembang. Hal ini
disebabkan, bahasa adalah produk budaya dan sebaliknya perkembangan
budaya suatu daerah tak bisa dilepaskan dari peran bahasa.
Managemen strategi dalam pelaksanaan proses BIPA perlu
kematangan konsep bukan sekedar mencapai efisiensi dan efektifitas
dalam pembelajaran namun mesti menambahkan nilai-nilai luhur Bangsa
Indonesia guna dipetik hasilnya dalam berbagai aspek Berdasarkan
penelitian ini tujuan pembelajran BIPA dengan strategi ekskursi akan
dijabarkan kembali berikut:
1. Strategi ekskursi budaya.
Keterkaitannya ekskursi budaya dengan MEA adalah, selain untuk
memberikan pemahaman tentang budaya Indonesia (baik artefacts,
mentifact, dan sociofact) kepada pemelajar asing, juga dapat
membantu pemelajar asing untuk lancar berkomunikasi dan
berinteraksi dengan masyarakat Indonesia dari berbagai daerah serta
menghargai budaya Indonesia.
2. Ekskursi wisata dalam era MEA adalah mampu menarik minat orang
asing untuk berkunjung ke tempat wisata yang ada di Indonesia.
Membuka lapangan kerja untuk penduduk lokal di bidang pariwisata
dan meningkatkan devisa Negara.
3. Ekskursi akademika dengan MEA adalah memicu anak-anak memiliki
rasa bangga dan berusaha melestarikan terhadap bahasa dan budaya
Indonesia, dan meningkan Nasionalisme anak bangsa.
Berdasarkan penjabaran 3 poin diatas dapat kita simpulkan bahwa nilai-
nilai luhur bangsa Indonesia telah dimasukan dalam proses pembelajaran
BIPA dengan metode ekskursi.
Permasalahan kedua, kita harus arif dan bijak menyikapi apa
sebenarnya tujuan utama mereka berbondong-bondong mempelajari
bahasa Indonesia berikut budayanya. Perlu dipahami bahwa pada wilayah
Asia Tenggara saja, semisal di Thailand pada beberapa perguruan
tingginya telah membuka kelas Bahasa Indonesia. Kemudian di luar Asia
Tenggara, semisal di Republik Rakyat Tiongkok (China) pada beberapa
universitasnya juga telah dibuka Jurusan Bahasa Indonesia. Mereka secara
berkala selalu mengajukan permintaan tenaga pengajar BIPA kepada
Indonesia.
Indonesia adalah pasar yang potensial dan memiliki populasi
penduduk yang paling besar di Asia Tenggara artinya memiliki tingkat
konsumtif yang tinggi pula, hal yang perlu kita waspadai bahwa bahasa
bisa dijadikan perantara untuk memasuki pasar Indonesia dengan lebih
mudah. MEA bukanlah hal yang dapat dihindari tapi adalah ajang
kompetitif dimana bangsa Indonesia diharapkan mampu bersaing secara
global dalam segala aspek, oleh karena itu dibutuhkan berbagai inovasi-
inovasi yang dibekali oleh wawasan kebangsaan serta nilai Nasionalisme
yang tinggi.