Anda di halaman 1dari 14

Kegawatdaruratan Syok Hipovolemik ec GED

Lisa Ayeshadewi
102011318
Fakultas Kedokteran
Jl. Arjuna Utara No. 6 Jakarata 11510
Email : lisa.ayeshadewi@hotmail.com

Pendahuluan
Syok adalah suatu sindrom klinis yang terjadi akibat gangguan hemodinamik dan
metabolik ditandai dengan kegagalan system sirkulasi untuk mempertahankan perfusi yang
adekuat ke organ-organ vital tubuh. Hal ini muncul akibat kejadian pada hemostasis tubuh
yang serius seperti, perdarahan yang masif, trauma atau luka bakar yang berat (syok
hipovolemik), infark miokard luas atau emboli paru (syok kardiogenik), sepsis akibat bakteri
yang tak terkontrol (syok septik), tonus vasomotor yang tidak adekuat (syok neurogenic) atau
akibat respons imun.

Pembahasan
Anamnesis
Informasi riwayat klinis harus diperoleh dari orang yang mengantar pasien ke
rumah sakit, anggota keluarga serta pasoen itu sendiri. Anamnesis dapat mengarahkan pada
jenis syok atau proses patologis tertentu. namun, beberapa temuan seperti perubahan jenis
syok atau proses patologis tertentu. Namun, beberapa temuan seperti perubahan status mental
1

dan nyeri dada, dapat semata-mata timbul akibat perfusi jaringan yang tidak adekuat dan
bukan merupakan kunci untuk menentukan penyebabnya. Identifikasi jenis syok yang
dijumpai akan membantu menuntun resusitasi awal. Sebagai contoh, riwayat perdarahan,
muntah, diare, atau trauma akan segera segera membuat dokter waspada akan kemungkinan
terjadinya syok hipovolemik dan pentingnya pemberian cairan penambah volume secara
cepat. Riwayat penyakit jantung, terutama dengan gejala dispnea nokturnal paroksismal atau
ortopnea, sangat mengindikasikan adanya syok kardiogenik. Riwayat infeksi, demam atau
penggunaan obat baru dapat mengindikasikan adanya syok distributif.

Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan umum

Observasi warna pasien.


Cium napas pasien : halitosis dijumpai pada pasien yang sedang sakit.
Lihat dan raba kulit pasien : periksa turgor kulit untuk membuktikan adanya

dehidrasi.
Catat temperatur : hipotermia yang dengan mudah terlewatkan, dapat disebabkan
banyak penyakit akut, termasuk overdosis. Jika hipotermia dicurigai, penggunaan
termometer dengan pembacaan suhu terendah sangat diperlukan.

Fungsi sistem kardiovaskular


Lesi kardiovaskular yang dapat timbul sebagai keadaan darurat pada pasien sakit
berat yang tidak mungkin memberikan keterangan yang berguna.

Denyut nadi perifer yang tidak teraba atau lambat, atau asimetris menunjukan adanya

hambatan sirkulasi arteri akut atu kronik atau tekanan darah rendah.
Pada denyut nadi yang asimetris pengukuran tekanan darah kedua lengan dan kadang

kala pada kedua kaki perlu dilakukan. Curigai suatu robekan aneurisma.
Volume nadi yang kecil menunjukan obstruksi sirkulasi yang disebabkan oleh

hipotensi.
Perkiraan keadekuatan sirkulasi
Perhatikan frekuensi denyut nadi, tekana darah, dan perfusi perifer. Pedoman
untuk menentukan perfusi perifer adalah dedngan memperhatikan suhu dan warna
ekstremitas yang tidak terpajan dan jyga dengan mengobservasi kecepatan pengisian

kapiler setelah dilakukan penekanan pada ekstermitas sampai pucat dengan satu
jari.
Kegagalan srikulasi perifer dapat terjadi baik pada keadaan noemovolemik
(seperti pada syok bakteremi) atau hipovolemik akibat kehilangan atau perembesan
darah, serum, atau cairan tubuh lainnya. Ketidak adekuatan sirkulasi yang akut secara
menyeluruh biasanya menimbulkan tanda-tanda klinis syok:
o Konstriksi vena
o Peningkatan frekuensi denyut nadi
o Pengurangan volume nadi
o Pucat
o Sianosis
o Hipotensi
o Berkeringat (syok sistemik mungkin disertai kulit kering yang terasa hangat)
o Sesak napas
o Haus
o Dilatasi pupil
o Disorientasi
o Koma
Syok yang membuat pasien tidak mampu memberikan keterangan tentang riwayat
penyakitnya biasanya menimbulkan manivestasi kerdiovaskuler utama dan hasil akhir
syok apapun penyebabnya adalah penurunan curah jantung dan/atau aliran darah
perifer yang menyebabkan ketidakadekuatan sirkulasi.
Dengarkan bunyi jantung, bunyi tambahan, dan murmur.
Welsby, PD. Pemeriksaan fisik dan anamnesis. Jakarta : EGC. 2009. Hal 220-2
Parameter klinis pada diagnosis syok

Frekuensi denyut jantung : takikardia (FDJ >100 pada orang tidak hamil) terjadi pada

sebagian passien dengan syok


Tekanan darah : hipotensi (TD sistolik sewaktu <90) adalah tanda syok yang timbul
belakangan. Pada syok tahap dini, TD dapat meningkat sementara. Pemeriksaan,
khususnya dengan manset TD standar, menjadi kurang akurat pada keadaan syok.

Jarak antara sistolik dan diastolik yang sempit dapat terjadi pada syok hipovolemik.
Indeks syok : frekuensi denyut jantung/tekanan darah sistolik. Suatu indeks sebesar
>0,9 adalah suatu indikator yang lebih sensitif ketimbang tekanan darah atau

frekuensi denyut jantung saja.


Pulsus paradoksus : selisih yang besar pada tekanan darah saat bernapas (>10 mmHg)
dapat menunjukkan adanya syok obstruktif (misal, tamponade jantung)
3

Pernapasan frekuensi napas yang tinggi (>24/menit) maupun rendah (<12/menit)

dapat menunjukkan keadaan syok, sepertihalnya pernapasan yang dangkal atau dalam.
Tanda di kulit : kulit yang dingin dan lembab sering menjadi suatu indikator keadaan
syok meskipun pada keadaan syok distributif tertentu tertentu, kulit dapat terasa
hangat dan kering (syok neurogenik dan septik awal). Keterlambatan pengisian

kapiler (>2 detik) adalah tanda lain syok.


Keluaran urine : sering kali berkurang (<30 ml/jam) pada keadaan syok.
*Henderson, Sean O. Kedoketran emergensi: vademecum. Jakarta : EGC. 2012. Hal.

1-18
Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan laboratorium awal yang sebaiknya dilakukan antara lain: analisis
Complete Blood Count (CBC), kadar elektrolit (Na, K, Cl, HCO3, BUN, kreatinin, kadar
glukosa), PT, APTT, AGD, urinalisis (pada pasien yang mengalami trauma), dan tes
kehamilan. Darah sebaiknya ditentukan tipenya dan dilakukan pencocokan.
Pasien dengan hipotensi dan/atau kondisi tidak stabil harus pertama kali
diresusitasi secara adekuat. Penanganan ini lebih utama daripada pemeriksaan radiologi dan
menjadi intervensi segera dan membawa pasien cepat ke ruang operasi. Langkah diagnosis
pasien dengan trauma, dan tanda serta gejala hipovolemia langsung dapat ditemukan
kehilangan darah pada sumber perdarahan.
Etiologi
Syok hipovolemik dapat disebabkan oleh kehilangan volume massive yang
disebabkan oleh: perdarahan gastro intestinal, internal dan eksternal hemoragi, atau kondisi
yang menurunkan volume sirkulasi intravascular atau cairan tubuh lain, intestinal obstruction,
peritonitis, acute pancreatitis, ascites, dehidrasi dari excessive perspiration, diare berat atau
muntah, diabetes insipidus, diuresis, atau intake cairan yang tidak adekuat. Kemungkinan
besar yang dapat mengancam nyawa pada syok hipovolemik berasal dari penurunan volume
darah intravascular, yang menyebabkan penurunan cardiac output dan tidak adekuatnya
perfusi jaringan. Kemudian jaringan yang anoxia mendorong perubahan metabolisme dalam
sel berubah dari aerob menjadi anaerob. Hal ini menyebabkan akumulasi asam laktat yang
menyebabkan asidosis metabolic
Gejala klinis

Ketika mekanisme kompensasi gagal, syok hipovolemik terjadi pada rangkaian


keadaan di bawah ini:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Penurunan volume cairan intravascular


Pengurangan venous return, yang menyebabkan penurunan preload dan stroke volume
Penurunan cardiac output
Penurunan Mean Arterial Pressure (MAP)
Kerusakan perfusi jaringan
Penurunan oksigen dan pengiriman nutrisi ke sel
Kegagalan multisistem organ
Secara khas, riwayat pasien meliputi kondisi-kondisi yang menyebabkan

penurunan volume darah, seperti gastrointestinal hemoragi, trauma, diare berat dan muntah.
Pengkajian yang didapatkan meliputi: kulit pucat, penurunan sensori, pernafasan cepat dan
dangkal, urin output kkurang dari 25ml/jam, kulit teraba dingin, clammy skin, MAP dibawah
60 mm Hg dan nadi melemah, penurunan CVP, penurunan tekanan atrial kanan, penurunan
PAWP, dan penurunan cardiac output. Indikasi parameter pada pemeriksaan/ pengkajian
dalam mengestimasi kehilangan volume cairan:

Patofisiologi
Adanya iritasi mukosa usus dan peningkatan volume cairan dirongga usus
menyebabkan klien mengeluh abdomen terasa sakit. Selain karena 2 hal itu, nyeri abdomen
atau kram timbul karena metabolisme karbohidrat oleh bakteri diusus yang menghasilkan gas
H2 dan CO2 yang menimbulkan kembung dan flatus berlebihan. Biasanya pada keadaan ini
klien akan merasa mual bahkan muntah serta nafsu makannya menurun. Karena terjadi
ketidakseimbangan asam-basa dan elektrolit. Bila keadaan ini terus berlanjut dan klien tidak
mau makan maka, akan menimbulkan gangguan nutrisi sehingga klien lemas.
5

Kehilangan cairan dan elektrolit yang berlebihan akan menyebabkan klien


terjatuh dalam keadaan dehidrasi. Yang ditandai dengan berat badan menurun, turgor kulit
berkurang, mata dan ubun-ubun bisa jadi cekung (pada bayi), selaput lendir bibir dan mulut
serta kulit tampak kering. Tubuh yang kehilangan cairan dan elektrolit yang berlebihan
membuat cairan ekstraseluler dan intraseluler menurun. Dimana selain air, tubuh juga
kehilangan Na, K dan Ion Karbonat. Bila keadaan ini berlanjut terus, maka volume darah
juga berkurang. Tubuh mengalami gangguan sirkulasi, perfusi jaringan terganggu dan
akhirnya dapat menyebabkan syok hipovolemik dengan gejala denyut jantung meningkat,
nadi cepat tapi kecil, tekanan darah menurun klien sangat lemah kesadaran menurun.
Akibat lain dari kehilangancairan ekstrasel dan intrasel yang berlebihan, tubuh
akan mengalami asidosis metabolik dimana klien akan tampak pucat dengan pernapasan yang
cepat dan dalam (pernapasan kussamul)
Gambaran umum resusitasi
Survei primer
Ketika survei dilakukan upaya terapeutik penting resusitasi dimulai. Pada saat
yang sama, tanda berbagai keadaan syok diungkap dan petunjuk untuk diagnosis penyakit
yang mendasari dapat diperoleh. Meskipun diagnosis deefinitifseringkali tidak dibuat di
awaql, upaya resusitasi hampir selalu dapat diarahkan pada suatu golongan syok tertentu.
Jika masalah dijumpai pada survei primer, hal tersebut harus ditangani secepatnya.
o Airway ( jalan napas)
Dokter mengamati tingkat kesadaran, adanya ngiler atau sekresi, benda asing,
luka bakar di wajah, karbon dalam septum, mempalpasi adanya deformitas di wajah
atau leher dan memeriksaadanya refleks muntah (gag refleks), dan mendengarkan
adanya suara serak atau stridor.
Penanganan jalan napas pada survei primer dapat dilakukan hanya dengan
memposisikan jalan napas dengan manuever pengangkatan dagu atau mendorong
rahang. Penangabab tersebut juga mencakup penempatan alat bantu jalan napas oral
atau nasofaring dan pemberian okeisgen tambahan.
o Breathing (pernapasan)
Untuk menilai keadekuatan sistem pernapasan, dokter mengamati tanda-tanda
deviasi trakea, pembesaran vena jugularis, tanda kussmaul (keningkatan JVD pada
inspirasi), kesulitan napas. Mempalpasi adanya krepitasi tulang, udara subkutan atau
nyeri tekan. Mengauskultasi untuk mengetahui adanya udara yang masuk,
kesimetrisan, bunyi napas tambahan (rongki, mengi, atau gesekan). Melakukan
perkusi, jika perlu, untuk mengetahui adanya hiperresonasi atau bunyi pekak pada
6

kedua sisi. Intervensi yang mungkin dilakukan saat fase pernapasan survei primer
adalah ventilasi dengan bag-valve-mask.
o Circulation (sirkulasi)
Untuk menilai sirkulasi, dokter mempalpasi frekuen, keteraturan irama, kontur
dan kekuatan denyut nadi harus diperiksa di keempat ekstremitasdan jika tidak
teraba , palpasi denyut nadi sentral.mempalpasi suhu tubuh dan kelembapan kulit serta
pengisian kapiler di ekstremitas. Mengamati tanda-tanda perdarahan. Mengukur
tekanan darah, jarak antara sistol dan diastol. Mengauskultasi perikardium untuk lebih
jelas mendengar bunyi jantung. Takikardi sinus, hipotensi, ekstremitas dingin dan
pucat merupakan implikasi diagnostik syok hipovolemik.
Intervensi saat fase sirkulasi pada survei primer mencakup pemasangan monitor
oksimeter untuk denyut jantung serta pemasangan infus ke pembuluh darah.
o Disability (disabilitas)
Disabilitas menggambarkan penilaian status neurologis pada survey primer.

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Menilai tingkat kesadaran dengan menggunakan skala koma Glasgow.


Membuka mata
motorik
verbal
Tidak ada
tidak bergerak
tidak bersuara
Dengan rangsang nyeri
postur desebrasi
mengerang
Dengan perintah
postur dekortikasi
berupa kata-kata
Spontan
usaha menghindar rangsang nyeri
kebingungan
mempu melokalisasi nyeri
terorientasi
bergerak dengan perintah
Skor minimum : 3 (koma berat); skor maksimum : 15
Mengamati ukuran dan kesimetrisan pupil serta reaksinya terhadap cahaya, dan
mengamati keempat ekstermitas untuk melihat pergerakan kasarnya. Intervensi saat
fase disabilitas pada survey primer seriong kali terbatas pada jalan napas, pernapasan

sirkulasi, karena semua hal tersebut mempengaruhi fungsi neurologis.


o Exposure (pajanan)
Dokter harus memajankan seluruh area permukaan tubuh pasien. Melakukan
inspeksi dan mempalpasi punggung untuk melihat adanya kelainan. Perhatikan adanya
bau

tertentu

pada

tubuh

pasien,

mengukur

suhu

rektum.

Temuan

hipertermia/hipotermia kemungkiann arti diagnostik hipovolemik (dehidrasi berat).


Intervensi terpenting saat fase pemajanan padasurvey primer sering klai berupa
pengukuran suhu dan pemeliharaan suhu tubuh normal (eutermia).
Fase resusitasi
o Anamnesis
o Evaluasi diagnostik di tempat
resusitasi
Survei sekunder

Seiring dengan bertambahnya keparahan keadaan dan gambaran klinis pasien,


kepentingan relatif pemeriksaan fisik juga menjadi bertambah. Oleh karena itu, baik
survey primer maupun sekunder pada resusitasi terutama diarahkan pada temuan fisik.
Terdapat sejumlah hal yang tumpah tindih pada pemeriksaan tersebut selama survey
primer dan sekunder, tetapi survei sekunder cenderung mengungkapkan temuan-temuan
yang mungkin terlewatkan kecuali jika hal tersebut dengan sengaja dicari.
Secara singkat, survei sekunder adalah suatu pemeriksaan fisik yang lengkap dan
harus dilakukan. Begitu upaya resusitasi mulai berjalan, setiap pasien yang sakit kritis
harus menjalani pemeriksaan tersebut.
Fase perawatan definitif
Fase perawatan definitif pasien yang diresusitasi dapat dimulai di IGD dan
berlanjut pada berbagai bentuk rawat inap lainnya. mungkin dibutuhkan pemindahan
pasien ke fasilitas lain untuk perawatan khusus.
Arti penting keluarga pasien yang sakit kritis tidak boleh dilupakan. Sejumlah
besar pasien yang memerlukan resusitasi ekstensif di IGD mungkin sebelumnya berada
dalam keadaan sehat. Dokter gawat darurat dan anggota lain dari tim resusitasi primer
(perawat, layanan sosial) bertanggungjawab meluangkan waktu mereka untuk keluarga
pasien secepat mungkin.

Tujuan utama dalam mengatasi syok hipovolemik adalah (1) memulihkan volume
intravascular untuk membalik urutan peristiwa sehingga tidak mengarah pada perfusi jaringan
yang tidak adekuat. (2) meredistribusi volume cairan, dan (3) memperbaiki penyebab yang
mendasari kehilangan cairan secepat mungkin.
Jika pasien sedang mengalami hemoragik, upaya dilakukan untuk menghentikan
perdarahan. Mencakup pemasangan tekanan pada tempat perdarahan atau mungkin
diperlukan pembedahan untuk menghentikan perdarahan internal.
Pemasangan dua jalur intra vena dengan jarum besar dipasang untuk membuat
akses intra vena guna pemberian cairan. Maksudnya memungkinkan pemberian secara
simultan terapi cairan dan komponen darah jika diperlukan. Contohnya : Ringer Laktat dan
Natrium clorida 0,9 %, Koloid (albumin dan dekstran 6 %).

Pemberian posisi trendelenberg yang dimodifikasi dengan meninggikan tungkai


pasien, sekitar 20 derajat, lutut diluruskan, trunchus horizontal dan kepala agak dinaikan.
Tujuannya, untuk meningkatkan arus balik vena yang dipengaruhi oleh gaya gravitasi.
Medikasi akan diresepkan untuk mengatasi dehidarasi jika penyebab yang
mendasari adalah dehidrasi. Contohnya, insulin akan diberikan pada pasien dengan dehidrasi
sekunder terhadap hiperglikemia, desmopresin (DDVP) untuk diabetes insipidus, preparat
anti diare untuk diare dan anti emetic untuk muntah.
Military anti syoc trousersn (MAST) adalah pakain yang dirancang untuk
memperbaiki perdarahan internal dan hipovolemia dengan memberikan tekanan balik
disekitar tungkai dan abdomen. Alat ini menciptakan tahanan perifer artificial dan membantu
menahan perfusi coroner.
Pemantauan yang perlu dilakukan dalam menentukan kecepatan infuse antara lain
: Nadi (nadi yang cepat menunjukkan adanya hipovolemia), Tekanan darah (bila tekanan
darah < 90 mmHg pada pasien normotensi atau tekanan darah turun > 40 mmHg pada pasien
hipertensi, menunjukkan masih perlunya transfusi cairan), produksi urin (pemasangan kateter
urin diperlukan untuk mengukur produksi urin,produksi urin harus dipertahankan minimal
ml/kg/jam. Bila kurang, menunjukkan adanya hipovolemia).
Cairan diberikan sampai vena jelas terisi dan nadi jelas teraba. Bila volume intra
vaskuler cukup, tekanan darah baik, produksi urin < 1/2 ml/kg/jam, bisa diberikan Lasix 2040 mg untuk mempertahankan produksi urine. Dopamin 2-5 g/kg/menit bisa juga digunakan
pengukuran tekanan vena sentral (normal 8-12 cmH 2O), dan bila masih terdapat gejala umum
pasien seperti gelisah, rasa haus, sesak, pucat, dan ekstremitas dingin, menunjukkan masih
perlu transfusi cairan.
Penatalaksanaan
Penatalaksanaan Terapi cairan
Pemberian cairan merupakan pengobatan utama pada penderita dengan kekurangan
cairan tubuh, karena dengan pemberian cairan dapat mecegah dan menghindari keadaan syok
hipovolemik dan asidosis bahkan kematian.
Diperlukan perhitungan dan pemikiran secara cermat agar cairan yang diberikan
sesuai dengan kebutuhan. Untuk itu perlu dipikirkan : 1) Tingkat dehidrasi, 2) Macam cairan
yang perlukan, 3) Cara-cara pemberian, 4) Monitoring dalam pemberian cairan.
Tingkat Dehidrasi
9

Untuk menilai derajat Dehidrasi (kekurangan cairan) dapat digunakan skor WHO
dibawah ini:
Tabel 1. Derajat Dehidrasi???
SKOR
Dehidrasi

Dehidrasi

Dehidrasi

Ringan (5%)

Sedang (5-10%)

Berat (> 10%)

Yang dinilai

Keadaan umum

Baik, kompos mentis

Gelisah, rewel, lesu

Letargi, tak sadar

Mata cekung, kering

Normal

Cekung

Sangat cekung

Air mata

Ada

Kering

Kering sekali

Kering

Sangat kering, pecahpecah

Mulut
kering

atau

lidah Lembab

Haus

Minum normal

Haus

Tak bisa minum

Turgor

Baik

Jelek

Sangat jelek

Nadi

Normal

Cepat

Cepat sekali

Tekanan darah

Normal

Turun

Turun sekali

Air kemih

Normal

Kurang, oliguri

Kurang sekali

Skor: 6

: tanpa dehidrasi

7 12

: dehidrasi ringan-sedang

13

: dehidrasi berat

Dengan dasar pemeriksaan di atas maka estimasi jumlah cairan yang hilang dapat dihitung
berdasarkan prosentase berat badan. Sedangkan cara pengukuran tingkat dehidrasi seseorang
berdasarkan Berat Jenis Plasma adalah sebagai berikut :
Berat jenis plasma 1,025
x berat badan x 4 cc
0,001
Dehidrasi berat : BJ plasma 1,032-1,040
Dehidrasi sedang : BJ plasma 1,028-1,032
Dehidrasi ringan : BJ plasma 1,025-1,028
10

Pemeriksaan lain yang dapat membantu adalah pemeriksaan Berat Jenis Urine,
Hematokrit dan pemeriksaan elektrolit darah. Dalam keadaan dehidrasi Berat Jenis urine dan
Hematokrit akan mengalami kenaikan.
Selain dilakukan pengukuran-pengukuran di atas, diperlukan pula anamnese terhadap
penderita atau keluarga penderita untuk mengetahui beberapa lama penderita telah sakit,
berapa banyak muntah-muntah, berak-berak dan pendarahan yang terjadi.
Macam Cairan Rehidrasi
Cairan Rehidrasi Oral
Cairan rehidrasi ini secara umum dikenal dengan nama oralit atau larutan garam gula.
Cairan ini dapat diberikan dengan cara diminum atau melalui pipa nasogastrik, selama
penderita masih sadar dan mampu untuk melakukan cara ini. Kesadaran di sini diperlukan
untuk menghindari terjadinya aspirasi. Selain itu diperlukan pula bebasnya tractus digetivus
tanpa adanya sumbatan. Cairan ini mudah didapat dan diberikan, tidak perlu steril. Cairan ini
diberikan dalam keadaan hangat dengan jumlah 1,5 kali jumlah defisit cairan penderita.
Cairan Rehidrasi Infus
Cairan ini diberikan secara intravena untuk menanggulangi secara cepat defisit cairan
tubuh. Sekarang sudah banyak macam cairan yang dihasilkan, akan tetapi hanya beberapa
macam cairan saja yang dapat digunakan untuk menanggulangi keadaan darurat. Macam
cairan yang banyak digunakan antara lain : a. Cairan non koloid / cairan kristaloid b. Cairan
koloid seperti Plasma Expander c. Darah
Sedangkan cairan Dextrose sedikit atau bahkan jarang digunakan untuk rehidrasi
secara cepat pada keadaan darurat, sebab cairan yang ada dalam larutan D5% atau D 10%
akan cepat keluar dari ruang intravasculer setelah kandungan Dextrosenya hilang
dimetabolisir oleh tubuh. Sehingga volume intravasculer tidak dapat dipertahankan stabil
dalam waktu yang agak lama. Dan juga cairan Dextrose ini tidak mengandung elektrolit
sehingga tidak dapat mensubstitusi kekurangan elektrolit yang menyertai dehidrasi tersebut.
Cairan Non Koloidal / Kristaloid seperti Ringer Laktat, Ringer Asetat (Asering)dan
NaCl komposisinya mirip dengan cairan extraseluler, sehingga cairan ini yang paling baik
untuk menanggulangi dehidrasi secara cepat terutama dehidrasi oleh karena pendarahan,
gastroenteritis / kholera dan sebagainya. Apabila diberikan dalam waktu singkat sebagian

11

cairan kristaloid tersebut akan keluar dari ruang intravaskuler. Sebagian yang tinggal dalam
ruang intravaskuler cukup untuk memperbaiki haemodinamik dalam waktu relatif lama.
Meskipun pemberian cairan elektrolit secara infus diikuti perembesan cairan dari
ruang intravasculer ke ruang interstitiel, namun pada akhirnya perembesan akan berhenti
setelah tercapai keseimbangan dengan kejenuhan interstitiel fluid.
Cairan koloid mengandung molekul-molekul yang besar yang berfungsi seperti
albumin dalam plasma. Sebagian besar volume koloid yang diberikan akan tinggal dalam
waktu yang cukup lama dalam ruang intravasculer dan sebagian kecil mengadakan expansi
keluar dari ruang intravasculer mengisi ruang interstitiel. Pemakaian cairan koloid seperti
plasma expander harus hati-hati, sebab dapat menyebabkan gangguan proses pembekuan
pada dosis lebih dari 10 15 ml/kg Berat Badan.
Cara Pemberian Cairan
Pada metode Pierce berdasarkan klinis :
Dehidrasi ringan, kebutuhan cairan = 5% x berat badan (kg)
Dehidrasi sedang, kebutuhan cairan = 8% x berat badan (kg)
Dehidrasi berat, kebutuhan cairan = 10% x berat badan (kg)
Penambahan cairan dari luar akan didistribusikan merata ke seluruh bagian tubuh baik
ekstraseluler maupun intraseluler tergantung macam cairan yang diberikan. Pemberian cairan
ini harus tepat benar atau mendekati dalam keseimbangan, sehingga dalam tubuh tidak terjadi
kekurangan maupun kelebihan cairan. Kelebihan cairan pada tingkat sekuler juga dapat
membahayakan dengan gejala-gejala keracunan air atau pembengkakan pada bagian-bagian
tubuh tertentu.
Berdasarkan derajat dehidrasi dapat ditentukan besarnya cairan tubuh yang hilang.
Misalnya pada penderita dengan berat badan 50 kg dan defisit cairan 8%, maka jumlah cairan
yang hilang = 8% X 50L = 4L. sehingga jumlah cairan yang diberikan dapat seluruh defisit
atau hanya 2/3 bagian saja berdasarkan keadaan penderita.
Kecepatan infus tergantung keadaan klinis penderita, termasuk tingkat dehidrasi dan
keadaan jantung penderita. Misalnya pada penderita dehidrasi dengan gangguan fungsi
jantung, tetesan infus tidak boleh terlalu cepat dan juga diperlukan pengawasan dengan
menggunakan pengukuran tekanan vena sentral.

12

Pada keadaan dehidrasi ringan atau sedang, sejumlah cairan defisit dapat diberikan
secara dibagi rata dalam waktu 24 jam pertama sambil diawasi perubahan gejala klinis yang
terjadi, perubahan haematokrit, plasma elektrolit dan perubahan tekanan vena sentral.
Selain sejumlah cairan defisit yang diberikan, diperlukan pula cairan tambahan
kebutuhan dasar tubuh (maintenance/rumatan) untuk mengatasi cairan yang hilang selama
dilakukan terapi, yaitu 2 cc/KgBB/jam. Dan juga elektrolit-elektrolit yang dibutuhkan sesuai
dengan hasil pemeriksaan laboratorium.(Kebutuhan K 1 Meq/Kg BB/HR, Na 2 Meq/Kg
BB/HR) Sedangkan pemberian cairan pada penderita dengan perdarahan, harus ditentukan
lebih dahulu perkiraan jumlah darah keluar. Perkiraan ini dapat ditentukan berdasarkan
Trauma Status dari Giesecke.
Estimated Blood Volume (perkiraan Jumlah darah) = 6570 ml/KgBB Prinsip-prinsip
pemberian cairan pada perdarahan : Perdarahan kurang dari 10% EBV tidak diperlukan
cairan secara parenteral. Perdarahan antara 10% - 15% volume darah diganti dengan cairan
kristaloid (Ringer Laktat, Ringer Asetat /Asering, dan NaCl) dengan volume 2,54 kali
jumlah darah yang hilang. Perdarahan antara 15% - 20% volume darah diganti dengan cairan
koloid sejumlah darah yang hilang. Perdarahan lebih dari 20% volume darah diganti dengan
darah sesuai dengan darah yang hilang. Setiap pemberian cairan pengganti perdarahan,
pertama kali yang diberikan adalah Kristaloid lebih dahulu baru kemudian sisa perdarahan
diganti dengan koloid dan darah sesuai procentase darah yang hilang
Pa CO2 menurun Sangat rendah Blood Loss % E B V Sampai 10% Sampai 30 %
Lebih 50% Estimated Blood Volume (perkiraan Jumlah darah) = 6570 ml/KgBB Prinsipprinsip pemberian cairan pada perdarahan : Perdarahan kurang dari 10% EBV tidak
diperlukan cairan secara parenteral. Perdarahan antara 10% - 15% volume darah diganti
dengan cairan kristaloid (Ringer Laktat, Ringer Asetat /Asering, dan NaCl) dengan volume
2,54 kali jumlah darah yang hilang. Perdarahan antara 15% - 20% volume darah diganti
dengan cairan koloid sejumlah darah yang hilang. Perdarahan lebih dari 20% volume darah
diganti dengan darah sesuai dengan darah yang hilang. Setiap pemberian cairan pengganti
perdarahan, pertama kali yang diberikan adalah Kristaloid lebih dahulu baru kemudian sisa
perdarahan diganti dengan koloid dan darah sesuai procentase darah yang hilang. Misal
penderita dengan perdarahan sebanyak 25% dari perkiraan jumlah darah, maka penggantinya
adalah sebagai berikut : Perdarahan yang 15% dari perkiraan jumlah darah diganti dengan
cairan kristaloid sebanyak 2,5 4 kali dari jumlah perdarahan

13

Perdarahan yang 5% dari perkiraan jumlah darah diganti dengan cairan koloid
sebanyak jumlah perdarahan yang terjadi. Perdarahan yang 5% dari perkiraan jumlah darah
diganti dengan sejumlah perdarahan yang terjadi.
Cara pemberian berurutan dimulai dengan kristaloid dan terakhir darah, apabila diperlukan
dapat diberikan bersamaan dengan jalur infus lebih dari satu.
Monitoring dalam Pemberian Cairan
Untuk menjaga agar supaya pemberian cairan ini tidak mengalami kelebihan atau
masih kekurangan cairan diperlukan monitoring yang ketat, meliputi : a. Perubahan gejala
klinis yang mencerminkan fungsi susunan saraf pusat, misalnya : Kesadaran, Aktivitas,
Reflek tendon.
Perubahan sistem kardiovasculer, meliputi : Nadi Tekanan darah : Systole, diastole
dan Mean Arterial Pressure (MAP = Diastole + 1/3 (systolediastole)). MAP di sini
dihubungkan dengan dilakukannya Tilt Test yaitu dengan melihat perbedaan MAP pada
posisi terlentang dengan posisi antitrendelenberg. Apabila perbedaan ini lebih dari 10 mmHg
menunjukkan masih adanya defisit sekitar 1000 ml. Hilangnya kolaps vena perifer. c.
Perubahan turgor, mucosa lidah dan sebagainya. d. Perubahan produksi urine dan berat jenis
urine. e. Perubahan hasil pengukuran tekanan vena sentral. f. Perubahan-perubahan
haematokrit, elektrolit dan lain sebagainya.

Prognosis

14