Anda di halaman 1dari 21

BAB IV

TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi
Kista ovarium merupakan perbesaran sederhana ovarium normal,
folikel de graff atau korpus luteum atau kista ovarium dapat timbul akibat
pertumbuhan dari epithelium ovarium (Dorland,2002).
Kista ovarium merupakan suatu tumor, baik kecil maupun yang besar,
kistik atau padat, jinak atau ganas yang berada di ovarium.Dalam kehamilan,
tumor ovarium yang dijumpai paling sering ialah kista dermoid, kista coklat
atau kista lutein.Tumor ovarium yang cukup besar dapat menyebabkan
kelainan letak janin dalam rahim atau dapat menghalang halangi masuknya
kepala ke dalam panggul (Wiknjosastro et al, 2009).
Kistoma ovari adalah kista yang permukaannya rata dan halus,
biasanya bertangkai, bilateral dan dapat menjadi besar.Dinding kista tipis
berisi cairan serosa dan berwarna kuning. Pengumpulan cairan tersebut terjadi
pada indung telur atau ovarium (Mansjoer, 2000)
Jadi, dapat disimpulkan kista ovarium adalah kantong abnormal yang
berisi cairan atau neoplasma yang timbul di ovarium yang bersifat jinak juga
dapat menyebabkan keganasan.
B. Anatomi Sistem Reproduksi Perempuan
Organ reproduksi wanita diklasifikasikan menjadi eksternal dan
internal.
1. Organ Genitalia Eksterna
Organ reproduksi eksterna atau pudenda, yang sering disebut sebagai
vulva mencakup semua organ yang dapat dilihat dari luar, yaitu yang dimulai
dari mons pubis, labia mayora dan labia minora, klitoris, himen, vestibulum,
meatus uretra dan berbagai kelenjar serta pembuluh darah.

Gambar 1. Organ eksterna wanita( Winkjosastro et al, 2009) )


a. Mons Pubis
Mons pubis atau monsveneris adalah bagian yang menonjol berisi lemak
yang terletak di permukaan anterior simfisis pubis.Setelah pubertas, kulit
monsveneris tertutup oleh rambut ikal yang membentuk pola distribusi
tertentu yaitu pada wanita berbentuk segitiga.Mons veneris berfungsi
sebagai bantal pada waktu melakukan hubungan seks.
b. Labia Mayora.
Labia mayora berupa dua buah lipatan bulatan jaringan lemak lanjutan
mons pubis ke arah bawah yang ditutupi kulit dan belakang banyak
mengandung pleksus vena.Panjang labia mayora 7 8 cm dan agak
meruncing pada ujung bawah.Secara embriologis, labia mayora homolog
dengan skrotum pada pria.Labia mayora berfungsi sebagai pelindung
karena kedua bibir ini menutupi lubang vagina sementara bantalan
lemaknya bekerja sebagai bantal.
c. Labia Minora

Labia minora atau nimfe adalah lipatan jaringan tipis dan bila terbuka
terihat lembab dan kemerahan, menyerupai selaput mukosa.Pada labia
minora banyak terdapat pembuluh darah, otot polos dan ujung saraf.
d. Klitoris
Klitoris merupakan organ erektil yang homolog dengan penis dan
terletak dekat ujung superior vulva. Panjang klitoris jarang melebihi 2 cm,
bahkan dalam keadaan ereksi sekalipun (Verkauf dkk.1992) dan posisinya
sangat terlipat karena tarikan labia minora.
e. Vestibulum
Vestibulum adalah daerah berbentuk buah almond yang dibatasi labia
minora sebelah lateral dan memanjang dari klitoris sampai fouschettx,
berasal dari sinus urogenital. Terdapat 6 lubang yaitu orificium uretra
eksternum, introitus vagina, ductus glandula Bartholini kanan dan kiri dan
duktus skene kanan dan kiri, antara fouschettx dan liang vagina disebut
fosa navikularis.
f. Ostium Uretra
g. Lubang atau meatus uretra terletak pada garis tengah vestibulum,1 sampai
1,5 cm di bawah arkus pubis dan dekat bagian atas liang vagina. Meatus
uretra terletak di dua pertiga bagian bawah uretra terletak tepat di atas
dinding anterior vagina.
h. Ostium vagina dan Himen
Terletak di bagian bawah vestibulum.Pada gadis (virgo) tertutup lapisan
tipis bermukosa yaitu selaput dara / hymen, utuh tanpa robekan. Himen
atau selaput dara adalah lapisan tipis yang menutupi sebagian besar dari
liang senggama, di tengahnya berlubang supaya kotoran menstruasi dapat
keluar. Lubang himen biasanya berbentuk bulan sabit atau sirkular, namun
kadang kalaberupa banyak lubang kecil (kribiformis), bercelah (septata)
atau berumbai tidak beraturan (fimbriata).Bentuk serta konsistensi himen
sangat bervariasi terutama terdiri atas jaringan ikat elastin dan kolagen.
Himen imperforata, suatu lesi yang jarang, yang merupakan keadaan
ketika liang vagina tertutup sama sekali dan mengakibatkan retensi cairan
menstruasi.
i. Vagina
Vagina atau liang kemaluan merupakan suatu tabung yang dilapisi
membran dari jenis epitelium bergaris khusus, dialiri banyak pembuluh

darah dan serabut saraf. Panjang vagina dari vestibulum sampai uterus
adalah 7, 5 cm. Bagian ini merupakan penghubung antara introitus vagina
dan uterus.Pada puncak vagina menonjol leher rahim yang disebut
porsio.Bentuk vagina sebelah dalam berlipat lipat disebut rugae.Vagina
mempunyai banyak fungsi yaitu sebagai saluran luar dari uterus yang
dilalui sekret uterus dan aliran menstruasi, sebagai organ kopulasi wanita
dan sebagai jalan lahir.
j. Perineum
Perineum terletak diantara vulva dan anus, panjang perineum kurang lebih
4 cm. Jaringan utama yang menopang perineum adalah diafragma pelvis
dan urogenital.
2. Organ Genitalia Interna
Organ genitalia interna adalah suatu alat reproduksi yang berada di
dalam tidak dapat dilihat kecuali dengan jalan pembedahan.Organ genitalia
interna terdiri dari uterus, serviks uteri, korpus uteri, ovarium.

Gambar. 2. Organ Interna Wanita ( Cunningham, 2004 )


a. Uterus
Uterus atau rahim merupakan organ muskular yang sebagian

tertutup oleh peritoneum atau serosa. Rongga uterus dilapisi endomentrium.Uterus


wanita yang tidak hamil terletak padarongga panggul antara kandung kemih di
anterior dan rektum di posterior.Bentuk uterus menyerupai buah pir, uterus
terapung di dalam pelvis dengan jaringan dan ligamentum.Panjang uterus kurang
lebih 7,5 cm, lebar 5 cm, tebal 2,5 cm dan berat uterus 50 gram.Fungsi uterus
adalah untuk menahan ovum yang telah dibuahi selama perkembangan. Uterus
terdiri dari :
1) Fundus uteri
Merupakan bagian uterus proksimal, disitu kedua tuba fallopi
berinserasi ke uterus.Di dalam klinik penting diketahui sampai dimana
fundus uteri berada, oleh karena tuanya kehamilan dapat diperkirakan
dengan perabaan fundus uteri.
2) Korpus uteri
Korpus uteri merupakan bagian

uterus

yang

terbesar

pada

kehamilan.Dinding korpus uteri terdiri lapisan serosa, muskular dan


mukosa.Rongga yang terdapat dalam korpus uteri disebut kavum uteri
atau rongga rahim.Korpus uteri berfungsi sebagai tempat janin
berkembang.
3) Serviks uteri
Serviks merupakan bagian uterus dengan fungsi khusus yang terletak
di bawah ismus.Serviks terutama terdiri dari atas jaringan kolagen,
ditambah jaringan elastin serta pembuluh darah, namun masih
memiliki serabut otot polos.Kelenjar ini berfungsi mengeluarkan sekret
yang kental dan lengket dari kanalis servikalis.Jika saluran kelenjar
serviks tersumbat dapat berbentuk kista, retensi berdiameter beberapa
milimeter yang disebut sebagai folikel nabothian.
Secara histologik uterus terdiri dari :
.

1) Miometrium(lapisanototpolos)

Tersusun sedemikian rupa sehingga dapat mendorong isinya keluar pada


waktu persalinan. Sesudah plasenta lahir akan mengalami pengecilan sampai
keukuran normal sebelumnya.

2) Endometrium(epitel,kelenjar,jaringandanpembuluhdarah)

Endometrium merupakan lapisan dalam uterus yang mempunyai arti penting


dalam siklus haid. Pada masa kehamilan endometrium akan menebal,

pembuluh darah akan bertambah banyak, hal ini diperlukan untuk memberikan
makan pada janin.
1

3) Lapisanserosa(peritoneumviseral)

Lapisan serosa terdiri dari ligamentum yang menguatkan uterus, yaitu :


a. Ligamentum kardinale sinistra dan dekstra, mencegah supaya uterus
tidak turun.
b. Ligamentum sakrouterium sinistra dan dekstra, menahan uterus supaya
tidak banyak bergerak.
c. Ligamentum rotondum sinistra dan dekstra, menahan uterus agar
dalam keadaan antefleksi.
d. Ligamentum infundibulo pelvikum, ligamen yang menahan tuba
falopii.
4) Ovarium
Ovarium atau indung telur merupakan organ yang berbentukbuah
almond,. Ukuran ovarium cukup bervariasi, selama masa reproduksi
panjang ovarium 2,5 cm sampai 5 cm, lebar 1,5 sampai 3 cm dan tebal 0,6
sampai 1,5 cm. Berat dari ovarium adalah 5 sampai 6 gram, ovarium
terletak di bagian atas rongga panggul dan bersandar pada lekukan dangkal
dinding lateral pelvis diantara pembuluh darah iliaka eksterna dan interna
yang divergen.
Ovarium

melekat

pada

ligamentum

latum

melalui

mesovarium.Ligamentum utero-ovarika memanjang dari bagian lateral dan


posterior uterus, tepat di bawah insersi tuba, ke uterus atau kutub bawah
ovarium.Ovarium ditutupi oleh peritoneum dan terdiri dari otot serta
jaringan ikat yang merupakan sambungan dari uterus.Ligamentum
infundibulopelvikum atau ligamentum suspensorium ovarii memanjang
dari bagian atas kutub tuba ke dinding pelvis yang dilewati pembuluh
ovarika dan saraf.
Ovarium terdiri dari dua bagian, korteks dan medulla.Korteks, atau
lapisan luar, dalam lapisan ini terdapat ovum dan folikel de Graaf.Korteks
ovarium berbentuk kumparan yang diantaranyatersebar folikel primodial
dan folikel de Graaf dalam berbagai tahap perkembangan.Bagian paling
terluar dari korteks, yang kusam dan keputih-putihan, dikenal sebagai
tunika albugenia, pada permukaannya terdapat epitel kuboid yaitu epitel
germinal Waldeyer.Medulla, atau bagian tengah dari ovarium, terdiri dari

jaringan

ikat

longgar

yang

merupakan

kelanjutan

dari

mesovarium.Terdapat sejumlah besar arteri dan vena dalam medulla dan


sejumlah kecil serat otot polos yang berkesinambungan dengan yang
berasal dari ligamentum suspensorium.
Dua fungsi ovarium ialah menyelenggarakan ovulasi dan memproduksi
hormon yaitu hormon seks steroid (estrogen, progesteron, dan androgen)
yang dibutuhkan untuk pertumbuhan, perkembangan dan fungsi wanita
normal.Hormon estrogen bertanggung jawab atas pertumbuhan pola
rambut aksila serta pubik dan berperan dalam mempertahankan kalsium
dalam tulang.Progesteron dipengaruhi oleh estrogen sehingga dapat
menimbulkan retensi cairan dalam jaringan, juga dapat menyebabkan
penumpukkan lemak.
5) Tuba fallopii
Tuba fallopii atau saluran ovum yang memiliki panjang
yang bervariasi dari 8 sampai 14 cm dengan diameter 3 sampai 8 mm, bagian
terlebar dari ampula antara 5 sampai 8 mm dan ditutupi oleh peritoneum dan
lumennya dilapisi oleh membranmukosa. Saluran ovum berjalan dari lateral
kiri dan kanan. Tuba fallopii berfungsi untuk menghantarkan ovum dari
ovarium ke uterus dan untuk perjalanan ovum yang telah dibuahi. Tuba
fallopii terdiri dari :
1) ParsInterstisiallis,bagianyangterdapatdidindinguterus.
2) Pars Ismika atau ismus merupakan bagian dari medial yang sempit
seluruhnya.
3) Pars. Ampularis, bagian yang terbentuk saluran leher tempat konsepsi agak
lebar.
4) Infindibulum, bagian ujung tuba yang terbuka ke arah abdomen dan
mempunyai umbai yang disebut fimbria yang berfungsi untuk menangkap
telur dan menyalurkan telur kembali ke tuba.
(Cunningham, 2004)

C. Etiologi
Etiologi dari kista ovarium belum diketahui secara pasti.Namun, secara
umum dapat digolongkan etiologi terhadap jenis kista yang dialami. Penyebab

terjadinya kista ovarium yaitu terjadinya gangguan pembentukan hormon pada


hipotalamus, hipofisis, atau indung telur itu sendiri.Kista indung telur timbul
dari folikel yang tidak berfungsi selama siklus menstruasi.
Kista ovarium terbentuk oleh bermacam sebab. Penyebab inilah yang
nantinya akan menentukan tipe kista. Diantara beberapa tipe kista ovarium,
tipe folikuler merupakan tipe kista yang peling banyak ditemukan.Kista jenis
ini terbentuk oleh karena pertumbuhan folikel ovarium yang tidak
terkontrol.Cairan yang mengisi kista dsebagian besar berupa darah yang keluar
akibat perlukaan yang terjadi pada pembuluh darah ovarium.Pada beberapa
kasus dapat juga diisi oleh jaringan abnormal tubuh seperti rambut dan gigi
yang dinamakan kista dermoid.
Folikel adalah suatu rongga cairan yang normal terdapat dalam
ovarium. Pada keadaan normal, folikel yang berisi sel telur ini akan terbuka
saat siklus menstruasi untuk melepaskan sel telur. Namun, pada beberapa
kasus, folikel ini tidak terbuka sehingga menimbulkan bendungan cairan yang
nantinya akan menjadi kista.
Kista folikuler secara tipikal kecil dan timbul dari folikel yang tidak
sampai saat menopause, sekresinya akan terlalu banyak mengandung estrogen
sebagai respon terhadap hipersekresi folikel stimulation hormon (FSH) dan
luteinizing hormon (LH) normalnya ditemui saat menopause berdiameter 1 -10
cm (folikel normal berukuran maksimum 2,5 cm); berasal dari folikel ovarium
yang gagal mengalami involusi atau gagal meresorpsi cairan. Dapat multipel
dan bilateral.Biasanya asimtomatik atau tanpa gejala.
Kista granulosa lutein yang terjadi di dalam korpus luteum indung telur
yang fungsional dan membesar bukan karena tumor, disebabkan oleh
penimbunan darah yang berlebihan saat fase pendarahan dari siklus
menstruasi.
Kista teka-lutein biasanya bersifat bilateral dan berisi cairan bening,
berwarna seperti jerami; biasanya berhubungan dengan tipe lain dari tumor
indung telur, serta terapi hormon.
D. Faktor Risiko
Ada beberapa faktor risiko yang diduga berperan dalam pembentukan
kista ovarium.(Anurogo, 2009):

a. Pengobatan infertilitas
Pasien yang sedang diobati untuk infertilitas dengan induksi ovulasi
dengan gonadotropin atau bahan lainnya, seperti clomiphene citrate atau
letrozole, dapat membentuk kista ovary sebagai bagian dari ovarian
hyperstimulation syndrome.
b. Tamoxifen
Tamoxifen dapat mengakibatkan kista ovari benigna fungsional yang
biasanya timbul setelah penghentian terapi.
c. Kehamilan
Pada wanita hamil, kista ovarium dapat terbentuk pada trimester kedua
saat kadar hCG tertinggi.
d. Hypothyroidism
Karena kemiripan antara subunit alpha thyroid-stimulating hormone (TSH)
dan hCG, hipotirodisme dapat menstimulasi pertumbuhan kista ovarii.
e. Gonadotropin maternal
Efek transplasental dari gonadotropin maternal dapat menyebabkan
pembentukan dari kista ovarii neonatal dan fetal.
f. Merokok
Risiko kista ovarii fungsional meningkat dengan merokok; resiko dari
merokok mungkin meningkat lebih jauh dengan penurunan indeks massa
tubuh (IMT)
g. Ligasi tuba
kista fungsional telah dihubungkan dengan sterilisasi ligasi tuba
E. Manifestasi Klinis
Kebanyakan

tumor

ovarium

tidak

menunjukkan

gejala

dan

tanda.Sebagian besar gejala dan tanda yang ditemukan adalah akibat


pertumbuhan, aktivitas hormonal atau komplikasi tumor tersebut. Gejala dan
tanda tersebut berupa benjolan di perut, mungkin ada keluhan rasa berat,
gangguan atau kesulitan defekasi karena desakan, udem tungkai karena
tekanan pada pembuluh balik atau limfa dan rasa sesak karena desakan
diafragma ke kranial.Letak tumor yang tersembunyi dalam rongga perut dan
sangat

berbahaya

dapat

menjadi

besar

tanpa

disadari

oleh

penderita.Pertumbuhan primer diikuti oleh infiltrasi kejaringan sekitar yang


menyebabkan berbagai keluhan samar-samar (Sastrawinata et al,2004) :
a.
b.
c.
d.
e.

Perasaan sebah
Rasa nyeri pada perut bagian bawah dan panggul
Makan sedikit terasa cepat kenyang
Sering kembung
Nyeri senggama

f. Nafsu makan menurun


g. Rasa penuh pada perut bagian bawah
h. Gangguan miksi karena adanya tekanan pada kandung kemih dan juga
tekanan pada dubur
i. Gangguan menstruasi.
Pada umumnya tumor ovarium tidak mengubah pola haid kecuali tumor itu
sendiri mengeluarakan hormon seperti pada tumor sel granulosa yang
dapat menyebabkan hipermenorrea.
j. Akibat Pertumbuhan
Dengan adanya tumor didalam perut bisa menyebabkan pembengkakan
perut..Tekanan pada alat atau organ sekitar disebabkan oleh besarnya
tumor atau posisinya dalam perut.Misalnya sebuah kista yang tidak
seberapa besar tetapi posisinya terletak didepan uterus sehingga dapat
menekan kandung kencing dan menyebabkan gangguan miksi dan sedang
kista besar yang terletak didalam rongga perut kadang-kadang hanya
menimbulkan rasa berat pada perut.Selain gangguan miksi obstipasi dan
oedema pada tungkai dapat terjadi. Dapat timbul komplikasi berupa asites,
atau gejala sindrom perut akut, akibatnya putaran tungkai tumor atau
gangguan peredaran darah karena penyebab lain ( Sjamjuhidajat, 2004 ).
F. Klasifikasi
Kista

ovarium dilihat menurut

klasifikasinya

yaitu tumor

ovarium

nonneoplastik dan tumor ovarium neoplastik jinak maka pembagiannya adalah


sebagai berikut:
1. Tumor Nonneoplastik
Tumor nonneoplastik jinak disebabkan karena ketidakseimbanganhormon
progesteron dan estrogen.
a. Tumor akibat radang
Termasuk disini abses ovarial, abses tubo-ovarial dan kista tuboovarial.
b. Tumor lain
1) Kista Folikel
Kista ini berasal dari folikel de graaf yang tidak sampai berovulasi,
namun tumbuh terus menjadi kista folikel atau dari beberapa
folikel primer yang setelah bertumbuh di bawah pengaruh estrogen
tidak mengalami proses atresia yang lazim melainkan menjadi
membesar menjadi kista. Kista ini berasal dari folikel yang menjadi
besar semasa proses atresia folikuli. Setiap bulan sejumlah besar
follikel menjadi mati, disertai kematian ovum, disusul dengan

degenerasi dari epitel follikel. Pada masa ini tampaknya sebagai


kista-kista kecil.Tidak jarang ruangan follikel diisi dengan cairan
yang banyak, sehingga terbentuklah kista yang besar, yang dapat
ditemukan pada pemeriksaan klinis.Biasanya besarnya tidak
melebihi sebuah jeruk.Sering terjadi pada pubertas, climacterium,
dan sesudah salpingektomi.
2) Kista Korpus Luteum
Kista ini terjadi akibat perdarahan yang sering terjadi didalam
korpus luteum, berisi cairan yang berwarna merah coklat karena
darah tua.
3) Kista Lutein
Kista ini biasanya bilateral dan menjadi membesar sebesar
tinju.Tumbuhnya kista ini adalah akibat dari pengaruh hormon
koriogonadotropin yang berlebihan.Kista ini dapat terjadi pada
kehamilan, lebih jarang di luar kehamilan.Kista lutein yang
sesungguhnya,

umumnya

berasal

dari

corpus

luteum

haematoma.Perdarahan ke dalam ruang corpus selalu terjadi pada


masa vaskularisasi.Bila perdarahan ini sangat banyak jumlahnya,
terjadilah corpus luteum haematoma, yang berdinding tipis dan
berwarna kekuning-kuningan.Secara perlahan-lahan terjadi resorpsi
dari unsur-unsur darah, sehingga akhirnya tersisa cairan yang
jernih, atau sedikit bercampur darah. Pada saat yang sama
dibentuklah jaringan fibroblast pada bagian dalam lapisan lutein
sehingga pada kista korpus lutein yang tua, sel-sel lutein terbenam
dalam jaringan-jaringan perut.
4) Kista Inklusi Germinal
Kista ini terjadi karena invaginasi dan isolasi bagian bagian kecil
dari epitel germinativum pada permukaan ovarium.
5) Kista Endometrium
Belum diketahui penyebabnya dan tidak ada hubungannya dengan
endometroid.
6) Kista Stein-Laventhal
Kista ini dikenal sebagai sindrom Stein-Laventhal dan kiranya
disebabkan oleh ketidakseimbangan hormonal.Biasanya kedua
ovarium membesar dan bersifat polikistik, permukaan rata,
berwarna keabu-abuan dan berdinding tebal. Pada pemeriksaan
mikroskopis akan tampak tunika yang tebal dan fibrotik.

Dibawahnya tampak folikel dalam bermacam-macam stadium,


tetapi tidak ditemukan corpus luteum.Secara klinis memberikan
gejala yang disebut Stein-Leventhal Syndrom, yaitu yang terdiri
dari

hirsutisme,

sterilitas,

obesitas

dan

oligomenorrhoe.Kecenderungan virilisasi mungkin disebabkan


hyperplasi

dari

tunica

interna

yang

menghasilkan

zat

androgenik.Kelainan ini merupakan penyakit herediter yang


autosomal dominan.
2. Tumor Neoplastik Jinak
Tumor neoplastik jinak terdiri dari :
a. Tumor Kistik
1) Kistoma ovarii simpleks
Kistoma ovarii simpleks diduga kista ini adalah suatu jenis
kistadenoma

serosum

yang

kehilangan

epitel

kelenjarnya

berhubung dengan tekanan cairan dalam kista.Kista ini mempunyai


permukaan rata dan halus, biasanya bertangkai, seringkali bilateral,
dan dapat menjadi besar.Dinding kista tipis dan cairan di dalam
kista jernih, serus, dan berwarna kuning.Pada dinding kista tampak
lapisan epitel kubik.Berhubung dengan adanya tangkai, dapat
terjadi

torsi

(putaran

tangkai)

dengan

gejala-gejala

mendadak.Diduga bahwa kista ini suatu jenis kistadenoma serosum


yang kehilangan epitel kelenjarnya berhubung dengan tekanan
cairan dalam kista.
2) Kistadenoma Ovarii Musinosum
Asal kista ini belum pasti, menurut Mayer, mungkin kista ini
berasal dari suatu teratoma dimana dalam pertumbuhannya satu
elemen

mengalahkan

elemen

lainnya.Ada

penulis

yang

berpendapat bahwa tumor berasal dari lapisan germinativum,


sedang penulis lain menduga tumor ini mempunyai asal yang sama
dengantumorBrenner.
3) Kistadenoma Ovarii Serosum
Pada umumnya kista ini berasal dari epitel permukaan ovarium
(germinal ephitelium).Kista jenis ini tak mencapai ukuran yang
amat besar dibandingkan dengan kistadenoma musinosum.
Permukaan tumor biasanya licin, akan tetapi dapat pula berrbagala
karena kista serosum pun dapat berbentuk multilokuler, meskipun

lazimnya berongga satu. Warna kista putih keabu-abuan.Ciri khas


kista ini adalah potensi pertumbuhan papiler ke dalam rongga kista
sebesar 50%, dan keluar pada permukaan kista sebesar 5%.Isi kista
cair, kuning, dan kadang-kadang coklat karena campuran
darah.Tidak jarang kistanya sendiri kecil, tetapi permukaannya
penuh dengan pertumbuhan papiler (solid papilloma).
4) Kista endometrioid
Kista ini biasanya unilateral dengan permukaan licin; pada dinding
dalam terdapat satu lapisan sel-sel, yang menyerupai lapisan epitel
endometrium.Kista ini, yang ditemukan oleh Sartesson dalam
tahun 1969, tidak ada hubungannya dengan endometriosis ovarii.
5) Kista dermoid
Kista dermoid suatu teratoma kistik yang jinak dimana strukturstruktur ektodermal dengan diferensiasi sempurna, seperti epitel
kulit, rambut, gigi dan produk glandula sebasea berwarna putih
kuning menyerupai lemak nampak lebih menonjol daripada elemen
elemen endoderm dan mesoderm. Bahan yang terdapat dalam
rongga kista ini ialah produk dari kelenjar sebasea berupa massa
lembek seperti lemak bercampur dengan rambut.
G. Patofisiologi
Banyak tumor tidak menunjukkan gejala dan tanda, terutama tumor
ovarium yang kecil.Sebagian besar gejala dan tanda adalah akibat dari
pertumbuhan, aktivitas endokrin dan kompikasi tumor tumor tersebut.
(Helm, 2008)
1. Akibat pertumbuhan
Adanya tumor di dalam perut bagian bawah bisa menyebabkan
pembenjolan perut.Tekanan terhadap alatalat disekitarnya disebabkan
oleh besarnya tumor atau posisisnya dalam perut.Apabila tumor mendesak
kandung kemih dan dapat menimbulkan gangguan miksi, sedang suatu
kista yang lebih besar tetapi terletak bebas di rongga perut kadang
kadang hanya menimbulkan rasa berat dalam perut serta dapat juga
mengakibatkan obstipasi, edema pada tungkai.
2. Akibat aktivitas hormonal
Pada umumnya tumor ovarium tidak mengubah pola haid kecuali jika
tumor itu sendiri mengeluarkan hormon.

3. Akibat komplikasi
a. Perdarahan ke dalam kista
Biasanya terjadi sedikit

sedikit

sehingga

berangsur-angsur

menyebabkan pembesaran luka dan hanya menimbulkan gejala-gejala


klinik yang minimal. Akan tetapi kalau perdarahan terjadidalam jumlah
yang banyak akan menimbulkan nyeri di perut.
b. Putaran tangkai
Terjadi pada tumor bertangkai dengan diameter 5 cm atau
lebih.Adanya

putaran

tangkai

menimbulkan

tarikan

melalui

ligamentum infundibulopelvikum terhadap peritoneum parietale dan


ini menimbulkan rasa sakit.
c. Infeksi pada tumor
Terjadi jika di dekat tumor ada sumber kuman patogen.Kista dermoid
cenderung mengalami peradangan disusul pernanahan.
d. Robek dinding kista
Terjadi pada torsi tangkai, akan tetapi dapat pula sebagai akibat
trauma, seperti jatuh atau pukulan pada perut dan lebih sering pada saat
persetubuhan. Jika, robekan kista disertai hemoragi yang timbul secara
akut, maka perdarahan bebas berlangsung ke uterus ke dalam rongga
peritoneum dan menimbulkan rasa nyeri terus menerus disertai tanda
tanda abdomen akut.
e. Perubahan keganasan
Setelah tumor diangkat perlu dilakukan pemeriksaan mikroskopis yang
seksama terhadap kemungkinan perubahan keganasan.Adanya asites
dalam hal ini mencurigakan, adanya anak sebar (metastasis)
memperkuat diagnosa keganasan.(Wiknjosastro, 2005).
H. Diagnosis
a. Anamnesa
Diagnosis dimulai dari anamnesis berdasarkan keluhan pasien.Banyak
tumor ovarium tidak menunjukkan gejala dan tanda, terutama tumor ovarium
yang kecil.Adanya tumor bisa menyebabkan pembenjolan perut.Rasa sakit
atau tidak nyaman pada perut bagian bawah. Rasa sakit tersebut akan
bertambah jika kista tersebut terpuntir atau terjadi ruptur. Terdapat juga rasa
penuh di perut.Tekanan terhadap alat-alat di sekitarnya dapat menyebabkan
rasa tidak nyaman, gangguan miksi dan defekasi.Dapat terjadi penekanan
terhadapat kandung kemih sehingga menyebabkan frekuensi berkemih

menjadi sering. (DeChemey et al,1994)


Kista ovarium dapat menyebabkan obstipasi karena pergerakan usus
terganggu atau dapat juga terjadi penekanan dan menyebabkan defekasi yang
sering.Pasien juga mengeluhkan ketidaknyamanan dalam coitus, yaitu pada
penetrasi yang dalam.Pada tumor yang besar dapat terjadi tidak adanya nafsu
makan dan rasa enak dan rasa sesak.Pada umumnya tumor ovarium tidak
mengubah

pola

haid,

kecuali

jika

tumor

tersebut

mengeluarkan

hormon.Ireguleritas siklus menstruasi dan pendarahan vagina yang abnormal


dapat terjadi.Pada anak muda, dapat menimbulkan menarche lebih awal.
Polikistik ovari menimbulkan sindroma polistik ovari, terdiri dari
hirsutism, inferilitas, aligomenorrhea, obesitas dan acne.Pada keganasan, dapat
ditemukan penurunan berat badan yang drastis.
b. Pemeriksaan Fisik
Kista yang besar dapat teraba dalam palpasi abdomen.Walau
padawanita premonopause yang kurus dapat teraba ovarium normal tetapi
hal ini adalah abnormal jika terdapat pada wanita postmenopause.Perabaan
menjadi sulit pada pasien yang gemuk. Teraba massa yang kistik, mobile,
permukaan massa umummnya rata. Serviks dan uterus dapat terdorong
pada satu sisi.Dapat juga teraba, massa lain, termasuk fibroid dan nodul
pada

ligamentum

uterosakral,

ini

merupakan

keganasan

atau

endometriosis. Pada perkusi mungkin didapatkan ascites yang pasif.


c. Pemeriksaan Penunjang
a. Laboratorium
Tidak ada tes laboratorium diagnostik untuk kista ovarium.Cancer
antigen 125 (CA 125) adalah protein yang dihasilkan oleh membran sel
ovarium normal dan karsinoma ovarium.Level serum kurang dari 35
U/ml adalah kadar CA 125 ditemukan meningkat pada 85% pasien
dengan karsinoma epitel ovarium. Terkadang CA 125 ditemukan
meningkat pada kasus jinak dan pada 6% pasien sehat.
b. Laparoskopi
Mengetahui asal tumor dari ovarium atau tidak, dan menentukan sifatsifat tumor.
c. Ultrasonografi
Menentukan letak dan batas tumor kistik atau solid, cairan dalam

rongga perut yang bebas dan tidak.USG adalah alat diagnostik imaging
yang utama untuk kista ovarium.Kista simpleks bentuknya unilokular,
dindingnya tipis, satu cavitas yang didalamnya tidak terdapat internal
echo.Biasanya jenis kista seperti ini tidak ganas, dan merupakan kista
fungsioal, kista luteal atau mungkln juga kistadenoma serosa atau kista
inklusi.
Kista kompleks multilokular, dindingnya menebal terdapat papul ke
dalam lumen.Kista seperti ini biasanya maligna atau mungkin juga
kista neoplasma benigna.USG sulit membedakan kista ovarium dengan
hidrosalfing, paraovarian dan kista tuba.USG endovaginal dapat
memberikan

pemeriksaan

morfologi

yang

jelas

dari

struktur

pelvis.Pemeriksaana ini tidak memerlukan kandung kemih yang penuh.


USG transabdominal lebih baik dari endovaginal untuk mengevaluasi
massa yang besar dan organ intrabdomen lain, seperti ginjal, hati dan
ascites. Ini memerlukan kandung kemih yang penuh.
d. MRI
MRI memberikan gambaran jaringan lunak lebih baik dari CT scan,
dapat memberikan gambaran massa ginekologik yang lebih baik. MRI
ini biasanya tidak diperlukan
e. CT Scan
Untuk mengidentifikasi kista ovarium dan massa pelvik, CT Scan
kurang baik bila dibanding dengan MRI. CT Scan dapat dipakai
untukmengidentifikasi organ intraabdomen dan retroperitoneum dalam
kasus keganasan ovarium.
f. Foto Rontgen
Menentukan adanya hidrotoraks.Pada kista dermoid kadang dapat
terlihat gigi.
g. Parasentesis
Pungsi pada asites berguna untuk menentukan sebab asites.
h. Tes kehamilan
Dan HCG negatif, kecuali bila terjadi kehamilan.
Diagnosis kista ovarium dapat ditegakkan bila ditemukan hal-hal berikut
yaitu pada anamnesa menunjukkan gejala seperti yang disebutkan diatas
disertai pada pemeriksaan fisik:
1. Ditemukantumordironggaperutbagiandepandenganukuran>5cm
2. Pada pemeriksaan dalam, letak tumor di parametrium kiri atau kanan

ataumengisi kavum douglasi


3. Konsistensikistik,mobile,permukaan tumor umumnya rata
.
I. Komplikasi
Perdarahan ke dalam kista, biasanya terjadi sedikit-sedikit, berangsurangsur menyebabkan pembesaran kista, dan hanya menimbulkan gejala klinik
yang minimal. Tetapi bila dalam jumlah banyak akan terjadi distensi cepat dan
nyeri perut mendadak.
Putaran tangkai menimbulkan rasa sakit yang berat akibat tarikan
melalui

ligamentum

infundibulo

pelvikum

terhadap

peritoneum

parietale.Robekan dinding kista terjadi pada torsi tangkai, tetapi dapat pula
akibat trauma yaitu jatuh, pukulan pada perut dan coitus. Bila kista hanya
mengandung cairan serosa, rasa nyeri akbat robekan akan segera berkurang.
Namun bila terjadi hemoragi yang timbul secara akut, perdarahan bebas dapat
berlangsung terus menerus dalam rongga peritoneum dan menimbulkan rasa
nyeri terus menerus disertai tanda-tanda abdomen akut.
Infeksi dapat terjadi, jika dekat tumor terdapat sumber kuman patogen,
seperti appendisitis, divertikulitis, atau salpingitis akut.Perubahan keganasan
dapat terjadi pada kista jinak, misalnya pada kista denoma ovarii derosum,
kistadenoma ovarii musinosum dan kista dermoid.Sindroma Meigs ditemukan
pada 40% dari kasus fibroma ovarii yaitu tumor ovarium disertai asites dan
hidrotoraks.
J. Penatalaksanaan
Dapat dipakai prinsip bahwa tumor ovarium neoplastik memerlukan
operasi dan tumor non neoplastik tidak. Tumor non neoplastik biasanya
besarnya tidak melebihi 5 cm. Tidak jarang tumor-tumor tersebut mengalami
pengecilan secara spontan dan menghilang.
Tindakan operasi pada tumor ovarium neoplastik yang tidak ganas
adalah pengangkatan tumor dengan mengadakan reseksi pada bagian ovarium
yang mengandung tumor.Tetapi jika tumornya besar atau ada komplikasi perlu
dilakukan pengangkatan ovarium, disertai dengan pengangkatan tuba.Seluruh
jaringan hasil pembedahan perlu dikirim ke bagian patologi anatomi untuk

diperikasa.
Pasien dengan kista ovarium simpleks biasanya tidak membutuhkan
terapi. Penelitian menunjukkan bahwa pada wanita postmenopause, kista yang
berukuran kurang dari 5 cm dan kadar CA 125 dalam batas normal, aman
untuk tidak dilakukan terapi, namun harus dimonitor dengan pemeriksaan
USG serial. Sedangkan untuk wanita premenopause, kista berukuran kurang
dari 8 cm dianggap aman untuk tidak dilakukan terapi.
Terapi bedah diperlukan pada kista ovarium simpleks persisten yang
lebih besar 10 cm dan kista ovarium kompleks.Laparoskopi digunaknan pada
pasien dengan kista benigna, kista fungsional atau simpleks yang memberikan
keluhan.Laparotomi harus dikerjakan pada pasien dengan resiko keganasan
dan panda pasien dengan kista benigna yang tidak dapat diangkat dengan
laparaskopi.Eksisi kista dengan konservasi ovarium dikerjakan pada pasien
yang menginginkan ovarium tidak diangkat untuk fertilitas di masa
mendatang.
Pengangkatan ovarium sebelahnya harus dipertimbangkan pada wanita
postmenopause, perimenopause, dan wanita premenopasue yang lebih tua dari
35 tahun yang tidak menginginkan anak lagi serta yang beresiko menyebabkan
karsinoma ovarium.Diperlukan konsultasi dengan ahli endokrin reproduksi
dan infertilitas untuk endometrioma dan sindrom ovarium polikistik.
Konsultasi dengan onkologi ginekologi diperlukan untuk kista ovarium
kompleks dengan serum CA 125 lebih dari 35 U/ml dan pada pasien dengan
riwayat karsinoma ovarium pada keluarga.
Jika keadaan meragukan, perlu pada waktu operasi dilakukan
pemeriksaan sediaan yang dibekukan (frozen section) oleh seorang ahli
patologi anatomik untuk mendapat kepastian tumor ganas atau tidak.Untuk
tumor ganas ovarium, pembedahan merupakan pilihan utama.Prosedurnya
adalah total abdominal histerektomi, bilateral salfingo-ooforektomi, dan
appendiktomi (optional). Tindakan hanya mengangkat tumornya saja
(ooforektomi atau ooforokistektomi) masih dapat dibenarkan jika stadiumnya
ia masih muda, belum menpunyai anak, derajat keganasan tumor rendah

seperti pada fow potential malignancy (borderline).


Radioterapi hanya efektif untuk jenis tumor yang peka terhadap radisi,
disgerminoma dan tumor sel granulosa.Kemoterapi menggunakan obat
sitostatika seperti agents alkylating (cyclophosphamide, chlorambucyl) dan
antimetabolit (adriamycin). FoIlow up tumor ganas sampai 1 tahun setelah
penanganan setiap 2 bulan, kemudian 4 bulan selama 3 tahun setiap 6 bulan
sampai 5 tahun dan seterusnya setiap tahun sekali. (Moeloek et al, 2006)

DAFTAR PUSTAKA
Anurogo D. 2009. Kista ovarium. Available from http://www.netsains.com. (accessed
on 15 Juni 2013)
Cunningham FG, Gant NF, Leveno KJ, Gilstrap LC, Hauth JC, Wenstrom KD.
Obstetri Williams Edisi ke-21 Vol. 2.Jakarta : ECG; 2004. p. 934, 1035-7.2.
DeChemey AH, Pernoll ML. Current Obstetric and Gynecologic Diagnosis and
Treatment 8th edition.Norwalk : Appleton & Lange; 1994. p. 744-51.
Dorland N. Dalam: Hartanto H, Koesoemawati H, Salim IN, dkk (eds). Kamus
Kedokteran Dorland, Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran EGC;2002.
Helm,

CW.

Ovarian

Cyst.19

maret

2008.

(Available

at :http://.emedicine.com/med/topic1699.htm, accessed on 10 Februari 2015)


Mansjoer A, Triyanti K, Savitri R, Wardhani WI, Setiowulan W. Tumor Ovarium
Neoplastik Jinak. Dalam : Kapita Selekta Kedokteran. Jilid I. Jakarta :Media
Aesculapius Fakultas KedokteranUniversitas Indonesia; 2000. p. 388-9.
Moeloek FA, Nuranna L, Wibowo N, Purbadi S. Standar Pelayanan Medik Obstetri
dan Ginekologi. Jakarta : Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia; 2006.
p.130-16.

Ovarian

Cyst.

April

2008.

(Available

at

http://en.wikipedia.org/wiki/Ovarian_cyst, accessed on 11 Februari 2015)


Sastrawinata,

Sulaiman.

dkk.

2004.

Ilmu

Kesehatan

Reproduksi:

Patologi.Edisi 2. Jakarta: EGC hal :104.


Winkjosastro H, Saifuddin AB, Rachimhadi T. Ilmu Kandungan. Jakarta :
Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo; 2009. p. 346-65.

Obstetri