Anda di halaman 1dari 8

1

Masuknya Islam di Sumatra Utara


1.1 Lokasi rute perdagangan timur-barat
Kepulauan Melayu memiliki peran penting dalam pelayaran antara lautan India dan
lautan Cina. Kepulauan tersebut merupakan tempat pertemuan antara timur dan barat dimana
terjadi pertukaran informasi dan barang dagangan. Bahkan jika keadaan angin laut sedang tidak
baik, kapal para pedagang terpaksa tinggal di kepulauan tersebut hingga datangnya angin
berikutnya yang dapat membawa mereka kembali berlayar (Meilink-Roelofs 1962:13).
Kemungkinan komunitas-komunitas muslim sudah ada di beberapa tempat sepanjang rute/jalur
perdagangan sejak abad ke 17, karena telah ada perdagangan antara Arab dan India sejak zaman
klasik ( lama ) (Marrison 1951 (2):28). Kebaradaan orang orang india dapat dilihat dari fakta
bahwa Sumatra disebutkan dalam sajak-sajak/epik lama India: contohnya, nama Suvarnabhumi
merupakan sebutan untuk Sumatra dalam Jatakas (Coomaraswamy 1985:156). Kemungkinan hal
ini telah terjadi pada decade pertama tahun Hijriah, oleh sebab itu, pengaruh Islam di kepulauan
Melayu dapat dirasakan meskipun tidak ada informasi sejarah apapun terkait masa ini/ periode
ini.
Sekitar awal abad ke sebelas, sumber-sumber dari orang cina dan arab mengatakan bahwa
betapa berperannya perdagangan mereka di daerah Melayu-Indonesia selama masa kejayaan
kerajaan Budha Sriwijaya yang memegang control di hampir sebagian besar pesisir timur
Sumatra dan sebagian Semenanjung Melayu (Malaya Peninsula) dari ibukota yang diyakini telah
berlokasi di Palembang, Sumatra selatan (Meilink-Roelofs 1962:13,14).
Di akhir abad ke tiga belas, kerajaan Sriwijaya kehilangan kuasa (kejayaan) di daerah
Sumatra utara. Pada saat itu kerajaan pesisir Samudra Pasai didirikan, yang peraturan

peraturannya telah dikonversikan (diganti) ke peraturan islam (Meilink-Roelofs 1962:18).


Artinya, ini merupakan aturan islam ( aturan syariah) pertama yang berlaku di kepulauan tersebut
dan missionaries (dai dai) pertama yang menyebarkan agama baru yang datang dari India
Selatan, khususnya Kerajaan Malabar dan Coromandel.
1.2 Daerah Asal Islam di Sumatra Utara (awal mula islam di Sumatra utara)
Sulit untuk melacak asal muasal masuknya islam di Sumatra Utara karena keterbatasan
informasi literature dan keterbatasan peninggalan lainnya. Dalam riset (penelitian) yang
dilakukan selama seratus tiga puluh tahun terakhir, Islam berasal dari berbagai daerah, seperti:
Arab, Mesir, Benggala, dan beberapa bagian dari India (Drewes 1985:7-19; Meilink-roelofs
1962:21). Pendapat bahwa Islam berasal dari India adalah berdasarkan literature melayu, yaitu
hubungan laut antara Sumatra Utara dan India, dan tradisi India Selatan di Pasai yang melekat
pada sekolah Syafii di jurisprudensi muslim.
Namun tidak ada kepastian terkait hal ini sebelum adanya bukti dalam bentuk data arkeologi
dari Sumatra Utara dan India Selatan. Menurut pendapat beberapa ahli, islam di Indonesia
berasal dari semenanjung India, tepatnya Gudjarat dan India Selatan. Hal itu berdasarkan
informasi dari tiga sumber utama: laporan (informasi) dari pelancong terdahulu (early travelers),
literature melayu terdahulu (early Malay literature), dan pusara pusara para penguasa (pemimpin)
Islam pertama di Samudra Pasai.
1.3 Laporan (informasi) dari pelancong terdahulu
Marco Polo merupakan salah seorang pelancong yang paling terdahulu. Diperkirakan ia
menghabiskan waktu selama lima bulan di pesisir timur laut Sumatra pada tahun 1292,
menunggu keadaan angin yang tepat untuk kembali berlayar. Ia mendapati orang orang Samudra,

sedang memuja berhala. Namun masyarakat di Perlak yang merupakan sebuah pusat
perdagangan pesisir di selatan samudra beragama muslim, hal itu merupakan dampak dari
gencarnya penyebaran/pengajaran agama islam yang dilakukan oleh para pedagang muslim
(Arnold 1974: 367; Drewes 1985:11). Cerita Marco Polo berbeda dengan laporan/cerita dari
orang Cina tahun 1982 tentang kedutaan/perwakilan yang dikirim ke Cina oleh penguasa
Samudra. Duta duta tersebut memiliki nama muslim seperti Hasan dan Suleiman (Drewes
1985:11), ini merupakan bukti bahwa Samudra-Pasai memiliki komunitas/masyarakat muslim
yang hebat pada masa itu. Bukti lainnya yaitu adanya dinasti islam di samudra pasai dalam
kuartal terakhir abad ke tiga belas.
Ibn Battuta, Hakim di Moroccan Maliki, mengunjungi Samudra Pasai pada tahun 1345-46.
Dia berlayar dari Zaitun (ChuanChow) ke Sumatra bersama para pedagang Melayu di tahun
1346. Ia mengatakan bahwa kapal kapal dari Samudra Pasai juga sering berkunjung ke pesisir
Malabar di India bagian selatan (Schrieke 1966:244). Sementara itu, di Pasai Ibn Battuta
menghadiri acara pernikahan putra dari Sultan Malik al-Zahir (Moquette 1913:9). Ia
melihat/mendapati budaya islam yang maju di pasai. Istana sultan yang dia tinggali,
mengingatkannya pada istana seorang pangeran India. Istana samudra pasai memiliki keterkaitan
erat dengan istana sultan Tughluq di Delhi, Ibn Battuta menjumpai seorang pegawai di Pasai
yang pernah ia jumpai sebelumnya sebagai perwakilan/duta dari Pasai di istana Muhammad
Taqhluq di Delhi (Schrieke 1966:261, 390). Ibn Bantuta disambut baik oleh Laksamana Madya
yang memiliki nama Iran (nama orang Iran) yaitu Bohruz. Pegawai lainnya yang tinggal di Pasai
saat Ibn Battuta tinggal disitu adalah Amir Dawlasa dari Delhi, qadi Amir Sayyid dari Shiraz dan
ahli hukum Tajuddin dari Ispahan. Mereka mengikuti sekolah hukum islam (syariah) Syafii
(Marrison 1955:62). Sultan Pasai, Malik Alzahir, yang juga mengikuti sekolah Syafii, sangat

tertarik mendiskusikan tentang agama dan mengajukan pertanyaan pertanyaan mistik kepada
para ahli Muslim Iran di istananya (Schrieke 1955:261). Beberapa ahli Muslim (ahli agama
islam) dan para seniman pergi ke India setelah perang Baghdad pada tahun 1258 untuk melarikan
diri dari serangan Mongolia. Beberapa diantaranya kemudian berkunjung ke Pasai.
Dapat disimpulkan bahwa India memiliki pengaruh terhadap munculnya islam di Indonesia
melalui perdagangan dan kunjungan para ahli, serta dari komunikasi antar kerajaan istana.
Pengaruh Iran masuk ke kehidupan Melayu melalui Persianized Indian (India Persianezed)
yaitu melalui kontak langsung antar pengunjung (Marrison 1955:52).
1.4 Masuknya Islam di Sumatra Utara : Pandangan Sastra-Sastra Melayu
Terdapat dua sejarah Melayu yang menyediakan informasi tentang legenda awal dari dinasti
yang menguasai Samudra Pasai, kerajaan Islam tertua di Indonesia: Hikayat Raja-Raja Pasai
(Pasai Chronicles) dan Sejarah Melayu (Malay Annals) (Moquette 1913:2). Hikayat-hikayat
tersebut menggabungkan beragam komponen, seperti dongeng, silsilah (asal usul), dan cerita
sehari hari tentang tokoh tertentu serta dunia politik. Silsilah menggambarkan raja-raja terdahulu
dan menghubungkannya dengan masa sekarang untuk melindungi (secure) hak kekuasaan dan
kejayaan (Jong de 1964:235-41).
Sebelum dimulainya Era Christian, bahasa yang digunakan sehari-hari hanya bahasa Melayu
(Winstedt 1969:1). Selama awal abad Era Christian, ketika orang India dari pesisir Coromandel
membawa ajaran hindu baru beserta ritualnya, orang melayu mengadopsi kata-kata Sanskrit
dalam percakapan mereka. Kata-kata Sanskrit tersebut merupakan kata-kata yang
mengekspresikan social, adab/etik, keagamaan, dan masalah-masalah lainnya (Winstedt
1961:139).

Selama abad ke delapan dan sembilan, orang-orang Budha membawa lebih banyak lagi katakata Sanskrit ke Melayu. Dengan masuknya kata-kata Islam, Arab dan Persia yang diadopsikan
ke dalam bahasa Melayu (Marrison 1955:52; Winstedt 1961:139), maka kemudian bahasa
melayu sepenuhnya menjadi alat komunikasi yang dipengaruhi oleh unsur Islam(Johns 1955:71).
Sebelum dipengaruhi oleh unsur Islam, tidak ada syair (epik) melayu yang dipengaruhi oleh
Hindu India (Winstedt 1969:38). Bahkan penulisan bahasa Melayu yang paling tua (paling
terdahulu), yang sudah ada sejak abad ke lima belas, terdapat kata kata bahasa Arab dan hampir
seluruhnya ditulis dalam font (jenis huruf) Arab (Winstedt 1961:24). Islam meninggalkan
jejaknya dalam penulisan Hindu yang telah diubah kedalam kosa kata bahasa Melayu (Winstedt
1969:40). Melayu meninggalkan bahasa sastranya dan agamanya untuk Pasai yang kemudian
setelah beberapa abad disebut Aceh.
Selama abad ke enam belas dan tujuh belas legenda-legenda islam telah diterjemahkan ke
dalam bahasa Melayu. Salah satu yang paling terkenal adalah cerita tentang pahlawan sebelum
masa Islam, Alexander the Great (Marrison 1955:54). Cerita tersebut bertajuk The Romance of
Alexander, yang pertama sekali ditulis di Yunani pada abad pertama setelah masehi oleh Aisopus
(PseudoCallisthenes) dalam buku Alexandria (Robson 1929; 242-61). Cerita tentang penakluk
terkenal Alexander of Macedon ini telah diterjemahkan kedalam beberapa bahasa, seperti Eropa
serta Asia (Winstedt 1969:92). Awalnya, Islam menganggap penakluk Macedonian ini sebagai
musuh, namun kemudian penakluk tersebut dinobatkan sebagai pahlawan, yang layak dikatakan
sebagai pejuang agama. Hal ini menyebabkan banyaknya dinasti-dinasti Muslim yang mengaku
keturunan dari Alexander (EI,vol.4, 127). Cerita Alexander juga terdapat dalam Shahnamah yang
ditulis oleh Firdausi diantara tahun 980-1020. Di dalam Shahnamah tersebut dikatakan bahwa
Alexander merupakan pendiri dari Takhta Iran yang memiliki silsilah dari leluhur raja raja

Sassanid (Winstedt 1969:94). Cerita Alexander versi Melayu disebut Hikayat Iskandar DhulKarnain (The Chronicle of Iskandar, The Double horned), hikayat ini mengikuti versi
Shahnamah. Di dalam hikayat tersebut dikatakan bahwa dinasti Melayu berasal dari Alexander
the Great. Cerita Alexander versi Sumatra dimulai dengan zikir Islam yang diikuti cerita tentang
bagaimana Allah memperlihatkan kepada Nabi Adam keturunannya, yaitu, Nabi Daud, Nabi
Sulaiman, dan lain sebagainya yang berakhir dengan Alexander. Alexander disini berperan
sebagai missionary (penyebar) agama Ibrahim (islam).
Hikayat Raja-Raja Pasai dan Sejarah Melayu merupakan karya sastra tertua di Melayu.
Hikayat Raja-Raja Pasai ditulis antara tahun 1350 dan 1524 (Al attas 1970:193; winstedt 1961:
24). Hikayat tersebut menceritakan tentang dongeng pembangunan rumah pemimpin islam
samudra pasai, cerita tentang beralihnya ke Islam, dan sejarah dinasti hingga penaklukan jawa
oleh kerajaan Majapahit pada tahun 1377. Hikayat tersebut diceritakan secara mendetil. Dimulai
dengan cerita dua orang bersaudara, Raja Ahmad dan Raja Muhammad, yang menebang hutan
untuk membangun kota. Raja Muhammad menemukan seorang perempuan muda, yang lahir dari
bamboo. Ia membawanya pulang, merawatnya, dan mengggilnya dengan sebutan Putri Betung.
Sementara Raja ahmad berjumpa dengan seorang lelaki tua yang memberitahukannya bahwa
seekor gajah yang setiap hari jumat membawa seorang anak laki laki ke sungai untuk mandi.
Raja Ahmad kemudian mengadopsi anak laki laki tersebut dan memanggilnya dengan sebutan
Mara Gadjah. Putri Betung dan Mara Gadjah kemudian menikah dan menjadi orang tua pertama
dari dinasti samudra pasai. Kedua putra mereka, bernama Mara Linoe dan Mara Kusumo, dipilih
menjadi ketua oleh orang orang di tempat mereka tinggal. Mereka tinggal di seberang sungai di
sebuah tempat yang disebut beruen. Ketika Mara Siloe memasak ikan yang telah ia tangkap, ikan

ikan itu berubah menjadi emas. Sehingga dengan cara memancing saja ia dapat menjadi orang
kaya.
Suatu hari, ketika Mara Siloe sedang berburu, anjingnya menemukan seekor semut yang
besarnya sebesar kucing. Mara Siloe memakan semut tersebut dan membangun sebuah istana
diatas sarang semut yang ia sebut dengan samudra, yang artinya semut yang sangat besar.
Hikayat tersebut juga menggambarkan bagaimana Nabi Muhammad telah memprediksikan
perkembangan/munculnya daerah baru yang bernama Samudra. Nabi juga telah meninggalkan
utusan untuk membawa agama baru kepada orang orang disana (Samudra) secepat nama
Samudra dikenal di Mekah. Ketika berita bahwa telah ada daerah baru bernama Samudra sampai
kepada Syarif Mekah, ia mengirim sebuah kapal dengan kapten Shaik Ismail, diisi dengan
barang-barang kerajaan, dan memberikan instruksi untuk singgah di Maabri, daerah di pesisir
Coromandel. Penguasa/pemimpin Maabri, Sultan Muhammad, yang masih merupakan garis
keturunan Abu Bakar, menyerahkan tahtanya kepada putranya, dan pergi berlayar bersama
kapten Syeik Ismail, untuk menyebarkan agama Islam ke Samudra. Hal ini telah diprediksikan
oleh Nabi. Setelah kapal meninggalkan Maabri. Mara Siloe berjumpa dengan Nabi di dalam
mimpi, Nabi memukul mulutnya, kemudian mengubah namanya menjadi Malik Al-Saleh dan
mengajarinya untuk membaca pengakuan iman (Kalimah Syahadat). Bacaan tersebut
menjadikannya sebagai seorang Muslim. Setelah Nabi memberitahukannya/mengajarinya
hukum-hukum islam, Mara Tiloe baru menyadari bahwa dia telah disunat/dikhitan secara ajaib
dan ia dapat membaca keseluruhan isi Al-quran. Ini membuat rakyatnya sama sekali tidak
mengerti apa yang terjadi.
Setelah kapal Shaik Ismail tiba di Samudra. Mereka mendapati pemimpin Samudra telah
beralih ke Islam dan telah menerima nama barunya sebagai Sultan Malik Al-Salih. Lambang

kerajaan dipersembahkan untuk Malik Al-Salih dan nama kota tersebut diubah menjadi Samudra
Daral- salam (tempat tinggal yang damai). Malik Al-Salih menikah dengan putri Perlak. Perlak
merupakan sebuah tempat di bagian selatan Samudra. Dari pernikahan tersebut mereka memiliki
satu putra, bernama Malik Al-Zahir. Suatu hari ketika Malik Al-Salih sedang berburu, anjingnya,
si Pase, menemukan rusa kecil di pantai. Kemudian, Malik Al-Salih memutuskan untuk
menemukan sebuah kota baru di daerah itu dan ia menyebutnya Pasai. Malik Al-Salih
memerintahkan putranya, Malik Al-Zahir untuk memimpin/mengurus Pasai, sementara dirinya
tinggal di Samudra. Malik Al-Zahir meninggal di usia muda, dan meninggalkan dua putra
bernama Malik Al-Mahmud yang memimpin/mengurus Pasai, dan Malik Al-Mansuur yang
memimpin/mengurus Samudra.
Silsilah (genealogy) ini berlanjut menjadi sebuah cerita tentang kecemburuan dan
kebohongan antara dua orang bersaudara. Ahmad, putra dari Malik Al-Mahmud, jatuh cinta pada
putinya sendiri. Peristiwa ini menyebabkan dua orang putri dan seorang putra dari Ahmad
dihukum mati. Abangnya Ahmad, Abd al-Djalil, sangan tampan, berbakat dan juga pintar.
Seorang putri Jawa Hindu dari kerajaan Majapahit jatuh cinta sangat dalam padanya sehingga
membuat sang putri menjadi sakit. Kemudian Raja Majapahit mengabulkan keinginan putrinya
dan ia mengirim pasukan ke Pasai. Sultan, yang menginginkan sang putri untuk dirinya sendiri,
membunuh putranya. Ketika putri mendengar berita ini, dia menenggelamkan dirinya sendiri
(bunuh diri). Hal ini memicu perang dengan Madjapahit, hingga akhirnya Pasai dapat
ditaklukkan oleh Madjapahit. Pasai menjadi bagian dari daerah pesisir Sumatra yang berada di
bawah control Madjapahit dari tahun 1294-1478.6