Anda di halaman 1dari 6

985

Status mineral dalam pakan ikan dan udang (Sukarman)

STATUS MINERAL DAL AM PAKAN IKAN DAN UDANG


Sukarman dan Lili Sholichah
Balai Riset Budidaya Ikan Hias
Jl. Perikanan No 13 Pancoran Mas Depok
E-mail: carman_gbg@yahoo.com

ABSTRAK
Mineral merupakan substansi anorganik yang mempunyai beberapa fungsi dalam tubuh hewan, di antarannya
untuk menjaga proses metabolisme, sebagai bahan pembentuk tulang, gigi, karapas, sebagai ko enzim,
menjaga keseimbangan tekanan osmotik dan keseimbangan asam basa dalam tubuh. Namun pada
kenyataannya unsur ini sering diabaikan dalam proses pembuatan formula pakan. Makalah ini bertujuan
membahas klasifikasi, fungsi mineral, sumber-sumber mineral, efek defisiensi mineral, serta rekomendasi
dalam pakan ikan dan udang. Hasil studi diketahui ada 22 jenis mineral yang dibutuhkan oleh hewan,
namun hanya ada 11 unsur yang diketahui secara pasti fungsi dan efek defisiensinya untuk ikan dan udang.
Sebelas unsur tersebut terbagi dalam unsur makro (kalsium, fosfor, magnesium, kalium) dan unsur mikro
(Fe, Zn, Mn, Co, Cu, I dan Se). Unsur mikro lain yang saat ini sudah mulai diteliti fungsinya untuk ikan dan
udang adalah kromium. Sedangkan beberapa mineral yang tidak diketahui fungsinya untuk ikan antara lain
aluminium, arsenic, cadmium, mercury, nikel, silicon, tin dan vanadium. Mineral terdapat dalam air dan
bahan pakan, tetapi kandungannya tidak stabil sehingga perlu ditambahkan sumber mineral dalam bentuk
premix. Umumnya defisiensi mineral makro dan mikro berakibat pada terhambatnya pertumbuhan sampai
dengan tingginya kematian. Rekomendasi level mineral dalam pakan perlu memperhatikan interaksi antar
mineral dan nutrisi lainnya.
KATA KUNCI: mineral, makro, mikro, fungsi, defisiensi

PENDHULUAN
Kebutuhan gizi ikan serta krustase meliputi karbohidrat, protein, asam amio, lemak, asam lemak,
vitamin, dan mineral (Schmittou et al., 2004). Dominasi protein dan lemak dalam pembahasan nutrisi
pakan ikan menjadikan vitamin serta mineral sering terlupakan. Padahal kedua unsur tersebut
mempunyai peran yang tidak kalah penting terutama pada proses metabolisme. Sebagai contoh
unsur kalsium dan fosfor merupakan bahan utama pembentukan tulang pada ikan, jika unsur ini
kekurangan maka ikan akan tumbuh tidak proporsional.
Mineral kadang-kadang dicantumkan sebagai hara penting atau langka (trace) didasarkan atas
kebutuhan relatifnya (Schmittou et al., 2004). Asupan minimal mineral yang dibutuhkan sebaiknya
dimasukan dalam proses formulasi pakan. Oleh karena itu masyarakat pada umumnya dan praktisi
perikanan perlu mengetahui klasifikasi mineral, fungsi, efek defisiensi, sumber, dan level mineral
dalam pakan ikan dan udang.
PEMBAHASAN
Dalam skema analisis proksimat weende, mineral digolongkan komponen abu. Unsur kalsium
dan fosfor keduanya merupakan lebih dari 70% dari seluruh abu tubuh. Sedangkan unsur-unsur yang
lain jumlahnya relatif sedikit. Mineral yang dibutuhkan oleh hewan ada 22 jenis, namun hanya 11
macam yang diketahui pasti fungsi dan efek defisiensinya pada ikan dan udang.
Klasifikasi dan Fungsi Mineral
Umumnya mineral dalam pakan ikan digolongkan menjadi 2 yaitu mineral makro dan mineral
mikro. Ada pula yang membagi kembali menjadi mineral mikro esensial dan mikro non esensial.
Esesnsial yang dimaksud adalah jika kebutuhannya tidak tercukupi akan tampak gejala-gejala defisiensi
pada ikan. Semua unsur mineral tidak dapat disintesis dari mineral lainnya. Kriteria makro dan mikro
didasarkan atas jumlah kebutuhan dan penggunaan unsur mineral tersebut di dalam pakan.

Prosiding Forum Inovasi Teknologi Akuakultur 2011

986

A . Mineral Makro
1. Kalsium
Kalsium merupakan unsur yang penting dalam perkembangan serta pertumbuhan tulang pada
ikan, ekso skeleton (karapas) pada krustase (Millamena et al., 2002), menjaga keseimbangan osmotik,
proses pembekuan darah, sekresi hormon dan sistem saraf (Guillaume et al., 2001). Ikan dan Udang
dapat menyerap kalsium dari air (Davis & Lawrence, 1997), kemudian Guilaume et al (2001),
menambahkan bahwa lebih dari 50%-60% kebutuhan kalsium dapat diperoleh dari air. Kalsium dari
air diserap melalui insang, sirip, oral epithelia. Insang merupakan organ terpenting dalam pengaturan
kalsium. Kalsium dalam pakan umumnya di dapatkan dari bahan baku seperti tepung ikan, namun
kekuranganya bisa juga disuplementasi dengan tepung batu. Pada saat proses metabolisme makanan
ada interaksi antara kalsium dengan vitamin D3, Mg, dan Zn.
2. Fosfor (P)
Fosfor merupakan mineral makro lainnya yang dibutuhkan oleh ikan dan sangat penting dalam
pembentukan nukleotida dan membran sel. Hal ini berarti fosfor berpran penting dalam pembentukan
ATP (Millamena et al., 2002), yang kemudian akan menjadi energi bagi ikan. Berbeda dengan
kalsium, ketersediaan fosfor dalam air sangatlah rendah. Sehingga untuk pemenuhan kebutuhan
fosfor harus disediakan dalam pakan. Sebagian besar jenis ikan membutuhkan fosfor tersedia 0,5%1% (Millamena et al., 2002), spesies lainnya membutuhkan 0,5%-0,9% dalam pakan (Guillaume et al.,
2001). Fosfor tersedia di sini diartikan sebagai fosfor yang mampu diserap oleh ikan dan udang.
Fosfor pada tanaman yang diikat oleh asam fitat sebagian besar tidak bisa diserap oleh ikan dan
udang, Guilaume et al (2001) menambahkan hanya sekitar 40%-60% saja yang bisa diserap. Asam
fitat juga akan mengikat ion Zn2+, Fe2+, Ca2+ sehingga akan menurunkan penyerapan ions tersebut
di dalam saluran pencernaan. Untuk menyiasati hal ini maka penggunaan enzim fitase untuk
melepaskan ikatan fitat telah banyak digunakan dalam industri pakan. Pemenuhan kebutuhan fosfor
tidak terkait dengan penambahan kalsium dalam pakan, akan tetapi sumber fosfor umumnya
mengandung kalsium tinggi. Hal yang perlu di perhatikan adalah rasio antara kalsium dan fosfor
dalam pakan ikan dan udang. Nilai rasio Ca dan P bervariatif berkisar antara 0,5:1 sampai dengan
1:1.
3. Magnesium (Mg)
Konsentrasi magnesium dalam tubuh ikan adalah 20-100 mg / 100 g (Guillaume et al., 2001).
Magnesium adalah ko-faktor beberapa reaksi enzimatis yang berhubungan dengan fosfor. Magnesium dalam bahan pakan asal tanaman cukup tinggi, sehingga suplementasi bahan inorganik dalam
bentuk garam magnesium diperlukan dalam kasus tertentu saja. Kandungan dan kecernaan magnesium dalam tepung ikan sangat tinggi, kecernaanya dibandingkan dengan MgCl 2 lebih tinggi 75%
pada ikan salmon (Guillaume et al., 2001). Ini diduga ada hubungannya dengan kondisi magnesium
di dalam laut. Air laut mempunyai kandungan magnesium yang tinggi yaitu sekitar 1.350 mg/L.
Oleh karena itu, spesies ikan dan udang yang hidup pada air berkadar garam tinggi tidak memerlukan
suplementasi sumber magnesium pada pakannya.
4. Sodium, Klor, dan Potasium
Keseimbangan asam basa dari Na+, Cl- dan K+ dibutuhkan dalam proses osmoregulasi. Lingkungan
air umumnya kaya akan Na dan Cl, sehingga kebutuhan akan unsur tersebut tidak banyak dibahas.
Namun demikian diketahui bahwa penambahan sodium, potasium dan chloride dalam pakan akan
memperbaiki proses fisiologi. Kanazawa et al. (1984) dalam Davis & Lawrence (1997), melaporkan
bahwa pakan yang mengandung 0,9% potasium pada udang P. japonicus lebih tinggi pertumbuhannya
dibandingkan dengan pakan yang mengandung 1,8% potasium. Deshimaru & Yone (1978) dalam
Davis & Lawrence (1997), menambahkan bahwa suplementasi potasium dalam pakan cukup 1% saja.

987

Status mineral dalam pakan ikan dan udang (Sukarman)

B. Mineral Mikro
1. Fe (Besi)
Fe atau yang dikenal dengan zat besi merupakan unsur yang penting dalam pembentukan hemoglobin dan reaksi-reaksi ezimatik lainnya. Udang tidak mempunyai hemoglobin sehingga kebutuhan
akan Fe belum diketahui pasti, kelebihan Fe berpotensi menurunkan pertumbuhan udang. Bahan
baku pakan sumber Fe kebanyakan dari hewan, diantaranya adalah tepung darah dengan kandungan
Fe sebesar 2.000-3.000 mg/kg, tergantung pada proses pengeringannnya.
2. Cu ( Copper)
Cu merupakan salah satu komponen penting dalam proses enzimatik yang berhubungan dengan
transpot elektron didalam sel. Dalam hal ini Cu berperan sebagai pembawa oksigen dalam hemosianin
pada krustase dan moluska. Pada ikan, Cu mempunyai berfungsi memfasilitasi penyerapan unsur
mikro lainnya seperti Fe dan Zn. Ikan lebih toleran terhadap kelebihan Cu dari pakan, dibandingkan
Cu yang ada dalam air. Kandungan Cu dalam air antara 0,8-1,0 mg/L air beracun untuk beberapa jenis
ikan. Namun demikian pemberian Cu dalam pakan sampai dengan 600 mg/kg tidak menimbulkan
bahaya pada ikan.
3. Zn ( Seng)
Fungsi utama Zn adalah sebagai ko-faktor dalam beberapa proses enzimatik, termasuk penggunaan
hampir semua nutrisi. Paling tidak ada 20 jenis enzim yang mengandung Zn. Ikan dapat memperoleh
Zn dari air dan pakan, tetapi penyerapan Zn dari pakan lebih efisien. Zn dari bahan baku asal hewan
seperti tepung ikan, tetapi mempunyai kecernaan rendah. Sementara Zn dari tumbuhan banyak
terikat oleh asam fitat, sehingga suplementasi bahan an organik sumber Zn menjadi sangat penting.
4. Iodium (I)
Kebutuhan Iodium berhubungan dengan kerja kelenjar tyroid. Kebutuhan minimal Iodium pada
ikan dan udang tidak banyak diketahui, tetapi penambahan Iodium pada pakan sebagai jaminan
supaya tidak terjadi defisiensi direkomendasikan oleh NRC.
5. Mangan (Mn)
Seperti unsur Zn, ikan bisa mendapatkan Mn dari air, namun demikian akan lebih efisien jika
diperoleh dari pakan. Manganese penting sebagai ko-faktor proses enzimetik terutama berhubungan
dengan metabolisme protein, karbohidrat dan lemak. Mn dalam bahan baku pakan jumlahnya cukup
banyak, tetapi kecernaanya sangat bervariasi. Pemberian MnSO 4 atau MnCl3 lebih mudah diserap
oleh ikan. Pemberian Mn pada pakan udang lebih diperlukan karena kadar Mn dalam air laut sangat
rendah.
6. Selenium (Se)
Fungsi utama Se adalah melindungi membran sel dari oksidasi, ini sejalan dengan fungsi vitamin
E. Konsentrasi selenium dalam air sangat rendah, sedangkan pada tepung ikan sangat bervariasi.
Penggunaan tepung ikan lebih dari 15% pada pakan udang bisa mencukupi kebutuhan selenium.
Akan tetapi penggunaan tepung ikan saat ini mulai dibatasi, sehingga suplementasi selenium baik
organik maupun anorganik sangat dianjurkan.
7. Unsur mikro lainnya
Unsur alumunium diketahui berpengaruh terhadap pertumbuhan belut, sedangkan flourin diduga
penting untuk ikan salmon. kobalt (Co) merupakan komponen penting dalam pembentukan vitamin
B12, kromium penting dalam proses metabolisme glukosa dan lemak, dan sulfur diperlukan dalam
proses sintetis sistin. Unsur-unsur lain seperti molibdenum, silikon dan vanadium belum banyak
diketahui fungsinya untuk ikan.

Prosiding Forum Inovasi Teknologi Akuakultur 2011

988

Selain mineral-mineral yang telah disebut di atas, ada beberapa mineral yang tidak diketahui
fungsinya untuk ikan antara lain aluminium, arsenic, cadmium, mercury, nikel, silicon, tin dan vanadium.
B.

Sumber-Sumber Mineral

Sumber mineral untuk ikan dan udang sedikit berbeda dengan hewan pada umumnya. Ikan dan
udang bisa mendapatkan mineral dari air (lingkungan hidupnya) dan makanannya, sedangkan hewan
darat pada umumnya hanya mendapatkan asupan mineral dari makanannya. Mineral yang bisa
didapatkan dari air antara lain Ca, K, Cu, dan Iodine, sedangkan mineral lainnya perlu tersedia dalam
pakan.
Mineral dalam pakan bisa berasal dari bahan baku pakan. Namun mineral dalam bahan baku
variasinya sangat tinggi, begitu juga mineral dalam air. Oleh karena itu perlu ada tambahan sumber
mineral murni yang bisa disuplementasikan dalam pakan (Nef et al., 2005). Baik mineral dalam
bahan baku dan sumber mineral murni perlu diketahui agar bisa menjamin pakan tidak defisiensi
mineral dan juga tidak mengandung mineral yang berlebihan dan bersifat toksik.
Table 1. Bahan mineral makro dan mikro
Mineral
Potasium (K)

Sumber
K2 SO4 .MgSO4 dan K2SO4

Magnesium (Mg) K2 SO4 .MgSO4 dan magnesium oxide

Kadar (% )
18 dan 41
11 dan 54-58

Sulfur (S)

K2 SO4 .MgSO4 dan K2SO4


Kalsium sulfat (CaSO4 )
Amonium sulfat ( (NaH4)2 SO4 )
Sulfur (S)
Sodium sulfat (Na2 SO4 )
Magnesium sulfat (MgSO4 )

Sodium (Na)
Klor (Cl)

Sodium bicarbonat dan sodium sesquicarbonat


Garam
Sodium sulfat
Potasium chloride
Sodium fosfat

Na= 27 dan Na= 27-30


Na = 39, Cl = 60
Na = 14
Cl =47
Na =16

Zat Besi (Fe)

Ferrous carbonate (Fe CO3 )


Ferrous sulfat (Fe SO4.H2O atau Fe SO4.7 H2 O)

40
23-30

Seng (Zn)

Zinc oxide ( Zn O) dan Zinc sulfat (Zn SO4. H2 O)

72 dan 36

Iodium (I)

Calsium iodate (Ca IO3)


EDDI (Ethylenediamine Dihydroiodide)
Potasium iodate (KI)

Mangan (Mn)

Mangane oxide (MnO)


Manganese sulfat (Mn SO4.H2O)

Kobalt (Co)

Cobalt carbonate (CoCO3 )


Cobalt sulfat (CoSO4.H2O atau CoSO4.7H2 O)

Selenium (Se)

Sodium selenite (Na2 Se O3 ) dan sodium selenate

Cupprum (Cu)

Cupric oxide (CuO)


Copper sulfat (CuSO4. 5H2O)
Copper carbonat (Cu CO3)

Sumber: Anonim ( 2005), Charlton & Ewing (2007)

22 dan 17
17
24
99.6
10
13-17

64
79
69
60
28.5
46
21-33
45 dan 40
75
25
55

989

Status mineral dalam pakan ikan dan udang (Sukarman)

Bahan baku utama dalam pakan hanya mengandung sedikit mineral sehingga perlu ada bahan
tambahan yang konsentrasi mineralnya cukup tinggi. Bahan baku mikro yang bisa digunakan sebagai
sumber mineral dalam pakan ikan dan udang adalah sebagai berikut : CaCO 3 (38%), kulit kerang
(38%), kalsium sulfat dihydrate (21%), kalsium sulfat anhydride (26.5%), Tepung Tulang (23%),
monokalsium fosfat (15%-18%),dikalsium fosfat (19%-22%) dan deflourinated (30%-32%).
Sedangkan sumber-sumber fosfor untuk pakan ikan antara lain : asam fosforik (23.7%), deflourinated
fosfat (18%.1%), dikalsium fosfat (18.5% fosfor total dan 65 fosfor tersedia), monokalsium fosfat
(21% fosfor total dan 94% fosfor tersedia), monosodium fosfat (26%), monoamonium fosfat (24%),
amonium polifosfat (14.8%-16%) dan tepung tulang (8-14%).
Pada umunya monokalsium fosfat dan dialsium fosfat sering digunakan dalam pakan untuk
menutupi kekurang unsure P dari tepung ikan. Tepung ikan sendiri mengandung 2%-7% fosfor total
tetapi yang tersedia untuk ikan air tawar hanya 30%-40% saja. Umumnya CaCO 3 mengandung Mg
sekitar 0.2%-0.9% dan kadar air 0,5%. Mono atau dikalsium fosfat berbentuk granul 95% berwarna
abu-abu dengan berat jenis antara 560-590 kg/m3.
Sumber-sumber mineral lainnya umumnya dijual di pasaran sudah dalam bentuk premix. Premix
yang dimaksud adalah campuran beberapa bahan mineral dengan kandungan unsur yang telah
ditentukan terlebih dahulu. Bahan-bahan tersebut bisa dilihat pada Tabel 1.
C.

Interelasi antara mineral dan defisiensi mineral

Defisiensi mineral pada hewan disebabkan 2 hal yaitu kekurangan asupan mineral dari pakan
atau lingkungannya dan adanya kelebihan salah satu mineral yang menyebabkan penyerapan mineral lainnya tergangggu. Oleh karena itu perlu juga diketahui interelasi antara mineral satu dengan
lainnya dalam tubuh ikan. Interelasi pada mineral ada 2 macam yaitu satu arah dan 2 arah berlawanan.
Penyerapan Zn akan berkurang jika level Ca dalam makanan berlebihan tetapi tidak berlaku sebaliknya.
Sedangkan Mn dan P saling terpengaruh, jika salah satu diantaranya berlebihan maka akan
mempengaruhi penyerapan unsur keduanya. Oleh karena itu selain level mineral, keseimbangan
antar mineral menjadi penting supaya tidak terjadi defisiensi.
Ca, Mg, Mn, Zn, Fe, Al dan Be mempengaruhi penyerapan P dan sebaliknya. Sedangkan Cu yang
rendah Mo yang tinggi menambah kehilangan P dalam tubuh, Cu dibutuhkan untuk mensintesis
fosfolipid. Kalsium juga berinterkorelasi dengan vitamin D, dalam bentuk vitamin D 3. Beberapa vitamin lainnya seperti niacin, vitamin B 1dan vitamin B6 berinteraksi juga dengan unsur P. Fe dan Se
berinteraksi dengan PUFA, sedangkan Se juga berinteraksi dengan vitamin E.
Umumnya defisiensi mineral baik makro maupun mikro akan menyebabkan pertumbuhan
menurun, namun ada beberapa ciri yang bisa menunjukkan defisiensi unsur yang spesifik. Sebagai
contoh defisiensi Ca akan menyebabkan terhambatnya pertumbuhan tulang dan ukuran tulang yang
tidak sempurna.
D . Level Mineral dalam Pakan Ikan dan Udang
Rekomendasi jumlah mineral untuk ikan dan udang berbeda, bahkan untuk setiap spesies udangpun
bisa berbeda. Rekomendasi mineral makro biasanya dinyatakan dalam g/100g pakan (%), sedangkan
kebutuhan mineral mikro dinyatakan dalam mg/kg pakan atau ppm. Satuan ppm (part per million)
adalah untuk menyatakan kandungan suatu bahan yang jumlahnya satu per satu juta total keseluruhan
bahan (Schofield, 2005). Kestaraan satuan tersebut sama dengan mg/kg untuk bahan padat didalam
bahan padat, dan bisa sama dengan mg/L air untuk dosis obat berbentuk tepung yang dimasukan
kedalam air.
Sama halnya dengan ikan, udang juga memerlukan mineral dalam makanannya. Penelitian
kebutuhan mineral pada berbagai jenis udang sudah dilakukan sejak tahun 1970-an. Kebutuhan
kalsium berkisar antara 1,0-2,0% untuk semua spesies udang, sedangkan fosfor berkisar antara 0,752%. Hubungan antara kebutuhan kalsium dan fosfor pada udang dinyatakan dengan rasio Ca:P yaitu
berkisar antara 0.5:1 hingga 1:1. Kebutuhan mineral - mineral makro tersebut dan beberapa mineral
mikro lainnya seperti Cu, Zn, dan Se dipengaruhi oleh kelimpahan di dalam tambak pemeliharaan.

Prosiding Forum Inovasi Teknologi Akuakultur 2011

990

Tabel 2. Kebutuhan mineral beberapa jenis ikan1)


Mineral
Ca (%)
P (%)
Mg (%)
Cu (mg/kg)
Fe (mg/kg)
Mn (mg/kg)
Zn (mg/kg)
Co mg/kg)

J enis ikan
Lele

Mas

Nila

Salmon

Belut

0,45*
0,33-0,45
0.04
3

0.3
0,6-0,7
0,04-0,05

0.65
0,8-1,0
0,05-0,07
3-4

0,03-0,24
0,7-0,8

0.27
0.58
0.04

20

150
13
15-30
0.1

12
10

3
170
13
15-30

1)

Watanabe et al. (1998), Bautistista & Baticodas (1988), Metailler & Bergot (1999)
* air tanpa kandungan Ca

KESIMPUL AN
Terdapat 22 jenis mineral yang dibutuhkan oleh hewan, namun hanya ada 11 unsur yang diketahui
secara pasti fungsi dan efek defisiensinya untuk ikan dan udang. Sebelas unsur tersebut terbagi
dalam unsur makro yaitu terdiri atas kalsium, fosfor, magnesium, kalium dan unsur mikro yang
terdiri atas Fe, Zn, Mn, Co, Cu, I dan Se. Unsur mikro lain yang saat ini sudah mulai diteliti fungsinya
untuk ikan dan udang adalah kromium.Sedangkan beberapa mineral yang tidak diketahui fungsinya
untuk ikan antara lain aluminium, arsenic, cadmium, mercury, nikel, silicon, tin dan vanadium. Mineral terdapat dalam air dan bahan pakan, tetapi kandungannya tidak stabil sehingga perlu ditambahkan
sumber mineral dalam bentuk premix. Umumnya defisiensi mineral makro dan mikro berakibat pada
terhambatnya pertumbuhan sampai dengan tingginya kematian. Rekomendasi level mineral dalam
pakan perlu memperhatikan interaksi antar mineral dan nutrisi lainnya
DAFTAR PUSTAKA
Anonim ,2005. Micro Ingredient for the Feed Industry. IMC AGRICO, p.1-43.
Charlton, S.J. dan Ewing, W.N. 2007. The Minerals Directory 2nd Edition, P. 1-27.
Davis, D.A. 1996. Dietary Mineral Requirement of Fish and Marine Crustacean. Review in Fisheries
Science, 4(1): 75-99.
Davis, D.A. and Lawrence, A.L. in Akiyama and Conklin, D. 1997. Minerals. Crustacean Nutrition.
Advances in World Aquaculture, 6: 150-159.
Guillaume, J., Kaushik, S., Bergot, P.and Metailer, R. 2001. Nutrition and Feeding of Fish and Crustaceans, p.169-181.
Millamena, O. M., Coloso, R.M., and Pascual, F.P. 2002. Nutrition in Tropical Aquaculture. Southeast
Asian Fisheries Development Center (SEAEDEC). Tagibauan, Iloilo, Philippines, p. 57-66
Nef, E., Rohde, H.R. and Kersten, J. 2005. Principles of Mixed Feed Production. Agrimedia GmbH.
Germany, p. 22-24
Pascual, F.P. 1989. Mineral Requirement of Penaeids. Advance in Tropical Aquaculture, 9: 309-318.
Schofield, E.K. 2005. Feed Manufacturing Technology. American Feed Industry Association, Inc. p.
644.
Schmittou, H.R., Jian, J. and Cremer, M.C. 2004. Beberapa Prinsip dan Praktek Budidaya Ikan Kolam
Sistem, 80: 20.
Takeshi, W., Shuichi, S. and Toshio, T. 1988. Available of Mineral in Fish Meal to Fish. Asian Fisheries
Science 1(1988):175-195.