Anda di halaman 1dari 34

ILEUS

OBSTRUKTIF
Disusun oleh: Priscila R Suprapto
(112013295)
Pembimbing: dr. Gunadi Petrus Sp.B KBD
Kepaniteraan Klinik Ilmu Bedah
Rumah Sakit Bayukarta
Krawang

Definisi
Ileus obstruksi merupakan penyumbatan
intestinal mekanik yang terjadi karena adanya
daya
mekanik
yang
bekerja
atau
mempengaruhi
dinding
usus
sehingga
menyebabkan
penyempitan/penyumbatan
lumen usus.

Etiologi
Penyebab terjadinya ileus obstruktif beragam jumlahnya
berdasarkan umur dan tempat terjadinya obstruksi.
Obstruksi mekanik dari lumen intestinal biasanya
disebabkan oleh tiga mekanisme:
1) Blokade intralumen (obturasi)
2) Intramural atau lesi intrinsik dari dinding usus
3) Kompresi lumen atau konstriksi akibat lesi ekstrinsik
dari intestinal

Adhesi, hernia, dan malignansi merupakan 80 %


penyebab dari kasus ileus obstruktif.

Pada anak-anak intususepsi merupakan penyebab


tersering.

Pada orang tua pikirkan kemungkinan adanya


kanker.

Metastasis dari genitourinaria, kolon, pankreas, dan


karsinoma gaster menyebabkan obstruksi lebih
sering daripada tumor primer di intestinal.

Penyebab Ileus Obstruktif

Patofisiologi

Respon usus terhadap obstruksi


Akumulasi cairan intestinal di proksimal daerah
obstruksi terjadi gangguan mekanisme absorbsi
normal kegagalan isi lumen untuk mencapai
daerah distal dari obstruksi.
Peristaltik bagian proksimal usus meningkat
menyebabkan aktivitasnya pecah. Bila obstruksi
terus berlanjut terjadi peningkatan tekanan
intraluminal bagian proksimal dari usus tidak akan
berkontraksi dengan baik dan bising usus menjadi
tidak teratur dan hilang.

Peningkatan tekanan intraluminal dan adanya


distensi gangguan vaskuler terutama stasis vena
dinding usus menjadi udem dan terjadi translokasi
bakteri ke pembuluh darah produksi toksin oleh
translokasi bakteri timbul gejala sistemik.
Efek lokal peregangan usus adalah iskemik akibat
nekrosis disertai absorpsi toksin-toksin bakteri ke
dalam rongga peritoneum dan sirkulasi sistemik.

Peningkatan volume intralumen distensi intestinal


di bagian proksimal obstruksi bermanifestasi pada
mual dan muntah.
Selanjutnya, obstruksi mekanik ini mengarah pada
peningkatan defisit cairan intravaskular yang
disebabkan oleh terjadinya muntah, akumulasi cairan
intralumen, edema intramural, dan transudasi cairan
intraperitoneal.
Koloni berlebihan dari bakteri dapat merangsang
absorbtif dan fungsi motorik dari intestinal dan
menyebabkan terjadinya translokasi bakteri dan
komplikasi sepsis.

Klasifikasi

Berdasarkan penyebabnya ileus obstruktif dibedakan


menjadi tiga kelompok (Yates, 2004) :
1) Lesi-lesi intraluminal, misalnya fekalit, benda
asing, bezoar, batu empedu.
2) Lesi-lesi intramural, misalnya malignansi atau
inflamasi.
3) Lesi-lesi ekstramural, misalnya adhesi, hernia,
volvulus atau intususepsi.

Ileus obstruktif dibagi lagi menjadi tiga jenis dasar


(Sjamsuhidajat & Jong, 2005) :
1) Ileus obstruktif sederhana, dimana obstruksi
tidak disertai dengan terjepitnya pembuluh darah.
2) Ileus obstruktif strangulasi, dimana obstruksi
yang disertai adanya penjepitan pembuluh darah
sehingga terjadi iskemia yang akan berakhir
dengan nekrosis atau gangren yang ditandai
dengan gejala umum berat yang disebabkan oleh
toksin dari jaringan gangren.
3) Ileus obstruktif jenis gelung tertutup, dimana
terjadi bila jalan masuk dan keluar suatu gelung
usus tersumbat, dimana paling sedikit terdapat
dua tempat obstruksi.

Untuk keperluan klinis dan berdasarkan letak


sumbatan, ileus obstruktif dibagi dua (Ullah et al.,
2009):
1)
Ileus obstruktif usus halus, yaitu obstruksi letak
tinggi dimana mengenai duodenum, jejunum dan
ileum
2)
Ileus obstruktif usus besar, yaitu obstruksi letak
rendah yang mengenai kolon, sigmoid dan
rectum.

Manifestasi Klinis

Terdapat 4 tanda kardinal gejala ileus obstruktif :


1) Nyeri abdomen
2) Muntah
3) Distensi
4) Kegagalan buang air besar atau gas (konstipasi)

Gejala ileus obstruktif tersebut bervariasi tergantung


kepada:
1) Lokasi obstruksi
2) Lamanya obstruksi
3) Penyebabnya
4) Ada atau tidaknya iskemia usus

Gejala utama nyeri kolik, mual-muntah dan


obstipasi.

Adanya flatus atau feses selama 6-12 jam setelah


gejala merupakan ciri khas dari obstruksi parsial.

Nyeri kram abdomen bisa merupakan gejala


penyerta, nyeri menyebar dan jarang terlokalisir,
namun sering dikeluhkan nyeri pada bagian tengah
abdomen, sekitar umbilikus atau bagian epigastrium.

Saat nyeri menetap dan terus menerus curiga


telah terjadi strangulasi dan infark.

Kegagalan untuk defekasi dan flatus merupakan


tanda yang penting untuk membedakan terjadinya
obstruksi komplit atau parsial.

Tanda awal penderita segera mengalami dehidrasi.

Massa yang teraba dapat di diagnosis banding


dengan keganasan, abses, ataupun strangulasi.

Auskultasi digunakan untuk membedakan pasien


menjadi tiga kategori : loud, high pitch dengan burst
ataupun rushes yang merupakan tanda awal
terjadinya obstruksi mekanik.

Saat bising usus tak terdengar dapat diartikan bahwa


obstruksi telah berlangsung lama, ileus paralitik atau
terjadinya infark.

Tanda-tanda terjadinya strangulasi seperi nyeri terus


menerus, demam, takikardia, dan nyeri tekan bisa
tak terdeteksi pada 10-15% pasien sehingga
menyebabkan diagnosis strangulasi menjadi sulit
untuk ditegakkan.

Pada obstruksi karena strangulasi bisa terdapat


takikardia, nyeri tekan lokal, demam, leukositosis dan
asidosis.

Diagnosis

Anamnesis
Pada ileus obstruktif usus halus kolik dirasakan di
sekitar umbilkus, sedangkan pada ileus obstruktif
usus besar kolik dirasakan di sekitar suprapubik.
Muntah pada ileus obstruktif usus halus berwarna
kehijaun dan pada ileus obstruktif usus besar onset
muntah lama.

Pemeriksaan Fisik
1) Inspeksi
Dapat ditemukan tanda-tanda generalisata
dehidrasi, yang mencakup kehilangan turgor kulit
maupun mulut dan lidah kering. Pada abdomen
harus dilihat adanya distensi, parut abdomen,
hernia dan massa abdomen. Inspeksi pada
penderita yang kurus/sedang juga dapat
ditemukan darm contour (gambaran kontur
usus) maupun darm steifung (gambaran
gerakan usus).

2)

Palpasi dan perkusi


Pada palpasi didapatkan distensi abdomen dan
perkusi tympani yang menandakan adanya
obstruksi. Palpasi bertujuan mencari adanya tanda
iritasi peritoneum apapun atau nyeri tekan, yang
mencakup defance musculair involunter atau
rebound dan pembengkakan atau massa yang
abnormal.

3)

Auskultasi
Terdengar kehadiran episodik gemerincing logam
bernada tinggi dan gelora (rush) diantara masa
tenang. Tetapi setelah beberapa hari dalam
perjalanan penyakit dan usus di atas telah
berdilatasi, maka aktivitas peristaltik (sehingga
juga bising usus) bisa tidak ada atau menurun.

Pemeriksaan Radiologi
Foto polos abdomen (foto posisi supine, posisi tegak
abdomen atau posisi dekubitus) dan posisi tegak
thoraks. Pada foto abdomen dapat ditemukan beberapa
gambaran, antara lain:
1) Distensi usus bagian proksimal obstruksi
2) Kolaps pada usus bagian distal obstruksi
3) Posisi tegak atau dekubitus: Air-fluid levels
4) Posisi supine dapat ditemukan distensi usus dan
step-ladder sign
5) String of pearls sign, gambaran beberapa kantung
gas kecil yang berderet
6) Coffee-bean sign, gambaran gelung usus yang
distensi dan terisi udara dan gelung usus yang
berbentuk U yang dibedakan dari dinding usus yang
oedem.
7) Pseudotumor Sign, gelung usus terisi oleh cairan.

Dilatasi usus

Herring Bone

Coffee Bean

Step Ladder

Penatalaksanaan

Pasien dengan obstruksi intestinal biasanya mengalami


dehidrasi dan kekurangan Natrium, Khlorida dan Kalium
yang membutuhkan penggantian cairan intravena dengan
cairan salin isotonic seperti Ringer Laktat.

Urin harus di monitor dengan pemasangan Foley Kateter.

Pemeriksaan elektrolit serial, seperti halnya hematokrit


dan leukosit, dilakukan untuk menilai kekurangan cairan.

Antibiotik spektrum luas diberikan untuk profilaksis atas


dasar temuan adanya translokasi bakteri pada ostruksi
intestinal.

Dekompresi

Pemasangan nasogastric tube bertujuan untuk


mengosongkan
lambung,
mengurangi
resiko
terjadinya aspirasi pulmonal karena muntah dan
meminimalkan terjadinya distensi abdomen.

Pasien dengan obstruksi parsial dapat diterapi secara


konservatif dengan resusitasi dan dekompresi.

Penyembuhan gejala tanpa terapi operatif dilaporkan


sebesar 60 85% pada obstruksi parsial.

Terapi Operatif
Pada umumnya dikenal 4 macam (cara) tindakan bedah
yang dikerjakan pada obstruksi ileus.
1) Koreksi sederhana (simple correction).Tindakan bedah
sederhana untuk membebaskan usus dari jepitan,
misalnya pada hernia incarcerata non-strangulasi,
jepitan oleh streng/adhesi atau pada volvulus ringan.
2) Tindakan operatif by-pass.Membuat saluran usus baru
yang "melewati" bagian usus yang tersumbat, misalnya
pada
tumor
intralurninal,
Crohn
disease,
dan
sebagainya.
3) Membuat fistula entero-cutaneus pada bagian proximal
dari tempat obstruksi, misalnya pada Ca stadium lanjut.
4) Melakukan reseksi usus yang tersumbat dan membuat
anastomosis ujung-ujung usus untuk mempertahankan
kontinuitas lumen usus, misalnya pada carcinomacolon,
invaginasi strangulata, dan sebagainya.

TERIMA KASIH