Anda di halaman 1dari 31

Vitamin merupakan nutrien organic yang dibutuhkan dalam jumlah kecil untuk

berbagai fungsi biokimiawi dan yang umumnya tidak disintesis oleh tubuh sehingga
harus dipasok dari makanan. Vitamin yang pertama kali ditemukan adalah vitamin A
dan B , dan ternyata masing-masing larut dalam lemak dan larut dalam
air.Kemudian ditemukan lagi vitamin-vitamin yang lain yang juga bersifat larut
dalam lemak atau larut dalam air. Sifat larut dalam lemak atau larut dalam air
dipakai sebagai dasar klassifikasi vitamin. Vitamin yang larut dalam air ,seluruhnya
diberi symbol anggota B kompleks ( kecuali vitamin C ) dan vitamin larut dalam
lemak yang baru ditemukan diberi symbol menurut abjad (vitamin A,D,E,K ).Vitamin
yang larut dalam air tidak pernah dalam keadaan toksisitas di didalam tubuh karena
kelebihan vitamin ini akan dikeluarkan melalui urin.
Vitamin yang larut dalam lemak merupakan molekul hidrofobik apolar, yang semua
nya adalah derivat isoprene. Molekul-molekul ini tidak disintesis tubuh dalam jumlah
yang memadai sehingga harus disuplai dari makanan. Pemasokan vitamin yang
larut dalam lemak ini memerlukan absorbsi lemak yang normal agar vitamin
tersebut dapat diabsorbsi secara efisien. Begitu diabsorbsi molekul vitamin tersebut
harus diangkut dalam darah yaitu oleh lipoprotein atau protein pengikat yang
spesifik.
Bentuk aktif vitamin C adalah asam askorbat itu sendiri dimana fungsinya sebagai
donor ekuivalen pereduksi dalam sejumlah reaksi penting tertentu. Asam askorbat
dioksidasi menjadi asam dehidroaskorbat ,yang dengan sendirinya dapat bertindak
sebagai sumber vitamin tersebut. Asam askorbat merupakan zat pereduksi dengan
potensial hydrogen sebesar +0,008 V, sehingga membuatnya mampu untuk
mereduksi senyawa-senyawa seperti oksigen molekuler, nitrat, dan sitokrom a serta
c. Defisiensi atau kekurangan asam askorbat menyebabkan penyakit skorbut,
penyakit ini berhubungan dengan gangguan sintesis kolagen yang diperlihatkan
dalam bentuk perdarahan subkutan serta perdarahan lainnya , kelemahan otot, gusi
yang bengkak dan menjadi lunak dan tanggalnya gigi, penyakit ini dapat
disembuhkan dengan memakan buah dan sayur-sayuran yang segar.

1.1.

Latar Belakang

Sebelum abad ke dua puluh, karbohidrat, lemak, protein, dan beberapa


zat mineral telah dianggap sebagai zat-zat makanan yang dibutuhkan untuk fungsi
tubuh normal. Akan tetapi berabad-abad sebelumnya, berbagai pengamatan menduga
bahwa senyawa-senyawa organik lainnya adalah esensial untuk menjaga kesehatan.
Saat ini telah diketahui selama 300 tahun, bahwa dengan makan buah-buahan dan
sayur-sayuran segar ternyata berguna untuk pencegahan atau
pengobatan scorbut (sariawan). Juga telah diakui, bahwa rakhitis dapat disembuhkan
dengan minum minyak ikan. Pengamatan-pengamatan tersebut menimbulkan dugaan,

bahwa ada senyawa-senyawa zat makanan lain diperlukan untuk menjaga kesehatan di
samping karbohidrat, lemak atau protein.
Pada tahun 1912, Funk, seorang sarjana biokimia bangsa Polandia yang bekerja di
London untuk pertama kali memperkenalkan istilahvitamin (amine yang vital) yang
kemudian terkenal dengan nama vitamin (dari bahasa Latin, vital yang berarti hidup),
untuk menandakan kelompok dari senyawa-senyawa organik tersebut.
1.2.
Tujuan
Makalah ini bertujuan agar mahasiswa dapat :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Memahami tentang definisi vitamin larut lemak.


Mengetahui jenis, sumber, fungsi dan kebutuhan vitamin larut lemak.
Mengetahui absorbsi dan ekskresi vitamin larut lemak.
Mengetahui akibat dari kelebihan dan kekurangan vitamin larut lemak.
Memahami Definisi Vitamin larut air.
Mengetahui jenis, sumber, fungsi dan kebutuhan vitamin larut dalam
air.

7.
8.

Mengetahui absorbsi dan ekskresi vitamin larut air.


Mengetahui akibat dari kelebihan dan kekurangan vitamin larut air.

1.3.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
II.

Rumusan Masalah

Apa yang dimaksud dengan vitamin larut lemak ?


Apa saja jenis, sumber, fungsi dan kebutuhan vitamin larut lemak ?
Apa yang dimaksud dengan absorpsi dan ekskresi vitamin larut
lemak ?
Apakah akibat dari kelebihan dan kekurangan vitamin larut lemak ?
Apa yang dimaksud dengan vitamin larut air ?
Apa sajakah jenis, sumber, fungsi dan kebutuhan vitamin larut dalam
air ?
Apa yang dimaksud dengan absorpsi dan ekskresi vitamin larut air ?
Apakah akibat dari kelebihan dan kekurangan vitamin larut air ?
TINJAUAN PUSTAKA

2.1.

Sejarah Vitamin

Pengertian Vitamin adalah sekelompok senyawa organik amina yang


sangat penting dan sangat dibutuhkan oleh tubuh, karena vitamin berfungsi untuk
membantu pengaturan atau proses kegiatan tubuh (vitamin mempunyai peran sangat
penting dalam metabolisme tubuh), karena vitamin tidak dapat dihasilkan oleh tubuh.
Jika manusia, hewan dan ataupun makhluk hidup lain tanpa asupan vitamin tidak akan
dapat melakukan aktivitas hidup dengan baik, kekurangan vitamin menyebabkan tubuh
kita mudah terkena penyakit.
Nama Vitamin sendiri berasal dari gabungan kata bahasa Latin yaitu vita yang artinya
hidup dan amina (amine) yang mengacu pada suatu gugus organik yang memiliki
atom nitrogen (N), karena pada awalnya vitamin dianggap demikian. Kelak diketahui
bahwa banyak vitamin yang sama sekali tidak memiliki atom N. Dipandang dari sisi
enzimologi (ilmu tentang enzim), vitamin adalah kofaktor dalam reaksi kimia yang
dikatalisasi oleh enzim. Pada dasarnya, senyawa vitamin ini digunakan tubuh untuk
dapat bertumbuh dan berkembang secara normal.
Vitamin merupakan suatu senyawa yang telah lama dikenal oleh peradaban manusia.
Sudah sejak ribuan tahun lalu, manusia telah mengenal vitamin sebagai salah satu
senyawa yang dapat memberikan efek kesehatan bagi tubuh.
Untuk bisa mendapatkan asupan vitamin tidaklah sulit, bisa dikatakan kebanyakan
makanan yang kita konsumsi setiap hari telah mengandung vitamin hanya saja mungkin
kita tidak menyadari besar kecilnya kandungan vitamin yang kita konsumsi setiap hari.
Seiring dengan berkembangnya zaman dan ilmu pengetahuan, berbagai hal dan
penelusuran lebih mendalam mengenai vitamin pun turut diperbaharui. Garis besar
sejarah vitamin dapat dibagi menjadi 5 era penting. Disetiap era tersebut, terjadi suatu
kemajuan besar terhadap senyawa vitamin ini yang diakibatkan oleh adanya kemajuan
teknologi dan ilmu pengetahuan.
Era penyembuhan empiris
Era pertama dimulai pada sekitar tahun 1500-1570 sebelum masehi. Pada masa itu,
banyak ahli pengobatan dari berbagai bangsa, seperti Mesir, Cina, Jepang, Yunani,

Roma, Persia, dan Arab, telah menggunakan ekstrak senyawa (diduga vitamin) dari hati
yang kemudian digunakan untuk menyembuhkan penyakit kerabunan pada malam hari.
Penyakit ini kemudian diketahui disebabkan oleh defisiensi vitamin A. Walau pada masa
tersebut ekstrak hati tersebut banyak digunakan, para ahli pengobatan masih belum
dapat mengidentifikasi senyawa yang dapat menyembuhkan penyakit kerabunan
tersebut. Oleh karena itu, era ini dikenal dengan era penyembuhan empiris
(berdasarkan pengalaman).
Christiaan Eijkman, salah satu tokoh penting dalam sejarah penemuan vitamin.
Era karakterisasi defisiensi
Perkembangan besar berikutnya mengenai vitamin baru kembali muncul pada tahun
1890-an. Penemuan ini diprakarsai oleh Lunin dan Christiaan Eijkman yang melakukan
penelitian mengenai penyakit defisiensi pada hewan. Penemuan inilah yang kemudian
memulai era kedua dari lima garis besar sejarah vitamin di dunia. Penelitian mereka
terfokus pada pengamatan penyakit akibat defisiensi senyawa tertentu. Beberapa tahun
berselang, ilmuwan Sir Frederick G. Hopkins yang sedang melakukan analisis penyakit
beri-beri pada hewan menemukan bahwa hal ini disebabkan oleh kekurangan suatu
senyawa faktor pertumbuhan (growth factor). Pada tahun 1911, seorang ilmuwan
kelahiran Amerika bernama Dr. Casimir Funk berhasil mengisolasi suatu senyawa yang
telah dibuktikan dapat mencegah peradangan saraf (neuritis) untuk pertama kalinya. Dr.
Casimir juga berhasil mengisolasi senyawa aktif dari sekam beras yang diyakini
memiliki aktivitas antiberi-beri pada tahun berikutnya. Pada saat itulah (dan untuk
pertama kalinya), Dr Funk mempublikasikan senyawa aktif hasil temuannya tersebut
dengan istilah vitamine (vital dan amines). Pemberian nama amines pada senyawa
vitamin ini karena diduga semua jenis senyawa aktif ini memiliki gugus amina (amine).
Hal tersebut kemudian segera disanggah dan diganti menjadi vitamin (dengan
penghilangan akhiran huruf e) pada tahun 1920. vitamin tidak dapat diproduksi
mamusia
Masa keemasan
Era ketiga sejarah vitamin terjadi beberapa dekade berikutnya. Pada masa tersebut,
terjadi banyak penemuan besar mengenai vitamin itu sendiri, meliputi penemuan
vitamin jenis baru, metode penapisan yang diperbahurui, penggambaran struktur

lengkap vitamin, dan sntesis vitamin B12. Oleh karena hal tersebutlah, era ketiga dari
garis besar sejarah vitamin ini dikenal dengan masa keemasan (golden age). Banyak
penelti yang mendapatkan hadiah nobel atas penemuannya di bidang vitamin ini. Sir
Walter N. Hawort mendapatkan nobel di bidang kimia atas penemuan vitamin C pada
tahun 1937. Hadiah nobel lainnya diperoleh oleh Carl Peter Henrik Dam di bidang
Fisiologi Pengobatan pada tahun 1943 atas penemuannya terhadap vitamin K. Fritz A
Litmann juga turut memenangkan nobel atas dedikasinya dibidang penelitian mengenai
penemuan koenzim A dan perannya di dalam metabolisme tubuh.
Tadeus Reichstein, seorang ahli kimia yang berhasil memproduksi vitamin C secara
massal untuk pertama kalinya dalam sejarah.
Era karakterisasi fungsi dan produksi
Era keempat ditandai dengan banyaknya penemuan mengenai fungsi biokimia vitamin
di dalam tubuh, perannya dalam makanan yang kita konsumsi sehari-hari, dan produksi
komersial vitamin untuk pertama kalinya dalam sejarah. Pada tahun 1930-an, para
peneliti menemukan bahwa vitamin B2 merupakan bagian dari enzim kuning. Vitamin
B2 ini sendiri diperoleh dari ekstrak ragi. Melalui penelitian ini juga, kelompok vitamin B
diketahui berperan sebagai koenzim yang penting di dalam tubuh manusia. Produksi
masal vitamin untuk pertama kalinya juga terjadi pada era ini. Dikomersilkan pertama
kali oleh Tadeus Reichstein pada tahun 1933, vitamin C telah dijual kepada masyarakat
luas dengan harga yang relatif murah sehingga terjangkau bagi khalayak ramai. Vitamin
C yang juga dikenal dengan istilah asam askorbat ini kemudian banyak dipakai sebagai
suplemen makanan, penelitian, dan gizi tambahan bagi hewan ternak. Atas hasil
penemuan ini, Tadeus Reichstein mendapatkan nobel di bidang Fisiologi Pengobatan
pada tahun 1950.
Era penemuan nilai kesehatan vitamin
Hanya dalam waktu 1 dekade berikutnya setelah era vitamin keempat, perkembangan
ilmu pengetahuan telah membawa vitamin keera berikutnya, yaitu era kelima dimana
banyak ditemukan nilai kesehatan dari masing-masing jenis vitamin dan penemuan
baru mengenai fungsi biokimia vitamin bagi tubuh. Masa ini dimulai pada tahun 1955
ketika Rudolf Altschul menemukan bahwa niasin (vitamin B3) dapat menurunkan kadar

kolesterol dalam darah. Peranan kesehatan ini terlepas dari efek defisiensi vitamin B3
itu sendiri maupun perannya sebagai koenzim dalam metabolisme tubuh.
2.2.

Klasifikasi Vitamin

Secara klasik, berdasarkan kelarutannya, vitamin digolongkan dalam dua


kelompok, yaitu vitamin yang larut dalam lemak dan vitamin yang larut dalam air,
karena yang pertama dapat diekstraksi dari bahan makanan dengan pelarut lemak dan
yang terakhir dengan air. Beberapa vitamin larut lemak adalah vitamin A, D, E, dan K,
yang hanya mengandung unsur- unsur karbon, hidrogen dan oksigen. Vitamin yang
larut dalam air terdiri atas asam askorbat (C) dan B-komplek (B1 sampai B12), yang
selain mengandung unsur-unsur karbon, hidrogen, oksigen, juga mengandung nitrogen,
sulfur atau kobalt.
Vitamin yang larut dalam lemak, yaitu A, D, E dan K, memiliki sifat-sifat umum, antara
lain :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Tidak terdapat di semua jaringan;


Terdiri dari unsur-unsur karbon, hidrogen dan oksigen;
Memiliki bentuk prekusor atau provitamin;
Menyusun struktur jaringan tubuh;
Diserap bersama lemak;
Disimpan bersama lemak dalam tubuh;
Diekskresi melalui feses;
Kurang stabil jika dibandingkan vitamin B, dapat dipengaruhi oleh
cahaya, oksidasi dan lain sebagainya.

Vitamin yang larut dalam air memiliki sifat-sifat umum, antara lain :
(1)

Tidak hanya tersusun atas unsur-unsur karbon, hidrogen dan oksigen;

(2)

Tidak memiliki provitamin;

(3)

Terdapat di semua jaringan;

(4)

Sebagai prekusor enzim-enzim;

(5)

Diserap dengan proses difusi biasa;

(6)

Tidak disimpan secara khusus dalam tubuh;

(7)

Diekskresi melalui urin;

(8)

Relatif lebih stabil, namun pada temperatur berlebihan menimbulkan kelabilan.

2.3.

Fungsi Vitamin Secara Umum

Beberapa vitamin berfungsi langsung dalam metabolisme penghasilan energi


Jalur metabolisme yang menghasilkan energi untuk mendukung kerja sel diantaranya
adalah glikolisis, siklus kreb, transport elektron, dan oksidasi.
2.4.

Cara kerja vitamin

Vitamin larut lemak dan vitamin larut air memiliki cara kerja berbeda, seperti berikut:
1.

Vitamin yang larut dalam lemak : Vitamin yang larut dalam lemak akan
disimpan di dalam jaringan adiposa (lemak) dan di dalam hati. Vitamin ini
kemudian akan dikeluarkan dan diedarkan ke seluruh tubuh saat
dibutuhkan. Beberapa jenis vitamin hanya dapat disimpan beberapa hari
saja di dalam tubuh, sedangkan jenis vitamin lain dapat bertahan hingga 6
bulan lamanya di dalam tubuh.
2.
Vitamin yang larut dalam air : Berbeda dengan vitamin yang larut
dalam lemak, jenis vitamin larut dalam air hanya dapat disimpan dalam
jumlah sedikit dan biasanya akan segera hilang bersama aliran makanan.
Saat suatu bahan pangan dicerna oleh tubuh, vitamin yang terlepas akan
masuk ke dalam aliran darah dan beredar ke seluruh bagian tubuh.
Apabila tidak dibutuhkan, vitamin ini akan segera dibuang tubuh bersama
urin. Oleh karena hal inilah, tubuh membutuhkan asupan vitamin larut air
secara terus-menerus.
2.5.

Metabolisme Vitamin Secara Umum

Vitamin yang larut lemak atau minyak, jika berlebihan tidak dikeluarkan
oleh, tubuh, melainkan akan disimpan. Sebaliknya, vitamin yang larut dalam air, yaitu
vitamin B kompleks dan C, tidak disimpan, melainkan akan dikeluarkan oleh sistem
pembuangan tubuh. Akibatnya, selalu dibutuhkan asupan vitamin tersebut setiap hari.
Vitamin yang alami bisa didapat dari sayur, buah dan produk hewani. Seringkali vitamin

yang terkandung dalam makanan atau minuman tidak berada dalam keadaan bebas,
melainkan terikat, baik secara fisik maupun kimia. Proses pencernaan makanan, baik di
dalam lambung maupun usus halus akan membantu melepaskan vitamin dari makanan
agar bisa diserap oleh usus. Vitamin larut lemak diserap di dalam usus bersama
dengan lemak atau minyak yang dikonsumsi.
Vitamin diserap oleh usus dengan proses dan mekanisme yang berbeda. Terdapat
perbedaan prinsip proses penyerapan antara vitamin larut lemak dengan vitamin larut
air. Vitamin larut lemak akan diserap secara difusi pasif dan kemudian di dalam dinding
usus digabungkan dengan kilomikron (lipoprotein) yang kemudian diserap sistem
limfatik, baru kemudian bergabung dengan saluran darah untuk ditransportasikan ke
hati. Sedangkan vitamin larut air langsung diserap melalui saluran darah dan
ditransportasikan ke hati. Proses dan mekanisme penyerapan vitamin dalam usus halus
diperlihatkan pada Tabel 1.
Tabel 1. Proses dan Mekanisme Penyerapan Vitamin dalam Usus Halus
Jenis Vitamin

Mekanisme Penyerapan

Vitamin A, D, E, K dan
beta-karoten

Dari micelle, secara difusi pasif,


digabungkan dengan kilomikron,
diserap melalui saluran limfatik.

Vitamin C

Difusi pasif (lambat) atau


menggunakan Na+(cepat)

Vitamin B1 (Tiamin)

Difusi pasif (apabila jumlahnya dalam


lumen usus sedikit), dengan bantuan
Na+ (bila jumlahnya dalam lumen usus
banyak).

Vitamin B2 (Riboflavin)

Difusi pasif

Niasin

Difusi pasif (menggunakan Na+)

Vitamin B6 (Piridoksin)

Difusi pasif

Folasin (Asam Folat)

Menggunakan Na+

Vitamin B12

Menggunakan bantuan faktor intrinsik


(IF) dari lambung.

Sumber : Muchtadi, 2009

III.

PEMBAHASAN

3.1.

Vitamin Larut Lemak

Fat Soluble Vitamin adalah vitamin yang larut dam lemak. Vitamin larut lemak ini
memiliki fungsi yang sangat penting dalam menjaga agar tubuh kita tetap sehat,
termasuk fungsi diferensiasi sel, fungsi sistem kekebalan tubuh dan juga berfungsi
untuk membantu menjaga tulang agar tetap kuat dan tidak keropos. Vitamin larut lemak
ini dapat disimpan oleh tubuh dalam hati dan kulit. Kelebihan vitamin yang larut dalam
lemak ini dapat berbahaya dan menyebabkan kerusakan sel tubuh kerana itu kita
disarankan untuk berhati-hati dengan suplemen diet yang terlalu banyak mengandung
Bitamin yang larut dalam lemak (Fat- soluble Vitamins).
Sebelum ditemukan vitamin yang larut dalam lemak, orang menduga bahwa lemak
hanya berfungsi sebagai sumber energi. Vitamin yang larut dalam lemak biasanya
ditimbun dalam tubuh dan karenanya tidak perlu disediakan setiap hari dalam makanan.
Absorpsi vitamin larut lemak yang normal ditentukan oleh absorpsi normal dari lemak.
Gangguan absorpsi lemak yang disebabkan oleh gangguan sistim empedu akan
menyababkan gangguan absorpsi vitaminvitamin yang larut lemak. Setelah diabsorpsi,
vitamin ini dibawa ke hepar dalam bentuk kilomikron dan disimpan di hepar atau dalam
jaringan lemak. Di dalam darah, vitamin larut lemak diangkut oleh lipoprotein atau
protein pengikat spesifik (Spesific Binding Protein), dan karena tidal larut dalam air,
maka ekskresinya lewat empedu, yang dikeluarkan bersama-sama feses.

Sifat umum vitamin larut lemak :

Berhubungan dengan absorpsi dan transport dari lipid


Absorpsi vitamin
terlarut dengan misel (untuk pembentukan
misel dibutuhkan garam empedu dan getah dari pankreas).
Transportasi ke hati oleh kilomikron melalui pembuluh darah limfe.

Penyimpanan vitamin A,D, dan Kterutama di hatidan vitamin E pada


jaringan adiposa.
Umumnya tidak diekskresikan ke urin tetapi ke feses.

3.2.
A.

Jenis, Sumber, Fungsi, dan Kebutuhan Vitamin Larut Lemak


Vitamin A (RETINOL)

Kita butuh beragam vitamin salah satunya adalah vitamin A. Vitamin A adalah salah
satu dari berbagai vitamin yang dibutuhkan oleh tubuh kita. Vitamin A, yang juga dikenal
dengan nama retinol, merupakan vitamin yang berperan dalam pembentukkan indra
penglihatan yang baik, terutama di malam hari, dan sebagai salah satu komponen
penyusun pigmen mata di retina. Selain itu, vitamin ini juga berperan penting dalam
menjaga kesehatan kulit dan imunitas tubuh. Vitamin ini bersifat mudah rusak oleh
paparan panas, cahaya matahari, dan udara.Vitamin A penting untuk penglihatan
normal, pertumbuhan yang memadai, fungsi sistem kekebalan tubuh dan untuk
pembelahan sel dan diferensiasi.
Terdapat beberapa senyawa yang digolongkan ke dalam kelompok vitamin A, antara
lain:

retinol,
retinil palmitat,
retinil asetat.

Akan tetapi, istilah vitamin A seringkali merujuk pada senyawa retinol dibandingkan
dengan senyawa lain karena senyawa inilah yang paling banyak berperan aktif di dalam
tubuh. Vitamin A atau retinol dipercaya mempunyai dampak positif meningkatkan
pertumbuhan dan imunitas.
Fungsi dari vitamin A adalah : menjaga lapisan mukosa dalam tubuh, menjaga
penglihatan, dan mencegah hingga memulihkan penyakit rabun.
Sumber Vitamin A

Vitamin A banyak dijumpai :

sayuran hijau tua, seperti : kangkung, bayam dan katuk


buah-buahan: buah apel, buah pisang, buah pepaya, buah kesemek,

buah strawberry, cabai merah


biji-bijian, seperti: pada kacang merah dan kacang ercis
umbi-umbian: wortel, terong, labu kuning, semanggi, daun genjer,

kacang panjang, rumput laut


sumber hewani: minyak ikan, susu, keju, hati, dan telur.

Manfaat vitamin A
Beberapa manfaat vitamin A adalah:

Membantu meningkatkan penglihatan dimalam hari


Mencegah kerontokan
Membantu mengusir jerawat
Menghambat pertumbuhan virus
Menambah stamina
Menghambat pertumbuhan tumor/kanker
Membantu mencegah stroke

B. Vitamin D
Kita butuh beragam vitamin salah satunya adalah vitamin D. Menurut Wikipedia,
ensiklopedia bebas, Vitamin D adalah grup vitamin yang larut dalam lemak
prohomon. Vitamin D dikenal juga dengan nama klasiferol. Penamaan ini
berdasarkan International Union of Pure and Applied Chemist (IUPAC). Di dalam
tubuh, vitamin ini banyak berperan dalam pembentukkan struktur tulang dan gigi yang
baik. Vitamin D dibutuhkan untuk menyerap dan memanfaatkan kalsium, yang menjaga
tulang dan gigi yang kuat. Vitamin D tidak ditemukan dalam banyak makanan kecuali
mereka telah difortifikasi. Biasanya, tubuh kita menghasilkan vitamin D saat kulit kita
terkena sinar matahari.
Bentuk vitamin D
Terdapat dua bentuk aktif dari vitamin ini, yaitu:

Vitamin D2 (ergokalsiferol) ini berasal dari turunan


senyawakolesterol yang banyak ditemukan pada ragi dan tanaman.
Vitamin D3 (kolekalsiferol) sendiri berasal dari turunan senyawa 7dehidrokolesterol. Golongan vitamin inilah yang paling banyak ditemukan

pada kulit manusia. Pada ginjal, vitamin D dikonversi menjadi bentuk aktif
yang disebut 1,25 dihydroxycholecalciferol.

Sumber vitamin D
Sumber vitamin D yang paling utama dapat diperoleh dari sinar matahari dan dari
berbagai makanan berikut ini:

Sayuran hijau
Jeruk
Strawberry
Tomat yang juga
kaya likopen
Brokoli
Minyak ikan cod
Salmon dan mackerel
Ikan tuna dan sardines
Sereal yang telah
diperkaya dengan vitamin D
telur, termasuk kuning
telurnya
Margarin yang telah
diperkaya dengan vitamin

Manfaat vitamin D
Beberapa manfaat vitamin D dapat disebutkan sebagai berikut:

Meningkatkan kekebalan tubuh


Mencegah flu
Memperkuat tulang dan gigi
Memperkecil risiko penyakit jantung
Menurunkan risiko kanker payudara pada perempuan.
Menurunkan risiko kanker kolon dan prostat
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa vitamin D mungkin memiliki
fungsi protektif terhadap multiple sklerosis dan penyakit autoimun lainnya.

Dosis vitamin D
Dosis aman mengkonsumsi vitamin D adalah:

usia 14-50 tahun , 5 microgram atau 200 internasional unit (IU) per
hari.
usia 51 -70 tahun, 10 microgram atau 400 IU per hari.

usia 71 tahun keatas, 15 microgram (600 IU).

C.

Vitamin E

Kita butuh beragam vitamin salah satunya adalah vitamin E. Menurut


Wikipedia,ensiklopedia bebas, Vitamin E adalah nama umum untuk dua kelas
molekul (tocoperol dan tocotrienol) yang memiliki aktivitas vitamin E dalam nutrisi.
Vitamin E bukan nama untuk setiap satuan bahan kimia spesifik namun, untuk setiap
campuran yang terjadi di alam yang menyediakan fungsi vitamin E dalam
nutrisi. Vitamin E penting sebagai antioksidan yang melindungi sel-sel tubuh dari
kerusakan radikal bebas. Ini ditemukan dalam kacang-kacangan, biji-bijian, minyak
sayur, sereal, dan sayuran berdaun hijau.
Sumber vitamin E

Sayur-sayuran, terutama
kecambah
Minyak gandum
Almond
Biji bunga matahari
Minyak bunga matahari
Kacang tanah dan
mentega kacang
Minyak jagung
Bayam
Brokoli
Minyak kedelai
Kiwi
Mangga
Susu
Mentega
Telur
Alfafa
Selada
Asparagus
Buncis
Ubi jalar

Manfaat vitamin E
Menurut dr Pericone yang membuat kita menua adalah peradangan atau inflamasi, hal
ini karena banyak serangan radikal bebas tetapi kurang perlawanan

dengan antioksidan. Nach, Vitamin E pada dasarnya berperan sebagai pendukung


antioksidan. Antioksidan berperan penting untuk membantu tubuh melawan kerusakan
akibat radikal bebas. Sebagai bonusnya penuaan dini melangkah pergi.
Karena setiap harinya, kita terpapar oleh berbagai radikal bebas, mulai dari polutan,
asap rokok serta racun-racun lain yang seiring waktu akan membahayakan bagi
kesehatan, maka meningkatkan konsumsi makanan yang mengandung antioksidan
sangat dibutuhkan agar kecantikan kita terjaga dan tentu saja kesehatan tubuh kita.
Selain untuk kecantikan, masih banyak lagi manfaat lain dari vitamin E seperti:

memerangi kanker atau meminimalkan risiko kanker


mencegah serangan jantung
membantu menyehatkan sistem kekebalan tubuh
membantu proses perbaikan DNA
mencegah perkembangan penyakit jantung
membatasi jumlah oksidasi kolesterol jahat LDL (low-density
lipoprotein) dalam darah
membantu mencegah pengentalan darah
meningkatkan daya tahan tubuh
membantu mengatasi stress
meningkatkan kesuburan
menjaga, meningkatkan elastisitas dan kelembapan kulit
mencegah proses penuaan dini
melindungi kulit dari kerusakan akibat radiasi sinar ultraviolet
mempercepat proses penyembuhan luka
melindungi sel darah merah
melindungi dari akibat kelebihan vitamin A
melindungi vitamin A dari kerusakan

Mungkin karena banyaknya manfaat dari vitamin ini yang mendukung harga suplemen
vitamin E relatif lebih mahal dibandingkan dengan suplemen vitamin yang lain.
Dosis vitamin E

Secara umum (usia 14 tahun ke atas) minimal mendapatkan asupan


15 miligram atau 22.5 internasional unit (IU) per hari

Tidak lebih dari 1.000 miligram (1.500 IU) per hari. Sedangkan bila

digunakan sebagai antioksidan, maka seorang perempuan membutuhkan


sedikitnya 120 IU
Untuk keuntungan maksimal vitamin E, diperlukan 100 sampai 400 IU
setiap hari untuk mengurangi risiko penyakit kronis. Sedangkan dalam
bahan makanan yang kita konsumsi setiap harinya diperkirakan
mengandung 25 IU vitamin E.

D.

Vitamin K

Kita butuh beragam vitamin salah satunya adalah vitamin K. Menurut


Wikipedia, ensiklopedia bebas, Vitamin K (K dari Koagulations-Vitamin dalam Bahasa
Jerman dan Bahasa Denmark) merujuk pada sekelompok vitamin lipofilik dan hidrofobik
yang dibutuhkan untuk modifikasi pasca translasi dari berbagai macam protein, seperti
dalam proses pembekuan darah. Secara kimia vitamin ini adalah turunan 2-metil-1,4naftokuinona. Vitamin K bersifat tahan panas, tetapi akan segera rusak apabila terpapar
senyawa asam, basa, dan cahaya matahari.
Vitamin K adalah
penting untuk pembekuan darah normal dan dapat membantu menjaga tulang agar
tetap kuat seiring dengan bertambahnya usia kita. Vitamin K banyak ditemukan pada
sayuran berdaun hijau, kubis, kembang kol, brokoli, dan kacang kedelai.
Bentuk vitamin K
Tidak ada toksisitas yang ditemukan terkait dengan dosis tinggi:

phylloquinone (vitamin K1) yaitu jenis yang dihasilkan oleh tumbuhan


menaquinone (vitamin K2) jenis yang dihasilkan dari bakteri baik
dalam sistem pencernaan

menadione (vitamin K3) merupakan vitamin buatan bagi

mereka yang tidak mampu menyerapnya dari makanan


Sumber vitamin K

Sayuran hijau: asparagus, brokoli, kale, sawi, bayam, kangkung, katuk

dan kubis
Minuman sehat: seperti susu sapi, susu kedelai, teh hijau, wedang
kacang hijau

Makanan probiotik yang memiliki kandungan bakteri sehat aktif:

yoghurt
Manfaat vitamin K
Selain sebagai vitamin peningkat kesuburan, dan membantu pembekuan darah, vitamin
K juga mempunyai beberapa manfaat lain seperti:

membantu penyerapan kalsium dari makanan, sehingga membantu

pembentukan dan menjaga kesehatan tulang


mampu mencegah kehilangan darah yang parah akibat cedera
dapat mengurangi risiko resistensi insulin sehingga membantu

melawan diabetes (vitamin K1)


membantu metabolosme di dalam tubuh terkait dengan resistensi

senyawa insulin
dapat menekan proses pendarahan di hati yang seringkali muncul

akibat pemakaian senyawa aspirin atau antibiotik secara berlebihan


dapat memperlambat proses pembentukan sel kanker di hati dan paru-

paru
dapat meningkatkan kepadatan tulang sehingga terbentuk struktur

rangka tubuh yang kuat menurunkan risiko terkena osteoporosis pada


perempuan

berperan dalam penyerapan mineral untuk membentuk stuktur

tulang yang kuat


Dosis vitamin K
Kebutuhan seseorang akan vitamin K memang berbeda-beda, menurut standar RDA
(Recommended Dietary Allowance), vitamin K yang dibutuhkan seseorang itu
bergantung pada bobot tubuhnya. Untuk dewasa, paling tidak dibutuhkan 1 mikrogram
setiap hari per kg berat badan. Secara umum dosis konsumsi vitamin K adalah:

Anak-anak: (4-6 tahun) 20ug

Anak-anak: (7-14 tahun) 30ug

Dewasa: (15-18 tahun) Pria (65ug), Wanita (55ug)

Dewasa: (19-24 tahun) Pria (70ug), Wanita (60ug)

Dewasa: (25-50 tahun) Pria (80ug), Wanita (65ug)

Dewasa: (50 + tahun) Pria (80ug), Wanita (65ug)


Sedangkan asupan tinggi vitamin K tidak dianjurkan untuk orang yang memakai obat
antikoagulan seperti warfarin (Coumadin).

Dosis harian vitamin K yang disarankan adalah 22 IU untuk pria dan wanita di atas usia
19 termasuk wanita hamil, dan 28 IU untuk wanita menyusui.

3.3.

Absorpsi dan Ekskresi Vitamin Larut Lemak


1.

Absorpsi dan Eksresi Vitamin A

Setiap vitamin larut lemak A, D, E, dan K mempunyai peranan faali tertentu di


dalam tubuh. Sebagian besar vitamin larut lemak diabsorpsi bersama lipida lain.
Absorpsi membutuhkan cairan empedu dan pankreas. Vitamin larut lemak diangkut ke
hati melalui sistem limfe sebagai bagian dari lipoprotein, disimpan di berbagai jaringan
tubuh dan biasanya tidak dikeluarkan melalui urin. Dalam makanan alami (nabati
maupun hewani) vitamin A berbentu ester, tetapi dalam saluran pencernaan terjadi
hidrolisis ester vitamin A sehingga membentuk retinol bebas dimana dapat diabsorpsi
oleh dinding usus halus dengan proses penyerapan aktif melalui epitel dinding saluran
usus halus masuk ke dalam darah. Provitamin A diserap sambil diubah menjadi retinol
(vitamin A) di dalam sel epitel usus. Untuk menghidrolisis ester vitamin A diperlukan
enzim hidrolase dan untuk perubahan karoten menjadi vitamin A diperlukan enzim 5,5dioksi hidrolase. Enzim ini terdapat terutama di dalam sel epitel mukosa usus dan sel
hati. Untuk penyerapan karoten diperlukan adanya empedu. Setelah diabsorpsi vitamin
A dijadikan ester kembali dan ditranspor oleh kilomikron melalui duktus toracicus,
masuk ke dalam sel-sel parenkim hati. Sebagian Vitamin A disimpan di sel hati , dan
sebagian lagi dihidrolisa menjadi retinol dan dikonjugasikan dengan pRBP (plasma
Retinol Binding Protei) dan dikeluarkan lagi dari sel hati ke dalam aliran darah. Di dalam
plasma diikat lagi oleh prealbumin dan sebagai kompleks retinol-pRBP-PA vitamin A ini
ditranpor dari tempat penimbunan di hati ke sel-sel target yang memerlukan vitamin A di
seluruh jaringan tubuh.
2.

Absorpsi dan Eksresi Vitamin D

Untuk penyerapan vitamin D di perlukan adanya garam empedu. Mengenai


transport, katabolisme dan ekskresi vitamin D belum banyak diketahui, sehingga masih
memerlukan banyak penelitian lebih lanjut.
3.

Absorpsi dan Eksresi Vitamin E

Ester vitamin E yang terdapat di dalam makanan dihidrolisis oleh enzim lipase dari
sekresi pankreas vitamin E yang disebabkan diserap bersama lipoid dan asam lemak
hasil pencernaan. Vitamin E mempergunakan misel yang dibentuk oleh asam lemak
dan garam empedu sebagai carrier dalam proses penyerapan, bersama dengan vitamin
A, Vitamin D, dan Vitamin K setelah diserap, transpor lebih lanjut dalam kilomikron
melalui jalur duktus toracicus, pada mamalia. Pada sepesies burung setelah diserap
vitamin E oleh patokimron kejalur vena potra. Ekskresi vitamin E ditemukan dalam
feses maupun urine.
4.

Absorpsi dan Ekskresi Vitamin K

Penyerapan vitamin K memerlukan garam empedu dan lemak di dalam hidangan.


Garam empedu dan lemak makanan yang dicerna membentuk misel yang berfungsi
sebagai transpor carrier bagi vitamin K. Mekanisme penyerapan vitamin K terjadi
secara aktif dibagian proksimal usus halus. Penyerapan ini memerlukan energi transpor
vitamin K dari usus halus terjadi bersama dengan transpor lemak yang baru diserap,
yaitumelalui duktus toracicus. Setelah diserap, phylloquinon terutama terdapat didalam
hati dan retensi di sini berlangsung cukup lama.
3.4.

Akibat Kelebihan dan Kekurangan Vitamin Larut Lemak

a.

Akibat Kelebihan dan Kekurangan Vitamin A

1)

Akibat Kekurangan vitamin A

Kekurangan vitamin A dapat menyebabkan beberapa penyakit. Diantaranya:

Gangguan penglihatan pada mata. Jika sudah parah, maka dapat


menyebabkan kebutaan.
Dapat menyebabkan penyakit infeksi seperti campak. Infeksi tersebut
dapat menghambat penyerapan zat-zat gizi dan pada saat yang
bersamaan akan mengikis habis persediaan Vitamin A dalam tubuh.

2)

Akibat Kelebihan Vitamin A

Kelebihan vitamin A dapat menyebabkan:

Sakit kepala,
Mual,
Nyeri sendi,
Iritasi
Kerontokan rambut

b.
1.

Akibat Kelebihan dan Kekurangan Vitamin D


Akibat Kekurangan vitamin D

Kekurangan mengkonsumsi vitamin D dapat menyebabkan antara lain:

depresi
kombinasi hipertensi dan kekurangan vitamin D dapat meningkatkan

risiko penyakit jantung


pertumbuhan kaki yang tidak normal (membentuk huruf O atau X)
gigi mudah rusak
otot mudah kejang
osteomalasia, yaitu hilangnya unsur kalsium dan fosfor secara

berlebihan di dalam tulang (remaja).


osteoporosis, yaitu kerapuhan tulang akibatnya berkurangnya

kepadatan tulang.
2.
Akibat Kelebihan vitamin D
Kelebihan mengkonsumsi vitamin D dapat menyebabkan tubuh mengalami :

Batu ginjal
Hiperkalsemia (kelebihan kalsium dalam darah)
Diare
Berkurangnya berat badan
Muntah-muntah
Dehidrasi
Kanker kulit bila paparan sinar matahari berlebihan
c.

1.

Akibat Kelebihan dan Kekurangan Vitamin E


Akibat Kekurangan vitamin E

Kekurangan vitamin E bisa menyebabkan mandul. Kekurangan vitamin E juga akan


menyebabkan sel darah merah terbelah (hemolisis eritrodit). Akibat lain kekurangan
vitamin E adalah:

2.

Perubahan degeneratif pada system saraf dan otot


Kelemahan dan kesulitan berjalan
Nyeri pada otot betis
Anemia
Gangguan penglihatan
Retensi cairan (odem)
Kelainan kulit

Gangguan penyerapan lemak pada bayi prematur


Akibat Kelebihan vitamin E

Meskipun pada umumnya vitamin E dianggap sebagai bahan yang cukup aman, namun
dalam beberapa kasus, kelebihan vitamin E menimbulkan:

d.

Keracunan
Sakit kelapa
Lelah
Pusing
Gangguan penglihatan
Kelebihan dan Kekurangan Vitamin K
1.

Kekurangan Vitamin K

menyebabkan darah sukar membeku saat terjadi luka.


kekurangan parah bisa menyebabkan anemia fatal
kesulitan penyerapan lemak dari makanan
2.

Kelebihan Vitamin K

Kelebihan vitamin K terjadi bila vitamin K diberikan dalam bentuk berlebihan berupa
vitamin K sintetik menadion. Gejalanya adalah hemolisis sel darah merah, sakit kuning
(jaundice) dan kerusakan pada otak.

3.5.

Vitamin Larut Air

Sebagian besar vitamin larut air merupakan komponen system enzim yang
banyak terlibat dalam membantu metabolism energy. Vitamin larut air biasanya tidak di

simpan di dalam tubuh dan di keluarkan melalui urin dalam jumlah kecil. Oleh sebab itu
vitamin larut air perlu di konsumsi tiap hari untuk mencegah kekurangan yang dapat
menggangu fungsi tubuh normal.
Vitamin larut air di kelompokan menjadi vitamin C dan vitamin B, viatamin B terdiri dari
8 faktor yang saling berkaitan fungsinya di dalam tubuh dan terdapat di dalam bahan
makanan yang hampir sama. Fungsi terkait ddalam proses metabolism sel hidup, baik
dalam tumbuh-tumbuhan maupun hewan sebagai koenzim atau kofaktor.

3.6.

Jenis, Sumber, Fungsi, dan Kebutuhan Vitamin Larut Air

Vitamin larut dalam air adalah vitamin yang hanya dapat disimpan dalam
jumlah sedikit dan biasanya akan segera hilang bersama aliran makanan. Saat suatu
bahan pangan dicerna oleh tubuh, vitamin yang terlepas akan masuk ke dalam aliran
darah dan beredar ke seluruh bagian tubuh. Apabila tidak dibutuhkan, vitamin ini akan
segera dibuang tubuh bersama urin. Oleh karena hal inilah, tubuh membutuhkan
asupan vitamin larut air secara terus-menerus.
Vitamin yang larut dalam air adalah:

Vitamin C
Vitamin B dengan 8 ragamnya (tiamin, riboflavin, niasin, asam

pantotenat, biotin, vitamin B6, Vitamin B12, dan folat)


1.
1.
Jenis, Sumber, Fungsi, dan Kebutuhan Vitamin C
Kita butuh beragam vitamin salah satunya adalah vitamin C. Menurut wikipedia kamus
online, Vitamin C adalah salah satu jenis vitamin yang larut dalam air dan memiliki
peranan penting dalam menangkal berbagai penyakit.
Vitamin ini juga dikenal dengan nama kimiadari bentuk utamanya yaitu asam
askorbat.Vitamin C termasuk golongan vitamin antioksidanyang mampu menangkal
berbagai radikal bebasekstraselular.Beberapa karakteristiknya antara lain sangat
mudah teroksidasi oleh panas, cahaya dan logam.
Sumber vitamin C

Tubuh tidak dapat memproduksi vitamin sendiri. Oleh karena itu, tubuh membutuhkan
asupan vitamin C dari makanan agar fungsi vitamin C dalam tubuh berjalan optimal.
Vitamin yang bisa digunakan sebagai bahan diet pengusir kerut ini berasal dari
sumber makanan antara lain:

jeruk, jeruk nipis andalan dr Pericone.

stroberi,

tomat,

buah kiwi,

raspberi,

adas,

melon,

asparagus,

kentang

hati
Manfaat vitamin C
Banyak manfaat vitamin C bagi tubuh, diantaranya adalah:

membuat awet muda


membuat kulit terlihat cerah
menurunkan risiko penyakit jantung
menyembuhkan flu lebih cepat
menurunkan kadar kolesterol
menjaga stamina tubuh
menurunkan tekanan darah
penyembuhan luka
melawan alergi

Dosis aman mengkonsumsi vitamin C


Kebutuhan vitamin C memang berbeda-beda bagi setiap orang, tergantung pada
kebiasaan hidup masing-masing.Pada remaja, kebiasaan yang berpengaruh di
antaranya adalah merokok, minum kopi, atau minuman beralkohol, konsumsi
obattertentu seperti obat antikejang, antibiotik tetrasiklin, antiartritis, obat tidur, dan
kontrasepsi oral.
Kebiasaan merokok menghilangkan 25% vitamin C dalam darah. Selain nikotin
senyawa lain yang berdampak sama buruknya adalah kafein.Selain itu stres, demam,
infeksi, dan berolahraga juga meningkatkan kebutuhan vitamin C (wikipedia.com).

Secara umum, untuk mendapatkan fungsi vitamin C bagi kesehatan:

orang dewasa pria setidaknya membutuhkan 90 mg vitamin C/ hari,


wanita membutuhkan 75 mg/hari.
anak laki-laki usia 14-18 tahun membutuhkan 65 mg vitamin C
anak perempuan membutuhkan 65 mg vitamin C.

3.7.

Absorpsi dan Ekskresi Vitamin Larut Air

1. Absorpsi dan Ekskresi Vitamin C


Vitamin C dapat dioksidasi secara reversibel menjadi dehidro vitamin C dan
katabolisme lebih lanjut menghasilkan asam oksalat. Vitamin C diekskresikan terutama
di dalam urin, sebagian kecil di dalam tinja dan sebagian kecil lagi di dalam keringat .
Metabolisme vitamin C belum banyak diketahui. Oleh karena itu perlu penelitian lebih
lanjut tentang matabolisme vitamin C.
2. Absorpsi dan Eksresi Vitamin B
Thiamin mudah larut dalam air, sehingga thiamin di dalam usus halus mudah diserap
kedalam jaringan mukosa. Di dalam sel epithel mukosa usus thiamin difosforilasikan
dengan pertolongan ATP dan sebagai TPP dialirkan oleh vena porta ke hati. Thiamin
total di dalam darah berbentuk TPP, kadarnya 10 ug% di dalam komponen seluler 1 ug
% di dalam plasma leucocyt mengandung TPP dalam konsentrasi tinggi sampai 100 ug
%. Thiamin diekskresikan di dalam urine pada keadaan normal, ekskresi ini paralel
terhadap tingkat konsumsi, tetapi pada kondisi defisien hubungan paralel ini tidak lagi
berlaku.
Riboflavin disebabkan dari ikatan-ikatan protein sebagai FAD dan FMN di dalam
lambung yang bersuasana asam. FAD dan FMN kemudian di dalam usus halus
dihidrolisis oleh enzim-enzim pirofosfatase dan fosfatasemenjadi riboflavin bebas.
Riboflavin diabsorpsi di bagian atas usus halus secara aktif oleh proses yang
membutuhkan natrium untuk kemudian mengalami fosfo rilasi hingga menjadi FMN di
dalam mukosa usus halus. Ribol=flavin dalam aliran darah sebagian besar terikat pada
albumin dan sebagian kecilpada imunoglobulin. G. Riboflavin dan metabolitnya

terutama disimpan di dalam hati, jantung dan ginjal. Simpanan riboflavin terutama
dalam bentuk FAD yang mewakili 70-90% vitamin tersebut.
Vitamin yang terikat pada protein ini dihidrolisis menjadi biostin yang diabsorpsi
bersama biotin dalam bagian atas usus halus. Biotin diabsorpsi secara aktif dalam
duodenum dan ileum bagian atas, serta disimpan atau digunakan setelah diubah
menjadi biotinil-5-adenilat di dalam hati, otot dan ginjal. Biostin dihidrolisis menjadi
biotin di dalam pelasma. Biotin dan metabolitnya dikeluarkan melalui urin dalam jumlah
6-50 ug/hari.
Asam pantotenat dikonsumsi sebagai bagian dari KoAyang oleh enzim pospatase
dalam saluran cerna dihidrolisis menjadi 4-fofopantotein dan asam pantotenat
kemudian diabsorpsi. KoA disintesis kembali di dalam sel-sel hati. Asam pantotenat
dikeluarkan melalui urin, terutama sebagai hasil metabolisme Koenzim A.
Sebelum diabsorpsi, vitamin B6 di dalam Makanan yang terutama terdapat dalam
bentuk fosforilasi dihidrolisis oleh enzim fosfatase di dalam usus halus . Di dalam hati,
ginjal, dan otak vitamin B6difosforilasi kembali untuk kemudian diubah menjadi bentuk
PLP oleh enzim oksidasi. Fosforilasi dan perubahan oksidatif vitamin B 6juga dapat
terjadi di dalam sel darah, daerah dimana PLP terikat pada hemoglobin. Sebanyak 50%
jumlah vitamin B6 dalam tubuh disimpan dalam otot. PLP dihati diikat oleh apoenzim
dan beredar di dalam darah dalam keadaan terikat dengan albumin. PLP yang tidak
terikat diubah menjadi asam piridoksat oleh enzim oksidase di dalam hati dan ginjal,
yaitu metabolit utama yang di keluarkan melalui urin.
3.8.
Akibat Kelebihan dan Kekurangan Vitamin Larut Air
1)

Akibat Kelebihan dan Kekurangan Vitamin C

Dampak Kekurangan Vitamin C


Kekurangan vitamin C akan menyebabkan penyakit sariawan atau skorbut. Penyakit
skorbut biasanya jarang terjadi pada bayi; bila terjadi pada anak-anak, biasanya pada
usia setelah 6 bulan dan dibawah 12 bulan.
Gejala-gejala penyakit skorbut ialah terjadinya pelembekan tenunan kolagen, infeksi,
dan demam. Juga timbul sakit, pelunakan, dan pembengkakan kaki bagian paha. Pada
anak yang giginya telah keluar, gusi membengkak, empuk, dan terjadi pendarahan.

Pada orang dewasa skorbut terjadi setelah beberapa bulan menderita kekurangan
vitamin C dalam makanannya. Gejala gejalanya ialah pembengkakan dan pendarahan
pada gusi, gingivalis, kaki menjadi empuk, anemia, dan deformasi tulang.
Penyakit sariawan yang akut dapat disembuhkan dalam beberapa waktu dengan
pemberian 100 sampai 200 mg vitamin C per hari. Bila penyakit sudah kronik perlu
diperlukan waktu lebih lama untuk penyembuhannya dan suplai vitamin C yang lebih
ditingkatkan.
Dampak Kelebihan Vitamin C
Kelebihan vitamin C dari makanan tidak menimbulkan gejala. Tetapi mengkonsumsi
vitamin C berupa suplemen secara berlebihan tiap hari dapat menimbulkan
hiperoksaluria dan resiko lebih tinggi lagi terhadap batu ginjal. Dengan konsumsi 5-10gr
vitamin C baru sedikit asam askorbat dikeluarkan melalui urine. Resiko batu oksalat
dengan suplemen vitamin C dosis tinggi dengan demikian rendah, akan tetapi hal ini
dapat menjadi berarti pada seseorang yang mempunyai kecendrungan untuk
pembentukan batu ginjal. Tubuh hanya akan menggunakan vitamin C sejumlah yang
dibutuhkan. Kelebihan vitamin C justru akan menghambat metabolisme tubuh.
Kecukupan gizi (dosis) yang dianjurkan untuk vitamin C pada orang dewasa adalah 75
mg per hari untuk wanita dan 90 mg per hari untuk pria. Sedang untuk orang dewasa
perokok, dosis harian akan lebih besar yaitu 110 mg untuk wanita dan 125 mg untuk
pria.
Dosis yang lebih tinggi mungkin akan dibutuhkan saat sedang stres, demam, atau
menderita infeksi. Seseorang akan mengalami overdosis vitamin C jika mengkonsumsi
200-500 mg per hari dalam jangka lama.
Overdosis vitamin C dapat menyebabkan diare, gas pada perut, atau sakit perut. Efek
samping lain meliputi kram perut, mual, diare, dan peningkatan risiko terjadinya batu
ginjal. Dalam jumlah besar, vitamin C dapat mengurangi tingkat tembaga dalam tubuh.
Orang dengan penyakit kelebihan zat besi harus menghindari kelebihan vitamin C
karena vitain ini akan meningkatkan penyerapan zat besi. Individu yang memiliki batu
ginjal juga harus lebih waspada terhadap overdosis vitamin C.

Pasien hemochromatosis tidak dianjurkan minum suplemen vitamin C karena akan


meningkatkan akumulasi besi yang dapat memperparah penyakit.
2)

Akibat Kelebihan dan Kekurangan Vitamin B

a.

Kelebihan dan Kekurangan Vitamin B1


Pada Ibu Hamil
Kekurangan Vitamin
B1a.
Keletihan, lemah
badan, hilang selera makan
b.
Kegelisahan, gangguan
tidur.
c.
Hilangnya refleks dan
kontrol saraf
d.
e.

Menyebabkan kematian
Sembelit

Kelebihan Vitamin B1a.


Gemetar
b.
Abnormalitas

Pada Bayi
Kekurangan Vitamin
B1a.
Lemas
b.
Hilangnya refleks

Kelebihan Vitamin B1a.


Detak jantung abnormal

Pada anak, remaja, dewasa


Kekurangan Vitamin B1

Beri-beri basah dan


kering

Kekurangan energi otot


jantung

Kurang nafsu makan

Gangguan absorbsi

Sakit pada bagian


abdomen

Keletihan, lemah badan,


hilang selera makan

Kegelisahan, gangguan
tidur.

Kelebihan Vitamin B1

Gemetar

Abnormalitas detak
jantung

b.

Hilangnya kontrol saraf

Kelebihan dan Kekurangan Vitamin B6

Pada Ibu Hamil

B6

Kekurangan vitamin
Anemia
Kejang
Gatal-gatal
Gangguan ginjal
Kulit bersisik

Kelebihan Vitamin
B6

Kerusakan sistem saraf


yang dapat
menyebabkan kesulitan
berjalan.

Mengganggu
pertumbuhan janin

Pada Bayi

Kekurangan vitamin B6

Kekurangan vitamin B6
pada bayi dapat
menyebabkan kejang dan
anemia.

Keterbelakangan
mental yang berat

Kelebihan Vitamin
B6a.
menyebabkan
kerusakan saraf yang hebat,
dimana terjadi kerusakan
sebagian urat saraf tulang
belakang.

Pada anak
Kekurangan vitamin B6

Kejang dan anemia

Kulit bersisik

Gatal-gatal

Terganggunya
pertumbuhan gigi

Sariawan

Kelebihan Vitamin B6

Kesulitan dalam
berjalan, karena
mempengaruhi saraf.

Kaki mati rasa

Pada remaja
Kekurangan vitamin B6

Kulit bersisik

Gatal-gatal

Gangguan ginjal
Pada Dewasa

Kelebihan Vitamin B6

Kaki mati rasa sampai


sulit berjalan

Kekurangan vitamin B6

Kulit bersisik

Bengkeng

Anemia

Ganggguan ginjal

c.

Kelebihan Vitamin B6

Kaki mati rasa karena


kerusakan saraf

Kelebihan dan Kekurangan Vitamin B9

Pada Ibu Hamil

Kekurangan vitamin B6
Melahirkan prematur
Cacat tabung saraf janin
Tabung saraf tidak menutup dengan sempurna, sehingga
otak bayi akan terpapar cairan ketuban.
Anemia
Keguguran

Pada Bayi
Kekurangan vitamin B9
1.
Kecacatan pada otak dan sumsum tulang belakang
2.
Bayi lahir dengan bibir sumbing

Pada anak dan remaja


Kekurangan vitamin B9

Mengalami gangguan kontrol buang air besar dan buang


air kecil

Tidak bisa berjalan tegak

Emosi yang tinggi


Pada Dewasa
Kekurangan vitamin B9

Gangguan jantung

Tidak bisa mengontrol dalam BAB dan BAK

Emosinya tinggi

d.

Kelebihan dan Kekurangan Vitamin B12

Pada Ibu Hamil

Kekurangan vitamin B12


Anemia fatal yang disebut Pernicious anemia.
Terhambatnya perkembangan otak dan saraf janin
Kehilangan nafsu makan

Pada Bayi
Kekurangan vitamin B12

Anemia

Refleks menurun

Diare
Pada anak
Kekurangan vitamin B6

Anemia

Menurunkan daya ingat

Menimbulkan gangguan pendengaran

Hilang nafsu makan

Refleks menurun

Menyebabkan kebodohan
Pada remaja
Kekurangan vitamin B6

Mudah marah

Nafsu makan turun

Menurunkan daya ingat

Kerusakan saraf
Pada Dewasa
Kekurangan vitamin B12

Anemia

Mudah marah dan tersinggung

Gangguan pendengaran

IV.

Kesimpulan

PENUTUP

1.
Pengertian Vitamin adalah sekelompok senyawa organik amina yang sangat
penting dan sangat dibutuhkan oleh tubuh, karena vitamin berfungsi untuk membantu
pengaturan atau proses kegiatan tubuh (vitamin mempunyai peran sangat penting
dalam metabolisme tubuh), karena vitamin tidak dapat dihasilkan oleh tubuh. Jika
manusia, hewan dan ataupun makhluk hidup lain tanpa asupan vitamin tidak akan
dapat melakukan aktivitas hidup dengan baik, kekurangan vitamin menyebabkan tubuh
kita mudah terkena penyakit.
2.
Berdasarkan kelarutannya, vitamin digolongkan dalam dua kelompok, yaitu
vitamin yang larut dalam lemak dan vitamin yang larut dalam air, karena yang pertama
dapat diekstraksi dari bahan makanan dengan pelarut lemak dan yang terakhir dengan
air. Beberapa vitamin larut lemak adalah vitamin A, D, E, dan K, yang hanya
mengandung unsur- unsur karbon, hidrogen dan oksigen. Vitamin yang larut dalam air
terdiri atas asam askorbat (C) dan B-komplek (B1 sampai B12), yang selain mengandung
unsur-unsur karbon, hidrogen, oksigen, juga mengandung nitrogen, sulfur atau kobalt.
3.
Beberapa vitamin berfungsi langsung dalam metabolisme penghasilan energi
Jalur metabolisme yang menghasilkan energi untuk mendukung kerja sel diantaranya
adalah glikolisis, siklus kreb, transport elektron, dan oksidasi.
4.
Vitamin yang larut lemak atau minyak, jika berlebihan tidak dikeluarkan oleh,
tubuh, melainkan akan disimpan. Sebaliknya, vitamin yang larut dalam air, yaitu vitamin
B kompleks dan C, tidak disimpan, melainkan akan dikeluarkan oleh sistem
pembuangan tubuh. Akibatnya, selalu dibutuhkan asupan vitamin tersebut setiap hari.
Vitamin yang alami bisa didapat dari sayur, buah dan produk hewani. Seringkali vitamin
yang terkandung dalam makanan atau minuman tidak berada dalam keadaan bebas,
melainkan terikat, baik secara fisik maupun kimia. Proses pencernaan makanan, baik di
dalam lambung maupun usus halus akan membantu melepaskan vitamin dari makanan
agar bisa diserap oleh usus. Vitamin larut lemak diserap di dalam usus bersama
dengan lemak atau minyak yang dikonsumsi.
Vitamin diserap oleh usus dengan proses dan mekanisme yang berbeda. Terdapat
perbedaan prinsip proses penyerapan antara vitamin larut lemak dengan vitamin larut
air. Vitamin larut lemak akan diserap secara difusi pasif dan kemudian di dalam dinding
usus digabungkan dengan kilomikron (lipoprotein) yang kemudian diserap sistem
limfatik, baru kemudian bergabung dengan saluran darah untuk ditransportasikan ke

hati. Sedangkan vitamin larut air langsung diserap melalui saluran darah dan
ditransportasikan ke hati.
DAFTAR PUSTAKA

Suhardjo dan M. Kusharto, Clara. 1992. Prinsip-prinsip Ilmu Gizi. Yogyakarta : Kanisius.
Yuniastuti, Ari. 2007, Gizi dan Kesehatan. Yogyakarta : Graha Ilmu.
http://diajengsurendeng.blogspot.com/2012/01/jenis-vitamin-yang-larutdalam-lemak.html
http://ridwanaz.com/kesehatan/pengertian-vitamin-jenis-jenis-vitaminsumber-sumber-vitamin/
http://purwatiwidiastuti.wordpress.com/2012/05/12/kesehatan-mata-danvitamin-a/
http://purwatiwidiastuti.wordpress.com/2012/05/13/mencegah-flu-denganvitamin-d/
http://purwatiwidiastuti.wordpress.com/2012/05/13/merawat-kecantikandengan-vitamin-e/
http://purwatiwidiastuti.wordpress.com/2012/05/13/mempercepa