Anda di halaman 1dari 24

Narkoba

Definisi Narkoba

Definisi narkoba adalah singkatan dari narkotika dan obat/bahan berbahaya. Narkoba biasa juga di
asosiakan dengan kata NAZA (narkotika, alkohol dan zat adiktif) atau NAPZA (narkotika, alkohol, psikotopika
dan zat adiktif).
Narkoba merupakan istilah yang sering dipakai untuk narkotika dan obat berbahaya. Narkoba
merupakan sebutan bagi bahan yang tergolong narkotika, alkohol, psikotropika, dan zat adiktif lainnya.
Disamping lazim dinamakan narkoba, bahan-bahan serupa biasa juga disebut dengan nama lain, seperti
NAZA (Narkotika,Alkohol, dan Zat adiktif lainnya) dan NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat adiktif lainnya)
(Witarsa, 2006).
Narkoba adalah istilah yang digunakan oleh penegak hukum dan masyarakat. Bahan berbahaya
adalah bahan yang tidak aman digunakan atau membahayakan dan penggunaannya bertentangan dengan
hukum atau melanggar hukum (illegal).
Napza adalah istilah kedokteran untuk kelompok zat yang jika masuk ke dalam tubuh menyebabkan
ketergantungan (adiktif) dan berpengaruh pada kerja otak (psikoaktif). Termasuk dalam hal ini adalah obat,
bahan, atau zat, baik yang diatur undangundang dan peraturan hukum lain maupun yang tidak tetapi sering
disalahgunakan, seperti alkohol, heroin, ganja, kokain dan lain-lain.
Berdasarkan Undang-Undang RI Nomor 22 tahun 1997 tentang Narkotika, zat yang dimaksud dengan
narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintesis maupun semi
sintesis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai
menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan (Redaksi Penerbit Asa Mandiri, 2007).
Berdasarkan Undang-Undang RI Nomor 5 tahun 1997, yang dimaksud dengan Psikotropika adalah zat
atau obat, baik alamiah maupun sintesis bukan narkotika yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif
pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku (Redaksi
Penerbit Asa Mandiri, 2007).
Sedangkan yang dimaksud dengan Bahan/Zat adiktif lainnya adalah bahan lain bukan narkotika atau
psikotropika yang penggunaannya dapat menimbulkan ketergantungan. Minuman beralkohol adalah minuman
yang mengandung etanol yang diproses dari bahan hasil pertanian yang mengandung karbohidrat dengan
cara fermentasi dan destilasi atau fermentasi tanpa destilasi, maupun yang diproses dengan cara mencampur

konsentrat dengan etanol atau dengan cara pengenceran minuman yang mengandung etanol (Darmono,
2006).
Jadi definisi narkoba (narkotika dan oba/zt berhaya) sama dengan NAZA (narkotika, alkohol dan za
adiktif), ataupun NAPZA (Narkotika, alkohol, psikotropika dan zat adiktif). Semua definini ini mempunyai makna
yang sama.

Jenis-jenis Narkoba Menurut Undang-Undang

Jenis-jenis narkoba menurut undang-undang merupakan penggolongan narkoba sesuai dengan


peraturan hukum yang berlaku di Indonesia. Jenis-jenis narkoba ini di bagi dalam beberapa golongan dalam
bentuk klasifikasi berdasarkan zat yang dikandungnya.
Di bawah ini uraian tentang jenis-jenis narkoba dan beberapa zat yang termasuk dalam golongannya:
Narkotika adalah zat atau bahan aktif yang bekerja pada sistem saraf pusat (otak), yang dapat
menyebabkan penurunan sampai hilangnya kesadaran dari rasa sakit (nyeri) serta dapat menimbulkan
ketergantungan (ketagihan). Zat yang termasuk golongan ini antara lain: morfin, putaw (heroin), ganja, kokain,
opium, codein, metadon. Metadon adalah opioida sintetik yang mempunyai daya kerja lebih lama serta lebih
efektif daripada morfin dengan pemakaian ditelan. Metadon dipakai untuk methadone maintenance program,
yaitu untuk mengobati ketergantungan terhadap morfin atau heroin dan opiat lainnya.
Alkohol adalah jenis minuman yang mengandung etil-alkohol (dibagi dalam 3 kelompok), disesuaikan
dengan kadar etil-alkoholnya. Alkohol dapat menimbulkan adiksi (ketagihan) dan dependensi
(ketergantungan). Efek penggunaan alkohol tergantung dari jumlah yang dikonsumsi, ukuran fisik pemakai
serta kepribadian pemakai. Pada dasarnya alkohol dapat mempengaruhi koordinasi anggota tubuh, akal
sehat, tingkat energi, dorongan seksual, dan nafsu makan.
Menurut keputusan Presiden RI No. 3 Tahun 1997 tentang Pengawasan dan Pengendalian Minuman
Beralkohol, minuman beralkohol dikelompokkan dalam 3 golongan dilihat dari kandungan alkoholnya yaitu:
1. Golongan A yaitu berbagai jenis minuman keras yang mengandung kadar alkohol antara 1% sampai
dengan 5%. Contoh minuman keras ini adalah bir, green sand, dan lain-lain.
2. Golongan B yaitu berbagai jenis minuman keras yang mengandung kadar alkohol antara 5% sampai
dengan 20%. Contohnya adalah anggur Malaga, dan lain-lain.
3. Golongan C yaitu minuman keras yang mengandung kadar alkohol antara 20% sampai dengan 50%.
Yang termasuk jenis ini adalah brandy, vodka, wine, rhum, champagne, whiski, dan lain-lain (Joewana,

2005).
Kebanyakan orang mulai terganggu tugas sehari-harinya bila kadar alkohol dalam darah mencapai 0,5% dan
hamper semua akan mengalami gangguan koordinasi bila kadar alkohol dalam darah 0,10%.
Psikotropika adalah zat atau bahan aktif bukan narkotika, bekerja pada sistem saraf pusat (otak) dan
dapat menyebabkan perasaan khas pada aktifitas mental dan perilaku serta dapat menimbulkan ketagihan
atau bahan ketergantungan. Zat yang termasuk golongan ini menurut Karsono (2004) antara lain :
psikostimulan (shabu-shabu, ekstasi, amphetamine), inhalansia seperti aerosol, bensin, perekat, solvent, butyl
nitrites (pengharum ruangan). Obat penenang dan obat tidur (nipam, mogadon, diazepam, bromazepam,
nitrazepam, flunitrazepam, estazolam, pil KB, dan obat antidepresi.

Zat adiktif adalah zat atau bahan aktif bukan narkotika atau psikotropika, bekerja pada system saraf
pusat dan dapat menimbulkan ketergantungan/ketagihan. Zat yang termasuk dalam golongan ini antara lain :
nikotin, LSD (Lysergic acid diethylamide), psilosin, psilosibin, meskalin, dan lain-lain.
Jadi, jenis-jenis narkoba menurut undang-undang dibagi kedalam empat golongan besar, yaitu
narkotika, alkohol, psikotropika, dan zat adiktif.
JENIS-JENIS NARKOBA
Secara umum jenis narkoba itu dapat dikelompokan dalam tiga golongan yaitu : Narkotika, Psikotropika dan Bahan berbahaya.
NARKOTIKA. Yang termasuk dalam kelompok narkotika pada umumnya berasal dari berbagai jenis tumbuhan seperti :
Opiod. Kata ini berasal dad tumbuhan opium yang banyak mengandung alkaloid opium termasuk morfin. Contoh yang banyak beredar
dipasaran adalah candu, morfin, heroin atau putauw, codein, Demerol dan methadone. Efek terhadap kesehatan tubuh adalah
kekacauan dalam bicara, rabun dimalam hari, merusak liver dan ginjal, resiko HIV tinggi, kematian bila overdisis.
Kokain. zat ini juga berasal dad tumbuhan liar Erythroxylon coca . Nama lain yang sering kita dengar adalah snow, coke, girl,lady dan
crack. Efek yang menonjol dari kokain ini apabila terjadi putus kokain maka akan timbul kinginan bunuh diri.
Canabis atau Ganja adalah sejenis tanaman yang nama latinnya Cannabis sativa dan masyarakat sudah banyak yang mengenalnya.
Karena tanaman ini termasuk dalam jenis narkoba maka peredarannyapun juga dilarang, karena dapat menimbulkan gangguan pada
syaraf.

PSIKOTROPlKA. Adalah obat baik alamiah atau sintetis yang bersifat psikoaktif yang melalui pengaruh selektif pada susunan syaraf
pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktifis mental dan perilaku. Bahan ini dapat menimbulkan depresi mental, merangsang
(stimulasi) gangguan syaraf dan menimbulkan halusinasi atau daya khayalan tentang kindahan yang luar biasa. Jenis jenis psikotropika
yang populer dan banyak beredar di masyarakat serta dikonsumsi oleh para remaja adalah :
Ecstacy : zat ini juga dikenal dengan XTC yang nama kimianya adalah 3-4 Methylene Dioxy Vethil Amphetainine. Yang mengkonsumsi
barang ini seluruh tubuhnya terasa melayang-layang dan menghilangkan perasaan malu,sehingga berani tampil percaya did . Yang ada
dibnaknya hanyalah pikiran yang kosong, rilex dan bayangan yang indah-indah.
Shabu-shabu : adalah jenis narkoba yang juga banyak dikonsumsi oleh masyarakat, bentuknya kristal berwarna putih. Cara
memakainya dengan dibakar di atas kertas aluminium foil yang asapnya dihirup dengan menggunakan bong (alat penghisap). Efek dari
bahan ini dapat menimbulkan paranoid atau rasa takut yang belebihan dan menjadi lebih sensitive serta mudah tersinggung. Contoh
yang dapat menimbulkan dipresi mental misalnya pil BK,Magadon, Valium, mandrake dan rohypnol. Sedang yang dapat menimbulkan
halusinasi ialah LSD (Licercik acid dhietitamide).

BAHAN BERBAHAYA. Adalah zat atau bahan yang berasal dari bahan kimia atau biologi, baik dalam bentuk tunggal maupun
campuran yang dapat membahayakan kesehatan tubuh dan lingkungan hidup. Yang termasuk dalam golongan bahan berbahaya ini
adalah :
Minuman keras. Adalah semua jenis mengadung alcohol yang kadar prosentasenya berkisar antara 1 % - 50 % . Jenis minuman yang
banyak beredar dipasaran antara lain : Bir dan Green sand ( kadar alakoholnya 1% -5 %), Martini dan Wine atau anggur (kadamya
antara 5 % - 20 %),sedang Whisky brandy kadar alkoholnya antara 20 % - 50%.
Nikotin. Adalah merupakan bahan adiktif seperti kokain dan heroin. Yang paling umum terdapat pada tembakau yang dihisap dalam
bentuk rokok maupun cerutu. Nikotin sangat beracun (toksik) yang dalam dosis 60 mg pada orang dewasa dapat mematikan karena
kegagalan pemafasan.
Volatile solvent atau inhalensia. Adalah zat adiktif yang pada umumnya berbentuk cairan yang mudah menguap diudara terbuka.
Uapnya ini yang membahayakan dan contoh yang banyak beredar dipasaran seperti : lem uhhu, acetone,aica aibon, castol dan dan
premix.
Zat Desainer. Adalah obat ramuan jalanan yang dapat menimbulkan kecanduan. Misalnya : speed ball, peace pills, crystal, angle dust,
rocketfuel dll.

Jenis jenis Narkotika


Saat ini beragam jenis narkotika yang beredar luas dimasyarakat. Jenis-jenis narkotika ini pada
awalnya digunakan sebagai obat dalam terapi medis, tetapi karena ada efek kecanduan yang diakibatkan oleh
zat narkotika ini, sehingga sangat marak penyalahgunaan narkotika di tengah masyarakat.
Jenis jenis narkotika yang sering disalahgunakan adalah sebagai berikut:
Heroin
Menurut Undang - Undang No.22 tahun 1997 tentang Narkotika, heroin merupakan Narkotika golongan
I sama dengan kokain dn ganja. Heroin atau diasetilmorfin adalah obat semi sintetik dengan kerja analgetis
yang 2 kali lebih kuat tetapi mengakibatkan adiksi yang cepat dan hebat sekali sehingga tidak digunakan
dalam terapi, tetapi sangat disukai oleh penyalahguna NAPZA. Resorpsinya dari usus dan selaput lendir baik
dan di dalam darah, heroin dideasetilasi menjadi 6-monoasetilmorfin dan menjadi morfin.
Pertama kali ditemukan digunakan untuk penekan dan melegakan batuk (antitusif) dan penghilang rasa
sakit, menakan aktifitas depresi dalam sistem saraf, melegakan nafas dan jantung, juga membesarkan
pembuluh darah dan memberikan kehangatan serta melancarkan pencernaan. Akibat pemakaian heroin selain
ketergantungan fisik dan psikis seperti narkotika lain, juga dapat menyebabkan: euphoria, badan terasa sakit,
mual dan muntah, mengantuk, konstipasi, kejang saluran empedu, sukar buang air kecil, kegagalan
pernafasan, dan dapat menimbulkan kematian.
Kokain/Cocain
Kokain adalah alkaloida yang berasal dari tanaman Erythroxylon coca yang tumbuh di Bolivia dan Peru
pada lereng-lereng pegunungan Andes di Amerika Selatan. Kedua negara tersebut dianggap penghasil kokain
dalm bentuk pasta koka mentah terbesar di seluruh dunia, sedang Negara Kolombia memurnikan pasta ini
menjadi serbuk kokain murni. Dalam peredaran gelap kokain diberi nama cake, snow, gold dust, dan lady serta

dijual dalam bentuk serbuk yang bervariasi kemurniannya.


Pertama sekali kokain digunakan sebagai anastesi local pada pengobatan mta dan gigi. Berlainan
dengan opium, morfin, dan heroin yang memiliki sifat menenangkan terhadap jasmani dan rohani, kokain
merupakan suatu obat perangsang sama seperti psikostimulansia golongan amfetamin tetapi lebih kuat. Zatzat ini memacu jantung, meningkatkan tekanan darah dan suhu badan, juga menghambat perasaan lapar
serta menurunkan perasaan letih dan kebutuhan tidur.
Dalam larutan kadar rendah, kokain menghambat penyaluran impuls dari SPP di otak sehingga
digunakan untuk anastesi lokal, sedangkan dalm konsentrasi tinggi kokain meransang penyaluran impulsimpuls listrik. Sifat yang didambakan oleh pecandu adalah kemampuannya untuk meningkatkan suasana jiwa
(euphoria) dan kewaspadaan yang tinggi serta perasaan percaya diri akan kapasitas mental dan fisik.
Dalam dosis kecil kokain yang dihisap melalui hidung menimbulkan euphoria tetapi disusul segera oleh
depresi berat yang menimbulkan keinginan untuk menggunakannya lagi dalam dosis yang semakin besar dan
menyebabkan ketergantungan psikis yang kuat dan toleransi untuk efek sentral. Pada keadaan kelebihan
dosis timbul eksistasi, kesadaran yang berkabut, pernafasan yang tidak teratur, tremor, pupil melebar, nadi

bertambah cepat, suhu badan naik, rasa cemas, dan ketakutan, serta kematian biasanya disebabkan
pernafasan berhenti.
Candu
Getah tanaman Papaver Somniferum didapat dengan menyadap (menggores) buah yang hampir
masak, getah yang keluar berwarna putih dan dinamai Lates. Getah ini dibiarkan mengering pada
permukaan buah sehingga berwarna coklat kehitaman dan sesudah diolah akan menyerupai aspal lunak dan

dinamakan candu mentah atau candu kasar.


Penggunaan candu secara klinik antara lain sebagai analgetika pada penderita kanker, eudema paru
akut, batuk, diare, premedikasi anastesia, dan mengurangi rasa cemas. Penggunaan candu seperti yang
terurai di atas adalah khasiat candu pada umumnya, sebenarnya khasiat candu secara lebih spesifik adalh
akibat alkoloida yang dikandungnya.
Putus obat dari candu dapat menimbulkan gejala seperti gugup, cemas, gelisah, pupil mengecil, sering
menguap, mata dan hidung berair, badan panas dingin dan berkeringat, pernafasan bertambah kencang dan
tekanan darah meningkat, diare, dan lain-lain.
Morphine/Morfin
Menurut Undang undang No.22 tahun 1997 tentang Narkotika, morfin merupakan Narkotika golongan
II. Penggunaan morfin khusus pada nyeri hebat akut dan kronis seperti pasca bedah, setelah infark jantung,
dan pada fase terminal dari kanker. Resorpsinya di usus baik dan di dalam hati zat ini diubah menjadi
glukuronida kemudian diekskresi melalui kemih, empedu dengan siklus enterohepatis, dan tinja.

Pada pemakaian yang teratur, morfin dengan cepat akan menimbulkan toleransi dan ketergantungan
yang cepat. Morfin bekerja pada reseptor opiate yang sebagian besar terdapat pada susunan saraf pusat dan
perut. Dalam dosis lebih tinggi, dapat menghilangkan kolik empedu dan ureter. Morfin menekan pusat
pernafasan yang terletak pada batang otak sehingga menyebabkan pernafasan terhambat yang dapat
menyebabkan kematian.

Sifat morfin yang lainnya adalah dapat menimbulkan kejang abdominal, mata merah, dan gatal
terutama di sekitar hidung yang disebabkan terlepasnya histamine dalam sirkulasi darah, dan konstipasi.
Pemakai morfin akan merasa mulutnya kering, seluruh tubuh hangat, anggota badan terasa berat, euphoria,
dan lain-lain.
Ganja/Kanabis
Ganja berasal dari tanaman Cannabis yang mempunyai famili Cannabis Sativa, Canabis Indica, dan
Cannabis Americana. Nama umum untuk kanabis adalah marijuana, grass, pot, weed, tea, Mary Jane, has
atau hashis. Kandungan kanabis adalah 0,3% minyak atsiri dengan zat-zat terpen terutama tetrahidrokabinol
(THC) yang memiliki daya kerja menekan kegiatan otak dan memberi perasaan nyaman.

Efek pertamanya adalah euphoria yang disusul dengan rasa kantuk dan tidur, mulut menjadi kering,
konjungtiva merah, dan pupil melebar. Efek medis yang potensial adalh sebagai analgetik, antikonvulsan dan
hipnotik, sedangkan efek psikisnya tergantung pada dosis, cara penggunaan, pengalaman dari pemakai, dan
kepekaan individual.
Codein
Menurut Undang Undang No.22 tahun 1997 tentang Narkotika, codein merupakan Narkotika
golongan III. Codein termasuk garam / turunan dari candu. Efek codein lebih lemah daripada heroin, dan
potensinya untuk menimbulkan ketergantungan rendah. Biasanya dijual dalam bentuk pil atau cairan jernih
dan cara pemakaiannya ditelan dan disuntikkan. Secara klinis codein dipergunakan sebagai obat analgetik,

6 kali lebih lemah dari morfin.


Efek samping dan resiko adiksinya lebih ringan sehingga sering digunakan sebagai obat batuk dan
obat anti nyeri yang diperkuat melalui kombinasi dengan parasetamol/asetosal.

Jenis-jenis Psikotropika
Berbagai jenis psikotropika yang beredar secara gelap di pasaran saat ini. pada dasarnya jenis-jenis
psikotropika ini digunakan untuk tujuan medis, tetapi karena adanya rasa ketergantungan terhadap efek obat
psikotropika ini, sehingga banyak orang yang melakukan penyalahgunaan terhadap obat psikotropika.

Dalam United Nation Conference for Adoption of Protocol on Psychotropic Substancedisebutkan


batasan-batasan zat psikotropika yaitu bahan yang dapat mengakibatkan keadaan ketergantungan, depresi
dan stimulant SSP, menyebabkan halusinasi, menyebabkan gangguan fungsi motorik atau persepsi.
Dari ketentuan di atas maka pembagian jenis-jenis psikotropika adalah sebagai berikut:
STIMULENSIA
Yang digolongkan stimulansia adalah obat-obat yang mengandung zat-zat yang meransang terhadap
otak dan saraf. Obat-obat tersebut digunakan untuk meningkatkan daya konsentrasi dan aktivitas mental serta
fisik.
Amphetamine
Amfetamin adalah stimulansia susunan saraf pusat seperti kokain, kafein, dan nikotin. Pada waktu
perang dunia ke II, senyawa ini banyak digunakan untuk efek stimulansia yaitu meningkatkan daya tahan
prajurit dan penerbang, menghilangkan rasa letih, kantuk dan lapar, serta meningkatkan kewaspadaan. Di
samping itu, zat ini juga meningkatkan tekanan darah dan denyut jantung yang dapat menyebabkan stroke
maupun serangan jantung. Seusai perang zat-zat ini sering kali disalahgunakan mahasiswa dan pengemudi
mobil truk untuk memberikan perasaan nyaman (euphoria) serta meningkatkan rasa kantuk dan letih.

Dalam bidang pengobatan, dulu amfetamin dipakai untuk mengobati banyak macam penyakit antara
lain depresi ringan, parkinsonisme, skixofrenia, penyakit meniere, buta malam, dan hipotensi, sedangkan pada
masa sekarang hanya ada 3 indikasi medis penggunaan amfetamin yaitu pengobatan markolepsi, gangguan
hiperkinetik pada anak, dan obesitas.
Overdosis dapat menimbulkan kekacauan pikiran, delirium, halusinasi, perilaku ganas, dan aritmia
jantung. Ketergantungan fisik maupun psikis, dan toleransi dapat terjadi dengan cepat pada pengguna kronis.
Bila penggunaan dihentikan secara mendadak, timbul gejala putus obat (withdrawal symptooms) dan jika
digunakan pada saat mengalami depresi, setelah menghentikan pemakaian maka depresinya akan semakin
berat sampai menjurus pada percobaan bunuh diri.
Ecstasy
Ecstasy pada tahun 1914 dipasarkan sebagai obat penekan nafsu makan. Pada tahun 1970-an, obat
ini digunakan di Amerika Serikat sebagai obat tambahan pada psikoterapi dan kemudian dilarang pada tahun
1985. Sekarang ini ecstasy banyak digunakan oleh para pecandu di banyak Negara juga di Indonesia

terutama oleh para remaja dan kalangan eksekutif di tempat-tempat hiburan sehingga disebut juga party drug

atau dance drug.


Karena ecstasy dibuat dari bahan dasar amfetamin, maka efek yang ditimbulkannya juga mirip, seperti
mulut kering, jantung berdenyut lebih cepat, berkeringat, mata kabur dan demam tinggi, ketakutan, sulit
konsentrasi, dan seluruh otot nyeri.
Shabu
Nama shabu adalah nama julukan terhadap zat metamfetamin yang mempunyai sifat stimulansia yang
lebih kuat disbanding turunan amphetamine yang lain. Bentuk putih seperti kristal putih mirip bumbu penyedap
masakan, tidak berbau, mudah larut dalam air dan alkohol serta rasanya menyengat.

Setelah pemakaian shabu, pengguna akan merasakan hal-hal sebagai berikut:


1. Merasa bersemangat karena kekuatan fisiknya meningkat
2. Kewaspadaan meningkat
3. Menambah daya konsentrasi
4. Menyebabkan rasa gembira luar biasa
5. Kemampuan bersosialisasi meningkat
6. Insomnia, mengurangi nafsu makan
7. Penyalahgunaan pada saat hamil bisa menyebabkan komplikasi pralahir, meningkatkan kelahiran

premature atau menyebabkan perilaku bayi yang tidak normal.


Dalam pemakaian jangka panjang penggunaan shabu akan menimbulkan gangguan serius pada
kejiwaan dan mental, pembuluh darah rusak, rusaknya ujung saraf dan otot, kehilangan berat badan, tekanan
darah sistolik dan diastolik meningkat, dan terjadi radang hati.

DEPRESIVA
Depresiva merupakan obat-obat yang bekerja mengurangi kegiatan dari SSP sehingga dipergunakan

untuk menenangkan saraf atau membuat seseorang mudah tidur.


Obat ini dapat menimbulkan ketergantungan fisik maupun psikis dan pada umumnya sudah dapat timbul
setelah 2 minggu penggunaan secara terus menerus.
HALUSINOGEN
Halusinogen disebut juga psikodelika. Pada tahun 1954, A. Hoffer dan H. Osmond memperkenalkan
istilah halusinogen untuk memberi nama pada zat-zat tertentu yang dalam jumlah sedikit dapat mengubah
persepsi, pikiran, dan perasaan seseorang serta menimbulkan halusinasi. Sebagin zat tersebut merupakan
senyawa sintetik, sedangkan selebihnya terdapat secara alamiah dan telah lama digunakan oleh berbagai

masyarakat secara tradisonal.


Resiko akan ketergantungan psikis bisa kuat sedangkan ketergantungan fisik biasanya ringan sekali.
Toleransi dapat terjadi tetapi penghentian penggunaannya tidak menyebabkan abstinensia. Zat-zat ini
menyebabkan distorsi penglihatan dan pendengaran antara lain mampu menimbulkan efek khayalan, juga
menyebabkan ketegangan dan depresi. Salah satu kekhususan zat-zat ini adalah pengaruhnya terhadap akal
budi dengan menghilangkan daya seleksi dan kemampuan mengkoordinasi persepsi dan rangsangan dari
dunia luar. Dalam dosis lebih tinggi dapat mengakibatkan perasaan ketakutan, kebingungan, dan panic yang
biasanya disebut bad trip/flip.

Macam-macam Zat Adiktif


Berbagai Macam zat adiktif ada disekitar kita. Macam-macam zat adiktif yang kita kenal seperti alkohol,
inhlansia, kafein dan nikotin. Macam-macam zat adiktif ini bahkan sangat mudah dijumpai, dan sebagian besar
diantaranya bukan termasuk bahan terlarang, tetapi konsumsi yang berlebihan dapat mengganggu fungsi
tubuh.
Macam-macam zat adiktif adalah sebagai berikut:
Alkohol
Menurut catatan arkeologik, minuman beralkohol telah dikenal manusia sejak 5000 tahun yang lalu.
Alkohol merupakan penekan susunan saraf pusat tertua dan paling banyak digunakan manusia bersamasama dengan kafein dan nikotin. Alkohol bersifat bakterisid, fungisid, dan virusid yang banyak digunakn untuk
disinfeksi kulit dan sebagai zat pembantu dalam farmasi. Pada penggunaan oral, alkohol mempengaruhi SPP

yaitu meransang dan kemudian menekan fungsi otak serta meyebabkan vasodilatasi. Bila diminum saat perut

kosong, alkohol menstimulasi produksi getah lambung.


Minum sedikit alkohol meransang semangat, semua hambatan lepas, dan berbicara banyak,
sedangkan bila diminum terlampau cepat dan banyak, hati tidak dapat mengolahnya sehingga menyebabkan
mabuk dan pingsan. Overdosis dapat menyebabkan langsung mematikan dan pada pemakainan secara
teratur dan banyak akan mengakibatkan terganggunya fungsi hati dan akhirnya sel-selnya mengeras.
Mengonsumsi minuman beralkohol seperti bir, anggur, sherry, dan whisky sudah termasuk pada pola
hidup dan pergaulan sosial sehingga sudah diterima umum dan ketagihan biasanya terjadi tanpa disadari.
Seseorang yang meminum alkohol untuk bersantai, dapat berhenti minum tanpa kesulitan, namun apabila
mulai tergantung pada alkohol maka tidak dapat lagi berhenti tanpa merasakan akibat buruk secara fisik dan
psikis.
Gejala putus alkohol dapat berupa gemetaran, mual, muntah, lelah, jantung berdebar lebih cepat,
tekanan darah tinggi, depresi, halusinasi, dan hipotensi ortostatik.
Inhalansia dan Solvent (Pelarut)
Zat yang digolongkan inhalasia dan solvent adalah gas atau zat pelarut yang mudah menguap. Zat ini
banyak terdapat pada alat-alat keperluan rumah tangga seperti perekat, hair spray, deodorant spray, pelumas
bensin, bahan pembersih, dan thinner. Penyalahgunaan inhalansia dan solvent terutama pada anak-anak usia
9-14 tahun. Yang banyk digunakan adalah cairan pelarut seperti toluene, etil asetat, aseton, amiln itrit,
metiletilketon,
ksilen,
gas-gas
tertawa,
butan,
propan,
dan
fluorokarbon.

Gejala pecandu inhalansia antara lain pusing-pusing, perasaan bingung, bicara tidak lancer, berjalan
atau berdiri sempoyongan, euphoria, halusinasi, persepsi terganggu, mudah tersinggung, impulsive, perilaku
aneh, ataksia, disartri, tinnitus, dan luka-luka atau peradangan di sekitar mulut dan hidung. Intoksikasi akut
dengan zat ini bisa berakibat fatal, sedangkan pada pemakainan kronis dapat merusak berbagai organ tubuh
misalnya otak, ginjal, paru-paru, jantung, dan sumsum tulang dengan mengganggu pembentukan sel darah
merah.
Kafein

Kafein adalah alkahoida yang terdapat pada tanaman Coffea Arabica, Coffea canephora, dan Coffea
liberica yang berasal dari Arab, Etiopia, dan Liberia. Selain kopi, minuman lain juga banyak yang mengandung
kafein
seperti
daun
the
(teh
hitam
dan
teh
hijau),
kakao,
dan
coklat.

Minum kopi terlalu banyak (lebih dari 3-4 cangkir/hari) dapat meningkatkan resiko terkena penyakit
jantung karena memperbesar kadar hemosistein darah terutama bila bersamaan dengan kebiasaan merokok.
Metabolisme kafein sangat kompleks dan berkaitan dengan distribusi, metabolism, dan ekskresi banyak
metabolit lain.
Toleransi terhadap kafein ada tetapi lebih cepat menghilang dan intoksikasi ditandai dengan tangan
gemetar dan perasaan gelisah, tidak tenang, penuh gairah, muka merah, ingatan berkurang, tidak dapat tidur,
poliuria, mual, otot berkedut, banyak bicara, serta denyut jantung cepat dan tidak teratur.
Nikotin
Nikotin terdapat pada tanaman tembakau atau Nikotiana tabacom yang diduga berasal dari Argentina.
Kadar nikotin dalam tembakau berkisar 1,4%. Dalam asap rokok, nikotin tersuspendir pada partikel-partikel ter
dan kemudian diserap paru-paru ke dalam darah dengan cepat sekali. Setelah diserap, nikotin mencapai otak
dalam waktu 8 detik setelah inhalasi.
Nikotin yang diabsorpsi dapat menimbulkan tremor tangan dan kenaikan berbagai hormon dan
neurohormon dopamine di dalam plasma, di samping itu nikotin dapat menyebabkan mual dan muntah. Nikotin
meningkatkan daya ingat, perhatian, dan kewaspadaan, mengurangi sifat mudah tersinggung, dan agresi,
serta menurunkan berat badan. Merokok dikitkan dengan berbagai penyakit seriue mulai dengan gangguan
arteri koroner sampai kanker paru. Dosis fatal pada manusia adalah 60 mg.

Pengertian Penyalahgunaan Zat

Pengertian penyalahgunaan zat adalah suatu perilaku mengkonsumsi atau menggunakan zat-zat
tertentu yang dapat mengakibatkan bahaya pada diri sendiri maupun orang lain. Menurut DSM,
peyalahgunaan zat melibatkan pola penggunaan berulang yang menghasilkan konsekuensi yang merusak.
Konsekuensi yang merusak bisa termasuk kegagalan untuk memenuhi tanggung jawab utama seseorang

(misalnya: sebagai pelajar, sebagai pekerja, atau sebagai orang tua), menempatkan diri dalam situasi di mana
penggunaan zat secara fisik berbahaya (contoh mencampur minuman dan penggunaan obat), berhadapan
dengan masalah hukum berulang kali yang meningkat karena penggunaan obat. Memiliki masalah sosial atau
interpersonal yang kerap muncul karena pengunaan zat (contoh: berkelahi karena mabuk) (Greene, Rhatus
dan Nevid, 2003).
Menurut Sarafino (2006) dalam kata drug memiliki pengertian berbagai macam zat, termasuk obat
yang prescription atau nonprescription yang dikonsumsi individu dalam tubuh mereka.
Istilah yang berasal dari terjemahan asing seperti substace abuse dan substance dependence
dikalangan awam dikenal dengan istilah narkoba yang merupakan singkatan dari narkotika dan obat
berbahaya.
Ada istilah lain yaitu NAPZA yang merupakan singkatan dari narkotika, psikotropika dan zat adiktif.
Berbagai istilah yang sering digunakan tidak jarang menimbulkan salah pengertian tidak saja dikalangan medis
tapi juga masyarakat awam (Hawari 2005). Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan istilah narkoba.

Upaya Penanggulangan Penyalahgunaan Narkotika

Upaya penanggulangan penyalahgunaan narkotika dapat dilakukan melalui beberapa upaya


pencegahan, sebagai berikut ini:
Pencegahan Primer (Primary Prevention)
Upaya ini terutama dilakukan untuk mengenali kelompok yang mempunyai resiko tinggi untuk
meyalahgunakan NAPZA, setelah itu melakukan itervensi terhadap mereka agar tidak menggunakan NAPZA.
Upaya pencegahan ini dilakukan sejak anak berusia dini, agar faktor yang dapat menghambat proses tumbuh
kembang anak dapat diatasi dengan baik.
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam upaya pencegahan ini antara lain:
1. Penyuluhan tentang bahaya narkotika
2. Penerangan melalui berbagai media mengenai bahaya narkotika
3. Pendidikan tentang pengetahuan NAPZA dan bahayanya
Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder dilakukan pada penyalahguna pada tahap coba-coba serta komponen
masyarakat yang berpotensi menyalahgunakan narkotika.
Kegiatan yang dilakukan pada pencegahan ini antara lain:
1. Deteksi dini anak yang menyalahgunakan narkotika

2. Konseling
3. Bimbingan sosial melalui kunjungan rumah
4. Penerangan dan pendidikan pengembangan individu

Pencegahan Tersier
Pencegahan Tersier Pencegahan ini dilakukan orang yang sedang menyalahgunakan narkotika dan
yang pernah menyalahgunakan narkotika agar tidak kembali menyalahgunakan narkotika.
Kegiatan yang dilakukan antara lain:
1. Konseling dan bimbingan sosial kepada pengguna dan keluarga serta kelompok lingkungannya.
2. Menciptakan lingkungan yang kondusif bagi bekas pengguna.

Penanganan kasus yang dilakukan oleh RSKO , RSJ, RSU pada umumnya hanya pada masalah
medik akut, kronis, dan medik dengan komplikasi. Biasanya pasien yang ditangani di institusi ini akan
menjalani detoksifikasi untuk menghilangkan pengaruh narkotika dan menghambat pemakaian lebih lanjut
yang pelaksanaannya dilakukan oleh dokter.
Selanjutnya, penanganan perbaikan perilaku dilakukan oleh bagian rehabilitasi/panti rehabilitasi yang
pada umumnya di luar institusi rumah sakit. Penanganan penyalahguna di institusi tersebut dilakukan melalui
berbagai pendekatan non medis seperti sosial, agama, spiritual, therapeutic community, dan pendekatan
alternatif lainnya.

Dampak Penyalahgunaan dan Ketergantungan Narkotika

Dampak penyalahgunaan narkotika pada seseorang sangat tergantung pada jenis narkotika yang
dipakai, kepribadian pemakai dan situasi atau kondisi pemakai. Secara umum, dampak kecanduan narkoba
dapat terlihat pada fisik, psikis maupun sosial seseorang.
Dampak pada Fisik
1. Gangguan pada system syaraf (neurologis) seperti: kejang-kejang, halusinasi, gangguan kesadaran,
kerusakan syaraf tepi
2. Gangguan pada jantung dan pembuluh darah (kardiovaskuler) seperti: infeksi akut otot jantung,
gangguan peredaran darah
3. Gangguan pada kulit (dermatologis) seperti: penanahan (abses), alergi, eksim

4. Gangguan pada paru-paru (pulmoner) seperti: penekanan fungsi pernapasan, kesukaran bernafas,

pengerasan jaringan paru-paru


5. Sering sakit kepala, mual-mual dan muntah, murus-murus, suhu tubuh meningkat, pengecilan hati dan

sulit tidur
6. Dampak terhadap kesehatan reproduksi adalah gangguan padaendokrin, seperti: penurunan fungsi

hormon reproduksi (estrogen, progesteron, testosteron), serta gangguan fungsi seksual


7. Dampak terhadap kesehatan reproduksi pada remaja perempuan antara lain perubahan periode

menstruasi, ketidakteraturan menstruasi, dan amenorhoe (tidak haid)


8. Bagi pengguna narkoba melalui jarum suntik, khususnya pemakaian jarum suntik secara bergantian,

risikonya adalah tertular penyakit seperti hepatitis B, C, dan HIV yang hingga saat ini belum ada
obatnya
9. Penyalahgunaan narkoba bisa berakibat fatal ketika terjadi Over Dosis yaitu konsumsi narkoba
melebihi kemampuan tubuh untuk menerimanya. Over dosis bisa menyebabkan kematian.

Dampak pada Psikis


1. Lamban kerja, ceroboh kerja, sering tegang, dan gelisah
2. Hilang kepercayaan diri, apatis, pengkhayal, penuh curiga
3. Agitatif, menjadi ganas dan tingkah laku yang brutal
4. Sulit berkonsentrasi, perasaan kesal dan tertekan
5. Cenderung menyakiti diri, perasaan tidak aman, bahkan bunuh diri.

Dampak pada Kehidupan Sosial


1. Gangguan mental, anti-sosial dan asusila, dikucilkan oleh lingkungan
2. Merepotkan dan menjadi beban keluarga
3. Pendidikan menjadi terganggu, masa depan suram

Proses Terjadinya Penyalahgunaan dan Ketergantungan Narkotika

Proses Terjadinya Penyalahgunaan dan Ketergantungan Narkotika (NAPZA) adalah sebagai berikut:
Proses pertama adalah Abstinence
Abstinence adalah kondisi tidak menggunakan NAPZA sama sekali.
Proses kedua adalah proses coba-coba
Eksperimental adalah penggunaan NAPZA yang bersifat coba-coba, tanpa motivasi tertentu dan hanya
didorong oleh perasaan ingin tahu saja.
Ciri khas penggunaan NAPZA untuk penggunaan eksperimental:
1. Frekuensi Penggunaan Pemakaian bersifat occasional, biasanya beberapa kali dalam sebulan, pada
saat liburan atau berkumpul dengan teman-teman.
2. Sumber zat, biasanya obat didapat dari teman sebaya.
3. Alasan penggunaan: Karena rasa ingin tahu, Solidaritas, Agar diterima oleh kelompok, Menginginkan

tantangan, Menunjukkan kedewasaan, Mengusir kebosanan, Untuk kesenangan


4. Efek yang dirasakan: Pengguna akan merasa euphoria dan dapat kembali normal, Dalam jumlah kecil

dapat meyebabkan intok-sikasi, Perasaan yang diinginkan meliputi perasaan senang, diterima, kontrol,
Ciri-ciri pengguna adanya perubahan sikap, berbohong
Proses ketiga adalah penyalahgunaan
Penyalahgunaan adalah penyalahgunaan NAPZA yang sudah bersifat patologis, dipakai secara rutin
(paling tidak sudah berlangsung selama 1 bulan), terjadi penyimpangan perilaku dan gangguan fisik di
lingkungan sosial.
Ciri khas penggunaan NAPZA untuk penyalahgunaan/abuse:
1. Frekuensi Penggunaan Regular, beberapa kali dalam seminggu, lebih sering menggunakan sendirian

daripada dengan teman-teman.


2. Sumber zat: Dari teman, membeli dan menyimpan untuk persediaan, Menjual zat dan menyimpan

untuk digunakan sendiri, Mencuri untuk mendapatkan uang untuk membeli zat
3. Alasan penggunaan: Untuk memanipulasi emosi, mendapatkan kesenangan efek penggunaan zat,

sebagai koping terhadap stress dan perasaan-perasaan tidak nyaman, seperti sakit, perasaan
bersalah, cemas, sedih, Untuk meningkatkan rasa percaya diri, Untuk menghilangkan perasaan tidak
nyaman bila tidak menggunakan, Agar merasa normal
4. Efek yang dirasakan: Euphoria merupakan efek yang paling diinginkan, merasa normal kembali dari

perasaan sakit, depresi, dan perasaan lain yang tidak menyenangkan, Perasaan yang diinginkan oleh
pengguna, Penurunan dalam aktivitas ekstrakulikuler, Mulai mengadopsi kebiasaan pemakai (cara
berpakaian, perhiasan, gaya rambut), Bermasalah dengan keluarga, Sikap pembangkang, Perhatian
terfokus pada usaha mencari dan menggunakan zat
Proses keempat adalah ketergantungan
Ketergantungan adalah penggunaan NAPZA yang cukup berat, telah terjadi ketergantungan fisik dan
psikologik yang ditandai oleh adanya toleransi dan sindroma putus obat.
Ciri-ciri ketergantungan narkotika adalah:

1. Frekuensi penggunaan Setiap hari atau terus-menerus


2. Sumber zat: Menghalalkan segala cara untuk mendapatkan zat, Mengambil resiko yang serius, Sering
melakukan tindakan criminal, seperti merampok atau mencopet
3. Alasan penggunaan: Membutuhkan zat untuk menghilangkan sakit dan depresi, Untuk melarikan diri
dari kenyataan, Menggunakan karena di luar kontrol
4. Efek yang dirasakan: Pada saat tidak menggunakan zat, klien akan merasa sakit atau tidak nyaman,
Zat membantu mereka untuk merasa sakit atau tidak nyaman, Pengguna tidak merasa euphoria pada

tahap ini, Kemungkinan ada perasaan ingin bunuh diri, Merasa bersalah, malu, ditolak, Merasa adanya
perubahan emosi, seperti depresi, agresif, cepat tersinggung, dan apatis
5. Ciri-ciri pengguna: Perubahan fisik, seperti penurunan berat badan, masalah kesehatan, Penampilan
yang buruk, Kemungkinan drop out dari sekolah atau dikeluarkan dari pekerjaan, Sering keluar rumah,

Kemungkinan over dosis, Tertangkap, terutama pada saat menggunakan zat


Proses kelima adalah relapse
Relapse Ciri khas penggunaan Narkotika untuk relapse: Relapse merupakan keadaan dimana
seseorang yang memiliki riwayat penggunaan NAPZA setelah mampu berhenti dalam jangka waktu tertentu
kembali menggunakan NAPZA yang bisa disebabkan oleh berbagai faktor.

Faktor Penyebab Penyalahgunaan Narkotika

Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab penyalahgunaan narkotika pada seseorang. Berdasarkan
kesehatan masyarakat, faktor-faktor penyebab timbulnya penyalahgunaan narkotika, terdiri dari:
Faktor Zat
Tidak semua zat dapat menimbulkan gangguan penggunaan zat, hanya zat dengan khasiat
famakologik tertentu yang dapat menimbulkan ketergantungan. Apabila di suatu tempat zat yang dapat
menimbulkan ketergantungan zat mudah diperoleh, maka di tempat itu akan banyak terdapat kasus gangguan
penggunaan zat. Oleh karena itu, zat yang dapat menimbulkan ketergantungan harus diatur dengan aturanaturan yang efektif tentang penanamannya, pengolahannya, impornya, distribusinya, dan pemakaiannya.
Faktor Individu
Tiap individu memiliki perbedaan tingkat resiko untuk menyalahgunakan NAPZA. Faktor yang
mempengruhi individu terdiri dari faktor kepribadian dan faktor konstitusi.
Alasan-alasan yang biasnya berasal dari diri sendiri sebagai penyebab penyalahgunaan NAPZA antara lain:
1. Keingintahuan yang besar untuk mencoba, tanpa sadar atau berpikir panjang mengenai akibatnya
2. Keinginan untuk bersenang-senang
3. Keinginan untuk mengikuti trend atau gaya
4. Keinginan untuk diterima oleh lingkungan atau kelompok
5. Lari dari kebosanan, masalah atau kesusahan hidup

6. Pengertian yang salah bahwa penggunaan sekali-sekali tidak menimbulkan ketagihan


7. Tidak mampu atau tidak berani menghadapi tekanan dari lingkungan atau kelompok pergaulan untuk
menggunakan NAPZA
8. Tidak dapat berkata TIDAK terhadap NAPZA
Faktor Lingkungan

Faktor lingkungan meliputi:


1. Lingkungan Keluarga --- Hubungan ayah dan ibu yang retak, komunikasi yang kurang efektif antara

orang tua dan anak, dan kurangnya rasa hormat antar anggota keluarga merupakan faktor yang ikut
mendorong seseorang pada gangguan penggunaan zat.
2. Lingkungan Sekolah --- Sekolah yang kurang disiplin, terletak dekat tempat hiburan, kurang memberi
kesempatan pada siswa untuk mengembangkan diri secara kreatif dan positif, dan adanya murid

pengguna NAPZA merupakan faktor kontributif terjadinya penyalahgunaan NAPZA.


3. Lingkungan Teman Sebaya --- Adanya kebutuhan akan pergaulan teman sebaya mendorong remaja

untuk dapat diterima sepenuhnya dalam kelompoknya. Ada kalanya menggunakan NAPZA merupakan
suatu hal yng penting bagi remaja agar diterima dalam kelompok dan dianggap sebagai orang dewasa.

Pengertian Rehabilitasi Narkoba

Pengertian rehabilitasi narkoba adalah sebuah tindakan represif yang dilakukan bagi pencandu
narkoba. Tindakan rehabilitasi ditujukan kepada korban dari penyalahgunaan narkoba untuk memulihkan atau
mengembangkan kemampuan fisik, mental, dan sosial penderita yang bersangkutan. Selain untuk
memulihkan, rehabilitasi juga sebagai pengobatan atau perawatan bagi para pecandu narkotika, agar para
pecandu dapat sembuh dari kecanduannya terhadap narkotika.
Bagi pecandu narkoba yang memperoleh keputusan dari hakim untuk menjalani hukuman penjara atau
kurungan akan mendapatkan pembinaan maupun pengobatan dalam Lembaga Permasyarakatan. Dengan
semakin meningkatnya bahaya narkotika yang meluas keseluruh pelosok dunia, maka timbul bermacammacam cara pembinaan untuk penyembuhan terhadap korban penyalahgunaan narkotika. Dalam hal ini
adalah rehabilitasi.
Dalam Ketentuan Umum Undang-Undang No. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika, rehabilitasi dibedakan dua
macam, yaitu meliputi:
Rehabilitasi Medis
Rehabilitasi Medis adalah suatu proses kegiatan pengobatan secara terpadu untuk membebaskan
pecandu dari ketergantungan narkotika. Rehabilitasi Medis pecandu narkotika dapat dilakukan di Rumah Sakit

yang ditunjuk oleh Menteri Kesehatan. Yaitu rumah sakit yang diselenggarakan baik oleh pemerintah, maupun
oleh masyarakat. Selain pengobatan atau perawatan melalui rehabilitasi medis, proses penyembuhan
pecandu narkotika dapat diselenggarakan oleh masyarakat melalui pendekatan keagamaan dan tradisional.
Rehabitasi Sosial
Rehabitasi Sosial adalah suatu proses kegiatan pemulihan secara terpadu baik secara fisik, mental
maupun sosial agar bekas pecandu narkotika dapat kembali melaksanakan fungsi sosial dalam kehidupan
masyarakat. Yang dimaksud dengan bekas pecandu narkotika disini adalah orang yang telah sembuh dari
ketergantungan terhadap narkotika secara fisik dan psikis.
Rehabilitasi sosial bekas pecandu narkotika dapat dilakukan di lembaga rehabilitasi sosial yang
ditunjuk oleh Menteri Sosial, Yaitu lembaga rehabilitasi sosial yang diselenggarakan baik oleh pemerintah,
maupun oleh masyarakat.
Tindakan rehabilitasi ini merupakan penanggulangan yang bersifat represif yaitu penanggulangan yang
dilakukan setelah terjadinya tindak pidana, dalam hal ini narkotika, yang berupa pembinaan atau pengobatan
terhadap para pengguna narkotika. Dengan upaya-upaya pembinaan dan pengobatan tersebut diharapkan
nantinya korban penyalahgunaan narkotika dapat kembali normal dan berperilaku baik dalam kehidupan
bermasyarakat.

Model Pelayanan Rehabilitasi Narkotika

Rebalitasi narkotika adalah sebuah kebutuhan, dan sangat diharapkan keberasaannya, baik oleh
pemerintah, keluarga dan pemakai sendiri yang ingin bebas dan cengkeraman narkotika.
Saat ini terdapat banyak model pelayanan rehabilitasi narkotika yang ada. Model-model pelayanan
rehabilitas narkotika ini berasal dari sudut pandang rahabilitasi dan kelimuan yang berbeda.
Model-model pelayanan rehabilitasi narkotika adalah sebagai berikut:
Model Pelayanan dan Rehabilitasi Medis
1. Metadon --- Metadon adalah zat opioid sintetik berbentuk cair yang diberikan lewat mulut. Metadon

merupakan obat yang paling sering digunakan untuk terapi substitusi bagi ketergantungan opioid.
Bentuk terapi ini telah diteliti secara luas sebagai terapi modalitas. Terapi substitusi Metadon dari
penelitian dan monitoring pelayanan, secara kuat terbukti efektif menurunkan penggunaan NAPZA jalur
gelap, mortalitas, resiko penyebaran HIV, memperbaiki kesehatan mental dan fisik, memperbaiki fungsi
sosial serta menurunkan kriminalitas. Pada klien dengan pengguna heroin yang memakai rehabilitasi
dengan Metadon, maka dosis Metadon dosis tinggi dinilai lebih efektif daripada dosisnya rendah atau
menengah. Dosis Metadon yang tinggi akan diturunkan secara bertahap. Terapi rumatan Metadon
diikuti perbaikan kesehatan secara substansial dan insiden efek samping rendah. Hampir klien yang
mengikuti terapi Metadon berespon baik (RSKO, 2005). Meski demikian, tidak semua pengguna
dengan ketergantungn opioid dapat diberi terapi substitusi Metadon. Bagi mereka yang tidak dapat
menggunakan metode ini, tersedia banyak pendekatan lainnya dan menggugah mereka tetap berada
dalam terapi.

2. Burprenorfin --- Burprenorfin adalah obat yang diberikan oleh dokter mellui resep. Aktifitas agonis

opioid Burprenorfin lebih rendah dari Metadon. Burprenorfin tidak diabsorbsi dengan baik jika ditelan,
karena itu cara penggunaannya adalah sublingual (diletakkan di bawah lidah).
Model Pelayanan dan Rehabilitasi dengan Pendekatan Bimbingan Individu dan Kelompok
Terapi ini merupakan terapi konvensional untuk klien ketergantungan NAPZA yang tidak menjalani
rawat inap dan dapat dilakukan secara individual maupun kelompok. Program ini didesain dengan kegiatan
yang bervariasi seperti edukasi keterampilan, meningkatkan sosialisasi, pertemuan yang bersifat vokasional,
edukasi moral dan spiritual, serta terapi 12 langkah (the 12 steps recopvery program).
Model Pelayanan dan Rehabilitasi dengan Pendekatan Therapeutic Community
1. Pengertian Therapeutic --- Community (TC) adalah sebuah kelompok yang terdiri dari individu dengan
masalah yang sama, tinggal di tempat yang sama, memiliki seperangkat peraturan, filosofi, norma dan

nilai, serta kultural yang disetujui, dipahami dan dianut bersama. Kesemuanya dijalankan demi
pemulihan diri masing-masing.
2. Tujuan TC --- Klien dapat mengolah subkultur yang dianut pengguna ke arah kultur masyarakat luas
(mainstream society), menuju kehidupan yang sehat dan produktif, meskipun pengguna sendiri

mempunyai beberapa nilai untuk mempertahankan pemulihannya.


3. Cardinal Rules --- No Drugs, No Sex, and No Violence
4. Filosofi TC --- Program TC berlandaskan pada filosofi dan slogan-slogan tertentu, baik yang tertulis
maupun tidak tertulis.

Filosofi TC tertulis: Saya berada di sini karena tiada lagi tempat berlindung, baik dari diri sendiri, hingga saya
melihat diri saya di mata dan hati insan yang lain. Saya masih berlari, sehingga saya masih belum sanggup
merasakan kepedihan dan menceritakan segala rahasia diri saya ini, saya tidak dapat mengenal diri saya
sendiri dan yang lain, saya akan senantiasa sendiri. Dimana lagi kalau bukan di sini, dapatkah saya melihat
cermin diri sendiri? Bukan kebesaran semu dalam mimpi atau si kerdil di dalam ketakutannya, tetapi seorang
insan, bagian dari masyarakat yang penuh kepedulian. Di sini saya dapat tumbuh dan berakar, bukan lagi
seseorang seperti dalam kematian tetapi dalam kehidupan yang nyata dan berharga baik untuk diri sendiri
maupun orang lain.
Filosofi tidak tertulis:

Honesty (kejujuran) Adalah nilai hakiki yang harus dijalankan para residen, setelah sekian lama mereka
hidup dalam kebohongan.

No free lunch (di dunia ini tidak ada yang gratis) Tidak ada sesuatupun di dunia ini yang didapatkan
tanpa usaha terlebih dahulu.

Trust your environment (percaya pada lingkunganmu) Percaya pada lingkungan rehabilitasi dan yakin
bahwa lingkungan ini mampu membawa klien pada kehidupan yang positif.

Understand is rather than to be Understood (pahami lebih dulu orang lain sebelum kita minta dipahami)

Blind faith (keyakinan total pada lingkungan)

To be aware is to be alive (waspada adlah inti kehidupan)

Do your things right, everything else will follow (pekerjaan yang dilakukan dengan benar-benar akan
memberikan hasil yang positif)

Be careful what ask to you, you might just get it (mulutmu harimaumu)

You cant keep it unless you give it away (sebarkanlah ilmumu pada banyak orang)

What goes around, comes around (perbuatan baik akan berbuah baik)

Compensation is valid (selalu ada ganjaran bagi perilaku yang kita buat)

Act as if (bertindak sebagaimana mestinya)

Personal growth before vested status (kembangkanlah dirimu seoptimal mungkin)


Model Pelayanan dan Rehabilitasi dengan Pendekatan Agama
Ada berbagai macam pusat rehabilitasi dengan pendekatan agama, misalnya Pondok Pesantren
Suryalaya dan Pondok Pesantren Inaba di Jawa Barat dengan pendekatan nilai- nilai agama Islam dimana
kegiatan utamanya adalah berdzikir.
Beda halnya di Thailand dimana para biksu Budha merawat klien yang mengalami ketergantungan
opioida di kuil, antara lain kuil Budha Tan Kraborg. Di dalam kuil, setiap pagi klien diberi ramuan daun yang
menyebabkan klien muntah dan sore harinya mendapat pelajaran agama Budha dalam lima hari pertama.
Setelah lima hari tidak ada lagi kegiatan terstruktur dan klien diberi kesempatan untuk memulihkan
kesehatannya dari kelelahan. Para pendeta ini juga telah dilatih dalam memberi konseling kepada klien.
Model Pelayanan dan Rehabilitasi dengan Pendekatan Narcotic Anonymus
Narcotic Anonymus adalah suatu program recovery yang dijalankan seorang pecandu berdasarkan
prinsip 12 langkah. Langkah-langkah ini harus dijalankan lebih dari satu kali. Setelah selesai mengerjakan
seluruh langkah yang ada, seorang pecandu harus menjalankan kembali langkah pertama. Karena banyak hal
baru yang terjadi dan timbul sehingga seorang pecandu harus menjalankan recorvery-nya seumur hidup.
Twelve (12) steps Narcotic Anonymus, adalah:
1. Kami mengakui bahwa kami tidak punya kekuatan untuk mengatasi kebiasaan menggunakan alkohol

sehingga hidup kami menjadi tidak terkendali.


2. Kami berkesimpulan bahwa suatu kekuatan yang lebih besar dari diri kami sendiri dapat memulihkan

kami kepada hidup yang lebih sehat.


3. Kami memutuskan untuk memalingkan kemauan dan hidup kami di bawah bimbingan Tuhan,

sebagaimana kami memahaminya.


4. Mencari dan tidak takut akan menemukan moral kami sendiri.
5. Mengakui kepada Tuhan, kepada diri kami sendiri dan kepada orang lain, kesalahan- kesalahan kami
yang bersifat alamiah.
6. Siap secara bulat menerima Tuhan yang akan mengubah semua cacat watak.

7. Dengan rendah hati memohon kepada-Nya untuk menghilangkan kekurangan kami.


8. Membuat daftar-daftar orang yang telah kami rugikan, dan ingin berubah terhadap mereka.
9. Berubah secara langsung kepada orang tersebut dimana mungkin, kecuali bila dengan berbuat

demikian akan mencederai mereka atau orang lain.


10. Terus menemukan diri kami sendiri dan bila terdapat kesalahan, segera mengakuinya.
11. Melalui doa dan meditasi meningkatkan hubungan secara sadar dengan Tuhan, sebagaimana kami
memahami-Nya, berdoa hanya untuk mengetahui akan kehendak- Nya atas diri kami dan kekuatan

melaksanakannya.
12. Dengan memiliki kesadaran spiritual sebagai hasil dari langkah ini, kami akan mencoba untuk

menyampaikan kabar ini kepada pecandu alkohol, dan menerapkan prinsip ini dalam semua kehidupan
kami.
Model Pelayanan dan Rehabilitasi dengan Pendekatan Terpadu
Suatu pelayanan rehabilitasi dengan memadukan konsep dari berbagai pendekatan dan bidang ilmu
yang mendukung sehingga dapat memfasilitasi korban NAPZA dalam mengatasi masalahnya dari aspek bio,
psiko, sosial, dan spiritual.
Tahapan kegiatan pelayanan dan rehabilitasi sosial bagi korban penyalahguna Narkoba dilaksanakan sesuai
Standar Minimal dan Pedoman Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Penyalahgunaan Narkoba yang disusun
BNN, meliputi:
1. Pendekatan awal --- Pendekatan awal adalah kegiatan yang mengawali keseluruhan proses pelayanan

dan rehabilitasi sosial yang dilaksanakan dengan penyampaian informasi program kepada masyarakat,
instansi terkait, dan organisasi lain guna memperoleh dukungan dan data awal calon klien residen
dengan persyaratan yang telah ditentukan.
2. Penerimaan --- Pada tahap ini dilakukan kegiatan administrasi untuk menentukan apakah diterima atau

tidak dengan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut: (i) Pengurusan administrasi surat-menyurat
yang diperlukan untuk persyaratan msuk panti (seperti surat keterangan medical check up, test urine
negatif, dan sebagainya), (ii) Pengisisan formulir dan wawancara dan penentuan persyaratan menjadi
residen, (iii) Pencatatan residen dalam buku registrasi
3. Assessment --- Assessment merupakan kegiatan penelaahan dan pengungkapan masalah untuk
mengetahui seluruh permasalahan residen, menetapkan rencana dan pelaksanaan intervensi.

Kegiatan assessment meliputi: (i) Menelusuri dan mengungkapkan latar belakang dan keadaan residen
(ii) Melaksanakan diagnosa permasalahan (iii) Menentukan langkah-langkah rehabilitasi (iv)
Menentukan dukungan pelatihan yang diperlukan (v) Menempatkan residen dalam proses rehabilitasi
4. Bimbingan fisik --- Kegiatan ini ditujukan untuk memulihkan kondisi fisik residen, meliputi pelayanan

kesehatan, peningkatan gizi, baris-berbaris, dan olahraga.


5. Bimbingan mental dan sosial Bimbingan mental dan sosial meliputi bidang keagamaan / spiritual, budi

pekerti individual dan sosial / kelompok dan motivasi residen (psikologis).

6. Bimbingan orang tua dan keluarga Bimbingan bagi orang tua / keluarga dimksudkan agar orang tua /

keluarga dapat menerima keadaan residen, memberi dukungan, dan menerima residen kembali di
rumah pada saat rehabilitasi telah selesai.
7. Bimbingan keterampilan Bimbingan keterampilan berupa pelatihan vokalisasi dan keterampilan usaha
(survival skill), sesuai dengan kebutuhan residen.
8. Resosialisasi / reintegrasi --- Kegiatan ini merupakan komponen pelayanan dan rehabilitasi yang
diarahkan untuk menyiapkan kondisi residen yang akan kembali kepada keluarga dan masyarakat.

Kegiatan ini meliputi: (i) Pendekatan kepada residen untuk kesiapan kembali ke lingkungan keluarga
dan masyarakat tempat tinggalnya, (ii) Menghubungi dan memotivasi keluarga residen serta
lingkungan masyarakat untuk menerima kembali residen, (iii) Menghubungi lembaga pendidikan bagi
klien yang akan melanjutkan sekolah
9. Penyaluran dan bimbingan lanjut (aftercare) --- Dalam penyaluran dilakukan pemulangan residen
kepada orang tua / wali, disalurkan ke sekolah maupun instansi / perusahaan dalam rangka

penempatan kerja. Bimbingan lanjut dilakukan secara berkala dalam rangka pencegahan kambuh /
relapse dengan kegiatan konseling, kelompok, dan sebagainya.
10. Terminasi --- Kegiatan ini berupa pengakhiran / pemutusan program pelayanan dan rehabilitasi bagi
residen yang telah mencapai target program (clean and sober).

Berdasarkan KEPMENKES No.996/MENKES/SK/VIII/2002, komponen kegiatan yang ada pada rehabilitasi


narkotika meliputi:
1. Memperbaiki gizi dengan makanan yang bermutu dalam jumlah memadai
2. Memulihkan kebugaran jasmani dengan senam dan olahraga
3. Melatih penyalahguna NAPZA mengatasi ketegangan otot dan mental bila mengatasi stress melalui
terapi relaksasi
4. Meningkatkan konsep diri melalui psikoterapi kognitif behavioral
5. Membangkitkan kembali kepercayaan diri dan sikap optimis melalui psikoterapi supeortif
6. Meningkatkan sikap tegas untuk mampu menolak segala macam bujukan atau ajakan yang bersifat
negatif melalui psikoterapi asertif
7. Meningkatkan kterampilan komunikasi interpersonal melalui dinamika kelompok, konseling
8. Memperbaiki disfungsi keluarga melalui terpi keluarga
9. Melakukan konseling keluarga bagi semua anggota keluarga agar dapat mendukung proses pemulihan
10. Melatih tanggung jawab melalui kegiatan sehari-hari
11. Mempelajari suatu keterampilan sesuai minat

12. Mengikutkan penyalahguna NAPZA dalam pekerjaan sehari-hari


13. Pembinaan spiritual dan agama sesuai kepercayaan dan keyakinan masing-masing
14. Mewaspadai komplikasi medik
15. Memahami kemungkinan dual diagnosis (gangguan mental lain)
16. Rekreasi di dalam maupun di luar sarana rehabilitasi
17. Kegiatan lain yang disesuaikan dengan metode yang digunakan