Anda di halaman 1dari 2

FORMULASI NANOPARTIKEL MADU MENGGUNAKAN MATRIKS KITOSAN

RANTAI PENDEK DENGAN METODE GELASI IONIK SEBAGAI TERAPI LUKA


KRONIK
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang

Luka adalah rusak atau hilangnya jaringan tubuh yang terjadi karena adanya suatu
faktor yang mengganggu sistem perlindungan tubuh. Faktor tersebut seperti trauma,
perubahan suhu, zat kimia, ledakan, sengatan listrik, atau gigitan hewan. Bentuk dari luka
berbeda tergantung penyebabnya, ada yang terbuka dan tertutup. Salah satu contoh luka
terbuka adalah insisi dimana terdapat robekan linier pada kulit dan jaringan di bawahnya.
Salah satu contoh luka tertutup adalah hematoma dimana pembuluh darah yang pecah
menyebabkan berkumpulnya darah di bawah kulit. 1 Luka memberikan angka morbiditas yang
cukup besar di seluruh dunia terutama luka kronis karena mengganggu fungsional jaringan
dan dilihat dari nilai estetikanya. Luka akut yang mengalami penyulit dalam proses
penyembuhannya dapat berprogresi menjadi luka kronis.
Pada diabetes melitus dapat terjadi luka kronis, sulit proses penyembuhannya, sering
berulang dan berakhir dengan amputasi. Penyebab kejadian tersebut tergolong multifaktor
yaitu kombinasi dari gangguan vaskular, peripheral neuropathy dan peningkatan faktor resiko
infeksi pada penderita. Menurut Gordois et al (2003), sekitar 75% penderita diabetes
memiliki masalah pada kaki dan 76% dari kasus tersebut disebabkan oleh gangguan
neurophaty. Komplikasi DM dapat berkembang menjadi gangren. Gangren adalah suatu
proses atau keadaan yang ditandai dengan adanya jaringan mati atau nekrosis (Waspadji,
2006). Gangren diabetik adalah luka pada kaki yang merah kehitaman dan berbau busuk
akibat sumbatan yang terjadi pembuluh darah sedang atau besar di tungkai. Luka gangren
merupakan salah satu kornplikasi kronik DM yang paling ditakuti oleh setiap penderita DM
(Tjokroprawiro, 2007)
Madu merupakan cairan kental manis yang diproduksi oleh lebah madu yang berasal
dari nektar bunga. Madu mengandung fruktosa (38,5%), glukosa (31,0%), maltosa, sukrosa,
asam amino, vitamin (vitamin B6, vitamin C, thiamin, niasin, riboflavin, asam pantotenat),
mineral, enzim, air dan anti-oksidan (Anonim 1, 2007). Madu memiliki sifat antibakteri yang
membantu mengatasi infeksi pada luka dan aksi antiinflamasinya dapat mengurangi nyeri
serta meningkatkan sirkulasi yang berpengaruh pada proses penyembuhan. Madu juga
merangsang tumbuhnya jaringan baru, sehingga selain mempercepat penyembuhan juga
mengurangi timbulnya parut atau bekas luka pada kulit (Said Hamad, 2007).
Bahan nanopartikel banyak digunakan pada sistem penghantaran obat terbaru pada
berbagai bentuk sediaan kosmetik dan dermatologikal. Sifat pembawa bahan nanopartikel
mempunyai berbagai keuntungan seperti mencegah hidrasi kulit, meningkatkan efek absorpsi,
meningkatkan penetrasi zat aktif dan bersifat lepas terkendali. Kitosan merupakan

polisakarida alam [(14) glukosamin (2-amino-2-deoksi-d-glukosa) Nasetil-d-glukosamin


(2-asetamido-2-deoksi-dglukosa)] yang mulai banyak diaplikasikan dalam industri farmasi,
pangan dan kesehatan. Kitosan mempunyai beberapa sifat yang menguntungkan yaitu bersifat
anti mikroba, wound healing, tidak beracun, murah, biokompatibel, biodegradabel, serta larut
air.Kitosan, suatu polisakarida yang diisolasi dari kulit udang, diketahui mempunyai sifat anti
mikroba dan wound healing, sehingga memungkinkan untuk digunakan sebagai bahan
eksipien, pembawa sekaligus bahan aktif dalam formulasi sediaan topikal anti jerawat. Dalam
bentuk mikro/nanopartikel kitosan mempunyai banyak keunggulan yakni tidak toksik, stabil
selama penggunaan, luas permukaan yang tinggi, serta dapat dijadikan matriks untuk
berbagai jenis obat dan ekstrak tanaman (Agnihotri dkk., 2004). Oleh karena itu kitosan
berpotensi untuk digunakan sebagai bahan eksipien atau pembawa sekaligus bahan aktif
dalam suatu sediaan topikal.
Metode ionik gelasi merupakan metode yang umum digunakan untuk formulasi
nanopartikel menggunakan polimer polisakarida. Pada metode ini, polisakarida (alginat,
gelatin dan pektin ) dilarutkan dalam air atau medium asam lemah (untuk kitosan). Larutan
ini kemudian ditambahkan dengan cara diteteskan pada larutan lain yang mengandung
counterion dalam pengadukan konstan, menyebabkan terjadinya kompleksasi akibat muatan
yang berbeda antara polisakarida dan counterion sehingga mengalami gelasi ionik dan
presipitasi membentuk partikel sferis.
1.2.

Rumusan Masalah
1. Apakah madu dapat diformulasikan dalam bentuk nanopartikel menggunakan kitosan

rantai pendek dengan metode gelasi ionik ?