Anda di halaman 1dari 11

JURNAL PRAKTIKUM TEKNOLOGI SEDIAAN STERIL

KELOMPOK : 2

SHIFT : A
SOAL :

I.
II.

INJEKSI Ranitidin

Latar Belakang
Preformulasi Zat Aktif
Struktur
Nama kimia
Rumus molekul
Berat molekul
Pemerian
bubuk kristal putih atau kuning pucat (EP, hal : 2357, 2005)
bebas larut dalam air dan metanol, sedikit larut dalam etanol, sangat
Kelarutan
sedikit larut dalam metilen klorida.

(EP, hal : 2357, 2005)

Titik leleh
70oC
ph
6,7-7,3
Ini menunjukkan polimorfisme.
Inkompatibilitas
Stabilitas
Dekomposisi 130oC
Panas
Sensitive terhadap lembab
Hidrolisis/oksidasi
Sensitive terhadap cahaya
Cahaya
Kesimpulan :
Bentuk zat aktif yang digunakan : asam
Bentuk sediaan : injeksi
Cara sterilisasi sediaan : sterilisasi membran
Kemasan : dalam wadah (vial) tertutup rapat dan terlindung dari cahaya
III.

Perhitungan Tonisitas/Osmolaritas dan Dapar


a.
Tonisitas
Metode : kesetaraan
Perhitungan :
Ranitidine Hcl 25 mg/ml
R/ Ranitidin Hcl (dilebihkan 10%) 27,50 mg
Na2HPO4 anhidrat
0,98 mg
KH2PO4
1,5 mg
Aqua proinjection ad 1 ml
Ranitidin HCl = 27,50 mg/ml = 2,75g/100ml = 2,75%
E 3% = 0,16(FI Ed.IV hal.1255)

b.

Osmolaritas
Perhitungan :

Kesimpulan :
Sediaan bersifat hipo-iso-hipertonis : ____________________
Perhatian yang harus dicantumkan dalam informasi obat :
________________________________________________________________________
c.

IV.

V.

Dapar
Jenis dapar/kombinasi
Target pH
Kapasitas dapar
Perhitungan :

Pendekatan Formula
No
Bahan
1
Ranitidin Hcl
2
Na2HPO4
3
KH2PO4
4
NaCl
4
Aqua proinjeksi
Di buat 2 vial (10 ml/vial)
Preformulasi eksipient
4.1. NaCl
Struktur kimia
Rumus molekul

Jumlah (%)
25 mg/ml
0,98%
1,5%
Add 10ml

Fungsi / alasan penambahan bahan


Zat aktif
Pendapar
Pendapar
Pengisotonis
Pelarut

Na Cl (Rowe, 2009)
NaCl (Rowe, 2009)

Nama kimia
Sinonim
Berat molekul
Pemerian
Kelarutan

pH
pKa
Titik leleh
Inkompatibilitas

Natirum klorida
Alberger; chlorure de sodium; common salt; hopper salt; natrii chloridum;
natural halite; rock salt; saline; salt; sea salt; table salt (Rowe, 2009)
58,44
Hahlur bentuk kubus, tidak berwarna atau serhuk hahlur putih; rasa asin
(Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1995)
Mudah larut dalam air; sedikit lehih mudah larut dalam air mendidih; larut
dalam gliserin; sukar larut dalam etanol (Departemen Kesehatan Republik
Indonesia, 1995)
6,7 7,3 (Rowe, 2009)
Dengan besi, perak, timbale, dan garam merkuri,serta metil paraben dan agen

pengoksidasi (Rowe, 2009)


Stabilitas
Panas
Hidrolisis/oksidasi
Cahaya
Kegunaan
Penyimpanan

Harus terlindungi dari cahaya matahari (Rowe,2009)


Pengencer tablet dan kapsul; agen tonisitas (Rowe, 2009)
Dalam wadah tertutup rapat sejuk, dan kering (Rowe, 2009)

4.2. Natrium Fosfat (Na2HPO4) (Rowe, R. C., 2009:656)


Struktur kimia
Rumus molekul

Nama kimia
Berat molekul
Pemerian
Kelarutan

Serbuk, Putih atau hampir putih, Tidak berbau


Sangat mudah larut dalam air, lebih larut dalam air mendidih;
praktis tidak larut dalam etanol (95%)

pH
pKa
Titik leleh
Inkompatibilitas

12-14 (British pharmacopoeia, 2009).


318 C (British pharmacopoeia, 2009).

Inkompatibel dengan alkaloid, antipirin, kloral hidrat, asetat,


pirogallol, resorsinol, dan kalsium glukonat, serta ciprofloxacin
Stabil terhadap tempat yang sejuk dan kering

Stabilitas
Panas
Hidrolisis/oksidasi
Cahaya
Kegunaan
Penyimpanan

4.3.

Dalam wadah yang sejuk dan kering

Natrium Fosfat (NaH2PO4) (Rowe, R. C., 2009:659)

Pemerian
Rasa
Warna
Bau
Ukuran partikel
Kelarutan

:
:
:
:
:
:

Serbuk
Tidak berasa
Tidak berwarna atau putih
Tidak berbau
119,98
Larut dalam 1 bagian air, sangat sedikit larut dalam

pH larutan
pKa
Berat jenis
Stabilitas

:
:
:
:

etanol (95%)
4,1-4,5 dalam 5% b/v larutan
2,15
1,915 g/cm3
Sediaan larutan stabil dan dapat disterilisasi dengan

Inkompatibilitas

autoklaf
: Inkompatibel dengan alkali dan karbonat

Penyimpanan
4.4.

: Dalam wadah yang sejuk dan kering

Aqua proinjeksi
Struktur kimia
Rumus molekul

H-O-H (FI.IV, 1995).


H2O (FI.IV, 1995).

Pemerian
Kelarutan
pH
pKa
Inkompatibilitas

Stabilitas
Panas
Hidrolisis/oksidasi
Cahaya
Kegunaan
Penyimpanan

VI.

Cairan, jernih, tidak berwarna, tidak berbau (FI.IV, 1995).


Larut dalam pelarut polar (FI.IV, 1995).
12-14 (British pharmacopoeia, 2009).
Dapat bereaksi dengan obat-obatan dan eksipien lain yang rentan terhadap
hidrolisis dan suhu tinggi. Dapat bereaksi dengan logam alkali, garam anhidrat
dan berbagai bahan organik dan kalsium karbida (Rowe,dkk, 2009).
Stabil di lingkungan es, cair dan uap dilindungi oleh ion dan kontaminasi
organik yang dapat menyebabkan konduktivitas dan jumlah karbon organik
meningkat (Rowe,dkk, 2009).
Wadah tertutup rapat (Rowe,dkk, 2009).

Persiapan Alat/Wadah/Bahan
a. Alat
No
Nama alat
1
Batang pengaduk
2
Corong
3
Erlenmeyer
4
Gelas beaker
5
Gelas ukur
6
Kaca arloji
7
Karet pipet tetes
8
Pipet tetes

b. Wadah
No
Nama alat
1
2
Karet vial
3
Vial
c.

Jumlah
2
1
1
3
1
4
3
3

Cara sterilisasi (lengkap)


Oven, 170C, 2 jam
Oven, 170C, 2 jam
Autoclave, 121C, 15 menit
Autoclave, 121C, 15 menit
Autoclave, 121C, 15 menit
Oven, 170C, 2 jam
Autoclave, 121C, 15 menit
Oven, 170C, 2 jam

Jumlah

Cara sterilisasi (lengkap)

2
2

Air mendidih selama 30 menit


Oven, 170C, 2 jam

Bahan (hanya untuk cara aseptic)


No
Nama bahan
Jumlah
1
Ranitidin
27,5
2
NaCl
189 mg
3
Na2HPO4
4
KH2PO4
4
Aqua proinjeksi
Add 21ml

Cara sterilisasi (lengkap)


Sterilisasi akhir dg filter membran
autoclave, 121C, 15 menit
Sterilisasi Sinar gamma
Autoclave, 121C, 15 menit

VII.

Penimbangan Bahan
Jumlah sediaan yang dibuat : 2 vial
No
1
2
3
4
5

VIII.

Nama bahan

Jumlah yang ditimbang


27,5 mg
0,89 mg
1,5 mg

Ranitidin

Na2HPO4
KH2PO4
NaCl
Aqua proinjeksi

Prosedur Pembuatan
RUANG

Ad 21 ml

PROSEDUR

Disiapkan alat, wadah dan bahan yang diperlukan


Grey Area
(Ruang
Sterilisasi)

Disterilkan sesuai prosedur :


Dicuci alat, wadah dan bahan , dikeringkan dan dibungkus dengan kertas perkamen 2
lapis
Sebelum disterilkan, dikalibrasi gelas beker 100ml menjadi 50ml
Disterilkan alat, wadah dan bahan dengan metode :

Panas basah (autoclave, 121C, 15 menit) : gelas beker, kaca arloji, pipet
tets, gelas ukur, batang pengaduk, erlenmeyer dan vial
Kimia (etanol 70%, 24 jam) : karet pipet tetes, karet tutup vial
Panas kering (oven, 170C, 1 jam) : batang pengaduk, NaCL, NaOH

Dibuat aqua proinjeksi : disterilkan 100ml aquades dengan autoclave, 121C, 15 menit

Ruang
Penimbangan
White Area
(Ruang
Pencampuran
)

White Area

Setelah disterilkan, semua alat dan wadah dimasukkan ke dalam white area, transfer
box
Ditimbang bahan-bahan menggunakan kaca arloji
Di-addkan aqua proinjeksi dengan gelas ukur sampai 1ml
Disiapkan aqua proinjeksi
Dilarutkan Ranitidin HCl ke dalam gelas beker dengan aqua proinjeksi secukupnya,
diaduk hingga homogen dengan batang pengaduk
Dilarutkan masing-masing bahan eksipien dalam gelas beker dengan aqua proinjeksi
secukupnya, diaduk hingga homogen dengan batang pengaduk
Dimasukkan satu-persatu larutan eksipien ke dalam larutan zat aktif, diaduk hingga
homogen dengan batang pengaduk
Dihomogenkan campuran larutan, kemudian larutan ditambahkan aqua proinjeksi
sampai mencapai 80% dari total volume sediaan
Dilakukan pengecekan pH menggunakan pH indikator universal
Bila pH belum mencapai nilai yang diharapkan, maka ditambahkan NaOH hingga pH
larutan mencapai 6, lalu digenapkan dengan aqua proinjeksi
Disaring larutan sediaan menggunakan membran filter (0,45m) dan ditampung
dengan erlenmeyer
Diisi setiap vial dengan sediaan sebanyak 10,5ml, ditutup vial aluminium foil
Dibawa vial ke ruang penutupan melalui transfer box
Ditutup vial yang sudah terisi dengan tutup karet vial, lalu diseal dengan aluminium

IX.

(Ruang
foil
Penutupan
Grade C)
Grey Area
Disimpan sediaan didalam gelas kimia yang telah dilapisi kapas
(Ruang
Botol yang sudah disterilisasi dibawa ke ruang evaluasi untuk dilakukan evaluasi pada
Sterilisasi)
sediaan
Grey Area
Dilakukan evaluasi sediaan
(Ruang
Diberi etiket dan brosur
Evaluasi)
Dikemas dalam wadah sekunder
Evaluasi Sediaan
Jumlah
Hasil
No
Jenis evaluasi
Prinsip evaluasi
Syarat
sampel
pengamatan

Penetapan pH

Menggunakan air
bebas
karbondioksida P.
Elektroda, larutan
baku, larutan uji

Ph= 4

Nilai pH
dalam darah
normal 7,35
7,45
(Departemen
Kesehatan
Republik
Indonesia,
1995)

Penetapan
volume injeksi
dalam wadah

Menggunakan spuit
yang bisa
menampung isi 3
buah ampul dan
dipindahkan ke
dalam sediaan
semula

Vol = 10 ml

Volume
injeksinya itu
harus
dilebihkan.
Kelebihan
volume yang
dianjurkan
dipersyaratka
n dalam FI IV
(Departemen
Kesehatan
Republik
Indonesia,
1995)

Bahan partikulat
dalam injeksi

Bebas dari partikel


yang dapat diamati
pada pemeriksaan
secara visual.
Bertujuan untuk
memeriksa keutuhan

Bebas
partikulat

Tidak ada
boleh bahan
partikulat
pada sediaan
injeksi
(Departemen

Uji kebocoran

Uji kejernihan
larutan

Uji keseragaman
sediaan

Uji efektivitas
pengawet
antimikroba

kemasan untuk
menjaga sterilitas
dan volume serta
kestabilan sediaan.
(Departemen
Kesehatan Republik
Indonesia, 1995
Bertujuan untuk
memeriksa keutuhan
kemasan untuk
menjaga sterilitas
dan volume serta
kestabilan sediaan.
(Departemen
Kesehatan Republik
Indonesia, 1995)

Dilakukan dibawah
cahaya yang
terdifusi, tegak lurus
ke arah bawah
tabung.
Setiap larutan obat
suntik harus jernih
dan bebas dari
kotoran sehingga
diperlukan uji
kejernihan secara
visual (Departemen
Kesehatan Republik
Indonesia, 1995
Menimbang 10 vial
satu per satu dan
ditetapkan sesuai
monografi

Kesehatan
Republik
Indonesia,
1995

Larutan
jernih

Volume pada
sediaan
injeksi harus
sesuai dengan
jumlah
volume pada
etiket yang
tertera
(Departemen
Kesehatan
Republik
Indonesia,
1995)
Setiap sediaan
injeksi yang
dibuat harus
terlihat jernih
(tidak ada zat
atau bahan
pengotor lain
pada sediaan
injeksi)
(Departemen
Kesehatan
Republik
Indonesia,
1995)

Uji kandungan
zat antimikroba

Uji sterilitas

Uji pirogentas

10

Uji endokrin
bakteri

zat yang tertera


tidak lebih dari 20%
dari jumlah yang
tertera pada etiket
Menginokulasi
langsung kedalam
media pembenihan
lalu diinkubasi pada
suhu 2 sampai 250C
Uji dilakukan dalam
ruang terpisah yang
khusus dan dengan
kondisi yang sama
dengan ruang
pemeliharaan
Dilakukan
menggunakan
limunus amebocyte
lysate (LAL)

Kesimpulan :
Sediaan memenuhi syarat / tidak memenuhi syarat
X.

Pembahasan

Injeksi merupakan sediaan steril berupa larutan, emulsi, suspensi atau serbuk yang
harus dilarutkan atau disuspensikan terlebih dahulu sebelum digunakan, yang disuntikkan
dengan cara merobek jaringan kedalam kuit atau melalui kulit atau selaput lendir. Solutio
atau larutan adalah sediaan cair yang mengandung bahan kimia terlarut, sebagai pelarut
digunakan air suing, kecuali dinyatakan lain. Untuk larutan steril yang diugnakan sebagai
obat luar harus mmenuhi syarat yang tertera pada injectiones.
Pada praktikum ini digunakan zat aktif ranitidine. Ranitidine adalah obat yang
digunkan untuk mengobati tukak lambung, duodenum, tukak pasca operasi refluks
esophagus, keadaan hipersekresi patologis. Ranitidine memiliki mekanisme kerja dengan
mengaktifkan secara cepat histamine H2-antagonist. Diman dapat menghambat basal dan
rangsangan sekresi asam lambung, mengurangi volume, kandungan asam dan pepsin dari
sekresi. Ranitidine memiliki bioavaibilitas 90% sampai 100% pada pemakaian secara
intramuscular (IM) dibandingkan intravena (IV).

Ranitidin merupakan zat yang larut dalam air, sehingga pembuatanya akan lebih
stabil dengan pelarut air. Pembawa air yang digunakan adalah a.p.i (aqua pro injeksi).
Aqua pro injeksi di buat dengan didihkan aqua bides selama 30 menit dihitung dari
setelah air mendidih di atas api lalu didinginkan. Setelah itu ditambahkan karbon aktif
0,1% dari volume, dipanaskan 60-70oC selama 15 menit dinginkan kemudian di saring
dan di sterilisasi wadah yang di gunakan adalah wadah vial kaca gelap tipe 1 di
karenakan zat aktif rusak oleh cahaya dan pada wadah tipe 1 mempunyai derajat yang
paling tinggi dimana disusun eksklusif dan resisten secara kimia terhadap kondisi asam
dan basa yang ekstrim.
Formulasi sediaan injeksi ,ranitidin sebagai zat aktif stabil dalam rentang ph yang
sempit sehingga memerlukan penambahan dapar. langkah pertama yang dilakukan adalah
melakukan pengecekan tonisitas larutan dalam formula, apakah akan menghasilkan
larutan isotonis atau tidak isotonis. Zat tambahan Nacl 0.9% b/v ditambahkan sebagai
pengisotonis. Laritan isotonis adalah larutan parenteral yang mempunyai tekanan osmosis
sama dengan plasma darah serta memiliki titik beku sama dengan titik beku cairan tubuh
yaitu -0,52. Jika larutan injeksi mempunyai tekanan osmotic lebih besar dari larutan Nacl
0,9% disebut larutan hipertonis. Jika larutan injeksi yang hipertonis disuntikkan, air
dalam sel akan keluar dari sel sehingga sel akan mengkerut tetapi keadaan ini bersifat
reversible atau sementarakarena tidak adanya kerusakan pada sel. Jika larutan injeksi
yang hipotonis disuntikkan , air dalam larutan injeksi diserap dan masuk kedalam sel itu
dan keadaan ini bersifat tetap. pecahnya sel darah merah akan dibawa aliran darah dapat
menyumbat pembuluh darah. Larutan yang hipotonis,tidak boleh dimasukkan ke dalam
tubuh karena selain menyebabkan rasa sakit, juga dapat menimbulkan efek yang
membahayakan mengatasinya, maka perlu penambahan zat pengisotonis,tujuannya
adalah untuk mencegah rasa nyeri yang ditimbulkan karena perbedaan tekanan osmosis
antara larutan dan jaringan..
Prosedur kerja nya yang pertama mensterilkan semua alat yang di butuhkan
menggunakan metode yang sesuai , sterilisasi uap (panas basah) dengan menggunakan
autoclave, sterilisasi panas kering menggunakan oven. Sterilisasi uap air ini lebih efektif
dibandingkan dengan sterilisasi panas kering. Bila ada uap air, bakteri akan dikoagulasi
dan dirusak pada temperatur yang lebih rendah daripada tidak ada kelembaban. Sel

bakteri dengan air besar umumnya lebih mudah dibunuh. Pada spora-spora yang kadar
airnya relatif rendah maka akan sulit dihancurkan. Mekanisme penghancuran bakteri oleh
uap air adalah karena terjadinya denaturasi dan koagulasi beberapa proten esensial
organisme tersebut. Adanya uap air yang panas dalam sel mikroba menimbulkan
kerusakan pada temperatur yang lebih rendah. Sedangkan untuk sterilisasi panas kering,
kematian mikroba diakibatkan karena adanya sel mikroba mengalami dehidrasi diikuti
dengan pembakaran pelan-pelan atau proses oksidasi.
Proses selanjutnya adalah menimbang Ranitidin dan Nacl . Di larutkan NaCl
dengan aqua pro injeksi kemudian ranitidin di larutkan didalam larutan NaCL. Campuran
tersebut kemudian dimasukkan ke dalam vial kemudian di periksa Ph nya, kemudian
ditambahakan larutan dapar dan hasil pemeriksaan menunjukkan sediaan sudah sesuai
dengan rentang Ph nya . Apabila zat terlalu asam maka dapat di tambahkan NaOH dan
apabila terlalu basa dapat di tambah HCL. Kemudian di tambah aqua pi ad tanda kalibrasi
kemudian di saring dengan membrane filter .
Uji pH ini bertujuan unttuk mengetahui sifat ke asam-basaan dari sediaan injeksi
yang dibuat. Uji pH ini berkaitan dengan stabilitas obat dan keamanan dalam
penggunaan. Hasil pemeriksaan pH larutan yang didapat yaitu 6. Ini berarti memenuhi
untuk pH sediaan parenteral yaitu antara 5 sampai 6 karena pH tersebut isohidris dengan
nilai pH darah dan cairan tubuh lainnya. Isohidris yaitu keadaan dimana pH larutan sama
dengan pH darah ataupun cairan tubuh. Namun jika dalam uji ini belum memenuhi
persyaratan pH maka perlu dilakukan penyesuaian pH agar memenuhi syarat. Jika terlalu
asam, maka bisa ditambah larutan NaOH 0,1 N. Dan jika terlalu basa dapat ditambah
larutan HCl 0,1 N. Tujuan dari pengaturan pH ini adalah untuk meningkatkan stabilitas
obat. Selain itu juga untuk mencegah adanya rangsangan atau rasa sakit sewaktu
disuntikkan. Karena jika terlalu tinggi dapat menyebabkan nekrosis jaringan sedangkan
jika terlalu rendah maka menyebabkan rasa sakit sewaktu disuntikkan.
Uji partikel asing Tujuan dari uji partikel asing ini adalah agar mengetahui apakah
ada partikel dalam larutan. Partikel asing tersebut merupakan partikel-partikel yang tidak
larut yang dapat berasal dari larutan dan zat kimia yang terkandung, lingkungan,
peralatan, personal, maupun dari wadah. Partikel asing tersebut dapat menyebabkan
pembentukan granuloma patologis dalam organ vital tubuh. Untuk mengetahui

keberadaan partikel asing dilakukan dengan menerawang sediaan pada sumber cahaya.
Dari hasil uji ini didapat bahwa tidak terdapat partikel asing dalam injeksi. Jika terdapat
partikel asing bisa terjadi karena sewaktu penyaringan masing ada partikel yang lolos dari
saringan.
Uji kejernihan Tujuan dilakukan uji kejernihan ini adalah untuk mengetahui
kejernihan dari larutan infus yang dibuat. Kejernihan adalah suatu batasan yang relatif,
yang artinya sangat dipengaruhi oleh penilaian subjektif dari pengamat. Dari pemeriksaan
yang dilakukan diperoleh bahwa larutan infus yang dibuat memenuhi syarat kejernihan.
Pengujian keseragaman volume berkaitan dengan uji kebocoran. Untuk injeksi
dalam bentuk cairan, volume isi netto tiap wadah harus sedikit berlebih dari volume yang
ditetapkan. Dari pengujian ini didapatkan hasil yaitu terdapat penyusutan.
x. Kesimpulan
formula yang di usulkan :
Ranitidin 25 mg/ml
Na2HPO4
0,98%
KH2PO4
1,5%
NaCL
Aqua pi ad 10 ml
XI.
Daftar Pustaka
British Pharmacopoeia. 2009. British Pharmacopoeia, Volume I & II. London: Medicines and
Healthcare Products Regulatory Agency (MHRA)
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1995. Farmakope Inodonesia Edisi IV. Jakarta :
Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Kawasaki, Jiro. 2006. The Japanese Pharmacopoeia. Jepang : The Minister of Health, Labour,
and Welfare.
Rowe, Raymond C., Paul J Shesky, and Marian E Quinn. 2009. Handbook of Pharmaceutical
Excipients. Sixth Edition. London : the Phamaceutical Press and Washington: the
American Pharmacists Association.
Sweetman, Sean C. 2009. Martindale The Complete Drug Reference 36th. London : the
Pharmaceutical Press.
USP. 2007. United States Pharmacopoiea- National Formulary 30. United States : The Official
Compendia of Standards.