Anda di halaman 1dari 32

BAB I

PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Imunisasi adalah suatu usaha untuk memberikan kekebalan pada bayi dan
anak terhadap penyakit tertentu. Guna terwujudnya derajat kesehatan yang tinggi,
pemerintah telah menempatkan fasilitas pelayanan.1
Angka kesakitan bayi di Indonesia relatif masih cukup tinggi, meskipun
menunjukkan penurunan dalam satu dekade terakhir. Program imunisasi bisa
didapatkan tidak hanya di puskesmas atau di rumah sakit saja, akan tetapi juga
diberikan di posyandu yang dibentuk masyarakat dengan dukungan oleh petugas
kesehatan dan diberikan secara gratis kepada masyarakat dengan maksud program
imunisasi dapat berjalan sesuai dengan harapan. Program imunisasi di posyandu
telah menargetkan sasaran yang ingin dicapai yakni pemberian imunisasi pada
bayi secara lengkap. Imunisasi dikatakan lengkap apabila mendapat BCG 1 kali,
DPT 3 kali, Hepatitis 3 kali, Campak 1 kali, dan Polio 4 kali. Bayi yang tidak
mendapat imunisasi secara lengkap dapat mengalami berbagai penyakit, misalnya
difteri, tetanus, campak, polio, dan sebagainya. Oleh karena itu, imunisasi harus
diberikan dengan lengkap sesuai jadwal. Imunisasi secara lengkap dapat
mencegah terjadinya berbagai penyakit tersebut.2
Pemerintah telah memberikan berbagai upaya dan kebijakan dalam bidang
kesehatan untuk menekan angka kesakitan, namun masyarakat belum bisa
memanfaatkannya secara optimal karena ada sebagian ibu yang memiliki persepsi
bahwa tanpa imunisasi anaknya juga dapat tumbuh dengan sehat.3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
DEFINISI
Imunisasi adalah suatu cara meningkatkan kekebalan seseorang secara
aktif terhadap suatu antigen, sehingga bila kelak ia terpajan pada antigen yang
serupa tidak terjadi penyakit. Imunisasi berasal dari kata immune yang berarti
kebal atau resisten. Imunisasi terhadap suatu penyakit hanya akan memberikan
kekebalan atau resistensi pada penyakit itu saja, sehingga untuk terhindar dari
penyakit yang lain diperlukan imunisasi lainnya.3
Imunisasi biasanya terutama diberikan pada anak-anak karena sistem
kekebalan tubuh mereka masih belum sebaik orang dewasa, sehingga rentan
terhadap serangan penyakit infeksi yang berbahaya. Beberapa imunisasi tidak
cukup diberikan hanya satu kali, tetapi harus dilakukan secara bertahap dan
lengkap untuk mendapatkan kekebalan dari berbagai penyakit yang sangat
membahayakan kesehatan dan hidup anak.1
Imunisasi merupakan suatu proses transfer antibodi secara pasif dengan
memberikan imunoglobulin.
Vaksinasi, merupakan suatu tindakan yang dengan sengaja memberikan
paparan pada suatu antigen berasal dari suatu patogen. Antigen yang diberikan
telah dibuat demikian rupa sehingga tidak menimbulkan sakit namun
memproduksi limfosit yang peka, antibodi dan sel memori. Cara ini menirukan
infeksi alamiah yang tidak menimbulkan sakit namun cukup memberikan
kekebalan. Tujuannya adalah memberikan infeksi ringan yang tidak berbahaya
namun cukup untuk menyiapkan respon imun sehingga apabila terjangkit penyakit
yang sesungguhnya dikemudian hari anak tidak menjadi sakit karena tubuh
dengan cepat membentuk antibodi dan mematikan antigen / penyakit yang masuk
tersebut.
Vaksinasi mempunyai keuntungan

Pertahanan tubuh yang terbentuk akan dibawa seumur hidupnya.


Vaksinasi cost-effective karena murah dan efektif.
2

Vaksinasi tidak berbahaya. Reaksi yang serius sangat jarang terjadi, jauh
lebih jarang daripada komplikasi yang timbul apabila terserang penyakit
tersebut secara almiah.
Vaksin adalah mikroorganisme bakteri, virus atau riketsia) atau toksoid
yang diubah ( dilemahkan atau diamtikan) sedemikian rupa sehingga patogenisitas
atau toksisitasnya hilang, tetapi tetap mengandung sifat antigenisitas. Bila vaksin
diberikan kepada manusia maka akan menimbulkan kekebalan spesifik secara
aktif terhadap penyakit tertentu.
Vaksinasi merupakan upaya pencegahan primer. Secara konvensional,
upaya pencegahan penyakit dan keadaan apa saja yang akan menghambat tumbuh
kembang anak dapat dilakukan dalam tiga tingkatan yaitu pencegahan primer,
pencegahan sekunder dan pencegahan tersier.
Pencegahan primer adalah semua upaya untuk menghindari terjadinya
sakit atau kejadian yang dapat mengakibatkan seseorang sakit atau menderita
cedera dan cacat. Pencegahan sekunder adalah upaya kesehatan agar tidak terjadi
komplikasi yang tidak diinginkan, yaitu meninggal atau meninggalkan gejala sisa,
cacat fisik maupun mental. Pencegahan tersier adalah membatasi berlanjutnya
gejala sisa tersebut dengan upaya pemulihan seseorang penderita agar dapat hidup
mandiri tanpa bantuan orang lain.
EPIDEMIOLOGI
Berdasarkan laporan WHO tahun 2002, setiap tahun terjadi kematian
sebanyak 2,5 juta balita, yang disebabkan penyakit yang dapat dicegah melalui
vaksinasi. Radang paru yang disebabkan oleh pneumokokus menduduki peringkat
utama (716.000 kematian), diikuti penyakit campak (525.000 kematian), rotavirus
(diare), Haemophilus influenza tipe B, pertusis dan tetanus. Dari jumlah semua
kematian tersebut, 76% kematian balita terjadi dinegara-negara sedang
berkembang, khususnya Afrika dan Asia Tenggara (termasuk Indonesia).1
WHO mengatakan bahwa penyakit infeksi yang dapat dicegah melalui
vaksinasi akan dapat diatasi bilamana sasaran imunisasi global tercapai. Dalam

hal ini bisa tercapai bila lebih dari > 90% populasi telah mendapatkan vaksinasi
terhadap penyakit tersebut.1
TUJUAN
Untuk mencegah terjadinya penyakit tertentu pada seseorang, dan
menghilangkan penyakit tertentu pada sekelompok masyarakat atau bahkan
menghilangkan penyakit tertentu dari dunia.3
Sasaran dari pemberian imunisasi tidak hanya pada anak-anak, tetapi juga
mencakup wanita hamil (awal kehamilan 8 bulan), wanita usia subur (calon
mempelai). Pada anak-anak, imunisasi diberikan dimulai sejak bayi dibawah umur
1 tahun (0 11 bulan) sampai anak sekolah dasar (kelas 1 kelas 6).
KEBERHASILAN IMUNISASI
Tergantung dari beberapa faktor, yaitu status imun pejamu, faktor genetik
pejamu, serta kualitas dan kuantitas vaksin.
Status imun pejamu
Terjadinya antibodi spesifik pada pejamu terhadap vaksin yang diberikan
akan mempengaruhi keberhasilan vaksinasi. Misalnya pada bayi yang semasa
fetus mendapat antibodi maternal spesifik terhadap virus campsk, bila vaksinasi
campak diberikan pada saat kadar antibodi spesifik campak masih tinggi akan
membeikan hasil yang kurang memuaskan. Demikian pula air susu ibu (ASI) yang
mengandung IgA sekretori (sIgA) terhadap virus polio dapat mempengaruhi
keberhasilan vaksinasi polio yang diberikan secara oral. Namun pada umumnya
kadar sIgA terhadap virus polio pada ASI sudah rendah pada waktu bayi berumur
beberapa bulan. Pada penelitian di Sub Bagian Alergi-Imunologi, Bagian IKA
FKUI/RSCM, Jakarta ternyata sIgA polio sudah tidak ditemukan lagi pada ASI
setelah bayi berumur 5 bulan. Kadar sIgA tinggi terdapat pada kolostrum. Karena
itu bila vaksinasi polio diberikan pada masa pemberian kolostrum ( kurang atau
sama dengan 3 hari setelah bayi lahir ), hendaknya ASI ( kolostrum ) jangan
diberikan dahulu 2 jam sebelum dan sesudah vaksinasi.
Keberhasilan vaksinasi memerlukan maturitas imunologik. Pada bayi
neonatus fungsi makrofag masih kurang. Pembentukan antibodi spesifik terhadap
4

antigen tertentu masih kurang. Jadi dengan sendirinya, vaksinasi pada neonatus
akan memberikan hasil yang kurang dibandingkan pada anak. Maka, apabila
imunisasi diberikan sebelum bayi berumur 2 bulan, jangan lupa memberikan
imunisasi ulangan.
Status imun mempengaruhi pula hasil imunisasi. Individu yang mendapat
obat imunosupresan, menderita defisiensi imun kongenital, atau menderita
penyakit yang menimbulkan defisiensi imun sekunder seperti pada penyakit
keganasan juga akan mempengaruhi keberhasilan vaksinasi. Bahkan adanya
defisiensi imun merupakan kontraindikasi pemberian vaksin hidup karena dapat
menimbulkan penyakit pada individu tersebut. Demikian pula vaksinasi pada
individu yang menderita penyakit infeksi sistemik seperti campak, tuberkulosis
milier akan mempengaruhi pula keberhasilan vaksinasi.
Keadaan gizi yang buruk akan menurunkan fungsi sel sistem imun seperti
makrofag dan limfosit. Imunitas selular menurun dan imunitas humoral
spesifisitasnya rendah. Meskipun kadar globulin normal atau bahkan meninggi,
imunoglobulin yang terbentuk tidak dapat mengikat antigen dengan baik karena
terdapat kekurangan asam amino yang dibutuhkan untuk sintesis antibodi. Kadar
komplemen juga berkurang dan mobilisasi makrofag berkurang, akibatnya
respons terhadap vaksin atau toksoid berkurang.
Faktor genetik pejamu
Interaksi antara sel-sel sistem imun dipengaruhi oleh variabilitas genetik.
Secara genetik respons imun manusia dapat dibagi atas responder baik, cukup,
dan rendah terhadap antigen tertentu. Ia dapat memberikan respons rendah
terhadap antigen tertentu, tetapi terhadap antigen lain dapat lebih tinggi. Karena
itu tidak heran bila kita menemukan keberhasilan vaksinasi yang tidak 100%.
Kualitas dan kuantitas vaksin
Vaksin adalah mikroorganisme atau toksoid yang diubah sedemikian rupa
sehingga patogenisitas atau toksisitasnya hilang tetapi masih tetap mengandung
sifat antigenisitas. Beberapa faktor kualitas dan kuantitas vaksin dapat
menentukan keberhasilan vaksinasi, seperti cara pemberian, dosis, frekuensi
pemberian ajuvan yang dipergunakan, dan jenis vaksin.

Cara pemberian vaksin akan mempengaruhi respons imun yang timbul.


Misalnya vaksin polio oral akan menimbulkan imunitas lokal disamping
sistemik, sedangkan vaksin polio parenteral akan memberikan imunitas
sistemik saja.
Dosis vaksin terlalu tinggi atau terlalu rendah juga mempengaruhi respons
imun yang terjadi. Dosis terlalu tinggi akan menghambat respons imun
yang diharapkan. Sedang dosis terlalu rendah tidak merangsang sel-sel
imunokompeten.Dosis yang tepat dapat diketahui dari hasil uji klinis,
karena itu dosis vaksin harus sesuai dengan dosis yang direkomendasikan.
Frekuensi pemberian juga mempengaruhi respons imun yang terjadi.
Disamping frekuensi, jarak pemberianpun akan mempengaruhi respons
imun yang terjadi. Bila pemberian vaksin berikutnya diberikan pada saat
kadar antibodi spesifik masih tinggi, maka antigen yang masuk segera
dinetralkan oleh antibodi spesifik yang masih tinggi tersebut sehingga
tidak sempat merangsang sel imunkompaten. Bahkan dapat terjadi apa
yang dinamakan reaksi arthus, yaitu bengkak kemerahan di daerah
suntikan antigen akibat pembentukan kompleks antigen antibodi lokal
sehingga terjadi peradangan lokal. Karena itu pemberian ulang ( booster )
sebaiknya mengikuti apa yang dianjurkan sesuai dengan hasil uji klinis.
Ajuvan adalah zat yang secara nonspesifik dapat meningkatkan respons
imun terhadap antigen. Ajuvan akan meningkatkan respons imun dengan
mempertahankan antigen pada atau dekat dengan tempat suntikan, dan
mengaktivasi APC ( antigen presenting cells ) untuk memproses antigen
secara efektif dan memproduksi interleukin yang akan mengaktifkan sel
imunokompeten lainnya.
Jenis Vaksin, vaksin hidup akan menimbulkan respons imun lebih baik
dibanding vaksin mati atau yang diinaktivasi ( killed atau inactivated )
atau bagian ( komponen ) dari mikroorganisme. Vaksin hidup diperoleh
dengan cara atenuasi. Tujuan atenuasi adalah untuk menghasilkan
organisme yang hanya dapat menimbulkan penyakit yang sangat ringan.
Atenuasi

diperoleh

dengan

memodifikasi

kondisi

tempat

tubuh
6

mikroorganisme, misalnya suhu yang tinggi atau rendah, kondisi anerob,


atau menambah empedu pada media kultur seperti pada pembuatan vaksin
BCG yang sudah ditanam selama 13 tahun. Dapat pula dipakai
mikroorganisme yang virulen untuk spesies lain tetapi untuk manusia
avirulen, misalnya virus cacar sapi.

PERSYARATAN VAKSIN
1.

Mengaktivasi

APC

untuk

mempresentasikan

antigen

dan

memproduksi interleukin.
2.

Mengaktivasi sel T dan sel B untuk membentuk banyak sel memori

3.

Mengaktivasi sel T dan sel Tc terhadap beberapa epitop, untuk


mengatasi variasi respons imun yang ada dalam populasi karena adanya
polimorfisme MHC.

4.

Memberi antigen yang persisten, mungkin dalam sel folikular


dendrit jaringan limfoid tempat sel B memori direkrut sehingga dapat
merangsang sel B sewaktu-waktu menjadi sel plasma yang membentuk
antibodi terus-menerus sehingga kadarnya tetap tinggi.

Vaksin yang dapat memenuhi ke empat persyaratan tersebut adalah vaksin virus
hidup.
JENIS VAKSIN
Pada dasarnya, vaksin dibagi menjadi 2 jenis, yaitu :

Live attenuated ( bakteri atau virus hidup yang dilemahkan )

Inactivate ( bakteri, virus atau komponenmnya dibuat tidak aktif )

Vaksin hidup attenuated


Diproduksi di laboratorium dengan cara melakukan modifikasi virus atau
bakteri penyebab penyakit. Vaksin mikroorganisme yang dihasilkan masih
memiliki kemampuan untuk tumbuh menjadi banyak ( replikasi) dan
menimbulkan kekebalan tetapi tidak menyebabkan penyakit.
Vaksin hidup dibuat dari virus atau bakteri liar ( wild ) penyebab penyakit.
Virus atau bakteri liar ini dilemahkan ( attinuated ) dilaboratorium, biasanya
7

dengan cara pembiakan berulang-ulang. Misalnya vaksin campak yang dipakai


sampai sekarang, diisolasi untuk mengubah virus liar campak menjadi virus
vaksin dibutuhkan 10 tahun dengan cara melakukan penanaman pada jaringan
media pembiakan secara serial dari seorang anak yang menderita penyakit campak
pada tahun 1954.
o Supaya dapat menimbulkan respons imun, vaksin hidup atteuated harus
berkembang biak ( mengadakan replikasi ) di dalam tubuh resipien.
o Apapun yang merusak organisme hidup dalam botol ( misalnya panas atau
cahaya ) atau pengaruh luar terhadap replikasi organisme dalam tubuh
( antibodi yang beredar ) dapat menyebabkan vaksin tersebut tidak efektif.
o Respons imun terhadap vaksin hidup attenuated pada umumnya sama
dengan yang diakibatkan oleh infeksi alamiah. Respons imun tidak
membedakan antara suatu infeksi dengan virus vaksin yang dilemahkan
dan infeksi dengan virus liar.
o Vaksin virus hidup attenuated secara teoritis dapat berubah menjadi bentuk
patogenik seperti semula. Hal ini hanya terjadi pada vaksin polio hidup.
o Antibodi dari sumber apapun ( misalnya transplasental, transfusi ) dapat
mempengaruhi perkembangan vaksin mikroorganisme dan menyebabkan
tidak adanya respons ( non response ). Vaksin campak merupakan
mikroorganisme yang paling sensitif terhadap antibodi yang beredar dalam
tubuh. Virus vaksin polio dan rotavirus paling sedikit terkena pengaruh.
o Vaksin hidup attenuated bersifat labil dan dapat mengalami kerusakan bila
kena panas dan sinar, maka harus dilakukan pengelolaan dan penyimpanan
dengan baik dan hati-hati.
Vaksin hidup attenuated yang tersedia

Berasal dari vrius hidup : Vaksin campak, gondongan ( parotitis ), rubela,


polio, rotavirus, demam kuning ( yellow fever ).

Berasal dari bakteri : Vaksin BCG dan demam tifoid oral.

Vaksin Inactivated
o Vaksin inactivated dihasilkan dengan cara mambiakkan bakteri atau virus
dalam media pembiakan ( persemaian ), kemudian dibuat tidak aktif
dengan penambahan bahan kimia ( biasanya formalin ).
o Vaksin inactivated tidak hidup dan tidak dapat tumbuh, maka seluruh dosis
antigen dimasukkan dalam suntikan. Vaksin ini tidak menyebabkan
penyakit ( walaupun pada orang dengan defisiensi imun ) dan tidak dapat
mengalami mutasi menjadi bentuk patogenik. Antigen inactivated tidak
dipengaruhi oleh antibodi yang beredar. Vaksin inactivated dapat diberikan
saat antibodi berada di dalam sirkulasi darah.
o Vaksin inactivated selalu memerlukan dosis ganda. Pada umumnya pada
dosis pertama tidak menghasilkan imunitas protektif, tetapi hanya memacu
atau menyiapkan sistem imun. Respons imun protektif baru timbul setelah
dosis kedua atau ketiga. Hal ini berbeda dengan vaksin hidup, yang
mempunyai respons imun yang mirip atau sama dengan infeksi alami,
respons imun terhadap vaksin inactivated sebagian besar humoral, hanya
sedikit atau tak menimbulkan imunitas selular. Titer antibodi terhadap
antigen inactivated menurun setelah beberapa waktu.
o Pada beberapa keadaan suatu antigen untuk melindungi terhadap penyakit
masih memerlukan vaksin seluruh sel ( whole cell ), namun vaksin
bakterial seluruh sel bersifat paling reaktogenik dan menyebabkan paling
banyak reaksi ikutan atau efek samping. Ini disebabkan respons terhadap
komponen-komponen sel yang sebenarnya tidak diperlukan untuk
perlindungan ( contoh antigen pertusis dalam vaksin DPT ).
Vaksin Inactivated yang tersedia saat ini berasal dari :

Seluruh sel virus yang inactivated, contoh influenza, polio, rabies,


hepatitis A.

Seluruh bakteri yang inactivated, contoh pertusis, tifoid, kolera, lepra.

Vaksin fraksional yang masuk sub-unit, contoh hepatitis B, influenza,


pertusis a-seluler, tifoid Vi, lyme disease.
9

Toksoid, contoh difteria, tetanus, botulinum.

Polisakarida

murni,

contoh

pneumokokus,

meningokokus,

dan

haemophilus influenzae tipe b.

Gabungan

polisakarida

haemophillus

influenzae

tipe

dan

pneumokokus ).
VAKSIN DAN SISTEM KEKEBALAN
Sebelum membahas bagaimana pemberian vaksin dapat memberikan
perlindungan terhadap seseorang, terlebih dahulu perlu diketahui sistem kekebalan
tubuh kita bekerja melawan mikroorganisme (virus, bakteri, parasit, dsb).1

Gambar 11
Manusia dapat terhindar atau sembuh dari serangan penyakit infeksi karena telah
dilengkapi dengan 2 sistem kekebalan tubuh, yaitu :1
1. Kekebalan tidak spesifik (Non Spesific Resistance)
Disebut sebagai sistem imun non spesifik karena sistem kekebalan tubuh kita
tidak ditujukan terhadap mikroorganisme atau zat asing tertentu. Contoh
bentuk kekebalan non-spesifik :
-

Pertahanan fisis dan mekanis, misalnya silia atau bulu getar hidung yang
berfungsi untuk menyaring kotoran yang akan masuk ke saluran nafas
bagian bawah.

Pertahanan biokimiawi - air susu ibu yang mengandung laktoferin berperan sebagai antibakteri

10

Interferon - pada saat tubuh kemasukan virus, maka sel darah putih akan
memproduksi interferon untuk melawan virus tersebut.

Apabila mikroorganisme masuk ke tubuh, maka sistem kekebalan nonspesifik yang diperankan oleh pertahanan selular (monosit dan makrofag)
akan menangkap, mencerna, dan membunuh mikroorganisme tersebut.

2. Kekebalan Spesifik (Spesific Resistance)


Sistem kekebalan spesifik dimainkan oleh dua komponen utama, yaitu sel T
dan sel B. Sistem kekebalan spesifik tidak mengenali seluruh struktur utuh
mikroorganisme, melainkan sebagai prrotein saja yang akan merangsang
sistem kekebalan. Bagian dari struktur protein mikroorganisme yang dapat
merangsang sistem kekebalan spesifik ini disebut antigen. Adanya antigen
akan merangsang diaktifkannya sel T atau sistem kekebalan selular.
Selanjutnya sel T ini akan memacu sel B atau sel humoral untuk mengubah
bentuk dan fungsi menjadi sel plasma yang selanjutnya akan memproduksi
antibodi. Kelebihan dari sistem kekebalan spesifik adalah dilengkapi dengan
sel memori. Semakin sering tubuh kita kontak dengan antigen dari luar, maka
semakin tinggi pula peningkatan kadar antibodi tubuh karena sel-sel memori
telah mengenali antigen tersebut.
Yang membangkitkan sistem kekebalan spesifik kita adalah antigen yang
merupakan bagian dari mikroorganisme (virus atau bakteri). Antigen ini
selanjutnya akan ditanggapi oleh sistem kekebalan tubuh dengan memproduksi
antibodi. Berdasarkan cara memperoleh kekebalan, maka kekebalan dapat
dibedakan menjadi dua, yaitu :1,3
1. Kekebalan pasif
Kekebalan yang diperoleh dari luar, yang berarti bahwa tubuh mendapat
bantuan dari luar antibodi yang sudah jadi. Sifat kekebalan pasif tidak
berlangsung lama, umumnya tidak kurang dari 6 bulan. Misalnya bayi yang
secara alami telah memiliki kekebalan pasif dari ibunya.
2. Kekebalan aktif

11

Yang umum disebut imunisasi diperoleh melalui pemberian vaksinasi dan


berlangsung bertahun tahun, karena tubuh memiliki sel memori terhadap
antigen tertentu.
Dalam rangka memacu sistem kekebalan spesifik tubuh, maka vaksin dapat
dibuat dari2 :

Live attenuated (vaksin hidup yang dilemahkan)

Inactivated (bakteri, virus atau komponennya dibuat tidak aktif)

Vaksin rekombinan

Virus like particle vaccine.

Vaksin hidup attenuated atau Live attenuated diproduksi dilaboratorium


dengan cara memodifikasi virus atau bakteri penyebab penyakit. Vaksin
mikroorganisme yang dihasilkan masih memiliki kemampuan untuk tumbuh
menjadi banyak (replikasi) dan menimbulkan kekebalan tetapi tidak
menyebabkan penyakit. Supaya dapat menimbulkan respon imun, vaksin
hidup attenuated harus berkembang biak (mengadakan replikasi) di dalam
tubuh resipien. Suatu dosis kecil virus atau bakteri yang diberikan, yang
kemudian mengadakan replikasi di dalam tubuh dan meningkat jumlahnya
sampai cukup besar untuk memberi rangsangan suatu respons imun. Vaksin
hidup attenuated yang tersedia berasal dari virus hidup yaitu vaksin campak,
gondongan (parotitis), rubela, polio, rotavirus, demam kuning (yellow fever)
dan yang berasal dari bakteri yaitu vaksin BCG dan demam tifoid.
Vaksin inactivated dihasilkan dengan cara membiakan bakteri atau virus
dalam media pembiakan, kemudian dibuat tidak aktif (inactivated dengan
penambahan bahan kimia (biasanya formalin). Untuk vaksin fraksional,
organisme tersebut dibuat murni dan hanya komponen-komponennya yang
dimaksukkan dalam vaksin (misalnya kapsul polisakarida dari kuman
pneumokokus). Vaksin inactivated tidak hidup dan tidak dapat tumbuh, maka
seluruh dosis antigen dimasukan dalam suntikan. Vaksin ini tidak
menyebabkan penyakit dan tidak dapat mengalami mutasi menjadi bentuk
patogenik. Vaksin inactivated yang tersedia saat ini berasal dari seluruh sel

12

virus yang inactivated contoh influenza, polio, rabies, hepatitis A. Kemudian


dari seluruh bakteri yang inactivated contoh pertusis, tifoid, kolera, lepra.
Juga dari toksoid misalnya difteria, tetanus dapat juga dari polisakarida murni
misalnya pneumokokus, meningokokus dan haemophilus influenza tipe B.
Vaksin rekombinan. Macam vaksin demikian diperoleh melalui proses
rekayasa genetik, misalnya vaksin hepatitis B, vaksin tifoid, dan rotavirus.
Vaksin hepatitis B dihasilkan dengan cara memasukkan suatu segmen gen
vius hepatitis B ke dalam sel ragi. Sela ragi yang telah diubah ini kemudian
menghasilkan antigen permukaan hepatitis B murni.
Virus like particle vaccine atau vaksin yang dibuat dari partikel yang mirip
dengan virus, contohnya adala vaksin human papillomavirus (HPV) tipe 16
untuk mencegah kanker leher rahim. Atigen diperoleh melalui protein virus
HPV yang diolah sedimikian rupa sehingga menghasilkan struktur mirip
dengan seluruh struktur HPV (atau dikenal sebagai pseudo particles of HPV
tipe 16).
PEMBERIAN IMUNISASI
Tata cara pemberian imunisasi
Sebelum melakukan vaksinasi, dianjurkan mengikuti tata cara sebagai
berikut :

Memberitahukan secara rinci tentang risiko imunisasi dan risiko apabila


tidak divaksinasi.

Periksa kembali persiapan untuk melakukan pelayanan secepatnya bila


terjadi reaksi ikutan yang tidak diharapkan.

Baca dengan teliti informasi tentang produk ( vaksin ) yang akan diberikan
dan jangan lupa mendapat persetujuan orang tua. Melakukan tanya jawab
dengan orang tua atau pengasuhnya sebelum melakukan imunisasi.

Tinjau kembali apakah ada kontraindikasi terhadap vaksin yang diberikan.

Periksa identitas penerima vaksin dan berikan antipiretik bila diperlukan.

13

Periksa jenis vaksin dan yakin bahwa vaksin tersebut telah disimpan
dengan baik.

Periksa vaksin yang akan diberikan apakah tampak tanda-tanda perubahan.


Periksa tanggal kadarluwarsa dan catat hal-hal istimewa, misalnya adanya
perubahan warna yang menunjukkan adanya kerusakan.

Yakin bahwa vaksin yang akan diberikan sesuai jadwal dan ditawarkan
pula vaksin lain untuk mengejar imunisasi yang tertinggal ( catch up
vaccination ) bila diperlukan.

Berikan vaksin dengan teknik yang benar. Lihat uraian mengenai


pemilihan jarum suntik, sudut arah jarum suntik, lokasi suntikan, dan
posisi bayi/anak penerima vaksin.

Setelah pemberian vaksin, kerjakan hal-hal sebagai berikut :

Berilah petunjuk ( sebaiknya tertulis ) kepada orang tua atau


pengasuh apa yang harus dikerjakan dalam kejadian reaksi yang
biasa atau reaksi ikutan yang lebih berat.

Catat imuniasi dalam rekam medis pribadi dan dalam catatan


klinis.

Catatan imunisasi secar rinci harus disampaikan kepada Dinas


Kesehatan bidang Pemberantasan Penyakit Menular.

Periksa status imunisasi anggota keluarga lainnya dan tawarkan


vaksinasi untuk mengejar ketinggalan, bila diperlukan.

Penyimpanan
Aturan umum untuk sebagian besar vaksin, Bahwa vaksin harus
didinginkan pada temperatur 2-8C dan tidak membeku. Sejumlah vaksin ( DPT,
Hib, hepatitis B, dan hepatitis A ) menjadi tidak aktif bila beku
Arah Sudut Jarum pada Suntikan Intramuskular
Jarum suntik harus disuntikan dengan sudut 45 0-600 ke dalam otot vastus
lateralis atau otot deltoid. Untuk suntikan otot vastus lateralis, jarum diarahkan ke
arah lutut sedangkan untuk suntikan pada deltoid jarum diarahkan ke pundak.

14

Kerusakan saraf dan pembuluh vaskular dapat terjadi apabila suntikan diarahkan
pada sudut 900.
Tempat Suntikan yang Dianjurkan
Paha anterolateral adalah bagian tubuh yang dianjurkan untuk vaksinasi
pada bayi dan anak umur di bawah 12 bulan. . Vaksin harus disuntikkan ke dalam
batas antara sepertiga otot bagian tengah yang merupakan bagian yang paling
tebal dan padat. Regio deltoid adalah alternatif untuk vaksinasi pada anak yang
lebih besar ( mereka yang telah dapat berjalan ) dan orang dewasa.
Alasan memilih otot vastus lateralis pada bayi dan anak umur dibawah 12
bulan adalah :
Menghindari risiko kerusakan saraf iskiadika pada suntikan daerah gluteal.
Daerah deltoid pada bayi dianggap tidak cukup tebal untuk menyerap
suntikan secara adekuat.
Imunogenitas vaksin hepatitis B dan rabies akan berkurang apabila
disuntikkan di daerah gluteal
Menghindari risiko reaksi lokal dan terbentuknya nodulus di tempat
suntikan yang menahun.
Menghindari lapisan lemak subkutan yang tebal pada paha bagian anterior.

15

Gambar 2. Lokasi Penyuntikan intramuscular Pada Bayi (a) dan Anak Besar (b)

CARA PENYUNTIKAN VAKSIN


Subkutan
Perhatian
Penyuntikan subkutan diperuntukan imunisasi MMR, varisela,
meningitis
Perhatikan rekomendasi untuk umur anak

16

Umur
Bayi
(lahir
bulan)
1-3 tahun

s/d12

Anak > 3 tahun

Tempat
Paha
anterolateral
paha
anterolateral/
Lateral lengan
atas
Lateral lengan
atas

Ukuran jarum
Jarum 5/8-3/4
Spuit no 23-25
Jarum 5/8-3/4
Spuit no 23-25

Insersi jarum
Arah
jarum
45o
Terhadap kulit
Cubit tebal untuk
suntikan subkutan

Jarum 5/8-3/4
Spuit no 23-25

Aspirasi spuit sebelum


disuntikan
Untuk
suntikan
multipel
diberikan
pada
ekstremitas
berbeda

CARA PENYUNTIKAN VAKSIN


Intramuskular
Perhatian:
Diperuntukan Imunisasi DPT, DT,TT, Hib, Hepatitis A & B,

Influenza.

Perhatikan rekomendasi untuk umur anak

Umur
Bayi (lahir s/d 12
bulan
1-3 tahun

Anak > 3 tahun

Tempat
Otot vastus lateralis
pada paha daerah
anterolateral
Otot vastus lateralis
pada paha daerah
anterolateral sampai
masa otot deltoid
cukup besar (pada
umumnya umur 3
tahun
Otot deltoid, di
bawah akromion

Ukuran jarum
Jarum 7/8-1
Spuit n0 22-25
Jarum 5/8-1
(5/8 untuk suntikan
di deltoid umur 1215 bulan
1.
Spuit no 22-25
Jarum 1-1
Spuit no 22-25

2.

3.

Insersi jarum
1. Pakai jarum yang
cukup panjang untuk
mencpai otot
2. Suntik dengan arah
jarum 80-90o. lakukan
dengan cepat
Tekan kulit sekitar
tepat suntikan dengan
ibu jari dan telunjuk
saat jarum ditusukan
Aspirasi spuit sblm
vaksin
disuntikan,
untuk
meyakinkan
tidak masuk ke dalam
vena.Apabilaterdapat
darah, buang dang
ulangi dengan suntik
yang baru.
Untuk
suntikan
multipel
diberikan
pada
bagian
sekstremitas berbeda

Keadaan Bayi atau Anak sebelum Imunisasi

17

Orangtua

atau

pengantar

bayi/anak

dianjurkan

mengingat

dan

memberitahukan secara lisan atau melalui dafatr isian tentang hal-hal yang
berkaitan dengan indikasi kontra atau risiko kejadian ikutan pasca imunisasi
tersebut di bawah ini :

Pernah mengalami kejadian ikutan pasca imunisasi yang berat


( memerlukan pengobatan khusus atau perlu perawatan di rumah sakit ).

Alergi terhadap bahan yang juga terdapat di dalam vaksin ( misalnya


neomisin ).

Sedang mendapat pengobatan Steroid jangka panjang, radioterapi, atau


kemoterapi.

Tinggal serumah dengan orang lain yang imunitasnya menurun


( leukimia, kanker, HIV/AIDS ).

Tinggal serumah dengan orang lain dalam pengobatan yang menurunkan


imunitas ( radioterapi, kemoterapi, atau terapi steroid ).

Pada bulan lalu mendapat imunisasi yang berisi vaksin virus hidup
( vaksin campak, poliomielitis, rubela ).

Pada 3 bulan yang lalu mendapat imunoglobulin atau tranfusi darah.

Menderita penyakit susunan syaraf pusat

Pencatatan Imunisasi dan Kartu Imunisasi


Setiap bayi/anak sebaiknya mempunyai dokumentasi imunisasi seperti
kartu imunisasi yang dipegang oleh orangtua atau pengasuhnya. Setiap dokter
atau tenaga paramedis yang memberikan imunisasi harus mencatat semua datadata yang relevan pada kartu imunisasi tersebut. Orangtua/pengasuh yang
membawa anak ke tenaga medis atau paramedis untuk imunisasi diharapkan
senantiasa membawa kartu imunisasi tersebut.
Data yang harus dicatat pada kartu imunisasi adalah sebagai berikut :
o Jenis vaksin yang diberikan, termasuk nomor batch dan nama dagang
o Tanggal melakukan vaksinasi
o Efek samping bila ada

18

o Tanggal vaksinasi berikutnya


o Nama tenaga medis/paramedis yang memberikan vaksin
KIPI ( KEJADIAN IKUTAN PASCA-IMUNISASI )1
Setiap tindakan medis apa pun bisa menimbulkan risiko bagi pasien si
penerima layanan baik dalam skala ringan maupun berat. Demikian halnya dengan
pemberian vaksinasi, reaksi yang timbul setelah pemberian vaksinasi disebut
kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) atau adverse following immunization
(AEFI). Dengan semakin canggihnya teknologi pembuatan vaksin dan semakin
meningkatnya

teknik

pemberian

vaksinasi,

maka

reaksi

KIPI

dapat

diminimalisasi. Meskipun risikonya sangat kecil, reaksi KIPI berat dapat saja
terjadi. Oleh karena itu, petugas imunisasi atau dokter mempunyai kewajiban
untuk menjelaskan kemungkinan reaksi KIPI apa saja yang dapat terjadi. Dan bagi
orang yang hendak menerima vaksinasi mempunyai hak untuk bertanya dan
mengetahui apa saja reaksi KIPI yang dapat terjadi.
Secara khusus KIPI dapat didefinisikan sebagai kejadian medik yang
berhubungan dengan imunisasi, baik oleh karena efek vaksin maupun efek
samping, toksisitas, reaksi sensitivitas, efek farmakologis, kesalahan program,
reaksi suntikan, atau penyebab lain yang tidak dapat ditentukan. Secara umum,
reaksi KIPI dapat dikategorikan sebagai akibat kesalahan program, reaksi
suntikan, dan reaksi vaksin.
Kesalahan program. Sebagian besar kasus KIPI berhubungan dengan kesalahan
teknik pelaksanaan vaksinasi, misalnya kelebihan dosis, kesalahan memilih lokasi
dan cara menyuntik, sterilitas, dan penyimpanan vaksin. Dengan semakin
membaiknya pengelolaan vaksin, pengetahuan, dan ketrampilan petugas pemberi
vaksinasi, maka kesalahan tersebut dapat diminimalisasi.
Reaksi suntikan. Reaksi suntikan tidak berhubungan dengan kandungan vaksin,
tetapi lebih karena trauma akibat tusukan jarum, misalnya bengkak, nyeri, dan
kemerehan di tempat suntikan. Selain itu, reaksi suntikan dapat terjadi bukan
akibat dari trauma suntikan melainkan karena kecemasan, pusing, atau pingsan

19

karena takut terhadap jarum suntik. Reaksi suntikan dapat dihindari dengan
melakukan teknik penyuntikan secara benar.
Reaksi vaksin. Gejala yang muncul pada reaksi vaksin sudah bisa diprediksi
terlebih dahulu, karena umumnya perusahaan vaksin telah mencantumkan reaksi
efek samping yang terjadi setelah pemberian vaksinasi. Keluhan yang muncul
umumnya bersifat ringan (demam, bercak merah, nyeri sendi, pusing, nyeri otot).
Meskipun hal ini jarang terjadi, namun reaksi vaksin dapat bersifat berat,
misalnya reaksi anafilaksis dan kejang. Untunglah bahwa reaksi alergi serius
relatif jarang terjadi, misalnya reaksi alergi serius akibat campak kemungkinan
kejadiannya hanya 1/1000.000 dosis.
Mengingat hampir setiap vaksin mempunyai potensi memberikakn reaksi efek
samping atau KIPI, maka sebaiknya bertanya terlebih dahulu kepada petugas
gejala apa saja yang dapat terjadi setelah vaksinasi. Bila keluhan KIPI bersifat
ringan, misalnya demam, nyeri tempat suntikan, atau bengkak maka dapat
dilakukan pengobatan sederhana, misalnya dengan minum obat antipiretik saja.
Tetapi bila kejadian pasca imunisasi bersifat serius, maka harus secepat mungkin
dibawa kerumah sakit. Setiap pelayanan kesehatan yang melakukan pemberian
vaksinasi mempunyai kewajiban untuk melaporkan KIPI ke Dinas Kesehatan
Tingkat Kabupaten, dengan tembusan ke Sekretariat KOMDA PP KIPI yang
berkedudukan di setiap provinsi.
1. Jenis-jenis Imunisasi PPI
a) Hepatitis B
Jenis vaksin: Inactivated viral vaccine (IVV = HBsAg yang telah
diinaktivasi)
vaksin rekombinan: HB Vax (MSD), Engerix (smith Kline Becham),
Bimugen (kahatsuka)
Plasma derived: Hepa B: vaksin hepatitis B (biofarma), Hepaccine B
(Cheil Chemical & ford)
Dosis: 0,5 mL/dosis.

Cara pemberian: SC/IM


Kontra indikasi: defisiensi imun (mutlak)

20

Efek samping:

reaksi lokal ringan, demam sedang 24-48 jam, lesu, rasa


tidak enak pada saluran pencernaan.

b) BCG
Jenis Vaksin: Calmette & Guerin (Biofarma, Pasteur, Glaxo) suatu live
attenuated vaccine (LAV).
Dosis: 0,05 mL/dosis
Jadual imunisasi: Pada kesempatan kontak pertama dengan bayi
Tidak diperlukan booster
Kontra indikasi: defisiensi imun (mutlak), dermatosis yang progresif
(sementara)
Efek samping: reaksi lokal, adenitis

21

c) DPT
Jenis vaksin:

Difteri (toksoid); Pertusis (Inactivated Bacterial VaccineIBV, Bordetella pertusis tipe I); Tetanus (toksoid)

Dosis: 0,5 mL/dosis


Cara pemberian: IM atau SC dalam
Jadual imunisasi:

Imunisasi dasar: Tiga dosis dengan interval 4-6 minggu.


Dosis I diberikan pada umur 2 bulan.

Booster: Dosis IV diberikan 1 tahun setelah dosis III dan


Dosis V dan VI berupa DT diberikan pada umur 6 dan 12
tahun.

Kontra indikasi: Defisiensi imun (mutlak)


Difteri : tidak ada
Pertusis : riwayat kelainan neurologis skema
imunisasi
DPT pada bayi dengan riwayat kejang.
(lihat lampiran 1)
Tetanus : tidak ada
Efek samping: Reaksi lokal, demam
Reaksi akinetik, kejang, gejala ensefalopati akibat
komponen vaksin pertusis. Jika muncul reaksi ini, imunisasi
DPT dilanjutkan hanya dengan DT lihat bagan pedoman
vaksinasi DPT pada anak/bayi dengan riwayat kejang
d) Polio
Jenis vaksin: vaksin polio oral sabin (LAV)
Dosis: 2 tetes/dosis
Cara pemberian: oral
Jadual imunisasi:

Dosis I diberikan pada umur sedini mungkin bila bayi lahir di RS


(bersama dengan BGC) atau pada kontak pertama bila bayi datang ke
RS atau posyandu (biasanya umur 2 bulan). Selanjutnya dosis II,II
22

dan IV diberikan dengan interval 4 minggu, bersamaan dengan DPT


I,II dan II. Jika BCG dan Polio I diberikan bersamaan dengan DPT I ,
polio IV diberikan 4-6 minggu setelah DPT/Polio III.
Booster: dosis V diberikan I tahun setelah dosis IV dan dosis VI dan
VII diberikan pada umur 6 dan 12 tahun.
Kontra indikasi: Defisiensi imun (mutlak), diare (sementara)
Efek samping: Tidak ada reaksi klinis. Kemungkinan polio paralitik yang
dapat dievaluasi dari 1 per 8 juta dosis pada anak yang
telah diimunisasi dan 1 per 5 juta dosis pada kontak.
Campak
Jenis vaksin: Schwarz (LAV)
Dosis: 0,5 mL/dosis
Cara pemberian: SC atau IM
Jadual imunisasi:
Imunisasi dasar : diberikan pada umur 9 bulan
Booster: tidak diperlukan
Kontra indikasi: Defisiensi imun (mutlak)
Alergi terhadap telur (benar-benar terbukti)
Mendapat injeksi gammaglobulin dalam 6 minggu
terakhir
Efek samping: demam dengan atau tanpa ruam 6-12 hari setelah
diimunisasi pada 15-20% anak.

2. Jenis Jenis Imunisasi Non-PPI


a) MMR (Measles-Mumps-Rubela)
Jenis vaksin: Triple vaccine Measles, Mumps dan Rubella (LAV), isinya :
Measles : campak
Mumps : Urabe (trimovax-pasteur), Jeryl Lynn (MMRMSD)

23

Rubella : RA 27/73
Dosis: 0,5 cc/dosis
Cara pemberian: SC atau IM
Jadual imunisasi:
Imunisasi dasar: diberikan pada umur 12 bulan
atau 6 bulan setelah imunisasi campak.
Booster: diberikan pada umur 12 tahun
Kontra indikasi: sama dengan campak

Efek samping: sama dengan campak + parotitis: demam, ruam, ensefalitis


parotitis, meningoensefalitis, tuli neural unilateral (tetapi
dilaporkan sembuh sempurna tanpa gejala sisa).

b) Tifus Abdominalis
Jenis vaksin: Vi CPS (capsular poly sacharide) : Typhim Vi (Pasteur
Merieux)
Oral : Vivotif (Ty2/A strain)
Dosis: Polisakarida 0,5 mL/dosis
Oral: 1 kapsul lapis enterik atau 1 sachet.
Cara pemberian: Polisakarida : SC atau IM satu kali
Oral, 3 kali selang sehari.
Jadual imunisasi:

Imunisasi dasar: Polisakasrida direkomendasikan diberikan pada


umur >
2 tahun.
Oral direkomendasikan diberikan pada umur > 6
tahun
dalam 3 dosis dengan interval dosis selang
sehari.

Booster: Polisakarida diberikan setiap 3 tahun


Oral: setelah 3-7 tahun.

Kontra indikasi:
6 tahun.

< 2 tahun (mutlak), tidak dianjurkan sebelum umur

24

Proteinuria, penyakit progresif


Efek samping: Reaksi lokal ditempat suntikan : indurasi, nyeri 1-5 hari.
Reaksi sistemik : demam, malaise, sakit kepala, nyeri otot,
komplikasi neuropatik, kadang-kadang bisa shock, kolaps.

c) Varisela
Jenis vaksin: Strain OKA dari virus Varicella zoster.
Dosis: 0,5 cc/dosis
Cara pemberian: SC
Jadual imunisasi:
Imunisasi dasar : Anak umur 12 bulan sampai dengan 12 tahun
diberikan 1 dosis. Anak 13 tahun keatas diberikan 2 dosis dengan
interval 4-8 minggu.
Booster: Jika diberikan pada umur 12 bulan harus diulang pada umur
12 tahun.
Kontra indikasi: Defisiensi imun (mutlak), penyakit demam akut yang
berat (sementara), hipersensitif terhadap neomisin atau
komponen vaksin lain, TBC aktif yang tak diobati,
penyakit kelainan darah.

Efek samping: Reaksi lokal di tempat suntikan: ringan


Reaksi sistemik : demam ringan, erupsi papulo vesikular
dengan lesi < 10.
Catatan: hindarkan pemberian salisilat selama 6 minggu setelah vaksinasi
karena dilaporkan terjadi Reyes Syndrome setelah pemberian salisilat
pada anak dengan varisela alamiah.
d) Haemophylus Influenza Tipe B (Act-HiB)
Jenis vaksin: Conjugate H. Influenza Tipe B (Act-HiB) PRP-T (Pasteur
Merieux)
Dosis: 0,5 cc/dosis
Cara pemberian: SC atau IM
Jadual imunisasi:
25

Imunisasi dasar :
Untuk vaksin conjugate H-Influenza Tipe B (Act-HiB)

bila umur 2-6 bulan: direkomendasikan diberikan


umur 2,4 dan 6 bulan
bila umur 6-12 bulan: direkomendasikan diberikan
umur 2 dosis dengan interval 1-2 bulan.
bila umur >12 bulan: Act HiB hanya diberikan 1 kali
Untuk vaksin Pedvax HIB MSD

pada
pada

Bila diberikan pada umur 2-14 bulan maka diberikan dalam 2


dosis dengan interval 2 bulan.
Bila di berikan pada umur > 15 bulan maka diberikan 1 kali
saja.
Booster :
Untuk Act-HIB: bila imunisasi dasar diberikan pada umur 2-10
bulan, booster pada umur 12-15 bulan setelah suntikan terakhir.
Untuk Pedvax: bila imunisasi dasar sebelum 1 tahun, booster
diberikan 12 bulan setelah suntikan terakhir.
Kontra indikasi: Hipersensitif terhadap komponen vaksin
Infeksi akut dengan demam

Efek samping: Lokal : eritema, nyeri dan indurasi


Reaksi sistemik : demam, nausea, muntah dan/atau diare,
menangis > -1 jam dan rash.
Infeksi akut dengan demam.
e) Hepatitis A
Jenis vaksin: partikel virus aktif yang diinaktivasi 9IVV0
Dosis: 0,5 cc/dosis
Cara pemberian: SC/ IM
Jadual imunisasi: Imunisasi dasar: anak berumur > 2 tahun diberikan 3
dosis dengan jadual 0,1 dan 6 bulan.
Kontra indikasi : defisiensi imun (mutlak)
3. Imunisasi pada Kondisi Tertentu
a) Bayi Prematur

26

Vaksinasi harus diberikan dan mulai pada usia kronologis serta


sesuai jadwal untu anak cukup bulan. Imunisasi hepatitis B diberikan bila
berat badan mencapai 2000 gram atau lebih, tetapi bila ibu mempunyai B
hepatitis surface antigen positif maka segera diberikan vaksinasi hepatitis
B dan imunoglobulin anti hepatitis B bersamaan dalam waktu 12 jam
tanpa mempertimbangkan berat badan bayi.
b) Imunokompromais (infeksi HIV)
Pasien HIV mempunyai resiko lebih besar untuk mendapatkan
infeksi sehingga diperlukan imunisasi, walaupun respons terhadap
imunisasi tidak akan optimal atau kurang.
i) Vaksin Kuman Mati
Vaksin pneumokok dan vaksin Haemophilus influenza tipe B (Hib)
Penderita HIV mempunyai resiko untuk mendapatkan infeksi dengan
kuman pneumokok dan H.influenza tipe B sehingga dianjurkan untuk
diberikan secepatnya. Hanya 37% mempunyai kekebalan setelah vaksinasi
dengan Haemophilus influenza tipe B sehingga diperlukan vaksinasi
ulangan.
Vaksin influenza
Respons imun yang timbul oleh vaksin influenza adalah sel T dependent
maka penderita HIV yang lamjut tidak berguna diimunisasi dengan vaksin
ini.
Vaksin toksoid tetanus, difteri dan polio virus mati (IPV)
Respons imun yang dihasilkan akan sama dengan anak normal apabila
diberikan pada stadium dini walaupun terdapat vaksin difteri kurang
sehingga diperlukan pemberian ulangan terutama di daerah endemik atau
bila penderita HIV berkunjung ke daerah yang endemis difteri.
Vaksin Hepatitis B
Anak yang mendapat infeksi HIV dari ibu penderita HIV tidak akan
mendapatkan respons imun yang baik bila diberikan imunisasi hepatitis B
tetapi bila belum terinfeksi HIV, dan mempunyai antibodi HIV akan
berespons lebih baik terhadap vaksinasi hepatitis B.

27

ii) Vaksin Kuman Hidup


Vaksin campak
Penderita HIV yang mendapat infeksi campak mempunyai prognosis
buruk dan fatal. Respons imunisasi campakadalah baik bila diberikan di
bawah umur 1 tahun, walaupun antibodi yang timbul cepat menghilang
dan hanya 52% yang masih mempunyai efek antibodi setelah 1 tahun
imunisasi sedangkan bila diberikan imunisasi efek samping tidak ada.
Vaksin Bacille Calmette-Guerin (BCG)
Penderita HIV mempunyai resiko untuk mendapat infeksi tuberkulosis.
Vaksinasi BCG dapat menimbulkan infeksi tuberkulosis di kemudian hari,
sedangkan efek perlindungan vaksinasinya masih diragukan sehingga tidak
dianjurkan untuk vaksinasi BCG terutama di negara yang maju, sedangkan
di negara yang masih tinggi insiden tuberkulosisnya, WHO menganjurkan
untuk tetap diberikan vaksinasi BCG.
Vaksin polio oral (OPV), vaksin varciella-zooster, yellow fever
Tidak diperbolehkan untuk memberikan OPV, vaksin varciella dan yellow
fever pada penderita HIV karena OPV dapat melumpuhkan.
JADWAL IMUNISASI

Tabel jadwal imunisasi 2014

28

Keterangan:
Rekomendasi imunisasi berlaku mulai 1 Januari 2014.
1.

Vaksin Hepatitis B. Paling baik diberikan dalam waktu 12 jam setelah


lahir dan didahului pemberian injeksi vitamin K1. Bayi lahir dari ibu HBsAg
positif, diberikan vaksin hepatitis B dan imunoglobulin hepatitis B (HBIg)
pada ekstremitas yang berbeda. Vaksinasi hepatitis B selanjutnya dapat
menggunakan vaksin hepatitis B monovalen atau vaksin kombinasi.

2.

Vaksin Polio. Pada saat bayi dipulangkan harus diberikan vaksin polio
oral

(OPV-0).

Selanjutnya,

untuk

polio-1,

polio-2,

polio-3

dan

polio booster dapat diberikan vaksin OPV atau IPV, namun sebaiknya paling
sedikit mendapat satu dosis vaksin IPV.
3.

Vaksin BCG. Pemberian vaksin BCG dianjurkan sebelum 3 bulan,


optimal umur 2 bulan. Apabila diberikan sesudah umur 3 bulan, perlu
dilakukan uji tuberkulin.

4.

Vaksin DTP. Vaksin DTP pertamadiberikan paling cepat pada umur 6


minggu. Dapat diberikan vaksin DTwP atau DTaP atau kombinasi dengan
vaksin lain. Untuk anak umur lebih dari 7 tahun DTP yang diberikan harus
vaksin Td, di-booster setiap 10 tahun.

5.

Vaksin Campak. Campak diberikan pada umur 9 bulan, 2 tahun dan


pada SD kelas 1 (program BIAS).

6.

Vaksin Pneumokokus (PCV). Apabila diberikan pada umur 7-12


bulan, PCV diberikan 2 kali dengan interval 2 bulan; pada umur lebih dari 1
tahun diberikan 1 kali. Keduanya perlu dosis ulangan 1 kali pada umur lebih
dari 12 bulan atau minimal 2 bulan setelah dosis terakhir. Pada anak umur di
atas 2 tahun PCV diberikan cukup satu kali.

7.

Vaksin Rotavirus. Vaksin rotavirus monovalen diberikan 2 kali, vaksin


rotavirus pentavalen diberikan 3 kali. Vaksin rotavirus monovalen dosis I
diberikan umur 6-14 minggu, dosis ke-2 diberikan dengan interval minimal 4
minggu. Sebaiknya vaksin rotavirus monovalen selesai diberikan sebelum
umur 16 minggu dan tidak melampaui umur 24 minggu. Vaksin rotavirus
pentavalen: dosis ke-1 diberikan umur 6-14 minggu, interval dosis ke-2, dan
29

ke-3 4-10 minggu, dosis ke-3 diberikan pada umur kurang dari 32 minggu
(interval minimal 4 minggu).
8.

Vaksin Varisela. Vaksin varisela dapat diberikan setelah umur 12 bulan,


namun terbaik pada umur sebelum masuk sekolah dasar. Bila diberikan pada
umur lebih dari 12 tahun, perlu 2 dosis dengan interval minimal 4 minggu.

9.

Vaksin Influenza. Vaksin influenza diberikan pada umur minimal 6


bulan, diulang setiap tahun. Untuk imunisasi pertama kali (primary
immunization) pada anak umur kurang dari 9 tahun diberi dua kali dengan
interval minimal 4 minggu. Untuk anak 6 <36 bulan, dosis 0,25 mL.

10.

Vaksin Human papiloma virus (HPV). Vaksin HPV dapat diberikan


mulai umur 10 tahun. Vaksin HPV bivalen diberikan tiga kali dengan interval
0, 1, 6 bulan; vaksin HPV tetravalen dengan interval 0, 2, 6 bulan.

30

BAB III
KESIMPULAN
Upaya pencegahan penyakit dapat dilakukan dengan banyak cara. Salah
satunya adalah dengan meningkatkan kekebalan atau imunitas tubuh dalam
menghadapi ancaman penyakit yang dilakukan dengan pemberian imunisasi.
Imunisasi dasar pada anak usia dibawah 2 tahun sangat penting untuk dilakukan
oleh karena bisa menurunkan angka kesakitan dan kematian yang seharusnya
dapat dicegah walaupun imunisasi tidak menjamin 100% bahwa seseorang tidak
akan terjangkit penyakit tersebut.
Pada saat seorang bayi dilahirkan ke dunia, ia sudah harus menghadapi
berbagai 'musuh' yang mengancam jiwa. Virus, bakteri, dan berbagai bibit
penyakit sudah siap menerjang masuk ke tubuh yang masih tampak lemah itu.
Lemah? Tidak juga. Ternyata sang bayi mungil pun sudah siap untuk menghadapi
kerasnya dunia. Berbekal antibodi yang diberikan ibunya, ia siap menyambut
tantangan. Inilah contoh dari apa yang kita sebut sebagai daya imunitas
(kekebalan) tubuh.
Dalam hal ini maka harus terus digalakkan program imunisasi kepada
masyarakat luas sehingga masyarakat menyadari pentingnya imunisasi dan mau
membawa anaknya untuk melakukan imunisasi, khususnya imunisasi yang
diwajibkan. Jika imunitas pada masyarakat tinggi, maka risiko terjadinya
penularan dan wabah juga akan berkurang.

31

DAFTAR PUSTAKA
1. Suharjo, JB. Vaksinasi cara ampuh cegah penyakit infeksi. Kanisius : 2010
2. Sri, Rezeki S Hadinegoro. Prof. Dr. dr. SpA(K), dkk. Pedoman imunisasi
di Indonesia. Ikatan Dokter Indonesia. Edisi ke-2. Jakarta 2005
3. Ranuh IGN, Suyitno H, Hadinegoro SRS, Kartasasmita CB, penyunting.
Pedoman Imunisasi di Indonesia. Edisi ketiga. Jakarta: Satgas Imunisasi
Ikatan Dokter Anak Indonesia; 2008.
4. Rahajoe NN, Basir D, Makmuri MS, Kartasasmita CB, penyunting.
Pedoman Nasional Tuberkulosis Anak. Edisi kedua. Jakarta: UKK
Respiratologi PP IDAI; 2007.
5. Lawrence M Tierney Jr MD, Stephen J McPhee MD, Maxine A Papadakis
MD. Current Medical Diagnosis and Treatment 2002. Page 1313-1319.
6. Eric AF Simoes MD DCH and Jessie R Groothius MD. Immunization.
Page 235-258.
7. Jadwal Imunisasi Anak - Rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia
(IDAI) 2014 [image on the Internet]. Jakarta: Ikatan Dokter Anak
Indonesia,

2014

Available

from

http://idai.or.id/public-

articles/klinik/imunisasi/jadwal-imunisasi-idai-2014.html

32