Anda di halaman 1dari 31

BAB I

PENDAHULUAN

Anestesiologi adalah cabang ilmu kedokteran yang mendasari berbagai


tindakan meliputi

pemberian

anestesi,

penjagaan

keselamatan

penderita

yang

mengalami pembedahan, pemberian bantuan hidup dasar, pengobatan intensif pasien gawat,
terapi inhalasi dan penanggulangan nyeri menahun. Pada prinsipnya, dalam penatalaksanaan
anestesi pada suatu operasi terdapat beberapa tahap yang harus dilaksanakan yaitu pra
anestesi yang terdiri dari persiapan mental dan fisik pasien, perencanaan anestesi,
menentukan prognosis dan persiapan pada hari operasi. Sedangkan tahap penatalaksanaan
anestesi terdiri dari premedikasi, masa anestesi dan pemeliharaan, tahap pemulihan serta
perawatan pasca anestesi.1,2
Tonsilitis Kronik secara umum diartikan sebagai infeksi atau inflamasi pada
tonsila palatina yang menetap. Tonsilitis kronis disebabkan oleh serangan ulangan dari
tonsilitis akut yang mengakibatkan kerusakan permanen pada tonsil. Organisme patogen
dapat menetap untuk sementara waktu ataupun untuk wktu yang lama dan mengakibatkan
gejala-gejala akut kembali ketika daya tahan tubuh penderita mengalami penurunan. Radang
kronis yang terjadi pada tonsil ini dapat menimbulkan komplikasi-komplikasi baik
komplikasi ke daerah sekitar ataupun komplikasi jauh. Pengobatan pasti untuk tonsilitis
kronis dengan indikasi dan prognosis yang buruk adalah pembedahan pengangkatan tonsil
(Tonsilektomi).1
Tonsilektomi yang didefinisikan sebagai metode pengangkatan tonsil yang
berasal dari bahasa latin tonsilia yang mempunyai arti tiang tempat menggantungkan
sepatu serta dari bahasa yunani ectomy yang berarti eksisi. Beragam teknik tonsilektomi terus

berkembang mulai dari abad 21 diantaranya diseksi tumpul, eksisi guillotine, diatermi
monopolardan bipolar, skapel harmonik, diseksi dengan laser dan terakhir diperkenalkan
tonsilektomi dengan coblation. Adapun teknik yang sering dilakukan adalah diseksi thermal
menggunaka nelektrocauter. Pemilihan jenis anestesi untuk tonsilektomi ditentukan
berdasarkan usia pasien, kondisi kesehatan dan keadaan umum, sarana prasarana serta
keterampilan dokter bedah, dokter anestesi dan perawat anestesi. 2 Di Indonesia, tonsilektomi
masih dilakukan di bawah anestesi umum, teknik anestesi lokal tidak digunakan lagi kecuali
di rumah sakit pendidikan dengan tujuan untuk pendidikan. Mengingat tonsilektomi
merupakan tindakan bedah yang dilakukan dengan anestesi umum maupun lokal, komplikasi
yang ditimbulkannya merupakan gabungan komplikasi tindakan bedah

dan anestesi.

Komplikasi terkait anestesi terjadi pada 1:10.000 pasien yang menjalani

tonsilektomi.

Komplikasi ini terkait dengan keadaan status kesehatan pasien.1,3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 DEFINISI
Tonsilitis adalah peradangan tonsil palatina yang merupakan bagian dari cincin
Waldeyer. Cincin Waldeyer terdiri atas susunan kelenjar limfa yang terdapat di dalam rongga
mulut yaitu : tonsil faringeal ( adenoid ), tonsil palatina ( tosil faucial), tonsil lingual ( tonsil
pangkal lidah ), tonsil tuba Eustachius ( lateral band dinding faring / Gerlachs tonsil ).
Tonsilitis Kronik secara umum diartikan sebagai infeksi atau inflamasi pada tonsila palatina
yang menetap. Tonsilitis kronis disebabkan oleh serangan ulangan dari tonsilitis akut yang
mengakibatkan kerusakan permanen pada tonsil.1
2.2 ETIOLOGI
Tonsilitis terjadi dimulai saat kuman masuk ke tonsil melalui kriptanya secara
aerogen yaitu droplet yang mengandung kuman terhisap oleh hidung kemudian
nasofaringterus masuk ke tonsil maupun secara foodborn yaitu melalui mulut masuk bersama
makanan. Etiologi penyakit ini dapat disebabkan oleh serangan ulangan dari Tonsilitis Akut
yang mengakibatkan kerusakan permanen pada tonsil, atau kerusakan ini dapat terjadi bila
fase resolusi tidak sempurna. Beberapa organisme

dapat

menyebabkan infeksi

pada

tonsil, termasuk bakteriaerobik dan anaerobik, virus, jamur, dan parasit.1 Pada penderita
tonsilitis kronis jenis kuman yang paling sering adalah Streptokokus beta hemolitikus grup
A (SBHGA). Streptokokus grup A adalah flora normal pada orofaring dan nasofaring. Namun
dapat

menjadi

pathogen infeksius yang memerlukan pengobatan. Selain itu

terdapat

Streptokokus pyogenes, Streptokokus grup B,C, Adenovirus, Epstein Barr bahkan virus
herpes. Dari hasil penelitian dilakukan kultur apusan tenggorok didapatkan bakteri gram
positif sebagai penyebab tersering Tonsilofaringitis Kronis yaitu Streptokokus alfa kemudian

diikuti Staphylococcus aureus, Streptokokus beta hemolitikusgrup A, Staphylococcus


epidermidis dan kuman gram negatif berupa Enterobakter,Pseudomonas aeruginosa,
Klebsiella dan E. coli. Infeksi virus biasanya ringan dan dapat tidak memerlukan pengobatan
yang khusus karena dapat ditangani sendiri oleh ketahanan tubuh. Penyebab penting dari
infeksi virus adalah adenovirus, influenza A, dan herpes simpleks (pada remaja). Selain itu
infeksi virus juga termasuk infeksi dengan coxackievirus A, yang menyebabkan timbulnya
vesikel dan ulserasi pada tonsil. Epstein-Barr yang menyebabkan infeksi mononukleosis,
dapat menyebabkan pembesaran tonsil secara cepat sehingga mengakibatkan obstruksi jalan
napas yang akut. Infeksi jamur seperti Candida sp tidak jarang terjadi khususnya di kalangan
bayi atau pada anak-anak dengan immunocompromised.4
Beberapa Faktor predisposisi timbulnya tonsillitis kronik yaitu:
1.
2.
3.
4.
5.

Rangsangan menahun (kronik) rokok dan beberapa jenis makanan


Higiene mulut yang buruk
Pengaruh cuaca
Kelelahan fisik
Pengobatan tonsillitis akut yang tidak adekuat1,3,4

2.3 PATOFISIOLOGI
Tonsilitis berawal dari penularan yang terjadi secara droplet dimana kuman
menginfiltrasi lapisan epitel. Adanya infeksi berulang pada tonsil menyebabkan pada suatu
waktu tonsil tidak dapat membunuh semua kuman sehingga kuman kemudian bersarang di
tonsil. Pada keadaan inilah fungsi pertahanan tubuh dari tonsil berubah menjadi sarang
infeksi (fokal infeksi) dan suatu saat kuman dan toksi dapat menyebar ke seluruh tubuh,
misalnya pada saat keadaan umum tubuh menurun.2,4 Bla epitel terkikis maka jaringan
limfoid superkistal berekasi dimana terjadi pembendungan radang dengan infiltrasi leukosit
polimorfonuklear. Karena proses radang berulang yang timbul maka selain epitel mukosa
juga jaringan limfoid diganti oleh jaringan parut yang akan mengalami pengerutan sehingga
4

kripte melebar. Secara klinis, kripti ini tampak diisi oleh detritus. Proses berjalan terus
sehingga menembus kapsul tonsil dan akhirnya menimbulkan perlekatan dengan jaringan di
sekitar fosa tonsilaris. Pada anak, proses ini disertai dengan pembesaran kelenjar limfa
submandibula.5
2.4 GEJALA KLINIS
Tanda-tanda yang bermakna adalah nyeri tenggorokan yang berulang atau
menetap dan nyeri waktu menelan, serta obstruksi pada saluran cerna dan napas. Dapat
ditemukan adanya demam, namun tidak terlalu mencolok. Pada pemeriksaan tampak tonsil
membesar dengan permukaan yang tidak rata, kriptus melebar dan beberapa kripti terisi oleh
detritus. Terasa ada yang mengganjal dan kering di tenggorokan dan napas yang berbau.
Berdasarkan ratio perbandingan tonsil dengan orofaring, dengan mengukur jarak antara
kedua pilar anterior dibandingkan dengan jarak permukaan medial kedua tonsil, maka gradasi
pembesaran tonsil dapat dibagi menjadi :1,6
T0 : Tonsil masuk di dalam fossa
T1 : <25% volume tonsil dibandingkan dengan volume nasofaring
T2 : 25-50% volume tonsil dibandingkan dengan volume nasofaring
T3 : 50-75% volume tonsil dibandingkan dengan volume nasofaring
T4 : >75% volume tonsil dibandingkan dengan volume nasofaring

2.5 DIAGNOSIS
1. Anamnesis
Penderita sering datang dengan keluhan rasa sakit pada tenggorokan yang terus
menerus, sakit waktu menelan, nafas bau busuk, malaise, sakit pada sendi, kadangkadang demam dan nyeri pada leher.2
2. Pemeriksaan Fisik
Tampak tonsil membesar dengan adanya hipertrofi dan jaringan parut. Sebagian kripta
mengalami stenosis, tapi eksudat (purulen) dapat diperlihatkan dari kripta-kripta
tersebut. Pada beberapa kasus, kripta

membesar

dan

suatu

bahan

seperti

keju/dempul banyak terlihat pada kripta. Didapatkan juga tonsil hiperemis.2,4


3. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang untuk memperkuat diagnosis tongsilitis akut adalah
pemeriksaan labolatorium meliputi :5
a. Leokosit : terjadi peningkatan (5000 10000 ul)
b. Hemoglobin : terjadi penurunan ( P 14 18 gm/dl W 12 16 mg/dl)
c. Usap tongsil untuk kultur bakteri dan tes sensitivitas obat
2.6 KOMPLIKASI
Komplikasi yang dapat muncul bila tongsilitis akut tidak tertangani dengan baik adalah :7
a. Tongsilitis kronik
b. Otitis media
2.7 PENATALAKSANAAN
a. Penatalaksanaan Medis : Antibiotik, Antipiretik, Analgetik
b. Bedah Tonsiloktomi

Tonsilektomi adalah operasi pengangkatan tonsil palatina baik unilateral maupun


bilateral. Tonsiloadenoidektomi adalah pengangkatan tonsil palatina dan jaringan
limfoid di nasofaring yang dikenal sebagai adenoid atau tonsil faringeal.

Berdasarkan The American Academy of OtolaryngologyHead and Neck Surgery


(AAO-HNS), operasi tonsillitis (tonsillectomy) perlu dilakukan jika memenuhi
syarat-syarat berikut:1,2,7
INDIKASI ABSOLUT:
1. Tonsil (amandel) yang besar hingga mengakibatkan gangguan pernafasan, nyeri
telan yang berat, gangguan tidur atau sudah terjadi komplikasi penyakit-penyakit
kardiopulmonal.2,3
2. Abses peritonsiler (Peritonsillar abscess) yang tidak menunjukkan perbaikan
dengan pengobatan. Dan pembesaran tonsil yang mengakibatkan gangguan
pertumbuhan wajah atau mulut yang terdokumentasi oleh dokter gigi bedah
mulut.
3. Tonsillitis yang mengakibatkan kejang demam.
4. Tonsil yang diperkirakan memerlukan biopsi jaringan untuk menentukan
gambaran patologis jaringan.

INDIKASI RELATIF:
7

1. Jika mengalami Tonsilitis 3 kali atau lebih dalam satu tahun dan tidak
menunjukkan respon sesuai harapan dengan pengobatan medikamentosa yang
memadai.
2. Bau mulut atau bau nafas tak sedap yang menetap pada Tonsilitis kronis yang
tidak menunjukkan perbaikan dengan pengobatan.
3. Tonsilitis kronis atau Tonsilitis berulang yang diduga sebagai carrier kuman
Streptokokus yang tidak menunjukkan repon positif terhadap pengobatan dengan
antibiotika.
4. Pembesaran tonsil di salah satu sisi (unilateral) yang dicurigai berhubungan
dengan keganasan (neoplastik)4,6
Penyulit atau kontraindikasi dilakukan tonsiloktomi :8
a. Kelainan komponen darah
- Hemoglobin < 10 g/100 dl
- Hematokrit < 30 g%
- Kelainan pendarahan dan pembekoan (hemofilia)
b. Infeksi saluran nafas atas, asma, penyakit paru lain
c. Penyakit jantung kongenital dan didapat (MSI)
d. Multiple Allergy
e. Penyakit lain, seperti:
- Diabetes melitus dan penyulit metabolik lain
- Hipertensi dan penyakit kardiovaskular
- Obesitas, kejang demam, epilepsy
2.8 ANASTESI UMUM
a. Definisi Anastesi umum
Anestesi umum adalah tindakan menghilangkan rasa nyeri/sakit secara sentraldisertai
hilangnya kesadaran dan dapat pulih kembali (reversibel). Obat anestesi yang masuk
kepembuluh darah atau sirkulasi kemudian menyebar ke jaringan. Yang pertama
8

terpengaruh oleh obat anestesi ialah jaringan kaya akan pembuluh darah seperti otak,
sehingga kesadaran menurun atau hilang, hilangnya rasa

sakit,

dan

sebagainya.

Seseorang yang memberikan anestesi, perlu mengetahui stadium anestesi untuk menentukan
stadium

terbaik

pembedahan

itu

dan

mencegah terjadinya kelebihan dosis. Agar

anestesi umum dapat berjalan dengan sebaik mungkin, pertimbangan utamanya adalah
memilih anestetika ideal.5,7 Pemilihan ini didasarkan pada beberapa pertimbangan yaitu
keadaan penderita, sifat anestetika, jenis operasi yang dilakukan, dan peralatan serta obat
yang tersedia. Sifat anestetika yang ideal antara lain mudah didapat,
menimbulkan

efek

samping

terhadap

organ

vital

murah,

tidak

seperti saluran pernapasan atau

jantung, tidak mudah terbakar, stabil, cepat dieliminasi, menghasilkanrelaksasi otot yang
cukup baik, kesadaran cepat kembali, tanpa efek yang tidak diinginkan.Obat anestesi
umum yang ideal mempunyai sifat-sifat antara lain pada dosis yang aman mempunyai
daya analgesik relaksasi otot yang cukup, cara pemberian mudah, mulai kerja obat yang
cepat dan tidakmempunyai efek samping yang merugikan. Selain itu obat tersebut harus tidak
toksik, mudah dinetralkan, mempunyai batas keamananyang luas.3,6,8
b. Trias Anastesi
1. Analgesia ( Hilangnya nyeri )
2. Hipnotik ( Hilang kesadaran )
3. Relaksasi otot ( Muscle Relaxan )3
c. Macam macam tekhnik anastesi 3,4,5,8
Open drop method:
Cara ini dapat digunakan untuk anestesik yang menguap, peralatan sangat
sederhana dan tidak mahal. Zat anestetik diteteskan pada kapasyang diletakkan di
depan hidung penderita sehingga kadar yang dihisap tidak diketahui, dan
pemakaiannya boros karena zat anestetik menguap ke udara terbuka.
Semi open drop method:
Hampir sama dengan open drop, hanya untukmengurangi terbuangnya zat anestetik

d. Open drop method:


digunakan

masker. Karbondioksida

yangdikeluarkan sering

terhisap kembali

sehingga dapat terjadi hipoksia. Untukmenghindarinya dialirkan volume fresh gas

flow yang tinggi minimal 3x dari minimal volume udara semenit.


Semi closed method:
9

Udara

yang

dihisap

diberikan

bersama

ditentukan kadarnya kemudian dilewatkan


anestetik dapat ditentukan. Udara napas

oksigen

pada

murni

vaporizer

yang dikeluarkan

yang

dapat

sehinggakadar zat
akan

dibuang

ke

udara luar. Keuntungannya dalamnya anestesi dapat diatur dengan memberikan


kadar tertentu dari zat anestetik, dan hipoksia dapat dihindari dengan memberikan
volume fresh gas flow kurang dari 100% kebutuhan
Closed method:
Cara ini hampir sama seperti semi closed hanya udara ekspirasi dialirkan melalui
soda lime yang dapat mengikat CO2, sehingga udara yan mengandung anestetik dapat
digunakan lagi.
Dalam memberikan obat-obatan pada penderita yang akan menjalani operasi maka
perlu diperhatikan tujuannya yaitu sebagai premedikasi, induksi, maintenance, dan
lain-lain.
d. Persiapan Pra Anastesi
Pasien yang akan menjalani anestesi dan pembedahan (elektif/darurat) harus
dipersiapkan dengan baik. Kunjungan pra anestesi pada bedah elektif dilakukan 1-2 hari
sebelumnya, dan pada bedah darurat sesingkat mungkin. Kunjungan pra anestesi pada
pasien yang akan menjalani operasi dan pembedahan baik elektif dan darurat mutlak harus
dilakukan untuk keberhasilan tindakan tersebut. Adapun tujuan kunjungan pra anestesi
adalah:1,7
a. Mempersiapkan mental dan fisik secara optimal.
b. Merencanakan dan memilih teknik serta obat-obat anestesi yang sesuai dengan
fisik dan kehendak pasien.
c. Menentukan

status

fisik

dengan

klasifikasi

ASA

(American

Society

Anesthesiology):

10

ASA I

: Pasien normal sehat, kelainan bedah terlokalisir, tanpa kelainan


faali, biokimiawi, dan psikiatris. Angka mortalitas 2%.

ASA II

: Pasien dengan gangguan sistemik ringan sampai dengan sedang


sebagai akibat kelainan bedah atau proses patofisiologis. Angka
mortalitas 16%.

ASA III : Pasien dengan gangguan sistemik berat sehingga aktivitas harian
terbatas. Angka mortalitas 38%.
ASA IV : Pasien dengan gangguan sistemik berat yang mengancam jiwa, tidak
selalu sembuh dengan operasi. Misal : insufisiensi fungsi organ,
angina menetap. Angka mortalitas 68%.
ASA V

: Pasien dengan kemungkinan hidup kecil. Tindakan operasi hampir


tak ada harapan. Tidak diharapkan hidup dalam 24 jam tanpa operasi
/ dengan operasi. Angka mortalitas 98%.

ASA VI : Pasien mati otak yang organ tubuhnya akan diambil (didonorkan)6
Untuk operasi cito, ASA ditambah huruf E (Emergency) terdiri dari kegawatan
otak, jantung, paru, ibu dan anak.
e. Persiapan Praoperasi Anastesi
I.

Anamnesis8,9
1.

Identifikasi pasien yang terdiri dari nama, umur, alamat, dll.

2.

Keluhan saat ini dan tindakan operasi yang akan dihadapi.

3.

Riwayat penyakit yang sedang/pernah diderita yang dapat menjadi


penyulit anestesi seperti alergi, diabetes melitus, penyakit paru kronis (asma

11

bronkhial, pneumonia, bronkhitis), penyakit jantung, hipertensi, dan penyakit


ginjal.
4.

Riwayat obat-obatan yang meliputi alergi obat, intoleransi obat, dan


obat yang sedang digunakan dan dapat menimbulkan interaksi dengan obat
anestetik seperti kortikosteroid, obat antihipertensi, antidiabetik, antibiotik,
golongan aminoglikosid, dan lain lain.

5.

Riwayat anestesi dan operasi sebelumnya yang terdiri dari tanggal,


jenis pembedahan dan anestesi, komplikasi dan perawatan intensif pasca
bedah.

6.

Riwayat kebiasaan sehari-hari yang dapat mempengaruhi tindakan


anestesi seperti merokok, minum alkohol, obat penenang, narkotik

7.

Riwayat keluarga yang menderita kelainan seperti hipertensi maligna.

8.

Riwayat berdasarkan sistem organ yang meliputi keadaan umum,


pernafasan, kardiovaskular, ginjal, gastrointestinal, hematologi, neurologi,
endokrin, psikiatrik, ortopedi dan dermatologi.
Pemeriksaan Fisik 10,11

II.
1.
2.

Keadaan psikis : gelisah,takut, kesakitan

Keadaan gizi : malnutrisi atau obesitas


3.

Tinggi dan berat badan. Untuk memperkirakan dosis obat, terapi cairan
yang diperlukan, serta jumlah urin selama dan sesudah pembedahan.

4.

Frekuensi nadi, tekanan darah, pola dan frekuensi pernafasan, serta


suhu tubuh.

5.

Jalan nafas (airway). Jalan nafas diperiksa untuk mengetahui adanya


trismus, keadaan gigi geligi, adanya gigi palsu, gangguan fleksi ekstensi leher,
deviasi ortopedi dan dermatologi. Ada pula pemeriksaan mallampati, yang

12

dinilai dari visualisasi pembukaan mulut maksimal dan posisi protusi lidah.
Pemeriksaan mallampati sangat penting untuk menentukan kesulitan atau
tidaknya dalam melakukan intubasi. Penilaiannya yaitu:
i.

Mallampati I : palatum molle, uvula, dinding posterior


oropharynk, tonsilla palatina dan tonsilla pharingeal

ii.

Mallampati II : palatum molle, sebagian uvula, dinding


posterior uvula

iii.

Mallampati III : palatum molle, dasar uvula

iv.

Mallampati IV: palatum durum saja

6.

Jantung, untuk mengevaluasi kondisi jantung

7.

Paru-paru, untuk melihat adanya dispneu, ronki dan mengi

8.

Abdomen, untuk melihat adanya distensi, massa, asites, hernia, atau


tanda regurgitasi.

9.

Ekstremitas, terutama untuk melihat adanya perfusi distal, sianosis,


adanya jari tabuh, infeksi kulit, untuk melihat di tempat-tempat pungsi vena
atau daerah blok saraf regional

III.

Pemeriksaan laboratorium dan penunjang lain 1,2,10

Lab rutin :
1.

Pemeriksaan lab. Darah

2.

Urine : protein, sedimen, reduksi

3.

Foto rongten ( thoraks )

4.

EKG

Pemeriksaan khusus, dilakukan bila ada indikasi :


1.

EKG pada anak

2.

Spirometri pada tumor paru


13

3.

Tes fungsi hati pada ikterus

4.

Fungsi ginjalpada hipertensi

5.

AGD, elektrolit.
f. Premedikasi Anastesi
Premedikasi anestesi adalah pemberian obat sebelum anestesi.Adapun tujuan dari
premedikasi antara lain :1,2
a. memberikan rasa nyaman bagi pasien, misal : diazepam.
b. menghilangkan rasa khawatir, misal : diazepam
c. membuat amnesia, misal : diazepam, midazolam
d. memberikan analgesia, misal : fentanyl, pethidin
e. mencegah muntah, misal : droperidol, ondansentron
f. memperlancar induksi, misal : pethidin
g. mengurangi jumlah obat-obat anesthesia, misal pethidin
h. menekan reflek-reflek yang tidak diinginkan, misal : tracurium, sulfas atropin.
i. mengurangi sekresi kelenjar saluran nafas, misal : sulfas atropin dan hiosin.
Premedikasi diberikan berdasar atas keadaan psikis dan fisiologis pasien yang
ditetapkan setelah dilakukan kunjungan prabedah. Dengan demikian maka pemilihan
obat premedikasi yang akan digunakan harus selalu dengan mempertimbangkan umur
pasien, berat badan, status fisik, derajat kecemasan, riwayat pemakaian obat anestesi
sebelumnya, riwayat hospitalisasi sebelumnya, riwayat penggunaan obat tertentu
yang berpengaruh terhadap jalannya anestesi, perkiraan lamanya operasi, macam
operasi, dan rencana anestesi yang akan digunakan2.

Fentanil2

14

Fentanil merupakan salah satu preparat golongan analgesik opioid dan


termasuk dalam opioid potensi tinggi dengan dosis 100-150 mcg/kgBB,
termasuk sufentanil (0,25-0,5 mcg/kgBB).Bahkan sekarang ini telah
ditemukan remifentanil, suatu opioid yang poten dan sangat cepat onsetnya,
telah digunakan untuk meminimalkan depresi pernapasan residual.Opioid
dosis tinggi yang deberikan selama operasi dapat menyebabkan kekakuan
dinding dada dan larynx, dengan demikian dapat mengganggu ventilasi secara
akut, sebagaimana meningkatnya kebutuhan opioid potoperasi berhubungan
dengan perkembangan toleransi akut.Maka dari itu, dosis fentanyl dan
sufentanil yang lebih rendah telah digunakan sebagai premedikasi dan sebagai
suatu tambahan baik dalam anestesi inhalasi maupun intravena untuk
memberikan efek analgesi perioperatif3.
Sebagai analgesik, potensinya diperkirakan 80 kali morfin.Lamanya efek
depresi nafas fentanil lebih pendek dibanding meperidin. Efek euphoria dan
analgetik fentanil diantagonis oleh antagonis opioid, tetapi secara tidak
bermakna diperpanjang masanya atau diperkuat oleh droperidol, yaitu suatu
neuroleptik yang biasanya digunakan bersama sebagai anestesi IV. Dosis
tinggi fentanil menimbulkan kekakuan yang jelas pada otot lurik, yang
mungkin disebabkan oleh efek opioid pada tranmisi dopaminergik di
striatum.Efek ini di antagonis oleh nalokson.Fentanyl biasanya digunakan
hanya untuk anestesi, meski juga dapat digunakan sebagai anelgesi pasca
operasi.Obat ini tersedia dalam bentuk larutan untuk suntik dan tersedia pula
dalam bentuk kombinasi tetap dengan droperidol1. Fentanyl dan droperidol
(suatu butypherone yang berkaitan dengan haloperidol) diberikan bersamasama untuk menimbulkan analgesia dan amnesia dan dikombinasikan dengan
15

nitrogen

oksida

memberikan

suatu

efek

yang

disedut

sebagai

neurolepanestesia1,2.

Midazolam
Midazolam adalah obat induksi tidur jangka pendek untuk premedikasi,
induksi

dan

pemeliharaananestesi.

Dibandingkan

dengan

diazepam,

midazolam bekerja cepat karena transformasi metabolitnya cepat dan lama


kerjanya singkat. Pada pasien orang tua dengan perubahan organik otak atau
gangguan fungsi jantung dan pernafasan, dosis harus ditentukan secara hatihati. Efek obat timbul dalam 2 menit setelah penyuntikan. Dosis premedikasi
dewasa 0,07-0,10 mg/kgBB, disesuaikan dengan umur dan keadaan pasien.
Dosis lazim adalah 5 mg. pada orang tua dan pasien lemah dosisnya 0,0250,05 mg/kgBB. Efek sampingnya terjadi perubahan tekanan darah arteri,

denyut nadi dan pernafasan, umumnya hanya sedikit.


Sulfat Atropin3,4
Atropin dapat mengurangi sekresi dan merupakan obat pilihan utama untuk
mengurangi efek bronchial dan kardial yang berasal dari perangsangan
parasimpatis, baik akibat obat atau anestesikum maupun tindakan lain dalam
operasi. Disamping itu efek lainnya adalah melemaskan tonus otot polos
organ-organ dan menurunkan spasme gastrointestinal. Perlu diingat bahwa
obat ini tidak mencegah timbulnya laringospame yang berkaitan denganane
stesi umum. Setelah penggunaan obat ini (golongan baladona) dalam dosis
terapeutik ada perasaan kering dirongga mulut dan penglihatan jadi kabur.
Karena itu sebaiknya obat ini tidak digunakan untukanestesi regional atau
lokal. Pemberiannya harus hati-hati pada penderita dengan suhu diatas normal
dan pada penderita dengan penyakit jantung khususnya fibrilasi aurikuler.
Atropin tersedia dalam bentuk atropin sulfat dalam ampul 0,25 mg dan 0,50

16

mg. Diberikan secara suntikan subkutis, intramuscula atau intravena dengan

dosis 0,5-1 mg untuk dewasa dan 0,015 mg/kgBB untuk anak-anak.


Petidin3
Dosis premedikasi dewasa 50-75 mg ( 1-1,5 mg/kgBB) intravena diberikan
untuk menekan tekanan darah dan pernapasan serta merangsang otot polos.
Dosis induksi 1-2 mg/kgBB intravena.

g. Induksi
Induksi merupakan saat dimasukkannya zat anestesi sampai tercapainya stadium
pembedahan yang selanjutnya diteruskan dengan tahap pemeliharaan anestesi untuk
mempertahankan atau memperdalam stadium anestesi setelah induksi.2

Propofol 4,6
Propofol (2,6-diisoprophylphenol) adalah campuran 1% obat dalam air dan
emulsi yang berisi 10% soya bean oil, 1,2% phosphatide telur dan 2,25% glyserol. Dosis
yang dianjurkan 2,5mg/kgBB untuk induksi tanpa premedikasi3.
Propofol memiliki kecepatan onset yang sama dengan barbiturat intravena
lainnya, namun pemulihannya lebih cepat dan pasien dapat diambulasi lebih cepat setelah
anestesi umum. Selain itu, secara subjektif, pasien merasa lebih baik setelah postoperasi
karena propofol mengurangi mual dan muntah postoperasi. Propofol digunakan baik
sebagai induksi maupun mempertahankan anestesi dan merupakan agen pilihan untuk
operasi bagi pasien rawat jalan. Obat ini juga efektif dalam menghasilkan sedasi
berkepanjangan pada pasien dalam keadaan kritis. Penggunaan propofol sebagai sedasi
pada anak kecil yang sakit berat (kritis) dapat memicu timbulnya asidosis berat dalam
keadaan terdapat infeksi pernapasan dan kemungkinan adanya skuele neurologik2,3.

17

Pemberian propofol (2mg/kg) intravena menginduksi anestesi secara cepat. Rasa


nyeri kadang-kadang terjadi di tempat suntikan, tetapi jarang disertai plebitis atau
trombosis. Anestesi dapat dipertahankan dengan infus propofol yang berkesinambungan
dengan opiat, N2O dan/atau anestetik inhalasi lain1,3.
Propofol dapat menyebabkan turunnya tekanan darah yang cukup berarti selama
induksi anestesi karena menurunnya resitensi arteri perifer dan venodilatasi.Propofol
menurunkan tekanan arteri sistemik kira-kira 80% tetapi efek ini disebabkan karena
vasodilatasi perifer daripada penurunan curah jantung. Tekanan sistemik kembali normal
dengan intubasi trakea.
Setelah pemberian propofol secara intravena, waktu paruh distribusinya adalah 28 menit, dan waktu paruh redistribusinya kira-kira 30-60 menit. Propofol cepat
dimetabolisme di hati 10 kali lebih cepat daripada thiopenthal pada tikus. Propofol
diekskresikan ke dalam urin sebagai glukoronid dan sulfat konjugat, dengan kurang dari
1% diekskresi dalam bentuk aslinya. Klirens tubuh total anestesinya lebih besar daripada
aliran darah hepatik, sehingga eliminasinya melibatkan mekanisme ekstrahepatik selain
metabolismenya oleh enzim-enzim hati. Propofol dapat bermanfaat bagi pasien dengan
gangguan kemampuan dalam memetabolisme obat-obat anestesi sedati yang lainnya.
Propofol tidak merusak fungsi hati dan ginjal. Aliran darah ke otak, metabolisme otak dan
tekanan intrakranial akan menurun. Keuntungan propofol karena bekerja lebih cepat dari
tiopental dan konvulsi pasca operasi yang minimal.7
Propofol merupakan obat induksi anestesi cepat. Obat ini didistribusikan cepat
dan dieliminasi secara cepat. Hipotensi terjadi sebagai akibat depresi langsung pada otot
jantung dan menurunnya tahanan vaskuler sistemik. Propofol tidak mempunyai efek

18

analgesik. Dibandingkan dengan tiopental waktu pulih sadar lebih cepat dan jarang
terdapat mual dan muntah. Pada dosis yang rendah propofol memiliki efek antiemetik1.
Efek samping propofol pada sistem pernafasan adanya depresi pernafasan,
apnea, bronkospasme, dan laringospasme. Pada sistem kardiovaskuler berupa hipotensi,
aritmia, takikardi, bradikardi, hipertensi. Pada susunan syaraf pusat adanya sakit kepala,
pusing, euforia, kebingungan, dll. Pada daerah penyuntikan dapat terjadi nyeri sehingga
saat pemberian dapat dicampurkan lidokain (20-50 mg)1,3.

h. Pemeliharaan

Nitrous Oksida (N2O)


Merupakan gas yang tidak berwarna, berbau manis dan tidak iritatif, tidak
berasa, lebih berat dari udara, tidak mudah terbakar/meledak, dan tidak bereaksi
dengan soda lime absorber (pengikat CO2). Mempunyai sifat anestesi yang
kurang kuat, tetapi dapat melalui stadium induksi dengan cepat, karena gas ini
tidak larut dalam darah. Gas ini tidak mempunyai sifat merelaksasi otot, oleh
karena itu pada operasi abdomen dan ortopedi perlu tambahan dengan zat
relaksasi otot. Terhadap SSP menimbulkan analgesi yang berarti. Depresi nafas
terjadi pada masa pemulihan, hal ini terjadi karena Nitrous Oksida mendesak
oksigen dalam ruangan-ruangan tubuh. Hipoksia difusi dapat dicegah dengan
pemberian oksigen konsentrasi tinggi beberapa menit sebelum anestesi selesai.
Penggunaan biasanya dipakai perbandingan atau kombinasi dengan oksigen.
Penggunaan dalam anestesi umumnya dipakai dalam kombinasi N 2O : O2 adalah
sebagai berikut 60% : 40% ; 70% : 30% atau 50% : 50%2.3.

Obat Pelumpuh Otot


19

Obat golongan ini menghambat transmisi neuromuscular sehingga


menimbulkan kelumpuhan pada otot rangka. Menurut mekanisme kerjanya, obat
ini dibagi menjadi 2 golongan yaitu obat penghambat secara depolarisasi resisten,
misalnya suksinil kolin, dan obat penghambat kompetitif atau nondepolarisasi,
misal kurarin.
Dalam anestesi umum, obat ini memudahkan dan mengurangi cedera
tindakan laringoskopi dan intubasi trakea, serta memberi relaksasi otot yang
dibutuhkan dalam pembedahan dan ventilasi kendali1,2.
Atracurium besilat (tracrium) 2,5
Merupakan obat pelumpuh otot non depolarisasi yang relatif baru yang
mempunyai struktur benzilisoquinolin yang berasal dari tanaman Leontice
leontopetaltum. Beberapa keunggulan atrakurium dibandingkan dengan obat
terdahulu antara lain adalah :
a. Metabolisme terjadi dalam darah (plasma) terutama melalui suatu reaksi kimia
unik yang disebut reaksi kimia hoffman. Reaksi ini tidak bergantung pada fungsi
hati dan ginjal.
b. Tidak mempunyai efek akumulasi pada pemberian berulang.
c. Tidak menyebabkan perubahan fungsi kardiovaskuler yang bermakna.
Mula dan lama kerja atracurium bergantung pada dosis yang dipakai. Pada
umumnya mulai kerja atracurium pada dosis intubasi adalah 2-3 menit, sedang lama
kerja atracurium dengan dosis relaksasi 15-35 menit3.
Pemulihan fungsi saraf otot dapat terjadi secara spontan (sesudah lama kerja
obat berakhir) atau dibantu dengan pemberian antikolinesterase.

Nampaknya

20

atracurium dapat menjadi obat terpilih untuk pasien geriatrik atau pasien dengan
penyakit jantung dan ginjal yang berat1,2.
Kemasan dibuat dalam 1 ampul berisi 5 ml yang mengandung 50 mg
atracurium besilat. Stabilitas larutan sangat bergantung pada penyimpanan pada suhu
dingin dan perlindungan terhadap penyinaran.
Dosis intubasi : 0,5 0,6 mg/kgBB/iv
Dosis relaksasi otot : 0,5 0,6 mg/kgBB/iv
Dosis pemeliharaan : 0,1 0,2 mg/kgBB/ iv
i. Intubasi Endotrakeal
Suatu tindakan memasukkan pipa khusus ke dalam trakea, sehingga jalan nafas bebas
hambatan dan nafas mudah dikendalikan. Intubasi trakea bertujuan untuk :1
a. Mempermudah pemberian anestesi.
b. Mempertahankan jalan nafas agar tetap bebas.
c. Mencegah kemungkinan aspirasi lambung.
d. Mempermudah penghisapan sekret trakheobronkial.
e. Pemakaian ventilasi yang lama.
f. Mengatasi obstruksi laring akut.
Persiapan alat meliputi STATICS2
S= Scope: stetoskop dan laringoskop
T= tube: pipa trakea non KK dengan cuff (+) No.30.
A= airway: pipa mulut-faring (guedel, orotracheal airway)

21

T= tape: plester
I= introducer: mandrin atau stilet dari kawat dibungkus plastic (kabel)
C= conector: penyambung antara pipa dengan peralatan anestesia
S= suction: penyedot lendir, ludah, dan lain-lainnya.
Intubasi (ETT) ada dua :
a. Spontan : Nafas sendiri tanpa muscle relaxan
b. Kontrol : Dengan muscle relaxan
Indikasi Intubasi :
- Pasien operasi
- Pasien bukan operasi ( Cth : Stroke, gagal nafas, koma )3
Komplikasi Intubasi :3,4
a. Pada saat intubasi
- Sudah terjadi kompilkasi
b. Selama Intubasi
- Aspirasi
- Trauma ggigi geligi
- Laserasi bibir, gusi, laring
- Hipertensi, takikardi
- Spasme Bronchus
22

c. Setelah Intubasi :
- Spasme laring
- Aspirasi
- Gangguan fonasi
- Edema glotis sunglotis
- Infeksi larinng, faring, trachea

Sebelum dilakuan sungkup atau intubasi sebaiknya dilakukan : 8


Induksi :
- Inhalasi
- Parenteral ( IV & IM )
Selama operasi harus ada pemantauan ( Tanda tanda vital : yaitu : Tensi, suhu, respirasi,
nadi). Tujuannya adalah untuk mengurangi terjadinya komplikasi anestesi operasi.
Indikasi bagi pelaksanaan intubasi endotrakheal menurut Gisele tahun 2002 antara lain :5,9
a. Keadaan oksigenasi yang tidak adekuat (karena menurunnya tekanan oksigen
arteri dan lain-lain) yang tidak dapat dikoreksi dengan pemberian suplai oksigen
melalui masker nasal.
b. Keadaan ventilasi yang tidak adekuat karena meningkatnya tekanan
karbondioksida di arteri.
c. Kebutuhan untuk mengontrol dan mengeluarkan sekret pulmonal atau sebagai

23

bronchial toilet.
d. Menyelenggarakan proteksi terhadap pasien dengan keadaan yang gawat atau
pasien dengan refleks akibat sumbatan yang terjadi.
Menurut Gisele, 2002 ada beberapa kontra indikasi bagi dilakukannya intubasi endotrakheal
antara lain :7
a. Beberapa keadaan trauma jalan nafas atau obstruksi yang tidak memungkinkan
untuk dilakukannya intubasi. Tindakan yang harus dilakukan adalah cricothyrotomy pada
beberapa kasus.
b.Trauma servikal yang memerlukan keadaan imobilisasi tulang vertebra servical, sehingga
sangat sulit untuk dilakukan intubasi

Kesulitan intubasi11,12
Kesulitan yang sering dijumpai dalam intubasi endotrakheal (Mansjoer Arif et.al., 2000)
biasanya dijumpai pada pasien-pasien dengan :
a. Otot-otot leher yang pendek dengan gigi geligi yang lengkap.
b. Recoding lower jaw dengan angulus mandibula yang tumpul. Jarak antara mental
symphisis dengan lower alveolar margin yang melebar memerlukan depresi rahang bawah
yang lebih lebar selama intubasi.
c. Mulut yang panjang dan sempit dengan arcus palatum yang tinggi.
d. Gigi incisium atas yang menonjol (rabbit teeth).

24

e. Kesukaran membuka rahang, seperti multiple arthritis yang menyerang sendi


temporomandibuler, spondilitis servical spine.
f. Abnormalitas pada servical spine termasuk achondroplasia karena fleksi kepala pada leher
di sendi atlantooccipital
g. Kontraktur jaringan leher sebagai akibat combusio yang menyebabkan fleksi leher.
h. Fraktur servical
i. Rahang bawah kecil
j. Osteoarthritis temporo mandibula joint
k.Trismus.
l. Ada masa di pharing dan laring
Kegagalan intubasi2,5
Hal yang perlu dilakukan apabila terjadi keadaan gagal intubasi adalah mengunakan
alat-alat anestesi lain yang kemungkinan dapat berguna. Salah satu yang dapat dan sangat
sering digunakan serta menunjukkan angka keberhasilan cukup tinggi adalah laryngeal mask
airway (LMA) atau sungkup laring. Selain itu pada keadaan yang sangat gawat, tindakan
krikotiroidotomi dengan menggunakan jarum yang besar dapat dilakukan
Penting untuk dicatat luas lapangan pandang dari laring yang telah kita dapatkan. Informasi
ini penting, apabila di kemudian hari dilakukan kembali tindakan manajemen jalan napas.
Gambaran standart yang digunakan adalah klasifikasi menurut Cormack dan Lehane (1984):
1.

Grade 1 : seluruh laring dapat terlihat

25

2.

Grade 2 : bagian posterior dari laring saja yang dapat terlihat

3.

Grade 3 : hanya epiglotis saja yang dapat terlihat

4.

Grade 4 : tidak ada bagian laring yang dapat terliha

j. Terapi Cairan2,3
Prinsip dasar terapi cairan adalah cairan yang diberikan harus mendekati
jumlah dan komposisi cairan yang hilang.Terapi cairan perioperatif bertujuan untuk1.
a. Memenuhi kebutuhan cairan, elektrolit dan darah yang hilang selama operasi.
b. Mengatasi syok dan kelainan yang ditimbulkan karena terapi yang diberikan.
Pemberian cairan operasi dibagi :
a. Pra operasi
Dapat terjadi defisit cairan karena kurang makan, puasa, muntah,
penghisapan isi lambung, penumpukan cairan pada ruang ketiga seperti pada
ileus obstruktif, perdarahan, luka bakar dan lain-lain. Kebutuhan cairan untuk
dewasa dalam 24 jam adalah 2 ml / kg BB / jam. Setiap kenaikan suhu 10 Celcius
kebutuhan cairan bertambah 10-15 %.2
b. Selama operasi
Dapat terjadi kehilangan cairan karena proses operasi. Kebutuhan cairan
pada dewasa untuk operasi :
Ringan = 4 ml/kgBB/jam.
Sedang= 6 ml/kgBB/jam
Berat

= 8 ml/kgBB/jam.

Bila terjadi perdarahan selama operasi, di mana perdarahan kurang dari


10 % EBV maka cukup digantikan dengan cairan kristaloid. Apabila perdarahan
lebih dari 10 % maka dapat dipertimbangkan pemberian plasma / koloid /
dekstran.4
c. Setelah operasi
Pemberian cairan pasca operasi ditentukan berdasarkan defisit cairan
selama operasi ditambah kebutuhan sehari-hari pasien1.

26

k. Pemulihan
Pasca anestesi dilakukan pemulihan dan perawatan pasca operasi dan anestesi
yang biasanya dilakukan di ruang pulih sadar atau recovery room yaitu ruangan untuk
observasi pasien pasca atau anestesi.Ruang pulih sadar merupakan batu loncatan
sebelum pasien dipindahkan ke bangsal atau masih memerlukan perawatan intensif di
ICU.Dengan demikian pasien pasca operasi atau anestesi dapat terhindar dari
komplikasi yang disebabkan karena operasi atau pengaruh anestesinya2.
Untuk memindahkan pasien dari ruang pulih sadar ke ruang perawatan perlu
dilakukan skoring tentang kondisi pasien setelah anestesi dan pembedahan. Beberapa
cara skoring yang biasa dipakai untuk anestesi umum yaitu cara Aldrete dan Steward,
dimana cara Steward mula-mula diterapkan untuk pasien anak-anak, tetapi sekarang
sangat luas pemakaiannya, termasuk untuk orang dewasa. Sedangkan untuk regional
anestesi digunakan skor Bromage1,6.

Recovery
Setelah operasi selesai dan pasien dalam keadaan sadar, pasien dipindahkan ke
dalam ruangan recovery dan diobservasi berdasarkan Alderete score. Jika Alderete score 8
dan tanpa adanya nilai 0, maka pasien dapat dipindahkan ke bangsal. Pada pasien ini
didapatkan Alderete score 10.7,9
Program Post Operasi
a.

Awasi tensi, nadi,dan pernafasan tiap setengah jam

b.

oksigenasi sungkup

c.

Posisi supine, dengan ekstensi kepala sampai pasien sadar

d.

Sadar penuh, peristaltik (+), muntah (-) boleh minum

Komplikasi anestesi

27

Komplikasi terkait anestesi terjadi pada 1:10.000 pasien yang menjalani tonsilektomi
dan adenoidektomi (brookwood ent associates). Komplikasi ini terkait dengan keadaan status
kesehatan pasien. Adapun komplikasi yang dapat ditemukan berupa:5
-

Laringospasme

Gelisah pasca operasi

Mual dan munta

Kematian saat induksi pada pasien hipovolemik

- Hipersensitif terhadap obat anastesi

Tabel 1. Aldrete Scoring System1,2


No

Kriteria

Skor

.
1

Aktivitas

motorik

Mampu menggerakkan ke-4 ekstremitas

atas perintah atau secara sadar.

Mampu menggerakkan 2 ekstremitas atas


perintah atau secara sadar.

Tidak mampu menggerakkan ekstremitas


atas perintah atau secara sadar.
0

Respirasi

Nafas adekuat dan dapat batuk

Nafas kurang adekuat/distress/hipoventilasi

Apneu/tidak bernafas

2
1
0

Sirkulasi

Tekanan darah berbeda 20% dari semula

Tekanan darah berbeda 20-50% dari

28

semula

Kesadaran

Tekanan darah berbeda >50% dari semula

Sadar penuh

Bangun jika dipanggil

Tidak ada respon atau belum sadar

0
2
1
0

Warna kulit

Kemerahan atau seperti semula

Pucat

Sianosis

2
1
0

Aldrete score 8, tanpa nilai 0, maka dapat dipindah ke ruang perawatan.

BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Pemeriksaan pra anestesi memegang peranan penting pada setiap operasi yang
melibatkan anestesi.Pemeriksaan yang teliti memungkinkan kita mengetahui kondisi pasien
dan memperkirakan masalah yang mungkin timbul sehingga dapat mengantisipasinya.2
Untuk mencapai hasil maksimal dari anestesi seharusnya permasalahan yang ada
diantisipasi terlebih dahulu sehingga kemungkinan timbulnya komplikasi anestesi dapat
ditekan seminimal mungkin.2,3

29

DAFTAR PUSTAKA
1. Baugh RF et al. Clinical Practice Guideline: Tonsillectomy in Children.
Otolaryngology Head and Neck Surgery 2011; 144 (15):1-30.
2. Muhardi, M, dkk. (1989). Anestesiologi, Bagian Anastesiologi dan Terapi Intensif,
FKUI. Jakarta: CV Infomedia.
3. Drake A. Tonsillectomy.
http://www.emedicine.com/ent/topic315.htm/emedtonsilektomi,

diakses

tanggal

28

November 2015.
4. Wirdjoatmodjo, K., 2000. Anestesiologi dan Reanimasi Modul Dasar untuk
Pendidikan S1 Kedokteran. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
5. Lab/SMFAnestesiologi

&

reanimasi.2010.

Panduan

Kepaniteraan

Klinik

Anestesiologi.
6. Handoko, Tony. 1995. Anestetik Umum. Dalam :Farmakologi dan Terapi FKUI, edisi
ke- 4. Jakarta:Gaya baru.
7. Latief, S, dkk. 2002. Petunjuk Praktis Anestesiologi, edisi kedua. Jakarta : Balai
Penerbit FKUI
8. Mansjoer A, Suprohaita, dkk. 2002. Ilmu Anestesi. dalam: Kapita Selekta Kedokteran
FKUI. Jilid 2. edisi ketiga. Jakarta:Media Aesculapius
9. Sadina, 2009. Sistem Pernapasan Pada Manusia.
30

http://www.blogunila.ac.id/sadina/2009/10/01/sistem-pernapasan-pada-manusia/
diakses tanggal 28 November 2015.
10. Better Health Channel.2011. Tonsillitis Explaioverment of vixtoria, Australia.
http :/ / betterhealth.vic.gov.au/bhcv2/bhcarticles. Diakses tanggal 28 November 2015
11. NHS.2010. Tonsillitis.
http://www.nhs.uk/conditions/tonsillitis, diakses tanggal 28 November 2015 Lauro,
Joseph.2011. Tonsillitis. Lautheran Emergency Medicine Medical Centre.
12. http:/ /www.emedicinehealth.com/tonsillitis/article_em.htm, diakses tanggal 28
November 2015

31