Anda di halaman 1dari 52

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Proses pencernaan merupakan suatu proses yang melibatkan organ-organ
pencernaan dan kelenjar-kelenjar pencernaan. Antara proses dan organ-organ serta
kelenjarnya merupakan kesatuan sistem pencernaan. Sistem pencernaan berfungsi
memecah bahan- bahan makanan menjadi sari-sari makanan yang siap diserap
dalam tubuh.
Agar makanan yang kita makan dapat di serap di usus halus, maka
makanan itu harus di ubah menjadi bentuk sederhana melalui proses pencernaan,
zat makanan yang mengalami proses pencernaan di dalam tubuh adalah
karbohidrat, protein, dan lemak. Sedangkan unsur-unsur mineral, vitamin, dan air
tidak mengalami proses pencernaan. Proses pencernaan pada manusia dapat di
bedakan menjadi dua macam yaitu proses pencernaan secara mekanik dan
kimiawi (enzimatis). Saat kalian mengunyah makanan seperti nasi, roti, umbi dan
pisang berarti proses pencernaan mekanik (fisik) sedang berlangsung. Dan, proses
pencernaan mekanik adalah proses perubahan makanan dari bentuk besar atau
kasar menjadi bentuk kecil atau halus. Pada manusia dan mamalia umumnya
proses pencernaan mekanik dilakukan dengan menggunakan gigi. Berarti, proses
pencernaan kimiawi pun sedang terjadi. Dan proses pencernaan kimiawi adalah
proses perubahan makanan dari zat yang kompleks menjadi zat-zat yang lebih
sederhana dengan menggunakan enzim. Enzim adalah zat kimia yang dihasilkan
oleh tubuh yang berfungsi mempercepat reaksi-reaksi kimia dalam tubuh.

Proses pencernaan makanan pada manusia melibatkan alat-alat pencernaan


makanan yang kita makan. Alat pencernaan makanan dapat di bedakan atas
saluran pencernaan dan kelenjar pencernaan.
Saluran pencernaan manusia memanjang dari mulut sampai anus, terdiri dari
mulut (kaum olis), kerongkongan (esofagus), lambung (ventlikulus), usus halus
(intestinum), usus besar (kolon), dan anus. Kelenjar pencernaan menghasilkan
enzim-enzim yang membantu proses pencernaan kimiawi. Kelenjar air liur,
kelenjar getah lambung, hati (hepar), dan pankreas.

1.2 Rumusan Masalah


Dalam pembuatan makalah ini ada beberapa masalah yang di rumuskan
oleh penulis yaitu :
1. Apa pengertian dari sistem pencernaan ?
2. Apa saja organ pada saluran pencernaan ?
3. Bagaimana mekanisme kerja sistem pencernaan terhadap makanan?
4. Bagaimana jika terjadi kelainan dan kerusakan pada saluran pencernaan?
5. Bagaimana cara penanganannya jika terjadi kelainan pada saluran
pencernaan ?
6.

Apa sajakah obat-obat yang digunakan jika terjadi kelainan pada saluran
pencernaan?

1.3 Tujuan Makalah


Tujuan dari pembuatan makalah ini berdasarkan rumusan masalah yang di
ajukan penulis adalah :
1. Mengetahui pengertian sistem pencernaan.
2. Mengetahui organ organ yang bekerja pada saluran pencernaan.
3. Mengetahui mekanisme kerja sistem pencernaan terhadap makanan.
4. Mengetahui kelainan atau kerusakan pada saluran pencernaan.
5. Mengetahui penanganan jika terjadi kelainan pada saluran pencernaan.
6. Mengetahui jenis obat yang digunakan dalam kelainan pada pencernaan.
1.4 Manfaat Makalah
Makalah ini dapat bermanfaat untuk penambahan ilmu yang mempelajar
system hormon. Secara praktis makalah ini bermanfaat bagi:
1. Penulis, sebagai wadah penambah wawasan agar mengetahui tentang
system pencernaan pada manusia.
2. Pembaca atau dosen, sebagai media informasi bahwa sistem saluran
pencernaan sangat berpengaruh di dalam tubuh kita.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Kajian Pustaka
Sistem

pencernaan

berurusan

dengan

penerimaan

makanan

dan

mempersiapkannya untuk diasimilasi oleh tubuh. Saluran pencernaan terdiri


atas bagian-bagian berikut :

Mulut

Faring

Esofagus (kerongkongan)

Ventrikulus (lambung)

Usus Halus

Usus Besar

Pada proses pencernaan, makanan mula-mula dijadikan bagian yang kecilkecil dengan cara menggigit dan mengunyah, kemudian dihaluskan lebih
lanjut oleh aasam klorida dan enzim-enzim pencernaan. Enzim-enzim ini
membantu mencegah, atau menghidrolisis protein, karbohidrat, dan lemak
menjaadi senyawa dasar seperti asam amino, monosakarida dan gliserida.
Senyawa ini kemudian diabsorpsi melalui dinding usus kedalam darah. Jadi
pencernaan merupakan proses yang mengubah bahan makanan menjadi zat
yang dapat diserap kedalam peredaran darah. Bahan-bahan yang tidak berguna
dan malahan sebagian yang toksik, disingkirkan( dikeluarkan) berupa feses.

2.2 Pembahasan
2.2.1 Pengertian Sistem Pencernaan
Sistem saluran pencernaan adalah pintu gerbang masuk zat zat gizi dari
makanan, vitamin, mineral, dan cairan yang memasuki tubuh. Fungsi sistem
ini adalah mencernakan makanan dengan cara menggilingnya dan kemudian
mengubah secara kimiawi ketiga bahan utamanya (protein, lemak, dan
karbohidrat) menjadi unit-unit yang siap diresorpsi tubuh. Prosese pencernaan
ini dibantu oleh enzim-enzim pencernaan yang terdapat pada ludah, getah
lambung, dan getah pankreas. Produk-produk yang berfaedah bagi tubuh
beserta vitamin, mineral dan cairan melintasi selaput lendir (mukosa) usus
untuk masuk ke aliran darah dan getah bening (limfe).
Dalam sistem pencernaan manusia makanan yang dikonsumsi tak
sepenuhnya menjadi zat-zat gizi yang dapat diserap , sisa sisa makanan yang
tidak diserap dan tidak dibutuhkan oleh tubuh akan dikeluarkan melalui anus
sebagai proses metabolisme tubuh. Sistem pencernaan yang baik sangat
berpengaruh pertumbuhan dan perkembangan manusia karena sistem
pencernaan merupakan sistem dasar sebeum sistem-sistem tubuh yang lain
bekerja, karena sumber energy yang didapat dari organ lain bergantung dari
sistem pencernaan dalam memprosesnya.
2.2.2 Organ yang berperan dalam sistem pencernaan
1. MULUT ( ORIS )
Mulut adalah permulaan saluran pencernaan yang terdiri atas 2 bagian
yaitu bagian luar yang sempit atau vestibula yaitu ruang di antara gusi, gigi,
bibir dan pipi, dan bagian rongga mulut atau bagian dalam, yaitu rongga mulut
yang dibatasi sisinya oleh tulang maksilaris, palatum dan mandibularis di

sebelah belakang bersambung dengan faring. Selaput lendir mulut ditutupi


epitelium yang berlapis-lapis, di bawahnya terletak kelenjar-kelenjar halus
yang mengeluarkan lendir, selaput ini kaya akan pembuluh darah dan juga
memuat banyak ujung akhir saraf sensoris. Di dalam mulut terdapat alat-alat
yang membantu dalam proses pencernaan, yaitu: bibir,gigi, lidah, dan kelenjar
ludah (air liur). Dan di dalam ronggga mulut, makanan menggalami
pencerrnaan secara mekanik dan kimiawi.

a. Bibir
Disebelah luar mulut ditutupi oleh kulit dan di sebelah dalam ditutupi oleh
selaput lendir (mukosa). Otot orbikulanis oris menutupi bibir. Levator anguli oris
mngangkat dan depresor anguli oris menekan ujung mulut.
1). Palatum
Terdiri atas 2 bagian yaitu;
a) Palatum Durum (palatum keras) yang tersusun atas tajuk-tajuk palatum
dan sebelah depan tulang maksilaris dan lebih ke belakang terdiri dari 2
tulang palatum.
b) Palatum mole (palatum lunak) terletak dibelakang yang merupakan lipatan
menggantung yang dapat bergerak, terdiri atas jaringan fibrosa dan selaput
lendir.Gerakannya dikendalikan oleh ototnya sendiri, di sebelah kanan dan
kiri dan tiang fauses terdapat saluran lendir menembus ke tonsil.

b. Pipi

Dilapisi dari dalam oleh mukosa yang mengandung papila, otot yang terdapat
pada pipi adalah otot buksinator.
c. Gigi
Gigi berfungsi untuk mengunyah makanan sehingga makanan menjadi halus.
Gigi dapat di bedakan atas empat macam yaitu, Gigi seri, gigi taring, gigi geraham
depan dan gigi geraham belakang. Secara umum, gigi manusia terdiri dari tiga
bagian, yaitu: Mahkota gigi (korona), leher gigi (kolum), dan akar gigi (radiks).
Setiap gigi memiliki bentuk mahkota gigi yang berbeda-beda. Gigi seri berbentuk
seperti pahat runcing, dan gigi geraham berbentuk agak silindris dengan
permukaan lebar dan datar berlekuk-lekuk dan gigi taring yang berbentuk seperti
pahat runcing berfungsi untuk merobek makanan. Sedangkan gigi geraham
dengan permukaan yang lebar dan datar berlekuk-lekuk, berfungsi untuk
mengunyah.
Leher gigi merupakan bagian gigi yang terlindung dalam gusi, sedangkan akar
gigi merupakan bagian gigi yang tertanam di dalam rahang. Tulang gigi tersusun
atas zat dentin. Sum-sum gigi (pulpa), merupakan rongga gigi yang di dalamnya
terdapat serabut saraf dan pembuluh_pembuluh darah. Pada bayi, gigi sudah mulai
tumbuh pada usia 6 bulan. Gigi pertama yang tumbuh disebut gigi susu. Gigi
anak-anak pada usia 6 tahun jumlahnya 20 yang terdiri dari 8 gigi seri, 4 gigi
taring, dan 8 gigi geraham.
d. Lidah
Lidah terdiri dari otot serat lintang dan dilapisi oleh selaput lendir, kerja otot
lidah ini dapat digerakkan keseluruh arah.
Lidah dibagi atas 3 bagian yaitu :

Radiks lingua

: Pangkal lidah.

Dorsum lingua

: Punggung lidah.

Apeks lingua

: Ujung lidah.

Pada pangkal lidah yang belakang terdapat epiglotis yang berfungsi untuk
menutup jalan nafas pada waktu kita menelan makanan, supaya makanan jangan
masuk ke jalan nafas. Punggung lidah (dorsum lingua) terdapat puting-puting
pengecap atau ujung saraf pengecap.
Frenulum lingua merupakan selaput lendir yang terdapat pada bagian bawah
kira-kira ditengah-tengah jika lidah digerakkan ke atas nampak selaput lender.
Flika sublingual terdapat disebelah kiri dan kanan frenulum lingua di sini
terdapat pula lipatan selaput lendir.
Pada pertengahan flika sub lingua ini terdapat saluran dan glaudula parotis, sub
maksilaris dan glandula sub lingualis.
Otot lidah merupakan Otot-otot ekstrinsik lidah berasal dari rahang bawah
(M. Mandibularis, os Hioid dan prosesus steloid) menyebar ke dalam lidah
membentuk anyaman bengabung dengan otot intrinsik yang terdapat pada lidah.
M. Genioglossus merupakan otot lidah yang terkuat berasal dari permukaan
tengah bagian dalam yang menyebar sampai ke radiks lingua.
Lidah berfungsi untuk mengaduk makanan di dalam rongga mulut dan
membantu mendorong makanan ( proses penelanan ). Selain itu lidah juga
berfungsi sebagai alat pengecag bp yang dapat merasakan manis, asin, pahit, dan
asam.

Gambar 1. Lidah

e. Kelenjar ludah
Kelenjar ludah merupakan; Kelenjar yang mempunyai duktus yang bernama
duktus wartoni dan duktus stensoni. Kelenjar ludah ini ada 2 yakni:
-

Kelenjar ludah bawah rahang (kelenjar submaksilaris), yang terdapat di

bawah tulang rahang atas pada bagian tengah.


-

Kelenjar ludah bawah lidah (kelenjar sublingualis) yang tendapat di sebeiah

depan di bawah lidah.


Di bawah kelenjar ludah bawah rahang dan kelenjar ludah bawah lidah di
antara lipatan bawah lidah bagian bawah dari lidah disebut korunkula sub
lingualis serta hasil sekresinya berupa kelenjar ludah (saliva). Kelenjar ludah
menghasilkan ludah atau air liur ( saliva ).
Kelenjar ludah dalam rongga mulut ada 3 pasang, yaitu:
-

Kelenjar parotis, terletak di bawah telinga

Kelenjar submandibulavis, terletak di rahang bawah

Kelenjar sublingualis, terletak di bawah lidah.

Ludah berfungsi untuk memudahkan penelanan makanan. Selain itu, lidah


juga melindungi selaput mulut terhadap panas, dingin, asam, dan basah. Didalam
ludah terdapat enzim ptialin ( amilase ). Enzim ptialin berfungsi mengubah
makanan dalam mulut yang mengandung zat karbohidrat ( amilum ) menjadi gula
sederhana ( maltosa ). Maltosa mudah di cerna oleh organ pencernaan selanjutnya.
Enzim ptialin beketja dengan baik pada PH antara 6, 8-7 dan suhu 37oC.
Proses penelanan makanan contohnya lidah terangkat sehingga menelan
makanan yang telah kita kunyah kelangit-langit lunak ( tekak ). Langit-langit
lunak terangkat, menutup rongga hidung, sedangkan lidah tetap menekan langitlangit dan menutup rongga mulut. Epiglotes terangkat menutup lubang ke arah
saluran pernapasan.

Gambar 2. Bagian Mulut dan Kelenjar Mulut

2. FARING
Merupakan

organ

yang

menghubungkan

rongga

mulut

dengan

kerongkongan (osofagus) di dalam lengkung faring terdapat tonsil (amandel)


yaitu kumpulan kelenjar limfe yang banyak mengandung limfosit dan
merupakan pertahanan terhadap infeksi. Disini terletak persimpangan antara

10

jalan nafas dan jalan makanan, letaknya di belakang rongga mulut dan rongga
hidung, di depan ruas tulang belakang. Ke atas bagian depan berhubungan
dengan rongga hidung, dengan perantaraan lubang bernama koana.
Keadaan tekak berhubungan dengan rongga mulut dengan perantaraan
lubang yang disebut ismus fausium.
Tekak terdiri dari; Bagian superior = bagian yang sama tinggi dengan
hidung, Bagian media = bagian yang sama tinggi dengan mulut dan
bagian inferior bagian yang sama tinggi dengan faring. Bagian superior
disebut nasofaring, pada nasofaring bermuara tuba yang menghubungkan
tekak dengan ruang gendang telinga. Bagian media disebut orofaring, bagian
ini berbatas ke depan sampai di akar lidah bagian superior disebut faring, yaitu
pangkal lidah yang menghubungkan tekak dengan tcnggorokkan (trakea).
Menelan (Deglutisio) disaat Jalan udara dan jalan makanan pada faring
terjadi penyilangan. Jalan udara masuk ke bagian depan terus ke leher bagian
depan sedangkan jalan makanan masuk ke belakang dari jalan nafas dan di
depan dari ruas tulang belakang. Makanan melewati epiglotis lateral melalui
ressus

piriformis

masuk

keosofagus tanpa

membahayakan

jalan

udara. Gerakan menelan mencegah masuknya makanan ke jalan udara, pada


waktu yang sama jalan udara ditutup sementara. Permulaan menelan, otot
mulut dan lidah kontraksi secara bersamaan.

11

Gambar 3. Faring dan Bagiannya

3. ESOFAGUS ( KERONGKONGAN )
Merupakan saluran yang menghubungkan tekak dengan lambung,
panjangnya sekitar 25 cm, mulai dari faring sampai pintu masuk kardiak di
bawah lambung. Lapisan dinding dari dalam ke luar; Lapisan selaput
lendir(mukosa), lapisan sub mukosa, lapisan otot melingkar sirkuler dan
lapisan otot memanjang longitudinal. Osofagus terletak di belakang trakea dan
di depan tulang punggung setelah melalui toraks menembus diafragma masuk
ke dalam abdomen menyambung dengan lambung. kerongkongan berfungsi
sebagai jalan makanan yang telah di kunyah menuju lambung, jadi, pada
kerongkongan tidak terjadi proses pencernaan.
Otot kerongkongan dapat berkontraksi secara bergelombang sehingga
dapat mendorong makanan masuk ke dalam lambung, gerak kerongkongan ini
di sebut gerak peristalis. Gerak peristalis merupakan gerak kembang kempis
kerongkongan untuk mendorong makanan ke dalam lambung. Makanan di
dalam kerongkongan hanya sekitar enam detik. Bagian pangkal kerongkongan
( paring ) berotot lurik, artinya kita menelan makanan jika telah di kunyah
12

sesuai dengan kehendak kita. Akan tetapi, sesudah proses penelanan sehingga
mengeluarkan proses. Kerja otot-otot organ pencernaan selanjutnya tidak
menurut kehendak kita (tidak di sadari).

Gambar 4. Esofagus
4. LAMBUNG ( GASTER )
Lambung ( fentrikulus ) merupakan kantung besar yang terletak disebelah
kiri rongga perut. Lambung sering pula disebut perut besar atau kantung
nasi. Lambung terdiri dari 3 bagian yaitu bagian atas ( kardiak ), bagian
tengah yang membulat ( fundus ), dan bagian bawah ( pilorus ). Kardiak
berdekatan dengan hati dan berhubungan dengan kerongkongan. Pilorus
berhubungan langsung dengan usus dua belas jari. Di bagian ujung kardiak
dan pilorus terdapat klep ( sfigter ) yang mengatur masuk dan keluarnya
makanan ke dalam dari lambung.

13

Dinding lambung terdiri dari otot yang tersusun melingkar, memanjang,


dan menyerong. Otot-otot tersebut menyebabkan lambung berkontraksi.
Akibatnya kontraksi otot lambung, makanan teraduk dengan baik sehingga
akan bercampur merata dengan getah lambung. Hal ini menyebabkan
makanan didalam lambung berbentuk seperti bubur. Dinding lambung
mengandung sel-sel kelenjar yang berfungsi sebagai kelenjar pencernaan yang
menghasilkan

getah

lambung.

Getah

lambung

mengandung

air

lender (musin), asam lambung, enzim renim, dan enzim pepsinogen. Getah
lambung bersifat asam karena banyak mengandung asam lambung.
Asam lambung berfungsi membunuh kuman penyakit atau bakteri yang
masuk bersama makanan dan juga berfungsi untuk mengaktifkan pepsinogen
menjadi pepsin-pepsin yang berfungsi memecah protein menjadi pepton dan
proteosa-enzim renin berfungsi menggumpalkan protein susu (kasein) yang
terdapat dalam susu. Adanya enzim renin dan enzim pepsin menunjukkan
bahwa didalam lambung terjadi proses pencernaan kimiawi- selain
menghasilkan enzim pencernaaan, dinding lambung juga menghasilkan
hormon gastrin. Hormon gastrin berfungsi untuk mengeluarkan (sekresi) getah
lambung. Lambung dapat meregang sampai dapat menyimpan 2 liter cairan,
makanan umumnya dapat bertahan 3-4 jam didalam lambung. Dari lambung ,
makanan sedikit demi sedikit keluar menuju usus 12 jari melalui sfingter
pilorus.

14

Gambar 5. Lambung ( Gaster )

5. USUS HALUS ( INTESTINUM MINOR )


Intestinum minor adalah bagian dari Sistem Pencernaan Makanan yang
berpangkal pada pilorus dan berakhir pada seikum panjangnya sekitar 6 m,
merupakan saluran paling panjang tempat proses pencernaan dan absorpsi
hasil pencernaan yang terdiri dari: Lapisan usus halus,mukosa (sebelah
dalam). Lapisan melingkar ( M. sirkuler), lapisan otot memanjang (M.
longitudinal) dan lapisan serosa (sebelah luar).
Bagian bagian usus halus yaitu :
a. Duodenum.
Disebut juga usus 12 jari, panjangnya sekitar 25cm berbentuk sepatu kuda
melengkung kekiri, pada lengkungan ini terdapat pankreas. Dan bagian
kanan duodenum ini terdapat selaput lendir yang membukit disebut Papila
vateri. Pada papila vateri ini bermuara saluran empedu (duktus koledokus)

15

dan

saluran

pankreas

(duktus

wirsungi

duktus

pankreatikus).

Empedu dibuat di hati, untuk dikeluarkan ke duodenum melalui duktus


koledokus yang fungsinya mengemulsikan lemak dengan bantuan
lipase. Empedu dihasilkan oleh hati dan ditampung oleh empedu dan di
alirkan ke usus dua belas jari. Empedu mengandung garamgaram
empedu dan zat pewarna empedu (bilirubin). Garam empedu berfungsi
mengemulsikan lemak, zat warna empedu berwarna kecoklatan, dan
dihasilkan dengan cara perombakansel darah merah yang sudah tua di hati.
Pankreas menghasilkan getah pangkreas yang mengandung enzim-enzim
sebagai berikut:
- Amilopsin (amilase pangkreas) yaitu enzim yang mengubah zat tepung
(amilum) menjadi gula yang lebih sederhana.
- Steapsin (lipase pangkreas) yaitu, enzim yang mengubah lemak menjadi
asam lemak dan gliserol.
- Tripsinogen yang belum aktif di aktifkan menjadi tripsin yaitu enzim
yang mengubah protein dan pepton menjadi dipeptida dan asam amino
yang siap diserap oleh usus halus.
Dinding duodenum mempunyai lapisan mukosa yang banyak mengandung
kelenjar, yang disebut kelenjar-kelenjar brunner, berfungsi untuk
memproduksi getah intestinum.

16

b. Yeyenum dan Ilieum


Mempunyai panjang sekitar 6 m. Dua per lima bagian atas adalah
yayenum dengan panjang sekitar 2-3 m, dan ileum dengan panjang sekitar
4-5 m. Lekukan yayenum dan ileum melekat pada dinding abdomen
posterior dengan perantaraan lipatan peritoneum yang berbentuk kipas
dikenal sebagai mesenterium.Akar mesenterium memungkinkan keluar
masuknya cabang-cabang arteri dan vena mesentrika superior, pembuluh
limfe dan saraf ke ruang antara 2 lapisan peritoneum yang membentuk
mesenterium. Sambungan antara yayenum dan ileum tidak mempunyai
batas yang tegas.Ujung bawah ileum berhubungan dengan seikum dengan
perantaraan lubang yang bernama orifisium ileoselkalis. Orifisium ini
diperkuat oleh spinter ileoselkalis dan pada bagian ini terdapat katup
valvula seikalis atau valvula baukini, berfungsi untuk mencegah cairan
dalam kolom assendens tidak masuk kembali kedalam ileum.
Dinding halus juga menghasilkan getah usuus halus yang mengandung
enzim-enzim sebagai berikut:
- Maltosa, berfungsi mengubah maltosa menjadi glukosa.
- Laktase, berfungsi mengubah laktosa menjadi glukosa dan galaktosa.
- Sukrase, berfungsi mengubah sukrosa menjadi glukosa dan fruktosa.
- Tripsin, berfungsi mengubah pepton menjadi asam amino.

17

- Enterokenase, berfungsi mengaktifkan triosinogen (enzim yang


dihasilkan pangkreas) menjadi tripsin.
Di dalam usus halus terjadi proses pencernaan kimiawi dengan melibatkan
berbagai enzim pencernaan. Karbohidrat di cerna menjadi glukosa, lemak
di cerna menjadi asam lemak dan gliserol dan protein di cerna menjadi
asam amino. Jadi, pada usus dua belas jari, seluruh proses pencernaan
karbohidrat, lemak, dan protein di selesaikan. Selanjutnya,proses
penyerapan (absorpsi) akan berlangsung di usus kosong dan sebagian di
usus penyerap karbohidrat setiap dalam bentuk glukosa.
Lemak diserap dalam bentuk asam lemak dan gliserol. Vitamin dan
mineral tidak mengalami pencernaan dan dapat di tarima langsung oleh
usus halus. Pada dinding usus penyerap terdapat jonjot-jonjot usus yang
disebut vili. Vili berfungsi untuk memperluas daerah penyerapan usus
halus sehingga sari-sari makanan dapat terserap lebih banyak dan cepat,
dinding vili banyak mengandung kapiler darah atau pembuluh limfe
(pembuluh getah bening usus). Agar dapat mencapai darah. Sari-sari
makanan harus menembus sel dinding usus halus yang selanjutnya masuk
pembuluh darah atau pembuluh limfe, Glukpsa, Asam amino, Vitamin, dan
Mineral setalah diserap oleh usus halus melalui kapiler darah akan
dibawah oleh darah melalui pembuluh vena porta hepar ke hati.
Selanjutnya, dari hati ke jantung kemudian di edarkan ke seluruh tubuh.
Asam lemak dan gliserol bersama empedu membentuk suatu larutan yang
disebut misel. Pada saat bersentuhan dengan sel vili usus halus. Gliserol
18

dan asam lemak dan gliserol dibawah oleh pembuluh getah bening usus
(pembuluh kil), dan akhirnya masuk ke dalam peredaran darah.
Se4dangkan garam empedu yang telah masuk ke darah menuju ke hati
untuk dibudt empedu kembali. Vitamin yang larut dalam lemak (Vitamin
A,D,E dan K) diserap oleh usus halus diangkut melalui pembuluh getah
bening. Selanjutnya, vitamin-vitamin tersebut masuk kesistem peredaran
darah.
Umumnya makanan diserap saat mencapai akhir usus halus. Sisa makanan
yang tidak diserap, secara perlahan-lahan bergerak menuju usus
besar. Absorpsi makanan yang sudah dicernakan seluruhnya berlangsung
di dalam usus halus melalui 2 (dua) saluran yaitu pembuluh kapiler dalam
darah dan saluran limfe di sebelah dalam permukaan vili usus.
Sebuh vilus berisi lakteal, pembuluh darah epitelium dan jaringan otot
yang di ikat bersama oleh jaringan limfoid seluruhnya diliputi membran
dasar dan ditutupi oleh epitelium.Karena vili keluar dari dinding usus
maka bersentuhan dengan makanan cair dan lemak yang diabsorbsi ke
dalam lakteal kemudian berjalan melalui pembuluh limfe masuk ke dalam
pembuluh kapiler darah di vili dan oleh vena porta dibawa ke hati untuk
mengalami beberapa perubahan.

19

Sumber

Hasil akhir cernaan

Organ absorpsi

makanan
Protein

Asam amino

Dari epithelium masuk ke pembuluh

Lemak

Gliserin dan asam lemak. darah dan aliran darah.

Karbohidrat

Monosakharida:

Dari epithelium vili masuk ke lacteal

Glukosa

dan aliran limfe.

Leavulosa

Dari epithelium vili dan dinding


pembuluh darah masuk aliran darah.

Galaktosa

Fungsi usus halus, terdiri dari :


a. Menerima zat-zat rnakanan yang sudab dicerna untuk diserap melalui
kapiler-kapiler darah dan saluran-saluran limfe.
b. Menyerap protein dalam bentuk asam amino.
c. Karbohidrat diserap dalam bentuk emulsi, lemak.

Gambar 6. Usus Halus


6.

USUS BESAR ( INTESTINUM MAYOR )

20

Panjangnya . l m,lebarnya 5 - 6cm. Lapisan-lapisan usus besar dari


dalam

ke

luar,Selaput

lender,Lapisan

otot

melingkar,Laplsan

otot

memanjang,Jaringan ikat.
Fungsi usus besar, terdiri dari:
-

Menyerap air dan makanan.

Tempat tinggal baktert koli.

Tempat feses.
Bagian dari usus besar yaitu kolon asenden, kolon tranversum, kolon
descenden, rectum dan sigmoid.
Makanan yang tidak dicerna diusus halus, misalnya selulosa bersama dengan
lendir akan menuju keusus, besar menjadi fases. Dalam usus besar juga
terdapat bakteri escherichia coli. Bakteri ini membantu dalam proses
pembusukan sisa makanan. Bakteri e.coli juga menghasilkan vitamin K.
Vitamin K berperan penting dalam proses pembekuan darah.
Usus besar terdiri dari bagian yang naik, yaitu mulai dari usus buntu
(apendiks), bagian mendatar, bagian menurun, dan berakhir pada anus.
Didalam usus besar fases di dorong secara teratur dan lambat oleh gerakan
pristalsis menuju ke rektum (poros usus). Gerakan pristalsis dikendalikan
oleh otot polos (otot tak sadar). Pada saat buang air besar otot sfingeres
dianus di pengaruhi oleh otot lurik (otot sadar) jadi, proses defekasi (buang
air besar) dilakukan dengan adanya konstrasi otot dinding perut yang di ikuti
dengan mengendurnya otot sfingeter anus dan konstraksi kolon serta rektum,
akibatnya feces dapat terdorong keluar anus.
21

Gambar 7. Usus Besar

2.2.3

Mekanisme Kerja Sistem Pencernaan Terhadap Makanan

Sistem pencernaan pada manusia terdiri dari:


1. Saluran pencernaan (organ pencernaan yang dilewati oleh bahan
makanan), yaitu mulut, kerongkongan, lambung, usus halus, dan usus
besar.
2. Kelenjar pencernaan (organ pencernaan yang berfungsi menghasilkan
getah/enzim pencernaan), yaitu mulut, lambung, usus halus, hati, dan
pankreas.
Berdasarkan prosesnya, pencernaan dibagi menjadi:
1. Pencernaan mekanis, yaitu pencernaan yang menyebabkan perubahan
bentuk dan ukuran makanan, contohnya pencernaan oleh gigi.

22

2. Pencernaan kimiawai, perubahan zat makanan dari senyawa kompleks


menjadi senyawa yang lebih sederhana dengan bantuan enzim (senyawa
kimia).
Proses pencernaan dimulai dari :
Pertama makanan masuk kedalam mulut makanan tersebut akan dikunyah oleh
gigi dan dibantu dengan siliva(air ludah), air ludah ini mengandung enzim
ptialin(amilase ludah). Enzim ini berfungsi mengubah zat tepung masak menjadi
gula yang dapat larut (maltosa). Setelah itu makanan akan masuk ke faring, disini
makanan akan disaring dengan menggunakan kelenjar limfosit,limfosit berguna
untuk mempertahankan tubuh terhadap infeksi,menyaring dan mematikan
bakteri.selanjutnya di esofagus akan terjadi gerak kristaltik(gerak mendorong
makanan menuju lambung). Dilambung makanan akan dikunyah lagi sampai
halus dan dibantu oleh getah lambung yang mengandung enzim rennin,pepsin dan
lipase

gastrik.

Rennin

berfungsi

untuk

mengubah

kasinogen

menjadi

kasein,pepsin berfungsi mengubah protein menjadi pepton, dan lipase gastric


berfungsi memulai hidrolisis atas lemak membantu kerja enzim prankreas. Di
duodenum akan terjadi penyerapan oleh enzim tripsin yang mengubah protein
dan pepton menjadi polipeptida dan asam amino, enzim amilase mengubah semua
gula

dan

zat

tepung

menjadi

maltosa.

Dan

enzim

lipase

berfungsi

menyederhanakan lemak menjadi gliserin dan asam-lemak.kemudian makanan


akan masuk ke usus halus, disini akan terjadi penyerapan sari-sari makanan akan
diserap proses penyerapan ini dibantu oleh beberapa enzim yaitu entrokinase
berfungsi membebaskan tripsin dalam cairan prankreas, enzim erepsin berfungsi
menyederhanakan semua zat protein menjadi asam amino dan enzim

23

sukrosa,maltosa dan laktosa berfungsi mennyederhanakan semua zat hidrat karbon


menjadi monosakarida,glukosa,galaktosa, dan laevulose. Dan kemudian sisa hasil
pencernaan akan disimpan sementara din rectum sebelum di buang lewat anus.

2.2.4

Kelainan atau Kerusakan Pada Saluran Pencernaan

Gangguan pada sistem pencernaan makanan dapat disebabkan oleh pola makan
yang salah, infeksi bakteri, dan kelainan alat pencernaan. Diantaranya sebagai
berikut :
A. Parotitis
Penyakit gondong yaitu penyakit yang disebabkan oleh virus yang menyerang
kelenjar air ludah di bagian bawah telinga, akibatnya kelenjar ludah menjadi
bengkak atau membesar.
B. Xerostomia
Xerostomia adalah istilah bagi penyakit pada rongga mulut yang ditandai
dengan rendahnya produksi air ludah. Kondisi mulut yang kering membuat
makanan kurang tercerna dengan baik.
C. Tukak Lambung
Tukak lambung terjadi karena adanya luka pada dinding lambung bagian
dalam. Maka secara teratur sangat dianjurkan untuk mengurangi resiko
timbulnya tukak lambung.
Tukak lambung dan usus sering menghinggapi orang orang berusia 20-50 thn,
dan 4 kali lebih banyak pada pria daripada wanita. Rata rata 90% dari semua
24

tukak lambung diakibatkan oleh infeksi kuman H.PYLORI , dibandingkan


dengan 100% dari tukak usus.
Gejala gejala pada tukak lambung berupa perasaan terbakar dan perih di
lambung 15-60 menit setelah makan, adakalanya memancar ke punggung.
Pada tukak usus rasa nyeri terbakar timbul lebih lambat , yakni 1-4 jam
setelah makan, jadi lazimnya pada perut agak kosong ataupun pada waktu
makan malam. Sebagai komplikasi akan terjadinya pendarahan lambung dan
perforasi. Penderita akan kehilangan darah yang tampak sebagai tinja hitam,
merasa letih dan timbulnya anemia.
Tindakan umum harus ditaati oleh penderita yang terpenting adalah makan 3x
sehari, agar obat dapat diminum secara tertentu pula. Harus menghindari
makanan yang menstimulasi produksi asam dan hentikan merokok.
Disamping itu pola hidup harus tenang dan menjauhkan dari kesibukan
kegelisahan dan factor factor stres serta memperhatikan istirahat yang cukup.
D. Appendiksitis
Appendiksitis atau infeksi usus buntu, dapat merembet ke usus besar dan
menyebabkan radang selaput rongga perut.
E. Diare
Diare adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri maupun protozoa
pada usus besar. Karena infeksi tersebut, proses penyerapan air di usus besar
terganggu, akibatnya feses menjadi encer.

25

Diare didefinisikan sebagai kelebihan bobot cairan,untuk orang dewasa yang


sehat, batas atas berat air normal dalam feses adalah 200 gr/hari. Karena berat
feses sebagian besar ditentukan oleh air fese, kebanyakan kasus diare
disebabkan oleh gangguan transport ait dan elektrolit di usus
Diare disebabkan oleh adanya peningkatan muatan osmotic di dalam usus
(menyebabkan retensi air didalam lumen),sekresi elektrolit dan air yang
berlebihan kedalam lumen usus, eksudasi protein dan cairan dari mukosa, dan
perubahan motilitas usus mempercepat transit ( dan pengurangan absorpsi
cairan).

Pada

umumnya,

terjadi

berbagai

proses

yang

saling

mempengaruhi,yang menyebabkan peningkatan volume dan berat feses yang


disertai dengan peningkatan kandungan air fraksional.
F. Konstipasi
Konstipasi atau sembelit terjadi akibat penyerapan air yang berlebihan pada
sisa makanan di dalam usus besar. Akibatnya, feses menjadi sangat padat dan
keras sehingga sulit dikeluarkan. Untuk mencegah sembelit dianjurkan untuk
buang air besar teratur tiap hari dan banyak makan sayuran atau buah-buahan.
konstipasi hanya untuk penurunan frekuensi tapi juga untuk kesulitan
memulai perlewatan, keluarnya feses yang keras dan kecil atau perasaan
buang air besar yang tidak tuntas. Konstipasi memiliki banyak penyebab yang
bersifat sekunder atau reversible, termasuk kekurangan asupan serat
makanan, obat-obatan, gangguan hormonal , kelainan neurogenic, dan
penyakit sistemik. Akan tetapi tidak ditemukan penyebab spesifik pada
kebanyakan kasus konstipasi kronis Hingga 60% pasien yang mengalami

26

konstipasi memiliki waktu transit yang normal di kolon. Pasien ini


mengalami sindrom usus iritabel atau konstipasi tertentu dalam konteks selain
frekuensi feses. Pada pasien lainnya, usaha biasanya dibuat untuk
mengatagorikan penyebab patofisiologi baik sebagai gangguan berupa
penundaan transit di kolon akibat kerusakan dasar pada motilitas kolon
maupun , yang lebih jarang sebagai gangguan defekasi terisolasi pada
defekasi atau evakuasi (gangguan pengeluaran) akibat disfungsi aparat neuron
muskular pada daerah rekto anal. Motilitas kolon bertanggungjawab ntuk
mencampur isi lumen untuk memulai absorpsi air dan memindahan isi lumen
tersebut dari segmen proksimal ke segmen distal dengan cara kontraksi
propulsif. Pada setiap pasien , faktor utama yang menyebabkan konstipasi
(motilitas kolon propulsive versus nonpropulsif) sering kali tidak terlalu jelas.
Akibatnya, pendekatan farmakologi untuk konstipasi tetap bersifat empiris
dan non spesifik.
G. Sindrom Iritasi Usus
Sindrom iritasi usus (irritable bowel syndrome, IBS) merupakan kondisi yang
dialami 15% populasi di Amerika. Pasien mungkin mengeluhan berbagai
macam gejala, ciri yang paling khas adalah kambuhnya nyeri abdomen akibat
perubahan gerakan usus. IBS tampaknya disebabkan oleh berbagai kombinasi
gangguan pada fungsi motorik dengan sensori viseral, yang sering dikaitkan
dengan gangguan afektif yang signifikan. Gangguan terhadap fungsi usus
dapat berupa konstipasi atau diare atau keduanya pada waktu yang berbeda.
Banyak bukti menunjukkan peningkatan sensitivitas viseral spesifik (jika

27

dibandingkan dengan somatik) terhadap zat berbahaya, dan juga stimulasi


fisiologis pada sindrom ini.
H. Mual dan muntah
Mual dan Muntah merupakan refleks protektif yang berfungsi intuk
mengeluarkan bahan toksik dari lambung dan usus serta mencegah poses
pencernaannya lebih lanjut. Muntah merupakan proses yang kompleks, yang
terdiri dari fase praejeksi (relaksasi dan retro pristaltik lambung),retching
(kerja ritmik otot respirasi sebelum terjadinya muntah dan terdiri atas
kontraksi otot-otot abdomen, interkostal, dan diafragmauntuk melawan glotis
yang tertutup), dan relaksasi sfinkgter esofagus bagian atas). Semua proses ini
disertai oleh berbagai perubahan vasomotor. Proses-proses ini tampaknya
dikoordinasi oleh pusat muntah sentral diformasi reticulum lateral diformasi
retucularis lateral pada batang otak tengah yang berdekatan dengan zona
pencetus kemoreseptor (Cemoreseftor Trigerzone, CTZ) diarea postrema
(AP) didasar pentrikel ke empat dan nukleous traktus tunggal (Solitary
Tractnucleous, STN) pada sarafagus. Tidak adanya sawar darah otak
memungkinkan CTZ untuk memantau darah dan cairan serebrospinal secara
konstan terhadap adanya bahan toksik dan untuk menyampaikan informasi ke
pusat muntah guna merangsang mual dan atau muntah. Pusat muntah juga
menerima informasi dari usus terutama oleh sarafagus (melalui STN), dan
juga oleh aferenspelanknik melalui spinalis kordata dua input lain yang
penting untuk pusat muntah berasal dari kortek serebral (khususnya dalam
mengatasi mual dan muntah) dan afaratus vestibula (pada mabuk perjalanan).
Selanjutnya, pusat tersebut mengirim eferent keluar ke nukleous yang

28

bertanggung jawab untuk pernafasan, salivasi dan aktivitas fasomotor, dan


juga mengirim ke otot lurik dan otot polos yang ikut berperan dalam
mekanisme ini. CTZ memiliki banyak reseptor untuk serotonin (5-HT 3),
Dopamin (D2) dan Opioid, sedangkan NTS kaya akan reseptor Nkefalin,
histamin, dan ACH dan juga mengandung reseptor 5-HT3. Berbagai
neurotransmiter ini terlibat dalam mual dan muntah dan pemahaman
mengenai sifat neurontransmiter telah menghasilkan pendekatan yang
rasional untuk pengobatan farmakologis.
I. Radang Kerongkongan (refluk oesophagitis)
Kerongkongan tahan terhadap ludah, tetapi peka terhadap getah lambung.
Bila otot penutup cardia tidak menutup dengan sempurnadan peristaltic tidak
bekerja dengan baik, dapat terjadi aliran balik dari isi lambung ke esophagus.
Bila reflux ini berlangsung sering ata untuk jangka waktu yang cukup lama,
mukosanya dapat dirusak oleh asam lambung-pepsin. Luka yang timbul
berubah menjadi peradangan dan akhirnya akan dapat berkembang menjadi
tukak.
Gejala gejala berupa perasaan terbakar dan perih dibelakang tulang dada,
yang disebabkan karna luka luka mukosa bersentuhandengan makanan atau
minuman yang merangsang. Timbul pula perasaan asam atu pahit di mulut
akibat mengalirnya kembali isi lambung.
Terapi tindakan umum yang perlu diamati adalah meninggikan bagian kepala
dari tempat tidur dengan 10-15cm. pengobatan terdiri dari zat zat yang
menetralkan asam lambung(antasida), obat obat penghambat produksi asam,
atau obat obat yang menstimulasi peristaltic lambung.
J. Radang Lambung (gastritis)

29

Bila mukosa lambung sering kali atau dalam waktu cukup lama bersentuhan
dengan aliran balik getah duodenum yang bersifat alkalis. Hal ini disebabkan
karna pylorus bekerja kurang sempurna. Radang lambung dapta pula
disebabkan oleh beberapa obat, seperti rema NSAIDs. Contoh lainya adalh
alcohol dalam kadar tinggi bisa merusak barir mucus lambung.
Gejala gejala umumnya tidak ada, kadang kadang dapat berupa gangguan
pada pencernaan, nyeri lambung, dan muntah. Penangannya hanya dengan
menghindari penyebab penyebab di atas, hindari makan terlalu banyak
sekaligus.
Pengobatanya spesifik tidak diperlukan hanya diberikan H2-BLOKERS
untuk mengurangi sekresi asam.
K. KANKER LAMBUNG
Kanker lambung adalah sejenis kanker saluran cerna dengan insidensi
paling tinggi. Kuman H.pylori melalui gasgritis kronis dan atrofia sel diduga
berangsur angsur menyebabkan berkembangnya tumor ganas.
Factor resiko. Factor yang diduga meningkatkan resiko kanker lambung
adalah merokok, alcohol,dan makanan yang mengandung banyak garam dan
nitrat.

2.2.5

Penanganan Pada Saluran Pencernaan

A. OBAT TUKAK LAMBUNG


Berdasarkan mekanisme kerjanya oabt obat tukak lambung usus dapat
digolongkan dalam 7 kelompok, antasida, penghambat asam, zat pelindung
mukosa, antibiotika, obat penguat motilitas, obat penenang dan zat zat pembantu.
ZAT ZAT TERSENDIRI

30

a. Kalsiumkarbonat adalah karbonat pertama yang digunakan sebagai


antasidum yang memiliki daya kerja lebih baik. Zat ini
menetralkan aam lambung sambil melepaskan banyak gas
karbondioksida yang diduga bisa merangsang dinding dengan
mencetuskan perforasi dari tukak.
b. Magnesuimoksida
Dalam dosis yang sama 1 gr MgO lebih efektif untuk mengikat
asam daripada natriumkarbonat , tetapi memiliki sifat pencahar
sebagai efek samping. Untuk mengatasi hal ini maka zat ini
diberikan dalam kombinasi dengan alumuniumhidrok-sida atau
kalsiumkarbonat.
c. Alumuniumhidroksida
Zat ini sebagian terdiri dari alimuniumhidroksida terikat pada
molekul molekul air. Zat ini berkhasiat adstringens menciutkan
selaput lendir berdasarkan sifat ion-alumunium untuk membentuk
kompleks dengan antara lain protein.
d. Bismutnitrat
Bekhasiat adstringens juga dapat mengikat asam asam lemah. Pada
dosis tinggi zat dapat diserap dan mengakibatkan intoksikasi
bismuth dan nitrat.
e. Domperidon
Bekhasiat anti emetis berdasarkan peringatan reseptor dopamine di
CTZ (chemo tringer zone) beserta stimulasi peristaltic dan
pengosongan lambung. Pengosongna lambung dimulai 35 menit
setelah makan.
f. Lansoprazol
Adalah derivate piridil dengan sifat sifat yang dalam garis besar
sama dengan omeprazol. Dosis pada esofagitis dan ulcus 1 dd 30

31

mg 1 jam sebelum makan pagi selama 4-8 minggu, pada ulcus


duodeni selama 2-4 minggu.
g. Fentonium
Bekhasiat selektif terhadap reseptor reseptor di lambung dan pada
dosis yang diajurkan jarang menimbulkan efek samping yang biasa
terjadi pada antikoligerniklainya. Obat ini digunakan untuk kejang
lambung usus dan saluran urogenital juga pada ulcus pepticum.
h. Asam alginate
Bekhasiat untuk membentuk suatu larutan sangat kental dari Naatau Mg alginate. Gel ini mengambang sebagai lapisan tebal pada
permukaan isi lambung dan dengan demikian melindungi mukosa
esophagus terhadap asam lambung.
B. OBAT PENCERNAAN
Obat pencernaa digunakan untuk membantu prose pencernaa diseluruh
lambung usus. Obat yang sering kali dugunakan adalah asam hidroklorida, enzim
lambung pepsin dan enzim pancreas. Zat zat ini terutama dipakai pada keadaan
defisiensi dari zat zat pembantu pencernaa bersangkutan. Meskipun tidak ada
kaitanya dengan prose pencernaa, disini akan dibicarakan penguunaan derivate
kolat pada terapi batu empedu.

BATU EMPEDU
Batu empedu lazimnya terbentuk di kantong empedu, dan terdiri dari
kolesterol, garam kalsium, bilirubin, dan protein. Kebanyak batu mengndung 80%
kolesterol. Batu kecil dapat menyumbat saluran empedu yang dindingya
berkontraksi untuk mengeluarkannya.
Penanganan standar berupa pembedahan yang aman dan efektif dengan

32

jalan laparoscopy(pembedahan via tabung) lebih jarang melalui penghancuran


dengan gelombang gelombang getaran (shock waves).
ZAT ZAT TERSENDIRI
a) HCL
Fungi uatam dari asam ini adalah mengubah pesinogen yang dihasilkan
oleh selapur lendir lambung menjadi pepsin. Suasana asam tersebut juga
penting sekali untuk resorpsi dari garam garam yang esensil untuk tubuh.
Selanjutnya HCL menstimulasi pengosongan isi lambung ke usus 12 jari
dan merangsang sekresi getah lambung pancreas dan hati.
b) Pepsin
Enzim yang dikeluarkan oleh mukosa lambung ini bersifat proteolitis
yakni menguraikan zat putih telur menjadi peptide. Di samping pepsin,
beberapa enzim dari usus juga bersifat proteolitis sehingga tidak adanya
pepsin didalam lambung tidaklah menghawatirkan. Kerjanya optimal pada
pH 1,8
c) Temulawak
Rimpang ini sangat terkenal untuk gangguan pencernaan yang berkaitan
dengan kekurangan empedu. Berkhasiat menstimulaisi sekresi empedu
oleh hati dan ekresinya ke duodenum.
C. OBAT DIARE
Diare adalah keadaan buang buang air dengna banyak cairan dan
merupakan gejala dari penyakit penyakit tertentu atau gangguan lainya. Kasus ini
banyka terjadi di Negara Negara berkembang dengna standar hidupnya rendah,
dimana dehidrasi akibat diare merupakan salah 1 penyebab kematian penting pada
anak anak.
Fisiologi. Dalam lambung makanan di cerna menjadi bubur , kemudian di

33

teruskan ke usus halus untuk di uraikan lebih lanjut oleh enzim enzim. Setelah
terjadi resopsi , sisa chymus tersebut yang terdiri dari 90% air dan sisa sisa
makanan yang sukar dicernakan , diteruskan ke usus besar colon. Bakteri bakteri
yang biasanya selalu berada disini mencernakan lagi sisa sisa (serat serat)
tersebut, sehingga sebagian besar daripadanya dapat diserap pula selama
perjalanan melalui usus besar. Airnya juga diresopsi kembaEBABli sehingga
lambat laun isi usus menjadi lebih padat.
PENYEBAB DIARE
Berdasarkan penyebabnya dapat dibedakan 4 jenis gastroenteritis dan diare
sebagai berikut :

Diare akibat virus, misalnya influenza yang disebabsehingga kan antara


lain oleh rotavirus dan adenovirus. Virus melekat pada sel sel mukosa
usus, yang menjadi rusak sehingga kapasitas resopsi menurun dan sekresi

air dan elektrolit memegang peranan.


Diare bacterial (invasive) agak sering terjadi tetapi mulai berkurang
berhubungan semakin meningkatnya derajat hygiene masyarakat.bakteri
bakteri tertentu pada keadaan tertentu, misalnya bahan makanan yang
terinfeksi oleh banyak kuman, menjadi invasive dan menyerbu ke mukosa.
Disini bakter bakteri tersebut memperbannyak diri dan membentuk toksin
toksin yang dapat diresopsi ke dalam darah dan menimbulkan gejala hebat,

seperti demam tinggi, nyeri kepala dan kejang kejang.


Diare parasite
Seperti protozoa , giardia lambia, yang terutama terjadi di daerah
(sub)tropis. Diare akibat parasit parasit ini biasnya bercirikan mencret
cairan yang intermiten.

34

PENCEGAHAN
Pencegahan diare pada dasarnya harus ditujukan pada tindakan hygine
yang cermat mengenai kebersihan khsusnya cuci tangan sebelum dan sesudah
makan. Daging/ikan yang akan dimakan sebaiknya di masak hingga matang dan
hidangan perlu disimpan tertutupseta pada suhu rendah. Profilaksis dengan
antibiotic pada prinsipnya tidak dianjurkan behubungna beresiko terjadinya
resintensi. Obat yang layak digunakan adalah doksisiklin 100mg yang harus
diminum setiap hari selama berada di luar kota.
PENGOBATAN

Garamampuran rehidrasi oral. Suatu larutan dari campuran NaCL 3,5g,


KCI 1,5g. pengobatan ini di sebut dengan ORS (oral rehydration solution.
ORS ini mencakup ORS beras, dan pentakaran ORS beras.

PENGGOLONGAN
Kelompok obat yang sering digunakan pada diare adalah :

Kemoterapeutika. Memberantas nakteri penyebab diare, seperti antibiotic,

sulfonamide, dan kinolon.


Obstipansia. Untuk terapi simtomatis, yang dapat menghentikan diare.
Spamolitika. Zat zat yang dapat melepaskan kejang kejang obat yang
sering kali mengakibatkan nyeri perut pada diare antara lain papaverin dan

oksifenonium.
1. OBAT KOLERA
Kollera disebkan oleh hasil gram negative yang berbentuk koma dan
bergerak dengan benang-cambuk. Gejala adanya jontot jontot lendir yang
mengambangdalam faces cair, yang disertai muntah muntah hebat.
Pengobatan. Rehidrasi dengan pemberian larutan ORS/ ORS-beras
sampai berhenti diare. Antibiotik yang dapat digunakan adalah tetrasiklin
35

4 dd 250 mg atau doksisiklin 2 dd 100 mg selama 3 hari. Sebagai


profilaksis dapat pula digunakan tetrasiklin 2 dd 250 mg selama 3 hari,
sedangkan vaksin kolera tidak dianjurkan karena kurang efektif.
2. OBAT DISENTRI BASILER
Disentri basiler adalah penyakit infeksi usus yang diakibatkan oleh
beberapa jenis basil gram negative. Penyebaran diperlancar karna banyak
infeksi sering berlangsung ringan, sedangkan sesudahnya pasien menjadi
pembawa-basil untuk jangka waktu lama yang tetap mengekresi kuman.
Terapi. Kebanyakan disentri bersifat self-limiting dan sembuh sendiri
sesudah 2-7 hari. Obat yang digunakan adalah tetrasiklin 4 dd 250 mg,
kotrimoksazol 2 dd 960 mg atau siprofloksazin 2 dd 500 mg, semuanya
selama 3-5 hari. Juga sebagai single dose 1x500 mg setelah 3 hari diare
cair sudah berhenti.
3. OBAT TIFUS
Tifus perut (typus abdominalis, typhoid fever) disebabkan oleh antara
lain Salmonella typhi yang sering kali ditularkan pada manusia oleh basil
ternak (telur itik). Tifus, sebetulnya termasuk pada golongan penyakit
demam berhubung adanya beberapa gejala, seperti demam tinggi (dengan
Brady-cardia) dan kepala sangat nyeri.Tetapi penyakit ini juga dibicarakan
disini karena infeksi pertama terjadi di usus.Kuman-kuman memperbanyak
diri disini, lalu menyebar melalui limfe dan darah ke sirkulasi besar dan
hati.Melalui saluran empedu, basil-basil tiba lagi dalam usus dengan
demikian infeksi dipertahankan. Diagnose dilakukan melalui persemaian
darah.
Gejalanya bias sangat bervariasi. Semula terjadi demam dengan kenaikan

36

suhu secara bertahap dalam tiga hari pertama, nyeri kepala konstan yang
berskala hebat, perut kembung dan nyeri, anorexia, nausea dan obstipasi.
Kemudian sering diikuti dengan diare sangat cair, juga bronchitis dan
perdarahan di hidung , apati dan gejala psikis. Komplikasi berbahaya dapat
terjadi misalnya perdarahan usus dan perforasi usus dengan peritonitis.
Terapi. sebagai pilihan utama digunakan kotrimoksazol 2 dd 3 tablet
a91440 mg) pilihan kedua adalah amoksisilin 6 gg I gram selama 2
minggu, juga kloramfenikol 4 dd 750 mgsampai demam hilang, lalu 4 dd
500 mg, total juga 2 minggu. Pada kasus yang parah dengan shock dan
kegelisahandianjurkan

penambahan

prednisolone

untuk

membantu

turunnya demam lebih cepat serta memberikan perasaan segar dan


perbaikan pada pasien. Pemberian ini maksimal selama 3 hari agar jangan
memperbesar resiko pendarahan usus.Pada obstipasi tidak boleh diberikan
laksansia terhubung dengan bahaya perforasi dan perdarahan.

Pembawa-basil. Meskipun semua gejala infeksi sudah lenyap, namun


pasien baru dinyatakan sembuh sama sekali bila selama tiga minggu
tinjanya bebas basil. Bila sudah 6 bulan tinjanya masih saja positif,
pasien dianggap sebagai pembawa basil kronis. Orang-orang demikian
tidak boleh bekerja di dapur maupun di industry makanan. Menurut
laporan pengamatan obat dengan jangka waktu yang cukup lama
dengan kotrimoksazol atau sifrofloksasin adalah efektif untuk

membuat orang-orang ini bebas-basil.


Paratifus (salmonellosis). Paratifus adalah nama kuno untuk suatu
bentuk gastro-enteritis akibat infeksi akibat salah satu dari ratusan

37

jenis salmonella lain, antara lain S. parathypi B. bersifat kurang ganas


dari tifus (yang pada hakekatnya adalah peracunan darah masal
dengan salmonella), tetapi jauh lebih sering terjadi, ca 80% dari semua
infeksi salmonella. Penularan terjadi melalui makanan yang terinfeksi
seperti daging, makanan hewani lainnya atau oleh orang pembawa
basil. Masa inkubasinya 8-48 jam. Perbanyakan juga terjadi pada usus
dengan siklus enterohepatis.
Gejala akibat radang mukosa usus yang dimulai akut dengan nausea,
muntah, nyeri perut mirip kolik, diare, dan jarang demam.Biasanya
penyakit ini sembuh dengan spontan (self-limiting) sesudah 2-5 hari,
jarang diare dan demam ringan yang bertahan selama 2 minggu.
Terapi cukup dengan pantangan makan dan hanya minum the (atau
ORS pada bayi dan lansia) pada diare hebat dapat di berikan
loperamida.

Pada

kasus

parah

perlu

diberikan

antibiotika:

kotrimoksazol, amoksisilin, dan kloramfenikol.


D. ANTI EMETIKA
Obat antimual adalah zat-zat yang berkhasiat menekan rasa mual dan
muntah. Berdasarkan mekanisme kerjanya dibedakan enam kelompok
sebagai berikut :
a. Antikolinergik: Skopolamin dan antihistaminika (siklizin, meklizin,
sinarizin, prometazin, dan dimenhidrinat).
Obat-obat ini efektif terhadap segala jenis muntah dan banyak
digunakan pada mabuk darat dan mual kehamilan (antihistaminika).
Efekny berdasarkan sifat antikolinergisnya dan mungkin juga karena
blokade reseptor-H1 di CTZ.
b. Antagonis Dopamin. Zat zat ini hanya efektif pada mual yang
diakibatkan oleh efek samping obat. Mekanisme kerjanya melalui

38

perintangan neurotransmisi dari CTZ ke pusat muntah dengan jalan


blokade reseptor dopamin.
Propulsiva (prokinetika) : metoklopramida dan domperidon.
Derivat fenotazin: proklorperazin (Torecan)
Derivat butiranfenon: haloperidol dan domperidol
c. Antagonis serotonin : mekanisme kerja kelompok zat agak baru ini
belum begitu jelas, tetapi mungkin karena blokade serotonin yang
memicu refleks muntah dari usus halus dan rangsangan terhadap CTZ.
d. Kortikosteroida. Antara lain deksametason ternyata efektif untuk
muntah yang diakibatkan oleh sitostatika. Mekanisme kerjanya tidak
diketahui. Penggunaannya sering kali bersamaan suatu antagonis
serotonin.
e. Benzodiazepin, mempengaruhi sistem kortikal/limbis dari otak dan
tidak mengurangi frekuensi dan hebatnya emesis, melainkan
memperbaiki sikap pasien terhadap peristiwa muntah terutama
klorazepam. Ternyata efektif terhadap pencegah muntah.
f. Kanabinoida (marihuana THC = tetrahidrocanabinol = donobinol).
Efektif pada dosis tinggi untuk sitostatika (MTX, kombinasi
siklopostamida, aderianisin, dan fluoroluracil).
ZAT ZAT TERSENDIRI
a. Skopolamin : hyoscine, Scopoderm TTS (transdermal).
Alkaloida belladona ini digunakan sebagai spasmolitik pada kejangkejang saluran cerna dan urogenital.
Efek samping: tersering adalah gejala antikolinergis umum : mulut
kering, lebih jarang rasa kantuk, gangguang penglihatan, obstipasi, dan
iritasi kulit.
Dosis : 6-15 jam sebelum berangkat plester diletakan dibelakang
telinga (pada kulit tanpa rambut).
b. Antihistaminika

39

Siklizin dan dimenhidrinat direpsopsi baik, kerjanya cepat,dan dapat


bertahann 4-5 jam. Mekrizin baru mulai bekerja setelah 1-2 jam, tetapi
efeknya lebih lama, antara 12 dan 24 jam.
Efek sampingnya berupa perasaan mengantuk dan efek antikolinergis
yang agk sering dilaporkan pada dimenhidrinat, jarang pada siklizin
dan meklizin. Anak-anak dibawah usia 3 tahun sangat pejka terhadap
efek samping dimenhidrinat.
Dosis masing-masing obat adalah sebagai berikut:
Siklizin (Marzin) : propilaksis 1-2 jam sebelum berangkat

50mg, bila perlu diulang 5jam kemudian.


Meklizin (suprimal) : profilaksis 1-2 jam sebelum berangkat

25-50 mg, bila perlu diulang setelah 12 jam.


Dimenhidrinat (Dramamine, Antimo): profilaksis 1 jam
sebelum berangkat 50-100 mg, bila perlu diulang 8 jam

kemudian.
Prometazin (phenergan) : dewasa dan anak-anak >8 tahun :
25mg 0,5-1 jam sebelum perjalanan, bila perlu diulang setelah

6-8jam.
c. Neuroleptika (antipsikotika)
Disamping kerja antipsikotisnya, sejumlah neuritika
antiemetis,

khususnya

deripat

fenotiazid

seperti

juga berdaya
perfenazin,

proklorperazin dan tioetilperazin, begitu pula deripat butinorifenon


(haloperidol).
Efek samping yang terpenting adalah gejala ekstrak piramidal,efek
antikolinergis, dan sedasi yang paloing ringan pada tietilperazin.
Dosis masing-masing adal sebagai berikut:
Haloperidol (halodol) : 2-3 dd 0,5-1mg.
Perfenazid (trilafon) : 3 dd 4-8mg, i.m 5mg.
Proklorperazin (stemetil) : 2-4dd 5-10mg, rektal 1-2dd 25mg.
d. Metoklopiralmida : primperan, opram.

40

Efektif pada semua jenis muntah, termasuk akibat radio atau kemoterfi
dan migren ; pada mabuk darat obat ini tidak ampuh.
Resopsinya dari usus cepat, mulai kerjanya dalam 20 menit, PP-nya
20% dan plasma t lebih kurang 4jam. Eksresinya berlangsung 80%
dalam keadaan utuih melalui kemih .
Efek sampingnya yang terpenting adalah sedasi dan gelisah
berhuibung metokloperamida dapat melintasi rintangan darah sampai
darah otak. Efek samping lainnya berupa gangguan lambung usus serta
gangguan ekstra piramidal, terutama pada anak-anak kecil.
Interaksi. Obat-obat seperti digoksin, yang terutama

diserap

dilambung, dikurangi resopsinya bila diberikan bersamaan dengan


metoklopiramida. Resopsi dari obat yang diserap diusus halus justru
dapat di percepat antara lain alkoho,asetosal,diazepam dan levodopa.
Dosis : 3-4 dd 5-10mg, anak-anak maksimal 0,5mg/kg/sehari. Rektal
2-3 dd 20 mg
e. Domperidon: motilium.
Senyawa benzimidazolinon ini adalah propulsivum yang berkhasiat
menstimulasi pristaltik dan pengosongan lambung disamping itu juga
berdaya antiemetis.
Dosis 3-4dd 10-25mg a.c; anak-anak 3-4dd 0,3mg/kg;rektal anak-anak
sampai 2 tahun 2-4 dd 10mg.
f. Ondansetron : Zofran
Senyawa karbazol ini adalah antagonis serotonin selektif. Bekerja
antiemetiskuat dengan mengantagoniskan refleks muntah dari usus
halus dan stimulasi CTZ, yang keduanya dakibatkan oleh serotonin.
Resopsinya dari usus agak baik dengan BA rata-rata 75%, PP-nya
73%, dan plasma t nya 3-5jam sebagian besar zat ini dimetabolisasi
didalam hati dan metabolitnya disekresikan lewat ginjal dan kemih

41

Efek sampingnya berupa nyeri kepala,obstipasi,rasa panas dimuka,


dan perut dibagian atas, jarang sekali gangguan ekstrak piramida dan
reaksi hipersensipitas.
E. LAKSANSIA
1. Laksansia kontak : derivat-derivat antrakinon ( ramnus = cascara
sagrada,sennma rhey) derivat-derivat dipenilmetat (disapodil, pikosulfat,
penoptalien) dan minyak kastor.
Zat-zat ini merangsang secara langsung dinding usus dengan akibta
peningkatan peristaltik dan pengeluaran isi usus dengan cepat mekanisme
kerjanya yang tepat tida diketahui walaupun terdapat perubahan morfologi
dari efitel dinding usus dan perubahan transfor dari air dan elektrolit.
2. Laksansia osmotis : magnesium sulfat/sitrat dan natrium sulfat, gliserol,
manitol,ensorbitol, juga laktulosa dan laktitol.
Garam-gram anorganik ini dari ion-ion dipalen, senyawa poli alkhol, dan
disakarida ini berkhsaiat mencahar berdasarkan lambat absorbsinya dari
usus,sehingga menarik air dari luar susu melalui dinding kedalam usus
oleh proses osmosat. Tinja menjadi lunak dan volumenya diperbesar yang
merupakan suatu rangsangan mekanis atas dinding usus. Peristaltik
diperkuat yang mempermudah pengeluaran isi usus. Pada disakarda,
terbentuknya asam-asam yang merangsang dinding usus juga memegang
peranan. Gliserol digunakan dalam bentuk suppositoria karena dapat
3.

menimbulkan refleks depikasi diporousus (rektum).


Zat-zat pembesar volume : zat-zat lendir (agar-agar, metilselulosa, dan
CMC) dan zat-zat nabati psyllium, gom sterculia dan katul.
Semua senyawa polisakarida ini sukar dipecah dalam usus dan tidak
diserap

(dicernakan)

antara

lain

serat-serat

alamiah

selulosa,

hemiselulosa, pektin, lignin, gom-gom dan zat-zat lendir. Zat-zat ini

42

berdaya menahan air sambil mengembang. Disamping itu, pada


perombakan oleh kuman-kuman usus terbentuklah asam-asam organik dan
gas-gas, sedangkan masa bakteri meningkat ; semua ini turut memperbesar
volume chynius. Dengan demikian, khasiat pencaharnya berdasarkan
rangsangan mekanis dan kimiawi terhadap dinding usus ditambah dengan
pelunakan tinja.
4. Zat-zat pelicin dan emollientia : natrium docusinat, natrium laurilsulfo
asetat, dan paraffin cair. Kedua zat pertama memiliki aktifitas permukaan
(detergensia) dan mempermudah depekasi, karena melunakan tinja dengan
jalan meningkatkan penitrasi air kedalam nya. Paraffin melicinkan
penerusan tinja dan bekerja sebagai bahan pelumas.
ZAT-ZAT TERSENDIRI
1. Laksansia kontak
Tumbuhan yang mengandung glikosida antrakinon
Mekanisme kerjanya berdasarkan stimulasi peristaltik usus besar.
Efek samping. Pada penggunaan senna rhey radix, ginjal akan
mengeluarka asam krisopan memberikan warna kuning-coklat kepada
air seni yang bereaksi asam atau merah-ungu bila alkalis.
a. Sennae folium : Eucarbon.
Zat-zat ini memiliki daya laksatifa yang terkuat dari semua zat
antrakinon alami lainnya.
b. Rhey radix : Eucarbon
Akar tunggal dari tumbuhan rhey palmatum (kelembak) berasal
dari RRC merupakan suatu obat pencahar yang dahulu digunakan
sebagai serbuk maupun sebagai ekstrak dalam sirop.
c. Bisakodil : Dulcolax
Derivat dipenilmetan ini adalah laksansia kontak populer yang
bekerja langsung terhadap dinding usus besar (colon) dengan
memperkuat peristaltiknya.

43

Resopsi. Dalam usus halus, bisakodil direpsopsi sampai 50% dan


setelah didesasetrilasi dalam hati sebagian dikeluarkan dengan
empedu dan mengalami siklus enterihepatis.
Efek samping jarang terjadi dan berupa kejang-kejang perut ;
secara rekatal obat ini dapat merangsang selaput lendir. Tidak
boleh digunakan bersaan dengan susu atau zat-zat yang berisi
alkalis (antasida), karena bisa merusak lapisan enteric coating.
Kehamilan. Obat ini dapat digunakan selama kehamilan walaupun
harus berhati-hati karena dapat menimbulkan kejang perut.
Dosis : sebelum tidur 1-2 tablet selaput dari 5mg; suppositoria
10mg (asetat) pada pagi hari.
*Natrium pikosulfat ( lexsoberon adalah deripat sulpat sintesis
dengan khasiat dan sifat yang sama. Zat ini baru aktif setelah
dihidrolisa oleh enzim hidrolase bakterti didalam colon dan
cuecum (usus buntu) menjadi metabolit-metabolitnya. Daya
kerjanya lambat, sesudah 10-12 jam dan sering digunakan sebagai
laksan sebelum pembedahan.
Resorpsinya di usu ringan sekali dan dikeluarkan sebagai
glukuronidnya melalui kemih dan feaces. Secara rektal tidak
efektif.
Dosis: malam hari sebelum tidur 5010 mg, anak-anak dari 4-6
tahun 2,5-5 mg.
d. Fenolftalien : Agarol, Laxadine
Derivat difenilmetan yang kerja laksannya berdasarkan terutama
atas rangsanganya terhadap usus besar. Zat ini sukar larut dalam
air, tidak ada rasanya, dan tidak berbau. Jarang lagi sebagai laksans
umum (bersama agar-agar). Dalam analisa kimia, fenolftalin
digunakan sebagai indikator pada titrasi asam-basa.

44

Resorpsinya. Di dalam usus kecil, zat ini dilarutkan oleh kegiatan


garam-garam dan empedu. Mulai kerjanya 4-8 jam setelah
pemberian sebagian zat diserap dan masuk ke dalam sirkulasi
untuk kemudian diekskresi dalam empedu. Akibat siklus
enterohepatis,kerjanya bisa bertahan sampai 2-3 hari.
Efek sampingnya dapat bersifat serius dan berupa kolik,
kolaps,lupus erythematodes dan reaksi kepekaan pada kulit, juga
pigmentasi, yang dapat bertahan selama beberaopa waktu setelah
pengobatan dihentikan. Zat ini bersifat karsinogen pada tikus dan
di banyak negara telah dibatalkan registrasinya.
Dosis : 50-200 mg (mekanisme 300 mg), diberikan pada malam
hari sebelum tidur.
e. Oleum ricini : Minyak kastor, minyak jarak.
Minyak kastor mengandung trigliserida dari asam risinoleat, suatu
asam lemak tak jenuh. Di dalam usus halus, sebagian zat ini
diuraikan oleh enzim lipase dan menghasilkan asam riniloeat yang
memiliki efek stimulasi terhadap usus halus. Setelah 2-8 jam
timbul defekasi yang cair.
Efek sampingnya berupa kolik, mual dan muntah. Oleum ricini
tidak boleh digunakan oleh wanita hamil.
Dosis : dewasa 15-30 ml; anak-anak 4-15 ml.
2. Laksansia osmotis
a. Magnesiumsulfat : garam Inggris, garam epsom.
Mekanisme kerjanya di dalam usus berdasarkan penarikan air
(osmosis) dari bahan makanan karena tigaperempat dari dosis oral
tidak diserap. Akibatnya adalah pembesaran volume usus dan
meningkatnya peristaltik di usus halus dan usus besar, disamping
melunakkan tinja.

45

Resorpsi, antara 15-30% dari dosis diserap oleh usus, yang dapat
mengakibatkan

kadar

magnesium

darah

terlampau

tinggi,

khususnya bila fungsi ginjal kurang baik. Oleh karena itu, garam
Inggris hendaknya jangan digunakan untuk waktu yang lama.
Mulai kerjanya setelah 1-3 jam. Boleh digunakan selama
kehamilan; masuk kedalam air susu ibu.
Dosis : 15-30 g sekaligus didalam segelas air dan diminum pada
perut kosong. Daya kerjanya cepat dan efektif.
*magnesiumsitrat dahulu digunakan sebagai sediaan Magnesii
citras effervescens Mixtura Magnesii Citrus yang terdiri dari
campuran magnesium karbonat dan asam sitrat
Efek samping : gangguan fungsi ginjal serius.
b. Natrium sulfat : Garam Glauber
Dosis : 15 g dalam 15-500 ml air. Dosis lebih besar dapat
mengakibatkan muntah-muntah.
c. Laktulosa : Duphalac
Deripat sintesis ini dari laktosa adalah suatu disakarida yang terdiri
dari satu molekul fruktosa dan satu molekul galaktosa. Di dalam
usus halus, laktulosa tidak di resopsi, karena tidak terdapat enzim
yang tepat untuk menghidrolisisnya. Baru didalm usus besar, zatr
ini

diuraikan

dengan

cepat

oleh

bakteri-bakteri

tertentu

(lactobacillus) dan menghasilkan asam laktat dan asam asetat.


Asam-asam organik ini menahan air berdasarkan proses osmosis
dengan efek stimulasi pristaltik, sehingga tinja menjadi luna dan
defekasai distimulasi. Efeknya baru tampak setelah 24-48 jam.
Penggunaanya selain sebagai laksatin juga pada comahepaticum

46

yang sewaktu-waktu terjadi pada penderita cirhosis hati, dimana


amoniak dari usus masuk ke dalam peredaran darah dan otak.
Efek sampingnya berupa perut kembung dan banyak gas terutama
selama hari-hari pertama. Pada operdosis terjadi nyeri perut dan
diare.
Dosis : permulaan 30 ml larutan 50% pada pagi hari, dosis
pemeliharaan 15ml.
*Laktitol (importal) adalah juga deripat sintesis dari laktosa
dengan kerja dan penggunaan sama dengan laktulosa. Disamping
itu, zat ini digunakan sebagai zat pemanis, daya manisnya 40% dari
sakarosa
Dosis : 1 dd 20 gram d.c.pagi atau malam hari.
d. Gliserol
Gliserol digunakan sebagai sediaan rektral

untuk

segera

mengosongkan usus besar. Secara rektal, zat ini tidak diserap


sedangkan daya kerjanyah sudah tampak setelah 15-30 menit.
Kadar yang tinggi dalam suppositoria dapat menimbulkan iritasi
lokal.
Dosis : dewasa dan anak-anak usia 6 tahun ke atas 3 gram dalam
suppositoria.
e. Sorbitol : micerolaxsadine, mixrolac, klyx.
Alkohol pula ini dilunakan sebagai laksan secar aoral maupun
klisam. Resobsinya dari usus lambat dan tidak menentu. Dalam
hati, sorbitol perlahan-lahan di ubah menjadi fruktosa dan untuk
sebagian kecil langsung menjadi glukosa.
Efek samping pada dosis besar berupa diare dan flatulensi. Hatihati pada penderita gangguan penyakit ginjal dan diabetes. Kontra

3.

indikasi pasa gangguan fungsi hati dan encok.


Dosis : 30-50 mg; dalam klisma 120ml dari larutan 250-300mg/ml.
Zat-zat yang mengembang

47

a. Agar-agar : Agarol
Agar-agar adalah zat lendir yang dikeringkan dari tumbuhan genos
Geledium (asia timur) dan terutama terdiri dari hemiselulosa yang
tidak dapat dicerna. Zat ini jarang digunakan tunggal, umumnya
dalam sediaan kombinasi. Mulai kerjanya dalam waktu 24 jam
Dosis : 1-2dd 4-16 gram dengan air tetapi kebanyakan dalam
sediaan kombinasi.
b. Metilselulosa : tiose, methocel.
Metilselulosa adalah metil eter dari selulosa yang terdapat dengan
pelbagai derajat viskositas. Zat ini banyak digunakan sebagai zat
penebal dalam indrustri pangan tersediaan farmasi.
Efek sampingnya berupa kembung (platulensi ) dan bila
digunakan tanpa cukuo air bisa menibulkan obstruksi esofagus.
Dosis : 4 dd 1-1,5 gram dalam segelas air.
*Carmellose (carboksimetilselulosa, CMC) adalah derivat carboxi
yang viskositasnya tergantung dari tipe nyah. Efeknyah tampak
dalam waktu 24jam.
Dosis : 4 dd 1-1,5gram dalam segelas air.
c. Pantago : psylium, molax, metamucil polkolon.
Obat ini terutama berguna untuk sembelit, ynag tinjanya kering dan
keras. Selain itu, plantago digunakan pada diare cair kronis untuk
memadatkan tinja.
Efek sampingnya : reaksi alergi (rhynitis)
Dosis : 1-3dd 4-10 gram dalam air.
d. Gom stercuria : gramkaraya, normacol.
Gom ini diperoleh dari antara lain tumbuhan-tumbuhan stercuria
urens yang terdiri dari suatu kompleks polisakarida yang mulai
kerjanya dalam waktu 24jam.
Dosis : 2 dd 5- 10 mg granula p.c
Serat-serat nabati : selulosa lignin dan/pektin.
Khasiat mencaharnya berdasarkan strukturnya yang terdiri dari
rantai selulosa dan berupa bunga krang ubang-lubang lembut

48

(porous, yang berdaya menyerap dan mengikat molekul air dengan


efek mengembang. Berdasarkan sifatnya yang dpaty mengikat air
dan zat-zat lainnya, selain sebagai laksan, serat-serat nabati juga
digunakan terhadap beberapa gangguan, yaitu :
Untuk menurunkan kadar kolesterol yang meningkat
Sebagai pencegah kangker usus besar
Sebagai zat pembantu pada mengurukan tubuh
*Katul adalah selaput luar dari butir-butir beras (gandum) yang
tertinggal pada proses penggilingan. Disamping banyak vitamin dan
mineral, katul juga mengandung banyak serat dengan polisakarida
tersebut.
Efek samping berupa perasaan lambung penuh dan flatulensi.
Efeknya tampak dalam 24 jam. Perlu minum minimal 1,5 liter air
sehari.
Dosis : 20-30 gram sehari dalam 2-3 kali dicampur dengan makanan
4. Zat pelicin dan emollientia.
a. Paraffin cair : paraffin liquidum, agarol
Zat ini tidak dicerna dalam saluran cerna lambung usus dan hanya
bekerja sebagai zat pelicin bagi isi usus dan tinja. Gunanya untuk
melunakan tinja, terutama setelah pemindahan rektal, atau pada
penyakit wasir. Penggunaanya dapat menimbulkan iritasi sekitar
dubur. Zat ini dgunakan sebagi emulsi yang kadang-kadang
mengandung fenolftalin.
Keburukanya adalah sifatnya yang mengurangi penyerapan oleh
tubuh dari zat gizi.
Dosis : 15-30 ml diberikan pada hari sebelum tidur
b. Natrium dokusinat : dioktil-n.a-suposuk-cina, laksadin
Efeknya dimulai 1-3 hari setelahpenggunaanya peroral, secara
rektal sangat cepat, sesudah 5-12 menit.
Efek samping jarang dan ringan antara lain gangguan lambung
usus ruang kulit dan iritasi tenggorokan.
49

Dosis : oral malam hari 50-360mg terektar 100mg dalm


suppositoria.
Natrium laurilsulpo asetat (microlax, mixrolaxadin) adalah
derivat dengan sifat yang sama dan penggunaan sebagai
klisma (9mg) bersama sorbitol 620mg/5ml
2.2.6 Contoh kasus
Semula terjadi demam pada pasien dengan kenaikan suhu secara bertahap dalam
tiga hari pertama, nyeri kepala konstan yang berskala hebat, perut kembung dan
nyeri, anorexia, nausea dan obstipasi. Kemudian sering diikuti dengan diare
sangat cair, juga bronchitis dan perdarahan di hidung , apati dan gejala psikis.
2.2.7 Penanganan
Sebagai pilihan utama digunakan kotrimoksazol 2 dd 3 tablet (1440 mg) pilihan
kedua adalah amoksisilin 6 gg I gram selama 2 minggu, juga kloramfenikol 4 dd
750 mgsampai demam hilang, lalu 4 dd 500 mg, total juga 2 minggu. Pada kasus
yang parah dengan shock dan kegelisahandianjurkan penambahan prednisolone
untuk membantu turunnya demam lebih cepat serta memberikan perasaan segar
dan perbaikan pada pasien. Pemberian ini maksimal selama 3 hari agar jangan
memperbesar resiko pendarahan usus.Pada obstipasi tidak boleh diberikan
laksansia terhubung dengan bahaya perforasi dan perdarahan

BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan

50

Sistem pencernaan merupakan sistem yang sangat penting bagi manusia


karena sistem pencernaan menyerap vitamin, nutrisi, mineral, lemak,
protein dan karbohidrat yang sangat di butuhkan oleh tubuh manusia untuk
melakukan aktfitas sehari-hari. Banyak sekali penyakit yang dapat
mengganggu jalannya saluran pencernaan seperti diare, konstipasi, mual
dan muntah, tukak lambung dan masih banyak lagi.
3.2 Saran
Dilihat dari simpulan yang telah penulis uraikan, maka penulis
merumuskan saran sebagai berikut.
1. Pembaca dapat menerapkan isi makalah yang menerangkan bahwa
pengetahuan tentang sistem saluran pencernaan sangat penting dalam
tubuh makhluk hidup.
2. Sebaiknya kita memperbayak mengonsumsi makanan yang bergizi
agar tubuh kita tidak mengalami kekurangan asupan nutrisi (makanan
yang mengandung karbohidrat, protein, mineral,lemak dan vitamin).
Dan sebaiknya kita juga menjaga kesehatan sistem pencernaan dengan
mengontrol konsumsi makanan yang kita makan.

DAFTAR PUSTAKA
Gibson John. 2003. Fisiologi dan Anatomi Modern untuk Perawat Edisi 2.
Jakarta: EGC
Pearce Evelyn C. 2006. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta : PT
Gramedia
Syaifuddin. 2012. Anatomi Fisiologi untuk Keperawatan dan Kebidanan Edisi 4.
Jakarta : EGC

51

Tambayong Jan. 2001. Anatomi & Fisiologi untuk Keperawatan. Jakarta : EGC
Tan Hoan Tjay dan Kirana Rahardja. 2005. Obat-Obat Penting Edisi 5. Jakarta :
PT. Gramedia

52