Anda di halaman 1dari 6

Batik, Potret Kosmopolitanisme Budaya

Menurut Ulf Hannerz, kosmopolitanisme muncul dalam dua manifestasi (two


face), yakni secara kultural dan politik. Secara kultural, kosmopolitanisme
terwujud sebagai sebuah sikap yang terbuka terhadap perbedaan budaya dan
sebuah kemampuan untuk menyatu dengan budaya lain.[1] Secara politik,
kosmopolitanisme merupakan sebuah upaya untuk mengubah tatanan yang
memungkinkan realisasi gagasan bahwa semua manusia sama dan setara.
Kesadaran kosmopolitanisme itu kemudian akan membangun prinsip moral
kemanusiaan bahwa manusia sebagai a community of citizens of the world.[2]
Tulisan ini difokuskan untuk menggambarkan manifestasi kosmopolitanisme dari
aspek budaya. Dalam konteks budaya, Hannerz mendefinisikan kosmopolitanisme
sebagai a type in the management of meaning in an interconnected but culturally
diverse world.[3] Dengan kata lain, kosmopolitanisme memungkinkan terjadinya
hibridisasi budaya. Hibridisasi dalam konteks budaya berarti terjadinya
percampuran budaya tetapi tidak menghilangkan unsur asli dari budaya tersebut,
melainkan budaya itu melahirkan kombinasi yang baru.[4] Pemahaman tersebut
sekaligus sebagai kritik atas asumsi bahwa globalisasi berimplikasi pada
homogenisasi atau penyatuan budaya dan terbentuknya budaya baru yang lahir dari
percampuran antar budaya.
Lebih lanjut, menurut Hannerz, sikap kosmopolitan dalam dimensi budaya
merupakan sesuatu yang happy face dengan bisa menikmati berbagai hal dan
bergabung dengan orang lain dalam keragaman budaya. Sikap itu bisa lahir melalui
pendidikan, travelling, pernikahan, pertukaran pelajar, dan sumber-sumber material
yang memungkinkan siapa pun memperoleh pengetahuan tentang keragaman
budaya. Lanjutnya, that more positive view of cultural diversity of improved
access to the global cultural inventory.[5]
Mencermati apa yang dikemukakan Hannerz di atas, kosmopolitanisme budaya
salah satunya dapat dilihat pada internasionalisasi batik. Batik yang merupakan
warisan budaya Indonesia telah dikenal dan diadopsi oleh masyarakat
internasional, bahkan diproduksi oleh berbagai negara. Kenyataan itu
menunjukkan bahwa masyarakat internasional menerima batik sebagai sebuah
keragaman budaya tanpa mengubah identitas batik. Tetapi, batik mengalami
rekombinasi melalui hibridisasi dengan budaya di negara lain.

Batik di Berbagai Negara


United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO)
telah menetapkan batik sebagai warisan manusia untuk budaya nonbendawi
(Intangible Culture Heritage of Humanity) milik Indonesia sejak 2 Oktober 2009.

Hal itu mencakup dimensi batik sebagai teknik, teknologi, serta motif dan budaya.
Pengakuan itu menunjukkan bahwa batik merupakan hasil kreasi budaya Indonesia
yang telah diwariskan secara turun-temurun. Batik dalam konteks ini dipahami
sebagai wujud material dari sebuah budaya. Hal itu sejalan dengan pemaknaan
King bahwa budaya sebagai material or simbolic form, is an attribute which
people(s).[6]
Lebih lanjut, pengakuan dunia atas batik sebagai warisan budaya Indonesia
tersebut tidak berarti bahwa batik hanya boleh diproduksi dan diperjualbelikan
oleh Indonesia. Faktanya, beberapa negara di dunia memproduksi batik dengan
berbagai ciri khasnya tersendiri, mulai dari proses pembuatan, motif, corak, hingga
jenis kain yang digunakan. Artinya, batik yang merupakan budaya Indonesia
mengalami percampuran dengan budaya di negara lain sehingga melahirkan
kombinasi baru.
Salah satu negara yang dikenal sebagai penghasil batik adalah China. Awalnya,
batik China lahir dari proses akulturasi dengan budaya Indonesia sejak ratusan
tahun lalu. Namun sekarang, batik China berkembang pesat melalui proses
teknologi. Karena itu, jika batik Indonesia dikenal dengan diproses secara tulis atau
batik tulis, maka batik China merupakan tekstil printing yang bermotif batik.
Umumnya motif batik China bercorak flora dan fauna dengan aneka warna yang
cenderung mencolok. Data Badan Pusat Statistik (BPS) bahkan menunjukkan
bahwa Indonesia mengimpor batik dari China. Selama tahun 2013, batik dari China
yang masuk ke Indonesia mencapai 136,8 ton atau senilai US$ 2,1 juta.[7]
Malaysia juga dikenal produktif dalam memproduksi batik. Ciri batik Malaysia
adalah colorful styles dengan motif populernya adalah daun dan bunga.[8] Batik di
negeri Melayu itu juga memiliki sejarah yang panjang seiring dengan hubungannya
dengan masyarakat Indonesia di masa lalu. Malaysia juga cukup sering menggelar
pameran batik internasional sebagai upaya mempromosikan batik mereka. Tahun
2011, Malaysia bahkan pernah menerbitkan buku berjudul Malaysia Batik:
Reinventing a Tradition yang mengulas tentang sejarah batik. Buku itu mengurai
tentang bagaimana batik Malaysia bertransformasi menjadi kerajinan bercita rasa
internasional.[9]
Sementara itu, di Thailand batik lebih kental dengan sejarah negara itu. Motif yang
dituangkan umumnya mengenai keindahan alam bawah laut dengan warna yang
cerah serta motif yang menggambarkan kehidupan tradisional penduduk setempat.
[10] Tidak hanya itu, negara di benua Afrika seperti Nigeria juga tertarik dengan
batik. Nigeria sendiri juga memiliki seni kain batik. Tetapi, batik yang dimiliki
Nigeria belum memiliki identitas dan ciri khas sehingga mendorong pemerintah
Nigeria untuk mendalami teknik batik di Indonesia.[11]
Selain itu, Somala Dharmawardena, salah seorang desainer Sri Lanka, mengatakan
bahwa batik juga telah menjadi bagian dari seni Sri Lanka. Motif batik Sri Lanka,

menurutnya, sedikit lebih besar dari batik di Indonesia.[12] Tetapi, teknik


pembuatannya hampir sama dengan batik di Indonesia, yakni dengan
menggunakan canting dan malam. Adapun Azerbaijan juga mengakui dan
mengapresiasi batik. Menurut Tatyana Agababayeva, artis Azerbaijan, pola batik
mereka dapat ditemukan pada syal sutera wanita yang dinamakan Kelagai.[13]
Selain yang disebutkan di atas, batik juga berkembang di banyak negara yang ada
di berbagai belahan dunia. Hal itu mendorong seringnya digelar pameran batik
internasional sebagai wadah menunjukkan kreativitas batik dari berbagai negara.
Terlepas dari itu, batik di negara asalnya sendiri terus mengalami perkembangan
dan dikenal di mancanegara. Kota Malang misalnya, dikenal memiliki batik tulis
Celaket. Selain motifnya yang menggambarkan ciri khas Kota Malang, beberapa
motif yang pernah dibuat oleh pemiliknya, Ira Hanan, di antaranya Irfan Bachdim,
tokoh spiritual Iran Ayatullah Khomeini, penyair ternama Jalaluddin Rumi, serta
beberapa tokoh dunia lain.[14] Pemasarannya juga telah dikenal di berbagai negara
seperti Jerman, China, Suriname, Amerika Serikat, Korea Selatan, dan lainnya.

Batik dan Kosmopolitanisme Budaya


Gambaran tentang batik di atas menunjukkan bahwa warisan budaya Indonesia
tersebut telah mengalami hibridisasi dengan budaya lain pada banyak negara. Batik
yang diakui sebagai budaya asli Indonesia mampu diterima dan diproduksi di
berbagai negara yang memiliki budaya dan produk budaya berbeda. Namun
demikian, sekalipun batik diproduksi di banyak negara dengan karakternya
tersendiri, bagaimanapun batik tetaplah sebagai warisan budaya milik Indonesia.
Inilah yang oleh Hannerz disebut sebagai transculturation.
Nilai-nilai kosmopolitan dalam dimensi budaya menunjukkan bahwa perbedaan
kultural mampu dikombinasikan tanpa menghilangkan identitas masing-masing
budaya. Menurut Hannerz, Cosmopolitans, ideally, would seek to immerse
themselves in other cultures, participating in them, accepting them as wholes ....
also displaying their skills in handling them.[15] Kenyataan itulah yang tampak
pada batik di berbagai negara. Batik dalam konteks ini dipandang sebagai sebuah
budaya Indonesia yang berbaur dengan budaya di negara berbeda sehingga
menghasilkan produk batik yang memiliki ciri khas sendiri.
Untuk itu, nilai kosmopolitanisme dalam dimensi budaya mengajarkan bahwa
sebagai the citizen of world siapa pun seharusnya memiliki kesadaran terhadap
perbedaan kultural. Perbedaan kultural itu selanjutnya mampu dikombinasikan
tanpa salah satu budaya surrender atau mastery, dikuasai atau menguasai. Karena
itu, tambah Hannerz, kosmopolitanisme dalam dimensi budaya dipandang positif
dan menawarkan a happy face.

Daftar Pustaka
Buku:
Hannerz, Ulf. 2006. Two Face of Cosmopolitanism: Cultural and Politics.
Documentos CIDOB Dinamicas Interculturales Numero 7. Barcelona: Fundacio
CIDOB
King, Anthony D. (Ed.). 1991. Culture, Globalization and the World-System:
Contemporary Conditions for the Representation of Identity. Minneapolis:
University of Minnesota Press
Pieterse, Jan Naderveen. 2009. Globalization and Culture: Global Melange.
Maryland: Rowman & Littlefield Publishers

Koran dan Internet:


Hutapea, Rita Uli. 2011. Malaysia Luncurkan Buku Sejarah Batik, dalam
http://m.detik.com/news/read/2011/12/09/145310/1787289/1148/malaysialuncurkan-buku-sejarah-batik (Diakses pada 23/03/2014)
Jefriando, Maikel. 2014. Indonesia Beli Batik dari China Hingga Italia Rp 63
Miliar, dalam http://m.detik.com/finance/read/2014/02/10/084229/2491692/4/
(Diakses pada 23/03/2014)
Memperkenalkan Identitas Malang Melalui Batik, Koran Bestari UMM Edisi
283/Th. XXVI/Februari/2012
Kurniasari, Triwik. 2010. Batik Around the World, dalam
http://thejakartapost.com/news/2010/01/24/batik-around-the-world.html (Diakses
pada 23/03/2014)
Siswanto, 2013, Batik Indonesia Jadi Idola di Nigeria, dalam
http://wartakota.tribunnews.com/2013/02/06/batik-indonesia-jadi-idola-di-nigeria
(Diakses pada 23/03/2014)
Uniknya Batik Khas Thailand, 2013, dalam http://mobile.griyawisata.com/batik-atenun/batik/artikel/uniknya-batik-khas-thailand (Diakses pada 23/03/2014)

[1] Ulf Hannerz, 2006, Two Face of Cosmopolitanism: Cultural and Politics,
dalam Documentos CIDOB Dinamicas Interculturales Numero 7, Barcelona:
Fundacio CIDOB, hal. 13.
[2] Ibid., hal. 10.
[3] Ibid., hal. 2.
[4] William Rowe dan Vivian Schelling, 1991, Memory and Modernity: Popular
Culture in Latin America, London: Verso, hal. 231. Dikutip dalam Jan Naderveen
Pieterse, 2009, Globalization and Culture: Global Melange, Maryland: Rowman &
Littlefield Publishers, hal. 70.
[5] Ulf Hannerz, op.cit., hal. 25.
[6] Anthony D. King (Ed.), 1991, Culture, Globalization and the World-System:
Contemporary Conditions for the Representation of Identity, Minneapolis:
University of Minnesota Press, hal. 1.
[7] Maikel Jefriando, 2014, Indonesia Beli Batik dari China Hingga Italia Rp 63
Miliar, dalam http://m.detik.com/finance/read/2014/02/10/084229/2491692/4/
(Diakses pada 23/03/2014).
[8] Triwik Kurniasari, 2010, Batik Around the World, dalam
http://thejakartapost.com/news/2010/01/24/batik-around-the-world.html (Diakses
pada 23/03/2014).
[9] Rita Uli Hutapea, 2011, Malaysia Luncurkan Buku Sejarah Batik, dalam
http://m.detik.com/news/read/2011/12/09/145310/1787289/1148/malaysialuncurkan-buku-sejarah-batik (Diakses pada 23/03/2014).

[10] Uniknya Batik Khas Thailand, 2013, dalam


http://mobile.griyawisata.com/batik-a-tenun/batik/artikel/uniknya-batik-khasthailand (Diakses pada 23/03/2014).
[11] Siswanto, 2013, Batik Indonesia Jadi Idola di Nigeria, dalam
http://wartakota.tribunnews.com/2013/02/06/batik-indonesia-jadi-idola-di-nigeria
(Diakses pada 23/03/2014).
[12] Triwik Kurniasari, op.cit., dalam
http://thejakartapost.com/news/2010/01/24/batik-around-the-world.html (Diakses
pada 23/03/2014).
[13] Ibid.
[14] Memperkenalkan Identitas Malang Melalui Batik, Koran Bestari UMM Edisi
283/Th. XXVI/Februari/2012, hal. 17.
[15] Ulf Hannerz, op.cit., hal. 7.