Anda di halaman 1dari 10

DISKURSUS SEKSUALITAS

(Seturut Kajian Historis-Filosofis Michel Foucault)


Oleh: Ampy Kali, SVD

Kajian Foucault Mengenai Seksualitas


Seksualitas merupakan salah satu tema besar yang paling banyak didiskusikan
Foucault. Pandangannya yang brilian tentang seksualitas dapat ditemukan dalam trilogi
volume sejarah seksualitas yang terkenal, yakni Historie de la Sexualit I: La Volont de
Savoir (1976), Historie de la Sexualit II: LUsage des Plaisirs (1984), Historie de la
Sexualit III: Le Souci de Soi (1984). Dalam karya-karyanya ini, Foucault menegaskan bahwa
femininitas, maskulinitas dan seksualitas adalah akibat praktik disiplin, efek wacana atau
buah dari relasi kekuasaan-pengetahuan. Foucault membongkar dan menembus kebekuan
fondasi rezim heteroseksualitas yang univokal, yang dalam wacana-wacana dominan
dianggap sebagai norma baku, sebuah logos atau mathesis universalis.
Dalam pengkajiannya, Foucault membuat pembedaan yang jelas antara seks dan
seksualitas. Istilah seks diartikan Foucault sebagai hubungan seksual, perilaku seksual, hasrat
dan bagaimana seseorang melampiaskan hasrat seksual. Sedangkan istilah seksualitas dalam
karya-karya Foucault selalu dijelaskan dalam konteks hubungan-hubungan kekuasaan yang
mencoba mengatur praktik seksual. Perbedaan mendasar antara seks dan seksualitas dalam
ranah pemikian Foucault adalah bahwa seks lebih berarti praktik dan seksualitas merupakan
strategi dan hubungan kuasa yang beroperasi untuk mengkondisikan seks. Seks bukan wujud
real dan tunggal yang sesuai dengan berbagai definisi yang diberikan kepadanya dalam
wacana. Seks bukanlah realitas awal dan seksualitas bukanlah hanya dampak sekunder,
melainkan sebaliknya seks dibawahi secara historis oleh seksualitas. Pernyataan ini
mengandung arti bahwa untuk dapat memahami konsep seks dan seksualitas yang digagaskan
Foucault, kita tidak boleh menempatkan seks di sisi realitas dan seksualitas di sisi gagasan
yang kabur. Sebab, seksualitas adalah figur historis yang sangat real, dan seksualitas itu
sendirilah yang menimbulkan pengertian seks sebagai unsur spekulatif yang diperlukan bagi
cara kerja seksualitas.
Wacana seksualitas bukan merupakan suatu realitas bawahan yang sulit ditangkap,
melainkan jaringan luas di permukaan tempat rangsangan badaniah, intensifikasi kenikmatan,
dan akibat logis adanya strategi besar pengetahuan dan kekuasaan. Sebagai layaknya sebuah
wacana yang selalu berkembang dari masa ke masa, di sekitar seks dan seksualitas dibangun
perlengkapan atau mesin untuk memproduksi kebenaran, artinya wacana kekuasaan berfungsi
untuk menampung atau menyembunyikan kebenaran. Seks bukan hanya masalah sensasi dan
kenikmatan, atau hukum dan larangan, tetapi di dalam seks dipertaruhkan masalah benar dan
salah. Mengetahui apakah seks itu benar atau berbahaya membuka peluang dominasi dalam
interaksi kekuasaan. Sejauh mana seks bisa dianggap berharga atau menakutkan itu bisa
bergeser menjadi pertaruhan kebenaran di dalam wilayah kekuasaan.1[1]
Dalam sistem kuasa inilah wacana seksualitas terbentuk. Sebelum sistem ini
beroperasi, seks masih berdiri sendiri yang hidup dalam diri subyek. Kemudian ketika relasi1[1] Hayden White, Hayden White dalam kata pengantarnya dalam buku
Michel Foucault, The Order of Thing An Archaeology of the Human Sciences,
penterj. B. Pariambodo dan Pradana Boy (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007),
hlm. xi.

relasi kuasa bergerak melalui strategi wacana, di situlah wacana tentang seks yang
dimasukkan ke dalam matriks-matriks kuasa menjadi seksualitas. Proses ini disebut Foucault
sebagai the way in which sex is put into discourse.2[2] Dengan demikian seks dan seksualitas
bukanlah sesuatu yang saling beroposisi. Karena kalau demikian maka hubungan kekuasaan
yang membentuk seksualitas hanya akan berbentuk hukum dan larangan, segala hal yang
bersifat negatif dan menegasikan seks.
Di akhir penulusaran historisnya tentang seksualitas, Foucault tampil sebagai salah
seorang pemikir yang menggugat ortodoksi teoritis tentang seksualitas, yang seluruh prinsipprinsipnya didasarkan pada esensialisme seksual. Esensialisme seksual yaitu paham yang
menganggap seksualitas sebagai fenomena biologis, kenyataan alamiah yang melampaui
kenyataan sosial. Menurut Foucault, seksualitas bukan sesuatu yang tidak berubah, asosial,
dan transhistoris. Seksualitas sangat terikat dengan sejarah dan perubahan sosial. Tidak
bersumber pada hormon, psike dan hukum Tuhan. Seksualitas merupakan sebuah konstruksi
sosial, bukan fakta kromosomik-biologis.
Penekanan gagasan Foucault dalam hal ini terletak pada adanya keragaman wacana
tentang seks di setiap kelompok masyarakat. Pada keberagaman asal-usul historis dan sosial
dari seksualitas, dan pada metode pengaturan serta kontrolnya yang juga beragam, berbedabeda antara suatu masyarakat dengan masyarakat lainnya. Pada masa Yunani dan Romawi
klasik (baca: Greco-Roman) sampai pada awal abad ke-17, seksualitas tidak ditutup-tutupi.
Kata-kata bernada seks dilontarkan tanpa keraguan, dan berbagai hal menyangkut seks tidak
disamarkan. Ukuran untuk tingkah laku jorok, vulgar, santun dan sebagainya sangat longgar,
dibandingkan dengan abad ke-19. Pada masa-masa ini wacana tentang seks selalu dibicarakan
secara parrhesia. Dalam arti seks melibatkan subyek untuk terus berdialog dalam diskursus
mengenai seks. Setiap dialog atau kontemplasi melahirkan pandangan yang berbeda
mengenai seks. Setiap individu mempunyai pandangan sendiri-sendiri tentang praktik
seksualitasnya. Tidak ada wacana seks yang dominan dan universal. Setiap tubuh hanyut
dalam kenikmatan seni pengendalian diri dan penelurusan diri terhadap tubuhnya masingmasing. Seks dilihat sebagai sebuah seni kehidupan, ars erotica. Kebenaran seksual diperoleh
dari hasil pergumulan meniti misteri rasa erotisme tubuh. Kultur seks pada masa ini selalu
berpijak pada hakikat kealamiahan tubuh.
Namun, semuanya berubah pada abad pertengahan. Di mana pada masa ini penafsiran
atas seks mengalami perbedaan, bila dibanding dengan cara pandang (penafsiran) masyarakat
Greco-Roman. Di bawah bayang-bayang dominasi Gereja, kode-kode seks dikontrol secara
ketat. Segala sesuatu yang berhubungan dengan seks, birahi dan erotisme dianggap sebagai
perwujudan dari sesuatu yang kotor dan dekat dengan unsur iblis. Para rahib dan juga umat
Kristen dikondisikan bertarung dalam pengendalian diri terhadap unsur-unsur seks, seperti
rasa, imajinasi dan mimpi. Mereka harus bisa mematikan unsur-unsur yang bisa memacu
bangkitnya libido dalam tubuh. Apabila mereka mampu mengalahkan imajinasi, mimpi,
birahi yang bisa memancing luapan seks, maka sesungguhnya mereka telah berhasil membuat
tubuh mereka bersih dan suci. Tindakan ini bisa disebut sebagai asketisme seksual.
Mekanisme pengakuan dosa (confession) merupakan metode kontrol seksual yang
dipakai Gereja untuk menstigmatisasi tubuh dan wilayah erotik seseorang. Melalui
mekanisme ini berlangsung proses insinuasi dan pendiskreditan terhadap tubuh. Dikatakan
demikian sebab dalam pemahaman Foucault, yang terjadi sesungguhnya bukan semata-mata
pembeberan rahasia seseorang kepada interlocutor (pastor/pendeta) atas inisiatif sendiri tetapi
metode ini mengkondisikan seseorang masuk secara terpaksa dalam wilayah batin dirinya
2[2] Paul Rabinow, The Foucault Reader: An Introduction to Foucaults
Thought, with Major New Unpublished Material, (London: Penguin Books, 1984),
hlm. 299.

untuk mengejar, memburu dan menemukan apa-apa yang dianggap tabu (tidak patut, dosa). 3
[3] Intensi Gereja pada masa ini adalah mengontrol dan mendeseksualisasi tubuh secara total
agar tidak mendatangkan dosa bagi manusia.
Ketika memasuki masa Victorian, seks menjadi sangat tertutup. Pembicaraan terkait
dengannya dianggap tabu, vulgar dan tidak seronok. Orang yang membicarakan seks
dianggap melampaui norma. Pada masa ini, seks direpresi dalam kesadaran masyarakat
dengan berbagai model kekuasaan yang halus dan rumit. Seks menjadi barang rumahan,
dipingit bak pengantin, hanya berlaku di malam hari, dan itu pun hanya ada di atas ranjang
orang tua atau sepasang pengantin. Seksualitas menjadi jumud dan dikontrol sedemikian ketat
sampai suami dan isteri dikondisikan untuk menyitanya dan membenamkan seluruhnya
dalam fungsi reproduksi yang sesunggguhnya. Seks menjadi praktik yang penuh dengan
aturan. Dengan demikian gabungan antara kesucian Gereja dan kekakuan borjuasi Viktorian
pada abad pertengahan akhirnya menghasilkan masyarakat yang puritan dan tertutup.
Pada awal abad ke-19, pendekatan yang berbeda terhadap seksualitas mulai
dilakukan. Sigmund Freud mengawali langkah-langkah untuk memberikan treatment yang
cukup berbeda pada masa itu terhadap gejala-gejala seksualitas. Ia menggunakan ilmu
kedokteran, kejiwaan dan psikoanalisis untuk menganalisis masalah seksualitas. Oleh Freud,
seksualitas menjadi bahan penelitian. Seksualitas mulai diilmukan, sebuah scientia sexualis.
Ia diuji dan dirumuskan sedemikian rupa layaknya ilmu-ilmu lain. Kontrol atas seksualitas
manusia tidak lagi didasarkan pada alasan-alasan ilahiah seperti yang terjadi di abad
pertengahan, tetapi mulai didasarkan pada berbagai alasan ilmiah kesehatan klinis. Paling
tidak, semenjak masa ini seksualitas bukan lagi hal yang tabu dalam ranah ilmu pengetahuan.
Namun dalam pemahaman Foucault, meski dunia modern mengembangkan persepsi
seksual yang berbeda dengan Gereja tetapi pada dasarnya persepsi yang dikembangkan tetap
berada dalam konteks mereduksikan manusia dari pengalaman kenaturalan seksualitasnya.
Seperti pada abad pertengahan, seks di masa modern menurut Foucault tetap bukan
dijalankan sebagai bagian dari pengalaman diri manusia yang alamiah. Focault menemukan
bahwa dengan menjadikan seksualitas sebagai obyek kajian ilmu tertentu maka sama seperti
yang terjadi di abad pertengahan, dalam masyarakat modern muncul dan beroperasi suatu
teknik kecurigaan baru terhadap kenikmatan seksual manusia. Di sini, proses insinuasi dan
limitasi pun tetap terjadi. Hanya bedanya bila abad pertengahan kekuasaan untuk merepresesi
dan melimitasi itu ada pada Gereja dan kaum Viktorian, maka di era modern kekuasaan itu
perlahan-lahan beralih ke tangan para ilmuwan, seperti psikiatri, dokter dan sebagainya.
Foucault menemukan bahwa hipotesis yang berkembang dalam masyarakat abad
pertengahan adalah seks selalu direpresi oleh kekuasaan. Tetapi lebih jauh ia melihat bahwa
di dalam inside power ini seks justru berkelindan dengan nikmat di dalam kekuasaan. Wacana
tentang seks bukan hilang malah diperbicangkan secara terus menerus. Wacana tentang seks
justru makin meledak. Tidak ada yang dapat menahan ledakan wacana seks pada awal abad
ke-19. Di berbagai lembaga pendidikan telah diperbanyak pembentukan wacana tentang seks.
Para ahli medis membuat berbagai susunan konfigurasi seks untuk disebarkan kepada
direktur sekolah dan guru. Di perpustakaan buku-buku tentang berbagai wacana seks hadir
mengisi rak-rak. Sejak masa itu, seks tidak henti-hentinya menimbulkan semacam dorongan
yang semakin besar untuk pembentukan wacana.
Dalam penelusuran Foucault, ditemukan bahwa pembentukan wacana tentang seks
tidak terjadi di luar kekuasaan atau melawan kekuasaan, tetapi terlaksana di dalam ruang
3[3] Seno Joko Suyono, Tubuh Yang Rasis: Telaah Kritis Michel Foucault Atas
Dasar-Dasar Pembentukan Diri Kelas Menengah Eropa (Yogyakarta: Lanskap
Zaman dan Pustaka Pelajar, 2002), hlm. 467-468.

kekuasaan itu sendiri dan bahkan dinilai sebagai alat penerapan kekuasaan. Kekuasaan tidak
menolak seksualitas, sebaliknya ia berkembang biak bersama perluasan kekuasaan. Dengan
kata lain, kekuasaan semakin meningkat dengan adanya wilayah-wilayah penerapan
seksualitas. Bahkan kekuasaan pun bekerja sama dengan ilmu pengetahuan dalam
memproduksi wacana seputar seksualitas.
Lantas pertanyaannya, bagaimana masyarakat postmodern mewacanakan seksualitas
di kalangan mereka? Apakah sikap dan cara pandang masyarakat postmodern terhadap
seksualitas saat ini telah mengalami perubahan (pergeseran)? Fenomena seksualitas macam
mana yang sedang menggejala di era postmodernisme? Bagaimana relasi power-knowledgepleasure itu tercipta? Dan bagaimana bentuk kontrol seksual yang terjadi di kalangan
masyarakat postmodern sebagai efek wacana yang mereka kembangkan?
Realita Seks Masyarakat Postmodern
Hampir tidak bisa dipungkiri lagi bahwa hal yang paling menghiasi masyarakat
postmodern dewasa ini adalah semaraknya penjajaan tubuh dan komersialisasi seks dalam
dinamika sistem kapitalisme dan media massa. Tubuh menjadi bagian penting dari semarak
budaya komoditas, karena selain menjadi alat untuk membuat citra produk dalam iklan, pada
kenyataannya tubuh juga telah menjadi sasaran produk-produk yang diperjualbelikan.
Kebutuhan-kebutuhan tubuh pun dikembangkan sesuai dengan konstruksi peradaban yang
melanggengkan hubungan jual beli untuk meningkatkan keuntungan. Sebagai implikasinya,
bukan hanya pembuatan produk yang dikembangkan, tetapi juga penciptaan kesadaran
masyarakat tentang tubuh. Tubuh sebagai pusat kesadaran ini dikontrol dan diatur dalam
ruang media oleh kaum kapitalis, terutama tentang tubuh yang ideal. Sebagai produsen, kaum
kapitalis memproduksi budaya citra baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Dengan
kemampuan dan kekuasaan yang dimiliki, kaum kapitalis secara pandai mendefinisikan dan
mempersepsikan kenyataan seputar tubuh dan seksualitas manusia. Karena itu kaum kapitalis
adalah produsen ideologi tubuh, yang menjejalkan norma-norma keindahan tubuh mulai
dari bentuk, ukuran, warna, dan sebagainya.
Di balik gejolak paradigma seksual, dengan scientia sexualis dan erotika yang
berlapis-lapis, potensialisasi dan optimalisasi pengumbaran libido yang tanpa batas dalam
dunia cyber, pengeksposan tubuh melalui citra media (iklan) yang tanpa bungkus, yang
terjadi adalah lenyaplah aura sebatang tubuh di dalam wacana seksualitas. Seks karenanya
telah menjadi komoditas yang tidak lagi tabu di zaman sekarang. Kapitalisme dengan bantuan
media massa telah berhasil menempatkan seks menjadi barang komoditi yang laris terjual.
Seksualitas yang tadinya sebagai ruang privat manusia kini telah berubah menjadi barang
dagangan publik, sehingga tidak heran jika di zaman ini berbagai media menjajakan alat-alat
vitalitas, pose vulgar tubuh perempuan, prostitusi yang terang-terangan dan berbagai aktivitas
seks lainnya.
Rangkaian aktivitas seksual dalam dunia cyber (voyeurism, masturbation-voyeurism,
interactive-voyeurism, fetishism, virtual sex, teledildonic, dll) dan beragam tontonan yang
disuguhkan oleh media elektronik kapitalisme (tubuh perempuan dalam iklan, pornografi,
dll), serta gejala praktik seks komersial (free sex, perselingkuhan, prostitusi, dll) dewasa ini,
menjadi bukti bahwa masyarakat postmodern sudah dan sedang memasuki satu era
seksualitas yang sangat berbeda dengan era-era sebelumnya. Dengan menelusuri kembali
jejak sejarah pewacanaan seks yang dibuat oleh Foucault, ditemukan bahwa wacana
seksualitas yang sedang berkembang pada periode ini, telah mengalami pergeseran dan
berbeda dengan ketiga periode sebelumnya.
Sepertinya tabu yang universal sebagaimana yang dikembangkan oleh Gereja pada
abad pertengahan dan juga para ilmuwan dalam masyarakat modern, sudah menjadi

transparan di era kapitalisme. Beragam moralitas yang dipakai untuk merepresi seksualitas
tampaknya mulai didekonstruksi secara perlahan-lahan. Segala libido dilepaskan untuk
grafitikasi kenikmatan dan menjadi semacam pengoperasian yang tanpa batas. Libido
tersebut menjadi tanpa realitas, sebab ia tidak lagi bebas. Libido menyembur di mana-mana,
dan hanya dalam bentuk simulasi. Karena itu ketika manusia diperbolehkan untuk melihat,
mempertontonkan, melakukan, atau merepresentasikan yang sebelumnya dianggap tabu,
amoral, bahkan abnormal, maka sebenarnya tidak ada rahasia lagi di dalam dunia realitas.
Bahkan realitas seksual itu sendiri sebenarnya sudah tidak ada, sebab ia hanya bisa ada bila
masih ada sesuatu yang dirahasiakan. Karena itu citra seksual yang tersisa sekarang hanya
berupa hiperealisme kesenangan.
Semakin tumbuh dan berkembangnya hiperealitas kesenangan ini menandai akhir dari
ruang imaginer, fantasi, dan ilusi seksual. Kini dalam dunia kapitalisme, batas antara
sebatang tubuh dan obyek-obyek di sekitarnya semakin menipis, melebur dalam komoditas.
Muatan produksi kegairahan, kecabulan, dan kesenangan serta peragaan tubuh-tubuh tanpa
bungkus disubordinasi oleh hegemoni komoditas. Hegemoni yang mengoperasikan semuanya
adalah hegemoni libido. Atau dalam bahasa Deleuze dan Guattari, dinamakan kekuasaan
hawa nafsu.
Hemat saya, libido merupakan istilah yang sedang menandai perkembangan
masyarakat postmodern. Di mana-mana mengalir deras arus libido dan mempengaruhi setiap
aspek kehidupan sosial masyarakat. Libido pulalah yang telah menyebabkan kapitalisme
menemukan muaranya. Kapitalisme yang berbasis libido, memunculkan fenomena global
yang disebut Ellys Pambayun sebagai passionate capitalism (kapitalisme yang berlandaskan
nafsu). Intensi dari jenis kapitalisme ini yakni berupaya membebaskan passion untuk
mendapatkan keuntungan, dengan mengeksploitasi tubuh-tubuh telanjang manusia dan
menjadikannya sebagai barang dagangan. Dalam kenyataan kapitalisme yang berbasis libido
ini ditandai oleh adanya ekspansi penciptaan bentuk-bentuk pengumbaran arus libido yang
tiada henti seperti cybersex, cyberporn, fetishism, dan sebagainya.
Terlepasnya masyarakat postmodern dari aturan-aturan, kaidah, hukum, tabu, moral
dan lain sebagainya, telah mengalihkan perhatian mereka pada norma-norma konkret yang
diyakini sinkron dengan citra diri mereka, seperti norma komoditas, informasi, teknologi, dan
media massa. Oleh masyarakat postmodern, norma-norma tersebut seakan dijadikan gravitasi
atau satelit baru, sebuah titik di mana seluruh aspek kehidupan baru berpusat. Seiring dengan
munculnya dominasi produksi massa, informasi massa, dan media massa, perhatian manusia
telah dialihkan dari pencarian nilai-nilai transendental, spiritual, moral menuju kenikmatan
nilai-nilai yang konkret, melalui proses konsumsi produk-produk dan tontonan citra yang
ditawarkan oleh media massa. Hampir seluruh aspek kehidupan menjadi semacam teater
massal dan tontonan yang dipertunjukkan di atas panggung kapitalisme. Hal ini secara jelas
membuktikan bahwa kekuatan media massa di bawah kontrol kapitalisme telah menjelma
bagaikan agama dan tuhan sekuler. Tak ayal, perilaku orang tidak lagi ditentukan oleh
agama-agama tradisional, tetapi tanpa disadari telah diatur oleh media massa di bawah
kontrol kapitalisme.
Tampaknya ada begitu banyak tabu dan norma dalam masyarakat postmodern yang
mulai didobrak sehingga hubungan seks, misalnya, dapat dengan bebas diinterpretasikan dan
dipraktikkan. Misalnya, masalah virginitas tidak lagi dilihat sebagai hal sakral, yang mutlak
dipertahankan hingga tiba saatnya diserahkan kepada suami atau istri. Hubungan seks dalam
praksisnya tidak saja diartikan sebagai ekspresi cinta seorang suami kepada istrinya dan
sebaliknya istri kepada suaminya, tetapi juga kepada semua orang yang dianggap layak
menerima limpahan ekspresi tersebut tanpa memandang status. Di sini jelas ada pergeseran
cara pandang berhubungan dengan masalah seksualitas. Dan kenyataan ini mengindikasikan

lahirnya masyarakat baru yang bersifat hedonis, konsumtif dan materialistis. Hedonis, karena
masyarakat ini mengejar kenikmatan dunia melalui seks tanpa memperhatikan batas dan arah.
Konsumtif, karena kenikmatan seks ini dicari dengan pola yang sama ketika orang berbelanja
kebutuhan barang dengan boros. Sedangkan materialistis, karena ukuran kenikmatan seks
diukur dengan angka-angka tertentu. Semakin tinggi uang yang dikeluarkan maka
kenikmatan yang didapat pun akan semakin tinggi, dan pada gilirannya eksistensi manusia
pun dinilai dari materi.
Di bawah bayang-bayang media dan kapitalisme, seks dipaksa masuk dalam ruang
yang bersifat publik. Setelah memasuki ruang publik, seks menjadi komoditi yang potensial
untuk diperjualbelikan. Praktik prostitusi adalah gejala yang paling pas untuk
mendeskripsikan hal ini. Orang harus membayar jutaan rupiah untuk mendapatkan
kenikmatan seks sensasional dengan salah satu pekerja seks komersial yang dipilihnya. Seks
dalam arti tertentu telah menjadi barang. Seks tidak lagi merupakan barang langka yang
memiliki nilai suci, tetapi telah menjadi aktivitas yang diobral tanpa batas. Berbagai bentuk
pelayanan seks komersial menunjukkan hal itu dengan jelas. Seks seolah-olah dibuat terlepas
dari spiritualitasnya, dan dikondisikan untuk memusatkan perhatian pada kenikmatan daging
belaka.
Dampak lain dari pergeseran wacana tentang seks dari ruang privat menuju ruang
publik adalah hilangnya makna keutuhan intimitas antara dua orang (suami-isteri) di dalam
ruang privat, dan sekaligus justifikasi atas tabu bagi mata yang mengintip. Asumsi kebebasan
masyarakat postmodern telah membuat para pengintip sendiri kini tidak lagi dianggap
berdosa, atau melanggar hak-hak asasi manusia. Segalanya perlahan-lahan diterima dan mulai
dinilai wajar. Dengan demikian, seks telah menjadi musuh dalam selimut bagi intimitas itu
sendiri. Intimitas seks mengalami kehilangan rumahnya, ketika ia dipaksa masuk dalam
ruang publik.
Catatan Tanggapan Atas Realitas Seks Masyarakat Postmodern
1. Dialektika Seks dan Kekuasaan
Seturut analisa Foucault, seksualitas merupakan arena kompleks relasi kekuasaan,
pengetahuan dan kenikmatan. Seksualitas diatur dan diarahkan untuk membentuk individu
yang patuh. Bagi Foucault, apapun peraturan dan tabu yang dipakai, seksualitas akan selalu
mencari jalan keluar penyimpangan dari aturan yang dilakukan. Dari analisa Foucault
tersebut, penulis dapat menyimpulkan bahwa seksualitas sebetulnya tidak bisa dibatasi dan
diatur dalam keketatan peraturan dan larangan. Sebab seksualitas akan selalu ada dan
berkembang selama kekuasaan itu beroperasi dalam wilayah kehidupan manusia. Membatasi
seksualitas sama halnya dengan membatasi ruang gerak kekuasaan. Oleh karena kekuasaan
adalah sesuatu yang alamiah ada dan melekat dalam hidup manusia sebagai makhluk sosial
maka seksualitas pun demikian. Sehingga tidak mengherankan jika seksualitas yang
sebelumnya selalu dikekang, kini dalam dunia postmodernisme menampilkan dirinya secara
baru dalam ruang media.
Secara garis besar Foucault merumuskan hubungan antara seks dan kekuasaan sebagai
sex in the service of power atau sebaliknya power in the service of sex. Seks melayani
kekuasaan dan sebaliknya kekuasaan melayani seks.4[4] Hemat penulis, rumusan dialektika
ini merupakan hasil analisa Foucault terhadap perbedaan wacana yang terjadi dalam
masyarakat Greco-Roman pada abad klasik, masyarakat abad pertengahan dan masyarakat
4[4] FX Rudy Gunawan, Teka-Teki Seks Dan Ecstasy, dalam BASIS, Edisi Mei Juni 1996.

modern. Seturut logika dialektika tersebut, ditemukan bahwa perbedaan wacana tentang seks
pada setiap periode umumnya terjadi karena adanya perbedaan kontrol kekuasaan.
Misalnya pada masyarakat Greco-Roman seks dimaknai sebagai ars erotica, karena
kontrol kekuasaan yang beroperasi pada saat itu tidak terkonsentrasi pada satu kekuatan
tertentu, melainkan pada masing-masing orang. Setiap orang diberi kebebasan untuk
memaknai kehidupan seksnya dengan tetap berpegang teguh pada prinsip epimeleia heautou.
Pada masyarakat abad pertengahan, seks dilihat sebagai hal yang tabu, dosa, jahat, puritan,
yang mesti dihindari, karena kontrol kekuasaan yang bermain pada masa itu adalah Gereja
dan kaum Viktorian. Sedangkan pada masyarakat modern, seks dipandang sebagai scientia
sexualis, karena kontrol kekuasaan yang berpengaruh pada masa itu adalah para ilmuwan
(psikiater, dokter, perawat, jaksa, hakim, dll).
Terhadap fakta praktik seks masyarakat postmodern tersebut, saya menemukan bahwa
argumentasi Foucault berkaitan dengan relasi dialektis seks dan kekuasaan tersebut ternyata
bisa dipertanggungjawabkan. Foucault benar, bahwa seks dan kekuasaan adalah dua hal yang
sulit untuk dipisahkan. Keduanya memiliki hubungan yang asimetris dan selalu saling
mengandaikan. Jika dalam penelusuran historisnya, Foucault menemukan bahwa kekuataan
yang berkuasa pada masyarakat abad pertengahan adalah Gereja dan kaum Viktorian, dan
pada masyarakat modern kekuasaan itu beralih ke tangan para ilmuwan, maka penulis
menemukan bahwa kekuatan yang paling mempengaruhi kehidupan seksualitas masyarakat
postmodern dewasa ini adalah media massa dan kapitalisme serta ditunjang dengan spirit
kebebasan pribadi yang cenderung dimaknai secara salah. Dengan demikian seksualitas
postmodernisme kini telah tergantikan menjadi kenikmatan imajinasi dan bergesernya tubuh
menjadi mesin. Perkembangan ilmu pengetahuan yang semakin cepat menyebabkan logika
hasrat dan politik bujuk rayu menggeser kenikmatan ragawi menjadi proses konsumsi
kenikmatan tanpa henti, yang kemudian dikenal dengan zaman post-seksualitas.
2. Subyek Sebagai Ahli Diri dalam Etika
Foucault merupakan salah seorang tokoh postmodernisme yang berusaha menguak
dan mengembalikan seks sebagaimana layaknya. Hal tersebut berlandaskan pada perlawanan
terhadap etika Kristen dan Viktorianisme yang represif, yang telah memberlakukan norma
yang seragam bagi manusia sebagai norma yang mapan, konstan, dan menghukum para
pelakunya dengan adanya pengekangan terhadap perilaku seks. Foucault beranggapan bahwa
seks merupakan resistensi subyek (manusia) dan seni eksistensi yang merupakan hasil dari
elaborasi jati diri dengan harapan akan ditemukannya pemaknaan baru, sehingga etika tidak
semata-mata bertumpu pada suatu otoritas tertentu, tetapi bagaimana subyek menjadi ahli diri
(artist of itself) yang menikmati otonomi.
Hal ini menjadi alasan mengapa Foucault lebih tertarik dengan etika seksualitas yang
dikembangkan oleh masyarakat Greco-Roman. Di mana berdasarkan etika epimeleia heautou
setiap orang sungguh diberi ruang yang seluas-luasnya untuk mengalami kenikmatan atas
tubunya, asalkan tetap dijaga keseimbangannya agar tubuh tetap berada dalam kondisi yang
terukur. Prinsip utama yang mendasari penerapan etika epimeleia heautou dalam masyarakat
Greco-Roman adalah kebebasan. Setiap orang diberi kebebasan untuk menikmati tubuh dan
juga mengalami kenikmatan melalui tubuhnya, tetapi dengan tetap memberi batasan-batasan
yang perlu atas hasratnya untuk memperoleh kenikmatan tersebut. Hemat saya, keterlibatan
Foucault dalam dunia hombreng yang dimulai sejak tahun 1975 di Amerika Serikat,
menjadi bukti nyata bagaimana ia menghayati etika seksual yang bertumpu pada prinsip
kebebasan tersebut.
Terhadap fenomena pergeseran wacana seksualitas yang terjadi dalam masyarakat
abad pertengahan dan masyarakat modern, yakni dari ruang privat menuju ruang publik

(Gereja, kaum Viktorian dan kelompok ilmuwan), Foucault mengajukan analisis yang
mengatakan bahwa fenomena tersebut justru akan menimbulkan kekacauan dan dekadensi
moral. Masyarakat abad pertengahan dan masyarakat modern memperlihatkan bagaimana
seks direduksi maknanya bahkan publik diseragamkan wacananya ketika memperbincangkan
seks. Menurut Foucault, jika seksualitas direduksi hanya kepada tahapan biologis-fisis semata
maka yang terjadi adalah kekuasaan baru yang represif pula, di mana nilai-nilai tradisi yang
masih baik ditanggalkan begitu saja. Karena itu, aksiologi dari wacana seksualitas Foucault
sesungguhnya bertujuan untuk merekonstruksi etika masyarakat postmodern melalui seks
dengan mendudukkan seksualitas (seks sebagai wacana) pada posisi yang benar. Upaya
rekonstruksi tersebut hendaknya tidak saja ditafsir sebagai reaksi terhadap moralitas Victorian
yang menjadi latar belakang pemikirannya, melainkan untuk menciptakan
tatanan etika masyarakat yang berbasis pada seks yakni etika yang bertumpu pada otonomi
diri atau kebebasan pribadi.
Ketika mencermati wacana seksualitas masyarakat postmodern, saya menemukan
bahwa idealisme Foucault untuk menerapkan etika otonomi diri dalam masyarakat
postmodern ternyata tidak terwujud sebagaimana mestinya. Mengapa? Karena etika otonomi
diri atau prinsip kebebasan yang mendasari seluruh aktivitas seksual masyarakat postmodern
umumnya tidak mempertimbangkan kaidah keseimbangan seperti yang berlaku dalam
masyarakat Greco-Roman. Jika prinsip kebebasan seks masyarakat postmodern betul-betul
diterapkan sesuai dengan maksud Foucault, yakni berdasarkan etika epimeleia heautou maka
yang terjadi bukanlah reifikasi atau komodifikasi terhadap tubuh seperti yang sedang terjadi
saat ini. Di mana tubuh dan seks hampir sering dijadikan sebagai barang dagangan untuk
memuaskan hasrat dan memperoleh keuntungan.
Selain itu, tujuan masyarakat Greco-Roman mengupayakan kaidah keseimbangan
dalam kehidupan seksnya adalah semata-mata untuk menjaga agar tubuhnya tetap sehat dan
selalu terawat. Hemat saya, masyarakat postmodern tampaknya tidak mengakomodasi tujuan
tersebut dalam aktivitas seksual mereka. Sebab hampir sebagian besar aktivitas seksual yang
terjadi saat ini umumnya berdampak destruktif atau menghancurkan entitas tubuh tersebut.
Contoh kasus yang paling pas untuk menjelaskan hal ini adalah prostitusi, masturbasi, dan
fenomena seks bebas yang berujung pada penularan virus HIV/AIDS. Orang-orang yang
terlibat dalam kasus-kasus semacam itu, sesungguhnya adalah mereka yang hanya tahu
memanfaatkan tubuh sebagai alat pemenuhan hasrat atau kenikmatan tetapi lupa akan
tanggung jawab mereka untuk menjaga dan merawatnya agar tetap sehat.
Etika Seksual Yang Membebaskan: Sebuah Solusi!
Seks bebas (free sex), hubungan-hubungan pra dan ekstra marital seks, pornografi dan
pornoaksi, pelacuran, perselingkuhan, homoseksualitas, seks dalam dunia maya serta aneka
sikap permisif lainnya, telah menjadi gejala umum yang makin meluas di mana-mana.
Tampaknya ide dasar di balik fenomena revolusi seksual adalah kebebasan mengekspresikan
hasrat seksual tanpa didasarkan pada satu nilai tertentu, sepeti norma adat, agama, hukum,
dan sebagainya. Nilai-nilai yang dikenal sebagai rambu-rambu imperatif-etis dalam perilaku
seksual seperti dilarang berzinah, dilarang berhubungan badan sebelum nikah, dilarang
memamerkan aurat seks di depan umum, dilarang memperdagangkan tubuh, dilarang
melakukan hubungan seksual dengan sesama jenis, pada saat ini tampaknya telah mengalami
pergeseran atau bahkan pendobrakan-pendobarakan yang luar biasa hebat sehingga membuat
nilai-nilai tersebut tidak bisa lagi mendasari perilaku seksual masyarakat postmodern secara
baik dan benar.
Berhadapan dengan realitas demikian, saya berpendapat bahwa etika kiranya harus
tanggap terhadap perubahan-perubahan tersebut, lalu mencari nilai-nilai etis baru yang dapat

membantu setiap orang untuk bisa tegas mengambil sikap, menolak atau menerima
perubahan perilaku seksual yang terjadi akhir-akhir ini. Misalnya etika perlu memberi
jawaban pada pertanyaan: dalam fenomena seks pranikah, perselingkuhan, homoseksualitas,
seks dalam dunia maya, apakah memang dimungkinkan sebuah toleransi? Jika ya, maka
seberapa besar toleransi itu bisa diberikan? Jika tidak, langkah-langkah apa yang harus dibuat
untuk bisa mengembalikan seks itu pada tempatnya.
Aneka problematika seksual dalam masyarakat postmodern dewasa ini, bisa saja
terjadi karena ketidaktahuan masyarakat tentang apa sebenarnya makna seksualitas itu dalam
hidup manusia. Meski manusia itu esensinya adalah homo sexualis, pribadi yang
berseksualitas, namun hal ini tidak menjadi jaminan bagi setiap pribadi untuk memahami
makna seksualitasnya secara baik dan benar. Buktinya jelas, praktik penyimpangan seksual
terjadi di mana-mana, bahkan dinilai semakin hari semakin meningkat. Dengan adanya fakta
sosial tersebut, penulis menilai bahwa kebanyakan masyarakat baru tiba pada titik
pemahaman yang bersifat biologis, yakni melihat seks itu sebagai sesuatu yang nikmat dan
karenanya wajar jika diumbar dan dieksploitasi habis-habisan sampai beragam kemungkinan
bentuknya. Tak ayal jika seks sering diartikan sebagai suatu tindakan for fun atau sekadar
rekreasi semata, sex as recreational.
Salah kaprah dalam penafsiran ini kemudian dimanfaatkan secara efektif oleh
kalangan pebisnis atau kaum kapitalis. Dengan motif mencari keuntungan yang sebanyakbanyaknya, kaum kapitalis mulai memanfaatkan nilai komersial seks untuk menawarkan
berbagai macam produknya di pasar global. Peluang yang dibaca para pebisnis ternyata
mendulang sukses yang besar. Nilai jual seks ternyata melambung tinggi di pasaran global.
Dengan demikian seks hanya menjadi media, alat, sarana untuk kepentingan bisnis, yang
makin menjauhkan orang dari nilai-nilai dasar seksualitas yang seharusnya digali dan
dicarinya. Akibatnya perilaku orang pun makin kacau dan bahkan keluar dari batasan-batasan
struktural yang mengikatnya secara natural. Penulis optimis bahwa, semua ini terjadi karena
masyarakat tidak mempunyai pemahaman yang benar tentang etika seksual. Kalaupun ada
pihak-pihak tertentu yang mengaku bahwa mereka sudah memahami secara benar esensi
seksualitasnya, tetapi jika praksis hidupnya tidak sinkron dengan pemahamannya, maka
mereka adalah orang-orang yang tidak beretika. Mereka layak diberi sanksi sosial karena
telah dengan tahu dan mau mencederai etika seksual tersebut.
Pertanyaannya, apa itu etika seksual? Hemat saya, etika seksual pada hakikatnya
adalah suatu upaya manusia untuk memahami seksualitas itu secara an sich dan berupaya
sedapat mungkin menemukan nilai-nilai inheren yang terkandung di dalamnya, sehingga
pada gilirannya bisa dijadikan sebagai patokan universal untuk mengatur perilaku seksual
manusia. Untuk bisa merumuskan etika seksual ini secara lebih konkret maka langkah
pertama yang mesti dibuat adalah mengembalikan seks pada dirinya sendiri dengan
membebaskannya dari nilai-nilai kultural maupun konsep gender yang melingkupinya. Tetapi
ini pun tidak boleh menjadi sebuah gerakan liberalisasi seksual, sebagaimana yang sedang
menggejala dalam lingkup masyarakat postmodern saat ini. Pembebasan ini lebih bersifat
pembersihan dan bukan pemberontakan terhadap kultur atau konstruksi yang
membelenggunya. Dan apabila memang konstruksi gender atau kerangka moralitas kultural
yang membelenggunya tidak mengamini apa yang merupakan nilai murni dari seksualitas itu,
maka sebuah koreksi memang harus dilakukan sebagaimana pemikiran feminisme selama ini
yang mencoba mengoreksi ketimpangan konstruksi gender. Bedanya, bila feminisme lebih
bersifat pembebasan kaum perempuan dari penindasan yang menimpanya, maka upaya
perumusan etika seksual ini lebih merupakan upaya pembebasan manusia dari kekeliruankekeliruan seksualnya secara umum.

Setprut pengamatan saya, kekeliruan menafsirkan konsep kebebasan merupakan


perilaku mendasar yang menggarisbawahi pelanggaran seks dalam kehidupan masyarakat
dewasa ini. Konsep itu telah membuka ruang penafsiran yang beragam tentang model
perilaku seksual yang benar. Hal ini jelas terlihat dalam berbagai upaya kaum homoseks dan
para maniak free sex, yang berjuang mengekspresikan hasrat atau dorongan seksualnya secara
bebas. Selain itu, tampaknya kekeliruan konsep kebebasan juga telah mengubah tujuan
utama seks. Di mana tujuan utama seks seharusnya memperkaya atau mengangkat sebuah
relasi dan menentukan harkat kepribadian seseorang, tetapi ketika kebebasan (dalam artian
negatif) yang lebih diutamakan dalam kehidupan seks, maka hampir pasti pribadi yang
bersangkutan akan mengalami disintegrasi dan disorientasi diri dalam hidupnya.
Hubungan seks yang sehat ialah yang membantu perkembangan yang kreatif dan
orientatif menuju integrasi diri. Seksualitas yang destruktif menyebabkan keputusasaan
pribadi manusia dan persahabatan antarpribadi. 5[5] Ada beberapa nilai yang dapat ditawarkan
sebagai pedoman untuk mengembangkan sebuah etika seksual yang membebaskan
masyarakat dari belenggu destruktivitas seksual. Pertama, hubungan seksual seharusnya
membantu perkembangan pribadi menuju kedewasaan. Kedua, hubungan seksual seharusnya
mengekspresikan kedalaman hubungan secara terbuka, tulus dan semurni mungkin serta
memudahkan perkembangan hubungan yang stabil. Ketiga, hubungan seksual seharusnya
mencerminkan adanya rasa tanggung jawab antarpasangan, dan kemudian dapat saling
memberi ungkapan cinta yang utuh menuju kualitas palayanan hidup berdasarkan cara-cara
yang kreatif. Keempat, hubungan seksual juga seharusnya dapat memberi kesaksian pada
penghargaan suka cita atas anugerah hidup dan misteri cinta.6[6]
Sebuah etika yang mengatur seksualitas manusia baru bisa dikatakan membebaskan
jika masyarakat sungguh menyadari betapa pentingnya etika tersebut dalam kehidupannya
dan berjuang untuk mewujudkan nilai-nilai tersebut. Dengan cara ini kita menjadi tahu bahwa
seks bukanlah soal ukuran kelamin, ukuran buah dada, bokong seksi, kenikmatan yang
dirasakan dalam dunia cyber, dan sebagainya. Dengan cara ini kita menjadi sadar bahwa seks
itu adalah sebuah ukuran atau indikator seberapa bijaksana kita sesungguhnya berhadapan
dengan tawaran-tawaran menarik yang disajikan oleh media massa seturut logika kapitalisme.
Dengan cara ini juga mungkin kita akan mengetahui bagaimanakah seharusnya sebuah
hubungan seksual yang ideal menghargai harkat kemanusiaan kita. Dan dengan etika seksual
ini, bukan tidak mungkin pula kita menjadi lebih tahu apa dan siapa diri kita yang
sebenarnya. Maksudnya dapat mengetahui esensi dari eksistensi kita sebagai manusia. Karena
pada hakekatnya esensi dari eksistensi manusia itu ada dalam seksualitas.

5[5] Anthony Kosnik (Ed.), Human Sexuality: New Directions in American


Catholic Thought (New York: Paulist, 1977), hlm. 82.
6[6] Gregory C. Higgins, 8 Dilema Moral Zaman Ini (Yogyakarta: Kanisius,
2006), hlm. 69-70.