Anda di halaman 1dari 47

LAPORAN DISKUSI KELOMPOK

FUNDAMENTAL OF NURSING 2
KONSEP TUMBUH KEMBANG

Disusun oleh :
Syifa Ramadiana

(11141040000039)

Puspita Sari

(11141040000040)

Dita Retno Wulandari

(11141040000041)

Pujiati

(11141040000042)

Imas Meilia Hardiah

(11141040000043)

Riri Maulida Muntazah

(11141040000044)

Ratih Yulianingsih

(11141040000046)

Resha Pahlevi

(11141040000047)

Alfiani

(11141040000048)

Rohmatulloh Amirodtudin

(11141040000049)

KELOMPOK 4
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
SEPTEMBER/2015

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami mengucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena
berkat rahmat dan kuasa-Nya kami mampu menyelesaikan tugas makalah
Konsep Tumbuh Kembang dengan baik. Makalah ini dibuat agar dapat
menambah pengetahuan pembaca tentang tahap tumbuh kembang serta hal hal
yang terkait dengannya.
Demikianlah makalah ini kami buat, semoga bermanfaat bagi pembaca
dalam memperdalam atau menambah wawasan dan pengetahuan tentang Konsep
Tumbuh Kembang. Jika terdapat kata maupun penulisan yang salah, kami mohon
maaf. Kritik dan saran yang membangun sangat kami butuhkan agar makalah
selanjutnya dapat kami kerjakan lebih baik lagi.

Tangerang Selatan, September 2015

Tim Penyusun

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...............................................................................................
DAFTAR ISI............................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang..........................................................................................

1.2

Rumusan Masalah.....................................................................................

1.3

Tujuan........................................................................................................

1.4

Metode Penulisan......................................................................................

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Perbedaan Pertumbuhan dan Perkembangan serta
Korelasinya..........................................................................................................
2.2

Teori Perkembangan Menurut Para Ahli...................................................

2.2.1

Teori Kognitif Jean Peaget.................................................................

2.2.2

Teori Tumbuh Kembang Menurut Sigmund Freud............................

2.2.3

Teori Tumbu Kembang menurut Erik Erikson...................................

2.2.5

Teori Tumbuh Kembang menurut Arnold Gesell.............................

2.2.6
Teori Tumbuh Kembangan Menurut Robert
Havighurst......................................................................................................
2.3

Tahapan Tumbuh Kembang Manusia......................................................

2.4 Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan dan


Perkembangan Manusia.....................................................................................
2.4.1

Lingkungan eksternal.......................................................................

2.4.2

Lingkungan internal.........................................................................

2.4.3

Faktor Pranikah................................................................................

2.4.4

Faktor Pranatal.................................................................................

2.5

Konsep Tumbuh Kembang Manusia.......................................................

2.5.1

Prinsip Pertimbuhan dan Perkembangan.........................................

2.5.2

Ciri ciri Pertumbuhan dan Perkembangan anak............................

2.6

Konsep Tumbuh Kembang Manusia Menurut Islam..............................


2

2.6.1

Fase Sebelum Lahir..........................................................................

2.6.2

Fase Setelah Lahir............................................................................

BAB III PENUTUP


3.1

Kesimpulan..............................................................................................

3.2

Saran........................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Manusia adalah makhluk yang selalu mengalami perubahan dan
perkembangan dalam masa hidupnya. Tumbuh kembang merupakan proses
yang dinamik sepanjang kehidupan manusia. Dimana pertumbuhan bersifat
kuantitatif (dapat diukur) sedangkan perkembangan bersifat kualitatif (tidak
dapat diukur). Namun keduanya terjadi secara sinkron pada setiap individu.
Perubahan yang terjadi pada satu fase menjadi dasar perkembangan pada fase
berikutnya.
Tahap tumbuh dan kembang terdiri atas beberapa tahap yang
berkesinambungan mencakup masa neonatus, bayi, todler, pra- sekolah,
sekolah, remaja, dewasa muda, dewasa madya dan dewasa tua atau lansia. Dan
pada setiap tahap memiliki ciri yang berbeda- beda. Seorang anak bukan
miniatur orang dewasa merupakan karena anak kecil sangat khas dan
mempunyai sifat yang berbeda dari orang dewasa. Walaupun pertumbuhan dan
perkembangan berjalan menurut tahapan- tahapan tertentu, tapi setiap anak
terlahir dengan keunikannya sendiri. Oleh karena itu, orang tua hendaknya
tidak menuntut anak untuk bisa sama dengan anak lain yang dianggap ideal
dalam masalah pertumbuhan dan perkembangannya. Pertumbuhan dan
perkembangan yang paling mencolok adalah pada masa kanak- kanak dan
remaja.
Dalam proses tumbuh kembang terdapat beberapa faktor yang
mempengaruhi proses tumbuh kembang baik internal maupun eksternal.
Faktor internal seperti hereditas dan tempramen, sedangkan faktor eksternal
seperti keluarga, kelompok teman sebaya, pengalaman hidup, nutrisi,
kesehatan prenatal, kesehatan lingkungan dan lain sebagainya. Banyak teori
dari para ahli yang menjelaskan tentang pertumbuhan dan perkembangan
manusia. Seperti teori psikoseksual Erickson, Teori psikoseksual Freud, teori

perkembangan kognitif Piaget, dan masih banyak lagi. Dalam islam tumbuh
kembang juga sudah dijelaskan baik di dalam Al-Quran maupun Hadits.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa perbedaan pertumbuhan dan perkembangan dan bagaimana
korelasinya?
2. Bagaimana teori perkembangan menurut para ahli?
3. Bagaimana tahapan pertumbuhan dan perkembangan manusia?
4. Faktor

apa

saja

yang

dapat

mempengaruhi

pertumbuhan

dan

perkembangan manusia?
5. Bagaimana konsep pertumbuhan dan perkembangan manusia?
6. Bagaimana

pandangan

islam

tentang

konsep

pertumbuhan

dan

perkembangan?
1.3 Tujuan
1. Dapat menjelaskan perbedaan pertumbuhan dan perkembangan dan
korelasinya.
2. Dapat menjelaskan teori perkembangan menurut para ahli.
3. Dapat menjelaskan tahapan pertumbuhan dan perkembangan manusia.
4. Dapat menjelaskan faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan
perkembangan manusia.
5. Dapat menjelaskan konsep pertumbuhan dan perkembangan manusia.
6. Dapat menjelaskan konsep pertumbuhan dan perkembangan menurut
Islam.

1.4 Metode Penulisan


Pembuatan makalah ini menggunakan metode studi pustaka, yaitu
mengumpulkan materi-materi dan informasi melalui buku-buku, jurnal, artikel
ilmiah , dan sebagainya.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Perbedaan Pertumbuhan dan Perkembangan serta Korelasinya
Whaley dan Wong (2000) mengemukakan pertumbuhan sebagai suatu
peningkatan jumlah dan ukuran, sedangkan pertumbuhan menitikberatkan
pada perubahan yang terjadi secara bertahap dari tingkat yang paling rendah
ke tingkat yang paling tinggi dan kompleks melalui proses maturasi dan
pembelajaran. Marlow (1988) mengemukakan pertumbuhan sebagai suatu
peningkatan ukuran tubuh yang dapat diukur dengan meter atau sentimeter
untuk tinggi badan dan kilogram atau gram untuk berat badan, sedangkan
perkembangan sebagai peningkatan keterampilan dan kapasitas anak untuk
berfungsi secara bertahap dan terus-menerus. (Supartini, 2004).
Behrman

(2000)

mengemukakan

bahwa

pertumbuhan

dan

perkembangan pada anak terjadi mulai dari pertumbuhan dan perkembangan


secara fisik, intelektual, maupun emosional. Pertumbuhan dan perkembangan
secara fisik dapat berupa perubahan ukuran besar kecilnya fungsi organ mulai
dari tingkat sel hingga perubahan organ tubuh. Pertumbuhan dan
perkembangan intelektual anak dapat dilihat dari kemampuan secara simbolik
3

maupun abstrak seperti berbicara, bermain, berhitung, membaca, dan lain-lain.


Perkembangan dan pertumbuhan secara emosional anak dapat dilihat dari
perilaku sosial di lingkungan anak. (Hidayat, 2008)
Pertumbuhan dan perkembangan anak dalam ilmu biologi, tumbuhkembang merupakan dua proses yang saling berkaitan dan sulit untuk
dipisahkan satu sama lain. Ciri khas seorang bayi/anak yaitu tumbuh dan
berkembang namun memiliki pengertian yang berbeda. Tumbuh adalah proses
bertambahnya ukuran berbagai organ (fisik) disebabkan karena peningkatan
ukuran dari masing-masing sel dalam kesatuan sel yang membentuk organ
tubuh

atau

pertambahan,

jumlah

keseluruhan

sel

atau

keduanya.

Perkembangan adalah suatu proses pematangan majemuk yang berhubungan


dengan aspek diferensiasi bentuk atau fungsi termasuk perubahan sosial dan
emosi. Dengan demikian proses perkembangan berhubungan dengan aspek
nonfisik seperti kecerdasan, tingkah laku, dan lain-lain. Dalam Ilmu
Kesehatan Anak, kata pertumbuhan dan perkembangan anak diartikan sebagai
semua aspek kemajuan yang dicapai oleh jasad manusia dari konsepsi hingga
dewasa. (Suryanah, 1996)
Jadi, pertumbuhan adalah proses pertambahan suatu jumlah atau
ukuran yang dapat dihitung dan dilihat secara fisik sedangkan perkembangan
adalah suatu proses perubahan yang meningkatkan fungsi atau keterampilan
secara bertahap dan terus-menerus dari tingkat yang paling rendah ke tingkat
yang paling tinggi seperti perubahan emosi, sosial, tingkah laku, dan
sebagainya.

Gambar
1. Pertumbuhan dan Perkembangan Manusia

Hubungan antara pertumbuhan dan perkembangan merupakan proses


yang saling berkesinambungan. Tumbuh dan kembang ini tanpa sadar terjadi
secara bersama walaupun memiliki definisi yang berbeda. Keduanya juga
saling mempengaruhi dan dipengaruhi. Contohnya, pertumbuhan tidak hanya
dipengaruhi oleh jumlah dan kualitas makanan saja, tetapi juga sejauh mana
makanan tersebut dapat diasimilasi dan dipergunakan tubuh. Makanan yang
baik dipengaruhi pula oleh kesehatan yang baik seperti anak yang sedang
diare, tentu badan tidak akan menyerap makanan dengan baik sehingga
pertumbuhannya sedikit terganggu. Selain itu, pertumbuhan juga dipengaruhi
perkembangan sosial, psikologis, serta bagaiamana kualitas hubungan
individu dengan lingkungannya.
Perkembangan individu (anak) tidak sama dengan pertumbuhannya.
Keduanya (pertumbuhan dan perkembangan) memang benar saling
berkaitan. Jika pertumbuhan menjelaskan perubahan dalam ukuran, maka
perkembangan menjelaskan perubahan dalam kompleksitas dan fungsinya.
Contohnya seorang anak sudah dapat melihat sejak lahir. Seorang anak sudah
5

dapat berkomunikasi sejak lahir dengan menangis, ekspresi muka dan


gerakan-gerakan. Oleh karena itu, maka anak tersebut sudah mengalami
perkembangan dan sebagai orangtua memiliki pengetahuan tentang
perkembangan apa aja yang akan terjadi pada anak. Contoh lainnya, apabila
anak berinteraksi dengan lingkungan itu berarti anak dipengaruhi dan
memengaruhi lingkungan. Maksudnya anak akan mengalami perkembangan
psikologis maupun pertumbuhan dan perkembangan fisik. Sedangkan
perkembangan kognitif dan sosial seseorang dipengaruhi oleh pertumbuhan
sel otak serta perkembangan hubungan antar sel otak. Seperti halnya kondisi
kesehatan dan gizi anak walaupun masih dalam kandungan ibu akan
memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak.
2.2 Teori Perkembangan Menurut Para Ahli
2.2.1

Teori Kognitif Jean Peaget


Pakar psikologi Swiss terkenal yaitu Jean Piaget (1896-1980),
mengatakan bahwa anak dapat membangun secara aktif dunia kognitif
mereka sendiri. Piaget yakin bahwa anak-anak menyesuaikan pemikiran
mereka untuk menguasai gagasan-gagasan baru, karena informasi
tambahan akan menambah pemahaman mereka terhadap dunia. Dalam
pandangan Piaget, terdapat dua proses yang mendasari perkembangan
dunia individu, yaitu pengorganisasian dan penyesuaian. Untuk membuat
dunia kita diterima oleh pikiran, kita melakukan pengorganisasian
pengalaman-pengalaman yang telah terjadi. Piaget yakin bahwa kita
menyesuaikan diri dalam dua cara yaitu asimiliasi dan akomodasi.
( Soetjiningsih, (2007), Tumbuh Kembang Anak dan Remaja, pada
Pendidikan Ilmu Kesehatan Anak, Denpasar: FK UNUD)
Piaget mengatakan bahwa kita melampui perkembangan melalui
empat tahap dalam memahami dunia. Masing-masing tahap terkait dengan
usia dan terdiri dari cara berpikir yang berbeda. Berikut adalah penjelasan
lebih lanjut:
1) Tahap sensorimotor (Sensorimotor stage), yang terjadi dari lahir
hingga usia 2 tahun, merupakan tahap pertama piaget. Pada tahap ini,
6

perkembangan mental ditandai oleh kemajuan yang besar dalam


kemampuan bayi untuk mengorganisasikan dan mengkoordinasikan
sensasi (seperti melihat dan mendengar) melalui gerakan-gerakan dan
tindakan-tindakan fisik.
2) Tahap praoperasional (preoperational stage), yang terjadi dari usia 2
hingga 7 tahun, merupakan tahap kedua piaget, pada tahap ini anak
mulai melukiskan dunia dengan kata-kata dan gambar-gambar. Mulai
muncul pemikiran egosentrisme, animisme, dan intuitif.Egosentrisme
adalah suatu ketidakmampuan untuk membedakan antara perspektif
seseorang dengan perspektif oranglain dengan kata lain anak melihat
sesuatu hanya dari sisi dirinya.
3) Tahap operasional konkrit (concrete operational stage), yang
berlangsung dari usia 7 hingga 11 tahun, merupakan tahap ketiga
piaget. Pada tahap ini anak dapat melakukan penalaran logis
menggantikan pemikiran intuitif sejauh pemikiran dapat diterapkan ke
dalam cotoh-contoh yang spesifik atau konkrit.
4) Tahap operasional formal (formal operational stage), yang terlihat pada
usia 11 hingga 15 tahun, merupakan tahap keempat dan terkahir dari
piaget. Pada tahap ini, individu melampaui dunia nyata, pengalamanpengalaman konkrit dan berpikir secara abstrak dan lebih logis.
( Patricia A. Potter dan Anne Griffin Perry, Buku Ajar Fundamental
Keperawatan, Penerbit Buku Kedokteran EGC, 2005.)

2.2.2

Teori Tumbuh Kembang Menurut Sigmund Freud


Teori perkembangan psikoseksual Sigmund Freudadalah salah satu
teori yang paling terkenal, akan tetapi juga salah satu teori yang paling
kontroversial. Freud percaya kepribadian yang berkembang melalui
serangkaian tahapan masa kanak-kanak di mana mencari kesenanganenergi dari id menjadi fokus pada area sensitif seksual tertentu. Energi
psikoseksual, atau libido, digambarkan sebagai kekuatan pendorong di
belakang perilaku.
7

Menurut Sigmund Freud, kepribadian sebagian besar dibentuk oleh


usia lima tahun. Awal perkembangan berpengaruh besar dalam
pembentukan kepribadian dan terus mempengaruhi perilaku di kemudian
hari. Jika tahap-tahap psikoseksual selesai dengan sukses, hasilnya adalah
kepribadian yang sehat. Jika masalah tertentu tidak diselesaikan pada
tahap yang tepat, fiksasi dapat terjadi. fiksasi adalah fokus yang gigih pada
tahap awal psikoseksual. Sampai konflik ini diselesaikan, individu akan
tetap terjebak dalam tahap ini. Misalnya, seseorang yang terpaku pada
tahap oral mungkin terlalu bergantung pada orang lain dan dapat mencari
rangsangan oral melalui minum, atau makan.( Rudolph Abraham M. at all,
Buku Ajar Pediatri, EGC, 2006.) Proses tahapan tumbuh kembang
menurut Sigmund freund diantaranya:
1) Fase Oral
Pada tahap oral, sumber utama bayi interaksi terjadi melalui
mulut, sehingga perakaran dan refleks mengisap adalah sangat penting.
Mulut sangat penting untuk makan, dan bayi berasal kesenangan dari
rangsangan oral melalui kegiatan memuaskan seperti mencicipi dan
mengisap. Karena bayi sepenuhnya tergantung pada pengasuh (yang
bertanggung jawab untuk memberi makan anak), bayi juga
mengembangkan rasa kepercayaan dan kenyamanan melalui stimulasi
oral. (Rudolph Abraham M. at all, Buku Ajar Pediatri, EGC, 2006.)
2) Fase Anal
Pada tahap anal, Freud percaya bahwa fokus utama dari libido
adalah pada pengendalian kandung kemih dan buang air besar. Konflik
utama pada tahap ini adalah pelatihan toilet anak harus belajar untuk
mengendalikan kebutuhan tubuhnya. Mengembangkan kontrol ini
menyebabkan rasa prestasi dan kemandirian.Menurut Sigmund Freud,
keberhasilan pada tahap ini tergantung pada cara di mana orang tua
pendekatan pelatihan toilet. Orang tua yang memanfaatkan pujian dan
penghargaan untuk menggunakan toilet pada saat yang tepat
mendorong hasil positif dan membantu anak-anak merasa mampu dan
8

produktif. Freud percaya bahwa pengalaman positif selama tahap ini


menjabat sebagai dasar orang untuk menjadi orang dewasa yang
kompeten, produktif dan kreatif.Namun, tidak semua orang tua
memberikan dukungan dan dorongan bahwa anak-anak perlukan
selama tahap ini. Beberapa orang tua bukan menghukum, mengejek
atau malu seorang anak untuk kecelakaan. Menurut Freud, respon
orangtua tidak sesuai dapat mengakibatkan hasil negatif. Freud percaya
bahwa kepribadian kuat-anal berkembang di mana individu tersebut
ketat, tertib, kaku dan obsesif.( Rudolph Abraham M. at all, Buku Ajar
Pediatri, EGC, 2006.)
3) Fase Phalic
Pada tahap phallic, fokus utama dari libido adalah pada alat
kelamin. Anak-anak juga menemukan perbedaan antara pria dan
wanita. Freud juga percaya bahwa anak laki-laki mulai melihat ayah
mereka sebagai saingan untuk ibu kasih sayang itu. Kompleks
Oedipusmenggambarkan perasaan ini ingin memiliki ibu dan
keinginan untuk menggantikan ayah.Namun, anak juga kekhawatiran
bahwa ia akan dihukum oleh ayah untuk perasaan ini, takut Freud
disebut pengebirian kecemasan.( Rudolph Abraham M. at all, Buku
Ajar Pediatri, EGC, 2006)
4) Fase Latent
Periode laten adalah saat eksplorasi di mana energi seksual
tetap ada, tetapi diarahkan ke daerah lain seperti pengejaran intelektual
dan interaksi sosial. Tahap ini sangat penting dalam pengembangan
keterampilan sosial dan komunikasi dan kepercayaan diri. Freud
menggambarkan fase latens sebagai salah satu yang relatif stabil. Tidak
ada organisasi baru seksualitas berkembang, dan dia tidak membayar
banyak perhatian untuk itu. Untuk alasan ini, fase ini tidak selalu
disebutkan dalam deskripsi teori sebagai salah satu tahap, tetapi
sebagai suatu periode terpisah.( Rudolph Abraham M. at all, Buku Ajar
Pediatri, EGC, 2006.)
9

5) Fase Genital
Pada tahap akhir perkembangan psikoseksual, individu
mengembangkan minat seksual yang kuat pada lawan jenis. Dimana
dalam tahap-tahap awal fokus hanya pada kebutuhan individu,
kepentingan kesejahteraan orang lain tumbuh selama tahap ini. Jika
tahap lainnya telah selesai dengan sukses, individu sekarang harus
seimbang, hangat dan peduli. Tujuan dari tahap ini adalah untuk
menetapkan

keseimbangan

antara

berbagai

bidang

kehidupan.

( Rudolph Abraham M. at all, Buku Ajar Pediatri, EGC, 2006)


2.2.3

Teori Tumbu Kembang menurut Erik Erikson


Teori Erik Erikson tentang perkembangan manusia dikenal dengan
teori perkembangan psiko-sosial. Teori perkembangan psikososial ini
adalah salah satu teori kepribadian terbaik dalam psikologi.
Ericson memaparkan teorinya melalui konsep polaritas yang
bertingkat/bertahapan.

Ada 8 (delapan) tingkatan perkembangan yang

akan dilalui oleh manusia. Menariknya bahwa tingkatan ini bukanlah


sebuah gradualitas. Manusia dapat naik ketingkat berikutnya walau ia
tidak tuntas pada tingkat sebelumnya. Setiap tingkatan dalam teori Erikson
berhubungan dengan kemampuan dalam bidang kehidupan. Jika
tingkatannya tertangani dengan baik, orang itu akan merasa pandai. Jika
tingkatan itu tidak tertangani dengan baik, orang itu akan tampil dengan
perasaan tidak selaras.( Wong Donna L. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik
Vol 1, 2009). Berikut tahapan tumbuh kembang diantaranya:
1) Tahap 1. Trust vs Mistrust (percaya vs tidak percaya)
-

Terjadi pada usia 0 s/d 18 bulan.


Tingkat pertama teori perkembangan psikososial Erikson terjadi
antara kelahiran sampai usia satu tahun dan merupakan tingkatan

paling dasar dalam hidup.


Jika anak berhasil membangun kepercayaan, dia akan merasa
selamat dan aman dalam dunia. Pengasuh yang tidak konsisten,
10

tidak tersedia secara emosional, atau menolak, dapat mendorong


perasaan tidak percaya diri pada anak yang di asuh. Kegagalan
dalam

mengembangkan

kepercayaan

akan

menghasilkan

ketakutan dan kepercayaan bahwa dunia tidak konsisten dan tidak


dapat di tebak.( Wong Donna L. Pedoman Klinis Kperawatan
Pediatrik edisi 4, 2004.)
2) Tahap 2. Otonomi (Autonomy) VS malu dan ragu-ragu (shame and
doubt)
- Terjadi pada usia 18 bulan s/d 3 tahun.
- Tingkat ke dua dari teori perkembangan psikososial Erikson ini
terjadi selama masa awal kanak-kanak dan berfokus pada
-

perkembangan besar dari pengendalian diri.


Kejadian-kejadian
penting
lain
meliputi

pemerolehan

pengendalian lebih yakni atas pemilihan makanan, mainan yang


disukai, dan juga pemilihan pakaian.
-

Anak yang berhasil melewati tingkat ini akan merasa aman dan
percaya diri, sementara yang tidak berhasil akan merasa tidak
cukup dan ragu-ragu terhadap diri sendiri. (Wong Donna L.
Pedoman Klinis Kperawatan Pediatrik edisi 4, 2004)

3) Tahap 3. Inisiatif (Initiative) vs rasa bersalah (Guilt)


-

Terjadi pada usia 3 s/d 5 tahun.


Selama masa usia prasekolah mulai menunjukkan kekuatan dan
kontrolnya akan dunia melalui permainan langsung dan interaksi
sosial lainnya. Mereka lebih tertantang karena menghadapi dunia
sosial yang lebih luas, maka dituntut perilaku aktif dan bertujuan.

Mereka yang gagal mencapai tahap ini akan merasakan perasaan


bersalah, perasaan ragu-ragu, dan kurang inisiatif. Perasaan
bersalah yang tidak menyenangkan dapat muncul apabila anak
tidak diberi kepercayaan dan dibuat merasa sangat cemas.
Erikson yakin bahwa kebanyakan rasa bersalah dapat

digantikan dengan cepat oleh rasa berhasil.( Wong Donna L. Pedoman


Klinis Kperawatan Pediatrik edisi 4, 2004).
11

4) Tahap 4.Industry vs Inferiority


Periode perkembangan pada masa pertengahan dan akhir anakanak (tahun- tahun sekolah, 6 tahunpubertas). Pada masa ini
berkembang

kemampuan

berfikir

deduktif,

disiplin

diri

dan

kemampuan berhubungan dengan teman sebaya serta rasa ingin tahu


akan meningkat. Ia mengembangkan suatu sikap rajin dan mempelajari
sebab akibat dari apa yang mereka lakukan. Lebih memperhatikan apa
yang trejadi disekitarnya, anak-anak berimajinasi memperoleh
kemampuan 1 langkah berpikir mengkoordinasi pemikiran & idenya
dengan peristiwa tertentu ke dalam sistem pemikirannya sendiri.
(Hidayat A, Azis A, Pengantar Ilmu Kesehatan Anak 1. Salemba
Medika,2008)
5) Tahap 5.Ego-Identity vs Role Confusion (Identitas Diri vs Kekacauan
Peran)
Periode perkembangan pada masa remaja 12 -20 tahun. Pada
tahap ini remaja atau individu dapat mengenal lebih dalam tentang
dirinya, sifat-sifat mereka, keinginan atau cita-cita, tujuan mereka
hidup, dan lain-lain yang bersifat mengenal pribadi masing-masing.
Masa ini mengembangkan perasaan identitas ego yang mantap pada
kutup positif dan identitas ego yang kacau pada kutub negatif.
Erickson menegaskan bahwa ada tiga unsur yang merupakan
persyaratan didalam pembentukan identitas ego, yaitu :
Individu yang bersangkutan harus menerima atau menggangap
dirinya itu sama didalam berbagai situasi pengalaman dengan teman
sebayanya. Orang orang disekitarnya, dalam satu lingkungan sosial
harus memiliki persepsi yang sama terhadap diri individu tersebut.
Persepsi diri individu yang bersangkutan harus memdapat uji validitas
dalam pengalaman hubungan antara manusia. Jadi, identitas ego positif
akan menggambarkan kemampuan pemuda pemudi yang memahami
dan menyakini tuntutan norma norma sosial, sehingga tumbuh rasa

12

kesetiaan.(Hidayat A, Azis A, Pengantar Ilmu Kesehatan Anak 1.


Salemba Medika,2008)
6) Tahap 6. Intimacy vs Isolation (Keintiman vs Pengasingan)
Periode perkembangan pada masa awal dewasa (20-24 tahun).
Menurut Erickson, masa ini menumbuhkan kemampuan dan kesediaan
meleburkan diri dengan diri orang lain, tanpa merasa takut merugi atau
kehilangan sesuatu yang ada pada dirinya yang disebut Intimasi.
Ketidak

mampuan

untuk

masuk

kedalam

hubungan

yang

menyenangkan serta akrab dapat menimbulkan hubungan sosial yang


hampa dan terisolasi atau tertutup ( menutup diri ). (Hidayat A, Azis A,
Pengantar Ilmu Kesehatan Anak 1. Salemba Medika,2008)
7) Tahap 7. Generativity vs Stagnation (Perluasan vs Stagnasi).
Periode perkembangan pada masa pertengahan dewasa (sekitar
25 -50an). Masa dewasa tengah, berlangsung pada usia 25-45 tahun.
Generativitas yang ditandai jika individu mulai menunjukkan
perhatiannya terhadap apa yang dihasilkan, keturunan, produk-produk,
ide-ide, dan keadaan masyarakat yang berkaitan dengan kehidupan
generasi-generasi mendatang adalah merupakan hal yang positif.
Sebaliknya, apabila generativitas lemah atau tidak diungkapkan maka
kepribadian akan mundur dan mengalami pemiskinan serta stagnasi,
jika pada usia ini kehidupan individu didominasi oleh pemuasan dan
kesenangan diri sendiri saja. Individu negatif tidak menunjukkan
fungsi-fungsi produktif, baik sebagai perseorangan maupun sebagai
anggota masyarakat.( Hidayat A, Azis A, Pengantar Ilmu Kesehatan
Anak 1. Salemba Medika,2008)
8) Tahap 8. Integrity vs Despair (Integritas dan Kekecewaan).
Periode perkembangan pada masa akhir dewasa (60 tahunan).
Masa untuk melihat kembali apa yang telah kita lakukan dalam
kehidupan kita, harapan positif. Kehidupan baik akan merasa puas atau
yang disebut integritas. Masa lalu negatif akan timbul rasa
keputusasaan. Integritas paling tepat dilukiskan sebagai suatu keadaan
13

yang dicapai seseorang setelah memelihara benda -benda dan orangorang, produk-produk dan ide-ide, dan setelah berhasil menyesuaikan
diri dengan keberhasilan- keberhasilan dan kegagalan-kegagalan dalam
hidup. Sedangkan keputusasaan tertentu menghadapi perubahanperubahan siklus kehidupan individu, terhadap kondisi-kondisi sosial
dan historis.( Hidayat A, Azis A, Pengantar Ilmu Kesehatan Anak 1.
Salemba Medika,2008)
2.2.5

Teori Tumbuh Kembang menurut Arnold Gesell


Menurut

Gesel,

perkembangan

merupakan

suatu

proses

kematangan atau fisiologi. Selagi kematangan fisiologi tidak dicapai, apa


saja yang dilakukan seperti berjalan tidak akan bisa tercapai.Menurut teori
kematangan yang dibuat oleh Arnorld Gesell, beliau telah membagi
kepada 5 tahap dalam proses perkembangan kanak-kanak. Tahapan
tumbuh kembang diantaranya:
1) Tahap Pertama Lahir
Dari 1 bulan menghasilkan tangisan berbeda-beda untuk
menyatakan kehendak berlainan seperti lapar dan popoknya basah, 4
bulan koordinasi fisik berlaku seperti mata mengikut objek yang
bergerak, 6 bulan tangan bayi mulai menggenggam objek, 7 bulan bayi
mulai duduk dan merangkak dan 12 bulan bayi mampu berdiri dengan
berpegang pada alat.
2) Tahap Kedua, 1 - 2 Tahun
Kemantangan fisik dan mental mulai meningkat, mulai
memahami makna jangan dan pada umur 2 tahun mampu untuk
berjalan tetapi dengan bantuan.
3) Tahap Ketiga, 2-3 Tahun
Koordinasi mata, tangan dan kaki mulai terbentuk, bisa
bercakap menggunakan kata-kata mudah dan bisa mengurus diri
14

seperti makan dan memakai kasut. Tahap ini kanak-kanak sudah


pandai untuk berimaginasi yaitu membentuk sesuatu dengan
menggunakan permainan yang berada di sampingnya atau di sekitar
kanak-kanak tersebut.
4) Tahap Keempat, 3-4 Tahun
Koordinasi dan kematangan fisik semakin kukuh dan bisa
mengikuti perintah ibu dan bapak.
5) Tahap Kelima, 4-5 Tahun
Merupakan proses berinteraksi terbentuk, mula bersosialisasi,
mengemukakan soalan berperingkat-peringkat dan bersedia untuk ke
kelas prasekolah. Pengawasan dari bapak ibu sangat penting supaya
tidak terjadi kecelakaan terhadap kanak-kanak. Antara psikomotor
yang terlibat ialah motor kasar dan motor halus.(Moersintowarti BN,
Pertumbuhan dan Perkembangan Anak dan Remaja, (Surabaya:
Continuing Education Ilmu Kesehatan Anak FK. UNAIR, 2005), hlm.
24 dan 25)
2.2.6

Teori Tumbuh Kembangan Menurut Robert Havighurst


Robert Havighurst menyatakan bahwa perkembangan seseorang
anak-anak dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Ini merupakan satu elemen
penting yang berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan pada anakanak. Beliau memfokuskan kepada keadaaan sekeliling atau lingkungan di
mana tempat seseorang anak-anak itu membesar yang akan memberi dan
meninggalkan sama ada positif atau negatif bergantung kepada ibu bapak
yang memberikan ciri mereka.( Santrok, John W. 2002. Life Span
Development: Perkembangan Masa Hidup, Edisi 5 Jilid 1. Jakarta:
Erlangga)
Perkembangan ialah proses perubahan kualitatif yang mengacu
pada mata fungsi organ-organ jasmaniah, bukan organ-organ jasmaniahnya
itu sendiri. Penekanan arti perkembangan itu terletak pada penyempurnaan
fungsi psikologis yang disandang oleh organ-organ fisik, perkembangan
15

akan berlanjut terus hingga manusia mengakhiri hayatnya. Sementara itu


pertumbuhan hanya terjadi sampai manusia mencapai kematangan fisik.
Yang artinya, orang tak akan bertambah tinggi atau besar jika batas
pertumbuhan tubuhnya telah mencapai tingkat kematangan.Proses
perkambangan tersebut meliputi:
1) Perkembangan

motor

(motor

development),

yakni

proses

perkembangan yang progresif dan berhubungan dengan perolehan


aneka ragam keterampilan fisik anak (motor skills).
2) Perkembangan kognitif (cognitive development), yakni perkembangan
fungsi intelektual atau proses perkembangan kemampuan atau
kecerdasan otak anak.
3) Perkembangan sosial dan moral (social and moral development), yakni
proses perkambangan mental yang berhubungan dengan perubahanperubahan cara anak dalam berkomunikasi dengan obyek atau orang
lain, baik sebagai individu maupun sebagi kelompok. (Patricia A.
Potter dan Anne Griffin Perry, Buku Ajar Fundamental Keperawatan,
Penerbit Buku Kedokteran EGC, 2005.)
2.3 Tahapan Tumbuh Kembang Manusia
Tahap-tahap tumbuh kembang pada manusia adalah sebagai berikut :
1. Neonatus (bayi lahir sampai usia 28 hari)
Dalam tahap neonatus ini bayi memiliki kemungkinan yang sangat besar
tumbuh dan kembang sesuai dengan tindakan yang dilakukan oleh orang tuanya.
Sedangkan perawat membantu orang tua dalam memenuhi kebutuhan tumbuh
kembang bayi yang masih belum diketahui oleh orang tuanya.
2. Bayi (1 bulan sampai 1 tahun)
Dalam tahap ini bayi memiliki kemajuan tumbuh kembang yang sangat
pesat. Bayi pada usia 1-3 bulan mulai bisa mengangkat kepala,mengikuti objek
pada mata, melihat dengan tersenyum dll. Bayi pada usia 3-6 bulan mulai bisa
mengangkat kepala 90, mulai bisa mencari benda-benda yang ada di depan mata
dll. Bayi usia 6-9 bulan mulai bisa duduk tanpa di topang, bisa tengkurap dan
berbalik sendiri bahkan bisa berpartisipasi dalam bertepuk tangan dll. Bayi usia 912 bulan mulai bisa berdiri sendiri tanpa dibantu, berjalan dengan dtuntun,
menirukan suara dll. Perawat disini membantu orang tua dalam memberikan
16

pengetahuan dalam mengontrol perkembangan lingkungan sekitar bayi agar


pertumbuhan psikologis dan sosialnya bisa berkembang dengan baik.
3. Todler (usia 1-3 tahun)
Anak usia toddler ( 1 3 th ) mempunyai sistem kontrol tubuh yang mulai
membaik, hampir setiap organ mengalami maturitas maksimal. Pengalaman dan
perilaku mereka mulai dipengaruhi oleh lingkungan diluar keluarga terdekat,
mereka mulai berinteraksi dengan teman, mengembangkan perilaku/moral secara
simbolis, kemampuan berbahasa yang minimal. Sebagai sumber pelayanan
kesehatan, perawat berkepentingan untuk mengetahui konsep tumbuh kembang
anak usia toddler guna memberikan asuhan keperawatan anak dengan optimal.
4. Pra Sekolah (3-6 tahun)
Anak usia pra sekolah adalah anak yang berusia antara 3-6 tahun ( Wong,
2000), anak usia prasekolah memiliki karakteristik tersendiri dalam segi
pertumbuhan dan perkembangannya. Dalam hal pertumbuhan, secara fisik anak
pada tahun ketiga terjadi penambahan BB 1,8 s/d 2,7 kg dan rata-rata BB 14,6
kg.penambahan TB berkisar antara 7,5 cm dan TB rata-rata 95 cm.
Kecepatan pertumbuhan pada tahun keempat hampir sama dengan tahun
sebelumnya.BB mencapai 16,7 kg dan TB 103 cm sehingga TB sudah mencapai
dua kali lipat dari TB saat lahir. Frekuensi nadi dan pernafasan turun sedikit demi
sedikit. Pertumbuhan pada tahun kelima sampai akhir masa pra sekolah BB ratarata mencapai 18,7 kg dan TB 110 cm, yang mulai ada perubahan adalah pada gigi
yaitu kemungkinan munculnya gigi permanent ssudah dapat terjadi.
5. Usia sekolah (6-12 tahun)
Kelompok usia sekolah sangat dipengaruhi oleh teman sebayanya.
Perkembangan fisik, psikososial, mental anak meningkat. Perawat disini
membantu memberikan waktu dan energi agar anak dapat mengejar hoby yang
sesuai dengan bakat yang ada dalam diri anak tersebut.
6. Remaja ( 12-18/20 tahun)
Perawat membantu para remaja untuk pengendalian emosi dan
pengendalian koping pada jiwa mereka saat ini dalam menghadapi konflik.
7. Dewasa muda (20-40 tahun)
Perawat disini membantu remaja dalam menerima gaya hidup yang
mereka pilih, membantu dalam penyesuaian diri, menerima komitmen dan
kompetensi mereka, dukung perubahan yang penting untuk kesehatan.
8. Dewasa menengah (40-65 tahun)
17

Perawat membantu individu membuat perencanaan sebagai antisipasi


terhadap perubahan hidup, untuk menerima faktor-faktor risiko yang berhubungan
dengan kesehatan dan fokuskan perhatian individu pada kekuatan, bukan pada
kelemahan.
9. Dewasa tua (65- sampai meninggal)
Perawat membantu individu untuk menghadapi kehilangan (pendengaran,
penglihatan, kematian orang tercinta).
Teori Erikson (Tahapan Pertumbuhan pada Manusia)
Erikson mengembangkan dua filosofi dasar berkenaan dengan
perkembangan, yaitu:
1. dunia bertambah besar seiring dengan diri kita
2. kegagalan bersifat kumulatif
Kedua dasar filosofi inilah yang membentuk teorinya yang terkenal itu.
Ia hendak mengatakan bahwa dunia semakin besar seiring dengan
perkembangan karena kapasitas persepsi dan kognisi manusia juga mengalami
perubahan. Di sisi lain, dalam pengertian Erikson, kegagalan yang terjadi pada
sebuah stage perkembangan akan menghambat sebuah proses perkembangan
ke stage berikutnya. Kegagalan ini tidak lantas hilang dengan sendirinya,
bahkan terakumulasi dalam stage perkembangan berikutnya.
Dari penelitiannya, Erikson yang penganut Freudian (karena
menggunakan konsep ego) ini melihat bahwa jalur perkembangan merupakan
interaksi antara tubuh (pemrograman biologi genetika), pikiran (aspek
psikologis), dan pengaruh budaya.
Erikson mengelompokkan tahapan kehidupan ke dalam 8 stage yang merentang
sejak kelahiran hingga kematian.
1. Tahap Bayi (Infancy): Sejak lahir hingga usia 18 bulan.
Kekuatan dasar: Dorongan dan harapana

18

Periode ini disebut juga dengan tahapan sensorik oral, karena orang
biasa melihat bayi memasukkan segala sesuatu ke dalam mulutnya. Sosok Ibu
memainkan peranan terpenting untuk memberikan perhatian positif dan penuh
kasih kepada anak, dengan penekanan pada kontak visual dan sentuhan. Jika
periode ini dilalui dengan baik, bayi akan menumbuhkan perasaan trust
(percaya) pada lingkungan dan melihat bahwa kehidupan ini pada dasarnya
baik. Sebaliknya, bila gagal di periode ini, individu memiliki perasaan
mistrust (tidak percaya) dan akan melihat bahwa dunia ini adalah tempat yang
mengecewakan dan penuh frustrasi. Banyak studi tentang bunuh diri dan
usaha bunuh diri yang menunjukkan betapa pentingnya pembentukan
keyakinan di tahun-tahun awal kehidupan ini. Di awal kehidupan ini begitu
penting meletakkan dasar perasaan percaya dan keyakinan bahwa tiap manusia
memiliki hak untuk hidup di muka bumi, dan hal itu hanya bisa dilakukan oleh
sosok Ibu, atau siapapun yang dianggap signifikan dalam memberikan kasih
sayang secara tetap.
QS Al-Baqarah 233: Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya
selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan.
Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan
cara maruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar
kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena
anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban
demikian. Apabila keduanya ingin menyapih dengan kerelaan keduanya dan
permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin
anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila
kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu
kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu
kerjakan.
Islam mengatakan bahwa sosok Ibu atau pengganti Ibu adalah madrasah
pertama melalui kasih sayangnya, sehingga ada pepatah surga di telapak
kaki ibu. Ibu lah yang bertanggung jawab di awal untuk mengantarkan anak
ke surga.

2. Tahap Kanak-Kanak Awal (Early Childhood): 18 Bulan hingga 3 tahun


Hasil perkembangan ego: autonomy vs shame (otonomi vs rasa malu)

19

Kekuatan dasar: Pengendalian diri, keberanian, dan kemauan (will)


Selama tahapan ini individu mempelajari ketrampilan untuk diri
sendiri. Bukan sekedar belajar berjalan, bicara, dan makan sendiri, melainkan
juga mempelajari perkembangan motorik yang lebih halus, termasuk latihan
yang sangat dihargai: toilet training. Di masa ini, individu berkesempatan
untuk belajar tentang harga diri dan otonomi, seiring dengan berkembangnya
kemampuan mengendalikan bagian tubuh dan tumbuhnya pemahaman tentang
benar dan salah. Salah satu ketrampilan yant muncul di periode adalah
kemampuan berkata TIDAK. Sekalipun tidak menyenangkan orang tua, hal ini
berguna untuk pengembangan semangat dan kemauan.
Di sisi lain, ada kerentanan yang bisa terjadi dalam periode ini,
khususnya berkenaan dengan kegagalan dalam proses toilet training atau
mempelajari skill lainnya, yang mengakibatkan munculnya rasa malu dan
ragu-ragu. Lebih jauh, individu akan kehilangan rasa percaya dirinya. Dalam
periode ini, hubungan yang signifikan adalah dengan orang tua.

QS Al-Maidah 6: Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak


mengerjakan shalat, Maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan
siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata
kaki, dan jika kamu junub Maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam
perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh
perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, Maka bertayammumlah dengan
tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah
itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi dia hendak membersihkan
kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.

Kebersihan selalu menjadi bagian dari Islam, karena itu layak diajarkan
sejak anak-anak masih kecil agar mereka bisa mandiri dalam melakukannya
serta terbiasa membersihkan diri sekalipun belum siap untuk beribadah
secara formal.
3. Tahap Usia Bermain (Play Age): 3 hingga 5 tahun
Hasil perkembangan ego: initiative vs guilt (inisiatif vs rasa bersalah)
20

Kekuatan dasar: Tujuan


Pada periode ini, individu biasanya memasukkan gambaran tentang
orang dewasa di sekitarnya dan secara inisiatif dibawa dalam situasi bermain.
Anak laki-laki bermain dengan kuda-kudaan dan senapan kayu, anak
perempuan main pasar-pasaran atau boneka yang mengimitasi kehidupan
keluarga, mobil-mobilan, handphone mainan, tentara mainan untuk bermain
peran, dsb. Di masa ini, muncul sebuah kata yang sering diucapkan seorang
anak:KENAPA?
Sesuai dengan konsep Freudian, di masa ini anak (khususnya laki-laki)
juga sedang berjuang dalam identitas gender-nya yang disebut oedipal
struggle. Kita sering melihat anak laki-laki yang bermain dengan alat
kelaminnya, saling menunjukkan pada sesama anak laki-laki, atau bahkan
menunjukkan pada anak perempuan sebaya. Kegagalan melalui fase ini
menimbulkan perasaan bersalah.
Hubungan yang signifikan di periode ini adalah dengan keluarga inti
(ayah, ibu, dan saudara).
Rasulullah SAW bersabda; Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah.
Kedua orang-tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.
(HR Bukhari)
Anak-anak di usia ini disebut dengan golden age, karena memiliki ingatan
yang luar biasa, dan apapun memory yang didapatkan di kurun usia ini akan
menjadi kenangan seumur hidup. Karena itu biarlah mereka selalu
mengenang orang tuanya sebagai ilham bagi perbuatan penuh kebajikan dan
amal saleh di kelak kemudian hari.
4. Tahap Usia Sekolah (School Age): Usia 6 12 tahun
Hasil perkembangan ego: Industry vs Inferiority (Industri vs Inferioritas)
Kekuatan dasar: Metode dan kompetensi
Periode ini sering disebut juga dengan periode laten, karena individu
sepintas hanya menunjukkan pertumbuhan fisik tanpa perkembangan aspek
21

mental yang berarti, berbeda dengan fase-fase sebelumnya. Kita bisa simak,
dalam periode sebelumnya pertumbuhan dan perkembangan berbilang bulan
saja untuk manusia agar bisa tumbuh dan berkembang.
Ketrampilan baru yang dikembangkan selama periode ini mengarah
pada sikap industri (ketekunan belajar, aktivitas, produktivitas, semangat,
kerajinan, dsb), serta berada di dalam konteks sosial. Bila individu gagal
menempatkan diri secara normal dalam konteks sosial, ia akan merasakan
ketidak mampuan dan rendah diri.
Sekolah dan lingkungan sosial menjadi figur yang berperan penting
dalam pembentukan ego ini, sementara orang tua sekalipun masih penting
namun bukan lagi sebagai otoritas tunggal.

Imam asy-Syafii rahimahullaah pemah mengatakan dalam syairnya:


Saudaraku, engkau tidak akan mendapat ilmu, melainkan dengan enam
perkara.Kukabarkan kepadamu rinciannya dengan jelas: Kecerdasan,
kemauan keras, bersungguh-sungguh, bekal yang cukup, bimbingan ustadz,
dan waktunya yang lama.

Anak-anak selalu menganggap guru sebagai orang tua kedua, bahkan


seringkali lebih mendengar penuturan mereka. Karena guru dan teman-teman
sekolah memberikan pengaruh penting, kita wajib seksama dalam memilihkan
pendidikan dasar anak kita.

5. Tahap Remaja (Adolescence): Usia 12 hingga 18 tahun


Hasil perkembangan ego: Identity vs Role confusion (identitas vs
kebingungan peran)
Kekuatan dasar: devotion and fidelity (kesetiaan dan ketergantungan)

22

Bila sebelumnya perkembangan lebih berkisar pada apa yang


dilakukan untuk saya, sejak stage perkembangan ini perkembangan tergantung
padaapa yang saya kerjakan. Karena di periode ini individu bukan lagi anak
tetapi belum menjadi dewasa, hidup berubah sangat kompleks karena individu
berusaha mencari identitasnya, berjuang dalam interaksi sosial, dan bergulat
dengan persoalan-persoalan moral.
Tugas perkembangan di fase ini adalah menemukan jati diri sebagai
individu yang terpisah dari keularga asal dan menjadi bagian dari lingkup
sosial yang lebih luas. Bila stage ini tidak lancara diselesaikan, orang akan
mengalami kebingungan dan kekacauan peran.
Hal utama yang perlu dikembangkan di sini adalah filosofi kehidupan.
Di masa ini, seseorang bersifat idealis dan mengharapkan bebas konflik, yang
pada kenyataannya tidak demikian. Wajar bila di periode ada kesetiaan dan
ketergantungan pada teman.

Menyendiri lebih baik daripada berkawan dengan yang buruk, dan kawan
bergaul yang sholeh lebih baik daripada menyendiri. Berbincang-bincang
yang baik lebih baik daripada berdiam dan berdiam adalah lebih baik
daripada berbicara (ngobrol) yang buruk. (HR. Al Hakim) Seseorang adalah
sejalan dan sealiran dengan kawan akrabnya, maka hendaklah kamu berhatihati dalam memilih kawan pendamping. (HR. Ahmad)

Pergaulan menjadi sangat crucial di usia ini, dan sangat menentukan arah
masa depan perkembangan kerohanian seseorang kelak. Orang tua perlu
mengontrol siapa saja teman anak-anaknya tanpa merasa rikuh, karena tugas
orang tua adalah memilihka teman yang bisa membawa anak ke jalan
kehidupan yang benar.

6. Tahap Dewasa Awal (Young Adulthood): Usia 18 hingga 35 tahun


Hasil perkembangan ego: Solidarity vs Isolation (Solidaritas vs isolasi)

23

Kekuatan dasar: affiliation and love (kedekatan dan cinta)


Langkah

awal

menjadi

dewasa

adalah

mencari

teman

dan

cinta. Hubungan yang saling memberikan rasa senang dan puas, utamanya
melalui perkawinan dan persahabatan. Keberhasilan di stage ini memberikan
keintiman di level yang dalam.
Kegagalan di level ini menjadikan orang mengisolasi diri, menjauh
dari orang lain, dunia terasa sempit, bahkan hingga bersikap superior kepada
orang lain sebagai bentuk pertahanan ego. Hubungan yang signifikan adalah
melalui perkawinan dan persahabatan.
QS An-Nuur32: Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu,
dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang
lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin
Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. dan Allah Maha luas
(pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.
jika seorang hamba menikah sesungguhnya ia telah menyempurnakan
separuh agamanya. Karena itu bertakwalah pada Allah untuk
menyempurnakan sebagian yang lain (HR Al Baihaqi)
Menikah adalah pilihan, namun bagi kaum muslim adalah sunnah.
Pernikahan yang baik dan berdasarkan ridha Allah akan memberikan
ketenteraman.
7. Tahap Dewasa (Middle Adulthood): Usia 35 hingga 55 atau 65tahun
Hasil perkembangan ego: Generativity vs Self Absorption or Stagnation
Kekuatan dasar: production and care (produksi dan perhatian)
Masa ini dianggap penting karena dalam periode inilah individu
cenderung penuh dengan pekerjaan yang kreatif dan bermakna, serta berbagai
permasalahan di seputar keluarga. Selain itu adalah masa berwenang yang
diidamkan sejak lama.
Tugas yang penting di sini adalah mengejawantahkan budaya dan
meneruskan nilai budaya pada keluarga (membentuk karakter anak) serta
memantapkan lingkungan yang stabil. Kekuatan timbul melalui perhatian
24

orang lain, dan karya yang memberikan sumbangan pada kebaikan


masyarakat, yang disebut dengan generativitas. Jadi di masa ini, kita takut
akan ketidak aktifan dan ketidak bermaknaan diri.
Sementara itu, ketika anak-anak mulai keluar dari rumah, hubungan
interpersonal tujuan berubah, ada kehidupan yang berubah drastic, individu
harus menetapkan makna dan tujuan hidup yang baru. Bila tidak berhasil di
stage ini, timbullah self-absorpsi atau stagnasi. Yang memainkan peranan di
sini adalh komunitas dan keluarga.
Anas bin Malik r.a. berkata, Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda,
Tidak sempurna iman seseorang di antaramu kecuali jika ia mencintai
saudaranya sebagaimana yang ia cintai untuk dirinya. (HR Bukhari dan
Muslim)
Dari Numan bin Basyir r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda,
Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai,
menyayangi, dan saling membantu itu bagaikan satu jasad. Jika ada di
antaranya yang merasa sakit, maka semua unsur jasad ikut tidak tidur dan
merasa demam. (HR Bukhari dan Muslim)
Menjadi bagian dari komunitas adalah tuntunan bagi orang Islam, selain
untuk amalan hablum minannas juga untuk menunjukkan bahwa Islam adalah
rahmatan lil alamin.
8. Tahap Dewasa Akhir (Late Adulthood): Usia 55 atau 65tahun hingga mati
Hasil perkembangan ego: Integritas vs Despair (integritas vs keputus asaan)
Kekuatan dasar: wisdom (kebijaksanaan)
Orang berusia lanjut yang bisa melihat kembali masa-masa yang telah
dilaluinya dengan bahagia, merasa tercukupi, dan merasa telah memberikan
kontribusi pada kehidupan, ia akan merasakan integritas. Kebijaksanaannya
yang tumbuh menerima keluasan dunia dan menjelang kematian sebagai
kelengkapan kehidupan.
Sebaliknya, orang yang menganggap masa lalu adalah kegagalan
merasakan keputusasaan, belum bisa menerima kematian karena belum
25

menemukan makna kehidupan. Atau bisa jadi, ia merasa telah menemukan jati
diri dan meyakini sekali bahwa dogma yang dianutnyalah yang paling benar.
QS Al-Jumuah 8: Katakanlah: Sesungguhnya kematian yang kamu lari
daripadanya, Maka Sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu,
Kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang
ghaib dan yang nyata, lalu dia beritakan kepadamu apa yang Telah kamu
kerjakan.
2.4 Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan dan Perkembangan Manusia
2.4.1

Lingkungan eksternal
1. Kebudayaan
Kebudayaan suatu daerah akan mempengaruhi kepercayaan
adat kebiasaan dan tingkah laku dalam merawat dan mendidik anak.
2. Status social ekonomi keluarga
Keadaan social ekonomi keluarga dapat mempengaruhi pola
asuhan terhadap anak. Misalnya orang tua yang mempunyai
pendidikan cukup mudah menerima dan menerapkan ide-ide utuk
pemberian asuhan terhadap anak
3. Nutrisi
Untuk tumbuh kembang, anak memerlukan nutrisi yang
adekuat yang didapat dari makan yang bergizi. Kekurangan nutrisi
dapat diakibatkan karena pemasukan nutrisi yang kurang baik
kualitas maupun kuantitas, aktivitas fisik yang terlalu aktif, penyakitpenyakit fisik yang menyebabkan nafsu makan berkurang, gangguan
absorpsi usus serata keadaan emosi yang menyebabkan berkurangnya
nafsu makan.
4. Penyimpangan dari keadaan normal
Disebabkan karena adanya penyakit atau kecelakaan yang
dapat menggangu proses pertumbuhan dan perkembangan anak.
5. Olahraga
Olahraga dapat meningkatkan sirkulasi, aktivitas fisiologi, dan
menstimulasi terhadap perkembangan otot-otot.
6. Urutan anak dalam keluarganya

26

Kelahiran anak pertama menjadi pusat perhatian keluarga,


sehingga semua kebutuhan terpenuhi baik fisik, ekonomi, maupun
sosial.
2.4.2

Lingkungan internal
1. Intelegensi
Pada umumnya anak yang mempunyai intelegensi tinggi,
perkembangannya akan lebih baik jika dibandingkan dengan yang
mempunyai intelegensi kurang.
2. Hormon
Ada tiga hormon yang mempengaruhi pertumbuhan anak
yaitu: somatotropin, hormon yang mempengaruhi jumlah sel untuk
merangsang sel otak pada masa pertumbuhan, berkuragnya hormone
ini dapat menyebabkan gigantisme; hormone tiroid, mempengaruhi
pertumbuhan,

kurangnya

hormone

ini

dapat

menyebabkan

kreatinisme; hormon gonadotropin, merangsang testosterone dan


merangsang

perkembangan

seks

laki-laki

dan

memproduksi

spermatozoa. Sedangkan estrogen merangsang perkembangan seks


sekunder wanita dan produksi sel telur. Kekurangan hormon
gonadotropin ini dapat menyebabkan terhambatnya perkembangan
seks.
3. Emosi
Hubungan yang hangat dengan orang lain seperti ayah, ibu,
saudara, teman sebaya serta guru akan member pengaruh pada
perkembangan emosi, social dan intelektual anak. Pada saat anak
berinteraksi dengan keluarga maka akan mempengaruhi interaksi
anak di luar rumah. Apabila kebutuhan emosi anak tidak dapat
terpenuhi.
2.4.3

Faktor Pranikah
Untuk meningkatkan kualitas tumbuh kembang anak, seharusnya
dimulai sebelum anak lahir. Dimana pasangan yang akan menikah
sebaiknya berkonsultasi dengan dokter, apakah diantara mereka terdapat
27

penyakit-penyakit keturunan atau kelainan yang bias diturunkan kepada


anaknya kelak. Misalnya penyakit yang dapat menurun seperti diabetes
mellitus, fenilketonuria, thalassemia, dll. Dianjurkan juga untuk tidak
menikah antarkeluarga, untuk mencegah factor resesif menjadi dominan.
Kelainan kromosom juga dapat terjadi pada kromosom seks maupun
kromosom lainnya, yang dapat mengakibatkan cacat bawaan. Gizi wanita
pada waktu sebelum hamil juga berpengaruh terhadap berat badan bayi,
misalnya wanita yang mal nutrisi atau tinggi badan kurang dari 145 cm
melahirkan bayi KMK (kecil untuk masa kehamilan). Demikian pula
penyakit-pnenyakit kronis yang diderita wanita sebelum hamil., misalnya
sakit jantung, asma, ginjal, dll.
2.4.4

Faktor Pranatal
Berhubungan dengan berbagai cirri pertumbuhan janin selama
dalam kandungan masalah-masalah yang mungkin terjadi, maka masa
prenatal dibagi:
1. Masa embrionik/masa mugidah
2. Masa fetal/masa janin
a. Periode pravariabel
b. Periode viable

: Sampai 8/12 minggu


: 12 s/d 40 minggu
: sebelum 24/26 minggu
: dari 26 s/d 40 minggu

1. Masa Mudigah
Masa mugidah adalah mulai pembuahan sampai umur
kehamilan 8 minggu beberapa sarjana yang mengakatan masa mugidah
adalah sampai 12 minggu, karena organogenesis beberapa organ masih
berlangsung setelah masa mugidah ini adalah terjadinya diferensiasi
yang cepat dari sel telur yang dibuahi menjadi sesuatu organisme yang
secara anatomic telah berbentuk manusia.
2. Masa Janin

28

Pada masa ini ditandai dengan pertumbuhan janin yang cepat


dan peningkatan fungsi organ. Ditinjau dari segi kemungkinan hidup
janin di luar rahim.
3. Mekanisme
Kelainan posisi janin dan kekurangan cairan ketuban dapat
mengakibatkan kelainan

bawaan, misalkan kelainan

tali pes,

mikrognatia, dll.
4. Penyakit Pada Ibu
1) Infeksi
Hampir semua penyakit infeksi yang berat yang diderita ibu
pada waktu hamil dapat mengakibatkan keguguran atau lahir mati.
Beberapa mikrorganisme tertentu dapat menyebabkan infeksi pada
janin,

gangguan

pertumbuhan

janin,

bahkan

cacat

bawaan.Kadang-kadang terjadi infeksi pada janin tersebut, tidak


tergantung berat ringannya pada ibu.
2) Bukan infeksi
Ibu yang menderita hipertensi yang tidak diobati, akan
mengakibatkan retard pertumbuhan intrauterine dan lahir mati.
Ibu menderita goiter endemic, bayi bias menderita hipotiroid
kongenital. Fenilketonuria pada ibu hamil yang tidak diobati akan
mengakibatkan keguguran, cacat bawaan, atau cedera otak pada
janin yang tidak menderita fenilketonuria.
5. Radiasi
Sebelum fase organogenesis, radiasi dengan dosis 10 rad dapat
menyebabkan kematian janin. Sebaiknya hindari penyinaran pada
waktu hamil muda, karena dapat mengakibatkan malformasi dari janin
seperti mikrosefali, spina bifida dan retardasi janin.
2.5 Konsep Tumbuh Kembang Manusia
2.5.1

Prinsip Pertimbuhan dan Perkembangan


Beberapa prinsip pertumbuhan dan perkembangan merupakan hal yang

benar untuk semua orang. Kebiasaan ini diekspresikan dengan konsep berikut :

29

1. Individu memiliki potensi adaptif untuk perubahan kualitatif dan


kuantitatif dengan menerima stimulus pada lingkungan dan member
stimulus pada lingkungan tersebut.
2. Individu memperoleh keunikannya dari interaksi hereditas dan
lingkungan.
3. Tujuan utama perkembanganadalah pencapaian potensi (realisasi diri
atau aktualisasi diri).
Prinsip dasar pertumbuhan dan perkembangan adalah sebagai berikut :
1. Perkembangan merupakan hal yang

yang terartur dan mengikuti

rangkaian tertentu.
2. Perkembangan merupakan hal yang kompleks, dapat diprediksi, terjadi
dengan pola yang konsisten dan kronologis.
3. Perkembangan merupakan sesuatu yang terarah dan berlangsung terus
dalam cara sebagai berikut :
-

Cephalocaudal, pertumbuhan berlangsung terus dari kepala ke

arah bawah daru bagian tubuh.


Proximodistal, perkembangan berlangsung terus dari daerah pusat

(proksimal) tubuh kea rah luar (distal).


Differentiation, ketika perkembangan berlangsung terus dari hal

yang mudah ke arah yang lebih kompleks


4. Perkembangan merupakan hal yang unik untuk individu dan untuk
potensi genetik, dan setiap individu cenderung untuk mencari potensi
maksimum perkembangan.
5. Perkembangan terjadi melalui konflik dan adaptasi, dan aspek yang
berbeda berkembang pada waktu yang berbeda, menciptakan periode
dari keseimbangan dan ketidakseimbangan.
6. Perkembangan meliputi tangan bagi individu dalam bentuk tugas yang
pasti sesuai umur dan kemampuan.
7. Tugas perkembangan membutuhkan praktik dan tenaga, fokus
perkembangan ini berada sesuai dengan setiap tahap perkembangan
dan tugas yang dicapai. (Potter & Perry, 2005)

30

2.5.2

Ciri ciri Pertumbuhan dan Perkembangan anak


Dalam peristiwa dan pertumbuhan dan perkembangan anak memiliki

berbagai cirri khas yang membedakan komponen satu dengan yang lain.
Pertumbuhan memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
1. Dalam pertumbuhan akan terjadi perubahan ukuran dalam hal
bertambahnya ukuran fisik, seperti berat badan, tinggi badan, lingkar
kepala, lingkar lengan, lingkar dada, dan lain-lain.
2. Dalam pertumbuhan dapat terjadi perubahan proporsi yang dapat
terlihat pada proporsi fisik atau organ manusia yang muncul mulai dari
masa konsepsi hingga dewasa.
3. Pada pertumbuhan dan perkembangan terjadi hilangnya ciri-ciri lama
yang ada selama masa pertumbuhan, seperti hilangnya kelenjar timus,
lepasnya gigi susu, atau hilangnya refleks-refleks tertentu.
4. Dalam pertumbuhan terdapat ciri baru yang secara perlahan mengikuti
proses kematangan, seperti adanya rambut pada daerah aksila, pubis,
dan dada.
Perkembangan memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
1. Perkembangan selalu melibatkan proses pertumbuhan yang diikutidari
perubahan fungsi, seperti perkembangan reproduksi akan diikuti
perubahan pada fungsi alat kelamin.
2. Perkembangan memiliki pola yang konstan dengan hukum tetap, yaitu
perkembangan dapat terjadi dari daerah kepala menuju ke arah kaudal
atau dari bagian proksimal ke bagian distal.
3. Perkembangan memiliki tahapan yang

berurutan

mulai

dari

kemampuan melakukan hal yang sederhana menuju kemampuan


melakukan hal yang sempurna.
4. Perkembangan setiap individu memiliki kecepatan pencapaian
perkembangan yang berbeda.
5. Perkembangan dapat menentukan pertumbuhan tahap selanjutnya,
dimana tahapan perkembangan harus dilewati tahap demi tahap.
(Hidayat, 2008)

31

2.6 Konsep Tumbuh Kembang Manusia Menurut Islam


2.6.1

Fase Sebelum Lahir


Secara biologis pertumbuhan itu digambarkan dalam Al-Quran
sesuai firman Allah pada surat Al-Mumin ayat 67 sebagai berikut :


()

Artinya:
Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes
mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu
sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu
sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi)
sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (kami
perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan
supaya kamu memahami(nya).

Islam merupakan agama yang sangat memperdulikan pendidikan


anak dalam kandungan, hal tersebut dibuktikan dengan hal-hal sebagai
berikut:
-

Diberikannya hak istimewa terhadap ibu yang sedang hamil


selama bulan Ramadhan. Jika merasa khawatir apabila diteruskan
berpuasa akan membahayakan kondisi janin dalam kandungan,
maka puasa tersebut dapat diganti dengan membayar kifarat.

Islam memerintahkan kepada suami yang telah menceraikan


istrinya untuk tetap memberikan nafkah kepada janin yang
dikandung (Erin, 2012)

Stimulasi pada fase pralahir menurut Islam:


32

1. Membacakan Al-Qur'an (memperdengarkan tilawah Al-Qur'an)


1) Indera pendengaran mulai berkembang pada minggu ke 8
2) mengoptimalkan fungsi pendengaran janin
3) ketika sang anak memasuki masa kanak-kanak ia akan lebih
mudah dalam menghafal al-Qur'an.
2. Membacakan Doa
1) Doa Nabi Zakariya yaitu yang tercantum dalam Al-Qur'an yang
artinya :"Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak
yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar Doa.(QS. Ali
Imran (3);38 ). Kata anak yang baik mengandung makna
jadikanlah anak kami yang shaleh, berakhlaq mulia, dan beradab
agar sempurna nikmat dunia dan akheratnya.
2) Doa Nabi Ibrahim yang tercantum dalam Al-Qur'an surat As
Shaafaat :100 dan An Nahl : 78.
3. Mengajak Berbicara
1) Indera pendengaran selesai pembentukan pada minggu ke 24.
2) Indera pendengaran dibantu oleh air ketuban yang merupakan
penghantar suara yang baik.
3) janin akan mulai mendengar suara aliran darah melalui plasenta,
suara denyut jantung dan suara udara dalam usus.
4) janin akan bereaksi terhadap suara-suara keras, bahkan bisa
membuat janin terkejut melompat.
5) mengajak janin berbicara dengan mengelus-elus perut dengan
perkataan yang baik, biasanya respon janin dengan tendangan ke
arah perut sang ibu.
33

4. Menjaga Perilaku.
1) akhlak orang tua sangat berpengaruh terhadap akhlak anakanaknya kelak
(Laila, 2011)
2.6.2

Fase Setelah Lahir


1. Masa Bayi (Lahir-2 Tahun)
-

mengembangkan kasih sayang dua arah

memberikan ASI

QS. Al-Baqarah ayat 233:






















Artinya:
Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun
penuh yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban
ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang
maruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar
kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena
anaknya, dan seorang ayah karena anaknya, dan waris pun berkewajiban
demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum 2 tahun) dengan
kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas
keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka
tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut
yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah
Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Kewajiban orang tua terhadap bayi yang baru lahir, yaitu :

34

1. Mengumandangkan adzan pada telinga kanan dan iqomat pada telinga


kiri, karena agar pertama-tama yang menembus pendengaran anak
adalah kalimat tayyibah (ilahiyyah) atau kalimat seruan yang Maha
Tinggi, dan juga merupakan pengajaran tentang syariat islam ketika ia
memasuki dunia. Kalimat tayyibah juga akan menjaga fitrah dari
godaan syetan
2. Mencukur rambut pada hari ke tujuh
3. Aqiqoh
4. Memberi nama yang baik

Nabi saw sesuai sabdanya :


: :

. :

Artinya:
berkata anas; bersabda Nabi saw; anak itu pada hari ketujuh dari
lahirnya disembilihkan aqiqah dan diberi nama serta dicukur rambutnya,
kemudian setelah umur enam tahun dididik beradab, setelah Sembilan
tahun dipisah tempat tidurnya, bila telah umur 13 tahun dipukul karena
meninggalkan sembahyang. Setelah umur 16 tahun dikawinkan oleh orang
tuanya (ayahnya), ayahnya berjabat tangan dan mengatakan; saya telah
mendidik kamu, mengajar dan mengawinkan kamu. Saya memohon
kepada Tuhan agar dijauhkan dari fitnahmu di dunia dan siksamu di
akhirat.
2. Masa Kanak-Kanak (Thufulah): 2-7 Tahun
1) perkembangan fisik: anak bertambah kuat dan mulai ingin banyak
belajar (stronger, longer and learner)
35

2) perkembangan kognitif: mulai berpikir dan ingin tahu alasan sebab


akibat
3) perkembangan emosional dan social: 2-5 tahun mulai mengatur
perasaan, teman sangat penting.
4) Perkembangan Bahasa: usian 2 tahun menyebutkan puluhan kata
dan usia 5 thun mapu bercerita.
5) Perkembangan sensorik dan motorik: usia 2 tahun naik tangga,
menendang bola, memegang pensil dll. Usia 5 tahun memakai dan
melepas pakaian sendiri.
6) masa untuk memberikan dasar-dasar Tauhid
7) tauhid adalah ilmu tentang keesaan Allah dan pembuktiannya
(berkaitan dengan akidah)
8) masa untuk menanamkan pondasi
9) pada tahap 0-7 tahun, anak disebut sebagai tuan atau master dari
orangtuanya. Anak bermain secara penuh karena anak belum siap
untuk dididik melalui instruksi formal namun bukan berarti anak
tidak mampu menangkap dan mengerti apapun. Anak belajar dari
observasi dan imitasi sehingga pengaruh lingkungan sangat besar
10) Impresi yang didapat pada masa kanak-kanak sangat sulit untuk
dihapus sehingga bila sejak dini diajarkan maka anak akan selalu
dekat dengan agamanya
11) Tugas Perkembangan:
a) pertumbuhan

potensi-potensi

indera

psikologis,

seperti

pendengaran, penglihatan, dan hati nurani. (QS. Al-Nahl : 78)


b) mempersiapkan diri dengan cara membiasakan hidup yang
baik,

seperti

dalam

berbicara,

makan,

bergaul,

dan
36

penyesuaian diri dengan lingkungan, serta berperilaku.


Pembiasaan ini terutama pada aspek-aspek afektif;
c) pengenalan aspek-aspek doktrinal agama, terutama yang
berkaitan dengan aqidah /keimanan.
12) Pengajaran yang di ajarkan kepada anak :
a) usia 3 tahun, ajarkan ia mengucapkan la illaha illallah
muhammadar rasulullah
b) usia

tahun,

ajarkan

mengucapkan

sallalahu

ala

muhammadin wa ala ali Muhammad


c) usia 5 tahun, bila ia sudah dapat membedakan antara tangan
kanan dan tangan kiri. Ajak anak ia menghadap kiblat dan
ajarkan sujud
d) usia 6 tahun, ajarkan anak shalat dan ajarkan ruku dan sujud.
e) Usia 7 tahun, ajarkan anak untuk mencuci muka dan
tangannya kemudian ajak untuk shalat
f) Ini akan berlanjut hingga mencapai usia 9 tahun, kemudian ia
harus diajarkan ritual sesungguhnya untuk berdoa dan shalat
3. Masa Tamyiz: 7-10 Tahun
1) dapat membedakan yang haq dan yang bathil
2) dapat

membedakan

yang

baik

dan

buruk

berdasarkan

penalarannya sendiri.
3) saaatnya anak mendapatkan pokok-pokok pendidikan syariat.
syariat adalah hukum dan aturan islam (sumber Al Qur'an, Al
Hadits, Ijtihad)

37

4) Anak mulai mampu membedakan yang baik dan yang buruk,


benar dan salah. Pada usia ini, anak sudah dapat menangkap sebab
akibat, berpikir secara logis, yang berarti ia siap untuk pendidikan
formal.
5) Anak adalah budak dalam artian ia harus mengikuti instruksi
orangtua dan guru. orangtua ditekankan untuk mendidik
kedisplinan.
6) Tugas perkembangan:
a)

perubahan presepsi kongkrit ke persepsi abstrak;

b)

pengembangan

ajaran-ajaran

normatif

agama

melalui

institusi sekolah
Perintah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam (SAW).
Beliau bersabda, Apabila anak telah mencapai usia tujuh tahun,
perintahkanlah dia untuk melaksanakan shalat. Dan pada saat
usianya mencapai sepuluh tahun, pukullah dia apabila
meninggalkannya. (Riwayat Abu Dawud).

Dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi,


Rasulullah SAW bersabda, Ajarkanlah anakmu tata cara shalat
ketika telah berusia tujuh tahun. Dan pukullah dia pada saat berusia
sepuluh tahun (apabila meninggalkannya). (Riwayat Tirmidzi).
Al-Alqami dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi dalam syarah AlJamiush Shaghir berkata Hendaklah mengajarkan mereka hal-hal yg
diperlukan mengenai shalat di antaranya tentang syarat-syarat dan
rukun shalat. Dan memerintahkan mereka utk mengerjakan shalat
setelah belajar. Dia katakan juga bahwa Diperintah-kannya
memukul itu hanyalah terhadap yg telah berumur sepuluh tahun krn
saat itu ia telah mampu menahan derita pukulan pada umumnya. Dan
yang dimaksud dgn memukul itu pukulan yang tidak membahayakan
dan hendaknya menghindari wajah dalam memukul.
4. Masa Amrad (Pemuda): 10-15 Tahun
1) anak perlu mengembangkan potensinya
38

2) pada masa ini anak juga mencapai aqil baligh (pandai


menggunakan akalnya secara penuh)
3) kepandaian mengatur harta yang dimulai dengan mengatur
anggaran untuk dirinya sendiri
4) pembinaan melalui: akidah, akhlak dan ibadah, pembinaan fisik,
psikologi
5) Islam menyerukan dan membiasakan anak dalam berolahraga.

Firman Allah dalam surah Al-Anfal ayat 60:


Artinya: Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa
saja yang kamu sanggup (QS. AL-Anfal: 60)
5. Masa Taklif (Bertanggung Jawab): 15-18 Tahun
1) pada masa ini anak harus sudah tertanam rasa tanggung jawab baik
pada diri sendiri, orang tua maupun lingkungannya.
2) Tugas perkembangan:
a) memahami segala perintah Allah SWT dengan memperdalam
ilmu pengetahuan (QS. Al-Isra : 36, QS. Tt-Taubah : 122);
b) mengimplementasikan keimanan dan pengetahuannya dalam
tingkah laku nyata, baik yang berhubungan dengan diri
sendiri, keluarga, komunitas sosial, alam semesta, maupun
pada Tuhan
c) memiliki kesediaan untuk mempertanggungjawabkan apa
yang diperbuat (QS. Al-Isra)

39

d) membentengi diri dari segala perbuatan maksiat dan mengisi


diri dengan perbuatan baik;
e) menikah jika telah memiliki kemampuan baik fisik maupun
psikis;
f) membina keluarga ang sakinah, mawaddah, rahmah, dan
harakah;
g) mendidik anak-anaknya dengan pendidikan yang bermanfaat
bagi dirinya sendiri, keluarga, sosial, dan agama.
6. Mukallaf (Umur Muda): 18-35 Tahun
1) masa penuh kekuatan dan semangat
2) masa berbahaya, cenderung pada pemuasan nafsu syahwat dan
nafsu keduniaan
7. Dewasa: 35-50 Tahun
1) masa kemantapan dan puncak kekuatan fisik dan mental
2) Manusia dianugerahi 'crystallized intellegence'
3) QS Al Qasas (28):14: "Dan setelah menjadi dewasa dan cukup
umurnya, kami anugerahkan kepadanya hikmah dan ilmu
pengetahuan."
4) diharapkan

pada

usia

40

tahun

mendapatkan

hikmah

kebijaksanaan 'crystallized intellegence'. Yaitu pengetahuan


terspesialisasi yang didapatkan bertahun-tahun yang diperoleh dari
pengalaman.
8. TUA: 50-70 Tahun
1) mulai tampak tanda-tanda kelemahan
9. Lanjut: >70 Tahun
40

1) kelemahan menimpa bahkan tak berdaya


(Fauzil, 1996)

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Pertumbuhan dan perkembangan merupakan proses perubahan yang
terjadi pada setiap makhluk hidup. Perubahan yang terjadi pada seseorang
tidak hanya meliputi apa yang kelihatan seperti perubahan fisik

dengan

bertambahnya berat badan dan tinggi badan, tetapi juga perubahan


(perkembangan)dalam segi lain seperti berpikir, emosi, bertingkah laku,
semua anak-anak tumbuh melalui suatu tahapan pertumbuhan dan perubahan
fisik, kognitif, dan emosional yang dapat diidentifikasi.
Pertumbuhan dan perkembangan anak yang optimal dapat dicapai
dengan dukungan faktor intrinsik dalam hal ini genetic yang merupakan
blueprint pertumbuhan dan perkembangan seseorang. Kelainan genetik dapat
41

mempengaruhi pertumbuhan anatara lain akondroplasia, sindrom down,


sindrom marfan dan lain-lain. Selain itu, faktor ekstrinsik yaitu lingkungan
(biologis, fisik, psikososial, keluarga dan sosial ekonomi) yang baik dan
a\saling berkaitan satu sam lain akan mempengaruhi pola perkembangan anak
pada akhirnya.
Setiap anak memiliki potensi untuk tubuh dan berkembang. Penilaian
dan pemantauan terhadap tumbuh kembang anak merupakan salah satu cara
untuk mendukung pencapaian pertumbuhan dan perkembangan yang optimal.
3.2 Saran
Dengan

adanya

makalah

ini

diharapkan

mahasiswa

dapat

meningkatkan pemahaman tentang Sistem Termoregulasi. Dan apabila


terdapat kekurangan dalam penulisan makalah kami harapkan kritik dan saran.

DAFTAR PUSTAKA

Erin. Ratna, 2012, Manusia Dalam Perspektif Psikologi Islam, Dept 2 Litbang
Kesppi.
Fauzil. Adhim, 1996, Mendidik Anak Menuju Taklif, Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Hidayat, A. Aziz Alimul. 2008. Pengantar Ilmu Kesehatan Anak untuk
Pendidikan Kebidanan. Jakarta: Salemba Medika
Hidayat A, Azis A. 2008. Pengantar Ilmu Kesehatan Anak 1. Salemba Medika,

42

Moersintowarti BN, Pertumbuhan dan Perkembangan Anak dan Remaja,


(Surabaya: Continuing Education Ilmu Kesehatan Anak FK. UNAIR, 2005),
hlm. 24.
Pandowo, Soemarti. 1995. Pendidikan Anak Prasekolah, Jakarta: Rineka Cipta.
Qumi. Laila, 2011,

Stimulasi Kecerdasan Spiritual Anak Pada Periode

Pendidikan Pranatal Dalam Perspektif Islam, Salatiga : Stain Salatiga.


Moersintowarti BN. 2005. Pertumbuhan dan Perkembangan Anak dan Remaja.
Surabaya: Continuing Education Ilmu Kesehatan Anak FK. UNAIR
Rudolph Abraham M. at all, Buku Ajar Pediatri, EGC, 2006.
Santrok, John W. 2002. Life Span Development: Perkembangan Masa Hidup,
Edisi 5 Jilid 1. Jakarta: Erlangga.
Soetjiningsih. 1995. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta: EGC
Soetjiningsih. 2007. Tumbuh Kembang Anak dan Remaja, pada Pendidikan Ilmu
Kesehatan Anak. Denpasar: FK UNUD
Supartini, Yupi. 2004. Buku Ajar Konsep Dasar Keperawatan Anak. Jakarta: Buku
Kedokteran EGC
Supartini, yupi. 2007. Buku ajar konsep dasar keperawatan anak. Jakarta EGC
Suryanah. 1996. Keperawatan Anak untuk Siswa SPK. Jakarta: Buku Kedokteran
EGC.
Wong Donna L. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik Vol 1, 2009.
Patricia A. Potter dan Anne Griffin Perry. 2005. Buku Ajar Fundamental
Keperawatan, Penerbit Buku Kedokteran EGC,

43