Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PROYEK EKOLOGI (B1-3102)

PENENTUAN STATUS EKOLOGIS SUNGAI SUB-DAS


CIMAHI

Tanggal Praktikum: 27 September 2015


Tanggal Pengumpulan: 20 Oktober 2015

disusun oleh:
Dary Aulia Muhammad
10613060
Kelompok 6

Asisten:
Andreas Vetra
10612068

PROGRAM STUDI BIOLOGI


SEKOLAH ILMU DAN TEKNOLOGI HAYATI
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
BANDUNG
2015

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Permukaan bumi sekarang ini ditutupi oleh kurang lebih 70% daerah
perairan. Hal tersebut berhubungan dengan kebutuhan setiap makhluk hidup
akan air, sehingga dapat disimpulkan bahwa air sudah menjadi hal yang
esensial dalam menyokong hidup setiap organisme di muka bumi (Molles,
2008). Daerah permukaan air melingkupi beberapa daerah air asin seperti laut
dan air tawar seperti sungai dan danau.
Air memegang peran yang sangat penting bagi kita manusia untuk
beraktivitas sehari-hari.. Kegiatan manusia disektitar sungai hampir selalu
memanfaatkan sungai sebagai buangan limbah rumah tangga maupun
industri. Menyebabkan kematian organisme sungai, perubahan warna pada
air, timbulnya bau, kerusakan ekosistem sekitar sungai dan juga menimbulkan
masalah kesehatan bagi manusia (Sukadi, 1999). Beberapa parameter tersebut
menjadi suatu nilai penting dalam penentuan status ekologis suatu ekosistem
perairan karena menurut Miller (2002), status ekosistem perairan dapat dinilai
dari beberapa karakteristik fisika, kimia dan biologis dari lingkungan tersebut.
1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah :
1.

Menentukan dan membandingkan keanekaragaman spesies dari

komunitas bentos pada dua stasiun pengamatan di sub-DAS Cimahi.


2. Menentukan dan membandingkan parameter fisika-kimia pada dua stasiun
pengamatan di sub-DAS Cimahi.
3. Menentukan status ekologis dari sungai pada sub-DAS Cimahi.

BAB II
METODE PENELITIAN

2.1 Deskripsi Area Penelitian

DAS Citarum merupakan DAS terbesar di Jawa Barat dan terdiri atas 12
sub-DAS yang diantaranya adalah sub-DAS Cimahi. DAS Citarum beriklim
tropis monsoon dengan suhu dan kelembapan relatif konstan, walaupun
terdapat variasi curah hujan disepanjang DAS Citarum tergantung dari elevasi
dan kondisi wilayah (Direktorat Bina Penatagunaan Sumber Daya Air, 2015).

Gambar 2.1 Peta DAS Citarum (Direktorat Bina Penatagunaan Sumber Daya Air,
2015)

Proses sampling dilakukan di dua stasiun berbeda di sepanjang sub-DAS


Cimahi. Sampling pertama dilakukan di daerah curug Cimahi yang masih
merupakan hulu sungai, karena dekat sumber mata air dengan koordinat
604658,8 S 10703357,6 E (wmflabs.org, 2015). Sampling kedua dilakukan
didaerah lebih hilir yaitu di daerah Cihanjuang dengan koordinat 605221,5 S
1070332,2 E, yang menjadi bagian dari lingkungan hidup masyarakat
sekitar dengan intensitas buangan limbah rumah tangga yang cukup tinggi.
2.2 Tata Kerja
2.2.1 Pengambilan Data
Pengamatan dilakukan pada dua stasiun yang terlihat pada gambar 2.2.
Terdapat sepuluh titik pengambilan data untuk masing-masing stasiun
pengamatan. Titik pengambilan data pada stasiun satu dan dua ditampilkan
pada gambar 2.2.

Gambar 2.2 Stasiun Pengamatan (Google Earth, 2015)

Gambar 2.3 Spot pencuplikan di Sungai Cihanjuang (Google Earth, 2015)

Terdapat dua parameter penting yang akan diukur, yaitu parameter


biotik

dan

abiotik.

Parameter

biotik

diukur

melalui

pencuplikan

makrozoobentos dengan menggunakan jala Surber, dan dilakukan di sepuluh


titik di dua stasiun berbeda yaitu sepanjang curug Cimahi dan sungai
Cihanjuang.
Parameter abiotik diukur dengan sampling air dari tiap titik dengan
menggunakan botol sampel gelap agar tetap menjaga kadar OD asli dari
sumber air. Dilakukan pengukuran parameter fisika-kimia dari sampel air
yang telah diambil. Menggunakan pH meter untuk menentukan pH air. DO-

meter digunakan untuk mengukur kadar oksigen terlarut. Konduktivitas air


dan temperatur diukur menggunakan SCT meter. Turbiditas diukur
menggunakan turbidity meter. Sampel air disaring dan dipanaskan dalam
furnace untuk dapat menentukan nilai TDS (Total Dissolved Solid) dan TSS
(Total Suspended Solid). Kadar unsur N dan P ditentukan melalui metode
spektrofotometri.
2.2.2 Analisis Data
Data yang diperoleh digunakan untuk menentukan dan membandingkan
status ekologis dari perairan pada dua stasiun pengamatan. Penentuan status
ekologis dilakukan melalui sistem scoring. Rentang skor untuk tiap variabel
faktor fisika-kimia dan biotik (keanekaragaman makrozoobentos) ditampilkan
pada tabel 2.1. Perbandingan kesamaan komunitas makrozoobentos antara
dua stasiun dihitung menggunakan indeks kesamaan Sorensen.
Tabel 2.1 Skor untuk Penentuan Status Ekologis Perairan

Warna air
Bau air

1
Jernih
Tidak

3
Agak keruh
Agak

Skor
6
Keruh, kuning
Berbau anyir,

10
Keruh sekali, coklat
Berbau busuk,

Suhu air (C)


Konduktivitas

berbau
16-20
<50

berbau
21-25
50-100

minyak tanah
26-31
101-500

minyak tanah
>31; <16
>500

(mhos/cm)
Padatan

20

20-100

101-400

>400

tersuspensi (ppm)
O2 terlarut
pH

>6,5
6,5-7,5

4,5-6,5
5,5-6,5

2,0-4,4
4,0-5,4

<2
<4,0

7,4-8,5
H
>2,5
1,5-2,5
Keterangan untuk status ekologis:

8,6-11
1,0-1,5

>11
<1,0

Variabel

Belum atau sedikit tercemar = skor rata-rata 2


Tercemar ringan = skor rata-rata 2,00 4,00
Tercemar sedang = skor rata-rata 4,00-6,00
Tercemar parah = skor rata-raa > 6,00

Persamaan-persamaan yang digunakan tercantum pada tabel 2.2 di bawah ini.


Tabel 2.2 Daftar Persamaan

Nilai
TDS (mg/L)

Persamaan

1000
( da ) 1000 ; a = massa cawan uap
100
d = massa cawan uap + filtrat hasil furnace

1000
(e( b+ c ) ) 1000 ; b = massa cawan kruz
100

TSS (mg/L)

c = massa kertas saring


Indeks Keanekaragaman
(H)
Dominansi
Indeks Kesamaan
Sorensen

e = massa cawan kruz + filtrat hasil furnace


- pi ln(pi) ;
pi = jumlah individu suatu spesies/jumlah individu total
pi2

A+ B
2C

; A= jumlah spesies pada wilayah A, B = jumlah

spesies pada wilayah B, C jumlah spesies sama yang ditemukan.


Status ekologis

( rata rata skor variabel fisika kimia )+( Skor H ' )


2

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil dan Analisis Parameter Mikroklimat & Fisika Kimia

Salah satu parameter penting dalam analisis ekosistem adalah


pengambilan data mikroklimat. Beberapa pengukuran parameter yang
dilakukan untuk data mikroklimat adalah intensitas cahaya, kelembaban
udara, pengukuran suhu udara dan suhu tanah (Unwin, 1978). Hasil
pencuplikan data mikroklimat dapat dilihat pada tabel 3.1.
Tabel 3.1 Mikroklimat di dua stasiun berbeda

Curug cimahi

Suhu Udara (oC)

Kelembaban Rf
udara (%)

Intensitas cahaya
(Lux) (Nilai rata2/
average)

Rata-rata

19,43

84,37

6588,30

Standar deviansi

0,92

11,73

11004,12

Sungai
Cihanjuang

Suhu Udara (oC)

Kelembaban Rf
udara (%)

Intensitas cahaya
(Lux) (Nilai rata2/
average)

Rata-rata

29,81

70,50

72568,33

Standar deviansi

2,75

12,95

29852,79

Rona lingkungan dikedua stasiun yaitu di daerah curug Cimahi dan


daerah sungai Cihanjuang sangatlah berbeda. Curug Cimahi berada diantara
tebing karena berhubungan langsung dengan beda elevasi tanah sehingga
dekat dengan air terjun, menyebabkan suhu lebih rendah dan intensitas
cahaya lebih rendah. Masih banyaknya tumbuhan karena lebih lembab
dibandingkan dengan sungai Cihanjuang. Rona lingkungan di sungai
Cihanjuang sangat terpapar sinar matahari karena hamper tidak adanya
tutupan pohon disekitar sungai. Kelembaban lebih rendah dan intensitas
cahaya tinggi menyebabkan kekringan dan tumbuhan yang sangat jarang.
Pengambilan data dilakukan pada dua stasiun pengamatan dengan
kondisi yang sangat berbeda. Berikut ini merupakan hasil pengukuran
parameter fisika kimia dari kedua stasiun pengamatan (tabel 3.2).
Tabel 3.2 Parameter Fisika-Kimia Perairan

Curug Cimahi

Sungai Cihanjuang

Rataan

Rataan

DO (ppm)

8.699

7.513

Suhu (C)

21.58

28.75

Konduktivitas (S)

135.34

322.67

pH

7.47

7.05

Konsentrasi Nitrat (ppm)

0.057

0.088

Konsentrasi Nitrit (ppm)

0.0486

0.0529

Konsentrasi Amonium (ppm)

0.111

0.174

Konsentrasi Ortofosfat

0.023

0.033

Parameter

(ppm)

Dissolved oxygen (DO) adalah jumlah oksigen terlarut yang ada pada
suatu larutan. Tanpa oksigen, suatu perairan tidak akan dapat menyokong
kehidupan yang ada didalamnya. Segala organisme yang ada di dalam
perairan seperti serangga, ikan, zooplankton, membutuhkan oksigen untuk
respirasi (Caduto, 1990). Semakin tinggi DO, maka akan semakin baik bagi
ekosistem perairan tersebut, baik pada lentik maupun lotik. Dapat
dibandingkan pada dua stasiun berbeda, nilai DO lebih tinggi pada curug
CImahi. Hal tersebut dimungkinkan karena curug Cimahi berada lebih dekat
dengan sumber mata air, dan belum banyak kegiatan manusia disekitarnya
yang membuang limbah zat-zat beracun ke sungai. Berbeda dengan sungai
Cihanjuang yang memiliki kadar DO lebih sedikit karena sudah sangat
banyak kegiatan manusia disekitarnya. Limbah zat-zat beracun dari rumah
tangga dan industri dibuang langsung ke sungai sehingga organisme autotrof
sebagai produsen oksigen seperti tanamana dan fitoplankton sulit untuk tetap
hidup dan menghasilkan oksigen.
Konduktivitas sering digunakan sebagai pengganti nilai salinitas dan
biasanya akan lebih tinggi pada air yang mengandung kadar garam tinggi
(Dodds, 2002). Limbah buangan rumah, industri maupun perkebunan dapat
berkontribusi terhadap peningkatan ion dan juga mungkin mengandung
senyawa konduktor (senyawa organik) yang dapat mempengaruhi besar

konduktivitas pada suatu perairan (Stoddard et al., 1999). Dapat dilihat pada
nilai konduktivitas yang lebih besar pada sungai Cihanjuang. Hal tersebut
mungkin karena efek dari limbah buangan rumah tangga dan industri sekitar
sehingga meningkatkan kandungan ion-ion asing pada badan perairan. Dapat
disimpulkan bahwa kondisi ekologis dari curug cimahi lebih baik karena
tidak mengandung ion-ion asing dan tetap menjaga kemurnian airnya dari
limbah-limbah pencemar. Perbandingan pH pada kedua stasiun tidak terlalu
signifikan dan berada pada kisaran 7, yang menunjukkan derajat keasaman
yang netral.
Fosfor dan nitrogen dianggap sebagai salah satu factor primer yang
mendorong eutrofikasi pada suatu ekosistem akuatik. Keadaan eutrofik pada
ekosistem akuatik dapat terjadi secara alami maupun hasil dari pembuangan
kegiatan manusia seperti limbah rumah tangga dan industri (Dodds, 2002).
Menurut Hendrawati et al., standar kandungan agar mendapatkan predikat
perairan ologtrofik untuk nitrat adalah 0 dan ortofosfat <0,03. Walaupun
terdapat perbedaan yang tidak terlalu signifikan dari kedua stasiun,
kandungan N dan P lebih tinggi pada sungai Cihanjuang menunjukkan bahwa
perairan tersebut lebih tercemar dan lebih mendekati keadaan eutrofik
daripada curug Cimahi
Parameter abiotik (fisika-kimia) dan juga biotik dapat digunakan untuk
menentukan status ekologis suatu perairan melalui metode scoring. Berikut
merupakan tabel scoring penetuan status ekologis dari kedua stasiun
pengamatan (tabel 3.3). Berdasarkan penentuan tersebut, stasiun 1 tergolong
pada kondisi sedikit tercemar dan stasiun 2 tergolong pada kondisi tercemar
sedang.
Tabel 3.3 Scoring Status Ekologis

St. 1

Warna

Bau

Suhu

Konduktivitas

(C)

(mhos/cm)

DO

pH

Skor akhir

1.75

Status
ekologis

Sedikit
Tercemar

St. 2

3.375

Tercemar
Sedang

3.2 Hasil dan Analisis Data Pencuplikan Benthos


Makrozoobentos yang hidup pada dasar perairan dapat menjadi salah
satu faktor biologis yang menunjukkan status ekologis ekosistem akuatik
(Adamek et al., 2010). Species richness, nilai indeks Sorensen, dan indeks
keanekaragaman Shannon-Wiener (H) dari komunitas makrozoobentos pada
dua stasiun pengamatan ditampilkan pada tabel 3.3.
Tabel 3.3 Species Richness, Indeks Sorensen, dan H Makrozoobentos

Species richness

Curug CImahi

Sungai Cihanjuang

24

33

Indeks Sorensen

28,07 %

H'

1,929

2,6

Dominansi

0,2993

0,129

Indeks Sorensen atau indeks kesamaan jenis menunjukkan persen


kesamaan spesies antar dua komunitas berbeda. Semakin mendekati 100%
maka semakin tinggi tingkat kesamaan dua komunitas tersebut (Magurran,
2004). Karena indeks sorensen sebesar 28,07% , maka dapat disimpulkan
bahwa kedua stasiun tersebut memiliki tingkat kesamaan yang rendah dan
tidak dpaat dikatakan sebagai dua komunitas yang sama.
Indeks Shannon-Wiener menunjukkan keanekaragaman yang ada pada
suatu ekosistem. Semakin tinggi indeks ini maka semakin besar tingkat
keanekaragaman organisme. Biasanya indeks Shannon-Wiener berkisar antara
1,5-3,5 dan sangat jarang menyentuh angka 4 (Magurran, 2004). Indeks
keanekaragaman pada sungai Cihanjuang dan curug Cimahi sama-sama pada
keanekaragaman sedang (1,5 - 3), walaupun lebih tinggi di sungai
Cihanjuang.

10

Kelimpahan

makrozoobentos

dari

kedua

stasiun

pengamatan

ditampilkan pada gambar 3.1 dan gambar 3.2 berikut ini.

Gambar 3.1 Kelimpahan Makrozoobentos pada Curug Cimahi

Gambar 3.2 Kelimpahan Makrozoobentos pada Sungai Cihanjuang.

Indeks

Simpson,

atau

yang

biasa

disebut

indeks

dominansi

menunjukkan pengaruh keberadaan suatu organisme terhadap organimse


lainnya, pada suatu komunitas pada waktu tertentu (Magurran, 2004). Indeks
dominansi berkisar antara 0-1, dimana indeks yang lebih besar dari 0,5
menunjukkan adanya organisme yang dominan. Dilihat dari kedua stasiun,
tidak ada organisme yang dominan karena indeksnya ada di bawah 0,5.

11

BAB IV
KESIMPULAN

Adapun kesimpulan dari praktikum ini adalah sebagai berikut :


1. Keanekaragaman kedua stasiun sama yaitu keanekaragaman sedang,
dengan indeks pada curug Cimahi sebesar 1.929, dan indeks sungai
Cihanjuang sebesar 2.6.
2. Rataan nilai DO, suhu, konduktivitas, pH, TDS, TSS, konsentrasi nitrit,
nitrat, ammonium, dan ortofosfat secara berturut-turut pada stasiun 1
adalah 1,929; 0,2993; 135,34; 7,47; 0,0486; 0,057; 0,111; 0,023. Pada
stasiun 2 adalah sebesar 7,513; 28,75; 322,67; 7,05; 0,0529; 0,088; 0,174;
0,033.
3. Status ekologis untuk Curug Cimahi adalah sedikit tercemar dan status
ekologis untuk Sungai Cihanjuang adalah tercemar sedang.

12

DAFTAR PUSTAKA

Adamek, Z., C. Orendt, G. Wolfram, J. Sychra. 2010. Macrozoobenthos Response to


Environmental Degradation in A Heavily Modified Stream: Case Study The Upper
Elbe River, Czech Republic. Biologia, 65(3): 527-536
Caduto, M.J. 1990. Pond and Brook: A Guide to Nature in Freshwater Environments.
Prentice-Hall, Inc. Englewood Cliffs, NJ.
Direktorat Bina Penatagunaan Sumber Daya Air. 2015. Daftar Wilayah Sungai. Online.
http://sda.pu.go.id:8181/sda/?act=daftar_ws. Diakses pada 18 Oktober 2015 pukul
13.20
Dodds, Walter. 2002. Freshwater Ecology: Concepts and Environmental Applications.
Academic Press, Orlando.
Hendrawati, Prihadi, TH., Rohmah, NN. Analisis Kadar Phosfat dan N-Nitrogen
(Amonia,Nitrat,Nitrit) pada Tambak Air Payau akibar Rembesan lumpur Lapindo di
Sidoarj, Jawa Timur. Badan Riset Kelautan dan Perikanan : Jakarta.
Koordinat Curug Cimahi. 2015. Online. https://tools.wmflabs.org/geohack/geohack.php?
pagename=Curug_Cimahi&params=-6.783_N_107.566_E_type:landmark . Diakses
pada 18 Oktober 2015 pukul 13.40.
Magurran, A.E. 2004. Measuring Biological Diversity. Blackwell
Miller, G. T. 2002. Living in The Environment: Principles, Connections, and Solution. USA:
Wad Sorth Group
Molles, M. C. 2008. Ecology: Concepts and Applications, 4th Ed. New York: McGraw Hill.
Stoddard , JL., Jeffries, DS., Lu kewille, A., Clair, T., Dillon, PJ., Driscoll, CT., Forsius, M.,
Johannessen, M., Kahl, JS., Kellogg, JH., Kemp, A., Mannio, J., Monteith, D.,
Murdoch, P., Patrick, S., Rebsdorf, A., Skjelkva le, BL., Stainton, MP., Traaen, T.,
van Dam, H., Webster, K., Wieting, J., Wilander, A. 1999. Regional Trends in
Aquatic Recovery from Acidification in North America and Europe. Nature 1999401-575-578.
Sukadi. 1999. Pencemaran Sungai Akibat Buangan Limbah dan Pengaruhnya Terhadap
BOD dan DO. FPTK IKIP : Bandung.
Unwin, D. M. 1978. Simple Techniques for Microclimate Measurement. Journal of
Biological Education

13

LAMPIRAN

1.

Mikroklimat curug cimahi

Kelom
pok

Ulang
an ke-

Suhu
udara
(oC)

Kelembaban
Rf udara (%)

Intensitas
cahaya (Lux)
(Nilai rata2/
average)

19,40

84,00

3900,00

18,30

92,00

3430,00

18,30

90,00

3900,00

17,70

86,00

2590,00

18,05

85,00

2760,00

18,05

85,00

3120,00

20,00

86,00

2290,00

20,00

84,00

1850,00

20,00

86,00

2090,00

19.44

96,00

5580,00

20,00

100,00

5490,00

20,00

92,00

6080,00

20,00

44,00

4210,00

19.5

90,00

4510,00

19.5

72,00

3430,00

14

21.11

84,00

1919,00

20,00

90,00

4670,00

20,00

82,00

4770,00

24.4

55,00

7730,00

20,00

84,00

8740,00

21.67

100,00

8770,00

21,00

92,00

6370,00

20,00

90,00

8490,00

20,00

90,00

880,00

20,00

70,00

63500,00

20.56

80,00

10650,00

20,00

94,00

4820,00

18,00

88,00

4180,00

19,00

80,00

4280,00

19,00

80,00

2650,00

Rata-rata

19,43

84,37

6588,30

Standar
deviansi

0,92

11,73

11004,12

10

2.

mikroklimat sungai
Kelom
pok

Ulang
an ke-

Suhu
udara
(oC)

Kelembaba
n Rf udara
(%)

Intensitas
cahaya
(Lux) (Nilai
rata2/
average)

32,80

56,00

50200,00

33,30

44,00

93600,00

30,00

68,00

90700,00

24,40

77,00

65600,00

24,60

75,00

64900,00

24,16

80,00

57400,00

28,89

66,00

12160,00

30,00

70,00

21500,00

15

29,44

68,00

11390,00

31,67

72,00

53900,00

30,55

80,00

46000,00

30,00

78,00

91000,00

30,00

56,00

77300,00

29,00

62,00

75700,00

30,00

57,00

76700,00

31,11

67,00

59700,00

32,22

64,00

75000,00

32,77

70,00

77400,00

32,20

55,00

116400,00

32,20

59,00

108900,00

21,67

58,00

11100,00

30,50

92,00

114500,00

29,00

90,00

95900,00

30,00

90,00

109100,00

32,20

79,00

94200,00

30,00

98,00

94000,00

31,67

88,00

90100,00

30,00

70,00

64300,00

30,00

70,00

82700,00

30,00

56,00

95700,00

Rata-rata

29,81

70,50

72568,33

Standar
deviansi

2,75

12,95

29852,79

10

3.
Nama
spesies

makrobenthos curug cimahi


Kelimpahan

Ju
ml
ah
Ind
ivi

Ind/
m2

pi

pi ln
pi

pi2

16

du
1 2 3 4 5 6 7 8 9

Baetidae
sp.

8
6

Planaria
sp.

Hydroptil
idae sp.

Dero sp.

Baetis
sp.

Chirono
mus sp.

Dicranot
a sp.

2 5

2 4

0,5
243
9

0,33
8503
93

0,274
98512
79

16

16,
326
53

0,0
975
61

0,22
7051
48

0,009
51814
40

14

14,
285
71

0,0
853
66

0,21
0069
07

0,007
28732
90

8,1
632
65

0,0
487
8

0,14
7337
8

0,002
37953
60

0,0
426
83

0,13
4620
09

0,001
82183
22

0,0
365
85

0,12
1028
3

0,001
33848
90

0,0
182
93

0,07
3193
67

0,000
33462
22

0,0
182
93

0,07
3193
67

0,000
33462
22

0,0
182
93

0,07
3193
67

0,000
33462
22

86

1 6 2

Cloeon
sp. 1

Caenis
sp.

1
0

87,
755
1

7,1
428
57
6,1
224
49
3,0
612
24
3,0
612
24
3,0
612
24

17

Dubiraph
ia sp.

Drunella
sp.

Elemida
e sp. 1

Hydrops
yche sp.
1

Hydrops
yche sp.
2

Oligocha
eta sp. 3

Oligocha
eta sp. 4

0,0
121
95

0,05
3740
48

0,000
14872
10

0,0
060
98

0,03
1096
75

0,000
03718
02

0,0
060
98

0,03
1096
75

0,000
03718
02

1,0
204
08

0,0
060
98

0,03
1096
75

0,000
03718
02

1,0
204
08

0,0
060
98

0,03
1096
75

0,000
03718
02

1,0
204
08

0,0
060
98

0,03
1096
75

0,000
03718
02

1,0
204
08

0,0
060
98

0,03
1096
75

0,000
03718
02

0,0
060
98

0,03
1096
75

0,000
03718
02

0,0
060
98

0,03
1096
75

0,000
03718
02

Cloeon
sp. 2

0,000
33462
22

Cheumat
opsyche
sp.

0,07
3193
67

Antocha
sp.

0,0
182
93

3,0
612
24
2,0
408
16
1,0
204
08
1,0
204
08

1,0
204
08
1,0
204
08

18

Otioshyc
hus sp.

Palpomy
a sp.

Tabanus
sp.

Tedipes
sp.

Nama
spesie
N s
o
.

Tubifex
1 sp.

1,0
204
08

1,0
204
08

1,0
204
08

16
4

167
,34
69

1
To
ta
l

4.

1,0
204
08

Watteble
dia sp.

1,0
204
08

0,0
060
98

0,03
1096
75

0,000
03718
02

0,0
060
98

0,03
1096
75

0,000
03718
02

0,0
060
98

0,03
1096
75

0,000
03718
02

0,0
060
98

0,03
1096
75

0,000
03718
02

0,0
060
98

0,03
1096
75

0,000
03718
02

1,92
9383
55

0,299
30101
13

makrobenthos sungai

Kelimpahan

1 2 3 4 5 6 7 8 9

1
1 5
0 9 2 9 6 4

1
0

Ju
ml
ah
In
div
id
u

Ind
/m
2

10
5

10
7,1
42
9

pi

pi
ln pi

pi2

0,3

0,36
119
184

0,09
0000
0000

19

Tabanu
2 s sp.

Hellobd
3 ella sp.

4
0

Tarebia
4 sp.

1
8

Melanoi
des sp.
6 1

Tendipe
8 s sp.

1
5

3 7

Thiara
5 sp. 2

Enchytr
aeidae
7 sp.

1
2 9

1 4 3 1

1
6 1

6 5

8 3

1 3 1

Antoch
9 a sp.

1 Brotia
0 sp.

1 Dero
1 sp.

40

40,
81
63
3

0,1
14
28
6

0,24
789
185

0,01
3061
2245

30

30,
61
22
4

0,0
85
71
4

0,21
057
735

0,00
7346
9388

25,
51
02

0,0
71
42
9

0,18
850
409

0,00
5102
0408

24

24,
48
98

0,0
68
57
1

0,18
376
315

0,00
4702
0408

18

18,
36
73
5

0,0
51
42
9

0,15
261
744

0,00
2644
8980

16

16,
32
65
3

0,0
45
71
4

0,14
104
432

0,00
2089
7959

16

16,
32
65
3

0,0
45
71
4

0,14
104
432

0,00
2089
7959

7,1
42
85
7

0,0
2

0,07
824
046

0,00
0400
0000

7,1
42
85
7

0,0
2

0,07
824
046

0,00
0400
0000

7,1
42
85
7

0,0
2

0,07
824
046

0,00
0400
0000

25

20

Melanoi
1 des sp.
2 3

Parathe
1 lpusa
3 sp.

Melanoi
1 des sp.
4 2

1 Bellam
5 ya sp.
Digonio
1 stoma
6 sp.

1 1 1 1

1 1

Hydrop
1 psyche
8 sp. 1

2 Thiara
0 sp. 1

2 Thiara
1 sp. 3

Melanoi
1 des sp.
7 4

1 Musca
9 sp.

6,1
22
44
9

0,0
17
14
3

0,06
970
583

0,00
0293
8776

6,1
22
44
9

0,0
17
14
3

0,06
970
583

0,00
0293
8776

5,1
02
04
1

0,0
14
28
6

0,06
069
279

0,00
0204
0816

4,0
81
63
3

0,0
11
42
9

0,05
110
444

0,00
0130
6122

4,0
81
63
3

0,0
11
42
9

0,05
110
444

0,00
0130
6122

4,0
81
63
3

0,0
11
42
9

0,05
110
444

0,00
0130
6122

3,0
61
22
4

0,0
08
57
1

0,04
079
418

0,00
0073
4694

3,0
61
22
4

0,0
08
57
1

0,04
079
418

0,00
0073
4694

3,0
61
22
4

0,0
08
57
1

0,04
079
418

0,00
0073
4694

3,0
61
22
4

0,0
08
57
1

0,04
079
418

0,00
0073
4694

21

Empidi
2 dae sp.
2 1

2 Palpom
3 ya sp.
Cheum
2 atopsyc
4 he sp.

2 Chirono
5 mus sp.
Empidi
2 dae sp.
6 2

2 Hirudin
7 ea sp.

2 Lumbri
8 cus sp.

Melanoi
2 des sp.
9 5

Oligoch
3 aeta
0 sp. 1
Oligoch
3 aeta
1 sp. 2

2,0
40
81
6

0,0
05
71
4

0,02
951
306

0,00
0032
6531

2,0
40
81
6

0,0
05
71
4

0,02
951
306

0,00
0032
6531

1,0
20
40
8

0,0
02
85
7

0,01
673
695

0,00
0008
1633

1,0
20
40
8

0,0
02
85
7

0,01
673
695

0,00
0008
1633

1,0
20
40
8

0,0
02
85
7

0,01
673
695

0,00
0008
1633

1,0
20
40
8

0,0
02
85
7

0,01
673
695

0,00
0008
1633

1,0
20
40
8

0,0
02
85
7

0,01
673
695

0,00
0008
1633

1,0
20
40
8

0,0
02
85
7

0,01
673
695

0,00
0008
1633

1,0
20
40
8

0,0
02
85
7

0,01
673
695

0,00
0008
1633

1,0
20
40
8

0,0
02
85
7

0,01
673
695

0,00
0008
1633

22

Oligoch
3 aeta
2 sp. 4
Pilsbryo
3 concha
3 sp.

1
T
o
t
al

1,0
20
40
8

0,0
02
85
7

0,01
673
695

0,00
0008
1633

1,0
20
40
8

0,0
02
85
7

0,01
673
695

0,00
0008
1633

35
0

35
7,1
42
9

2,60
434
59

0,12
9861
2245

23