Anda di halaman 1dari 3

Rekan-rekan remaja dan pemuda se-wilayah...

Hadirin dan hadirat yang mulia,


Om swastyastu.
Selamat sejahtera dan berbahagia juga kami sampaikan kepada hadirin dan hadirat
yang sudah ada disini.
Pada pagi yang berbahagia ini marilah kita bersama sejenak merenung dan berdoa,
semoga kita yang hingga pagi ini masih dikaruniai kebahagiaan oleh Tuhan yang
Maha Kuasa, diberi kekuatan untuk bersyukur senantiasa, atas rahmat dan hidayah
dari Tuhan yang Maha Kuasa. Rasa syukur itu marilah kita buktikan dengan tetap
menjalankan kewajiban dan tetap menjauhi larangan Tuhan Yang Maha Adil.
Selanjutnya pada pagi yang berbahagia ini, hendaknya kita juga brsyukur atas
kesempatan yang telah diberikan oleh Tuhan yang Maha Kasih, yang dengan
rahmat-Nya pula kita bisa bersama-sama mengadakan upacara memperingati Hari
Kartini.
Nama Kartini, sudah tidak asing lagi. Bahkan dalam kehidupan sekarang ini telah
terpatri suatu sikap, khususnya sikap para Ibu, sikap para remaja dan pemudi putri,
yang mencerminkan cita-cita luhur ibu Kita Kartini.
Sebagai wanita yang tentu tidak bisa meninggalkan kodratnya sebagai perempuan,
maka sekarang kian tampak bahwa dalam mendudukkan dirinya sebagai sesama
pejuang bangsa, telah dapat menenmpatkan diri wanita Indonesia sebagai pejuang
yang tidak ingin dikatakan nomor dua terhadap para kaum laki-laki.

Pertama-tama marilah kita panjatkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas
nikmat yang telah diberikan kepada kita sekalian, yang dengan rahmat-Nya pula
kita bersama-sama bisa berkumpul disini untuk yang kesekian kalinya, khususnya
pada pagi ini dalam rangka memperingati dan menyemarakkan Hari Ibu.
Selanjutnya, marilah kita panjatkan rasa syukur kita kepada Tuhan atas kekuatan
yang telah diberikan kepada kita khusunya kepada para Ibu, yang sampai hari ini
masih belum kehilangan semangat juangnya dalam menangkap sekaligus
mengamalkan nilai-nilai yang terkandung dalam hikmah Hari Ibu yang kita
peringati bersama-sama dengan para Ibu di seluruh wilayah Indonesia tercinta ini.
Hadirin yang mulia khususnya para Ibu.
Peran Ibu pada masa sekarang tampaknya makin meningkat. Bersamaan dengan
itu, makin berat pula tantangan yang kita hadapi. Namun sebagai bangsa yang
besar, maka kita tentunya sepakat untuk pantang menyerah, pantang mundur dan
pantang mengeluh. Semua tantangan hidup sehari-hari seakan makanan lezat yang
harus dihadapi dengan penuh kesabaran dan penuh kesadaran.
Di tengah-tengah semakin berkembangnya tekhnologi yang semakin canggih, ibuibu juga bisa merasakan, betapa hebat dampak dari perkembangan teknologi
tersebut di keluarga kita ini. Tanggung jawab seorang ibu dihadapkan kepada
berbagai masalah, berbagai ragam tantangan, berbagai bentuk persoalan, bahkan
masalah kaum Bapak pun sudah menjadi bagian dari permasalahan para Ibu. Untuk
itu kami menghimbau, janganlah kaum Bapak menganggap kecil peranan kaum Ibu.
Sebab tanpa Ibu, kita ibarat burung tak kan pernah terbang sempurna. Ibarat
burung tak kan pernah terbang perkasa.
Kaum Ibu hendaknya juga menyadari bahwa dengan tugas berat sekarang ini harus
tetap waspada terhadap tanggung jawab hidup. Tanggung jawab ibu sekarang tidak
hanya terbatas pada tanggung jawab dapur dan tempat tidur saja. Lebih dari itu
sudah tiba saatnya kaum Ibu membantu para Bapak, jika perlu membantu tugas
Bapak di luar rumah, di kantor bahkan kalau perlu juga di medan perang.
Hadirin yang mulia tentunya kita juga tetap tahu batas. Janganlah mencampuri
yang bukan urusan kita. Namun tetaplah waspada. Kapan kita boleh membantu,
kapan kita wajib membantu dan kapan pula kita menentukan sikap terhadap kaum
Bapak. Semuanya itu kita lakukan untuk menjaga citra sebagai Ibu. Suatu citra yang
harus bersummber kepada kepribadian bangsa, yakni kepribadian sebagai bangsa
yang luhur, yakni kepribadian Pancasila dan UUD 45.
Dalam menjalankan tugas sehari-hari semoga senantiasa bersama kita. Masih
banyak yang harus kita lakukan. Masih banyak yang belum selesai. Selamat
berjuang, selamat menjalankan tugas , hingga tercapai keluarga yang bahagia,
keluarga sejahtera di atas ridla Tuhan Yang Maha Esa.

Hadirin sekalian, demikian sambutan dari kami, mohon maaf jika ada tutur kata
kami yang kurang berkenan di hati hadirin sekalian.