Anda di halaman 1dari 140

NASKAH AKADEMIK

RANCANGAN UNDANG - UNDANG


TENTANG
PENYANDANG DISABILITAS

DAFTAR ISI
BAB I. PENDAHULUAN
A.
B.
C.
D.

Latar Belakang.................................................................................................... 1
Identifikasi Masalah............................................................................................ 12
Tujuan dan Kegunaan......................................................................................... 14
Metode Penelitian................................................................................................ 15

BAB II. KAJIAN TEORITIS DAN PRAKTIK EMPIRIS


A.
B.
C.
D.
E.

Kajian Teoritis......................................................................................................... 16
Kajian terhadap prinsip yang terkait dengan penyusunan norma................ 28
Kajian terhadap praktik penyelenggaraan, kondisi yang ada,
Serta permasalahan yang dihadapi penyandang disabilitas di masyarakat..31
Kajian terhadap implikasi penerapan sistem baru yang akan diatur
dalam Undang-Undang Penyandang Disabilitas dalam
aspek kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat serta
dampaknya terhadap beban keuangan negara.................................................. 35

BAB III. EVALUASI DAN ANALISIS PERATURAN PERUNDANGUNDANGAN TERKAIT


A. Analisis Peraturan Perundang-Undangan Terkait............................................. 38
B. Evaluasi Peraturan Perundang-undangan Terkait.............................................. 77
BAB IV. LANDASAN FILOSOFIS, SOSIOLOGIS, DAN YURIDIS
A. Landasan Filosofis.................................................................................................... 81
B. Landasan Sosiologis................................................................................................. 96
C. Landasan Yuridis........................................................................................................ 104
BAB V. JANGKAUAN, ARAH PENGATURAN DAN RUANG LINGKUP
MATERI MUATAN UNDANG-UNDANG
BAB VI. PENUTUP
A. Simpulan................................................................................................................. 136
B. Saran......................................................................................................................... 140
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sebagai negara hukum yang menjunjung tinggi nilai peradaban
berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945, Bangsa Indonesia senantiasa menempatkan penghormatan
terhadap harkat dan martabat manusia dalam segala aspek berbangsa,
bernegara dan bermasyarakat. Hal ini didasari oleh pemahaman bahwa hak
asasi manusia merupakan hak dasar yang secara kodrati melekat pada diri
setiap manusia tidak terkecuali para penyandang disabilitas. Hak tersebut
bersifat universal, langgeng, tidak dapat dikurangi, dibatasi, dihalangi, apalagi
dicabut atau dihilangkan oleh siapa pun termasuk Negara. Hak Asasi Manusia
dalam segala keadaan, wajib dilindungi, dihormati, dan dijunjung tinggi tidak
hanya oleh negara tetapi semua elemen bangsa termasuk pemerintah hingga
masyarakat. Dengan pemahaman seperti ini, maka perlindungan, pemajuan
dan pemenuhan hak asasi manusia terhadap warga negara dari kalangan
penyandang disabilitas harus dijamin dalam peraturan perundang-undangan
yang berlaku di Indonesia.
Hal ini perlu dilakukan oleh karena penyandang disabilitas sebagai warga
negara yang mengalami keterbatasan fisik, mental, intelektual, atau sensorik
dalam waktu lama yang dalam berinteraksi dilingkungan sosialnya,
berhadapan dengan berbagai hambatan yang dapat menghalangi partisipasi
mereka secara penuh dan efektif dalam masyarakat berdasarkan pada asas
kesetaraan dengan warga Negara pada umumnya. Sebagai bagian dari umat
manusia dan warga Negara Indonesia, maka penyandang disabilitas secara
konstitusional mempunyai hak dan kedudukan, yang sama di depan hukum
dan pemerintahan. Oleh karena itu, peningkatan peran serta pemajuan,
pemenuhan

hak

dan

kewajiban

para

penyandang

disabilitas

dalam

pembangunan nasional, merupakan hal yang sangat urgen dan strategis.


Apalagi dengan bergulirnya semangat reformasi dan demokratisasi yang
bertumpu pada penguatan sendi-sendi dasar hak asasi manusia, maka
penyandang disabilitas ditinjau dari optik sosio kultural pada hakekatnya
adalah makhluk sosial yang memiliki potensi sehingga berpeluang untuk
berkontribusi dan berperan secara optimal dalam segala aspek kehidupan
berbangsa, bernegara dan bermasyakat. Bahkan Penyandang disabilitas dalam
fase tertentu dapat menjadi change of social agent bagi pembangunan di segala
bidang serta berkesempatan untuk tampil mengukir prestasi gemilang secara
multidisipliner pada tingkat lokal, regional, Nasional, hingga Internasional.
Urgensi perlindungan pemajuan dan pemenuhan hak penyandang
disabilitas perlu semakin diprioritaskan dalam struktur kebijakan negara.
Mengingat penyandang disabilitas secara demografis terus mengalami
peningkatan jumlah tanpa dibarengi dengan pelembagaan sistem pelayanan
yang memihak pada aspek kebutuhan dasar penyandang disabilitas.
Berdasarkan data dari WHO (2011) menyebutkan bahwa jumlah penyandang
disabilitas di dunia pada tahun 2010 adalah sebanyak 15,6 persen dari total
populasi dunia atau lebih dari 1 (satu) milyar. Jika penduduk Indonesia saat ini
sebanyak 247 juta jiwa, itu berarti jumlah penyandang disabilitas berdasarkan
estimasi WHO tersebut di atas adalah 37.091.000 jiwa. Tingkat prevalensi
penyandang disabilitas pada tahun 2007 di Indonesia adalah sebanyak 21,3
persen. Data World Bank (Pozzan, 2011) menyebutkan bahwa sebanyak 80
persen penyandang disabilitas yang tinggal di negara berkembang termasuk
Indonesia mengalami kerentanan, keterbelakangan dan hidup di bawah garis
kemiskinan sehingga termarjinalisasi dalam bidang ekonomi, politik, hukum,
dan sosial budaya. Menurut catatan UN ESCAP (2009) dalam Apeace (2012), di
Indonesia tercatat 1.38 persen penduduk dengan disabilitas atau sekitar
3.063.000 jiwa. Angka ini merupakan jawaban pemerintah RI terhadap survey
UN-ESCAP tahun 2006 yang diperoleh dari Susenas 2006.

Pemicu utama terjadinya marjinalisasi dan diskriminasi terhadap kalangan


penyandang disabilitas menurut Saharuddin Daming dalam makalahnya 2013,
secara spesifik berpangkal dari melembaganya sikap dan perilaku stereotip
dan prejudisme mulai dari kalangan awam hingga kelompok intelektual
bahkan para elit kekuasaan. Namun hal yang paling berbahaya dari sikap
tersebut adalah jika tumbuh dan bersemayam dalam diri para pejabat. Karena
sebagai decision maker, mereka tentu berpotensi melahirkan kebijakan yang
bias HAM bagi penyandang disabilitas lantaran mereka dalam membuat dan
mengimplementasikan kebijakan tersebut, memang berangkat dari rendahnya
pengetahuan secara komprehensif tentang penyandang disabilitas. Akibatnya
kebijakan yang lahir, sudah barang tentu penuh dengan nuansa diskriminasi,
sinisme, apriori bahkan mungkin apatis.1
Selain itu, hal yang turut berkontribusi besar terhadap fenomena
keterpurukan penyandang disabilitas di Indonesia adalah menjamurnya sikap
skeptis, imperioritas kompleks/minder hingga masa bodoh atau putus asa
secara berlebihan pada sebagian penyandang disabilitas itu sendiri maupun
keluarga dan masyarakat disekitarnya dalam memahami futuristik keberadaan
penyandang disabilitas. Hal ini sering timbul karena faktor obyektif maupun
subyektif yang saling kait mengait antara lain tidak adanya jaminan hukum
yang secara tegas tentang perlindungan dan pemenuhan hak penyandang
disabilitas untuk berekspresi dan berapresiasi secara wajar, leluasa, dan
bermartabat.
Dalam UU No.4 tahun 1997 Jo. PP No.43 tahun 1998 dan berbagai
peraturan

perundang-undangan

lainnya,

memang

telah

dilembagakan

sejumlah hak penyandang disabilitas. Namun sangat disesalkan karena


pelembagaan hak penyandang disabilitas dalam peraturan hukum selama ini,
umumnya dirumuskan dalam suasana ala kadarnya. Tidak heran jika dalam
implementasinya, dirasakan masih sangat miskin, baik karena materi muatan

Saharuddin Daming. 2013. Sekapur Sirih Tentang Perwujudan Hak Penyandang Disabilitas Di Indonesia. Hal 3-

4
3

dalam ketentuan tersebut memang tidak operasional, maupun karena terjadi


tumpang tindih dengan peraturan lain hingga terjadi kekosongan hukum yang
sengaja dibiarkan oleh berbagai kepentingan dalam proses perancangan.
Merefleksi pemberlakuan UU No.4 tahun 1997 tentang Penyandang Cacat
yang kini diganti dengan istilah Penyandang Disabilitas semula publik
khususnya kalangan penyandang disabilitas menaruh harapan besar pada UU
tersebut akan menjadi jimat yang sakti untuk mengeluarkan penyandang
disabilitas dari belenggu kerentanan dan keterbelakangan. Betapa tidak
penyandang disabilitas yang dari dulu inheren dengan fenomena kerentanan,
keterbelakangan dan diskriminasi, hingga kini tampaknya belum banyak
berubah sekalipun upaya internasional untuk memberdayakan penyandang
disabilitas telah dicetuskan lebih dari empat dekade. Padahal jika ditinjau dari
aspek apapun, penyandang disabilitas tetap merupakan insan yang memiliki
dan berpeluang untuk mengekspresikan potensi bagi kemajuan diri dan
lingkungannya. Bukan hanya itu, kalau tersedia kesempatan ruang dan
persepsi yang kondusif, maka unsur disabilitas tidak akan pernah menjadi
faktor

penghalang

atau

perintang

baginya

untuk

mengukir

dan

mempersembahkan prestasi spektakuler melebihi kemampuan normal.


Sudah cukup banyak bukti yang menunjukkan tokoh penyandang
disabilitas sebagai pioneer penting peradaban. Mungkin kita umumnya tidak
pernah tahu atau lupa, jika dunia ini menjadi terang benderang oleh sorotan
lampu listrik hasil ciptaan Thomas Alfa Edison. Padahal Thomas tidak lain
adalah seorang Tunarungu. Kita begitu takjub dengan harmoni musik klasik
Ludwig Van Beethoven, seorang komposer legendaris dunia, juga adalah seorang
tunarungu.
Stephen Hawkins yang dinobatkan sebagai manusia tercerdas dalam ilmu
geofisika di abad ini, sesungguhnya juga adalah seorang paraplegia yang tidak
terhalang mengungkap sejarah fenomena alam semesta walau hanya duduk di
atas kursi roda. Albert Einstain yang disebut maestro fisika modern semula
adalah seorang Tunagrahita. Karena
4

kegigihan orang tuanya dalam memberikan supervisi dan fasilitasi.


Einstein perlahan-lahan bangkit hingga akhirnya tampil sebagai ilmuwan
terpenting dunia modern melampaui prestasi Isaac Newton. Bahkan Hellen
Keller yang lahir dalam keadaan bisu. tuli dan buta tumbuh menjadi anak yang
cerdas juga berkat dukungan penuh orangtuanya.
Masyarakat Inggris sebagai salah satu bangsa termaju di dunia sangat
bangga dan tidak malu mempunyai Davied Blunkett sebagai Menteri
Pendidikan dan Tenaga Kerja bahkan sempat menjadi Mendagri dalam
pemerintahan Tony Blayer, meski Blunkitt adalah seorang penyandang
tunanetra. Amerika Serikat sebagai bangsa yang paling maju di dunia ini,
sangat bangga dan mengelu-elukan kehebatan Franklin Delano Roosevelt atas
prestasinya yang begitu spektakuler menjadi pemimpin sekutu Barat yang
sukses menaklukan NAZI Jerman dan Jepang meski ia mengendalikan para
panglima militernya di medan tempur di atas kursi roda akibat lumpuh yang
dialami jauh sebelum menjadi Presiden.
Demikianlah sebagian terkecil dari tokoh dunia yang tak terhalang
membawa pencerahan sekalipun secara fisik mereka adalah penyandang
disabilitas. Ilustrasi singkat ini makin membuktikan bahwa persoalan
penyandang disabilitas, seyogianya tidak disandarkan pada unsur fisikal yang
cenderung berkonotasi destruktif. Bukankah yang menentukan kemuliaan
seseorang itu semuanya bertumpu pada potensi kecerdasan intelektual,
emosional dan spiritual yang ada sebagai unsur yang paling esensial dibalik
penampakan fisikal. Sehingga teranglah jika penyandang disabilitas bukan dan
tidak boleh menjadi alasan baginya untuk berekspresi dan berapresiasi secara
penuh, leluasa dan optimal dalam segala aspek penghidupan dan kehidupan.
Sungguh amat disesalkan karena sejak negeri ini merdeka dari kekuasaan
kolonial lebih dari 65 tahun yang lalu hingga memasuki era reformasi dan
demokratisasi, kondisi kehidupan penyandang disabilitas Indonesia secara
umum masih mengalami suasana kolonialisme yang ditandai dengan berbagai
perlakuan diskriminasi dan marjinalisasi. Anehnya karena perilaku destruktif
5

seperti itu bukan saja ditampakkan oleh kalangan awam tetapi justru sering
muncul dari kalangan decision maker, kaum intelektual termasuk dari para
agamawan sendiri. Tidak heran jika sebahagian besar penyandang disabilitas
masih termarginalisasi diemper-emper kehidupan, sosial, ekonomi dan politik,
sebagai kelompok masyarakat terbelakang dan hidup di bawah garis
kemiskinan.
Fenomena

komunitas

penyandang

disabilitas

yang

dalam

proses

pendidikan formal, hingga saat ini masih harus terisolasi dalam lembaga
khusus yang disebut sekolah luar biasa. Demikian pula bursa kerja dari
instansi pemerintah maupun swasta sejak dulu sampai sekarang selalu dapat
mengeliminasi hak penyandang disabilitas untuk memproleh akses dalam
dunia kerja hanya dengan alasan bahwa penyandang disabilitas diasumsikan
sebagai tidak sehat secara jasmani. Bahkan tidak kalah kejamnya adalah karena
persoalan kerentanan dan keterbelakangan penyandang disabilitas serta upaya
pemberdayaannya sampai saat ini, memang belum pernah menjadi isu
strategis dalam program pemerintah. Isu advokasi dan pemberdayaan
penyandang disabilitas selalu menduduki urutan paling bawah dan dianggap
tidak penting dalam persfektif kebijakan negara.
Memperhatikan keadaan tersebut, sejumlah pihak diberbagai belahan
dunia terus berupaya membangkitkan kesadaran global tentang arti penting
perlembagaan perlindungan hak penyandang disabilitas. Mula-mula isu
perlindungan hak penyandang disabilitas disandingkan dengan konsep Hak
Asasi Manusia, karena bagaimanapun perlindungan hak penyandang
disabilitas, tentu tidak terlepas kaitannya dengan konsep Hak Asasi Manusia
(HAM) pada umumnya. Sebab ketika dunia mencoba merumuskan format
perlindungan Hak Asasi penyandang disabilitas, maka seluruh upaya ke arah
itu selalu bermuara pada postulat equal justice underlaw, equal opurtunity for all.
Hal tersebut sangat terasa pada saat dilangsungkannya beberapa
konferensi internasional tentang Hak Asasi penyandang disabilitas yang
diprakarsai oleh Dewan Sosial Ekonomi Perserikatan Bangsa-Bangsa ditahun
6

70-an hingga pertengahan Dasawarsa 90-an. Sejumlah draft yang diusulkan


oleh delegasi menjadi tidak urgen karena secara subtansial, konsep tersebut
sama sekali tidak berbeda dengan konsep perlindungan HAM, baik yang
terkristalisasi dalam deklarasi universal tentang HAM melalui Piagam PBB
maupun postulat konsep HAM dalam doktrin dan konsepsi HAM di abad
pertengahan.
Meski demikian, Majelis Umum PBB akhirnya dapat mengadopsi
deklarasi penyandang disabilitas pada tahun 1975 disusul dengan lahirnya
sejumlah

instrumen

yang

bersifat

spesifik

tentang

pengakuan

dan

perlindungan hak penyandang disabilitas. Namun memasuki abad ke 21,


gerakan universalisme hak penyandang disabilitas terus menguat yang
ditandai dengan lahirnya Konvensi tentang hak-hak penyandang disabilitas
(Convention on The Rights of Persons With Disabilites) N0 61/106 tertanggal
13 Desember 2006.
Hebatnya lagi karena hanya dalam waktu 3 bulan setelah diadopsi oleh
Majelis Umum PBB, pemerintah RI melalui Menteri Sosial menandatangani
naskah CRPD pada tgl 30 Maret 2007 di Markas PBB New York USA.
Momentum ini telah menjadi inspirasi berbagai stakeholders khususnya
komunitas penyandang disabilitas melakukan serangkaian upaya pendekatan
demi mengakselerasi ratifikasi CRPD, termasuk sosialiasi pada berbagai
elemen bangsa dan negara.
Kerja keras ini akhirnya membuahkan hasil dengan pengesahan CRPD
melalui UU Nomor 19 tahun 2011 (LN RI 2011 Nomor 107; TLN RI 2011 Nomor
5251). Dengan demikian maka Indonesia menjadi bagian dari masyarakat
dunia yang berkomitmen tinggi melalui yuridis formal agar mengambil segala
upaya untuk mewujudkan secara optimal segala bentuk nilai kehormatan,
perlindungan dan pemenuhan hak penyandang disabilitas sebagaimana yang
tercantum dalam konvensi.

Hal yang sangat mendasar dalam Konvensi tersebut mengenai upaya


penghormatan, perlindungan dan pemenuhan hak penyandang disabilitas,
tertuang pada bagian pembukaan antara lain :
(f). Mengakui pentingnya pedoman prinsip dan kebijakan yang termuat dalam
Program Aksi Dunia mengenai penyandang disabilitas dan dalam PeraturanPeraturan Standar mengenai Persamaan Kesempatan bagi penyandang
disabilitas dalam mempengaruhi promosi, perumusan dan evaluasi atas
kebijakan, rencana, program dan aksi pada tingkat nasional, regional dan
internasional untuk lebih menyamakan kesempatan bagi penyandang disabilitas,
(g) Menekankan pentingnya pengarus utamaan isu-isu disabilitas sebagai bagian
integral dari strategi yang relevan bagi pembangunan yang berkesinambungan,
(h) Mengakui juga bahwa diskriminasi atas setiap orang berdasarkan disabilitas
merupakan pelanggaran terhadap martabat dan nilai yang melekat pada setiap
orang,
(i) Mengakui pula keragaman penyandang disabilitas,

Adapun prinsip dasar yang dijadikan landasan materi muatan konvensi


ini, tertuang pada Pasal 3:
(a) Penghormatan pada martabat yang melekat, otonomi individu; termasuk
kebebasan untuk menentukan pilihan, dan kemerdekaan perseorangan;
(b) Non diskriminasi;
(c) Partisipasi penuh dan efektif dan keikutsertaan dalam masyarakat;
(d) Penghormatan pada perbedaan dan penerimaan penyandang disabilitas
sebagai bagian dari keragaman manusia dan kemanusiaan;
(e) Kesetaraan kesempatan;
(f) Aksesibilitas;
(g) Kesetaraan antara laki-laki dan perempuan;
(h) Penghormatan atas kapasitas yang terus berkembang dari penyandang
disabilitas anak dan penghormatan pada hak penyandang disabilitas anak
untuk mempertahankan identitas mereka.
8

Selanjutnya dalam ketentuan Pasal 4 Konvensi yang berbunyi :


1. Negara-Negara Pihak berjanji untuk menjamin dan memajukan realisasi penuh
dari semua hak asasi manusia dan kebebasan fundamental bagi semua penyandang
disabilitas tanpa diskriminasi dalam segala bentuk apapun yang didasari oleh
disabilitas. Untuk itu, Negara-Negara Pihak berjanji:
(a) Mengadopsi semua peraturan perundang-undangan, administratif dan
kebijakan lainnya yang sesuai untuk implementasi hak-hak yang diakui dalam
Konvensi ini;
(b) Mengambil semua kebijakan yang sesuai, termasuk peraturan perundangundangan, untuk mengubah atau mencabut ketentuan hukum, peraturan,
kebiasaan, dan praktik-praktik yang berlaku yang mengandung unsur
diskriminasi terhadap para penyandang disabilitas;
(c) Mempertimbangkan perlindungan dan pemajuan hak asasi manusia dari
penyandang disabilitas dalam semua kebijakan dan program;
(d)Menahan diri dari keterlibatan dalam tindakan atau praktik apapun yang
bertentangan dengan Konvensi ini dan menjamin bahwa otoritas dan lembaga
publik bertindak sesuai dengan Konvensi ini;
(e) Mengambil semua kebijakan yang sesuai untuk menghilangkan diskriminasi
yang didasari oleh disabilitas yang dilakukan oleh setiap orang, organisasi atau
lembaga swasta;
(f) Melaksanakan atau memajukan penelitan dan pengembangan barang, jasa,
peralatan, dan fasilitas yang didesain secara universal, sebagaimana dijelaskan
pada Pasal 2 dalam Konvensi ini, yang memerlukan penyesuaian seminimal
mungkin dan biaya terkecil guna memenuhi kebutuhan khusus penyandang
disabilitas, untuk memajukan ketersediaan dan kegunaannya, dan untuk
memajukan desain universal dalam pengembangan standar-standar dan
pedoman-pedoman;

(g)Melaksanakan atau memajukan penelitan dan pengembangan, dan untuk


memajukan ketersediaan dan penggunaan teknologi baru, termasuk tekonologi
informasi dan komunikasi, alat bantu mobilitas, peralatan dan teknologi bantu,
yang cocok untuk penyandang disabilitas, dengan memberikan prioritas kepada
teknologi dengan biaya yang terjangkau;
(h)Menyediakan informasi yang dapat diakses kepada para penyandang disabilitas
mengenai alat bantu mobilitas, peralatan dan teknologi bantu bagi penyandang
disabilitas, termasuk teknologi baru serta bentuk-bentuk bantuan, layanan dan
fasilitas pendukung lainnya;
(i) Memajukan pelatihan bagi para profesional dan personil yang bekerja dengan
penyandang disabilitas tentang hak asasi manusia sebagaimana diakui di dalam
Konvensi ini sehingga mereka lebih dapat memberikan bantuan dan pelayanan
yang dijamin oleh hak-hak tersebut.
Berdasarkan pranata hukum tersebut, penyandang disabilitas Indonesia
mempunyai kesempatan yang sangat terbuka untuk melakukan restorasi
terhadap paradigma pemberdayaan maupun struktur kebijakan yang masih
mengandung

anasir

diskriminasi

dan

ketidakadilan.

Tak

hanya

itu,

penyandang disabilitas Indonesia justru ditantang oleh konvensi untuk


menjadi tuan di negeri sendiri dan menjadi subyek pembangunan bahkan
kalau perlu menjadi bagian dari penentu tata kehidupan berbangsa, bernegara
dan bermasyarakat. Hanya dengan Mindset dan paradigma berpikir seperti ini,
maka CRPD yang mengatur pelembagaan hak secara komprehensif bagi
penyandang disabilitas, dapat sungguh-sungguh menjadi instrumen taktis
dalam mengantarkan peri kehidupan penyandang disabilitas memasuki pintu
gerbang kehidupan yang sejahtera, mandiri dan bermartabat.
Perlu diketahui bahwa prinsip dasar yang melatar belakangi filosofi
penanganan penyandang disabilitas dalam CRPD adalah diadopsinya
paradigma pendekatan dari charity atau social based menjadi human rights based.
Karena itu CRPD sebagai instrumen HAM yang telah dikuatkan menjadi

10

yuridis formal menurut Roscoe Pound, paling tidak mempunyai dua fungsi
utama yaitu a tool of social control and a tool of social engineering. Jadi eksistensi
CRPD dalam persfektif hukum dan HAM bagi penyandang disabilitas, harus
mampu menjadi sarana kontrol terhadap semua peraturan hukum maupun
kebijakan yang selama ini belum mengakomodasi perlindungan dan
pemenuhan hak penyandang disabilitas.
Kehidupan penyandang disabilitas dari alam keterpurukan menuju
taman sari kehidupan yang sejahtera mandiri dan bermartabat. Dalam hal ini,
CRPD dapat berperan aktif dalam bagian terpenting dari social change of agent
bagi restorasi paradigmatik kehidupan para penyandang disabilitas. Ditilik
dari dimensi human rights, upaya untuk mewujudkan penghormatan,
perlindungan dan pemenuhan hak penyandang disabilitas sebagaimana
tertuang dalam CRPD melekat pada tugas dan tanggungjawab negara maupun
masyarakat. Mereka adalah duty barier dengan tugas dan tanggungjawab
minimal yaitu obligation to respect, obligation to protect and obligation to fullfill for
rights person with disability (Pasal 8, Pasal 71 dan Pasal 72 UU No.39 tahun 1999
tentang HAM).
Apabila tugas dan tanggungjawab mereka tidak dipenuhi atau dipenuhi
tetapi tidak maksimal atau berbeda dari ekspektasi publik, maka itu berarti
negara atau masyarakat telah melakukan pelanggaran HAM terhadap para
penyandang disabilitas. Sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 1 angka 6 UU
No.39 tahun 1999 tentang HAM, merinci definisi tentang pelanggaran HAM
yang pada pokoknya terkonsentrasi pada 4 unsur utama yaitu pembatasan,
pengurangan,

penghalangan

atau

penghilangan

hak.

Dalam

hal

ini

penyandang disabilitas yang telah menjadi korban pelanggaran HAM berhak


penuh untuk melakukan berbagai langkah advokasi.
B. Identifikasi Masalah
Hal pokok yang menjadi materi dalam Naskah Akademik ini terfokus pada 3
(tiga) masalah utama, yaitu:

11

1) Mengapa diperlukan reformasi hukum tentang penyandang disabilitas?


Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat, secara
subtansial tidak sesuai lagi dengan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2011
tentang Pengesahan Convention on the Rights of Persons with Disabilities
(Konvensi mengenai Hak-Hak Penyandang Disbilitas). Hal ini terjadi
karena UU Nomor 4 Tahun 1997 masih cenderung berorientasi pada
pemberian pelayanan berdasarkan amal (charity based) dan bukan atas
dasar pemenuhan hak asasi penyandang disabilitas (right based). Oleh
karena itu untuk lebih menjamin penghormatan, pemajuan, perlindungan,
pemberdayaan penegakan, dan pemenuhan hak penyandang disabilitas,
maka sudah saatnya dilakukan reformasi hukum tentang Penyandang
Disabilitas. Sebagai konsekuensi dari pengesahan CRPD melalui UU
Nomor 19 Tahun 2011, maka perlu segera dibentuk Undang-Undang
Penyandang Disabilitas. Selain sebagai pengganti UU Nomor 4 Tahun
1997, Undang-undang baru tentang Penyandang Disabilitas merupakan
bentuk pengejawantahan UU Nomor 19 Tahun 2011. Hal ini harus
dilakukan karena UU Nomor 19 Tahun 2011 tentang Pengesahan CRPD,
secara teknis yuridis, hanya dilekati daya mengikat secara moral (Morality
Binding) dan tidak mempunyai daya mengikat secara hukum (Legality
Binding).
2) Apa

urgensi

dan

relevansinya

antara

reformasi

hukum

tentang

Penyandang Disabilitas dengan tanggung jawab negara?


Sudah merupakan realitas sejarah peradaban yang selalu mengalami
perubahan secara dinamis seiring dengan perubahan yang terjadi pada
tingkat kebutuhan dan tantangan masyarakat pendukungnya. Saat ini,
warga Negara Indonesia dari kalangan penyandang disabilitas menuntut
perbaikan kehidupan melalui reformasi hukum tentang penyandang
disabilitas.

Negara

sebagai

asosiasi

politik

dan

menjadi

wadah

penyelenggaraan kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat,


berkewajiban

untuk

mengakomodasi

12

tuntutan

perubahan

warga

negaranya. Karena negara dalam konteks hak asasi manusia, merupakan


pemangku kewajiban (Duty Bearer) bahkan dalam alinea keempat UUD
1945 ditegaskan bahwa tujuan dibentuknya Negara Republik Indonesia
adalah untuk melindungi seluruh rakyat dan tumpak darah Indonesia,
memajukan kesejahteraan umum, dan mencerdaskan kehidupan bangsa
dan seterusnya. Jika negara melakukan reformasi hukum tentang
penyandang disabilitas dengan melahirkan Undang-Undang Penyandang
Disabilitas yang baru, berarti negara telah memenuhi kewajibannya dalam
skala nasional dan internasional. Kewajiban nasional dimaksud mencakup
penyesuian kebijakan negara di bidang perlindungan hak penyandang
disabilitas dengan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2011 sekaligus
respon terhadap aspirasi penyandang disabilitas Indonesia tentang
perlunya reformasi hukum tentang penyandang disabilitas. Sedangkan
kewajiban

Internasional

Indonesia

sebagai

tertuju

bagian

dari

pada

komitmen

masyarakat

Negara

Republik

Internasional

untuk

mewujudkan seluruh hak penyandang disabilitas yang tertuang dalam


CRPD. Apalagi Indonesia telah menjadi negara pihak dalam CRPD
berdasarkan UU Nomor 19 Tahun 2011.
3) Apakah yang menjadi ruang lingkup dalam materi muatan UndangUndang Penyandang Disabiilitas, sudah sesuai dengan UU Nomor 12
Tahun 2011 tentang pembentukan peraturan perundang-undangan?
Adapun ruang lingkup pengaturan, jangkauan, dan arah pengaturan
undang-undang ini meliputi Asas dan Tujuan, Prinsip-prinsip Umum Hak
dan Kewajiban, Tanggung jawab dan Wewenang Pemerintah dan
Pemerintah Daerah, Peran
Regional

dan

serta Masyarakat, Koordinasi, Kerjasama

Internasional,

Pendanaan,

Pembinaaan,

Pengawasan,

Penghargaan, Komisi Nasional Disabilitas Indonesia, dan Ketentuan


Sanksi. Ruang lingkup tersebut sudah sesuai dengan amanat UU Nomor 12
Tahun 2011, bahkan ruang lingkup tersebut sudah sesuai dengan target
minimal

dari

upaya

penghormatan,

13

pemajuan,

perlindungan,

pemberdayaan, penegakan dan pemenuhan hak penyandang disabilitas di


Indonesia
C. Tujuan dan Kegunaan
Tujuan penyusunan Naskah Akademik :
1) Merumuskan permasalahan yang dihadapi oleh penyandang disabilitas
dalam kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat.
2) Merumuskan latar belakang perlunya disusun undang-undang pengganti
Undang-Undang Nomor 4 tahun 1997 tentang Penyandang cacat
berdasarkan landasan filosofis, sosiologis, dan yuridis.
3) Merumuskan tujuan yang akan dicapai, pelaksanaan pemenuhan hak
penyandang disabilitas, ruang lingkup pengaturan, jangkauan, dan arah
pengaturan dalam Rancangan Undang-Undang.
Adapun kegunaan dari Naskah Akademik ini sebagai acuan atau referensi
dalam

pembahasan

Rancangan

Undang-Undang

tentang

Penyandang

Disabilitas.

D. Metode Penelitian
Penyusunan Naskah Akademik ini dilakukan dengan menggunakan metode
yuridis normatif yaitu penelitian hukum yang dilakukan melalui studi pustaka
yang menelaah terutama data sekunder yang berupa Peraturan Perundangundangan, putusan pengadilan, perjanjian, kontrak, atau dokumen hukum
lainnya, serta hasil penelitian, hasil pengkajian, dan referensi lainnya.

14

BAB II
KAJIAN TEORITIS DAN PRAKTIK EMPIRIS

A. Kajian Teoritis
Seiring dengan terjadinya perubahan yang sangat dinamis tentang
paradigma pemberdayaan masyarakat sipil dalam konteks Welfare State maka
pola penanganan juga mengalami pergeseran paradigma (paradigm shift).
Perubahan dimaksud mencakup pergeseran dari paradigma pelayanan dan
rehabilitasi (charity based) menjadi pendekatan berbasis hak (right based). Dalam
hal ini, penanganan penyandang disabilitas tidak hanya menyangkut pada
aspek kesejahteraan sosial sebagaimana yang menjadi ciri

undang-undang

sebelumnya, tetapi semua aspek, terutama pemeliharaan dan penyiapan


lingkungan yang dapat mendukung perluasan aksesibilitas pelayanan
terhadap penyandang disabilitas. Gagasan tersebut, tentu merupakan hal yang
perlu terus diperjuangkan sedemikian rupa oleh segenap komponen bangsa.
Komitmen pemerintah sendiri tentang gagasan luhur tersebut sudah sampai
pada kebulatan tekad untuk mewujudkannya. Apalagi dengan perubahan
paradigma dari charity based menjadi right based, memberikan harapan cerah
bagi upaya perwujudan hak penyandang disabilitas secara sistematis, terarah,
menyeluruh, sungguh-sungguh dan berkesinambungan. Hal ini selaras dengan
CRPD yang diadopsi Majelis Umum PBB pada tanggal 13 Desember 2006 dan
menjadi hukum positif di Indonesia (Ius Constitutum) berdasarkan UU Nomor
19 Tahun 2011. Hal yang relevan dengan penegasan ini adalah statement CRPD
yang disadur dari kantor PBB di New York, yaitu:
The Convention marks a "paradigm shift" in attitudes and approaches to
persons with disabilities. It takes to a new height the movement from viewing
persons with disabilities as "objects" of charity, medical treatment and social
protection towards viewing persons with disabilities as "subjects" with rights,
who are capable of claiming those rights and making decisions for their lives
based on their free and informed consent as well as being active members of
society.The Convention is intended as a human rights instrument with an
explicit, social development dimension. It adopts a broad categorization of
persons with disabilities and reaffirms that all persons with all types of
disabilities must enjoy all human rights and fundamental freedoms.
15

Isi konvensi penyandang disabilitas tersebut memberikan dasar atau


jaminan bahwa penyandang disabilitas memiliki hak untuk mengembangkan
diri dan berdaya. Sebagai anggota masyarakat, lingkungan perlu memberikan
kesempatan untuk pemenuhan hak -hak tersebut.
Menilik materi muatan yang terurai dalam undang-undang ini maupun
CRPD menegaskan bahwa negara khususnya pemerintah merupakan pihak
yang dilekati tanggung jawab untuk mewujudkan hak penyandang disabilitas.
Namun keluarga dan masyarakat maupun penyandang disabilitas itu sendiri
memegang peranan yang sangat penting untuk mempercepat penyempurnaan
cita-cita tersebut. Karena itu keluarga hendaknya memiliki kemampuan
pengasuhan dan perawatan sekaligus pendampingan yang dibutuhkan bagi
penyandang disabilitas untuk mengembangkan diri melalui penggalian
potensi sesuai kemampuan, minat dan bakat agar dapat menikmati, berperan,
dan berkontribusi secara optimal, leluasa, dan tanpa diskriminasi dalam segala
aspek kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat.
Menurut hasil kajian Sapto Nugroho2 menjelaskan bahwa persoalan
penyandang disabilitas adalah persoalan kemanusiaan, bukan semata-mata
pendidikan, kesehatan, dan tenaga kerja. Semua itu hanyalah dampak dari
persoalan kemanusian dimaksud. Jadi hal penting yang perlu di ke depankan
adalah pengembangan karakter. Pengembangan karakter dimaksud justru
tampak masih jauh dari isu penyandang disabilitas yang selama ini
berkembang.
Perubahan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1997 tentang Penyandang
Cacat diperlukan karena isi Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1997 tidak cukup
menjamin hak dan kebutuhan serta peningkatan harkat dan martabat
penyandang disabilitas. Perubahan dimaksud, yang akan tertuang dalam
undang-undang baru, mencakup beberapa pokok berikut:
2

Jurnal Perempuan Volume 65 tahun 2011 Mencari Ruang untuk Difabel.

16

a. Perubahan konsep dari charity-based ke Human Rights-based.


Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat
memuat pengaturan yang didasarkan pada konsep charity atau perlakuan
atas dasar belas kasihan, tidak sebagai upaya melindungi hak asasi
manusia dan meningkatkan pengembangan diri penyandang dsabilitas.
Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1997 memposisikan penyandang
disabilitas sebagai objek, bukan subjek, yang sebenarnya memiliki
kreativitas dalam pengembangan karakter.
b. Perubahan terminologi penyandang cacat menjadi penyandang
disabilitas.
Istilah penyandang cacat mempunyai arti yang bernuansa negatif
sehingga mempunyai dampak yang sangat luas pada penyandang
disabilitas sendiri, terutama dalam kaitannya dengan kebijakan publik
yang sering memposisikan penyandang disabilitas sebagai objek dan tidak
menjadi prioritas. Istilah penyandang cacat dalam perspektif Bahasa
Indonesia mempunyai makna yang berkonotasi negatif dan tidak sejalan
dengan prinsip utama hak asasi manusia, yakni kesamaan harkat dan
martabat semua manusia, dan sekaligus bertentangan dengan nilai-nilai
luhur bangsa kita yang menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia.
Senada dengan hal tersebut Saharuddin Daming dalam makalah tahun
2009 menuliskan bahwa dalam perspektif agama khususnya Islam, istilah
Penyandang Cacat juga dinilai bertentangan dengan Al-Quran dan
Hadist Nabi SAW yang pada pokoknya melarang memanggil atau
menyapa seseorang dengan panggilan atau gelar yang terkesan mengejek
atau menonjolkan kekurangan. Firman Allah dalam Al-Quran surah Al
hujuraat ayat 11 :

17

Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan


kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan
pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang
direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri[1409] dan jangan
memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah
(panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka
itulah orang-orang yang zalim.

Lebih lanjut Saharuddin Daming menjelaskan bahwa mencermati


kondisi perkembangan kaum penyandang disabilitas di Indonesia dewasa
ini, baik berdasarkan data dari Biro Statistik maupun dengan hasil
pengamatan langsung disimpulkan bahwa, sejak negeri ini merdeka,
komunitas penyandang disabilitas sebagian besar ternyata masih terpuruk
sebagai kelompok masyarakat yang paling marginal. Meski secara
individual dengan jumlah yang amat terbatas dijumpai segelintir
penyandang disabilitas yang memperoleh penghidupan standar bahkan
lebih maju namun secara umum struktur kehidupan sosial penyandang
disabilitas sangat memprihatinkan, karena mereka sungguh-sungguh tidak
berdaya menghadapi tekanan persaingan hidup yang keras akibat adanya
stigmatisasi, diskriminasi dan ketidakadilan. Tidak heran jika habitat sosial
mereka saat ini kian tergusur di emper-emper pergaulan sosial sebagai
masyarakat yang sangat rentan dari kebodohan, keterbelakangan dan
kemiskinan.
Fenomena tragis seperti yang dikemukakan di atas sudah melembaga
sejak lama dengan unsur pemicu yang cukup banyak dan kompleks. Salah

18

satu unsur yang sering luput dari daftar masalah klasik dan strategis yang
potensial memicu terjadinya delegitimasi dan degradasi terhadap upaya
pemberdayaan dan pembangunan kemajuan kesejahteraan penyandang
disabilitas justru bersumber dari faktor kebahasaan atau peristilahan yang
mengidentifikasi keberadaan Penyandang Cacat dengan kata kunci yaitu
cacat.
Dalam konsep sosiolinguistik dipahami bahwa bahasa merupakan
instrumen utama bagi manusia dalam berinteraksi dan berkomunikasi,
bahkan bahasa menjadi simbol dalam mendeskripsikan harkat dan
martabat manusia. Singkat kata, bahasa tidak lain merupakan sarana untuk
memuliakan manusia itu sendiri karena melalui bahasa manusia saling
bahu membahu untuk mengukir peradaban moderen.
Sungguh hal yang sangat disesalkan karena paradigma pemuliaan
manusia melalui bahasa sebagaimana diuraikan di atas, justru bertolak
belakang dengan realitas penggunaan bahasa di Indonesia yang
mendeskripsikan orang yang mengalami disfungsi fisikal dan/atau
intelektual dengan sebutan Penyandang Cacat. Ditinjau dari sisi
pemaknaan apapun, istilah Cacat selalu berkonotasi destruktif. Tapi
anehnya istilah tersebut justru merupakan istilah umum dalam percakapan
sehari-hari bahkan terminologi Cacat sudah sejak lama dilembagakan
secara formal menjadi istilah baku dalam peraturan perundang-undangan
di Indonesia.
Hal yang dikemukakan di atas, sungguh merupakan realitas sosial yang
telah mengkebiri bagian-bagian terpenting dari harkat dan martabat para
penyandang disabilitas. Betapa tidak karena pikiran dan sikap kita sangat
dipengaruhi oleh bahasa yang kita gunakan. Dalam hal ini, biasanya kita
cenderung menceburkan diri begitu saja ke kancah bahasa yang sudah
dipatenkan sebagai bahasa yang baik dan benar. Dengan begitu, kita juga
secara tak langsung mengadopsi pola pikir serta pola sikap yang mapan.

19

Dalam hal ini, Peter Coleridge mencontohkan : Leila yang malang,


yang bekerja sebagai sekretaris, menderita sklerosa (pengeroposan tulang)
ganda dan terkurung dalam kursi roda selama bertahun-tahun. Atau yang
ini : John adalah korban serangan stroke yang juga terkena hemiplegia
(lumpuh separuh badan), ia hanya bisa bergerak secara terbatas dan perlu
perlengkapan khusus untuk makan tanpa disuapi orang.
Label atau sebutan semacam itu membuat orang merasa cacat atau
dicacatkan. Sebab dengan memakai sebutan itu, kita menempatkan
orang yang kita bicarakan sebagai objek atau kasus, dan bukan sebagai
manusia. Perhatikan kata-kata ini : malang, korban, menderita, terkurung,
terbatas - semuanya mendukung anggapan bahwa penyandang cacat
adalah orang-orang yang sakit, lemah, tak berdaya. Sebuah kursi roda
tidaklah mengurung siapa pun juga; ia malah membebaskan pemakainya
untuk hilir-mudik ke mana-mana, ke kantor, ke toko, ke taman kota. Tanpa
kursi itu si Leila malah hanya bisa bertopang dagu di kamarnya. Kursi
roda mestinya dipahami sebagai kosa kata yang identik dengan mobil bagi
kalangan non cacat; karena instrumen tersebut adalah pembantu mobilitas.
Dalam beberapa kasus, justru kurang pantas untuk menyebut
seseorang sebagai cacat. Masalahnya, apakah orang itu hanya dapat
diidentifikasi dengan menyebutkan kecacatannya saja? Namun bila kita
merasa layak menyebut seseorang penyandang cacat itu, barangkali
beberapa contoh di bawah ini adalah sebutan-sebutan positif atau paling
tidak netral. Misalnya, Leila adalah seorang sekretaris, dia memakai
kursi roda ke mana-mana akibat sklerosa ganda. Atau: John terkena
stroke beberapa tahun yang lalu, dan kini la bisa makan sendiri dengan
memakai peralatan khusus.
Berdasarkan hal tersebut, maka istilah penyandang cacat harus
segera diganti dengan istilah baru yang mengandung nilai filosofis yang
lebih konstruktif dan sesuai dengan prinsip hak asasi manusia. Upaya
penggantian istilah penyandang cacat dimulai dari penyelenggaraan
20

Semiloka oleh Komnas HAM dan Kementerian Sosial Republik Indonesia


pada tanggal 9 sampai 10 Januari 2009 di Cibinong, Bogor. Deklarasi
Cibinong dimatangkan melalui diskusi Kelompok Terpokus oleh para
pakar yang diselenggarakan Komnas HAM pada tanggal 19 sampai 20
Maret 2010 di Jakarta yang kemudian hasilnya dikukuhkan dalam Seminar
Nasional yang diselenggarakan oleh Kementerian Sosial RI pada tanggal 29
Maret sampai dengan 1 April 2010 di Bandung. Dalam forum tersebut
disepakati istilah Penyandang Disabilitas sebagai pengganti istilah
Penyandang Cacat. Komitmen tersebut diwujudkan dengan formalisasi
istilah penyandang disabilitas melalui UU Nomor 19 Tahun 2011 sebagai
tonggak sejarah baru perubahan istilah penyandang cacat menjadi
penyandang disabilitas.
Selain memenuhi kriteria yang dipersyaratkan, istilah penyandang
disabilitas juga lebih mengakomodasi unsur-unsur utama dari kondisi ril
yang dialami penyandangnya. Hal ini dapat dirujuk pada bagian
preambule huruf (e) CRPD : Recognizing that disability is an evolving
concept and that disability results from the interaction between persons
with impairments and attitudinal and environmental barriers, that hinders
their full and effective participation in society on an equal basis with
others.
Jadi CRPD dalam preambulnya menegaskan bahwa Disabilitas adalah
suatu konsep yang berkembang secara dinamis dan Disabilitas adalah hasil
dari interaksi antara orang-orang yang tidak sempurna secara fisik dan
mental dengan hambatan-hambatan lingkungan yang menghalangi
partisipasi mereka dalam masyarakat secara penuh dan efektif atas dasar
kesetaraan dengan orang-orang lain. Hal ini lebih dipertegas lagi pada
kalimat terakhir dari artikel 1 CRPD : Persons with disabilities include
those who have long-term physical, mental, intellectual or sensory
impairments which in interaction with various barriers may hinder their
full and effective participation in society on an equal basis with others.

21

Berdasarkan ketentuan dalam artikel 1 CRPD, dirumuskan secara


gamblang bahwa penyandang disabilitas adalah mereka yang memiliki
kelainan fisik, mental, intelektual, atau sensorik secara permanen yang
dalam

interaksinya

dengan

berbagai

hambatan

dapat

merintangi

partisipasi mereka dalam masyarakat secara penuh dan efektif berdasarkan


pada

asas

kesetaraan.

Dengan

demikian

maka

pemilihan

istilah

penyandang disabilitas, sungguh telah merepresentasikan kebutuhan


minimal terminologi pengganti istilah Penyandang Cacat.
Menurut informasi dari pusat bahasa bahwa istilah Disabilitas,
sebenarnya telah dibakukan dalam glosarium pusat bahasa dan dalam
waktu dekat akan masuk dalam thesaurus dan Kamus Besar Bahasa
Indonesia. Dalam persfektif internasional, istilah penyandang disabilitas
sesuai betul dengan judul CRPD, sehingga penerjemahan naskah CRPD ke
dalam Bahasa Indonesia, sangat fleksibel dan jauh dari kerancuan bahasa.
Dengan pelembagaan istilah Penyandang Disabilitas sebagai pengganti
istilah

Penyandang

Cacat,

dapat

menjadi

modal

dasar

dalam

mempermudah penyusunan naskah akademik draft RUU tentang


pengesahan CRPD3.

Saharuddin daming. 2011. Tantangan dan Peluang Perwujudan Hak Penyandang Disabilitas Pasca Ratifikasi
CRPD. Hal. 5-9
22

c. Perubahan dari minimalnya pengaturan tanggung jawab negara


terhadap perlindungan penyandang disabilitas menjadi pemaksimalan
pengaturan tanggung jawab negara di segala bidang sesuai dengan cara
pandang hak asasi manusia.
Dalam makalah Saharuddin Daming tahun 2010 menuliskan bahwa
negara dalam konteks hak asasi manusia merupakan pemangku kewajiban
(Duty Bearer) atas seluruh warga negara termasuk penyandang disabilitas
sebagai pemegang hak (Right Order) UUD 1945 Jo. UU Nomor 39 Tahun
1999 tentang Hak Asasi Manusia menegaskan sekurang-kurangnya 3
kewajiban negara terhadap hak asasi manusia yaitu menghormati (to
respect), melindungi (to protect), dan memenuhi (to fulfill).
Kewajiban untuk menghormati (obligation to respect) adalah kewajiban
negara untuk menahan diri untuk tidak melakukan diskriminasi dan
marginalisasi. Dari dalam bentuk sikap maupun tindakan kepada
penyandang disabilitas, privasi maupun hak untuk bekerja, hak atas
pangan, kesehatan, pendidikan maupun kesejahteraan termasuk di
dalamnya hak untuk memperoleh bantuan sosial dan pemeliharaan taraf
kesejahteraan sosial.
Kewajiban Negara untuk melindungi (the obligation to protect) adalah
kewajiban untuk tidak hanya terfokus pada upaya perlindungan dari
pelanggaraan yang dilakukan negara, namun juga terhadap pelanggaran
atau tindakan yang dilakukan oleh entitas atau pihak lain (non-negara)
yang akan mengganggu perlindungan hak penyandang disabilitas.
Termasuk dalam hal ini adalah perlindungan yang dilakukan oleh negara
untuk menghindarkan penyandang disabilitas dari ancaman kesia-siaan,
pelantaran atau eksploitasi dan lain-lain.
Kewajiban untuk memenuhi (the obligation to fulfill) adalah kewajiban
negara untuk mengambil langkah-langkah legislatif, administratif, yudisial
dan praktis, yang perlu dilakukan untuk memenuhi hak penyandang
disabilitas yang dijamin oleh konstitusi maupun peraturan perundangundangan, dalam hal ini negara wajib menyediakan berbagai fasilitas fisik
23

dan non fisik khususnya jaminan pemeliharaan dan kesejahteraan secara


permanen kepada penyandang disabilitas dari kalangan kategori berat.
Sebagai penegasan, penulis kemukakan bahwa Kewajiban Negara
untuk menghormati adalah kewajiban paling dasar. Dalam kaitan dengan
hak ekonomi, sosial dan budaya, kewajiban negara untuk menghormati
adalah menghormati sumber daya milik individu di kalangan penyandang
disabilitas. Sedangkan hal yang paling signifikan dari kewajiban untuk
melindungi adalah sejauh mana Negara menjamin HAM dalam sistem
hukumnya. Kewajiban untuk memenuhi dalam kaitan dengan hak
ekonomi, sosial dan budaya kepada penyandang disabilitas adalah
kewajiban untuk menyediakan berbagai fasilitas atau perlakuan khusus.
Undang-undang Dasar 1945 memasukan serangkaian ketentuan yang
menjamin HAM. Ketentuan tersebut secara tegas mengatur kewajiban
Negara atas HAM. Pasal 28 I ayat (4) UUD 1945 menyebutkan bahwa
perlindungan, pemajuan, penegakan dan pemenuhan HAM adalah
tanggungjawab Negara, terutama pemerintah. Lebih lanjut dinyatakan
bahwa untuk menegakkan dan melindungi HAM sesuai dengan prinsip
negara hukum yang demokratis, maka pelaksanaan HAM dijamin, diatur
dan dituangkan dalam peraturan perundang-undangan.
Kewajiban penyelenggara negara dalam menghormati, melindungi
dan memenuhi HAM temasuk penyandang disabilitas, diatur di dalam
UU No. 39 Tahun 1999 Tentang HAM khususnya pada :
Pasal 8: Perlindungan, pemajuan, penegakan, dan pemenuhan hak asasi
manusia terutama menjadi tanggung jawab Pemerintah.
Pasal 71: Pemerintah wajib dan bertanggung jawab menghormati,
melindungi, menegakkan, dan memajukan hak asasi manusia
yang diatur dalam Undang-undang ini, peraturan perundangundangan lain, dan hukum internasional tentang hak asasi
manusia yang diterima oleh negara Republik Indonesia.
Pasal 72: Kewajiban dan tanggung jawab Pemerintah sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 71, meliputi langkah implementasi yang
24

efektif dalam bidang hukum, politik, ekonomi, sosial, budaya,


pertahanan keamanan negara, dan bidang lain.
Adapun kewajiban penyelenggara negara yang perlu diwujudkan
dalam to respect, to protect and to fulfil adalah HAM dalam bidang sosial
ekonomi budaya (ekosob) maupun sipil dan politik (sipol). Hal ini penting
karena kedua bidang HAM tersebut merupakan materi HAM yang
tertuang dalam dua instrumen internasional HAM yaitu kovenan
internasional tentang hak ekonomi, sosial, budaya, dan kovenan
internasional tentang hak sipil dan politik yang disahkan oleh Majelis
Umum PBB pada tahun 1966. Namun pemerintah RI baru dapat
meratifikasi kedua instrumen HAM tersebut pada tahun 2005 yang
kemudian menjadi undang-undang yaitu UU No. 11 Tahun 2005 yang
meratifikasi kovenan tentang hak ekonomi sosial budaya. Sedangkan UU
No. 12 Tahun 2005 meratifikasi kovenan hak sipil dan politik.
Undang-undang

Nomor

11

Tahun

2005

tentang

Pengesahan

International Covenant on Economic, Social and Cultural Rights (Kovenan


Internasional tentang Hak-Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya) yang termuat
dalam Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 118,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4557, dan
Undang-undang Nomor 12 Tahun 2005 tentang Pengesahan International
Covenant on Civil and Political Rights (Kovenan Internasional tentang
Hak-Hak Sipil dan Politik) yang termuat dalam Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 119, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4558, memberikan harapan adanya keadilan
dan kepastian hukum bagi masyarakat khususnya penyandang disabilitas
yang mendambakan penegakan hak-hak asasinya. Hak-hak asasi ini
bukanlah pemberian Negara apalagi Pemerintah. Dia tidak lahir dari
pengaturan hukum karena HAM adalah hak kodrati dari Sang Pencipta
kepada semua mahluk di muka bumi. .
Dengan adanya kedua undang-undang tersebut di atas, maka
Indonesia

telah

melengkapi
25

penerimaan

atas

Undang-undang

Internasional Hak Asasi Manusia termasuk penyandang disabilitas, yang


telah dilakukan sebelumnya. Penerimaan Indonesia atas Undang-undang
Internasional Hak Asasi Manusia atau dalam dunia internasional dikenal
dengan nama International Bills of Human Right, dilakukan terhadap
Universal Declaration of Human Rights (Deklarasi Universal Hak Asasi
Manusia). Meskipun deklarasi tersebut merupakan instrumen non yuridis,
namun semua anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations),
termasuk Indonesia, wajib mengakui dan menerima pokok-pokok pikiran
yang terkandung dalam deklarasi tersebut. Dalam konteks Indonesia,
Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia menjadi pertimbangan dalam hal
reformasi hukum tentang penyandang disabilitas di Indonesia4.
Mengingat Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1997 tentang Penyandang
Cacat tidak memuat pengaturan yang seharusnya berperspektif HAM,
undang-undang yang baru diharapkan dapat memuat ketentuanketentuan yang menganut prinsip sebagai berikut:
(a) Penghormatan terhadap penyandang disabilitas yang bersifat melekat;
(b) Hak otonomi;
(c) Kemandirian;
(d) Keadilan;
(e) Inklusif;
(f) Non diskriminasi;
(g) Partisipasi;
(h) Disabilitas sebagai bagian dari keragaman manusia;
(i) Kesamaan hak dan kesempatan;
(j) Perlakuan khusus dan perlindungan lebih;
(k) Aksesibilitas; dan

Saharuddin Daming. 2010. Kewajiban Negara Dalam Perwujudan Hak Penyandang Disabilitas. Hal. 7-11
26

(l) Kesetaraan Gender.


Merujuk pada fenomena stagnasi perwujudan hak penyandang
disabilitas dalam perspektif hak asasi manusia akibat tidak terakomodasi
secara sempurna dalam UU Nomor 4 Tahun 1997 maupun peraturan
perundang-undangan lainnya, maka sudah saatnya negara Republik
Indonesia berinisiatif untuk menyusun peraturan perundang-undangan
baru yang diharapkan dapat tepat sasaran, berdasarkan pada hak asasi
manusia,

serta

mengedepankan

aspek

pemberdayaan

penyandang

disabilitas, termasuk inkorporasi sejumlah ketentuan CRPD, yang karena


sifatnya, pelaksanaannya, termasuk sanksi pelanggarannya, harus diatur
dengan undang-undang. Undang-undang yang baru diharapkan secara
substantif dan konsekuen menekankan pada hak asasi manusia dan
penyelenggaraan pemerintahan dengan melaksanakan kewajiban untuk
menghormati, melindungi dan memenuhi hak penyandang disabilitas.

B.

Kajian terhadap prinsip yang terkait dengan penyusunan norma


a. Penghormatan terhadap penyandang disabilitas yang bersifat melekat;
Yang dimaksud dengan Penghormatan pada martabat dan nilai yang
melekat, otonomi individu; termasuk kebebasan untuk menentukan
pilihan, dan kemerdekaan perseorangan adalah sikap dan perilaku setiap
orang, baik individu maupun kelompok terutama penyelenggara negara,
wajib menghormati dan menjunjung tinggi penyandang disabilitas dan
menerima keberadaannya secara penuh tanpa diskriminasi, hal mana
merupakan kewajiban yang bersifat melekat, karena kedisabilitasan
merupakan anugerah Tuhan yang maha kuasa, sehingga kewajiban
tersebut tidak dapat dikurangi, dibatasi, dihambat, dicabut atau
dihalangkan.
b. Hak otonomi;
Yang dimaksud dengan asas hak otonomi adalah hak yang melekat
pada setiap penyandang disabilitas berupa kewenangan secara pribadi

27

untuk memutuskan dan atau menentukan secara bebas segala apa yang
dianggap baik dan atau benar berdasarkan pikiran dan hati nuraninya
tanpa intervensi dalam bentuk apapun dan dari siapa pun.
c. Kemandirian;
Yang dimaksud dengan asas kemandirian adalah kemampuan
penyandang disabilitas untuk melangsungkan hidup tanpa bergantung
kepada belas kasihan orang lain.
d. Keadilan;
Yang dimaksud dengan asas keadilan adalah nilai kebaikan yang harus
terwujud

dalam

kehidupan

penyandang

disabilitas

berupa

pendistribusiaan kesejahteraan dan kemakmuran secara merata, wajar dan


proporsional kepada penyandang disabilitas tanpa diskriminasi.
e. Inklusif;
Yang

dimaksud

menghilangkan

dengan
segala

asas

bentuk

inklusif
diskriminasi

adalah
kepada

kondisi

yang

penyandang

disabilitas sehingga segala sesuatu yang menjadi sistem peradaban


modern senantiasa terkoneksi secara penuh dan konstruktif dengan
keberadaan penyandang disabilitas sesuai dengan jenis dan derajat
kedisabilitasan masing-masing.
f. Non diskriminasi;
Yang dimaksud dengan Prinsip Non diskriminasi adalah tekad bangsa
Indonesia untuk menghapus segala bentuk perlakuan tidak adil dengan
membeda-bedakan warga masyarakat atas dasar kedisabilitasan. Dalam
hal ini penyandang disabilitas mempunyai kedudukan yang setara
dengan warga negara pada umumnya di hadapan hukum dan berhak
untuk mendapatkan perlindungan hukum yang setara, Pemerintah harus
menjamin pemenuhan hak bagi penyandang disabilitas.
g. Partisipasi;
Yang dimaksud dengan prinsip Partisipasi penuh dan efektif dan
keikutsertaan dalam masyarakat adalah keikutsertaan penyandang
disabilitas untuk berperan dan berkontribusi secara optimal, wajar dan
28

bermartabat tanpa diskriminasi, karena itu perlu diupayakan secara


optimal penglibatan penyandang disabilitas dalam berbagai aspek
kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat
h. Disabilitas sebagai bagian dari keragaman manusia;
Yang dimaksud dengan asas disabilitas sebagai bagian dari keragaman
manusia adalah manusia diciptakan dalam keadaan berbeda satu sama
lain, dimana segala yang melekat pada eksistensi penyandang disabilitas
merupakan bagian dari keragaman manusia yang tidak boleh digunakan
sebagai

alasan

untuk

mendiskriminasi

siapa

pun

atas

dasar

kedisabilitasan.
i. Kesamaan hak dan kesempatan;
Yang dimaksud dengan asas kesamaan hak dan kesempatan adalah
keadaan yang mendudukkan penyandang disabilitas sebagai subjek
hukum yang bersifat penuh dan utuh disertai penciptaan iklim yang
kondusif berupa peluang yang seluas-luasnya untuk menikmati, berperan
dan berkontribusi dalam segala aspek kehidupan dan penghidupan
sebagaimana warga negara lainnya.
j.

Perlakuan khusus dan perlindungan lebih;


Yang dimaksud dengan asas perlakuan khusus dan perlindungan lebih
adalah bentuk keberpihakan kepada penyandang disabilitas berupa
perlakuan khusus dan atau perlindungan lebih sebagai kompensasi atas
disabilitas yang disandangnya demi memperkecil atau menghilangkan
dampak kedisabilitasan sehingga memungkinkan untuk menikmati,
berperan dan berkontribusi secara optimal, wajar dan bermartabat dalam
segala aspek kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat.

k. Aksesibilitas;
Yang dimaksud dengan aksesibilitas adalah kemudahan yang disediakan
bagi penyandang disabilitas guna mewujudkan kesamaan kesempatan
dalam segala aspek penyelenggaraan negara dan masyarakat.

29

l. Kesetaraan gender;
Yang dimaksud dengan kesetaraan gender adalah kesamaan kondisi dan
posisi bagi perempuan dan laki-laki untuk mendapatkan kesempatan
mengakses,

berpartisipasi,

mengontrol,

dan

memperoleh

manfaat

pembangunan di semua bidang kehidupan.

C.

Kajian terhadap praktik penyelenggaraan, kondisi yang ada, serta


permasalahan yang dihadapi penyandang disabilitas di masyarakat.
Persoalan disabilitas selama ini menjadi isu yang sangat sulit untuk diatasi
karena kondisi masyarakat yang kurang mendukung berbagai upaya yang
dilakukan pemerintah dalam implementasi hak-hak penyandang disabiltias.
Kondisi ini terkait dengan rendahnya pemahaman masyarakat terhadap
masalah kecacatan yang masih menganggap disabilitas sebagai kutukan dan
nasib buruk, sehingga penyandang disabilitas diberikan sebutan atau stigma
yang buruk, mengalami isolasi dan perlindungan berlebihan dari keluarga.
Faktor lain yang juga memperburuk kondisi penyandang disabiltias adalah
masih banyaknya keluarga penyandang disabilitas yang menyembunyikan
atau

menutupi

bila

memiliki

anggota

keluarga

disabilitas

sehingga

penyandang disabilitas mengalami hambatan-hambatan dalam memperoleh


kesempatan untuk mendapatkan perawatan, pelayanan, dan rehabilitasi yang
memungkinkan penyandang disabilitas untuk dapat mengembangkan diri
sesuai kemampuan dan kesanggupannya.
Rendahnya kesadaran dan dukungan keluarga, terhambatnya kesempatan
yang dimiliki penyandang disabilitas untuk mengembangkan kapasitasnya
dan memperoleh pendidikan serta latihan keterampilan yang memadai
menyebabkan

rendahnya

melakukan

upaya-upaya

penyandang

disabilitas

kemampuan

penyandang

pemenuhan

kebutuhan

memiliki

kemampuan

disabilitas
dasarnya

yang

untuk

sehingga

rendah

untuk

mengembangkan keterampilan, usaha dan memperoleh pekerjaan sehingga

30

harus terus menerus menjadi tanggungan dan tanggung jawab keluarganya


serta mengalami kemiskinan struktural.
Kondisi-kondisi

tersebut

pada

gilirannya

menyebabkan

Upaya

Peningkatan Kesejahteraan Sosial (UPKS) Penyandang Cacat yang diprakarsai


pemerintah dalam hal ini Kementerian Sosial dan Kementerian/Lembaga
terkait menjadi tidak optimal selain karena kurangnya koodinasi diantara
pihak-pihak

terkait

juga

karena

rendahnya

dukungan

keluarga

dan

masyarakat terhadap upaya-upaya ini.


Merujuk pada kondisi serta permasalahan yang ada selama ini merupakan
fakta bahwa materi yang terkandung di dalam Undang-Undang Nomor 4
Tahun 1997 lebih bersifat social based, dan upaya pemenuhan hak penyandang
disabilitas masih dinilai sebagai sebuah masalah sosial, sehingga kebijakan
pemenuhan hak penyandang disabilitas lebih terfokus pada satu instansi saja
yakni di Tingkat Nasional pada Kementerian Sosial dan di tingkat daerah pada
Dinas Sosial setempat. Sementara itu sektor lain seperti kesehatan, pendidikan,
dan ketenagakerjaan yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1997
lebih berfungsi sebagai sektor penunjang dalam pelaksanaan pemenuhan hak
penyandang

disabilitas.

Hal

ini

menyebabkan

pemenuhan

hak-

hak

penyandang disabilitas di luar masalah sosial menjadi kurang tersentuh dan


kurang terlindungi dari berbagai aspek. Pengaturan yang cenderung lebih
bersifat sosial menimbulkan berbagai permasalahan dan memberikan peluang
adanya praktik diskriminatif seperti pada bidang pendidikan. Karena alasan
kedisabilitasan maka penyandang disabilitas sering sekali mengalami
penolakan dan hambatan terhadap akses untuk memperoleh pendidikan yang
layak dari lembaga pendidikan umum sebagaimana warga negara lainnya.
Pada bidang ketenagakerjaan terdapat ketentuan dimana calon tenaga kerja
harus sehat jasmani dan rohani serta tidak mengalami disabilitas. Hal ini
mempersempit kesempatan penyandang disabilitas untuk memperoleh
pekerjaan sebagaimana orang lain pada umumnya.

31

Minimnya ketersediaan aksesibilitas pada sarana maupun fasilitas layanan


publik

yang

memungkinkan

penyandang

disabilitas

mengakses

nilai

kemanfaatan pelayanan publik. Demikian pula tidak adanya akomodasi yang


memadai (reasonable accomodation) khususnya pada lingkungan kerja akibat
menjamurnya stigma negatif terhadap keberadaan penyandang disabilitas,
menyebabkan penyandang disabilitas mengalami diskriminasi berdasarkan
kedisabilitasan (discrimination on the basis of disability), lebih jauh lagi,
penyandang disabilitas mengalami berbagai hambatan untuk memperoleh
pencapaian kesempatan yang setara (equal oppotunity) dengan orang lain pada
umumnya yang menyebabkan penyandang disabilitas tidak memiliki
kesempatan untuk terlibat dan berpartisipasi secara penuh (full participation)
dalam segala aspek kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat.
Akibatnya, penyandang disabilitas tidak memperoleh kesempatan untuk
melakukan pemenuhan hak-haknya sebagai warga negara pada umumnya.
Substansi pengaturan dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1997, lebih
berbasis pada aspek pelayanan sosial. Sedangkan aspek lainnya hanya dimuat
dalam lingkup yang sangat terbatas, sektoral, parsial, dan pragmatis. Padahal
idealnya sebuah peraturan setingkat Undang-undang haruslah menghindari
unsur-unsur destruktif tersebut. Tidak boleh lagi ada kesan bahwa tanggung
jawab penanganan disabilitas, hanya menjadi tupoksi Kementerian Sosial dan
Dinas Sosial, akan tetapi harus melibatkan dan terdapat di semua sektor secara
komprehensif
penyandang

dan

terkoordinasi.

disabilitas

seharusnya

Dengan

demikian

terdapat

di

perwujudan

setiap

sektor

hak

karena

penyandang disabilitas ada di setiap level dan aspek kehidupan berbangsa,


bernegara dan bermasyarakat.
Setelah 14 tahun berlakunya UndangUndang Nomor 4 Tahun 1997
tentang Penyandang Cacat, Berbagai regulasi yang berkaitan dengan
perwujudan hak penyandang disabilitas, dilembagakan sebagai pelengkap dan
penyempurna Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1997. Adapun perubahan
dimaksud antara lain Perubahan UUD 1945, pengesahan berbagai konvensi
32

internasional, kesepakatan negara negara di tingkat regional, dan berbagai


peraturan perundang-undangan sektoral yang berkaitan dengan pemenuhan
hak-hak penyandang disabilitas. Perubahan UUD 1945 yang relevan dengan
hak penyandang disabilitas yaitu Pasal 28H ayat (2) menyatakan : Setiap
orang berhak mendapat kemudahan dan perlakuan khusus untuk memperoleh
kesempatan dan manfaat yang sama guna mencapai persamaan dan keadilan,
sedangkan Pasal 28I ayat 2 menyatakan : Setiap orang berhak bebas dari
perlakuan yang diskriminatif atas dasar apa pun dan berhak mendapatkan
perlindungan terhadap perlakuan yang diskriminatif itu. Di samping itu,
beberapa undang-undang sektoral telah pula memuat pengaturan pemenuhan
dan perlindungan hak penyandang disabilitas, misalnya Undang-Undang
Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, Undang-Undang Nomor 13
Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional, Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007
tentang Perkeretaapian, Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 tentang
Pemilu Anggota Legislatif, Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang
Pelayaran, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan, ,
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial, UndangUndang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Raya,
Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik, UndangUndang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dan lain-lain. Selain itu, juga
dilakukan pengesahan sejumlah instrumen HAM internasional yang terkait
dengan hak penyandang disabilitas antara lain Konvenan Internasional tentang
Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya (Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2005),
dan Kovenan Internasional Hak-Hak Sipil dan Politik (Undang-Undang
Nomor 12 Tahun 2005).
Alasan lain pentingnya merevisi Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1997
adalah bahwa Indonesia telah mengesahkan Convention on the Rights of
Person with Disabilities (CRPD) melalui Undang-Undang Nomor 19 Tahun
2011. Konvensi ini berisi pengaturan perlindungan hak-hak penyandang
disabilitas yang lebih luas, lengkap, dan rinci yang dapat dijadikan referensi
33

atau legal standing bagi penggantian Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1997.


Pada akhirnya penggantian Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1997 diharapkan
akan menghasilkan undang-undang yang menjadi landasan hukum yang kuat
bagi

upaya

penghormatan,

pemajuan,

perlindungan,

pemberdayaan,

penegakan dan pemenuhan hak penyandang disabilitas di segala bidang secara


menyeluruh dan terintegrasi.

D.

Kajian terhadap implikasi penerapan sistem baru yang akan diatur dalam
Undang-Undang

Penyandang

Disabilitas

dalam

aspek

kehidupan

berbangsa, bernegara dan bermasyarakat serta dampaknya terhadap beban


keuangan negara.
Dengan hadirnya Undang-Undang baru tentang Penyandang Disabilitas
diharapkan mampu mewujudkan hak Penyandang Disabilitas secara efektif
sesuai dengan amanat dari CRPD yang telah disahkan melalui UndangUndang Nomor 19 tahun 2011 tentang Pengesahan Convention on The Rights
of Person with Disabilities atau Konvensi mengenai hak-hak Penyandang
Disabilitas.
Dengan meratifikasi konvensi tersebut, Pemerintah Indonesia diwajibkan
untuk melakukan penyesuaian, termasuk penyediaan aksesibilitas dan sistem
kelembagaan disabilitas pada setiap sarana publik yang diselenggarakan oleh
negara. Hal ini tentu saja berimplikasi pada keuangan negara untuk
membiayai penyesuaian tersebut, namun hasil survei yang dilakukan berbagai
pihak antara lain menyimpulkan bahwa penyediaan aksesibilitas pada sarana
publik yang dikelola negara, sebetulnya tidak memerlukan anggaran dengan
jumlah besar. Karena penyesuaian yang perlu dilakukan, umumnya hanya
mencakup modifikasi atau penambahan atau penggantian, itupun dilakukan
secara bertahap. Oleh karena itu, Pemerintah Indonesia harus memiliki
komitmen yang tinggi untuk mengimplementasikan Undang-Undang tersebut
tanpa

ada

kekhawatiran

tentang

implikasi

pembiayaan.

Jika

proses

penyesuaian tersebut pada akhirnya membutuhkan biaya yang cukup


signifikan, maka itu adalah bagian dari kewajiban dan tanggung jawab negara
34

untuk memenuhinya. Apalagi sejak kita merdeka penyandang disabilitas baru


memperoleh kesempatan yang luas untuk menikmati, berperan dan
berkontribusi secara optimal dan bermartabat dalam segala aspek kehidupan
berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat setelah Undang-Undang ini
diberlakukan.

35

BAB III
EVALUASI DAN ANALISIS PERATURAN
PERUNDANG-UNDANGAN TERKAIT
Dalam naskah akademik untuk Rancangan Undang-Undang Penyandang
Disabilitas akan terkait dan bersesuaian dengan berbagai peraturan perundangundangan yang terkait dengan perwujudan hak penyandang disabilitas. Sesuai
dengan Pasal 7 ayat (1) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang
Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan, ditetapkan ketentuan bahwa jenis
dan hierarki Peraturan Perundang-undangan terdiri atas:
b. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
c. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat;
d. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang;
e. Peraturan Pemerintah;
f. Peraturan Presiden;
g. Peraturan Daerah Provinsi; dan
h. Peraturan Daerah Kabupaten/Kota.
Berdasarkan ketentuan hierarki Peraturan Perundang-undangan dimaksud,
maka berikut dipaparkan hasil inventarisasi sejumlah aturan hukum yang relevan
dengan perwujudan hak penyandang disabilitas:
1.

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

2.

Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat;

3.

Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia;

4.

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak;

5.

Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung;

6.

Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan;

7.

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional;

8.

Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial;

9.

Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional;

36

10. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2005 tentang Pengesahan International


Convenant on Econimic, Social And Culture Rights (Kovenan Internasional Tentang
Hak-Hak Ekonomi, Sosial, Dan Budaya);
11. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2005 tentang Pengesahan International
Covenant On Civil And Political Rights (Kovenan Internasional Tentang Hak-Hak
Sipil Dan Politik);
12. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian;
13. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran;
14. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan;
15. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial;
16. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan
Jalan;
17. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik;
18. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan; dan
19. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2011 tentang Pengesahan Convention On The
Rights Of Persons With Disabilities (Konvensi Mengenai Hak-Hak Penyandang
Disabilitas).

A.

Analisis Peraturan Perundang-Undangan Terkait


1.

Analisis terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia


Tahun 1945
Alinea keempat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945 menyebutkan bahwa tujuan negara yaitu Pemerintah Negara
Republik Indonesia melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh
tumpah

darah

Indonesia

dan

memajukan

kesejahteraan

umum,

mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia


yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.
Untuk memajukan Kesejahteraan Umum dan perlindungan terhadap
segenap Bangsa Indonesia diperlukan usaha-usaha yang dapat mewujudkan
kesejahteraan dan perlindungan bagi rakyat Indonesia termasuk di
dalamnya penyandang disabilitas. Usaha-usaha tersebut dapat dilakukan

37

dengan menyediakan peluang yang sama dan merata kepada penyandang


disabilitas untuk mengembangkan diri sesuai kemampuan, bakat dan minat
yang dimilikinya untuk menikmati, berkontribusi, atau berperan secara
optimal wajar dan bermartabat tanpa diskriminasi dalam segala aspek
kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat. Dalam hal ikut
melaksanakan

ketertiban

dunia

yang

berdasarkan

kemerdekaan,

perdamaian abadi dan keadilan sosial, dapat diwujudkan dengan


keterlibatan

penyandang

disabilitas

dalam

kegiatan

yang

bersifat

internasional. Keterlibatan tersebut tidak hanya pada tingkat kepesertaan,


tetapi juga sebagai determinator, penggagas, perumus, perencana, termasuk
mengenai penyusunan dan pembahasan serta ratifikasi instrumen HAM
internasional yang terkait dengan isu disabilitas demi memajukan dan
menyetarakan Bangsa Indonesia dengan bangsa-bangsa lain.
Pasca bergulirnya masa reformasi, Konstitusi Negara Republik
Indonesia telah diamandemen sebanyak empat kali. Pada Amandemen
kedua, konstitusi menambahkan Bab X A yang mengatur khusus mengenai
perlindungan hak asasi manusia. Dalam bab tersebut terdiri dari sepuluh
pasal yaitu Pasal 28 A hingga 28 J. Hak-hak yang tercantum di dalamnya
mulai dari kategori hak-hak sipil, politik, hingga pada hak-hak ekonomi,
sosial, dan budaya. Selain itu, dalam bab tersebut juga tercantum ketentuan
tentang tanggung jawab negara terutama Pemerintah dalam perlindungan,
pemajuan, penegakan, dan pemenuhan hak asasi manusia di Indonesia.
Landasan Perlindungan bagi penyandang disabilitas di Indonesia
merujuk kepada Pasal 28A, Pasal 28B ayat (1) dan (2), Pasal 28C ayat (1),
Pasal 28D ayat (1) dan (3), Pasal 28G ayat (1) dan (2), Pasal 28H ayat (2) dan
(3), Pasal 28I ayat (2), Pasal 31 ayat (1), dan Pasal 34 ayat (2). Hak untuk
hidup dan kesempatan untuk mempertahankan hidup dan kehidupannya
merupakan amanat Pasal 28A Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia

Tahun

1945:

setiap

orang

berhak

hidup

serta

berhak

mempertahankan hidup dan kehidupannya. Terkait dengan hak hidup,


setiap penyandang disabilitas juga memiliki hak untuk memperoleh
38

pengakuan, penjaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil


serta persamaan dihadapan hukum yang tersurat di dalam Pasal 28D ayat
(1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Pengaturan tentang kebutuhan khusus mengenai perlindungan
penyandang disabilitas sebagaimana yang diamanatkan dalam Pasal 28H
ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945,
"perlu segera dilembagakan dalam undang-undang penyandang disabilitas
dengan pengaturan yang lebih rinci, tegas, operasional, dan efektif. Hal ini
merupakan pranata HAM yang berlaku secara universal, khusus bagi
kelompok rentan (vulnerable group) tidak terkecuali penyandang disabilitas
sebagaimana diamanatkan oleh sejumlah instrumen HAM Internasional
yang telah diterima oleh Negera Republik Indonesia menjadi hukum positif
(ius constitutum). Dengan demikian akan tercipta harmonisasi pengaturan
yang memberikan perlindungan bagi penyandang disabilitas di Indonesia.
Perlindungan penyandang disabilitas merupakan salah satu amanat
dari Konstitusi Indonesia sebagaimana yang diatur dalam Pasal 28 I ayat (2):
setiap orang berhak bebas atas perlakuan yang bersifat diskriminatif atas
dasar apa pun dan berhak mendapat perlindungan terhadap perlakuan
yang bersifat diskriminatif tersebut. Upaya perlindungan penyandang
disabilitas semakin menguat dengan hadirnya Undang-Undang Nomor 19
Tahun 2011 tentang Pengesahan Convention On The Rights Of Persons With
Disabilities (Konvensi Mengenai Hak-Hak Penyandang Disabilitas). Sebagai
amanat pasal 28H ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945, maka negara perlu melembagakan bentuk
perlindungan khusus bagi penyandang disabilitas yang lebih komprehensif,
operasional, efektif, namun tetap proposional dan bermartabat.
Berkenaan dengan landasan perlindungan penyandang disabilitas
yang telah diuraikan tersebut di atas, maka diperlukan sebuah undangundang baru yang khusus mengatur tentang penyandang disabilitas. Materi
muatan Undang-Undang tersebut, mengakomodasi jenis dan bentuk
penghormatan, perlindungan, pemajuan, penegakan, dan pemenuhan hak
39

penyandang disabilitas dalam arti yang seluas-luasnya dan sebenarbenarnya. Selain itu, dengan undang-undang baru tersebut, dapat berfungsi
sebagai instrumen strategis dalam melakukan harmonisasi terhadap
berbagai

peraturan

perundang-undang

sebelum

dan

sesudahnya

berdasarkan hasil perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik


Indonesia Tahun 1945.
2. Analisis Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1997 Tentang Penyandang
Cacat
Mencermati Undang-Undang

Nomor

4 Tahun

1997 Tentang

Penyandang Cacat sebagai undang-undang yang mengatur hak-hak,


kesempatan, dan perlindungan penyandang disabilitas dinilai tidak relevan
lagi dengan tuntutan perkembangan, tantangan dan kebutuhan penyandang
disabilitas Indonesia saat ini. Selain itu, substansi pengaturan undangundang tersebut, mengandung banyak sekali kelemahan, bahkan terkesan
tidak oprimal dalam mengakomodir bentuk penghormatan, perlindungan,
pemajuan, penegakan, dan pemenuhan hak penyandang disabilitas. Hal ini
tercermin pada rendahnya tingkat implementasi Undang-Undang tersebut
akibat banyaknya rumusan yang relatif kabur penulisannya, tidak tegas dan
cenderung menimbulkan multi-tafsir. Sampai dengan tahun 2011, isu
disabilitas semakin jauh dari agenda program pembangunan birokrasi,
bahkan

tidak

Pembangunan

pernah

menjadi

agenda

Jangka

Panjang

Nasional

urgen

dalam

(RPIPN)

dan

Rancangan
Rencana

pembangunan jangka menengah Nasional (RPJMN).5


Menurut Umar, Koordinator Parlement Wacth, dari risetnya terhadap
Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat ada
beberapa kelemahan dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1997. Ada 10
(sepuluh) hingga 15 (lima belas) pasal yang belum cukup tegas untuk
memberikan perlindungan bagi penyandang cacat. Seperti belum tegasnya
pengaturan mengenai rehabilitasi, kesejahteraan sosial, penghidupan yang
5

Amirul Mustofa. Op.Cit. Hlm. 46.


40

layak bagi penyandang disabilitas, ataupun instrumen sarana dan prasarana


bagi kaum penyandang disabilitas di ruang publik. Termasuk tidak adanya
sanksi tegas bagi yang tidak memenuhi kewajiban tersebut. Tidak heran jika
banyak penyandang disabilitas mengalami perlakuan diskriminatif di ruang
publik dan instansi pelayanan publik.6
Pasal 6 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1997 menyatakan hak-hak
yang diperoleh penyandang disabilitas hanya meliputi:
1. hak memperoleh pendidikan pada semua satuan, jalur, jenis, dan jenjang
pendidikan;
2. hak memperoleh pekerjaan dan penghidupan yang layak sesuai dengan
jenis dan derajat kecacatan, pendidikan, dan kemampuannya;
3. hak memperoleh perlakuan yang sama untuk berperan dalam
pembangunan dan menikmati hasil-hasilnya;
4. hak memperoleh aksesibilitas dalam rangka kemandiriannya;
5. rehabilitasi, bantuan sosial, dan pemeliharaan taraf kesejahteraan sosial;
dan
6. hak yang sama untuk menumbuhkembangkan bakat, kemampuan, dan
kehidupan sosialnya, terutama bagi penyandang cacat anak dalam
lingkungan keluarga dan masyarakat.
Dari keenam hak-hak yang dikemukakan di atas dinilai masih kurang
ideal bagi penyandang disabilitas. Apabila dengan ratifikasi negara
Indonesia terhadap Convention On The Rights Of Persons With Disabilities,
maka perlu dilakukan penyesuaian antara CRPD dengan peraturan hukum
tentang penyandang disabilitas. Betapa tidak karena di dalam konvensi
tersebut

telah

mengatur

secara

komprehensif

mengenai

hak-hak

penyandang disabilitas baik di bidang sosial, ekonomi, budaya, politik dan


sipil. Hal ini sangat kontras dengan ketentuan dalam Pasal 16 UndangUndang

Nomor

Tahun

1997,

6Nhamona.

dimana

upaya

yang

dilakukan

2012. Desak Revisi UU Penyandang Cacat. http://nhamona.wordpress.com/2012/05/04/desakrevisi-uu-penyandang-cacat/). Diakses 1 Februari 2013. Pukul 10.12 WIB.
41

pemerintah/masyarakat terhadap kesejahteraan penyandang cacat, hanya


mencakup:
1. rehabilitasi;
2. bantuan sosial; dan
3. pemeliharaan taraf kesejahteraan sosial.
Secara

gramatikal

upaya

pemerintah/masyarakat

yang

diselenggarakan bagi penyandang disabilitas memiliki arti pemerintah


memberikan hanya jaminan mengenai rehabilitasi, bantuan sosial, dan
pemeliharaan

taraf

kesejahteraan

sosial,

tidak

untuk

mendapatkan

kesempatan yang sama dalam upaya mengembangkan dirinya melalui


kemandirian sebagai manusia yang bermartabat. Penyandang disabilitas
juga berhak mendapatkan pelayanan medis, psikologi dan fungsional,
rehabilitasi

medis

dan

sosial,

pendidikan,

pelatihan

konsultasi,

penempatan

kerja,

dan

jenis

pelayanan

yang

mengembangkan

kapasitas

dan

memungkinkan

mereka

untuk

semua

keterampilan,

keterampilannya secara maksimal sehingga dapat mempercepat proses


reintegrasi dan integrasi sosial penyandang disabilitas.

3. Analisis Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi


Manusia
Pembahasan mengenai soal ini, merujuk pada Undang-Undang
Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Undang-Undang ini
merupakan ketentuan yang bersifat umum mengenai penghormatan,
pemajuan, penegakan, dan pemenuhan hak asasi manusia untuk seluruh
warga negara. Undang-Undang ini terdiri dari 11 bab dan 106 pasal.
Ketentuan ini merupakan instrumen hukum nasional yang menjaminan
penghormatan, pemajuan, penegakan dan pemenuhan bagi setiap warga
negara tak terkecuali penyandang disabilitas. Seperti telah dipahami bahwa
Negara Republik Indonesia yang berdasarkan

Pancasila dan Undang-

Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun

1945 senantiasa

menghormati dan menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia. Hak


42

asasi manusia sebagai hak-hak dasar yang secara kodrati telah melekat pada
diri manusia, bersifat universal dan langgeng, wajib dilindungi, dihormati,
ditegakkan dan dipenuhi oleh negara, khususnya pemerintah maupun
penyelenggara lainnya. Menyadari kedudukan penyandang disabilitas
sebagai warga negara yang mempunyai kesamaan hak dan kesempatan
dengan

warga

negara

lainnya,

maka

pelembagaan

penghormatan,

pemajuan, penegakan dan pemenuhan hak penyandang disabilitas dalam


bentuk undang-undang yang bersifat organik, komprehensif, operasional,
dan efektif, sudah merupakan tuntutan kebutuhan penyandang disabilitas
yang tidak dapat lagi ditawar-tawar.
Berdasarkan Belangen Theory menyatakan bahwa hak adalah sebagian
dari kepentingan yang dilindungi sehingga ketika terdapat peraturan yang
mengatur mengenai hak maka kepentingan tersebut harus dilindungi. Hak
adalah sesuatu yang penting bagi seseorang yang dilindungi oleh hukum.
Hak asasi manusia melekat sejak manusia lahir, yang merupakan pemberian
Tuhan.7 Penyandang disabilitas memiliki hak-hak yang harus dijamin dan
dilindungi oleh negara. Maka berdasarkan pemaparan di atas, penyandang
disabilitas sebagai Warga Negara Indonesia yang juga memiliki hak asasi
manusia merupakan hak yang harus dilindungi oleh hukum dan diatur
dengan peraturan hukum yang baku.
Bentuk perlakuan diskriminatif terhadap penyandang disabilitas
sering sekali terjadi pada hampir semua sektor kehidupan berbangsa,
bernegara dan bermasyarakat. Pertama, diskriminasi penyandang disabilitas
pada sektor aksesibilitas baik bangunan maupun transportasi. Hal ini
tercermin dari hasil survey yang dilakukan berbagai pihak tentang realisasi
penyediaan aksesibilitas pada infra stuktur yang diselenggarakan oleh
Negara dengan kesimpulan yang sangat memiriskan hati. Betapa tidak
karena dari semua infra struktur yang disurvei dengan sample random DKI
Jakarta, menemukan fakta bahwa penyediaan aksesibilitas pada infra

7Isharyanto.

2010. Bahan Perkuliah Hukum dan Hak Asasi Manusia. Surakarta: Fakultas Hukum
Universitas Sebelas Maret Surakarta.
43

struktur penyelenggara negara ternyata hanya mencapai angka 0,003 persen


yang jika dilakukan pembulatan ke bawah maka hasilnya sama dengan 0
persen. Perlakuan diskriminatif bagi penyandang disabilitas, lebih terasa
dengan kasus penolakan sejumlah penyelenggara pelayanan publik
terhadap penyandang disabilitas semata-mata karena penyelenggara
pelayanan publik menilai penyandang disabilitas, tidak memenuhi syarat
untuk mendapatkan kemanfaatan layanan yang diselenggarakan oleh
penyelenggara layanan publik. Salah satu contoh adalah kasus penolakan
dalam layanan penerbangan PT Garuda Indonesia terhadap seorang
penumpang tunanetra Irwan Subena pada tahun 2010. Ketika itu Subena
telah berada di ruang tunggu Bandara Hassanudin Makassar untuk bersiapsiap terbang ke Denpasar dengan menumpang pesawat Garuda dengan
nomor penerbangan GA 607771. Namun, Subena tiba-tiba diberi tahu oleh
petugas Garuda bahwa yang bersangkutan tidak diperkenankan ikut dalam
penerbangan lantaran adanya ketentuan dalam layanan penerbangan
Garuda yang melarang penyandang disabilitas tertentu untuk ikut dalam
penerbangan tanpa membawa pendamping sendiri.
Setelah dianalisis dengan mendalam tentang ketentuan pelayanan
penerbangan PT Garuda Indonesia yang cenderung diskriminatif tersebut,
rupanya terjadi akibat kesalahpahaman legal drafter peraturan tersebut
yang tidak bias membedakan antara orang sakit dengan penyandang
disabilitas. Persepsi seperti ini hampir menghinggapi semua penyelenggara
layanan penerbangan maupun layanan publik pada umumnya yang
cenderung mengidentikkan antara orang sakit dengan penyandang
disabilitas. Hal ini tentu saja bertentangan dengan Undang-Undang Nomor
39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia maupun Undang-undang Nomor
1 Tahun 2009 Tentang Penerbangan.8
Kedua, Diskriminasi Pekerjaan bagi Penyandang Disabilitas juga
terjadi di sektor ketenagakerjaan. Contohnya ketentuan Pasal 14 Undang8

Ndis. 2012. Turunkan Penumpang Cacat, Komnas HAM Selidiki Dugaan Pelanggaran HAM oleh Garuda.
http://city.seruu.com/read/2012/09/19/119916/turunkan-penumpang-cacat-komnas-ham-selidiki-dugaanpelanggaran-ham-oleh-garuda . Diakses 5 Februari 2013. Pukul 06.58 WIB.
44

Undang

Nomor

Tahun

1997,

pengusaha/pemberi

kerja

wajib

mempekerjakan 1 orang penyandang cacat untuk setiap 100 pekerja yang


dipekerjakannya. Ini berarti terdapat kuota 1% (minimal) bagi penyandang
disabilitas untuk mengakses tempat kerja dan hak ekonominya. Walaupun
undang-undang telah mengatur demikian, namun hal ini jarang terjadi
bahkan di sektor pemerintahan. Terdapat banyak kasus diskriminasi
terhadap penyandang disabilitas di sektor ketenagakerjaan. Hingga saat ini,
belum ada sanksi yang jelas yang dikeluarkan oleh pengadilan ataupun
sanksi administratif yang diterapkan oleh Kementerian Tenaga Kerja
sehubungan dengan perusahaan yang tidak memperkenankan penyandang
disabilitas untuk bekerja. Sisi lain yang lebih ironis, penyandang disabilitas
pun ditolak menjadi pegawai negeri sipil semana-mana karena faktor
kedisabilitasannya. Hal ini terungkap dengan sangat lugas dan detail dalam
artikel Saharuddin Daming berikut ini:
Trend marginalisasi dan pengkebirian hak dan martabat penyandang
disabilitas dalam jabatan formal oleh otoritas penerimaan PNS sebagaimana
dikemukakan di atas, melembaga melalui syarat jasmani dan rohani yang
dilegitimasi oleh berbagai peraturan perundang-undangan antara lain
dalam Pasal 6 huruf (h) PP No.98 tahun 2000 tentang Pengadaan PNS
sebagaimana diubah dengan PP No. 11 tahun 2002 adalah sehat jasmani dan
rohani. Selanjutnya dalam Keputusan BKN No.11 tahun 2002 tentang
ketentuan pelaksanaan PP No.98 tahun 2000 sebagaimana telah diubah
menjadi PP No. 11 tahun 2002 angka romawi II huruf (c) angka 1
menetapkan bahwa syarat yang dipenuhi setiap pelamar adalah sehat
jasmani dan rohani yang dibuat oleh Dokter. Dalam Pasal 4 ayat 1 PP No.48
tahun 2005 tentang pengangkatan tenaga Honorer Menjadi CPNS
sebagaimana telah diubah dengan PP No. 43 tahun 2007 antara lain
mengatur bahwa pengangkatan tenaga honorer menjadi CPNS dilakukan
melalui seleksi administrasi, disiplin, integritas, kesehatan jasmani dan
rohani, dan kompetensi.

45

Semua ketentuan tersebut di atas merupakan tindak lanjut dari PP


No.26 tahun 1977 tentang Pengujian Kesehatan PNS Dan Tenaga Tenaga
Lainnya Yang Bekerja Pada Negara Republik Indonesia (LN tahun 1977
No.36, TLN No.3105). Dalam Pasal 1 huruf (c) disebutkan bahwa Ujian
kesehatan ialah tindakan medis yang mencakup pemeriksaan dan penilaian
kesehatan, baik jasmani maupun rohani. Selanjutnya dalam Pasal 2 dirinci
mengenai pihak yang dikenakan pengujian kesehatan :
a.

CPNS yang akan diangkat menjadi PNS;

b. pelajar atau mahasiswa yang akan menuntut pelajaran dalam rangka


ikatan dinas dengan Pemerintah;
c.

PNS yang:
1. menurut

pendapat

pejabat

yang

berwenang

tidak

dapat

melanjutkan pekerjaannya karena kesehatannya;


2. oleh pejabat yang berwenang dianggap memperlihatkan tandatanda sesuatu penyakit atau kelainan yang berbahaya bagi dirinya
sendiri dan atau lingkungan kerjanya;
3. setelah berakhirnya cuti sakit, menurut peraturan yang berlaku
belum mampu bekerja kembali;
4. akan melaksanakan tugas tertentu di luar negeri;
5. akan mengikuti pendidikan/latihan tertentu;
6. akan diangkat dalam jabatan tertentu. d.PNS dan tenaga-tenaga
lainnya yang bekerja pada Negara Republik Indonesia yang
ditetapkan oleh Menteri atas usul Kepala Badan Administrasi
Kepegawaian Negara.
Berdasarkan

ketentuan

tersebut,

maka

Menkes

mengeluarkan

Peraturan No. 143/Menkes/Per/VII/1977 tertanggal 1 Juli 1977 tentang


Tata laksana Pengujian Kesehatan Pegawai Negeri Sipil dan TenagaTenaga Lainnya Yang Bekerja Pada Negara Republik Indonesia. Dalam
Pasal 8 Permenkes yang ditanda tangani oleh G.A. Siwabessy (Menkes RI
pada masa itu), diatur : ayat (1) Hasil suatu pengujian kesehatan diputuskan
dengan sebutan sebagai berikut : a. memenuhi syarat untuk semua jenis
46

pekerjaan, b. memenuhi syarat untuk jenis pekerjaan tertentu, c. memenuhi


syarat untuk jenis pekerjaan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan b
dengan bersyarat, d. ditolak sementara, untuk sementara belum memenuhi
syarat kesehatan dan memerlukan pengobatan/ perawatan dan ujian
kesehatan perlu diulang setelah selasai pengobatan/ perawatan, e. ditolak,
tidak memenuhi syarat untuk menjalankan tugas sebagai Pegawai Negeri
Sipil.
Untuk menilai derajat kesehatan seseorang memenuhi salah satu unsur
dalam Pasal 8, maka TPK merujuk petunjuk teknis pada bagian lampiran
Permenkes antara lain mengatur bahwa syarat yang perlu dipenuhi untuk
dinyatakan baik kesehatannya untuk melakukan jabatan negara sebagai
Pegawai Negeri Sipil/Petugas Negara adalah :
Status Somaticus :
a. Bentuk badan, bentuk badan yang wajar, tidak mengandung suatu
penyakit atau kelainan yang dapat dinyatakan atau yang diperkirakan,
yang membuat seseorang tidak cakap untuk melakukan pekerjaan
dalam lingkungan kerja manapun;
b. Indera penglihatan
Emetroopia
Tidak buta warna
Luas lapangan penglihatan penuh
Keterangan : myopia dan hypermetropia, setinggi-tingginya 1 (satu) dioptri
atau dengan koreksi dengan kaca mata bisa melihat penuh
V=5/5.
Presbiopia dengan koreksi minimal bisa membaca J.3.
c. Indera pendengaran
Pendengaran kedua telinga penuh, tiap telinga dapat mendengar bisikan
dari jarak 6 (enam) meter.
47

d. Kelainan-kelainan lain
Kelainan-kelainan kecil yang tidak mengganggu pekerjaan dan tidak
mempengaruhi kesehatan umum, dan yang menurut perkiraan tidak
akan memburuk (progresif) hingga seseorang, tidaklah mengurangi
syarat untuk dinyatakan baik kesehatannya kecuali jika kelainan tadi
ditemukan bersamaan hingga mengakibatkan ketidakcakapannya.
e. Pembagian perbedaan syarat kesehatan untuk pekerjaan berat dan
ringan.
Kecuali untuk pekerjaan tertentu yang ditentukan pula persyaratan
khusus dengan surat keputusan tersendiri oleh Menteri Kesehatan,
selain syarat kesehatan seperti tersebut di atas, diadakan pembagian
syarat kecakapan bagi pekerjaan berat dan sebagai berikut :
(1) Pekerjaan berat fisik
(a) Tulang belulang
Tidak ada kelainan yang mencolok pada tulang punggung,
kepala dan anggota dan anggota badan, bila ada cacat tidak lebih
dari 2 (dua) jari tangan.
(b) Otot
Tidak menunjukkan kelainan besar, tidak ada atrophi,
(c) berat badan
berat badan tidak kurang dari 20% dari berat badan ideal weight
standard, bila lebih sampai 50% di atas berat standar asalkan
tidak bersamaan dengan kelainan jantung, ginjal, atau pankreas.
(d) Paru-paru
Paru-paru sehat, jika pernah menderita penyakit tuberculosis
harus sudah dinyatakan sudah tenang secara klinis, radiologis
dan laboratories.

48

(e) Jantung
Jantung sehat, hanya diperbolehkan adanya systolic murmur
grade 1 tanpa kelainan organik.
(f) Tekanan darah
Tekanan darah yang disesuaikan dengan usianya
(g) Nadi
Denyut nadi/menit tidak lebih dari 90 dan 2 menit sehabis
gerakan jongkok berdiri sepuluh kali harus sudah kembali
kepada keadaan semula.
(h) Hati
Tidak menunjukkan kelainan fungsi, tidak ada pembesaran
(i) Limpa
Tidak ada pembesaran lebih dari S.1
(j) Tractus digestivus dan tractus urosentitalis. Tidak menunjukkan
kelainan kelainan/ gejala kronis.
(k) Hernia
Tidak terdapat suatu biatus hernia

(l) Laboratorium
Urine : Reduksi

: Negatif

Protein

: Negatif

Sedimen

: Normal

Darah : Hb minimal 11 g%
Lain-lain normal
(2) Pekerjaan fisik ringan
(a) Tulang belulang
49

Boleh menunjukkan kelainan ringan yang progresif dan tidak


mengganggu fungsi. Misalnya deformitas-deformitas ringan, scoliosis
ringan, gibbus ringan dan sebagainya.
(b) Otot-Otot
Boleh menunjukkan kelainan-kelainan dengan tidak progresif yang
tidak mengganggu fungsi dan gerak, dan yang tidak disebabkan oleh
penyakit otot (misalnya dystrofia muscularis progrifnya ringan dan
sebagai).
(c) Berat Badan
Berat badan tidak kurang dari 40% di bawah berat badan ideal dan boleh
lebih 50% di atas berat badan standar asal tidak bersamaan dengan
kelainan jantung, limpa, dan pancreas.
(d) Paru-paru
Paru-paru sehat, jika mengalami tuberculosis harus sudah sehat klinis,
radiologis, dan laboratories.
(e) Jantung
boleh menunjukkan

kelainan organik

ringan yang

tidak akan

menimbulkan insufficiensi
(f) Nadi
Pada waktu istirahat tidak boleh dari 96/menit, dan dua menit sehabis
gerakan jongkok berdiri (10 x sudah harus kembali kepada keadaan
semula).
(g) Tekanan Darah
Boleh menyimpang sedikit dari normal asal tidak disertai kelainan
jantung, dan ginjal.
(h) Hati
Sehat tidak menunjukkan pembesaran lebih dari 1 jari.

50

(i) Limpa
Tidak menunjukkan pembesaran
(j) Tractus digestivus dan tractus urogenitalis
Tidak menunjukkan gejala kronis
(k) Hernia
Tidak terdapat suatu hernia
(l) Laboratorium
Urine : reduksi negatif
protein negatif
sedimen negatif
darah : Hb tidak kurang dari 11 g%
lain-lain normal
(3) Syarat untuk menerima/ memangku jabatan negara tertentu, apabila calon
dicalonkan untuk memangku/ menduduki/ menerima tugas jabatan
khusus, hendaknya dibahas

dengan seksama syarat yang diperlukan

untuk itu dan menghubungkannya dengan kondisi kesehatan yang


diperlihatkan

oleh

calon

sebelum

diambil

keputusan

tentang

baik/tidaknya kesehatan calon tersebut.


Memperhatikan klasifikasi pengujian kesehatan untuk menjadi PNS
dan pejabat berdasarkan diuraikan di atas, menunjukkan dengan jelas
bahwa otoritas medis memang sengaja dibekali dengan setumpuk
kewenangan untuk menjadi pembunuh berdarah dingin bagi potensi dan
masa depan Penyandang disabilitas sebagai PNS atau pejabat lainnya.
Akibatnya otoritas medis yang menerima amanah tersebut sering
bertindak arogan, tidak kenal kompromi dalam menyikat habis figur-figur
penyandang disabilitas dengan dalih melaksanakan tugas.

51

Parahnya lagi karena otoritas medis hanya menggunakan kaca mata


kuda dalam melihat dan menilai kemampuan penyandang disabilitas yang
kemudian menjadi hukum tersendiri bagi otoritas medis bahwa PNS
maupun jabatan formal lainnya, tidak boleh diduduki oleh penyandang
disabilitas yang divonis oleh otoritas medis sebagai orang yang mempunyai
gangguan kesehatan. Hebatnya lagi karena unsur gangguan kesehatan yang
ditetapkan dalam Permenkes tersebut, luar biasa luas. Mulai soal gigi, berat
badan,

nadi,

otot,

dan

lain-lain

harus

dalam

keadaan

normal.

Kesimpulannya adalah bahwa dalam pandangan medis setidaknya di


Indonesia, hanya orang yang sempurna kesehatannya yang boleh
diposisikan sebagai PNS maupun Pejabat dalam jabatan Publik, sedangkan
orang yang mengalami gangguan atau kelainan kesehatan termasuk
penyandang disabilitas, tabu bernafkah di sektor formal9.
Ketiga, diskriminasi terhadap penyandang disabilitas dalam sektor
pendidikan. Pendidikan untuk semua adalah visi UNESCO untuk tahun
2015. Pendidikan harus mudah dijangkau terlepas status setiap anak.
Pendidikan merupakan pilar utama dalam pembangunan manusia. Namun,
dalam isu penyandang disabilitas di Indonesia, visi tersebut sangat sulit
dicapai. Indonesia memiliki Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang
Sistim

Pendidikan

Nasional.

Undang-undang

tersebut

menyatakan

kewajiban penyelenggaraan pendidikan khusus bagi dan setara bagi


penyandang disabilitas. Namun, hingga kini, 59,8% dari anak dengan
disabilitas justru tidak dapat menikmati pendidikan. Sisanya 40,2%, hanya
mayoritas di jenjang sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah
menengah atas. Sedangkan untuk penyandang disabilitas yang memiliki
pendidikan jenjang tinggi sangat minim sekali.10
Terjadinya praktek diskriminasi pada penyandang disabilitas dalam
layanan pendidikan, selain karena faktor sterotif dan prejudis dalam bentuk
stigma negatif oleh otoritas dalam pengelola lembaga pendidikan, juga
9

Saharuddin Daming. 2009. Tinjuan Hukum dan HAM Terhadap Syarat Jasmani dan Rohani Dalam
Ketenagakerjaan dan Kepegawaian. Hal.6-9
10 Marjuki. Op.Cit.
52

disebabkan oleh faktor teknis yuridis. Dalam artikel, Saharuddin Daming


terungkap fakta kongkrit mengenai hal tersebut. Pada bagian akhir Pasal 11
dan 12 maupun pada Pasal 23 PP No. 43 tahun 1998, terdapat rumusan yang
menegaskan: sesuai dengan jenis dan derajat kedisabilitasannya. Bunyi
lengkap Pasal 12 UU No.4 tahun 1997 : Setiap lembaga pendidikan memberikan
kesempatan perlakuan yang sama kepada Penyandang Disabilitas sebagai peserta
didik pada satuan, jalur, jenis dan jenjang pendidikan sesuai dengan jenis dan
derajat Disabilitas serta kemampuannya. Rumusan tersebut sangat paradoks
dan tidak sinkron dengan prinsip kesamaan yang dianut undang-undang ini
sendiri. Kita hampir tidak dapat mengerti bagaimana pembuat undangundang yang pada awalnya membuka akses bagi penyandang disabilitas
untuk memperoleh layanan pendidikan atas dasar kesamaan hak dan
kesempatan. Lalu bagaimana kesamaan tersebut dapat diwujudkan jika
pada pasal yang sama dikunci dengan kalimat bahwa layanan pendidikan
bagi penyandang disabilitas, harus disesuaikan dengan jenis dan derajat
disabilitasnya masing-masing. Berarti tidak bisa sama karena harus terpilah
berdasarkan jenis dan derajat disabilitas dengan mekanisme yang dibuat
menurut pandangan/selera otoritas pendidikan.
Tidak heran jika hampir semua pengelola lembaga pendidikan umum
menolak penyandang disabilitas sebagai peserta didiknya karena bukankah
undang-undang sendiri telah menegaskan bahwa penyandang disabilitas
dapat menjadi peserta didik pada lembaga pendidikan sesuai dengan jenis
dan derajat disabilitas. Dengan konstruksi argumentum a conterario,
rumusan tersebut dapat berarti lembaga pendidikan umum, hanya dapat
menerima penyandang disabilitas sebagai peserta didik asal sesuai dengan
derajat disabilitas yang ditentukan oleh lembaga pendidikan itu sendiri.
Masalahnya, bagaimana kalau lembaga pendidikan membuat ketentuan
bahwa penyandang disabilitas dari semua jenis dan derajat disabilitas tidak
diperkenankan menjadi peserta didik karena pihaknya belum atau tidak
mampu menyediakan sistem atau fasilitas khusus bagi penyandang
disabilitas?
53

Perlu diingat bahwa setiap lembaga pendidikan, mempunyai otonomi


untuk menentukan pola pengelolaan sekolah sesuai dengan konsep
Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Apalagi tentang penerimaan peserta
didik dari kalangan penyandang disabilitas untuk berintegrasi di sekolah
umum,

maka

pengelola

sekolah

mempunyai

kewenangan

untuk

menentukan sendiri syarat-syaratnya. Salah satu penyebabnya adalah


karena Pasal 24 PP No,43 tahun 1998 mengisyaratkan bahwa ayat 1 :
Setiap penyelenggara satuan pendidikan bertanggungjawab atas pemberian
kesempatan dan perlakuan yang sama kepada penyandang disabilitas untuk
memperoleh pendidikan.
Pada ayat 2 disebutkan : Ketentuan lebih lanjut mengenai pemberian
kesempatan dan perlakuan yang sama dalam bidang pendidikan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) diatur oleh Menteri yang bertanggungjawab di bidang
pendidikan.
Penunjukan Mendiknas untuk mengatur soal pemberian kesempatan
dan perlakuan yang sama dalam bidang pendidikan bagi penyandang
disabilitas sebagaimana dimaksud pada ayat 2 tersebut di atas, mengundang
masalah baru. Karena setiap kali Mendiknas dan jajarannya menyusun
kebijakan tentang layanan pendidikan bagi penyandang disabilitas, selalu
tertuju pada bidang Pendidikan Luar Biasa (PLB). Sebab Porto Folio yang
menangani dan melayani pendidikan untuk penyandang disabilitas dalam
bahasa anggaran Depdiknas, terletak pada Direktorat Pelayanan PLB
(sekarang menjadi 2 direktorat pendidikan khusus dan layanan khusus
untuk tingkat pendidikan dasar dan menengah). Akibatnya isu tentang
sistem integrasi peserta didik penyandang disabilitas di sekolah umum,
tidak tersentuh. Karena isu seperti itu bukan menjadi wewenang direktorat
PPLB.
Celakanya lagi karena Direktorat Pendidikan Menengah Umum
(Dikmenum) yang masih berada satu atap dengan Direktorat PPLB di masa
lalu, tidak bersedia menerima limpahan tanggung jawab tentang pelayanan
integrasi peserta didik penyandang disabilitas di sekolah umum. Mereka
54

umumnya berpandangan bahwa isu tentang pendidikan bagi penyandang


disabilitas, sepenuhnya merupakan tanggung jawab Direktorat PPLB. Saling
lempar tanggung jawab seperti inilah yang kemudian membawa implikasi
bagi penyandang disabilitas yang semakin jauh dari kepastian. Ditambah
lagi ulah pengelola sekolah reguler yang memang dari semula enggan
menerima integrasi penyandang disabilitas di lembaganya selalu merujuk
pada ketiadaan petunjuk teknis dari Depdiknas tentang tata cara integrasi
penyandang disabilitas di sekolah umum11.
Keempat, ketidaksetaraan dalam sektor politik. Hak untuk dipilih
mengatur bahwa orang yang bersangkutan harus mampu berbicara,
menulis, dan membaca Bahasa Indonesia. Persyaratan tersebut memperkecil
kesempatan penyandang disabilitas yang hanya mampu berkomunikasi
dengan bahasa isyarat ataupun braille. Dalam dunia politik, tidak ada
satupun partai yang membuat rencana konkrit bagi perlindungan terhadap
penyandang disabilitas. Dalam Pemilu tahun 2009 berbagai kesulitan
dihadapi oleh para penyandang disabilitas. Salah satunya adalah dengan
kertas suara yang tidak dilengkapi braille bagi kelompok tuna netra.
Terutama bagi tuna daksa, kesulitan mereka adalah dengan tidak adanya
tempat pemungutan suara yang sesuai dengan karakteristik disabilitasnya,
yaitu banyak tempat yang menggunakan tangga, jalannya licin ataupun
papan pencoblosan yang tidak dapat dijangkau oleh kelompok tuna daksa
yang biasanya menggunakan kursi roda.12 Artinya, Undang-Undang Nomor
12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum juga telah memuat secara tegas
frase yang memberikan perlindungan dan jaminan agar pemilih kelompok
penyandang disabilitas dapat memperoleh kemudahan untuk menjalankan
hak politiknya baik untuk memilih ataupun dipilih pun gagal dipenuhi.
Sungguh hal yang sangat disesalkan karena hak penyandang
disabilitas dalam penyelenggaraan Pemilu, ternyata belum dihormati
dilindungi dan dipenuhi sebagaimana yang telah ditentukan dalam

11
12

Saharuddin Daming. 2008. Potret Diskriminasi Penyandang Disabilitas Dalam Layanan Pendidikan. Hal. 2-3
Irwanto, Eva Rahmi Kasim, Asmin Fransiska, Mimi Lusli, Siradj Okta. Op.Cit. Hlm. 22.
55

peraturan perundang-undangan tersebut di atas. Paradigma perlakuan


publik terhadap hak penyandang disabilitas, secara faktual cenderung
dilecehkan,

diremehkan,

disia-siakan,

diabaikan,

bahkan

ada

yang

dieksploitasi dan dimanipulasi. Prinsip Luber dan Jurdil maupun sifat


independensi,

objektifitas

dan

kemandirian

penyelenggara

Pemilu,

cenderung dilanggar yang berakibat kualitas penyelenggaraan Pemilu


dirasakan kurang maksimal. Ini berarti esensi tujuan penyelenggaraan
Pemilu pun dengan sendirinya dapat dikatakan belum terwujud.
Dalam hal ini, penyandang disabilitas sebagai warga negara ternyata
sering tidak dapat menggunakan hak politiknya (aktif dan pasif) secara
penuh, utuh dan bermartabat sesuai prinsip Luber dan Jurdil. Fenomena
yang menunjukkan adanya kecenderungan dari paradigma perlakuan
publik yang kurang memberikan ruang keberpihakan terhadap hak
penyandang disabilitas dalam sistem penyelenggaraan Pemilu selama ini
mencakup beberapa hal yaitu biasnya identifikasi kecacatan dalam struktur
pendataan dan pendaftaran pemilih, tidak tersedianya sarana dan fasilitas
kampanye/ pengenalan Parpol yang dapat diakses oleh penyandang
disabilitas, pengadaan logistik serta sarana dan prasarana Pemilu sama
sekali tidak aksesibel bagi penyandang disabilitas, misalnya tidak tersedia
template (alat penuntun menceblos untuk tunanetra), TPS dibangun di atas
areal yang berumput tebal, becek, berundak-undak, berbatu, berlubang atau
ditempat yang tinggi, bilik suara yang tidak dapat dimasuki kursi roda.
(Edriana Nurdin dkk, 2003: 73)
Berdasarkan laporan dari berbagai pihak khususnya central for
electoral reform (Cetro) maupun dari panitia pemilu akses penyandang
disabilitas (PPUA) terhadap hasil penyelenggaraan Pemilu termasuk Pemilu
legislatif dan eksekutif tahun 2004, diketahui bahwa bentuk pengabaian dan
marginalisasi hak politik penyandang disabilitas dalam sistem Pemilu
mencakup hal-hal sebagai berikut: tidak terjaminnya asas Luber bagi
penyandang disabilitas, karena pemilih tunanetra dalam memberikan
suaranya di TPS, harus didampingi oleh panitia pemilihan, bukan orang
56

yang dipilih sendiri. Ironisnya lagi karena dalam peraturan perundangundangan Pemilu ternyata tidak ada sanksi hukum terhadap pihak yang
mengabaikan hak politik penyandang disabilitas yang sudah barang tentu,
semakin memperbesar peluang untuk merekayasa dan memanipulasi suara
oleh pihak-pihak yang berkepentingan. (Cetro, 2005: 12; PPUA, 2005: 7).
Demikian pula hak penyandang disabilitas untuk dipilih sebagai
anggota legislatif atau eksekutif, cenderung dibatasi, dikurangi, dipersulit
atau dihilangkan oleh kalangan publik khususnya pemangku otoritas
dengan memperalat keterbatasan dan kelemahan peraturan perundangundangan atau melalui hasil penafsiran yang keliru terhadap peraturan
hukum tentang penyelenggaraan Pemilu. Misalnya seorang Tunanetra
dinyatakan tidak dapat menjadi anggota legislatif selain dianggap tidak
dapat membaca dan menulis huruf latin, juga karena gangguan indra
penglihatan

yang

disandangnya

diasumsikan

sebagai

bagian

dari

pengertian tidak sehat jasmani. Keadaan serupa juga menimpa kalangan


tunarungu yang dikategorikan sebagai orang yang tidak cakap Berbahasa
Indonesia sungguh pun Caleg dimaksud telah menempuh pendidikan
akademik setingkat S2 dan S3.13
Situasi di atas sangat bertolak belakang dengan penjaminan negara
mengenai hak asasi manusia melalui Undang-Undang Nomor 39 Tahun
1999. Peraturan perundang-undang tersebut mengatur bahwa setiap Warga
Negara Indonesia termasuk penyandang disabilitas berhak mendapatkan
kehidupan yang layak serta sesuai dengan hak-hak dasar yang harus
diperoleh sebagai manusia yang bermatabat.
Pasal 41 ayat (2) menyatakan bahwa setiap penyandang disabilitas
memperoleh kemudahan dan perlakuan khusus. Kemudahan dan perlakuan
khusus

ini

bertujuan

untuk

memenuhi

kesejahteraan

penyandang

disabilitas.

13

Saharuddin Daming , 2012. Marjinalisasi Hak Politik Penyandang Disabilitas, Jakarta: Komnas HAM. hal. 4243
57

Pasal 42 menyatakan bahwa setiap warga negara yang berusia lanjut,


cacat fisik dan atau cacat mental berhak memperoleh perawatan,
pendidikan, pelatihan, dan bantuan khusus atas biaya negara, untuk
menjamin kehidupan yang layak sesuai dengan martabat kemanusiaannya,
meningkatkan rasa percaya diri, dan kemampuan berpartisipasi dalam
kehidupan bemasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Kondisi yang terurai di atas merupakan masalah bidang hak asasi
manusia. Sektor perlindungan bagi penyandang disabilitas jelas dibutuhkan
agar tidak timbul pelanggaran dan diskriminasi atas hak hidup penyandang
disabilitas sebagai manusia yang bermartabat.
4. Analisis Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan
Anak
Pasal 1 angka 2 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang
Perlindungan Anak menyatakan definisi perlindungan anak adalah segala
kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat
hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi, secara optimal sesuai
dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan
dari kekerasan dan diskriminasi. Berdasarkan hal tersebut, maka negara dan
pemerintah dalam hal ini memiliki kewajiban untuk melindungi anak-anak
dari eksploitasi dan pelantaran, tidak terkecuali anak-anak penyandang
disabilitas.
Secara khusus dalam konteks anak, Undang-Undang Nomor 23
Tahun 2002 telah mengatur hal-hal terkait anak penyandang disabilitas yang
meliputi perlindungan khusus, hak atas pendidikan (baik pendidikan biasa
maupun pendidikan luar biasa), kesejahteraan sosial, dan hak untuk
memperoleh perlakuan yang sama dengan anak lainnya untuk mencapai
integrasi sosial sepenuh mungkin dan pengembangan individu.
Pasal

12

menyebutkan

mengenai

hak

yang

diperoleh

anak

penyandang disabilitas, dimana mereka berhak memperoleh rehabilitasi,


bantuan sosial, dan pemeliharaan taraf kesejahteraan. Hak dalam ketentuan
tersebut dimaksudkan untuk menjamin kehidupan sesuai dengan martabat
58

kemanusiaan,

meningkatkan

kepercayaan

diri,

dan

kemampuan

berpartisipasi dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat.14


Selain itu, Pasal 70 juga menyatakan perlindungan khusus bagi penyandang
disabilitas melalui upaya:
1.

perlakuan anak secara manusiawi sesuai dengan martabat dan hak anak;

2.

pemenuhan kebutuhan-kebutuhan khusus;

3.

memperoleh perlakuan yang sama dengan anak lainnya untuk


mencapai integrasi sosial sepenuh mungkin dan pengembangan
individu; dan

4.

Setiap orang dilarang memperlakukan anak dengan mengabaikan


pandangan mereka secara diskriminatif, termasuk labelisasi dan
penyetaraan dalam pendidikan bagi anak-anak yang menyandang cacat.
Mengenai

diskriminasi

terhadap

anak

(secara

umum)

yang

mengakibatkan anak mengalami kerugian fisik ataupun mental sehingga


terganggu fungsi sosialnya. Namun yang patut disesalkan dalam hal
perlindungan anak dengan disabilitas berdasarkan Undang-Undang Nomor
23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak, hampir tidak begitu menggema.
Sebagian besar jangkauan Undang-Undang tersebut lebih fokus ke dalam
perlindungan anak secara umum. Padahal Undang-undang dimaksud,
nyata-nyata mengatur perlindungan anak dengan disabilitas. Herannya lagi
karena berbagai upaya perlindungan yang dilakukan oleh Komisi
Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Komnas Perlindungan Anak maupun
Lembaga Perlindungan Anak yang diselenggarakan oleh masyarakat
hampir tak ada yang menyentuh program perlindungan anak untuk
disabilitas. Tak ayal jika langkah advokasi terhadap perlidungan anak
dengan disabilitas justru diemban sepenuhnya oleh organisasi disabilitas
yang berskala nasional maupun lokal. Kementerian Sosial maupun
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, relatif besar kontribusinya bagi
pemenuhan hak anak dengan disabilitas melalui program dari tupoksi
kedua instansi dimaksud. Semua ini terjadi karena kelemahan peraturan
14

Lihat penjelasan Pasal 12 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak
59

perundang-undangan yang tidak mengatur secara tegas pembagian tugas


masing-masing lembaga dan kementerian maupun spesifikasi, advokasi,
dan keberdayaannya.
5. Analisis Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan
Gedung
Pengaturan mengenai bangunan publik telah diatur melalui UndangUndang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung. Pasal 1 Angka 1
menyatakan bahwa bangunan gedung adalah wujud fisik hasil pekerjaan
konstruksi yang menyatu dengan tempat kedudukannya, sebagian atau
seluruhnya berada di atas dan/atau di dalam tanah dan/atau air, yang
berfungsi sebagai tempat manusia melakukan kegiatannya, baik untuk
hunian atau tempat tinggal, kegiatan keagamaan, kegiatan usaha, kegiatan
sosial, budaya, maupun kegiatan khusus.
Pasal 31 mengatur secara khusus bahwa keharusan bagi semua
bangunan gedung, kecuali rumah tinggal, menyediakan fasilitas dan
aksesibilitas bagi penyandang disabilitas. Fasilitas bagi penyandang
disabilitas, termasuk penyediaan fasilitas aksesibilitas dan fasilitas lainnya
dalam bangunan gedung dan lingkungannya. Tujuan penyediaan fasilitas
aksesibilitas untuk memberikan kemudahan, keamanan, dan kenyamanan
bagi penyandang disabilitas. Selain itu, memberikan penjelasan mengenai
pengaturan bahwa aksesibilitas memiliki tujuan untuk menciptakan kondisi
dan lingkungan yang lebih mendukung bagi penyandang disabilitas untuk
bersosialisasi di dalam masyarakat.
Pengaturan

tersebut

menekankan

mengenai

pengadaan

akses

minimal bagi penyandang disabilitas terhadap ruang publik sebagaimana


dimandatkan oleh Pasal 9 Convention The Right of Person with Disabilities yang
diratifikasi dan diundang-undangkan melalui Undang-Undang Nomor 19
Tahun 2011 tentang Pengesahan Convention On The Rights Of Persons With
Disabilities

(Konvensi

Mengenai

Hak-Hak

Penyandang

Disabilitas).

Pemerintah wajib menyediakan aksesibilitas secara fisik terhadap fasilitas


60

umum dan infra struktur, bangunan umum, jalan umum, taman dan
pemakaman, dan sarana transportasi.15
6. Analisis Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan
Pasal 1 angka 2 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang
Ketenagakerjaan menyatakan Tenaga kerja adalah setiap orang yang
mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan/atau jasa
baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat, yang
di dalamnya termasuk penyandang disabilitas. Apabila kita hubungkan
dengan ketentuan Pasal 6 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1997 yang
menyatakan bahwa penyandang cacat berhak untuk memperoleh pekerjaan
dan penghidupan yang layak sesuai dengan jenis dan derajat kecacatan,
pendidikan, dan kemampuannya. Sedangkan Pasal 14 mewajibkan
perusahaan swasta dan pemerintah untuk mempekerjakan penyandang
cacat, maka pengusaha/pemberi kerja wajib mempekerjakan 1 orang
penyandang cacat untuk setiap 100 pekerja yang dipekerjakannya. Ini berarti
terdapat kuota 1% (minimal) bagi penyandang disabilitas untuk mengakses
tempat kerja dan hak ekonominya.
Walaupun

undang-undang

telah

mengatur

demikian,

namun

terdapat banyak kasus diskriminasi terhadap penyandang disabilitas di


sektor ketenagakerjaan. Sebagai contoh, Wuri sebagai seorang penyandang
disabilitas ditolak untuk menjadi seorang pengajar di sebuah universitas
negeri.16 Diskriminasi juga terjadi kepada Lisa, seorang penyandang
disabilitas yang tinggal di Aceh dimana ia ditolak untuk menjadi pegawai
negeri karena statusnya sebagai penyandang disabilitas.17
Berdasarkan ketentuan Pasal 5 Undang-Undang Nomor 13 Tahun
2003 tentang Ketenagakerjaan menyatakan bahwa setiap tenaga kerja
memiliki kesempatan yang sama tanpa diskriminasi untuk memperoleh

Lihat Pasal 11-15 Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 1998 Tentang Upaya Peningkatan
Kesejahteraan Sosial Penyandang Cacat
16Ethenia Novyanti Widyaningrum. Op.Cit.
17 Kristyan Dwijosusilo. Op.Cit. Hlm.30.
15

61

pekerjaan. Kemudian dalam Pasal 67 juga diatur secara khusus mengenai


penyandang

disabilitas,

mempekerjakan

tenaga

yang
kerja

isinya

mengatur

penyandang

cacat

pengusaha
wajib

yang

memberikan

perlindungan sesuai dengan jenis dan derajat kecacatannya. Situasi di atas


menunjukkan bahwa telah terjadi diskriminasi hak penyandang disabilitas.
Diskriminasi tersebut merupakan bentuk pelanggaran dan harus diberi
sanksi terhadap pihak-pihak yang melakukan pelanggaran.
Namun, hingga saat ini belum ada pemberian sanksi pidana atau
administratif terhadap pihak yang melanggar hak penyandang disabilitas.
7. Analisis Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem
Pendidikan Nasional
Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang
Sistem

Pendidikan

Nasional

menyatakan

bahwa

pendidikan

diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif


dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai
kultural, dan kemajemukan bangsa.
Pasal 11 ayat (1) menyatakan bahwa pemerintah pusat dan
pemerintah daerah wajib memberikan layanan dan kemudahan, serta
menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga
negara tanpa diskriminasi.
Pasal 12 ayat (1) huruf b menyatakan bahwa setiap peserta didik pada
setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai
dengan bakat, minat, dan kemampuannya.
Berdasarkan peraturan perundang-undangan, partisipasi siswa dan
mahasiswa penyandang disabilitas jelas dilindungi, berarti mereka bisa
memilih dan menentukan jenis, satuan, jenjang pendidikan yang sesuai
bakat, minat dan kemampuannya sebab dasar penyelenggaraan pendidikan
di Indonesia berorientasi pada demokrasi, berkeadilan dan tanpa
diskriminasi.

62

Untuk

memperluas

kesempatan

dan

partisipasi

penyandang

disabilitas, khususnya di sektor pendidikan memerlukan suatu pengaturan


pendidikan khusus seperti pendidikan inklusi yang diatur dalam Pasal 5
ayat (2) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 bahwa warga negara yang
memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan/atau sosial
berhak memperoleh pendidikan khusus.
Pasal 32 ayat (1) dan Pasal 32 ayat (2) Undang-Undang Nomor 12
Tahun 2012 tentang Perguruan Tinggi menyatakan bahwa program studi
dapat dilaksanakan melalui pendidikan khusus bagi mahasiswa yang
memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran dan/atau
mahasiswa yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa. Selain
pendidikan khusus, program studi juga dapat dilaksanakan melalui
pendidikan layanan khusus dan/atau pembelajaran layanan khusus. Oleh
karena

itu,

dalam

merumuskan

rancangan

undang-undang

bagi

penyandang disabilitas ini perlu menjamin kesempatan dan partisipasi


penyandang disabilitas belajar hingga tingkat pendidikan tinggi sehingga
dapat memperkuat penjaminan untuk memperoleh pendidikan tinggi bagi
penyandang disabilitas.
8. Analisis Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan
Sosial Nasional
Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang
Sistem Jaminan Sosial Nasional menyatakan bahwa salah satu bentuk
perlindungan sosial untuk menjamin seluruh rakyat agar dapat memenuhi
kebutuhan dasar hidupnya yang layak.
Pasal 3 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 menyatakan bahwa
tujuan jaminan sosial adalah untuk memberikan jaminan terpenuhinya
kebutuhan dasar hidup yang layak bagi setiap peserta dan/atau anggota
keluarganya.
Pasal 21 ayat (3) tentang jaminan kesehatan, mengatur bahwa peserta
yang mengalami cacat total tetap dan tidak mampu, iurannya dibayar oleh
63

Pemerintah. Kemudian Pasal 35 ayat (a) tentang jaminan hari tua, mengatur
bahwa jaminan hari tua diselenggarakan dengan tujuan untuk menjamin
agar peserta menerima uang tunai apabila memasuki masa pensiun,
mengalami cacat total tetap, atau meninggal dunia.
Ulasan di atas menujukkan bahwa sistem jaminan sosial nasional
mempunya sifat yang pro terhadap penyandang disabilitas dalam rangka
untuk memberikan jaminan terpenuhinya kebutuhan dasar hidup yang
layak.

9. Analisis Undang-Undang

Nomor

3 Tahun 2005 Tentang

Sistem

Keolahragaan Nasional
Sistem keolahragaan nasional yang diatur dalam, undang-undang ini
didasarkan pada bahwa keimigrasian merupakan bagian dari perwujudan
tujuan negara, mencerdaskan kehidupan bangsa, melalui instrumen
pembangunan

nasional

di

bidang

keolahragaan

meningkatkan kualitas hidup manusia

merupakan

upaya

Indonesia secara jasmaniah,

rohaniah, dan sosial dalam mewujudkan masyarakat yang maju, adil,


makmur, sejahtera, dan demokratis berdasarkan Pancasila dan UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pembinaan dan
pengembangan keolahragaan nasional yang dapat menjamin pemerataan
akses

terhadap

peningkatan

olahraga,

prestasi,

dan

peningkatan
manajemen

kesehatan

dan

keolahragaan

kebugaran,

yang

mampu

menghadapi tantangan serta tuntutan perubahan kehidupan nasional dan


global memerlukan sistem keolahragaan nasional.18
Berkaitan dengan perlindungan hak asasi manusia, sama halnya yang
tercantum Pasal 30 ayat (5) dalam Convention on the Rights of Persons with
Disabilities

mengenai

partisipasi

penyandang

disabilitas

atas

dasar

kesetaraan dengan yang lain dalam kegiatan rekreasi, hiburan, dan olah
raga, maka perlu sarana penjaminan agar hak-hak tersebut dapat diperoleh

18

Lihat Konsideran menimbang Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 Tentang Sistem Keolahragaan
Nasional
64

dengan patut dan sewajarnya

Penjaminan tersebut dapat berupa

pengawasan yang baik terhadap hak-hak penyandang disabilitas. Pasal 7


undang-undang ini mengatur bahwa warga negara yang memiliki kelainan
fisik dan/atau mental mempunyai hak untuk memperoleh pelayanan dalam
kegiatan olahraga khusus.
Mencermati Keolahragaan dalam hal pengembangan dan pembinaan
olah raga, maka perlu penjaminan kesempatan pembinaan yang sesuai
dengan kesetaraan dan kekhususnya sesuai dengan Pasal 30 ayat (2) dan (3)
yang mengatur pembinaan dan pengembangan olahraga penyandang cacat
dilaksanakan oleh organisasi olahraga penyandang cacat yang bersangkutan
melalui kegiatan penataran dan pelatihan serta kompetisi yang berjenjang
dan berkelanjutan pada tingkat daerah, nasional, dan internasional. Serta
pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau organisasi olahraga penyandang
cacat yang ada dalam masyarakat berkewajiban membentuk sentra
pembinaan dan pengembangan olahraga khusus penyandang cacat.
Kekhususan yang dimaksud di atas adalah olahragawan penyandang cacat
merupakan olahragawan yang melaksanakan olahraga khusus dan menurut
Pasal 58 ayat (3) bahwa olahragawan penyandang cacat memperoleh
pembinaan dan pengembangan dari organisasi olahraga penyandang cacat.
10. Analisis Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2005 Tentang Pengesahan
International Covenant on Econimic, Social And Culture Rights (Kovenan
Internasional Tentang Hak-Hak Ekonomi, Sosial, Dan Budaya)
Konvensi ini mengatur mengenai hak-hak manusia di bidang
ekonomi, sosial dan budaya untuk mendapatkan perlakuan yang layak
secara kemanusiaan. Undang-undang yang meratifikasi konvensi ini bahwa
konvensi tidak bertentangan dengan konstitusi negara Republik Indonesia.
Secara umum konvensi ini terkait pula pada perlindungan hak asasi
manusia. Pengaturan hak asasi manusia yang telah diakomodir melalui
Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia

65

Indonesia Sebagai negara hukum sesuai dengan teori dari F.J. Stahl
bahwa karakteristik negara hukum adalah adanya perlindungan hak asasi
manusia terhadap warga negaranya. Pertimbangan Indonesia meratifikasi
konvensi ini, dapat dikatakan sebagai tindak lanjut dari lahirnya UndangUndang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia.
Dalam ketentuan konvensi ini untuk memberikan perlindungan hak
bagi

setiap

rakyatnya

dalam

menentukan

nasibnya

sendiri.

Serta

memberikan penegasan atas persamaan gender baik laki-laki maupun


perempuan. Bentuk pengawasan dari PBB dicantumkan pula dengan bentuk
kewajiban negara untuk menyampaikan laporan tentang pelaksanaan
konvenan ini.
Perlindungan penyandang disabilitas yang akan diatur dalam
Rancangan Undang-Undangan yang disusun dalam Naskah Akademik ini,
juga mengatur hak-hak asasi manusia. Dengan demikian berdasarkan teori
Fuller yang salah satunya menyatakan bahwa sistem hukum tidak boleh
mengandung
bertentangan

peraturan
satu

sama

perundang-undangan
lain.

Pengaturan

yang

mengenai

tidak

boleh

perlindungan

penyandang disabilitas yang nantinya akan diatur tidak bertentangan


dengan

pengaturan

dalam

hak

asasi

manusia

maupun

konvensi

internasional terkait hak sosial, ekonomi, dan budaya.


11. Analisis Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2005 Tentang Pengesahan
International Covenant

On Civil And Political Rights

(Kovenan

Internasional Tentang Hak-Hak Sipil Dan Politik)


Kovenan ini mengukuhkan mengenai pokok-pokok hak asasi
manusia di bidang sipil dan politik yang tercantum dalam Universal
Declaration of Human Rights (Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia)
sehingga menjadi ketentuan-ketentuan yang mengikat secara hukum dan
penjabarannya mencakup pokok-pokok lain yang terkait. Kovenan ini
dimaksudkan sebagai acuan umum hasil pencapaian untuk semua rakyat

66

dan bangsa bagi terjaminnya pengakuan dan penghormatan dan kebebasan


dasar secara universal dan efektif.19
Sama seperti Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2005 Tentang
Pengesahan International Convenant on Econimic, Social And Culture Rights
(Konvenan Internasional Tentang Hak-Hak Ekonomi, Sosial, Dan Budaya),
secara umum konvensi ini terkait pula pada perlindungan hak asasi
manusia. Pengaturan hak asasi manusia yang telah diakomodir melalui
Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia.
Namun, hak-hak yang ada di dalam konvensi ini sering disebut hak-hak
negatif (negative rights), artinya hak-hak dan kebebasan yang dijamin di
dalamnya akan dapat terpenuhi apabila peran negara terbatasi atau terlihat
berkurang. Inilah yang membedakan dengan model legislasi International
Convenant on Econimic, Social And Culture Rights yang justru menuntut peran
maksimal negara untuk memenuhi hak dalam konvensi tersebut atau hak
yang demikian itu sering disebut hak-hak positif (positive rights).
Menurut Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945 bahwa Indonesia adalah negara hukum. Sejak kelahiran negara
Indonesia pada tahun 1945, Indonesia telah menjunjung tinggi hak asasi
manusia sebagaimana tertuang dalam sila kedua Pancasila. Sebagai negara
hukum sesuai dengan teori dari F.J. Stahl bahwa karakteristik negara hukum
adalah adanya perlindungan hak asasi manusia terhadap warga negaranya.
Pertimbangan Indonesia meratifikasi konvensi ini, dapat dikatakan sebagai
tindak lanjut dari lahirnya Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang
Hak Asasi Manusia maupun ratifikasi. Terhadap International Convenant on
Econimic, Social And Culture Rights (Konvenan Internasional Tentang HakHak Ekonomi, Sosial, Dan Budaya).
Ada dua klasifikasi terhadap hak-hak dalam International Covenant On
Civil And Political Rights, yakni Non-Derogable dan Derogable Rights. Hak
Non-Derogable adalah hak-hak yang besifat absolut yang tidak boleh

19

Penjelasan bagian umum Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2005 Tentang Pengesahan International
Covenant On Civil And Political Rights
67

dikurangi pemenuhannya oleh negara pihak, walaupun dalam keadaan


darurat sekalipun. Hak-hak yang termasuk k edalam jenis ini adalah hak
atas hidup, hak bebas dari penyiksaan, hak bebas dari perbudakan, hak
bebas dari penahanan karena gagal memenuhi perjanjian utang, hak bebas
dari pemidanaan yang berlaku surut, hak sebagai subyek hukum, dan hak
atas kebebasan berpikir, keyakinan, dan beragama. Sedangkan Hak
Derogable

adalah

hak-hak

yang

boleh

dikurangi

atau

dibatasi

pemenuhannya oleh negara-negara pihak. Yang termasuk jenis Hak


Derogable adalah hak kebebasan berkumpul secara damai, hak kebebasan
berserikat, termasuk membentuk dan menjadi anggota serikat buruh, dan
hak kebebasan menyatakan pendapat atau berekspresi, termasuk kebebasan
mencari, menerima, dan memeberikan informasi dan segala macam gagasan
tanpa memperhatikan baik tulisan maupun lisan.

12. Analisis Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007 Tentang Perkeretaapian


Pasal 54 ayat (1) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007 tentang
Perkeretaapian menyatakan bahwa stasiun kereta api, tempat kereta api
berangkat atau berhenti untuk melayani keperluan naik turun penumpang
minimal dilengkapi dengan fasilitas:
a. keselamatan;
b. keamanan;
c. kenyamanan;
d. naik turun penumpang;
e. penyandang cacat;
f. kesehatan; dan
g. fasilitas umum.
Pasal 131 mengatur ketentuan mengenai penyelenggara sarana
perkeretaapian wajib memberikan fasilitas khusus dan kemudahan bagi
penyandang cacat, wanita hamil, anak di bawah lima tahun, orang sakit, dan
orang lanjut usia. Pemberian fasilitas khusus dan kemudahan tersebut tidak
dipungut biaya tambahan. Dalam bagian penjelasan Pasal 131 menyatakan
68

bahwa fasilitas khusus dapat berupa pembuatan jalan khusus di stasiun dan
sarana khusus untuk naik kereta api atau penyediaan ruang yang
disediakan khusus bagi penempatan kursi roda atau sarana bantu bagi
orang sakit yang pengangkutannya mengharuskan dalam posisi tidur.
Ketentuan peraturan perundang-undangan di atas merupakan
upaya-upaya negara dalam memberikan penjaminan aksesibilitas kepada
penyandang disabilitas agar mendapatkan kesempatan dan dapat pula
mempermudah kehidupan penyandang disabilitas yang sebagian besar
hambatan aksesibilitas tersebut berupa hambatan arsitektural, sehingga
penyandang disabilitas tidak kehilangan haknya dalam mendapatkan
pelayanan yang baik sebagaimana hak yang harus diperolehnya sebagai
warga negara Indonesia.
13. Analisis Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 Tentang Pelayaran
Pasal 42 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang
Pelayaran menyatakan bahwa perusahaan angkutan di perairan wajib
memberikan fasilitas khusus dan kemudahan bagi penyandang cacat,
wanita hamil, anak di bawah usia 5 (lima) tahun, orang sakit, dan orang
lanjut usia. Selanjutnya pada ayat (2) menyatakan pemberian fasilitas
khusus dan kemudahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak
dipungut biaya tambahan.
Pelayanan khusus bagi penumpang yang menyandang disabilitas,
wanita hamil, anak di bawah usia 5 (lima) tahun, orang sakit, dan orang
lanjut usia dimaksudkan agar mereka juga dapat menikmati pelayanan
angkutan dengan baik. Sedangkan yang dimaksud dengan fasilitas khusus
dapat berupa penyediaan jalan khusus di pelabuhan dan sarana khusus
untuk naik ke atau turun dari kapal, atau penyediaan ruang yang
disediakan khusus bagi penempatan kursi roda atau sarana bantu bagi
orang sakit yang pengangkutannya mengharuskan dalam posisi tidur.20

20

Penejelasan Pasal 42 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran
69

14. Analisis Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 Tentang Penerbangan


Pasal 134 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang
Penerbangan menyatakan bahwa penyandang cacat, orang lanjut usia, anakanak di bawah usia 12 (dua belas) tahun, dan/atau orang sakit berhak
memperoleh pelayanan berupa perlakuan dan fasilitas khusus dari badan
usaha angkutan udara niaga. Kemudian ayat (2) menyatakan bahwa
perlakuan dan fasilitas khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling
sedikit meliputi:
a. pemberian prioritas tambahan tempat duduk;
b. penyediaan fasilitas kemudahan untuk naik ke dan turun dari pesawat
udara;
c. penyediaan fasilitas untuk penyandang cacat selama berada di pesawat udara;
d. sarana bantu bagi orang sakit;
e. penyediaan fasilitas untuk anak-anak selama berada di pesawat udara;
f. tersedianya personel yang dapat berkomunikasi dengan penyandang cacat,
lanjut usia, anak-anak, dan/atau orang sakit; dan
g. tersedianya buku petunjuk tentang keselamatan dan keamanan penerbangan
bagi penumpang pesawat udara dan sarana lain yang dapat dimengerti oleh
penyandang cacat, lanjut usia, dan orang sakit.
Namun kenyataan di lapangan menunjukkan kondisi sebaliknya,
penumpang penyandang disabilitas tidak diberikan pelayanan khusus
sebagaimana dimaksud dalam ketentuan Pasal 134 ayat (1). Penyandang
cacat sebelum menaiki pesawat harus menandatangani surat pernyataan
bahwa dia orang yang sakit dan pihak maskapai penerbangan tidak akan
bertanggung jawab apabila terjadi kecelakaan pada maskapai itu.21
Hal tersebut bertentangan dengan ketentuan Pasal 29 ayat (1) dan
ayat (2) Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik
yang

menyebutkan

bahwa

penyelenggara

diwajibkan

memberikan

pelayanan dengan perlakuan khusus kepada anggota masyarakat tertentu


(termasuk penyandang disabilitas) sesuai dengan peraturan perundang
21

Kristyan Dwijosusilo. 2010. Loc.Cit.


70

undangan, serta pemanfaatan sarana, prasarana, dan/atau fasilitas


pelayanan publik dengan perlakuan khusus atau bagi para penyandang
disabilitas dilarang dipergunakan oleh orang lain yang tidak berhak.
15. Analisis Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2009 Tentang Kesejahteraan
Sosial
Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2009 tentang
Kesejahteraan menyatakan bahwa kesejahteraan sosial adalah kondisi
terpenuhinya kebutuhan material, spiritual dan sosial warga negara agar
hidup

layak

dan

mampu

mengembangkan

diri

sehingga

dapat

melaksanakan fungsi sosialnya. Kemudian dalam Pasal 1 angka 2


menyatakan Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial merupakan upaya yang
terarah, terpadu dan berkelanjutan yang dilakukan oleh pemerintah,
pemerintah daerah dan masyarakat dalam bentuk pelayanan masyarakat
guna memenuhi kebutuhan dasar setiap warga negara yang meliputi
rehabilitasi sosial, jaminan sosial, pemberdayaan sosial, dan perlindungan
sosial.
Pasal 7 ayat (1) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2009 menyatakan
rehabilitasi sosial dimaksudkan untuk memulihkan dan mengembangkan
kemampuan seseorang yang mengalami disfungsi sosial agar dapat
melaksanakan fungsi sosialnya secara wajar. Dalam penjelasan pasal
tersebut

menyatakan

seseorang

yang

mengalami

disfungsi

sosial

diantaranya adalah penyandang disabilitas.


Pasal 9 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2009
menyatakan jaminan sosial dimaksud untuk:
menjamin fakir miskin, anak yatim piatu terlantar, lanjut usia terlantar,
penyandang cacat fisik, cacat mental, cacat fisik dan mental, eks penderita penyakit
kronis yang mengalami masalah ketidakmampuan sosial-ekonomi agar kebutuhan
dasarnya terpenuhi.

71

16. Analisis Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan
Angkutan Jalan
Definisi Lalu lintas dan angkutan jalan menurut Pasal 1 UndangUndang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan
adalah satu kesatuan sistem yang terdiri atas lalu lintas, angkutan jalan
jaringan lalu lintas dan angkutan jalan, prasarana lalu lintas dan angkutan
jalan, kendaraan, pengemudi, pengguna jalan serta pengelolaannya.
Mengingat begitu kompleksnya kepentingan lalu lintas dan angkutan jalan
ini maka perlu perhatian khusus terhadap prasarana dan peran transportasi
dalam mewujudkan aksesibilitas yang memperhatikan keselamatan dan
kenyamanan pengguna fasilitas ini, apalagi khusus bagi penyandang
disabilitas.
Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan
Angkutan Jalan ini memiliki spirit yang sama dengan undang-undang yang
telah

dijelaskan

sebelumnya

yaitu

sama-sama

untuk

mewujudkan

kesetaraan di bidang pelayanan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. UndangUndang ini juga mengatur mengenai perlakuan khusus bagi penyandang
disabilitas. Bentuk perlakuan khusus yang diberikan oleh Pemerintah
berupa pemberian kemudahan sarana dan prasarana fisik atau non fisik
yang meliputi aksesibilitas, prioritas pelayanan, dan fasilitas pelayanan.
Fasilitas khusus itu seperti trotoar yang bisa diakses pengguna kursi roda,
halte atau kedaraan umum yang bisa diakses penyandang disabilitas.
Pasal 80 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 menyatakan bahwa
untuk dapat mengemudikan kendaraan bermotor penyandang disabilitas
harus memiliki Surat Izin Mengemudi D. Kemudian Pasal 242 juga memberi
amanat agar pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan/atau perusahaan
angkutan umum wajib memberikan perlakuan khusus di bidang Lalu Lintas
dan Angkutan Jalan kepada penyandang disabilitas. Bahkan apabila amanat
tersebut tidak dilaksanakan, Pasal 244 mengatur sanksi bagi perusahaan
angkutan umum yang tidak memenuhi kewajiban menyediakan sarana dan
prasarana pelayanan kepada penyandang disabilitas dapat dikenai sanksi
72

administratif berupa peringatan tertulis, denda administratif, pembekuan


izin, hingga pencabutan izin.
17. Analisis Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 Tentang Pelayanan
Publik
Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik
menyatakan bahwa pelayanan publik adalah kegiatan atau rangkaian
kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai dengan
peraturan perundang-undangan bagi setiap warga negara dan penduduk
atas barang, jasa, dan/atau pelayanan administratif yang disediakan oleh
penyelenggara

pelayanan

publik.

Pasal

menyatakan

bahwa

penyelenggaraan pelayanan publik harus berasaskan kepentingan umum,


kepastian hukum, kesamaan hak, keseimbangan hak dan kewajiban,
keprofesionalan, partisipatif, persamaan perlakuan/ tidak diskriminatif,
keterbukaan, akuntabilitas, fasilitas dan perlakuan khusus bagi kelompok
rentan, ketepatan waktu dan kecepatan, kemudahan, dan keterjangkauan.
Sejalan dengan isi Convention on the Rights of Persons with
Disabilities yang kemudian di sahkan melalui Undang-Undang Nomor 19
Tahun 2011, pada pembukaan poin (v) yang mengakui pentingnya
aksesibilitas kepada lingkungan fisik, sosial, ekonomi dan kebudayaan,
kesehatan dan pendidikan, serta informasi dan komunikasi, yang
memungkinkan penyandang disabilitas untuk menikmati sepenuhnya
semua hak asasi manusia dan kebebasan fundamental. Maka Perlu
penjaminan negara terhadap penyandang disabilitas atas penyelenggaraan
pelayanan publik yang merupakan penghormatan asas persamaan atau
tidak diskrimatif bagi penyandang disabilitas.
Asas-asas aksesibilitas yang telah dijelasakan pada bab sebelumnya
dikuatkan kembali dalam Pasal 29 ayat (1) dan ayat (2) yang menyebutkan
bahwa penyelenggaraan diwajibkan memberikan

pelayanan dengan

perlakuan

tertentu

khusus

kepada

anggota

masyarakat

(termasuk

penyandang disabilitas) sesuai dengan peraturan perundang-undangan,


73

serta pemanfaatan sarana, prasarana, dan/atau fasilitas pelayanan publik


dengan perlakuan khusus atau bagi para penyandang disabilitas dilarang
dipergunakan oleh orang lain yang tidak berhak.
18. Analisis Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan
Pasal 139 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009
tentang Kesehatan menyatakan bahwa upaya pemeliharaan kesehatan
penyandang cacat harus ditujukan untuk menjaga agar tetap hidup sehat
dan produktif secara sosial, ekonomis, dan bermartabat, serta pemerintah
wajib

menjamin

ketersediaan

fasilitas

pelayanan

kesehatan

dan

memfasilitasi penyandang cacat untuk dapat tetap hidup mandiri dan


produktif secara sosial dan ekonomis.
Pasal 140 menyatakan bahwa upaya pemeliharaan kesehatan bagi
lanjut usia dan penyandang cacat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 138
dan Pasal 139 dilakukan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau
masyarakat.
Bidang

Kesehatan

mempunyai

peran

peting

dalam

upaya

pencegahan kecacatan dan intervensi dini kecacatan melalui program


vaksinasi gratis polio, pemberian vitamin A, garam yodium, dan upaya
screening ibu hamil untuk mencegah bayi premature dan disabilitas dengan
technology Health Technology Assesment (HTA) terutama di rumah sakit
besar.22

19. Analisis Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2011 Tentang Pengesahan


Convention On The Rights Of Persons With Disabilities (Konvensi
Mengenai Hak-Hak Penyandang Disabilitas)
Konvensi Hak-Hak Penyandang Disabilitas diadopsi Majelis Umum
PBB pada tanggal 13 Desember 2006. Konvensi terdiri dari 50 pasal dan
Optional Protocol. Konvensi memuat hak-hak sosial, ekonomi, budaya,
politik dan sipil secara komprehensif. Konvensi Hak-Hak Penyandang
22

Irwanto, Eva Rahmi Kasim, Asmin Fransiska, Mimi Lusli, Siradj Okta. Op.Cit.. Hlm. 14.
74

Disabilitas menandai adanya perubahan besar dalam melihat permasalahan


kelompok

masyarakat

yang

mengalami

kerusakan

atau

gangguan

fungsional dari fisik, mental atau intelektual dan termasuk juga mereka
yang mengalami gangguan indera atau sensorik dalam kehidupan seharihari yang berinteraksi dengan masyarakat sekitar dan lingkungannya.
Pemahaman

penyandang

disabilitas

merupakan

istilah

dan

pengertian yang lebih luas dan menyeluruh dibandingkan dengan istilah


dan pengertian penyandang cacat dalam Undang Undang Nomor 4 tahun
1997 Tentang Penyandang Cacat dan peraturan perundang-undangan
lainnya yang berlaku di Indonesia.
Dengan diratifikasinya Convention on the Rights of Persons with
Disabilities melalui Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2011, Pemerintah
Indonesia harus berupaya

memajukan, melindungi

dan

menjamin

penikmatan semua hak asasi manusia dan kebebasan mendasar secara


penuh dan setara oleh semua orang penyandang diabilitas dan untuk
memajukan penghormatan atas martabat yang melekat pada penyandang
disabilitas. Selain itu Pemerintah juga harus menjamin hak-hak penyandang
disabilitas, yakni hak bebas dari penyiksaan atau perlakuan yang kejam,
tidak manusiawi, merendahkan martabat, bebas dari eksploitasi, kekerasan
dan perlakuan semena-mena. Hak penyandang cacat lainnya adalah
mendapatkan penghormatan atas integritas mental dan fisik berdasarkan
kesamaan dengan orang lain termasuk hak untuk mendapat perlindungan
dan pelayanan sosial dalam rangka kemandirian.

B.

Evaluasi Peraturan Perundang-undangan Terkait


Evaluasi terhadap peraturan perundang-undangan dimaksudkan untuk
mengetahui kondisi hukum terhadap suatu peraturan perundang-undangan
terkait. Tujuan diadakan evaluasi terhadap peraturan perundang terkait ini
adalah harmonisasi baik secara vertikal maupun horizontal. Fuller mengajukan
satu pendapat untuk mengukur apakah kita pada suatu saat dapat berbicara

75

mengenai adanya suatu sistem hukum. Ukuran tersebut diletakkannya pada


delapan asas yang dinamakan principles of legality, yaitu:23
a. Suatu sistem hukum harus mengandung peraturan-peraturan. Yang
dimaksud disini adalah, bahwa ia tidak boleh mengandung sekedar
keputusan-keputusan yang bersifat ad hoc.
b. Peraturan-peraturan yang telah dibuat itu harus diumumkan.
c. Tidak boleh ada peraturan yang berlaku surut, oleh karena apabila yang
demikian itu ditolak, maka peraturan itu tidak bisa dipakai untuk menjadi
pedoman tingkah laku. Membolehkan pengaturan secara berlaku surut
berarti merusak integritas peraturan yang ditujukan untuk berlaku bagi
waktu yang akan datang.
d. Peraturan-peraturan harus disusun dalam rumusan yang bisa dimengerti.
e. Suatu

sistem

tidak

boleh

mengandung

peraturan-peraturan

yang

bertentangan satu sama lain.


f. Peraturan-peraturan tidak boleh mengandung tuntutan yang melebihi apa
yang dapat dilakukan.
g. Tidak boleh ada kebiasaan untuk sering mengubah peraturan sehingga
menyebabkan seorang akan kehilangan orientasi.
h. Harus ada kecocokan antara peraturan yang diundangkan dengan
pelaksanaannya sehari-hari.
Menurut Fuller, kedelapan asas yang diajukannya itu sebetulnya lebih
dari sekedar persyaratan bagi adanya suatu sistem hukum, melainkan
memberikan pengkualifikasian terhadap sistem hukum yang mengandung
suatu moralitas tertentu. Kegagalan untuk menciptakan sistem yang demikian
itu tidak hanya melahirkan sistem hukum yang jelek, melainkan sesuatu yang
tidak bisa disebut sebagai sistem hukum sama sekali.
Prinsip Suatu sistem tidak boleh mengandung peraturan-peraturan yang
bertentangan satu sama lain paralel atau ekuivalen dengan sinkronisasi aturan.
Sinkronisasi aturan adalah mengkaji sampai sejauh mana suatu peraturan

23

Satjipto Rahardjo. 2010. Ilmu Hukum. Bandung: PT. Citra Aditya Bakti. Hlm. 51-52.
76

hukum positif tertulis tersebut telah sinkron atau serasi dengan peraturan
lainnya. Ada dua jenis cara pengkajian sinkronisasi aturan yaitu:24
a. Vertikal
Apakah suatu perundang-undangan tersebut sejalan apabila ditinjau dari
sudut strata atau hierarki peraturan perundangan yang ada.
b. Horizontal
Ditinjau peraturan perundang-undangan yang kedudukannya sederajat dan
yang mengatur bidang yang sama.
Terkait dengan uraian teori dari Fuller maka dapat dievaluasi dari
beberapa peraturan perundang-undangan terkait yang berada di atas, bahwa
pengaturan tentang perlindungan penyandang disabilitas yang tertuang dalam
undang-undang penyandang cacat maupun beberapa peraturan perundangundangan lain, muatan materinya tidak seluas dengan isi Convention on the
Rights Of Persons With Disabilities.
Pengaturan undang-undang seperti pada uraian sebelumnya telah sejalan
dengan perintah konstitusi sebagaimana yang diamanatkan dalam Pasal 28A,
Pasal 28B ayat (1) dan (2), Pasal 28C ayat (1), Pasal 28D ayat (1) dan (3), Pasal
28G ayat (1) dan (2), Pasal 28H ayat (2) dan (3), Pasal 28I ayat (2), Pasal 31 ayat
(1), dan Pasal 34 ayat (2). Menelisik sinkronisasi aturan secara vertikal dan
horizontal25 antara undang-undang dengan konstitusi, maka undang-undang
tersebut sejalan dengan norma yang lebih tinggi bahkan yang tertinggi yaitu
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Sinkronisasi
secara horizontal pada dasarnya telah sesuai, hanya saja belum sesuai dengan
amanat Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2011.
Saat ini masih banyak terjadi perlakuan diskriminatif dan pelanggaran
hak asasi terhadap penyandang disabilitas. Hal tersebut membuktikan bahwa
sanksi hukum belum ditegakkan sebagaimana mestinya. Teori validitas dari
Hans Kelsen menyatakan bahwa peraturan perundang-undangan yang efektif
jika berlaku mengikat serta memberikan kepastian hukum dengan adanya

24
25

Bambang Sunggono. 2006. Metodologi Penelitian Hukum. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Hlm. 94.
Ibid.
77

sanksi. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1997 mempunyai rumusan sanksi,


namun dalam pelaksanaannya tidak efektif karena tidak dapat ditegakkan atau
dilaksanakan.

78

BAB IV
LANDASAN FILOSOFIS, SOSIOLOGIS, DAN YURIDIS

A.

Landasan Filosofis
Pembukaan UUD 1945 pada alinea IV telah mengamanatkan bahwa
Negara melindungi segenap Bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah
Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa,
dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan abadi, dan
keadilan sosial.
Pembangunan kesejahteraan sosial merupakan perwujudan dari upaya
mencapai tujuan bangsa yang diamanatkan dalam UUD 1945. Pada sila ke-5
Pamcasila dan Pembukaan UUD 1945 secara jelas dinyatakan bahwa Keadilan
Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia menjadi salah satu dasar filosofi bangsa,
karenanya setiap warga negara Indonesia tanpa ada pengecualian berhak untuk
memperoleh keadilan sosial yang sebaik-baiknya, termasuk penyandang
disabilitas.
Penyandang disabilitas sebagai bagian dari warga negara Indonesia telah
dijamin UUD 1945 atas hak dan kewajibannya dalam kesamaan kedudukan di
dalam hukum dan pemerintahan, atas pekerjaan dan penghidupan yang layak
bagi kemanusiaan, ikut serta dalam upaya pembelaan negara (Pasal 27), atas
kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan
dan tulisan (Pasal 28),

untuk hidup serta mempertahankan hidup dan

kehidupannya (Pasal 28A), untuk membentuk keluarga dan melanjutkan


keturunan melalui perkawinan yang sah, hak atas kelangsungan hidup, tumbuh,
dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan
diskriminasi (Pasal 28B), untuk mengembangkan diri melalui pemenuhan
kebutuhan dasar, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari
ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas
hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia, untuk memajukan dirinya
79

dalam memperjuangkan haknya secara kolektif untuk membangun masyarakat,


bangsa dan negaranya (Pasal 28C), atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan
kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama dihadapan hukum,
untuk bekerja serta mendapat imbalan dan perlakuan yang adil dan layak dalam
hubungan

kerja,

untuk

memperoleh

kesempatan

yang

sama

dalam

pemerintahan (Pasal 28D), untuk memeluk agama dan beribadat menurut


agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih
kewarganegaraan,

memilih

tempat

tinggal

di

wilayah

negara

dan

meninggalkannya, serta berhak kembali, hak atas kebebasan meyakini


kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya, hak
atas kebebasan berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pendapat (Pasal 28E),
untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan
pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh,
memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan
menggunakan segala jenis saluran yang tersedia (Pasal 28F), atas perlindungan
diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat, dan harta benda yang di bawah
kekuasaannya, serta berhak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman
ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi,
hak untuk bebas dari penyiksaan atau perlakuan yang merendahkan derajat
martabat manusia dan berhak memperoleh suaka politik dari negara lain (Pasal
28G), untuk hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan
mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh
pelayanan kesehatan, hak untuk mendapat kemudahan dan perlakuan khusus
untuk memperoleh kesempatan dan manfaat yang sama guna mencapai
persamaan dan keadilan, hak atas jaminan sosial yang memungkinkan
pengembangan dirinya secara utuh sebagai manusia yang bermartabat (Pasal 28
H), bebas dari perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar apapun dan
berhak

mendapatkan

perlindungan

terhadap

perlakuan

yang

bersifat

diskriminatif itu (Pasal 28 I), atas kemerdekaan untuk memeluk agamanya


masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya
(Pasal 29), ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan negara (Pasal 30),
80

dan untuk mendapat pendidikan, untuk mengikuti pendidikan dasar dan


pemerintah wajib membiayainya (Pasal 31).
Salah satu bentuk komitmen negara terkait upaya penghormatan,
perlindungan, dan pemenuhan hak

penyandang disabilitas adalah sikap

pemerintah Indonesia yang terlibat secara proaktif dalam melahirkan instrumen


HAM bagi penyandang disabilitas. Hal ini ditunjukkan pada 30 Maret 2007,
menjadi salah satu negara penandatangan CRPD. Komitmen negara ini
merupakan sebuah momentum penting untuk meningkatkan harkat dan
martabat penyandang disabilitas.
Harus dipahami bahwa bentuk penghormatan, pemajuan, perlindungan,
pemberdayaan, penegakan, dan pemenuhan hak penyandang disabilitas,
mengacu sepenuhnya pada prinsip Hak Asasi Manusia. Setiap manusia tanpa
terkecuali dianugerahi oleh Tuhan Yang Maha Esa akal budi dan nurani yang
memberikan kepadanya kemampuan untuk membedakan yang baik dan yang
buruk yang akan membimbing dan mengarahkan sikap dan perilaku dalam
menjalani kehidupannya. Dengan akal budi dan nuraninya itu, maka manusia
memiliki kebebasan untuk memutuskan sendiri perilaku atau perbuatannya. Di
samping itu, untuk mengimbangi kebebasan tersebut manusia memiliki
kemampuan

untuk

bertanggung

jawab

atas

semua

tindakan

yang

dilakukannya. Kebebasan dasar dan hak-hak dasar itulah yang disebut hak
asasi manusia yang melekat pada manusia secara kodrati sebagai anugerah
Tuhan Yang Maha Esa. Hak-hak ini tidak dapat diingkari. Pengingkaran
terhadap hak tersebut berarti mengingkari martabat kemanusiaan. Oleh karena
itu, negara, pemerintah, atau organisasi apapun mengemban kewajiban untuk
mengakui dan melindungi hak asasi manusia pada setiap manusia tanpa
kecuali. Ini berarti bahwa hak asasi manusia harus selalu menjadi titik tolak dan
tujuan dalam penyelenggaraan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan
bernegara.

81

Sejalan dengan pandangan di atas, Pancasila sebagai dasar negara


mengandung pemikiran bahwa manusia diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa
dengan menyandang dua aspek yakni, aspek individualitas (pribadi) dan aspek
sosialitas (bermasyarakat). Oleh karena itu, kebebasan setiap orang dibatasi oleh
hak asasi orang lain. Ini berarti bahwa setiap orang mengemban kewajiban
mengakui dan menghormati hak asasi orang lain. Kewajiban ini juga berlaku
bagi setiap organisasi pada tataran manapun, terutama negara dan pemerintah.
Dengan

demikian,

negara

dan

pemerintah

bertanggung

jawab

untuk

menghormati, melindungi, membela, dan menjamin hak asasi manusia setiap


warga negara dan penduduknya tanpa diskriminasi. Kewajiban menghormati
hak asasi manusia tersebut, tercermin dalam Pembukaan Undang-Undang
Dasar 1945 yang menjiwai keseluruhan pasal dalam batang tubuhnya. Semua ini
merupakan bagian penting dari paradigm rights based yang senantiasa
menjadikan lembaga hak dan kewajiban sebagai titik pangkal dalam kehidupan
berbangsa, bernegara dan bermasyarakat.
Penyandang disabilitas sebagai bagian dari umat manusia dan warga
Negara Indonesia, secara konstitusional mempunyai hak dan kedudukan, yang
sama di depan hukum dan pemerintahan. Oleh karena itu, peningkatan peran
serta pemajuan, pemenuhan hak dan kewajiban para Penyandang disabilitas
dalam pembangunan nasional, merupakan hal yang sangat urgen dan strategis.
Apalagi dengan bergulirnya semangat reformasi dan demokratisasi yang
bertumpu pada penguatan sendi-sendi dasar hak asasi manusia, maka
Penyandang disabilitas ditinjau dari optik sosio kultural pada hakekatnya
adalah makhluk sosial yang memiliki dan berpeluang untuk mengekspresikan
potensi bagi kemajuan diri dan lingkungannya. Bahkan penyandang disabilitas
dalam fase tertentu dapat menjadi change of social agent bagi pembangunan di
segala bidang serta berkesempatan untuk tampil mengukir prestasi gemilang
secara multi disipliner.
Penyandang disabilitas tidak mungkin dapat mewujudkan hal itu tanpa
keterlibatan semua pihak, terutama negara dengan segala otoritas dan potensi
yang dimilikinya. Dalam hal ini negara yang sehari-hari diselenggarakan oleh
82

pemerintah bersama badan kelengkapan negara lainnya mempunyai kewajiban


secara hukum dan moral untuk melaksanakan tugas dan fungsi negara, bahkan
harus dapat bertanggung jawab atas segala tindakan yang dilakukan. Sebagai
instrumen primer dari penyelenggaraan negara, maka pemerintah menurut
Taliziduhu Ndraha, setidaknya mempunyai kewajiban yang lahir dari 3 sumber
yaitu perintah, janji dan status. Perintah harus ditaati, janji harus dipenuhi,
ditepati, dan ditunaikan, dan konsekuensi status adalah kewajiban untuk
berbuat kebajikan bagi warga negara. (Taliziduhu Ndraha, 2003: 90)
Merujuk pada deskripsi tentang, peran, fungsi dan tanggung jawab utama
Negara beserta segenap elemen yang ada didalamnya dimana pada tulisan ini
kesemuanya disebut paradigma perlakuan publik, tidak lain adalah
bagaimana publik dapat mewujukan penghormatan, perlindungan, dan
pemenuhan HAM khususnya para penyandang disabilitas. Ini penting sekali
karena dalam era globalisasi yang ditandai dengan makin biasnya batas-batas
budaya dan nasionalitas, hampir di setiap negara, baik negara maju maupun
negara berkembang mulai memahami akan pentingnya keterlibatan terhadap
persoalan HAM. Lebih dari itu, dengan semakin meluasnya liberalisasi dan
demokratisasi politik, makin banyak pula pemerintah khususnya di negaranegara

berkembang

berangsur-angsur

mengupayakan

terciptanya

penghormatan, perlindungan dan pemenuhan HAM di negeri masing-masing.


Sebab mereka berkeyakinan bahwa bila persoalan HAM tidak diperhatikan
secara serius oleh suatu rezim, bisa menjadikan pergunjingan di antara negaranegara, bahkan apabila suatu negara terkesan tidak cukup memperhatikan
HAM maka negara tersebut berhadapan dengan konsekwensi pengucilan oleh
dunia Internasional.
Dalam konteks hukum nasional, persoalan penghormatan, perlindungan
dan pemenuhan HAM amat penting terutama bagaimana peran penyelenggara
negara dalam melindungi hak-hak rakyat yang diukur dari sedikit banyaknya
instrumen hukum terhadap persoalan HAM. Hal ini tentunya relevan dengan
penegasan The Vienna Declaration (1993), bahwa:

83

Human Rights and fundamental freedoms are the birth Rights of all Human
being; their protection and promotion is the responsibility of governments.
Implementasi konvensi tentang HAM ini penting, mengingat pertama,
untuk mengatasi dan mengakhiri fenomena pelanggaran HAM yang dilakukan
oleh penyelnggara negara (aparat negara) terhadap masyarakat sipil di berbagai
negara. Kedua, untuk menggalang kerjasama yang bersifat multilateral demi
mencegah, mengatasi dan mengakhiri fenomena pelanggaran HAM baik
langsung maupun tidak langsung yang melibatkan penyelenggara negara
(aparat pemerintah). (M. Afif Hasbullah, 2005: 1-3)
Terjadinya perlekatan kewajiban dan tanggung jawab pada perlakuan
publik khususnya di kalangan penyelengggara negara untuk senantiasa
mengoptimalkan upaya penghormatan, perlindungan dan pemenuhan HAM
tidak terkecuali kepada para penyandang disabilitas, adalah karena HAM
bukanlah pemberian dari negara atau elemen insaniah yang bernama apapun,
tetapi HAM adalah anugerah Tuhan Yang Maha Kuasa. Hak ini tidak dapat
diingkari, dicabut, atau dihilangkan karena ia merupakan hak yang melekat dan
menyatu dengan lahirnya manusia. Pengingkaran terhadap hak tersebut berarti
mengingkari keberadaan dan martabat kemanusiaan.
Dalam pandangan agama terutama Islam, manusia dengan segala hak yang
melekat padanya adalah makhluk yang paling mulia dan mengemban tugas
sebagai Khalifah di muka bumi. Firman Allah dalam Al-Quranul Qarim:
1. Surah At-Tin : 4

Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaikbaiknya.(QS :at-tin: 4)
2. Surah Al Anam : 165

84

Dan Dia (Allah) yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di


muka bumi, dan Dia pula meninggikan derajat kemuliaan sebahagian
diantara kamu, untuk menguji kesyukuran atas nimat yang diberikan
kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu dapat saja menimpakan azab
seketika, namun sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang. (QS: Al-Anam 165)

3. Surah Hud: 61

Dan kepada kaum Tsamud (Kami utus) saudara mereka, Nabi Shaleh.
Nabi Shalih yang menyerukan: Hai kaumku, sembahlah Allah, sekalikali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari
bumi (tanah) dan menjadikan tanah itu sebagai sember kemakmuran
bagimu. Sebab itu mohon ampun dan bertaubatlah kepada-Nya. Karena
sesungguhnya Tuhanku amat dekat lagi Maha Penerima Doa. (QS: Hud
61)

4. Surah Al Hujurat : 13

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang lakilaki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa
dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya
orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang
paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui
lagi Maha Mengenal. (QS: Al-Hujurat: 13)

85

Demikianlah Islam menegaskan prinsip persamaan seluruh manusia. Atas


dasar prinsip itu, maka setiap orang mempunyai hak dan kewajiban yang sama.
Islam tidak memberikan hak-hak istimewa bagi seseorang atau golongan
lainnya, baik dalam bidang kerohanian, maupun dalam bidang politik, sosial
dan ekonomi. Setiap orang mempunyai hak yang sama dalam kehidupan
masyarakat, berbangsa dan bernegara. Setiap elemen bangsa tersebut
mempunyai kewajiban bersama atas kesejahteraan tiap-tiap anggotanya. Itulah
sebabnya,

Islam

menentang

segala

bentuk

praktik

diskriminasi,

baik

diskriminasi karena keturunan, maupun karena warna kulit, kesukuan,


kebangsaan atau keadaan fisik.
Sabda Rasulullah SAW:

Dengarlah dan taatilah walaupun yang diangkat menjadi pimpinan atas


kamu itu seorang hamba bangsa Habsy yang kepalanya bagaikan buah
anggur yang kering, selama dia menegakkan Kitab Allah padamu.
Demikianlah komitmen dasar ajaran Islam yang lahir dan dicetuskan, dua
belas abad sebelum diumumkannya the declaration of independence (Juli 4
1776) yang mengajarkan: that all men are created equal (semua manusia
diciptakan sama), dan tiga doktrin Revolusi Perancis yang terkenal: liberte,
egalite, et fraternite (1798) artinya kemerdekaan, persamaan dan persaudaraan.
Begitu pun hak-hak asasi manusia yang diumumkan PBB pada bulan Desember
1948. (Nasruddin Razak, 1993: 28-29)
Berdasarkan justifikasi filosofis dan religius tersebut di atas, maka
teranglah jika manusia tanpa terkecuali merupakan makhluk yang mempunyai
kedudukan yang sangat tinggi dan mulia. Dibanding dengan makhluk lain,
hanya manusia yang mempunyai kedudukan seperti itu lantaran di dalam
dirinya, melekat seperangkat hak dan kewajiban yang harus dihormati
86

dilindungi dan dipenuhi oleh siapa pun. Dalam konteks formal, organisasi,
negara, pemerintah, atau kelompok apapun mengemban kewajiban untuk
mengakui, menghormati, dan melindungi HAM pada setiap manusia tanpa
kecuali. Ini berarti bahwa HAM harus selalu menjadi titik tolak dan tujuan
dalam penyelenggaraan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Hal ini tidak lain merupakan amanat dari Universal Declaration of Human
Rights (UDHR) yang ditetapkan majelis umum PBB pada tanggal 10 Desember
1948 di Paris Perancis. Pada bagian mukaddimah UDHR antara lain
dikemukakan:
Whereas recognition of the inherent dignity and of the equal and
inalienable rights of all members of the human family is the foundation of
freedom, justice and peace in the world,
Whereas disregard and contempt for human rights have resulted in
barbarous acts which have outraged the conscience of mankind, and the
advent of a world in which human beings shall enjoy freedom of speech
and belief and freedom from fear and want has been proclaimed as the
highest aspiration of the common people.
Whereas it is essential, if man is not to be compelled to have recourse, as a
last resort, to rebellion against tyranny and oppression, that human rights
should be protected by the rule of law,
Whereas it is essential to promote the development of friendly relations
between nations,
Whereas the peoples of the United Nations have in the Charter reaffirmed
their faith in fundamental human rights, in the dignity and worth of the
human person and in the equal rights of men and women and have
determined to promote social progress and better standards of life in
larger freedom,

87

Whereas Member States have pledged themselves to achieve, in


cooperation with the United Nations, the promotion of universal respect
for and observance of human rights and fundamental freedoms,
Whereas a common understanding of these rights and freedoms is of the
greatest importance for the full realization of this pledge,
Now, therefore, The General Assembly, Proclaims this Universal
Declaration of Human Rights as a common standard of achievement for
all peoples and all nations, to the end that every individual and every
organ of society, keeping this Declaration constantly in mind, shall strive
by teaching and education to promote respect for these rights and
freedoms and by progressive measures, national and international, to
secure their universal and effective recognition and observance, both
among the peoples of Member States themselves and among the peoples
of territories under their jurisdiction.
Inspirasi filosofis mengenai bentuk konsepsi dasar HAM sebagaimana
deskripsi di atas. Maka Indonesia sebagai bagian dari masyarakat dunia telah
berupaya dengan berbagai cara untuk memenuhi tanggung jawabnya dalam
usaha-usaha perlindungan, pemajuan, penghormatan dan pemenuhan HAM.
Hal ini mulai diakomodasi ketika UUD 1945 dirancang dan disahkan mengikuti
proklamasi kemerdekaan NKRI. Dalam perkembangan selanjutnya hal tersebut
dikonkritkan dengan dibentuknya Komisi Nasional Hak Asasi Manusia
(Komnas HAM) berdasarkan Kepres No. 150 Tahun 1993, disusul ratifikasi
sejumlah instrumen internasional mengenai HAM. Prestasi spektakuler bangsa
Indonesia

dalam

melembagakan

upaya

penghormatan,

pemajuan

dan

perlindungan HAM semakin menajam dengan dimasukkannya konsepsi HAM


dalam UUD 1945 melalui pranata amandemen yang berpuncak pada lahirnya
Undang-undang No. 39 tahun 1999 tentang HAM.
Filosofi dasar yang melandasi tekad bangsa Indonesia untuk melakukan
upaya penghormatan, pemajuan, perlindungan dan pemenuhan HAM, secara

88

sosio yuridis dapat dilihat pada bagian konsideran UU no. 39 tahun 1999
tentang HAM antara lain dirumuskan sebagai berikut :
a. Bahwa manusia, sebagai mahluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang
mengemban tugas mengelola dan memelihara alam semesta dengan penuh
ketaqwaan dan penuh tanggung jawab untuk kesejahteraan umat manusia,
oleh pencipta-Nya dianugerahi hak asasi untuk menjamin keberadaan
harkat

dan

martabat

kemuliaan

dirinya

serta

keharmonisan

lingkungannya,
b. Bahwa hak asasi manusia merupakan hak dasar yang secara kodrati
melekat pada diri manusia, bersifat universal dan langgeng, oleh karena itu
harus dilindungi, dihormati, dipertahankan dan tidak boleh diabaikan,
dikurangi atau dirampas oleh siapapun,
c. Bahwa selain hak asasi manusia, manusia juga mempunyai kewajiban
dasar antara manusia yang satu terhadap yang lain dan terhadap
masyarakat

secara

keseluruhan

dalam

kehidupan

bermasyarakat,

berbangsa dan bernegara,


d. Bahwa bangsa Indonesia sebagai anggota perserikatan bangsa - bangsa
mengemban tanggung jawab moral dan hukum untuk menjunjung tinggi
dan melaksanakan deklarasi universal tentang Hak Asasi Manusia yang
ditetapkan oleh Perserikatan bangsa- bangsa, serta berbagai instrumen
internasional lainnya mengenai hak asasi manusia yang telah diterima oleh
negara Republik Indonesia.
Penegasan yang lebih riil dan konprehensif mengenai paradigma perlakuan
publik untuk menghormati, melindungi, dan memenuhi HAM, terdapat pada
bagian mukaddimah surat keputusan presiden RI no. 40 tahun 2004 tentang
rencana aksi nasional HAM periode 2004-2009 antara lain menegaskan :
1. Bahwa untuk menghormati, memajukan, memenuhi dan melindungi Hak
Asasi Manusia tersebut dan sesuai

dengan prinsip-prinsip negara

berdasar atas hukum, maka pelaksanaannya perlu ditingkatkan,

89

2. Bahwa deklarasi dan program aksi dibidang Hak Asasi Manusia (Vienna
Declaration and Programme Of Action Of the World Conference on
Human Rights)

telah diterima pada konferensi dunia mengenai Hak

Asasi Manusia di Wina, Austria pada tanggal 25 Juni 1993


3. Bahwa tugas penghormatan, pemajuan, pemenuhan dan perlindungan
Hak Asasi Manusia terutama merupakan kewajiban dan tanggung jawab
pemerintah, dan untuk itu diperlukan partisipasi masyarakat,
4. Tujuan nasional yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945 adalah
untuk melindungi seganap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah
Indonesia, memajukan kesejahteraan umum. Mencerdaskan kehidupan
bangsa serta ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan
kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.
5. Disadari dan diakui bahwa terdapat kelompok masyarakat yang rentan
terhadap pelanggaran Hak Asasi Manusia yaitu anak, remaja, wanita,
buruh formal dan informal, manusia lanjut usia, masyarakat adat,
kelompok minoritas, kelompok orang miskin, orang hilang (enforced
dissappearance),

pemindahan

secara

paksa/pengungsi

domestik

(internally displaced person), tahanan dan narapidana, petani dan


nelayan terutama penyandang cacat.

Kelompok rentan ini perlu mendapat perhatian serius terutama dalam


bentuk penyediaan perlindungan lebih atau perlakuan khusus sebagaimana
yang dijamin dalam pasal 28 H ayat 2 dan 28 I ayat 2 UUD 1945 maupun dalam
pasal 5 ayat 3, pasal 41 ayat 2, dan pasal 42 UU Nomor 39 tahun 1999 tentang
HAM.
Pasal 28 H ayat 2 amandemen ke 2 UUD 1945 berbunyi:
Setiap orang berhak mendapat kemudahan dan perlakuan khusus untuk
memperoleh kesempatan dan manfaat yang sama guna mencapai
persamaan dan keadilan.
Pasal 28 I ayat 2 amandemen ke 2 UUD 1945 berbunyi:
90

Setiap orang berhak bebas dari perlakuan yang bersifat diskriminatif


atas dasar apapun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap
perlakuan yang bersifat diskriminatif itu.
Pasal 5 ayat 3 UU Nomor 39 tahun 1999 berbunyi:
Setiap orang yang termasuk kelompok masyarakat yang rentan berhak
memperoleh perlakuan dan perlindungan lebih berkenaan dengan
kekhususannya.
Pasal 41 ayat 2 UU Nomor 39 tahun 1999 berbunyi:
Setiap penyandang cacat, orang yang berusia lanjut, wanita hamil,
dan anak-anak, berhak memperoleh kemudahan dan perlakuan
khusus.
Pasal 42 UU Nomor 39 tahun 1999 berbunyi:
Setiap warga negara yang berusia lanjut, cacat fisik, dan atau cacat
mental berhak memperoleh perawatan, pendidikan, pelatihan dan
bantuan khusus atas biaya-biaya negara, untuk menjamin kehidupan
yang layak sesuai dengan martabat kemanusiaannya, meningkatkan
rasa percaya diri, dan kemampuan berpartisipasi dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Konsepsi normatif yang menjustifikasi paradigma perlakuan khusus atau
perlindungan lebih bagi penyandang disabilitas sebagaimana dikemukakan di
atas, sebetulnya bukanlah hal baru karena dalam berbagai instrumen
internasional khususnya pada konferensi Wina tanggal 14-25 Juni 1993 telah
mengesahkan pranata perlakuan khusus atau perlindungan lebih sebagai hak dari
kalangan penyandang cacat dalam mengakses fungsi-fungsi publik. Bahkan
dalam Biwako Millenium Un Escape Resolution Nomor 58/4 Tahun 2002 dan
Deklarasi Sapporo Sidang Umum Disabled Peoples International 2002, telah
mencanangkan program aksi bagi penyandang disabilitas dari tahun 2003-2012.
Hal terpenting dari Biwako Millenium dan Deklarasi Sapporo tersebut yang
relevan dengan kajian tulisan ini, terdapat pada strategi pencapaian sasaran, yaitu
pada poin ke-2 dan ke-4.

91

Poin 2 :Disabled people demand a voice of our own in the


development of this instrument. We must be consulted at all levels on
all matters that concern us
harus memenuhi berdasarkan standar PBB tentang HAM dan
kecacatan. penyandang disabilitas harus disediakan kemudahan yang
memadai untuk mencapai kemajuan guna mengadvokasi hak-hak
mereka sesuai dengan peraturan-peraturan tersebut.
Poin 4 : We urge all UN member states to support the formulation
and adoption of this convention and to establish a Voluntary Fund to
support the participation of disabled people, in particular from
developing countries;
Hal terpokok yang diserukan deklarasi tersebut adalah Pemerintah harus
mengkaji UU dan kebijakan yang telah diambil dan meninjau peraturan
perundang-undangan yang ada untuk melindungi hak-hak penyandang
disabilitas, khususnya untuk menjamin tidak adanya diskriminasi. Pemerintah
juga harus memasukkan definisi khusus yang jelas atas dasar apa adanya
diskriminasi terhadap penyandang disabilitas. UU dan kebijakan tersebut
Pemerintah harus menjamin bahwa penyandang disabilitas, termasuk ormasormasnya, akan dapat berpartisipasi penuh dalam berbagai arena kegiatan yang
memperjuangkan berbagai peraturan dan kebijakan yang berkaitan dengan hakhak mereka, memantau dan mengevaluasi setiap penerapan peraturan dan
kebijakan tersebut serta merekomendasikan berbagai perbaikan-perbaikan.
Perjuangan dunia dalam mengusung hak-hak penyandang disabilitas agar
terlegitimasi sebagai suatu instrumen hukum tersendiri, akhirnya dapat terwujud
dengan disahkannya konvensi hak penyandang disabilitas (Convention on the
rights of person with disability [CRPD]) nomor 61/ 106 tanggal 13 Desember 2006.
Pada artikel 1 CRPD dinyatakan dengan tegas tujuan konvensi untuk menghapus
diskriminasi serta memposisikan penyandang disabilitas sebagai warga negara
yang berhak hidup secara bebas maju dan bermartabat. Berikut ini rumusan
lengkap artikel 1 CRPD yaitu:
The purpose of the present Convention is to promote, protect and ensure
the full and equal enjoyment of all human rights and fundamental
92

freedoms by all persons with disabilities, and to promote respect for their
inherent dignity.
Persons with disabilities include those who have long-term physical,
mental, intellectual or sensory impairments which in interaction with
various barriers may hinder their full and effective participation in society
on an equal basis with others.
Rangkaian pranata hukum sebagaimana dikemukakan di atas menjadi sarana
legitimasi

bagi

upaya

perjuangan

penyandang

disabilitas

dalam

mengaktualisasikan nilai kehormatan penegakan dan perlindungan hak asasi


yang dimilikinya. Ini penting karena meski dengan kondisi fisik dan atau
intelektual

mengalami

disfungsi,

namun

penyandang

disabilitas

secara

konstitusional merupakan bagian dari warga Negara Indonesia, mempunyai hak


dan kedudukan, yang sama di depan hukum dan pemerintahan sebagaimana
dijamin dalam Pasal 27 ayat 1 UUD 194526.

B.

Landasan Sosiologis
Upaya

pemerintah

penyandang

disabilitas

untuk

meningkatkan

dilakukan

dengan

kesejahteraan

sosial

mengundangkan

Undang-

Undang Nomor 4 Tahun 1997 Tentang Penyandang Cacat, yang kemudian


dilanjutkan dengan penerbitan Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 1998
tentang Upaya
Peraturan

Peningkatan

Kesejahteraan

Penyandang

perundang-undangan ini merupakan

Cacat.

peraturan

Kedua

perundang-

undangan pokok tentang penyandang disabilitas, dan dalam realitasnya


sering dijadikan rujukan dalam penyusunan kebijakan dan program yang
berkaitan dengan penyandang disabilitas.
Hasil pengamatan dan penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar
penyandang disabilitas di Indonesia hidup dalam kondisi rentan, terbelakang,
dan berada di bawah garis kemiskinan. Hal tersebut diantaranya terjadi karena
masih adanya diskriminasi, marginalisasi, isolasi, dan berbagai perlakuan

26

Saharuddin Daming. 2009. Paradigma Perlakuan Negara Terhadap Hak Politik Penyandang Disabilitas dalam
Penyelenggaraan Pemilu di Indonesia. Hal. 6-17
93

destruktif lainnya yang disebabkan oleh berbagai hal misalnya, stigma,


stereotype, prejudisme, sikap apriori, sinisme, dan lain-lain serta karena
lemahnya peraturan perundang-undangan.
Dalam hal ini penyandang disabilitas masih sering dipersepsikan dalam
konteks yang sangat destruktif antara lain dianggap sebagai aib dan kutukan.
Stigma tersebut tidak hanya muncul dari kalangan masyarakat awam, tetapi
juga diekspresikan oleh sebagian kalangan intelektual, kalangan agamawan,
kalangan pemegang kebijakan, dan bahkan dari sebagian kalangan keluarga
dari anak dengan disabilitas.
Fenomena
dikemukakan di

marginalisasi
atas

Penyandang

tampak jelas baik

disabilitas

sebagaimana

pada kasus penyia-nyiaan,

penelantaran dan eksploitasi Penyandang disabilitas, juga dapat terlihat pada


layanan pendidikan formal yang hingga saat ini masih harus terisolasi dalam
lembaga pendidikan khusus yang eksklusif dan pragmatis.
Bahkan tidak kalah ironisnya adalah karena persoalan kerentanan dan
keterbelakangan Penyandang disabilitas serta upaya pemberdayaannya sampai
saat ini, memang belum pernah menjadi issue strategis dalam program
pemerintah. Dunia LSM domestik dan mitra fundingnya pun tidak pernah
tertarik untuk menyentuh issue Penyandang disabilitas. Padahal kita semua
sangat dapat merasakan bagaimana issue lingkungan, HAM dan lain-lain
berpesta pora dengan curahan perhatian dari berbagai pihak, sementara issue
advokasi dan pemberdayaan Penyandang disabilitas selalu menjadi korban
eksaminasi sebagai hal yang tidak penting atau menduduki urutan paling
rendah dari skala prioritas.
Secara faktual sebagian besar Penyandang disabilitas dewasa ini hidup di
bawah tekanan bayang-bayang ketidakpastian. Betapa tidak karena hak
Penyandang disabilitas sebagai warga negara yang merupakan bagian integral
dari masyarakat Indonesia hingga kini tak diberikan, atau setidak-tidaknya
dibatasi sampai limit tertentu terutama akses di bidang pendidikan dan tenaga
kerja yang masih sarat dengan isolasi, diskriminasi, dan ketidakadilan. Yang
paling parah lagi karena dewasa ini ada kecenderungan segelintir orang
94

memandang dan menilai kondisi Penyandang disabilitas identik dengan tidak


sehat Jasmani dan Rohani . Sehingga dengan alasan ini Penyandang disabilitas
tidak memenuhi kualifikasi untuk menggeluti dunia formal.
Singkatnya orang begitu mudah menjustifikasi kedisabilitasan Penyandang
disabilitas untuk menghilangkan kebisaan mereka, buktinya jika ada peraturan
yang membolehkan Penyandang disabilitas dapat berapresiasi dalam suatu hal
dan hanya ada satu yang melarang, maka orang akan lebih cenderung
mengambil yang terakhir sebagai pegangan.
Sinisme seperti itu secara frontal telah mereduksi, mengeleminasi dan
mendekonstruksi political space bagi Penyandang disabilitas. Ada kesan bahwa
sikap dan tindakan otoritas dimaksud seolah-olah ingin memposisikan dunia
formal dengan segala kehormatannya hanya milik orang-orang yang sehat
jasmani dan atau rohani. Sehingga kaum Penyandang disabilitas hanya
ditakdirkan menerima nasib sebagai kelompok yang tidak penting dan
haram/tabu memasuki zona formal, terlebih untuk posisi terhormat di negeri
ini.
Paradigma sinisme sebagaimana dikemukakan di atas, jelas akan
menimbulkan

implikasi sosial politik yang sangat buruk bagi Penyandang

disabilitas. Publik dalam level tertentu akan cenderung mencemoohkan


Penyandang disabilitas

atau pihak lain yang memperjuangkannya untuk

terjun ke pentas formal, sekalipun figur dimaksud eligible dari sudut kapasitas
dan leadershif. Akibatnya tingkat apresiasi publik terhadap Penyandang
disabilitas yang sudah mulai terbangun melalui perjuangan panjang yang
sangat melelahkan selama ini, akhirnya harus buyar dan terdistorsi dengan
sikap sinis dan apriori yang kian melembaga. Ini kemudian berimbas kepada
kaum Penyandang disabilitas sendiri yang secara psikologis menimbulkan rasa
frustrasi dan makin menjamurnya proses marginalisasi serta perasaan
imperioritas kompleks (minder) di kalangan Penyandang disabilitas untuk
menutup diri, bermasa bodoh dan enggan mengadakan hubungan eksternal
yang dianggap kejam, kaku, dan arogan.
Pada bagian lain Penyandang disabilitas kerap diberikan apresiasi dan
95

sanjungan yang kadang-kadang berlebihan hanya pada saat mereka memiliki


kemampuan eksklusif atau dalam suatu keadaan seremonial. Setiap tahun
pemerintah dan mungkin ada dari kelompok masyarakat tertentu yang
memiliki kepedulian sosial bersedia untuk mensuplai sejumlah fasilitas baik
berupa dana maupun

natura

bagi

upaya upaya pembinaan mereka,

menuju taraf kehidupan yang lebih sejahtera dan mandiri. Namun sayang
karena upaya seperti itu tidak dibarengi dengan tekad untuk memberdayakan
Penyandang disabilitas yang lebih terarah, intensif, menyeluruh, dan
berkelanjutan.
Dari sekian banyak Penyandang disabilitas yang telah direhabilitasi, hanya
sebagian kecil saja yang mampu terakses dalam dunia kerja. Itupun terbatas
pada

profesi-profesi

informal,

semisal

Masseur,

Pengamen,

Konveksi,

Reparator, dan profesi-profesi lain yang relatif kurang bonafit. Penyandang


disabilitas yang potensial untuk mengembangkan bakat, kemampuan dan
minat di dunia formal terutama dalam bidang pendidikan, sering diterima
dengan sikap sinis, sentimen dan sarat dengan sikap apriori. Apalagi jika
Penyandang disabilitas mencoba untuk memasuki jenjang pendidikan formal di
tingkat menengah hingga Perguruan Tinggi maupun lamaran atau promosi
dalam dunia kerja , maka tak ayal lagi oknum pembina dan pengelola lembaga
tersebut kebingungan dan spontan membentuk konspirasi untuk menghambat
dan

menghalangi

keberadaan

Penyandang

disabilitas

di

lembaga

pengabdiannya.
Di negara-negara barat yang konon sangat individualistis seperti :
Skandinavia, Belanda, Jerman, Perancis, dan Amerika Serikat tingkat apresiasi
pemerintah dan masyarakatnya terhadap Penyandang disabilitas sangat
kondusif, mulai dari soal penempatan kerja dan akses pendidikan hingga
sarana umum di negara-negara tersebut semuanya ditata melalui fasilitas
kemudahan atau aksesibiliti bagi Penyandang disabilitas tanpa halangan,
hambatan dan reduksi hak bagi Penyandang disabilitas untuk berekspresi dan
berapresiasi. Fenomena ini sudah banyak diketahui dan disaksikan langsung
oleh sejumlah pejabat dan tokoh intelektual Indonesia.
96

Namun sayangnya karena secara kualitatif, sebagian masyarakat khususnya


kalangan tertentu yang menerima amanah sebagai penyelenggara negara dan
kemasyarakatan di negeri ini tampaknya masih enggan menerima kenyataan
seperti itu dan masih saja membusungkan dada untuk setengah hati menerima
Penyandang disabilitas eksis di kancah formal. Semua ini tidak lain merupakan
refleksi secara berkelanjutan dari sikap sinis, sentimen dan apriori yang
berlebihan terhadap kaum Penyandang disabilitas. Oknum tersebut terus saja
menutup mata hati untuk melihat sekaligus mengambil prakarsa yang intensif
guna mengantar dan mendobrak tatanan kehidupan yang selama ini
memasung integrasi dan pengembangan potensi Penyandang disabilitas di
Indonesia.
Lalu apakah sesungguhnya yang menjadi penyebab sehingga kondisi
Penyandang disabilitas era reformasi dan demokratisasi ini tetap rentan,
terbelakang dan termarginalisasi di emper-emper kehidupan sosial ?
Mungkinkah karena volume usaha untuk mensosialisasikan eksistensi
Penyandang disabilitas itu sendiri masih belum efektif dan memadai atau
proses terhambat dan terhalangnya Penyandang disabilitas melakukan
integrasi sosial yang lebih dini disebabkan oleh faktor internal di kalangan
Penyandang disabilitas itu sendiri yang tidak mampu menunjukkan eksistensi
dan jati dirinya sebagai warga yang patut diperhitungkan? Atau kesenjangan
itu timbul akibat adanya sikap arogansi, sinis, dan apriori terhadap
Penyandang disabilitas sehingga perlu diadakan reintepretasi terhadap makna
kepedulian sosial yang kini nyaris menjadi lalapan nasional? Ataukah karena
strategi dan kebijakan pemerintah yang bersumber dari perundang-undangan
yang menunjang ke arah itu memang tumpang tindih, belum memadai serta
masih banyak yang lain?
Dari hasil pengkajian yang mendalam baik dalam kerangka teoritis
konseptual maupun fakta empiris tentang eksistensi Penyandang disabilitas di
Indonesia hingga kini sebagian besar mengalami stagnasi disebabkan beberapa
hal antara lain:

97

a.

Adanya akar budaya masyarakat lokal yang destruktif terhadap eksistensi


Penyandang disabilitas yang berimplikasi kepada terbentuknya opini dan
pola persepsi yang berwujud sikap apriori, sinis dan diskriminatif
terhadapnya yang dalam kenyataan tidak hanya terefleksi di kalangan
awam tetapi juga melanda kalangan intelektual, tokoh masyarakat, dan
decision maker.

b.

Secara psiko-sosiokultural, Penyandang disabilitas dan keluarganya


kurang/tidak memahami keberadaan Penyandang disabilitas secara utuh
dan objektif bahkan cenderung skeptis terhadap upaya pemberdayaan dan
kemajuan Penyandang disabilitas.

c.

Keberadaan para Penyandang disabilitas umumnya terpencar-pencar di


wilayah pedalaman dan jauh dari sentra-sentra pembinaan pendidikan
baik yang dikelola oleh Pemerintah maupun masyarakat.

d.

Terbatasnya sarana dan prasarana serta buruknya menajemen dan kinerja


operasional pengelola lembaga pendidikan khusus/panti rehabilitasi
termasuk sistem pengawasannya. Sistem perencanaan dan evaluasi
pelaksanaan program lembaga dimaksud sarat dengan pragmatisme
birokrasi yang tidak efektif dan tidak efisien serta hanya mengejar target
formal..

e.

Adanya sikap dan perilaku tidak terpuji dari segelintir oknum tertentu
yang berpretensi kepada timbulnya praktek eksploitasi Penyandang
disabilitas

untuk

kepentingan

pribadi

yang

mengatasnamakan

kesejahteraan.
f.

Masih rendahnya tingkat kesadaran publik maupun individu khususnya


kalangan dunia usaha, LSM domestik atau asing dan desecion maker
untuk

memberdayakan

Penyandang

disabilitas

sungguh-sungguh, dan berkesinambungan.

98

secara

terprogram,

g.

Kurangnya informasi yang objektif, menyeluruh, dan transparan mengenai


keberadaan Penyandang disabilitas dengan segala masalahnya.

h.

Dibakukannya berbagai terminologi yang berimplikasi pada terbentuknya


opini dan image masyarakat dengan paradigma pembinaan Penyandang
disabilitas yang bersifat parsial, khusus, dan eksklusif.

i.

Terus dipertahankannya klausul sehat jasmani sebagai sarana legitimasi


untuk menghambat, membatasi, bahkan menghilangkan hak Penyandang
disabilitas dalam setiap proses rekruitmen dan promosi dengan asumsi
bahwa kecacatan adalah bagian dari tidak sehat .

j.

Tidak adanya koordinasi yang bersifat fleksibel dan konstruktif dalam


pembinaan dan pengembangan potensi Penyandang disabilitas akibat
sistem birokrasi yang senantiasa bersandar pada batas kompetensi dan
garis kebijakan instansi masing-masing.

k.

Tidak dilibatkannya elemen-elemen Penyandang disabilitas termasuk


Organiasi/lembaga
komunitasnya

Penyandang

secara

disabilitas

proporsional

dalam

yang

merepresentasikan

penyusunan

kebijakan,

pengorganisasian, pelaksanaan, dan kontrol terhadap sistem pembinaan,


pengembangan dan pengelolaan keberdayaan Penyandang disabilitas.
l.

Belum adanya komitmen Pemerintah terutama pengambil kebijakan


dimasing-masing instansi sesuai batas kewenangannya yang sungguhsungguh,

menyeluruh,

dan

berkesinambungan

untuk

melibatkan

Penyandang disabilitas dalam menyusun kebijakan terutama di bidang


anggaran dari APBN dan APBD. Tidak heran jika alokasi anggaran
dimaksud pada upaya pengentasan kemiskinan dan keterbelakangan dari
tahun-ke tahun, jumlahnya amat kecil kalau tidak dapat dikatakan tidak
ada sama sekali untuk Penyandang disabilitas.
Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat
disusun dan diterbitkan pada saat minimnya referensi tentang perlindungan

99

hak-hak penyandang disabilitas, baik secara nasional, regional, maupun


global, sehingga secara substantif materi muatan yang terkandung dalam
Undang-Undang Nomor 4
tentang

penyandang

perkembangan

Tahun 1997 cenderung memiliki pemahaman

disabilitas

waktu,

yang

undang-undang

terbatas.
ini

Akibatnya,

tidak

mampu

dengan

lagi

untuk

memberikan perlindungan secara maksimal hak-hak penyandang disabilitas.


Hal ini terlihat dari beberapa kenyataan, di antaranya Undang-Undang Nomor
4 Tahun 1997 sangat minim memuat pengarusutamaan dan penghargaan
terhadap hak asasi para penyandang disabilitas sebagai bagian dari warga
negara pada umumnya. Materi yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 4
Tahun 1997 juga sebagian besar tidak

sesuai

lagi

dengan

semakin

kompleksnya kebutuhan perlindungan hak penyandang disabilitas.


Masalah lain yang terkandung dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun
1997

bahwa penyusun Undang undang

tersebut memandang

para

penyandang disabilitas bukanlah sebagai subjek manusia yang utuh namun


justru

memposisikan

mereka

sebagai

sebuah

objek

yang

memiliki

kekurangan atau kelainan secara fisik dan mental, yang menyebabkan


penyandang disabilitas tidak dapat melakukan aktivitas atau kegiatan
secara layak. Disabilitas yang disandang seseorang dipandang akan menjadi
penghambat sehingga penyandang disabilitas dinilai tidak dapat melakukan
aktivitas atau kegiatan secara layaknya sehingga membutuhkan proses
rehabilitasi.
Pandangan terhadap penyandang disabilitas yang bersifat charity based ini
terlihat dari materi Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1997 yang lebih
menitikberatkan

kepada

perlindungan hak

upaya-upaya

penyandang

pemerintah

disabilitas pada

dalam

memberikan

upaya rehabilitasi,

pemberian bantuan sosial, dan pemeliharaan taraf kesejahteraan sosial.


Setelah 16

tahun penerbitan undangundang tentang

penyandang

disabilitas tersebut, Indonesia telah pula menetapkan berbagai regulasi yang


berkaitan dengan pemenuhan dan perlindungan hak penyandang disabilitas
yang pengaturannya

dapat melengkapi dan menyempurnakan Undang100

Undang Nomor 4 Tahun 1997, di antaranya Perubahan

UUD

1945,

pengesahan berbagai konvensi internasional, kesepakatan negaranegara di


tingkat regional, dan berbagai peraturan perundang-undangan sektoral yang
berkaitan dengan pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas. Beberapa
pasal

dalam

perubahan

UUD

45,

yakni

Pasal

28H

ayat

(2)

menyatakan: Setiap orang berhak mendapat kemudahan dan perlakuan


khusus

untuk

memperoleh kesempatan dan manfaat yang sama guna

mencapai persamaan dan keadilan, sedangkan Pasal 28I ayat 2 menyatakan:


Setiap orang berhak bebas dari perlakuan yang diskriminatif atas dasar apa
pun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang
diskriminatif itu. Di samping itu, beberapa undang-undang sektoral telah
pula memuat pengaturan pemenuhan dan perlindungan

hak penyandang

disabilitas, misalnya Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2009 tentang


Kesejahteraan Sosial, Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak
Asasi Manusia, dan beberapa konvensi yang telah disahkan dan memuat
pengaturan yang berlaku untuk penyandang disabilitas, misalnya Konvenan
Internasional tentang hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya (Undang-Undang
Nomor 11 Tahun 2005), dan Konvenan Internasional tentang Hak Sipil dan
Politik (Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2005).
Alasan lain pentingnya penggantian Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1997
adalah bahwa Indonesia telah mengesahkan Convention on the Rights of Person
with Disabilities (CRPD) d a n d i t e r b i t k a n n y a Undang- Undang Nomor
19 Tahun 2011 tentang Pengesahan Ratifikasi Konvensi Hak-Hak Penyandang
Disabilitas. Konvensi ini berisi pengaturan perlindungan hak-hak penyandang
disabilitas yang lebih luas, lengkap, dan rinci yang dapat dijadikan referensi
referensi bagi penggantian Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1997. Pada
akhirnya penggantian Undang- Undang Nomor 4 Tahun 1997 diharapkan
akan menghasilkan undang-undang yang menjadi landasan
kuat

bagi

upaya

perlindungan

dan

pemenuhan

hak

disabilitas di segala bidang secara menyeluruh dan terintegrasi.

101

hukum

yang

penyandang

C.

Landasan Yuridis
Hukum sebagai seperangkat norma yang mengandung unsur-unsur
perintah larangan serta sanksi, pada hakekatnya diadakan untuk mewujudkan
keteraturan dalam kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat. Sebab
sebuah tata kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara tanpa aturan
hukum sudah barang tentu akan melahirkan anarkisme dan ketidakpastian.
Sehingga potensi manusia sebagai zoon politicon akan tercabik-cabik justru
oleh manusia lain yang memiliki otoritas dengan modus homo homini lupus.
Itulah

sebabnya

Indonesia

sebagai

welfare

state

modern

dalam

membentuk dan menata sistem hukum nasionalnya, senantiasa berupaya


untuk menempatkan kepentingan warga negara dan kekuasaan dalam
keseimbangan. Hal ini tercermin dalam Undang-Undang Dasar 1945 antara
lain dirumuskan bahwa negara disusun bukan atas dasar kekuasaan semata
(maachstate) melainkan atas dasar hukum (rechtstate).
Sebagai wujud pengejawantahan dari komitmen the founding fathers
terhadap hak warga negara, maka dalam mukaddimah Undang-Undang Dasar
1945 secara eksplisit disebutkan bahwa negara dibentuk untuk melindungi
segenap rakyat Indonesia dan seluruh tanah tumpah darah Indonesia.
Rumusan ini menegaskan fungsi negara sebagai pembela, pengayom dan
pelindung warga negaranya tanpa terkecuali. Bahkan negara berkewajiban
untuk memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa
demi menggapai Baldatuun, Tayyibatuun Warabbun Gafuur.
Dalam kepustakaan latin, tujuan negara seperti dikemukakan di atas lazim
disebut : bonum publicum, common good, common weal. Paradigma tujuan
esensial pembentukan negara seperti dikemukakan di atas, lebih dipertegas
lagi dalam konsep teoretis dari beberapa pakar ilmu politik dan kenegaraan
kontemporer antara lain:
1. Roger H. Soltau : the freest possible development and creative selfexpression of its members( Soltau,1961:253) Dalam hal ini Soltau
berpendapat bahwa tujuan dibentuknya negara adalah untuk menjadi

102

wadah

bagi

setiap

orang

dalam

mengembangkan

diri

serta

menyelenggarakan daya ciptanya sebebas mungkin.


2. Harold J. Laski : creation of those conditions under which the members of
the state may attain the maximum satisfaction of their desires(Harold J
Laski,1947:12) Dalam Hal ini Harold berpendapat bahwa tujuan
dibentuknya negara adalah untuk menciptakan keadaan dimana
rakyatnya dapat mencapai terkabulnya keinginan-keinginan secara
maksimal.

Bertitik tolak dari konsep teoritis tentang tujuan esensial negara seperti
dikemukakan di atas, maka setiap warga negara tidak terkecuali tentu para
Penyandang disabilitas merupakan bagian dari keseluruhan rakyat dan bangsa
dalam struktur negara yang mempunyai hak untuk menikmati kesejahteraan
dan kebahagiaan. Hal tersebut didasarkan pada prinsip hukum yang sangat
legendaris yaitu : equal justice under law, equal justice before the law. Oleh
karena itu, peningkatan peran serta pemajuan pemenuhan hak dan kewajiban
para Penyandang disabilitas dalam pembangunan nasional, merupakan hal
yang sangat urgen dan strategis. Apalagi dengan bergulirnya semangat
reformasi dan demokratisasi yang bertumpu pada penguatan sendi-sendi dasar
hak asasi manusia, maka Penyandang disabilitas ditinjau dari optik sosio
kultural pada hakekatnya adalah makhluk sosial yang memiliki dan berpeluang
untuk mengekspresikan potensi bagi kemajuan diri dan lingkungannya. Bahkan
Penyandang disabilitas dalam fase tertentu dapat menjadi change of social agent
bagi pembangunan di segala bidang serta berkesempatan untuk tampil
mengukir prestasi gemilang secara multidisipliner.
Secara historis perjuangan Penyandang disabilitas untuk memperoleh
kesamaan kesempatan dan kedudukan dalam sistem hukum Indonesia, telah
lama dilakukan baik oleh kelompok Penyandang disabilitas sendiri maupun
oleh pembela HAM dan para cendikiawan serta pemerhati masalah Penyandang
disabilitas. Namun kesemuanya baru mulai menampakkan hasil ketika DPR dan
pemerintah melahirkan Undang-Undang No. 4 Tahun 1997 tentang Penyandang
103

Cacat, yang disusul dengan PP Nomor 43 Tahun 1998 tentang Upaya


Peningkatan Kesejahteraan Sosial Penyandang Cacat.
Dalam kedua paket perundang-undangan dimaksud secara eksplisit diatur
bahwa Penyandang disabilitas mempunyai hak dan kedudukan yang sama
dengan warga negara pada umumnya dalam segala aspek kehidupan dan
penghidupan. Ketentuan tersebut kemudian dikukuhkan oleh Undang-Undang
Dasar 1945 hasil amandemen. Dalam Pasal 28 h ayat 2 berbunyi:
Setiap orang berhak mendapat kemudahan dan perlakuan khusus untuk memperoleh
kesempatan dan manfaat yang sama guna mencapai persamaan dan keadilan.
Sedangkan pada Pasal 28 i ayat 2 diatur bahwa:
Setiap orang berhak bebas dari perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar apa
pun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat
diskriminatif itu.
Peraturan hukum tentang perlindungan hak Penyandang disabilitas selain
kurang tersosialisasi dengan baik serta tidak ada penegasan sanksi dalam
peraturan pelaksanaannya, juga sering tidak sinkron dengan peraturan hukum
yang lain terutama pada UU N0 43/1999, tentang Kepegawaian, UU N0 13/2003
tentang Ketenagakerjaan, UU N0 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Dalam dunia pendidikan penyandang disabilitas banyak mengalami
masalah meski telah berlaku UU N0 4 tahun 1997 Jo UU No tahun 2003.
Timbulnya aneka masalah seperti itu, selain merupakan kelanjutan dari mitologi
masyarakat yang menempatkan figur kecacatan sebagai atribut kemalangan dan
ketidakberdayaan, hal tersebut juga dipicu oleh kerancuan UU No 4 tahun 1997.
Betapa tidak karena dalam Pasal 11 dan 12 UU ini diatur tentang kesamaan hak
dan kesempatan bagi Penyandang Disabilitas untuk memperoleh layanan
pendidikan. Sayangnya karena unsur kesamaan undang-undang ini dalam
layanan pendidikan, lagi-lagi ambivalen, apologi dan hipokrit bahkan sudah
sangat bertentangan dengan filsafat pendidikan kontemporer. Sebab pada
bagian awal Pasal 11 dirumuskan bahwa : setiap penyandang cacat mempunyai
kesamaan kesempatan, namun pada bagian akhir pasal tersebut justru terdapat
rumusan yang berbunyi : sesuai dengan jenis dan derajat kecacatannya .
104

Kita hampir tidak dapat mengerti bagaimana pembuat undang-undang


yang pada awalnya membuka akses bagi Penyandang Disabilitas untuk
memperoleh layanan pendidikan atas dasar kesamaan hak dan kesempatan.
Lalu bagaimana kesamaan tersebut dapat diwujudkan jika pada pasal yang
sama dikunci dengan kalimat

bahwa layanan pendidikan bagi penca, harus

disesuaikan dengan jenis dan derajat kecacatannya masing-masing. Dalam hal


ini akses penca pada layanan pendidikan sekali lagi masih harus terpilah
berdasarkan jenis dan derajat kecacatan dengan mekanisme yang dibuat
menurut pandangan/selera otoritas pendidikan.
Padahal bukankah unsur yang paling esensial dalam dunia pendidikan
tidak lain adalah unsur intelektualitas. Sehingga sangat wajar jika proses seleksi
penerimaan maupun promosi kenaikan maupun kelulusan dalam sistim
pendidikan ditentukan berdasarkan hasil ujian. Tetapi sungguh hal yang sangat
tidak adil dan melanggar HAM jika tahap penerimaan dan promosi dalam
dunia pendidikan ditentukan atas dasar jenis dan derajat kecacatan,
sebagaimana diatur dalam Pasal 11 dan 12 undang-undang tersebut.
Hal ini terjadi karena mungkin pembuat undang-undang berpendapat
bahwa pengaturan rinci tentang pendidikan yang mencakup pula kepentingan
para penyandang disabilitas dapat dirujuk dalam undang-undang tentang
pendidikan. Naasnya karena UU No. 2/1989 yang kemudian diperbaharui
dengan UU No. 20/2003 tentang sistem pendidikan nasional, ternyata tidak
cukup mengakomodasi persoalan substansial yang dialami dan dihadapi oleh
penyandang disabilitas dalam dunia pendidikan.
Dari hasil pemantauan terhadap undang-undang tentang Sisdiknas
disimpulkan bahwa secara prinsipil, tidak ada yang baru dan berbeda dengan
paradigma pendidikan formal bagi disabilitas dimasa lalu. Dalam Pasal 5 ayat
(2) UU No. 20/2003 tentang SISDIKNAS diatur bahwa :warga Negara yang
memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual dan atau sosial berhak
memperoleh pendidikan khusus. Hal serupa juga tertuang pada Pasal 32 ayat
(1) yang antara lain berbunyi : Pendidikan khusus merupakan pendidikan bagi
105

peserta didik

yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses

pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, mental,.. Rumusan


tersebut menunjukkan bahwa undang-undang Sisdiknas yang baru rupanya
masih

terjebak dalam konstalasi dialektika antara sekolah regular dengan

sekolah luar biasa.


Padahal sudah sangat banyak bukti yang menunjukkan bahwa polarisasi
yang mendikotomikan antara sekolah khusus dan sekolah umum bagi peserta
didik kalangan disabilitas, lebih banyak membawa mudhorat dari pada manfaat,
baik bagi pemerintah terlebih lagi bagi disabilitas sendiri. Sebab dengan cara
seperti itu, setiap tahun pemerintah menyediakan anggaran untuk membangun,
memelihara dan mengoperasikan SLB dengan jumlah yang hampir sama banyak
dengan jumlah kabupaten/kota di tanah air, hal mana sampai detik ini tak
pernah dapat diwujudkan. Sehingga sebagian besar SLB dimaksud tidak efektif
menjalankan visi dan misi pendiriannya. 27
Persoalan lain yang turut memperparah keterpurukan penyandang disabilitas
adalah masalah ketenaga kerjaan. Secara yuridis, hak Penyandang Disabilitas dalam
dunia ketenagakerjaan sebenarnya dijamin dalam berbagai peraturan perundangundangan, mulai dari UU N0 4 tahun 1997 maupun UU tentang ketenagakerjaan
sendiri, hanya sangat disesalkan karena unsur-unsur pengaturan tentang tenaga kerja
disabilitas dalam UU No. 13/2003 tentang ketenagakerjaan, selain ternyata amat
sedikit juga rumusannya adalah hasil duplikasi dari UU N0 4 tahun 1997. Dalam
Pasal 14

UU tersebut dirumuskan bahwa : " Perusahaan Negara dan swasta

memberikan kesempatan dan perlakuan yang sama kepada Penyandang Disabilitas


dengan memperkerjakan diperusahaannya sesuai dengan jenis dan derajat kecacatan,
pendidikan dan kemampuannya, yang jumlahnya disesuaikan dengan jumlah
karyawan dan/atau kualifikasi perusahaan".
Persoalan krusial yang muncul pada ketentuan tersebut adalah karena pihak
yang diwajibkan untuk memperkerjakan disabilitas hanyalah lingkungan kerja yang
berbentuk perusahaan baik perusahaan negara maupun swasta. Sedangkan unit kerja
yang tidak berbentuk perusahaan seperti Departemen, Badan, kantor pemerintah di
27

Saharuddin Daming, Pembangunan Berbasis Disabilitas, 2005 :42-43)


106

pusat maupun di daerah tidak termasuk pihak yang dilekati kewajiban menurut
undang-undang ini. Tidak heran jika cukup banyak disabilitas yang harus kecewa
dan terpental kesemutan akibat sengatan pasal tersebut yang sengaja dijadikan pagar
oleh otoritas unit kerja pemerintah non company untuk menahan animo dan laju
disabilitas bernafkah di instansinya .
Jika ada upaya untuk menempuh jalur hukum dengan dalil instansi
pemerintah non company menolak tenaga kerja Penca dan melanggar Pasal 14 UU No
4 tahun 1997, maka putusan pengadilan hampir dapat dipastikan akan memenangkan
tergugat. Keadaan tersebut sangat bisa dipahami mengingat kuatnya pengaruh aliran
positifis dan legis dihampir seluruh pengambil keputusan di Indonesia termasuk para
fungsionaris hukum. Sebab bagi kaum positifis dan legis, hukum tidak lain adalah
apa yang tertulis dalam peraturan. Jika ketentuan telah mengatur bahwa pihak yang
wajib memperkerjakan disabilitas adalah perusahaan negara dan swasta, maka kaum
legis dan positivis mengharamkan penafsiran yang menambah apalagi memperluas
makna selain yang tersebut dalam undang-undang. 28
Tak dapat di pungkiri jika rangkaian persoalaan seperti tersebut di atas,
terjadi karena kelemahan UU No 4 tahun 1997. Kelemahan itu mencakup persoalan
substansi maupun terminologi Berikut ini disajikan beberapa poin dari fakta
kelemahan UU No 4 tahun 1997.

- Kesamaan Hak Dan Kesempatan


Pada poin 3 Pasal 1 dirumuskan : kesamaan kesempatan adalah keadaan
yang memberikan peluang kepada penyandang cacat untuk mendapatkan
kesempatan yang sama dalam segala aspek kehidupan dan penghidupan. Cakupan
makna kesamaan kesempatan sebagaimana tersebut di atas, terlalu umum dan tanpa
disertai tekanan dan penegasan. Hal ini menimbulkan konsekwensi yuridis pada UU
N0 4 tahun 1997 untuk diposisikan sebagai ketentuan yang bersifat umum. Dengan
asas lex spesialis derogate legi generale, maka ketentuan seperti itu akan selalu
dikalahkan prioritas keberlakuannya dengan ketentuan yang berkedudukan sama
maupun lebih rendah kedudukannya tetapi mengatur hal yang bersifat khusus.

28

( Saharuddin Daming, Pembangunan Berbasis Disabilitas, 2005: 53-54)


107

Kerancuan lain juga terlihat pada perkataan memberikan dan untuk


mendapatkan kesempatan yang sama, pada perkataan pertama, pembuat undangundang membangun konfigurasi sub ordinatif antara pihak pemberi yaitu otoritas
dan pihak penerima yaitu Penyandang disabilitas. Selain bertentangan dengan
prinsip kesederajatan dan kesamaan yang akan dibangun hal tersebut juga
mengingkari eksistensi kesamaan kesempatan sebagai hal yang melekat (inheren)
pada diri setiap orang termasuk Penyandang disabilitas. Sebab bukankah perkataan
memberikan terkandung makna jika hal tersebut tidak dari semula ada dalam diri
Penyandang

disabilitas

sehingga perlu diberikan sebagaimana yang pernah

dipraktikkan dalam sistim otoritarianisme totaliter.


Sedangkan pada perkataan kedua menempatkan kesamaan kesempatan
sebagai tujuan, ini diperkuat dengan perkataan untuk

dan mendapatkan

dimana kata yang disebut terakhir merupakan turunan dari dapat mengandung
makna fakultatif. Seharusnya posisi kesamaan hak tidak lagi sebagai tujuan, tetapi
diformulasikan sebagai hal yang harus terjadi dan dilaksanakan.
Namun yang lebih aneh lagi adalah perkataan peluang yang tidak lain
adalah sinonim dari kata kesempatan. Sebagaimana yang telah dimaklumi bersama
bahwa pendefenisian sebetulnya bukanlah mencari sinonim suatu istilah kata
melainkan membuat jelas obyek pendefenisian melalui uraian unsur-unsur yang
mencakup makna istilah/kata yang didefenisikan. Dengan demikian mengulangi
obyek yang didefenisikan dalam unsur uraian sebagaimana berulangnya kata
kesempatan yang sama sangat mubazir, dangkal dan menyalahi kelaziman
pendefenisian, sampai disini kesamaan kesempatan menurut undang-undang
menjadi kabur, tidak pasti dan menghidupkan kembali pertentangan kelas.
Secara sosio politis, lembaga kesamaan hak yang tergali dari istilah equality
of rights sebenarnya hanya cocok diterapkan untuk heterogenitas kelompok yang
berkedudukan simetris. Artinya dua kelompok komunitas atau lebih yang melekat
perbedaan semata-mata karena faktor non disabilities seperti kelompok minoritas
etnis, agama, ras, atau klas ekonomi tertentu, maka prinsip kesamaan hak menjadi
pilihan yang sangat strategis untuk menghilangkan atau setidaknya memperkecil
kesenjangan yang terjadi. Disebut perbedaan simetris karena kelompok-kelompok
tersebut pada hakekat sama dari sudut kemampuan bahkan kebutuhan. Unsur

108

pembedanya hanyalah karena faktor lingkungan sosial keyakinan atau faktor


biologis. Sehingga untuk menghilangkan atau memperkecil diskriminasi atau
ketidaksamaan negatif, maka biasanya menempuh pendekatan sosio politik yang
dijustifikasi melalui penegasan hukum tentang pelarangan diskriminasi. Disini tidak
diperlukan peralatan atau sentuhan teknologi yang bersifat khusus untuk
menghilangkan atau memperkecil kesenjangan terjadi.
Akan tetapi prinsip kesamaan hak dimaksud tentu saja menjadi rancu dan
tidak rasional jika diterapkan pada dua hal atau lebih dengan unsur pembeda yang
asimetris. Misalnya Penyandang disabilitas

yang secara fisik tidak akan pernah

bisa sama dengan non disabilitas. Karena dari semula unsur kemampuan untuk
melakukan aktifitas sebagaimana kemampuan setiap orang dalam ukuran normal
memang telah mengalami disfungsi. Agar keadaan tersebut dapat tetap optimal
hingga menyamai tingkat kemampuan normal bahkan lebih, maka bukan hanya
pendekatan sosio politik dan penegasan hukum untuk menghapus diskriminasi
sebagai cara memperkecil kesenjangan Penyandang disabilitas

perlu memperoleh

rehabilitasi dan bantuan peralatan dan sentuhan teknologi yang disesuaikan dengan
karakteristik tantangan kedisabilitasan dan kebutuhan memulihkan fungsi hingga
mencapai kemampuan normal atau lebih.
Dari sudut aktualitas istilah kesamaan hak, sebenarnya sudah ketinggalan
jaman karena dalam perkembangan hukum dewasa ini khususnya yang terkait
dengan persoalan perlindungan HAM, tidak terkecuali dalam sistim hukum kita
telah mengintrodusir pranata hukum baru dengan istilah : perlindungan lebih. Hal
ini dapat kita jumpai pada UU No. 39 tahun 1999 tentang HAM.
Pasal 5 ayat 3 berbunyi:
Setiap orang yang termasuk kelompok masyarakat yang rentan berhak
memperoleh perlakuan dan perlindungan lebih berkenaan dengan
kekhususannya.
Pasal 41 ayat 2 berbunyi:
Setiap penyandang cacat, orang yang berusia lanjut, wanita hamil, dan
anak-anak, berhak memperoleh kemudahan dan perlakuan khusus.

109

Istilah perlindungan lebih maupun perlakuan khusus bagi kelompok


masyarakat rentan merupakan istilah yang tergali dari istilah dalam Bahasa Inggris
yaitu preferential treatment sebagaimana yang dikutip dalam buku Bryan A.
Gardner:
Preferential treatment of minorities, usually through affirmative action
programs, in a way that adversely affects members of a majority group.
(1999: 480)

Dalam mengklasifikasi HAM, Natan Lerner menyebut istilah right to special


measures, (1991: 34) yang maknanya tidak lain adalah hak atas perlakuan khusus.
Setelah Melalui proses pengkajian komprehensif dan intensif, maka istilah tersebut
akhirnya masuk dalam berbagai instrumen hukum internasional antara lain tertuang
pada artikel 10 International Covenant on Economic, Social and Cultural Rights
Resolusi No. 2200A (XXI), 21 U.N. GAOR Supp. (No. 16) at 49, U.N. Doc. A/6316
(1966), 993 U.N.T.S. 3, entered into force Jan. 3, 1976.
Pada ayat 2 berbunyi:
Special protection should be accorded to mothers during a reasonable
period before and after childbirth. During such period working mothers
should be accorded paid leave or leave with adequate social security
benefits.
Pada ayat 3 berbunyi:
Special measures of protection and assistance should be taken on behalf of
all children and young persons without any discrimination for reasons of
parentage or other conditions. Children and young persons should be
protected from economic and social exploitation. Their employment in work
harmful to their morals or health or dangerous to life or likely to hamper their
normal development should be punishable by law. States should also set age
limits below which the paid employment of child labour should be prohibited
and punishable by law.
Variasi lain dalam melembagakan istilah pelayanan khusus bagi kelompok
masyarakat tertentu, dirumuskan dengan istilah special care sebagaimana dijumpai
pada artikel 25 ayat 2 pada UDHR yang berbunyi:

110

Motherhood and childhood are entitled to special care and


assistance. All children, whether born in or out of wedlock, shall enjoy
the same social protection.

Dalam artikel 22 Konverensi Wina A/CONF.157/ 23 tertanggal 14 sampai 25


Juni 1993 menggunakan istilah Special attention needs, sebagai cikal bakal lahirnya
istilah kelompok berkebutuhan khusus yang perlu mendapat perlindungan lebih
atau perlakuan khusus. Hal tersebut selengkapnya berbunyi:
Special attention needs to be paid to ensuring non-discrimination,
and the equal enjoyment of all human rights and fundamental
freedoms by disabled persons, including their active participation in
all aspects of society.

Frase special needs yang banyak disebut sebagai istilah terpopuler untuk
menggantikan istilah penyandang disabilitas di Indonesia, terdapat pada artikel 23
konverensi Wina A/CONF.157/ 23 tertanggal 14 sampai 25 Juni 1993 yang
selengkapnya berbunyi:
Primarily through the preferred solution of dignified and safe
voluntary repatriation, including solutions such as those adopted by
the international refugee conferences. The World Conference on
Human Rights underlines the responsibilities of States, particularly as
they relate to the countries of origin.
Dalam preambul point (j) international convention on the rights of person
with disability, resolusi PBB No. 61/106 tertanggal 13 Desember 2006 istilah
perlindungan lebih bagi penyandang disabilitas dirumuskan dengan frase: more
intensive support. Hal tersebut selengkapnya berbunyi:
Recognizing the need to promote and protect the human rights of all
persons with disabilities, including those who require more intensive
support.
Hadirnya istilah-istilah seperti yang dikemukakan di atas, bukanlah
berpretensi untuk menciptakan eksklusifitas atau pengistimewaan maupun
pemanjaan bagi disabilitas. Pelembagaan terminology tersebut lebih disebabkan
karena

pertimbangan

keberpihakan,

111

kepedulian,

semua

pihak

untuk

mengkompensasi kekurangan, keterbatasan fisik dan atau intelektual penyandang


disabilitas agar dapat beraktifitas dan atau bermobilitas secara penuh optimal tanpa
hambatan. Hal ini juga dikemukakan sendiri oleh Bryan Gardner sebagaimana
tersebut diatas bahwa perlakuan khusus bagi kelompok minoritas, merupakan
bentuk affermatif action terhadap kelompok masyarakat rentan khususnya
Penyandang disabilitas .
Hal ini ditempuh karena amat disadari jika Penyandang disabilitas

dalam

tingkat dan keadaan tertentu, sulit atau tidak dapat melakukan ekspresi dan
apresiasi secara optimal hanya dengan bersandarkan pada prinsip kesamaan hak.
Kalau tidak dengan politik diskriminasi seorang yang terbedakan secara simetris
tidak akan terhalang untuk mengikuti proses ujian dengan cara membaca atau
menulis sebagaimana peserta lainnya dari para kerabat elit atau otoritas. Tetapi
seorang yang terbedakan secara asimetris seperti tunanetra total betapapun
cerdasnya tentu tidak akan dapat mengikuti proses ujian jika harus membaca dan
menulis persis sama dengan peserta lainnya dari kerabat para elit atau otoritas.
Disinilah makna kesamaan hak menjadi bias dan disini pulalah istilah perlindungan
lebih menjadi sangat urgen.

-Kesejahteraan Sosial
Pada poin 5, 6 dan 7 Pasal 1 undang-undang ini secara eksplisit didefenisikan
tentang rehabilitasi, bantuan dan

pemeliharaan

taraf

kesejahteraan

sosial.

Pencantuman ketiga hal tersebut, selain terkesan mubazir karena diatur lebih rinci
dalam Bab V mulai dari Pasal 16 22, juga mengandung pretensi yang sangat jelas
tentang adanya dominus litis dari departemen tertentu dalam pemerintahan atas
undang-undang ini. Sungguh hal yang tak dapat dipungkiri jika substansi tersebut
secara ideologis merupakan atribut terpenting dari Departemen Sosial mengingat
istilah rehabilitasi sosial dan bantuan sosial merupakan unit teknis instansi ini baik
di tingkat nasional maupun di tingkat daerah.
Dengan demikian peraturan tersebut secara implisit mengisyaratkan
penyelenggaraan upaya pembinaan kesejahteraan Penyandang disabilitas , hanya
menjadi tanggung jawab Departemen Sosial. Bahkan UU N0 4 tahun 1997 hampir
112

lebih dapat disebut sebagai undang-undang Depsos dari pada

undang-undang

Penyandang disabilitas. Apalagi dengan PP No. 43/1998 terutama pada penjudulan,


tidak dapat memungkiri kenyataan jika hal tersebut memang lebih konsen mengatur
tentang Depsos.
Harus diingat bahwa persoalan Penyandang disabilitas, tentu tidak hanya
menyangkut kesejahteraan sosial sebagaimana variabel terpenting pada judul PP
dimaksud. Tetapi kebutuhan Penyandang disabilitas dewasa ini justru, lebih besar
pada aspek perlindungan hak di bidang politik, ekonomi, Hankam, Sosbud, hukum,
dll. Kenyataan membuktikan jika bidang-bidang kehidupan strategis seperti itu, tak
cukup diatur dalam PP. Bahkan unsur yang paling dominan dalam UU tersebut
tidak lain adalah hal-hal yang selama ini memang menjadi tugas utama Depsos.
Sehingga sangat beralasan jika keberadaan kedua paket peraturan tersebut lebih
menguntungkan Depsos dari pada Penyandang disabilitas .

- Landasan Dan Tujuan


Pada Bab II undang-undang No 4 tahun 1997 mengatur tentang landasan,
asas dan tujuan, yang kesemuanya makin menguatkan keyakinan jika undangundang tersebut sungguh-sungguh dibuat hanya sebagai lips service dan pajangan
hukum semata. Sebab jika benar upaya perlindungan hak Penyandang disabilitas
menurut undang-undang ini diselenggarakan atas landasan Pancasila dan UUD
1945, lalu mengapa penyelenggara negara sendiri masih sering melakukan berbagai
tindakan diskriminasi dan ketidakadilan kepada Penyandang disabilitas . Padahal
bukankah Pancasila mulai dari sila pertama, kedua dan ketiga yang dijabarkan
lebih konkrit lagi dalam Pasal 26, 27, 28, 31, 32 dan 34 UUD 1945 telah menjamin hak
warga negara termasuk penyandang disabilitas.
Jika ditelaah secara seksama, pencantuman Pancasila dan UUD 1945 sebagai
landasan hukum undang-undang ini, juga lagi-lagi merupakan hal yang sangat
mubazir. Selain karena hal tersebut sudah dimuat di bagian konsideran yuridis, juga
sudah merupakan hal yang mutlak sebagaimana tersebut pada TAP MPR No. 3
tahun 2000 junto

UU No. 10 tahun 2004 tentang pembentukan peraturan

perundang-undangan. Yang secara eksplisit menyebutkan bahwa penyusunan


113

peraturan perundang-undangan harus berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 tanpa


perlu dimuat dalam batang tubuh.
Secara ideologis undang-undang ini sangat berani mengadopsi unsur-unsur
yang mengintegrasikan antara nilai-nilai komunal dan liberal, maupun nilai-nilai
religi dan costumeri law masyarakat Indonesia. Hal ini tampak pada Pasal 3
yang antara lain berbunyi : upaya pembinaan kesejahteraan

Penyandang

disabilitas, dilakukan dengan asas keimanan, ketaqwaan terhadap Tuhan Yang


Maha Esa, manfaat, kekeluargaan, adil, merata, keseimbangan, keserasian dan
keselarasan dalam perikehidupan, hukum, kemandirian, ilmu pengetahuan dan
tehnologi .
Jika substansi pasal tersebut dihubungkan dengan layar yang menampilkan
deskripsi keberadaan Penyandang disabilitas
tersebut, maka disatu sisi kita

pasca keberlakuan undang-undang

mungkin bisa tertawa lebar bukan lantaran

terpenuhinya kepuasan atas hasil yang dicapai. Tetapi lebih karena redaksi
ketentuan tersebut tampak seperti badut yang lucu dan menggelikan.
Sebagai

contoh

dapat

ditemukan

pada

kasus

penolakan

sejumlah

penyandang tunanetra untuk melanjutkan pendidikan formal pada tingkat


Perguruan Tinggi ditanah air. Ironisnya karena hal itu justru dilakukan

IAIN

Jakarta, Makassar, Surabaya dan beberapa tempat lainnya. Padahal berbicara tentang
soal keimanan, ketaqwaan, kekeluargaan dan segala apa yang disebut pada Pasal 3
semuanya merupakan rutinitas kehidupan lembaga tersebut sehari-hari.
Pada sisi yang lain formulasi ketentuan seperti itu mengundang keprihatinan
sekaligus kedongkolan. Betapa tidak karena sudah hampir sepuluh tahun undangundang tersebut diberlakukan, tangis sebagian besar Penyandang disabilitas masih
sering terdengar, akibat masih gentayangannya drakula yang tega memperkosa hak
Penyandang disabilitas dengan berbagai justifikasi.
Sampai

disini,

tujuan

perlindungan

hukum

Penyandang

disabilitas

sebagaimana diatur dalam Pasal 4 betul-betul menjadi makhluk utopis yang sulit
dicapai padahal secara philosofis dan sosiologis tujuan keberadaan Penyandang
disabilitas sebenarnyan bukan hanya pada aspek kemandirian dan kesejahteraan,

114

tetapi juga mencakup aspek kesederajatan, harkat dan martabat serta keterlibatan
dalam segala bidang kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat.

-Aksesibilitas
Dalam Bab III undang-undang ini diatur mengenai hak dan kewajiban
Penyandang disabilitas. Pada unsur hak undang-undang ini memang menyebutkan
secara eksplisit substansi tentang equal justice under law and equal oportunity for
all sebagaimana yang tertuang pada Pasal 5 yang berbunyi : setiap penyandang
cacat mempunyai hak dan kesempatan yang sama dalam segala aspek kehidupan
dan penghidupan.
Hanya sangat disesalkan karena penegasan rinci tentang hak Penyandang
disabilitas dalam batang tubuh undang-undang ini, ternyata hanya mencakup soal
pendidikan, tenaga kerja, rehabilitasi, bantuan dan pemeliharaan taraf kesejahteraan
sosial serta aksesibilitas. Sedangkan hak fundamental lainnya seperti hak agama,
kesehatan, ekonomi, pelayanan umum, hukum, budaya, politik, pertahanan,
keamanan, olahraga, rekreasi, informasi dll ternyata hanya disebutkan pada bagian
penjelasan.
Meski secara konsepsional dipahami bahwa antara mukaddimah, batang
tubuh dan penjelasan sebuah peraturan hukum merupakan satu kesatuan yang tak
terpisahkan, namun sudah merupakan kelaziman jika bagian batang tubuh selalu
memperoleh kedudukan yang lebih utama daripada penjelasan. Selain itu ketentuan
dalam batang tubuh

umumnya mempunyai ketentuan yang bersifat konkret,

kontinuitas dan koneksitas dalam ketentuan tersebut maupun ketentuan lain.


Sedangkan penjelasan, tak lebih hanya sekedar penerang dari ketentuan pokok.
Tidak heran jika hampir sebagian besar hak-hak fundamental seperti hak
politik, hukum dan segala yang hanya disebut dalam bagian penjelasan kurang dan
tidak dapat diadvokasi atas dasar Undang-Undang No. 4/1997. Bahkan ke enam
hak yang diatur secara eksplisit dalam batang tubuh undang-undang ini, ternyata
juga mengalami nasib yang tidak berbeda dengan hal yang disebut pertama. Contoh
terbesar adalah soal aksesibilitas yang sekalipun sudah diback up dengan UndangUndang No. 28 tahun 2002 tentang Bangunan/Gedung, junto PP No. 36 tahun 2005
115

tentang Penyelenggaraan Bangunan Gedung serta berbagai peraturan yang bersifat


teknis, nyatanya hal tersebut belum dapat terealisasi.
Dari beberapa hasil observasi yang dilakukan terhadap penyediaan sarana
aksesibilitas sebagaimana yang diatur dalam undang-undang ini, semuanya tiba
pada kesimpulan bahwa hal tersebut hanya dicapai sebesar 0,03%

yang kalau

dibulatkan sama dengan 0 %. Celakanya karena pelanggar terbesar atas ketentuan


tersebut justru adalah bangunan/gedung milik pemerintah sendiri termasuk gedung
Departemen Sosial yang konon menjadi leading sektor penyusunan undang-undang
ini.
Padahal dalam ketentuan Pasal 10 ayat (3) diatur antara lain bahwa
penyediaan aksesibilitas, diselenggarakan oleh pemerintah dan/atau masyarakat
dan dilakukan secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan dengan
demikian kesangsian banyak kalangan yang menilai substansi undang-undang ini
sarat dengan ungkapan basa-basi, kamuflase, apologi dan hipokrit ternyata
bukanlah

sekedar tudingan. Karena dengan

optik sederhana, kita dapat

menyaksikan dengan telanjang bagaimana para aktor di balik layar ini dapat
memainkan peran dan atraksi ambivalen dan paradoksal.
Persoalan krusial di balik pengaturan hak Penyandang disabilitas

dalam

undang-undang ini adalah karena UU No 4 tahun 1997 sama sekali tidak mengatur
tentang hak Penyandang disabilitas

untuk memperoleh pelayanan khusus sebagai

hal untuk mewujudkan kesamaan dan keadilan baginya yang mengalami keadaan
khusus. Ini penting karena dengan keadaan disabilitas yang disandang seseorang
terutama untuk jenis dan derajat kecacatan tertentu sulit sekali menikmati aspek
kesamaan hak dan kesempatan tanpa ketersediaan layanan khusus baik yang
berbentuk aksesibilitas maupun dalam bentuk kebijaksanaan/kearifan seperti
dispensasi yang bersifat pengurangan atau penambahan syarat yang memungkinkan
kesulitan

Penyandang

disabilitas

dapat diatasi. Padahal dalam TAP MPR

No.XVII/1998 dan Undang-Undang No.39/1999 tentang HAM sebagai paket


peraturan perundang-undangan yang bersifat umum, justru mengatur hal tersebut
secara eksplisit, lalu mengapa Undang-Undang No. 4/1997 yang secara spesifik
mengatur tentang Penyandang disabilitas, malah tidak ada sama sekali.

116

Seperti diketahui bahwa setiap orang dalam penciptaannya, tidak ada yang
persis sama walau dalam keadaan kembar sekalipun. Setiap orang masing-masing
mempunyai tantangan hidup dan kebutuhan yang berbeda-beda. Demikian pula
Penyandang

disabilitas

yang lahir dalam keadaan fisik dan atau

intelektual/mental yang kurang/tidak dapat berfungsi dalam batas normal, sudah


barang tentu mempunyai tantangan hidup yang relatif berat dari orang pada
umumnya.
Agar

Penyandang

disabilitas tidak larut dalam keterbatasan dan

kekurangannya, maka kemampuan/potensi yang masih tersisa di kalangan


Penyandang

disabilitas perlu dioptimalkan baik melalui rehabilitasi dan

pendidikan, maupun penyediaan aksesibilitas. Hal yang disebut terakhir bertujuan


untuk menghilangkan atau memperkecil halangan atau hambatan akibat kecacatan
dalam berekspresi dan berapresiasi.
Itulah sebabnya, dalam pelaksanaan pembangunan terutama dalam bentuk
sarana fisik, maka rancangan konstruksi dan arsitekturalnya harus senantiasa
bersinergi dengan kondisi para penggunanya tidak terkecuali

Penyandang

disabilitas. Hal tersebut secara teknis yuridis telah diatur dalam UU No 4 tahun 1997
maupun UU No. 28/2002 tentang bangunan gedung dan peraturan pelaksanaannya.
Namun amat disesalkan karena basis pelaksanaan pembangunan selama ini
dirasakan sangat bias dalam memenuhi aspek estetika dan artistik.

Meski demikian, Penyandang disabilitas

sedikit berbangga oleh

karena dalam dunia penerbangan nasional sudah menyediakan sarana


aksesibilitas dari dan ke dalam pesawat. Hal serupa juga sudah dilakukan
oleh pengelola sejumlah hotel dan sarana umum lainnya dalam bentuk
penyediaan berbagai layanan khusus bagi Penyandang disabilitas . Kini
sangat dinantikan sistem tata kota dengan segala sarana dan prasarana
penunjang, khususnya jalan raya, terminal dan angkutan umum, diadakan
dengan ketersediaan aksesibilitas.
Ini penting karena, sudah cukup banyak Penyandang disabilitas
khususnya tunanetra yang menjadi korban terjatuh ke dalam selokan di tepi
jalan raya akibat tidak adanya pagar/penutup pengaman selokan atau
117

Penyandang disabilitas pengguna kursi roda yang terpaksa harus dibopong


untuk menjenguk keluarga yang sedang dirawat di lantai 4 pada sebuah
Rumah Sakit lantaran aksesibilitas yang tidak tersedia. Semua ini harus
segera diakhiri dengan penyediaan aksesibilitas pada setiap fasilitas umum
sebagaimana yang diatur dalam peraturan perundang-undangan.

-Aspek Penghidupan Dan Kehidupan


Perkataan kehidupan dan penghidupan dalam undang-undang ini, cukup
banyak diulang bahkan mungkin yang terbanyak. Anehnya karena pendefenisian
istilah tersebut justru ditempatkan pada bagian penjelasan, khususnya dalam Pasal
5 . Padahal upaya pendefenisian seperti itu lazimnya dituangkan dalam poin-poin
Pasal 1.
Kerancuan lain yang juga tampak pada istilah kehidupan dan penghidupan
adalah karena pembuat undang-undang sama sekali tidak membedakan antara
kehidupan dan penghidupan. Jika kedua istilah tersebut oleh pembuat undangundang diartikan sama, maka dengan prinsip efisiensi dan efektifitas pembuat
undang-undang seharusnya hanya memilih salah satu diantaranya tanpa perlu
mencantumkan keduanya sekaligus. Namun jika kedua istilah tersebut tidak sama
dan seharusnya memang demikian, maka perlu ada penjelasan yang menampilkan
esensi perbedaannnya dengan muatan formulasi yang bersifat teknis operasional.
Namun yang paling stragis dalam hal ini adalah karena pengertian
kehidupan dan penghidupan sebagaimana yang tertuang pada bagian penjelasan
Pasal 5, semuanya merupakan fungsi dan wewenang yang terbagi dalam porto folio
kekuasaan pemerintah. Secara aconterario, hal tersebut dapat berarti bahwa aspekaspek kehidupan dan penghidupan diluar pemerintahan seperti legislatif dan
yudikatif, tentu bukanlah bagian dari cakupan makna dari kehidupan dan
penghidupan. Hal tersebut dikuatkan oleh Pasal 8 yang berbunyi : pemerintah
dan/atau

masyarakat

berkewajiban

mengupayakan

terwujudnya

hak-hak

penyandang cacat. Seharusnya perkataan pemerintah diganti dengan istilah

118

penyelenggara negara

yang tentu mencakup jajaran eksekutif, legislatif dan

yudikatif sebagaimana yang diatur dalam Undang-Undang No. 28 tahun 1999. 29

Berdasarkan uraian tersebut, ada kecenderungan pihak tertentu untuk


tetap menggunakan peraturan hukum yang lama sebagai dalih keengganan
pemberian

akses

bagi Penyandang disabilitas di sektor formal. Bahkan

Undang Undang N0 4 tahun 1997 tentang Penyandang Cacat dan PP N0


43/1998, tentang Upaya Peningkatan Kesejahteraan Penyandang Cacat, secara
substansial sungguh amat jauh dari pretensi perlindungan kesamaan hak dan
kesejahteraan sehingga harus direvisi karena :
a.

Kedua peraturan tersebut melegalkan istilah cacat yang dalam perspektif


psikokultur linguistik, justru mengandung unsur penghinaan, pelecehan
dan merendahkan kehormatan serta martabat penyandangnya sendiri.
Sebab dalam ajaran agama manapun tidak membenarkan anak manusia
yang ditakdirkan terlahir dari keadaan cacat, disapa dan dipanggil
dengan menonjolkan kekurangan, kelemahan atau keburukan yang
disandangnya. Apalagi istilah cacat dalam khasanah tuturan Bahasa
Indonesia memang bermakna destruktif yaitu kurang, lemah, buruk,
aib/memalukan sehingga tidak heran jika sikap publik yang cenderung
meremehkan Penyandang disabilitas dengan pandangan sinis dan
apriori menjadi lazim karena legalitas istilah penyandang cacat oleh
Undang-Undang. Sehingga sekalipun tidak luput dari kekurangan, maka
istilah Penyandang disabilitas, yang diadopsi dari istilah special needs of
people perlu diintrodusir untuk mengganti istilah cacat dalam
penyempurnaan sinkronisasi UUD 1945 oleh MPR maupun UndangUndang Penyandang disabilitas oleh DPR.

29

(Saharuddin Daming, Pembangunan Berbasis Disabilitas , 2005: 78-85)


119

b.

Dalam Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang No.4/1997 dirumuskan


pengertian Penyandang disabilitas adalah orang yang mempunyai
keadaan fisik/dan atau mental yang dapat mengganggu atau merupakan
rintangan dan hambatan baginya untuk melakukan secara selayaknya.
Rumusan ini terutama pada anak kalimat yang dapat mengganggu dan
merupakan rintangan baginya, justru sangat bertentangan dengan
komitmen untuk mengadvokasi Penyandang disabilitas dengan slogan
bahwa keadaan cacat yang disandang seseorang bukanlah hambatan,
halangan

serta

menjadikannya

rintangan
sebagai

baginya

alasan

dan

untuk

siapapun
membatasi,

tidak

boleh

mengurangi,

menghambat, menghalangi, mempersulit atau menghilangkan hak


Penyandang disabilitas dalam melakukan ekspresi dan apresiasi secara
optimal

dalam

segala

aspek

penyelenggaraan

negara

atau

kemasyarakatan sesuai bakat, minat dan kemampuannya.


c.

Kedua

peraturan

penyelenggaraan

tersebut
upaya

secara

pembinaan

implisit

mengisyaratkan

kesejahteraan

Penyandang

disabilitas, hanya menjadi tanggung jawab Kementerian Sosial.


d.

Persoalan yang paling vital dan strategis bagi Penyandang disabilitas


meliputi hak pendidikan, hak mendapatkan pekerjaan, dan aksesibilitas
diatur dalam limit yang sangat minimal dan seadanya serta sangat tidak
memberikan jaminan kepastian hukum. Bahkan hak politik maupun
perlindungan hukum yang mendudukan Penyandang disabilitas sebagai
korban sama sekali tidak diatur, padahal hal tersebut justru menjadi
sangat urgen dalam iklim reformasi yang kita bangun dewasa ini.
Dalam teori hukum yang dianut secara universal menyebutkan ciri

keberlakuan hukum (atribut of law) adalah jika terdapat sanksi yang jelas dan
tegas. Ironisnya karena sanksi pidana yang diatur dalam Undang-Undang No.4
/1997 Tentang Penyandang Cacat khususnya pada Pasal 28 selain sangat ringan
(maksimal 6 bulan ) juga hanya mencakup pelanggaran terhadap penyediaan
aksesibilitas Penyandang disabilitas untuk bekerja yang sampai kini belum
120

pernah ada yang diproses meski pelanggaran sudah tak terhitung jumlahnya
dan tidak jelas siapa yang berhak menuntut. Lebih aneh lagi karena sanksi
administrasi yang diatur dalam Pasal 29 Undang-Undang tersebut

justru

diletakkan pada perlakuan diskriminatif terhadap Penyandang disabilitas dalam


layanan pendidikan, dimana rincian sanksi administratif dimaksud, sedianya
akan diatur lebih lanjut dalam PP. Celakanya karena PP

dimaksud telah

diundangkan yaitu PP N0 43/1998, akan tetapi PP tersebut ternyata tidak ada


sedikitpun kata yang mengatur tentang sanksi.
Namun sangat disesalkan oleh karena meski sekian banyak peraturan
perundang-undangan yang memungkinkan Penyandang disabilitas dapat
berapresiasi di segala aspek kehidupan dengan landasan equal justice under law,
equal opportunit dan, to do every thing tetapi hanya satu yang melarang, itupun
karena hasil interpretasi yang implisit, maka ada kecenderungan menafikan
yang banyak dan menonjolkan yang satu buktinya karena sampai sekarang,
praktik

peremehan,

disabilitas

pelecehan

dan

diskriminasi

terhadap

Penyandang

masih saja terus berlangsung dan ironisnya karena

pelaku

pelanggaran HAM terbanyak terhadap Penyandang disabilitas justru adalah


kalangan yang seharusnya menjadi contoh pelaksanaan pemenuhan hak
Penyandang disabilitas.
Sesungguhnya, jika manusia sadar bahwa eksistensi dan posisi formal yang
disandangnya sebagai decision maker adalah sekedar amanah untuk melayani
publik, maka dengan bekal moral, dan dasar keyakinan agama serta nilai-nilai
budaya lokal sudah cukup memadai untuk mengakses aspirasi dan apresiasi
kaum Penyandang disabilitas tanpa perlu merujuk pada peraturan perundangundangan yang cenderung kaku dan legalistik. Tapi sayang hanya sedikit dari
sekian banyak penerima amanah yang sudi membuka mata, telinga dan hati
untuk peduli akan keberadaan dan kesulitan Penyandang disabilitas. Yang
terbanyak justru adalah kumpulan orang-orang yang picik pandang, arogan,
haus kekuasaan, egois, dan individualis yang cenderung meremehkan
kemampuan orang lain, sedikitpun tidak peka dan tak mau tahu kesulitan orang

121

lain meski mereka mengaku sebagai orang yang beragama bahkan mungkin
adalah tokoh agama.
Sungguh suatu kemunafikan kalau bukan kezaliman jika reformasi yang
diperjuangkan ini berhasil memberantas Kolusi, Korupsi dan Nepotisme, tetapi
kita

tetap

membiarkan

tindakan

sewenang-wenang,

perampasan

hak,

diskriminasi dan praktek-praktek ketidak-adilan terhadap kelompok minoritas


yang marginal dan rentan seperti kaum Penyandang disabilitas.
Kaum Penyandang disabilitas Indonesia tidak butuh belas kasihan, terlebih
lagi keistimewaan dan tidak pula tumpukan kebijaksanaan yang hanya bernilai
kamuflase, temporal, basa basi yang hipokrit dan apologi. Penyandang
disabilitas sesungguhnya hanya perlu pengertian dan perlakuan yang wajar atas
dasar kesetaraan dan kesederajatan. Meski diakui bahwa kecacatan dapat
menjadi handikap dalam beraktifitas secara normal. Tetapi dengan adanya
pengertian disertai itikad baik untuk membina potensi para Penyandang
disabilitas dalam bentuk program rehabilitasi dan penguasaan Iptek, maka
kecacatan bukan dan tidak boleh menjadi alasan berkurangnya, atau hilangnya,
kesempatan Penyandang disabilitas untuk memasuki kehidupan sosial politik
secara wajar dan dinamis.
Untuk mewujudkan hal dimaksud maka perlu segera disusun dan
ditetapkan Undang-Undang baru tentang penyandang disabilitas yang selain
dapat mengakomodasi serta menjawab tantangan perkembangan zaman tentang
Penyandang disabilitas yang semakin kompleks, juga dapat mengejawantahkan
bahkan menjadi sogo guru, pembinaan dan pembangunan hukum yang
berlandaskan pada asas-asas penyelenggaraan pemerintahan yang patut (good
governance) yaitu :
a. asas tidak menyalahgunakan kekuasaan (detournement de pouvoir)
b. asas tidak bertindak sewenang-wenang (kennelijke onredelijkheid /
willekeur)
c. asas perlakuan yang sama (gelijkheidsbeginsel)
d. asas kepastian hukum (rechtszekerheid)
122

e. asas pemenuhan harapan yang ditimbulkan (gewekte verwachtingen


honoreren)
f. asas perlakuan yang jujur ( fair play)
g. asas kecermatan (zorgvuldigheid)
h. asas keharusan adanya motivasi dalam tindakan (motivering)
i. asas keterbukaan (transparantion)
j.

asas

dapat

dipertanggungjawabkan

kepada

masyarakat

(public

accountability)
k. asas keikutsertaan (participation)
l. asas efektifitas atau keberlangsungan secara baik atau tepat sasaran
m. asas efesiensi atau pendayagunaan secara baik dan tepat sasaran
Selain itu Undang-Undang ini juga didasarkan pada hasil berbagai
referensi akademik dan pengalaman empiris serta menjabarkan berbagai
pranata hukum Indonesia seperti yang telah dikemukan terdahulu maupun
hukum Internasional antara lain Piagam PBB, Deklarasi Universal HAM, Resolusi
Majelis Umum PBB 2200 A (XXI) tertanggal 16 Desember 1966 tentang : Hak Sipil
Dan Politik serta Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya, Deklarasi Majelis Umum PBB
tentang Hak-Hak Penyandang Disabilitas N0 3447 (XXX), 9 Des 1975 , Deklarasi
tentang Hak-hak Anak, Deklarasi tentang Hak-hak Disabilitas Grahita, Deklarasi Anti
Diskriminasi bagi Perempuan, Deklarasi hak-hak sipil, Konvensi ILO, UNESCO,
UNICEF, dan WHO, Resolusi Dewan Sosial dan Ekonomi PBB Nomor 1921 (LVIII)
tentang Pencegahan Kecacatan dan Rehabilitasi Kedisabilitasan . Resolusi PBB Nomor
37/52 Tahun 1981 tentang Program Aksi Tahun Penyandang Disabilitas Internasional,
Rekomendasi Konferensi Stockholm tahun 1987 tentang dasar-dasar filsafati hak
Penyandang Disabilitas,

Resolusi PBB

N0 48/96 Tahun 1993, tentang Standar

Ketentuan mengenai Kesamaan Kesempatan Bagi Para Penyandang Disabilitas, Biwako


Millenium, Un Escap Resolution 58/4 tahun 2002 , Deklarasi Sapporo (Sidang Umum
Disabled Peoples International 2002) , dan konferensi Sigdisabilitas Stockholm tanggal
1417 September 2002 yang menetapkan bahwa kedisabilitasan yang disandang oleh
seseorang bukan dan tidak boleh menjadi penyebab berkurang, hilang atau dibatasinya
hak yang bersangkutan untuk berekspresi dan berapresiasi dalam segala aspek kehidupan
berbangsa dan bernegara .
123

Lebih mengembirakan lagi karena bahan-bahan penyusunan hingga proses


pembentukan Undang-Undang ini senantiasa melibatkan kalangan Penyandang
disabilitas dalam stakeholder lainnya dengan maksud untuk menjadikan
Undang-Undang ini tidak hanya mempunyai nilai keberlakuan secara yuridis
normatif, tetapi juga bernuansa sosiologis dan filosofis dalam mengantar kaum
Penyandang disabilitas memasuki era globalisasi dan modernisasi yang sarat
dengan iklim persaingan ketat.
Dengan subtansi pengaturan seperti dikemukan di atas, maka UndangUndang ini dapat menjadi legal standing dalam mempelopori revolusi
pencerahan Penyandang disabilitas dalam segala dimensi bahkan UndangUndang baru ini, dapat berfungsi sebagai a tool social control and a tool of social
ingenering bagi penyelenggaraan negara dan kemasyarakatan serta seluruh
rakyat Indonesia dalam membangun kesadaran untuk melindungi

dan

memajukan pemenuhan hak Penyandang disabilitas di Indoensia. Tegasnya


bahwa harapan besar untuk mengemban misi dan visi pemenuhan hak
Penyandang disabilitas mencapai titik paling optimal telah digantungkan pada
Undang-Undang ini. Tidak heran jika proses penyusunan dan pembentukannya
pun harus menempuh liku-liku perjalanan panjang, terjal, dan melelahkan.
Demi menghasilkan perangkat hukum yang accountabel, fleksibel, komprehensip
dan visioner. Meski demikian, Undang-Undang ini tentu tidak luput dari
berbagai

kekurangan

dan

kelemahan

sehingga

apabila

dalam

tahap

implementasi, dirasakan atau dijumpai adanya kekurangan atau kelemahan,


maka Undang-Undang ini dapat disempurnakan melalui penggantian oleh
Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dan Presiden Republik Indonesia
atau Uji Materil melalui Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia.
Namun opsi yang paling ideal untuk mewujudkan harapan tersebut adalah
penggantian Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat
melalui proses legislasi. Terdapat beberapa peraturan yang memungkinkan kita
gunakan sebagai dasar yuridis untuk mengganti Undang-Undang Nomor 4
Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat menjadi Undang-Undang tentang
Penyandang Disabilitas, yaitu antara lain:
124

1. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan;


2. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak;
3. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1984 tentang Pengesahan Konvensi
mengenai Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Wanita
(Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination against Women);
4. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga
Kerja;
5.

Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan;

6. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat;


7.

Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia;

8.

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak;

9.

Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung;

10. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran;


11. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan;
12. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional;
13. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan
Dalam Rumah Tangga;
14. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan
Nasional;
15. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2005 tentang Pengesahan Kovenan
Internasional tentang Hak-Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya (International
Covenant on Economic, Social and Cultural Rights);
16. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen;
17. Undang-Undang

Nomor

23

Tahun

2006

tentang

Administrasi

Kependudukan;
18. Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak
Pidana Perdagangan Orang;
19. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian;
20. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana;
21. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran;
125

22. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan;


23. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan;
24. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial;
25. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan
Jalan;
Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik;
26. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan;
27. Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit;
28. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2011 tentang Penanganan Fakir Miskin;
29. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2011 tentang Penyelenggaraan
Pemilihan Umum;
30. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2011 tentang Pengesahan Ratifikasi
Konvensi Hak-hak Penyandang Disabilitas;
31. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2012 tentang Penanganan Konflik Sosial;
32. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pemilihan Umum Anggota
Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah;
Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi;
33. Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2010 tentang
Program Pembangunan yang Berkeadilan;

126

BAB V
JANGKAUAN, ARAH PENGATURAN DAN RUANG LINGKUP
MATERI MUATAN UNDANG-UNDANG

BAB I

Ketentuan Umum berisikan mengenai pengertian, asas dan tujuan

BAB II

Prinsip Umum yang mengurai tentang substansi pokok yang diatur


dalam Undang-undang ini meliputi hak kodrati, hak perlakuan
khusus dan perlindungan lebih, disabilitas sebagai keragaman
manusia, diskriminasi, tanggung jawab negara dan masyarakat,
pengarus-utamaan isu disabilitas, aksesibilitas, dan peningkatan
kesadaran publik.

BAB III

Hak Sipil Serta Hak Memperoleh Keadilan dan Perlindungan


Hukum yang mengurai tentang hak penyandang disabilitas meliputi
hak hidup, hak anak dengan disabilitas, hak perempuan disabilitas,
hak atas privasi dan kewarganegaraan, hak berkeluarga dan
melanjutkan keturunan, subjek hukum, perlindungan dari tindak
kekerasan dan eksploitasi, perlakuan khusus dan perlindungan lebih,
serta kewajiban pemerintah dan atau pemerintah daerah,

BAB IV

Hak Dalam Bidang Pendidikan, meliputi satuan, jalur, jenjang dan


jenis

pendidikan,

kesamaan

hak

dan

kesempatan

dalam

penyelenggaraan sistem pendidikan yang bermutu, penyelenggaraan


pendidikan inklusif dan pendidikan khusus, perlakuan dan fasilitas
khusus,

larangan

dalam

penyelenggaraan

pendidikan,

serta

kewajiban pemerintah dan atau pemerintah daerah


BAB V

Hak Dalam Bidang Pekerjaan, meliputi ketentuan mengenai


kebebasan penyandang disabilitas untuk bekerja disektor negara,
swasta dan atau masyarakat, kesamaan hak dan kesempatan, hak
memperoleh pekerjaan yang layak, kewajiban mempekerjakan
penyandang disabilitas, perlindungan lebih dalam pekerjaan, dana
kompensasi kerja, serta kewajiban pemerintah dan atau pemerintah
127

daerah
BAB VI

Hak Dalam Bidang Kesehatan, meliputi ruang lingkup dan tujuan


kesehatan, kesamaan hak dan kesempatan, perlakuan dan fasilitas
khusus, Kewenangan dalam Hal Penilaian Kemampuan dan
Kesehatan, Perlindungan Lebih, serta Kewajiban Pemerintah dan
atau Pemerintah Daerah.

BAB VII

Hak Dalam Bidang Politik, meliputi ruang lingkup hak politik,


kesamaan hak dan kesempatan, Penyediaan Aksesibilitas dan Sistem
Kelembagaan Disabilitas, Larangan, dan Kewajiban Pemerintah dan
atau Pemerintah Daerah.

BAB VIII

Hak Dalam Bidang Keagamaan, meliputi ruang lingkup hak


keagamaan,

jaminan

kebebasan

beragama

dan

menjalankan

peribadatan, penyediaan aksesibilitas dan sistem kelembagaan


disabilitas,

larangan,

serta

kewajiban

pemerintah

dan

atau

pemerintah daerah.
BAB IX

Hak Berekspresi, Berkomunikasi dan Memperoleh Informasi,


meliputi ruang lingkup hak berekspresi, berkomunikasi dan
memperoleh informasi, kesamaan hak dan kesempatan untuk
berekspresi, berkomunikasi dan memperoleh informasi, kewajiban
dalam kebebasan berekspresi, berkomunikasi dan memperoleh
informasi, larangan, serta kewajiban pemerintah dan atau
pemerintah daerah.

BAB X

Hak Dalam Bidang Kesejahteraan Sosial, meliputi ruang lingkup hak


kesejahteraan

sosial,

rehabilitasi

sosial,

jaminan

sosial,

pemberdayaan sosial, perlindungan sosial, larangan, serta kewajiban


pemerintah dan atau pemerintah daerah.
BAB XI

Hak Dalam Bidang Perekonomian, meliputi ruang lingkup hak


dalam bidang perekonomian, pemberdayaan usaha perekonomian,
pembiayaan, kemitraan dan kelembagaan, pengembangan usaha,
perizinan, penempatan usaha dan koordianasi, larangan, serta
kewajiban pemerintah dan atau pemerintah daerah.

BAB XII

Hak Dalam Bidang Olahraga, meliputi ruang lingkup keorahragaan,


128

pembinaan dan pengembangan olahraga penyandang disabilitas,


pengelolaan keolahragaan penyandang disabilitas, penyelenggaraan
kejuaraan

olahraga,

sarana

dan

prasarana

keolahragaan,

pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi keolahragaan


penyandang disabilitas, kerja sama dan informasi keolahragaan,
industri

keolahragaan,

penghargaan,

pendanaan

keolahragaan

penyandang disabilitas, larangan, dan penyelesaian sengketa.


BAB XIII

Hak Dalam Bidang Kebudayaan, meliputi ruang lingkup hak


kebudayaan, ilmu pengetahuan dan teknologi, kesamaan hak dan
kesempatan, hak intelektual, adat istiadat, wisata, larangan, serta
kewajiban pemerintah dan atau pemerintah daerah.

BAB XIV

Hak Dalam Bidang Perumahan, meliputi ruang lingkup hak


perumahan, jenis perumahan, kewajiban dalam penyelenggaraan
perumahan, larangan, serta kewajiban pemerintah dan atau
pemerintah daerah.

BAB XV

Hak Dalam Bidang Pelayanan Publik, meliputi ruang lingkup hak


pelayanan publik, kesamaan hak dan kesempatan, kewajiban dalam
penyelenggaraan

pelayanan

publik,

larangan,

dan

kewajiban

pemerintah dan atau pemerintah daerah.


BAB XVI

Hak Dalam Bidang Aksesibilitas dan Sistem Kelembagaan


Disabilitas, meliputi ruang lingkup hak dalam bidang aksesibilitas
dan sistem kelembagaan disabilitas, aksesibilitas fisik, aksesibilitas
non-fisik, sistem kelembagaan disabilitas, mobilitas, kewajiban dalam
penyediaan aksesibilitas dan sistem kelembagaan disabilitas,
larangan, dan kewajiban pemerintah dan atau pemerintah daerah.

BAB XVII

Jenis dan Derajat Kedisabilitasan, meliputi ruang lingkup jenis dan


derajat kedisabilitasan, jenis kedisabilitasan, derajat kedilitasan, dan
justifikasi keberadaan.

BAB XVIII

Sensus Statistik dan Pengumpulan Data, meliputi ruang lingkup


sensus statistik dan pengumpulan data, larangan, dan kewajiban
pemerintah dan atau pemerintah daerah.

BAB XIX

Koordinasi, meliputi ruang lingkup koordinasi seperti mekanisme


129

dan kelompok kerja


BAB XX

Kerjasama Regional dan Internasional, meliputi ruang lingkup


kerjasama regional dan internasional, kewajiban pemerintah dan
atau pemerintah daerah.

BAB XXI

Pembinaan dan Pengawasan

BAB XXII

Peran Organisasi, Keluarga dan Masyarakat

BAB XXIII

Penghargaan

BAB XXIV

Bagian Pendanaan

BAB XXV

Komisi Nasional Disabilitas Indonesia, meliputi tujuan dan fungsi,


asas,

tempat

kedudukan,

keanggotaan,

susunan

organisasi,

seketariat, tugas dan wewenang, pertanggung jawaban, dan


anggaran
BAB XXVI

Tuntutan Hukum, meliputi bidang penyidikan, bidang sanksi


pidana, bidang sanksi administrasi, dan bidang sanksi perdata.

BAB XXVII

Ketentuan Peralihan, yang berisikan semua peraturan pelaksanaan


dari Rancang Undang Undang ini tetap berlaku, hingga terbitnya
peraturan pelaksanaan yang baru.

BAB XXVIII

Ketentuan Penutup, yang menjelaskan bahwa dengan ditetapkannya


Undang-undang ini maka Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1997
tentang Penyandang Cacat dinyatakan tidak berlaku.

130

BAB I

Ketentuan Umum

BAB II

Prinsip Umum

BAB III

Hak Sipil serta Hak Memperoleh Keadilan dan Perlindungan Hukum

BAB IV

Hak Dalam Bidang Pendidikan

BAB V

Hak Dalam Bidang Pekerjaan

BAB VI

Hak Dalam Bidang Kesehatan

BAB VII

Hak Dalam Bidang Politik

BAB VIII

Hak Dalam Bidang Keagamaan

BAB IX

Hak Berekspresi, Berkomunikasi dan Memperoleh Informasi

BAB X

Hak Dalam Bidang Kesejahteraan Sosial

BAB XI

Hak Dalam Bidang Perekonomian

BAB XII

Hak Dalam Bidang Olahraga

BAB XIII

Hak Dalam Bidang Kebudayaan

BAB XIV

Hak Dalam Bidang Perumahan

BAB XV

Hak Dalam Bidang Pelayanan Publik

BAB XVI

Hak Dalam Bidang Aksesibilitas dan Sistem Kelembagaan Disabilitas

BAB XVII

Jenis dan Derajat Kedisabilitasan

BAB XVIII

Sensus Statistik dan Pengumpulan Data

BAB XIX

Koordinasi

BAB XX

Kerjasama Regional dan Internasional

BAB XXI

Pembinaan dan Pengawasan

BAB XXII

Peran Organisasi, Keluarga dan Masyarakat

BAB XXIII

Penghargaan

BAB XXIV

Bagian Pendanaan

BAB XXV

Komisi Nasional Disabilitas Indonesia

BAB XXVI

Tuntutan Hukum

BAB XXVII

Ketentuan Peralihan

BAB XXVIII

Ketentuan Penutup

131

BAB VI
PENUTUP

A.

Simpulan
Setiap kali dibuat strategi dan pendekatan untuk mengangkat harkat
dan martabat kaum Penyandang disabilitas oleh kalangan eksekutif dan
intelektual, rupanya sebagaian besar dirasakan hanya gagasan yang bersifat
apologi dan hipokrit, setidak-tidaknya hanya untuk pencapaian target formal
semata. Yang lebih fatal lagi adalah karena badan legislatif kita telah
mengesahkan sejumlah peraturan perundang-undangan yang dapat menjadi
legal standing bagi upaya-upaya perlindungan dan pembelaan Penyandang
disabilitas. Namun dalam kenyataan, selain peraturan perundangan tersebut
terkesan dibuat dan dilaksanakan setengah hati, juga karena dalam praktek
penyelenggaraan pemerintah dan kemasyarakatan justru bertolak belakang
dengan substansi perundang-undangan.
Sebutlah diskursus tentang perlindungan dan pemberdayaan hak
Penyandang disabilitas dalam Undang-Undang No. 4 tahun 1997 dan
peraturan pelaksanaannya yang secara yuridis formal adalah hukum positif,
ternyata tidak dapat mengubah pandangan dan perilaku penyelenggara
negara dan kemasyarakatan untuk peduli dan berpihak kepada upaya
pembinaan kemajuan dan kesejahteraan para Penyandang disabilitas. Tidak
hanya itu dalam konstitusi baru kita dan beberapa Tap MPR telah cukup
tegas diatur mengenai perlindungan hak asasi manusia tidak terkecuali
Penyandang disabilitas, namun hingga reformasi dan demokratisasi telah
bergulir, hak Penyandang disabilitas ternyata masih sering dilanggar,
dilecehkan, diremehkan, dikebiri, dikerdilkan bahkan dihilangkan dan
dirampas justru hanya dengan alasan-alasan yang sangat tidak berdasar.
Salah

satu

penyebabnya

adalah

karena

opini

publik

mengenai

pelanggaran HAM tampaknya masih didominasi pada hal-hal yang bersifat


kekerasan, sedangkan praktek-praktek diskriminatif yang dengan sengaja
132

dan sistematis telah mencoba membatasi, menghalangi, mengurangi akses


Penyandang disabilitas ternyata bukan dan belum dapat disentuh sebagai
pelanggaran HAM serius. Terlebih lagi Undang-Undang No. 4 Tahun 1997
sungguh-sungguh tidak berdaya untuk mengatasi persoalan laksana macan
ompong yang hanya seram dalam pandangan tetapi tumpul dari segi peran
dan fungsi.
Sampai

disini

citra

Penyandang

disabilitas

dalam

perspektif

pembangunan berbasis HAM rupa-rupanya tak lebih dari sekadar mahkluk


yang harus menerima takdir sebagai kelompok masyarakat marginal, padahal
kedisabilitasan sebagai takdir dari Tuhan Yang Maha Adil pada hakekatnya
adalah titipan sekaligus menjadi ujian bagi kita semua dalam mengukur
kesabaran dan ketakwaan untuk siap menerima atau menyia-nyiakan
Penyandang disabilitas.
Sungguh suatu kezaliman kalau bukan bencana jika reformasi yang
diperjuangkan ini berkomitmen untuk memberantas Kolusi, Korupsi dan
Nepotisme, tetapi publik sebagian besar cenderung membenarkan penguasa
bertindak sewenang-wenang, dalam bentuk perampasan hak, diskriminasi
dan praktik-praktik ketidak-adilan terhadap kelompok minoritas yang
marginal dan rentan seperti kaum Penyandang disabilitas. Padahal dalam
manifesto perjuangan Penyandang disabilitas, senantiasa digemakan bahwa
Kaum Penyandang disabilitas Indonesia tidak butuh belas kasihan, terlebih
lagi keistimewaan dan tidak pula tumpukan kebijaksanaan yang hanya
bernilai kamuflase, temporal, basa basi yang hipokrit dan apologi.
Penyandang disabilitas sesungguhnya hanya perlu pengertian dan
perlakuan yang wajar atas dasar kesetaraan, kesederajatan dan keadilan.
Meski diakui bahwa kedisabilitasan dapat menjadi handicap dalam
beraktifitas secara normal. Tetapi dengan adanya pengertian disertai itikad
baik untuk membina potensi para Penyandang disabilitas dalam bentuk
program rehabilitasi dan penguasaan Iptek, maka kedisabilitasan bukan dan
tidak boleh menjadi alasan berkurangnya, atau hilangnya, kesempatan
133

Penyandang disabilitas untuk memasuki kehidupan formal secara wajar dan


dinamis.
Sayang semua ini tidak dapat direspon secara maksimal dan sistematis
lantaran substansi perumusannya, tidak tersetting dengan kedayaberlakuan
efektif. Selain karena disusun pada masa pemerintahan orde baru dimana
peraturan hukum umumnya berciri otoriter dan kurang berorientasi pada
kepentingan publik dalam artian seluas-luasnya, juga dibuat untuk
memenuhi target formal dari program legislasi nasional dimasa itu tanpa
memperhatikan efek sosiologis dan filosofisnya. Berdasarkan hal tersebut,
maka dengan tidak mengurangi rasa penghargaan kita terhadap mereka yang
berjasa melahirkan Undang-Undang No. 4 Tahun 1997 sebagai peletak dasar
acuan normatif terhadap perlindungan dan pemberdayaan hak Penyandang
disabilitas di Indonesia, sebagaimana halnya peraturan hukum yang
mengalami problem serupa, Undang-Undang No. 4 Tahun 1997 sudah
saatnya untuk di ganti. Ini penting untuk merespon paradigma tantangan
dan peluang Penyandang disabilitas Indonesia di masa kini maupun di masa
datang yang sudah barang tentu jauh lebih kompleks. Dalam negara dan
masyarakat yang memiliki karakteristik yang heterogen dan tingkat
pendidikan yang belum baik, diperlukan peraturan hukum yang mampu
membuka

dan

menggiring

wawasan

serta

persepsi

masyarakat

pendukungnya menuju zona pemikiran konstruktif dan jauh dari sikap


steriotip dan prejudis.
Berdasarkan hal yang terurai di atas, maka tibalah penyusun naskah
akademik pada kesimpulan sebagai berikut :
2.

Penyandang disabilitas dari sisi konstitusi dan peraturan perundangundangan merupakan bagian dari warga negara yang mempunyai hak dan
kedudukan dengan warga negara pada umumnya. Namun dalam
kenyataan , penyandang cacat justru mengalami berbagai perlakuan
diskriminasi dan marginalisasi oleh penyelenggara negara maupun elemen
masyarakat. Penyandang disabilitas menjadi korban stigma negatif akibat
134

berkembangnya sikap sinis, apriori, strereotif dan prejudis. Hal tersebut


menempatkan posisi penyandang disabilitas pada keterpurukan secara
multi dimensional dan negara cenderung melakukan pembiaran, kecuali
hanya sekadar layanan pemberdayaan pragmatis dalam bentuk program
rehabilitasi.
3.

Lahirnya International Convention On the Rights Of Persons with


Disabilities (CRPD) yang telah diratifikasi oleh negara Republik Indonesia
melalui UU No 19 tahun 2011, merupakan momentum reformasi peri
kehidupan disabilitas di Indonesia. Salah satu agenda yang sangat strategis
untuk mewujudkan hal tersebut adalah reformasi secara bertahap seluruh
peraturan perundang-perundangan maupun kebiasaan dan perilaku yang
masih mengandung unsur diskriminasi serta perendahan harkat dan
martabat penyandang disabilitas.

4.

Bahwa UU No 4 tahun 1997 tentang penyandang cacat secara filosofis


tidak lagi sesuai dengan nilai-nilai keadilan dan prisip hak asasi manusia
sesuai dengan UU Dasar 1945 yang diubah setelah lahirnya UU No 4
tahun 1997. Secara sosiologis, UU No 4 tahun 1997 terbukti tidak efektif
mengubah kondisi kehidupan penyandang disabilitas yang sebagian besar
terbelakang, rentan dan hidup di bawah garis kemiskinan dan
marginalisasi yang berlangsung secara struktural dan kultural. Secara
yuridis UU No 4 tahun 1997 terdapat banyak kerancuan substansial yang
bukan saja bertentangan dengan peraturan perundang-undangan di masa
kini, juga tidak sesuai dengan kebutuhan penyandang disabilitas itu
sendiri.

B.

Saran
1) Perlunya pengaturan substansi Naskah Akademik dan Rancangan
Undang-Undang tentang Penyandang Disabilitas dalam suatu UndangUndang.

135

2) Dengan telah siapnya draft Naskah Akademik dan Rancangan UndangUndang tentang Penyandang Disabilitas akan ditindaklanjuti dengan
penyerahan kedua naskah tersebut kepada Dewan Perwakilan Rakyat
Republik Indonesia dan pihak terkait lainnya, agar dapat menjadi skala
prioritas dalam pengusulan Legislasi Nasional tahun 2013, paling lambat
tahun 2014.
3) Sosialisasi dan uji publik diperlukan untuk mendukung penyempurnaan
penyusunan Naskah Akademik lebih lanjut. Sebelum ditetapkan sebagai
undang-undang, materi RUU tentang Penyandang Disabilitas akan
diadakan

Uji

publik.

Sosialisasi

kepada

masyarakat

mendapatkan tanggapan, masukan guna penyempurnaan.

136

luas

untuk

DAFTAR PUSTAKA
Apeace.

2012.

Penyandang

Disabilitas,

Siapa

dan

Berapa.

http://id.shvoong.com/society-and-news/2343354-penyandang-disabilitassiapa-dan-berapa/#ixzz2MiViMnKK [01 Maret 2012]


Saharuddin Daming, 2005. Pembangunan berbasis Disabilitas (laporan hasil
pengkajian), Makassar.
Saharuddin Daming. 2008. Potret Diskriminasi Penyandang Disabilitas Dalam
Layanan Pendidikan. (Makalah).
Saharuddin Daming. 2009. Paradigma Perlakuan Negara Terhadap Hak Politik
Penyandang Disabilitas dalam Penyelenggaraan Pemilu di Indonesia.
(Disertasi).
Saharuddin Daming. 2009. Tinjauan Hukum dan HAM Terhadap Syarat Jasmani
dan Rohani Dalam Ketenagakerjaan dan Kepegawaian. (Makalah).
Saharuddin Daming. 2010. Kewajiban Negara Dalam Perwujudan Hak Penyandang
Disabilitas. (Makalah).
Saharuddin Daming. 2011. Tantangan dan Peluang Perwujudan Hak Penyandang
Disabilitas Pasca Ratifikasi CRPD. (Makalah).
Saharuddin Daming , 2012. Marjinalisasi Hak Politik Penyandang Disabilitas.
Penerbit Komnas HAM, Jakarta.
Saharuddin Daming. 2013. Sekapur Sirih Tentang Perwujudan Hak Penyandang
Disabilitas di Indonesia (Makalah).

137

Pozzan E. 2011. Disability and International Standards. Jakarta: ILO Jakarta.


Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat.
Undang-Undang

Nomor

12

Tahun

2011

tentang

Pembentukan

Peraturan

Perundang-Undangan.
Undang-Undang Nomor 19 tahun 2011 tentang Pengesahan Convention on the Rights
of Persons with Disabilities (Konvensi mengenai Hak-Hak Penyandang
Disabilitas)
[WHO] World Health Organization. 2011. World Report on Disability. Malta.
Jurnal Perempuan Volume 65 tahun 2011.Mencari Ruang untuk Difabel.

LAMPIRAN
RANCANGAN UNDANG- UNDANG TENTANG PENYANDANG DISABILITAS

138