Anda di halaman 1dari 25

postural drainage, tindakan clapping

vibrasi dada; terapi oksigen; nafas


dalam;dan batuk efektif, tindakan
suctioning
disusun untuk memenuhi tugas mata ajaran KMB I

oleh
Paian Tua

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN SANTO
BORROMEUS
2009

1
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Berbagai modalitas pengobatan digunakan ketika merawat pasien dengan
berbagai tipe gangguan pernafasan. Pilihan modalitas ini didasarkan pada gangguan
oksigenasi dan apakah terdapat masalah dengan ventilasi gas,difusi gas,atau
keduanya. Terapinya berkisar dari modalitas sederhana noninvasive sampai tindakan
yang sangat invasive dan kompleks.pengkajian dan penatalaksanaan pasien gangguan
sitem pernafasan sanagt baik dilakukan bilapendekatan yang digunakan adalah multi
disiplin dan kolaboratif. Tindakan keperawatan sangat diperlukan keterampilan kritis
dalam melakukan berbagai tindakannya khususnya dalam hal perawatan pasca
pemasangan alat-alat bantuan oksigenasi.

B. TUJUAN UMUM
Tujuan dari penyusunan makalah ini terdiri dari beberapa hal seperti;
• Penyusunan makalah ini untuk memenuhi penilaian dari mata ajaran
“Keperawatan Medikal Bedah”
• Penyusunan makalah ini agar para pembaca dapat mengetahui lebih kompleks
mengenai “Keterampilan Kritis pada Gangguan Sistem Pernafasan”.
• Penyusunan makalah ini ditujukan untuk membantu para pembaca khususnya
mahasiswa agar dapat mengaplikasikannya pada kehidupan sehari-hari dalam
tindakan keperawatan

C. TUJUAN KHUSUS
Adapun tujuan khusus dari penyusunan makalah ini adalah:
• Menguraikan penatalaksanaan keperawatan untuk pasien yang mendapat
tindakan postural drainage, tindakan clapping vibrasi dada; terapi oksigen; nafas
dalam;dan batuk efektif, tindakan suctioning, tindakan pemberian oksigen
tambahan dengan berbagai alat, tindakan perawatan luka WSD/CTT, nebulizer,
serta perawatan trachea canula.
• Mampu melakukan tindakan keperawatan sesuai dengan rencana asuhan
keperawatan.
D. METODE PENULISAN
Metode penulisan yang digunakan dalam penyusunan makalah ini adalah
• studi kepustakaan yaitu dengan mencari berbagai sumber buku sebagai
penunjang dalam penyusunan makalah ini.
• Konsultasi dengan dosen pembimbing untuk lebih memperjelas dalam
penyusunan makalah.

2
E. SISTEMATIKA PENULISAN
Makalah ini dibagi dalam 5 bab, yaitu :
Bab I Pendahuluan
Meliputi latar belakang masalah, tujuan penulisan, metode dan teknik
penulisan, serta sistematika penulisan.
Bab II Tinjauan Teori
Mengemukakan isi dari makalah ini yang terdiri dari beberapa pembahasan
seperti; pengertian, indikasi, tujuan, persiapan pasien, persiapan peralatan,
serta langkah-langkah kerja dari setiap judul pembahasan.
Bab III Penutup
Mengemukakan kesimpulan dari seluruh keterampilan kritis khususnya
pada system gangguan pernafasan dalam tindakan keperawatan dan
memberikan saran kepada pihak yang bersangkutan.

3
BAB II

TINJAUAN TEORI
II.1 TINDAKAN POSTURAL DRAINAGE

A. Pengertian

Postural Drainage adalah pembersihan berdasarkan gravitasi secret jalan nafas


dari segmen bronkus khususnya.tindakan ini menggunakan posisi spesifik sekresi
mengalir dari bronkiolus yang terkena didalam bronki dan trakea dan membuangnya
dengan membatukkan atau pengisapan.

Karena pasien biasanya duduk dalam posisi duduk tegak, sekresi sepertinya akan
menumpukan pada bagian yang lebih rendah dari paru – paru. Jika tindakan ini
digunakan posisi pasien dibaringkan secara bergantian dalam posisi yang berbeda.
Sehingga gaya gravitasi membantu untuk mengalirjan sekresi dari jalan napas
bronchial yang lebih kecil ke bronchi yang besar dan trakea.

Postural Drainage dilakukan 2 – 4 kali sehari sebelum makan ( untuk mencegah


mual dan muntah dan aspirasi ) dan saat menjelang tidur.

B. Indikasi

Pasien yang Sputumnya meningkat

C. Persiapan pasien

1. Jelaskan prosedur pada pasien


2. Berikan posisi yang nyaman pada pasien

D. Persiapan alat

1. Sarung tangan sekali pakai


2. Wadah dengan ukurannya ( kom )
3. Tisu
4. Kantung kertas atau plastic
5. air minum dan tempatnya ( teko )
6. Kursi ( untuk drainage lobus atas )
7. Papan miring untuk menyangga badan
8. Tempat tidur rumah sakit dapat ditempatkan jika pasien tudak dapat beraktivitas

4
E. Teknik batuk

1. Mengambil posisi duduk dan menbungkuk sedikit ke depan kerena posisi tegak
memungkinkan batuk lebih kuat.
2. Jaga lutut dan pinggul fleksi untuk meningkatkan relaksasi dan mengurangi
tegangan pada otot – otot abdomen ketika batuk.
3. Menghirup napas dengan lambat melalui hidung dan menghembuskannya melalui
bibir atau mulut yang dirapatkan beberapa kali.
4. Batuk dua kali selama setiap kali ekshalasi ketika mengkontriksi ( menarik
kedalam ) abdomen dengan tajam bersama dengan setiap kali batuk.

F. Macam – macam posisi postural drainage

1. Posisi yang mendrainase segmen atas atau lobus atas paru.


2. Posisi yang mendrainase segmen tengah paru (hanya pada paru kanan).
3. Posisi yang mendrainase segmen basal paru atau lobus bawah.

G. Langkah – langkah

1. Siapkan peralatan yang dibutuhkan :


a. Tempat tidur rumah sakit yang digunaka untuk pasien yang tidak mampu
beraktivitas
b. Papan miring
c. Kursi
d. Bantal 1 – 4
e. Tisu
f. Kantung plastic atau kertas
g. Teko air dan air minum
h. Wadah dengan ukuran ( kom )
i. Sarung tangan sekali pakai
2. Mencuci tangan dengan bersih
3. Rapihkan kembali alat – alat dan bantu pasien untuk istirahat kembali

5
II.2 BATUK EFEKTIF DAN NAFAS DALAM

A. Pengertian

Batuk efektif : merupakan suatu metode batuk dengan benar, dimana klien dapat menghemat
energi sehingga tidak mudah lelah dan dapat mengeluarkan dahak secara maksimal.

B. Tujuan
Batuk efektif dan napas dalam merupakan teknik batuk efektif yang menekankan inspirasi
maksimal yang dimulai dari ekspirasi , yang bertujuan :
a) Merangsang terbukanya system kolateral.
b) Meningkatkan distribusi ventilasi.
c) Meningkatkan volume paru
d) Memfasilitasi pembersihan saluran napas
( Jenkins, 1996 )

Batuk Yang tidak efektif menyebabkan :


1) Kolaps saluran nafas
2) Ruptur dinding alveoli
3) Pneumothoraks

C. Indikasi
Dilakukan pada pasien seperti :
COPD/PPOK, Emphysema, Fibrosis, Asma, chest infection, pasien bedrest atau post
operasi

I. KEGUNAAN LATIHAN NAFAS


•Latihan Nafas Dalam Untuk mengurangi Rasa Nyeri
•Postsurgical Deep Breathing/Nafas dalam setelah Operasi

a. Latihan Nafas Dalam Untuk Mengurangi Rasa Nyeri

•Pasien tidur dengan posisi duduk atau setengah duduk (semifowler) dengan lutut ditekuk
dan perut tidak boleh tegang.
• Letakkan tangan diatas perut
•Hirup udara sebanyak-banyaknya dengan menggunakan hidung dalam kondisi mulut
tertutup rapat.
• Tahan nafas beberapa saat (3-5 detik) kemudian secara perlahan-lahan, udara
dikeluarkan sedikit demi sedikit melalui mulut.
• Lakukan hal ini berulang kali (kurang lebih 15 kali)
• Lakukan latihan dua kali sehari praopeartif.

b. Postsurgical Deep Breathing/Nafas dalam setelah Operasi

Cara latihan napas dalam pasca operasi :


6
•Duduk di sudut tempat tidur atau kursi, juga dpat berbaring terlentang dengan lutut agak
ditekukkan.
•Pegang/tahan bantal atau gulungan handuk pada bagian yang terdapat luka operasi
dengan kedua tangan
•Bernafaslah dengan normal
•Bernafaslah dengan dalam melalui hidung, Rasakan lambung menekan keluar ketika
bernafas
•Lipatkan bibir seperti meniup lilin
•Kemudian tiupkan perlahan melalui mulut, rasakan dada menurun ketika mengeluarkan
nafas
•Istirahat untuk beberapa saat
•Ulangi tindakan diatas beberapa kali

II. Latihan Batuk/Batuk Efektif

1. Huff Coughing adalah tehnik mengontrol batuk yang dapat digunakan pada pasien
menderita penyakit paru-paru seperti COPD/PPOK, emphysema atau cystic fibrosis.
Huff Coughing
•Untuk menyiapkan paru-paru dan saluran nafas dari Tehnik Batuk huff, keluarkan semua
udara dari dalam paru-paru dan saluran nafas. Mulai dengan bernafas pelan. Ambil nafas
secara perlahan, akhiri dengan mengeluarkan nafas secar perlahan selama 3 – 4 detik.
•Tarik nafas secara diafragma, Lakukan secara pelan dan nyaman, jangan sampai
overventilasi paru-paru.
•Setelah menarik nafas secra perlahan, tahan nafas selama 3 detik, Ini untuk mengontrol
nafas dan mempersiapkan melakukan batuk huff secara efektif.
•Angkat dagu agak keatas, dan gunakan otot perut untuk melakukan pengeluaran nafas
cepat sebanyak 3 kali dengan saluran nafas dan mulut terbuka, keluarkan dengan bunyi
Ha,ha,ha atau huff, huff, huff. Tindakan ini membantu epligotis terbuka dan
mempermudah pengeluaran mucus.
•Kontrol nafas, kemudian ambil napas pelan 2 kali.
•Ulangi tehnik batuk diatas sampai mucus sampai ke belakang tenggorokkan
•Setelah itu batukkan dan keluarkan mucus/dahak

2. Postsurgical Deep Coughing


Step 1 :
•Duduk di sudut tempat tidur atau kursi, juga dpat berbaring terlentang dengan lutut agak
ditekukkan.
•Pegang/tahan bantal atau gulungan handuk terhadap luka operasi dengan kedua tangan
•Bernafaslah dengan normal

Step 2 :
•Bernafaslah dengan pelan dan dalam melalui hidung.
•Kemudian keluarkan nafas dengan penuh melalui mulut, Ulangi untuk yang kedua
kalinya.
•Untuk ketiga kalinya, Ambil nafas secara pelan dan dalam melalui hidung, Penuhi paru-
paru sampai terasa sepenuh mungkin.

Step 3 :
•Batukkan 2 – 3 kali secara berturut-turut. Usahakan untuk mengeluarkan udara dari paru-
paru semaksimalkanmungkinketikabatuk.
•Relaxdanbernafassepertibiasa

7
•Ulangi tindakan diatas seperti yang diarahkan.

Cara melatih batuk efektif :

Pasien dapat dilatih melakukan teknik batuk efektif dengan cara :


- Pasien condong ke depan dari posisi semifowler, jalinkan jari-jari tangan dan letakkan
melintang diatas incisi sebagai bebat ketika batuk.
- Kemudian pasien nafas dalam seperti cara nafas dalam (3-5 kali)
- Segera lakukan batuk spontan, pastikan rongga pernafasan terbuka dan tidak hanya
batuk dengan mengadalkan kekuatan tenggorokan saja karena bisa terjadi luka pada
tenggorokan.
Hal ini bisa menimbulkan ketidaknyamanan, namun tidak berbahaya terhadap incisi.
- Ulangi lagi sesuai kebutuhan.

Clapping

a. pengertian

suatu tindakan yang dilakukan oleh perawat guna untuk mengeluarkan sekresi dengan
cara menepuk nempuk dinding dada.

b. tujuan

mengeluarkan sekresi bronkus yang kental dan melekat dari bronkeolus ke bronkus
lalu ke trackea, hanya di lakukan di post terior selama 3 samapai 5 menit hati-hati pada
orang tua karena dpat mengalami osteophorosis.

c. persiapan

pasien :

1. jelaskan prosedur pada pasien dan partisipasi pasien


2. berikan posisi yang nyaman

alat :

1. seputum pot
2. tissue
3. underdog

d. langkah

1. dilakukan dengan membentuk mangkok pada telapak tngan dan dengan ringgan di
tepukan pada dinding dada dlam gerakan yang berirama di atas segmen paru yang
akan di alirkan

8
2. pergelangan tangan secara bergantian flexi dan extensi sehingga dada di pukul ataw
di tepuk dengan cara yang teidak menimbulkan nyeri

3. hati-hati dilakukan pada lansia karena peningkatan insiden osteophorosis dan resiko
fracture igga.

VIBRASI

A. pengertian

adalah teknik memberikan kompresi dan getaran manual pada dinding dada selama
pase ekhalasi pernapasan

B. tujuan

untuk meningkatkan verositas udara yang di ekpirasikan dari jalan napas yang
kecil, dengan demikian akan membebaskan mucus

C. persiapan

pasien :

1. jelaskan prosedur pada pasien dan partisipasi pasien


2. berikan posisi yang nyaman

alat :

1. seputum pot
2. tissue
3. underdug

D. langkah

1. pergelanagan tangan dan siku di jaga agar tetap kaku dan gerakan memvibrasi di
lakukan ole otot-otot bahu

2. setelah 3-4 kali vibrasi pasien didorong untuk batuk dengan menggunakan otot-otot
abdomen.

II.3 TINDAKAN SUCTIONING

A. Pengertian
Suctioning atau penghisapan merupakan tindakan untuk mempertahankan jalan nafas
sehingga memungkinkan terjadinya proses pertukaran gas yang adekuat dengan cara
mengeluarkan secret pada klien yang tidak mampu mengeluarkannya sendiri.
( Ignativicius, 1999 ).

B. Indikasi
9
Indikasi dilakukannya penghisapan adalah adanya atau banyaknya secret yang
menyumbat jalan nafas, ditandai dengan :
· Terdengar adanya suara pada jalan nafas
· Hasil auskultasi : ditemukan suara crackels atau ronkhi
· Kelelahan
· Nadi dan laju pernafasan meningkat
· Ditemukannya mukus pada alat Bantu nafas
· Permintaan dari klien sendiri untuk disuction
· Meningkanya peak airway pressure pada mesin ventilator

C. Persiapan
Hudak ( 1997 ) menyatakan persiapan alat secara umum untuk tindakan penghisapan
adalah sebagai berikut ;
a. Kateter suction steril
b. Sarung tangan
c. Tempat steril untuk irigasi
d. Spuit berisi cairan NaCl steril untuk irigasi trachea jika diindikasikan

D. Langkah - langkah
( Ignativicius, 1999 ) langkah-langkah dalam melakukan tindakan penghisapan adalah
sebagai berikut :
1. Kaji adanya kebutuhan untuk dilakukannya tindakan penghisapan.
( usahakan tidak rutin melakukan penghisapan karena menyebabkan kerusakan
mukosa, perdarahan, dan bronkospasme ).
2. Lakukan cuci tangan, gunakan alat pelindung diri dari kemungkinan
terjadinya penularan penyakit melalui secret.
3. Jelaskan kepada pasien mengenai sensasi yang akan dirasakan selama
penghisapan seperti nafas pendek, , batuk, dan rasa tidak nyaman.
4. Check mesin penghisap, siapkan tekanan mesin suction pada level
80 – 120 mmHg untuk menghindari hipoksia dan trauma mukosa
5. Siapkan tempat yang steril
6. Lakukan preoksigenasi dengan O2 100% selama 30 detik sampai 3 menit
untuk mencegah terjadinya hipoksemia.
7. Secara cepat dan gentle masukkan kateter, jangan lakukan suction saat
kateter sedang dimasukkan
8. Tarik kateter 1-2 cm, dan mulai lakukan suction. Lakukan suction secara
intermitten , tarik kateter sambil menghisap dengan cara memutar. Jangan
pernah melakukan suction lebih dari 10 – 15 “.
9. Hiperoksigenasi selama 1-5 menit atau bila nadi dan SaO2 pasien normal.
10. Ulangi prosedur bila diperlukan ( maksimal 3 x suction dalam 1 waktu )
11. Tindakan suction pada mulut boleh dilakukan jika diperlukan, lakukan
juga mouth care setelah tindakan suction pada mulut.
12. Catat tindakan dalan dokumentasi keperawatan mengenai karakteristik
Sputum (jumlah, warna, konsistensi, bau, adanya darah ) dan respon
Pasien.
10
II.4 METODE PEMBERIAN O2

A. Pengertian
Yaitu memasukan oksigen tambahan dari luar keparu melalui saluran pernapasan
dengan menggunakan alat sesuai kebutuhan.

B. Indikasi
1. Pasien hipoksia
2. Oksigenasasi kurang sedangkan paru normal.
3. Oksigenasasi cukup sedangkan paru tidak normal.
4. Oksigenasasi cukup, paru normal, sedangkan sirkulasi tidak normal
5. Pasien yang membutuhkan pemberian oksigen dengan konsentrasi tinggi
6. Pasien dengan tekanan partial karbondioksida rendah.

C. Persiapan
Pasien
1. Jelaskan prosedur pada pasien
2. Berikan posisi yang nyaman pada pasien

Alat
1. Selang kateter yang akan dipakai.
2. Jelly
3. Sumber oksigen dengan humidifier ( oksigen transfer )
4. Flowmeter oksigen.
5. Aqua steril atau NaCl
6. Handscoon steril

D. Langkah – langkah
1. Cuci tangan sebelum dan sesudah malakukan tindakan
2. Membebaskan jalan napas dengan mengisap sekresi.
3. Atur posisi klien dengan kepala ekstensi
4. Untuk memperkirakan dalam kateter, ukur jarak antara lubang hidung sampai
keujung telinga.
5. Membuka regulator untuk menentukan tekanan oksigen sesuai dengan
kebutuhan.
6. Mengatur volume oksign sesuai dengan kebutuhan.

Metode pemberian O2 dapat dibagi atas 2 tehnik, yaitu :

1. Sistem aliran rendah


Contoh system aliran rendah ini adalah :
(1) kateter nasal,
(2) kanula nasal,
(3) sungkup muka sederhana,
(4) sungkup muka dengan kantong rebreathing,

11
(5) sungkup muka dengan kantong non rebreathing.

Keuntungan dan kerugian dari masing-masing system :


a. Kateter nasal
Merupakan suatu alat sederhana yang dapat memberikan O2 secara kontinu dengan
aliran 1 – 6 L/mnt dengan konsentrasi 24% - 44%.
- Keuntungan
Pemberian O2 stabil, klien bebas bergerak, makan dan berbicara, murah dan nyaman
serta dapat juga dipakai sebagai kateter penghisap.
- Kerugian
Tidak dapat memberikan konsentrasi O2 yang lebih dari 45%, tehnik memasuk
kateter nasal lebih sulit dari pada kanula nasal, dapat terjadi distensi lambung, dapat
terjadi iritasi selaput lendir nasofaring, aliran dengan lebih dari 6 L/mnt dapat
menyebabkan nyeri sinus dan mengeringkan mukosa hidung, kateter mudah tersumbat.

b. Kanula nasal
Merupakan suatu alat sederhana yang dapat memberikan O2 kontinu dengan aliran 1
– 6 L/mnt dengan konsentrasi O2 sama dengan kateter nasal.
Digunakan ketika pasien membutuhkan kosentrasi O2 aliran rendah sampai sedang.
- Keuntungan
Pemberian O2 stabil dengan volume tidal dan laju pernafasan teratur, mudah
memasukkan kanul disbanding kateter, klien bebas makan, bergerak, berbicara, lebih
mudah ditolerir klien dan nyaman.
- Kerugian
Tidak dapat memberikan konsentrasi O2 lebih dari 44%, suplai O2 berkurang bila
klien bernafas lewat mulut, mudah lepas karena kedalam kanul hanya 1 cm, mengiritasi
selaput lendir.

c. Sungkup muka sederhana


Merupakan alat pemberian O2 kontinu atau selang seling 5 – 8 L/mnt dengan
konsentrasi O2 40 – 60%.
- Keuntungan
Konsentrasi O2 yang diberikan lebih tinggi dari kateter atau kanula nasal, system
humidifikasi dapat ditingkatkan melalui pemilihan sungkup berlobang besar, dapat
digunakan dalam pemberian terapi aerosol.
- Kerugian
Tidak dapat memberikan konsentrasi O2 kurang dari 40%, dapat menyebabkan
penumpukan CO2 jika aliran rendah.

d. Sungkup muka dengan kantong rebreathing :


Suatu thenikik pemberian O2 dengan konsentrasi tinggi yaitu 60 – 80% dengan aliran
8 – 12 L/mnt
- Keuntungan
Konsentrasi O2 lebih tinggi dari sungkup muka sederhana, tidak mengeringkan
selaput lendir
- Kerugian

12
Tidak dapat memberikan O2 konsentrasi rendah, jika aliran lebih rendah dapat
menyebabkan penumpukan CO2, kantong O2 bisa terlipat.

e. Sungkup muka dengan kantong non rebreathing


Merupakan tehnik pemberian O2 dengan Konsentrasi O2 mencapai 99% dengan
aliran 8 – 12 L/mnt dimana udara inspirasi tidak bercampur dengan udara ekspirasi
- Keuntungan :
Konsentrasi O2 yang diperoleh dapat mencapi 100%, tidak mengeringkan selaput lendir.
- Kerugian : Kantong O2 bisa terlipat.

2. Sistem aliran tinggi


Suatu tehnik pemberian O2 dimana FiO2 lebih stabil dan tidak dipengaruhi oleh tipe
pernafasan, sehingga dengan tehnik ini dapat menambahkan konsentrasi O2 yang lebih
tepat dan teratur.
Adapun contoh tehnik system aliran tinggi yaitu sungkup muka dengan ventury.
Prinsip pemberian O2 dengan alat ini yaitu gas yang dialirkan dari tabung akan menuju ke
sungkup yang kemudian akan dihimpit untuk mengatur suplai O2 sehingga tercipta tekanan
negatif, akibatnya udara luar dapat diisap dan aliran udara yang dihasilkan lebih banyak.
Aliran udara pada alat ini sekitas 4 – 14 L/mnt dengan konsentrasi 30 – 55%.
- Keuntungan
Konsentrasi O2 yang diberikan konstan sesuai dengan petunjuk pada alat dan tidak
dipengaruhi perubahan pola nafas terhadap FiO2, suhu dan kelembaban gas dapat dikontrl
serta tidak terjadi penumpukan CO2
- Kerugian
Kerugian system ini pada umumnya hampir sama dengan sungkup muka yang lain pada
aliran rendah.

BAHAYA BAHAYA PEMBERIAN OKSIGEN

Pemberian O2 bukan hanya memberiakan efek terapi tetapi juga dapat menimbulkan
efek merugikan, antara lain :

1. Kebakaran
O2 bukan zat pembakar tetapi O2 dapat memudahkan terjadinya kebakaran, oleh
karena itu klein dengan terapi pemberian O2 harus menghindari :
Merokok, membuka alat listrik dalam area sumber O2, menghindari penggunaan listrik
tanpa “Ground”.

2. Depresi Ventilasi
Pemberian O2 yang tidak dimonitor dengan konsentrasi dan aliran yang tepat pada
klien dengan retensi CO2 dapat menekan ventilasi

3. Keracunan O2

13
Dapat terjadi bila terapi O2 yang diberikan dengan konsentrasi tinggi dalam waktu
relatif lama. Keadaan ini dapat merusak struktur jaringan paru seperti atelektasi dan
kerusakan surfaktan. Akibatnya proses difusi di paru akan terganggu

II.5 WATER SEAL DRAINAGE (WSD)

A. Pengertian
WSD merupakan tindakan invasive yang dilakukan untuk mengeluarkan udara, cairan
(darah,pus) dari rongga pleura, rongga thorax; dan mediastinum dengan menggunakan pipa
penghubung.
B. Tujuan

C. Indikasi
a. Pneumothoraks :
- Spontan > Mengeluarkan cairan atau darah, udara dari rongga pleura dan rongga thorak
Mengembalikan tekanan negative pada rongga pleura
Mengembangkan kembali paru yang kolaps
Mencegah refluks drainage kembali ke dalam rongga dada
20% oleh karena rupture bleb
- Luka tusuk tembus
- Klem dada yang terlalu lama
- Kerusakan selang dada pada sistem drainase
b. Hemothoraks :
- Robekan pleura
- Kelebihan antikoagulan
- Pasca bedah thoraks
c. Thorakotomy :
- Lobektomy
- Pneumoktomy
d. Efusi pleura : Post operasi jantung
e. Emfiema :
- Penyakit paru serius
- Kondisi inflamsi

D. Persiapan
Pasien :
1. Jelaskan posedur pada pasien dan partisipasi pasien.
2. Berikan posisi yang nyaman.
Alat :
1. Pinset
2. Microfore
3. Kapas lidi
4. Betadine 10%
5. Nierbekken
6. Was bensin
7. Kom steril.
8. handscoon steril dan possible.
9. NaCl
10. Set WSD
E. Tempat Pemasangan WSD

14
a. Bagian apex paru (apical)
- anterolateral interkosta ke 1-2
- fungsi : untuk mengeluarkan udara dari rongga pleura
b. Bagian basal
- postero lateral interkosta ke 8-9
- fungsi : untuk mengeluarkan cairan (darah, pus) dari rongga pleura
F. Jenis-jenis WSD
a. WSD dengan sistem satu botol
- Sistem yang paling sederhana dan sering digunakan pada pasien simple
pneumothoraks
- Terdiri dari botol dengan penutup segel yang mempunyai 2 lubang selang yaitu 1
untuk ventilasi dan 1 lagi masuk ke dalam botol
- Air steril dimasukan ke dalam botol sampai ujung selang terendam 2cm untuk
mencegah masuknya udara ke dalam tabung yang menyebabkan kolaps paru
- Selang untuk ventilasi dalam botol dibiarkan terbuka untuk memfasilitasi udara dari
rongga pleura keluar
- Drainage tergantung dari mekanisme pernafasan dan gravitasi
- Undulasi pada selang cairan mengikuti irama pernafasan :
Inspirasi akan meningkat
Ekpirasi menurun

b. WSD dengan sistem 2 botol


- Digunakan 2 botol ; 1 botol mengumpulkan cairan drainage dan botol ke-2 botol
water seal
- Botol 1 dihubungkan dengan selang drainage yang awalnya kosong dan hampa
udara, selang pendek pada botol 1 dihubungkan dengan selang di botol 2 yang berisi
water seal
- Cairan drainase dari rongga pleura masuk ke botol 1 dan udara dari rongga pleura
masuk ke water seal botol 2
- Prinsip kerjasama dengan sistem 1 botol yaitu udara dan cairan mengalir dari rongga
pleura ke botol WSD dan udara dipompakan keluar melalui selang masuk ke WSD
- Biasanya digunakan untuk mengatasi hemothoraks, hemopneumothoraks, efusi
peural
c. WSD dengan sistem 3 botol
- Sama dengan sistem 2 botol, ditambah 1 botol untuk mengontrol jumlah hisapan
yang digunakan
- Paling aman untuk mengatur jumlah hisapan
- Yang terpenting adalah kedalaman selang di bawah air pada botol ke-3. Jumlah
hisapan tergantung pada kedalaman ujung selang yang tertanam dalam air botol WSD
- Drainage tergantung gravitasi dan jumlah hisapan yang ditambahkan
- Botol ke-3 mempunyai 3 selang :
Tube pendek diatas batas air dihubungkan dengan tube pada botol ke dua
Tube pendek lain dihubungkan dengan suction
Tube di tengah yang panjang sampai di batas permukaan air dan terbuka ke
atmosfer
G. Komplikasi Pemasangan WSD
a. Komplikasi primer : perdarahan, edema paru, tension pneumothoraks, atrial aritmia
b. Komplikasi sekunder : infeksi, emfiema

H. Prosedur pemasangan WSD


a. Pengkajian

15
- Memeriksa kembali instruksi dokter
- Mencek inform consent
- Mengkaji status pasien; TTV, status pernafasan
b. Persiapan pasien
- Siapkan pasien
- Memberi penjelasan kepada pasien mencakup :
Tujuan tindakan
Posisi tubuh saat tindakan dan selama terpasang WSD. Posisi klien dapat duduk
atau berbaring
Upaya-upaya untuk mengurangi rangsangan nyeri seperti nafas dalam, distraksi
Latihan rentang sendi (ROM) pada sendi bahu sisi yang terkena
c. Persiapan alat
Sistem drainage tertutup
Motor suction
Slang penghubung steril
pinset
 steril,nierbekken, kom steril, betadine oles, mikrofore, duk bolong, sarung
tangan steril dan dipossibel, spuit 10cc dan 50cc, kassa, NACl 0,9%, konektor, set
balutan, obat anestesi (lidokain, xylokain), masker
d. Pelaksanaan
Prosedur ini dilakukan oleh dokter. Perawat membantu agar prosedur dapat
dilaksanakan dengan baik , dan perawat member dukungan moril pada pasien
e. Tindakan setelah prosedur
Perhatikan undulasi pada sleng WSD
Bila undulasi tidak ada, berbagai kondisi dapat terjadi antara lain :
- Motor suction tidak berjalan
- Slang tersumbat
- Slang terlipat
- Paru-paru telah mengembang
Oleh karena itu, yakinkan apa yang menjadi penyebab, segera periksa kondisi sistem
drainage, amati tanda-tanda kesulitan bernafas
Cek ruang control suction untuk mengetahui jumlah cairan yang keluar
Cek batas cairan dari botol WSD, pertahankan dan tentukan batas yang telah
ditetapkan serta pastikan ujung pipa berada 2cm di bawah air
Catat jumlah cairan yg keluar dari botol WSD tiap jam untuk mengetahui jumlah
cairan yg keluar
Observasi pernafasan, nadi setiap 15 menit pada 1 jam pertama
Perhatikan balutan pada insisi, apakah ada perdarahan
Anjurkan pasien memilih posisi yg nyaman dengan memperhatikan jangan sampai
slang terlipat
Anjurkan pasien untuk memegang slang apabila akan merubah posisi
Beri tanda pada batas cairan setiap hari, catat tanggal dan waktu
G  anti botol WSD setiap 3 hari dan bila sudah penuh. Catat jumlah cairan yang
dibuang
Lakukan pemijatan pada slang untuk melancarkan aliran
Observasi dengan ketat tanda-tanda kesulitan bernafas, sianosis, emphysema
subkutan
Anjurkan pasien untuk menarik nafas dalam dan bimbing cara batuk efektif
Botol WSD harus selalu lebih rendah dari tubuh
Yakinkan bahwa selang tidak kaku dan menggantung di atas WSD
Latih dan anjurkan klien untuk secara rutin 2-3 kali sehari melakukan latihan gerak
pada persendian bahu daerah pemasangan WSD

16
J. Perawatan pada klien yang menggunakan WSD
a. Kaji adanya distress pernafasan & nyeri dada, bunyi nafas di daerah paru yg terkena &
TTV stabil
b. Observasi adanya distress pernafasan
c. Observasi :
- Pembalut selang dada
- Observasi selang untuk melihat adanya lekukan, lekukan yang menggantung, bekuan
darah
- Sistem drainage dada
- Segel air untuk melihat fluktuasi inspirasi dan ekspirasi klien
- Gelembung udara di botol air bersegel atau ruang
- Tipe & jumlah drainase cairan. Catat warna & jumlah drainase, TTV & warna kulit
- Gelembung udara dalam ruang pengontrol penghisapan ketika penghisap digunakan
d. Posisikan klien :
- Semi fowler sampai fowler tinggi untuk mengeluarkan udara (pneumothorak)
- Posisi fowler untuk mengeluarkan cairan (hemothorak)
e. Pertahankan hubungan selang antara dada dan selang drainase utuh dan menyatu
f. Gulung selang yang berlebih pada matras di sebelah klien. Rekatkan dengan plester
g. Sesuaikan selang supaya menggantung pada garis lurus dari puncak matras sampai ruang
drainase. Jika selang dada mengeluarkan cairan, tetapkan waktu bahwa drainase
dimulai pada plester perekat botol drainase pada saat persiaan botol atau permukaan
tertulis sistem komersial yang sekali pakai
h. Urut selang jika ada obstruksi
i. Cuci tangan
j. Catat kepatenan selang, drainase, fluktuasi, TTV klien, kenyamanan klien

K. Cara mengganti botol WSD


a. Siapkan set yang baru
Botol berisi cairan aquadest ditambah desinfektan
b. Selang WSD di klem dulu
c. Ganti botol WSD dan lepas kembali klem
d. Amati undulasi dalam slang WSD

L. Pencabutan selang WSD


Indikasi pengangkatan WSD adalah bila :
a. Paru-paru sudah reekspansi yang ditandai dengan :
Tidak ada undulasi
Cairan yang keluar tidak ada
Tidak ada gelembung udara yang keluar
Kesulitan bernafas tidak ada
Dari rontgen foto tidak ada cairan atau udara
Dari pemeriksaan tidak ada cairan atau udara
b. Slang WSD tersumbat dan tidak dapat diatasi dengan spooling atau pengurutan pada slang

17
II.6 NEBULIZER

Pengertian
Adalah :
1. memberikan campuran zat aerosol dalam partikel udara dengan tekanan udara.
2. Alat yang menyemburkan medikasi atau agens pelambab, seperti agens
bronkodilator / mukolitik menjadi partikel mikroskopik dan mengirimkannya kedalam
paru – paru ketika pasien menghirup napas.
3. Alat yang bertenaga udara dengan cara komperjor melalui selang penghubung

Tujuan

18
 untuk memberikan obat melalui nafas spontan klien.

Persiapan
Alat dan obat :
1. motor nebulizer
2. aquades
3. obat-obatan yang diperlukan
4. Nacl
5. Tisu
6. Handscoon
7. Sputum pot

Lingkungan :
Bersih dan tenang
Petugas : 1 orang

D. Prosedur :
1. Monitor vital sign sebelum dan sesudah pengobatan khususnya pada klien yang
menggunakan bronkodilator.
2. Jelaskan prosedur pada klien.
3. Atur posisi klien senyaman mungkin paling sering dalam posisi semifowler, jaga
privasi.
4. Petugas mencuci tangan.
5. Nebulizes diisi obat (sesuai program pengobatan) dan cairan normal salin ± 4-6cc.
6. Hidupkan nebulizer kemudian hubungkan nebulizer dan selangnya ke flow meter
oksigen dan set aliran pada 4-5 liter/menit, atau ke kompresor udara.
7. Instruksikan klien untuk buang nafas.
8. Minta klien untuk mengambil nafas dalam melalui mouth piece, tahan nafas beberapa
saat kemudian buang nafas melalui hidung.
9. Observasi pengembangan paru / dada klien.
10. Minta klien untuk bernafas perlahan-lahan dan dalam setelah seluruh obat diuapkan.
11. Selesai tindakan, anjurkan klien untuk batuk setelah tarik nafas dalam beberapa kali
(teknik batuk efektif).
12. Klien dirapikan.
13. Alat dirapikan.
14. Petugas mencuci tangan.
15. Catat respon klien dan tindakan yang telah dilakukan.

II.7 TRAKEOSTOMI

A. Pengertian
1. Membuat stoma pada trakea
2. Operasi membuat jalan udara melalui leher langsung ketrakea untuk mengatasi
asfiksasi apabila ada gangguan pernapasan.
B. Indikasi
1. Membebaskan obstruksi jalan napas bagian atas.
2. Pengobatan terhadap penyakit yang mengakibatkan insufisiensi
respirasi.

19
3. Melindungi trakea serta cabang – cabangnya terhadap aspirasi dan
tertimbunnya discharge bronkus.
C. Tujuan
1. Untuk membuang sekresi trakeobronchial.
2. Untuk memungkinkan penggunaan ventilasi mekanis jangka panjang.
3. Untuk mencegah aspirasi sekresi oral atau lambung pada pasien tidak
sadar
4. untuk mengganti selang endotrackeal sebagai respirasi

D. Persiapan
1. Pasien
a. Jelaskan prosedur dan partisipasi klien
b. Bantu klien pada posisi nyaman untuk perawat dan klien
c. Letakkan handuk diatas klien
2. Alat
a. Hanscoon steril
b. Kom steril
c. Nierbekken
d. naCl
e. betadine 3%
f. kapas lidi steril
g. korentang
h. mikrofore
i. kassa
j. pinset steril

E. langkah – langkah

Langkah Rasional
1. inspeksi balutan trakeostomi • balutan trakeostomi diganti sesuai
terhadap kelembaban dan drainage dengan kebutuhan untuk mrnjaga kulit
kering dan tetap bersih.

20
2. cuci tangan Mengurangi mikroorganisme pada tangan
3. jelaskan prosedur pada pasien Agar pasien tidak gelisah dan takut
4. kenakan sarung tangan dan lepaskan Menghilangkan mikroorganisme yang sudah
balutan yang basah dan buang ada
5. siapkan peralatan steril dan hodroksigen Melangsungkan prosedur dengan lancer
pirosida, normal salin atau air steril
6. kenakan sarung tangan steril Meminimalkan transmisi mikroorganisme
pada saluran pernapasan yang steril.
7. bersihkan luka dan balutan lempeng Mencairkan sekresi yang kering dan
selang trakeostomi dengan aplikator steril pembilasan residu kulit
8. bersihkan dengan NaCl Agar bersih dari secret atau
lendirdisekitarnya
9. ganti balutan dengan kassa yang baru Untuk mencegah terjadinya tranmisi dari
yang sudah dibasahi dengan NaCl yang udara
tipis
10.lepaskan sarung tangan Agar tidak menyebar ketampat yang lain
11. cuci tangan Agar mikroorganisme tidak menyebar.

Lampiran

Tindakan Trekeostomi

21
Alat – alat pemberian oksigennasi

22
Pemberian nebulizer dengan melalui selang dan masker oksigen

BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN

23
Keterampilan kritis untuk tindakan keperawatan khususnya pada tindakan
gangguan system pernafasan perlu dipahami benar oleh para pembaca khususnya
para mahasiswa untuk lebih memahami dalam berbagai tindakan keperawatan
seperti tindakan postural drainage, tindakan clapping vibrasi dada; terapi oksigen;
nafas dalam;dan batuk efektif, tindakan suctioning, tindakan pemberian oksigen
tambahan dengan berbagai alat, tindakan perawatan luka WSD/CTT, nebulizer,
serta perawatan trachea canula.

B. SARAN

Penulis menginginkan agar para mahasiswa/pembaca dengan membaca


makalah ini dapat lebih memahami mengenai tindakan keperawatan yang harus
dimengerti dan dilakukan dalam keterampilan kritis pada gangguan system
pernafasan mulai dari memahami teorinya sampai dalam persiapan alat,pasien dan
langkah-langkah kerja yang harus dilakukan oleh para perawat dalam tindakan
keperawatan.

Daftar pustaka

24
Brunner,suddarth.1997.buku ajar keperawatan medical bedah edisi 8 vol.1. Jakarta:buku
kedoktern EGC.

Perry, potter.1995. buku saku ketrampilan dan prosedur dasar edisi 3. Jakarta:buku
kedokteran EGC.

Http//keperawatan- gun.blogspot.com/2007

25