Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH

MIKROBIOLOGI
ISOLASI & IDENTIFIKASI

DISUSUN OLEH :
RAHMAT BAYU NIAWAN (1311E2041)
PERI PRAMUDIA (1311E2043)
SELLYTHA TANARI (1311E2044)
CENDY SANTIA KS (1311E2045)
NOVITA ALEN FATMAWATI (1311E2046)

Program D3 Sekolah Tinggi Analis


Bakti Asih Bandung
2014/2015

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT disertai shalawat dan salam kepada
junjungan Nabi besar Muhamad SAW, yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga
penulis dapat menyelesaikan Makalah dengan judul IDENTIFIKASI & ISOLASI. Pada
kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada yang terhormat Ibu Iis Kurniawati,
S.Pd.,M.Kes selaku dosen mikrobiologi yang telah memberi arahan dalam penyusunan makalah
ini.
Penulis menyadari bahwa pembuatan Makalah ini jauh dari sempurna. Namun, semoga
dapat bermanfaat dan menjadi amal ibadah kita semua, Amiin.

Bandung, Januari 2015

Penulis

DAFTAR ISI

Halaman judul...................................................................................................

Kata Pengantar..................................................................................................

ii

Daftar Isi...........................................................................................................

iii

BAB.I Pendahuluan..........................................................................................

1.1 Latar Belakang.............................................................................


1.2 Tujuan..........................................................................................

1
2

BAB. II Tinjauan Pustaka.................................................................................

2.1 Prinsip isolasi mikroba.................................................................


2.2 Cara mengisolasi mikroba............................................................
2.3 Metode menanam biakan.............................................................
2.4 Teknik isolasi mikroba.
2.5 Tahap sebelum menanam bakteri.
2.6 Sifat sifat koloni........................................................................

3
4
5
22

BAB III. Metodologi Percobaan.......................................................................

26

3.1 Waktu dan tempat.........................................................................


3.2 Alat dan bahan..

26

3.2.1 Alat .
4

Bah

BAB IV Cara Kerja...........................................................................................

26

Daftar Pustaka...................................................................................................

27

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Flora mikroba di lingkungan mana saja pada umumnya terdapat dalam populasi
campuran. Boleh dikatakan amat jarang mikroba dijumpai sebagai satu spesies
mikroorganisme tunggal di alam. Untuk mencirikan atau mengidentifikasi suatu spesies
mikroorganisme tertentu, pertama spesies harus dapat dipisahkan dari organisme lain
yang umum dijumpai dalam habitatnya, lalu ditumbuhkan menjadi biakan murni, (biakan
murni adalah biakan yang sel-selnya berasal dari pembelahan satu sel tunggal). Sebab
dalam biakan murni semua metode mikrobiologi yang digunakan untuk menelaah dan
mengidentifikasi mikroorganisme, termaksud penelaahan ciri-ciri kultural, morfologis,
fisiologis maupun selogis. Memerlukan suatu populasi yang terdiri dari satu macam
mikroorganisme saja.
Teknik yang digunakan dan tipe medium yang dipilih tergantung dari sifat penelitian
yang pertama menumbuhkan sel spesies tertentu, yang mikroorganisme yang teramati
secara mikroskopik dan yang tambah dalam lingkungan alam yang terbukti sangat
sukar untuk tambah secara murni pada medium buatan. Pemeriksaan mikrobiologi
bahan-bahan alami tentu mengandung berbagai lingkungan mikro yang berbeda
masing-masing menyediakan tempat untuk spesies yang berbeda. Isolasi tipe tertentu
mikroorganisme, jika ditanam dengan tepat, akan menghasilkan tipe organisme yang
berbeda untuk tiap lingkungan mikro yang ada.
Oleh karena itu dalam mengisolasi galur murni perlu dilakukan secara bertingkat.
Tingkat pertama dilakukan secara manual dengan cara mengencerkannya. Tingkat
kedua digunakan media yang bersifat selektif yang masih satu golongan. Tingkat ketiga
dari koloni yang seolaholah sudah murni. Cara bertingkat tersebut adalah cara
konvensional yang sampai saat ini masih banyak dilakukan. Isolasi adalah dengan cara
menggoreskan, dan isolasi juga cara untuk memisahkan atau memindahkan mikroba
tertentu dari lingkungannya.
Pada praktikum Isolasi dan Identifikasi Dasar Mikroba ini dilakukan untukmemberikan
pemahaman kepada praktikan tentang hal yang berkaitan dengan isolasi pada mikroba
dan identifikasi dasar mikroba. Karena itu, yang melatarbelakangi
percobaan praktikum isolasi dan identifikasi dasar mikroba ialah untuk
memelihara sejumlah mikroorganisme yaitu bakteri dan jamur dari media yang ada atau
digunakan.

1.2 Tujuan

a. Mengetahui fungsi dari isolasi mikroba


b. Mengetahui teknik dasar dan metode dalam isolasi
c. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi isolasi mikroba

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Prinsip Isolasi Mikroba

Pada prinsipnya isolasi mikroba adalah memisahkan satu jenis mikroba dengan
mikroba lain yang berasal dari campuran bermacam-macam mikroba. Hal ini dapat
dilakukan dengan menumbuhkannya pada media padat, karena dalam media padat selsel mikroba akan membentuk suatu koloni sel yang tetap pada tempatnya
(Sandjaja, 1992).
Jika sel-sel tersebut tertangkap oleh media padat pada beberapa tempat yang terpisah,
maka setiap sel atau kumpulan sel yang hidup akan berkembang menjadi suatu koloni
yang terpisah, sehingga memudahkan pemisahan selanjutnya. Bila digunakan media
cair, sel-sel mikroba susah dipisahkan secara individu karena terlalu kecil dan tidak
tetap tinggal ditempatnya. Akan tetapi apabila sel-sel tersebut dipisahkan dengan cara
pengenceran, kemudian ditumbuhkan pada media padat dan dibiarkan membentuk
koloni, maka sel-sel tersebut selanjutnya dapat diisolasi dalam tabung-tabung reaksi
atau cawan petri yang terpisah.

2.2

Cara Mengisolasi Mikroba

Pemindahan bakteri dari medium lama ke medium yang baru atau dikenal dengan
istilah inokulasi bakteri ini memerlukan banyak ketelitian. Terlebih dahulu kita harus
mengusahakan agar semua alat-alat yang akan digunakan untuk pengerjaan medium
dan pengenceran inokulasi benar-benar steril. Hal ini untuk menghindari terjadinya
kontaminasi, yaitu masuknya mikroba lain yang tidak diinginkan sehingga biakan yang
tumbuh di dalam medium adalah benar-benar biakan murni.Isolasi mikroba dapat
dilakukan dengan beberapa cara, yaitu:
1. Pengenceran Cara ini pertama kali dilakukan oleh Lister pada tahun 1865. Ia
berhasil memelihara Streptococcus Laktis dalam piaraan murni yang diisolasi dalam
sempel susu yang sudah masam. Suatu sempel dari suatu suspensi yang berupa
campuran bermacam-macam spesies diencerkan dalam suatu tabung yang tersendiri.
Dari hasil pengenceran ini kemudian diambil kira-kira 1 ml untuk diencerkan lebih lanjut.
Jika dari pengenceran yang ketiga ini diambil 0,1 ml untuk disebarkan pada suatu

medium padat, kemungkinan besar akan didapatkan beberapa koloni yang akan
tumbuh dalam medium tersebut, akan tetapi mungkin juga hanya akan memperoleh
satu koloni saja. Dalam hal yang demikian ini dapat dijadikan piaraan murni. Jika belum
yakin, bahwa koloni tunggal yang diperoleh tersebut merupakan koloni yang murni,
maka dapat mengulang pengenceran dengan menggunakan koloni sebagai sampel.
2. Penuangan
Robert Koch (1843-1905) mempunyai metode lain, yaitu dengan mangambil sedikit
sampel campuran bakteri yang mudah diencerkan dan sampel ini kemudian disebarkan
di dalam suatu medium yang terbuat dari kaldu dan gelatin encer. Dengan demikian
akan diperoleh suatu piaraan adukan. Setelah medium tersebut mengental maka
selang beberapa jam kemudian nampaklah koloni-koloni yang masing-masing dapat
dianggap murni. Dengan mengulang pekerjaan di atas maka akhirnya akan diperoleh
piaraan murni yang lebih terjamin (Schiegel, 1996).

2.3

Metode Menanam Biakan

Ada beberapa metode yang biasanya dilakukan untuk menanam biakan di dalam
medium diantaranya adalah:
1. Metode Cawan Gores
Metode ini memiliki dua keuntungan yaitu menghemat bahan dan waktu, namun untuk
memperoleh hasil yang baik diperlukan keterampilan yang lumayan yang biasanya
diperoleh dari pegalaman. Metode cawan gores yang dilakukan dengan baik
kebanyakan akan menyebabkan terisolasinya mikroorganisme yang diinginkan. Dua
macam kesalahan yang umum dilakukan adalah tidak memanfaatkan permukaan
medium dengan sebaik-baiknya untuk digores sehingga pengenceran mikroorganisme
menjadi kurang larut dan cenderung untuk menggunakan inokolum terlalu banyak
sehingga menyulitkan pemisahan sel-sel yang digores.
2. Metode Cawan Tuang
Cara lain untuk memperoleh biakan koloni murni dari populasi campuran
mikroorganisme ialah dengan mengencerkan eksperimen dalam medium agar yang
telah dicairkan dan didinginkan yang kemudian dicawankan. Karena konsentrasi sel-sel
mikroba di dalam eksperimen pada umumnya tidak diketahui sebelumnya, maka
pengenceran perlu dilakukan beberapa tahap sehingga sekurang-kurangnya satu
diantara cawan-cawan tersebut mengandung koloni-koloni terpisah di atas permukaan
maupun di dalam agar. Metode ini memboroskan waktu dan bahan namun tidak
memerlukan keterampilan yang terlalu tinggi (Gandjar, 2006).

2.4

Teknik Isolasi Mikroba

Proses pemisahan/pemurnian dari mikroorganisme lain perlu dilakukan karena semua


pekerjaan mikrobiologi, misalnya telaah dan identifikasi mikroorganisme, memerlukan
suatu populasi yang hanya terdiri dari satu macam mikroorganisme saja.
Teknik tersebut dikenal dengan isolasi mikroba. Terdapat berbagai cara mengisolasi
mikroba, yaitu:
1. Isolasi Pada Cawan Agar
Prinsip metode isolasi pada agar cawan adalah mengencerkan mikroorganisme
sehingga diperoleh individu spesies yang dapat dipisahkan dari mikroorganisme lain.
Setiap koloni yang terpisah yang tampak pada cawan tersebut setelah inkubasi berasal
dari satu sel tunggal. Terdapat beberapa cara dalam metode isolasi pada cawan agar,
yaitu: metode gores kuadran dan metode agar cawan tuang. Metode gores kuadran bila
metode ini dilakukan dengan baik akan menghasilkan terisolasinya mikroorganisme
dimana setiap koloni berasal dari satu sel. Metode agar tuang berbeda dengan metode
gores kuadran, cawan tuang menggunakan medium agar yang dicairkan dan
didinginkan 50oC, yang kemudian dicawankan. Pengenceran tetap perlu dilakukan
sehingga pada cawan yang terakhir mengandung koloni-koloni yang terpisah di atas
permukaan/di dalam cawan.
2. Isolasi Pada Medium Cair
Metode ini dilakukan bila mikroorganisme tidak dapat tumbuh pada agar cawan
(medium padat), tetapi hanya dapat tumbuh pada kultur cair. Metode ini juga perlu
dilakukan pengenceran dengan beberapa serial pengenceran. Semakin tinggi
pengenceran, peluang untuk mendapatkan satu sel semakin besar.

3. Isolasi Sel Tunggal


Metode ini dilakukan untuk mengisolasi sel mikroorganisme berukuran besar yang tidak
dapat diisolasi dengan metode cawan atau medium cair. Sel mikroorganisme dilihat
dengan menggunakan perbesaran sekitar 100 kali. Kemudian sel tersebut dipisahkan
dengan menggunakan pipet kapiler yang sangat halus ataupun mikromanipulator yang
dilakukan secara aseptis.
Selain itu, cara lain yang dapat digunakan untuk mengisolasi mikroba adalah sebagai
berikut:
1. Metode Cawan Sebar (Spread Plate)
Teknik (cawan sebar) adalah suatu teknik di dalam menumbuhkan mikroorganisme
di dalam media agar dengan cara menuangkan stok kultur bakteri atau
menghapuskannya di atas media agar yang telah memadat, sedangkan pour
plate kultur dicampurkan ketika media masih cair (belum memadat). Kelebihan teknik ini

adalah mikroorganisme yang tumbuh dapat tersebar merata pada bagian permukaan
agar.
2. Teknik Dilusi
Tujuan dari teknik ini adalah melarutkan atau melepaskan mikroba dari substratnya ke
dalam air sehingga lebih mudah penanganannya. Sampel yang telah diambil kemudian
disuspensikan dalam akuades steril. Teknik dilusi sangat penting dalam analisa
mikrobiologi karena hampir semua metode penelitian dan perhitungan jumlah sel
mikroba menggunakan teknik ini, seperti TPC (Total Plate Counter). Oleh karena itu,
metode ini umum digunakan dalam isolasi bakteri (Sandjaja, 1992).

2.5

Tahap Sebelum Menanam Bakteri

Ada beberapa tahap yang harus dilakukan sebelum melakukan teknik penanaman
bakteri (inokulasi) yaitu :
1. Menyiapkan ruangan
Ruang tempat penanaman bakteri harus bersih dan keadannya harus steril agar tidak
terjadi kesalahan dalam pengamatan atau percobaaan. Dalam laboratorium
pembuataan serum vaksin dan sebagainya. Inokulasi dapat dilakukan dalam sebuah
kotak kaca (encast) udara yang lewat dalam kotak tersebut dilewatkan saringan melalui
suatu jalan agar terkena sinar ultraviolet.
2. Pemindahan dengan dengan pipet
Cara ini dilakukan dalam penyelidikan air minum atau pada penyelidikan untuk diambil
1 mL. Contoh yang akan diencerkan oleh air sebanyak 99 mL murni.
3. Pemindahan dengan kawat inokulasi
Ujung kawat inokulasi sebaliknya dari platina atau nikel ujungnya boleh lurus juga boleh
berupa kolongan yang diameternya 1-3 mm. Dalam melakukuan penanaman bakteri
kawat ini terlebih dahulu dipijarkan, sedangkan sisanya tungkai cukup dilewatkan nyala
api saja setelah dingin kembali kawat itu disentuhkan lagi dalam nyala api, karena pada
suhu yang tinggi bakteri atau mikroorganisme akan terdenaturasi dan alat menjadi steril
dari mikroba pengkontaminan.

2.6
Sifat-sifat Koloni
Sifat-sifat koloni yang tumbuh pada agar-agar lempengan, pada agar-agar miring dan
pada tusukan gelatin adalah sebagai berikut:
1. Sifat-sifat koloni pada agar-agar lempengan mengenai bentuk, permukaan dan
tepi. Bentuk koloni dilukiskan sebagai titik-titik, bulat berbenang, tak teratur, serupa
akar, serum kumparan. Permukaan koloni dapat datar, timbul mendatar, timbul
melengkung, timbul mencembung, timbul membukit dan timbul berkawah. Tepi koloni

ada yang utuh, ada yang berombak, ada yang berbelah-belah, ada yang bergerigi, ada
yang berbenang-benang dan ada yang keriting.
2. Sifat-sifat koloni pada agar-agar miring. Sifat ini berkisar pada bentuk dan tepi
koloni dan sifat itu dinyatakan dengan kata-kata seperti serupa pedang, serupa duri,
serupa tasbih, serupa titik-titik, serupa batang dan serupa akar.
3. Sifat koloni tusukan dalam gelatin. Ada bakteri yang dapat mengencerkan
gelatin. Karena itu, maka bentuk-bentuk koloninya juga berbeda-beda. Lagipula bentuk
koloni yang tidak dapat mengencerkan gelatin. Bila dilihat dari samping koloni yang
tidak mengencerkan gelatin dapat serupa pedang, tasbih, bertonjol-tonjol dan berjonjot.
Jika bakteri mampu mengencerkan gelatin, maka bentuk koloninya dapat serupa
kawah, serupa mangkuk, serupa corong, pundi-pundi dan berlapis. Hal tersebut bisa
diamati di sekitar gelatin.
Setelah mikroba ditumbuhkan pada media agar tabung maupun cawan dan setelah
inkubasi akan terlihat pertumbuhan bakteri dengan berbagai macam bentuk, ukuran,
sifat, dan berbagai ciri khas yang lain. Ciri-ciri ini akan mengarahkan ke sifat-sifat
mikroba tersebut pada media pertumbuhan, sehingga pengamatan morfologi ini sangat
penting untuk diperhatikan (Schiegel, 1996).

BAB III
CONTOH METODOLOGI PERCOBAAN ISOLASI DAN IDENTIFIKASI

3.1

Waktu dan Tempat

Praktikum tentang isolasi dan identifikasi yang dilaksanakan pada hari Kamis tanggal
18 April 2013 pada pukul 15.30 17.30 WITA di Laboratorium Rekayasa Lingkungan
Fakultas Teknik Universitas Mulawarman Samarinda. Kemudian pengamatan hasil
isolasi dan identifikasi dasar mikroba dilaksanakan pada tanggal 20 April 2013 dimulai
dari pukul 11.00 12.00 WITA di Laboratorium Rekayasa Lingkungan Fakultas Teknik
Universitas Mulawarman Samarinda.

3.2

Alat dan Bahan

3.2.1 Alat
1. Labu Erlenmeyer
2. Tabung Reaksi
3. Rak Tabung Reaksi
4. Magnetic stirrer
5. Hot Plate
6. Spatula
7. Neraca Analitik
8. Cawan Petri
9. Oven
10. Incubator
11. Batang Pengaduk
12. Pipet Tetes
13. Pipet Volume
14. Lampu Bunsen
15. Bulp
16. Pinset
17. Yellow tip
18. Sprayer
19. Mikro Pipet
20. Labu Ukur
21. Medical Sterilizer
3.2.2

Bahan

1. Potato Dextrose Agar (PDA)

2. Nutrient Agar (NA)


3. Larutan NaCl 0,9%
4. Ketombe
5. Kue Lapis Basi 1 gram
6. Air Bersih 1500 ml
7. Aquadest 1500 ml
8. Alumunium Foil
9. Tissue
10. Sabun Cuci Piring
11. Kertas Label

3.3
3.3.1

Cara Kerja
Pembuatan Biakan Bakteri Pada Media NA

1. Disterilkan tangan terlebih dahulu dengan menggunakan alcohol.


2. Ditimbang sampel berupa kue lapis basi sebanyak 1 gram.
3. Dimasukkan sampel ke dalam tabung reaksi 10-1 yang berisi larutan NaCl 0,9%.
4. Dikocok hingga bercampur.
5. Dipipet 1 ml larutan dari tabung reaksi 10 -1 ke tabung reaksi 10-2, kemudian
homogenkan.
6. Dipipet 1 ml larutan dari tabung reaksi 10 -2 ke tabung reaksi 10-3, kemudian
homogenkan.
7. Dipipet 1 ml larutan dari tabung 10-3 ke dalam cawan petri.
8. Ditambahkan 20 ml larutan NA, homogenkan dengan membentuk angka delapan,
dan beri label.
9. Diinkubasi dalam inkubator selama 24 jam dengan suhu 37 oC.

3.3.2

Pembuatan Biakan Jamur Pada Media PDA

1. Diambil media PDA yang sudah beku.


2. Ditotolkan ketombe pada cawan petri, dan beri label.
3. Diinkubasi dalam inkubator selama 48 jam dengan suhu 37 oC.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1

Hasil Pengamatan

Tabel Pengamatan Identifikasi Dasar Mikroba


No
Gambar
Identifikasi
.
1.
Media NA 10-3
Terdapat bakteri, hanya terdapat

kontaminan.
Keterangan gambar:
1. Cawan petri.
2. Kontaminan.

2.

Media PDA
Terdapat jamur, hanya terdapat
kontaminan.

Keterangan gambar:
1. Cawan petri.
2. Kontaminan.

4.2

Pembahasan

Isolasi mikroba adalah proses yang dilakukan bertujuan untuk memisahkan satu jenis
mikroba dengan mikroba lainnya yang terdapat di alam dan menumbuhkannya dalam
satu medium buatan, sehingga diperoleh kultur murni. Kultur murni ialah kultur yang selsel mikrobanya berasal dari pembelahan dari satu sel tunggal. Manfaat dilakukannya
isolasi adalah untuk mengidentifikasi mikroba, termasuk menelaah ciri-ciri kultural,
morfologis, fisiologis, maupun serologis, yang memerlukan suatu populasi yang terdiri
dari satu macam mikroorganisme saja. Prinsip isolasi mikroba adalah memisahkan satu
jenis mikroba dari mikroba lainnya yang berasal dari bermacam-macam spesies
mikroba
Pada percobaan pembuatan biakan dengan media PDA dilakukan isolasi dengan
cara cawan tuang (pour-plate method), pertama-tama disiapkan media PDA (Potato
Dextrose Agar) yang telah beku di dalam cawan petri. Kemudian diambil sampel
ketombe lalu ditotolkan pada cawan petri dan dimasukkan ke dalam inkubator pada
suhu 370C selama 48 jam. Selain itu, pada percobaan pembuatan biakan dengan media
NA dilakukan dengan cara pengenceran (dilution method), disiapkan 3 buah tabung
reaksi yang telah diisi NaCl 9 ml dan diberi label masing-masing 10 -1, 10-2 dan 10-3.
Suatu sampel yaitu kue lapis basi yang mengandung campuran bermacam-macam
spesies mikroba diambil gram kemudian diencerkan dalam tabung reaksi
10-1 dan dihomogenkan. Dari hasil pengenceran ini kemudian diambil 1 ml untuk
diencerkan lagi dalam tabung reaksi 10-2 lalu dihomogenkan. Hasil pengenceran diambil
kembali 1 ml dan dimasukkan dalam tabung reaksi 10 -3 dan dihomogenkan. Hasil
pengenceran kemudian diambil 1 ml lalu dimasukkan ke dalam cawan petri dan
ditambahkan 20 ml media NA (Nutrient Agar) dan dihomogenkan membentuk angka 8
lalu dimasukkan ke dalam inkubator pada suhu 37 0C selama 48 jam.
Faktor yang dapat mempengaruhi isolasi mikroba untuk dapat tumbuh antara lain
adalah:
1. Suhu
Suatu mikroorganisme tidak akan mampu bertahan pada suhu yang tinggi, karena
pada suhu yang terlalu tinggi protein dalam selnya akan mudah untuk terdenaturasi.
2. Kelembapan relatif
Dalam suatu kondisi lembap, terdapat mikroorganisme yang akan mudah hidup. Akan
tetapi, kelembapan harus disesuaikan dengan karakteristik mikroorganisme yang akan
ditumbuhkan.

3. Cahaya
Dalam suatu intensitas cahaya tertentu mikroorganisme tidak dapat tumbuh
karena, Pada intensitas cahaya yang lebih tinggi, mikroorganisme tidak akan mampu
mempertahankan diri dari sinar ultra violet
4. Radiasi
Seperti yang kita ketahui, jika makhluk hidup terkena radiasi, maka radiasi tersebut
akan berdampak pada struktur sel suatu makhluk hidup sehingga akan mengalami
kelainan. Hal tersebut juga berdampak pada bakteri atau mikroorganisme lainnya.
5. pH
Setiap mikroorganisme mempunyai pH yang spesifik, sehingga dalam
pertumbuhannya harus disesuaikan dengan pH yang dibutuhkannya.
Pengenceran pertama kali dilakukan oleh Lister pada tahun 1865. Ia berhasil
memelihara Streptococcus lactis dalam piaraan murni yang diisolasi dalam sampel susu
yang sudah masam. Suatu sampel dari suatu supensi yang berupa campuran
bermacam-macam spesies diencerkan dalam suatu tabung yang tersendiri. Dari hasil
pengenceran ini kemudian diambil kira-kira 1 mL untuk diencerkan lebih lanjut. Jika dari
pengenceran yang ketiga ini diambil 0,1 mL untuk disebarkan pada suatu medium
padat, kemungkinan besar akan didapatkan beberapa koloni yang akan tumbuh dalam
medium tersebut. Akan tetapi, mungkin juga hanya akan memperoleh satu koloni saja.
Dalam hal yang demikian ini dapat dijadikan piaraan murni. Jika belum yakin, bahwa
koloni tunggal yang diperoleh tersebut merupakan koloni yang murni, maka dapat
mengulang pengenceran dengan menggunakan koloni sebagai sampel. Yang
didasarkan pada prinsip pengenceran dengan maksud untuk memperoleh spesies
individu. Dengan anggapan bahwa setiap koloni dapat terpisah dari satu jenis sel yang
dapat diamati.
Fungsi perlakuan pada percobaan penanaman mikroba pada PDA yaitu, pengambilan
sampel dengan jarum ose yang telah dipanaskan di atas bunsen sampai membara
dengan tujuan mengindari kontaminasi pada alat. Kemudian sampel ditempelkan pada
cawan petri yang berisi PDA untuk dibiakkan. Selanjutnya dilakukan inkubasi dengan
suhu 37oC, karena paada suhu tersebut merupakan suhu optimal untuk pertumbuhan
mikroba. Fungsi perlakuan pada percobaan penanaman mikroba dengan NA yaitu,
pengambilan sampel dilakukan dengan alat yang steril dimaksudkan untuk menghindari
kontaminasi mikroba lain terhadap alat. Pemindahan bahan dari tabung reaksi 10 -1 ke
tabung reaksi 10-2 dan dari tabung reaksi 10-2 ke tabung 10-3 dilakukan di atas bunsen
dengan tujuan mencegah mikroba lain yang terbawa oleh udara untuk masuk ke tabung
yang berisi sampel. Selain itu, maksud dari pemindahan sampel secara berulang kali

tersebut yaitu agar diperoleh biakan murni mikroba. Selanjutnya dilakukan inkubasi
pada suhu 37oC karena pada suhu tersebut merupakan suhu optimal bagi pertumbuhan
mikroba.
Media NA (Nutrien Agar) adalah medium umum untuk uji air dan produk dairy. NA juga
digunakan untuk pertumbuhan mayoritas dari mikroorganisme yang tidak selektif, dalam
artian mikroorganisme heterotrof. Media ini merupakan media sederhana yang dibuat
dari beef extract, peptone, dan agar. NA merupakan salah satu media yang umum
digunakan dalam prosedur bakteriologi seperti uji biasa dari air, sewage, produk
pangan, untuk membawa stok kultur, untuk pertumbuhan sampel pada uji bakteri, dan
untuk mengisolasi organisme dalam kultur murni. Medium NA berfungsi untuk
membiakan berbagai macam mikroorganisme serta kultur bakteri. Media PDA (Potatos
Dexstose Agar) adalah merupakan media yang umum digunakan dalam kulturasi
bakteri. Media PDA terdapat macam zat nutrisi organik yang digunakan dalam media
biakan untuk menumbuhkan atau mengidentifikasi yeast dan kapang. Dalam suatu
sampel atau produk makanan. Media PDA mengandung sumber karbohidrat dalam
jumlah cukup yaitu terdiri dari 20% ekstrak kentang dan 2% glukosa sehingga baik
untuk pertumbuhan kapang dan khamir tetapi kurang baik untuk pertumbuhan bakteri.
Medium PDA berfungsi untuk menumbuhkan fungi jenis kapang. Penggunaan NaCl
0,9% dalam praktikum ini adalah sebagai sumber mineral mikroba yang mana
dibutuhkan untuk menjaga sel mikroba tetap dalam keadaan yang isotonis. Jika
hipotonis maka sel mikroba akan pecah.
Faktor kesalahan karena praktikan kurang hati-hati dan teliti pada percobaancontohnya
pada praktikum kali ini yaitu ketika kita melakukan teknik pengambilan yellow tip yaitu
ketika pada saat yellow tip terjatuh pada tabung sampel, hal tersebut
dapat menyebabkan kontaminasi pada bahan.
Pada praktikum isolasi dan identifikasi dasar mikroba yang telah dilakukan didapat hasil
adanya kontaminan pada media (Potato Dextrose Agar) PDA dan (Nutrient Agar) NA,
sehingga tidak menghasilkan jamur dan bakteri pada media tersebut. Adanya
kontaminan ini karena kurangnya sterilisasi yang dilakukan saat melaksanakan
prosedur isolasi, seperti saat mengambil larutan dengan menggunakan yellow tip dan
pipet volume. Yellow tip yang masuk ke dalam tabung reaksi saat mengambil larutan
dapat mengontaminasi larutan, sedangkan pipet volume yang tidak disterilkan juga
akan mengontaminasi larutan NA yang akan digunakan sebagai media. Juga pada saat
menghomogenkan media dengan menggunakan angka 8, karena tidak hati-hati
menyebabkan media tumpah dan terkontaminasi.

Berikut ini adalah gambar media PDA dengan jamur:

Gambar 4.1 Media PDA dengan jamur


Jamur yang terdapat pada gambar cawan petri di atas tumbuh pada media Potato
Dextrose Agar (PDA), jamur berwarna putih dengan ukuran kecil (small),
bentukfilamentous, elevasi convex, dan margin filamentous ini merupakan pembiakan
mikroba menggunakan bahan lain berupa jamur roti yang ditotolkan pada media PDA
beku dan dimasukkan ke dalam inkubator pada suhu 37 0C selama 48 jam

BAB V

PENUTUP
5.1

Kesimpulan

Dari praktikum yang telah dilakukan yaitu praktikum isolasi dan identifikasi dasar
mikroba yang telah dilakukan di laboratorium kita dapat membuat kesimpulan bahwa:
a. Fungsi dari isolasi mikroba yaitu untuk memisahkan satu jenis mikroba dengan
mikroba lainnya yang berasal dari campuran bermacam-macam mikroba.
b. Teknik dasar dalam isolasi yaitu: Metode tuang (Pour plate), Metode sebar
(Spread plate), Metode goresan (Streak plate), Metode pengenceran (Dilution
method), Mikromanipulator (tehmicromanipulator method).
c. Faktor yang dapat mempengaruhi isolasi mikroba yang dapat tumbuh antara lain
adalah:
1. Suhu
2. Kelembaban relatif
3. Cahaya
4. Radiasi
5. pH

5.2

Saran

Diharapkan pada praktikum selanjutnya dapat menggunakan sampel yang berbeda


seperti digunakan sampel air hujan, air rendaman beras atau air kamar mandi praktikan
masing-masing agar praktikan dapat mengetahui mikroba yang terdapatpada sampel
tersebut yang kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari.