Anda di halaman 1dari 55

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Menurut Thibaut dan Kelley (2005) Interaksi adalah suatu peristiwa saling
memengaruhi satu sama lain ketika dua orang atau lebih hadir bersama, yang
kemudian mereka menciptakan suatu hasil satu sama lain atau berkomunikasi
satu sama lain. Jadi, tindakan setiap orang bertujuan untuk memengaruhi
individu lain terjadi dalam setiap kasus interaksi.

Proses interaksi manusia

terjadi melalui komunikasi: verbal dan nonverbal, tertulis dan tidak tertulis,
terencana dan tidak terencana. Mereka harus memiliki keterampilan komunikasi
yang baik agar efektif dalam berinteraksi. Mereka harus menyadari kata-kata dan
bahasa tubuh yang mereka sampaikan pada orang lain. Ketika perawat
mengemban peran kepemimpinan, mereka harus menjadi efektif, baik dalam
ketrampilan komunikasi verbal maupun komunikasi nun verbal (Kathleen,2007).
Pada tahun 2007, data kunjungan pasien ke Instalasi Gawat Darurat
(IGD) di seluruh Indonesia mencapai 4.402.205 (13,3% dari total seluruh
kunjungan di RSU) dengan jumlah kunjungan 12% dari kunjungan IGD berasal
dari rujukan dengan jumlah Rumah Sakit Umum 1.033 Rumah Sakit Umum dari
1.319 Rumah Sakit yang ada. Jumlah yang signifikan ini kemudian memerlukan
perhatian yang cukup besar dengan pelayanan pasien gawat darurat (Keputusan
Menteri Kesehatan, 2009). Menurut (Liu dkk, 2012). Instalasi Gawat Darurat
sebagai gerbang utama penanganan kasus gawat darurat di rumah sakit
memegang

peranan

penting

dalam

upaya

penyelamatan

hidup

klien.

Penanganan pasien di IGD dilakukan dengan cepat dan tepat tergantung pada
zona apa pasien itu di tempatkan saat itu,pada saat pasien di lakukan tindakan
resusitasi trauma atau non trauma pasti akan ada proses interaksi antara
pasien,keluarga pasien dan perawat atau dengan tenaga kesehatan lainya untuk
melakukan tindakan intervensi. Menurut American jurnal 2001 menyatakan ada
beberapa institusi rumah sakit di USA yang tidak memperbolehkan keluarga
pasien ikut menemani saat pasien di lakukan tindakan resusitasi dengan alasan
keluarga pasien akan shock dengan tindakanya tapi beberapa rumah sakit di
USA juga memperbolehkan keluarga pasien ikut menemani pasien saat tindakan

karena menurut mereka dukungan keluarga saat di perlukaan untuk proses


kesembuhan pasien.
Pada jurnal yang berjudul Patient-Family-Nurse Interactions in the
Trauma-Resuscitation Room memaparkan beberapa metode melakukan
interaksi dengan keluarga dan pasien saat pasien di rawat di ruang resusitasi,
metode yang digunakan adalah dengan melihat tingkat keparahan, kesadaran
dan risiko pasien saat di lakukanya perawatan atau intervensi.
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana prosedur interaksi antara perawat,

pasien, dan keluarga

pasien di Instalasi Gawat Darurat RSUD Dr.Iskak Tulungagung ?


1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Mendiskripsikan cara berinteraksi antara perawat dengan pasien
dan keluarga pasien Instalasi Gawat Darurat RSUD

Dr.Iskak

Tulungagung?
2.3.1 Tujuan Khusus
1) Mengidentifikasi prosedur interaksi antara perawat dengan pasien
dan

keluarga pasien di Instalasi Gawat Darurat RSUD Dr Iskak

Tulungagung
2) Mengidentifikasi prosedur interaksi antara perawat dengan pasien
dan keluarga pasien berdasarkan kritisi jurnal
3) Membandingkan prosedur interaksi antara perawat dengan pasien
dan

keluarga pasien di Instalasi Gawat Darurat RSUD Dr Iskak

Tulungagung dan di dalam jurnal


1.4 Manfaat
Sebagai

dasar

informasi

dan

evidence

based

practice

untuk

meningkatkan kualitas pelayanan pada pasien dan keluarga di Instalasi Gawat


Darurat RSUD Dr Iskak Tulungagung. Selain itu dapat dijadikan dasar
membangun kualitas program rumah sakit, sebagai indikator meningkatkan

performance, sebagai proses yang berkelanjutan dalam menentukan tujuan


yang pada akhirnya berdampak pada kualitas pelayanan tertinggi rumah sakit.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1. DEFINISI KOMUNIKASI
Komunikasi merupakan suatu proses sosial yang sangat mendasar dan
vital dalam

kehidupan manusia.

Dikatakan mendasar

karena setiap

masyarakat manusia, baik yang primitif maupun yang modern, berkeinginan


mempertahankan suatu persetujuan mengenai berbagai aturan sosial melalui
komunikasi. Dikatakan vital karena setiap individu memiliki kemampuan untuk
berkomunikasi dengan individu individu lainnya sehingga meningkatkan
kesempatan individu itu untuk tetap hidup (Rakhmat, 2001).
Kata komunikasi atau communication dalam bahasa Inggris berasl dari
bahasa Latin communis yang berarti sama, communico, communicatio, atau
communicare yang berarti membuat sama (to make common). Istilah
pertama (communis) adalah istilah yang paling sering sebagai asal usul
komunikasi, yang merupakan akar dari kata-kata Latin lainnya yang mirip.
Komunikasi menyarankan bahwa suatu pikiran, suatu makna, atau suatu
pesan dianut secara sama (Mulyana, 2005 : 4).
Secara paradigmatis, komunikasi adalah proses penyampaian suatu
pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberi tahu atau mengubah
sikap, pendapat, atau perilaku, baik langsung secara lisan maupun tal
langsung melalui media (Effendy, 2006 : 5).
Pengertian komunikasi menurut Berelson dan Starainer dalam Fisher
adalah penyampaian informasi, ide, emosi, keterampilan, dan seterusnya
melalui penggunaan simbol kata, angka, grafik dan lain-lain.
Menurut Galvin dan Brommel, komunikasi keluarga adalah sebuah
symbol proses transaksi dalam membuat dan membagikan arti dari keluarga
tersebut dimana setiap anggota keluarga mempunyai pola dan cara yang unik
dalam berkomunikasi.
Jelas dan fungsionalnya sebuha komunikasi dalam keluarga menjadi
sebuah sarana untuk mempertahankan pengasuhan di lingkungan yang
didasarkan pada perasaan yang mengarah pada rasa rendah diri dan
penghargaan diri. Buruknya komunikasi dalam keluarga merupakan sebab

utama terjadinya ketidakpercayaan yang akan memperusak fungsi keluarga


tersebut.
Komunikasi dalam interaksi keluarga penyampai pesan dapat ayah, ibu,
orang tua, anak, suami, isteri, mertua, kakek, nenek. Begitupun sebagai
penerima

pesan.

Pesan

yang

disampaikan

dapat

berupa

informasi,

nasihat,petunjuk, pengarahan, meminta bantuan Komunikasi yang terjadi


dalam keluarga merupakan komunikasi yang unik. Komunikasi yang terjadi
dalam keluarga melibatkan paling sedikit dua orang yang mempunyai sifat ,
nilai-nilai, pendapat, sikap, pikiran dan perilaku yang khas dan berbeda-beda.
Relasi orang tua dan anak dipengaruhi dan ditentukan oleh sikap orang
tua.Sikap yang berhubungan dengan afeksi dan dominasi; ada orang tua yang
mendominasi, yang memanjakan, acuh tak acuk dan oang tua akrab, terbuka,
bersahabat .Sikap orang tua yang berhubungan dengan ambisi dan minat
yaitu sikapp orang tua yang mengutamakan sukses sosial, milik keduniswian,
suasana keagamaan dan nilai-nilai artistic.Perbedaan struktur sosial dapat
menyebabkan perbedaan relasi antara orang tua dan anak.
1.

Masyarakat industri modern : anak sering kurang melakukan relasi


dengan orang tuanya sehingga koordinasi relasi lemah.

2.

Masyarakat pertanian : terdapat relasi yang dekat dengan tetangga dekat

3.

Masyarakat yang mengenal pemisahan orang dewasa dan anak : banyak


menimbulkan prasangka

4.

Kehidupan di rumah sewaan (di kota besar) dan rumah sederhana (di
desa) : Proses hidup dan kehidupan terbuka

1.1 ELEMEN KOMUNIKASI


1. Sumber
Semua peristiwa komunikasi akan melibatkan sumber sebagai
pembuat atau pengirim informasi. Dalam komunikasi antarmanusia,
sumber bisa terdiri dari satu orang, tetapi bisa juga dalam bentuk
kelompok misalnya partai, organisasi atau lmbaga. Sumber sering
disebut pengirim, komunikastor atau dalam bahasa Inggrisnya disebut
source, sender atau encode.

2. Pesan
Pesan yang dimaksud dalam proses komunikasi adalah sesuatu yang
disampaikan pengirim kepada penerima. Pesan dapat disampaikan dengan
cara tatap muka atau melalui media komunikasi. Isinya bisa berupa ilmu
pengetahuan, hiburan, informasi, nasihat atau propaganda. Dalam bahasa
Inggris pesan biasanya diterjemahkan dengan kata message, content atau
information.
3. Media
Media yang dimaksud di sini adalah alat yang digunakan untuk
memindahkan pesan dari sumber kepada penerima. Terdapat beberapa
pendapat mengenai saluran atau media. Ada yang menilai bahwa media
bisa

bermacam-macam

bentuknya,

misalnya

dalam

komunikasi

antarpribadi pancaindera dianggap sebagai media komunikasi.


4.

Penerima
Penerima adalah pihak yang menjadi sasaran pesan yang dikirim
oleh sumber. Penerima bisa saja satu orang atau lebih, bisa dalam bentuk
kelompok, partai atau negara. Penerima biasa disebut dengan berbagai
macam istilah, seperti khalayak, sasaran, komunikan, atau dalam bahasa
Inggrisnya disebut audience atau receiver. Dalam proses komunikasi telah
dipahami bahwa keberadaan penerima adalah akibat karena adanya
sumber. Tidak ada penerima jika tidak ada sumber. Penerima adalah
elemen penting dalam proses komunikasi, karena dialah yang menjadi
sasaran dari komunikasi.

5. Interaksi

Interaksi merupakan bingkai dalam pengiriman dan penerimaan


suatu pesan, termasuk di dalam nya respon dari penerima dan pengirim.
Interaksi dapat menjadi dimanis, dimana merubah proses komunikasi antar
individu.
6. Efek
Pengaruh atau efek adalah perbedaan antara apa yang dipikirkan,
dirasakan, dan dilakukan oleh penerima sebelum dan sesudah menerima
pesan. Pengaruh ini bisa terjadi pada pengetahuan, sikap dan tingkah laku
seseorang,

karena

pengaruh

juga

bisa

diartikan

perubahan

atau

penguatankeyakinan pada pengetahuan, sikap dan tindakan seseorang


sebagai akibat penerimaan pesan.
7. Umpan balik
Ada yang beranggapan bahwa umpan balik sebenarnya adalah
salah satu bentuk daripada pengaruh yang berasal dari penerima. Akan
tetapi sebenarnya umpan balik bisa juga berasal dari unsur lain seperti
pesan dan media, meski pesan belum sampai pada penerima. Misalnya
sebuah konsep surat yang memerlukan perubahan sebelum dikirim, atau
alat yang digunakan untuk menyampaikan pesan ittu mengalami gangguan
sebelum sampai ke tujuan. Hal-al seperti ini menjadi tanggapan balik yang
diterima oleh sumber.
8. Lingkungan
Lingkungan atau situasi adalah faktor-faktor tertentu yang dapat
mempengaruhi jalannya komunikasi. Faktor ini dapat digolongkan atas
empat

macam,

yakni

lingkungan

fisik,

lingkungan

sosial

budaya,

lingkungan psikologis, dan dimensi waktu.


1.2 PRINSIP-PRINSIP KOMUNIKASI
a.

Semua perilaku adalah komunikasi. Dalam berbagai situasi, baik dua


orag atau lebih, individu bisa atau tidak menggunakan komunikasi verbal,
akan tetapi tidak dapat luput dari komunikasi nonverbal termasuk
didalamnya seperti gaya tubuh dalam mengekpresikan sesuatu.

b.

Bahwa komunikasi mempunyai dua tingkat yaitu informasi (isi) dan


perintah (intruksi). Isi yaitu apa yang sebenarnya sedang dikatakan
(bahasa verbal). Sedangkan intruksi adalah menyampaikan maksud dari

pesan (Goldenberg, 2000). Isi suatu pesan dapat saja berupa pernyataan
sederhana, tetapi mempunyai meta pesan atau intruksi bergantung
pada variable seperti emosi dan alur bicara, gerakan dan posisi tubuh
serta nada suara.
c.

Berhubungan dengan pemberian tanda baca (pungtuasi) (Watzlawick et


al., 1967) atau rangkaian komunikasi (Bateson, 1979). Komunikasi
melibatkan transaksi, dan dalam pertukaran tiap respon berisi komunikasi
berikutnya, selain riwayat hubungan sebelumnya (Hartman & Laird,
1983).

d.

Komunikasi diuraikan oleh Watzlick dan rekannya (1979) terdapat dua


tipe komunikasi yaitu, digital dan analogik. Komunikasi digital adlah
komunikasi verbal (bahasa isyarat) yang pada dasarnya menggunakan
kata dengan pemahaman arti yang sama. Sedangkan komunikasi
analaogik yaitu idea tau suatu hal yang dikomunikasikan, dikirim secara
nonverbal dan sikap yang representative (Hartman & Laird, 1983).
Komunikasi analogik dikenal sebagai bahasa tubuh , ekspresi tubuh,
ekspresi wajah, irama dan nada kata yang diucapkan (isyarat) berbagai
manifestasi non verbal lainnya (non bahasa) yang dapat dilakukan oleh
seseorang (Watzlick et al, hal 62).

e.

Diuraikan oleh kelompok yang sama dari beberapa ahli teori komunikasi
keluarga (Watzlick, Beavin, & Jackson, 1967) yang disebut prinsip
redundasi (kemubadziran). Prinsip ini merupakan dasar pengembangan
penelitian keluarga yang menggunakan keterbatasan pengamatan
interaksi keluarga sehingga dapat memberikan penghayatan yang valid
kedalam pola umum komunikasi

f.

Semua interaksi komunikasi yang simetris atau komplementer. Pola


komunikasi simetris adalah perilaku pelaku bercermin pada perilaku
pelaku interkasi yang lainnya. Sedangkan komukasi komplementer
adalah perilaku seorang pelaku interaksi melengkapi perilaku pelaku
interkasi lainnya. Jika satu dari dua tipe komunikasi tersebut digunakan
secara konsisten dalam hubungan keluarga, tipe komunikasi ini
mencerminkan nilai dan peran serta anggota keluarga dan pengaturan
kekuasaan keluarga (Batson, dkk., 1963).

1.3 SALURAN KOMUNIKASI

Saluran informasi adalah rute atau cara informasi sampai kepada


penerima.

Dalam

jaringan

komunikasi

menggunakan

saluran

dalam

menyampaikan pesan kepada orang lain . Saluran informasi dapat bervariasi


tergantung setting hubungan tiap orang.
Seseorang menggunakan saluran tertentu, sebagai saluran sementara
atau sewaktu-waktu dalam interaksi dengan orang lain. Kadang-kadang
saluran ini dikembangkan sebagai hal yang menetap dan berakar bersama
perkembangan pribadinya.Saluran mana yang digunakan , tergantung pada
pengalaman belajar sebelumnya dan tergantung pada intensitas ancaman
yang diperoleh dan dirasakannya serta kecemasan yang menyertai
tanggapan akan ancaman itu.
Saluran komunikasi tersebut meliputi :
1. Konsonan : adalah komunikasi dimana perasaan dan perilaku dinyatakan
seiring dan searti dengan pesan yang diberikan . Orang yang
menggunakan saluran ini adalah orang yang merasa aman untuk
mengatakan apa saja yang ada dalam benaknya.
2. Celaan : reaksi yang biasa dilakukan oleh orang yang merasa dirinya selalu
terancam, dalam bentuk menggerutu, kritik yang berlebihan atau bersikap
kasar. Orang pencela ini biasanya menderita harga diri rendah, dan
berusaha meningkatkannya dengan mencela atau mencemoohkan orang
lain.
3. Kepatuhan : Orang yang patuh biasanya cenderung untuk menyalahkan
dirinya sendiri apabila terjadi sesuatu yang menimpa diriya atau
keluarganya .Biasanya anggota keluarga lain mempergunakan saluran
komunikasi celaan terhadap anggota keluarga yang seperti ini.
4. Intelektualisasi : Saluran ini memusatkan memusatkan interaksi pada
kemampuan

rasional,

kemampuan

mental

dan

kemampuan

intelektual.Dalam perilakunya orang semacam ini menampilkan diri sebagai


orang tanpa perasaan. Orang semacam ini melakukan tindakan tidak
sesuai dengan perasaannya, atau ia dalam konflik antara pikiran dan
perasaannya.
5. Acuh tak acuh : Saluran ini merupakan saluran tidak sehat, yang
bersumber pada ketakutan, kemarahan dan keinginan untuk memanipulasi

orang lain. Komunikasi ini sering muncul dalam bentuk bungkam, sikap
tidak peduli, tanpa memperhatikan yang diajak berbicara
1.4 PROSES KOMUNIKASI YANG BAIK
Komunikasi

fungsional

dipandang

sebagai

landasan

keberhasilan

komunikasi yang sehat (Watzlick & Goldberg, 2000) dan komunikasi


fungsional didefinisikan sebagai pengiriman dan penerima pesan baik isi
maupun tingkat instruksi pesan yang langsung dan jelas (Sells,1973), serta
sebagai sasaran antara isi dan tingkat instruksi. Dengan kata lain komunikasi
fungsional dan sehat memerlukan pengirim untuk mengirimkan maksud
pesan melalui saluran yang relatif jelas dan penerima pesan mempunyai
pemahaman arti yang sama dengan apa yang dimaksud oleh pengirim
(Sells). Proses komunikasi fungsional terdiri dari beberapa unsur, antara lain :
1. Pengiriman Fungsional
Satir (1967) menjelaskan bahwa pengiriman yang berkomunikasi secara
fungsional dapat menyatakan maksudnya dengan tegas dan jelas,
mengklarifikasi dan mengualifikasi apa yang ia katakan, meminta umpan
balik dan terbuka terhadap umpan balik.
a) Menyatakan kasus dengan tegas dan jelas
Salah satu landasan untuk secara tegas menyatakan maksud
seseorang adalah penggunaan komunikasi yang selaras pada tingkat isi
dan instruksi (Satir,1975)
b) Intensitas dan keterbukaan.
Intensitas

berkenaan

dengan

kemampuan

pengirim

dalam

mengkomunikasikan persepsi internal dari perasaan, keinginan,dan


kebutuhan secara efektif dengan intensitas yang sama dengan persepsi
internal

yang

dialaminya.

Agar

terbuka,

pengirim

fungsional

menginformasikan kepada penerima tentang keseriusan pesan dengan


mengatakan

bagaimana penerima seharusnya

merespon pesan

tersebut.
c) Mengklarifikasi dan mengualifikasi pesan
Karakteristik penting kedua dari komunikasi yang fungsional menurut
Satir adalah pernyataan klarifikaasi daan kualifikaasi. Pernyataan
tersebut memungkinkan pengirim untuk lebih spesifik dan memastikan
persepsinya terhadap kenyataan dengan persepsi orang lain.

d) Meminta umpan balik


Unsur ketiga dari pengirim fungsional adalah meminta umpan balik,
yang memungkinkan ia untuk memverifikasi apakah pesan diterima
secara akurat, dan memungkinkan pengirim untuk mendapatkan
informasi yang diperlukan untuk mengklarifikasi maksud.
e) Terbuka terhadap umpan balik
Pengirim yang terbuka terhadap umpan balik akan menunjukkan
kesediaan untuk mendengarkan, bereaksi tanpa defensive, dan
mencoba untuk memahami. Agar mengerti pengirim harus mengetahui
validitas pandangan penerima. Jadi dengan meminta kritik yang lebih
spesifik

atau

pernyataan

memastikan,

pengirim

menunjukkan

penerimaannya dan minatnya terhadap umpan balik.


2.

Penerima Fungsional
Penerima fungsional mencoba untuk membuat pengkajian maksud suatu
pesa secara akurat. Dengan melakukan ini, mereka akan lebih baik
mempertimbangkan arti pesan dengan benar dan dapat lebih tepat
mengkaji sikap dan maksud pengirim, serta perasaan yang diekspresikan
dalam metakomunikasi. Menurut Anderson (1972), penerima fungsional
mencoba

untuk

mengevaluasi.ini

memahami
berarti

bahwa

pesan

secara

terdapat

penuh

analisis

sebelum

motivasi

dan

metakomunikasi, serta isi. Informasi baru, diperiksa dengan informasi


yang sudah ada, dan keputusan untuk bertindak secara seksama
dipertimbangkan. Mendengar secara efektif, memberi umpan balik, dan
memvalidasi tiga teknik komunikasi yang memungkinkan penerima untuk
memahami dan merespons pesan pengirim sepenuhnya.
a. Mendengarkan
Kemampuan untuk mendengar secara efektif merupakan kualitas
terpenting yang dimiliki oleh penerima fungsional. Mendengarkan
secara efektif berarti memfokuskan perhatian penuh pada seseorang
terhadap apa yang sedang dikomunikasikannya dan menutup semua
hal

yang

akan

merusak

pesan.

Penerima

secara

penuh

memperhatikan pesan lengkap dari pengirim bukan menyalahartikan


arti dari suatu pesan. Pendengar pasif merespons dengan ekspresi
datar dan tampak tidak peduli sedangkan pendengar aktif dengan

sikap mengomunikasikan secara aktif bahwa ia mendengarkan.


Mengajukan

pertanyaan

merupakan

bagian

penting

dari

mendengarkan aktif (Gottman, Notarius, Gonso dan Markman, 1977).


Mendengarkan secara aktif berarti menjadi empati, berpikir tentang
kebutuhan, dan keinginan orang lain, serta menghindarkan terjadinya
gangguan alur komunikasi pengirim.
b. Memberikan umpan balik
Karakteristik

utama

kedua

dari

penerima

fungsional

adalah

memberikan umpan balik kepada pengirim yang memberitahu


pengirim bagaimana penerima menafsirkan pesan. Pernyataan ini
mendorong pengirim untuk menggali lebih lengkap. Umpan balik juga
dapat melalui suatu proses keterkaitan, yaitu penerima membuat
suatu hubungan antara pengalaman pribadi terdahulu atau kejadian
terkait dengan komunikasi pengirim.
c. Memberi validasi
Dalam

menggunakan

validasi

penerima

menyampaikan

pemahamannya terhadap pemikiran dan perasaan pengirim. Validasi


tidak berarti penerima setuju dengan pesan yang dikomunikasikan
pengirim, tetapi menunjukan penerimaan atas pesan tersebut
berharga.
Komunikasi yang efektif menurut Cutlip dan Center, komunikasi yang efektif
harus dilaksanakan dengan melalui empat tahap , yaitu :
1. Fact finding : Untuk berbicara perlu dicari fakta dan ata tentang komunikan
berkenaan dengan keinginan dan komposisinya
2. Planning : rencana tentang apa yang akan dikemukakan dan bagaimana
mengemukakannya berdasarkan fakta dan data yang diperoleh
3. Communicating : berkomunikasi berdasarkan planning yang telah disusun
4. Evaluation :Penilaian dan analisis untuk melihat bagaimana hasil
komunikasi tersebut.
Proses komunikasi mulai bila seseorang bicara pada orang lain nya , karena
dia memiliki sesuatu kebutuhan. Bicara adalah suatu usaha untuk berkomunikasi
dengan orang lain di luar dirinya. Jenis hubungan antar pribadi ,yaitu :
1. Tahap perkenalan :

terbatas pada pertukaran informasi Pada tahap perkenalan jenis hubungan


pribadi dikategorikan sebagai kenalan. karena jenis hubungan antar pribadi
seperti ini sangat terbatas pada pertukaran informasi. Pada pertemuan
pertama saling mengenal , yang diutarakan hanya beberapa informasi. Dua
pribadi belum terlibat dalam cerita-cerita yang berifat pribadi.Hubungan pada
tahap perkenalan, dapat dikategorikan tahap pasif, yang mengutamakan
perhatian terhadap komunikan, tanpa menanyakan apa-apa; tahap aktif ,
yaitu

mengajukan

pertanyaan,

memperhatikan

dan

mendengarkan

komunikan; tahap interaktif yaitu tahap memanipulasi komunikan agar


komunikator bisa memperoleh informasi melalui perilaku komunikan.
2. Tahap persahabatan :
komunikator dan komunikan merasa memiliki kedudukan yang sama yang
saling memberikan perhatian. Persahabatan memiliki beberapa fungsi , yaitu
membagi pengalaman, agar dua pihak sama-sama puas dan sukses,
menunjukkan dukungan emosional, sukarela membantu kalau diperlukan,
berusaha membuat pihak lain senang, membantu sesama, bila dia
berhalangan untuk sesuatu urusan.
3. Tahap keakraban dan keintiman :
interaksi

dilakukan

berulang-ulang

dengan

derajat

kebebasan

dan

keterbukaan yang sangat tinggi.Derajat keterbukaan mempengaruhi untuk


terjadinya perubahan pikiran, perasaan dan perilaku.Hubungan pribadi yang
intim dan akrab banyak dipengaruhi emosi.Keakraban dan keintiman
antarpribadi terjadi karena dua pribadi memiliki banyak kesamaan,
sehinggga membuat hubungan mereka menjadi satu.Keadaan tersebut
dapat menimbulkan rasa cinta yang dapat menentukan relasi selanjutnya.
4. Hubungan suami dengan isteri :
keterbukaan tak terbatas, memberi dan menerima seluruh hidupnya dalam
kelebihan kekurangan, bahkan sampai akhir hayat.
5. Hubungan orang tua dengan anak :
menumbuhkan perasaan kita yang mendalam , diantara mereka. Jenis
hubungan ini ditandai dengan prinsip hubungan ketat, berdasarkan pertalian
darah.Perasaan yang tumbuh adalah perasaan yang mendalam pada prinsip
rasa kita dari pada rasa mereka.
6. Hubungan persaudaraan :

perasaan cinta antara anak-anak dari ayah dan ibu yang sama. Cinta yang
menandai hubungan persaudaraan itu berdasarkan emosi.Kedekatan intra
anggota keluarga akan membawa dampak bagi keluarga lain.
Sembilan cara untuk merubah pikiran orang tanpa menimbulkan rasa kecewa
dan mendongkol , yaitu :
1. Mulailah dengan memberikan pujian yang ikhlas
2. Jika menunjukkan kesalahan orang, lakukanlah dengan cara yang tidak
langsung
3. Berbicaralah tentang kesalahan diri sendiri, sebelum mengecam orang lain
4. Berilah perintah dalam bentuk usul
5. Usahakan jangan sampai menyinggung perasaan orang
6. Pujilah perbaikan-perbaikan yang bagaimanapun kecilnya dan jika
memberikan pujian lakukan dengan ikhlas
7. Berilah reputasi (nama baik) , supaya ia mempertahankannya
8. Bersikaplah

seolah-olah

kesalahan

mereka

mudah

diperbaiki

dan

pekerjaannnya mudah dilakukan


9. Usahakan supaya orang lain suka melakukan, apa yang kita inginkan.
1.5 PROSES KOMUNIKASI YANG TIDAK BAIK
Proses Komunikasi yang tidak baik atau difungsional, meliputi:
1. Pengirim Disfungsional
Komunikasi pengirim disfungsional sering tidak efektif pada satu atau lebih
karakteristik dasar dari pengirim fungsional. Dalam menyatakan kasus,
mengklarifikasi dan mengkulifikasi, dalam menguraikan dan keterbukaan
terhadap umpan balik. Penerima sering kali ditinggalkan dalam kebingungan
dan harus menebak apa yang menjadi pemikiran atau perasaan pengirim
pesan. Komunikasi pengirim disfungsional dapat bersifat aktif atau defensif
secara pasif serta sering menuntut untuk mendapatkan umpan balik yang
jelas dari penerima. Komunikasi yang tidak sehat terdiri dari :
a. Membuat asumsi
Ketika asumsi dibuat, pengim mengandalkan apa yang penerima rasakan
atau pikiran tentang suatu peristiwa atau seseorang tanpa memvalidasi
persepsinya. Pengirim disfungsional biasanya tidak menyadari asumsi

yang mereka buat, ia jarang mengklarifikasi isi atau maksud pesaan


sehingga dapat terjadi distorsi pesan. Apabila hal ini terjadi, dapat
menimbulkan kemarahan pada penerima yang diberi pesan, yang
pendapat serta perasaan yant tidak dianggap.
b. Mengekspresikan perasaan secara tidak jelas
Tipe

lain

dari

komunikasi

disfungsional

oleh

pengirim

adalah

pengungkapan perasaan tidak jelas, karena takut ditolak, ekspresi


perasaan pengirim dilakukan dengan sikap terselubung dan sama sekali
tertutup. Komunikasi tidak jelas adalah sangat beralasan (Satir, 1991)
apabila kata-kata pengirim tidak ada hubunganya dengan apa yang
dirasakan. Pesan dinyatakan dengan cara yang tidak emosional. Berdiam
diri merupakan kasus lain tentang pengungkapan perasaan tidak jelas.
Pengirim merasa mudah tersinggung terhadap penerima yang tetap tidak
mengungkapkan kemarahannya secara terbuka atau mengalihkan
perasaannya ke orang atau benda lain.
c. Membuat respon yang menghakimi
Respon yang menghakimi adalah komunikasi disfungsional yang ditandai
dengan kecenderungan untuk konstan untuk menbgevaluasi pesan yang
menggunakan system nilai pengirim. Pernyataan yang menghakimi selalu
mengandung moral tambahan. Pesan pernyataan tersebut jelas bagi
penerima bahwa pengirim pesan mengevaluasi nilai dari pesan orang lain
sebagai benar, atau salah, baik atau buruk, normal atau tidak
normal.
d. Ketidakmampuan untuk mendefinisikan kebutuhan sendiri
Pengirim disfungsional tidak hanya tidak mampu untuk menekspresikan
kebutuhangnya. Namun juga karena takut ditolak menjadi tidak mampu
mendefenisikan prilaku yang ia harapkan dari penerima untuk memenuhi
kebutahan mereka. Sering kali pengirim disfungsional tidak sadar merasa
tidak berharga, tidak berhak untuk mengungkapkan kebutuhan atau
berharap kebutuhan pribadinya akan dipenuhi.
e. Komunikasi yang tidak sesuai
Penampilan komunikasi yang tidak sesuai merupakan jenis komunikasi
yang disfungsional dan terjadi apabila dua pesan yang bertentangan atau
lebih secara serentak dikiri (Goldenberg, 2000). Penerima ditinggalkan

dengan teka-teki tentang bagaimana harus merespon. Dalam kasus


ketidaksesuaian pesan verbal dan nonverbal, dua atau lebih pesan literal
dikirim secara secara serentak bertentangan satu sama lain. Pada
ketidaksesuaian verbal nonverbal pengirim mengkomunikasikan suatu
pesan secara verbal, namun melakukan metakomunikasi nonverbalyang
bertentangan dengan pesan verbal. Ini biasanya diketahuinsebagai
pesan campuran, misalnya saya tidak marah pada anda diucapakan
dengan keras, nada suara tinggi dengan tangan menggempal.
2. Penerima Disfungsional
Jika penerima disfungsional, terjadi komunikasi yang terputus karena pesan
tidak diterima sebagaimana dimaksud, karena kegagalan penerima untuk
mendengarkan, atau menggunakan diskualifikasi. Merespon secara ofensif,
gagal menggali pesan pengirim, gagal memvalidasi pesan, merupakan
karakterstik disfungsional lainnya.
a. Gagal untuk mendengarkan
Dalam kasus gagal untuk mendengarkan, suatu pesan dikirim, namun
penerima tidak memperhatikan atau mendengarkan pesan tersebut.
Terdapat beberapa alasan terjadinya kegagalan untuk mendengarkan,
berkisar dari tidak ingin memerhatikan hingga tidak memiliki kemampuan
untuk mendengarkan. Hal ini biasanya terjadi karena distraksi, seperti
bising, waktu yang tidak tepat, kecemasan tinggi, atau hanya karena
gangguan pendengaran.
b. Menggunakan diskualifikasi
Penerima

disfungsional

mendiskualifikasi

suatu

dapat
pesan

menerapkan
dengan

pengelakkan

menghindari

isu

untuk
penting.

Diskualifikasi adalah respon tidak langsung yang memungkinkan


penerima untuk tidak menyetujui pesan tanpa memungkinkan penerima
untuk tidak menyetujui pesan tanpa benar-benar tidak menyetujuinya.
c. Menghina
Sikap ofensif komunikasi menunjukkan bahwa penerima pesan bereaksi
secara negatif, seperti sedang terancam. Penerima tampak bereaksi
secara defensif terhadap pesan yang mengasumsikan sikap oposisi dan
mengambil posisi menyerang. Pernyataan dan permintaan dibuat dengan
konsisten dengan sikap negatif atau dengan harapan yang negatif.

d. Gagal menggali pesan pengirim


Untuk mengklarifikasi maksud atau arti dari suatu pesan, penerima
fungsional mencari penjelasan lebih lanjut. Sebaliknya, penerima
disfungsional menggunkan respon tanpa menggali, seperti membuat
asumsi, memberikan saran yang prematur, atau memutuskan komunikasi.
e. Gagal memvalidasi pesan
Validasi berkenaan dengan penyampaian penerimaan penerima. Oleh
karena itu, kurangnya validasi menyiratkan bahwa penerima dapat
merespon secara netral atau mendistorsi dan menyalahtafsirkan pesan.
Mengasumsikan bukan mengklarifikasi pemikiran pengirim adalah suatu
contoh kurangnya validasi.
3. Pengirim dan Penerima Disfungsional
Dua jenis urutan interaksi komunikasi yang tidak sehat, melibatkan baik
pengirim maupun penerima, juga secara luas didiskusikan dalam literatur
komunikasi. Komunikasi yang tidak sehat merupakan kominikasi yang
mencerminkan pembicaraan parallel yang menunjukan ketidakmampuan
untuk memfokuskan pada suatu isu.
Dalam pembicraan parallel, setiap individu dalam interaksi secara konstan
menyatakan kembali isunya tanpa betul-beetul mendengarkan pandangan
orang lain atau mengenali kebutuhan orang lain. Orang yang berinteraksi
disfungsional, mungkin tidak mampu untuk memfokuskan pada satu isu. Tiap
individu melantur dari satu isu ke isu lain bukannya menyelesaikan satu
masalah atau meminta suatu pengungkapan.
1.6 POLA KOMUNIKASI YANG BAIK
Devito

dalam

bukunya

The

Interpersonal

Communication

Book

mengungkapkan empat pola komunikasi keluarga pada umumnya, yaitu :


1. Pola Komunikasi Persamaan (Equality Pattern)
Dalam pola ini, tiap individu membagi kesempatan komunikasi secara
merata dan seimbang, peran yang dimainkan tiap orang dalam keluarga
adalah sama. Tiap orang dianggap sederajat dan setara kemampuannya,
bebas mengemukakan ide-ide, opini, dan kepercayaan. Komunikasi yang
terjadi berjalan dengan jujur, terbuka, langsung, dan bebas dari pemisahan
kekuasaan yang terjadi pada hubungan inerpersona lainnya. Dalam pola ini

tidak ada pemimpin dan pengikut, pemberi pendapat dan pencari pendapat,
tiap orang memainkan peran yang sama.
Komunikasi memperdalam pengenalan satu sama lain, melalui
intensitas, kedalaman dan frekuensi pengenalan diri masing-masing, serta
tingkah laku nonverbal seperti sentuhan dan kontak mata yang seimbang
jumlahnya. Tiap orang memiliki hak yang sama dalam pengambilan
keputusan, baik yang sederhana seperti film yang akan ditonton maupun
yang penting seperti sekolah mana yang akan dimasuki anak-anak, membeli
rumah, dan sebagainya. Konflik yang terjadi tidak dianggap sebagai
ancaman.
Masalah diamati dan dianalisa. Perbedaan pendapat tidak dilihat
sebagai salah satu kurang dari yang lain tetapi sebagai benturan yang tak
terhindarkan dari ide-ide atau perbedaan nilai dan persepsi yang merupakan
bagian dari hubungan jangka panjang. Bila model komunikasi dari pola ini
digambarkan, anak panah yang menandakan pesan individual akan sama
jumlahnya, yang berarti komunikasi berjalan secara timbal balik dan
seimbang.
2. Pola Komunikasi Seimbang Terpisah (Balance Split Pattern)
Dalam pola ini, persamaan hubungan tetap terjaga, namun dalam
pola ini tiap orang memegang kontrol atau kekuasaan dalam bidangnya
masing-masing. Tiap orang dianggap sebagai ahli dalam wilayah yang
berbeda. Sebagai contoh, dalam keluarga biasa, suami dipercaya untuk
bekerja/mencari nafkah untuk keluarga dan istri mengurus anak dan
memasak. Dalam pola ini, bisa jadi semua anggotanya memiliki pengetahuan
yang sama mengenai agama, kesehatan, seni, dan satu pihak tidak dianggap
lebih dari yang lain.
Konflik yang terjadi tidak dianggap sebagai ancaman karena tiap
orang memiliki wilayah sendiri-sendiri. Sehingga sebelum konflik terjadi,
sudah ditentukan siapa yang menang atau kalah. Sebagai contoh, bila konflik
terjadi dalam hal bisnis, suami lah yang menang, dan bila konflik terjadi dalam
hal urusan anak, istri lah yang menang. Namun tidak ada pihak yang dirugikan
oleh konflik tersebut karena masing-masing memiliki wilayahnya sendirisendiri.
3. Pola Komunikasi Tak Seimbang Terpisah (Unbalanced Split Pattern)

Dalam pola ini satu orang mendominasi, satu orang dianggap


sebagai ahli lebih dari setengah wilayah komunikasi timbal balik. Satu orang
yang mendominasi ini sering memegang kontrol. Dalam beberapa kasus,
orang yang mendominasi ini lebih cerdas atau berpengetahuan lebih, namun
dalam kasus lain orang itu secara fisik lebih menarik atau berpenghasilan
lebih besar. Pihak yang kurang menarik atau berpenghasilan lebih rendah
berkompensasi dengan cara membiarkan pihak yang lebih itu memenangkan
tiap perdebatan dan mengambil keputusan sendiri.
Pihak yang mendominasi mengeluarkan pernyataan tegas, memberi
tahu pihak lain apa yang harus dikerjakan, memberi opini dengan bebas,
memainkan kekuasaan untuk menjaga kontrol, dan jarang meminta pendapat
yang lain kecuali untuk mendapatkan rasa aman bagi egonya sendiri atau
sekedar meyakinkan pihak lain akan kehebatan argumennya. Sebaliknya,
pihak yang lain bertanya, meminta pendapat dan berpegang pada pihak yang
mendominasi dalam mengambil keputusan.
4. Pola Komunikasi Monopoli (Monopoly Pattern)
Satu orang dipandang sebagai kekuasaan. Orang ini lebih bersifat
memerintah

daripada

berkomunikasi,

memberi

wejangan

daripada

mendengarkan umpan balik orang lain. Pemegang kekuasaan tidak pernah


meminta pendapat, dan ia berhak atas keputusan akhir. Maka jarang terjadi
perdebatan karena semua sudah mengetahui siapa yang akan menang.
Dengan jarang terjadi perdebatan itulah maka bila ada konflik
masing-masing tidak tahu bagaimana mencari solusi bersama secara baikbaik.

Mereka

tidak

tahu

bagaimana

mengeluarkan

pendapat

atau

mengugkapkan ketidaksetujuan secara benar, maka perdebatan akan


menyakiti pihak yang dimonopoli. Pihak yang dimonopoli meminta ijin dan
pendapat dari pemegang kuasa untuk mengambil keputusan, seperti halnya
hubungan orang tua ke anak. Pemegang kekuasaan mendapat kepuasan
dengan perannya tersebut dengan cara menyuruh, membimbing, dan
menjaga pihak lain, sedangkan pihak lain itu mendapatkan kepuasan lewat
pemenuhan kebutuhannya dan dengan tidak membuat keputusan sendiri
sehingga ia tidak akan menanggung konsekuensi dari keputusan itu sama
sekali.
5. Pola Komunikasi Fungsional

a. Berkomunikasi Secara Jelas dan Selaras


Keselarasan merupakan bangunan kunci dalam model komunikasi
dan pertumbuhan. Keselarasan adalah suatu keadaan dan cara
berkomunikasi dengan diri sendiri dan orang lain. Ketika seseorang
berkomunikasi dengan selaras terdapat konsistensi dengan selaras
terdapat konsistensi anatara tingkat isi dan instruksi kominikasi. Apa yang
sedang diucapkan, sama dengan isi pesan. Kata-kata yang diucapkan,
perasaan yang kita ekspresikan, dan perilaku yang kita tampilkan
semuanya konsisten. Komunikasi yang sehat merupakan suatu proses
yang sangat dinamis dan saling timbal balik. Pesan tidak hanya dikirim
dan diterima.
b. Komunikasi Emosional
Komunikasi emosional berkaitan dengan ekspresi emosi dan
perasaan dari perasaan marah, terluka, sedih, cemburu hingga bahagia,
kasih saying dan kemesraan (Wright & Leahey, 2000). Pada keluarga
fungsional perasaan anggota keluarga ddiekspresikan. Komunikasi afektif
pesan verbal dan nonverbal dari caring, sikap fisik sentuhan, belaian,
menggandeng dan memandang sangat penting, ekspresi fisik dari kasih
sayang pada kehidupan awal bayi dan anak-anak penting untuk
perkembangan respon afektif yang normal. Pola komunikasi afeksi verbal
menjadi lebih nyata dalam menyampaikan pesan afeksional, walaupun
pola mungkin beragam dengan warisan kebudayaan individu.
6.

Area Komunikasi Yang Terbuka dan Keterbukaan diri


Pola komunikasi fungsional menghargai keterbukaan, saling menghargai
perasaan, pikiran, kepedulian, spontanitas, autentik dan keterbukaan diri.
Selanjutnya mampu mendiskusikan bidang kehidupan isu personal, sosial,
dan kepedulian serta tidak takut pada konflik. Area ini disebut komunikasi
terbuka. Dengan rasa hormat terhadap keterbukaan diri. Seseorang yang
terus terang dan jujur antar satu dengan yang lainnya adalah orang-orang
yang merasa yakin untuk mempertaruhkan interaksi yang berarti dan
cenderung untuk menghargai keterbukaan diri (mengungkapkan keterbukaan
pemikiran dan perasaan akrab).

2. INTERAKSI

Interaksi adalah hubungan timbal balik yang saling mempengaruhi, ada


reaksi, pelakunya lebih dari satu, misalnya individu dengan individu, individu
dengan kelompok, dan kelompok dengan kelompok. Contohnya guru/dosen
mengajar merupakan contoh interaksi sosial antara individu dengan
kelompok. Interaksi sosial memerlukan syarat-syarat yaitu kontak sosial dan
komunikasi sosial. Kontak sosial dapat berupa kontak primer dan kontak
sekunder. Sedangkan komunikasi sosial dapat secara langsung maupun
tidak langsung.
Faktor yang mendasari terjadinya interaksi sosial meliputi imitasi, suatu
identifikasi, simpati, dan empati imitasi atau interaksi sosial. Setiap
masyarakat, manusia selama hidup pasti mengalami perubahan. Perubahan
dapat berupa perupbahan yang tidak menarik atau kurang mencakup
perubahan yang pengaruhnya terbatas maupun luas. Perubahan tersebut
akan terlihat dalam susunan kehidupan masyarakat pada suatu waktu atau
sekarang dibandingkan kehidupan masyarakat pada masa lampau. Hal
tersebut diiringi dengan perkembangan zaman yang semakin maju dan
modern. Perubahan-perubahan masyarakat dapat mengenai nilai-nilai sosial,
norma-norma sosial, pola perilaku, organisasi, susunan kelembagaan,
masyarakat kekuasaan wewenang interaksi sosial.
Definisi interaksi sosial menurut para ahli, yaitu sebagai berikut :
a. Maryati da suryawati (2003), interaksi sosial adalah kontak atau hubungan
timbal balik atau interstimulasi dan respons antar individu dan kelompok.
b. Murdiyatmoko dan Handayani (2004), interaksi sosial adalah hubungan
antara manusia yang menghasilkan suatu proses pengaruh-mempengaruhi
dan menghasilkan hubungan tetap dan pada akhirnya memungkinkan
pembentukan struktur sosial.
c. Young dan Raymond W. Mack, interaksi sosial adalah hubungan-hubungan
sosial yang dinamis dan menyangkut hubungan-hubungan antar individu
dengan kelompok maupun antar kelompok dengan kelompok.
d. Menurut Bonner, interaksi sosial adalah suatu hubungan yang antara dua
orang atau lebih individu, dimana kelakuan dari individu saling mempengaruhi
dan mengubah satu sama lainnya.
e. Thibaut dan Kelley mengemukakan pengertian interaksi sosial, interaksi
sosial merupakan peristiwa saling mempengaruhi satu sama lain ketika dua

orang atau lebih hadir secara bersamaan, mereka menciptakan suatu hasil
satu sama lain atau berkomunikasi antara satu sama lain.
f. Menurut pendapat Gillin, interaksi sosial adalah hubungan-hubungan sosial
yang dinamis, dimana menyangkut hubungan antarindividu dan kelompok
atau antarkelompok. Didalam hubungan sosial ini, individu maupun kelompok
bekerja sama atau yang berkonflik, melakukan interaksi baik itu formal atau
tidak formal yang dilakukan secara langsung atau tidak langsung.
g. Menurut Homans, pengertian interaksi sosial ialah suatu proses dimana
aktivitas yang dilakukan oleh seseorang terhadap individu lain diberikan
ganjaran atau hukuman dengan menggunakan suatu tindakan oleh individu
lain yang menjadi pasangannya. Dalam hal ini, suatu tindakan yang dilakukan
oleh seseorang dalam interaksi merupakan suatu reaksi balasan bagi
tindakan individu lain yang menjadi pasangannya.
h. Menurut Macionis adalah suatu proses sosial yang menimbulkan rekasi
sebagai akibat daripada aksi yang dilakukan seseorang dalam hubungan
dengan orang lain, dalam hal ini proses bertindak disebut dengan aksi dan
membalas tindakan disebut reaksi.
i. Menurut Walgito, pengertian interaksi sosial ialah hubungan timbale balik
antara individu yang satu dengan individu yang lainnya. Dalam hal ini individu
yang satu dapat mempengaruhi individu lain maupun sebaliknya antara
individu dengan kelompok atau kelompok dengan kelompok.
Dari pengertian interaksi sosial yang diungkapkan para pakar diatas,
dapat ditarik kesimpulan bahwa pengertian interaksi sosial adalah suatu proses
sosial dimana terjadi hubungan antara individu yang satu dengan yang lainnya,
individu dengan kelompok maupun yang terjadi antara kelompok dengan
kelompok.
Bentuk umum dari proses sosial merupakan interaksi sosial. Interaksi sosial
adalah syarat utama terjadinya aktivitas-aktivitas sosial. Dalam hal ini dapat
dikatakan bahwa bentuk lain dari proses sosial hanya merupakan bentuk-bentuk
khusus dari interaksi sosial. Jadi, pengertian interaksi sosial adalah ubungan
sosial yang dinamis dimana menyangkut hubungan antara orang perorangan,
antar kelompok-kelompok manusia, maupun yang terjadi antara orang
perorangan dengan kelompok manusia.

2.1 SYARAT-SYARAT TERJADINYA INTERAKSI SOSIAL


Berbicara mengenai syarat-syarat terjadinya interaksi sosial, maka suatu
interaksi sosial tidak akan dapat terjadi apabila tidak memenuhi dua syarat,
yaitu :
1. Adanya kontak sosial (sosial contact)
Syarat terjadi interaksi sosial yang pertama adalah adanya kontak sosial.
Kontak sosial merupakan hubungan sosial yang terjadi baik secara fisik
maupun non fisik. Kontak sosial yang terjadi secara fisik yaitu bertemunya
individu secara langsung, sedangkan kontak sosial yang terjadi secara non
fisik yaitu pada percakapan yang dilakukan tanpa bertemu langsung,
misalnya berhubungan melalui media elektronik seperti telepon, radio, dan
lain-lain.
Dalam interaksi sosial, kontak sosial juga dapat bersifat positif atau
negative. Dalam hal ini, kontak sosial yang bersifat positif mengarah pada
suatu kerja sama, sedangkan kontak sosial yang bersifat negative mengarah
pada suatu pertentangan atau bahkan sama sekali tidak menghasilkan suatu
interaksi sosial. Contohnya jika pedagang sayur menawarkan sayurnya pada
nyonya rumah dan diterima dengan baik sehingga memungkinkan terjadinya
proses jual-beli, maka kontak sosial tersebut bersifat positif. Lain halnya jika
nyonya rumah hanya menggerutu sewaktu ditawarkan yang kemungkinan
besar tidak akan terjadi jual beli, maka kontak tersebut bersifat negative
karena dapat menyebabkan tidak berlangsungnya suatu interaksi. Jadi,
kontak sosial dapat dibedakan sebagai berikut :
a. Berdasarkan bentuk (wujud)
Berdasarkan bentuknya kontak dapat dibedakan menjadi berikut ini :
1. Kontak antara individu dengan individu. Contoh : mahasiswa dan
mahasiswa
2. Kontak antara individu dengan kelompok. Contoh : guru dengan
murid-muridnya dikelas, penceramah.
3. Kontak antara kelompok dengan kelompok
b. Berdasarkan cara
Berdasarkan caranya kontak dibedakan menjadi dua, yaitu berikut ini :

1. Kontak langsung (primer) kontak langsung yaitu hubungan timbale


balik yang terjadi secara langsung, sentuhan, tersenyum, bahasa
isyarat.
2. Kontak tidak langsung (sekunder). Kontak tidak langsung (sekunder)
yaitu hubungan timbale balik yang tidak langsung (media). Media
yang digunakan dalam kontak sekunder bisa berupa benda.
c. Berdasarkan sifat
Berdasarkan sifatnya kontak sosial ada dua macam, yaitu :
1. Kontak positif yaitu kontak sosial yang mengarah kepada suatu
kerjasama
2. Kontak negative yaitu kontak sosial yang mengarah kepada suatu
pertentangan, misalnya kontak senjata sedang berperang
2. Adanya komunikasi
Komunikasi adalah memberikan tafsiran pada perilaku orang lain (yang
berwujud pembicaraan, gerak-gerak tubuh maupun sikap), perasaanperasaan apa yang ingin disampaikan oleh orang tersebut. Individu yang
bersangkutan kemudian memberikan reaksi terhadap perasaan yang ingin
disampaikan oleh individu lain tersebut. Jadi komunikasi merupakan suatu
proses dimana satu sama lainnya saling mengerti maksud atau perasaan
masing-masing, tanpa mengerti maksud atau perasaan satu sama laiinnya
tidak dapat dikatakan sebagai komunikasi.
Dalam interaksi sosial, suatu kontak sosial, suatu kontak sosial dapat
terjadi tanpa komunikasi. Misalnya pada orang Indonesia bertemu dan
berjabat tangan dengan orang Argentina, lalu dia bercakap-cakap dalam
bahasa Indonesia dengan orang Argentina tersebut padahal tidak mengerti
bahasa Indonesia. Dalam hal ini kontak sosial sebagai syarat terjadinya
interaksi sosial yang utama telah terjadi, namun komunikasi sebagai syarat
terjadinya interaksi sosial yang kedua tidak terjadi karena kedua oran itu tidak
mengerti perasaan masing-masing. Apabila dihubungkan dengan interaksi
sosial, maka dapat dikatakan bahwa kontak sosial tanpa komunikasi tidak
mempunyai arti apapun.
Dari kedua syarat terjadinya interaksi sosial diatas, dapat disimpulkan
bahwa terjadinya interaksi sosial harus adanya kontak sosial dan komunikasi.

Jika salah satu syarat tidak dipenuhi, maka tidak dapat dikatakan sebagai
interaksi sosial. Adanya kontak sosial yang terjadi tanpa adanya saling
mengerti maksud atau perasaan masing-masing, maka bukan merupakan
proses interaksi sosial. Jadi disini, interaksi sosial merupakan kontak sosial
yang terjadi, dimana saling mengerti maksud atau perasaan masing-masing.
2.2 CIRI-CIRI INTERAKSI SOSIAL
Ada 4 ciri interaksi sosial, antara lain:
a. Jumlah pelakunya lebih dari satu orang
b. Terjadinya komunikasi diantara pelaku melalui kontak sosial
c. Mempunyai maksud dan tujuan yang jelas
d. Dilaksanakan melalui suatu pola system sosial tertentu
2.3 MACAM-MACAM INTERAKSI SOSIAL
Menurut Maryati dan Suryawati (2003) interaksi sosial dibagi menjadi tida
macam, yaitu :
1. Interaksi antara individu dan individu. Dalam hubungan ini bisa terjadi
interaksi positif ataupun negative.
a. Interaksi positif, jika hubungan yang terjadi saling menguntungkan
b. Interaksi negative, jika hubungan timbale balik merugikan satu pihak atau
keduanya (bermusuhan)
Contoh interaksi sosial yang terjadi antara individu dengan individu lainnya :
Ketika dua orang bertemu, saling menegur, saling berbicara, atau bahkan
mungkin berkelahi, saling bertemu muka tanpa bericara pun juga disebut
dengan interaksi sosial antara individu.
2. Interaksi antara individu dan kelompok
Interaksi ini pun dapat berlangsung secara positif maupun negative. Bentuk
interaksi sosial individu dan kelompok yang bergantung pada situasi dan
kondisinya. Contoh interaksi sosial yang terjadi antara individu dengan
kelompok:
Ketika seorang guru menghadapi murid-muridnya yang merupakan suatu
kelompok manusia didalam kelas, pada taraf pertama akan tampak bahwa
guru mencoba menguasai kelasnya supaya interaksi sosial berlangsung
dengan seimbang. Dalam hal ini terjadi saling pengaruh mempengaruhi

antara guru dengan murid-muridnya sebagai suatu kelompok, maka ini


disebut dengan proses interaksi sosial antara individu dengan kelompok.
3. Interaksi sosial antara kelompok dan kelompok
Interaksi sosial kelompok dan kelompok terjadi sebagai satu kesatuan bukan
kehendak pribadi. Misalnya perusahaan untuk membeicarakan suatu project.
Contoh interaksi sosial yang terjadi antar kelompok-kelompok :
Pada perang dunia kedua yang melibatkan Jerman dan perancis, pada
mulanya keduanya adalah sahabat yang selalu bersaing pada setiap
perlombaan balap sepeda bayaran. Mereka pada dasarnya bukan musuh
secara pribadi, akan tetapi kelompoknya masing-masing (yaitu Negara
Jerman dan Perancis) yang bermusuhan. Interaksi sosial antara kelompok
sosial tersebut tidak bersifat pribadi.
2.4 FAKTOR-FAKTOR

YANG

MENDORONG

TERJADINYA

INTERAKSI

SOSIAL
Menurut Sitorus (2000), berlangsungnya suatu interaksi sosial dapat
didasarkan pada berbagai faktor, antara lain imitasi, sugesti, identifikasi, dan
simpati. Faktor-faktor tersebut dapat bergerak sendiri-sendiri secara terpisah
ataupun saling berkaitan.
1. Imitasi yaitu tindakan meniru orang lain. Salah satu segi positifnya adalah
bahwa imitasi dapat mendorong seseorang untuk mematuhi kaidah-kaidah
dan nilai-nilai yang berlaku
2. Sugesti, sugesti ini berlangsung apabila seseorang memberikan pandangan
atau sikap yang dianutnya, lalu diterima oleh orang lain. Biasanya sugesti
muncul ketika si penerima sedang dalam kondisi yang tidak netral sehingga
tidak dapat berpikir rasional. Biasanya sugesti berasal dari orang-orang
sebagai berikut:
a) Orang yang berwibawa, karismatik dan punya pengaruh terhadap yang
disugesti, misalnya orang tua ulama dsb.
b) Orang yang memiliki kedudukan lebih tinggi dari pada yang disugesti.
c) Kelompok mayoritas terhadap minoritas.
d) Reklame atau iklan media masa.
3. Identifikasi yaitu merupakan kecenderungan atau keinginan seseorang untuk
menjadi sama dengan pihak lain (meniru secara keseluruhan).

4. Simpati yaitu merupakan suatu proses dimana seorang merasa tertarik


kepada pihak lain. Melalui proses simpati orang merasa dirinya seolah-olah
dirinya berasa dalam keadaan orang lain.
5. Empati yaitu merupakan simpati yang mendalam yang dapat mempengaruhi
kejiwaan dan fisik seseorang.
2.5 BENTUK - BENTUK INTERAKSI SOSIAL
Berdasarkan pendapat menurut Tim Sosiologi (2002), interaksi sosial
dikategorikan ke dalam dua bentuk, yaitu :
1. Interaksi sosial yang bersifat asosiatif, yakni yang mengarah kepada bentuk bentuk asosiasi (hubungan atau gabungan) seperti :
a.

Kerja sama, Adalah suatu usaha bersama antara orang perorangan atau
kelompok untuk mencapai tujuan bersama.

b.

Akomodasi, Adalah suatu proses penyesuaian sosial dalam interaksi


antara pribadi dan kelompok-kelompok manusia untuk meredakan
pertentangan.
Bentuk bentuk Akomodasi :
Kita

sebagai

manusia

pastinya

tidak

pernah

luput

dari

suatu

permasalahan konflik atau pertentangan. Maka itu, tanpa kita semua sadari
bahwa konflik atau pertentangan termasuk dalam akomodasi. Akomodasi
adalah suatu interaksi sosial yang dilakukan antara individu maupun
kelompok yang bertujuan untuk menyelesaikan suatu pertentangan atau
konflik. Ada beberapa macam bentuk akomodasi, berikut ini adalah
penjelasan singkatnya:
1) Arbitration
Arbitration merupakan suatu pengendalian atau penyelesaian konflik
yang menunjuk pihak ketiga untuk memutuskan konflik atau pertentangan
tersebut. Dalam bentuk ini, pihak yang bertikai berusaha untuk mencari
pihak ketiga untuk mengendalikan konflik tersebut.
2) Mediation
Mediation merupakan penyelesaian konflik yang dilakukan melalui
suatu jasa perantara yang bersikap netral. Pada mediasi, terdapat pihak
yang berusaha untuk mempertemukan pihak-pihak yang bertikai antara
dua belah pihak.
3) Coercion

Coercion merupakan pengendalian konflik yang dilakukan dengan


tindakan kekerasan. Sehingga, konflik tersebut tidak diselesaikan dengan
cara damai tetapi dengan cara keras.
4) Conciliation
Conciliation merupakan suatu pengendalian konflik dengan cara
melalui lembaga tertentu. Pada bentuk ini, lembaga tertentu melakukan
persetujuan pada kedua pihak yang bertikai sehingga tidak terulang
kembali konflik tersebut.
5) Ajudication
Ajudication merupakan suatu pengendalian konflik yang diselesaikan
dengan cara pengadilan atau diselesaikan di pengadilan.
6) Compromise
Compromise merupakan suatu persetujuan yang dilakukan dengan
cara perdamaian untuk saling bersama-sama mengurangi tuntutan.
7) Toleration
Toleration merupakan suatu sikap saling menghargai perbedaanperbedaan

yang

terdapat

dalam

masyarakat. Dalam

bentuk

ini,

masyarakat harus saling menghargai satu sama lainnya. Apa yang


dianutnya, apa yang dipercayainya, dan sebagainya.
8) Stalemate
Stalemate merupakan suatu keadaan yang ditandai dengan adanya
kekuatan yang seimbang di antara kedua pihak yang bertikai. Sehingga,
pertikaian tersebut terhenti pada titik tertentu.
c. Asimilasi, Adalah proses sosial yang timbul bila ada kelompok masyarakat
dengan latar belakang kebudayaan yang berbeda, saling bergaul secara
intensif dalam jangka waktu lama, sehingga lambat laun kebudayaan asli
mereka akan berubah sifat dan wujudnya membentuk kebudayaan baru
sebagai kebudayaan campuran.
d. Akulturasi, Adalah proses sosial yang timbul, apabila suatu kelompok masyarakat
manusia dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur unsur dari suatu kebudayaan asing sedemikian rupa sehingga lambat laun
unsur - unsur kebudayaan asing itu diterima dan diolah ke dalam kebudayaan
sendiri, tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian dari kebudayaan itu
sendiri.

2. Interaksi sosial yang bersifat disosiatif, yakni yang mengarah kepada bentuk bentuk pertentangan atau konflik, seperti :
a. Persaingan
Adalah suatu perjuangan yang dilakukan perorangan atau kelompok sosial
tertentu, agar memperoleh kemenangan atau hasil secara kompetitif, tanpa
menimbulkan ancaman atau benturan fisik di pihak lawannya.
b. Kontravensi
Adalah bentuk proses sosial yang berada di antara persaingan dan
pertentangan atau konflik. Wujud kontravensi antara lain sikap tidak senang,
baik secara tersembunyi maupun secara terang - terangan yang ditujukan
terhadap perorangan atau kelompok atau terhadap unsur - unsur
kebudayaan golongan tertentu. Sikap tersebut dapat berubah menjadi
kebencian akan tetapi tidak sampai menjadi pertentangan atau konflik.
c.

Konflik
Adalah

proses

sosial

antar

perorangan

atau

kelompok

masyarakat

tertentu, akibat adanya perbedaan paham dan kepentingan yang sangat


mendasar, sehingga menimbulkan adanya semacam gap atau jurang pemisah
yang mengganjal interaksi sosial diantara mereka yang bertikai tersebut.
Proses Interaksi
1. Komunikasi
Komunikasi adalah proses yang dapat memungkinkan perawat untuk
membangun hubungan antar sesama manusia dan dengan demikian
memenuhi tujuan dari keperawatan, yakni membantu individu- individu dan
keluarga-keluarga untuk mencegah dan untuk penanggulangan dengan
pengalaman penyakit dan penderitaan bahkan jika dibutuhkan untuk
membantu mereka untuk menemukan arti dari pengalaman ini.
2. Interaksi
Kata interaksi (interaction) mengacu pada banyak hubungan selama dua
individu yang dapat berpengaruh timbal balik antara sesama dan dapat
berkomunikasi secara verbal ataupun nonverbal.
B. Interaksi Perawat Dan Pasien
Kata interaksi antara perawat dan pasien mengacu pada hubungan antara
perawat dan seseorang yang menderita sakit dan dikarakteristikkan oleh fakta
bahwa antara kedua individu merasa dipenanggulangan klise yang lain.

Karakteristik hubungan antara perawat-klien adalah berupa perilaku,


pikiran dan perasaan. Juga penting untuk membedakan antara dukungan
sosial dan dukungan profesional (Hupcey & Morse, 1997).
Dukungan sosial terdiri dari 2 bagian yaitu:
1.

Bagian dari jaringan umum sosial

2.

Hubungan yang merupakan dasar dari dimulainya hubungan saling percaya dan
kesempatan melakukan kegiatan.

C.

Ada Empat Fase dalam Interaksi Perawat dengan Pasien yaitu:


1. Fase Prainteraksi
Kesiapan untuk perawat baru. Fase interaksi merupakan awal dimulainya
kontak pertama dengan klien. Juga sebagai tugas awal perawat dalam
mengeksplorasi diri. Berikut ini kesiapan umum yang diperlukan perawat
(mahasiswa) yaitu:
a) Kesadaran diri
b) Hilangkan rasa ketakutan dalam merawat klien
c) Cemas menyebabkan sifat yang kurang dalam penampilan
d) Fokus tentang identifikasi kelebihan diri dalam merawat klien psikiatri
e) Ragu-ragu akan keefektifan kemampuan atau kemampuan koping
f)

Takut akan bahaya fisik atau kekerasan

g) Gelisah menggunakan diri secara teraupetik


h) Curiga karena adanya stigma tentang klien psikiatrik berbeda dari klien lain
i)

Ancaman terhadap identitas peran perawat

j)

Ketidaknyamanan karena hilangnya kemampuan melakukan tugas fisik &


penanganan

k) Mudah mendapat ancaman karena penampilan emosional yang sangat


menyakitkan
l)

Takut melukai klien secara psikologi


Beberapa perawat menampilkan perasaan yang tidak adekuat dan takut
menyakiti atau mengeksploitasi klien. Hal ini dibedakan karena kurang
pengetahuan dan penampilan yang salah yaitu kurangnya beberapa nilai yang
dipahami. Umumnya ketakutan perawat berhubungan dengan stereotipe klien
psikiatri juga kekerasan. Penyebabnya karena adanya masukan dari media,
beberapa perawat takut merawat klien psikiatri karena melakukan perilaku
merusak. Ketakutan beberapa perawat secara psikologi karena klien biasanya

rejek atau diam saat dilakukan intervesi. Pada akhirnya timbul pertanyaan
bahwa ketakutan perawat berhubungan dengan kesehatan status mental
dirinya
m) Pengkajian Diri.
Keuntungan penampilan perawat dipengaruhi oleh jawaban dari pertanyaan di
bawah ini:
Analisis fase pra interaksi sangat diperlukan untuk melakukan tugas
selanjutnya. Yang paling efektif, perawat mampu mempertahankan stabilitas
konsep dirinya dan meningkatkan adekuat harga dirinya. Hubungan yang
konstruktif dengan orang lain dan penampilan yang realistis membantu pasien
untuk meningkatkan kemampuannya. Jika mereka sadar dan kontrol diri baik
akan dapat menampilkan verbal dan non verbal kepada klien dapat dengan baik,
perawat dapat menggunakan fungsi role model dengan baik. Tugas dari fase ini
diharapkan klien mendapatkan informasi yang baik dan perawat mempunyai
perencanaan untuk melakukan interaksi pertama kali dengan klien. Pengkajian
perawat segera dimulai, tetapi pekerjaan yang dilakukan harus berhubungan
dengan apa yang dilakukan pada klien.
2. Fase Introduksi atau Orientasi
Fase

introduksi

merupakan

pertemuan

pertama

antara

perawat

dan klien. Bentuk kontraknya pada fase ini, hubungan dibangun dengan saling
percaya, saling mengerti, kedekatan dan komunikasi terbuka dan bentuk
kontrak dengan klien.
Berikut ini elemen kontrak perawat-klien:
a.

nama individu

b.

peran perawat dan klien

c.

tanggung jawab perawat dan klien

d.

harapan perawat dan klien

e.

tujuan hubungan

f. tentukan tempat dan waktu


g.

kondisi untuk terminasi

h.

kedekatan/tujuan (antara perawat dan klien


Kontrak dimulai dengan introduksi perawat dan klien, nama yang disenangi,

dan harapan dari peran. Yang termasuk dalam peran adalah tanggung jawab dan
harapan klien dan perawat, bisa dijabarkan oleh perawat ataupun tidak. Pada

tahap ini juga didiskusikan tujuan hubungan dengan memperhatikan atau fokus
dengan klien dan klien menampilkan kehidupannya dan area konflik.
Kondisi terminasi harus dilakukan pengulangan dan termasuk spesifik lama
waktu, tujuan yang akan dicapai atau perubahan klien terhadappenanganan.
Eksplorasi perasaan yang ditampilkan dari perawat dan klien adalah
perbedaan tingkat ketidak nyamanan dan kecemasan pada fase introduksi.
Perawat harus sadar akan ketakutan dan kecemasan dirinya, tetapi biasanya
pasien sulit untuk menceritakan apa yang dirasakannya kepada orang yang
menolongnya.
Tugas perawat pada hubungan fase orientasi adalah;

Mengeksplorasi persepsi , pikiran, perasaan dan tindakan klien

Mengidentifikasi masalah klien yang paling berhubungan

Mendefenisikan mutual, spesifik tujuan dengan klien


Perawat harus fleksibel dalam mengantisipasi lamanya waktu yang

dibutuhkan untuk fase orientasi, biasanya klien harus tahu serius dan tidak
penyakit

mentalnya.

Perubahan

staf

akan

memberikan

perubahan

perkembangan kemampuan klien dalam hubungan terapeutik dan menampilkan


juga jumlah perencanaan tindakan keperawatan yang akan diberikan.
3. Fase Kerja
Harus kerja yang terapeutik agar dapat dilakukan fase kerja. Perawat dan
klien mengeksplorasi stressor dan meningkatkan wawasan perkembangan
dari klien dengan menyamakan persepsi, pikiran, perasaan dan tindakan.
Wawasan diharuskan untuk mengartikan tindakan yang terjadi dan perubahan
perilaku. Ini dapat diintegrasikan dengan penampilan kehidupan individu.
Perawat membantu klien untuk dapat menurunkan kecemasan, meningkatkan
ketergantungan dan tanggung jawab diri dan mengembangkan mekanisme
koping yang konstruktif. Fokus pada fase ini adalah perubahan perilaku
secara

aktual.

Klien menampilkan perilaku yang resisiten selama fase ini sebab bagian ini
merupakan proses penyelesaian masalah. Perkembangan hubungan, dimulai
dengan menanyakan perasaan klien, mengembangkan kemampuan dan
mencarikan jalan keluar demi klien.
4. Fase Terminasi

Terminasi merupakan hal yang sangat sulit tetapi penting pada fase ini
karena merupakan hubungan terapeutik klien dan perawat. Selama fase
terminasi, belajar untuk meningkatkan kemampuan klien dan perawat. Setiap
waktu perubahan perasaan dan memori dan evaluasi secara menyeluruh
sesuai dengan kemajuan dan tujuan yang dicapai klien. Kriteria kerelaan klien
untuk terminasi adalah:
a.

Klien dapat mengekspresikan keyataan dari masalah yang dihadapi

b.

Klien dapat meningkatkan fungsinya

c.

Klien dapat meningkatkan harga diri dan mengidentifikasi kekuatan yang


dirasakan

d.

Klien menggunakan respons koping yang adaptif

e.

Klien mengikuti hasil akhir tujuan penanganan yg akan dicapai

f. Memperbaiaki hubungan perawat dan klien dengan tidak terjadi masalah


Reaksi terminasi pada saat terminasi, klien akan mengekspresikan marah
dan ketidaksukaan, lainnya berlebihan perilaku dan ucapan atau penampilan
yang lambat, pesan yang disampaikan atau perkataan yang seadanya. Juga
klien saat terminasi menampilkan rejek, penghargaan negatif terhadap konsep
diri.
Perawat harus sadar akan kemungkinan reaksi yang terjadi dan mendiskusikan
dengan klien tentang kondisi yang akan terjadi. Beberapa klien, terminasi
merupakan penampilan terapeutik yang sangat kritis karena hubungan
sebelumnya baik dan terminasi menjadi negatif dan akan timbul perasaan tidak
ingin ditinggal, rejek, takut dan marah.
A. Unit Gawat Darurat ( UGD )
1. Pengertian Unit Gawat Darurat ( UGD )
Unit gawat darurat merupakan salah satu unit dirumah sakit yang
memberikan pelayanan kepada penderita gawat darurat dan merupakan
dari rangkaian yang perlu diorganisir. Tidak semua rumah sakit harus
mempunyai bagian gawat darurat yang lengkap dengan tenaga memadai
dan peralatan yang canggih, karena dengan demikian akan terjadi
penghamburan dana dan sarana. Oleh karena itu pengembangan unit
gawat darurat harus memperhatikan dua aspek yaitu : sistim rujukan

penderita gawat darurat dan beban kerja dalam menanggulangi penderita


gawat darurat.
Suatu unit gawat darurat (UGD) harus mampu memperhatikan
pelayanan dengan kualitas tinggi pada masyarakat dengan problem
medis akut. Pelayanan unit gawat darurat harus mampu mencegah
kematian dan cacat, melakukan rujukan, menanggulangi korban
bencana.
2. Kriteria Unit Gawat Darurat
Kriteria unit gawat darurat adalah : a) unit gawat darurat harus
buka 24 jam, b) unit gawat darurat juga harus melayani penderitapenderita

false

emergency

tetapi

tidak

boleh

mengganggu/

mengurangi mutu pelayanan penderita gawat darurat, c) unit gawat


darurat sebaiknya hanya melakukan primary care. Sedangkan
definitive care dilakukan ditempat yang lain dengan cara kerja sama
yang baik, d) unit gawat darurat harus meningkatkan mutu personalia
maupun masyarakat sekitarnya dalam penanggulangan penderita
gawat darurat, d) unit gawat darurat harus melakukan riset guna untuk
meningkatkan

mutu/kualitas

pelayanan

kesehatan

masyarakat

sekitarnya (Depkes RI,1992).


B. Peran Perawat
1. Pengertian Perawat
Perawat atau Nurse berasal dari bahasa latin yaitu dari kata Nutrix
yang berarti merawat atau memelihara.
Perawat adalah seseorang yang berperan dalam merawat atau
memelihara, membantu dan melindungi seseorang karena sakit, injury
dan peruses penuaan (Harlley, 1997).
Perawat Profesional adalah perawat yang bertanggung jawab dan
berwewenang memberikan pelayanan keperawatan secara mandiri
dan atau berkolaborasi dengan tenaga kesehatan lain sesuai dengan
kewenagannya (Depkes RI, 2002 dalam Aisiyah 2004).
Menurut UU RI NO 23 tahun 1992 tentang Kesehatan,
mendefinisikan Perawat adalah mereka yang memiliki kemampuan
dan kewenangan melakukan tindakkan keperawatan berdasarkan
ilmu yang dimilikinya, yang diperoleh melalui pendidikan keperawatan
(www.pustakaindonesia.or.id).

Sedangkan menurut international Council of Nurses (1965),


perawat adalah seseorang yang telah menyelesaikan program
pendidikan keperawatan, berwenang di Negara bersangkutan untuk
memberikan pelayanan dan bertanggung jawab dalam peningkatan
kesehatan, pencegahan penyakit serta pelayanan terhadap pasien.
2. Peran perawat
Peran adalah seperangkat tingkah laku yang diharapkan oleh
orang lain terhadap seseorang sesuai kedudukannya dalam, suatu
system. Peran dipengaruhi oleh keadaan sosial baik dari dalam
maupun dari luar dan bersifat stabil. Peran adalah bentuk dari perilaku
yang diharapkan dari seesorang pada situasi sosial tertentu. (Kozier
Barbara, 1995:21).
Menurut Florence Nightingale peran perawat adalah menjaga
pasien mempertahankan kondisi terbaiknya

terhadap masalah

kesehatan yang menimpa dirinya.


PERAN PERAWAT MENURUT KONSORSIUM ILMU KESEHATAN
TAHUN 1989 terdiri dari:
A. Sebagai pemberi asuhan keperawatan
Peran ini dapat dilakukan perawat dengan memperhatikan keadaan
kebutuhan dasar manusia yang dibutuhkan melalui pemberian
pelayanan

keperawatan.

Pemberian

asuhan

keperawatan

ini

dilakukan dari yang sederhana sampai dengan kompleks.


10 aktor Asuhan dalam Keperawatan :
1. Menunjukkan system nilai kemanusian dan altruisme.
2. Memberi harapan dengan :
Mengembangkan sikap dalam membina hubungan dengan
klien
Memfalitasi untuk optimis
Percaya dan penuh harapan
3. Menunjukkan sensivitas antara satu dengan yang lain
4. Mengembangkan hubungan saling percaya : komunikasi
efektif, empati, dan hangat.
5. Ekspresi perasaan positif dan negative melalui tukar pendapat
tentang perasaan.
6. Menggunakan proses pemecahan mesalah yang kreatif
7. Meningkatkan hubungan interpersonal dan proses belajar
mengajar

8. Memeberi support, perlindungan, koreksi mental, sosiokultural


dan lingkungan spiritual
9. Membantu dalam pemenuhan kebutuhan dasar manusia
10. Melibatkan eksistensi fenomena aspek spiritual.
2. Sebagai advokat klien
Peran ini dilakukan perawat dalam membantu klien & kelg dalam
menginterpretasikan berbagai informasi dari pemberi pelayanan
khususnya

dalam

pengambilan

persetujuan

atas

tindakan

keperawatan. Perawat juga berperan dalam mempertahankan &


melindungi hak-hak pasien meliputi :
Hak atas pelayanan sebaik-baiknya
Hak atas informasi tentang penyakitnya
Hak atas privacy
Hak untuk menentukan nasibnya sendiri
Hak menerima ganti rugi akibat kelalaian.
3. Sebagai educator
Peran ini dilakukan dengan membantu klien dalam meningkatkan
tingkat pengetahuan kesehatan, gejala penyakit bahkan tindakan
yang diberikan sehingga terjadi perubahan perilaku dari klien
setelah dilakukan pendidikan kesehatan.
4. Sebagai koordinator
Peran ini dilaksanakan dengan mengarahkan, merencanakan serta
mengorganisasi pelayanan kesehatan dari tim kesehatan sehingga
pemberi pelayanan kesehatan dapat terarah serta sesuai dengan
kebutuhan klien.
5. Sebagai kolaborator
Peran ini dilakukan karena perawat bekerja melalui tim kesehatan
yang terdiri dari dokter, fisioterapi, ahli gizi dll dengan berupaya
mengidentifikasi pelayanan keperawatan yang diperlukan.
6. Sebagai konsultan
Perawat berperan sebagai tempat konsultasi dengan mengadakan
perencanaan, kerjasama, perubahan yang sistematis & terarah
sesuai dengan metode pemberian pelayanan keperawatan
7. Sebagai pembaharu
Perawat mengadakan perencanaan, kerjasama, perubahan yang
sistematis & terarah sesuai dengan metode pemberian pelayanan
keperawatan
Fungsi Perawat.
Fungsi Perawat dalam melakukan pengkajian pada Individu
sehat maupun sakit dimana segala

aktifitas

yang di lakukan

berguna untuk pemulihan kesehatan berdasarkan pengetahuan


yang di miliki, aktifitas ini di lakukan dengan berbagai cara
untuk mengembalikan kemandirian pasien secepat mungkin dalam
bentuk Proses Keperawatan yang terdiri dari tahap Pengkajian,
Identifikasi

masalah

(Diagnosa

Keperawatan),

Perencanaan,

Implementasi dan Evaluasi (Asdi, 2008)


a. Fungsi Independen
Merupakan fungsi mandiri dan tidak tergantung pada orang lain,
dimana perawat dalam melaksanakan tugasnya dilakukan secara
sendiri dengan keputusan sendiri dalam melakukan untuk
memenuhi KDM.
b. Fungsi Dependen
Merupakan fungsi perawat dalam melaksanakan kegiatannya
atas pesan atau instruksi

dari perawat lain sebagai tindakan

pelimpahan tugas yang diberikan. Biasanya dilakukan oleh


perawat spesialis kepada perawat umum atau dari perawat
primer kepada perawat pelaksana.
c. Fungsi Interdependen
Fungsi ini dilakukan dalam kelompok tim yang bersifat saling
ketergantungan diantara tim satu dengan yang lainnya. Dapat
terjadi apabila bentuk pelayanan membutuhkan kerjasama tim
dalam pemberian pelayanan. Keadaan ini tidak bisa diatasi oleh
tim perawat saja melainkan juga dari dokter ataupun lainnya.
C. TATA LAKSANA KOMUNIKASI
a. Tatalaksana komunikasi denganmetode SBAR dan READ BACK
1. Mengucap salam
2. Memperkenalkan diri: nama, ( perawat / dokter ) dari ruang / unit
mana
3. Perawat / dokter melaporkan dengan metode SBAR,
i.
Situation, ( kondisi pasien saat ini )
ii.
Background, ( riwayat sakitnya )
iii.
Assesment, ( sudah dilakukan apa )
iv.
Recomendation, ( usulnya apa )
v.
Termasuk hasil / nilai kritis
4. Setelah mendapatkan perintah / pesan / advis, perawat / dokter
melakukan pengulangan ucapan ( READ BACK ) dari pemberi
perintah / pesan saya ulangi ya dokter
5. Apabila ada perintah / pesan yang mengandung obat LASA (Look
Alike Sound Alike) harus di eja satu persatu hurufnya, kalau
perlu dengan huruf Alfabeth

6. Pemberi perintah / pesan memberikan konfirmasi ya benar


setelah penerima perintah mengulangi ucapan pemberi perintah
dengan benar.
7. Tulis perintah / pesan dilembar terintegrasi dan dibubuhi cap
READBACK
Tanggal dan jam diterimanya pesan
Isi perintah / isi pesan ( Misal: dosis obat yang akan

diberikan dan waktu pemberian, serta cara pemberian, dll)


Penerima perintah nama dan tanda tangan
Pemberi perintah nama dan tanda tangan

b. Tujuan
1. Mendeskripsikan prosedur untuk memastikan tidak terjadinya
kesalahan

dalam

melakukan

komunikasi

antara

petugas

kesehatan (dokter, perawat dan petugas penunjang medis ) di


rumah sakit.
2. Mengurangi kejadian / kesalahan yang berhubungan dengan
salah komunikasi, salah interprestasi
3. Mengurangi kejadian ciderapada pasien akibat dari salah
komunikasi
D. RUANG LINGKUP
Panduan ini diterapkan kepada semua petugas kesehatan yang akan
melakukan komunikasi.
a. Prinsip
1. Semua prosedur komunikasi antar petugas adalah sesuai dengan
pedoman komunikasi efektif
2. Tujuan utama dari komunikasi efektif adalah untuk mengurangi
terjadinya kesalahan informasi antar tenaga kesehatan
3. Panduan komunikasi ini digunakan pada proses untuk melakukan
pelaporan melalui telepon, kondisi pasien dan hasil nilai kritis
pasien kepada dokter atau petugas laborat dan petugas radiologi
b. Kewajiban dan Tanggung Jawab
Seluruh staf Rumah Sakit
i.
Memahami dan menerapkan prosedur komunikasi secara
ii.

benar.
Memastikan komunikasi yang benar dengan pendekatan /
metode SBAR, ketika melakukan pelaporan kondisi pasien atau

iii.

pelaporan hasil nilai kritis passien.


Mencatat dan memberikan cap / stempel READ BACK pada
formulir catatan terintegrasi

iv.

Memastikan dalam waktu 1x24 jam sudah di tanda tangani oleh

pemberi perintah
E. TATALAKSANA KOMUNIKASI SERAH TERIMA PASIEN / OPERAN
ANTAR SIFT ATAU ANTAR PETUGAS RUANGAN
1. Lakukan pengkajian ulang
2. Kumpulkan data yang diperlukan
3. Pastikan diagnose medis pasien dan prioritas masalah keperawatan
yang akan dilanjutkan
4. Baca dan pahami catatan perkembangan terkini dari hasil pengkajian
5. Siapkan rekam medis pasien termasuk rencana perawatan harian
6. Lakukan serah terima dengan sift berikutnya atau perawat ruang lain.
Data yang wajib di serah terimakan adalah status kesehatan pasien,
ringkasan asuhan, perkembangan pasien dan rencana asuhan.
7. Petugas / perawat yang di operi wajib mengulangi pesan / read
back, apa yang sudah disampaikan
8. Tanda tangan serah terima pasien

BAB III
PEMBAHASAN
3.1 KOMUNIKASI BERDASARKAN JURNAL
Kehadiran keluarga pasien selama resusitasi dan prosedur invasif di IGD
masih topik perdebatan. Menurut literatur, sebagian besar lembaga memiliki
implisit atau pedoman yang jelas untuk mengakui atau membolehkan keluarga
pasien, termasuk pemilihan dan persiapan, dukungan, dan Kriteria eksklusi
selama prosedur invasif. Prosedur ini direkomendasikan untuk keluarga pasien
guna melakukan

tindakan yang tepat saat di IGD, tetapi prosedur ini tidak

dilakukan.
Interaksi sosial terutama hubungan atara perawat, pasien, dan keluarga
pasien terdapat banyak variasi dalam 5 kategori dalam jurnal ini. Hal tersebut
dikarenakan perilaku dan pengalaman manusia yang kompleks. Penelitian ini
berpotensi dalam pelayanan perawatan dasar hubungan komunikasi. Hal ini
bermanfaat untuk dasar pengkajian saat monitoring dan penyediaan dukungan
terhadap pasien dan keluarga pasien dalam ruang trauma di IGD.
Dalam jurnal ini, tidak mengamati atau melakukan observasi terhadap
keluarga pasien sebelum keluarga pasien masuk ke ruang trauma. Peneliti tidak
dapat memprediksi anggota keluarga pasien yang mana yang harus diinklusi
atau eksklusi (misal : suami, istri, tante, nenek, dll). Namun, peneliti dapat
mengaplikasikan metode interaksi ini pada hubungan perawat dan keluarga
pasien. Dari hasil penelitian dengan evident case, penggunaan metode empati
tidak sesuai untuk dilakukan pada orang yang sedang dalam tekanan secara
emosional. Dalam jurnal lain (Morse et al., 1998) membahas bahwa metode
carte blanche yang merupakan bentuk dari empati juga tidak sesuai untuk
berinteraksi dengan pasien. Oleh karena itu, peneliti akan menginvestigasi kapan
empati sesuai untuk dilakukan dan kapan empati tidak sesuai untuk dilakukan.

Isu ini sangat penting sehingga menjadi perdebatan dalam perijinan keberadaan
pasien dalam ruang trauma dan kepekaan perawat terhadap anggota keluarga
yang akan kehilangan kontrol emosi.
Strategi komunikasi yang sesuai dan tidak sesuai harus dikaitkan dengan
dasar perawatan kritis di IGD. Sehingga, tenaga medis dapat menghindari resiko
terjadinya perilaku yang tidak diinginkan dari keluarga pasien. Dasar dari hasil
penelitian ini adalah, saat keluarga pasien berada dalam ruang trauma, interaksi
perawat yang harus dilakukan dengan bekal informasi yang lengkap dan perlu
memberikan dukungan moral baik ke pasien maupun ke keluarga pasien.
Dalam jurnal ini, menggunakan model suffering sebagai alat pengukur
untuk menilai, manifestasi perilaku yang ditunjukkan oleh pasien dan keluarga
pasien. Perawat tidak dapat hanya mengkaji secara terus menerus perilaku dari
status emosional pasien, namun juga dapat memilih strategi yang sesuai untuk
mendukung pasien, agar mereka lebih tenang dan tidak cemas.
Setiap keluarga pasien yang masuk ke dalam ruangan trauma ditentukan
oleh terutama kondisi pasien, perilaku, dan sifat dari perawatan. Keluarga pasien
memasuki ruangan di mana pasien dilakukan perawatan, biasanya ketika kondisi
pasien stabil atau beberapa saat sebelum transfer dari unit gawat darurat, pasien
yang tidak sadar, cemas atau takut.
Kasus lainnya adalah pasien anak-anak, satu-satunya kasus di mana
anggota keluarga pasien hadir dari awal adalah ketika anggota keluarga telah
tiba dengan membawa pasien di bagian gawat darurat, kecuali dalam kasus
anak-anak yang anggota keluarga pasien jarang mengakui ketika kondisi pasien
tidak stabil atau ketika pasien mengalami ketakutan.
Hasil pengamatan dari perilaku dan interaksi verbal pasien dan anggota
keluarganya, kita mampu mengklasifikasikan yang kuat/ bertahan

dan yang

memiliki tekanan secara emosional. Orang yang bertahan (salah satu anggota
keluarga atau pasien) dapat diwujudkan berupa: Secara lisan, mereka diam,
hanya mengunakan satu kata atau kalimat singkat, atau tidak memulai
percakapan. Ketika mereka bertemu dan berbicara, intonasi suara mereka
berkurang. Misalnya, jika posisi lengan ketika seorang perawat melakukan
prosedur, posisi itu akan dipertahankan bahkan ketika perawat sudah pindah ke

sisi lain, anggota keluarga biasanya berdiri dengan posisi menggenggam tangan
di belakang badan atau saling memegang pundak.
Sebaliknya, orang-orang yang secara emosional tertekan (anggota
keluarga atau pasien) diluapkan dengan perilaku emosional. Secara lisan,
anggota keluarga diajarkan untuk menenangkan seperti berkata kamu tidak
apa-apa seolah-olah untuk meyakinkan diri pasien oleh anggota keluarga
lainnya. Secara postur, anggota keluarga yang emosionalnya tidak stabil berdiri
dalam posisi membungkuk dengan bahu merendah dan kepala ke bawah, sinyal
kepada orang lain bahwa ia butuh untuk dihibur. Anggota keluarga ini berdiri
dekat satu sama lain, sering dengan memegang pundak untuk saling
memberikan

dukungan.

Perilaku,

anggota

keluarga

muncul

untuk

mengungkapkan kesedihan mereka kepada pasien; mereka berdiri agak jauh


dari pasien dan berbalik ketika air mata tidak bisa dikendalikan (gambar 2).
Ketika seseorang yang tertekan atau sangat putus asa, perawat menenangkan
(gambar 3).
Keluarga yang emosionalnya dapat dikendalikan ketika dihadapkan
dengan keadaan pasien atau dengan kata lain dapat menerima keadaan dan
kondisi pasien yang sakit, biasanya mereka dapat menenangkan anggota
keluarga pasien yang lain dengan kondisi emosional yang tidak stabil. Emosional
anggota keluarga dapat dipengaruhi oleh emosional pasien juga, jika pasien
mengtakan ia baik-baik saja maka anggota keluarga juga merasa tenang.

1. Families Learning to Endure (keluarga belajar untuk bertahan)


Dalam kategori ini, terhadap pasien yang tidak sadarkan diri, dibius, tidak
responsif, atau diintubasi perlu perhatian khusus. Keluarga-keluarga ini mencoba
untuk mengambil dan memahami apa yang telah terjadi. Mereka sering tertegun,
berusaha untuk memahami situasi pasien. Mereka berdiri jauh dari tempat tidur,
intens menonton pasien dan perawat yang sedang melakukan tindakan dan
memonitor pasien. Keluarga ini melihat ke perawat untuk meminta bimbingan.
Perawat difokuskan pada beberapa intervensi keperawatan. Mereka dibantu
anggota keluarga untuk bergerak ke samping pasien dalam melakukan
intervensinya. Perawat melatih keluarga untuk "berbicara dengan" pasien,
menginformasikan mereka bahwa pasien mungkin bisa mendengar suara
dari keluarganya. Perawat mengatakan kepada pasien, "Keluargamu di sini,"
dan keluarga akan mengikuti isyarat perawat: "Kami semua di sini." Percakapan
yang terjadi biasanya sangat minim, seringkali beberapa keluarga berbicara
antara mereka sendiri tentang informasi yang mereka terima dari perawat.
Kategori ini difokuskan pada kehadiran keluarga secara langsung
disamping pasien. Perawat memberikan informasi faktual pada kondisi
pasien, seperti tanda-tanda vital pasien. Kadang-kadang, perawat datang
dan menghibur keluarga, terutama jika anggota keluarga itu sendiri atau masih
kecil. Terdapat perbedaan antara kedua jenis kelamin yang tercatat di postural
perilaku dan dalam menerima kenyamanan. Sebagai keluarga berkumpul di
sekitar samping tempat tidur, wanita lebih cenderung berada di posisi di kepala,

sedangkan pria lebih mungkin untuk berdiri di kaki atau bahkan pergi dari bed
pasien. Perempuan lebih mungkin untuk menyentuh dan berbicara dengan
pasien, meskipun kadang-kadang perilaku diubah atau berganti-ganti. Misalnya,
seorang ibu menjadi tertekan dan menangis dan menjauh dari sisi tempat tidur,
dan ayah pindah untuk mengambil tempatnya.
2. Patient Failing to Endure (Pasien Gagal Bertahan)
Pasien yang gagal bertahan biasanya sakit atau nyeri yang tidak
terkendali, atau takut. Ketika pasien ketakutan atau di luar kendali, anggota
keluarga tidak selalu masuk ke ruang trauma. Anggota keluarga diizinkan untuk
hadir dengan disamping pasien yang takut atau rasa sakit tak terkendali dan
tekanan emosional. Dalam hal ini, keluarga menunjukka perilaku bertahan dan
bekerjasama dengan perawat untuk membuat pasien bertahan (lihat Tabel).
Perawat mengakui rasa sakit pasien, memberikan penjelasan singkat untuk
prosedur yang tidak menyenangkan, dan melatih pasien untuk bertahan,
menganjurkan pasien untuk bersabar. Perawat disini berperan untuk
menenangkan pasien sekaligus keluarga. Mereka menirukan perawat sebagai
leader dan bicara, ("Tidak apa-apa"), penegasan ("Kami di sini"), dan dorongan
("Santai saja").
Keluarga memperhatikan arahan perawat ("Ambil napas dalam-dalam").
Namun, mereka diam jika pasien bersumpah, berisik, atau menangis, meskipun
mereka kadang-kadang membantu dalam menahan dengan memegang kaki
pasien atau tangan. Banyak anggota keluarga mendekati atau menyentuh pasien
hanya setelah dorongan dari perawat untuk melakukannya. Mereka menyentuh
pasien dengan tepukan pendek, mengusap lengan atau kaki pasien, membelai
dahi pasien atau wajah, atau memegang tangan pasien dengan cara ala
kadarnya. Kebanyakan pasien yang gagal untuk bertahan lebih muda (anak-anak
atau bayi). Interaksi perawat-keluarga pasien berbeda dalam kelompok usia ini.
Anak-anak mengungkapkan perasaan mereka, takut, atau sakit dengan
menangis atau berteriak. Perawat mendorong anggota keluarga untuk tinggal
dan menghibur anak, perawat dan orang tua mengambil isyarat dari satu
sama lain mencoba untuk menghibur anak. Banyak strategi menghibur yang
digunakan;

gangguan,

goyang,

tawar-menawar,

membujuk,

memeluk,

meyakinkan, bercanda, dan menggoda yang digunakan sebentar-sebentar oleh


kedua orang tua dan perawat. Orangtua menyembunyikan kesusahan mereka
dan fokus pada anak mereka.
3. Family Emotionally Suffering and Patient Enduring (keluarga dengan
tekanan emosional dan pasien bertahan)
Dalam kategori ini, beberapa anggota keluarga melepaskan emosi
mereka (berbagi) pada anggota keluarga lainnya, atau perawat berusaha untuk
menguatkan dan meringankan distres mereka. Misalnya, seorang polisi yang
tertembak, menerima prosedur tindakan yang terus-menerus sampai ditransfer
ke ICU, pasien menghibur istri dan putrinya, yang keduanya menangis: " aku
baik-baik saja, aku baik-baik saja". pasien lain berusaha untuk meringankan
distress anggota keluarga lain melalui distraksi (misalnya, membahas nilai hoki),
humor, atau menyembunyikan ketidaknyamanan pasien sendiri. Dalam situasi
ini, perawat terlibat dalam perawatan dan membatasi waktu untuk anggota
keluarga pasien. Perawat memantau interaksi antara pasien dan keluarga
pasien dan memberikan jaminan ("Tidak apa-apa") dan informasi tentang
tes dan hasilnya.
Dalam beberapa kasus, untuk meringankan beban mereka sendiri dan
memberikan jaminan diri, anggota keluarga berada disamping pasien sesering
mungkin (tergantung pada peralatan dan side rails). Tampilan emosional ini
sangat umum dan jelas ketika beberapa anggota keluarga yang lain tidak
mengalami kesulitan. Mereka berperan menghibur atau

berdiri dibelakang

mereka yang sakit. Mereka tidak membuat percakapan atau kontak mata dengan
anggota keluarga lain, tetapi mereka lebih mempertahankan distance mereka
dan fokus pada teknologi atau peralatan yang ada.
Interaksi triadic ini diarahkan pada anggota keluarga yang memiliki
beban secara emosional dan bukan ke arah pasien. Bahkan perawat
mengarahkan perhatian lebih dan informasi untuk keluarga pasien melalui
pasien sendiri.
4. Patient and Family Enduring (Pasien dan Keluarga Enduring)

Jika pasien dan atau anggota keluarganya semua berada pada keadaan
yang kuat, mereka semua berperilaku tabah. Pasien tenang, mempertahankan
kontrol, dan memasrahkan dirinya untuk perawatan yang diperlukan. Anggota
keluarga berdiri terpisah, kadang-kadang di sisi yang berlawanan dari bed, dan
mengamati pasien, perawat, dan lain-lainnya. Pasien dan anggota keluarga
diam-diam mengamati tindakan perawat, diam-diam mencari petunjuk tentang
kondisi pasien. Pada saat yang sama, perawat mengamati pasien dan keluarga.
Perawat, kadang-kadang memberi pengakuan lisan dan pujian untuk
menguatkan pasien ("Kau gadis yang baik dan berani," "Kau melakukan
dengan baik") dan keluarga mengulangi ("Kami bangga padamu, kau begitu
kuat").
Dalam kategori ini, ketika pasien dan keluarga kuat, interaksi antara
pasien, keluarga, dan perawat hanya minimal. Semua interaksi ditujukan untuk
mendukung perilaku kuat daripada interaksi yang akan memicu pelepasan
beban emosional.
5. RESOLUTION OF ENDURING (PENYELESAIAN MASALAH KRITIS)
Penyelesaian masalah kritis terjadi ketika pasien dalam keadaan stabil
sehingga keluarga tidak perlu memikul lagi beban tentang kondisi pasien. Ketika
keluarga mengetahui mereka tidak perlu lagi untuk khawatir

tentang kondisi

kelurganya membuat mereka sedikit lebih tenang terlihat dari postur tubuh yang
semula tegang bisa kembali rileks, dapat tersenyum, dan mendekat keanggota
keluarga yang lain, berpelukan, saling tertawa dan terkadang diikuti dengan
sedikit air mata bahagia. Jika mampu mereka dapat bercanda dengan kelurga
mereka sambil menunggu dipindah keruangan untuk perawatan selanjutnya.
Kemudian keluarga pasien akan memasuki fase menunggu (waiting mode),
menunggu pasien akan dipindah dari departemen emergensi ke ruangan. Disini
perawat menjadi penuh perhatian ke anggota keluarga pasien, perawat akan
meminta

keluarga

untuk

mengekspresikan

perasaan

mereka

dan

memastikan ke anggota keluarga bahwa ini akan baik baik saja, meminta
keluarga siap untuk menghadapi ini semua sambil menawarkan kopi atau teh.
Adakalanya tindakan perawat ini ditolak oleh keluarga pasien sebelum melakuan
penyelesaian beban dan tekanan. Terkadang perawat sampai harus bertanya

tiga kali ke istri atau keluarga pasien apakah menginginkan minuman dan tidak
mendapakat jawaban.
Setelah kegelisahan berkurang terjadi interaksi kecil antara perawat,
pasien dan anggota keluarga pasien. Anggota keluarga akan mulai merasa
bosan saat terjadi interaksi, beberapa diantara mereka malah membaca buku,
dan sisanya pergi untuk menonton. Fokus anggota keluarga berubah dari focus
ke pasien menjadi ke diri mereka masing masing. Terkadang mereka melirik ke
ruang trauma mengamati waktu dan berencana melakukan aktifitas mereka,
termasuk bekerja dan mengurus anak jika melihat kondisi pasien baik baik saja.
Beberapa menginggalkan pasien untuk menelepon teman atau pergi ke kantin,
keluarga merasa tidak perlu ada yang di waspadai

atau di khawatirkan lagi

ketika sudah melewati masa kritis dan mereka merasa bebas untuk
meninggalkan pasien dan kembali ke aktivitas mereka.

Disaat seperti ini

interaksi antara perawat dengan pasien dan keluarga pasien semakin sedikit.
Para perawat tidak perlu lagi khawatir atau waspada dengan kondisi pasien dan
hanya perlu memantau kondisi pasien di monitor dan dapat meninggalkan
ke pasien lain.

Dua pengecualian untuk pola-pola ini telah dicatat. Yang pertama terjadi
ketika anggota keluarga seorang pasien tidak asing lagi dengan lingkungan
rumah sakit; kedua terjadi ketika pola dan respon terhadap tekanan emosional
dan bertahan dalam triad yang tidak sinkron.
Dalam beberapa kasus, angota keluarga seorang pasien merasa nyaman
dengan lingkungan rumah sakit atau Unit Gawat Darurat (UGD) karena riwayat
penerimaan pasien yang sebelumnya dan alur perjalanan penyakit pasien.
Beberapa dari mereka menggambarkan diri mereka sebagai pengunjung tetap
atau telah akrab dengan UGD. Anggota keluarga lainnya adalah petugas
kesehatan dan akrab dengan rumah sakit. Pada saat memasuki ruangan trauma
untuk pertama kalinya, anggota keluarga tersebut berjalan dengan rasa yakin,
biasanya dengan percaya diri mereka langsung menuju ke kepala perawat tanpa
bimbingan. Sesekali ketika menjaga pasien, mereka sering pergi atau berdiri
dengan para staf perawat, walaupun mereka tidak dikenal sebagai seorang
karyawan di sana. Anggota keluarga yang seperti ini terlihat nyaman dengan
staf perawat dan peralatan rumah sakit, dan, sesekali, mengurus, seperti
memasang alat oksigen, menginformasikan kepada perawat tentang kebutuhan
pasien, atau mencari linen atau kain untuk membasuh pasien.
Perlu diperhatikan, ketika kondisi seorang pasien memburuk, perubahan
sering menyebabkan hilangnya rasa percaya diri keluarga untuk bertahan. Disaat
seperti ini, anggota keluarga mudur atau meninggalkan sisi tempat tidur. Hanya 2

interaksi tercatat antara perawat dengan anggota keluarga pasien yang


tampaknya dapat menyebabkan tekanan dalam anggota keluarga. Kedua hal
tersebut termasuk ketika perawat membuat pernyataan yang empatik yang dapat
merusak pertahanan anggota keluarga.
3.2 KOMUNIKASI BERDASARKAN SOP DI RS dr. ISKAK TULULNG AGUNG
A. PROSEDUR

KOMUNIKASI

EFEKTIF

DENGAN

PASIEN

DAN

KELUARGA DI RS DR.ISKAK
1. Perawat/bidan melakukan cuci tangan 6 langkah secara benar
2. Perawat atau bidan mengucapkan salam
3. Perawat/bidan menyebutkan nama dan unit kerjanya
4. Perawat/bidan memberitahukan maksud dan tujuan dalam memberikn
informasi
5. Perawat/bidan memberikan kesempatan kepada paien dan keluarga
untuk bertanya tentang segala sesuatu yang tidak dimengerti dan
meyebabkan kekhawatiran
6. Perawat/bidan mengucapkan salam meninggalkan
7. Perawat/bidan melakukan cuci tangan 6 langkah secara benar
B. PROSEDUR KOMUNIKASI PELAPORA HASIL PEMERIKSAAN PASIEN
DENGAN NILAI KRITIS
1. Petugas mengucapkan salam
2. Petugas memperkenalkan diri : nama (petuga kesehatan), dari ruang/
instalasi mana
3. Petugas melaporkan hasil nilai kritis saat ini
4. Setelah menerima pesan nilai kritis, perawat/dokter melakukan
pengulangan ucapan (read back) dari pemberi peritah/pesan
5. Petugas member perintah/pesan memberikan konfirmasi ya benar
setelah penerima pemerintah mengulangi ucapan (read back)
pemberi perinta secara benar
C. KOMPONEN EDUKASI PASIEN DAN KELUARGA
Program edukasi

Bidang disiplin

( ) Kondisi medis dan diagnosa

Medis

( ) rencana pengobatan

Medis

( ) penggunaan alat medis

Keperawatan

( ) penggunaan obat secara aman dan efektif

Farmasi

( ) rencana perawatan

Keperawatan

( ) manajemen nyeri

Keperawatan

( ) Perawatan luka

Keperawatan

( ) diet/nutrisi

Dokter gizi/ ahli gizi

( ) interaksi obat dan makanan

Farmasi

( ) teknik rehabilitasi

Rehabilitasi medis

( ) pengisian inform consent

Keperawatan

( )teknik cuci taangan

Keperawatan

( ) edukasi resiko jatuh

Keperawatan

( ) perawatan lanjutan setelah pasien pulang

Keperawatan

D. METODE KOMUNIKASI EFEKTIF


METODE EDUKASI
1. diskusi

RESPON
1

Tidak respon sama sekali (tidak ada


antusiasme dan keinginan belajar)

2. peragaan

Tidak paham (ingin belajar tapi kesulitan


mengerti)

3. selebaran

Paham hal yang diajarkan, tapi tidak bia


menjelaskan sediri

4. audio visual

Dapat

menjelaskan

apa

yang

telah

diajarkan, tapi harus dibantu educator


5

Dapat menjelaskan apa yang diajarkan


tanpa dibantu

3.3 ANALISA PERBANDINGAN KOMUNIKASI EDUKASI JURNAL DAN UGD


DR. ISKAK TULUNGAGUNG
Berdasarkan observasi kurang lebih selama 4 minggu di UGD Dr Iskak
Tulung Agung pola komunikasi yang di lakukan antara perawat dengan pasien
maupun keluarga pasien sudah cukup baik. Hal ini dibuktikan dengan adanya
SOP Prosedur Komunikasi Efektif Dengan Pasien Keluarga dan Prosedur
Komunikasi Pelaporan Hasil Pemeriksaan Pasien Dengan Nilai Kritis. Selama
pengamatan aktivitas komunikasi terapeutik terdiri dari empat tahap, yaitu :

1. Fase pra interaksi (sebelum bertemu dengan pasien atau keluarga), meliputi:
Perawat melihat catatan atau rekaman medik sebelum bertemu klien,
mempersiapkan alat-alat yang

diperlukan untuk tindakan keperawatan,

mempersiapkan ruangan yang kondusif untuk menyampaikan informasi,


memanggil keluarga pasien melalui pengeras suara, dan cuci tangan 6
langkah sebelum dan sesudah bertemu dengan pasien maupun keluarga.
2.

Fase tindakan (bertemu dengan pasien atau keluarga), meliputi: perawat


mulai melakukan tindakan, bertemu dengan keluarga. Jika klien adalah
keluarga adalah orang sebaya perawat kadang memakai bahasa jawa
ngoko, tapi jika pasiennya lebih tua perawat menggunakan bahasa krama.
Dengan menampilkan sikap ramah dan sopan membuat klien merasa
dihargai. Sikap ramah dan sopan diperlukan untuk menunjukkan agar klien
merasa bahwa yang merawat adalah orang yang tepat.
a. Mengenal serta memanggil nama pasien. Perawat memperkenalkan diri,
namun pada pertemuan pertama perawat UGD dengan pasien maupun
keluarga perawat jarang memeperkenalkan diri. Hal ini dilakukan untuk
menjalin keakraban, menghindari kesalahan tindakan yang akan
diberikan, serta pasien merasa dihormati. Bentuk praktis dari komunikasi
terapeutik adalah mengenal pasien.
b. Menjelaskan maksud, tujuan dan prosedur tindakan medis yang akan
dilakukan, misalnya, Pak ini mau disuntik di perut supaya kadar gulanya
turun. Setelah itu, pasien memberikan umpan balik, menyatakan setuju
atau menolak tindakan medis yang dilakukan. Karena setiap pasien
memiliki hak untuk

menolak tindakan medis yang diberikan perawat

maupun dokter.
c. Berusaha mengetahui kondisi pasien melalui komunikasi dengan
memberi kesempatan kepada pasien untuk menjelaskan kondisinya.
Dengan demikian perawat dapat menyimpulkan tindakan apa yang perlu
diambil berdasarkan pada keluhan yang disampaikan oleh pasien.
d. Memberikan salam atau sapaan, seperti Selamat pagi! Bagaimana
tidurnya kemarin?
e. Berjabat tangan atau sentuhan. Meskipun tidak selalu dilakukan karena
alasan pasien memiliki penyakit menular minimal perawat sesekali
menyentuh badan pasien.

f.

Diam sejenak. Hal ini dilakukan ketika pasien akan memberikan


keputusan menyetujui atau menolak terhadap tindakan medis yang akan
diberikan.

g. Mengajukan pertanyaan yang berkaitan. Ini dilakukan pada pasien


misalnya yang mengalami luka bacok. Sambil memberikan perawatan
(mengganti perban), perawat bertanya kepada si pasien, mengapa
sampai bisa mengalami peristiwa tersebut, dan bagaimana kejadiannya.
Setelah

melakukan

tindakan

keperawatan

perawat

kadang

memberikan pujian jika pasien mau menuruti apa yang dianjurkan. Ketika
akan mengakhiri kegiatan, perawat menanyakan lagi perasaan pasien
setelah dilakukan tindakan medis. Namun tidak semua perawat memanggil
nama pasien, atau berjabat tangan. Selain itu tidak semua perawat juga
menanyakan

kondisi

perasaan

pasien.

Dalam

fase

ini

perawat

memberitahukan terkait kondisi pasien kepada keluarga, pilihan terapi atau


rencana pengobatan yang akan dilakukan, penggunaan alat medis,
perawatan luka, pengisian inform consent, pentingnya gelang identitas,
dan perawatan lanjutan. Metode yang biasa digunakan dalam edukasi
pasien dan keluarga adalah diskusi dengan memperhatikan respon pasien
dan keluarga.
3. Fase evaluasi (sesudah bertemu dengan pasien atau keluarga), meliputi:
Laporan tentang perkembangan kondisi kesehatan pasien dan pilihan
tindakan medis yang akan dilakukan. Tugas perawat pada fase ini adalah
menyimpulkan hasil kegiatan; evaluasi hasil dan proses. Memberikan
reinforcement positif dan merencanakan tindaklanjut dengan klien. Melakukan
kontrak untuk pertemuan selanjutnya (waktu, tempat, topik) serta mengakhiri
kegiatan dengan baik.
4. Fase Dokumentasi. Pada fase ini dilakukan pendokumentasian ke dalam
catatan medik mengenai tindakan-tindakan keperawatan yang telah dilakukan
serta perkembangan kondisi pasien. Melalui catatan medik inilah dapat
diketahui mengenai perkembangan kesehatan pasien, untuk kemudian
dipakai sebagai acuan untuk program-program keperawatan selanjutnya. Di
samping itu catatan medik ini juga dapat digunakan oleh dokter sebagai acuan

dalam memberikan tindakan medis. Kegiatan edukasi pada pasien UGD di


dokumentasikan dalam lembar pengkajian edukasi pasien dan keluarga.
Ditinjau dari segi teori ada beberapa teknik-teknik yang belum
diterapkan oleh perawat dalam memberikan asuhan keperawatan Hal ini
mungkin dikarenakan durasi perawatan di UGD yang cukup singkat, sehingga
kesan tidak baik maupun yang baik, yang telah disampaikan pasien
merupakan hal yang wajar. Akan tetapi dari pihak perawat harus memperbaiki
apa yang sudah ada, dengan merefresing kembali teori komunikasi terapeutik.
Dalam hal ini perawat berusaha mengerti pasien dengan cara mendengarkan
apa yang disampaikan pasien. Komunikasi terapeutik itu sendiri bertujuan
untuk kesembuhan pasien. Oleh karena itu, perlu diketahui sejauh mana
perawat di RS Dr. Iskak memahami arti dan pentingnya komunikasi terapeutik
itu sendiri. Karena pemahaman tersebut dapat berpengaruh terhadap kualitas
komunikasi terapeutik yang diberikan oleh perawat. Kualitas komunikasi
terapeutik dapat diketahui dari pelayanan yang dirasakan oleh pasien serta
tingkat kepuasan yang dirasakan oleh pasien.
Berdasarkan hasil observasi dan jurnal yang kami analisa penerapan teknik
komunikasi yang diterapkan dalam ruang UGD RS Dr Iskak meliputi:
1. Families Learning to Endure (keluarga belajar untuk bertahan)
Dalam kategori ini, terhadap pasien penurunan kesadaran, dibius, tidak
responsif, atau diintubasi perlu perhatian khusus. Keluarga pasien biasanya ingin
melihat ke perawat untuk meminta bimbingan. Perawat biasanya mengizinkan
keluarga untuk "berbicara dengan" pasien, namun jarang menginformasikan
mereka bahwa pasien mungkin bisa mendengar suara dari keluarganya. Perawat
juga jarang memberikan kalimat penguatan kepada pasien, "Keluargamu di sini,"
Percakapan yang terjadi biasanya sangat minim, seringkali beberapa keluarga
datang untuk melihat dan berdoa untuk kesembuhan klien. Selain itu, perawat
memberikan informasi terkait kondisi pasien, seperti tanda-tanda vital. Perawat
jarang terlihat datang dan menghibur keluarga.
2. Patient Failing to Endure (Pasien Gagal Bertahan)

Ketika pasien ketakutan atau di luar kendali, anggota keluarga tidak


selalu masuk ke ruang trauma. Anggota keluarga diizinkan untuk hadir dengan
disamping pasien yang takut atau rasa sakit tak terkendali dan tekanan
emosional. Dalam melakukan tindakan pengobatan seperti terapi oksigen dan
cairan, injeksi obat, memasang NGT dan kateter, serta intubasi perawat
memberikan penjelasan singkat untuk prosedur yang tidak menyenangkan, dan
melatih pasien untuk bertahan, menganjurkan pasien untuk bersabar. Perawat
disini berperan untuk menenangkan pasien sekaligus keluarga. Keluarga terlihat
menirukan perawat dan bicara, ("Tidak apa-apa, kamu akan sembuh")
Keluarga juga memperhatikan arahan perawat ("Ambil napas dalamdalam"). Namun, mereka biasanya menyuruh pasien untuk istighfar jika pasien
bersumpah,

berisik,

atau

menangis,

meskipun

mereka

kadang-kadang

membantu dalam menahan dengan memegang kaki pasien atau tangan.


Keluarga biasanya menyentuh pasien dengan tepukan pendek, mengusap
lengan atau kaki pasien, membelai dahi pasien atau wajah, atau memegang
tangan pasien. Jika pasien anak-anak perawat mendorong anggota keluarga
untuk tinggal dan menenangkan anak. Banyak strategi menenangkan yang
digunakan, seperti mengusap kepala, menggoyang, tawar-menawar, membujuk,
memeluk, meyakinkan, bercanda, dan menggoda yang digunakan sebentarsebentar oleh kedua orang tua dan perawat.
3. Family Emotionally Suffering and Patient Enduring (keluarga dengan
tekanan emosional dan pasien bertahan)
Dalam kategori ini, beberapa anggota keluarga melepaskan emosi
mereka (berbagi) pada anggota keluarga lainnya. Dalam situasi ini, perawat
terlibat dalam perawatan dan membatasi waktu untuk anggota keluarga pasien.
Perawat memantau interaksi antara pasien dan keluarga pasien dan memberikan
jaminan ("Tidak apa-apa") dan informasi tentang tes dan hasilnya.Hal ini sering
dijumpai pada beberapa anggota keluarga yang lain. Mereka berperan
menghibur atau berdiri dibelakang mereka yang sakit. Mereka tidak membuat
percakapan atau kontak mata dengan anggota keluarga lain, tetapi mereka lebih
mempertahankan pada teknologi atau peralatan yang ada. Berdasarkan
pengamatan di Dr. Iskak Tulung Agung, perawat menjelaskan kondisi dan hasil

tes pemeriksaan. Namun, seringkali perawat tidak mengizinkan keluarga baik


keluarga yang sabar maupun tertekan secara emosional untuk berinteraksi
dengan pasien. Terkadang juga diperbolehkan berinteraksi dengan pasien satu
per satu dengan batasan waktu.
4. Patient and Family Enduring (Pasien dan Keluarga Enduring)
Dalam kategori ini, ketika pasien dan keluarga kuat, interaksi antara
pasien, keluarga, dan perawat hanya minimal. Jika pasien dan atau anggota
keluarganya semua berada pada keadaan yang kuat, mereka semua
berperilaku tabah. Pasien tenang dan memasrahkan dirinya untuk perawatan
yang diperlukan. Pasien dan anggota keluarga diam-diam mengamati
tindakan perawat, diam-diam mencari petunjuk tentang kondisi pasien dengan
bertanya kepada perawat. Pada saat yang sama, perawat mengamati pasien
dan keluarga kemudian menjelaskan terkait kondisi dan rencana pengobatan
klien.
5. Resolution Of Enduring (Penyelesaian Masalah Kritis)
Dalam jurnal ini dijelaskan bahwa perawat menjadi penuh perhatian ke
anggota

keluarga

pasien,

perawat

akan

meminta

keluarga

untuk

mengekspresikan perasaan mereka dan memastikan ke anggota keluarga


bahwa ini akan baik baik saja, sambil menawarkan kopi atau teh. Adakalanya
tindakan

perawat

ini

ditolak

oleh

keluarga

pasien

sebelum

melakuan

penyelesaian beban dan tekanan. Namun hal ini belum bisa di implementasikan
dalam proses keperawatan disini terkait jumlah perawat yang tersedia hanya
berfokus untuk merawat pasien, berbeda dengan di luar negeri yang tugas
masing-masig perawat sudah jelas.