Anda di halaman 1dari 6

DIABETES MELITUS TIPE 1

Definisi
DM Tipe 1 adalah DM yang disebabkan oleh kurangnya produksi insulin oleh
organ pankreas.

Epidemiologi
DM Tipe 1 banyak terjadi pada anak-anak usia 6-10 tahun pada masa awal
pubertas dimana anak perempuan 3 kali lebih berisiko dari anak laki-laki.
Daerah dengan angka penderita DM paling tinggi yaitu Kalimantan Barat dan
Maluku Utara.

Etiologi
Faktor genetik
Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri; tetapimewarisi
suatu predisposisi atau kecenderungan genetik ke arah terjadinyaDM tipe I.
Kecenderungan genetik ini ditemukan pada individu yangmemiliki tipe antigen
HLA.b.
Faktor-faktor imunologi
Adanya respons otoimun yang merupakan respons abnormal dimanaantibodi terarah
pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut
yang dianggapnya seolah-olah sebagai jaringan asing.Yaitu otoantibodi terhadap
sel-sel pulau Langerhans dan insulin endogen.
Faktor lingkungan
Virus atau toksin tertentu dapat memicu proses otoimun yangmenimbulkan
destruksi selbeta.

Faktor Resiko
1. Riwayat keluarga: Ketika seorang sanak famili (orang tua, anak, saudara
kandung) memiliki diabetes, risiko mengembangkan diabetes tipe 1 adalah
sekitar 10 sampai 15 persen. Banyak kemungkinan gen sedang diselidiki.
2. Paparan protein susu sapi: Konsumsi susu sapi pada anak usia dini telah
diselidiki sebagai faktor penyebabnya.
3. Infeksi virus pada janin atau pada masa kecil

4. Berat lahir lebih besar dari 4.49 kg


5. Preeklamsia (tekanan darah tinggi pada ibu hamil)
6. Dilahirkan oleh seorang ibu yang lebih tua dari 25 tahun

Anatomi dan fisiologi pankreas


Pankreas adalah organ pipih yang terbentang pada VL I dan II dibelakang
lambung. Panjangnya kira-kira 15 cm mulai dari duodenum sampai ke limpa
dan berat rata-rata 69-90 g. Bagian dari pankreas : caput, corpus, dan cauda.
Pankreas memiliki 2 fungsi :
a. Fungsi Eksokrin
Bagian eksokrin dari pankreas berfungsi sebagai sel asinar (asini)
pankreas, memproduksi cairan pankreas (getah pankreas) berisi enzim dan
elektrolit yang disekresi melalui duktus pankreas ke dalam usus halus
(duodenum).
b. Fungsi Endokrin
Sel endokrin dapat ditemukan dalam pulau-pulau langerhans, yaitu
kumpulan kecil sel yang tersebar di seluruh organ. Pulau langerhans yang
mengeluarkan

sekretnya

keluar.

Tetapi, menyekresikan insulin dan

glukagon langsung ke darah. Pulau langerhans terdiri atas :

Sel alfa, memproduksi glukagon

Sel beta, menyekresi insulin yang menurunkan kadar gula darah.

Sel

delta,

menyekresi

somastatin,

hormon

penghalang

hormon

pertumbuhan yang menghambat sekresi glukagon dan insulin.

Sel F, menyekresi polipeptida pankreas, sejenis hormon pencernaan

Patofisiologi
Insulin merupakan hormon endokrin yang diproduksi dalam sel beta
pulaulangerhans

pada

pankreas.

Hormon

ini

berperan

utama

dalam

membolehkan sel-sel tubuh untuk menyimpan dan menggunakan karbohidrat,


lemak, dan protein. Selain itu juga insulin berperan sebagai katalis untuk
menstimulasi enzim danbahan kimia lain untuk produksi energi. Sekresi hormon
insulin distimulasi oleh peningkatan kadar glukosa dalam darah yang dihasilkan
dari makanan karbohidrat yang dikonsumsi. Sekresi ini terjadi biasanya 10

menit setelah makan. Glukosa merupakan sumber bahan bakar utama untuk
reaksi metabolisme energi dalam tubuh. Glukosa ini diperoleh melalui ingesti,
glukoneogenesis, dan glikogenolisis. Kadar glukosa dalam darah yaitu sekitar
70-140 mg/dl yang mana dipertahankan dalam batas normal oleh regulasi dari
hormon insulin dan glukagon. Defisiensi insulin yang bersifat absolut dan relatif
pada diabetes mellitus akan mengakibatkan proses transportasi glukosa dalam
darah kedalam selterganggu, hal ini akan meningkatkan kadar glukosa dalam
darah atau hiperglikemia. Pada diabetes mellitus tipe I hiperglikemia akan
mengakibatkan ginjal mengeksresikan glukosa tersebut kedalam urin yang
biasanya tidak terjadi, sehingga akan ditemukan glukosa dalam urin atau
glukosuria. Peningkatan glukosa dalam urin akan diikuti oleh peningkatan
seksresi air sehingga terjadi peningkatan eksresi urin (poliuria). Peningkatan
eksresi air melalui urin akan meningkatkan tekanan osmotik koloid plasma
sehingga air dalam sel akan tertarik kedalam intravaskuler yang akhirnya air
dalam sel berkurang dan pusat rasa haus akan terangsang dan akan membuat
klien diabetes mellitus melakukan banyak minum (Polidipsia). Defisiensi
insulin absolut pada diabetes mellitus tipe I juga akan mengakibatkan glukosa
dalam sel berkurang, sehingga mekanisme lapar terjadidan membuat klien
diabetes ingin makan secara berlebihan (Poliphagia). Selain itu simpanan
glukosa yang berkurang dalam sel akan mengganggu proses metabolisme
energi, sehingga proses glukoneogenesis dan glikogenolisis dapa tterjadi sebagai
kompensasi tubuh dalam mendapatkan sumber bahan bakar cadangan untuk
metabolisme energi. Proses peningkatan glukoneogenesis akan berakibat pada
peningkatan akumulasi hasil akhir metabolisme yang dapat mengganggu fungsi
tubuh, seperti zat-zat keton sebagai hasil akhir pemecahan asam lemak.
Peningkatan akumulasi zat-zat keton dalam tubuh ini akan mengganggu
keseimbangan asam dan basa dan klien pada saat ini jatuh pada kondisi diabetik
ketosidosis. Diabetes Tipe 1 sering dikategorikan sebagai kelainan terhadap
sistem imun/kekebalan tubuh. Hal tersebut dikarenakan pada diabetes tipe 1,
sistem kekebalan tubuh merusak sel penghasil hormon insulin yang terdapat di
pankreas. Sel penghasil insulin yang dimaksud adalah sel beta.
Dalam kondisi normal, sistem kekebalan tubuh akan menyerang dan
membentengi tubuh dari bakteri dan substansi-substansi atau virus yang

menyusup ke dalam tubuh. Namun pada diabetes tipe 1, tanpa alasan yang pasti,
sistem imun menyerang pankreas serta menghancurkan sel beta dan
menyebabkan terhambatnya produksi hormon insulin.
Diabetes tipe 1 terjadi saat tubuh kekurangan hormon insulin, sehingga
kadar glukosa (gula darah) meningkat hingga di atas normal. Insulin berfungsi
untuk menyerap nutrisi dan gula dalam darah, kemudian mensirkulasikannya ke
berbagai sel tubuh untuk dijadikan sebagai sumber energi.
Penderita diabetes tipe 1 hanya memproduksi insulin dalam jumlah yang
sangat sedikit atau bahkan tidak sama sekali. Akibatnya glukosa dalam darah
semakin meningkat (hiperglikemia) dan sel-sel tubuh tidak mendapatkan asupan
energi yang cukup.
Kondisi tersebut dapat menyebabkan:

Dehidrasi
Tingginya kadar gula dalam darah akan meningkatkan frekuensi urinasi
(buang air kecil) sebagai reaksi untuk mengurangi kadar gula. Saat gula
darah keluar bersama urine, tubuh juga akan kehilangan banyak air, sehingga
mengakibatkan dehidrasi.

Kehilangan berat badan


Gula dalam darah (glukosa) merupakan sumber energi bagi tubuh. Glukosa
yang terbuang bersama urine juga mengandung banyak nutrisi dan kalori
yang diperlukan tubuh manusia. Oleh karena itu penderita diabetes tipe 1
juga akan kehilangan berat badannya secara drastis.

Kerusakan tubuh
Tingginya level gula dalam darah akan menyebabkan kerusakan pada
jaringan tubuh. Kondisi ini juga akan merusak pembuluh darah kecil pada
mata, ginjal dan jantung. Penderita diabetes beresiko tinggi mengalami
serangan jantung dan stroke.

Patogenesis
Patogenesis Diabates Mellitus Tipe 1
Kejadian
Agen atau Respons
Kerentanan genetik
Gena daerah HLA D

Tahap
1

Kejadian lingkungan

Infeksius atau noninfeksius

Insulitis

Infiltrasi limfosit T teraktivasi

Aktivasi autoimunitas

Perubahan sel sendiri sel


asing

Serangan imun pada sel beta

Antibodi sitotoksik, imunitas


seluler

Diabetes Mellitus

> 90 % sel beta rusak


(sel alfa tidak terkena)

Gejala klinik
Poliuri, polidipsi, polifagi, mulut kering, mual hingga muntah, hilangnya berat
badan, kelelahan (fatigue), penglihatan menjadi kabur, luka atau infeksi pada
kulit dan saluran kemih, bernapas dengan cepat, dan sakit perut.

Terapi
o Oksigen
o Infus
o Injeksi insulin

Pencegahan
1. Primer : untuk orang-orang yang masih sehat dengan cara pola hidup sehat
dan penyuluhan

2. Sekunder : untuk orang sakit, tujuannya mencegah timbulnya kompensasi


dengan cara mengendalikan kadar glukosa darah, penyuluhan perilaku sehat,
dan pendeteksian dini dengan cara skrining serta pengobatan segera.
3. Tersier : bertujuan untuk mencegah kecacatan akibat komplikasi. Kegiatan
yang dilakukan antara lain mencegah perubahan dari komplikasi menjadi
kecatatan tubuh dan melakukan rehabilitasi sedini mungkin bagi penderita
yang mengalami kecacatan.

Komplikasi
1.

Akut
o Hipoglikemia
o Ketoasidosis

2.

Kronis
o Nefropati
o Neuropati
o Retinopati

Prognosis
Kurang baik jika tidak diterapi dengan baik

SKDI
Standar kompetensi dokter Indonesia mengenai penyakit DM tipe 1 adalah 4A,
yaitu lulusan dokter mampu membuat diagnosis klinik dan melakukan
penatalaksanaan penyakit tersebut secara mandiri dan tuntas. Kompetensi ini
dicapai pada saat lulus dokter