Anda di halaman 1dari 2

Dalam rangka memperoleh sertifikasi bebas Polio, diperlukan surveilance kasus lumpuh layuh akut/Accute

Flaccid Paralysis (AFP) yang maksimal. Diharapkan tidak ada seorang anakpun yang mengalami lumpuh layuh
akut yang tidak dilaporkan oleh tenaga kesehatan, masyarakat ke dinas kesehatan setempat. Oleh karenanya
diperlukan ketelitian untuk mendeteksi adanya kelumpuhan.
Angka cakupan rendah
Angka cakupan surveilans AFP, masih sangat rendah di beberapa tempat. Keadaan ini dapat disebabkan oleh :

Kurang pengertian tentang kasus/definisi AFP, akibatnya hanya kasus lumpuh berat saja yang
dilaporkan: poliomielitis, sindrom Guillain Barre, sebab lain tidak dilaporkan.

Penyakit AFP dapat sembuh sempurna dengan sendirinya tanpa pengobatan khusus misalnya
hipokalemia, sindrom Guillain Barre ringan, atau mielitis transversa.

Takut melaporkan kasus AFP, dengan perkiraan nanti daerahnya dinilai buruk karena efek proteksi
pada anak rendah.

Pegawai yang bertugas melaporkan AFP sudah pensiun atau pindah kerja.

Perlu adanya penghargaan bagi rumah sakit/puskesmas yang melaporkan kasus terbanyak.

Atau memang kasus tidak ada (zero reporting nol)

Definisi
Lumpuh layuh akut (AFP) adalah kelumpuhan yang bersifat layuh (flaccid), terjadi dalam waktu kurang dari 14
hari yang bukan disebabkan oleh trauma-trauma. Lumpuh layuh akut disebabkan oleh gangguan lower motor

neuronatau unit motorik, yaitu badan sel di kornu anterior medula spinalis, saraf tepi sambungan saraf otot,
atau otot.
Kelumpuhan neuromuskular
Secara garis besar kelumpuhan neuromuscular dibagi atas kelumpuhan susunan saraf pusat (Upper Motor
Neuron) dan susunan saraf tepi (Lower Motor Neuron). Kelumpuhan susunan saraf pusat meliputi kelainan
pada otak sampai medula spinalis. Gejala kelumpuhan saraf pusat adalah kaku/spastis, refleks fisiologi
meningkat, ditemukannya refleks patologis dan tanpa adanya pengecilan otot kecuali bila telah berlangsung
lama.
Kelumpuhan saraf tepi meliputi kelainan/penyakit pada kornu anterior medula spinalis, saraf tepi, hubungan
saraf-otot dan otot. Adapun gejala kelumpuhan saraf tepi adalah lemas/flaksid, refleks fisiologis menurun atau
menghilang, fasikulasi (gerakan halus otot), pengecilan otot dan tidak ditemukannya refleks patologis.
Pemeriksaan neuromuskular
Pemeriksaan neuromuskular meliputi pemeriksaan umum, perkembangan otot, tonus, kekuatan, koordinasi
dan refleks dan sensoris. Secara umum pemeriksaan otot pada anak dapat dilakukan dengan observasi
keadaan anak ditempat tidur, gerakan ekstremitas simetris atau tidak. Postur anak berdiri dapat mencerminkan
adanya kelumpuhan otot-otot tulang belakang. Gerakan anak yang lebih besar dapat terlihat saat anak
melempar atau menangkap, menendang gulungan kertas. Adakah gerakan abnormal seperti korea, stereotipik
atau tic.
Perkembangan otot dinilai dengan melihat adakah otot yang mengecil (atrofi) misalnya pada kelainan
spinal muskular atrofi. Otot yang membersar (hipertrofi) dapat ditemukan pada daerah betis (pseudohipertrofi)
pada penyakit Duchen muscular dystrophy. Adanya gerakan fasikulasi pun perlu diperhatikan.
Tonus otot diperiksa dengan menilai tahanan pasif dengan menggerakan ekstremitas di sendi. Meraba
tonus otot-otot eksremitas. Melihat tahanan saat otot diangkat apakah normal, hipotoni atau hipertoni / spastis.
Adapun tonus otot pada bayi atau anak yang belum berjalan diperksa dengan melakukan traksi suspensi
(head lag), suspensi vertikal dan suspensi horizontal. Pada bayi hipotoni didapatkan kelemahan pada ke tiga
pemeriksaan tersebut, disertai posisi frog-leg.